Showing posts with label knowledge. Show all posts
Showing posts with label knowledge. Show all posts

Tuesday, July 05, 2022

Belajar Tiada Akhir

Gambar diambil dari sini

Belajar adalah aktivitas sepanjang hayat. Seperti yang ditulis Dini di sini, “lifelong learning is the lifewide, voluntary and self-motivated pursuit of knowledge for not only personal but professional reasons as well”. Kata kuncinya adalah: belajar sepanjang hayat, sukarela, self-motivated, untuk pengembangan diri baik secara personal maupun profesional.

Namanya manusia tentu tak ada yang sempurna, ya. Ilmu terus berkembang mengikuti zaman. Kemampuan kita tak pernah paripurna, yang ada hanyalah langkah untuk terus menuju ke sana. Bagi diriku pribadi, ada hal-hal yang hingga hari ini masih terus ingin kuperbaiki. Oleh karena itu, belajar sepanjang hayat merupakan suatu keniscayaan, terutama untuk hal-hal yang akan kuceritakan di bawah ini.

Menjadi Orang Tua yang Baik

Sepanjang empat belas tahun menjadi orang tua, selalu ada hal baru yang aku dapatkan. Anak-anak itu memang guru terbaik, kadang aku jadi belajar dengan metode learning by doing. Biasanya hal ini terjadi pada anak pertama di mana kita masih gagap menjadi orang tua. Ilmu dari bapak ibu yang berbeda zaman dengan kita–yang sebagian besar masih berdasar pada “katanya”–kadang tak lagi relevan, atau bahkan terbukti tidak benar menurut ilmu yang berkembang kemudian. 

Meskipun membesarkan anak-anak berikutnya sudah lebih ada persiapan, nyatanya aku masih sering terkaget-kaget juga, hahaha. Tiap anak yang memasuki fase berbeda selalu memberi kejutan. Pada suatu masa ketika aku merasa lega karena anak sudah lepas dari fase terrible-two, kakak-kakaknya sedang memasuki fase teen dan pre-teen yang menguras emosi dan tenaga *pijat-pijat kening*

Menjadi orang tua itu tak ada sekolahnya. Indeed, kehidupan inilah yang memberi pelajaran. Salah satu hal yang kini masih terus kuusahakan adalah belajar sabar. Memiliki empat anak dengan usia berbeda yang berkelindan dengan drama masing-masing, mood kujaga benar supaya tidak terlampau lelah. Karena jika aku merasa lelah–baik fisik maupun mental–amarahku mudah sekali terpicu. Jika aku berada dalam kondisi waras, se-ambyar apa pun tingkah polah mereka bisa kuhadapi dengan kepala dingin.

Tidak ada anak yang nakal. Tidak ada anak yang dengan sengaja membuat marah orang tuanya. Yang ada hanyalah anak yang bisa jadi belum tercukupi kebutuhannya. Yang ada hanyalah orang tua yang mungkin kurang bijak bersikap. Anak adalah titipan; Allah akan meminta pertanggungjawaban kita sebagai orang tua. Di sisi lain, pahala akan mengalir deras bagi orang tua yang mampu membimbing anak-anaknya sesuai tuntunan. Maka cukuplah dalil-dalil berikut ini menjadi pengingat.

“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau doa anak yang saleh.” (H.R. Muslim).

“Sesungguhnya Allah mengangkat derajat seorang hamba yang saleh di surga, lalu ia bertanya, ‘Wahai Tuhanku, dari mana aku dapatkan semua ini?’ kemudian Allah menjawab, ‘Dengan sebab istighfar anakmu untuk dirimu.’” (H.R. Ahmad).

Berlari dengan Efektif dan Efisien

Aku sudah berlari sejak tahun 2015. Dalam kurun waktu tujuh tahun ini, ada banyak sekali ilmu berlari yang kupelajari dari teman-teman komunitas maupun dari para profesional, mulai dari bagaimana membangun training plan dan mengatur waktu untuk menyempatkan berlari di tengah kesibukan, memperbaiki heart rate dan VO2Max, memperbaiki endurance, hingga bagaimana menempuh long run mulai dari 10 km sampai 21,1 km. Selain belajar tentang ilmunya, aku juga memperoleh motivasi dan semangat yang luar biasa dari mereka.

Namun, aku merasa kemampuanku belum maksimal. Teknik berlari dan running form-ku belum optimal. Padahal hal ini sangat penting supaya dapat berlari dengan lebih efektif dan efisien. Dalam dunia lari, ada yang namanya running economy, yaitu hubungan antara konsumsi oksigen dan kecepatan lari. Sederhananya: running economy adalah efisiensi dalam mengubah konsumsi oksigen menjadi gerakan maju, dan hal ini bergantung pada banyak faktor: komposisi serat otot, fleksibilitas sendi, bentuk tubuh, dan ketahanan dalam berlari.

Selain melatih teknik berlari dan running form, seorang pelari juga harus berlatih beban. Latihan beban mencegah cedera dengan memperkuat otot dan jaringan ikat. Ini membantu kita berlari lebih cepat dengan meningkatkan koordinasi dan kekuatan neuromuskuler, juga meningkatkan efektivitas dengan mendorong koordinasi dan efisiensi langkah. Adaptasi neuromuskuler adalah kondisi di mana otak, sistem saraf pusat dan otot beradaptasi untuk menghasilkan lebih banyak serat otot dan meningkatkan frekuensi dari serat otot. Kesimpulannya, latihan ketahanan atau resistance training akan meningkatkan koordinasi di antara setiap otot dan menghasilkan lebih banyak kekuatan untuk berlari.

Hal-hal di atas adalah hal-hal yang ingin terus kupelajari dalam aktivitasku menggeluti hobi berlari. Levelku memang masih pelari rekreasi atau pelari hore, tetapi tak ada salahnya berlatih secara serius untuk meningkatkan performa. Ingin rasanya memakai jasa profesional seperti running coach atau personal trainer. Namun, kesibukan sebagai ibu dan pekerja kantoran yang terikat jam kerja membuatku cukup sulit untuk membagi waktu. Mungkin suatu saat nanti ketika anak-anak sudah lebih besar dan sudah bisa ditinggal-tinggal dengan leluasa. Insya Allah.

Menulis

Menulis adalah suaka bagiku. Lewat tulisan, aku menemukan siapa aku sebenarnya. Menulis adalah suatu aktivitas yang lebih dari sekedar merangkai huruf demi huruf menjadi seuntai tulisan bermakna. Buatku menulis memiliki arti lebih dari itu. Aku orang yang cukup pendiam, datar, cenderung menutup diri, dan tidak pernah bersikap vokal, apalagi frontal. Sejak kecil aku mengakrabi tulisan karena lewat tulisan, aku bisa mengekspresikan segala hal yang aku mau tanpa batasan-batasan rasa malu, rendah diri, atau putus asa. Dengan menulis, aku bisa mengemukakan gagasan atau pikiran menurut cara yang aku mau.

Dalam dunia menulis fiksi yang kugeluti selama ini, aku bisa menciptakan sebuah kondisi yang aku kehendaki, lengkap dengan penokohan, alur, dan ending-nya. Sedikit demi sedikit, aku mulai mengakui keberadaanku. Ternyata aku juga bisa menguasai dan mengendalikan sesuatu. Dua puluh dua buku antologi telah kuhasilkan sampai saat ini, sebagian besar adalah antologi fiksi. Namun, aku belum pernah menelurkan buku solo.

Oleh karena itu, aku ingin terus belajar menulis. Menulis novel itu butuh nafas panjang dan motivasi tiada henti. Bergabung dengan berbagai komunitas menulis, ikut dalam beragam event menulis dan proyek-proyek penerbitan buku, serta banyak membaca karya fiksi adalah beberapa cara yang kulakukan. Harapannya, kelak suatu hari nanti aku dapat menerbitkan buku solo yang selama ini draft-nya kutulis dengan tersendat-sendat.


Tulisan ini diikutsertakan dalam Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan Juli yang bertema “Hal-hal yang Ingin Dipelajari”.

Monday, October 18, 2021

Ketahanan Pangan Keluarga

Menurut Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan, ketahanan pangan adalah kondisi terpenuhinya pangan bagi negara sampai dengan perseorangan, yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya, aman, beragam, bergizi, merata, dan terjangkau serta tidak bertentangan dengan agama, keyakinan, dan budaya masyarakat untuk dapat hidup sehat, aktif, dan produktif secara berkelanjutan. Ketahanan pangan juga menyangkut hak setiap orang untuk memiliki akses pada makanan yang aman dan bergizi, hak atas kecukupan pangan, dan hak dasar setiap orang untuk bebas dari kelaparan. Empat pilar dalam ketahanan pangan adalah ketersediaan yang cukup, akses yang memadai, pemanfaatan yang tepat, serta stabilitas stok dan harga pangan.

Di Indonesia ketahanan pangan lebih sering diidentikkan dengan ketersediaan pangan. Hal ini tidak sepenuhnya salah karena bertahun-tahun pemerintah berfokus pada program swasembada pangan demi kedaulatan pangan nasional. Namun, sejatinya ketahanan pangan tidak hanya berbicara soal produksi pangan yang cukup, tetapi juga berbicara tentang tingkat harga yang pantas dan terjangkau oleh masyarakat miskin serta tidak merusak lingkungan.

Dalam tataran keluarga, contoh nyata ketahanan pangan ini ada pada keluarga suamiku. Secara turun temurun, banyak di antara mereka yang berprofesi sebagai petani dan peternak. Sebenarnya petani dan peternak ini adalah profesi yang—bisa dibilang—sangat orisinal karena sejak zaman dahulu pun manusia bertani dan beternak. Kita tentu ingat ketika sistem perdagangan belum terlalu masif, tiap keluarga memiliki lahan untuk bercocok tanam dan memelihara hewan ternak untuk memenuhi kebutuhan pangan mereka sendiri. Baru setelah itu, mekanisme pemenuhan bahan pokok berkembang menjadi sistem barter hingga perdagangan dengan alat tukar uang seperti sekarang ini.

Kembali ke keluarga suamiku, saat ini sebagian besar dari mereka yang tinggal di desa masih mempertahankan profesi petani dan peternak. Kalau kita melihat dari perspektif materi, kedua profesi itu sering dipandang sebelah mata. Mereka adalah ujung tombak ketahanan pangan, tetapi faktanya mereka sendiri juga harus berjuang untuk tidak terpuruk dalam kemiskinan. Kisah mengenai rentenir dan sistem ijon, harga jual hasil panen yang tidak menutup modal, hingga sulitnya mereka bersaing dengan bahan makanan impor tentu sering kita dengar dari berita-berita. Namun, ketika melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana sawah bapak mertua gagal panen karena diserang hama atau ayam-ayam peliharaan kakak ipar mati karena terkena penyakit … tentu ikut membuat kami merasa makin miris.

Dulu aku pernah menyayangkan keputusan adik ipar untuk tidak bekerja kantoran. Dia lebih memilih untuk membantu bapak mertua mengurus sawah dan hewan ternak. Belakangan aku mengerti, mungkin itu adalah caranya berbakti untuk orang tua sekaligus meneruskan spirit perjuangan keluarga suami dalam menekuni profesi petani dan peternak. Aku juga pernah mempertanyakan keputusan suami untuk membeli sawah ketika memiliki uang menganggur. Memang secara materi tidak menguntungkan, tetapi di baliknya … ternyata itu adalah salah satu cara untuk menjaga keberlanjutan ketahanan pangan.

Salah satu cara yang bisa kita lakukan untuk menjaga ketahanan pangan—jika kita bukan petani atau peternak—adalah urban farming. Urban farming dapat dijadikan sebagai alternatif upaya untuk mengatasi ancaman ketahanan pangan di masa pandemi seperti sekarang ini. Pandemi berpengaruh terhadap penurunan kegiatan produksi pertanian dan distribusinya sehingga mengancam ketersediaan pangan dalam jumlah yang cukup. Urban farming yang dilakukan dalam tataran keluarga dapat mencegah kekurangan nutrisi karena masing-masing keluarga memanfaatkan pekarangan atau lahan untuk berkebun. Dengan demikian, mereka dapat memenuhi kebutuhan pangan keluarga dengan cara sederhana.

Monday, September 27, 2021

Berkata Baik atau Diam

“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka hendaknya dia berkata baik atau diam.” (H.R. Muslim nomor 222).

Dalam hadis di atas, Rasul mengatakan bahwa salah satu tanda keimanan adalah menjaga lisan dari perkataan yang tidak baik. Jika tidak mampu berkata baik, lebih baik kita diam. Pentingnya menjaga lisan ini juga diisyaratkan dalam hadis lain yang dinukil oleh Imam Nawawi dalam kitab Riyadhus Salihin. Beberapa di antara hadis tersebut tertulis di bawah ini.

Dari Abu Musa r.a., katanya: “Saya berkata: ‘Ya Rasulullah, manakah kaum Muslimin itu yang lebih utama?’ Beliau s.a.w. menjawab: ‘Yaitu yang orang-orang Islam lain merasa selamat dari gangguan lisannya—yakni pembicaraannya—serta dari tangannya.’” (Muttafaq 'alaih)

Dari Abu Hurairah r.a. bahwasanya ia mendengar Nabi s.a.w. bersabda: “Sesungguhnya seorang hamba itu niscayalah berbicara dengan suatu perkataan yang tidak ia pikirkan baik atau buruknya, maka dengan sebab perkataannya itu ia dapat tergelincir ke neraka yang jaraknya lebih jauh daripada jarak antara sudut timur dan sudut barat.” (Muttafaq 'alaih)

Hadis-hadis di atas memberikan pemahaman bahwa seorang muslim sebaiknya berpikir dahulu sebelum berbicara. Jika sekiranya informasi atau perkataan yang akan ia sampaikan memuat keraguan mengenai kebenarannya, sebaiknya ia diam. Apalagi jika perkataannya mengandung keburukan, sudah pasti ia harus diam.

Dalam dunia digital seperti sekarang ini, lingkup menjaga lisan juga mencakup menjaga tulisan. Tidak dapat dipungkiri, teknologi internet of things membawa platform digital masuk ke dalam kehidupan kita sehari-hari dalam berbagai aspek. Begitu mudah kita menuliskan kata dalam pesan singkat (SMS), Whatsapp, forum, blog, jejaring sosial, dan kolom komentar di situs berita daring sebagai pengganti ucapan lisan dalam berinteraksi. Bentuk komunikasinya mungkin berbeda, tetapi sejatinya ia memiliki esensi yang sama.

Zaman muda dulu aku tidak terlalu memusingkan isi tulisanku di media sosial. Kebanyakan tulisanku memang berkisah seputar aku sendiri dan tidak menyinggung orang lain, tetapi hampir semua isinya tidak disaring terlebih dahulu. Segala kegalauan, kekecewaan, dan kesedihan ditumpahkan begitu saja hingga pernah mengundang komentar negatif dari seseorang yang membuatku meradang. Belakangan ketika aku lebih dewasa, aku banyak berpikir tentang jejak digital dan bagaimana kita meninggalkan kebaikan. Kita tidak pernah tahu seberapa jauh tulisan kita melanglang buana dan seberapa banyak orang yang telah membacanya. Jika tulisan itu membawa keburukan, jangan-jangan kita telah melakukan dosa jariyah, astaghfirullah.

Oleh karena itu, sekarang aku berusaha hanya menulis konten yang positif saja. Aku melakukannya bukan dalam rangka “cari aman”, tetapi karena aku sadar bahwa lebih dari itu … kelak di akhirat kita juga akan dimintai pertanggungjawaban. Lagipula rasanya malu, bukan, ketika tulisan-tulisan kita yang buruk dibaca oleh anak cucu? 

Melihat dunia digital saat ini yang sangat carut-marut karena terlalu banyak ujaran kebencian dan konten negatif, kita membutuhkan kecerdasan dalam literasi digital supaya komunikasi daring berjalan dengan bijak, memuat konten-konten positif, dan membuat nyaman penggunanya. Apalagi sebagai seorang muslim, kita terikat pada norma agama yang mengharuskan kita memelihara lisan (dan tulisan) dalam pergaulan. Dengan pemahaman seperti ini, mudah-mudahan kita dapat selalu wawas diri untuk menjaga adab dalam berkomunikasi, baik secara luring maupun secara daring.

Monday, September 20, 2021

Cara Mudah Belajar Sains

Jika melihat laman-laman para ibu binangkit yang sering membuat sendiri bahan ajar maupun prakarya untuk anak-anaknya, kadang aku merasa cemburu. Selain tidak kreatif, aku juga tidak memiliki banyak waktu untuk membersamai anak. Untungnya di zaman serba praktis seperti saat ini, ada beberapa vendor yang menyediakan bahan-bahan siap pakai untuk berbagai kegiatan bersama anak, mulai dari eksperimen sains, seni, hingga kerajinan tangan.

Dulu ketika anakku masih dua, aku berkenalan dengan Planet Sains, sebuah komunitas penggiat sains yang menyediakan kit eksperimen sains siap pakai dengan beragam tema untuk berbagai usia. Sebagai ibu yang miskin kreasi, aku sangat terbantu dengan kit-kit yang mereka sediakan. Kit-kit itu berisi alat dan bahan percobaan sains sederhana, komplet dengan instruksi dan langkah kerja. Yang lebih mengasyikkan, kit itu dilengkapi juga dengan tulisan pendek yang menceritakan fenomena sains dari percobaan yang dilakukan. Dengan demikian, sambil mendampingi anak bereksperimen, orang tua dapat memberikan pengetahuan tentang landasan ilmiahnya.


Eksperimen mencampur baking soda dengan larutan asam sitrat sehingga menghasilkan gas karbondioksida untuk menggembungkan balon

Teknik melapis logam dengan cara sederhana menggunakan serbuk asam sitrat dan garam yang dilarutkan ke dalam air

Belajar prinsip oksidasi melalui pencampuran pewarna makanan dengan cairan pemutih pakaian

Ketika anak-anakku masuk SD, aku sangat senang mengetahui bahwa Planet Sains melakukan pendampingan untuk ekstrakurikuler sains di sekolah mereka. Setiap minggu mereka akan berkumpul dan melakukan percobaan sederhana, mencatat hasilnya pada buku catatan, serta berdiskusi bersama. Kegiatan ini tentu sangat bermanfaat untuk merangsang keingintahuan anak terhadap fenomena sains dan membiasakan anak berpikir menggunakan metode berpikir ilmiah.

Ketika kami pindah dari Bandung, alhamdulillah di sekolah anak-anak yang baru juga ada ekstrakurikuler sains. Vendor yang mendampingi mereka adalah Rumah Eksplorasi yang juga menyediakan kit eksperimen lengkap seperti Planet Sains. Berhubung masih pandemi, kit-kit eksperimen itu diambil dari sekolah setiap awal bulan, kemudian anak-anak “berkumpul” melalui Zoom untuk melakukan percobaan bersama. Eksperimen mandiri di rumah seperti ini tentu ada kekurangannya. Karena anakku tidak didampingi secara langsung oleh orang dewasa—dia melakukan semuanya sendiri—beberapa percobaan sempat mengalami kegagalan. Jika ada waktu, sepulang kerja aku akan mendampinginya untuk mengulik percobaan itu demi mengetahui penyebab kegagalannya, lalu mencoba memperbaikinya bersama-sama.


Penjelasan mengenai eksperimen tornado botol dari Rumah Eksplorasi


Jadi, pesanku untuk para orang tua yang cukup sibuk: jangan khawatir, ya. Ketiadaan waktu untuk menyediakan atau membuat alat dan bahan eksperimen bisa diakali dengan memanfaatkan kit eksperimen sains siap pakai. Yang kita lakukan tinggal menyediakan waktu untuk beraktivitas bersama anak, membuka diri untuk dihujani dengan pertanyaan-pertanyaan anak, dan berusaha menjawab keingintahuan mereka dengan informasi yang memadai. Mudah-mudahan kelak anak bisa tumbuh besar dengan tetap mempertahankan keingintahuan mereka terhadap peristiwa dan fenomena yang terjadi di dunia ini—apapun profesi mereka nanti—karena keingintahuan adalah modal dasar untuk belajar.

Monday, September 13, 2021

Aku, Anak-Anak, dan Minat Baca

Sejak aku kecil, membaca sudah menjadi duniaku. Aku tak ingat persisnya mulai usia berapa aku gemar membaca. Namun, aku ingat jelas: masa kecilku kuhabiskan dengan menekuri lembar demi lembar majalah Bobo; komik bergambar macam Nina, Tintin, Asterix, atau Steven Sterk; komik Jepang semisal Candy Candy, Pansy, Mari-chan, atau Doraemon; novel seperti Lima Sekawan, Trio Detektif, Stop, atau Malory Towers; bahkan novel detektif karya Agatha Christie.

Begitu senangnya aku membaca sehingga pergi ke perpustakaan, toko buku, atau tempat persewaan buku menjadi suatu agenda yang menyenangkan. Aku tak tahu pasti penyebab minat bacaku waktu itu tumbuh dengan pesat. Hal itu mungkin dikarenakan orang tuaku sering membelikan buku dan menyediakan aneka bacaan di rumah.

Beranjak dewasa, aku menyadari bahwa buku adalah jendela dunia. Aku pernah menjadi salah satu kandidat terbaik dalam seleksi yang diadakan oleh sebuah kantor surat kabar di Jakarta ketika mereka mencari calon wartawan baru. Pertanyaan dan tes yang diajukan kebanyakan tentang pengetahuan umum. Aku yakin kegemaranku membaca rubrik pengetahuan di majalah, membaca koran, dan melihat berita di televisi, turut andil dalam hal itu.

Anak yang minat bacanya tinggi cenderung lebih gampang menerima informasi. Tentu pengetahuan mereka juga lebih banyak. Untuk menulis, mereka tidak akan menemui kesulitan yang berarti karena perbendaharaan kata sudah beragam. Bahkan aku pernah membaca—entah di mana aku lupa—anak yang suka membaca lebih pandai dan lebih kritis, terutama dalam diskusi, dibanding dengan yang tidak suka membaca.

Karena menyadari hal-hal tersebut di atas, aku bertekad ingin selalu menimbulkan minat baca pada anak. Eksperimen pertama kulakukan pada adikku bertahun-tahun lalu untuk membuktikan bahwa usaha membombardir anak dengan buku akan bisa menjadikan anak suka membaca. 

Sejak adikku berusia tujuh tahun, aku selalu rutin menghadiahinya buku ketika dia berulang tahun, mulai dari buku bergambar hingga novel tebal ketika dia sudah beranjak remaja. Ternyata benar, dia tumbuh menjadi seseorang yang gemar membaca. Waktu aku kuliah, masa-masa mudik selalu kuisi dengan agenda pergi ke toko buku bersamanya. Dia sudah berhasil menamatkan novel Harry Potter yang setebal bantal dalam waktu dua hari ketika dia belum lagi lulus SD. Ketika SMP, dia mulai suka membaca koran. Pengetahuannya bertambah; kemampuan menulisnya juga bertambah. Aku tak bisa lebih bangga, dia masuk dalam jajaran anak-anak pintar di kelasnya.

Eksperimen kedua kulakukan pada anak-anakku. Yah, ini sebenarnya bukan lagi eksperimen, melainkan suatu tindakan yang didasarkan pada kesadaran nyata tentang pentingnya menumbuhkan minat baca pada anak. Sejak anak sulungku berusia enam bulan, kami rutin membelikan softbook, boardbook, dan buku-buku bergambar yang lebih beraneka ragam. Aku, suami, dan pengasuh sering mengadakan sesi membaca buku. Rata-rata ketika anak-anakku berusia dua tahun, mereka sudah mulai bisa memahami jalan cerita. Biasanya setelah bercerita, kami mengajukan beberapa pertanyaan untuk menguji seberapa jauh pemahaman mereka. Kadang-kadang kami menyuruh mereka bercerita dengan kalimat mereka sendiri.

Kebiasaan membaca sudah mulai menjadi kebiasaan yang tertanam pada diri anak-anak, terutama anak sulungku yang kelihatannya paling gemar membaca dibanding adik-adiknya. Sesaat sebelum naik ke tempat tidur di malam hari, mereka akan memastikan barang-barang favoritnya sudah dibawa serta, seperti mainan kesukaan dan buku pilihan untuk malam itu. Dengan gembira mereka akan membuka-buka buku lalu bercerita tentang halaman tertentu dengan antusias. Jika minta dibacakan, mereka akan duduk manis di pangkuanku setelah sebelumnya menyodorkan buku padaku. Hmm … buah dari usahaku selama ini untuk menjadikan mereka suka membaca, alhamdulillah sudah mulai terlihat sedikit demi sedikit.

“A reader lives a thousand lives before he dies, said Jojen. The man who never reads lives only one.” ― George R.R. Martin, A Dance with Dragons

Monday, September 06, 2021

Aku dan Literasi

Menurut KBBI, literasi adalah kemampuan menulis dan membaca; pengetahuan atau keterampilan dalam bidang atau aktivitas tertentu; atau kemampuan individu dalam mengolah informasi dan pengetahuan untuk kecakapan hidup. Ternyata definisi literasi ada banyak, ya—meskipun kebanyakan orang langsung mengaitkannya dengan kemampuan menulis dan membaca saja. Jenisnya pun bermacam-macam, mulai dari literasi baca tulis, numerasi, sains, finansial, digital, hingga budaya dan kewargaan.

Perjalananku dalam literasi baca tulis dimulai sejak TK. Saat itu aku termasuk anak yang antusias mempelajari huruf dan kata sehingga aku sudah bisa membaca ketika masuk SD. Di masa SD, rasanya aku tidak memiliki kesulitan dalam memahami bacaan dan menuangkan ide ke dalam tulisan. Bahkan mengarang menjadi subjek pelajaran favoritku karena aku dapat bebas merangkai kata sesuai imajinasi. Sejak usia belia aku sangat menikmati aktivitas menulis puisi dan cerita pendek. Berbagai jenis bacaan kulahap dan waktu istirahat sangat kunantikan untuk pergi ke perpustakaan sekolah.

Menginjak bangku kuliah, aku sempat menulis untuk jurnalistik kampus. Selepas lulus aku bahkan sempat diterima bekerja menjadi editor dan wartawan. Namun, ternyata jalan hidupku tidak di situ karena aku memilih bekerja di tempat lain. Ketika sudah berumah tangga dan memiliki anak, aku berkesempatan menerbitkan beberapa antologi nonfiksi, kumpulan cerpen anak, antologi cerpen, dan antologi fiksi mini. Beberapa pengakuan yang kudapat dari hasil lomba atau event menulis membuatku makin percaya diri untuk terus menekuni dunia menulis ini.

Berbeda dengan literasi baca tulis, kemampuanku sebagai literat di bidang lain tidak terlalu menonjol. Dalam hal literasi numerasi, misalnya, aku tidak terlalu pandai membaca angka dan simbol. Kalau ada grafik, tabel, atau bagan yang agak rumit—seperti tabel-tabel dalam jurnal ilmiah—aku membutuhkan waktu sedikit lebih lama untuk memahaminya dibanding orang lain. Dalam hal literasi sains, yang diartikan sebagai kemampuan memahami fenomena alam di sekitar dengan menggunakan metode berpikir inkuiri, aku juga tak terlalu pandai. Mengulik fenomena sainsnya sih aku suka, seperti membahas sebab akibat pada suatu peristiwa sains. Namun, untuk menelitinya sesuai metode ilmiah, aku malas, hahaha. Oleh karena itu, aku memilih untuk tidak menjadi peneliti meskipun bekerja di lembaga riset.

Bicara soal literasi budaya dan kewargaan, menurutku pemahaman terhadap keragaman budaya serta pemahaman terhadap hak dan kewajiban sebagai warga masyarakat mutlak perlu dimiliki oleh seseorang. Kita semua adalah makhluk sosial yang harus mengerti bahwa ada batasan norma dan aturan dalam berinteraksi. Seperti yang pernah kusinggung di sini, konsep keberagaman seharusnya tidak hanya berada pada tataran teori. Praktik tentang keberagaman—misalnya pergi ke berbagai tempat, menuntut ilmu di beraneka institusi, dan bertemu dengan bermacam-macam orang—dapat membuat kita memahami arti perbedaan dan arti toleransi yang sesungguhnya.

Menumbuhkan kemampuan literasi memang bukan pekerjaan semalam. Indeed usaha ini tidak mudah, mengingat kurangnya kemampuan literasi kebanyakan masyarakat kita. Yuk, kita bersama-sama berusaha mulai dari apa yang kita bisa dan mulai dari keluarga terdekat sehingga dapat mencapai slogan yang digaungkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan: dengan literasi, kita mampu menjalani hidup sekarang dan nanti di masa depan dengan lebih baik.

Monday, August 02, 2021

Keberagaman di Mata Anak-Anak

Anak-anakku mengenal konteks keberagaman kira-kira ketika mereka memasuki usia SD. Pasalnya ada pelajaran Bahasa Sunda di sekolah, yang akhirnya membuat kami bercerita lebih banyak tentang asal-usul leluhur mereka akibat lontaran pertanyaan “Kenapa Ayah dan Bunda nggak ngerti bahasa Sunda?”, hahaha. Ya, kami memang sudah dua puluh satu tahun tinggal di Bandung. Namun, karena seluruh keluarga berasal dari Jawa Tengah dan sejak dulu lingkaran pertemanan kami banyak berkisar di komunitas orang Jawa, kami tidak terlalu fasih berbahasa Sunda.

Konsep keberagaman ini merupakan konsep yang unik bagi anak-anak. Maklum, di usia itu mereka masih mempertanyakan banyak hal akibat keingintahuan yang tinggi, terutama ketika mereka melihat ada orang yang berbeda dengan mereka. Sesederhana kenyataan mengapa orang lain menggunakan bahasa yang berbeda atau mengapa orang lain memiliki agama yang berbeda, dapat mengusik keingintahuan mereka. Sebagai orang tua, kami tentu harus membahasakan perbedaan itu dengan kalimat yang baik dan mudah dimengerti, tanpa menimbulkan rasa intoleransi.

Di sekolah mereka belajar teori mengenai bermacam-macam suku, budaya, bahasa, atau agama. Mereka juga belajar adab saling menghargai dari buku teks. Namun di dunia nyata, kehidupan tidak semudah teori. Adakalanya anak-anak tidak mengerti apa yang teman-teman mereka obrolkan karena berbeda bahasa. Untungnya hal itu tidak pernah menjadi masalah sejauh ini. Mereka punya cara sendiri untuk bisa berbaur dengan teman meski berbeda bahasa ibu.

Yang agak susah adalah menyederhanakan pemahaman mereka soal perbedaan agama atau keyakinan. Terus terang aku agak kelimpungan menjelaskan mengapa orang lain melakukan ritual agama yang berbeda dengan kami. Pertanyaan-pertanyaan ini menjadi susah karena sebelumnya kami harus meletakkan pondasi ketauhidan terlebih dahulu dalam dada mereka, sehingga ketika mereka melihat orang lain yang berbeda … hal itu tidak akan menjadi masalah sebab mereka tahu bagaimana harus menyikapinya. Yang lebih tricky sebenarnya ketika mereka melontarkan pertanyaan dengan suara keras di depan orang yang bersangkutan, misalnya “Bun, kenapa Tante itu nggak pake jilbab?”. Kalau sudah begitu kami terpaksa harus cepat-cepat menarik mereka untuk menjauh karena khawatir perkataan mereka dapat menyinggung orang lain.

Konsep keberagaman memang seharusnya tidak hanya diajarkan secara teoritis. Bukankah banyak manusia di negeri ini yang sudah hafal kalimat-kalimat yang menggaungkan toleransi sejak mereka SD, tetapi gagal menerapkannya dalam kehidupan bermasyarakat? Saat ini anak-anak kami memang masih bersekolah di sekolah islami demi penguatan pondasi nilai-nilai beragama, tetapi aku berharap kelak suatu hari nanti mereka dapat pergi ke berbagai tempat, menuntut ilmu di beraneka institusi, dan bertemu dengan bermacam-macam orang supaya mereka memahami arti perbedaan dan arti toleransi yang sesungguhnya.

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْا ۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ ۗاِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ

“Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti.” (Q.S. Al-Hujurat: 13)

Sunday, June 27, 2021

Nilai Manfaat Sampah

Perjalananku menjadi pengurus bank sampah dimulai sejak 2015. Awal inisiasinya dimulai dari pertemuan beberapa ibu di kompleks yang concern terhadap masalah sampah. Dari obrolan-obrolan santai, kepedulian ini berlanjut dengan mengundang narasumber dari LSM Hijau Lestari untuk memberikan insight terhadap ibu-ibu kompleks mengenai pentingnya zero waste. Usaha ini tidak mudah, mengingat kebanyakan dari mereka masih sangat awam mengenai pemilahan sampah. Oleh karena itu, pada masa awal bank sampah kompleks kami terbentuk, pengurus sangat getol untuk melakukan edukasi. Dari pemahamanlah semua bermula.

Edukasi yang kami sampaikan sama intinya dengan tulisanku di sini, bahwa sampah ini adalah tanggung jawab kita bersama. Menjaga bumi adalah kewajiban setiap insan sebagai bentuk pertanggungjawaban kita terhadap Yang Mahakuasa. Pertanyaan yang paling sering kami dapatkan adalah mengenai seberapa banyak nilai rupiah yang nasabah bisa dapatkan ketika menyetor sampah. Satu hal yang selalu kami tekankan: jadikan usaha memilah dan menyetor sampah ini sebagai bentuk ibadah dan bentuk kepedulian kita terhadap lingkungan, karena jika kita bicara soal uang, nilainya tentu sedikit sekali yang bisa kita dapatkan. Belum kalau kita bicara soal lelah dan jatuh bangunnya. Jika hanya berharap nilai uang, kita bisa jadi kecewa. Namun, bila usaha ini diniatkan sebagai ibadah dan kontribusi kita dalam memperbaiki lingkungan, insyaallah hati kita lebih tenang dan lebih legawa.


Pengurus bank sampah di kompleks kami

Menyetor sampah dengan mobil :))

Mobil bank sampah Hijau Lestari, bantuan dari BJB

Pada masa awal bank sampah ini berjalan, para pengurus masih sering mendapati adanya setoran sampah yang dicampur-campur. Usaha edukasi ternyata harus terus dilakukan. Selain merepotkan pengurus, setoran sampah yang masih tercampur dan belum dibersihkan ini nilai ekonominya lebih rendah. Sebagai contoh: botol air mineral yang sudah dicopot labelnya dan sudah dipisahkan tutupnya bernilai Rp2.000,00 per kg, sedangkan yang belum hanya bernilai Rp1.500,00 per kg. Berikut ini adalah daftar kategori sampah yang diterima oleh bank sampah kami beserta daftar harganya.



Selain sebagai tabungan, sampah yang dikumpulkan oleh nasabah juga bisa ditukarkan dengan barang-barang yang dijual di HL Ecomart, mini market yang dikelola oleh Hijau Lestari. Sampah ini dibanderol sesuai harga yang ditetapkan oleh Hijau Lestari, kemudian ditukar dengan voucher. Voucher tersebut digunakan sebagai diskon untuk berbelanja. Hijau Lestari juga pernah bekerja sama dengan Twin Tulipware untuk mengurangi sampah plastik akibat penggunaan plastik sekali pakai. Beberapa item sampah dapat ditukarkan dengan diskon hingga 50% untuk mendapatkan produk-produk tertentu dari Twin Tulipware.

Dengan sistem ini, masyarakat akan lebih termotivasi untuk memilah sampah, mengumpulkan, lalu memanfaatkannya untuk ditukar dengan diskon belanja. Bahkan dengan inovasi sistem online yang sempat dikembangkan oleh Hijau Lestari bekerja sama dengan Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Kota Bandung waktu itu, tabungan sampah ini juga bisa digunakan untuk membayar biaya listrik PLN. Ternyata dari sampah yang sering kita pandang sebelah mata, banyak manfaat bisa kita dapatkan. Namun, yang perlu kita ingat: pemilahan sampah ini hanyalah satu dari sekian banyak ikhtiar yang bisa dilakukan jika kita sudah telanjur menghasilkan sampah. Tentu akan lebih bijak jika kita memulai usaha zero waste dari pangkalnya, yaitu mencegah dan mengurangi jumlah sampah itu sendiri.

 

Tautan terkait:

Monday, June 21, 2021

Hidrasi Bagi Tubuh

Air merupakan komponen yang penting dalam tubuh manusia. Persentasenya mencapai 60—70% dari keseluruhan berat badan. Fungsi air di dalam tubuh manusia: membuang kotoran dari tubuh, membawa nutrisi ke sel, menyediakan kelembaban untuk kulit, telinga, hidung, dan tenggorokan, serta membuat tekstur kulit menjadi halus dan kenyal.

Kita kehilangan air melalui keringat, urin, dan nafas. Jadi meskipun kita sedang tidak beraktivitas apa-apa, kita tetap mengeluarkan air melalui hembusan nafas yang berbentuk uap air. Sementara pengeluaran keringat berfungsi untuk menjaga kestabilan suhu tubuh agar tetap normal.

Secara umum, kebutuhan air minimal adalah 50 ml per kg berat badan. Bila kebutuhan air tidak tercukupi, beberapa tanda yang mungkin bisa kita alami antara lain:

  • Kelelahan
  • Sembelit
  • Kram otot
  • Migren
  • Masalah kulit (kering dan mudah terkena sunburn)
  • Jerawat
  • Kantung mata membesar
  • Garis halus dan kerutan kulit terlihat jelas

Orang yang berolahraga membutuhkan jumlah air yang jauh lebih banyak daripada kebutuhan air minimal. Karena ketika kita beraktivitas berat, suhu tubuh meningkat dan memicu pengeluaran keringat. Sekresi keringat ini merupakan mekanisme tubuh untuk menurunkan suhu. Selain itu, mekanisme lain yang dilakukan tubuh untuk menurunkan suhu adalah mengonsentrasikan darah ke arah kulit. Dengan demikian, jantung tidak memompa banyak darah sehingga kadar oksigen dan energi turun.

Oleh karena itu, menjaga hidrasi selama berolahraga menjadi sesuatu yang amat penting. Kenaikan suhu tubuh di atas normal (hipertermia)—yang tidak segera didinginkan dengan hidrasi—dapat menyebabkan mual, muntah, kram otot, sakit kepala, hingga pingsan. Beberapa kiat di bawah ini dapat dilakukan untuk menjaga tubuh tetap terhidrasi dengan baik selama berolahraga.





Salah satu hal yang cukup tricky dalam menjaga tingkat hidrasi tubuh adalah ketika kita sedang berpuasa. Jangan sampai upaya menabung air kita lakukan sekaligus, karena hal itu justru akan membuat mual dan beser. Lakukan hidrasi sedikit demi sedikit dengan frekuensi yang sering pada jam-jam ketika kita sedang tidak berpuasa. Kita juga bisa membagi frekuensi minum seperti infografis di bawah ini hingga kebutuhan air minimal tercukupi.



Kiat lain yang biasa saya lakukan adalah menakar kebutuhan air harian dengan tumbler besar yang memiliki angka ukur. Dengan demikian saya jadi tahu: sudah seberapa banyak air yang saya minum dan kurang berapa banyak kebutuhan air yang harus saya kejar. Karena saya suka minum kopi sementara kopi bersifat diuretik, untuk menjaga supaya tubuh tidak kehilangan air lebih banyak, satu gelas kopi yang saya minum akan saya imbangi dengan tiga gelas air putih setelahnya (tentu bertahap, ya … tidak sekaligus, hehehe).

Mengingat pentingnya fungsi air bagi tubuh, apapun aktivitas yang Anda lakukan, jangan lupa untuk tetap menjaga hidrasi sesuai kebutuhan air minimal. Yuk, kita coba lakukan kiat-kiat di atas.

Tuesday, September 03, 2019

Postpartum Exercise


Ilmu sebelum amal. Dalam hal apapun. Bersyukur aku diberi kesempatan untuk memahami persoalan postnatal ini. Jadi ya Buu.. pascamelahirkan there's no need to jump back to your regular exercise immediately. Jangan langsung sit-up demi perut buncit cepet kempes, jangan langsung lari demi pengen cepet turun berat badan, jangan langsung senam aerobik demi bodi cepet langsing. Benerin core dulu ya Buuu. Dan ini prosesnya beda-beda tiap orang. Bisa 3 bulan, bisa 6 bulan.. tergantung kondisi dan treatment apa yang dilakukan.

Berdasar self-assesment, pascamelahirkan aku punya DR 1-2-1. Maksudnya gap diastasis recti-nya 1 jari di atas pusar, 2 jari di area pusar, dan 1 jari di bawah pusar. Yang satu jari inipun nggak bisa dibilang aman karena depth-nya lumayan. So sekarang mulai disiplin merutinkan postnatal exercise tiap hari, minimal 30 menit sampai satu jam. Berhubung di Bandung susah banget cari postnatal class, ya sudah harus cukup puas bermodal Youtube 😅

Let the postpartum journey begin!

Monday, April 07, 2014

Mengurus Paspor

Beberapa hari menjelang kembali masuk kerja, aku menyempatkan diri membuat paspor baru untuk aku dan anak-anak, memanfaatkan waktu bebas yang tersisa di saat-saat terakhir sebelum mulai ngantor kembali. Sebelum memulai proses, aku sudah mencari informasi tentang pembuatan paspor online, terutama pembuatan paspor untuk anak-anak di bawah umur yang KTP saja bahkan belum punya. Setelah tanya sana-sini, aku akhirnya tertambat di blog Essa. Di situ Essa menuliskan pengalamannya membuat paspor untuk anak dan bayi. Berbekal informasi dari situ, dengan pedenya aku mengurus pembuatan paspor, tanpa tahu kalau perbedaan kondisi antara aku dan Essa menyisakan beberapa berkas yang tertinggal dan cukup membuatku pontang-panting.

Oke, first of all, mengapa harus online? Untuk mengurangi frekuensi waktu kedatangan ke kantor imigrasi. Proses pembuatan paspor secara manual memerlukan tiga kali waktu kedatangan ke kantor imigrasi. Bila kita melakukan pembuatan paspor secara online, kita hanya perlu datang dua kali. Pertama untuk mengumpulkan berkas dan difoto, lalu kedatangan kedua untuk mengambil paspor yang sudah jadi. Pendaftaran dilakukan secara online sebelum dua proses tersebut, sehingga lumayan mempersingkat proses. Sekedar info, untuk satu proses di kantor imigrasi saja, kita sebaiknya mengambil nomor antrian pagi-pagi sekali (sebelum jam enam pagi) untuk mendapat nomor antrian kecil. Nomor antrian besar identik dengan waktu antri berjam-jam lamanya. Jadi kalau ada kesempatan mengurangi frekuensi kedatangan dan mengurangi satu proses dengan sistem online, mengapa tidak? Cara online tentunya menghemat waktu, biaya, dan tenaga.

Untuk pembuatan paspor secara online, silakan meluncur ke sini. Sementara petunjuk pembuatannya bisa dilihat di sini.


TAHAP 1: Pendaftaran paspor secara online untuk mendapatkan pra permohonan personal


Persyaratan untuk di-submit secara online:
  1. Hasil scan Kartu Keluarga (JPEG, grey scale)
  2. Hasil scan Akte Kelahiran (JPEG, grey scale)
  3. Hasil scan KTP (untuk anak/bayi, KTP yang diperlukan adalah KTP ayah atau ibunya, salah satu saja) (JPEG, grey scale)
  4. Hasil scan paspor lama (bila sudah punya paspor sebelumnya/habis berlaku) (JPEG, grey scale)
  5. Ukuran tinggi badan (dalam cm)

Berikut ini aku coba jelaskan langkah-langkahnya ya.


Tahap 1a

  1. Masuk ke situs ini lalu pilih pra pemohonan proposal.
  2. Pilih jenis permohonan –-> pembuatan paspor baru, atau penggantian, perubahan, dsb.
  3. Nomor paspor lama –-> jangan diisi bila sebelumnya tidak punya paspor.
  4. Jenis paspor –-> bisa pilih paspor 48H (H disini maksudnya halaman, jadi untuk pembuatan paspor sejumlah 48 halaman) seharga Rp 200.000 atau 24H seharga Rp 50.000.
  5. Nomor rekomendasi Kemenaker –-> tidak usah diisi, ini untuk TKI.
  6. Kemudian isilah nama lengkap, jenis kelamin, tinggi, tanggal lahir, tempat lahir, status sipil (nikah/belum nikah).

Catatan untuk Tahap 1a
  1. Untuk alamat e-mail –-> masukkan dengan benar, jangan sampai ada karakter yang tidak tepat, karena konfirmasi akan masuk ke e-mail. Untuk pembuatan paspor online lebih dari satu (misalnya untuk dua orang anak sekaligus), masukkan alamat e-mail yang berbeda, karena satu e-mail hanya untuk satu pemohon saja.
  2. Untuk pekerjaan –-> isi sesuai status pekerjaan, untuk anak/bayi, pilih: lainnya.
  3. Untuk nomor identitas –-> bagi orang dewasa diisi dengan nomor KTP. Untuk anak/bayi, kolom ini diisi dengan NIK anak yang tertera di KK.
  4. Tempat ID dikeluarkan –-> isi dengan nama kota dimana KTP (untuk orang dewasa) atau KK (untuk anak/bayi) diterbitkan.
  5. Untuk tanggal ID dikeluarkan –-> isi dengan tanggal pembuatan KTP (untuk orang dewasa) atau KK (untuk anak/bayi).
  6. Untuk ID berlaku sampai dengan –-> untuk orang dewasa, diisi dengan tanggal masa berlaku KTP berakhir. Sementara untuk anak/bayi, diisi dengan tanggal pembuatan KK ditambah lima tahun. Misalnya: pembuatan KK 15 Desember 2013, berarti ID berlaku sampai dengan 15 Desember 2018.
  7. Pastikan semua telah diisi dengan benar, lalu klik lanjut.

Tahap 1b

  1. Cek resolusi hasil scan pada poin persyaratan di atas. Format hasil scan harus dalam format JPEG dan grey scale. Meskipun tertulis “file tidak boleh lebih dari 1000 KB”, alangkah lebih baik jika ukuran file di bawah 250 KB untuk memudahkan. Karena pengalamanku, file yang berukuran hampir 300 KB saja tidak diizinkan diunggah karena dianggap terlalu besar.
  2. Unggah hasil scan tersebut. Berkas yang diunggah minimal ada tiga macam. Jika kurang dari tiga macam, proses tidak dapat dilanjutkan. Karena anak/bayi belum memiliki KTP, yang diunggah adalah KTP ayah atau ibunya (salah satu saja).
  3. Setelah itu, lanjutkan proses sampai notifikasi dikirim ke e-mail.

Tahap 1c

  1. Buka e-mail, unduh file terlampir dalam format PDF, lalu cetak file tersebut untuk keperluan melakukan pembayaran ke BNI.
  2. Bawa hasil cetaknya ke BNI terdekat.
  3. Biaya total untuk paspor 48H adalah Rp 255.000 per paspor dan untuk paspor 24H adalah Rp 105.000 per paspor, ditambah Rp 5.000 untuk biaya administrasi bank.
  4. Simpan bukti pembayaran.
Contoh file terlampir yang harus dibawa ke teller BNI.

Tahap 1d

  1. Masuk kembali ke e-mail, lalu klik tautan konfirmasi yang ada di e-mail untuk melakukan pengisian bukti pembayaran BNI.
  2. Masukkan nomor REF BANK ke kolom,  lalu klik lanjut.
  3. Pilih jadwal (tanggal dan hari) untuk menentukan waktu kedatangan kita ke kantor imigrasi.
  4. Cek lagi e-mail dan unduh bukti telah melakukan registrasi online dengan berhasil. Bukti ini penting untuk mendapatkan nomor antrian pada saat kita datang ke kantor imigrasi.
Tanda terima permohonan sebagai bukti telah melakukan registrasi online dengan berhasil, di dalamnya tertera waktu kedatangan ke kantor imigrasi.

TAHAP 2: Datang ke kantor imigrasi untuk pengambilan foto dan sidik jari


Persyaratan yang harus dibawa ke kantor imigrasi:
  1. Tanda terima permohonan seperti gambar di atas.
  2. Bawa semua berkas asli beserta fotokopinya, yang difotokopi di atas kertas A4.
  3. Untuk orang dewasa, berkasnya sebagai berikut: KTP diri, Akte Kelahiran, KK, surat rekomendasi dari instansi kerja (tidak perlu ada bila tidak bekerja), dan ijazah terakhir.
  4. Untuk anak/bayi, berkasnya sebagai berikut: Akte Kelahiran, KK, KTP ibu dan ayah (keduanya harus ada), Akte Kelahiran ibu dan ayah (keduanya harus ada), serta buku nikah orang tua. Tambahan bila paspor diuruskan oleh ibu, maka harus ada surat kuasa bermaterai dari ayah sebagai kepala keluarga, tentang penunjukan pengurusan paspor yang dikuasakan ke ibu (ribetnyaaaaa..).
  5. Bukti pembayaran dari BNI.
  6. Materai Rp 6.000 dan pulpen HITAM. Materai ini butuh banyak ternyata. Masing-masing berkas anak membutuhkan lebih dari dua materai, kalau aku tidak salah ingat.

Jangan lupa:
  1. Pakai pakaian sopan dan berwarna selain putih. Biasanya kemeja atau polo shirt untuk anak laki-laki.
  2. Bawa makanan ringan, buku, atau mainan untuk meredakan kebosanan anak menunggu antrian.

Berikut ini aku coba jelaskan langkah-langkahnya untuk proses Tahap 2, setelah persyaratan di atas siap kita bawa.
  1. Usahakan datang pagi-pagi, kalau bisa sebelum jam enam pagi untuk mengambil nomor antrian. Tujuannya agar mendapat nomor antrian kecil sehingga kita tak perlu menunggu lama untuk dipanggil. Tapi hati-hati kalau mendapat nomor kecil kemudian kita pergi dulu sembari menunggu antrian. Salah-salah kejadian sepertiku. Jadi ceritanya setelah dibela-belain datang pagi sekali dan mendapat nomor antrian kecil untuk aku dan anak-anak, aku pulang dulu untuk menjemput anak-anak. Ketika sampai kembali di kantor imigrasi, ternyata nomor antrianku sudah terlewat dong (dueenggggg..). Risikonya harus mengambil nomor antrian baru lagi, dimana waktu tunggu nomor antrian besar bisa sampai berjam-jam lamanya. Untunglah petugasnya mengizinkan kami langsung masuk tanpa menunggu antrian baru, meskipun sambil bermuka masam.
  2. Setelah mendapat nomor antrian,  minta ke petugas: map imigrasi beserta formulir yang harus diisi dan ditandatangani. Untuk anak/bayi, tanda tangan di atas materai dilakukan oleh ayah atau ibunya. Jangan lupa, cover map juga harus ditulisi.
  3. Isi formulir dengan lengkap dan simpan semua berkas di dalam map dengan rapi.
  4. Ketika dipanggil ke ruang foto, serahkan map untuk diverifikasi, lalu posisikan diri kita atau anak/bayi untuk bisa difoto dengan baik. Pada foto, gigi tidak boleh terlihat. Di sini juga ada cerita tersendiri. Untuk Hanif, dibutuhkan tiga kali take sampai hasil fotonya sesuai ketentuan. Namun untuk Dek Abi, sepertinya sampai sepuluh kali take. Subhanallah, aku sampai berkeringat membujuk Dek Abi, karena dia sudah hampir menangis. Ada jepretan yang miring lah, ada yang terlihat giginya lah, sampai dia bete dan pemotretan harus ditunda sejenak. Repotnya membuat paspor untuk anak-anak, ckckckck..
  5. Setelah difoto, sidik jari akan di-scan.
  6. Setelah itu, kita akan mendapat tanda terima untuk pengambilan paspor. Paspor akan selesai dalam waktu tiga hari kerja.

TAHAP 3: Pengambilan paspor


Sama seperti Tahap 2, usahakan datang pagi-pagi untuk mendapat nomor antrian kecil. Di sini aku kembali mengalami salah strategi. Karena takut terlewat lagi nomor antriannya, aku sengaja datang agak siang: menjelang pukul 07.30. Hiks, ternyata dapatnya nomor ratusan, dan harus menunggu selama empat jam :(

Langkah-langkahnya sebagai berikut:
  1. Ambil nomor antrian.
  2. Setelah dipanggil, serahkan tanda terima untuk pengambilan paspor.
  3. Ketika ditanya: “mana bukti pembayaran BNI-nya?”, bilang saja: “saya pemohon online, bukti pembayaran sudah diserahkan kepada petugas sewaktu pengambilan foto”.
  4. Tunggu sampai nama kita atau anak kita dipanggil, lalu tanda tangani paspornya di depan petugas. Untuk anak di bawah umur, paspornya tidak perlu ditandatangani.

Catatan:
  1. Siapkan materai Rp 6.000 untuk pengambilan paspor lama (bagi yang mau diambil lagi paspor lamanya).
  2. Untuk orang dewasa, pengambilan paspor TIDAK BISA DIWAKILKAN. Untuk anak-anak, pengambilan paspor boleh dilakukan hanya oleh ayah atau ibunya saja.
  3. Jangan lupa untuk membeli sampul paspor di koperasi, supaya paspor tidak gampang rusak. Harganya Rp 4.000.

Berkas yang Tertinggal


Tulisan ini dikutip dengan perubahan seperlunya dari sini. Karena ketidaktahuanku, ada beberapa dokumen yang tertinggal dalam proses Tahap 2. Lagi-lagi karena kebaikan petugas, setelah aku dan anak-anak difoto, aku diperkenankan menyusulkan dokumen-dokumen itu (meskipun harus pada hari yang sama). Dianggapnya kurang secara minor, jadi masih bisa disusulkan. Dianggap minor mungkin karena cuma sedikit yang belum ada atau tidak lengkap. Kalau sebagian besar tidak ada, ya bisa-bisa disuruh meninggalkan ruangan ehehe.

Beberapa dokumen yang tidak ada di tulisan Essa disebabkan karena kondisi kami berbeda. Berikut adalah dokumen yang tertinggal dan penjelasannya:
  1. Surat rekomendasi dari instansi kerja –-> Essa tidak perlu karena statusnya tidak bekerja, sedangkan aku diharuskan melampirkan itu karena statusku PNS.
  2. Akte Kelahiran kedua orang tua untuk pengurusan paspor Hanif dan Dek Abi –-> waktu itu aku cuma bawa Akte Kelahiran milikku saja, ternyata punya suamiku juga harus disertakan.
  3. Surat kuasa dari suamiku –-> Essa juga tidak perlu karena waktu itu dia datang bersama suaminya, sehingga suaminya yang in charge, tidak perlu dikuasakan ke pihak istri seperti kasusku. Terkait dengan surat kuasa ini, ada juga yang bilang kalau pada saat wawancara ayah dan ibu dari anak yang dimohonkan paspornya, diharuskan datang KEDUANYA. Kalau cuma salah satu yang datang, harus membawa surat kuasa dari pihak yang tidak bisa hadir. Nah, ketentuan seperti ini nih yang rawan miss, karena setahuku keterangannya tidak ada di situs sehingga menyulitkan pencari informasi online seperti diriku.
Pffff, sudah berburu informasi sebelumnya saja masih ada yang tertinggal, bagaimana kalau tidak.. Hmmphh.. Paspor oh paspor..

Dan taraaaaa.. ini dia paspor yang diperoleh dengan bersimbah peluh itu...



Mukanya lucu-lucu yaa.. namanya juga anak-anak :D

Wednesday, March 19, 2014

Mengurus Mutasi SIM

Sudah lama aku ingin mengurus proses mutasi SIM untuk mengubah status SIM Solo menjadi SIM Bandung, karena sejak 2012 lalu KTP-ku sudah resmi berubah menjadi KTP Bandung. Karena alasan malas dan belum merasa statusnya mendesak, aku menunda-nunda terus urusan ini. Kemudian kesibukan mengejar tenggat tesis beberapa bulan ini, sukses membuatku lupa sama sekali pada urusan mutasi.

Akhirnya beberapa hari menjelang ulang tahunku yang ke-32, setelah semua urusan revisi tesis dan persyaratan wisuda selesai, aku menyempatkan diri mengurus mutasi. Selain juga karena terdesak oleh masa berlaku SIM yang akan segera habis, hehe. Mulailah aku berkunjung ke kantor Satlantas Bandung di Jl. Jawa dan menanyakan bagaimana mengurus mutasi SIM. Oh, ternyata harus ada berkas-berkas yang dikirim dari Satlantas Solo. Maka aku menghubungi Mami untuk membantu mengurus berkas pengantar mutasi dari Satlantas Solo.

Syarat untuk mendapatkan berkas pengantar mutasi dari Satlantas Solo:
  • Fotokopi KTP Bandung.
  • Fotokopi SIM A yang dikeluarkan Satlantas Solo.
  • Fotokopi SIM C yang dikeluarkan Satlantas Solo.
Masing-masing satu lembar saja.

Rabu, 12 Maret 2014, aku meluncur ke Jl. Jawa. Waktu menunjukkan pukul 10 pagi ketika aku muncul di loket pendaftaran. Ternyata berkas Kartu Keluarga ketinggalan, Saudara-saudara! Nggak ngeh juga kalau harus melampirkan itu. Setelah pulang pergi ke rumah mengambil KK yang ketinggalan, jam 11 kurang aku sudah tiba kembali dan siap memulai proses mutasi. Jadi begini alurnya:

Pemeriksaan kesehatan
Satlantas Bandung tidak menyediakan pos pemeriksaan kesehatan, tapi kita bisa datang ke praktek dokter di Jl. Nias Dalam untuk mendapat surat keterangan sehat. Letaknya tidak jauh dari situ, dan tempat itu sudah jamak didatangi para pemohon SIM. Proses periksanya pun cepat sekali, rasanya hanya untuk formalitas belaka. Pemohon akan diperiksa tekanan darah, tes buta warna, tes mata, penimbangan berat badan, serta pengukuran tinggi badan dalam waktu kurang dari lima menit. Syaratnya hanya membawa KTP asli.

Loket 8 (Arsip)
Kemudian aku melapor kedatangan ke bagian Arsip untuk mendapatkan surat keterangan mutasi. Persyaratan yang dibawa:
  • Berkas pengantar mutasi dari Satlantas Solo.
  • Fotokopi KTP.
  • Fotokopi KK.
  • Fotokopi SIM A yang dikeluarkan Satlantas Solo.
  • Fotokopi SIM C yang dikeluarkan Satlantas Solo.
Tunggu sampai nama dipanggil.

Loket Asuransi
Selanjutnya membayar asuransi seharga Rp 30.000,00 untuk masing-masing SIM. Persyaratannya adalah berkas yang tadi kita dapat dari Loket Arsip, yaitu:
  • Berkas pengantar mutasi dari Satlantas Solo.
  • Surat keterangan mutasi dari Loket Arsip.
  • Fotokopi KTP.
  • Fotokopi KK.
  • Fotokopi SIM A yang dikeluarkan Satlantas Solo.
  • Fotokopi SIM C yang dikeluarkan Satlantas Solo.

Loket Pendaftaran
Karena prosesnya mutasi, di loket pendaftaran masuk ke bagian pendaftaran perpanjangan SIM, bukan membuat SIM baru. Persyaratannya:
  • Berkas pengantar mutasi dari Satlantas Solo.
  • Surat keterangan mutasi dari Loket Arsip.
  • KTP asli.
  • SIM A asli.
  • SIM C asli.
  • Fotokopi KTP.
  • Fotokopi KK.
  • Fotokopi SIM A.
  • Fotokopi SIM C.
  • Struk pembayaran asuransi dari Loket Asuransi.

Loket Bank BRI
Semua berkas pendaftaran dibawa ke Loket Bank BRI di ujung koridor, lalu tunggu nama dipanggil. Setelah dipanggil, aku membayar biaya perpanjangan SIM A sebesar Rp 80.000,00 dan biaya perpanjangan SIM C sebesar Rp 75.000,00. Lalu oleh teller bank aku diarahkan untuk menuju ke Loket 6A.

Loket 6A
Loket ini adalah loket pengambilan foto dan sidik jari untuk para pemohon perpanjangan SIM. Jangan lupa bawa pulpen dari rumah ya. Setelah nama dipanggil, aku mengisi formulir data diri, baru kemudian difoto dan dipindai sidik jarinya. Kemudian langsung menuju loket pengambilan SIM.

Loket Pengambilan SIM
Proses pencetakan SIM sama sekali tidak lama. Baru juga membaca beberapa percakapan di Whatsapp, namaku sudah dipanggil untuk menerima SIM baru. Yeay, akhirnya resmi sudah aku mengantongi SIM A dan C dari Satlantas Bandung.

Beberapa hal yang aku garis bawahi dari proses di atas:
  • Pelayanannya cepat dan ramah. Aku masuk pukul 11 kurang, dan keluar pukul 12.25. Artinya pengurusan mutasi ini bahkan tidak sampai dua jam! Merasa amazed deh.
  • Petugasnya baik dan tanggap. Ada cerita lucu: aku sempat nyasar di Loket 6, yaitu loket pengambilan foto dan sidik jari untuk para pemohon SIM baru. Saking baiknya, petugas dari Loket 6A mencariku sampai ke loket ini ketika aku tak kunjung muncul ketika namaku dipanggil di Loket 6A.
  • Aku hampir tak melihat adanya calo dari luar, kecuali mungkin beberapa oknum orang dalam yang membantu memuluskan antrian beberapa pemohon yang “membayar lebih” (you know lah, ehehe). Sangat berbeda dengan pengalaman di masa lampau di mana calo sangat mudah ditemui di tiap sudut.
  • Semua pembayaran dilakukan di loket resmi, dengan kuitansi resmi. Tidak ada pungutan liar sama sekali.

Kuitansi resmi

Rincian biayanya sebagai berikut:
  • Pemeriksaan kesehatan Rp 40.000,00
  • Asuransi SIM A Rp 30.000,00
  • Asuransi SIM C Rp 30.000,00
  • Perpanjangan SIM A Rp 80.000,00
  • Perpanjangan SIM C Rp 75.000,00
Total Rp 255.000,00 untuk dua SIM. Puasss banget deh. Senang rasanya mengurus sendiri kalau pelayanannya memuaskan seperti ini :)

Monday, August 26, 2013

Mastitis

Tiga hari menjelang ulang tahun Hanif yang ke-5 pada 16 Juni 2013, aku terkena mastitis.

Mastitis adalah peradangan pada payudara yang dapat disertai infeksi atau tidak, yang disebabkan oleh kuman atau bakteri. Bakteri dapat berasal dari beberapa sumber: tangan ibu, mulut bayi, tangan orang yang merawat ibu atau bayi, bayi, duktus laktiferus, atau darah sirkulasi. 

Penyebab utama mastitis adalah statis ASI dan infeksi. Statis ASI biasanya merupakan penyebab primer yang dapat disertai atau menyebabkan infeksi. Statis ASI terjadi jika ASI tidak dikeluarkan dengan efisien dari payudara. Hal ini terjadi jika payudara terbendung segera setelah melahirkan, atau setiap saat jika bayi tidak mengisap ASI, kenyutan bayi yang buruk pada payudara, pengisapan yang tidak efektif, pembatasan frekuensi/durasi menyusui, sumbatan pada saluran ASI, suplai ASI yang sangat berlebihan dan menyusui untuk kembar dua/lebih. Untuk infeksi, organisme yang paling sering ditemukan pada mastitis dan abses payudara adalah organisme koagulase-positif Staphylococcus aureus dan Staphylococcus albus. Escherichia coli dan Streptococcus kadang-kadang juga ditemukan. Mastitis jarang ditemukan sebagai komplikasi demam tifoid. (dikutip dari sini)

Jadi ceritanya, siang itu selepas kelas pilates, aku pergi ke kantor Oriflame untuk mengurus pesanan. Sudah ada sedikit rasa nyeri di payudara kiri, awalnya kupikir itu karena otot yang tertarik akibat kelas pilates sebelumnya. Ketika sedang duduk manis menanti antrian, tiba-tiba badan terasa kedinginan. Lama-lama menggigil, diikuti dengan tangan berkeringat, lutut gemetar hebat, dan sendi-sendi terasa kaku. Barulah tahu, pasti ada yang tidak beres dengan badan ini.

Perjalanan pulang dilalui dengan penuh perjuangan. Menahan nyeri yang semakin sakit sambil berusaha tetap sadar dengan kesadaran sepenuhnya karena harus menyetir mobil sendiri. Fyuuuhhh, kalau diingat-ingat rasanya luar biasa. Apalagi lutut yang gemetar dan sendi yang kaku mempersulit kaki ini untuk mengatur persneling dan rem, sampai mesin mobil sempat mati dan ban mobil sempat sedikit naik ke atas trotoar karena jalan mobil tidak dapat dikuasai dengan baik.

Waktu itu memutuskan untuk mengarahkan laju mobil ke kantor, karena selain ada janji dengan teman, jam menjemput Hanif masih lama. Barangkali bisa istirahat sambil memeriksakan diri di kantor. Ternyata sampai di kantor, badan sudah panas tinggi hingga 40 derajat celcius. Ditambah dengan pusing yang kemudian mendera, jadilah aku cuma bisa berbaring di klinik kantor. Para perawat di kantor mengira aku terkena demam berdarah. Sementara aku curiga ini mastitis, karena nyeri di payudara semakin menjadi dan benjolannya semakin keras. Dalam hati aku khawatir juga kalau terkena DB, bisa-bisa rencana acara ulang tahun Hanif bubar, padahal aku sudah memesan kue dan berniat menyiapkan goody bag untuk teman-temannya.

Selama dua hari berikutnya aku hanya bisa berbaring di tempat tidur. Untuk berdiri dan berjalan pun susah karena harus menahan sakit kepala, makan juga tak ada nafsu. Terpaksa memanggil suami pulang untuk ikut mengurus anak karena aku benar-benar tak bisa apa-apa. Masya Allah, baru kali itu aku mengalami kejadian seperti itu. Tak ada hal lain yang aku lakukan kecuali terus-terusan mengompres dan memijat payudara agar benjolannya memudar.

Alhamdulillah tepat pada hari ulang tahun Hanif, aku bisa bangun. Masih pusing sedikit, tapi aku sudah dapat bepergian untuk berbelanja keperluan goody bag. Jadi begini to rasanya kena mastitis itu. Benar-benar pengalaman tak terlupakan. Aku baru tahu bahwa mastitis bisa juga menyerang ibu yang payudaranya tidak sedang terisi penuh. Selama ini kukira mastitis hanya menyerang ibu-ibu yang payudaranya penuh (terbendung) hingga bengkak. Untuk kasus mastitisku, mungkin sumbatan pada saluran ASI-lah penyebabnya. Satu lagi ilmu baru yang diperoleh melalui learning by doing dengan cost of learning yang luarrr biasa :D

Monday, June 03, 2013

ASI untuk Dek Abi

Enam bulan lagi, insya Allah Dek Abi akan lulus S3-ASI. Perjalanan panjang memberikan ASI yang dimulai sebelum kelahirannya: mulai dari membulatkan niat, melengkapi ilmu, melengkapi alat tempur, hingga ujian sebenarnya yang datang sejak ia lahir (baca kisahnya di sini).

ASIX pada Enam Bulan Pertama


Enam bulan pertama adalah masa-masa terberat. Poin-poin penting yang kulakukan saat itu:
  • Mind management yang tak henti dilakukan: untuk meyakinkan diri sendiri bahwa produksi ASI-ku melimpah, melatih pikiran untuk tidak memikirkan hal-hal yang tak penting, menjauhkan diri dari segala hal yang bisa membuat stres. Intinya adalah berusaha rileks dan yakin bahwa aku mampu memberikan ASIX. Rileks dalam keseharian, rileks saat pumping, dan rileks saat menyusui, sambil tak henti-hentinya berdzikir dan melakukan afirmasi.
  • Melengkapi perbekalan alat tempur (uraiannya ada di bawah).
  • Pumping di mana saja dan kapan saja. Pernah waktu itu muter-muter keliling kampus untuk mencari tempat pumping yang representatif dan nyaman, setelah menemukan kenyataan bahwa beberapa musholla masih dikunci karena hari masih pagi. Aku tak lupa untuk konsisten melakukan pumping agar produksi ASI tetap berlimpah, tak peduli harus bangun malam pun dijabanin demi ketersediaan stok ASIP.

Beberapa teknik pumping yang kulakukan:
  • Pumping ketika Dek Abi menyusu. Jadi misalnya dia menyusu payudara kiri, aku pompa yang sebelah kanan. Dengan cara ini LDR (let down reflex) mudah didapat dan ASI yang mengucur tidak terbuang sia-sia.
  • Pumping setelah Dek Abi menyusu. Ini dilakukan pada payudara yang habis disusukan. Teknik ini berfungsi untuk menguras atau mengosongkan payudara. FYI payudara yang sering dikosongkan akan merangsang produksi ASI sehingga produksinya semakin bertambah banyak.
  • Pumping sambil rileks. Terdengar klise memang, tapi aku agak menghindari pumping dengan tergesa-gesa atau hati kemrungsung. Dengan pumping yang rileks dan tenang, sekali pumping pada satu payudara, aku bisa mendapat hampir 200 mL dengan tiga kali LDR.

Dek Abi sempat mengalami growth spurt yang membuatnya ingin menyusu terus. Cukup membuat lelah, tapi alhamdulillah aku sudah membekali diri dengan ilmu sehingga aku tahu pasti bahwa itu bukan karena ASI yang kurang. Jadi aku dapat menghadapinya dengan tenang dan tidak stres. Bagi yang tidak tahu kan bisa saja mengira ASInya kurang, lalu stres sendiri, malah beneran nanti ASInya berkurang. Ilmu ini penting untuk membuat kita tetap rileks, dan selalu yakin bahwa ASI kita cukup.

Peralatan tempur:

Breastpump
Harga breastpump yang bagus itu berkisar 400-600 ribu rupiah. Harga memang tidak bohong. Aku pernah membeli yang murah (200 ribu-an), puting malah sakit dan berdarah. Meskipun demikian, masalah breastpump itu cocok-cocokan. Ada juga yang bisa memerah ASI dengan banyak menggunakan tangan.


My breastpump

Cooling bag dan breastmilk storage bags
Cooling bag hanya berfungsi untuk membawa ASIP dari kantor/kampus ke rumah (selama di perjalanan), bukan untuk menyimpan ASIP. Jadi di kantor ASIP harus tetap masuk kulkas. Bisa juga sih untuk menyimpan ASIP tapi tidak lama, misalnya untuk ASIP yang akan segera diberikan. Cooling bag-ku ini sudah memiliki built-in ice gel di dalamnya (terjahit menyatu di dalam tas), tapi masih kutambahkan dengan ice gel tambahan (yang di dalam plastik transparan itu di foto) untuk menjaga agar lebih dingin.
Sedangkan breastmilk storage bags itu pada dasarnya adalah plastik yang khusus untuk menyimpan ASIP (sekali pakai). Tidak terlalu urgent sih, untuk jaga-jaga saja bila kehabisan botol untuk menyimpan ASIP.


Cooling bag dan breastmilk storage bags

Cup feeder
Fungsinya sebagai alat untuk memberi ASIP ke bayi. Mengapa harus cup feeder? Untuk menghindari bingung puting pada bayi. Penggunaan dot dapat membuat bayi keenakan (dengan dot, bayi tidak perlu susah-susah mengisap) sehingga akhirnya tidak mau menyusu langsung ke puting dan lebih memilih dot. Dengan cup feeder, si bayi terlatih untuk mengisap sendiri. Aku tidak memakai dot sama sekali untuk dek Abi.
Kekurangannya, memang diperlukan latihan untuk menggunakan cup feeder ini. Baik bagi si bayi maupun orang dewasa yang memberi ASIP ke bayi. Orang dewasanya harus sabar dan telaten. Perlu waktu, tapi hasilnya sepadan (worth it). Jadi orang dewasa yang diserahi tugas untuk memberi ASIP via cup feeder ini harus diwanti-wanti supaya telaten dan mau berlatih, demi kebaikan bayinya. Kalau memakai cup feeder ini, bayi akan minum ASIP dengan lidahnya. Mirip kucing yang minum air pakai lidah. Jadi biarkan si bayi yang mainkan lidahnya untuk minum, cup jangan terlalu disorongkan supaya bayi tidak tersedak.


Cup feeder (kiri)

Beberapa tautan di di Youtube yang menunjukkan cara memakai cup feeder:

Botol ASI
Aku menggunakan 2 jenis: botol UC (yang atas, kapasitas 120 mL) dan botol wideneck (yang bawah, kapasitas 250 mL).
Botol UC itu:
  • Kelebihannya: tutupnya rapat, lebih slim sehingga tidak makan tempat (apalagi kalau freezer-nya kecil).
  • Kekurangan: susah dibersihkan (gunakan sikat yang bisa menjangkau sampai ke bawah).
Botol wideneck itu:
  • Kelebihannya: gampang dibersihkan, bisa untuk menyimpan MPASI kalau dedeknya sudah mulai makan.
  • Kekurangannya: tutupnya tidak rapat (gampang tumpah) dan makan tempat.
Saran: kalau freezer kecil, lebih baik gunakan botol UC. Aman juga dibawa-bawa dengan cooling bag karena tutupnya rapat, tidak akan tumpah.


Botol UC

Botol wideneck

Freezer
Untuk Dek Abi aku membeli freezer khusus untuk ASIP. Freezer 6 rak, harga asli hampir 2,5 juta tapi aku membeli second di Kaskus dengan harga 1,5 juta saja hehe. Asiknya lagi, kondisi masih 90% baru karena baru dipakai sebentar sama pemilik lamanya. Dengan dua freezer—satu yang baru dan freezer kecil di kulkas lama, usaha untuk menyetok ASIP aku lakukan sejak Dek Abi lahir untuk kejar stok, karena dua minggu berikutnya sudah harus ujian semester hehe.


Ketika baru satu rak terisi

Stok ASIP menjelang Dek Abi 4 bulan

Masa S2-ASI dan S3-ASI


Setelah Dek Abi mulai makan pada usia 6 bulan, pumping masih terus dilakukan tetapi tidak se-hectic sebelumnya. Kuliah juga sudah mulai berkurang sehingga tanpa harus menyetok banyak, aku masih bisa menyusuinya di rumah. Kalau aku tidak salah ingat, stok-ASI-yang-terakhir dipompa pada September 2012 ketika Dek Abi berusia 10 bulan, dan diberikan pada Januari 2013 ketika usianya 14 bulan.

Aku lupa kapan persisnya Dek Abi mulai minum susu UHT, mungkin ketika usianya sekitar 16 bulan. Waktuku yang lebih banyak di rumah memberi dia kebebasan untuk menyusu kapan saja dia mau. Ketika aku harus kuliah atau menghadap dosen, stok ASI sedikit demi sedikit mulai digantikan dengan susu UHT.

Penutup


Kesimpulan yang dapat kuambil tentang segala proses menyusui ini adalah tentang niat dan komitmen yang kuat, lalu dibarengi dengan ikhtiar yang konsisten. Pemberian ASIX pada Hanif yang cuma 4 bulan dulu (tapi dia tetap menyusu sampai usia 2 tahun 3 bulan lho) memberiku amunisi tekad yang membaja untuk dapat sukses dan tuntas menyusui Dek Abi. Ilmu dan dukungan lingkungan sekitar adalah sesuatu yang juga penting dimiliki agar prosesnya lancar dalam menghadapi ujian dan rintangan. Untuk para pejuang ASI di manapun dirimu berada, keep up the good work! Yakinlah bahwa kita sedang memberikan investasi cairan emas yang sangat berharga untuk buah hati kita :)

Catatan: foto-foto lengkap bisa dilihat di sini.