Monday, July 26, 2021

Keterampilan Interpersonal

Memiliki tiga anak yang sudah bersekolah membuatku belajar banyak hal mengenai karakter sosial mereka, terutama dalam hal mencari teman. Ada anakku yang cukup mudah berbaur di lingkungan baru. Tak perlu waktu lama, dia akan mulai nimbrung di obrolan. Tak heran beberapa kali aku menemuinya sedang berbincang asyik dengan orang yang baru ditemuinya, seperti tukang parkir, tukang yang datang ke rumah, penjual pinggir jalan, dll. Kami dengan mudah melepasnya bergaul dengan lingkungan baru tanpa khawatir—seperti acara-acara liburan yang banyak diadakan berbagai event organizer—karena biasanya dia supel membawa diri.

Kebetulan dia ini cukup talkative. Dia tidak sungkan bertanya jika ada hal yang tidak dimengerti. Bahkan kalau dia sudah mulai tune in dengan lingkungan atau forumnya, dia akan melempar celetuk atau respon dengan aktif. Dia cukup populer di kalangan teman-temannya dan beberapa kali terpilih menjadi Ketua Murid atau pengurus angkatan.

Berbeda halnya dengan dua anakku yang lain. Mereka tidak terlalu ekspresif seperti kakaknya. Ketika berkenalan dengan orang baru, mereka cenderung “lambat panas” dan lebih senang mengamati pada awalnya. Mereka juga agak picky dalam memilih teman. Biasanya mereka hanya mau bermain dengan teman-teman yang “klik” saja. Salah satu dari mereka jarang mau terlibat jika ada kegiatan-kegiatan dan lebih memilih lingkungan yang nyaman buat dia. Namun, anak yang lain cukup partisipatif dalam berbagai kegiatan. Aku dan suami selalu memotivasi mereka untuk mengikuti beraneka aktivitas supaya mereka bisa berkenalan dengan orang dan lingkungan baru, meskipun kadang salah satu dari mereka tampaknya tidak cukup tertarik. Yah, kami sebagai orang tua tidak bisa memaksa.

Tulisan ini tidak bermaksud membandingkan anak satu dengan yang lainnya. Justru karena memiliki anak dengan karakter berbeda-beda, sebagai orang tua kami harus terus belajar bagaimana menyikapi karakter mereka dengan tepat. Tentunya ini bukan hal yang mudah di masa pandemi ini, kala karakter yang berbeda-beda berkumpul dalam satu atap hampir dua puluh empat jam. Anak kami yang cenderung suka berteman dan bertualang tentu bosan ketika dia hanya bisa bertemu dengan saudara-saudaranya saja. Sementara anak kami yang lain ada juga yang merasa baik-baik saja dengan keberadaannya di rumah terus-menerus. Dia sudah cukup asyik mojok dengan buku, gawai, atau game.

Keterampilan berbaur dengan teman dan menyesuaikan diri dengan lingkungan adalah salah satu softskill yang berada pada tataran aspek interpersonal. Bagaimanapun juga, kemampuan ini sangat diperlukan oleh anak—baik ketika mereka masih kanak-kanak maupun ketika mereka sudah dewasa—untuk membangun komunikasi dan kerja sama dengan orang lain. Mudah-mudahan anak-anak dapat memperkuat aspek ini dengan karakter dan pembawaan mereka masing-masing supaya kelak mereka bisa survive menghadapi dunia luar.

Monday, July 19, 2021

Pendidikan Anak

Bicara soal pendidikan anak adalah sesuatu yang sulit buatku karena aku tahu sistem yang berjalan di keluarga kecilku tidak ideal. Di rumah kami masih ada TV dan gawai—yang kadang-kadang masih menimbulkan kesulitan dalam pengaturannya. Kesibukan kami bekerja membuat kami terbatas membersamai anak-anak dan membimbing mereka. Kami juga masih susah mengontrol kesabaran dan masih sering marah-marah. Meskipun demikian, aku dan suami selalu berusaha memilihkan pendidikan yang terbaik untuk anak-anak. Kriteria terbaik tentunya berbeda-beda bagi tiap keluarga. Apa yang baik buat suatu keluarga belum tentu baik pula untuk keluarga lain, maka pendidikan yang kami pilihkan untuk anak-anak disesuaikan dengan visi dan misi keluarga kami.

Ada banyak metode yang dijalankan oleh para orang tua saat ini. Melihat keberhasilan dan kesuksesan teman-teman kami yang menjalankan homeschooling (HS) untuk anak-anak mereka, pernah terbersit keinginan untuk menjalankan metode serupa. Namun, keterbatasan kami sebagai orang tua yang bekerja tentu membutuhkan usaha yang luar biasa untuk memastikan sistem HS berjalan dengan baik. Jadi, setelah berpikir ulang, tampaknya kami tidak akan sanggup.

Sebagai orang-orang yang dibesarkan dengan sistem pendidikan sekolah negeri mulai dari TK hingga perguruan tinggi, kami merasa ada yang kurang dalam hal pendidikan agama. Bukan berarti sekolah negeri tidak baik, hanya saja kurang pas dalam memenuhi visi dan misi keluarga kami. Oleh karena itu, sejak anak-anak PG hingga SMP, mereka kami sekolahkan di institusi pendidikan yang memiliki titik tekan pada islamic character building dan leadership sebagai salah satu tujuan pembelajaran. Aspek kognitif bisa dikejar karena alhamdulillah kemampuan akademik mereka bisa dibilang bagus, tetapi pembentukan karakter akan susah dikejar jika tidak ditanamkan sejak dini. Harapan kami, jika nilai-nilai sebagai seorang muslim ini tertanam sebagai pondasi yang kuat, ke depannya mereka akan lebih tangguh memegang nilai-nilai agama dalam keseharian.

Selain ikhtiar memilihkan pendidikan yang menurut kami terbaik buat mereka, tak lupa kami juga menitipkan anak-anak kepada Sang Empunya. Allah-lah sebaik-baik penjaga dan pelindung yang akan membimbing mereka untuk tetap lurus di jalan-Nya. Kami tahu sebagai orang tua kami tidak bisa mendampingi anak-anak 24/7. Oleh karena itu, jika anak-anak paham dan sadar bahwa Allah Maha Melihat, mudah-mudahan mereka tidak terombang-ambing oleh dunia dan tetap berpegang teguh pada orientasi akhirat.

Memilihkan mereka sekolah yang terbaik adalah satu hal; bekerja sama dengan sekolah untuk keberhasilan belajar adalah hal lain. Keduanya harus berjalan seimbang karena kita tidak bisa melepas tanggung jawab dan membebankan proses pendidikan hanya kepada sekolah. Sekolah adalah mitra kami dalam mendidik anak-anak, maka kami berusaha untuk tidak bawel dan percaya pada sistem yang mereka miliki. Kepercayaan ini penting supaya kerja sama yang terbangun antara sekolah dan orang tua berjalan baik. Tak bisa dipungkiri selama tahun-tahun mereka bersekolah pasti ada saja masalah yang terjadi. Jika kerja sama tidak berjalan baik—misalnya ada ketidakpercayaan orang tua pada kebijakan yang diambil sekolah—proses mendidik anak juga tentu tidak akan berjalan mulus.

Pada akhirnya, pendidikan anak adalah proses untuk menjadikan mereka siap menjadi pribadi yang mandiri dan tangguh saat berpisah dengan kita, baik karena mereka keluar rumah (misalnya karena menikah, kuliah, merantau) atau karena kematian kita.

وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًا خَافُوا عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا اللَّهَ وَلْيَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا

"Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar." (Q.S. An-Nisa': 9)

Hari Arafah

Hari Arafah adalah hari kesembilan dalam bulan Dzulhijjah, hari yang bertepatan dengan dilakukannya wukuf oleh umat muslim yang menunaikan haji. Tahun ini Hari Arafah jatuh pada Senin, 19 Juli 2021. Wukuf sendiri adalah salah satu rangkaian ibadah haji yang paling pokok yang dilakukan dengan cara berdiam di Arafah mulai tenggelamnya matahari pada 9 Dzulhijjah hingga terbitnya fajar di tanggal 10 Dzulhijjah. Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya oleh sekelompok orang dari Nejed tentang haji, maka beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,

الْحَجُّ عَرَفَةُ

“Haji itu adalah Arafah.” (H.R. at-Tirmidzi no. 889, an-Nasâ’i no. 3016 dan Ibnu Mâjah no. 3015, dihukumi shahih oleh al-Albâni)

Hari Arafah merupakan salah satu hari dalam sepuluh hari pertama di bulan Dzulhijjah yang memiliki banyak keutamaan. Oleh karena itu kita disunnahkan memperbanyak amal salih di sepuluh hari pertama ini, dan hari Arafah termasuk di dalamnya. “Tidak ada amalan yang lebih baik di sisi Allah dan lebih besar pahalanya dibanding amal salih yang dilakukan di 10 hari pertama di bulan Dzulhijjah.” (H.R. Baihaqi, lihat Fathul Baari 3/390 dan Shahih Targhib 2/15)

Beberapa amalan yang dianjurkan dilakukan pada Hari Arafah adalah berdoa, berdzikir, dan berpuasa. Dari ‘Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

خَيْرُ الدُّعَاءِ دُعَاءُ يَوْمِ عَرَفَةَ وَخَيْرُ مَا قُلْتُ أَنَا وَالنَّبِيُّونَ مِنْ قَبْلِى لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ

“Sebaik-baik doa adalah doa pada hari Arafah. Dan sebaik-baik yang kuucapkan, begitu pula diucapkan oleh para Nabi sebelumku adalah ucapan ‘La ilaha illallah wahdahu la syarika lah, lahul mulku walahul hamdu wahuwa ‘ala kulli syaiin qadir’ (Tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya segala kerajaan, segala pujian dan Allah yang menguasai segala sesuatu).” (H.R. Tirmidzi no. 3585; Ahmad, 2:210)

Sementara puasa pada Hari Arafah memiliki keutamaan yang besar. Puasa sehari ini menghapuskan dosa dua tahun, sebagaimana dijelaskan dalam hadits Abu Qatadah Radhiyallahu anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِى بَعْدَهُ

“Puasa Hari Arafah aku harapkan dari Allah bisa menghapuskan dosa setahun sebelumnya dan setahun setelahnya.” (H.R. Muslim no. 1162).

Semua ibadah yang disebutkan di atas bukan hanya untuk para jamaah haji yang sedang berwukuf di Arafah, melainkan semua umat muslim juga memiliki kesempatan yang sama untuk mendulang pahala dan ampunan dari Allah. Yuk, mari kita jemput keutamaan Hari Arafah.

Personal Best

Juli 2020

Alhamdulillah akhirnya berhasil juga memperbarui catatan waktu pada race kategori 10K. Sekadar informasi, aku pertama kali bisa berlari sejauh 10K pada tahun 2020 ketika pandemi mengguncang negeri dan aku terpaksa mengalihkan latihan lari di jalanan kompleks. Saat pertama kali mulai berlari 10K saat itu, aku memilih zona heart rate nyaman di pace 11. Kemudian aku memberanikan diri mengikuti race 10K bersama @mamahgajahberlari dalam gelaran ITB Ultra Marathon, Desember 2020. Tentunya bukan hal yang mudah karena riwayat HR-ku selalu tinggi dan nafas selalu megap-megap ketika aku menggeber speed.

ITB UM 10K, Desember 2020

Time Trial ITB 101 VR, awal Juli 2021

Latihan demi latihan yang aku lakukan membuatku berhasil mencatatkan waktu 1:26:31 dengan pace 8:38. Kemudian setelah itu aku memutuskan untuk menghentikan latihan MAF karena sudah setahun tidak membawa hasil yang cukup signifikan untuk menurunkan HR. Mulailah aku lebih banyak melakukan variasi speed pada training plan, dan pada Time Trial pertama untuk race 10K pada gelaran ITB 101 Virtual Run, awal Juli 2021, aku sedikit memperbaiki catatan waktu menjadi 1:25:54 dengan pace 8:29.


Time Trial ITB 101 VR, 17 Juli 2021 akhirnya PB

Waktu race yang lumayan longgar karena diperpanjang menjadi enam minggu akibat PPKM membuatku penasaran untuk melakukan remedial. Setelah melalui dua pekan adaptasi dengan suhu Tangerang Selatan yang berbeda jauh dengan Bandung yang adem, alhamdulillah aku berhasil memperbarui catatan waktu pada race kategori 10K, yaitu 1:20:46 dengan pace 7:59. Sebuah pencapaian yang luar biasa untuk ukuranku, mengingat zona HR nyaman untuk easy run masih berkisar di pace 9.

Pesan moral yang ingin kusampaikan: jangan pernah berhenti berusaha dan jangan membandingkan diri dengan pencapaian orang lain. Banyak orang lain yang lebih wow pencapaiannya, aku tahu. Namun bukan di situ poin pentingnya. Sadarilah bahwa masing-masing orang berproses dan Tuhan tahu seperti apa perjuangan kita.

Be good to yourself. Celebrate and appreciate small victories, so you can be ready for greater ones. Never compare them to others. You are one-of-a-kind. Remember where you started. Remember why you started. And celebrate where you are today!

Heart Rate


Bahasan tentang heart rate (HR) memang selalu menarik bagi teman-teman yang suka berlari. Malam minggu kemarin acara Zoom @cah2000playon bersama narasumber @medishita dan moderator @deboradyah adalah tentang resting HR versus exercise HR.

Pada saat kita berolahraga, jantung akan memompa darah ke seluruh tubuh. Semakin rutin berolahraga, HR semakin rendah dan kemampuan jantung untuk memompa akan lebih bagus. Stroke volume adalah jumlah darah yang dipompa oleh jantung dalam satu siklus jantung. Sementara cardiac output adalah jumlah darah yang dipompa oleh jantung per menit. Cardiac output (liter per minute) dihasilkan dari HR (beat per minute) dikalikan stroke volume (liter per beat). Endurance training membantu meningkatkan stroke volume dan menurunkan HR.

Pada saat berolahraga, suhu sangat berpengaruh. Pada saat suhu panas, kita akan mengalami dehidrasi. Akibatnya air di pembuluh darah berkurang sehingga darah yang kembali ke jantung akan berkurang, hal ini menyebabkan stroke volume juga akan berkurang. Kemudian HR akan naik untuk memenuhi oxygen demand.

Rutin berolahraga berfungsi untuk memperpanjang periode kenaikan HR. Kita harus menyeimbangkan kebutuhan oksigen dengan kemampuan nadi. Stroke volume yang tidak bisa mengimbangi oxygen consumption (tidak bisa mengejar) menyebabkan nafas kita menjadi megap-megap saat berolahraga. Sebaiknya intensitas olahraga diturunkan supaya stroke volume dapat mengimbangi oxygen consumption.

Kondisi jantung atlet yang terlatih kadang resting HR-nya terlalu rendah. Ini karena ketebalan otot jantungnya terlalu tebal tetapi kemampuannya untuk menampung volume cairan darah justru mengecil. Kondisi ini disebut hipertrofi dan bisa menyebabkan cardiac arrest, aritmia, dll. Jadi, apapun yang berlebihan itu memang tidak baik.

Pesan dr. Shita: usahakan berolahraga rutin minimal 90 menit dalam seminggu di zona HR latihan supaya kemampuan jantung tetap baik. Olahraga lebih intens daripada itu tidak mengapa, asal kita memiliki waktu recovery yang cukup.

Wednesday, July 14, 2021

Faith


"Untung ada Islam. Nggak gila aja udah syukur," demikian kata seorang guru ketika kehilangan kedua orang tua terkasih hanya dalam kurun waktu seminggu akibat COVID-19.

Pandemi yang luar biasa ini di satu sisi memang sangat menyesakkan. Banyak orang ditinggal wafat orang tercintanya; banyak orang memendam rindu karena bepergian dan silaturahmi menjadi sesuatu yang membawa risiko. Belum lagi jika kita bicara soal keterpurukan ekonomi, makin banyaknya pengangguran, naiknya angka kemiskinan, banyak orang yang menjadi susah untuk memenuhi kebutuhan hidupnya … ah, begitu banyak kesedihan dan kesengsaraan.

Pandemi juga memperlihatkan wajah asli orang-orang. Ada yang peduli sesama, ada yang abai terhadap diri sendiri maupun orang lain, ada yang tamak dan serakah menimbun keuntungan, juga ada yang raja tega memanfaatkan situasi dan melakukan penipuan demi cuan.

Pandemi memberi kesadaran bahwa kita mungkin terlampau cinta pada dunia dan takut mati. Sudah siapkah jika suatu saat kita atau orang terdekat kita dipanggil pulang oleh-Nya? Sudah siapkah kita dengan bekal amal saleh dan amal jariah? Apa yang sudah kita wariskan untuk anak-anak? Sudah cukupkah tarbiyah yang kita lakukan untuk menjadikan mereka pribadi yang siap mandiri, yang ketika berpisah dari kita pun tetap saleh dan salehah?

Kita beruntung karena ada Islam, karena kita punya Allah sebagai tempat bersandar sehingga kita tidak gila dan tertekan memikirkan dunia ini. Hasbunallah wa ni’mal wakiil, "cukuplah Allah (menjadi penolong) bagi kami dan Dia sebaik-baik pelindung." (Q.S. Ali Imran: 173)

Meskipun menyesakkan, Islam mengajarkan bahwa everything happens for a reason. Entah apapun itu, pandemi ini pasti tidak sia-sia karena Allah punya maksud dan tujuan tertentu dengan kehendak-Nya. "... (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), 'Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka.'" (Q.S. Ali Imran: 191)

Kita sebagai hamba bisa apa dengan kehendak Allah? Mengingat lagi tentang bahasan free will, qadha, dan qadar: kita hanya bisa menerima kehendak Allah, mensyukuri semua yang ditentukan oleh-Nya, serta fokus pada pilihan-pilihan yang kita buat, apakah berpahala atau tidak. Terhadap takdir Allah kita berserah, tetapi terhadap area yang bisa kita ikhtiarkan … kita melakukan usaha terbaik yang mendatangkan keridaan-Nya. Memang berat untuk dipahami dan dilakukan, tetapi inilah amunisi yang kita miliki sebagai seorang muslim. Ketika mendapat kebahagiaan kita bersyukur, ketika mendapat kesedihan kita bersabar.

Keyakinan kepada Allah, inilah satu-satunya yang kita punya. "... boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." (Q.S. Al-Baqarah: 216)

Sunday, July 11, 2021

Tempat Main Murah Meriah

Tahun 2013 ketika anak sulung masih berusia lima tahun

Sejak anak-anakku kecil, selalu ada tempat main murah meriah yang mereka sukai dan saban minggu kami datangi: bandara dan stasiun kereta api. Dulu ketika nonpenumpang masih gampang masuk ke peron, hampir tiap pekan kami pergi ke stasiun karena mereka suka sekali melihat kereta api. Mereka betah menghabiskan waktu berjam-jam untuk memandangi kereta yang lalu-lalang, sambil sesekali bertanya mengenai hal-hal yang tidak mereka pahami. Namun, ketika peron sudah diperuntukkan bagi penumpang yang memiliki karcis saja, kami sudah jarang main ke stasiun lagi. Mengintip-intip kereta api di sela-sela pagar—karena tidak bisa masuk ke peron—lama-lama terasa tidak mengasyikkan bagi anak-anak.



Lain halnya dengan bandara. Sejak dulu hingga sekarang—yah, paling tidak hingga kami pindah dari Bandung—nongkrong di pinggir TPU Sirnaraga yang berbatasan dengan runway menjadi menu biasa setiap akhir pekan. Ada spot menarik di situ, tempat kita bisa dengan leluasa menikmati pemandangan pesawat landing dan take-off. Dulu bentuknya berupa bangunan lawas yang bisa dinaiki bagian atapnya. Bangunan yang sudah terbengkalai itu ramai orang kala weekend. Pada suatu ketika bangunan tersebut dirobohkan, tetapi hal itu tidak menyurutkan antusiasme orang untuk melihat pesawat di spot yang sama.

Sebelum pandemi melanda dunia, tempat di ujung runway ini merupakan objek wisata murah meriah bagi masyarakat kelas menengah ke bawah. Murah karena tanpa tiket masuk (paling banter cuma bayar parkir), meriah karena menyenangkan buat anak dan bisa dijadikan ajang menambah pengetahuan jika kita pintar-pintar menyelipkan info sains tentang pesawat terbang. Di sekeliling lahan kosong yang dijadikan tempat parkir kendaraan, orang juga ramai menggelar dagangan makanan dan mainan. Suasananya mirip dengan Gasibu kala hari Minggu pagi: ada gerobak-gerobak makanan, ada meja dan kursi sederhana untuk makan di tempat, ada komidi putar, ada penjaja mainan, dsb.

Ketika anak-anak sudah mulai besar, mereka tak lagi sekadar menikmati pesawat landing dan take-off belaka. Aktivitas plane spotting yang mereka lakukan semakin mengasyikkan. Mereka mulai berdiskusi mengenai mekanisme mesin pesawat terbang sembari memasang mata pada aplikasi pelacak pesawat yang terpampang di layar smartphone. Kadang-kadang mereka membawa teropong untuk mengawasi pesawat yang mulai mendekat. Kemudian ketika mereka mulai terbiasa mengunggah video di Youtube, mereka juga asyik mengambil gambar lewat kamera ponsel.

Tempat main anak memang tak harus mahal. Keingintahuan anak yang selaras dengan minat mereka bisa diwujudkan melalui hal-hal sederhana, tinggal orang tua yang pintar-pintar menangkap minat anak dan memfasilitasinya. Aktivitas mengunjungi stasiun dan bandara juga kami lengkapi dengan membeli buku-buku yang menunjang pengetahuan seputar moda transportasi dan mengizinkan mereka untuk melihat tayangan terkait di Youtube. Mudah-mudahan hal ini akan dikenang sebagai dunia main yang menyenangkan ketika mereka dewasa kelak.

Rumah


Apa makna rumah bagimu? Dalam bahasa Inggris, kata house dan home sama-sama bermakna rumah. House memiliki arti rumah dalam bentuk fisik (building) yang dibangun dari berbagai material dan mewujud dalam dimensi kebendaan. Sementara home lebih jauh dari itu, melibatkan perasaan … eh, kok jadi mengutip quote Pidi Baiq 😂

Memang benar home melibatkan perasaan dalam pemaknaannya. Barangkali dalam perasaan itu ada kehangatan, kebersamaan, keakraban, cinta, kasih sayang, you name it. Tidak semua house bermakna home bagi penghuninya. Demikian pula tidak semua home harus berupa sebuah house. Home is where your heart is. Kalau kata suamiku, home adalah di mana istri dan anak-anaknya berada. Aseeeek 🤣

Balik lagi ke pertanyaan awal: sejatinya apa, sih makna rumah itu? Let’s check this out.

"Dan Allah menjadikan rumah-rumah bagimu sebagai tempat tinggal (tempat ketenangan) dan Dia menjadikan bagimu rumah-rumah (kemah-kemah) dari kulit hewan ternak yang kamu merasa ringan (membawa)nya pada waktu kamu bepergian dan pada waktu kamu bermukim dan (dijadikan-Nya pula) dari bulu domba, bulu unta, dan bulu kambing, alat-alat rumah tangga dan kesenangan sampai waktu (tertentu)." (Q.S. An-Nahl: 80)

Sebagai hamba Allah tentunya kita harus kembali pada definisi Allah dalam memandang segala sesuatu. Dalam tafsir ayat di atas, Allah mengatakan bahwa rumah adalah tempat tinggal yang memberi kita ketenangan dari berbagai gangguan lahir dan batin. Allah juga menjadikan rumah dalam bentuk kemah-kemah yang ringan dan mudah dibawa pada waktu bepergian dan untuk digunakan saat bermukim di tempat tertentu.

Dalam banyak ayat Al Quran, rumah memiliki beberapa makna:
  1. Sebagai tempat ibadah untuk meraih keridaan Allah.

  2. Sebagai madrasah tempat tarbiyah (edukasi dan pembinaan) dalam mendidik pasangan dan anak-anak.

  3. Sebagai benteng untuk menjaga iman keluarga.

  4. Sebagai sumber ketenangan dan tempat istirahat melepas lelah.

  5. Sebagai tempat silaturahim.

"Empat hal yang membawa kebahagiaan, yaitu perempuan salehah, rumah yang luas, tetangga yang baik, dan kendaraan yang enak." (H.R. Ibnu Hibban).

Sejak berkeluarga hingga saat ini aku telah berpindah-pindah di empat rumah, salah satunya adalah rumah kontrakan. Entah karena diriku ini seorang melankolis atau bagaimana, selalu ada perasaan sedih dan haru kala harus meninggalkan rumah lama untuk berpindah ke rumah baru. Memori bertahun-tahun berkelebat dalam benak semata-mata karena terlampau banyak kenangan yang melibatkan perasaan, tertinggal di sana. Rumah-rumah itu bukan hanya bangunan fisik buatku, lebih jauh dari itu: mereka adalah home yang menjadi saksi keluargaku mencinta dan bertumbuh. Rumah-rumah itu … adalah juga keluarga bagiku 🥺

Oleh karena itu, hatiku tercabik kala mengingat rumah lamaku kini hanya berteman sepi dan debu. Tak ada tawa, tak ada cahaya, tak ada kehidupan di dalamnya 😭

Kembali ke Q.S. An-Nahl: 80, Allah menjadikan rumah sebagai tempat kesenangan sampai waktu tertentu. Mengapa demikian? Tentu saja karena dunia ini fana. Pada hakikatnya semua kepemilikan kita di dunia ini hanya sementara. Ayat ini menjadi pelipur lara bagiku karena menyadarkan bahwa kampung akhirat adalah rumah yang sebenar-benarnya, tempat kita semua akan kembali.

"Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?" (Q.S. Al-An’am: 32)

Friday, July 09, 2021

Sandyakala


Selalu ada aura magis yang menyelimuti bumi ketika semburat merah senja menghiasi nabastala. Bayu yang mengalir semilir begitu membuai rasa sehingga banyak insan sering terpantik inspirasinya kala senja tiba.

Tak terkecuali aku. Sejak dulu aku telah jatuh cinta pada senja karena kemolekannya. Kini ketika aku gemar berlari, aku sangat menikmati menjadi pelari senja sebab padanya aku menemukan damai. Berkawan sepoinya angin, aku mengurai rindu. Bersama temaramnya sinar surya yang kembali ke peraduan, hatiku menunduk khusyuk dalam syahdu.

Gurat merah di langit senja memiliki banyak makna. Bagi sebagian orang, filosofinya diartikan sebagai keindahan yang tak perlu disuarakan. Cantik sebagaimana mestinya meski hadir dalam senyap. Bagi sebagian orang yang lain, persepsi keelokan itu dibangun sebagai bentuk akhir yang menawan. Jadi jika mau berpikir positif, apapun yang kita lalui hari itu memiliki muara rasa yang indah dalam perwujudannya sehingga rasa syukurlah yang kita langitkan kala menutup hari.

Senja disebutkan dalam banyak ayat Al Quran, menandakan jika ia istimewa. Dalam penciptaan langit dan bumi terdapat tanda-tanda kekuasaan dan kebesaran Allah bagi orang yang mau berpikir.

"Maka sesungguhnya Aku bersumpah dengan cahaya merah di waktu senja," (Q.S. Al Insyiqaq: 16)

"Dan bertasbihlah kepada-Nya diwaktu pagi dan petang." (Q.S. Al-Ahzaab: 42)

"Dan sebutlah nama Tuhanmu pada (waktu) pagi dan petang." (Q.S. Al-Insaan: 25)

"Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai." (Q.S. Al-A’raaf: 205)

Selamat mencinta senja, Kawan. Padanya akan kautemukan bahagia.

Monday, July 05, 2021

Kehadiran Anak di Tengah Keluarga


Pernah atau tidak mendapat pertanyaan “Sudah isi apa belum?” beberapa waktu setelah menikah? Terkadang pertanyaan kepo semacam ini dianggap agak julid bagi sebagian orang. Mungkin maksudnya baik karena diniatkan untuk peduli, tetapi sebenarnya pertanyaan ini tidak perlu dilontarkan karena dapat menyinggung perasaan orang yang ditanya. Terutama kalau yang bersangkutan memang belum dikaruniai buah hati setelah beberapa waktu lamanya.

Aku sendiri tentu pernah mendapat pertanyaan serupa. Tujuh bulan pertama dalam pernikahan aku tak kunjung hamil. Memang hanya tujuh bulan, tetapi durasi itu cukup membuatku bosan mendengar pertanyaan seperti itu. Bahkan ada juga yang usil berkomentar apakah kami sengaja menunda memiliki anak. Huft, kadang orang memang berkomentar seenaknya.

Anak pertamaku lahir di Bandung, disusul adiknya tiga tahun kemudian. Tentu di sela-sela waktu itu pernah juga terlontar pertanyaan “Kapan punya adik?”, hehehe. Bahkan setelah anak keduaku lahir, komentar orang tak juga berhenti. Karena kedua anakku laki-laki, komentar berikutnya adalah “Ayo dong satu lagi, kan belum punya anak perempuan.” Aku tentu hanya bisa menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal.

Kebetulan kehamilanku yang ketiga dan keempat tidak berjalan mulus. Kehamilan ketiga berakhir di usia kandungan delapan minggu karena janin tidak berkembang. Kisah kehamilan keempat juga ternyata harus berakhir di usia kandungan empat bulan karena kontraksi dan KPD (Ketuban Pecah Dini). Bayiku lahir dalam kondisi meninggal karena masih terlalu kecil dan tidak dapat bertahan. Anak ketigaku ini juga laki-laki, maka keinginan untuk memiliki anak perempuan sempat pupus karena aku mengalami trauma dan memutuskan untuk tidak akan hamil lagi. Apalagi ada yang berkomentar miring tentang kepergian anakku. Tanpa komentar miring pun aku sudah menyalahkan diri sendiri, apalagi ada celetukan-celetukan yang tak perlu seperti itu.

Qadarullah enam bulan setelah kepergian anak ketiga, aku kembali hamil. Dokter mengatakan janinku berjenis kelamin perempuan. Memang betul Allah Maha Menghibur, diganti-Nya bayiku yang tiada dengan anak perempuan yang kuimpikan. Maka minggu demi minggu kehamilan kujalani dengan sukacita dan antusias. Apakah lantas tidak ada komentar orang? Tentu saja ada. Beberapa komentar iseng yang terlontar seperti “Subur amat … hamil lagi, hamil lagi.” Hmmm, belum hamil salah, sering hamil pun salah.

Ketika aku hamil anak kelima, aku sempat berusaha menyembunyikan kabar kehamilan karena malas mendengar komentar orang. Namun, kehamilan tentu tak bisa disembunyikan lama-lama, terutama ketika perut sudah membuncit, hahaha. Komentar yang paling menyebalkan ketika orang tahu bahwa aku sedang hamil anak kelima adalah “Masa sih anak kelima? Yang ‘ada’ maksudnya.” Hmmm, belum pernah di-tampol rupanya.

Terlepas dari komentar usil orang yang sering mampir ke telinga kita, bagiku kehadiran anak dalam keluarga sangat memberi berkah. Anak-anak adalah guru yang sesungguhnya untuk kita belajar ilmu kehidupan. Lewat kehadiran mereka, kita belajar mengimplementasikan hal-hal yang tidak kita dapat di bangku sekolah. Sepayah apapun kualitas kita sebagai orang tua, anak-anak selalu memiliki pintu maaf seluas samudra. Bagi mereka kita adalah orang tua yang paling keren dan paling dicinta. Masyaallah. Tidak ada unconditional love sesuci dan semurni ini.

Sebagai orang tua bekerja yang memiliki banyak anak, aku tak bisa berkata kalau aku tidak repot. Namun, aku yakin kerepotan ini hanya sementara. Hikmah, keceriaan, dan kebahagiaan yang didapat jauh lebih besar daripada kerepotan itu sendiri. Ada saat di mana aku meledak karena ketidaksabaran, tetapi lebih sering aku bergelung dalam syukur yang tak bertepi karena kehadiran anak-anak. Sungguh aku tak bisa membayangkan apa jadinya hidupku tanpa mereka. Mudah-mudahan merekalah saranaku meraih surga.

 رَبَّنا هَبْ لَنا مِنْ أَزْواجِنا وَذُرِّيَّاتِنا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنا لِلْمُتَّقِينَ إِماماً  

“Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (Q.S. Al-Furqan [25]: 74)

Tentang Lari



Have you ever been running for the sake of running itself?

Perjalananku menyukai olahraga lari dimulai sekira tahun 2015. Awalnya hanya untuk menantang diri sendiri, alias menjajal kemampuan diri. Bertahun-tahun aku memang tidak pernah menyukai lari. Aku masih ingat, sejak masa sekolah dulu, tiap kali guru olahraga menyuruh berlari maka aku akan berkeluh kesah panjang pendek. Biasanya aku termasuk siswa yang tiba paling akhir, dan tentunya lebih banyak berjalan dibanding berlari.

Pada 2015 itu aku bertanya tentang kiat bagaimana mulai berlari pada beberapa teman yang kulihat sudah biasa berlari. Pada awalnya aku cukup skeptis karena selama ini aku selalu megap-megap tiap berlari. Dari yang awalnya cuma kuat 2K, lama kelamaan meningkat menjadi 3K, lalu 5K. Kemudian aku hamil anak ke-4 dan berhentilah semua aktivitas lari 😂

Beberapa waktu pascapersalinan aku kembali mulai berlari. Kukira aku akan mulai dari nol, tetapi level kebugaranku ternyata tidak terlalu menurun—memang sebelumnya aku sudah rutin melakukan senam aerobik dan yoga—jadi aku tinggal “memanaskan mesin” sedikit hingga akhirnya aku biasa menempuh 5K setiap kali berlari. Tiga tahun setelah itu aku kembali hamil anak ke-5 dan aktivitas lari kembali berhenti.

Pascapersalinan I came back stronger. Jarak mulai bisa diperjauh menjadi 7K. Kemudian ketika aku sedang bersiap meningkatkan jarak menjadi 10K, pandemic hit the world. Latihan lari yang tadinya biasa kulakukan di track lari akhirnya kualihkan ke jalanan kompleks. Hikmah pandemi yang mengharuskanku WFH memungkinkan aku mengatur waktu dengan fleksibel dan aku malah jadi semakin sering berlari.

Tahun 2020 aku berhasil menempuh 10K pertamaku, kemudian ikut serta dalam kemeriahan ITB Ultra Marathon sebagai race pertama untuk jarak 10K. Sebagai slow jogger dengan easy run pace berkisar di angka 9-10 karena riwayat heart rate selalu tinggi, aku lebih berminat meningkatkan performa endurance daripada speed. Maka training plan aku tingkatkan untuk mulai melirik Half Marathon. Tepat sebelum Ramadhan 2021, aku berhasil menyelesaikan Half Marathon mandiri sejauh 21,1K mengelilingi Kota Bandung.

Di era medsos seperti sekarang ini, sangat sulit untuk tidak membandingkan kemampuan diri dengan pencapaian orang lain. Seringkali aku iri melihat performa teman-teman yang jauh lebih keren, misalnya: newbie runner yang bisa berlari lebih kencang dengan HR lebih rendah daripada aku 🤣



Namun, kemudian aku ingat: di yoga aku belajar tentang self acceptance, tentang bagaimana menerima diri seutuhnya tanpa membandingkan dengan orang lain. Yang harus dibandingkan dengan diri kita yang sekarang adalah diri kita yang dulu. Dan kalau melihat ke belakang, tentunya aku sudah berprogres. Dulu HR amanku berada di pace 11, kini pace 9 pun masih bisa aman. Dulu aku cuma bisa berlari 2K, sekarang paling jauh sudah bisa HM.

Kalau dulu aku berprinsip yoga is not a competition, it's all about BEING YOU … maka kini aku juga berprinsip running is not a competition, it's all about BEING YOU. Let’s run for the sake of running itself, bukan karena ingin dianggap bisa atau ingin dianggap keren. Just enjoy every step … karena sesungguhnya ketika berlari, kita sedang berkontemplasi untuk mensyukuri nikmat sehat dan berdialog untuk lebih memahami diri sendiri.

📷: Bersama Tim "Mamah Gajah & The Bandito" siap menyongsong ITB 101 Virtual Run periode 4 Juli - 15 Agustus 2021, masing-masing orang berlari sejauh 10,1K (single run).

Sunday, July 04, 2021

Bandung


Aku memang tidak lahir dan tumbuh besar di Bandung, tetapi aku telah menghabiskan lebih dari separuh usiaku di sini. Ketika aku pertama kali datang ke sini dua puluh satu tahun silam, Kota Kembang ini berhawa sangat dingin—apalagi untuk ukuran seorang bocah asal Solo sepertiku. Malam-malamku sebagai mahasiswa baru cukup sering berkemul tebal, terutama ketika kemudian aku pindah ke bilangan Bandung bagian utara.

Bandung bagian utara … ah, sungguh memesona. Di sini aku mengalami pasang surut dinamika kehidupan kampus, bergulat dengan aktivitas kemahasiswaan, lalu berhasil lulus hidup-hidup dari sana. Aku sempat mengembara sebentar, untuk kemudian kembali dan menetap di sini pascamenikah.

Setelah itu kehidupanku banyak berpusar di Bandung bagian utara. Mulai dari kantor, sekolah anak-anak, rumah sakit, tempat olahraga, tempat belanja … semua kami lakukan di sini. Maka tidak heran kemudian Bandung menjadi bagian penting dari hidupku, yang menyedot semua cintaku seperti aku mencintai kota kelahiran.

Di Bandung pula aku belajar mencintai lari. Di setiap jalan yang kususuri sambil berlari, di situ tertinggal sekeping kenangan. Tak pernah bosan aku mengukur jarak di jalanan Bandung. Di antara lika-likunya terserak memorabilia yang mengukuhkan betapa cantiknya kota ini.

Bandung juga adalah surga makanan. Jajanan di sini sangat bervariasi. Pilihan tempat makan dan nongkrong beragam. Tempat main pun tak terhitung jumlahnya. Tak lupa juga, dengan banyaknya sarana kajian untuk menimba ilmu agama, selalu ada tempat kembali bagi jiwa-jiwa yang penat dengan kehidupan dunia.

Maka bagiku Bandung adalah tempat pulang, tempat yang kupikir dulu bakal menjadi suaka hingga akhir hayat. Dan ketika takdir akhirnya berkata lain, semoga segala ketidaknyamanan ini akan diganjar sebagai pahala taat kepada suami dalam rangka menggapai rida-Nya.

Ke Bandung aku akan kembali.

Sunday, June 27, 2021

Nilai Manfaat Sampah

Perjalananku menjadi pengurus bank sampah dimulai sejak 2015. Awal inisiasinya dimulai dari pertemuan beberapa ibu di kompleks yang concern terhadap masalah sampah. Dari obrolan-obrolan santai, kepedulian ini berlanjut dengan mengundang narasumber dari LSM Hijau Lestari untuk memberikan insight terhadap ibu-ibu kompleks mengenai pentingnya zero waste. Usaha ini tidak mudah, mengingat kebanyakan dari mereka masih sangat awam mengenai pemilahan sampah. Oleh karena itu, pada masa awal bank sampah kompleks kami terbentuk, pengurus sangat getol untuk melakukan edukasi. Dari pemahamanlah semua bermula.

Edukasi yang kami sampaikan sama intinya dengan tulisanku di sini, bahwa sampah ini adalah tanggung jawab kita bersama. Menjaga bumi adalah kewajiban setiap insan sebagai bentuk pertanggungjawaban kita terhadap Yang Mahakuasa. Pertanyaan yang paling sering kami dapatkan adalah mengenai seberapa banyak nilai rupiah yang nasabah bisa dapatkan ketika menyetor sampah. Satu hal yang selalu kami tekankan: jadikan usaha memilah dan menyetor sampah ini sebagai bentuk ibadah dan bentuk kepedulian kita terhadap lingkungan, karena jika kita bicara soal uang, nilainya tentu sedikit sekali yang bisa kita dapatkan. Belum kalau kita bicara soal lelah dan jatuh bangunnya. Jika hanya berharap nilai uang, kita bisa jadi kecewa. Namun, bila usaha ini diniatkan sebagai ibadah dan kontribusi kita dalam memperbaiki lingkungan, insyaallah hati kita lebih tenang dan lebih legawa.


Pengurus bank sampah di kompleks kami

Menyetor sampah dengan mobil :))

Mobil bank sampah Hijau Lestari, bantuan dari BJB

Pada masa awal bank sampah ini berjalan, para pengurus masih sering mendapati adanya setoran sampah yang dicampur-campur. Usaha edukasi ternyata harus terus dilakukan. Selain merepotkan pengurus, setoran sampah yang masih tercampur dan belum dibersihkan ini nilai ekonominya lebih rendah. Sebagai contoh: botol air mineral yang sudah dicopot labelnya dan sudah dipisahkan tutupnya bernilai Rp2.000,00 per kg, sedangkan yang belum hanya bernilai Rp1.500,00 per kg. Berikut ini adalah daftar kategori sampah yang diterima oleh bank sampah kami beserta daftar harganya.



Selain sebagai tabungan, sampah yang dikumpulkan oleh nasabah juga bisa ditukarkan dengan barang-barang yang dijual di HL Ecomart, mini market yang dikelola oleh Hijau Lestari. Sampah ini dibanderol sesuai harga yang ditetapkan oleh Hijau Lestari, kemudian ditukar dengan voucher. Voucher tersebut digunakan sebagai diskon untuk berbelanja. Hijau Lestari juga pernah bekerja sama dengan Twin Tulipware untuk mengurangi sampah plastik akibat penggunaan plastik sekali pakai. Beberapa item sampah dapat ditukarkan dengan diskon hingga 50% untuk mendapatkan produk-produk tertentu dari Twin Tulipware.

Dengan sistem ini, masyarakat akan lebih termotivasi untuk memilah sampah, mengumpulkan, lalu memanfaatkannya untuk ditukar dengan diskon belanja. Bahkan dengan inovasi sistem online yang sempat dikembangkan oleh Hijau Lestari bekerja sama dengan Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Kota Bandung waktu itu, tabungan sampah ini juga bisa digunakan untuk membayar biaya listrik PLN. Ternyata dari sampah yang sering kita pandang sebelah mata, banyak manfaat bisa kita dapatkan. Namun, yang perlu kita ingat: pemilahan sampah ini hanyalah satu dari sekian banyak ikhtiar yang bisa dilakukan jika kita sudah telanjur menghasilkan sampah. Tentu akan lebih bijak jika kita memulai usaha zero waste dari pangkalnya, yaitu mencegah dan mengurangi jumlah sampah itu sendiri.

 

Tautan terkait:

Monday, June 21, 2021

Hidrasi Bagi Tubuh

Air merupakan komponen yang penting dalam tubuh manusia. Persentasenya mencapai 60—70% dari keseluruhan berat badan. Fungsi air di dalam tubuh manusia: membuang kotoran dari tubuh, membawa nutrisi ke sel, menyediakan kelembaban untuk kulit, telinga, hidung, dan tenggorokan, serta membuat tekstur kulit menjadi halus dan kenyal.

Kita kehilangan air melalui keringat, urin, dan nafas. Jadi meskipun kita sedang tidak beraktivitas apa-apa, kita tetap mengeluarkan air melalui hembusan nafas yang berbentuk uap air. Sementara pengeluaran keringat berfungsi untuk menjaga kestabilan suhu tubuh agar tetap normal.

Secara umum, kebutuhan air minimal adalah 50 ml per kg berat badan. Bila kebutuhan air tidak tercukupi, beberapa tanda yang mungkin bisa kita alami antara lain:

  • Kelelahan
  • Sembelit
  • Kram otot
  • Migren
  • Masalah kulit (kering dan mudah terkena sunburn)
  • Jerawat
  • Kantung mata membesar
  • Garis halus dan kerutan kulit terlihat jelas

Orang yang berolahraga membutuhkan jumlah air yang jauh lebih banyak daripada kebutuhan air minimal. Karena ketika kita beraktivitas berat, suhu tubuh meningkat dan memicu pengeluaran keringat. Sekresi keringat ini merupakan mekanisme tubuh untuk menurunkan suhu. Selain itu, mekanisme lain yang dilakukan tubuh untuk menurunkan suhu adalah mengonsentrasikan darah ke arah kulit. Dengan demikian, jantung tidak memompa banyak darah sehingga kadar oksigen dan energi turun.

Oleh karena itu, menjaga hidrasi selama berolahraga menjadi sesuatu yang amat penting. Kenaikan suhu tubuh di atas normal (hipertermia)—yang tidak segera didinginkan dengan hidrasi—dapat menyebabkan mual, muntah, kram otot, sakit kepala, hingga pingsan. Beberapa kiat di bawah ini dapat dilakukan untuk menjaga tubuh tetap terhidrasi dengan baik selama berolahraga.





Salah satu hal yang cukup tricky dalam menjaga tingkat hidrasi tubuh adalah ketika kita sedang berpuasa. Jangan sampai upaya menabung air kita lakukan sekaligus, karena hal itu justru akan membuat mual dan beser. Lakukan hidrasi sedikit demi sedikit dengan frekuensi yang sering pada jam-jam ketika kita sedang tidak berpuasa. Kita juga bisa membagi frekuensi minum seperti infografis di bawah ini hingga kebutuhan air minimal tercukupi.



Kiat lain yang biasa saya lakukan adalah menakar kebutuhan air harian dengan tumbler besar yang memiliki angka ukur. Dengan demikian saya jadi tahu: sudah seberapa banyak air yang saya minum dan kurang berapa banyak kebutuhan air yang harus saya kejar. Karena saya suka minum kopi sementara kopi bersifat diuretik, untuk menjaga supaya tubuh tidak kehilangan air lebih banyak, satu gelas kopi yang saya minum akan saya imbangi dengan tiga gelas air putih setelahnya (tentu bertahap, ya … tidak sekaligus, hehehe).

Mengingat pentingnya fungsi air bagi tubuh, apapun aktivitas yang Anda lakukan, jangan lupa untuk tetap menjaga hidrasi sesuai kebutuhan air minimal. Yuk, kita coba lakukan kiat-kiat di atas.

Monday, June 14, 2021

Mulai dari yang Kecil

Ketika kita berbicara tentang permasalahan lingkungan dan isu pemanasan global, apa yang terbayang di benak seringkali adalah hal-hal besar yang tampak di luar jangkauan. Kadang-kadang rasanya hopeless sekali melihat es di kutub mencair, lapisan ozon menipis, hewan-hewan langka punah, atau penebangan hutan yang menyebabkan hilangnya paru-paru dunia, sementara kita di sini rasanya begitu powerless. Eh, tunggu. Benarkah kita tidak dapat berbuat apa-apa?

Seperti yang disinggung dalam tulisanku minggu lalu: sejatinya permasalahan lingkungan adalah tanggung jawab seluruh umat manusia. Apa yang kita lakukan ternyata bisa membawa impact demi penyelamatan lingkungan, meskipun hal itu tampak sepele. Dalam prinsip zero waste, ada tiga hal dasar yang menjadi poin penting: cegah, pilah, dan olah.

CEGAH. Langkah pertama yang bisa kita lakukan adalah mencegah barang-barang yang berpotensi menjadi sampah supaya tidak masuk ke dalam rumah. Langkah pertama ini sangat penting karena akan memudahkan langkah-langkah selanjutnya. Upaya pencegahan yang dilakukan sejak awal mengakibatkan upaya memilah dan mengolah sampah menjadi makin mudah.

PILAH. Langkah memilah dilakukan apabila sampah sudah telanjur dihasilkan. Sampah ini dipilah sesuai kategorinya untuk memudahkan pengelolaan ke tahap selanjutnya, yaitu mengolah sampah.

OLAH. Langkah terakhir yang bisa kita lakukan terhadap sampah adalah mengolahnya menjadi barang-barang yang berguna. Misalnya: mengolah sampah organik yang masih segar atau belum terkena minyak—seperti potongan sayur dan buah—menjadi kompos, mengolah sampah plastik menjadi ecobrick, atau mengolah sampah organik yang kotor—seperti nasi basi, sisa makan, dan sisa tulang—dengan memasukkannya ke lubang biopori.

Tulisan tentang memilah dan mengolah sampah akan aku kupas dua minggu lagi insyaallah. Kali ini aku ingin membahas mengenai upaya CEGAH sebagai langkah awal kepedulian kita terhadap permasalahan lingkungan. Sesungguhnya upaya pencegahan bisa kita lakukan dalam keseharian mulai dari hal-hal yang kecil. Banyak ikhtiar ramah lingkungan yang dapat diwujudkan, apalagi sekarang ini kesadaran masyarakat tentang hal itu sudah mulai digaungkan.

Beberapa hal sederhana yang bisa kita lakukan:

  • Menggunakan handuk alih-alih tisu
  • Menggunakan kantong kain sebagai tas belanja alih-alih kantong plastik
  • Membawa wadah sendiri ketika berbelanja atau jajan sebagai pengganti plastik
  • Membawa cutlery (sendok, garpu, sedotan) yang ready-to-go untuk mencegah penggunaan cutlery sekali pakai
  • Menggunakan menstrual pad atau menstrual cup sebagai pengganti pembalut sekali pakai
  • Menggunakan popok kain alih-alih popok sekali pakai

Dengan adanya pandemi seperti sekarang ini, penggunaan kemasan plastik atau kemasan sekali pakai makin meningkat karena masyarakat banyak membeli barang atau makanan secara online. Upaya yang dapat kita lakukan untuk meminimalkan hal itu misalnya dengan memilih vendor yang memakai bahan ramah lingkungan sebagai pembungkus, atau memilih toko yang menyediakan wadah isi ulang. Memang agak sedikit merepotkan, tetapi kerepotan kita itu tidak ada apa-apanya dibanding dampak kerusakan lingkungan yang ditimbulkan oleh sampah-sampah plastik.

Satu hal lagi yang juga bisa kita lakukan untuk menyelamatkan bumi adalah dengan bijak memilih barang ketika berbelanja. Usahakan sebisa mungkin memilih bahan yang berasal dari produk-produk daur ulang. Merek-merek outfit ternama sekarang mulai memilih material daur ulang untuk membuat baju, sebut saja Primegreen atau Repreve yang serat kainnya dibuat dari plastik daur ulang—termasuk botol plastik air mineral. Yang membuatku takjub: kainnya tetap terasa lembut dan nyaman, tidak gerah, dan cocok untuk aktivitas olahraga outdoor. Ternyata tampil kece pun bisa tetap ramah lingkungan.

Jadi, jangan pernah berpikir hal-hal kecil yang kita lakukan itu tidak ada gunanya. Justru dengan hal-hal sederhana yang dimulai dari keluarga kita, insyaallah kesadaran tentang ramah lingkungan bisa bergulir ke masyarakat laksana bola salju apabila dilakukan oleh banyak keluarga.

Monday, June 07, 2021

Manusia dan Lingkungan

Di dalam kitab Bidayah Wa Nihayah, Ibnu Katsir menulis bahwa jauh sebelum Allah menciptakan manusia, Ia telah menciptakan bangsa jin dan mengutus mereka menjadi penghuni bumi. Namun, mereka malah berbuat kerusakan sehingga Allah mengutus Azazil (jin paling kuat) beserta bala tentara malaikat untuk memberantas bangsa jin dan mengusir mereka ke pulau-pulau di tengah laut. Setelah itu, Allah menciptakan Adam dan memberikan mandat kepada Adam dan keturunannya untuk menjadi khalifah di muka bumi.

Secara etimologi, kata “khalifah” memiliki makna “pengganti”. Manusia diamanahi menjadi pengganti bangsa jin untuk menjalankan misi menjaga bumi dan untuk beribadah kepada-Nya. Hal ini tersurat dengan jelas pada ayat-ayat Alquran berikut ini:

“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, ‘Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.’ Mereka berkata, ‘Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?’ Dia berfirman, ‘Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.’” (Q.S. Al Baqarah: 30)

“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (Q.S. Adz Dzariyat: 56)

Secara umum, manusia memiliki dua tugas utama dalam menjalankan misi kekhalifahan di muka bumi. Tugas yang pertama adalah melestarikan bumi, tidak berbuat kerusakan, dan menyejahterakan lingkungan. Tugas yang kedua adalah menjalankan perintah agama atau syariat Allah. Oleh karena itu, jika kita mau berpikir, sebenarnya manusia memiliki peran teramat besar untuk menjaga keberlangsungan kehidupan di muka bumi ini. Sayangnya karena ketamakan dan ketidakpedulian manusia, bumi di masa kini menjadi carut-marut oleh banyak permasalahan lingkungan.

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (Q.S. Ar Ruum: 41)

Banyaknya bencana alam seperti banjir dan longsor, banyaknya sampah yang memadati bumi, banyaknya ekosistem yang rusak … sejatinya adalah karena ulah tangan manusia itu sendiri. Mother earth yang memberikan manusia kehidupan justru bertepuk sebelah tangan karena manusia tidak ambil peduli dengan kerusakan yang dibuatnya. Bahkan teknologi modern hasil pemikiran manusia juga memberi andil dalam kerusakan lingkungan, seperti pesawat supersonic yang dapat merusak atmosfer, zat dari refrigeran dan air conditioner yang berakibat pada penipisan ozon, atau kemasan plastik yang tidak dapat terurai selama ratusan tahun.

Selama empat miliar tahun lebih usia bumi, semakin lama ia semakin penat oleh kerusakan dan kehancuran. Masalah lingkungan adalah masalah kita bersama sebagai umat manusia. Oleh karena itu, berbuat sesuatu demi lingkungan dan menyebarkan kesadaran untuk kembali peduli pada lingkungan adalah tugas kita semua. Bukan hanya karena bumi sudah terlampau rusak, melainkan juga karena kelak kita akan ditanya oleh Allah: sudah sejauh mana upaya yang kita lakukan dalam menjalankan misi kita sebagai khalifah penjaga bumi?

Monday, May 31, 2021

Kewarasan Ibu

Pernah mendengar kutipan “jadi ibu tidak boleh sakit”? Kutipan tersebut menggambarkan dengan tepat bagaimana peran seorang ibu dalam keluarga. Kita sudah sering menyaksikan betapa hebatnya seorang ibu mengurus keluarga dan mengurus rumah. Dengan tangannya yang serba bisa, ibu mengurus keperluan suami dan anak, menyiapkan makanan, mencuci, menyetrika, membersihkan rumah, dan kadang masih sibuk dengan urusan karir atau urusan sosial di masyarakat. Dengan kondisi yang seperti itu, kesehatan dan kewarasan ibu menjadi sangat penting. Karena jika seorang ibu tidak sehat, entah itu fisik atau mentalnya, kehidupan sebuah keluarga akan menjadi timpang.

Jika kondisi ibu tidak prima, bagaimana dia bisa mengurus keluarga dengan baik? Seorang ibu yang bahagia akan menghasilkan keluarga yang bahagia. Oleh karena itu, self care is not selfish. Waktu seorang ibu untuk menyeimbangkan dirinya menjadi sebuah kebutuhan. Hal ini memerlukan dukungan dari pihak internal keluarga: yang paling dekat tentu suami dan anak-anak, atau bisa juga dari kerabat. Namun, ketika dukungan pihak internal tidak ada—misalnya karena suami sibuk bekerja—para ibu bisa beralih mencari dukungan eksternal seperti daycare, asisten rumah tangga,  atau pengasuh untuk “kabur” sejenak dari rutinitas domestik.

Terkait dukungan internal, aku sangat mengapresiasi para suami yang memberi kesempatan istrinya untuk recharge diri, entah itu sekadar menjalankan hobi di dalam rumah atau pergi ke luar rumah untuk refreshing. Lebih penting daripada itu, selain menyediakan waktu untuk meng-handle urusan domestik kala istrinya sedang tidak ada, aku juga memberi sepuluh jempol untuk para suami yang memiliki kepekaan tinggi mengenai kapan istrinya membutuhkan me time. Aku punya seorang teman yang suaminya sangat memahami dia: ketika dia mulai rungsing karena mood-nya jelek, suaminya segera mengambil alih urusan rumah dan anak-anak, lalu mempersilakan temanku ini untuk mengambil me time. Tindakan seperti ini mungkin terasa sederhana, tetapi sejatinya berperan besar dalam menumbuhkan cinta dan keharmonisan rumah tangga.

Lalu bagaimana dengan aku? Seperti apa me time yang biasa kulakukan? Dan dukungan seperti apa yang kudapatkan? Aku memang cenderung tidak bisa diam dan senantiasa sibuk beraktivitas sejak zaman mahasiswa dulu. Ketika sudah berkeluarga, kebiasaan untuk hidup aktif tidak pernah memudar. Seperti yang pernah kuceritakan di sini, dukungan suami justru memberi andil untuk mendorongku berperan aktif di luar rumah dan melakukan hobi yang aku suka. Me time yang biasa aku lakukan tentu berkisar di seputar kegiatan berolahraga, hahaha … sebut saja senam aerobik, yoga, berlari, hingga fitness di gym. Sementara hobi yang sering aku lakukan ketika diam di rumah adalah menulis—kebanyakan adalah karya fiksi.

Selain suami yang bersedia dititipi anak-anak ketika aku berolahraga, dukungan luar biasa juga aku dapatkan dari tanteku dan pengasuh. Merekalah yang sehari-hari ketempuhan untuk menjaga dan mengawasi anak-anak ketika aku bekerja. Jujur … aku tak bisa membayangkan bila mereka tak ada. Momen ketika pengasuh mudik biasanya menjadi momok tersendiri. Don’t get me wrong, aku sangat menikmati kebersamaan dengan anak-anak. Hanya saja … ketika pengasuh tidak ada, urusan empat anak sungguh menyita waktu dan membuatku tak bisa meluangkan waktu untuk me time, bahkan sekadar berolahraga sebentar ke luar rumah.

Aku menyadari, sesungguhnya diri ini tidak ada apa-apanya bila tidak ada dukungan dari orang-orang terdekat. Kesempatan untuk melejitkan potensi tidak akan bisa dilakukan kalau tidak ada kewarasan diri. Dengan kewarasan inilah seorang ibu bisa mengutuhkan dirinya sehingga bisa memberi dengan maksimal untuk keluarga dan masyarakat. Semoga amal kebaikan suami, anak-anak, tanteku, dan pengasuh dalam mendukung kewarasanku memperoleh balasan kebaikan dari-Nya, dan membawa keberkahan dalam keluarga kami.

Monday, May 10, 2021

Terkenang Eyang

Tiap kali melihat sosok sepuh tengah berjalan menuju masjid untuk menunaikan salat berjemaah, aku selalu teringat Eyang Kakung. Sejak lahir, aku selalu tinggal serumah dengan Eyang Kakung. Beliau bersama Eyang Uti mengasuhku saat ditinggal Bapak dan Ibu bekerja. Ketika aku tumbuh dewasa, beliau juga mengisi hari-hariku dengan berjuta kenangan. Aku masih ingat: semasa SMA ketika aku sudah terbiasa bangun di sepertiga malam, aku tidak pernah sendirian. Aku hampir selalu ditemani oleh beliau yang memang juga terbiasa bangun dini hari. Aku dan beliau sama-sama penggemar berat sepakbola, berita, dan koran. Masih terekam jelas di ingatan: betapa serunya kami berteriak-teriak di depan televisi saat pertandingan sepakbola ditayangkan, atau betapa seringnya kami berebut koran pagi saking inginnya jadi yang pertama membaca berita hari itu.

Sebelum berpulang, memang sudah bertahun-tahun Eyang Kakung menderita gangguan prostat. Beliau tidak pernah mau pergi ke rumah sakit dan hanya mengandalkan obat-obatan dari pamanku yang seorang dokter umum. Minggu-minggu terakhir sebelum meninggal, gangguan prostat beliau mencapai puncaknya sehingga dokter memutuskan untuk melakukan operasi. Setelah operasi, dokter baru mengetahui bahwa terdapat kanker pada prostat beliau. Kanker itu semakin mengganas seusai operasi, menjalar ke mana-mana hanya dalam waktu seminggu, dan membuat ginjal beliau tak lagi berfungsi. Sabtu, 1 Mei 2004 beliau menjalani cuci darah. Itulah terakhir kalinya beliau sadar. Setelah cuci darah, beliau mengalami koma hingga akhir hayatnya pada Selasa, 11 Mei 2004.

Aku tiba di Solo pada Ahad, 2 Mei 2004—aku tak pernah lagi menemui Eyang Kakung dalam keadaan sadar—dan langsung diberi tahu keluarga bahwa waktu Eyang Kakung sudah tak lama lagi. Meskipun sudah diberi tahu dokter, kami tetap tak mengira beliau akan pergi secepat itu. Meskipun kami sudah bersiap menerima kemungkinan yang terburuk dan sudah berusaha memupuk ikhlas jika sewaktu-waktu beliau dipanggil oleh-Nya, tetap saja rasa kehilangan itu begitu perih.

Eyang Kakung adalah sosok yang mewariskan kejawaanku. Ritual adat dan literatur-literatur beraksara Jawa merupakan teman beliau sehari-hari. Di saat anak-anak muda Jawa masa kini tengah mengalami krisis budaya, aku merasa beruntung karena telah dibesarkan dalam suatu kultur yang adiluhung. Budaya keluarga kami sangat menghargai tradisi dan bahasa yang penuh pakem, tata krama, dan ewuh pekewuh. Oh ya, tentu saja aku merasa beruntung. Betapa banyaknya anak-anak muda Jawa saat ini tidak bisa berbahasa kromo bahkan kepada kedua orang tua mereka sendiri. Bukankah bahasa menunjukkan bangsa?

Namun, memang tidak semua tradisi Jawa melekat dalam pribadiku. Banyak tradisi kejawen yang tidak islami yang aku buang jauh-jauh. Ini bukan upaya yang mudah, mengingat Eyang Kakung mempunyai pengaruh yang sangat kuat dalam keluarga besar kami. Apalagi adat patriarkat yang berlaku di Jawa cenderung membuat kami berlaku sendika dhawuh pada titah Eyang Kakung. Aku pernah merasa risih bercampur geli ketika mendengar wejangan Eyang Kakung seusai lebaran, “Kamu itu orang Jawa, Ndhuk. Kalau kamu tidak membiasakan diri berbusana Jawa, kamu bisa lupa asal-usulmu. Malah membiasakan diri berpakaian seperti orang Arab.”

Jujur saja, waktu itu aku ingin marah sekaligus ingin tertawa. Aku marah karena busana muslimah itu seharusnya tidak hanya untuk orang Arab. Aku merasa tersinggung karena di mana pun aku berada, aku tidak pernah lupa asal-usulku sebagai orang Jawa. Aku juga merasa geli ketika membayangkan diriku sendiri berbusana adat Jawa ke mana pun aku pergi. Memangnya aku hidup di lingkungan keraton sampai aku harus berbusana adat Jawa terus? Pikirku, orang keraton saja nggak gitu-gitu amat.

Ah, masa-masa yang penuh kenangan bersama Eyang Kakung. Aku rasa yang paling menakjubkan dari orang-orang yang kita kasihi: sebagian dari diri mereka sebenarnya terus hidup dalam diri kita meskipun mereka telah tiada. Itulah persembahan cinta mereka yang terdalam. Aku berdoa semoga Allah berkenan meridai setiap amal beliau, mengampuni kesalahan beliau, dan membalas kebaikan beliau.

Monday, May 03, 2021

Nilai-Nilai Pendidikan Keluarga

Pendidikan dalam sebuah keluarga sangat bergantung pada visi dan misi keluarga tersebut. Lebih jauh lagi, pendidikan itu juga sarat akan nilai-nilai, tradisi, dan pengalaman yang berlaku dalam sebuah keluarga. Sebagai seorang anak yang dibesarkan dalam keluarga PNS, sejak kecil aku dididik untuk berhemat, bersikap sederhana, dan tidak neko-neko. Bapak dan ibuku berasal dari keluarga yang tidak terlalu berkecukupan. Bapak adalah sulung dari tujuh bersaudara; Ibu adalah sulung dari sembilan bersaudara. Sebagai anak tertua, mereka tentu sangat memahami hidup sederhana, kerja keras, dan bagaimana memberikan keteladanan kepada adik-adik mereka. Nilai-nilai itu pula yang mereka turunkan kepada aku dan saudara-saudaraku.

Aku ingat sekali, Bapak dan Ibu selalu menanamkan kesadaran kepada kami bahwa rajin belajar dan kerja keras akan membuat kami sukses suatu hari nanti. Meskipun pada saat itu aku tidak terlalu mengerti, aku menuruti nasihat mereka untuk rajin belajar dan konsisten menerapkan waktu belajar setiap hari. Aku tidak terlalu ingat bagaimana cara mereka menanamkan kesadaran itu. Yang jelas, kami terbiasa bangun dini hari untuk salat tahajud, kemudian belajar hingga waktu subuh. Sehabis magrib kami juga terbiasa menuju meja belajar kami masing-masing untuk mengerjakan pekerjaan rumah, belajar untuk ulangan harian, atau sekadar mengulang pelajaran hari itu. Aku ingin sekali mengimitasi bagaimana cara mereka mendidik kami karena aku juga ingin menanamkan kesadaran itu pada anak-anakku, tetapi aku hanya dapat mengingatnya samar-samar.

Seingatku Bapak dan Ibu tidak pernah marah hebat kepada kami. Marah dalam kondisi wajar tentu pernah, mengingat kami adalah anak-anak biasa yang terkadang bandel juga. Namun, mereka jarang marah dengan suara keras dan nada tinggi. Mereka tipe orang tua yang tidak suka kegaduhan. Suasana rumah harus senantiasa tenang. Oleh karena itu, kami akan sangat berhati-hati ketika bermain bersama atau menyalakan televisi supaya tidak menimbulkan keriuhan. Kalaupun Bapak marah dengan nada tinggi, itu pasti karena kenakalan kami sudah menguji batas kesabaran beliau. Biasanya ketika Bapak marah seperti itu, kami akan menciut seperti gabus disiram bensin.

Ketika kami remaja, Bapak dan Ibu tidak pernah membatasi kami secara ketat dalam bergaul. Kami masih diperbolehkan untuk berpacaran dengan batas-batas interaksi yang jelas antara lelaki dan perempuan. Meskipun tidak terlalu paham ilmu agama, mereka selalu mengedepankan adat ketimuran dan norma sosial. Ketika kami merantau untuk kuliah ke luar kota, wejangan-wejangan untuk menjaga diri dan hidup sederhana senantiasa mereka tanamkan. Nilai-nilai kemandirian dan tanggung jawab yang digaungkan oleh Bapak dan Ibu, kami tuai hasilnya ketika kami jauh dari rumah.

Hidup sederhana adalah hal yang paling aku ingat dari Bapak dan Ibu. Mereka tidak pernah berhutang dan selalu membeli segala sesuatu sesuai kemampuan. Semua transaksi dilakukan secara kontan karena mereka tidak pernah tergoda dengan skema kredit. Kelebihan tabungan dialihkan untuk membeli tanah atau menyimpan deposito. Bapak dan Ibu memang masih berpikir secara konvensional—tidak berinvestasi dengan metode kekinian seperti membeli saham, logam mulia, atau reksadana—tetapi mereka memberikan keteladanan bahwa tidak berlaku boros itu penting demi masa depan.

Aku sangat bersyukur memiliki orang tua seperti Bapak dan Ibu. Didikan mereka membentukku menjadi pribadi yang sekarang. Nilai-nilai yang mereka wariskan kepada kami, merupakan warisan juga dari kakek dan nenek kami dulu. Semoga kami bisa meneruskan hal-hal baik itu kepada anak-anak kami sehingga menjadi ladang amal jariah bagi Bapak dan Ibu.

Monday, April 26, 2021

Berdaya Bagi Umat

Banyak perempuan di negara maju menganggap bahwa dia tidak bisa berdaya ketika sudah menikah dan memiliki anak. Pemikiran seperti ini lantas membawa pada pilihan-pilihan hidup untuk tetap melajang, atau menikah tapi memilih untuk tidak memiliki anak. Pada beberapa budaya tipikal masyarakat tertentu, stereotip seperti  ini memang berlaku. Perempuan-perempuan di Jepang misalnya, ketika mereka menikah, mereka akan meninggalkan karier yang sudah dibangun dan berfokus mengurus keluarga. Tak heran perempuan-perempuan di sana akhirnya banyak yang memilih untuk tidak menikah sehingga demografi penduduknya mewujud menjadi piramida terbalik akibat minimnya pertambahan penduduk.

Padahal kalau kita mau menilik lebih jauh, seorang perempuan sebenarnya bisa tetap berdaya meskipun dia telah menikah. Pernikahan sejatinya adalah kawah candradimuka. Dengan dukungan dan lingkungan yang tepat, seorang perempuan bisa tumbuh dan berkembang. Dalam pernikahan, setiap orang belajar untuk melejitkan potensi pasangannya dan sosok keluarga inilah yang berfungsi menguatkan ketika seorang perempuan menghadapi kesulitan.

Berkaca dari pengalaman pribadi, aku belajar banyak dari suamiku. Proses healing-ku dari rasa minder dan depresi bermula ketika aku dekat dengannya, lalu berlanjut ketika menerima pinangannya. Dia tak pernah berhenti menyemangatiku dan memberiku perspektif lain bahwa aku mampu, di saat aku bahkan tidak yakin dengan diriku sendiri. Dia juga yang mencintaiku tanpa syarat sehingga menghempaskan ketidaksukaanku pada diriku sendiri. Kemudian lambat laun aku bangkit, meskipun masih tertatih-tatih mencari arah untuk melangkah.

Dukungannya terhadap proses pemberdayaanku mengejawantah dalam dorongannya padaku untuk berkiprah di luar rumah. Dia percaya aku punya potensi untuk disalurkan di luar sana. Maka satu demi satu surat lamaran kerja kulayangkan ke berbagai instansi, hingga akhirnya jodohku tertambat pada sebuah instansi penelitian di kota Bandung. Perjuangan long distance marriage pun dimulai. Dia tak henti-hentinya menyemangati bahwa kami mampu, mulai dari berdua saja … hingga kini kami sudah berenam.

Suamiku juga yang kemudian memberiku semangat untuk melanjutkan sekolah. Saat itu aku sedang mengandung anak kedua tetapi dia percaya bahwa aku mampu. Ketika anak keduaku berusia dua tahun, aku diwisuda … dan momen itu kurasakan sebagai momen keberhasilan kami sebagai keluarga. Keberhasilan itu bukan hanya kesuksesanku tetapi juga kesuksesan suami dan anak-anak. Mengingat ketika rasa malas melanda, aku menjadi terhibur dan bersemangat kembali dengan melihat polah tingkah anak-anak.

Dukungan dari support system yang tepat juga terasa benar-benar berarti buatku. Berkat bantuan tanteku dan seorang pengasuh, aku bisa menitipkan anak-anak dan berbuat lebih dari sekadar bekerja di luar rumah. Aku aktif dalam beberapa organisasi, belajar lebih banyak melalui berbagai komunitas, memiliki keluangan untuk berolahraga secara rutin, bahkan mengambil sertifikasi untuk melatih yoga. Memang sejak dulu aku beranggapan: seseorang berdaya bila dia bisa bermanfaat untuk umat. Apapun peran yang diambil—dari dalam rumah atau di luar rumah—selama dia berbuat untuk perbaikan dan kebaikan umat, maka itulah makna berdaya yang sesungguhnya. Bukankah sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat untuk sesamanya?

Bagi seorang perempuan, pernikahan justru bisa menjadi batu loncatan untuk lebih berdaya. Banyak prestasi yang bisa diukir dengan dukungan orang-orang tersayang. Melalui pengaturan peran, penyusunan prioritas, dan pengenalan yang lebih dalam terhadap kapabilitas dan kompetensi diri, seorang perempuan akan mampu menemukan hakikat pemberdayaan dirinya untuk kemaslahatan umat.

Monday, April 19, 2021

Ibuku

Ibuku orang Jawa tulen. Pengaruh kejawaan dari kedua orang tuanya sangat kental karena Eyang Putri masih memiliki garis keturunan Sultan Hamengkubuwono I, tapi kejawaan Ibu termasuk yang moderat. Jika Eyang Kakung masih memegang teguh pusaka adat dan ritual adat, Ibu justru menolaknya dengan halus. Kata Ibu, beliau menolaknya karena faktor kepraktisan, tapi jauh dalam hati aku tahu jika sebenarnya Ibu tidak setuju dengan praktik-praktik adat yang jauh dari Islam.

Dibesarkan dalam keluarga yang kurang mampu sebagai sulung dari sembilan bersaudara membuat masa muda Ibu tidak pernah mudah. Eyang Kakung tidak pernah punya rumah. Semasa menjadi pegawai PJKA, Eyang Kakung sekeluarga tinggal di rumah dinas. Setelah Eyang Kakung pensiun, mereka hanya mampu mengontrak rumah petak di tengah kampung. Bahkan Ibu pernah bercerita jika gorden penutup jendela saja mereka tidak punya. Ketika sudah bekerja dan menikah, Ibu masih harus membesarkan dan membiayai sekolah adik-adiknya.

Tidak heran Ibu tumbuh menjadi seseorang yang keras, tegas, tegar, mandiri, soliter, dan sangat koleris. Semasa kecil Ibu tidak pernah diajari ilmu agama oleh Eyang. Ibu belajar agama dari lingkungannya, salah satunya dengan cara ikut-ikutan temannya mengaji di surau. Faktor ketidakcukupan materi membuat masa remajanya akrab dengan minder dan depresi. Alhamdulillah Ibu mampu bangkit dan sedikit demi sedikit mencoba mencari uang sendiri dengan membantu temannya berjualan.

Ibu adalah sosok wanita karir yang cukup sibuk selama masa produktifnya. Sejak aku kecil, aku ingat selalu ditinggal Ibu bekerja. Meskipun statusnya cuma sebagai guru, Ibu juga memiliki aktivitas sosial yang menuntutnya selalu sibuk. Aku kerap merasa kesal karena merasa masa kecilku sering terlewatkan oleh Ibu. Jika ditanya alasan mengapa beliau bersibuk-sibuk di luar rumah, beliau cuma menjawab agar anak-anaknya berkecukupan dengan uang yang beliau hasilkan. Ibu tidak mau anak-anaknya punya masa kecil yang sama dengan beliau.

Begitulah ibuku. Semenjak aku lulus kuliah, beliau sering menanamkan pesan supaya aku lekas bekerja demi punya penghasilan yang bisa mencukupi keluarga dan untuk berjaga-jaga bila terjadi sesuatu dengan suami. Pesan Ibu selalu kuingat sebagai nasihat yang sarat dengan spirit mandiri dan aktualisasi diri.

Di sisi lain, sosok Ibu yang cenderung keras menyebabkan komunikasi kami sering tidak nyambung. Aku yang sensitif dan gampang merajuk, kadang-kadang menangis menghadapi Ibu. Menurut beliau, aku ini anaknya yang paling sering membantah sehingga harus diperlakukan dengan keras. Aku membutuhkan waktu yang tidak sebentar untuk memperbaiki hubungan dengan Ibu. Hubungan kami yang seperti ini juga membuatku bertekad: kelak aku ingin dekat dengan anak-anakku. Aku ingin bisa menjadi sahabat mereka, tempat berbagi apa pun dan kapan pun, serta selalu ada bila mereka butuh. Aku tidak ingin memiliki hubungan yang berjarak dengan anak-anakku.

Terlepas dari semua itu, aku sangat bangga dengan Ibu. Tak bisa kupungkiri, Ibu memiliki andil besar dalam hidupku. Kalau tidak ada Ibu, mungkin aku bakal lebih cengeng daripada sekarang. Ibu mengajariku tentang nilai-nilai kehidupan, terutama tentang bagaimana seorang perempuan menjadi mandiri sehingga tidak dipandang remeh oleh orang lain. Ketika aku kecil dan remaja, beliau memaksaku untuk belajar mengendarai sepeda dan sepeda motor supaya aku bisa pergi ke mana-mana sendiri dan tidak menjadi beban bagi orang lain. Masih teringat jelas perkataan beliau, “Dadi wong wedok kuwi ojo dadi gawene wong lanang.”

Sejak pandemi aku belum berkesempatan menjumpai Ibu kembali. Sudah enam belas bulan berselang tanpa aku bisa memeluk Ibu dan mencium tangannya dengan takzim. Ah, tak bisa kulukiskan seperti apa rasanya rindu ini. Di sini aku terus berdoa: semoga Allah senantiasa memberi Ibu berkah dan kesehatan, serta memberi kami kesempatan untuk dapat kembali bertemu dalam keadaan sehat dan bahagia.

Monday, April 12, 2021

Masa Kecil Sebagai Perempuan: Insecure

Sepanjang ingatanku menjalani masa kecil sebagai perempuan, ada satu kata yang kerap membersamaiku saat itu: insecure. Mungkin aku bisa dibilang cukup cemerlang dalam hal prestasi, tapi sesungguhnya ada banyak hal yang membuatku merasa tidak aman. Aku sering merasa khawatir tidak memiliki teman. Saat kecil aku sungguh pemalu. Terhadap orang yang tak dikenal, aku cenderung menarik diri dan tertutup. Beberapa orang kawan yang cukup dekat denganku membuatku merasa ditinggalkan ketika akhirnya mereka dekat dan bersahabat akrab dengan kawan yang lain. Sebagai seorang gadis kecil, tidak memiliki teman dekat adalah sesuatu yang menyedihkan.

Beranjak remaja dan duduk di bangku sekolah unggulan, aku melihat teman-teman perempuan banyak yang membentuk geng. Tanpa sengaja aku terlibat akrab dengan salah satu geng di kelas. Peer pressure sangat terasa dalam interaksi sehari-hari. Aku dianggap gaul jika mengikuti standar mereka, dan aku sering dicibir bila menolak ajakan hang out karena aku harus buru-buru pulang untuk menjaga adikku. Sampai suatu ketika aku didepak keluar dari geng itu dengan cara yang mungkin buat mereka biasa, tapi buatku terasa sangat menyakitkan. Hingga hari ini aku tidak tahu alasannya. Dugaanku: karena aku sering berbeda pendapat dan kerap menolak ajakan hang out mereka, sehingga bagi mereka mungkin aku bukan teman yang asyik.

Peristiwa itu menorehkan luka teramat dalam, sampai-sampai aku bertekad untuk tak akan pernah lagi bersahabat dekat dengan sesama perempuan. Perjalanan mencari teman membawaku pada satu kesimpulan bahwa lebih baik sendirian daripada merasa tersakiti oleh sahabat. Maka ketika aku duduk di bangku SMA, aku mulai menyibukkan diri dengan kegiatan organisasi dan berteman dengan banyak teman laki-laki. Bahkan beberapa kali aku berpacaran dan merasa bisa menjalani hari-hari tanpa sahabat perempuan.

Kenangan-kenangan di masa lalu berperan besar membentuk kepribadianku. Hingga sekarang aku lebih nyaman bepergian seorang diri tanpa teman. Zaman kuliah aku sampai kenyang mendapat pertanyaan “Sendirian aja, Yus?” ketika pergi ke mana-mana. Bahkan saat ibu-ibu di kantor pergi beramai-ramai ke mal ketika jam istirahat, aku merasa lebih nyaman pergi sendiri dalam diam.

Melihat kenyataan hidup di sekeliling saat ini, sering sekali kita dapati perempuan satu dengan yang lain saling menjatuhkan. Di kalangan ibu-ibu, sudah jamak terjadi mom war dalam berbagai hal, mulai dari ASI versus susu formula, ibu bekerja versus ibu di rumah, melahirkan normal versus melahirkan C-section, dan masih banyak lagi. Seolah pengalaman masa kecilku belumlah cukup, aku merasa sangat lelah melihatnya.

Perempuan harus saling mendukung satu sama lain. Seorang perempuan bisa memberdayakan perempuan lain dan hal itu tak akan pernah mengecilkan  peran dan makna dirinya sendiri. Di dunia yang keras ini, kita harus memberangus kebencian, kecemburuan, atau perasaan iri antara sesama perempuan.

Sebuah penelitian oleh Harvard Business Review mengatakan bahwa perempuan yang memiliki inner circle sesama perempuan cenderung dapat menempati posisi eksekutif dengan otoritas yang lebih besar dan gaji yang lebih tinggi, bila dibandingkan dengan laki-laki yang memiliki inner circle yang sama. Hal ini dikarenakan perempuan yang memiliki hubungan dekat dengan kelompok perempuan yang mendukungnya, akan lebih mudah menghadapi berbagai rintangan melalui berbagi pengalaman dengan perempuan lain yang pernah menghadapi situasi dan kesulitan yang sama.

Andai saja sejak kecil kita diajari untuk saling mendukung satu sama lain sebagai perempuan, mungkin tidak perlu ada gadis-gadis lain yang mengalami nasib sama denganku. Tak perlu ada persaingan saling menjatuhkan, tak perlu ada perundungan, tak perlu adu debat meskipun berbeda pendapat.