Showing posts with label contemplation. Show all posts
Showing posts with label contemplation. Show all posts

Wednesday, April 30, 2025

Bertekuk Lutut Pada Takdir

Kita adalah pejalan yang sering salah mengira peta. Merasa tahu arah, merasa bisa memilih jalan, tapi pada akhirnya tersadar bahwa kaki kita hanya melangkah sejauh yang diizinkan oleh takdir. Ada yang kita kejar habis-habisan, namun tetap menjauh. Ada yang kita hindari mati-matian, tapi justru semakin mendekat.

Mungkin di antara langkah-langkah yang kita ambil, ada doa-doa yang diam-diam dikabulkan dengan cara yang tidak kita harapkan. Mungkin di antara perpisahan yang kita sesali, ada pertemuan yang telah disiapkan jauh sebelum kita menginginkannya.

Kita boleh memohon, boleh mengiba, boleh menentang sekeras yang kita mampu. Tapi jika bukan takdirmu, sekuat apa pun kamu menggenggam, ia tetap akan terlepas. Jika itu takdirmu, meski kau berlari sejauh mungkin, ia akan tetap menemukanmu.

Pada akhirnya, kita hanya bertekuk lutut pada takdir. Menyerah bukan karena lelah, tapi karena paham bahwa apa yang harus menjadi milik kita, akan datang dengan sendirinya. Dan apa yang bukan untuk kita, akan pergi meski sudah kita perjuangkan dengan segenap nyawa.

[Dikutip dari "Menjalani Takdir Tuhan, Sama Sepertimu" hal. 100, Instagram @goresanpenatuhan]

Monday, October 07, 2024

Tak Berani Bermimpi

Alkisah delapan belas tahun yang lalu, ada seorang fresh graduate yang tengah berjuang melamar pekerjaan ke sana kemari dan mengikuti belasan wawancara di ibukota. Saat itu, ketika memandangi gedung-gedung pencakar langit di bilangan Sudirman-Thamrin dan para pekerja white collar yang necis, wangi, dan tampak profesional sibuk berseliweran, fresh graduate itu memupuk tekad untuk kelak suatu hari akan menjadi bagian dari mereka.

Delapan belas tahun kemudian, fresh graduate itu berkantor di lantai delapan sebuah gedung pencakar langit milik sebuah lembaga pemerintah di salah satu sudut Jalan Thamrin, hanya berjarak lima ratus meter saja dari Monas. Meskipun kini mimpinya terwujud, masih ada ruang kosong dalam hatinya. Nyatanya tahun-tahun yang berlalu telah membawanya bertualang ke dunia yang berbeda dan membelokkannya dari impiannya dulu.

Kini ketika setiap pagi ia membuat kopi di pantry dan memandang belantara gedung pencakar langit di depan jendela kaca besar, pikirannya berkelana.

What I Used to Dream

Yup, fresh graduate itu adalah aku. Takdir kehidupan selepas lulus membawaku jauh dari Sudirman-Thamrin karena diterima bekerja sebagai ASN dan ditempatkan di Bandung. Awalnya aku menggeluti dunia yang tak jauh berbeda dengan latar belakang pendidikanku, tetapi minat dan jalur karir akhirnya membawaku ke dunia yang sama sekali baru: quality assurance.

Hampir sepuluh tahun mengurusi quality assurance di sebuah lembaga penelitian dan pengembangan (litbang) ketenaganukliran membuatku jatuh cinta dengan dunia sistem manajemen. Nuklir adalah salah satu hal yang sangat spesifik dan quality assurance terhadapnya tidak main-main. Kepatuhan terhadap persyaratan standar sistem manajemen, peraturan yang bersifat nasional maupun internasional, perundang-undangan yang berlaku, dan persyaratan yang diminta oleh pemangku kepentingan, menjadi hal mutlak.

Sebagai orang yang perfeksionis dan cenderung strict kalau menyangkut kepatuhan terhadap peraturan, aku merasa cocok menggeluti bidang ini. Aku menikmati proses mengaudit dan diaudit, melakukan pengukuran berbasis sistem manajemen, mengecek check list dan mengevaluasi kinerja sistem manajemen, serta sederet hal lain yang menjadi makananku sehari-hari.

Aku sungguh menikmati mengembangkan potensi di bidang ini. Berbagai sertifikasi kuikuti dan beberapa lisensi terkait sistem manajemen kuperoleh, bahkan ada yang bertaraf internasional. Aku juga sering menjadi narasumber dan pengajar untuk berbagi ilmu mengenai dunia sistem manajemen.

Dulu kukira aku akan selamanya berkutat di bidang ini hingga pensiun. Aku bahkan punya mimpi untuk menjadi konsultan setelah pensiun, juga mimpi untuk pergi ke berbagai belahan dunia karena pekerjaan ini. Namun, apa yang terjadi? All my dreams had gone in a blink of eye. Without warning, without preparation, without a proper goodbye.

Life Changes, So Do People

Hidup membawaku “terdampar” di sini pada akhirnya. Sambil menyesap secangkir kopi di depan jendela kaca besar pada suatu pagi, aku berpikir bahwa Tuhan sesungguhnya Maha Pemurah. Dia mengabulkan mimpiku belasan tahun silam, meskipun saat ini bukan itu lagi yang kuinginkan.

Pergilah ke mana hati membawamu, kata Susanna Tamaro. Namun, saat ini aku hanya bisa pergi ke mana hidup membawaku. Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan ini yang bertema “Hari Tua” sungguh membuatku kalut. Seperti kata Mamah Meta, ini tema yang berat. Sangat berat buatku, karena aku tak tahu akan seperti apa bayangan hari tuaku.

Tak Berani Bermimpi

Belajar dari apa yang kujalani setahun ini, bisa dibilang kini aku tak lagi berani bermimpi apa-apa. Harapan tentu ada seperti orang-orang pada umumnya, misalnya: melihat anak-anak beranjak dewasa dan hidup sukses, menjadi lansia yang sehat, mandiri, dan tidak merepotkan anak cucu, atau melakukan hal-hal yang disukai ketika pensiun.

Aku pernah menulis tentang harapan masa tuaku di sini dan sini. Aku juga ingin menikmati masa pensiun dengan traveling, masih tetap berlari dan mengikuti marathon race, bahkan meneruskan kesenanganku mendaki gunung.

Namun, secara spesifik aku tak tahu harus bermimpi apa untuk diriku sendiri. Seorang teman secara tak sengaja pernah memberi “tamparan” buatku ketika ia memasang instastory di bawah ini:

If you don’t know what to pursue in life right now. Pursue yourself.

It hit me like a lightning strike. And then I cried like a baby. Bahkan untuk pursue myself, aku merasa seperti tak punya kendali. Iya, aku memang tak lagi berani bermimpi. Seperti yang kutulis di atas: it can all be gone in a blink of eye. Jadi, aku hanya akan menjalani hari-hariku ke depan dengan sebaik-baiknya. Tentang hari tua, biar Tuhan saja yang memutuskan.

Tulisan ini diikutsertakan dalam Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan Oktober yang bertema “Hari Tua”.

Wednesday, May 08, 2024

Perjalanan Diri


Apa yang paling Anda perhatikan dari foto di atas? Perbandingan antara gemuk dan langsing, ya? Sesungguhnya perbandingan yang lebih dalam atas foto itu jauh melampaui hal yang kasat mata, tidak hanya sekadar perbedaan berat badan.

Perjalanan Raga


Perjalananku dengan pola hidup sehat berawal sejak masa kuliah. Sebelum tahun 2005, kesehatan tidak pernah menjadi prioritas buatku. Sebagai anak indekos, hobiku bergadang dan makan mi instan. Baru setelah masa-masa Tugas Akhir tahun 2005, aku mulai rutin melakukan senam aerobik serta menerapkan kesadaran saat makan, belajar berpikir sebelum makan, dan menerapkan food combining. Dalam kurun waktu 2006-2007, berat badanku turun 13-14 kg akibat menjaga pola makan dan berolahraga secara rutin.

Foto tahun 2016 di atas adalah foto saat aku hamil anak keempat dalam usia kandungan 16 minggu. Aku tampak lebih langsing daripada zaman kuliah. Saat itu olahraga sudah jauh lebih bervariasi: senam, yoga, lari, zumba, dan berenang. Penurunan berat badan secara drastis tak lagi terjadi meskipun aku sudah menerapkan clean eating. Tidak masalah, yang penting berat badan tetap terjaga, kenaikan berat badan selama hamil dan sesudah melahirkan tetap terkendali, dan hasil MCU tahunan selalu bagus.

Foto tahun 2020 adalah foto dalam kondisi 11 bulan postpartum anak kelima. Berat badan naik tentu saja, mungkin karena usia sudah mendekati 40 jadi meski digenjot olahraga dan jaga makan tetap saja segini, hehehe. Guess what, angka timbangan foto paling kiri dengan foto paling kanan sebenarnya tidak berbeda terlalu jauh. Lalu mengapa lingkar-lingkarnya berbeda jauh? Yup, begitulah bedanya massa otot dengan massa lemak.

Lantas sejak saat itu hingga sekarang, apakah aku tidak pernah bermasalah dengan berat badan? Tentu saja pernah, hahaha. Setelah melahirkan anak kelima, berat badanku merangkak naik akibat tidak terlalu menjaga pola makan. Saat itu bayiku sedang berkutat dengan masalah kenaikan berat badan yang kurang—bahkan hampir gagal tumbuh—sehingga aku merasa harus banyak makan supaya produksi ASI berlimpah.

Aku berusaha tidak terlalu memikirkan berat badanku dan hanya berfokus pada berat badan bayiku, tetapi kenyataannya tubuhku mulai menggendut dan hasil cek kolesterol sempat berada di atas batas. Setelah anakku berusia setahun dan berat badannya aman, aku mulai kembali menerapkan pola makan secara lebih ketat.

Perjalanan Jiwa


Seperti yang kutulis di atas, ada perubahan yang lebih dalam, lebih dari sekadar perbedaan berat badan dari tahun ke tahun.

Dalam perjalanan hidupku, aku menyadari bahwa pribadiku turut bermetamorfosis seiring dengan makin bertambahnya usia. Mulai dari pribadi yang meledak-ledak kala remaja, lalu menjadi pribadi yang gloomy dan serba negatif saat kuliah hingga hamil anak pertama, kemudian berproses menjadi pribadi yang lebih baik. Aku merasa jiwaku bertumbuh, aku berdamai dengan diri sendiri dan keadaan, serta menjadi pribadi yang lebih bahagia. Alhamdulillah.

Foto tahun 2001 adalah foto zaman kuliah. I was at the lowest point of my self worth. I was happy but I seemed to be lost all the time. Tidak punya passion, berjuang untuk lulus, dan yang paling parah: aku tidak mencintai diriku sendiri.

Not loving yourself means you just don't care about you. You just don't care about feeding you right, I mean literally and emotionally. I didn't care what I looked like, I didn't care whether I was living a healthy lifestyle or not. I didn't do sports, I ate everything I want. I didn't have any close friend since I was grumpy and I used to be so introvert.

Aku lupa kapan persisnya atau momen seperti apa yang membuatku berdamai dengan diri sendiri dan keadaan. Yang jelas, sekarang aku mensyukuri setiap detik hidupku, memilih untuk bereaksi positif terhadap berbagai keadaan, serta memilih untuk mengambil hikmah dari apa pun, bahkan dari suatu hal pahit sekalipun.

Dari beberapa pelatihan yang pernah aku ikuti, aku belajar menggali masalah dari dalam diriku sendiri. Satu pelatihan membuatku menyadari bahwa keluarga adalah akar dari segala eksistensi diri. Seperti apa kita, masalah apa yang kita bawa, semua berawal dari keluarga.

Dari pelatihan yang lain, aku belajar tentang konsep mindful life, yaitu hidup yang dijalani dengan menerima diri kita apa adanya, penuh syukur, menikmati setiap momen, menghargai diri, dan berdamai dengan masa lalu. Teknik yang diajarkan ada dua, yaitu Self Nurture (SN) dan Self Coaching (SC).

SN mirip dengan self hypnosis, merupakan suatu terapi bagi jiwa dan bertujuan untuk membersihkan diri dari residu masa lalu. SC adalah suatu bentuk teknik untuk mengenali perasaan dan kebutuhan diri, mengenali akar dari perasaan/kebutuhan, kemudian merespon dengan aksi untuk memenuhi kebutuhan itu.

Yang membuat pelatihan-pelatihan ini terasa “wow” buatku adalah bagaimana kita diilhami dengan kesadaran bahwa diri kita begitu berharga dan kita berhak untuk bahagia. Oh ya, bahagia itu dipilih, Saudara-Saudara. Kitalah yang memilih respon kita dalam menghadapi kehidupan, mau bahagia atau mau sedih. Kitalah yang memilih untuk tersenyum, entah seberapa pahitnya keadaan yang kita hadapi. Semoga kita senantiasa mengabaikan hal-hal negatif yang tak penting dalam hidup dan merasa bahagia dengan diri kita apa adanya.


Tulisan ini diikutsertakan dalam Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan Mei yang bertema “Perbandingan (Versus)”.

Thursday, June 01, 2023

Persaingan Perempuan dan Rasa Insecure

Ilustrasi oleh Laura Callaghan

Hal paling berkesan dari masa kecilku yang ingin kuceritakan kali ini bukanlah sesuatu yang menyenangkan. Sepanjang ingatanku menjalani masa kecil sebagai perempuan, ada satu kata yang kerap membersamaiku saat itu: insecure. Mungkin aku bisa dibilang cukup cemerlang dalam hal prestasi, tapi sesungguhnya ada banyak hal yang membuatku merasa tidak aman. Aku sering merasa khawatir tidak memiliki teman. Saat kecil aku sungguh pemalu. Terhadap orang yang tak dikenal, aku cenderung menarik diri dan tertutup. Beberapa orang kawan yang cukup dekat denganku membuatku merasa ditinggalkan ketika akhirnya mereka dekat dan bersahabat akrab dengan kawan yang lain. Sebagai seorang gadis kecil, tidak memiliki teman dekat adalah sesuatu yang menyedihkan.

Beranjak remaja dan duduk di bangku sekolah unggulan, aku melihat teman-teman perempuan banyak yang membentuk geng. Tanpa sengaja aku terlibat akrab dengan salah satu geng di kelas. Peer pressure sangat terasa dalam interaksi sehari-hari. Aku dianggap gaul jika mengikuti standar mereka dan aku sering dicibir bila menolak ajakan hang out karena aku harus buru-buru pulang untuk menjaga adikku. Sampai suatu ketika aku didepak keluar dari geng itu dengan cara yang mungkin buat mereka biasa, tapi buatku terasa sangat menyakitkan. Hingga hari ini aku tidak tahu alasannya. Dugaanku: karena aku sering berbeda pendapat dan kerap menolak ajakan hang out mereka sehingga bagi mereka mungkin aku bukan teman yang asyik.

Peristiwa itu menorehkan luka teramat dalam, sampai-sampai aku bertekad untuk tak akan pernah lagi bersahabat dekat dengan sesama perempuan. Perjalanan mencari teman membawaku pada satu kesimpulan bahwa lebih baik sendirian daripada merasa tersakiti oleh sahabat. Maka ketika aku duduk di bangku SMA, aku mulai menyibukkan diri dengan kegiatan organisasi dan berteman dengan banyak teman laki-laki. Beberapa kali aku berpacaran dan merasa bisa menjalani hari-hari tanpa sahabat perempuan.

Kenangan-kenangan di masa lalu berperan besar membentuk kepribadianku, sebagai indikasi bahwa hal itu sangat menimbulkan kesan yang terbawa hingga dewasa. Hingga sekarang aku lebih nyaman bepergian seorang diri tanpa teman. Zaman kuliah aku sampai kenyang mendapat pertanyaan “Sendirian aja, Yus?” ketika pergi ke mana-mana. Bahkan saat ibu-ibu di kantor pergi beramai-ramai ke mal ketika jam istirahat, aku merasa lebih nyaman pergi sendiri dalam diam.

Setelah sekarang anak perempuanku menginjak kelas satu SD, ternyata dia menghadapi permasalahan yang sama. Dari beberapa curhatnya tersirat adanya persaingan antara sesama perempuan di kelasnya, baik dalam hal berteman maupun hal-hal lain. Aku cukup sedih waktu dia bercerita bahwa beberapa teman perempuannya mengejek gambarnya yang dianggap jelek sambil terkikik-kikik. Dalam hati aku membatin: ternyata komentar-komentar menjatuhkan itu memang sudah sering terlontar sejak para perempuan berusia dini. Kalau menilik teman-teman lelakinya, mereka cenderung lebih woles.

Melihat kenyataan hidup di sekeliling saat ini, sering sekali kita dapati perempuan satu dengan yang lain saling menjatuhkan. Di kalangan ibu-ibu, sudah jamak terjadi mom war dalam berbagai hal, mulai dari ASI versus susu formula, ibu bekerja versus ibu di rumah, melahirkan normal versus melahirkan C-section, dan masih banyak lagi. Seolah pengalaman masa kecilku belumlah cukup, aku merasa sangat lelah melihatnya.

Beberapa penelitian pernah dilakukan untuk meneliti persaingan di antara perempuan. Tinjauan literatur oleh Tracy Vaillancourt pada 2013 menemukan bahwa perempuan pada umumnya mengekspresikan agresi tidak langsung terhadap perempuan lain. Agresi tidak langsung tersebut merupakan kombinasi dari self-promotion untuk membuat diri mereka terlihat lebih menarik, serta merendahkan saingan dengan berkomentar tidak baik tentang perempuan lain. Wow banget ya :(

Ada dua teori utama yang menjelaskan alasan perempuan berkompetisi dengan sesamanya.

  1. Psikologi evolusioner, yang menggunakan teori seleksi alam untuk menjelaskan perilaku modern kita, mengatakan bahwa perempuan perlu melindungi diri mereka sendiri (baca: rahimnya) dari bahaya fisik. Jadi, agresi tidak langsung membuat perempuan merasa aman karena merendahkan perempuan lain merupakan salah satu cara untuk mengeliminasi saingan.
  2. Psikologi feminis mengatakan agresi tidak langsung para perempuan dilakukan untuk menginternalisasi patriarki. Seperti yang ditulis Noam Shpancer dalam Psychology Today, “As women come to consider being prized by men as their ultimate source of strength, worth, achievement and identity, they are compelled to battle other women for the prize.

Dalam pandanganku, perempuan seharusnya saling mendukung satu sama lain. Seorang perempuan bisa memberdayakan perempuan lain dan hal itu tak akan pernah mengecilkan peran dan makna dirinya sendiri. Di dunia yang keras ini, kita harus memberangus kebencian, kecemburuan, atau perasaan iri antara sesama perempuan.

Sebuah penelitian oleh Harvard Business Review mengatakan bahwa perempuan yang memiliki inner circle sesama perempuan cenderung dapat menempati posisi eksekutif dengan otoritas yang lebih besar dan gaji yang lebih tinggi, bila dibandingkan dengan laki-laki yang memiliki inner circle yang sama. Hal ini dikarenakan perempuan yang memiliki hubungan dekat dengan kelompok perempuan yang mendukungnya, akan lebih mudah menghadapi berbagai rintangan melalui berbagi pengalaman dengan perempuan lain yang pernah menghadapi situasi dan kesulitan yang sama.

Andai saja sejak kecil kita diajari untuk saling mendukung satu sama lain sebagai perempuan, mungkin tidak perlu ada gadis-gadis lain yang mengalami nasib sama denganku. Tak perlu ada persaingan saling menjatuhkan, tak perlu ada perundungan, tak perlu adu debat meskipun berbeda pendapat.

Tulisan ini diikutsertakan dalam Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan Juni yang bertema “Hal Berkesan di Masa Kecil (dan atau Masa Sekolah)”.

Wednesday, July 14, 2021

Faith


"Untung ada Islam. Nggak gila aja udah syukur," demikian kata seorang guru ketika kehilangan kedua orang tua terkasih hanya dalam kurun waktu seminggu akibat COVID-19.

Pandemi yang luar biasa ini di satu sisi memang sangat menyesakkan. Banyak orang ditinggal wafat orang tercintanya; banyak orang memendam rindu karena bepergian dan silaturahmi menjadi sesuatu yang membawa risiko. Belum lagi jika kita bicara soal keterpurukan ekonomi, makin banyaknya pengangguran, naiknya angka kemiskinan, banyak orang yang menjadi susah untuk memenuhi kebutuhan hidupnya … ah, begitu banyak kesedihan dan kesengsaraan.

Pandemi juga memperlihatkan wajah asli orang-orang. Ada yang peduli sesama, ada yang abai terhadap diri sendiri maupun orang lain, ada yang tamak dan serakah menimbun keuntungan, juga ada yang raja tega memanfaatkan situasi dan melakukan penipuan demi cuan.

Pandemi memberi kesadaran bahwa kita mungkin terlampau cinta pada dunia dan takut mati. Sudah siapkah jika suatu saat kita atau orang terdekat kita dipanggil pulang oleh-Nya? Sudah siapkah kita dengan bekal amal saleh dan amal jariah? Apa yang sudah kita wariskan untuk anak-anak? Sudah cukupkah tarbiyah yang kita lakukan untuk menjadikan mereka pribadi yang siap mandiri, yang ketika berpisah dari kita pun tetap saleh dan salehah?

Kita beruntung karena ada Islam, karena kita punya Allah sebagai tempat bersandar sehingga kita tidak gila dan tertekan memikirkan dunia ini. Hasbunallah wa ni’mal wakiil, "cukuplah Allah (menjadi penolong) bagi kami dan Dia sebaik-baik pelindung." (Q.S. Ali Imran: 173)

Meskipun menyesakkan, Islam mengajarkan bahwa everything happens for a reason. Entah apapun itu, pandemi ini pasti tidak sia-sia karena Allah punya maksud dan tujuan tertentu dengan kehendak-Nya. "... (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), 'Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka.'" (Q.S. Ali Imran: 191)

Kita sebagai hamba bisa apa dengan kehendak Allah? Mengingat lagi tentang bahasan free will, qadha, dan qadar: kita hanya bisa menerima kehendak Allah, mensyukuri semua yang ditentukan oleh-Nya, serta fokus pada pilihan-pilihan yang kita buat, apakah berpahala atau tidak. Terhadap takdir Allah kita berserah, tetapi terhadap area yang bisa kita ikhtiarkan … kita melakukan usaha terbaik yang mendatangkan keridaan-Nya. Memang berat untuk dipahami dan dilakukan, tetapi inilah amunisi yang kita miliki sebagai seorang muslim. Ketika mendapat kebahagiaan kita bersyukur, ketika mendapat kesedihan kita bersabar.

Keyakinan kepada Allah, inilah satu-satunya yang kita punya. "... boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." (Q.S. Al-Baqarah: 216)

Friday, July 09, 2021

Sandyakala


Selalu ada aura magis yang menyelimuti bumi ketika semburat merah senja menghiasi nabastala. Bayu yang mengalir semilir begitu membuai rasa sehingga banyak insan sering terpantik inspirasinya kala senja tiba.

Tak terkecuali aku. Sejak dulu aku telah jatuh cinta pada senja karena kemolekannya. Kini ketika aku gemar berlari, aku sangat menikmati menjadi pelari senja sebab padanya aku menemukan damai. Berkawan sepoinya angin, aku mengurai rindu. Bersama temaramnya sinar surya yang kembali ke peraduan, hatiku menunduk khusyuk dalam syahdu.

Gurat merah di langit senja memiliki banyak makna. Bagi sebagian orang, filosofinya diartikan sebagai keindahan yang tak perlu disuarakan. Cantik sebagaimana mestinya meski hadir dalam senyap. Bagi sebagian orang yang lain, persepsi keelokan itu dibangun sebagai bentuk akhir yang menawan. Jadi jika mau berpikir positif, apapun yang kita lalui hari itu memiliki muara rasa yang indah dalam perwujudannya sehingga rasa syukurlah yang kita langitkan kala menutup hari.

Senja disebutkan dalam banyak ayat Al Quran, menandakan jika ia istimewa. Dalam penciptaan langit dan bumi terdapat tanda-tanda kekuasaan dan kebesaran Allah bagi orang yang mau berpikir.

"Maka sesungguhnya Aku bersumpah dengan cahaya merah di waktu senja," (Q.S. Al Insyiqaq: 16)

"Dan bertasbihlah kepada-Nya diwaktu pagi dan petang." (Q.S. Al-Ahzaab: 42)

"Dan sebutlah nama Tuhanmu pada (waktu) pagi dan petang." (Q.S. Al-Insaan: 25)

"Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai." (Q.S. Al-A’raaf: 205)

Selamat mencinta senja, Kawan. Padanya akan kautemukan bahagia.

Monday, July 05, 2021

Tentang Lari



Have you ever been running for the sake of running itself?

Perjalananku menyukai olahraga lari dimulai sekira tahun 2015. Awalnya hanya untuk menantang diri sendiri, alias menjajal kemampuan diri. Bertahun-tahun aku memang tidak pernah menyukai lari. Aku masih ingat, sejak masa sekolah dulu, tiap kali guru olahraga menyuruh berlari maka aku akan berkeluh kesah panjang pendek. Biasanya aku termasuk siswa yang tiba paling akhir, dan tentunya lebih banyak berjalan dibanding berlari.

Pada 2015 itu aku bertanya tentang kiat bagaimana mulai berlari pada beberapa teman yang kulihat sudah biasa berlari. Pada awalnya aku cukup skeptis karena selama ini aku selalu megap-megap tiap berlari. Dari yang awalnya cuma kuat 2K, lama kelamaan meningkat menjadi 3K, lalu 5K. Kemudian aku hamil anak ke-4 dan berhentilah semua aktivitas lari 😂

Beberapa waktu pascapersalinan aku kembali mulai berlari. Kukira aku akan mulai dari nol, tetapi level kebugaranku ternyata tidak terlalu menurun—memang sebelumnya aku sudah rutin melakukan senam aerobik dan yoga—jadi aku tinggal “memanaskan mesin” sedikit hingga akhirnya aku biasa menempuh 5K setiap kali berlari. Tiga tahun setelah itu aku kembali hamil anak ke-5 dan aktivitas lari kembali berhenti.

Pascapersalinan I came back stronger. Jarak mulai bisa diperjauh menjadi 7K. Kemudian ketika aku sedang bersiap meningkatkan jarak menjadi 10K, pandemic hit the world. Latihan lari yang tadinya biasa kulakukan di track lari akhirnya kualihkan ke jalanan kompleks. Hikmah pandemi yang mengharuskanku WFH memungkinkan aku mengatur waktu dengan fleksibel dan aku malah jadi semakin sering berlari.

Tahun 2020 aku berhasil menempuh 10K pertamaku, kemudian ikut serta dalam kemeriahan ITB Ultra Marathon sebagai race pertama untuk jarak 10K. Sebagai slow jogger dengan easy run pace berkisar di angka 9-10 karena riwayat heart rate selalu tinggi, aku lebih berminat meningkatkan performa endurance daripada speed. Maka training plan aku tingkatkan untuk mulai melirik Half Marathon. Tepat sebelum Ramadhan 2021, aku berhasil menyelesaikan Half Marathon mandiri sejauh 21,1K mengelilingi Kota Bandung.

Di era medsos seperti sekarang ini, sangat sulit untuk tidak membandingkan kemampuan diri dengan pencapaian orang lain. Seringkali aku iri melihat performa teman-teman yang jauh lebih keren, misalnya: newbie runner yang bisa berlari lebih kencang dengan HR lebih rendah daripada aku 🤣



Namun, kemudian aku ingat: di yoga aku belajar tentang self acceptance, tentang bagaimana menerima diri seutuhnya tanpa membandingkan dengan orang lain. Yang harus dibandingkan dengan diri kita yang sekarang adalah diri kita yang dulu. Dan kalau melihat ke belakang, tentunya aku sudah berprogres. Dulu HR amanku berada di pace 11, kini pace 9 pun masih bisa aman. Dulu aku cuma bisa berlari 2K, sekarang paling jauh sudah bisa HM.

Kalau dulu aku berprinsip yoga is not a competition, it's all about BEING YOU … maka kini aku juga berprinsip running is not a competition, it's all about BEING YOU. Let’s run for the sake of running itself, bukan karena ingin dianggap bisa atau ingin dianggap keren. Just enjoy every step … karena sesungguhnya ketika berlari, kita sedang berkontemplasi untuk mensyukuri nikmat sehat dan berdialog untuk lebih memahami diri sendiri.

📷: Bersama Tim "Mamah Gajah & The Bandito" siap menyongsong ITB 101 Virtual Run periode 4 Juli - 15 Agustus 2021, masing-masing orang berlari sejauh 10,1K (single run).

Monday, June 07, 2021

Manusia dan Lingkungan

Di dalam kitab Bidayah Wa Nihayah, Ibnu Katsir menulis bahwa jauh sebelum Allah menciptakan manusia, Ia telah menciptakan bangsa jin dan mengutus mereka menjadi penghuni bumi. Namun, mereka malah berbuat kerusakan sehingga Allah mengutus Azazil (jin paling kuat) beserta bala tentara malaikat untuk memberantas bangsa jin dan mengusir mereka ke pulau-pulau di tengah laut. Setelah itu, Allah menciptakan Adam dan memberikan mandat kepada Adam dan keturunannya untuk menjadi khalifah di muka bumi.

Secara etimologi, kata “khalifah” memiliki makna “pengganti”. Manusia diamanahi menjadi pengganti bangsa jin untuk menjalankan misi menjaga bumi dan untuk beribadah kepada-Nya. Hal ini tersurat dengan jelas pada ayat-ayat Alquran berikut ini:

“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, ‘Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.’ Mereka berkata, ‘Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?’ Dia berfirman, ‘Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.’” (Q.S. Al Baqarah: 30)

“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (Q.S. Adz Dzariyat: 56)

Secara umum, manusia memiliki dua tugas utama dalam menjalankan misi kekhalifahan di muka bumi. Tugas yang pertama adalah melestarikan bumi, tidak berbuat kerusakan, dan menyejahterakan lingkungan. Tugas yang kedua adalah menjalankan perintah agama atau syariat Allah. Oleh karena itu, jika kita mau berpikir, sebenarnya manusia memiliki peran teramat besar untuk menjaga keberlangsungan kehidupan di muka bumi ini. Sayangnya karena ketamakan dan ketidakpedulian manusia, bumi di masa kini menjadi carut-marut oleh banyak permasalahan lingkungan.

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (Q.S. Ar Ruum: 41)

Banyaknya bencana alam seperti banjir dan longsor, banyaknya sampah yang memadati bumi, banyaknya ekosistem yang rusak … sejatinya adalah karena ulah tangan manusia itu sendiri. Mother earth yang memberikan manusia kehidupan justru bertepuk sebelah tangan karena manusia tidak ambil peduli dengan kerusakan yang dibuatnya. Bahkan teknologi modern hasil pemikiran manusia juga memberi andil dalam kerusakan lingkungan, seperti pesawat supersonic yang dapat merusak atmosfer, zat dari refrigeran dan air conditioner yang berakibat pada penipisan ozon, atau kemasan plastik yang tidak dapat terurai selama ratusan tahun.

Selama empat miliar tahun lebih usia bumi, semakin lama ia semakin penat oleh kerusakan dan kehancuran. Masalah lingkungan adalah masalah kita bersama sebagai umat manusia. Oleh karena itu, berbuat sesuatu demi lingkungan dan menyebarkan kesadaran untuk kembali peduli pada lingkungan adalah tugas kita semua. Bukan hanya karena bumi sudah terlampau rusak, melainkan juga karena kelak kita akan ditanya oleh Allah: sudah sejauh mana upaya yang kita lakukan dalam menjalankan misi kita sebagai khalifah penjaga bumi?

Monday, March 29, 2021

Menikmati Manis Takdir-Nya

Dalam kajian yang aku ikuti pekan lalu, aku belajar banyak mengenai takdir dan pilihan. Di dunia ini, ada hal-hal yang tidak kita kuasai dan sepenuhnya menjadi wilayah kekuasaan Allah. Manusia, alam semesta, dan seluruh kehidupan sesungguhnya dikendalikan oleh ketentuan-Nya. Ada yang menyebutnya qada. Sebagian besar dari kita mengenalnya sebagai takdir.

Demikian pula halnya dengan pandemi, ia datang ke tengah-tengah kita sebagai salah satu ketentuan dari Allah. Ada beberapa aspek terkait takdir dan pilihan yang sejatinya dapat membantu kita memahami kejadian-kejadian yang digariskan-Nya. Setelah kita paham bahwa pandemi merupakan takdir dari-Nya, kita harus memilih penyikapan yang tepat dalam menghadapinya. Mengapa? Karena takdir adalah ketentuan yang telah tertulis di Lauh Mahfuzh: kita tidak dapat mengubahnya dan kita tidak akan di-hisab karenanya. Sikap kita terhadap takdirlah yang akan di-hisab, dan hal itu akan menentukan apakah kita akan diganjar pahala atau dosa.

Akibat pandemi, banyak sekali nyawa melayang. Hal itu mungkin tampak menyedihkan di mata manusia, tetapi sesungguhnya ada balasan yang diberikan Allah untuk orang-orang yang wafat karena pandemi. Dari Aisyah ra, ia berkata, "Aku bertanya kepada Rasulullah SAW tentang tho'un. Rasulullah lalu menjawab, 'Sesungguhnya wabah tho'un (penyakit menular dan mematikan) itu adalah ujian yang Allah kirimkan kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya dan Allah juga menjadikannya sebagai rahmat (bentuk kasih sayang) bagi orang-orang beriman. Tidaklah seorang hamba yang ketika di negerinya itu terjadi tho'un lalu tetap tinggal di sana dengan sabar (doa dan ikhtiar) dan mengharap pahala di sisi Allah, dan pada saat yang sama ia sadar tak akan ada yang menimpanya selain telah digariskan-Nya, maka tidak ada balasan lain kecuali baginya pahala seperti pahala syahid.'" (H.R. Al-Bukhari).

Dalam hadis lain disebutkan dari Abu Hurairah diriwayatkan Rasulullah SAW bersabda, "Orang syahid itu ada lima: orang terkena wabah penyakit, orang mati karena sakit di dalam perutnya, orang tenggelam, orang tertimpa reruntuhan bangunan, dan orang syahid di jalan Allah (mati dalam perang di jalan Allah)." (H.R. Al-Bukhari).

Kita tentu ingat janji Allah dalam Q.S. Al-Insyirah: 5-6, bahwa sesungguhnya bersama kesulitan … Allah juga menurunkan kemudahan. Bukankah di masa pandemi yang menyesakkan ini, kita juga berbahagia karena dapat leluasa membersamai anak sepanjang hari karena mereka menjalani PJJ? Bukankah kita lantas dapat dengan mudah menemani suami bersantap siang di meja makan karena ia sedang WFH? Bukankah dengan keterbatasan mobilitas, kita justru dapat dengan mudah mengakses kajian dan event daring yang tinggal diklik seujung jari?

Bahasan tentang takdir selalu terasa pelik dan membingungkan. Namun, sesungguhnya tidak demikian. Takdir apa pun yang menimpa kita, harus kita imani bahwa itu adalah ketentuan Allah yang terbaik. Hidup ini semudah menjalani pilihan yang berpahala karena itulah yang akan dimintai pertanggungjawaban. Sementara untuk hal-hal yang memang tidak dapat kita ubah, kita harus mensyukurinya, baik itu pahit maupun manis. Tidak ada kejadian sia-sia di muka bumi ini. Ada hikmah yang dapat selalu kita petik.

"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), 'Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.'" (Q.S. Ali Imran: 190-191)

 

Monday, March 22, 2021

Menjaga Kesehatan Fisik dan Mental Saat Pandemi


Di masa pandemi seperti sekarang ini, kesehatan menjadi sesuatu yang tak ternilai harganya. Sebagai upaya mencegah sekaligus memutus rantai penularan Covid-19, kami sekeluarga selalu menerapkan perilaku 3M, yaitu memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak. Kami juga tak lupa untuk sering-sering menyemprot tangan dengan cairan pembersih tangan dan menyemprot barang belanjaan dengan cairan disinfektan.

Selain beberapa kebiasaan baru tersebut, upaya menjaga kesehatan keluarga juga kami lakukan dengan memperhatikan asupan. Alhamdulillah selama ini kami sudah terbiasa mengonsumsi sayur dan buah. Imunitas keluarga ditingkatkan dengan mengonsumsi vitamin dan suplemen tambahan. Salah satu hal yang agak susah dilakukan adalah minum air putih secara cukup per hari. Aku harus selalu mengingatkan suami dan anak-anak untuk rajin minum air putih karena mereka acap kali terlupa, apalagi jika sudah disibukkan dengan PJJ atau WFH. Berdasarkan penelitian, kebutuhan air minimal setiap orang adalah 50 ml per kg berat badan. Konsumsi air adalah hal yang sangat penting karena air merupakan komponen tubuh yang terbesar (60-70% dari berat badan), serta memiliki fungsi untuk membuang kotoran dari tubuh, menyediakan kelembaban, dan membawa nutrisi ke sel.

Upaya yang tak kalah penting untuk menjaga kesehatan fisik adalah dengan melakukan olahraga secara rutin. Jauh sebelum pandemi muncul, aku dan suami sudah terbiasa berolahraga. Aku rutin melakukan senam aerobik sejak 2005, beryoga sejak 2013, dan berlari sejak 2015. Setahun yang lalu ketika wabah Covid-19 mulai melanda Indonesia, perlombaan lari banyak dibatalkan, menyusul kemudian sarana-sarana olahraga ditutup. Aku sempat kebingungan dan merasa kehilangan karena sudah terbiasa berlari di track Saraga dan sudah terbiasa mengikuti perlombaan lari secara berkala. Euforia berolahraga outdoor benar-benar menjadi sebuah kehilangan yang besar.

Orang bijak mengatakan bahwa bila ada satu pintu tertutup, bisa jadi pintu yang lain tengah membuka. Begitu pula yang akhirnya aku rasakan. Aku tetap berlari, tapi beralih ke aktivitas road running: kadang berlari di jalanan kompleks, kadang berlari di jalan raya. Proses ini juga membutuhkan adaptasi karena berlari di jalan tentu berbeda dengan berlari di lintasan. Berlari di jalan membutuhkan fokus dan perhatian lebih karena kita harus selalu waspada terhadap pengguna jalan lain dan kondisi jalan yang tidak ideal (tidak ada trotoar, berlubang, dsb.). Berlari di jalan juga membutuhkan peralatan lari yang lebih lengkap: tas pinggang untuk menyimpan botol minum, gelang identitas, dan sepatu lari yang lebih empuk.

Aku juga mulai mengikuti kelas-kelas olahraga secara daring, seperti kelas yoga dan kelas pound fit. Bahkan dengan adanya sistem WFH yang fleksibel, aku bisa mengatur waktu olahraga sesuai kebutuhan dan mengikuti kelas-kelas yang selama ini belum pernah aku ikuti, seperti kelas dance cover dan kelas privat dengan pelatih pribadi di tempat gym. Keleluasaan waktu seperti ini benar-benar aku syukuri karena aku dapat dengan mudah mengatur jadwal kerja, jadwal olahraga, sekaligus mendampingi anak-anak melakukan PJJ.

Tentunya kebiasaan yang bersifat penjagaan kesehatan fisik harus diikuti dengan kebiasaan untuk menjaga kesehatan mental. Pada awal pandemi aku sempat terkena serangan panik: hampir tiap malam aku tidur dengan ketakutan sambil memeluk anak-anak, membayangkan jika kami terkena Covid-19. Kemudian, ketika akhirnya hal itu benar-benar terjadi pada suamiku, aku sempat terkena depresi ringan. Covid-19 ini benar-benar meluluhlantakkan jiwa dan raga.

Kami berusaha menguatkan mental dan iman keluarga dengan lebih sering mengikuti kajian keislaman. Alhamdulillah dengan adanya pandemi, banyak sekali kajian yang diadakan secara daring, baik untuk orang dewasa maupun anak-anak. Setiap akhir pekan, jadwal kajian padat merayap. Kemudahan ini sungguh kami syukuri karena bila kajian-kajian tersebut diadakan secara luring, belum tentu kami bisa menghadiri karena terhalang jarak dan waktu.

Allah tidak menurunkan ujian di luar kesanggupan hamba-Nya. Bersama kesulitan pandemi yang datang, sesungguhnya Allah juga tengah menurunkan kemudahan-kemudahan.




Monday, March 08, 2021

Setahun Kisah Pandemi


Aku tak akan pernah lupa hari di mana hidupku berubah. Tepat setelah hari ulang tahunku tahun lalu, pemerintah memberlakukan lock down di seluruh negeri. Cerita tentang pandemi yang dulu hanya bisa kubaca di sejarah dunia kini menjelma nyata di depan mata. Kasus demi kasus yang tadinya hanya terjadi di luar negeri dan terasa jauh di belahan bumi lain, kini benar-benar merangsek masuk ke Indonesia dan membuat suasana menjadi mencekam.

Ada banyak kisah duka tentang pandemi: kisah kehilangan orang terkasih, kisah kehilangan sumber mata pencaharian dan naiknya angka pengangguran, juga kisah perjuangan bertahan hidup yang sungguh menyayat hati. Dan hidupku sepenuhnya berubah ketika angka penderita COVID-19 di negeri ini melonjak sangat tinggi pada kuartal terakhir tahun lalu. Tepat pada hari ulang tahun anakku yang kedua, hasil tes PCR suami keluar dan statusnya positif dengan nilai CT yang cukup rendah.

Sebagai karyawan sebuah perusahaan swasta di Jakarta, suamiku memang masih sering bolak-balik Jakarta-Bandung. Malam itu suami pulang dalam keadaan demam, batuk, dan menggigil. Sekujur badannya terasa sakit. Setelah hasil tes PCR-nya keluar, kami memutuskan untuk mencari kamar rawat inap karena kondisinya bergejala cukup berat. Kami juga tidak mau mengambil risiko dia tetap di rumah karena ada bayi dan lansia di keluarga kami. Alhamdulillah suami mendapat kamar di salah satu rumah sakit tanpa menunggu terlalu lama.

Saat suamiku dirawat, duniaku runtuh satu demi satu. Berkejaran dengan aktivitas mengasuh empat anak, mengawasi mereka PJJ sambil tetap bekerja dari rumah dengan sistem WFH, juga mengirim keperluan suami ke rumah sakit tiap hari kadang membuatku limbung. Apalagi ketika kondisi suami mulai menurun: kedua paru-parunya meradang, saturasi oksigennya tidak stabil, dan dia mulai merasakan sesak. Berbagai macam ketakutan dan kekhawatiran menyeruak. Kekalutan menghimpit dadaku hingga membuat air mataku mengalir hampir tiap hari.

Dari Shuhaib bin Sinan dia berkata, Rasulullah bersabda: “Alangkah mengagumkan keadaan orang yang beriman, karena semua keadaannya (membawa) kebaikan (untuk dirinya), dan ini hanya ada pada seorang mukmin; jika dia mendapatkan kesenangan dia akan bersyukur, maka itu adalah kebaikan baginya, dan jika dia ditimpa kesusahan dia akan bersabar, maka itu adalah kebaikan baginya” (HR Muslim)

Aku sungguh beruntung karena dukungan dari kerabat dan teman terus mengalir. Meskipun kadang kondisi suami melemah dan membuatku khawatir, aku tetap memanjatkan syukur karena aku, orang tua, dan anak-anak semuanya dalam kondisi sehat dengan hasil tes PCR negatif. Setiap hari kami menghubungi suami dan memberinya semangat untuk terus berjuang.

Hingga tibalah saat itu: hari ketika suami akhirnya bisa pulang ke rumah setelah dua puluh lima hari. Kalimat kesyukuran tak henti-hentinya menghiasi lisan dan batin kami. Dalam peristiwa dahsyat yang mengguncang jiwa kadang kita disadarkan bahwa hanya Allah satu-satunya yang kita punya. Sungguh tidak ada daya dan upaya melainkan hanya berasal dari pertolongan-Nya. Akibat pandemi, kini semua peristiwa hidup tak lagi sama di mataku.

Monday, May 25, 2015

How to Deal with Negative People

“What do you do when you hear that someone is speaking negatively about you? It's easy to try and defend yourself, explain that you're not like that, and get offended or angry at them. It's way harder to turn the other cheek and walk undefended through their murky emotional storm. Try forgiving them, loving them anyway and even maybe concede their points against you (because if you're about to get all worked up about it, then they probably do have a point). Love is the answer, especially when what feels most appropriate is to wage a war. What's the purpose of all these handstands if you can't be strong enough to be nice all day? Yoga has taught me how to bend when I would normally break and how to be strong enough to withstand a few harsh words being thrown my way without fighting back and lashing out.” (Kino MacGregor)

Di tengah kedukaan yang aku alami, aku mendengar selentingan gosip di kantor tentang mengapa aku absen begitu lama. Beberapa orang muncul dengan spekulasinya masing-masing tentang mengapa aku harus bedrest. Sebagian mereka beranggapan bahwa aku mengalami pendarahan gara-gara aku melakukan yoga, atau gara-gara aku melakukan inilah, itulah, dsb. Padahal aku sudah menghentikan semua aktivitas olahraga semenjak aku tahu kalau aku hamil (oh come on, semenit dua menit #strikeapose tentu tidak terhitung sebagai olahraga). Padahal aku sudah meletakkan semua hal sesuai proporsinya, maksudku ketika dokter menyuruhku bedrest, aku pun bedrest. Semua anjuran dokter aku turuti, dan aku selalu minum obat sesuai resep.

Tapi itu toh tak menghentikan apa yang sudah terjadi. Kontraksi tetap berlangsung dan aku tetap kehilangan bayiku. Di saat aku mulai menerima hal ini sebagai takdir-Nya tanpa menyalahkan siapapun, orang-orang malah muncul dengan judgement-nya yang menudingku sebagai biang kesalahan.

Pada mulanya aku marah sekali mendengarnya. Mengapa orang-orang itu tak bersimpati dengan kedukaan yang aku alami? Kemudian aku tersadarkan, bahwa tidak semua hal bisa dimengerti oleh semua orang. Dan seperti kutipan di atas, mungkin aku tidak harus melakukan klarifikasi dan membela diri. Yaaa sah-sah saja sebenarnya kalau aku mau begitu, tapi mungkin itu bukan hal yang tepat, dan bisa jadi malah tidak membawa kebaikan. Aku tidak bisa mengontrol orang lain dengan segala respon, tindak tanduk, dan omongan mereka. Yang aku bisa kontrol adalah diriku sendiri.

So I’ll keep moving on. Biarlah tulisan ini menjadi klarifikasi bagi mereka tentang apa yang sudah terjadi.

“Everything is a gift ... Even on the worst of days and dealing with negative people there is a lesson to be learned and a blessing to be revealed. I can't change other people but I can change how I respond. It took me many years to understand this but it is the one action on my part that has brought peace to my life. Don't try to change them ... Just change you.” (Kerri Verna)

“Make peace with yourself, your whole self, complete with all your complex thoughts, intense emotions, your pleasure, your pain. Accept it all with an open heart and surrendered spirit and you will make peace with the world around. If you're ok with yourself then it's way easier to be ok with everyone else. So often what bothers us about others or our environment is just a trigger for something inside. Unwind the mind, free the body and let the peace of the inner being fill you up from the inside.” (Kino MacGregor)

Monday, June 17, 2013

Perjalanan Jiwa

Dalam perjalanan hidupku, aku menyadari bahwa pribadiku turut bermetamorfosis seiring dengan makin bertambahnya usia. Mulai dari pribadi yang meledak-ledak kala remaja, lalu menjadi pribadi yang gloomy dan serba negatif saat kuliah hingga hamil anak pertama, kemudian berproses menjadi pribadi yang jauh lebih baik saat ini ketika sudah menjadi emak beranak dua. Mengapa bisa dikatakan lebih baik? Karena di usia 30-an sekarang ini, aku merasa jiwaku telah bertumbuh, aku berdamai dengan diri sendiri dan keadaan, serta menjadi pribadi yang lebih bahagia. Alhamdulillah.

Aku lupa kapan persisnya atau momen seperti apa yang membuatku berdamai dengan diri sendiri dan keadaan. Yang jelas, sekarang aku mensyukuri setiap detik hidupku, memilih untuk bereaksi positif terhadap berbagai keadaan, serta memilih untuk mengambil hikmah dari apapun, bahkan dari suatu hal pahit sekalipun. Jadi jangan heran kalau sekarang aku tetap tersenyum ketika menghadapi kemacetan, atau masih bisa tertawa kala anak bertengkar. Meskipun sekali-sekali kelepasan, aku rasa itu wajar saja karena aku juga manusia :D

Episode hidup yang membahagiakan ini (halah! :D) tentu tidak datang dengan sendirinya. Mungkin juga karena aku sudah bertambah tua, hahaha. Ada beberapa pelatihan bagus yang pernah kuikuti, yang berhasil mengubah sudut pandangku dalam memandang kehidupan.

Pelatihan yang pertama adalah SIAware 8 (Self Insight Awareness 8) yang diadakan oleh IA-ITB. Di pelatihan ini aku belajar menggali masalah dari dalam diriku sendiri, dan pelatihan ini membuatku menyadari bahwa keluarga adalah akar dari segala eksistensi diri. Seperti apa kita, masalah apa yang kita bawa, semua berawal dari keluarga. Pelatihan ini kuikuti pada akhir 2005. Sebagian catatan pelatihan yang tertinggal bisa dibaca di sini.

Pelatihan kedua yang menurutku juga bagus adalah pelatihan Amazing Communication-nya Bunda Rani Razak Noe’man, kuikuti pada Maret 2013. Dari pelatihan ini aku belajar dua teknik penting untuk berkomunikasi dengan anak (bisa dipraktekkan untuk berkomunikasi dengan sesama orang dewasa juga). Nama tekniknya adalah Mendengar Aktif (MA) untuk membangun jembatan komunikasi dengan anak, dan Pesan Diri (PD) untuk memarahi atau melarang anak dengan cara yang elegan. Memarahi di sini dalam tanda kutip ya, karena caranya dengan penuh kasih, tanpa emosi, dan tanpa berteriak. Dua cara ini sangat efektif untuk membuat anak menurut dan memiliki kedekatan hubungan dengan kita sebagai orang tua. Pemaparan lebih lanjut tampaknya harus dibuat dalam tulisan tersendiri karena cukup panjang.

Pelatihan berikutnya adalah pelatihan Self Emotional Healing, masih oleh Bunda Rani, kuikuti pada April 2013. Dari pelatihan ini aku belajar tentang konsep mindful life, yaitu hidup yang dijalani dengan menerima diri kita apa adanya, penuh syukur, menikmati setiap momen, menghargai diri, dan berdamai dengan masa lalu. Teknik yang diajari ada dua, yaitu Self Nurture (SN) dan Self Coaching (SC). SN mirip dengan self hypnosis, merupakan suatu terapi bagi jiwa dan bertujuan untuk membersihkan diri dari residu masa lalu. SC adalah suatu bentuk teknik untuk mengenali perasaan dan kebutuhan diri, mengenali akar dari perasaan/kebutuhan, kemudian merespon dengan aksi untuk memenuhi kebutuhan itu.

Yang membuat pelatihan ini “wow” buatku adalah bagaimana kita diilhami dengan kesadaran bahwa diri kita begitu berharga dan kita berhak untuk bahagia. Oh yess, bahagia itu dipilih, Saudara-Saudara. Kitalah yang memilih respon kita dalam menghadapi kehidupan, mau bahagia atau mau sedih. Kitalah yang memilih untuk tersenyum, entah seberapa pahitnya keadaan yang kita hadapi. Karena seorang bunda yang bahagia akan menghasilkan anak-anak yang bahagia. Indah sekali, bukan?

Alhamdulillah tiga pelatihan powerful yang pernah kuikuti di atas meninggalkan bekas positif dalam hati sehingga bisa menjadikanku pribadi yang bahagia seperti saat ini. Pernah ketika suatu hari aku merasa titik emosiku turun hingga ke titik nadir (aku menyebut saat seperti itu sebagai “momen sumbu pendek” karena amarahku gampang tersulut) dan tingkah aktif Hanif yang sederhana sekalipun berhasil membuatku uring-uringan, maka aku mulai meraba-raba ke dalam diri: apa yang salah? Apa yang membuat diriku yang bahagia ini menjadi hilang kesabaran? Momen sumbu pendek menjadi semacam alarm bagiku untuk instropeksi emosi. Dan ternyataaaa, beberapa hari kemudian aku kedatangan tamu bulanan. Legalah diriku: berarti bukan aku yang kesulitan menata emosi, melainkan memang ada saatnya emosi babak belur ketika PMS datang. Dimaklumi saja lah yaaa :D

Memang ada masanya emosi atau kesabaran menurun, kita kan juga manusia. Pasti ada saja hal-hal yang membuat mood kita berantakan. Tak masalah. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana keluar dari keterpurukan itu dengan cantik dalam waktu yang tidak terlalu lama. Sebagai penutup, ada tautan menarik di sini. Semoga kita senantiasa mengabaikan hal-hal negatif yang tak penting dalam hidup dan merasa bahagia dengan diri kita apa adanya.

Monday, June 10, 2013

Bayi-Bayi Kecil Itu

Sering sekali mendengar kabar duka dari lingkungan sekitar tentang kehilangan anak ketika si anak masih dalam keadaan bayi. Dari teman-temanku saja sudah ada beberapa orang yang pernah kehilangan bayinya: ada yang ketika usia bayi baru 10 hari karena gagal nafas, ada yang ketika usia bayi 2 bulan karena tak mampu bertahan akibat lahir prematur, ada yang karena sakit ketika usia bayi 8 bulan dan 2 tahun, bahkan ada yang kehilangan janin ketika masih dalam kandungan. Belum lagi kabar dari internet tentang bayi-bayi yang kurang beruntung karena mengidap penyakit langka, kelainan, tumor, atau kanker.

Kabar-kabar itu selalu membuatku tercenung, dan seringkali membuatku menitikkan air mata. Sambil mengelus atau mengusap kedua buah hatiku, terbayang bayi-bayi malang itu dalam benak. Terbayang betapa berat beban emosi yang harus ditanggung orang tuanya, karena semua orang tua pasti tak akan pernah mau mengalaminya. Bahkan kalau bisa, kita sebagai orang tua saja yang menanggung rasa sakit itu, kita saja yang mendahului anak-anak kita dipanggil oleh-Nya.

Ada seuntai doa yang selalu terucap buat para orang tua super itu. Special children are for special parents. Bayi-bayi mungil yang telah dipanggil-Nya itu adalah tabungan di surga, yang semoga kelak bisa menjemput orang tuanya di pintu surga. Kalau mau selalu berbaik sangka pada Allah, mungkin paradigma berpikirnya harus dibalik. Betapa setiap orang tua berkeinginan mengantarkan anak-anaknya menjadi pribadi shalih dan shalihah agar anak-anaknya kelak masuk surga, dan lihat betapa dengan kasih sayang-Nya Allah menganugerahkan para orang tua ini sebuah privilege dengan masuknya buah hati mereka ke surga tanpa hisab. Takdir-Nya selalu yang terbaik, mengangkat sakit yang mungkin diderita oleh anak-anak itu.

Selalu terselip harapan bagi mereka, para orang tua sabar itu, semoga kelak mereka cepat diberi ganti buah hati lain yang akan segera bermunculan. Sebagai penyejuk hati dan pelipur lara bagi yang pernah kehilangan. Karena memang betul seperti apa yang tertulis di tautan ini, bukan kita malaikatnya. Merekalah malaikat-malaikat kecil yang dihadirkan di dunia untuk membawa kebahagiaan untuk orang-orang di sekitarnya. Merekalah malaikat-malaikat kecil yang dalam sakit mereka, Allah mengingatkan kita akan kematian. Dalam sakit mereka, Allah menguji kesabaran orang tuanya dan juga kepedulian kita.

Tulisan ini kututup dengan sebuah puisi yang kuambil dari sini. Teriring sekecup kasih untuk bayi-bayi mungil yang sudah menghuni surga-Nya, dan teriring sebait doa untuk para orang tua mereka, terutama bunda mereka.


ada sosok IBU yang luar biasa...


ibu yang slalu berada disamping mereka hampir 24 jam,

ibu yang slalu tak henti berdoa,



ibu yang pandai bersandiwara, yang tak pernah menampakkan kegundahan hatinya didepan sang anak tercinta, tak pernah meneteskan airmata dihadapan anaknya,



ibu hadirkan senyum,

hadirkan penyemangat,



walau vonis dokter sudah bicara tinggal sesaat,

ibu tak pernah menyerah,

apapun usaha agar sang anak bisa seperti sedia kala.



ibu....

tak bisa kubayangkan betapa kuatnya dirimu bu,

pun ketika Allah mengambil kembali titipan Nya,

engkau tetap dalam keikhlasanmu....


*ditulis sambil berkaca-kaca*

Friday, November 05, 2010

Kematian

Masih terekam dalam ingatan, bagaimana sosok jenazah Mbah Maridjan membujur kaku dalam keadaan sujud. Juga masih terngiang jelas hingga membentuk imaji yang lekat dalam benak, ketika seorang teman kantor bercerita bahwa di R.S. dr. Sardjito ada jenazah seorang ibu dengan anak batita di gendongan. Keduanya membujur kaku akibat terjangan awan panas.

Masya Allah. Sampai detik ini, masih juga diri ini diliputi pertanyaan: bagaimana detik-detik mereka meregang nyawa? Mengingat kecepatan awan panas mencapai ratusan kilometer per jam dan kejadiannya hanya memakan waktu beberapa detik, sempat merasa sakitkah mereka?

Semua orang ingin husnul khatimah. Semua orang tidak ingin merasa sakit saat nyawa tercabut. Tapi bisakah? Pantaskah diri ini mendapat privilege itu?

Pada akhirnya, sesuatu itu adalah kematian. Siapkah diri ini ketika malaikat maut menghampiri?

Update:

Saat tulisan ini dibuat, Merapi masih terus mengamuk. Lebih besar daripada letusan pertama pada 26 Oktober 2010. Daerah rawan diperluas hingga radius 20 kilometer. Luncuran awan panas mencapai hingga 10 kilometer. Dan yang lebih membuatku sedih, korban meninggal terkena awan panas terus bertambah, di mana sebenarnya hal ini bisa dihindari mengingat pemerintah terus menghimbau warga untuk turun mengungsi dan media terus mengabarkan berita terkini.

Tapi sekali lagi, siapa yang bisa melawan takdir Allah? Dan sekali lagi, siapkah kita jika takdir kematian datang menghampiri?

Wednesday, December 30, 2009

Resolusi Awal Tahun

Selama ini bisa dibilang aku tidak pernah benar-benar membuat resolusi awal tahun yang jelas. Kalau sekedar target global sih sering ya, tapi tidak untuk target-target yang spesifik harus begini atau begitu. Alih-alih membuat resolusi awal tahun, aku lebih suka melakukan evaluasi akhir tahun dan membuat daftar pencapaian atau milestone tahun yang sudah (atau akan) berlalu.

Minggu lalu, tepat dua pekan menjelang pergantian tahun, aku sakit cukup parah. Mungkin kelihatannya tidak begitu buat orang lain, tapi bagiku sakit itu sungguh menyiksa. Aku tak tahu sebenarnya aku sakit apa, sepertinya terkena infeksi virus—entah virus apa (orang sunda menyebutnya “tampak”). Gejalanya mirip campak jerman, didahului dengan demam tinggi lalu muncul bercak merah sekujur tubuh yang gatalnya minta ampun. Selama lima hari aku tak bisa tidur karena gatalnya benar-benar parah. Mana bisa tidur kalau seluruh kulit terasa gatal menyengat. Setelah gatal mereda, bercak merah menjadi bintil-bintil timbul yang membuat tangan, kaki, dan mukaku bengkak. Untungnya ada tanggal merah tahun baru hijriah dan natal, jadi aku sedikit tertolong tak perlu absen lama dari kantor, meskipun faktanya aku sakit hampir sepuluh hari.

Sampai saat aku menulis ini, kesehatanku belum pulih benar. Gatal dan virus memang sudah menyingkir. Namun seluruh kulit yang kemarin gatal-gatal itu, kini mengelupas dengan suksesnya, membuat kulitku keriput dan tampak putih-putih kelupasan di mana-mana. Aku juga masih sedikit lemas, jadi untuk sementara belum senam dulu—padahal sudah rinduuu dengan lantai senam itu hehehe…

Lalu apa kaitannya sakitku dengan resolusi awal tahun? Jadi begini, malam-malam yang kulalui dengan gelisah dan sedih karena tak bisa tidur saat sakit kemarin, membawaku pada dialog batin dengan-Nya. Betapa rasanya diri ini sedang dicubit-Nya, sedang diingatkan atas segala kenikmatan dan betapa diri ini tak pernah cukup bersyukur. Lalu dalam dialog itu aku membuat semacam janji pada-Nya dan pada diriku sendiri, untuk berusaha menjadi insan yang lebih baik… to be a better person. Apa dan bagaimana detil resolusi yang kunyatakan pada-Nya tak bisa kuceritakan di sini karena rasanya terlalu personal untuk diungkapkan. Yah, semacam dialog spiritual yang menghantam ego dan bermuara pada kesadaran untuk menjadi lebih baik, dalam segala aspek insya Allah.

Pergantian tahun sudah di depan mata. Kini aku siap dengan beberapa resolusi dalam catatanku, baik dalam peranku sebagai istri, bunda, maupun perempuan bekerja.

Tuesday, October 20, 2009

Judes!

Wow, hari ini aku tertohok lagi. Oleh sesuatu yang sudah lama aku tahu, tapi tetap saja rasanya sangat sensasional: antara kaget, malu, dan gusar. Simak saja obrolan di kantin pagi ini.

Aku: “Kamu mual-mual ya?” (tanyaku pada seorang teman yang sedang hamil muda)
Teman A: “Iya nih, lebih mual daripada kehamilan pertama.”
Aku: “Aku dulu juga gitu. Mual banget.”
Teman B: (tiba-tiba berceletuk) “Saking mualnya sampai nggak bisa senyum ya?”
Aku: “???”
Teman B: “Iya. Kamu dulu pas awal-awal di sini kan emang nggak pernah senyum. Judes banget…”

Bagaimana tidak shock mendengar kritik yang begitu jujur seperti itu? Hehehe. Tapi sekarang aku lebih terlatih dalam menghadapi kritik. Tak lagi merasa tersingggung atau nangis bombay seperti dulu. Melainkan mencoba lebih bijak dan merenungkan semua yang temanku itu katakan.

Hmmm, masa-masa awal aku ada di sini… coba aku ingat-ingat. Yayaya, masa-masa itu memang masa-masa kegelapan hehehe. Kondisi sedang hamil, hormon kacau balau, dan mental jungkir balik membuatku begitu labil. Hampir setiap hari menangis, mencoba meraba-raba apa maksud Allah menempatkanku di sini. Fuuhh, masya Allah…

Kuakui, saat itu aku malas sekali menghadapi hari-hari. Malas sekali pergi ke kantor dan bertemu orang-orang. Rasanya wajar kalau saat itu mukaku jadi sering tertekuk. Aku tahu, bisa jadi waktu itu aku sangat judes. Aku tahuuuuu, tapi tetap saja kenyataan itu agak menyakitkan kalau disampaikan orang ya. Yah, aku maklum. Tidak semua orang paham dengan kondisiku. Tak semua orang tahu bagaimana aku berjuang keras untuk tetap tersenyum. Tak bisa salahkan mereka memang. Yang mereka tahu kan cuma keadaan luarku saja. Tak pernah senyum berarti judes. That’s it.

Hmmm, rasanya jadi tahu sekarang, kenapa teman B ini termasuk dalam orang-orang yang paling akhir akrab denganku. Mungkin dia juga malas bersosialisasi denganku waktu itu. Sekali lagi, tak bisa salahkan dia memang.

Kejadian ini membuatku berterima kasih padanya secara pribadi, dan berterima kasih pada Allah secara khusus. Pada Allah aku bersyukur telah diberi kesempatan mengalami campur aduk rasa kehidupan, bersyukur masih diberi cermin untuk instropeksi, dan juga bersyukur telah diingatkan bagaimana sebaiknya berwajah ramah kepada saudara. Yang paling penting, aku juga jadi diingatkan untuk tidak terlampau mudah men-judge orang berdasar penampilan luarnya saja, melainkan juga mencoba memahami dan mengenal orang lain lebih dekat. Karena rasanya sungguh tak enak kalau di-judge semena-mena tanpa tahu sebabnya heuheuheu.

Pertanyaannya sekarang adalah:
  • Apakah sebaiknya kita bermuka dua di hadapan orang lain? Hati kita sedih tapi kita tak boleh bersedih? Harus tetap tersenyum kah? Bukankah sedih adalah manusiawi? Hmmm, mungkin sebaiknya cuma menangis di hadapan Allah saja ‘kali ya. Tapi bisa saja lho, berusaha menyembunyikan perasaan ini dari orang lain malah akan membuat kita makin tertekan.
  • Apakah kita harus selalu memuaskan orang lain? Orang ingin lihat kita tersenyum dan ramah terus, atau orang lain ingin kita begini begitu. Haruskah kita melakukan sesuatu demi menyenangkan orang lain? Dan kadang-kadang menafikan keadaan kita sendiri? Hmmm, jadi martir dong kalau begitu.

Meskipun masih ada tanya tak terjawab, tapi instropeksi kali ini terasa nikmat. Terima kasih ya, Allah!

Wednesday, June 24, 2009

Idealisme Vs Realitas

Aku sering takjub bagaimana waktu bisa begitu mengubah hidup seseorang. Aku tak terlalu paham apa yang telah terjadi, tapi melihat beberapa respon dari teman-teman… tampaknya saat ini aku telah berubah menjadi seseorang yang skeptis dan sinis. Kesadaran ini datang dari “ketersinggungan” beberapa teman atas komentar-komentar yang aku lontarkan. Hmm, benarkah? Am I being skeptical and cynical?

Ada suatu masa dalam hidupku di mana segala sesuatu yang tampak dalam benak rancangan hidup adalah kehidupan yang serba idealis. Dari pemahamanku tentang peran utama seorang perempuan, waktu itu aku sangat berharap bisa menjadi stay-at-home mom. Atau kalaupun berkarir, bisa berkarir dari rumah. Nyatanya Allah menakdirkan lain.

Dalam hal pernikahan, terinspirasi dari romantisme masa kecil tentang negeri dongeng, hal yang terbayang adalah sebuah pernikahan yang happily ever after tanpa tetek bengek yang menyusahkan. Tak ada bayangan cerita soal princess yang kebingungan mencari dayang untuk mengasuh anak-anaknya karena ia harus bekerja sementara pangeran tinggal beda kota dan beda istana, atau princess yang tidak akur dengan mertua, atau princess yang bertengkar dengan pangeran, misalnya. Let me tell you, there is no such a fairytale.

Ketika hidup berbenturan dengan idealismeku, maka yang menang adalah hidup. Hidup mengajarkanku bahwa ia tak seindah bayangan. Ya ya ya, terdengar klise memang. Tapi sungguh, ketika akhirnya kita lulus kuliah, bekerja, dan menikah… maka itulah sebenar-benar hidup. Kita dihadapkan pada kerasnya kehidupan dunia. Tak ada lagi hal-hal yang serba ideal, serba manis… yang ada hanya sikap realistis bahwa hidup tak semulus dan seindah yang dibayangkan.

Mungkin dari pengalaman seperti itulah, aku jadi agak bersikap ajaib terhadap teman-teman yang masih hidup dalam idealisme mereka. Seakan ingin membangunkan mereka dari mimpi yang melenakan. Ingin berseru pada mereka, “Wake up! There is no such a fairytale…

Aku tidak sirik. Apalagi iri. Karena aku yakin bahwa hidup punya takdirnya masing-masing—sesuatu yang wajib juga kita syukuri, karena takdir Allah pastilah yang terbaik. Aku hanya ingin mengingatkan mereka: ada banyak hal pahit dalam hidup ini. Bila hal pahit itu belum datang pada mereka, jangan terlampau senang. Karena tak mungkin Allah membiarkan hidup hamba-Nya mulus dan lempeng tanpa ujian.

Aku tahu, pencapaian yang sederhana berawal dari mimpi yang melangit. Aku tidak melarang orang bermimpi setinggi langit. Tapi kalau lantas hal itu membuat mereka tidak realistis, ya tidak sehat juga rasanya. Hanya ingin mengingatkan.

Hmm, mungkin itu ya yang membuatku menjadi (terlihat) begitu skeptis dan sinis memandang kehidupan?

Catatan:
Kisah lain tentang idealisme vs realitas ada di sini. Baca saja. Bagus untuk renungan.

Monday, April 06, 2009

Indah Pada Waktunya

Dalam hidupku, beberapa kali aku melihat rumput tetangga tampak lebih hijau. Dulu ketika aku nggak lulus-lulus kuliah, aku sering mengeluh pada-Nya... bahwa hidupku tak semulus hidup orang lain. Kenapa si anu sudah begini, kenapa si anu sudah begitu, kapan datangnya waktuku, dan masih banyak lagi.

Saat ini, melihat kembali perjalanan hidupku, aku jadi malu sendiri. Memang skenario-Nya yang terbaik, menjadikan segala sesuatu dalam hidupku indah pada waktunya. Tidak terlalu lambat, juga tidak terlalu cepat. Melainkan tepat pada waktunya.

So, here are some milestones of mine:


2006

  • Lulus kuliah

2007

  • Beli rumah (sama calon suami waktu itu)
  • Nikah

2008

  • Dapat kerja
  • Hanif lahir

2009

  • SK PNS turun


Alhamdulillah. Syukur tak terkira atas segala nikmat-Nya. Resolusi dan milestone lain menyusul ya ;)

Manisnya Berbagi

Satu hal yang amat kukagumi dari suamiku adalah kemurahan hatinya. Dibesarkan dalam keluarga yang mengerti benar tentang arti kesederhanaan, ia tidak lantas bersikap eman terhadap miliknya. Suka sekali ia memberi, terutama terhadap orang-orang yang memang layak menerima.

Sore itu, kami termangu di lobi BIP, memandangi hujan yang turun dengan lebatnya. Parkir motor ada di seberang jalan, dan kami sama sekali tidak membawa payung. Di pinggir jalan, cukup ramai orang menawarkan ojek payung.

”Kita nekat saja yuk. Kasihan Hanif nunggu di rumah. Kita ke motor pake ojek payung, sekalian ngasih rejeki,” kata suamiku seraya meraih payung yang dipegang ojek payung di depannya, yang adalah seorang anak kecil. Ya, anak kecil. Dari obrolan selintas lalu, dia baru kelas 3 SD. Suamiku memilihnya karena ia lebih layak menerima dibanding ojek-ojek payung yang lain, yang rata-rata lebih dewasa.

Di parkir motor, suamiku menyuruhku memberi anak itu lebih dari dua kali lipat tarif ojek payung yang normal. Terus terang kami lebih suka memberi dengan cara seperti ini daripada memberi kepada peminta-minta. Memberi dengan cara ini bagai memberi kail, bukan ikan. Memberi dengan cara ini mengajari orang berusaha, bukan meminta-minta. Dan tentu, memberi lebih daripada yang ia layak terima adalah kebahagiaan tersendiri.

Subhanallah, satu momen lagi dalam hidupku, aku diajari suamiku arti memberi. Binar mata dan ucapan terima kasih anak itu lebih dari cukup untuk membuat hatiku berdesir haru sore itu. Hmm, begini rasanya: bahagia karena memberi. Alhamdulillah masih diberi-Nya kesempatan untuk merasakan bahagia versi ini.