Wednesday, May 08, 2024

Perjalanan Diri


Apa yang paling Anda perhatikan dari foto di atas? Perbandingan antara gemuk dan langsing, ya? Sesungguhnya perbandingan yang lebih dalam atas foto itu jauh melampaui hal yang kasat mata, tidak hanya sekadar perbedaan berat badan.

Perjalanan Raga


Perjalananku dengan pola hidup sehat berawal sejak masa kuliah. Sebelum tahun 2005, kesehatan tidak pernah menjadi prioritas buatku. Sebagai anak indekos, hobiku bergadang dan makan mi instan. Baru setelah masa-masa Tugas Akhir tahun 2005, aku mulai rutin melakukan senam aerobik serta menerapkan kesadaran saat makan, belajar berpikir sebelum makan, dan menerapkan food combining. Dalam kurun waktu 2006-2007, berat badanku turun 13-14 kg akibat menjaga pola makan dan berolahraga secara rutin.

Foto tahun 2016 di atas adalah foto saat aku hamil anak keempat dalam usia kandungan 16 minggu. Aku tampak lebih langsing daripada zaman kuliah. Saat itu olahraga sudah jauh lebih bervariasi: senam, yoga, lari, zumba, dan berenang. Penurunan berat badan secara drastis tak lagi terjadi meskipun aku sudah menerapkan clean eating. Tidak masalah, yang penting berat badan tetap terjaga, kenaikan berat badan selama hamil dan sesudah melahirkan tetap terkendali, dan hasil MCU tahunan selalu bagus.

Foto tahun 2020 adalah foto dalam kondisi 11 bulan postpartum anak kelima. Berat badan naik tentu saja, mungkin karena usia sudah mendekati 40 jadi meski digenjot olahraga dan jaga makan tetap saja segini, hehehe. Guess what, angka timbangan foto paling kiri dengan foto paling kanan sebenarnya tidak berbeda terlalu jauh. Lalu mengapa lingkar-lingkarnya berbeda jauh? Yup, begitulah bedanya massa otot dengan massa lemak.

Lantas sejak saat itu hingga sekarang, apakah aku tidak pernah bermasalah dengan berat badan? Tentu saja pernah, hahaha. Setelah melahirkan anak kelima, berat badanku merangkak naik akibat tidak terlalu menjaga pola makan. Saat itu bayiku sedang berkutat dengan masalah kenaikan berat badan yang kurang—bahkan hampir gagal tumbuh—sehingga aku merasa harus banyak makan supaya produksi ASI berlimpah.

Aku berusaha tidak terlalu memikirkan berat badanku dan hanya berfokus pada berat badan bayiku, tetapi kenyataannya tubuhku mulai menggendut dan hasil cek kolesterol sempat berada di atas batas. Setelah anakku berusia setahun dan berat badannya aman, aku mulai kembali menerapkan pola makan secara lebih ketat.

Perjalanan Jiwa


Seperti yang kutulis di atas, ada perubahan yang lebih dalam, lebih dari sekadar perbedaan berat badan dari tahun ke tahun.

Dalam perjalanan hidupku, aku menyadari bahwa pribadiku turut bermetamorfosis seiring dengan makin bertambahnya usia. Mulai dari pribadi yang meledak-ledak kala remaja, lalu menjadi pribadi yang gloomy dan serba negatif saat kuliah hingga hamil anak pertama, kemudian berproses menjadi pribadi yang lebih baik. Aku merasa jiwaku bertumbuh, aku berdamai dengan diri sendiri dan keadaan, serta menjadi pribadi yang lebih bahagia. Alhamdulillah.

Foto tahun 2001 adalah foto zaman kuliah. I was at the lowest point of my self worth. I was happy but I seemed to be lost all the time. Tidak punya passion, berjuang untuk lulus, dan yang paling parah: aku tidak mencintai diriku sendiri.

Not loving yourself means you just don't care about you. You just don't care about feeding you right, I mean literally and emotionally. I didn't care what I looked like, I didn't care whether I was living a healthy lifestyle or not. I didn't do sports, I ate everything I want. I didn't have any close friend since I was grumpy and I used to be so introvert.

Aku lupa kapan persisnya atau momen seperti apa yang membuatku berdamai dengan diri sendiri dan keadaan. Yang jelas, sekarang aku mensyukuri setiap detik hidupku, memilih untuk bereaksi positif terhadap berbagai keadaan, serta memilih untuk mengambil hikmah dari apa pun, bahkan dari suatu hal pahit sekalipun.

Dari beberapa pelatihan yang pernah aku ikuti, aku belajar menggali masalah dari dalam diriku sendiri. Satu pelatihan membuatku menyadari bahwa keluarga adalah akar dari segala eksistensi diri. Seperti apa kita, masalah apa yang kita bawa, semua berawal dari keluarga.

Dari pelatihan yang lain, aku belajar tentang konsep mindful life, yaitu hidup yang dijalani dengan menerima diri kita apa adanya, penuh syukur, menikmati setiap momen, menghargai diri, dan berdamai dengan masa lalu. Teknik yang diajarkan ada dua, yaitu Self Nurture (SN) dan Self Coaching (SC).

SN mirip dengan self hypnosis, merupakan suatu terapi bagi jiwa dan bertujuan untuk membersihkan diri dari residu masa lalu. SC adalah suatu bentuk teknik untuk mengenali perasaan dan kebutuhan diri, mengenali akar dari perasaan/kebutuhan, kemudian merespon dengan aksi untuk memenuhi kebutuhan itu.

Yang membuat pelatihan-pelatihan ini terasa “wow” buatku adalah bagaimana kita diilhami dengan kesadaran bahwa diri kita begitu berharga dan kita berhak untuk bahagia. Oh ya, bahagia itu dipilih, Saudara-Saudara. Kitalah yang memilih respon kita dalam menghadapi kehidupan, mau bahagia atau mau sedih. Kitalah yang memilih untuk tersenyum, entah seberapa pahitnya keadaan yang kita hadapi. Semoga kita senantiasa mengabaikan hal-hal negatif yang tak penting dalam hidup dan merasa bahagia dengan diri kita apa adanya.


Tulisan ini diikutsertakan dalam Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan Mei yang bertema “Perbandingan (Versus)”.

4 comments:

  1. Masyaallah ... Keren teh Tika semangatnya menjadi sehat lahir dan batin.
    Benar sekali bahagia itu kita yang memilih. Sehat adalah karunia dan seharusnya itu membuat kita bahagia.

    ReplyDelete
  2. Salut teh, ngga cuma transformasi berat badan tapi juga inner ya. Aku pun jaman kuliah insekyur, mungkin ya jaman kuliah itu tekanannya tinggi juga hehe. Bisa beda gitu tampilan masa muda dan sekarang padahal berat badannya sama.

    ReplyDelete
  3. Teori sih udah ada. Banyak malah. Tapi untuk ke prakteknya kok susyah ya!? Heuuu... Bagi2 tipsnya biar bisa teguh dan mantap buat hidup sehat dong teh! 🤗

    ReplyDelete
  4. Setuju sekali. Kita berhak bahagia.

    ReplyDelete