Monday, October 11, 2021

Setup Makaroni, Resep Simpel Andalan Ibu

Seperti yang pernah kutulis di sini, ibuku adalah seorang wanita karir yang cukup sibuk selama masa produktifnya, baik dalam hal karir maupun aktivitas sosial. Sebagai ibu yang harus mengatur waktu dengan jeli, masakan-masakan yang beliau siapkan untuk kami biasanya berupa sajian sederhana dan tidak membutuhkan waktu lama untuk mengolahnya. Salah satu masakan khas Solo yang menjadi menu andalan beliau adalah Setup Makaroni.

Melihat bahan dasar Setup Makaroni yang berupa pasta, tentu kita langsung mengerti bahwa makanan ini bukan makanan asli orang Jawa. Setup Makaroni adalah menu peninggalan orang Belanda yang diadaptasi oleh kalangan bangsawan keraton menjadi salah satu makanan yang disajikan di acara-acara besar Keraton Surakarta. Resep aslinya konon menggunakan topping keju parut dalam jumlah cukup banyak. Namun dalam perjalanannya, keju menjadi sesuatu yang opsional karena menyesuaikan dengan lidah orang Jawa yang cenderung asing terhadap keju.

Setup Makaroni yang memiliki manfaat untuk menghangatkan badan ini biasa disajikan sebagai menu pembuka sebelum menyantap menu utama. Meskipun demikian, saat ini restoran-restoran di Solo juga menyajikan makanan ini sebagai menu tunggal yang bisa dikategorikan sebagai light meal. Hal ini cocok untuk orang-orang yang lebih suka makan sedikit untuk sekadar mengisi perut sepertiku, hehehe.

Jadi, seperti apa, sih, resep simpel yang selama ini menjadi andalan ibuku? Yuk, kita simak resep di bawah ini.

Foto diambil dari sini

Bahan-bahan:

  • 250 gr makaroni
  • 250 gr daging ayam
  • 250 ml susu cair
  • 2 butir telur ayam kocok
  • 1 buah bawang bombai diiris-iris
  • 2 siung bawang putih diiris halus
  • Secukupnya merica bubuk
  • Secukupnya gula
  • Secukupnya garam
  • Sedikit margarin untuk menumis
  • Sedikit minyak goreng
  • Air untuk merebus ayam

Cara membuat:

  1. Siapkan panci, beri sedikit minyak goreng. Masukkan makaroni, rebus hingga setengah matang. Angkat, buang airnya, tiriskan.
  2. Sementara menunggu makaroni empuk, siapkan panci lain, rebus ayam dengan air secukupnya. Bila daging ayam sudah empuk, angkat.
  3. Pisahkan daging ayam dari air rebusan. Air rebusan jangan dibuang. Suwir-suwir daging ayam.
  4. Siapkan wajan, panaskan margarin. Tumis bawang bombai dan bawang putih hingga wangi. Tambahkan merica bubuk.
  5. Masukkan air rebusan ayam, susu cair, dan ayam yang sudah disuwir-suwir. Kecilkan api.
  6. Masukkan kocokan telur, aduk agar telur tidak menggumpal.
  7. Tambahkan gula dan garam secukupnya. Tes rasa, sesuaikan selera.
  8. Setelah mendidih, masukkan makaroni. Aduk hingga makaroni matang lalu angkat. Sajikan hangat-hangat.
  9. Catatan: dapat ditambahkan topping sosis, keju parut, atau bawang goreng sesuai selera.


Monday, October 04, 2021

Jajanan Solo yang Membuat Kangen

Bicara soal makanan favorit sepanjang masa, ingatanku melayang pada dua kudapan favorit yang sarat akan kenangan masa kecil. Dua kudapan itu adalah lenjongan dan cabuk rambak. Keduanya termasuk makanan tradisional Solo yang biasa dijual di pasar dan pusat jajanan, serta kerap disebut sebagai street food-nya masyarakat Solo.

Lenjongan (foto diambil dari sini)

Lenjongan adalah sebutan dari satu set camilan manis yang terdiri atas gendar, klepon, sawut, jongkong, gatot, getuk, tiwul, cenil, ketan hitam, ketan putih, dan gerontol. Isinya sebagian besar terbuat dari singkong, jagung, ketan, dan aneka jenis tepung sehingga mengenyangkan. Topping-nya yang berupa parutan kelapa memberikan cita rasa gurih. Meskipun demikian, manis menjadi rasa dominan lenjongan karena parutan kelapa seringkali ditaburi dengan gula pasir atau dituangi juruh (gula merah cair).

Lenjongan menjadi favorit karena menyatukan berbagai jenis rasa kudapan tradisional dalam satu wadah. Teksturnya pun beraneka ragam: ada yang lunak seperti ketan dan getuk, ada yang kenyal seperti klepon dan cenil, ada juga yang seret seperti tiwul yang biasa digunakan sebagai pengganti nasi. Lenjongan dihidangkan dengan sebuah pincuk yang terbuat dari daun pisang. Seporsi lenjongan dijual seharga Rp3.000,00 hingga Rp5.000,00.

Lenjongan tercatat sebagai Warisan Budaya Tak Benda oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia pada tahun 2020. Jajanan ini telah ada sejak zaman penjajahan Belanda dan tak pernah lekang oleh waktu hingga kini. Buatku pribadi, lenjongan menyimpan banyak memori masa kecil sebagai camilan yang kerap dibeli ketika menemani ibu atau nenekku berbelanja di pasar.

Cabuk rambak (foto diambil dari sini)

Selain lenjongan, jajanan khas Solo yang menjadi kesukaanku adalah cabuk rambak. Makanan ini dulu dijajakan berkeliling oleh penjualnya—biasanya ibu-ibu berjarik—dengan menggendong bakul. Meskipun sudah mulai langka, makanan ini masih bisa ditemukan di pasar dan pusat jajanan tradisional. Cabuk rambak dibuat dari irisan ketupat yang kemudian disiram dengan saus yang terbuat dari wijen dan kelapa sangrai. Pelengkapnya adalah kerupuk gendar yang biasa disebut karak. Harga satu porsi cabuk rambak bervariasi antara Rp5.000,00 hingga Rp7.500,00.

Cabuk rambak yang murah meriah ini dulu menjadi jajanan kesukaanku semasa sekolah. Dengan uang saku yang pas-pasan, membeli cabuk rambak adalah salah satu trik supaya tetap kenyang hingga waktu pulang sekolah tiba. Meskipun sering diejek sebagai makanan rakyat jelata karena miskin gizi, cabuk rambak selalu menjadi makanan incaran yang wajib dibeli kala aku mudik ke Solo.

Monday, September 27, 2021

Berkata Baik atau Diam

“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka hendaknya dia berkata baik atau diam.” (H.R. Muslim nomor 222).

Dalam hadis di atas, Rasul mengatakan bahwa salah satu tanda keimanan adalah menjaga lisan dari perkataan yang tidak baik. Jika tidak mampu berkata baik, lebih baik kita diam. Pentingnya menjaga lisan ini juga diisyaratkan dalam hadis lain yang dinukil oleh Imam Nawawi dalam kitab Riyadhus Salihin. Beberapa di antara hadis tersebut tertulis di bawah ini.

Dari Abu Musa r.a., katanya: “Saya berkata: ‘Ya Rasulullah, manakah kaum Muslimin itu yang lebih utama?’ Beliau s.a.w. menjawab: ‘Yaitu yang orang-orang Islam lain merasa selamat dari gangguan lisannya—yakni pembicaraannya—serta dari tangannya.’” (Muttafaq 'alaih)

Dari Abu Hurairah r.a. bahwasanya ia mendengar Nabi s.a.w. bersabda: “Sesungguhnya seorang hamba itu niscayalah berbicara dengan suatu perkataan yang tidak ia pikirkan baik atau buruknya, maka dengan sebab perkataannya itu ia dapat tergelincir ke neraka yang jaraknya lebih jauh daripada jarak antara sudut timur dan sudut barat.” (Muttafaq 'alaih)

Hadis-hadis di atas memberikan pemahaman bahwa seorang muslim sebaiknya berpikir dahulu sebelum berbicara. Jika sekiranya informasi atau perkataan yang akan ia sampaikan memuat keraguan mengenai kebenarannya, sebaiknya ia diam. Apalagi jika perkataannya mengandung keburukan, sudah pasti ia harus diam.

Dalam dunia digital seperti sekarang ini, lingkup menjaga lisan juga mencakup menjaga tulisan. Tidak dapat dipungkiri, teknologi internet of things membawa platform digital masuk ke dalam kehidupan kita sehari-hari dalam berbagai aspek. Begitu mudah kita menuliskan kata dalam pesan singkat (SMS), Whatsapp, forum, blog, jejaring sosial, dan kolom komentar di situs berita daring sebagai pengganti ucapan lisan dalam berinteraksi. Bentuk komunikasinya mungkin berbeda, tetapi sejatinya ia memiliki esensi yang sama.

Zaman muda dulu aku tidak terlalu memusingkan isi tulisanku di media sosial. Kebanyakan tulisanku memang berkisah seputar aku sendiri dan tidak menyinggung orang lain, tetapi hampir semua isinya tidak disaring terlebih dahulu. Segala kegalauan, kekecewaan, dan kesedihan ditumpahkan begitu saja hingga pernah mengundang komentar negatif dari seseorang yang membuatku meradang. Belakangan ketika aku lebih dewasa, aku banyak berpikir tentang jejak digital dan bagaimana kita meninggalkan kebaikan. Kita tidak pernah tahu seberapa jauh tulisan kita melanglang buana dan seberapa banyak orang yang telah membacanya. Jika tulisan itu membawa keburukan, jangan-jangan kita telah melakukan dosa jariyah, astaghfirullah.

Oleh karena itu, sekarang aku berusaha hanya menulis konten yang positif saja. Aku melakukannya bukan dalam rangka “cari aman”, tetapi karena aku sadar bahwa lebih dari itu … kelak di akhirat kita juga akan dimintai pertanggungjawaban. Lagipula rasanya malu, bukan, ketika tulisan-tulisan kita yang buruk dibaca oleh anak cucu? 

Melihat dunia digital saat ini yang sangat carut-marut karena terlalu banyak ujaran kebencian dan konten negatif, kita membutuhkan kecerdasan dalam literasi digital supaya komunikasi daring berjalan dengan bijak, memuat konten-konten positif, dan membuat nyaman penggunanya. Apalagi sebagai seorang muslim, kita terikat pada norma agama yang mengharuskan kita memelihara lisan (dan tulisan) dalam pergaulan. Dengan pemahaman seperti ini, mudah-mudahan kita dapat selalu wawas diri untuk menjaga adab dalam berkomunikasi, baik secara luring maupun secara daring.

Monday, September 20, 2021

Cara Mudah Belajar Sains

Jika melihat laman-laman para ibu binangkit yang sering membuat sendiri bahan ajar maupun prakarya untuk anak-anaknya, kadang aku merasa cemburu. Selain tidak kreatif, aku juga tidak memiliki banyak waktu untuk membersamai anak. Untungnya di zaman serba praktis seperti saat ini, ada beberapa vendor yang menyediakan bahan-bahan siap pakai untuk berbagai kegiatan bersama anak, mulai dari eksperimen sains, seni, hingga kerajinan tangan.

Dulu ketika anakku masih dua, aku berkenalan dengan Planet Sains, sebuah komunitas penggiat sains yang menyediakan kit eksperimen sains siap pakai dengan beragam tema untuk berbagai usia. Sebagai ibu yang miskin kreasi, aku sangat terbantu dengan kit-kit yang mereka sediakan. Kit-kit itu berisi alat dan bahan percobaan sains sederhana, komplet dengan instruksi dan langkah kerja. Yang lebih mengasyikkan, kit itu dilengkapi juga dengan tulisan pendek yang menceritakan fenomena sains dari percobaan yang dilakukan. Dengan demikian, sambil mendampingi anak bereksperimen, orang tua dapat memberikan pengetahuan tentang landasan ilmiahnya.


Eksperimen mencampur baking soda dengan larutan asam sitrat sehingga menghasilkan gas karbondioksida untuk menggembungkan balon

Teknik melapis logam dengan cara sederhana menggunakan serbuk asam sitrat dan garam yang dilarutkan ke dalam air

Belajar prinsip oksidasi melalui pencampuran pewarna makanan dengan cairan pemutih pakaian

Ketika anak-anakku masuk SD, aku sangat senang mengetahui bahwa Planet Sains melakukan pendampingan untuk ekstrakurikuler sains di sekolah mereka. Setiap minggu mereka akan berkumpul dan melakukan percobaan sederhana, mencatat hasilnya pada buku catatan, serta berdiskusi bersama. Kegiatan ini tentu sangat bermanfaat untuk merangsang keingintahuan anak terhadap fenomena sains dan membiasakan anak berpikir menggunakan metode berpikir ilmiah.

Ketika kami pindah dari Bandung, alhamdulillah di sekolah anak-anak yang baru juga ada ekstrakurikuler sains. Vendor yang mendampingi mereka adalah Rumah Eksplorasi yang juga menyediakan kit eksperimen lengkap seperti Planet Sains. Berhubung masih pandemi, kit-kit eksperimen itu diambil dari sekolah setiap awal bulan, kemudian anak-anak “berkumpul” melalui Zoom untuk melakukan percobaan bersama. Eksperimen mandiri di rumah seperti ini tentu ada kekurangannya. Karena anakku tidak didampingi secara langsung oleh orang dewasa—dia melakukan semuanya sendiri—beberapa percobaan sempat mengalami kegagalan. Jika ada waktu, sepulang kerja aku akan mendampinginya untuk mengulik percobaan itu demi mengetahui penyebab kegagalannya, lalu mencoba memperbaikinya bersama-sama.


Penjelasan mengenai eksperimen tornado botol dari Rumah Eksplorasi


Jadi, pesanku untuk para orang tua yang cukup sibuk: jangan khawatir, ya. Ketiadaan waktu untuk menyediakan atau membuat alat dan bahan eksperimen bisa diakali dengan memanfaatkan kit eksperimen sains siap pakai. Yang kita lakukan tinggal menyediakan waktu untuk beraktivitas bersama anak, membuka diri untuk dihujani dengan pertanyaan-pertanyaan anak, dan berusaha menjawab keingintahuan mereka dengan informasi yang memadai. Mudah-mudahan kelak anak bisa tumbuh besar dengan tetap mempertahankan keingintahuan mereka terhadap peristiwa dan fenomena yang terjadi di dunia ini—apapun profesi mereka nanti—karena keingintahuan adalah modal dasar untuk belajar.

Monday, September 13, 2021

Aku, Anak-Anak, dan Minat Baca

Sejak aku kecil, membaca sudah menjadi duniaku. Aku tak ingat persisnya mulai usia berapa aku gemar membaca. Namun, aku ingat jelas: masa kecilku kuhabiskan dengan menekuri lembar demi lembar majalah Bobo; komik bergambar macam Nina, Tintin, Asterix, atau Steven Sterk; komik Jepang semisal Candy Candy, Pansy, Mari-chan, atau Doraemon; novel seperti Lima Sekawan, Trio Detektif, Stop, atau Malory Towers; bahkan novel detektif karya Agatha Christie.

Begitu senangnya aku membaca sehingga pergi ke perpustakaan, toko buku, atau tempat persewaan buku menjadi suatu agenda yang menyenangkan. Aku tak tahu pasti penyebab minat bacaku waktu itu tumbuh dengan pesat. Hal itu mungkin dikarenakan orang tuaku sering membelikan buku dan menyediakan aneka bacaan di rumah.

Beranjak dewasa, aku menyadari bahwa buku adalah jendela dunia. Aku pernah menjadi salah satu kandidat terbaik dalam seleksi yang diadakan oleh sebuah kantor surat kabar di Jakarta ketika mereka mencari calon wartawan baru. Pertanyaan dan tes yang diajukan kebanyakan tentang pengetahuan umum. Aku yakin kegemaranku membaca rubrik pengetahuan di majalah, membaca koran, dan melihat berita di televisi, turut andil dalam hal itu.

Anak yang minat bacanya tinggi cenderung lebih gampang menerima informasi. Tentu pengetahuan mereka juga lebih banyak. Untuk menulis, mereka tidak akan menemui kesulitan yang berarti karena perbendaharaan kata sudah beragam. Bahkan aku pernah membaca—entah di mana aku lupa—anak yang suka membaca lebih pandai dan lebih kritis, terutama dalam diskusi, dibanding dengan yang tidak suka membaca.

Karena menyadari hal-hal tersebut di atas, aku bertekad ingin selalu menimbulkan minat baca pada anak. Eksperimen pertama kulakukan pada adikku bertahun-tahun lalu untuk membuktikan bahwa usaha membombardir anak dengan buku akan bisa menjadikan anak suka membaca. 

Sejak adikku berusia tujuh tahun, aku selalu rutin menghadiahinya buku ketika dia berulang tahun, mulai dari buku bergambar hingga novel tebal ketika dia sudah beranjak remaja. Ternyata benar, dia tumbuh menjadi seseorang yang gemar membaca. Waktu aku kuliah, masa-masa mudik selalu kuisi dengan agenda pergi ke toko buku bersamanya. Dia sudah berhasil menamatkan novel Harry Potter yang setebal bantal dalam waktu dua hari ketika dia belum lagi lulus SD. Ketika SMP, dia mulai suka membaca koran. Pengetahuannya bertambah; kemampuan menulisnya juga bertambah. Aku tak bisa lebih bangga, dia masuk dalam jajaran anak-anak pintar di kelasnya.

Eksperimen kedua kulakukan pada anak-anakku. Yah, ini sebenarnya bukan lagi eksperimen, melainkan suatu tindakan yang didasarkan pada kesadaran nyata tentang pentingnya menumbuhkan minat baca pada anak. Sejak anak sulungku berusia enam bulan, kami rutin membelikan softbook, boardbook, dan buku-buku bergambar yang lebih beraneka ragam. Aku, suami, dan pengasuh sering mengadakan sesi membaca buku. Rata-rata ketika anak-anakku berusia dua tahun, mereka sudah mulai bisa memahami jalan cerita. Biasanya setelah bercerita, kami mengajukan beberapa pertanyaan untuk menguji seberapa jauh pemahaman mereka. Kadang-kadang kami menyuruh mereka bercerita dengan kalimat mereka sendiri.

Kebiasaan membaca sudah mulai menjadi kebiasaan yang tertanam pada diri anak-anak, terutama anak sulungku yang kelihatannya paling gemar membaca dibanding adik-adiknya. Sesaat sebelum naik ke tempat tidur di malam hari, mereka akan memastikan barang-barang favoritnya sudah dibawa serta, seperti mainan kesukaan dan buku pilihan untuk malam itu. Dengan gembira mereka akan membuka-buka buku lalu bercerita tentang halaman tertentu dengan antusias. Jika minta dibacakan, mereka akan duduk manis di pangkuanku setelah sebelumnya menyodorkan buku padaku. Hmm … buah dari usahaku selama ini untuk menjadikan mereka suka membaca, alhamdulillah sudah mulai terlihat sedikit demi sedikit.

“A reader lives a thousand lives before he dies, said Jojen. The man who never reads lives only one.” ― George R.R. Martin, A Dance with Dragons

Monday, September 06, 2021

Aku dan Literasi

Menurut KBBI, literasi adalah kemampuan menulis dan membaca; pengetahuan atau keterampilan dalam bidang atau aktivitas tertentu; atau kemampuan individu dalam mengolah informasi dan pengetahuan untuk kecakapan hidup. Ternyata definisi literasi ada banyak, ya—meskipun kebanyakan orang langsung mengaitkannya dengan kemampuan menulis dan membaca saja. Jenisnya pun bermacam-macam, mulai dari literasi baca tulis, numerasi, sains, finansial, digital, hingga budaya dan kewargaan.

Perjalananku dalam literasi baca tulis dimulai sejak TK. Saat itu aku termasuk anak yang antusias mempelajari huruf dan kata sehingga aku sudah bisa membaca ketika masuk SD. Di masa SD, rasanya aku tidak memiliki kesulitan dalam memahami bacaan dan menuangkan ide ke dalam tulisan. Bahkan mengarang menjadi subjek pelajaran favoritku karena aku dapat bebas merangkai kata sesuai imajinasi. Sejak usia belia aku sangat menikmati aktivitas menulis puisi dan cerita pendek. Berbagai jenis bacaan kulahap dan waktu istirahat sangat kunantikan untuk pergi ke perpustakaan sekolah.

Menginjak bangku kuliah, aku sempat menulis untuk jurnalistik kampus. Selepas lulus aku bahkan sempat diterima bekerja menjadi editor dan wartawan. Namun, ternyata jalan hidupku tidak di situ karena aku memilih bekerja di tempat lain. Ketika sudah berumah tangga dan memiliki anak, aku berkesempatan menerbitkan beberapa antologi nonfiksi, kumpulan cerpen anak, antologi cerpen, dan antologi fiksi mini. Beberapa pengakuan yang kudapat dari hasil lomba atau event menulis membuatku makin percaya diri untuk terus menekuni dunia menulis ini.

Berbeda dengan literasi baca tulis, kemampuanku sebagai literat di bidang lain tidak terlalu menonjol. Dalam hal literasi numerasi, misalnya, aku tidak terlalu pandai membaca angka dan simbol. Kalau ada grafik, tabel, atau bagan yang agak rumit—seperti tabel-tabel dalam jurnal ilmiah—aku membutuhkan waktu sedikit lebih lama untuk memahaminya dibanding orang lain. Dalam hal literasi sains, yang diartikan sebagai kemampuan memahami fenomena alam di sekitar dengan menggunakan metode berpikir inkuiri, aku juga tak terlalu pandai. Mengulik fenomena sainsnya sih aku suka, seperti membahas sebab akibat pada suatu peristiwa sains. Namun, untuk menelitinya sesuai metode ilmiah, aku malas, hahaha. Oleh karena itu, aku memilih untuk tidak menjadi peneliti meskipun bekerja di lembaga riset.

Bicara soal literasi budaya dan kewargaan, menurutku pemahaman terhadap keragaman budaya serta pemahaman terhadap hak dan kewajiban sebagai warga masyarakat mutlak perlu dimiliki oleh seseorang. Kita semua adalah makhluk sosial yang harus mengerti bahwa ada batasan norma dan aturan dalam berinteraksi. Seperti yang pernah kusinggung di sini, konsep keberagaman seharusnya tidak hanya berada pada tataran teori. Praktik tentang keberagaman—misalnya pergi ke berbagai tempat, menuntut ilmu di beraneka institusi, dan bertemu dengan bermacam-macam orang—dapat membuat kita memahami arti perbedaan dan arti toleransi yang sesungguhnya.

Menumbuhkan kemampuan literasi memang bukan pekerjaan semalam. Indeed usaha ini tidak mudah, mengingat kurangnya kemampuan literasi kebanyakan masyarakat kita. Yuk, kita bersama-sama berusaha mulai dari apa yang kita bisa dan mulai dari keluarga terdekat sehingga dapat mencapai slogan yang digaungkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan: dengan literasi, kita mampu menjalani hidup sekarang dan nanti di masa depan dengan lebih baik.

Monday, August 23, 2021

Manusia Sebagai Makhluk Sosial

Hal yang paling drastis mengalami perubahan pada masa pandemi ini adalah kehidupan sosial. Betapa tidak … menjaga jarak dan tidak berkerumun adalah dua protokol kesehatan yang harus selalu diterapkan. Dua hal ini menjadi penghalang utama bagi manusia—yang katanya adalah makhluk sosial yang tidak bisa hidup tanpa orang lain—untuk berkumpul dan bersosialisasi secara tatap muka.

Bicara tentang aspek manusia sebagai makhluk sosial, kebutuhan untuk bertemu dan berkumpul dengan orang lain itu sudah mendarah daging dalam filosofi hidup bangsa kita—mumpung masih bulan Agustus, nih … tema kebangsaan masih terasa hangat dalam ingatan. Itulah alasan sila keempat Pancasila dilambangkan dengan kepala banteng. Sekadar informasi, banteng adalah hewan yang suka berkumpul dengan kawanannya sehingga dipandang paling pas untuk menggambarkan “Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan”. Sejarah panjang nenek moyang kita yang hidup dalam kerukunan dan gotong royong tentu tidak bisa dilepaskan dari kebiasaan berkumpul ini.

Untungnya kita sekarang hidup di zaman yang serba dimudahkan oleh teknologi. Meskipun tidak bisa bertatap muka secara langsung, kita masih bisa bertemu melalui aplikasi komunikasi yang menggunakan video dalam berbagai perangkat baik seluler maupun desktop. Dengan adanya internet of things, manusia di zaman milenial ini masih bisa berkumpul secara daring, menatap wajah yang lain, dan menyaksikan ragam ekspresi lawan bicara melalui layar. Hubungan sosial semacam ini tentu pada akhirnya menjadi lazim dilakukan di masa pandemi ini karena kita tidak memiliki pilihan lain.

Ada nilai plus dan minus dari kehidupan sosial yang seperti itu. Nilai plusnya banyak terkait dengan kepraktisan dan kemudahan. Kita tidak perlu pergi menaklukkan jarak keluar rumah untuk bertemu dengan orang lain. Bahkan dalam kondisi berdaster pun kita bisa mengadakan rapat dari pojokan rumah. Namun, beberapa nilai minus juga terpaksa kita rasakan. Terlalu banyak screen time dan paparan gawai pada suatu titik justru dapat menjadikan kita antisosial dan teralienasi dari orang-orang terdekat. Bagi sebagian orang, engagement yang didapat dari jumlah like pada postingan dianggap lebih penting daripada kualitas hubungan pertemanan.

Mari berdoa semoga pandemi ini cepat berakhir agar kita dapat bertemu kembali dan berbagi jabat tangan, pelukan, tawa renyah, tatapan hangat, bahasa tubuh, dan kontak mata yang tak lagi berjarak.

In a world of algorithms, hashtags, and followers, know the true importance of human connection.” — unknown

Monday, August 16, 2021

Perayaan Tujuh Belasan

Yang selalu kuingat dari perayaan tujuh belasan adalah kemeriahan perayaan tujuh belasan zaman aku kecil dulu di Solo. Kami tinggal di lingkungan perumahan yang sangat guyub. Saat itu muda-mudi karang taruna dan pengurus RT/RW sangat aktif membuat kegiatan setiap 17 Agustus menjelang. Biasanya perayaannya merupakan satu rangkaian mulai dari jalan sehat, lomba tujuh belasan, panggung perayaan, hingga malam tirakatan.

Acara jalan sehat terbuka untuk semua warga dari segala usia. Rutenya dipilih sangat ramah untuk anak-anak dan lansia, jadi jarak tempuhnya tidak terlalu jauh. Kami melewati area pemukiman dan persawahan di tengah udara pagi yang sangat segar. Sepanjang rute kami sibuk mengobrol, bercanda, dan tertawa. Setelah sampai di garis finish, kami disuguhi aneka kudapan dan hidangan yang menggugah selera, terutama karena kami merasa kelaparan seusai berjalan beberapa kilometer, hahaha. Acara makan digelar secara prasmanan sehingga kami bebas mengambil apa saja. Sambil menikmati santapan, kami duduk lesehan dan menyaksikan pembagian doorprize.

Lomba tujuh belasan diadakan di lain waktu. Lomba untuk anak-anak dilaksanakan dalam beberapa cabang lomba yang cukup lazim seperti tarik tambang, memasukkan pensil ke dalam botol, balap karung, bakiak, balap cepat sambil mengulum sendok berisi kelereng, dll. Lomba untuk orang dewasa tidak terlalu banyak ragamnya, biasanya hanya berupa panjat pinang dan pertandingan voli saja.

Pada malam hari setelah sorenya diadakan lomba tujuh belasan, panggung perayaan digelar. Para muda-mudi Karang Taruna menjadi panitia pagelaran panggung ini. Isi acaranya berupa pertunjukan unjuk bakat dan keberanian warga untuk tampil di atas panggung. Setiap orang bebas menyumbangkan penampilan setelah mendaftar dan latihan bersama sejak beberapa minggu sebelumnya. Pada pagelaran panggung ini biasanya aku menampilkan baca puisi, seni tari, atau drama sederhana bersama teman-teman sepermainan di bawah bimbingan pamanku yang sudah malang-melintang di dunia teater.

Sebagai puncak perayaan tujuh belasan, malam tirakatan diadakan pada tanggal 16 Agustus malam. Acara ini hanya melibatkan para warga yang sudah dewasa saja. Mereka akan mengenang jasa para pahlawan dan berdoa bersama untuk kebaikan negeri. Sebenarnya aku tidak terlalu paham bentuk acaranya seperti apa karena aku tidak pernah ikut serta, hihihi. Aku hanya mendengar cerita Ibu yang berkisah sepulang dari sana sambil makan camilan dari dus kudapan yang Ibu bawa pulang untuk anak-anaknya.

Setelah aku tumbuh dewasa dan berkeluarga, lalu menetap di Bandung dan sekarang Tangerang Selatan, aku belum pernah mendapati perayaan tujuh belasan semeriah zaman kecilku dulu. Mudah-mudahan setelah pandemi usai, acara semacam ini dapat kembali diadakan untuk mempererat relasi antarwarga.

Monday, August 09, 2021

ITBMotherhood dan MamahGajahBerlari





Salah satu hal yang kusyukuri dari menjadi alumni Institut Teknologi Bandung adalah bisa bergabung dengan komunitas ITBMotherhood. Komunitas ini dibuat pada 2010 untuk mewadahi mahasiswi atau alumni perempuan ITB yang tertarik pada dunia ibu dan anak. Hingga saat ini grup ITBMotherhood di Facebook telah memiliki 4.487 anggota dan kegiatannya berkembang menjadi lebih dari 30 komunitas internal―yang kegiatannya tidak hanya bersifat daring, tetapi juga luring.

ITBMotherhood memiliki iklim yang sangat kondusif untuk menjadi sebuah support system. Di dalamnya kita dapat bertanya tentang apa saja tanpa takut merasa dihakimi, dapat melakukan jual beli dengan rasa aman dan asas kepercayaan, atau mencari dukungan dalam bentuk apapun. Sebagai contoh, beberapa tahun silam aku sempat bergabung dengan subgrup ASIX dan subgrup ibu hamil yang sangat memberi dukungan dalam hal motivasi maupun pengetahuan seputar kehamilan, persalinan, dan ASI. Beberapa subgrup di ITBMotherhood juga bergerak dalam hal beasiswa, donasi, dan relawan.

Subgrup ITBMotherhood yang ingin kuceritakan dalam tulisanku kali ini adalah komunitas MamahGajahBerlari (MGB). Ketika mulai berlari beberapa tahun lalu, sedikit sekali ilmu yang kumiliki. Saat itu hanya terpikir, kalau mau rutin berlari ya tinggal berlari saja. Wong awalnya hanya bermula dari self challenge menjajal kemampuan diri: apakah benar bisa menaklukkan olahraga yang dulu amat kubenci ini.

Mendekati pertengahan 2019, iseng-iseng aku bergabung dengan MGB, salah satu subgrup ITBMotherhood yang berisikan mamah-mamah alumni ITB yang menekuni hobi berlari di tengah-tengah kesibukan mengurus keluarga dan karir. Pertemanan sehat bersama MGB ini ternyata di luar ekspektasiku. Selain beroleh banyak ilmu tentang lari, di sini aku bagai menemukan keluarga baru yang really fits the idea of being support group. Sekecil apapun progres kita, di sini kita dikeprokin ramai-ramai. Sesuai dengan tag #PaceRecehTapiKeceh: tidak ada hal yang remeh di sini, setiap orang dihargai dengan target dan pencapaian masing-masing. Having fun dengan berlari demi hidup yang lebih sehat dan bugar menjadi yang terpenting.

Dulu sebelum pandemi, selain berlari dan coaching bersama, mamah-mamah MGB rajin bertemu luring untuk acara santai, makan-makan, botram, juga popotoan. Kami juga rajin saling jastip belanja perintilan lari dan saling menularkan semangat shopping, hahaha. Grup selalu ramai membahas tentang girls stuff dalam dunia lari, suatu hal yang tak akan mungkin ditemui di grup runners umum yang isinya juga ada para bapak ๐Ÿ˜›

Setiap orang akan bisa tumbuh dan berkembang jika mereka berada di lingkungan dan komunitas yang tepat. Begitulah yang kurasakan ketika berada di dalam MGB. Selama dua tahun bergabung di dalamnya, ada banyak pencapaian yang aku peroleh, mulai dari berhasil membangun training plan dan mengatur waktu untuk menyempatkan berlari di tengah kesibukan, memperbaiki heart rate dan VO2Max, memperbaiki endurance, hingga berhasil menempuh long run mulai dari 10 km sampai 21,1 km. Hal-hal ini mungkin tak akan tercapai bila aku tidak tahu ilmunya dan tidak punya motivasi seperti yang selalu disemangatkan oleh para mamah MGB.

Perempuan memang harus saling mendukung satu sama lain. Sebuah penelitian oleh Harvard Business Review mengatakan bahwa perempuan yang memiliki inner circle sesama perempuan cenderung dapat menempati posisi eksekutif dengan otoritas yang lebih besar dan gaji yang lebih tinggi, bila dibandingkan dengan laki-laki yang memiliki inner circle yang sama. Hal ini dikarenakan perempuan yang memiliki hubungan dekat dengan kelompok perempuan yang mendukungnya, akan lebih mudah menghadapi berbagai rintangan melalui berbagi pengalaman dengan perempuan lain yang pernah menghadapi situasi dan kesulitan yang sama. Mudah-mudahan dengan adanya ITBMotherhood dan subgrup-subgrup lain di bawahnya, para alumni perempuan ITB dapat memberikan manfaat yang nyata demi Tuhan, bangsa, dan almamater.

Monday, August 02, 2021

Keberagaman di Mata Anak-Anak

Anak-anakku mengenal konteks keberagaman kira-kira ketika mereka memasuki usia SD. Pasalnya ada pelajaran Bahasa Sunda di sekolah, yang akhirnya membuat kami bercerita lebih banyak tentang asal-usul leluhur mereka akibat lontaran pertanyaan “Kenapa Ayah dan Bunda nggak ngerti bahasa Sunda?”, hahaha. Ya, kami memang sudah dua puluh satu tahun tinggal di Bandung. Namun, karena seluruh keluarga berasal dari Jawa Tengah dan sejak dulu lingkaran pertemanan kami banyak berkisar di komunitas orang Jawa, kami tidak terlalu fasih berbahasa Sunda.

Konsep keberagaman ini merupakan konsep yang unik bagi anak-anak. Maklum, di usia itu mereka masih mempertanyakan banyak hal akibat keingintahuan yang tinggi, terutama ketika mereka melihat ada orang yang berbeda dengan mereka. Sesederhana kenyataan mengapa orang lain menggunakan bahasa yang berbeda atau mengapa orang lain memiliki agama yang berbeda, dapat mengusik keingintahuan mereka. Sebagai orang tua, kami tentu harus membahasakan perbedaan itu dengan kalimat yang baik dan mudah dimengerti, tanpa menimbulkan rasa intoleransi.

Di sekolah mereka belajar teori mengenai bermacam-macam suku, budaya, bahasa, atau agama. Mereka juga belajar adab saling menghargai dari buku teks. Namun di dunia nyata, kehidupan tidak semudah teori. Adakalanya anak-anak tidak mengerti apa yang teman-teman mereka obrolkan karena berbeda bahasa. Untungnya hal itu tidak pernah menjadi masalah sejauh ini. Mereka punya cara sendiri untuk bisa berbaur dengan teman meski berbeda bahasa ibu.

Yang agak susah adalah menyederhanakan pemahaman mereka soal perbedaan agama atau keyakinan. Terus terang aku agak kelimpungan menjelaskan mengapa orang lain melakukan ritual agama yang berbeda dengan kami. Pertanyaan-pertanyaan ini menjadi susah karena sebelumnya kami harus meletakkan pondasi ketauhidan terlebih dahulu dalam dada mereka, sehingga ketika mereka melihat orang lain yang berbeda … hal itu tidak akan menjadi masalah sebab mereka tahu bagaimana harus menyikapinya. Yang lebih tricky sebenarnya ketika mereka melontarkan pertanyaan dengan suara keras di depan orang yang bersangkutan, misalnya “Bun, kenapa Tante itu nggak pake jilbab?”. Kalau sudah begitu kami terpaksa harus cepat-cepat menarik mereka untuk menjauh karena khawatir perkataan mereka dapat menyinggung orang lain.

Konsep keberagaman memang seharusnya tidak hanya diajarkan secara teoritis. Bukankah banyak manusia di negeri ini yang sudah hafal kalimat-kalimat yang menggaungkan toleransi sejak mereka SD, tetapi gagal menerapkannya dalam kehidupan bermasyarakat? Saat ini anak-anak kami memang masih bersekolah di sekolah islami demi penguatan pondasi nilai-nilai beragama, tetapi aku berharap kelak suatu hari nanti mereka dapat pergi ke berbagai tempat, menuntut ilmu di beraneka institusi, dan bertemu dengan bermacam-macam orang supaya mereka memahami arti perbedaan dan arti toleransi yang sesungguhnya.

ูŠٰุٓงَูŠُّู‡َุง ุงู„ู†َّุงุณُ ุงِู†َّุง ุฎَู„َู‚ْู†ٰูƒُู…ْ ู…ِّู†ْ ุฐَูƒَุฑٍ ูˆَّุงُู†ْุซٰู‰ ูˆَุฌَุนَู„ْู†ٰูƒُู…ْ ุดُุนُูˆْุจًุง ูˆَّู‚َุจَุงูۤ‰ِูٕ„َ ู„ِุชَุนَุงุฑَูُูˆْุง ۚ ุงِู†َّ ุงَูƒْุฑَู…َูƒُู…ْ ุนِู†ْุฏَ ุงู„ู„ّٰู‡ِ ุงَุชْู‚ٰู‰ูƒُู…ْ ุۗงِู†َّ ุงู„ู„ّٰู‡َ ุนَู„ِูŠْู…ٌ ุฎَุจِูŠْุฑٌ

“Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti.” (Q.S. Al-Hujurat: 13)

Monday, July 26, 2021

Keterampilan Interpersonal

Memiliki tiga anak yang sudah bersekolah membuatku belajar banyak hal mengenai karakter sosial mereka, terutama dalam hal mencari teman. Ada anakku yang cukup mudah berbaur di lingkungan baru. Tak perlu waktu lama, dia akan mulai nimbrung di obrolan. Tak heran beberapa kali aku menemuinya sedang berbincang asyik dengan orang yang baru ditemuinya, seperti tukang parkir, tukang yang datang ke rumah, penjual pinggir jalan, dll. Kami dengan mudah melepasnya bergaul dengan lingkungan baru tanpa khawatir—seperti acara-acara liburan yang banyak diadakan berbagai event organizer—karena biasanya dia supel membawa diri.

Kebetulan dia ini cukup talkative. Dia tidak sungkan bertanya jika ada hal yang tidak dimengerti. Bahkan kalau dia sudah mulai tune in dengan lingkungan atau forumnya, dia akan melempar celetuk atau respon dengan aktif. Dia cukup populer di kalangan teman-temannya dan beberapa kali terpilih menjadi Ketua Murid atau pengurus angkatan.

Berbeda halnya dengan dua anakku yang lain. Mereka tidak terlalu ekspresif seperti kakaknya. Ketika berkenalan dengan orang baru, mereka cenderung “lambat panas” dan lebih senang mengamati pada awalnya. Mereka juga agak picky dalam memilih teman. Biasanya mereka hanya mau bermain dengan teman-teman yang “klik” saja. Salah satu dari mereka jarang mau terlibat jika ada kegiatan-kegiatan dan lebih memilih lingkungan yang nyaman buat dia. Namun, anak yang lain cukup partisipatif dalam berbagai kegiatan. Aku dan suami selalu memotivasi mereka untuk mengikuti beraneka aktivitas supaya mereka bisa berkenalan dengan orang dan lingkungan baru, meskipun kadang salah satu dari mereka tampaknya tidak cukup tertarik. Yah, kami sebagai orang tua tidak bisa memaksa.

Tulisan ini tidak bermaksud membandingkan anak satu dengan yang lainnya. Justru karena memiliki anak dengan karakter berbeda-beda, sebagai orang tua kami harus terus belajar bagaimana menyikapi karakter mereka dengan tepat. Tentunya ini bukan hal yang mudah di masa pandemi ini, kala karakter yang berbeda-beda berkumpul dalam satu atap hampir dua puluh empat jam. Anak kami yang cenderung suka berteman dan bertualang tentu bosan ketika dia hanya bisa bertemu dengan saudara-saudaranya saja. Sementara anak kami yang lain ada juga yang merasa baik-baik saja dengan keberadaannya di rumah terus-menerus. Dia sudah cukup asyik mojok dengan buku, gawai, atau game.

Keterampilan berbaur dengan teman dan menyesuaikan diri dengan lingkungan adalah salah satu softskill yang berada pada tataran aspek interpersonal. Bagaimanapun juga, kemampuan ini sangat diperlukan oleh anak—baik ketika mereka masih kanak-kanak maupun ketika mereka sudah dewasa—untuk membangun komunikasi dan kerja sama dengan orang lain. Mudah-mudahan anak-anak dapat memperkuat aspek ini dengan karakter dan pembawaan mereka masing-masing supaya kelak mereka bisa survive menghadapi dunia luar.

Monday, July 19, 2021

Pendidikan Anak

Bicara soal pendidikan anak adalah sesuatu yang sulit buatku karena aku tahu sistem yang berjalan di keluarga kecilku tidak ideal. Di rumah kami masih ada TV dan gawai—yang kadang-kadang masih menimbulkan kesulitan dalam pengaturannya. Kesibukan kami bekerja membuat kami terbatas membersamai anak-anak dan membimbing mereka. Kami juga masih susah mengontrol kesabaran dan masih sering marah-marah. Meskipun demikian, aku dan suami selalu berusaha memilihkan pendidikan yang terbaik untuk anak-anak. Kriteria terbaik tentunya berbeda-beda bagi tiap keluarga. Apa yang baik buat suatu keluarga belum tentu baik pula untuk keluarga lain, maka pendidikan yang kami pilihkan untuk anak-anak disesuaikan dengan visi dan misi keluarga kami.

Ada banyak metode yang dijalankan oleh para orang tua saat ini. Melihat keberhasilan dan kesuksesan teman-teman kami yang menjalankan homeschooling (HS) untuk anak-anak mereka, pernah terbersit keinginan untuk menjalankan metode serupa. Namun, keterbatasan kami sebagai orang tua yang bekerja tentu membutuhkan usaha yang luar biasa untuk memastikan sistem HS berjalan dengan baik. Jadi, setelah berpikir ulang, tampaknya kami tidak akan sanggup.

Sebagai orang-orang yang dibesarkan dengan sistem pendidikan sekolah negeri mulai dari TK hingga perguruan tinggi, kami merasa ada yang kurang dalam hal pendidikan agama. Bukan berarti sekolah negeri tidak baik, hanya saja kurang pas dalam memenuhi visi dan misi keluarga kami. Oleh karena itu, sejak anak-anak PG hingga SMP, mereka kami sekolahkan di institusi pendidikan yang memiliki titik tekan pada islamic character building dan leadership sebagai salah satu tujuan pembelajaran. Aspek kognitif bisa dikejar karena alhamdulillah kemampuan akademik mereka bisa dibilang bagus, tetapi pembentukan karakter akan susah dikejar jika tidak ditanamkan sejak dini. Harapan kami, jika nilai-nilai sebagai seorang muslim ini tertanam sebagai pondasi yang kuat, ke depannya mereka akan lebih tangguh memegang nilai-nilai agama dalam keseharian.

Selain ikhtiar memilihkan pendidikan yang menurut kami terbaik buat mereka, tak lupa kami juga menitipkan anak-anak kepada Sang Empunya. Allah-lah sebaik-baik penjaga dan pelindung yang akan membimbing mereka untuk tetap lurus di jalan-Nya. Kami tahu sebagai orang tua kami tidak bisa mendampingi anak-anak 24/7. Oleh karena itu, jika anak-anak paham dan sadar bahwa Allah Maha Melihat, mudah-mudahan mereka tidak terombang-ambing oleh dunia dan tetap berpegang teguh pada orientasi akhirat.

Memilihkan mereka sekolah yang terbaik adalah satu hal; bekerja sama dengan sekolah untuk keberhasilan belajar adalah hal lain. Keduanya harus berjalan seimbang karena kita tidak bisa melepas tanggung jawab dan membebankan proses pendidikan hanya kepada sekolah. Sekolah adalah mitra kami dalam mendidik anak-anak, maka kami berusaha untuk tidak bawel dan percaya pada sistem yang mereka miliki. Kepercayaan ini penting supaya kerja sama yang terbangun antara sekolah dan orang tua berjalan baik. Tak bisa dipungkiri selama tahun-tahun mereka bersekolah pasti ada saja masalah yang terjadi. Jika kerja sama tidak berjalan baik—misalnya ada ketidakpercayaan orang tua pada kebijakan yang diambil sekolah—proses mendidik anak juga tentu tidak akan berjalan mulus.

Pada akhirnya, pendidikan anak adalah proses untuk menjadikan mereka siap menjadi pribadi yang mandiri dan tangguh saat berpisah dengan kita, baik karena mereka keluar rumah (misalnya karena menikah, kuliah, merantau) atau karena kematian kita.

ูˆَู„ْูŠَุฎْุดَ ุงู„َّุฐِูŠู†َ ู„َูˆْ ุชَุฑَูƒُูˆุง ู…ِู†ْ ุฎَู„ْูِู‡ِู…ْ ุฐُุฑِّูŠَّุฉً ุถِุนَุงูًุง ุฎَุงูُูˆุง ุนَู„َูŠْู‡ِู…ْ ูَู„ْูŠَุชَّู‚ُูˆุง ุงู„ู„َّู‡َ ูˆَู„ْูŠَู‚ُูˆู„ُูˆุง ู‚َูˆْู„ًุง ุณَุฏِูŠุฏًุง

"Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar." (Q.S. An-Nisa': 9)

Hari Arafah

Hari Arafah adalah hari kesembilan dalam bulan Dzulhijjah, hari yang bertepatan dengan dilakukannya wukuf oleh umat muslim yang menunaikan haji. Tahun ini Hari Arafah jatuh pada Senin, 19 Juli 2021. Wukuf sendiri adalah salah satu rangkaian ibadah haji yang paling pokok yang dilakukan dengan cara berdiam di Arafah mulai tenggelamnya matahari pada 9 Dzulhijjah hingga terbitnya fajar di tanggal 10 Dzulhijjah. Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya oleh sekelompok orang dari Nejed tentang haji, maka beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,

ุงู„ْุญَุฌُّ ุนَุฑَูَุฉُ

“Haji itu adalah Arafah.” (H.R. at-Tirmidzi no. 889, an-Nasรข’i no. 3016 dan Ibnu Mรขjah no. 3015, dihukumi shahih oleh al-Albรขni)

Hari Arafah merupakan salah satu hari dalam sepuluh hari pertama di bulan Dzulhijjah yang memiliki banyak keutamaan. Oleh karena itu kita disunnahkan memperbanyak amal salih di sepuluh hari pertama ini, dan hari Arafah termasuk di dalamnya. “Tidak ada amalan yang lebih baik di sisi Allah dan lebih besar pahalanya dibanding amal salih yang dilakukan di 10 hari pertama di bulan Dzulhijjah.” (H.R. Baihaqi, lihat Fathul Baari 3/390 dan Shahih Targhib 2/15)

Beberapa amalan yang dianjurkan dilakukan pada Hari Arafah adalah berdoa, berdzikir, dan berpuasa. Dari ‘Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ุฎَูŠْุฑُ ุงู„ุฏُّุนَุงุกِ ุฏُุนَุงุกُ ูŠَูˆْู…ِ ุนَุฑَูَุฉَ ูˆَุฎَูŠْุฑُ ู…َุง ู‚ُู„ْุชُ ุฃَู†َุง ูˆَุงู„ู†َّุจِูŠُّูˆู†َ ู…ِู†ْ ู‚َุจْู„ِู‰ ู„ุงَ ุฅِู„َู‡َ ุฅِู„ุงَّ ุงู„ู„َّู‡ُ ูˆَุญْุฏَู‡ُ ู„ุงَ ุดَุฑِูŠูƒَ ู„َู‡ُ ู„َู‡ُ ุงู„ْู…ُู„ْูƒُ ูˆَู„َู‡ُ ุงู„ْุญَู…ْุฏُ ูˆَู‡ُูˆَ ุนَู„َู‰ ูƒُู„ِّ ุดَู‰ْุกٍ ู‚َุฏِูŠุฑٌ

“Sebaik-baik doa adalah doa pada hari Arafah. Dan sebaik-baik yang kuucapkan, begitu pula diucapkan oleh para Nabi sebelumku adalah ucapan ‘La ilaha illallah wahdahu la syarika lah, lahul mulku walahul hamdu wahuwa ‘ala kulli syaiin qadir’ (Tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya segala kerajaan, segala pujian dan Allah yang menguasai segala sesuatu).” (H.R. Tirmidzi no. 3585; Ahmad, 2:210)

Sementara puasa pada Hari Arafah memiliki keutamaan yang besar. Puasa sehari ini menghapuskan dosa dua tahun, sebagaimana dijelaskan dalam hadits Abu Qatadah Radhiyallahu anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ุตِูŠَุงู…ُ ูŠَูˆْู…ِ ุนَุฑَูَุฉَ ุฃَุญْุชَุณِุจُ ุนَู„َู‰ ุงู„ู„َّู‡ِ ุฃَู†ْ ูŠُูƒَูِّุฑَ ุงู„ุณَّู†َุฉَ ุงู„َّุชِู‰ ู‚َุจْู„َู‡ُ ูˆَุงู„ุณَّู†َุฉَ ุงู„َّุชِู‰ ุจَุนْุฏَู‡ُ

“Puasa Hari Arafah aku harapkan dari Allah bisa menghapuskan dosa setahun sebelumnya dan setahun setelahnya.” (H.R. Muslim no. 1162).

Semua ibadah yang disebutkan di atas bukan hanya untuk para jamaah haji yang sedang berwukuf di Arafah, melainkan semua umat muslim juga memiliki kesempatan yang sama untuk mendulang pahala dan ampunan dari Allah. Yuk, mari kita jemput keutamaan Hari Arafah.

Personal Best

Juli 2020

Alhamdulillah akhirnya berhasil juga memperbarui catatan waktu pada race kategori 10K. Sekadar informasi, aku pertama kali bisa berlari sejauh 10K pada tahun 2020 ketika pandemi mengguncang negeri dan aku terpaksa mengalihkan latihan lari di jalanan kompleks. Saat pertama kali mulai berlari 10K saat itu, aku memilih zona heart rate nyaman di pace 11. Kemudian aku memberanikan diri mengikuti race 10K bersama @mamahgajahberlari dalam gelaran ITB Ultra Marathon, Desember 2020. Tentunya bukan hal yang mudah karena riwayat HR-ku selalu tinggi dan nafas selalu megap-megap ketika aku menggeber speed.

ITB UM 10K, Desember 2020

Time Trial ITB 101 VR, awal Juli 2021

Latihan demi latihan yang aku lakukan membuatku berhasil mencatatkan waktu 1:26:31 dengan pace 8:38. Kemudian setelah itu aku memutuskan untuk menghentikan latihan MAF karena sudah setahun tidak membawa hasil yang cukup signifikan untuk menurunkan HR. Mulailah aku lebih banyak melakukan variasi speed pada training plan, dan pada Time Trial pertama untuk race 10K pada gelaran ITB 101 Virtual Run, awal Juli 2021, aku sedikit memperbaiki catatan waktu menjadi 1:25:54 dengan pace 8:29.


Time Trial ITB 101 VR, 17 Juli 2021 akhirnya PB

Waktu race yang lumayan longgar karena diperpanjang menjadi enam minggu akibat PPKM membuatku penasaran untuk melakukan remedial. Setelah melalui dua pekan adaptasi dengan suhu Tangerang Selatan yang berbeda jauh dengan Bandung yang adem, alhamdulillah aku berhasil memperbarui catatan waktu pada race kategori 10K, yaitu 1:20:46 dengan pace 7:59. Sebuah pencapaian yang luar biasa untuk ukuranku, mengingat zona HR nyaman untuk easy run masih berkisar di pace 9.

Pesan moral yang ingin kusampaikan: jangan pernah berhenti berusaha dan jangan membandingkan diri dengan pencapaian orang lain. Banyak orang lain yang lebih wow pencapaiannya, aku tahu. Namun bukan di situ poin pentingnya. Sadarilah bahwa masing-masing orang berproses dan Tuhan tahu seperti apa perjuangan kita.

Be good to yourself. Celebrate and appreciate small victories, so you can be ready for greater ones. Never compare them to others. You are one-of-a-kind. Remember where you started. Remember why you started. And celebrate where you are today!

Heart Rate


Bahasan tentang heart rate (HR) memang selalu menarik bagi teman-teman yang suka berlari. Malam minggu kemarin acara Zoom @cah2000playon bersama narasumber @medishita dan moderator @deboradyah adalah tentang resting HR versus exercise HR.

Pada saat kita berolahraga, jantung akan memompa darah ke seluruh tubuh. Semakin rutin berolahraga, HR semakin rendah dan kemampuan jantung untuk memompa akan lebih bagus. Stroke volume adalah jumlah darah yang dipompa oleh jantung dalam satu siklus jantung. Sementara cardiac output adalah jumlah darah yang dipompa oleh jantung per menit. Cardiac output (liter per minute) dihasilkan dari HR (beat per minute) dikalikan stroke volume (liter per beat). Endurance training membantu meningkatkan stroke volume dan menurunkan HR.

Pada saat berolahraga, suhu sangat berpengaruh. Pada saat suhu panas, kita akan mengalami dehidrasi. Akibatnya air di pembuluh darah berkurang sehingga darah yang kembali ke jantung akan berkurang, hal ini menyebabkan stroke volume juga akan berkurang. Kemudian HR akan naik untuk memenuhi oxygen demand.

Rutin berolahraga berfungsi untuk memperpanjang periode kenaikan HR. Kita harus menyeimbangkan kebutuhan oksigen dengan kemampuan nadi. Stroke volume yang tidak bisa mengimbangi oxygen consumption (tidak bisa mengejar) menyebabkan nafas kita menjadi megap-megap saat berolahraga. Sebaiknya intensitas olahraga diturunkan supaya stroke volume dapat mengimbangi oxygen consumption.

Kondisi jantung atlet yang terlatih kadang resting HR-nya terlalu rendah. Ini karena ketebalan otot jantungnya terlalu tebal tetapi kemampuannya untuk menampung volume cairan darah justru mengecil. Kondisi ini disebut hipertrofi dan bisa menyebabkan cardiac arrest, aritmia, dll. Jadi, apapun yang berlebihan itu memang tidak baik.

Pesan dr. Shita: usahakan berolahraga rutin minimal 90 menit dalam seminggu di zona HR latihan supaya kemampuan jantung tetap baik. Olahraga lebih intens daripada itu tidak mengapa, asal kita memiliki waktu recovery yang cukup.

Wednesday, July 14, 2021

Faith


"Untung ada Islam. Nggak gila aja udah syukur," demikian kata seorang guru ketika kehilangan kedua orang tua terkasih hanya dalam kurun waktu seminggu akibat COVID-19.

Pandemi yang luar biasa ini di satu sisi memang sangat menyesakkan. Banyak orang ditinggal wafat orang tercintanya; banyak orang memendam rindu karena bepergian dan silaturahmi menjadi sesuatu yang membawa risiko. Belum lagi jika kita bicara soal keterpurukan ekonomi, makin banyaknya pengangguran, naiknya angka kemiskinan, banyak orang yang menjadi susah untuk memenuhi kebutuhan hidupnya … ah, begitu banyak kesedihan dan kesengsaraan.

Pandemi juga memperlihatkan wajah asli orang-orang. Ada yang peduli sesama, ada yang abai terhadap diri sendiri maupun orang lain, ada yang tamak dan serakah menimbun keuntungan, juga ada yang raja tega memanfaatkan situasi dan melakukan penipuan demi cuan.

Pandemi memberi kesadaran bahwa kita mungkin terlampau cinta pada dunia dan takut mati. Sudah siapkah jika suatu saat kita atau orang terdekat kita dipanggil pulang oleh-Nya? Sudah siapkah kita dengan bekal amal saleh dan amal jariah? Apa yang sudah kita wariskan untuk anak-anak? Sudah cukupkah tarbiyah yang kita lakukan untuk menjadikan mereka pribadi yang siap mandiri, yang ketika berpisah dari kita pun tetap saleh dan salehah?

Kita beruntung karena ada Islam, karena kita punya Allah sebagai tempat bersandar sehingga kita tidak gila dan tertekan memikirkan dunia ini. Hasbunallah wa ni’mal wakiil, "cukuplah Allah (menjadi penolong) bagi kami dan Dia sebaik-baik pelindung." (Q.S. Ali Imran: 173)

Meskipun menyesakkan, Islam mengajarkan bahwa everything happens for a reason. Entah apapun itu, pandemi ini pasti tidak sia-sia karena Allah punya maksud dan tujuan tertentu dengan kehendak-Nya. "... (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), 'Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka.'" (Q.S. Ali Imran: 191)

Kita sebagai hamba bisa apa dengan kehendak Allah? Mengingat lagi tentang bahasan free will, qadha, dan qadar: kita hanya bisa menerima kehendak Allah, mensyukuri semua yang ditentukan oleh-Nya, serta fokus pada pilihan-pilihan yang kita buat, apakah berpahala atau tidak. Terhadap takdir Allah kita berserah, tetapi terhadap area yang bisa kita ikhtiarkan … kita melakukan usaha terbaik yang mendatangkan keridaan-Nya. Memang berat untuk dipahami dan dilakukan, tetapi inilah amunisi yang kita miliki sebagai seorang muslim. Ketika mendapat kebahagiaan kita bersyukur, ketika mendapat kesedihan kita bersabar.

Keyakinan kepada Allah, inilah satu-satunya yang kita punya. "... boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." (Q.S. Al-Baqarah: 216)

Sunday, July 11, 2021

Tempat Main Murah Meriah

Tahun 2013 ketika anak sulung masih berusia lima tahun

Sejak anak-anakku kecil, selalu ada tempat main murah meriah yang mereka sukai dan saban minggu kami datangi: bandara dan stasiun kereta api. Dulu ketika nonpenumpang masih gampang masuk ke peron, hampir tiap pekan kami pergi ke stasiun karena mereka suka sekali melihat kereta api. Mereka betah menghabiskan waktu berjam-jam untuk memandangi kereta yang lalu-lalang, sambil sesekali bertanya mengenai hal-hal yang tidak mereka pahami. Namun, ketika peron sudah diperuntukkan bagi penumpang yang memiliki karcis saja, kami sudah jarang main ke stasiun lagi. Mengintip-intip kereta api di sela-sela pagar—karena tidak bisa masuk ke peron—lama-lama terasa tidak mengasyikkan bagi anak-anak.



Lain halnya dengan bandara. Sejak dulu hingga sekarang—yah, paling tidak hingga kami pindah dari Bandung—nongkrong di pinggir TPU Sirnaraga yang berbatasan dengan runway menjadi menu biasa setiap akhir pekan. Ada spot menarik di situ, tempat kita bisa dengan leluasa menikmati pemandangan pesawat landing dan take-off. Dulu bentuknya berupa bangunan lawas yang bisa dinaiki bagian atapnya. Bangunan yang sudah terbengkalai itu ramai orang kala weekend. Pada suatu ketika bangunan tersebut dirobohkan, tetapi hal itu tidak menyurutkan antusiasme orang untuk melihat pesawat di spot yang sama.

Sebelum pandemi melanda dunia, tempat di ujung runway ini merupakan objek wisata murah meriah bagi masyarakat kelas menengah ke bawah. Murah karena tanpa tiket masuk (paling banter cuma bayar parkir), meriah karena menyenangkan buat anak dan bisa dijadikan ajang menambah pengetahuan jika kita pintar-pintar menyelipkan info sains tentang pesawat terbang. Di sekeliling lahan kosong yang dijadikan tempat parkir kendaraan, orang juga ramai menggelar dagangan makanan dan mainan. Suasananya mirip dengan Gasibu kala hari Minggu pagi: ada gerobak-gerobak makanan, ada meja dan kursi sederhana untuk makan di tempat, ada komidi putar, ada penjaja mainan, dsb.

Ketika anak-anak sudah mulai besar, mereka tak lagi sekadar menikmati pesawat landing dan take-off belaka. Aktivitas plane spotting yang mereka lakukan semakin mengasyikkan. Mereka mulai berdiskusi mengenai mekanisme mesin pesawat terbang sembari memasang mata pada aplikasi pelacak pesawat yang terpampang di layar smartphone. Kadang-kadang mereka membawa teropong untuk mengawasi pesawat yang mulai mendekat. Kemudian ketika mereka mulai terbiasa mengunggah video di Youtube, mereka juga asyik mengambil gambar lewat kamera ponsel.

Tempat main anak memang tak harus mahal. Keingintahuan anak yang selaras dengan minat mereka bisa diwujudkan melalui hal-hal sederhana, tinggal orang tua yang pintar-pintar menangkap minat anak dan memfasilitasinya. Aktivitas mengunjungi stasiun dan bandara juga kami lengkapi dengan membeli buku-buku yang menunjang pengetahuan seputar moda transportasi dan mengizinkan mereka untuk melihat tayangan terkait di Youtube. Mudah-mudahan hal ini akan dikenang sebagai dunia main yang menyenangkan ketika mereka dewasa kelak.

Rumah


Apa makna rumah bagimu? Dalam bahasa Inggris, kata house dan home sama-sama bermakna rumah. House memiliki arti rumah dalam bentuk fisik (building) yang dibangun dari berbagai material dan mewujud dalam dimensi kebendaan. Sementara home lebih jauh dari itu, melibatkan perasaan … eh, kok jadi mengutip quote Pidi Baiq ๐Ÿ˜‚

Memang benar home melibatkan perasaan dalam pemaknaannya. Barangkali dalam perasaan itu ada kehangatan, kebersamaan, keakraban, cinta, kasih sayang, you name it. Tidak semua house bermakna home bagi penghuninya. Demikian pula tidak semua home harus berupa sebuah house. Home is where your heart is. Kalau kata suamiku, home adalah di mana istri dan anak-anaknya berada. Aseeeek ๐Ÿคฃ

Balik lagi ke pertanyaan awal: sejatinya apa, sih makna rumah itu? Let’s check this out.

"Dan Allah menjadikan rumah-rumah bagimu sebagai tempat tinggal (tempat ketenangan) dan Dia menjadikan bagimu rumah-rumah (kemah-kemah) dari kulit hewan ternak yang kamu merasa ringan (membawa)nya pada waktu kamu bepergian dan pada waktu kamu bermukim dan (dijadikan-Nya pula) dari bulu domba, bulu unta, dan bulu kambing, alat-alat rumah tangga dan kesenangan sampai waktu (tertentu)." (Q.S. An-Nahl: 80)

Sebagai hamba Allah tentunya kita harus kembali pada definisi Allah dalam memandang segala sesuatu. Dalam tafsir ayat di atas, Allah mengatakan bahwa rumah adalah tempat tinggal yang memberi kita ketenangan dari berbagai gangguan lahir dan batin. Allah juga menjadikan rumah dalam bentuk kemah-kemah yang ringan dan mudah dibawa pada waktu bepergian dan untuk digunakan saat bermukim di tempat tertentu.

Dalam banyak ayat Al Quran, rumah memiliki beberapa makna:
  1. Sebagai tempat ibadah untuk meraih keridaan Allah.

  2. Sebagai madrasah tempat tarbiyah (edukasi dan pembinaan) dalam mendidik pasangan dan anak-anak.

  3. Sebagai benteng untuk menjaga iman keluarga.

  4. Sebagai sumber ketenangan dan tempat istirahat melepas lelah.

  5. Sebagai tempat silaturahim.

"Empat hal yang membawa kebahagiaan, yaitu perempuan salehah, rumah yang luas, tetangga yang baik, dan kendaraan yang enak." (H.R. Ibnu Hibban).

Sejak berkeluarga hingga saat ini aku telah berpindah-pindah di empat rumah, salah satunya adalah rumah kontrakan. Entah karena diriku ini seorang melankolis atau bagaimana, selalu ada perasaan sedih dan haru kala harus meninggalkan rumah lama untuk berpindah ke rumah baru. Memori bertahun-tahun berkelebat dalam benak semata-mata karena terlampau banyak kenangan yang melibatkan perasaan, tertinggal di sana. Rumah-rumah itu bukan hanya bangunan fisik buatku, lebih jauh dari itu: mereka adalah home yang menjadi saksi keluargaku mencinta dan bertumbuh. Rumah-rumah itu … adalah juga keluarga bagiku ๐Ÿฅบ

Oleh karena itu, hatiku tercabik kala mengingat rumah lamaku kini hanya berteman sepi dan debu. Tak ada tawa, tak ada cahaya, tak ada kehidupan di dalamnya ๐Ÿ˜ญ

Kembali ke Q.S. An-Nahl: 80, Allah menjadikan rumah sebagai tempat kesenangan sampai waktu tertentu. Mengapa demikian? Tentu saja karena dunia ini fana. Pada hakikatnya semua kepemilikan kita di dunia ini hanya sementara. Ayat ini menjadi pelipur lara bagiku karena menyadarkan bahwa kampung akhirat adalah rumah yang sebenar-benarnya, tempat kita semua akan kembali.

"Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?" (Q.S. Al-An’am: 32)

Friday, July 09, 2021

Sandyakala


Selalu ada aura magis yang menyelimuti bumi ketika semburat merah senja menghiasi nabastala. Bayu yang mengalir semilir begitu membuai rasa sehingga banyak insan sering terpantik inspirasinya kala senja tiba.

Tak terkecuali aku. Sejak dulu aku telah jatuh cinta pada senja karena kemolekannya. Kini ketika aku gemar berlari, aku sangat menikmati menjadi pelari senja sebab padanya aku menemukan damai. Berkawan sepoinya angin, aku mengurai rindu. Bersama temaramnya sinar surya yang kembali ke peraduan, hatiku menunduk khusyuk dalam syahdu.

Gurat merah di langit senja memiliki banyak makna. Bagi sebagian orang, filosofinya diartikan sebagai keindahan yang tak perlu disuarakan. Cantik sebagaimana mestinya meski hadir dalam senyap. Bagi sebagian orang yang lain, persepsi keelokan itu dibangun sebagai bentuk akhir yang menawan. Jadi jika mau berpikir positif, apapun yang kita lalui hari itu memiliki muara rasa yang indah dalam perwujudannya sehingga rasa syukurlah yang kita langitkan kala menutup hari.

Senja disebutkan dalam banyak ayat Al Quran, menandakan jika ia istimewa. Dalam penciptaan langit dan bumi terdapat tanda-tanda kekuasaan dan kebesaran Allah bagi orang yang mau berpikir.

"Maka sesungguhnya Aku bersumpah dengan cahaya merah di waktu senja," (Q.S. Al Insyiqaq: 16)

"Dan bertasbihlah kepada-Nya diwaktu pagi dan petang." (Q.S. Al-Ahzaab: 42)

"Dan sebutlah nama Tuhanmu pada (waktu) pagi dan petang." (Q.S. Al-Insaan: 25)

"Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai." (Q.S. Al-A’raaf: 205)

Selamat mencinta senja, Kawan. Padanya akan kautemukan bahagia.

Monday, July 05, 2021

Kehadiran Anak di Tengah Keluarga


Pernah atau tidak mendapat pertanyaan “Sudah isi apa belum?” beberapa waktu setelah menikah? Terkadang pertanyaan kepo semacam ini dianggap agak julid bagi sebagian orang. Mungkin maksudnya baik karena diniatkan untuk peduli, tetapi sebenarnya pertanyaan ini tidak perlu dilontarkan karena dapat menyinggung perasaan orang yang ditanya. Terutama kalau yang bersangkutan memang belum dikaruniai buah hati setelah beberapa waktu lamanya.

Aku sendiri tentu pernah mendapat pertanyaan serupa. Tujuh bulan pertama dalam pernikahan aku tak kunjung hamil. Memang hanya tujuh bulan, tetapi durasi itu cukup membuatku bosan mendengar pertanyaan seperti itu. Bahkan ada juga yang usil berkomentar apakah kami sengaja menunda memiliki anak. Huft, kadang orang memang berkomentar seenaknya.

Anak pertamaku lahir di Bandung, disusul adiknya tiga tahun kemudian. Tentu di sela-sela waktu itu pernah juga terlontar pertanyaan “Kapan punya adik?”, hehehe. Bahkan setelah anak keduaku lahir, komentar orang tak juga berhenti. Karena kedua anakku laki-laki, komentar berikutnya adalah “Ayo dong satu lagi, kan belum punya anak perempuan.” Aku tentu hanya bisa menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal.

Kebetulan kehamilanku yang ketiga dan keempat tidak berjalan mulus. Kehamilan ketiga berakhir di usia kandungan delapan minggu karena janin tidak berkembang. Kisah kehamilan keempat juga ternyata harus berakhir di usia kandungan empat bulan karena kontraksi dan KPD (Ketuban Pecah Dini). Bayiku lahir dalam kondisi meninggal karena masih terlalu kecil dan tidak dapat bertahan. Anak ketigaku ini juga laki-laki, maka keinginan untuk memiliki anak perempuan sempat pupus karena aku mengalami trauma dan memutuskan untuk tidak akan hamil lagi. Apalagi ada yang berkomentar miring tentang kepergian anakku. Tanpa komentar miring pun aku sudah menyalahkan diri sendiri, apalagi ada celetukan-celetukan yang tak perlu seperti itu.

Qadarullah enam bulan setelah kepergian anak ketiga, aku kembali hamil. Dokter mengatakan janinku berjenis kelamin perempuan. Memang betul Allah Maha Menghibur, diganti-Nya bayiku yang tiada dengan anak perempuan yang kuimpikan. Maka minggu demi minggu kehamilan kujalani dengan sukacita dan antusias. Apakah lantas tidak ada komentar orang? Tentu saja ada. Beberapa komentar iseng yang terlontar seperti “Subur amat … hamil lagi, hamil lagi.” Hmmm, belum hamil salah, sering hamil pun salah.

Ketika aku hamil anak kelima, aku sempat berusaha menyembunyikan kabar kehamilan karena malas mendengar komentar orang. Namun, kehamilan tentu tak bisa disembunyikan lama-lama, terutama ketika perut sudah membuncit, hahaha. Komentar yang paling menyebalkan ketika orang tahu bahwa aku sedang hamil anak kelima adalah “Masa sih anak kelima? Yang ‘ada’ maksudnya.” Hmmm, belum pernah di-tampol rupanya.

Terlepas dari komentar usil orang yang sering mampir ke telinga kita, bagiku kehadiran anak dalam keluarga sangat memberi berkah. Anak-anak adalah guru yang sesungguhnya untuk kita belajar ilmu kehidupan. Lewat kehadiran mereka, kita belajar mengimplementasikan hal-hal yang tidak kita dapat di bangku sekolah. Sepayah apapun kualitas kita sebagai orang tua, anak-anak selalu memiliki pintu maaf seluas samudra. Bagi mereka kita adalah orang tua yang paling keren dan paling dicinta. Masyaallah. Tidak ada unconditional love sesuci dan semurni ini.

Sebagai orang tua bekerja yang memiliki banyak anak, aku tak bisa berkata kalau aku tidak repot. Namun, aku yakin kerepotan ini hanya sementara. Hikmah, keceriaan, dan kebahagiaan yang didapat jauh lebih besar daripada kerepotan itu sendiri. Ada saat di mana aku meledak karena ketidaksabaran, tetapi lebih sering aku bergelung dalam syukur yang tak bertepi karena kehadiran anak-anak. Sungguh aku tak bisa membayangkan apa jadinya hidupku tanpa mereka. Mudah-mudahan merekalah saranaku meraih surga.

 ุฑَุจَّู†ุง ู‡َุจْ ู„َู†ุง ู…ِู†ْ ุฃَุฒْูˆุงุฌِู†ุง ูˆَุฐُุฑِّูŠَّุงุชِู†ุง ู‚ُุฑَّุฉَ ุฃَุนْูŠُู†ٍ ูˆَุงุฌْุนَู„ْู†ุง ู„ِู„ْู…ُุชَّู‚ِูŠู†َ ุฅِู…ุงู…ุงً  

“Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (Q.S. Al-Furqan [25]: 74)

Tentang Lari



Have you ever been running for the sake of running itself?

Perjalananku menyukai olahraga lari dimulai sekira tahun 2015. Awalnya hanya untuk menantang diri sendiri, alias menjajal kemampuan diri. Bertahun-tahun aku memang tidak pernah menyukai lari. Aku masih ingat, sejak masa sekolah dulu, tiap kali guru olahraga menyuruh berlari maka aku akan berkeluh kesah panjang pendek. Biasanya aku termasuk siswa yang tiba paling akhir, dan tentunya lebih banyak berjalan dibanding berlari.

Pada 2015 itu aku bertanya tentang kiat bagaimana mulai berlari pada beberapa teman yang kulihat sudah biasa berlari. Pada awalnya aku cukup skeptis karena selama ini aku selalu megap-megap tiap berlari. Dari yang awalnya cuma kuat 2K, lama kelamaan meningkat menjadi 3K, lalu 5K. Kemudian aku hamil anak ke-4 dan berhentilah semua aktivitas lari ๐Ÿ˜‚

Beberapa waktu pascapersalinan aku kembali mulai berlari. Kukira aku akan mulai dari nol, tetapi level kebugaranku ternyata tidak terlalu menurun—memang sebelumnya aku sudah rutin melakukan senam aerobik dan yoga—jadi aku tinggal “memanaskan mesin” sedikit hingga akhirnya aku biasa menempuh 5K setiap kali berlari. Tiga tahun setelah itu aku kembali hamil anak ke-5 dan aktivitas lari kembali berhenti.

Pascapersalinan I came back stronger. Jarak mulai bisa diperjauh menjadi 7K. Kemudian ketika aku sedang bersiap meningkatkan jarak menjadi 10K, pandemic hit the world. Latihan lari yang tadinya biasa kulakukan di track lari akhirnya kualihkan ke jalanan kompleks. Hikmah pandemi yang mengharuskanku WFH memungkinkan aku mengatur waktu dengan fleksibel dan aku malah jadi semakin sering berlari.

Tahun 2020 aku berhasil menempuh 10K pertamaku, kemudian ikut serta dalam kemeriahan ITB Ultra Marathon sebagai race pertama untuk jarak 10K. Sebagai slow jogger dengan easy run pace berkisar di angka 9-10 karena riwayat heart rate selalu tinggi, aku lebih berminat meningkatkan performa endurance daripada speed. Maka training plan aku tingkatkan untuk mulai melirik Half Marathon. Tepat sebelum Ramadhan 2021, aku berhasil menyelesaikan Half Marathon mandiri sejauh 21,1K mengelilingi Kota Bandung.

Di era medsos seperti sekarang ini, sangat sulit untuk tidak membandingkan kemampuan diri dengan pencapaian orang lain. Seringkali aku iri melihat performa teman-teman yang jauh lebih keren, misalnya: newbie runner yang bisa berlari lebih kencang dengan HR lebih rendah daripada aku ๐Ÿคฃ



Namun, kemudian aku ingat: di yoga aku belajar tentang self acceptance, tentang bagaimana menerima diri seutuhnya tanpa membandingkan dengan orang lain. Yang harus dibandingkan dengan diri kita yang sekarang adalah diri kita yang dulu. Dan kalau melihat ke belakang, tentunya aku sudah berprogres. Dulu HR amanku berada di pace 11, kini pace 9 pun masih bisa aman. Dulu aku cuma bisa berlari 2K, sekarang paling jauh sudah bisa HM.

Kalau dulu aku berprinsip yoga is not a competition, it's all about BEING YOU … maka kini aku juga berprinsip running is not a competition, it's all about BEING YOU. Let’s run for the sake of running itself, bukan karena ingin dianggap bisa atau ingin dianggap keren. Just enjoy every step … karena sesungguhnya ketika berlari, kita sedang berkontemplasi untuk mensyukuri nikmat sehat dan berdialog untuk lebih memahami diri sendiri.

๐Ÿ“ท: Bersama Tim "Mamah Gajah & The Bandito" siap menyongsong ITB 101 Virtual Run periode 4 Juli - 15 Agustus 2021, masing-masing orang berlari sejauh 10,1K (single run).

Sunday, July 04, 2021

Bandung


Aku memang tidak lahir dan tumbuh besar di Bandung, tetapi aku telah menghabiskan lebih dari separuh usiaku di sini. Ketika aku pertama kali datang ke sini dua puluh satu tahun silam, Kota Kembang ini berhawa sangat dingin—apalagi untuk ukuran seorang bocah asal Solo sepertiku. Malam-malamku sebagai mahasiswa baru cukup sering berkemul tebal, terutama ketika kemudian aku pindah ke bilangan Bandung bagian utara.

Bandung bagian utara … ah, sungguh memesona. Di sini aku mengalami pasang surut dinamika kehidupan kampus, bergulat dengan aktivitas kemahasiswaan, lalu berhasil lulus hidup-hidup dari sana. Aku sempat mengembara sebentar, untuk kemudian kembali dan menetap di sini pascamenikah.

Setelah itu kehidupanku banyak berpusar di Bandung bagian utara. Mulai dari kantor, sekolah anak-anak, rumah sakit, tempat olahraga, tempat belanja … semua kami lakukan di sini. Maka tidak heran kemudian Bandung menjadi bagian penting dari hidupku, yang menyedot semua cintaku seperti aku mencintai kota kelahiran.

Di Bandung pula aku belajar mencintai lari. Di setiap jalan yang kususuri sambil berlari, di situ tertinggal sekeping kenangan. Tak pernah bosan aku mengukur jarak di jalanan Bandung. Di antara lika-likunya terserak memorabilia yang mengukuhkan betapa cantiknya kota ini.

Bandung juga adalah surga makanan. Jajanan di sini sangat bervariasi. Pilihan tempat makan dan nongkrong beragam. Tempat main pun tak terhitung jumlahnya. Tak lupa juga, dengan banyaknya sarana kajian untuk menimba ilmu agama, selalu ada tempat kembali bagi jiwa-jiwa yang penat dengan kehidupan dunia.

Maka bagiku Bandung adalah tempat pulang, tempat yang kupikir dulu bakal menjadi suaka hingga akhir hayat. Dan ketika takdir akhirnya berkata lain, semoga segala ketidaknyamanan ini akan diganjar sebagai pahala taat kepada suami dalam rangka menggapai rida-Nya.

Ke Bandung aku akan kembali.

Sunday, June 27, 2021

Nilai Manfaat Sampah

Perjalananku menjadi pengurus bank sampah dimulai sejak 2015. Awal inisiasinya dimulai dari pertemuan beberapa ibu di kompleks yang concern terhadap masalah sampah. Dari obrolan-obrolan santai, kepedulian ini berlanjut dengan mengundang narasumber dari LSM Hijau Lestari untuk memberikan insight terhadap ibu-ibu kompleks mengenai pentingnya zero waste. Usaha ini tidak mudah, mengingat kebanyakan dari mereka masih sangat awam mengenai pemilahan sampah. Oleh karena itu, pada masa awal bank sampah kompleks kami terbentuk, pengurus sangat getol untuk melakukan edukasi. Dari pemahamanlah semua bermula.

Edukasi yang kami sampaikan sama intinya dengan tulisanku di sini, bahwa sampah ini adalah tanggung jawab kita bersama. Menjaga bumi adalah kewajiban setiap insan sebagai bentuk pertanggungjawaban kita terhadap Yang Mahakuasa. Pertanyaan yang paling sering kami dapatkan adalah mengenai seberapa banyak nilai rupiah yang nasabah bisa dapatkan ketika menyetor sampah. Satu hal yang selalu kami tekankan: jadikan usaha memilah dan menyetor sampah ini sebagai bentuk ibadah dan bentuk kepedulian kita terhadap lingkungan, karena jika kita bicara soal uang, nilainya tentu sedikit sekali yang bisa kita dapatkan. Belum kalau kita bicara soal lelah dan jatuh bangunnya. Jika hanya berharap nilai uang, kita bisa jadi kecewa. Namun, bila usaha ini diniatkan sebagai ibadah dan kontribusi kita dalam memperbaiki lingkungan, insyaallah hati kita lebih tenang dan lebih legawa.


Pengurus bank sampah di kompleks kami

Menyetor sampah dengan mobil :))

Mobil bank sampah Hijau Lestari, bantuan dari BJB

Pada masa awal bank sampah ini berjalan, para pengurus masih sering mendapati adanya setoran sampah yang dicampur-campur. Usaha edukasi ternyata harus terus dilakukan. Selain merepotkan pengurus, setoran sampah yang masih tercampur dan belum dibersihkan ini nilai ekonominya lebih rendah. Sebagai contoh: botol air mineral yang sudah dicopot labelnya dan sudah dipisahkan tutupnya bernilai Rp2.000,00 per kg, sedangkan yang belum hanya bernilai Rp1.500,00 per kg. Berikut ini adalah daftar kategori sampah yang diterima oleh bank sampah kami beserta daftar harganya.



Selain sebagai tabungan, sampah yang dikumpulkan oleh nasabah juga bisa ditukarkan dengan barang-barang yang dijual di HL Ecomart, mini market yang dikelola oleh Hijau Lestari. Sampah ini dibanderol sesuai harga yang ditetapkan oleh Hijau Lestari, kemudian ditukar dengan voucher. Voucher tersebut digunakan sebagai diskon untuk berbelanja. Hijau Lestari juga pernah bekerja sama dengan Twin Tulipware untuk mengurangi sampah plastik akibat penggunaan plastik sekali pakai. Beberapa item sampah dapat ditukarkan dengan diskon hingga 50% untuk mendapatkan produk-produk tertentu dari Twin Tulipware.

Dengan sistem ini, masyarakat akan lebih termotivasi untuk memilah sampah, mengumpulkan, lalu memanfaatkannya untuk ditukar dengan diskon belanja. Bahkan dengan inovasi sistem online yang sempat dikembangkan oleh Hijau Lestari bekerja sama dengan Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Kota Bandung waktu itu, tabungan sampah ini juga bisa digunakan untuk membayar biaya listrik PLN. Ternyata dari sampah yang sering kita pandang sebelah mata, banyak manfaat bisa kita dapatkan. Namun, yang perlu kita ingat: pemilahan sampah ini hanyalah satu dari sekian banyak ikhtiar yang bisa dilakukan jika kita sudah telanjur menghasilkan sampah. Tentu akan lebih bijak jika kita memulai usaha zero waste dari pangkalnya, yaitu mencegah dan mengurangi jumlah sampah itu sendiri.

 

Tautan terkait: