Monday, May 10, 2021

Terkenang Eyang

Tiap kali melihat sosok sepuh tengah berjalan menuju masjid untuk menunaikan salat berjemaah, aku selalu teringat Eyang Kakung. Sejak lahir, aku selalu tinggal serumah dengan Eyang Kakung. Beliau bersama Eyang Uti mengasuhku saat ditinggal Bapak dan Ibu bekerja. Ketika aku tumbuh dewasa, beliau juga mengisi hari-hariku dengan berjuta kenangan. Aku masih ingat: semasa SMA ketika aku sudah terbiasa bangun di sepertiga malam, aku tidak pernah sendirian. Aku hampir selalu ditemani oleh beliau yang memang juga terbiasa bangun dini hari. Aku dan beliau sama-sama penggemar berat sepakbola, berita, dan koran. Masih terekam jelas di ingatan: betapa serunya kami berteriak-teriak di depan televisi saat pertandingan sepakbola ditayangkan, atau betapa seringnya kami berebut koran pagi saking inginnya jadi yang pertama membaca berita hari itu.

Sebelum berpulang, memang sudah bertahun-tahun Eyang Kakung menderita gangguan prostat. Beliau tidak pernah mau pergi ke rumah sakit dan hanya mengandalkan obat-obatan dari pamanku yang seorang dokter umum. Minggu-minggu terakhir sebelum meninggal, gangguan prostat beliau mencapai puncaknya sehingga dokter memutuskan untuk melakukan operasi. Setelah operasi, dokter baru mengetahui bahwa terdapat kanker pada prostat beliau. Kanker itu semakin mengganas seusai operasi, menjalar ke mana-mana hanya dalam waktu seminggu, dan membuat ginjal beliau tak lagi berfungsi. Sabtu, 1 Mei 2004 beliau menjalani cuci darah. Itulah terakhir kalinya beliau sadar. Setelah cuci darah, beliau mengalami koma hingga akhir hayatnya pada Selasa, 11 Mei 2004.

Aku tiba di Solo pada Ahad, 2 Mei 2004—aku tak pernah lagi menemui Eyang Kakung dalam keadaan sadar—dan langsung diberi tahu keluarga bahwa waktu Eyang Kakung sudah tak lama lagi. Meskipun sudah diberi tahu dokter, kami tetap tak mengira beliau akan pergi secepat itu. Meskipun kami sudah bersiap menerima kemungkinan yang terburuk dan sudah berusaha memupuk ikhlas jika sewaktu-waktu beliau dipanggil oleh-Nya, tetap saja rasa kehilangan itu begitu perih.

Eyang Kakung adalah sosok yang mewariskan kejawaanku. Ritual adat dan literatur-literatur beraksara Jawa merupakan teman beliau sehari-hari. Di saat anak-anak muda Jawa masa kini tengah mengalami krisis budaya, aku merasa beruntung karena telah dibesarkan dalam suatu kultur yang adiluhung. Budaya keluarga kami sangat menghargai tradisi dan bahasa yang penuh pakem, tata krama, dan ewuh pekewuh. Oh ya, tentu saja aku merasa beruntung. Betapa banyaknya anak-anak muda Jawa saat ini tidak bisa berbahasa kromo bahkan kepada kedua orang tua mereka sendiri. Bukankah bahasa menunjukkan bangsa?

Namun, memang tidak semua tradisi Jawa melekat dalam pribadiku. Banyak tradisi kejawen yang tidak islami yang aku buang jauh-jauh. Ini bukan upaya yang mudah, mengingat Eyang Kakung mempunyai pengaruh yang sangat kuat dalam keluarga besar kami. Apalagi adat patriarkat yang berlaku di Jawa cenderung membuat kami berlaku sendika dhawuh pada titah Eyang Kakung. Aku pernah merasa risih bercampur geli ketika mendengar wejangan Eyang Kakung seusai lebaran, “Kamu itu orang Jawa, Ndhuk. Kalau kamu tidak membiasakan diri berbusana Jawa, kamu bisa lupa asal-usulmu. Malah membiasakan diri berpakaian seperti orang Arab.”

Jujur saja, waktu itu aku ingin marah sekaligus ingin tertawa. Aku marah karena busana muslimah itu seharusnya tidak hanya untuk orang Arab. Aku merasa tersinggung karena di mana pun aku berada, aku tidak pernah lupa asal-usulku sebagai orang Jawa. Aku juga merasa geli ketika membayangkan diriku sendiri berbusana adat Jawa ke mana pun aku pergi. Memangnya aku hidup di lingkungan keraton sampai aku harus berbusana adat Jawa terus? Pikirku, orang keraton saja nggak gitu-gitu amat.

Ah, masa-masa yang penuh kenangan bersama Eyang Kakung. Aku rasa yang paling menakjubkan dari orang-orang yang kita kasihi: sebagian dari diri mereka sebenarnya terus hidup dalam diri kita meskipun mereka telah tiada. Itulah persembahan cinta mereka yang terdalam. Aku berdoa semoga Allah berkenan meridai setiap amal beliau, mengampuni kesalahan beliau, dan membalas kebaikan beliau.

Monday, May 03, 2021

Nilai-Nilai Pendidikan Keluarga

Pendidikan dalam sebuah keluarga sangat bergantung pada visi dan misi keluarga tersebut. Lebih jauh lagi, pendidikan itu juga sarat akan nilai-nilai, tradisi, dan pengalaman yang berlaku dalam sebuah keluarga. Sebagai seorang anak yang dibesarkan dalam keluarga PNS, sejak kecil aku dididik untuk berhemat, bersikap sederhana, dan tidak neko-neko. Bapak dan ibuku berasal dari keluarga yang tidak terlalu berkecukupan. Bapak adalah sulung dari tujuh bersaudara; Ibu adalah sulung dari sembilan bersaudara. Sebagai anak tertua, mereka tentu sangat memahami hidup sederhana, kerja keras, dan bagaimana memberikan keteladanan kepada adik-adik mereka. Nilai-nilai itu pula yang mereka turunkan kepada aku dan saudara-saudaraku.

Aku ingat sekali, Bapak dan Ibu selalu menanamkan kesadaran kepada kami bahwa rajin belajar dan kerja keras akan membuat kami sukses suatu hari nanti. Meskipun pada saat itu aku tidak terlalu mengerti, aku menuruti nasihat mereka untuk rajin belajar dan konsisten menerapkan waktu belajar setiap hari. Aku tidak terlalu ingat bagaimana cara mereka menanamkan kesadaran itu. Yang jelas, kami terbiasa bangun dini hari untuk salat tahajud, kemudian belajar hingga waktu subuh. Sehabis magrib kami juga terbiasa menuju meja belajar kami masing-masing untuk mengerjakan pekerjaan rumah, belajar untuk ulangan harian, atau sekadar mengulang pelajaran hari itu. Aku ingin sekali mengimitasi bagaimana cara mereka mendidik kami karena aku juga ingin menanamkan kesadaran itu pada anak-anakku, tetapi aku hanya dapat mengingatnya samar-samar.

Seingatku Bapak dan Ibu tidak pernah marah hebat kepada kami. Marah dalam kondisi wajar tentu pernah, mengingat kami adalah anak-anak biasa yang terkadang bandel juga. Namun, mereka jarang marah dengan suara keras dan nada tinggi. Mereka tipe orang tua yang tidak suka kegaduhan. Suasana rumah harus senantiasa tenang. Oleh karena itu, kami akan sangat berhati-hati ketika bermain bersama atau menyalakan televisi supaya tidak menimbulkan keriuhan. Kalaupun Bapak marah dengan nada tinggi, itu pasti karena kenakalan kami sudah menguji batas kesabaran beliau. Biasanya ketika Bapak marah seperti itu, kami akan menciut seperti gabus disiram bensin.

Ketika kami remaja, Bapak dan Ibu tidak pernah membatasi kami secara ketat dalam bergaul. Kami masih diperbolehkan untuk berpacaran dengan batas-batas interaksi yang jelas antara lelaki dan perempuan. Meskipun tidak terlalu paham ilmu agama, mereka selalu mengedepankan adat ketimuran dan norma sosial. Ketika kami merantau untuk kuliah ke luar kota, wejangan-wejangan untuk menjaga diri dan hidup sederhana senantiasa mereka tanamkan. Nilai-nilai kemandirian dan tanggung jawab yang digaungkan oleh Bapak dan Ibu, kami tuai hasilnya ketika kami jauh dari rumah.

Hidup sederhana adalah hal yang paling aku ingat dari Bapak dan Ibu. Mereka tidak pernah berhutang dan selalu membeli segala sesuatu sesuai kemampuan. Semua transaksi dilakukan secara kontan karena mereka tidak pernah tergoda dengan skema kredit. Kelebihan tabungan dialihkan untuk membeli tanah atau menyimpan deposito. Bapak dan Ibu memang masih berpikir secara konvensional—tidak berinvestasi dengan metode kekinian seperti membeli saham, logam mulia, atau reksadana—tetapi mereka memberikan keteladanan bahwa tidak berlaku boros itu penting demi masa depan.

Aku sangat bersyukur memiliki orang tua seperti Bapak dan Ibu. Didikan mereka membentukku menjadi pribadi yang sekarang. Nilai-nilai yang mereka wariskan kepada kami, merupakan warisan juga dari kakek dan nenek kami dulu. Semoga kami bisa meneruskan hal-hal baik itu kepada anak-anak kami sehingga menjadi ladang amal jariah bagi Bapak dan Ibu.

Monday, April 26, 2021

Berdaya Bagi Umat

Banyak perempuan di negara maju menganggap bahwa dia tidak bisa berdaya ketika sudah menikah dan memiliki anak. Pemikiran seperti ini lantas membawa pada pilihan-pilihan hidup untuk tetap melajang, atau menikah tapi memilih untuk tidak memiliki anak. Pada beberapa budaya tipikal masyarakat tertentu, stereotip seperti  ini memang berlaku. Perempuan-perempuan di Jepang misalnya, ketika mereka menikah, mereka akan meninggalkan karier yang sudah dibangun dan berfokus mengurus keluarga. Tak heran perempuan-perempuan di sana akhirnya banyak yang memilih untuk tidak menikah sehingga demografi penduduknya mewujud menjadi piramida terbalik akibat minimnya pertambahan penduduk.

Padahal kalau kita mau menilik lebih jauh, seorang perempuan sebenarnya bisa tetap berdaya meskipun dia telah menikah. Pernikahan sejatinya adalah kawah candradimuka. Dengan dukungan dan lingkungan yang tepat, seorang perempuan bisa tumbuh dan berkembang. Dalam pernikahan, setiap orang belajar untuk melejitkan potensi pasangannya dan sosok keluarga inilah yang berfungsi menguatkan ketika seorang perempuan menghadapi kesulitan.

Berkaca dari pengalaman pribadi, aku belajar banyak dari suamiku. Proses healing-ku dari rasa minder dan depresi bermula ketika aku dekat dengannya, lalu berlanjut ketika menerima pinangannya. Dia tak pernah berhenti menyemangatiku dan memberiku perspektif lain bahwa aku mampu, di saat aku bahkan tidak yakin dengan diriku sendiri. Dia juga yang mencintaiku tanpa syarat sehingga menghempaskan ketidaksukaanku pada diriku sendiri. Kemudian lambat laun aku bangkit, meskipun masih tertatih-tatih mencari arah untuk melangkah.

Dukungannya terhadap proses pemberdayaanku mengejawantah dalam dorongannya padaku untuk berkiprah di luar rumah. Dia percaya aku punya potensi untuk disalurkan di luar sana. Maka satu demi satu surat lamaran kerja kulayangkan ke berbagai instansi, hingga akhirnya jodohku tertambat pada sebuah instansi penelitian di kota Bandung. Perjuangan long distance marriage pun dimulai. Dia tak henti-hentinya menyemangati bahwa kami mampu, mulai dari berdua saja … hingga kini kami sudah berenam.

Suamiku juga yang kemudian memberiku semangat untuk melanjutkan sekolah. Saat itu aku sedang mengandung anak kedua tetapi dia percaya bahwa aku mampu. Ketika anak keduaku berusia dua tahun, aku diwisuda … dan momen itu kurasakan sebagai momen keberhasilan kami sebagai keluarga. Keberhasilan itu bukan hanya kesuksesanku tetapi juga kesuksesan suami dan anak-anak. Mengingat ketika rasa malas melanda, aku menjadi terhibur dan bersemangat kembali dengan melihat polah tingkah anak-anak.

Dukungan dari support system yang tepat juga terasa benar-benar berarti buatku. Berkat bantuan tanteku dan seorang pengasuh, aku bisa menitipkan anak-anak dan berbuat lebih dari sekadar bekerja di luar rumah. Aku aktif dalam beberapa organisasi, belajar lebih banyak melalui berbagai komunitas, memiliki keluangan untuk berolahraga secara rutin, bahkan mengambil sertifikasi untuk melatih yoga. Memang sejak dulu aku beranggapan: seseorang berdaya bila dia bisa bermanfaat untuk umat. Apapun peran yang diambil—dari dalam rumah atau di luar rumah—selama dia berbuat untuk perbaikan dan kebaikan umat, maka itulah makna berdaya yang sesungguhnya. Bukankah sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat untuk sesamanya?

Bagi seorang perempuan, pernikahan justru bisa menjadi batu loncatan untuk lebih berdaya. Banyak prestasi yang bisa diukir dengan dukungan orang-orang tersayang. Melalui pengaturan peran, penyusunan prioritas, dan pengenalan yang lebih dalam terhadap kapabilitas dan kompetensi diri, seorang perempuan akan mampu menemukan hakikat pemberdayaan dirinya untuk kemaslahatan umat.

Monday, April 19, 2021

Ibuku

Ibuku orang Jawa tulen. Pengaruh kejawaan dari kedua orang tuanya sangat kental karena Eyang Putri masih memiliki garis keturunan Sultan Hamengkubuwono I, tapi kejawaan Ibu termasuk yang moderat. Jika Eyang Kakung masih memegang teguh pusaka adat dan ritual adat, Ibu justru menolaknya dengan halus. Kata Ibu, beliau menolaknya karena faktor kepraktisan, tapi jauh dalam hati aku tahu jika sebenarnya Ibu tidak setuju dengan praktik-praktik adat yang jauh dari Islam.

Dibesarkan dalam keluarga yang kurang mampu sebagai sulung dari sembilan bersaudara membuat masa muda Ibu tidak pernah mudah. Eyang Kakung tidak pernah punya rumah. Semasa menjadi pegawai PJKA, Eyang Kakung sekeluarga tinggal di rumah dinas. Setelah Eyang Kakung pensiun, mereka hanya mampu mengontrak rumah petak di tengah kampung. Bahkan Ibu pernah bercerita jika gorden penutup jendela saja mereka tidak punya. Ketika sudah bekerja dan menikah, Ibu masih harus membesarkan dan membiayai sekolah adik-adiknya.

Tidak heran Ibu tumbuh menjadi seseorang yang keras, tegas, tegar, mandiri, soliter, dan sangat koleris. Semasa kecil Ibu tidak pernah diajari ilmu agama oleh Eyang. Ibu belajar agama dari lingkungannya, salah satunya dengan cara ikut-ikutan temannya mengaji di surau. Faktor ketidakcukupan materi membuat masa remajanya akrab dengan minder dan depresi. Alhamdulillah Ibu mampu bangkit dan sedikit demi sedikit mencoba mencari uang sendiri dengan membantu temannya berjualan.

Ibu adalah sosok wanita karir yang cukup sibuk selama masa produktifnya. Sejak aku kecil, aku ingat selalu ditinggal Ibu bekerja. Meskipun statusnya cuma sebagai guru, Ibu juga memiliki aktivitas sosial yang menuntutnya selalu sibuk. Aku kerap merasa kesal karena merasa masa kecilku sering terlewatkan oleh Ibu. Jika ditanya alasan mengapa beliau bersibuk-sibuk di luar rumah, beliau cuma menjawab agar anak-anaknya berkecukupan dengan uang yang beliau hasilkan. Ibu tidak mau anak-anaknya punya masa kecil yang sama dengan beliau.

Begitulah ibuku. Semenjak aku lulus kuliah, beliau sering menanamkan pesan supaya aku lekas bekerja demi punya penghasilan yang bisa mencukupi keluarga dan untuk berjaga-jaga bila terjadi sesuatu dengan suami. Pesan Ibu selalu kuingat sebagai nasihat yang sarat dengan spirit mandiri dan aktualisasi diri.

Di sisi lain, sosok Ibu yang cenderung keras menyebabkan komunikasi kami sering tidak nyambung. Aku yang sensitif dan gampang merajuk, kadang-kadang menangis menghadapi Ibu. Menurut beliau, aku ini anaknya yang paling sering membantah sehingga harus diperlakukan dengan keras. Aku membutuhkan waktu yang tidak sebentar untuk memperbaiki hubungan dengan Ibu. Hubungan kami yang seperti ini juga membuatku bertekad: kelak aku ingin dekat dengan anak-anakku. Aku ingin bisa menjadi sahabat mereka, tempat berbagi apa pun dan kapan pun, serta selalu ada bila mereka butuh. Aku tidak ingin memiliki hubungan yang berjarak dengan anak-anakku.

Terlepas dari semua itu, aku sangat bangga dengan Ibu. Tak bisa kupungkiri, Ibu memiliki andil besar dalam hidupku. Kalau tidak ada Ibu, mungkin aku bakal lebih cengeng daripada sekarang. Ibu mengajariku tentang nilai-nilai kehidupan, terutama tentang bagaimana seorang perempuan menjadi mandiri sehingga tidak dipandang remeh oleh orang lain. Ketika aku kecil dan remaja, beliau memaksaku untuk belajar mengendarai sepeda dan sepeda motor supaya aku bisa pergi ke mana-mana sendiri dan tidak menjadi beban bagi orang lain. Masih teringat jelas perkataan beliau, “Dadi wong wedok kuwi ojo dadi gawene wong lanang.”

Sejak pandemi aku belum berkesempatan menjumpai Ibu kembali. Sudah enam belas bulan berselang tanpa aku bisa memeluk Ibu dan mencium tangannya dengan takzim. Ah, tak bisa kulukiskan seperti apa rasanya rindu ini. Di sini aku terus berdoa: semoga Allah senantiasa memberi Ibu berkah dan kesehatan, serta memberi kami kesempatan untuk dapat kembali bertemu dalam keadaan sehat dan bahagia.

Monday, April 12, 2021

Masa Kecil Sebagai Perempuan: Insecure

Sepanjang ingatanku menjalani masa kecil sebagai perempuan, ada satu kata yang kerap membersamaiku saat itu: insecure. Mungkin aku bisa dibilang cukup cemerlang dalam hal prestasi, tapi sesungguhnya ada banyak hal yang membuatku merasa tidak aman. Aku sering merasa khawatir tidak memiliki teman. Saat kecil aku sungguh pemalu. Terhadap orang yang tak dikenal, aku cenderung menarik diri dan tertutup. Beberapa orang kawan yang cukup dekat denganku membuatku merasa ditinggalkan ketika akhirnya mereka dekat dan bersahabat akrab dengan kawan yang lain. Sebagai seorang gadis kecil, tidak memiliki teman dekat adalah sesuatu yang menyedihkan.

Beranjak remaja dan duduk di bangku sekolah unggulan, aku melihat teman-teman perempuan banyak yang membentuk geng. Tanpa sengaja aku terlibat akrab dengan salah satu geng di kelas. Peer pressure sangat terasa dalam interaksi sehari-hari. Aku dianggap gaul jika mengikuti standar mereka, dan aku sering dicibir bila menolak ajakan hang out karena aku harus buru-buru pulang untuk menjaga adikku. Sampai suatu ketika aku didepak keluar dari geng itu dengan cara yang mungkin buat mereka biasa, tapi buatku terasa sangat menyakitkan. Hingga hari ini aku tidak tahu alasannya. Dugaanku: karena aku sering berbeda pendapat dan kerap menolak ajakan hang out mereka, sehingga bagi mereka mungkin aku bukan teman yang asyik.

Peristiwa itu menorehkan luka teramat dalam, sampai-sampai aku bertekad untuk tak akan pernah lagi bersahabat dekat dengan sesama perempuan. Perjalanan mencari teman membawaku pada satu kesimpulan bahwa lebih baik sendirian daripada merasa tersakiti oleh sahabat. Maka ketika aku duduk di bangku SMA, aku mulai menyibukkan diri dengan kegiatan organisasi dan berteman dengan banyak teman laki-laki. Bahkan beberapa kali aku berpacaran dan merasa bisa menjalani hari-hari tanpa sahabat perempuan.

Kenangan-kenangan di masa lalu berperan besar membentuk kepribadianku. Hingga sekarang aku lebih nyaman bepergian seorang diri tanpa teman. Zaman kuliah aku sampai kenyang mendapat pertanyaan “Sendirian aja, Yus?” ketika pergi ke mana-mana. Bahkan saat ibu-ibu di kantor pergi beramai-ramai ke mal ketika jam istirahat, aku merasa lebih nyaman pergi sendiri dalam diam.

Melihat kenyataan hidup di sekeliling saat ini, sering sekali kita dapati perempuan satu dengan yang lain saling menjatuhkan. Di kalangan ibu-ibu, sudah jamak terjadi mom war dalam berbagai hal, mulai dari ASI versus susu formula, ibu bekerja versus ibu di rumah, melahirkan normal versus melahirkan C-section, dan masih banyak lagi. Seolah pengalaman masa kecilku belumlah cukup, aku merasa sangat lelah melihatnya.

Perempuan harus saling mendukung satu sama lain. Seorang perempuan bisa memberdayakan perempuan lain dan hal itu tak akan pernah mengecilkan  peran dan makna dirinya sendiri. Di dunia yang keras ini, kita harus memberangus kebencian, kecemburuan, atau perasaan iri antara sesama perempuan.

Sebuah penelitian oleh Harvard Business Review mengatakan bahwa perempuan yang memiliki inner circle sesama perempuan cenderung dapat menempati posisi eksekutif dengan otoritas yang lebih besar dan gaji yang lebih tinggi, bila dibandingkan dengan laki-laki yang memiliki inner circle yang sama. Hal ini dikarenakan perempuan yang memiliki hubungan dekat dengan kelompok perempuan yang mendukungnya, akan lebih mudah menghadapi berbagai rintangan melalui berbagi pengalaman dengan perempuan lain yang pernah menghadapi situasi dan kesulitan yang sama.

Andai saja sejak kecil kita diajari untuk saling mendukung satu sama lain sebagai perempuan, mungkin tidak perlu ada gadis-gadis lain yang mengalami nasib sama denganku. Tak perlu ada persaingan saling menjatuhkan, tak perlu ada perundungan, tak perlu adu debat meskipun berbeda pendapat.

Monday, March 29, 2021

Menikmati Manis Takdir-Nya

Dalam kajian yang aku ikuti pekan lalu, aku belajar banyak mengenai takdir dan pilihan. Di dunia ini, ada hal-hal yang tidak kita kuasai dan sepenuhnya menjadi wilayah kekuasaan Allah. Manusia, alam semesta, dan seluruh kehidupan sesungguhnya dikendalikan oleh ketentuan-Nya. Ada yang menyebutnya qada. Sebagian besar dari kita mengenalnya sebagai takdir.

Demikian pula halnya dengan pandemi, ia datang ke tengah-tengah kita sebagai salah satu ketentuan dari Allah. Ada beberapa aspek terkait takdir dan pilihan yang sejatinya dapat membantu kita memahami kejadian-kejadian yang digariskan-Nya. Setelah kita paham bahwa pandemi merupakan takdir dari-Nya, kita harus memilih penyikapan yang tepat dalam menghadapinya. Mengapa? Karena takdir adalah ketentuan yang telah tertulis di Lauh Mahfuzh: kita tidak dapat mengubahnya dan kita tidak akan di-hisab karenanya. Sikap kita terhadap takdirlah yang akan di-hisab, dan hal itu akan menentukan apakah kita akan diganjar pahala atau dosa.

Akibat pandemi, banyak sekali nyawa melayang. Hal itu mungkin tampak menyedihkan di mata manusia, tetapi sesungguhnya ada balasan yang diberikan Allah untuk orang-orang yang wafat karena pandemi. Dari Aisyah ra, ia berkata, "Aku bertanya kepada Rasulullah SAW tentang tho'un. Rasulullah lalu menjawab, 'Sesungguhnya wabah tho'un (penyakit menular dan mematikan) itu adalah ujian yang Allah kirimkan kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya dan Allah juga menjadikannya sebagai rahmat (bentuk kasih sayang) bagi orang-orang beriman. Tidaklah seorang hamba yang ketika di negerinya itu terjadi tho'un lalu tetap tinggal di sana dengan sabar (doa dan ikhtiar) dan mengharap pahala di sisi Allah, dan pada saat yang sama ia sadar tak akan ada yang menimpanya selain telah digariskan-Nya, maka tidak ada balasan lain kecuali baginya pahala seperti pahala syahid.'" (H.R. Al-Bukhari).

Dalam hadis lain disebutkan dari Abu Hurairah diriwayatkan Rasulullah SAW bersabda, "Orang syahid itu ada lima: orang terkena wabah penyakit, orang mati karena sakit di dalam perutnya, orang tenggelam, orang tertimpa reruntuhan bangunan, dan orang syahid di jalan Allah (mati dalam perang di jalan Allah)." (H.R. Al-Bukhari).

Kita tentu ingat janji Allah dalam Q.S. Al-Insyirah: 5-6, bahwa sesungguhnya bersama kesulitan … Allah juga menurunkan kemudahan. Bukankah di masa pandemi yang menyesakkan ini, kita juga berbahagia karena dapat leluasa membersamai anak sepanjang hari karena mereka menjalani PJJ? Bukankah kita lantas dapat dengan mudah menemani suami bersantap siang di meja makan karena ia sedang WFH? Bukankah dengan keterbatasan mobilitas, kita justru dapat dengan mudah mengakses kajian dan event daring yang tinggal diklik seujung jari?

Bahasan tentang takdir selalu terasa pelik dan membingungkan. Namun, sesungguhnya tidak demikian. Takdir apa pun yang menimpa kita, harus kita imani bahwa itu adalah ketentuan Allah yang terbaik. Hidup ini semudah menjalani pilihan yang berpahala karena itulah yang akan dimintai pertanggungjawaban. Sementara untuk hal-hal yang memang tidak dapat kita ubah, kita harus mensyukurinya, baik itu pahit maupun manis. Tidak ada kejadian sia-sia di muka bumi ini. Ada hikmah yang dapat selalu kita petik.

"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), 'Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.'" (Q.S. Ali Imran: 190-191)

 

Monday, March 22, 2021

Menjaga Kesehatan Fisik dan Mental Saat Pandemi


Di masa pandemi seperti sekarang ini, kesehatan menjadi sesuatu yang tak ternilai harganya. Sebagai upaya mencegah sekaligus memutus rantai penularan Covid-19, kami sekeluarga selalu menerapkan perilaku 3M, yaitu memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak. Kami juga tak lupa untuk sering-sering menyemprot tangan dengan cairan pembersih tangan dan menyemprot barang belanjaan dengan cairan disinfektan.

Selain beberapa kebiasaan baru tersebut, upaya menjaga kesehatan keluarga juga kami lakukan dengan memperhatikan asupan. Alhamdulillah selama ini kami sudah terbiasa mengonsumsi sayur dan buah. Imunitas keluarga ditingkatkan dengan mengonsumsi vitamin dan suplemen tambahan. Salah satu hal yang agak susah dilakukan adalah minum air putih secara cukup per hari. Aku harus selalu mengingatkan suami dan anak-anak untuk rajin minum air putih karena mereka acap kali terlupa, apalagi jika sudah disibukkan dengan PJJ atau WFH. Berdasarkan penelitian, kebutuhan air minimal setiap orang adalah 50 ml per kg berat badan. Konsumsi air adalah hal yang sangat penting karena air merupakan komponen tubuh yang terbesar (60-70% dari berat badan), serta memiliki fungsi untuk membuang kotoran dari tubuh, menyediakan kelembaban, dan membawa nutrisi ke sel.

Upaya yang tak kalah penting untuk menjaga kesehatan fisik adalah dengan melakukan olahraga secara rutin. Jauh sebelum pandemi muncul, aku dan suami sudah terbiasa berolahraga. Aku rutin melakukan senam aerobik sejak 2005, beryoga sejak 2013, dan berlari sejak 2015. Setahun yang lalu ketika wabah Covid-19 mulai melanda Indonesia, perlombaan lari banyak dibatalkan, menyusul kemudian sarana-sarana olahraga ditutup. Aku sempat kebingungan dan merasa kehilangan karena sudah terbiasa berlari di track Saraga dan sudah terbiasa mengikuti perlombaan lari secara berkala. Euforia berolahraga outdoor benar-benar menjadi sebuah kehilangan yang besar.

Orang bijak mengatakan bahwa bila ada satu pintu tertutup, bisa jadi pintu yang lain tengah membuka. Begitu pula yang akhirnya aku rasakan. Aku tetap berlari, tapi beralih ke aktivitas road running: kadang berlari di jalanan kompleks, kadang berlari di jalan raya. Proses ini juga membutuhkan adaptasi karena berlari di jalan tentu berbeda dengan berlari di lintasan. Berlari di jalan membutuhkan fokus dan perhatian lebih karena kita harus selalu waspada terhadap pengguna jalan lain dan kondisi jalan yang tidak ideal (tidak ada trotoar, berlubang, dsb.). Berlari di jalan juga membutuhkan peralatan lari yang lebih lengkap: tas pinggang untuk menyimpan botol minum, gelang identitas, dan sepatu lari yang lebih empuk.

Aku juga mulai mengikuti kelas-kelas olahraga secara daring, seperti kelas yoga dan kelas pound fit. Bahkan dengan adanya sistem WFH yang fleksibel, aku bisa mengatur waktu olahraga sesuai kebutuhan dan mengikuti kelas-kelas yang selama ini belum pernah aku ikuti, seperti kelas dance cover dan kelas privat dengan pelatih pribadi di tempat gym. Keleluasaan waktu seperti ini benar-benar aku syukuri karena aku dapat dengan mudah mengatur jadwal kerja, jadwal olahraga, sekaligus mendampingi anak-anak melakukan PJJ.

Tentunya kebiasaan yang bersifat penjagaan kesehatan fisik harus diikuti dengan kebiasaan untuk menjaga kesehatan mental. Pada awal pandemi aku sempat terkena serangan panik: hampir tiap malam aku tidur dengan ketakutan sambil memeluk anak-anak, membayangkan jika kami terkena Covid-19. Kemudian, ketika akhirnya hal itu benar-benar terjadi pada suamiku, aku sempat terkena depresi ringan. Covid-19 ini benar-benar meluluhlantakkan jiwa dan raga.

Kami berusaha menguatkan mental dan iman keluarga dengan lebih sering mengikuti kajian keislaman. Alhamdulillah dengan adanya pandemi, banyak sekali kajian yang diadakan secara daring, baik untuk orang dewasa maupun anak-anak. Setiap akhir pekan, jadwal kajian padat merayap. Kemudahan ini sungguh kami syukuri karena bila kajian-kajian tersebut diadakan secara luring, belum tentu kami bisa menghadiri karena terhalang jarak dan waktu.

Allah tidak menurunkan ujian di luar kesanggupan hamba-Nya. Bersama kesulitan pandemi yang datang, sesungguhnya Allah juga tengah menurunkan kemudahan-kemudahan.




Monday, March 15, 2021

Perubahan Akibat Pandemi

Di dunia ini, sesuatu yang tidak pernah berubah adalah perubahan itu sendiri. Manusia sebagai makhluk yang adaptif tentu mengalami penyesuaian-penyesuaian terhadap perubahan situasi dan kondisi, termasuk ketika manusia dihadapkan pada kondisi luar biasa seperti pandemi. Pandemi yang terjadi secara global memaksa dunia ini berhenti sejenak. Kemudian, ketika perlahan roda kehidupan mulai berputar kembali setelah kita mengalami lockdown, tentu ada banyak penyesuaian yang harus dilakukan.

Dari aspek kesehatan, kita diperkenalkan pada perilaku 3M sebagai upaya mencegah sekaligus memutus rantai penularan Covid-19, yaitu memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak. Masker kain dapat menurunkan risiko penularan Covid-19 sebesar 45 persen, sedangkan masker bedah mampu menekan penyebaran virus Covid-19 hingga 70 persen.

Sebagai upaya untuk menghindari kerumunan dan mengurangi risiko penularan, sekolah-sekolah dan institusi perguruan tinggi menerapkan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). Perkantoran merombak sistem kerja menjadi Work From Home (WFH) untuk mencegah karyawannya terpapar virus corona ketika berada di kantor maupun di perjalanan. Tak ayal dengan sistem semacam ini, masyarakat dipaksa beralih dari tatap muka ke sistem yang menggunakan platform digital dan memerlukan koneksi internet sebagai imbasnya.

Perubahan ini tentu dialami pula oleh keluarga kami. Masker, cairan pembersih tangan, serta disinfektan menjadi peralatan wajib. Kami menjadi jarang keluar rumah bila tidak ada urusan yang terlalu penting. Kegiatan berbelanja kami lakukan melalui aplikasi belanja daring. Agenda jalan-jalan saat liburan terpaksa harus kami buang jauh-jauh.

Kuota internet kami tingkatkan karena ada tiga anak yang mengikuti PJJ dan dua orang dewasa yang menjalankan WFH. Suasana rumah yang semula sepi di siang hari menjadi ramai oleh suara-suara kami yang tengah mengikuti pertemuan melalui aplikasi komunikasi daring berbasis video. Kami bahkan harus ekstra bersabar karena gangguan-gangguan kecil dari anak-anak sering muncul menghiasi layar komputer saat kami sedang melakukan pertemuan daring.



Di satu sisi, kami bersyukur bisa melewati pandemi ini sebagai keluarga yang berkumpul bersama. Tentunya ini adalah kebahagiaan karena selama tiga belas tahun pernikahan, aku dan anak-anak terpisah jarak Bandung-Jakarta dengan suamiku. Namun, di sisi lain, frekuensi bertemu yang semakin meningkat dan kecenderungan anak-anak untuk mulai bosan karena banyak terkurung, mengakibatkan rumah menjadi lebih riuh karena pertengkaran dan perselisihan. Belum lagi jika kami sebagai orang tua kadang kelepasan dan tidak dapat mengontrol diri karena beban pekerjaan, sementara anak-anak sedang susah diatur … wah, rumah rasanya seperti sedang mengalami perang dunia.

Pandemi ini memang berat bagi semua orang. Setiap keluarga memiliki perjuangan masing-masing untuk bisa bertahan. Kebiasaan baru yang bersifat penjagaan kesehatan fisik seperti 3M harus dibarengi dengan kebiasaan untuk menjaga kesehatan mental. Kita harus memupuk syukur, kesabaran, dan tawakal supaya lebih waras menghadapi pandemi ini. Semoga Allah senantiasa menjaga dan melindungi kita semua.

Monday, March 08, 2021

Setahun Kisah Pandemi


Aku tak akan pernah lupa hari di mana hidupku berubah. Tepat setelah hari ulang tahunku tahun lalu, pemerintah memberlakukan lock down di seluruh negeri. Cerita tentang pandemi yang dulu hanya bisa kubaca di sejarah dunia kini menjelma nyata di depan mata. Kasus demi kasus yang tadinya hanya terjadi di luar negeri dan terasa jauh di belahan bumi lain, kini benar-benar merangsek masuk ke Indonesia dan membuat suasana menjadi mencekam.

Ada banyak kisah duka tentang pandemi: kisah kehilangan orang terkasih, kisah kehilangan sumber mata pencaharian dan naiknya angka pengangguran, juga kisah perjuangan bertahan hidup yang sungguh menyayat hati. Dan hidupku sepenuhnya berubah ketika angka penderita COVID-19 di negeri ini melonjak sangat tinggi pada kuartal terakhir tahun lalu. Tepat pada hari ulang tahun anakku yang kedua, hasil tes PCR suami keluar dan statusnya positif dengan nilai CT yang cukup rendah.

Sebagai karyawan sebuah perusahaan swasta di Jakarta, suamiku memang masih sering bolak-balik Jakarta-Bandung. Malam itu suami pulang dalam keadaan demam, batuk, dan menggigil. Sekujur badannya terasa sakit. Setelah hasil tes PCR-nya keluar, kami memutuskan untuk mencari kamar rawat inap karena kondisinya bergejala cukup berat. Kami juga tidak mau mengambil risiko dia tetap di rumah karena ada bayi dan lansia di keluarga kami. Alhamdulillah suami mendapat kamar di salah satu rumah sakit tanpa menunggu terlalu lama.

Saat suamiku dirawat, duniaku runtuh satu demi satu. Berkejaran dengan aktivitas mengasuh empat anak, mengawasi mereka PJJ sambil tetap bekerja dari rumah dengan sistem WFH, juga mengirim keperluan suami ke rumah sakit tiap hari kadang membuatku limbung. Apalagi ketika kondisi suami mulai menurun: kedua paru-parunya meradang, saturasi oksigennya tidak stabil, dan dia mulai merasakan sesak. Berbagai macam ketakutan dan kekhawatiran menyeruak. Kekalutan menghimpit dadaku hingga membuat air mataku mengalir hampir tiap hari.

Dari Shuhaib bin Sinan dia berkata, Rasulullah bersabda: “Alangkah mengagumkan keadaan orang yang beriman, karena semua keadaannya (membawa) kebaikan (untuk dirinya), dan ini hanya ada pada seorang mukmin; jika dia mendapatkan kesenangan dia akan bersyukur, maka itu adalah kebaikan baginya, dan jika dia ditimpa kesusahan dia akan bersabar, maka itu adalah kebaikan baginya” (HR Muslim)

Aku sungguh beruntung karena dukungan dari kerabat dan teman terus mengalir. Meskipun kadang kondisi suami melemah dan membuatku khawatir, aku tetap memanjatkan syukur karena aku, orang tua, dan anak-anak semuanya dalam kondisi sehat dengan hasil tes PCR negatif. Setiap hari kami menghubungi suami dan memberinya semangat untuk terus berjuang.

Hingga tibalah saat itu: hari ketika suami akhirnya bisa pulang ke rumah setelah dua puluh lima hari. Kalimat kesyukuran tak henti-hentinya menghiasi lisan dan batin kami. Dalam peristiwa dahsyat yang mengguncang jiwa kadang kita disadarkan bahwa hanya Allah satu-satunya yang kita punya. Sungguh tidak ada daya dan upaya melainkan hanya berasal dari pertolongan-Nya. Akibat pandemi, kini semua peristiwa hidup tak lagi sama di mataku.

Sunday, February 28, 2021

Fruitcake Ala Nad’s Yummy

Fruitcake identik dengan taburan buah kering di dalamnya. Biasanya buah kering ini berupa sukade yang rasanya manis sehingga membuat fruitcake menjadi nikmat. Dulu waktu masih sering memanggang kue, aku pernah membuat fruitcake dengan isian kurma dan kacang badam. Selain nikmat, kandungan kurma juga menyehatkan, apalagi jika dipadukan dengan kacang badam yang memiliki sensasi renyah pada kue yang lembut. Resep fruitcake juga biasanya mengandung kayu manis yang membuat aroma kue menjadi harum.

Kali ini aku ingin mengulas fruitcake buatan temanku, Lia. Beliau koki kue yang berpengalaman membuat kue-kue cantik dan memiliki toko kue Nad’s Yummy di Jl. Adi Sucipto, Solo. Beberapa pelanggannya adalah orang-orang terkenal seperti pembalap Rio Haryanto, Wali Kota Solo FX. Hadi Rudyatmo, G.K.B.R.Ay.A. Paku Alam, dan G.K.R. Hemas dari Keraton Yogyakarta.



Dari segi pengemasan, fruitcake dari Nad’s Yummy menggunakan dus coklat yang cukup tebal dan dihias dengan pita cantik sehingga cocok dijadikan hadiah, hantaran, atau oleh-oleh. Bila dikirim ke luar kota, kue dilapisi dengan tambahan pengaman berupa bubble wrap sehingga sampai dengan selamat di tangan penerima.


Irisan buah dan kacang-kacangan yang memikat mata

Dari segi penampilan, kue ini meriah sekali karena ragam isiannya begitu berwarna-warni memikat mata. Bahan-bahan premium yang dijadikan isian di antaranya ceri merah, ceri hijau, kismis, sultana, cranberi, dan kacang kenari. Begitu kita iris kuenya, ternyata isiannya banyak sekali hingga ke dalam kue, jadi bukan hanya taburan meriah di atas permukaan saja.


Isiannya melimpah ruah sampai ke dalam

Saat dicicipi, teksturnya lembut dan muprul (Bahasa Jawa). Yang paling istimewa: isian buah dan kacang-kacangan yang direndam semalaman di dalam jus jeruk menciptakan sensasi rasa asam pada kue yang manis. Rasa manis kuenya pun cenderung ringan dan tidak berlebihan. Hmmm, terbayang kan bagaimana enaknya? Ya, kue ini memang sangat menggugah selera dan membuatku tak ingin berhenti mengunyahnya.

Fruitcake Nad’s Yummy tidak dibuat setiap hari. Untuk dapat memesannya, pelanggan biasanya menghubungi Lia secara pribadi, atau ikut memesan saat Lia membuka pesanan pre-order. Meskipun tidak setiap saat dapat diperoleh, kue ini sangat layak untuk dicoba. Rasa penasaran saat menunggu masa pre-order akan pupus begitu kita mencicipinya. Secara keseluruhan kuberi kue ini nilai 8/10.

Monday, February 22, 2021

Trieste, Kota Cantik di Tepi Laut Adriatik

Sejak usiaku 14 tahun, pergi ke Eropa adalah impianku dan Italia merupakan salah satu negara yang menjadi bucket list. Beruntung pada September 2017 aku berkesempatan mengikuti training dari lembaga nuklir dunia yang bekerja sama dengan institut setempat di Trieste, Italia.

Trieste adalah sebuah kota pelabuhan kecil di tepi Laut Adriatik, yang dapat ditempuh dengan satu jam penerbangan dari Roma. Di masa lampau, Trieste menjadi kota pelabuhan paling penting dalam sejarah monarki Austria-Hungaria dan menjadi pintu masuk ke dataran Slovenia dan sekitarnya. Kota cantik ini pemandangannya luar biasa, penduduknya ramah, dan mencari makanan halal tidak susah.


Pemandangan jendela apartemen


Apartemen kami terletak persis di tepi laut, tak jauh dari teluk Trieste tempat Ferdinand Maximillian membangun kastil Miramare, dan hanya lima kilometer dari pantai Barcola. Pantai Barcola sendiri adalah pantai yang terletak di pesisir barat laut kota Trieste. Pantainya bukan jenis pantai landai yang berpasir, namun jenis pantai terjal yang berkarang. Orang harus menuruni tangga untuk sampai di permukaan air, berlomba dengan ombak yang berkecipak memukul dinding bebatuan. Di sore hari kita dapat menikmati sensasi hangat matahari terbenam sambil duduk-duduk di bar, kedai kopi, kedai es krim, atau restoran di sekitar situ.


Pantai Barcola


Sementara Kastil Miramare merepresentasikan sebuah kisah romansa tahun 1800-an yang dipisahkan oleh takdir dan maut. Kastil ini merupakan rumah impian pasangan muda Maximillian dan Charlotte yang dibangun di atas tebing yang menjorok ke arah Laut Adriatik. Mereka tinggal di situ pada tahun 1860-1864, sebelum mereka pindah ke Mexico dan Maximillian menemui akhir hidupnya dengan tragis karena dieksekusi pada kerusuhan Mexico. Setelah Maximillian terbunuh, Charlotte pernah kembali ke Miramare dari 1866 hingga 1867, lalu dia pulang selamanya ke tempat asalnya di Belgia.


Kastil Miramare


Kastil Miramare dikelilingi oleh hutan kecil yang terbentang seluas dua puluh dua hektar. Tepat di depan pintu masuk kastil, ada taman yang bunga-bunganya cantik menawan. Di seberang taman itu, kastil Miramare menjulang indah dengan latar belakang pemandangan laut yang spektakuler. Pada sisi kastil terdapat dermaga tempat tamu-tamu kastil ini berlabuh di masa lampau.

Kastil ini dikelola dengan serius oleh pemerintah setempat. Saat ini dijadikan museum dengan tetap mempertahankan fitur-fitur lamanya. Ruangan-ruangan di dalam kastil beserta perabotannya sangat khas menunjukkan kehidupan bangsawan Eropa zaman dulu. Untuk masuk ke dalam kastil dikenakan tiket seharga 10 euro.


Piazza Unita d'Italia

Di pusat kota, Trieste memiliki sebuah lapangan besar bernama Piazza Unita d'Italia. Ia terkenal karena merupakan piazza terbesar di Eropa yang bersisian langsung dengan laut. Di sekeliling piazza berdiri kokoh bangunan-bangunan historis yang menjadi bangunan vital pada masa lampau, seperti bangunan istana dan kantor pemerintah kotapraja. Pada pertengahan September ketika kami sekeluarga berkunjung ke situ, matahari terbenam pukul delapan malam. Udara sore hari sudah mulai dingin, tetapi masih cukup nyaman untuk berjalan-jalan. Sambil duduk-duduk di bangku beton piazza, kami merasakan semilir angin penghujung musim panas meniup-niup muka dan rambut. Aroma asin air laut memenuhi rongga hidung dan menyegarkan paru-paru. Jika masih diberi kesempatan, insyaallah kami akan kembali ke Trieste suatu hari nanti.

Sunday, February 14, 2021

Ulasan Novel Critival Eleven

 


Novel Critival Eleven adalah novel Ika Natassa pertama yang aku baca, dan hingga saat ini masih menjadi novelnya yang paling aku suka. Novel ini menceritakan tentang konflik yang dialami oleh sepasang suami istri, Ale dan Anya, ketika rumah tangga mereka ditimpa badai besar.

Pada bagian awal dikisahkan perkenalan Anya dan Ale di atas pesawat, di mana istilah Critical Eleven sendiri merupakan istilah dalam dunia penerbangan, yaitu sebelas menit waktu kritis di dalam pesawat. Tiga menit sebelum take off dan delapan menit sebelum landing adalah waktu yang krusial karena secara statistik: 8% kecelakaan pesawat umumnya terjadi dalam rentang waktu sebelas menit itu. Istilah ini kemudian menjadi pengibaratan masa-masa kehidupan pernikahan Anya dan Ale.

Di bab-bab awal, kejadian dilukiskan bergantian dengan cepat. Pembaca dibawa ke dalam potongan-potongan adegan yang tampak membingungkan, tapi sebenarnya ini merupakan gaya cerdas Ika Natassa dalam memperkenalkan konflik. Kemudian alur melambat hingga nanti ketika hampir di akhir buku, konflik agak berlarut-larut. Tapi tak apa, karena kalau tidak… mungkin nanti cerita di buku ini akan terasa singkat. Bagi sebagian orang ini menarik, tapi bagi sebagian lainnya mungkin akan memantik sedikit kebosanan.

Alur disajikan secara maju mundur sehingga terasa begitu dinamis. Sudut pandang yang digunakan juga unik karena menggunakan dua POV yang berbeda: sebagai Ale dan sebagai Anya. Hal ini membuat perasaan kedua tokoh utama tergambar jelas, dan apa yang ada di benak mereka sampai dengan lugas kepada pembaca.

Ika Natassa sangat pandai menggarap penokohan. Karakter dua tokoh utama sangat kuat. Keduanya adalah sosok sukses dan profesional dalam hal karir, tapi ternyata secara alamiah mengalami kebingungan dalam mengatasi permasalahan rumah tangga. Ale yang cool namun sangat menyayangi istrinya, begitu clueless seperti kebanyakan laki-laki. Tapi dia sebenarnya lelaki baik yang rela melakukan apa saja demi keluarganya, dan berhasil membuatku terpesona pada sosoknya. Sementara Anya, yang kata Ale memiliki mata yang bisa “tersenyum”, merupakan sosok yang mandiri meski sering ditinggal-tinggal suaminya karena pekerjaan, tidak pernah mengeluh ketika harus terpisah jauh, tapi memiliki kepribadian yang kurang terbuka pada suaminya.

Fakta bahwa buku yang ada di tanganku merupakan cetakan kedua puluh hanya dalam kurun waktu dua tahun setelah cetakan pertama diterbitkan, memberi indikasi kuat bahwa novel metropop ini sangat disukai pembaca. Narasinya memang mengalir dengan nyaman, dan tanpa terasa kita sudah dibawa ke akhir cerita. Hal inti yang bisa kita tarik sebagai hikmah dari novel ini: bahwa pernikahan tidak melulu soal cinta. Ada komitmen, ada komunikasi yang harus dibangun, ada pemakluman, ada pengertian… dan yang jelas: ada keharusan untuk saling menghargai.

Judul: Critical Eleven
Penulis: Ika Natassa
Cetakan kedua puluh, Mei 2017
Diterbitkan oleh PT Gramedia Pustaka Utama
Jumlah Halaman: 340 halaman

Monday, February 08, 2021

Pola Hidup Sehat dan Aktif

Sebelum 2005, kesehatan tidak pernah menjadi prioritas buatku. Sebagai anak indekos semasa kuliah, hobiku begadang dan makan mie instan. Baru setelah masa-masa Tugas Akhir tahun 2005 aku mulai rutin melakukan senam aerobik. Awalnya untuk mengisi waktu, lama-lama ketagihan. Kemudian mulai menerapkan kesadaran saat makan, menjaga pola makan dan belajar berpikir sebelum makan. Dalam kurun waktu 2006-2007, berat badanku turun 13-14 kg hasil dari menjaga makan dan berolahraga secara rutin.

Foto tahun 2016 di atas adalah foto saat aku hamil anak keempat dalam UK 16 minggu. Lebih langsing daripada zaman kuliah hahaha. Saat itu olahraga sudah jauh lebih bervariasi: senam, yoga, lari, kadang-kadang zumba dan berenang. Namun karena badan sudah makin berumur, penurunan berat badan secara drastis tak lagi terjadi. Meski sudah clean eating sekalipun. Tidak apa-apa, yang penting berat badan tetap terjaga, kenaikan berat badan selama hamil dan sesudah melahirkan tetap terkendali, dan yang terpenting: hasil MCU tahunan selalu bagus alhamdulillah.

Menilik kembali perjalanan, aku bersyukur masih diberi kesempatan dan kesadaran untuk menjadikan kesehatan sebagai prioritas. Memang usia itu hak prerogratif Allah, tapi berusaha hidup sehat dan bugar insya Allah untuk kebaikan kita juga, untuk investasi jangka panjang membersamai anak cucu hingga usia senja. Berikut ini beberapa olahraga yang menjadi hobiku.

SENAM AEROBIK

Senam aerobik adalah kecintaan pertamaku pada olahraga. Selain dampak kesehatan dan turun berat badan, senam juga memberiku kegembiraan. Aku sangat menikmati bergerak mengikuti dentam irama, berkeringat seiring endorfin yang keluar. Karena senam aku merasa lebih berenergi, lebih bahagia, lebih bugar dan lebih sehat. Siapa sangka yang niat awalnya demi menurunkan berat badan, akhirnya malah menjadi hobi yang membuat ketagihan.

YOGA

Aku pertama kali berkenalan dengan yoga pada tahun 2013. Awalnya sebagai treatment untuk mengatasi keluhan karena skoliosis yang aku sandang. Yoga sangat membantuku untuk mengurangi pegal dan backpain, mengoreksi postur, menguatkan otot dan tulang punggung, menstabilkan panggulku yang tinggi sebelah, dan tentu menguatkan sisi tubuh yang tidak balance akibat skoliosis.

Siapa sangka dari situ aku malah jadi jatuh cinta pada yoga. Karena ternyata lebih dari sekedar treatment skoliosis yang aku dapatkan. Yoga membantuku menyeimbangkan mind, body, and soul. Dan dalam beberapa hal membuatku tetap waras karena dari situ aku juga belajar untuk terkoneksi dengan diri, mencintai diri dan menerima diri apa adanya.

LARI

Ketika mulai berlari beberapa tahun lalu, minim sekali ilmu yang kumiliki. Saat itu hanya terpikir, jika ingin rutin berlari ya tinggal berlari saja. Karena awalnya hanya bermula dari self challenge menjajal kemampuan diri apakah benar bisa menaklukkan olahraga yang dulu amat kubenci ini.

Mendekati pertengahan tahun 2019, iseng-iseng aku bergabung dengan Mamah Gajah Berlari (MGB), komunitas para mama alumni ITB yang menekuni hobi lari di tengah-tengah kesibukan mengurus keluarga dan karir. Pertemanan sehat bersama MGB ini ternyata melebihi ekspektasiku. Selain memperoleh banyak ilmu tentang lari, di sini aku bagai menemukan keluarga baru yang really fits the idea of being support group. Bagiku MGB adalah lingkungan dan komunitas yang tepat sehingga aktivitas lari bisa dijalani dengan ilmu dan kesadaran.