Showing posts with label book. Show all posts
Showing posts with label book. Show all posts

Wednesday, February 01, 2023

Dear John

Membaca karya fiksi selalu menjadi kesenangan buatku, sejak zaman kecil dulu hingga kini sudah menjadi emak beranak lima. Aku ingat ketika masa-masa berlangganan Bobo, membaca cerpen selalu menjadi hal yang paling kunantikan, terutama karena aku harus bergantian membaca majalah itu dengan kakakku. Setelah menjadi penulis fiksi (abal-abal, hahaha), membaca karya fiksi seolah menjadi kewajiban untuk menambah ilmu dan memperkaya khazanah. Ibarat kata pepatah: teko hanya mengeluarkan isi teko, supaya dapat menulis fiksi dengan baik tentu aku harus mengisi pula asupan dengan banyak membaca karya fiksi.

Saat ini membaca karya fiksi buatku bukan hanya untuk mereguk kesenangan saja. Di dalam prakteknya aku juga mengamati bagaimana penulis membangun unsur-unsur intrinsik seperti membangun tema, menentukan sudut pandang, menciptakan penokohan beserta karakternya, menuliskan alur, menggunakan gaya bahasa, dan memilih latar. Ada banyak sekali novel yang menginspirasiku–tentu tak akan cukup aku bahas di sini–tetapi ada satu buku yang cukup sering kubolak-balik. Selain karena isi ceritanya sangat meninggalkan kesan di hatiku, buku itu juga cukup kaya untuk dipelajari sisi-sisi kepenulisannya. Buku apakah itu? Yuk, kita simak.

“Dear John” karya Nicholas Sparks

Aku pertama kali membaca “Dear John” pada tahun 2013. Novel ini adalah satu dari tujuh buku Nicholas Sparks yang kumiliki. Yes, dia memang penulis favoritku karena aku sangat menyukai genre kisah cinta romantis. Novel-novelnya sering berkisah tentang cinta abadi.

“Dear John” menceritakan kisah hidup seorang John Tyree yang pada masa awal kehidupannya hanya tinggal berdua dengan ayahnya, seorang pengidap Sindrom Asperger. Hal itu sedikit banyak mempengaruhi relasi mereka. John tahu ada yang berbeda dengan ayahnya, tetapi ia tak pernah memahami hal itu. Perjalanan hidupnya yang rumit membuatnya mendaftar masuk ke US Armed Forces, dan pada suatu masa cuti dari ketentaraan ketika ia pulang ke rumah, ia bertemu dengan seorang gadis bernama Savannah. Dari situlah kisah kemudian berkembang. Savannah mengajarkan John bagaimana memperbaiki hubungan dengan ayahnya, mengajarkannya tentang cinta, patah hati, dan kebahagiaan sejati.

Sparks yang dikenal sebagai spesialis penulis dengan ending tragis dalam novel-novelnya, sebenarnya lebih suka menyebut ending novel ini sebagai bittersweet. Ia berusaha membangun konflik dengan cara seorisinal mungkin tentang alasan mengapa dua orang yang saling mencintai tidak dapat bersatu selamanya. Konflik dalam kisah John dan Savannah ini diaduk-aduk sedemikian rupa sehingga tetap terasa nyata dan tidak mengada-ada. Jadi meskipun ringan dibaca, konfliknya tetap matang. Ini adalah suatu keahlian mumpuni yang dimiliki oleh Sparks (acung jempol).

Novel ini banyak menggambarkan detail Wilmington, North Carolina sebagai latar. Bagi sebagian orang yang tidak terlalu suka narasi, beberapa bagian penceritaan kota itu mungkin terasa panjang. Namun bagiku, hal ini menunjukkan kepiawaian Sparks dalam menulis deskripsi dan menggambarkan suasana yang sangat membantu pembaca untuk membayangkan konteks cerita. Tidak hanya pada latar, tetapi juga pada bagian-bagian detail lainnya. Penggambaran selalu deskriptif mengenai apa pun dan tidak membosankan, meskipun selalu dilihat dari sudut pandang orang pertama.

Dalam hal penokohan, sungguh aku tak bisa berkata-kata lagi. Sparks selalu keren dalam menciptakan tokoh yang berkarakter. Sudut pandang orang pertama sering dipakai dalam novel, tetapi jarang ada novel romantis yang “aku”-nya adalah seorang laki-laki. John digambarkan sangat manusiawi: meskipun ia tentara–yang identik dengan sosok tangguh–ternyata ia memiliki perasaan yang halus … ia bisa mellow bahkan menangis, juga clueless jika menyangkut hubungannya dengan Savannah. Dari segi penggambaran emosi, perasaan John pun tersampaikan dengan baik seolah-olah ia benar-benar sedang curhat dengan pembaca. Hal ini tentu membuat pembaca ikut larut dalam cerita. Aku angkat topi untuk kemampuan Sparks menulis tentang emosi secara mendalam.

Dari sekian banyak novel Nicholas Sparks, “Dear John” ini yang paling baik menurutku. Alih bahasa yang dilakukan Barokah Ruziati bagus dan tanpa cela, tidak seperti salah satu novel Sparks (no mention ah, wkwk) yang alih bahasanya acakadut dan bikin geregetan. Dalam situs pribadinya, Sparks menulis tentang buku ini, “In the end, I was proud of the novel. It is, in many ways, one of my favorites. It is also one that I think will resonate with readers long after the final page is turned.

Ya, dia benar! Aku menangis ketika membaca novel ini, terutama ketika bab-bab akhir. Aku masih ingat, air mata terus mengalir di wajahku. “Dear John” is also my favorite, and it resonated with me long after the final page was turned, even many years later.

Judul: Dear John
Penulis: Nicholas Sparks
Diterbitkan oleh PT Gramedia Pustaka Utama
Jumlah Halaman: 392 halaman


Tulisan ini diikutsertakan dalam Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan Februari yang bertema “Buku Bacaan yang Berpengaruh”.

Sunday, November 06, 2022

Keajaiban dari Allah

Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan November sungguh membuatku berpikir keras. Baru kali ini aku mendapati ketentuan untuk bebas berkreasi dengan memilih satu atau lebih dari tiga tema yang diberikan untuk diramu menjadi satu tulisan. Oke, menggabungkan tiga tema yang tersedia … mengapa tidak? Saatnya menantang diri sendiri dan keluar dari zona nyaman, hehehe.

Tokoh yang Inspiratif

Bicara soal tokoh inspiratif, pikiranku sontak tertuju kepada Rasulullah Muhammad saw. Beliaulah manusia terbaik sepanjang masa, sosok yang hampir semua perkataan dan perbuatannya dijadikan sebagai pedoman hidup. Tidak ada manusia yang dapat mengalahkan keutamaan beliau.

Michael H. Hart, seorang astrofisikawan Yahudi, dalam bukunya The 100: A Ranking of the Most Influential Persons in History mendudukkan Rasulullah pada posisi nomor satu sebagai manusia yang paling berpengaruh dalam mengubah sejarah peradaban manusia. Dalam buku terbitan tahun 1978 itu, Hart menuliskan bahwa pemilihan para tokoh tidak hanya didasarkan pada faktor betapa pentingnya orang tersebut, tetapi juga dengan mempertimbangkan “masa berlaku” pengaruh sang tokoh. Pengaruh Rasulullah memiliki efek yang masih bertahan hingga sekarang, jauh melampaui masa hidup beliau.

Apa yang membuat Rasulullah begitu istimewa di hati kaum muslim? Banyak sekali alasannya, bahkan ratusan halaman takkan cukup untuk menuliskan jasa dan kebaikan beliau. Yang jelas, tanpa Rasulullah, aku takkan pernah merasakan nikmat iman dan Islam; hidup akan berjalan tanpa arah dan tujuan; aku takkan memahami hakikat penciptaan, dari mana aku berasal, dan ke mana sebenarnya aku akan pergi setelah meninggalkan dunia ini.

Rasulullah dikenal memiliki akhlak yang paling mulia untuk dijadikan teladan bagi umatnya. Beberapa di antaranya adalah selalu menyatakan pendapat dengan baik, tidak pernah melakukan hal-hal buruk, tidak pernah berperilaku kasar, dan tidak pernah berteriak. Ibnu Qatadah pernah bertanya kepada Aisyah ra. tentang akhlak Rasulullah, maka Aisyah menjawab: “Akhlak beliau adalah Al-Qur’an.” (H.R. Ahmad)

Salah satu hal yang paling membuatku “meleleh” adalah kisah yang diceritakan oleh Ustaz Weemar dalam salah satu kajiannya tentang Rasulullah. Konon setiap nabi memiliki doa yang makbul–dalam kasus Nabi Musa, misalnya ketika beliau membelah Laut Merah–tetapi Rasulullah menahan diri untuk menyimpan doa ini dan tidak digunakan privilege-nya ketika di dunia. Kelak di hari akhir, Rasulullah menunda dirinya untuk bersegera masuk ke dalam surga demi bersyafaat dahulu untuk menyelamatkan seluruh umatnya dari neraka dan memasukkan umatnya ke dalam surga. Masyaallah, sebegitu cintanya beliau kepada kita.

“Sungguh, telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaan yang kamu alami, (dia) sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, penyantun dan penyayang terhadap orang-orang yang beriman.” (Q.S. At-Taubah: 128)

Review Bacaan

Ada banyak sekali buku sirah yang menceritakan biografi Rasulullah. Bagi seorang muslim, memiliki buku sirah Rasulullah seakan menjadi hal wajib. Bagaimana kita bisa meneladani jika tidak memahami kehidupan beliau? Salah satu buku sirah Rasulullah yang kumiliki berjudul Membangun Peradaban: Sejarah Muhammad saw. Sejak Sebelum Diutus Menjadi Nabi karangan H.M.H. Al-Hamid Al-Husaini. Di tengah banyaknya buku sirah terjemahan yang alih bahasanya kadang tidak smooth, kehadiran buku ini dapat menjadi alternatif bagi para pembaca tanah air.

H.M.H. Al-Hamid Al-Husaini adalah penulis buku islami dan peneliti sejarah Islam kelahiran Tuban, Jawa Timur, 16 Agustus 1914. Beliau pernah mengenyam pendidikan agama di Inat, Yaman Selatan, pada 1932-1935. Pada zaman penjajahan Belanda, beliau adalah pendiri dan penerbit majalah Aliran Baru di Surabaya (1939-1941).

Penulisan dalam buku ini terbagi menjadi bab dan subbab yang urutannya terasa mengalir. Pada bagian awal dijelaskan tentang kisah Nabi Ibrahim sebagai pengantar, perkembangan sejarah penulisan kitab-kitab sirah nabawiyyah, lintasan sejarah Arab masa silam, hingga agama-agama dan peradaban-peradaban sebelum Islam. Bagian berikutnya masuk ke dalam kisah hidup Rasulullah, mulai dari awal penciptaan, silsilah dan kelahiran, masa kanak-kanak, masa kenabian, saat meninggalnya, hingga proses pembaiatan khalifah sepeninggal beliau.

Daftar Isi

Buku ini memuat riwayat hidup Rasulullah saw. secara lengkap, utuh mendalam, dan ditinjau dari segala aspek. Gaya penulisan Al-Hamid Al-Husaini lebih seperti karya tulis ilmiah karena merupakan hasil pengalaman dan penelaahan yang luas dan mendalam dari khazanah kepustakaan yang kaya sehingga pembaca dapat memperoleh gambaran yang tajam dan utuh.

Kelemahan buku ini terletak pada seringnya penulis memasukkan opini dalam narasinya. Hal ini dapat membuat bingung pembaca, apalagi penulisan narasinya seringkali berupa kalimat-kalimat panjang. Pada beberapa peristiwa yang berisiko menimbulkan perbedaan pendapat, misalnya pada bab yang menyoroti perihal siapakah sebenarnya yang lebih berhak atas kekhalifahan setelah Rasulullah meninggal, hal ini dapat memperuncing konflik yang terjadi dalam tubuh umat Islam itu sendiri.

Judul: Membangun Peradaban: Sejarah Muhammad saw. Sejak Sebelum Diutus Menjadi Nabi
Penulis: H.M.H. Al-Hamid Al-Husaini
Cetakan pertama, Oktober 2000
Diterbitkan oleh Pustaka Hidayah
Jumlah Halaman: 1000 halaman

Pengalaman di Luar Nalar

Dalam banyak episode kehidupan Rasulullah, beliau sering mengalami kejadian di luar nalar. Hal itu merupakan hal yang wajar mengingat beliau adalah seorang nabi yang memiliki kedudukan istimewa di sisi Allah. Banyak keajaiban yang terjadi, yang barangkali merupakan mukjizat dan bentuk pertolongan Allah. Peristiwa ajaib yang paling sering disebut salah satunya adalah peristiwa Isra’ Mi’raj–yang mungkin kisahnya sudah kita hafal di luar kepala–tetapi kali ini aku ingin bercerita mengenai kisah Perang Khandaq yang mukjizatnya bisa jadi tak sesering itu dibahas orang.

Peta Perang Khandaq

Perang Khandaq yang terjadi pada 627 M (5 H) disebut juga Perang Ahzab. Ahzab berasal dari kata hizb yang artinya kelompok, disebut demikian karena saat itu kaum muslim berperang dengan kaum Yahudi dan beberapa kelompok kaum musyrik yang bersekutu yaitu Bani Nadhir (Yahudi yang telah diusir dari Madinah), kaum Quraisy, suku Ghathafan serta kabilah-kabilah Kinanah, Tihamah, Bani Sulaim, Fazarah, Bani Murrah, Bani Asyja’, dan Bani Asad. Pasukan yang bersekutu ini berjumlah kurang lebih 10.000 orang. Konon jumlah ini lebih banyak daripada semua penduduk Madinah dikumpulkan menjadi satu.

Pasukan muslim yang berjumlah 1.000 orang menggali parit di sebelah utara Madinah. Area tersebut merupakan area terbuka yang rawan dan mudah diterobos musuh. Penggalian parit ini dilakukan atas usul seorang sahabat Rasulullah bernama Salman Al Farisi. Parit sepanjang 12 km, lebar 5 meter, dan dalam 3 meter berfungsi sebagai pertahanan untuk menghalau pasukan musyrik.

Keajaiban Pertama

Pada proses penggalian parit itu, kaum muslim menemukan sebuah batu besar yang amat keras. Mereka berusaha menghancurkannya sekuat tenaga dengan peralatan yang ada, tetapi tidak berhasil. Rasulullah memecahkan batu tersebut dengan tiga kali pukulan yang menghasilkan percikan cahaya. Saat itulah muncul bisyarah (kabar gembira) mengenai wilayah-wilayah yang kelak dibebaskan oleh Islam.

“Ketika para sahabat mendapatkan batu besar yang tidak bisa dipecahkan, Rasulullah mulai memukul batu tersebut. Beliau memulainya dengan membaca, 'Bismillah.' Lalu memukul dan berhasil menghancurkan sepertiganya. Beliau mengucapkan, 'Allahu akbar! Aku telah diberi kunci-kunci Syam. Demi Allah, sekarang aku melihat istana yang merah.' Beliau melanjutkan dengan pukulan kedua. Kali ini beliau juga berhasil menghancurkan sepertiga berikutnya dan beliau mengucapkan, 'Allahu akbar! Aku telah diberi kunci-kunci Paris (Persia). Demi Allah aku melihat istananya yang putih.' Beliau melanjutkan dengan pukulan ketiga dan akhirnya batu yang tersisa berhasil dipecahkan. Setelah pukulan ketiga, beliau mengucapkan, 'Allahu akbar! Aku telah diberi kunci-kunci Yaman. Demi Allah aku melihat pintu-pintu Shan’a dari tempatku ini.'” (Musnad Imam Ahmad:(30/626), Fathul Bari)

Keajaiban Kedua

Saat itu Madinah sedang dilanda paceklik. Makanan yang jumlahnya sedikit harus dibagi untuk banyak orang (sebuah riwayat mengatakan: satu kurma dibagi untuk sepuluh orang). Rasulullah sendiri berada dalam keadaan yang sangat lapar hingga beliau mengganjal perutnya dengan batu guna menahan lapar.

Ketika itu Jabir bin Abdullah mempunyai seekor kambing kecil dan kurus. Karena tidak tega melihat Rasulullah kelaparan, dia menyuruh istrinya menyembelih dan memasak kambing tersebut untuk dimakan bersama Rasulullah saja, karena tidak mungkin dagingnya cukup untuk dimakan orang banyak. Ketika Jabir mengajak Rasulullah makan di rumahnya, beliau diikuti oleh semua kaum muslim yang menggali parit. Jabir kebingungan, bagaimana mungkin makanan yang sedikit itu mencukupi kebutuhan semua orang.

Rasulullah berpesan kepada Jabir supaya makanan yang telah dimasak itu jangan dibuka dahulu wadahnya. Sejenak Rasulullah berdoa, kemudian makanan mulai dikeluarkan dari wadah untuk dihidangkan kepada semua orang. Ternyata makanan itu tiada habisnya. Hingga semua yang hadir selesai makan kenyang, makanan dalam wadah tetap tidak berkurang.

Keajaiban Ketiga

Dalam Perang Ahzab, jumlah pasukan muslim dibanding pasukan musyrik adalah 1:10. Hal itu membuat semangat kaum muslim mengendur dan nyali mereka menjadi ciut. Rasulullah sendiri tiada putus-putusnya menghadapkan diri dan bermunajat memohon pertolongan kepada Allah.

Diriwayatkan oleh Ahmad bin Hanbal, Rasulullah berdoa, “Ya Allah yang menurunkan Al-Qur’an dan yang Mahacepat memperhitungkan (perbuatan hamba-hamba-Nya), kalahkanlah musuh-musuh kami. Ya Allah, kalahkanlah musuh-musuh kami. Ya Allah, kalahkanlah mereka dan menangkanlah kami.” (H.R. Bukhari dan Muslim)

Allah mengabulkan doa beliau. Pada akhirnya, Allah membuat perpecahan di kalangan kaum musyrik serta mengirimkan malaikat dan angin topan untuk memporakporandakan kawasan-kawasan tempat pasukan musyrik mengepung Madinah. Tidak hanya kemah dan perbekalan mereka yang hancur berceceran, semangat mereka untuk berperang pun ikut runtuh. Dengan bubarnya pasukan musyrik meninggalkan pengepungan Madinah, berakhirlah sudah Perang Khandaq.

“Wahai orang-orang yang beriman! Ingatlah akan nikmat Allah (yang telah dikaruniakan) kepadamu ketika bala tentara datang kepadamu, lalu Kami kirimkan kepada mereka angin topan dan bala tentara yang tidak dapat terlihat olehmu. Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (Yaitu) ketika mereka datang kepadamu dari atas dan dari bawahmu, dan ketika penglihatan(mu) terpana dan hatimu menyesak sampai ke tenggorokan dan kamu berprasangka yang bukan-bukan terhadap Allah. Di situlah diuji orang-orang mukmin dan digoncangkan (hatinya) dengan goncangan yang dahsyat.” (Q.S. Al Ahzab: 9-12)




Monday, September 13, 2021

Aku, Anak-Anak, dan Minat Baca

Sejak aku kecil, membaca sudah menjadi duniaku. Aku tak ingat persisnya mulai usia berapa aku gemar membaca. Namun, aku ingat jelas: masa kecilku kuhabiskan dengan menekuri lembar demi lembar majalah Bobo; komik bergambar macam Nina, Tintin, Asterix, atau Steven Sterk; komik Jepang semisal Candy Candy, Pansy, Mari-chan, atau Doraemon; novel seperti Lima Sekawan, Trio Detektif, Stop, atau Malory Towers; bahkan novel detektif karya Agatha Christie.

Begitu senangnya aku membaca sehingga pergi ke perpustakaan, toko buku, atau tempat persewaan buku menjadi suatu agenda yang menyenangkan. Aku tak tahu pasti penyebab minat bacaku waktu itu tumbuh dengan pesat. Hal itu mungkin dikarenakan orang tuaku sering membelikan buku dan menyediakan aneka bacaan di rumah.

Beranjak dewasa, aku menyadari bahwa buku adalah jendela dunia. Aku pernah menjadi salah satu kandidat terbaik dalam seleksi yang diadakan oleh sebuah kantor surat kabar di Jakarta ketika mereka mencari calon wartawan baru. Pertanyaan dan tes yang diajukan kebanyakan tentang pengetahuan umum. Aku yakin kegemaranku membaca rubrik pengetahuan di majalah, membaca koran, dan melihat berita di televisi, turut andil dalam hal itu.

Anak yang minat bacanya tinggi cenderung lebih gampang menerima informasi. Tentu pengetahuan mereka juga lebih banyak. Untuk menulis, mereka tidak akan menemui kesulitan yang berarti karena perbendaharaan kata sudah beragam. Bahkan aku pernah membaca—entah di mana aku lupa—anak yang suka membaca lebih pandai dan lebih kritis, terutama dalam diskusi, dibanding dengan yang tidak suka membaca.

Karena menyadari hal-hal tersebut di atas, aku bertekad ingin selalu menimbulkan minat baca pada anak. Eksperimen pertama kulakukan pada adikku bertahun-tahun lalu untuk membuktikan bahwa usaha membombardir anak dengan buku akan bisa menjadikan anak suka membaca. 

Sejak adikku berusia tujuh tahun, aku selalu rutin menghadiahinya buku ketika dia berulang tahun, mulai dari buku bergambar hingga novel tebal ketika dia sudah beranjak remaja. Ternyata benar, dia tumbuh menjadi seseorang yang gemar membaca. Waktu aku kuliah, masa-masa mudik selalu kuisi dengan agenda pergi ke toko buku bersamanya. Dia sudah berhasil menamatkan novel Harry Potter yang setebal bantal dalam waktu dua hari ketika dia belum lagi lulus SD. Ketika SMP, dia mulai suka membaca koran. Pengetahuannya bertambah; kemampuan menulisnya juga bertambah. Aku tak bisa lebih bangga, dia masuk dalam jajaran anak-anak pintar di kelasnya.

Eksperimen kedua kulakukan pada anak-anakku. Yah, ini sebenarnya bukan lagi eksperimen, melainkan suatu tindakan yang didasarkan pada kesadaran nyata tentang pentingnya menumbuhkan minat baca pada anak. Sejak anak sulungku berusia enam bulan, kami rutin membelikan softbook, boardbook, dan buku-buku bergambar yang lebih beraneka ragam. Aku, suami, dan pengasuh sering mengadakan sesi membaca buku. Rata-rata ketika anak-anakku berusia dua tahun, mereka sudah mulai bisa memahami jalan cerita. Biasanya setelah bercerita, kami mengajukan beberapa pertanyaan untuk menguji seberapa jauh pemahaman mereka. Kadang-kadang kami menyuruh mereka bercerita dengan kalimat mereka sendiri.

Kebiasaan membaca sudah mulai menjadi kebiasaan yang tertanam pada diri anak-anak, terutama anak sulungku yang kelihatannya paling gemar membaca dibanding adik-adiknya. Sesaat sebelum naik ke tempat tidur di malam hari, mereka akan memastikan barang-barang favoritnya sudah dibawa serta, seperti mainan kesukaan dan buku pilihan untuk malam itu. Dengan gembira mereka akan membuka-buka buku lalu bercerita tentang halaman tertentu dengan antusias. Jika minta dibacakan, mereka akan duduk manis di pangkuanku setelah sebelumnya menyodorkan buku padaku. Hmm … buah dari usahaku selama ini untuk menjadikan mereka suka membaca, alhamdulillah sudah mulai terlihat sedikit demi sedikit.

“A reader lives a thousand lives before he dies, said Jojen. The man who never reads lives only one.” ― George R.R. Martin, A Dance with Dragons

Sunday, February 14, 2021

Ulasan Novel Critival Eleven

 


Novel Critival Eleven adalah novel Ika Natassa pertama yang aku baca, dan hingga saat ini masih menjadi novelnya yang paling aku suka. Novel ini menceritakan tentang konflik yang dialami oleh sepasang suami istri, Ale dan Anya, ketika rumah tangga mereka ditimpa badai besar.

Pada bagian awal dikisahkan perkenalan Anya dan Ale di atas pesawat, di mana istilah Critical Eleven sendiri merupakan istilah dalam dunia penerbangan, yaitu sebelas menit waktu kritis di dalam pesawat. Tiga menit sebelum take off dan delapan menit sebelum landing adalah waktu yang krusial karena secara statistik: 8% kecelakaan pesawat umumnya terjadi dalam rentang waktu sebelas menit itu. Istilah ini kemudian menjadi pengibaratan masa-masa kehidupan pernikahan Anya dan Ale.

Di bab-bab awal, kejadian dilukiskan bergantian dengan cepat. Pembaca dibawa ke dalam potongan-potongan adegan yang tampak membingungkan, tapi sebenarnya ini merupakan gaya cerdas Ika Natassa dalam memperkenalkan konflik. Kemudian alur melambat hingga nanti ketika hampir di akhir buku, konflik agak berlarut-larut. Tapi tak apa, karena kalau tidak… mungkin nanti cerita di buku ini akan terasa singkat. Bagi sebagian orang ini menarik, tapi bagi sebagian lainnya mungkin akan memantik sedikit kebosanan.

Alur disajikan secara maju mundur sehingga terasa begitu dinamis. Sudut pandang yang digunakan juga unik karena menggunakan dua POV yang berbeda: sebagai Ale dan sebagai Anya. Hal ini membuat perasaan kedua tokoh utama tergambar jelas, dan apa yang ada di benak mereka sampai dengan lugas kepada pembaca.

Ika Natassa sangat pandai menggarap penokohan. Karakter dua tokoh utama sangat kuat. Keduanya adalah sosok sukses dan profesional dalam hal karir, tapi ternyata secara alamiah mengalami kebingungan dalam mengatasi permasalahan rumah tangga. Ale yang cool namun sangat menyayangi istrinya, begitu clueless seperti kebanyakan laki-laki. Tapi dia sebenarnya lelaki baik yang rela melakukan apa saja demi keluarganya, dan berhasil membuatku terpesona pada sosoknya. Sementara Anya, yang kata Ale memiliki mata yang bisa “tersenyum”, merupakan sosok yang mandiri meski sering ditinggal-tinggal suaminya karena pekerjaan, tidak pernah mengeluh ketika harus terpisah jauh, tapi memiliki kepribadian yang kurang terbuka pada suaminya.

Fakta bahwa buku yang ada di tanganku merupakan cetakan kedua puluh hanya dalam kurun waktu dua tahun setelah cetakan pertama diterbitkan, memberi indikasi kuat bahwa novel metropop ini sangat disukai pembaca. Narasinya memang mengalir dengan nyaman, dan tanpa terasa kita sudah dibawa ke akhir cerita. Hal inti yang bisa kita tarik sebagai hikmah dari novel ini: bahwa pernikahan tidak melulu soal cinta. Ada komitmen, ada komunikasi yang harus dibangun, ada pemakluman, ada pengertian… dan yang jelas: ada keharusan untuk saling menghargai.

Judul: Critical Eleven
Penulis: Ika Natassa
Cetakan kedua puluh, Mei 2017
Diterbitkan oleh PT Gramedia Pustaka Utama
Jumlah Halaman: 340 halaman