Thursday, June 01, 2023

Persaingan Perempuan dan Rasa Insecure

Ilustrasi oleh Laura Callaghan

Hal paling berkesan dari masa kecilku yang ingin kuceritakan kali ini bukanlah sesuatu yang menyenangkan. Sepanjang ingatanku menjalani masa kecil sebagai perempuan, ada satu kata yang kerap membersamaiku saat itu: insecure. Mungkin aku bisa dibilang cukup cemerlang dalam hal prestasi, tapi sesungguhnya ada banyak hal yang membuatku merasa tidak aman. Aku sering merasa khawatir tidak memiliki teman. Saat kecil aku sungguh pemalu. Terhadap orang yang tak dikenal, aku cenderung menarik diri dan tertutup. Beberapa orang kawan yang cukup dekat denganku membuatku merasa ditinggalkan ketika akhirnya mereka dekat dan bersahabat akrab dengan kawan yang lain. Sebagai seorang gadis kecil, tidak memiliki teman dekat adalah sesuatu yang menyedihkan.

Beranjak remaja dan duduk di bangku sekolah unggulan, aku melihat teman-teman perempuan banyak yang membentuk geng. Tanpa sengaja aku terlibat akrab dengan salah satu geng di kelas. Peer pressure sangat terasa dalam interaksi sehari-hari. Aku dianggap gaul jika mengikuti standar mereka dan aku sering dicibir bila menolak ajakan hang out karena aku harus buru-buru pulang untuk menjaga adikku. Sampai suatu ketika aku didepak keluar dari geng itu dengan cara yang mungkin buat mereka biasa, tapi buatku terasa sangat menyakitkan. Hingga hari ini aku tidak tahu alasannya. Dugaanku: karena aku sering berbeda pendapat dan kerap menolak ajakan hang out mereka sehingga bagi mereka mungkin aku bukan teman yang asyik.

Peristiwa itu menorehkan luka teramat dalam, sampai-sampai aku bertekad untuk tak akan pernah lagi bersahabat dekat dengan sesama perempuan. Perjalanan mencari teman membawaku pada satu kesimpulan bahwa lebih baik sendirian daripada merasa tersakiti oleh sahabat. Maka ketika aku duduk di bangku SMA, aku mulai menyibukkan diri dengan kegiatan organisasi dan berteman dengan banyak teman laki-laki. Beberapa kali aku berpacaran dan merasa bisa menjalani hari-hari tanpa sahabat perempuan.

Kenangan-kenangan di masa lalu berperan besar membentuk kepribadianku, sebagai indikasi bahwa hal itu sangat menimbulkan kesan yang terbawa hingga dewasa. Hingga sekarang aku lebih nyaman bepergian seorang diri tanpa teman. Zaman kuliah aku sampai kenyang mendapat pertanyaan “Sendirian aja, Yus?” ketika pergi ke mana-mana. Bahkan saat ibu-ibu di kantor pergi beramai-ramai ke mal ketika jam istirahat, aku merasa lebih nyaman pergi sendiri dalam diam.

Setelah sekarang anak perempuanku menginjak kelas satu SD, ternyata dia menghadapi permasalahan yang sama. Dari beberapa curhatnya tersirat adanya persaingan antara sesama perempuan di kelasnya, baik dalam hal berteman maupun hal-hal lain. Aku cukup sedih waktu dia bercerita bahwa beberapa teman perempuannya mengejek gambarnya yang dianggap jelek sambil terkikik-kikik. Dalam hati aku membatin: ternyata komentar-komentar menjatuhkan itu memang sudah sering terlontar sejak para perempuan berusia dini. Kalau menilik teman-teman lelakinya, mereka cenderung lebih woles.

Melihat kenyataan hidup di sekeliling saat ini, sering sekali kita dapati perempuan satu dengan yang lain saling menjatuhkan. Di kalangan ibu-ibu, sudah jamak terjadi mom war dalam berbagai hal, mulai dari ASI versus susu formula, ibu bekerja versus ibu di rumah, melahirkan normal versus melahirkan C-section, dan masih banyak lagi. Seolah pengalaman masa kecilku belumlah cukup, aku merasa sangat lelah melihatnya.

Beberapa penelitian pernah dilakukan untuk meneliti persaingan di antara perempuan. Tinjauan literatur oleh Tracy Vaillancourt pada 2013 menemukan bahwa perempuan pada umumnya mengekspresikan agresi tidak langsung terhadap perempuan lain. Agresi tidak langsung tersebut merupakan kombinasi dari self-promotion untuk membuat diri mereka terlihat lebih menarik, serta merendahkan saingan dengan berkomentar tidak baik tentang perempuan lain. Wow banget ya :(

Ada dua teori utama yang menjelaskan alasan perempuan berkompetisi dengan sesamanya.

  1. Psikologi evolusioner, yang menggunakan teori seleksi alam untuk menjelaskan perilaku modern kita, mengatakan bahwa perempuan perlu melindungi diri mereka sendiri (baca: rahimnya) dari bahaya fisik. Jadi, agresi tidak langsung membuat perempuan merasa aman karena merendahkan perempuan lain merupakan salah satu cara untuk mengeliminasi saingan.
  2. Psikologi feminis mengatakan agresi tidak langsung para perempuan dilakukan untuk menginternalisasi patriarki. Seperti yang ditulis Noam Shpancer dalam Psychology Today, “As women come to consider being prized by men as their ultimate source of strength, worth, achievement and identity, they are compelled to battle other women for the prize.

Dalam pandanganku, perempuan seharusnya saling mendukung satu sama lain. Seorang perempuan bisa memberdayakan perempuan lain dan hal itu tak akan pernah mengecilkan peran dan makna dirinya sendiri. Di dunia yang keras ini, kita harus memberangus kebencian, kecemburuan, atau perasaan iri antara sesama perempuan.

Sebuah penelitian oleh Harvard Business Review mengatakan bahwa perempuan yang memiliki inner circle sesama perempuan cenderung dapat menempati posisi eksekutif dengan otoritas yang lebih besar dan gaji yang lebih tinggi, bila dibandingkan dengan laki-laki yang memiliki inner circle yang sama. Hal ini dikarenakan perempuan yang memiliki hubungan dekat dengan kelompok perempuan yang mendukungnya, akan lebih mudah menghadapi berbagai rintangan melalui berbagi pengalaman dengan perempuan lain yang pernah menghadapi situasi dan kesulitan yang sama.

Andai saja sejak kecil kita diajari untuk saling mendukung satu sama lain sebagai perempuan, mungkin tidak perlu ada gadis-gadis lain yang mengalami nasib sama denganku. Tak perlu ada persaingan saling menjatuhkan, tak perlu ada perundungan, tak perlu adu debat meskipun berbeda pendapat.

Tulisan ini diikutsertakan dalam Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan Juni yang bertema “Hal Berkesan di Masa Kecil (dan atau Masa Sekolah)”.

Tuesday, May 02, 2023

Sambal Tumpang, Warisan Budaya dan Kearifan Lokal

Gambar dari sini

Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan Mei yang bertema “Makanan Favorit” kali ini membuatku sedikit berpikir keras. Beberapa makanan favoritku sudah kutulis dalam tantangan serupa tahun lalu, maka kali ini aku harus memikirkan jenis makanan yang berbeda.

Seperti yang ditulis Mamah Restu: “Jika Mamah menyukai seseorang maka Mamah suka makanan favoritnya”, hal itu pula yang terjadi padaku dan sambal tumpang. Makanan ini favorit suamiku banget, sementara aku tadinya tidak terlalu doyan. Meskipun sangat familier di keluargaku karena bapakku juga suka, tetapi biasanya aku lebih memilih sambal pecel dibanding sambal tumpang.

Sambal tumpang yang sangat populer di Solo ini merupakan makanan yang cukup dikenal di area Jawa Tengah dan Jawa Timur. Sambal tumpang sebenarnya bukan berupa jenis makanan tertentu yang berdiri sendiri, tetapi biasanya dijadikan topping untuk rebusan sayur mayur (seperti halnya sambal pecel), bubur lemu, atau nasi. Resepnya sangat unik karena menggunakan bahan utama berupa tempe yang hampir busuk yang disebut dengan nama “tempe semangit”. Di beberapa wilayah lain, sambal ini lebih dikenal dengan nama sambal lethok.

Tempe semangit adalah overripe tempe atau over fermented tempe karena telah melewati masa fermentasi tempe yang ideal. Lewatnya masa fermentasi ideal ini ditandai dengan tempe yang mulai mengeluarkan bau tajam serta warna yang mulai kehitaman. Istilah semangit sendiri berasal dari bahasa Jawa “sangit” yang artinya “bau yang menyengat”. Menurut ahli, tempe busuk punya protein yang lebih baik ketimbang tempe segar. Jadi kalau nanti punya tempe yang hampir busuk, jangan dibuang ya. Mamah-mamah bisa mengolahnya menjadi sambal tumpang.

Bicara soal tempe semangit, benda ini sangat susah didapat di luar Jawa Tengah dan Jawa Timur. Hal ini baru kusadari setelah merantau ke Bandung dan Jabodetabek, padahal tempe semangit mudah sekali didapat di warung-warung sayur di Solo karena merupakan bahan yang biasa digunakan dalam sajian-sajian khas Jawa semisal gudeg, sayur lodeh, sayur oseng, botok, gulai, dll. Yaa kalau kata orang Jawa, apa pun jadi sedap jika dimasak menggunakan tempe semangit sebagai salah satu bahan racikan bumbu. Akhirnya aku mencari cara untuk membuat tempe semangit sendiri, alias membeli tempe baru di pasar lalu sengaja dibusukkan. Adakalanya tidak berhasil karena keburu muncul ulat sebelum sempat diolah, tetapi agaknya hal itu karena tempat penyimpanannya kurang rapat. Seringnya sih berhasil alhamdulillah, jadi aku bisa sering-sering membuat sambal tumpang untuk suami.

Konon resep sambal tumpang diduga telah ada sejak era Kerajaan Mataram. Pada Serat Centhini 1814-1823 telah disebutkan keberadaan sambal Mataram di bumi Mataram. Serat Centhini sendiri menceritakan bagaimana dahulu banyak tokoh masyarakat yang melakukan perjalanan mengelilingi desa-desa yang ada di daerah Jawa untuk mengumpulkan berbagai pengetahuan, termasuk di dalamnya pengetahuan mengenai kuliner. Di antara rangkuman perjalanan itulah tertulis bagaimana sambal tumpang menjadi salah satu sajian yang disuguhkan oleh salah satu tuan rumah yang mereka kunjungi. Hal ini membuat resep sambal tumpang memiliki usia yang seharusnya melampaui usia dari Serat Centhini itu sendiri.

Sambal tumpang memiliki tekstur berkuah kental, tidak sehalus sambal pecel karena berisi potongan-potongan bahan pembuatnya, dan bercita rasa gurih yang berasal dari santan. Jika mamah-mamah ingin mencoba merasakan seperti apa sambal tumpang, berikut resepnya ya, sangat mudah dibuat.

Gambar dari sini

Bahan:

  • 1 papan tempe semangit
  • 1 papan tempe baru
  • 4 buah tahu, potong-potong
  • 5 siung bawang merah
  • 3 siung bawang putih
  • 4 buah cabai rawit
  • 3 buah cabai merah keriting
  • 2 buah kemiri
  • 2 ruas kencur
  • 120 ml santan
  • 2 lembar daun salam
  • 4 lembar daun jeruk
  • 1 ruas lengkuas, geprek
  • garam dan gula secukupnya
  • kaldu penyedap
  • krecek untuk tambahan

Cara membuat:

  1. Rebus tempe semangit dan tempe baru di panci. Masukkan cabai, bawang merah, bawang putih, lengkuas, kencur, dan krecek. Rebus sampai semua bahan matang.
  2. Setelah matang, angkat semua bahan, tiriskan.
  3. Haluskan cabai, bawang merah, bawang putih, lengkuas, kencur, dan kemiri. Sisihkan.
  4. Hancurkan tempe lalu rebus kembali dengan tahu.
  5. Tumis bumbu halus hingga beraroma harum. Campur ke air rebusan, aduk rata. FYI bumbu halus juga bisa langsung dimasukkan ke dalam rebusan air tanpa ditumis terlebih dahulu.
  6. Masukkan tempe yang sudah dihaluskan ke dalam air rebusan.
  7. Masukkan bumbu lain (garam, gula, penyedap), daun salam, dan daun jeruk. Biarkan mendidih sampai air kuahnya berkurang atau menyusut.
  8. Masukkan krecek yang sebelumnya sudah direbus.
  9. Masukkan santan, aduk biar tidak pecah.
  10. Jangan lupa koreksi rasa. Jika rasanya sudah pas, angkat sambal tumpang. Siapkan piring saji, lalu tuangkan sambal ke piring tersebut.
  11. Sajikan dengan pelengkap sayuran rebus seperti bayam, kacang panjang, tauge, dan timun. Siram sambal tumpang di atas sayuran.
  12. Sajikan dengan nasi hangat dan beberapa lauk lainnya supaya rasanya makin mantap.




Saturday, April 01, 2023

Kastil Miramare, Saksi Cinta yang Berakhir Tragis

Gambar diambil dari sini


Pada suatu masa di penghujung musim panas 2017, aku menjemput impian menginjak tanah Eropa. Inggris dan Italia adalah dua negara yang paling ingin kukunjungi sejak dulu. Maka ketika ada kesempatan mengikuti training gratis dari International Atomic Energy Agency (IAEA) di Trieste, sebuah kota yang indah di ujung timur laut Italia, tepat di tepi Laut Adriatik yang cantik, aku segera menyambar peluang itu.

Trieste adalah ibu kota wilayah Friuli-Venezia Giulia, merupakan sebuah kota pelabuhan kecil yang berbatasan dengan Slovenia dan dekat dengan Kroasia. Dahulu kota ini merupakan wilayah Romawi pada kekaisaran Bizantium, kemudian di abad modern merupakan bagian wilayah kekaisaran Austria-Hongaria, sebelum pada akhirnya menjadi wilayah Italia pada 1954. Meskipun hanya kota pelabuhan kecil, Trieste sangat strategis karena menjadi pintu masuk ke dataran Slovenia dan sekitarnya sehingga wajar jika banyak pihak memperebutkannya dan silih berganti menguasainya.

Trieste pernah menjadi pusat perdagangan, politik, budaya, dan seni yang penting di masa lampau, tetapi seiring berjalannya waktu signifikansinya menurun, dan pada saat ini “hanya” menjadi kota yang tenang di pinggiran Italia. Karena sejarah panjangnya, Trieste memiliki keanekaragaman etnis dan budaya, juga bangunan dan monumen dengan arsitektur yang unik mulai dari gaya Romawi kuno, gaya dari zaman Kekaisaran Austria, hingga campuran gaya Mediterania.

Training tentang Nuclear Knowledge Management yang diselenggarakan oleh IAEA yang kuikuti itu bekerja sama dengan The Abdus Salam International Centre for Theoretical Physics (ICTP). Lokasi training berada di Adriatico Guest House, salah satu guest house milik ICTP yang sekaligus memiliki aula, beberapa ruang kelas, dan kantin. Karena aku mengajak seluruh anggota keluarga, aku mengajukan penyewaan apartemen dan panitia memesankan Maximilian’s Residence yang jaraknya hanya satu kilometer dari Adriatico.


Pemandangan dari jendela apartemen (kiri)
dan dari salah satu kamar di Adriatico Guest House (kanan)


Baik Adriatico maupun Maximilian’s Residence, keduanya terletak di tepi Laut Adriatik dengan pemandangan laut yang memesona. Pemandangan dari jendela apartemen kami sangat spektakuler. Tepat di depannya terhampar luas lautan sejauh mata memandang. Di kejauhan tampak bangunan Kastil Miramare menyembul di antara pepohonan Teluk Grignano dan di dekatnya terdapat sebuah pelabuhan kecil tempat bersandar kapal-kapal pribadi milik penduduk setempat.

Selama tujuh hari kami berada di Trieste, hanya satu hari yang benar-benar cerah. Selebihnya, penghujung musim panas kala itu basah oleh rinai gerimis hingga hujan badai yang anginnya menerpa kencang. Nah, pada suatu sore yang merupakan satu-satunya hari cerah itu, panitia memutuskan untuk mengakhiri training lebih cepat guna memberi kesempatan peserta berjalan-jalan ke kota. Aku dan beberapa orang teman memutuskan untuk mengunjungi Kastil Miramare yang hanya berjarak satu kilometer dari Adriatico.


Gambar diambil dari sini

Kastil Miramare adalah destinasi yang sangat terkenal dari Trieste, meskipun sebenarnya letaknya sedikit di luar kota. Kastil ini menjadi saksi sebuah kisah romansa tahun 1800-an yang dipisahkan oleh takdir dan maut. Ia adalah rumah impian pasangan muda Maximilian dan Charlotte yang dibangun di atas tebing yang menjorok ke arah Laut Adriatik. Maximilian bernama lengkap Ferdinand Maximilian Joseph Maria, merupakan salah seorang anggota keluarga kerajaan Austria: Habsburg-Lorraine. Mereka tinggal di sini pada 1860-1864, kemudian mereka pindah ke Meksiko karena diangkat menjadi penguasa di sana. Maximilian menemui akhir hidupnya dengan tragis pada 1867 karena dieksekusi pada kerusuhan Meksiko oleh pasukan Republikan yang menolak mengakui pemerintahannya. Setelah itu Charlotte pernah kembali ke Miramare, sebelum akhirnya pulang ke tempat asalnya di Belgia.

Dari Adriatico di Teluk Grignano, kami menyusuri jalanan berundak di pinggir Grignano Marina untuk menuju ke Kastil Miramare. Setelah beberapa ratus meter, langkah kami terhenti di depan sebuah bangunan berwarna krem yang disebut Castelletto, tempat Maximilian tinggal selama kurun waktu kastil itu dibangun pada 1856-1860. Castelletto menghadap Teluk Grignano pada satu sisi sementara sisi yang lain dikelilingi oleh taman yang indah dengan kolam air mancur di bagian tengah. Pada puncak tangga yang menghadap air mancur, kami dapat melihat lautan terbentang luas di hadapan.


Jalanan berundak dari Grignano Marina ke Kastil Miramare

Pemandangan dari Castelletto ke arah Laut Adriatik
(in picture: anak-anak dan adikku)

Kami melanjutkan langkah menyusuri jalanan setapak yang menuju ke arah hutan kecil. Hutan ini terbentang seluas 22 hektar di sekeliling Kastil Miramare, kini diisi dengan beraneka ragam jenis botani. Dulunya hutan kecil ini merupakan tempat Maximilian menanam koleksi tanamannya. Jalan setapak di hutan tadi berakhir pada sebuah taman cantik yang bunga-bunganya tampak menawan. Di seberang taman itu, Kastil Miramare menjulang indah dengan latar belakang pemandangan laut. Pada sisi kastil terdapat dermaga tempat tamu-tamu kastil ini berlabuh di masa lampau.


Salah satu sudut jalan setapak di hutan kecil,
gambar diambil dari sini


Kastil dilihat dari arah dermaga

Pemandangan dermaga dari salah satu jendela kastil

Kastil ini dikelola dengan serius oleh pemerintah setempat. Saat ini dijadikan museum dengan tetap mempertahankan fitur-fitur lamanya. Untuk masuk ke dalam kastil dikenakan tiket seharga 10 Euro, harga yang dianggap mahal oleh teman-teman seperjalananku waktu itu sehingga mereka memutuskan untuk sightseeing di luar saja. Akhirnya aku masuk sendirian. Hari sudah hampir magrib, sudah menjelang tutup sebetulnya. Jadi pengunjungnya tinggal segelintir orang. Pada beberapa waktu aku bahkan bisa sendirian banget berada di dalam ruangan-ruangan itu. Sementara di luar mendung mulai menggelap, tanda bahwa akan turun hujan badai yang cukup deras. Ditambah dengan kisah tentang pemilik kastil, suasana horor makin terasa dan aku pun memutuskan untuk mempersingkat waktu melihat-lihat, hahaha.

Lantai satu kastil menggambarkan dengan jelas suasana ketika Maximilian masih tinggal di situ. Ruangan-ruangan di dalam kastil beserta perabotannya sangat khas menunjukkan kehidupan bangsawan Eropa zaman dulu. Beberapa perabot asli dipertahankan, bahkan beberapa baju Charlotte juga dipajang. Lantai dua kastil memiliki suasana yang lebih modern, berisi barang-barang peninggalan beberapa anggota keluarga Habsburg-Lorraine yang tinggal di sini setelah mewarisi kastil dari mendiang Maximilian.


Suasana di lantai satu

Pada pukul enam sore, kastil ditutup dan aku pun terpaksa keluar. Hujan mulai turun, kemudian teman-temanku muncul dari balik kastil setelah mereka puas mereguk pemandangan laut dan bermain air di dermaga Miramare. Ketika kami bermaksud kembali ke Adriatico melalui jalan yang sama dengan keberangkatan, seorang petugas memberi tahu bahwa pintu gerbang ke arah hutan kecil sudah ditutup. Hal itu terpaksa membuat kami berbalik arah dan menempuh perjalanan yang lebih jauh untuk pulang.


Kastil dilihat dari Viale Miramare

Kami berjalan 1,5 kilometer menyusuri Viale (Jalan) Miramare yang bermuara di jalan besar Strada Costiera, persis di pinggir pantai Barcola. Di situ terdapat halte tempat kami menanti bus yang dapat membawa kami kembali ke Adriatico. Angin bertiup kencang dari arah laut dan hujan turun semakin deras ketika kami berjalan beriringan. Kami naik bus dalam keadaan basah dan sampai di Adriatico dengan pakaian yang kuyup serta tubuh kedinginan. Meskipun demikian, hati kami gembira dan hingga kini masih tertawa-tawa ketika mengenang hari itu.


Tulisan ini diikutsertakan dalam Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan April yang bertema “Landmark Kota (Dalam dan Luar Negeri) yang Sudah atau Ingin Dikunjungi”.

Wednesday, March 01, 2023

Mengelola Jadwal dengan Planner

Sebagai seseorang yang (sok) sibuk, memiliki banyak kegiatan, dan memiliki banyak anak yang masing-masing memiliki banyak kegiatan (hahaha!) … mengingat jadwal agenda bukan sesuatu yang mudah. Tidak semua acara dapat diingat begitu saja, apalagi jika ada beberapa agenda dalam satu hari sekaligus. Kadang bahkan beberapa acara mengalami bentrok karena dilaksanakan pada waktu yang bersamaan.

Kemampuan untuk mengelola jadwal kegiatan memang tergantung pada keahlian masing-masing orang. Kebetulan aku adalah orang yang cukup well-organized dan well-planned. Salah satu caraku mengelola jadwal kegiatan adalah dengan menuliskannya pada planner. Planner adalah sarana yang dapat digunakan untuk merekam dan menulis berbagai tugas, janji, dan catatan. Planner berfungsi menyimpan segala informasi mengenai perencanaan kegiatan sehingga aku dapat mengaksesnya dengan mudah saat dibutuhkan.


Ketika masih sering memakai planner yang dicetak pada kertas HVS

Planner-ku berisi perencanaan harian atau mingguan yang berisi jadwal harian dan to-do list. To-do list adalah daftar tugas atau kegiatan yang perlu kuselesaikan, biasanya disusun berdasar skala prioritas. Dengan menuliskan beberapa kegiatan yang harus dikerjakan, secara otomatis aku akan mengatur waktu dan membuat jadwal dalam pengerjaannya. Hal itu sangat membantuku untuk terampil dalam urusan manajemen waktu dan membuatku mudah mengingat jadwal.

Saat ini planner dibuat dalam berbagai platform, baik planner cetak yang ditulis dengan tangan maupun planner digital berupa aplikasi yang dapat dipasang pada gawai atau komputer. Pemilihan planner yang paling nyaman dan paling cocok bisa saja berbeda menurut masing-masing orang karena masing-masing planner memiliki kelebihan dan kekurangan.

Khusus buatku yang harus membagi waktu antara pekerjaan kantor, jadwal olahraga (berlari, strength training, yoga, senam aerobik, coaching lari) serta jadwal mengantar anak les atau acara sekolah, aku sangat terbantu dengan adanya planner. Planner yang kumiliki ada beberapa, meliputi planner untuk agenda kantor, workout plan, juga training plan khusus lari.


Training plan Half Marathon dengan aplikasi Running with Hal

Training plan khusus lari aku susun dengan aplikasi Running with Hal. Aplikasi ini membantu kita dalam membangun training plan berdasar hari latihan yang bisa kita alokasikan, target pace, serta variasi latihan. Selain memudahkan mengatur jadwal, ternyata aplikasi ini sangat membantu untuk bisa konsisten berlatih. Ada evaluasi berupa nilai untuk melihat seberapa tertib kita menaati training plan, baik dalam hal frekuensi maupun intensitas latihan. Sebagai seseorang yang perfeksionis, mendapat nilai dalam pemenuhan training plan tentunya makin membuatku terpacu untuk menyelesaikan latihan demi latihan dengan baik. Kelebihan lain dari aplikasi ini: ia dapat dengan mudah dikoneksikan dengan perekam data olahraga seperti Garmin Connect dan Strava. Hal ini membuat data dapat disinkronkan dengan mudah tanpa harus mengisi evaluasi latihan secara manual.


Contoh workout plan yang kususun pada awal minggu bersama coach

Workout plan kubuat tiap awal minggu dengan aplikasi Canva setelah dikonsultasikan dengan coach. Berbagai pertimbangan dimasukkan dalam penyusunan workout plan, di antaranya frekuensi latihan (berlari tiga kali seminggu, strength training tiga kali seminggu, yoga sekali seminggu), variasi jenis latihan (lower body, upper body, full body), tipe latihan (cardio, strength training, mobility, flexibility), serta waktu untuk rest dan recovery. Mengapa latihannya harus selengkap itu? Karena menu latihan seorang pelari bukan hanya berlari, melainkan juga harus memasukkan strength training, mobility, dan flexibility untuk menguatkan otot, melatih fleksibilitas otot, menguatkan core, memperbaiki teknik berlari sehingga keseluruhannya meningkatkan performa berlari, mengatasi imbalance, dan mencegah overuse injury.


Buku planner gado-gado

Nah, yang terakhir adalah planner untuk agenda kantor, pekerjaan, dan kegiatan secara umum. Untuk yang satu ini aku lebih nyaman menggunakan sistem manual dengan planner berupa buku. Jadwal meeting dan jadwal operasional lapangan kumasukkan ke sini, juga appointment dan jadwal olahraga. Buku planner ini isinya memang gado-gado sekali. Tujuannya untuk merangkum semua acara harian dan mengetahui slot waktu yang masih kosong, sehingga bila ada permintaan mengajar atau rapat, aku bisa segera mengonfirmasi ketersediaan waktu.

Demikian sekilas tentang kebiasaanku mengelola jadwal dengan planner. Buatku ini life hack yang sangat memudahkan kehidupanku sehari-hari, serta membuat hidupku yang penuh dengan seabrek agenda menjadi lebih produktif dan lebih efisien karena terasa lebih sat set dalam manajemen waktu dan kegiatan. Menyusun jadwal dengan planner selalu menjadi aktivitas yang menyenangkan di awal minggu. Membubuhkan checklist di samping agenda yang sudah done itu juga menimbulkan kepuasan tersendiri … karena itu berarti aku berhasil merealisasikan agenda sesuai rencana. Ya, sesederhana itu memang kebahagiaanku, hehehe

Beberapa tips mengelola jadwal dengan planner:

  1. Tulis daftar tugas atau kegiatan yang akan dikerjakan.
  2. Susun jadwal berdasarkan urgensi, prioritas, atau kronologi.
  3. Tulis hal-hal yang harus diingat atau hal-hal penting pada kolom khusus.



Tulisan ini diikutsertakan dalam Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan Maret yang bertema “Life Hack (Produk atau Metode) yang Mempermudah Hidup”.

Wednesday, February 01, 2023

Dear John

Membaca karya fiksi selalu menjadi kesenangan buatku, sejak zaman kecil dulu hingga kini sudah menjadi emak beranak lima. Aku ingat ketika masa-masa berlangganan Bobo, membaca cerpen selalu menjadi hal yang paling kunantikan, terutama karena aku harus bergantian membaca majalah itu dengan kakakku. Setelah menjadi penulis fiksi (abal-abal, hahaha), membaca karya fiksi seolah menjadi kewajiban untuk menambah ilmu dan memperkaya khazanah. Ibarat kata pepatah: teko hanya mengeluarkan isi teko, supaya dapat menulis fiksi dengan baik tentu aku harus mengisi pula asupan dengan banyak membaca karya fiksi.

Saat ini membaca karya fiksi buatku bukan hanya untuk mereguk kesenangan saja. Di dalam prakteknya aku juga mengamati bagaimana penulis membangun unsur-unsur intrinsik seperti membangun tema, menentukan sudut pandang, menciptakan penokohan beserta karakternya, menuliskan alur, menggunakan gaya bahasa, dan memilih latar. Ada banyak sekali novel yang menginspirasiku–tentu tak akan cukup aku bahas di sini–tetapi ada satu buku yang cukup sering kubolak-balik. Selain karena isi ceritanya sangat meninggalkan kesan di hatiku, buku itu juga cukup kaya untuk dipelajari sisi-sisi kepenulisannya. Buku apakah itu? Yuk, kita simak.

“Dear John” karya Nicholas Sparks

Aku pertama kali membaca “Dear John” pada tahun 2013. Novel ini adalah satu dari tujuh buku Nicholas Sparks yang kumiliki. Yes, dia memang penulis favoritku karena aku sangat menyukai genre kisah cinta romantis. Novel-novelnya sering berkisah tentang cinta abadi.

“Dear John” menceritakan kisah hidup seorang John Tyree yang pada masa awal kehidupannya hanya tinggal berdua dengan ayahnya, seorang pengidap Sindrom Asperger. Hal itu sedikit banyak mempengaruhi relasi mereka. John tahu ada yang berbeda dengan ayahnya, tetapi ia tak pernah memahami hal itu. Perjalanan hidupnya yang rumit membuatnya mendaftar masuk ke US Armed Forces, dan pada suatu masa cuti dari ketentaraan ketika ia pulang ke rumah, ia bertemu dengan seorang gadis bernama Savannah. Dari situlah kisah kemudian berkembang. Savannah mengajarkan John bagaimana memperbaiki hubungan dengan ayahnya, mengajarkannya tentang cinta, patah hati, dan kebahagiaan sejati.

Sparks yang dikenal sebagai spesialis penulis dengan ending tragis dalam novel-novelnya, sebenarnya lebih suka menyebut ending novel ini sebagai bittersweet. Ia berusaha membangun konflik dengan cara seorisinal mungkin tentang alasan mengapa dua orang yang saling mencintai tidak dapat bersatu selamanya. Konflik dalam kisah John dan Savannah ini diaduk-aduk sedemikian rupa sehingga tetap terasa nyata dan tidak mengada-ada. Jadi meskipun ringan dibaca, konfliknya tetap matang. Ini adalah suatu keahlian mumpuni yang dimiliki oleh Sparks (acung jempol).

Novel ini banyak menggambarkan detail Wilmington, North Carolina sebagai latar. Bagi sebagian orang yang tidak terlalu suka narasi, beberapa bagian penceritaan kota itu mungkin terasa panjang. Namun bagiku, hal ini menunjukkan kepiawaian Sparks dalam menulis deskripsi dan menggambarkan suasana yang sangat membantu pembaca untuk membayangkan konteks cerita. Tidak hanya pada latar, tetapi juga pada bagian-bagian detail lainnya. Penggambaran selalu deskriptif mengenai apa pun dan tidak membosankan, meskipun selalu dilihat dari sudut pandang orang pertama.

Dalam hal penokohan, sungguh aku tak bisa berkata-kata lagi. Sparks selalu keren dalam menciptakan tokoh yang berkarakter. Sudut pandang orang pertama sering dipakai dalam novel, tetapi jarang ada novel romantis yang “aku”-nya adalah seorang laki-laki. John digambarkan sangat manusiawi: meskipun ia tentara–yang identik dengan sosok tangguh–ternyata ia memiliki perasaan yang halus … ia bisa mellow bahkan menangis, juga clueless jika menyangkut hubungannya dengan Savannah. Dari segi penggambaran emosi, perasaan John pun tersampaikan dengan baik seolah-olah ia benar-benar sedang curhat dengan pembaca. Hal ini tentu membuat pembaca ikut larut dalam cerita. Aku angkat topi untuk kemampuan Sparks menulis tentang emosi secara mendalam.

Dari sekian banyak novel Nicholas Sparks, “Dear John” ini yang paling baik menurutku. Alih bahasa yang dilakukan Barokah Ruziati bagus dan tanpa cela, tidak seperti salah satu novel Sparks (no mention ah, wkwk) yang alih bahasanya acakadut dan bikin geregetan. Dalam situs pribadinya, Sparks menulis tentang buku ini, “In the end, I was proud of the novel. It is, in many ways, one of my favorites. It is also one that I think will resonate with readers long after the final page is turned.

Ya, dia benar! Aku menangis ketika membaca novel ini, terutama ketika bab-bab akhir. Aku masih ingat, air mata terus mengalir di wajahku. “Dear John” is also my favorite, and it resonated with me long after the final page was turned, even many years later.

Judul: Dear John
Penulis: Nicholas Sparks
Diterbitkan oleh PT Gramedia Pustaka Utama
Jumlah Halaman: 392 halaman


Tulisan ini diikutsertakan dalam Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan Februari yang bertema “Buku Bacaan yang Berpengaruh”.