Saturday, February 14, 2026

Kampus Institut Teknologi Bandung

Aku memang tidak lahir dan tumbuh besar di Bandung, tetapi aku telah menghabiskan lebih dari separuh usiaku di kota itu. Ketika aku pertama kali datang ke Bandung dua puluh enam tahun silam, Kota Kembang berhawa sangat dingin—apalagi untuk ukuran seorang bocah asal Solo sepertiku. Malam-malamku sebagai mahasiswa baru cukup sering berkemul tebal, terutama ketika kemudian aku pindah ke bilangan Bandung bagian utara.

Bandung bagian utara sungguh memesona. Di situ aku mengalami pasang surut dinamika kehidupan kampus, bergulat dengan aktivitas kemahasiswaan, lalu berhasil lulus hidup-hidup dari sana. Maka ketika Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan ini mengambil tema “Tempat/Lokasi yang Membentukku”, tak ayal kampus ITB menjadi pilihan pertamaku terkait “tempat tertentu yang disadari atau tidak menanamkan nilai, membentuk cara berpikir, dan mengubah cara kita memandang dunia” (mengutip kalimat Mamah May, yang menjadi host tantangan kali ini).

Tempat S1 dan S2 Menempaku

Buatku, masa-masa kuliah S1 adalah masa-masa terberat selama masa mudaku. Aku seperti diingatkan tentang sebuah perjuangan dan luka yang ditimbulkan olehnya. Kehidupan kampus yang—menurutku—keras dan lingkungan pertemanan yang—menurutku—tidak bersahabat, membuat masa-masa kuliahku penuh dengan air mata, rendah diri, depresi, ketidaksukaan terhadap banyak hal (termasuk diriku sendiri), dan rasa pesimis yang luar biasa dalam memandang hidup.

Saat itu perasaan dan self esteem-ku bagai berada di titik nadir. Yah, kau mungkin akan mengalami hal yang sama jika kau pernah ber-IP satu koma selama tiga semester berturut-turut, pernah mendapat surat peringatan tentang tenggang waktu DO, dan pernah dibanding-bandingkan oleh dosen wali dengan mahasiswa lain yang ber-IP nyaris empat! Tanpa pertolongan Allah, aku mungkin nggak akan pernah lulus sidang Tugas Akhir dan diwisuda.

Pada tahun terakhirku di kampus Ganesha, setelah masa panjang menyelesaikan Tugas Akhir—yang rasanya seperti nggak kelar-kelar (aku kuliah selama lima tahun BTW), aku pernah merenung sendirian di selasar Tata Usaha jurusan, dua jam menjelang maghrib. Sore itu mendung dengan sedikit rintik membasahi. Angin bertiup pelan membawa semilir menyejukkan. Kuabaikan kebiasaan untuk bergegas pulang dari kampus, dan kuputuskan untuk sebentar bercengkerama dengan suasana.

Di balkon lantai dua itu, lampu-lampu sudah mulai dinyalakan dan aku duduk seorang diri. Kubiarkan angin mempermainkan ujung jilbab. Kubiarkan pula angin mengibar-ngibarkan ujung lembaran buku di tangan. Kubiarkan mataku menikmati kolam bundar, jalan beton Plaza Widya, ujung dedaunan yang melambai, orang-orang yang sedang berjalan, dan di kejauhan ... kerumunan orang bermain basket dan kumpulan orang duduk-duduk di selasar Campus Center.

Kuhela nafas panjang. Aku tak pernah benar-benar menyadari cintaku pada kampus, hingga hari itu. Mereka benar, inilah kampus terbaik yang Allah berikan padaku. Meskipun selama ini aku sering mengeluhkan ganasnya kampus, aku harus mengakui bahwa hatiku tertambat di sana. Di kampus lah aku bertemu dengan orang-orang hebat dan belajar merenda kehidupan. Saat itu, menikmati waktu-waktu terakhir yang semestinya tak lama lagi, membuatku mensyukuri banyak hal. You don’t know what you’ve got until it’s gone.

Dengan rekam jejak S1 seperti itu, kau mungkin tak akan menyangka jika suatu hari kemudian aku kembali melanjutkan S2 di kampus Ganesha. Teman-teman yang dulu tahu persis kesulitanku ketika S1 dan betapa sering aku mengeluh panjang pendek tentang salah jurusan, cukup tercengang ketika tahu bahwa aku mengambil S2 yang sama dengan jurusan S1, hahaha.

Yaa, mau bagaimana lagi. Saat itu aku berstatus sebagai ASN, dan kantor hanya mau membiayai sekolah jika sesuai dengan Ikhtisar Jabatan dan Analisis Beban Kerja (IJ/ABK). Yang artinya juga inline dengan latar belakang pendidikan sebelumnya karena menjadi persyaratan ketika aku diterima bekerja.

Mengambil S2 mungkin adalah keputusan yang tak akan pernah kusesali sepanjang hidup, meskipun dulu awal-awal mendapat beasiswa dari kantor, aku sempat gamang. Ya, gamang karena asal mula ikut seleksi beasiswa adalah karena iseng. Dan ketika iseng itu membuahkan hasil lolos, aku “terpaksa” harus mendaftar S2. Kemudian ketika lulus seleksi S2 dan berhasil masuk ke almamaterku, nyaliku menciut karena takut. Takut tak bisa mulus menjalani studi, mengingat berdarah-darahnya aku ketika S1 dulu (lebay, hehehe).

Namun, ternyata ada banyak keberkahan yang aku rasakan karena mengambil S2. Berkah tidak selalu identik dengan jumlah. Di dalam kamus Arab, berkah memiliki arti pertumbuhan atau pertambahan kebaikan. Berkah dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008:179) yang masuk dalam kelas kata nomina memiliki arti ‘karunia Tuhan yang mendatangkan kebaikan bagi kehidupan manusia’.

Sedangkan kata berkat dalam KBBI Pusat Bahasa, memiliki empat makna, masing-masing adalah (1) karunia Tuhan yang membawa kebaikan dalam hidup manusia; (2) doa restu dan pengaruh baik dari orang yang dihormati (guru); (3) makanan dan sebagainya yang dibawa pulang sehabis kenduri; (4) mendatangkan kebaikan atau bermanfaat (2008:179-180).

Ada pula yang mengartikan berkah dengan kalimat ‘dapat melakukan hal yang banyak dalam waktu yang sempit’ atau ‘mendapatkan kebaikan lebih banyak dari takaran yang semestinya’. Apa pun artinya, berkah yang kumaksud meliputi semua arti di atas.

Berkah S2 pertama yang sangat kusyukuri adalah mendapat teman-teman seperjuangan yang sangat baik, pengertian, dan menyenangkan. Bersama teman-teman ini, mengerjakan tugas tak pernah menjadi beban. Menjalani hari-hari kuliah dengan gelak tawa, saling bantu ketika yang lain kesulitan. Maha Suci Allah yang mempertemukan aku dengan pertemanan seperti ini, hingga studi tak terasa dijalani sendiri, melainkan full support. Entah apa jadinya studiku bila tak kulakukan bersama bantuan mereka.

Berkah kedua adalah waktu luang yang kudapatkan untuk mengurus anak. Aku melahirkan anak kedua ketika perkuliahan menginjak semester satu. Kondisi studi yang fleksibel—tak seperti jam kantor—membuatku leluasa memberi ASI, terutama ketika enam bulan pertama, hingga membuat dia menjadi bayi ASI yang nemplok banget. Kemudian masih leluasa pula untuk mengatur menu dan memasak MPASI untuknya pada bulan-bulan berikutnya. Tak lupa juga leluasa mengantar jemput anak sulung ke sekolah dan sesekali mengiringinya dalam kegiatan outing ke beberapa tempat.

Berkah ketiga adalah kelonggaran waktu untuk melakukan olahraga sepuasnya. Senam aerobik yang dulunya aku lakukan 2 kali seminggu, frekuensinya bertambah menjadi 3-4 kali seminggu. Kemudian aku juga sempat mengikuti kelas pilates selama 20 kali pertemuan, yang sedikit banyak berpengaruh positif terhadap skoliosisku. Lalu aku mengikuti kelas yoga seminggu sekali dan merutinkan berenang seminggu sekali. Juga masih sempat bersepeda beberapa kali dalam seminggu. Ah, nikmatnya hidup ketika kita bugar beraktivitas sepanjang hari. Tak hanya sehat yang didapat, ketika olahraga yang disukai dilakukan, tubuh juga akan mengeluarkan hormon endorfin yang membuat kita lebih bahagia.

Berkah berikutnya adalah kesempatan yang terbuka untuk aktif dalam berbagai kegiatan komunitas. Karena waktu kuliah yang longgar, aku berkesempatan aktif ikut banyak seminar dan pelatihan parenting dari berbagai pihak. Ini keberkahan yang luar biasa dalam mencari ilmu mengenai pengasuhan dan pendidikan anak. Lewat kesempatan itu pula aku berkenalan dengan Bunda Rani dan Komunitas Cinta Keluarga (KCK), yang membuatku merasa menemukan supporting system yang baik dalam menjalani dunia parenting. Hal ini diikuti pula dengan terlibatnya aku dalam penyelenggaraan seminar dan pelatihan mengenai parenting dan kesehatan anak.

Selain itu aku juga aktif di Masyarakat Skoliosis Indonesia (MSI) cabang Jawa Barat. Komunitas penggiat skoliosis ini berperan sebagai pusat informasi skoliosis dan sebagai wadah pemersatu bagi penyandang dan pemerhati skolisosis di Indonesia, khususnya Jawa Barat. Lewat MSI aku bertemu dengan orang-orang yang luar biasa. Serasa menemukan saudara senasib sepenanggungan di sini. Kami bersama-sama mengadakan kegiatan, baik yang lingkupnya kecil seperti pertemuan kopdar untuk sharing, berbagi informasi, nonton film atau jalan-jalan bersama, maupun yang lingkupnya lebih besar seperti talkshow di radio, seminar, atau penggalangan dana untuk operasi skolioser yang tidak mampu.

Maka ketika tugas belajarku resmi berakhir, ada rasa senang sekaligus sedih. Senang karena sidang tesis telah terlampaui dengan baik, sekaligus sedih karena aku kehilangan keleluasaan waktu untuk hal-hal yang aku sukai. Suatu tanggung jawab yang telah selesai di satu tempat memang menuntut tanggung jawab baru di tempat lain.

ITB Motherhood

Kehidupan kampus ITB memang hanya bagian kecil dalam hidupku. Lima tahun S1 dan dua setengah tahun S2 memang hanya sekian persen dari keseluruhan usiaku. Namun, masa yang pendek itu adalah masa paling berharga dalam membentukku menjadi seperti sekarang ini. Selain kapabilitas yang berguna di dunia karir, menjadi alumni ITB juga artinya memiliki jejaring luar biasa dalam kehidupan pascakampus.

Salah satu hal yang kusyukuri dari menjadi alumni ITB adalah bisa bergabung dengan komunitas ITB Motherhood. Komunitas ini dibuat pada 2010 untuk mewadahi mahasiswi atau alumni perempuan ITB yang tertarik pada dunia ibu dan anak. Hingga saat ini grup ITB Motherhood di Facebook telah memiliki ribuan anggota dan kegiatannya berkembang menjadi lebih dari 30 komunitas internal―yang kegiatannya tidak hanya bersifat daring, tetapi juga luring.

ITB Motherhood memiliki iklim yang sangat kondusif untuk menjadi sebuah support system. Di dalamnya kita dapat bertanya tentang apa saja tanpa takut merasa dihakimi, dapat melakukan jual beli dengan rasa aman dan asas kepercayaan, atau mencari dukungan dalam bentuk apa pun. Sebagai contoh, beberapa tahun silam aku sempat bergabung dengan subgrup ASIX dan subgrup ibu hamil yang sangat memberi dukungan dalam hal motivasi maupun pengetahuan seputar kehamilan, persalinan, dan ASI. Beberapa subgrup di ITB Motherhood juga bergerak dalam hal beasiswa, donasi, dan relawan.

Saat ini aku aktif dalam beberapa subgrup ITB Motherhood, yaitu Mamah Gajah Berlari, Mamah Gajah Bercerita, dan tentunya Mamah Gajah Ngeblog―yang membuatku menelurkan tulisan tantangan ini.

Penutup

Di kampus ITB aku tak hanya menyelami dunia akademik, tetapi juga belajar tentang jatuh bangun, mengenali diriku sendiri, membentuk pola pikir, juga ketangguhan bertahan sampai akhir. Maka bagiku ITB adalah tempat pulang, tempat yang selamanya akan terpatri dalam hati.

Tulisan ini diikutsertakan dalam Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan Februari yang bertema “Tempat/Lokasi yang Membentukku”.

Monday, November 24, 2025

Repas

Lidya menoleh ke arah jam dinding. Sudah pukul enam sore. Dia harus bergegas merapikan rumah dan menyiapkan makan malam. Kalau Rendi pulang dari kantor dan mendapati semuanya belum beres, bisa habis Lidya kena marah. Sekadar omelan dan hardikan saja mungkin tak mengapa, tetapi repot urusannya bila disertai dengan kekerasan fisik seperti biasa.

Lidya membuka kantong-kantong belanjaan dengan terburu-buru. Pikirannya sibuk memikirkan menu apa yang akan dimasaknya. Cukup lama dia tadi termangu di depan rak-rak supermarket. Bukan karena mengingat-ingat daftar belanjaan, melainkan lebih banyak melamunkan nasibnya yang tak tentu arah.

Sejam kemudian didengarnya mobil Rendi memasuki garasi. Untung rumah sudah rapi dan beberapa menit lagi makan malam sudah siap. Lidya mengaduk sup krim dan menyendok sedikit untuk dicicipi. Dia harus memastikan rasanya pas dengan selera Rendi.

“Selamat malam, Sayang.” Lidya menyapa suaminya dengan suara yang dibuat seramah mungkin. Rendi menutup pintu dengan wajah masam. Tampaknya harinya tidak terlalu baik. Dijawabnya sapaan Lidya dengan dengusan kesal.

“Makan malam sebentar lagi siap,” lanjut Lidya, “Mas bisa mandi dulu.”

“Nggak usah nyuruh-nyuruh,” tukas Rendi dengan gusar. Jantung Lidya berdebar. Rendi berjalan ke arah kamar untuk membasuh diri, memberi kesempatan bagi Lidya untuk menata meja makan dengan cepat.

Beberapa saat kemudian mereka berdua sudah duduk di meja makan. Rendi menyantap makan malam dalam diam. Setelah makan mereka tandas, Rendi berkata, “Aku perhatikan tadi ada tarikan dana dari ATM cukup banyak.”

Tangan Lidya yang sedang membereskan piring kotor terhenti. “Ah iya, aku tadi belanja bulanan.”

“Belanja bulanan seharusnya tidak menghabiskan sebanyak itu.”

Lidya agak gemetar ketika membalas, “Ehm … anu … aku tadi membeli beberapa potong baju …”

“Kenapa tidak minta izin sebelumnya?” potong Rendi.

“Ehm, bajuku sudah banyak yang belel, Mas. Daster yang lama pun sudah banyak bolongnya.”

“Iya, kenapa tidak minta izin?”

“Maaf, Mas, tapi …”

“Kebiasaan memang kamu ini.” Rendi bangkit sambil menggerutu panjang pendek.

Lidya menghela napas lega ketika Rendi meninggalkannya. Dia melanjutkan membereskan meja dan mencuci piring-piring. Sungguh merana hidup dalam rasa was-was seperti ini setiap hari.

Selesai membersihkan dapur, Lidya beranjak ke kamar untuk sekadar menyelonjorkan kaki di atas kasur. Langkahnya terhenti di pintu kamar ketika melihat Rendi sedang memeriksa barang belanjaannya. Di tangan Rendi terlihat beberapa setruk.

“Dengan siapa kamu pergi sore tadi, ha?” Suara hardikan Rendi menggelegar memenuhi ruangan. Tangan Rendi dengan kasar menariknya masuk.

Lidya menggeleng takut, lalu membuka mulut, “Sungguh bukan dengan siapa-siapa.”

“Bohong!”

Telinga Lidya terasa pekak. Sesaat kemudian pelipisnya membentur tembok ketika tangan Rendi menempelengnya dengan kuat. Ia terjatuh.

“Lihat setruk ini,” kata Rendi sambil menyorongkan selembar kertas di depan wajah Lidya, “jelas-jelas tertera pembelian makanan di kafe untuk dua orang!”

Lidya meringkuk di pojok kamar dengan tubuh gemetar. Setetes darah menghias sudut bibirnya. Di depannya, Rendi berdiri menjulang dengan sikap angkuh.

“Aku … aku terlalu lapar tadi, Mas. Sudah lama tidak jajan di luar, jadi aku …”

“Bohong lagi! Nggak ada gunanya punya istri pembohong begini! Ayo ke sini kamu!” Rendi makin meraung. Wajahnya merah meledak marah ketika melihat Lidya beringsut mundur.

Istri? Masa tega dia perlakukan aku seperti ini jika aku masih dianggapnya sebagai istri, batin Lidya. Selama lima tahun pernikahan, hampir setiap hari bogem mentah Rendi melayang. Tak terhitung lagi berapa kali dia menyakiti Lidya secara verbal. Di manakah cinta yang mereka agungkan di awal pernikahan?

Lidya merasa tak lagi memiliki nilai di mata Rendi, selain hanya sebagai sasaran kemarahan belaka. Dia sungguh merasa tak berharga. Hatinya diliputi kecemasan tentang bagaimana hidupnya bisa saja berakhir di tangan suaminya sendiri.

Kuping Lidya terasa berdenging karena kepalanya pusing. Suara Rendi mulai tak fokus didengarnya. Lidya menepis ciut. Dia sudah lelah menumpuk takut. Kali ini dia harus memberanikan diri. Dia bangkit dan mendorong tubuh Rendi sekuat tenaga, lalu berlari ke dapur. Dia tahu di belakangnya Rendi mengejar dengan kemarahan menggelegak. Dia harus bergerak secepat kilat.

Malam menjelang; bulan sabit menggantung di langit berselimut awan. Keributan beberapa saat lalu tak lagi terdengar. Rumah besar itu diliputi sunyi. Sesosok tubuh terbujur kaku di lantai, di dadanya tertancap pisau dapur. Lidya menyeringai.


Tulisan ini diikutsertakan dalam Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan November yang bertema “Di Luar Logika”.

Saturday, October 25, 2025

Dear John: Sebuah Adaptasi Tentang Cinta, Kerinduan, dan Kehilangan

Poster film diambil dari sini

Apa yang kamu lakukan ketika gadis yang kamu cintai, yang berjanji akan menunggumu pulang dari dinas ketentaraan, ternyata pada akhirnya memutuskan hubungan kalian dan menikah dengan lelaki lain?

Begitulah kondisi sulit yang dihadapi John Tyree, seorang prajurit US Armed Forces setelah memenuhi panggilan negaranya dalam perang di Timur Tengah, yang dikisahkan oleh Nicholas Sparks dalam novelnya “Dear John”.

“Dear John” menceritakan kisah hidup John yang pada masa awal kehidupannya hanya tinggal berdua dengan ayahnya, seorang pengidap Sindrom Asperger. Hal itu sedikit banyak mempengaruhi relasi mereka. John tahu ada yang berbeda dengan ayahnya, tetapi ia tak pernah memahami hal itu.

Perjalanan hidupnya yang rumit membuatnya mendaftar masuk ke US Armed Forces, dan pada suatu masa cuti dari ketentaraan ketika ia pulang ke rumah, ia bertemu dengan seorang gadis bernama Savannah. Dari situlah kisah kemudian berkembang. Savannah mengajarkan John bagaimana memperbaiki hubungan dengan ayahnya, mengajarkannya tentang cinta, patah hati, dan kebahagiaan sejati.

Novel “Dear John” ditulis pada tahun 2006 dan diangkat ke layar lebar pada tahun 2010. Selisih tahun adaptasinya tidak terpaut jauh sehingga bisa dibilang: tidak ada konteks zaman yang berbeda. Meskipun demikian, tentu ada hal-hal menarik yang bisa dikaji dalam proses kreatif adaptasinya. Apakah memang sesuai ekspektasi pembaca novel dan penikmat film? Apakah ada alur, kisah, dan rasa yang berubah?

Dari Segi Penulisan Novel

Sparks berusaha membangun konflik dengan cara seorisinal mungkin tentang alasan mengapa dua orang yang saling mencintai tidak dapat bersatu selamanya. Konflik dalam kisah John dan Savannah ini diaduk-aduk sedemikian rupa sehingga tetap terasa nyata dan tidak mengada-ada. Jadi meskipun ringan dibaca, konfliknya tetap matang.

Novel yang berjumlah 392 halaman ini banyak menggambarkan detail Wilmington, North Carolina sebagai latar. Bagi sebagian orang yang tidak terlalu suka narasi, beberapa bagian penceritaan kota itu mungkin terasa panjang. Namun bagiku, hal ini menunjukkan kepiawaian Sparks dalam menulis deskripsi dan menggambarkan suasana yang sangat membantu pembaca untuk membayangkan konteks cerita. Tidak hanya pada latar, tetapi juga pada bagian-bagian detail lainnya. Penggambaran selalu deskriptif mengenai apa pun dan tidak membosankan, meskipun selalu dilihat dari sudut pandang orang pertama.

Dalam hal penokohan, sungguh aku tak bisa berkata-kata lagi. Sparks selalu keren dalam menciptakan tokoh yang berkarakter. Sudut pandang orang pertama sering dipakai dalam novel, tetapi jarang ada novel romantis yang “aku”-nya adalah seorang laki-laki. John digambarkan sangat manusiawi: meskipun ia tentara–yang identik dengan sosok tangguh–ternyata ia memiliki perasaan yang halus. Ia bisa mellow bahkan menangis, juga clueless jika menyangkut hubungannya dengan Savannah.

Dari segi penggambaran emosi, perasaan John pun tersampaikan dengan baik seolah-olah ia benar-benar sedang curhat dengan pembaca. Hal ini tentu membuat pembaca ikut larut dalam cerita. Aku angkat topi untuk kemampuan Sparks menulis tentang emosi secara mendalam.

Dari sekian banyak novel Nicholas Sparks, “Dear John” ini yang paling baik menurutku. Alih bahasa yang dilakukan Barokah Ruziati bagus dan tanpa cela, tidak seperti salah satu novel Sparks lain yang alih bahasanya acakadut dan bikin geregetan.

Dalam situs pribadinya, Sparks menulis tentang buku ini, “In the end, I was proud of the novel. It is, in many ways, one of my favorites. It is also one that I think will resonate with readers long after the final page is turned.

Ya, dia benar! Aku menangis ketika membaca novel ini, terutama ketika bab-bab akhir. Aku masih ingat, air mata terus mengalir di wajahku. “Dear John” is also my favorite, and it resonated with me long after the final page was turned, even many years later.

Versi Film

Secara umum, kisah, penokohan, alur, serta latar pada film tidak memiliki perbedaan yang signifikan dengan novelnya. Ada beberapa detail yang berubah, seperti misalnya hubungan antarkarakter dan peringkasan cerita, tetapi rasanya hal itu masih dalam taraf wajar mengingat adanya keterbatasan ruang dan waktu dalam proses adaptasi dari novel menjadi film.

Film “Dear John” dibintangi oleh Channing Tatum sebagai John Tyree dan Amanda Seyfried sebagai Savannah Lynn Curtis. Gambaran tentang John dalam benakku cukup sesuai dengan sosok Channing Tatum. Namun, sosok Savannah sangat berbeda dengan imajinasiku, terutama karena Amanda Seyfried berambut pirang sementara dalam novelnya digambarkan memiliki rambut coklat yang indah. Meskipun demikian, menurutku akting Tatum dan Seyfried bisa dibilang mampu menghadirkan karakter yang mirip dengan karakter novel.

Dalam hal kesuksesan film, pada akhir pekan pembukaannya, film ini meraup $30.468.614. Hal tersebut membuat film ini menempati posisi pertama di box office, mengalahkan Avatar setelah tujuh minggu bertengger di posisi pertama. Hal itu juga berhasil menjadikan film ini sebagai debut terbaik untuk sebuah film yang diangkat dari novel Nicholas Sparks.

Namun, secara reviu, film ini menerima ulasan yang tidak terlalu bagus. Di Rotten Tomatoes, film ini memiliki skor rata-rata 4,50/10 berdasarkan 137 ulasan. Konsensus kritikus situs web tersebut berbunyi: “Built from many of the same ingredients as other Nicholas Sparks tearjerkers, Dear John suffers from its clichéd framework, as well as Lasse Hallstrom's curiously detached directing.” Metacritic, yang memberikan skor rata-rata 43/100 dari 34 ulasan kritikus film, memberikan nilai “mixed or average”.

Jika ada hal yang sangat menggangguku dari filmnya, itu adalah soal ending. Sparks yang dikenal sebagai spesialis penulis dengan ending tragis dalam novel-novelnya, sebenarnya lebih suka menyebut ending novel ini sebagai bittersweet, sebuah istilah halus untuk sad ending.

Pada ending novel, John akhirnya melepaskan Savannah dan berdamai dengan kenyataan bahwa mereka memang tidak dapat bersama karena Savannah telah menikah ketika John masih menjalani dinas ketentaraan. Tahun-tahun yang terpisah ketika mereka menjalani long distance relationship memperburuk keadaan dan membuat hambar hubungan mereka. Meskipun keduanya saling mencintai, hubungan mereka terpaksa harus kandas ketika hidup keduanya tidak lagi beririsan dan memiliki frekuensi yang sama.

Nah, dalam filmnya, sutradara dan penulis skenario agak maksa ketika mereka mengubah ujung cerita menjadi happy ending. Dikisahkan suami Savannah akhirnya meninggal akibat sakit kanker dan mereka berdua dapat kembali bersama. Ini agak krik krik menurutku, mengingat intensitas emosi penonton yang sudah dibuat termehek-mehek ketika mereka berpisah.

Apa yang Bisa Kita Pelajari?

Adaptasi karya film yang diangkat dari buku–sadar atau tidak sadar–selalu membuat kita membandingkan: mana yang lebih baik, buku atau film? Sejauh ini, dari sekian banyak film adaptasi yang pernah kutonton, aku selalu memenangkan buku. Namun, kali ini aku harus mengakui bahwa novel maupun film “Dear John” sama-sama bagus. Proses adaptasinya tidak wow, tetapi juga tidak buruk. Filmnya berhasil mengejawantahkan kisah dalam novel dengan sangat manis. Sukses menjadi film bergenre drama seperti novelnya tanpa sisi dramatis yang berlebihan.

Meskipun demikian, perbedaan ending yang membuatku frustrasi memang harus diakui tampaknya sengaja dibuat untuk memanjakan pasar. Mungkin para penikmat film lebih menyukai happy ending daripada sad ending. Mana ada pemirsa yang rela berderai air mata ketika meninggalkan bioskop, hehehe. Pada akhirnya, perbedaan aspek lintas medium (terutama layar lebar) memang tidak bisa dilepaskan dari urusan pasar yang tunduk pada kapitalisme.

Sudut Pandang Personal

Kembali ke paragraf yang kutulis di awal tulisan ini: apa yang bakal kamu lakukan ketika kehilangan seseorang yang istimewa dalam hidupmu? Yang membuat kisah John menarik untukku adalah karena ia bercerita tentang proses melepaskan dan berdamai setelah kehilangan, yang mana pengalamannya pasti akan berbeda untuk setiap orang.

Ada orang yang berdamai setelah kehilangan dengan cara melupakan. Namun, ada yang justru dengan cara mengenang, seperti John. Dia mengenang segala yang pernah dia miliki bersama Savannah, karena cinta mereka memang (pernah) nyata. Dia mengikhlaskan Savannah demi kebahagiaannya, meskipun sejatinya dia tidak rela. Itu sebuah bentuk pengorbanan yang besar, kurasa.

Pulih bukan berarti sembuh. Pulih artinya tetap bisa melangkah dengan luka akibat kehilangan dan menyadari sepenuhnya bahwa yang kamu lakukan adalah sesuatu yang benar. Love sekebon buat John, the real gentleman yang membuatku bersimpati hingga tersedu-sedu ketika selesai membaca novelnya dua belas tahun silam.

Tulisan ini diikutsertakan dalam Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan Oktober yang bertema “Menyelami Orisinalitas dalam Adaptasi Karya Lintas Medium”.

Wednesday, September 10, 2025

Kala Senja

Ilustrasi senja di ibu kota, diambil dari sini

Aku menatap ke luar jendela kaca selebar dinding yang membatasi pandanganku dengan langit Jakarta. Jauh di bawah sana, aku dapat melihat orang yang berjejalan di halte Transjakarta sedang menanti bus yang akan membawa mereka pulang ke rumah masing-masing. Sementara di ufuk barat, mentari tengah bersiap-siap menutup hari, pendar ronanya membias awan.

Sejak dulu aku memang pecinta senja. Selalu ada aura magis yang menyelimuti bumi ketika semburat merah petang menghiasi langit. Namun, inspirasi senja tak lagi dapat kureguk bebas sejak aku pindah ke ibu kota, mengingat setiap sore aku masih terkurung di ruang kerja.

Beberapa penghuni kantor di lantai delapan ini melambaikan tangan padaku dari balik kaca transparan. Meskipun aku tak dapat mendengar ucapan mereka, dari gerak bibir mereka aku paham bahwa mereka tengah berpamitan. Beberapa dari mereka akan segera bergabung dengan keriuhan halte di bawah, yang lain akan meramaikan jalanan ibu kota dengan mobil pribadi, ojol, atau taksol, sebagian larut dalam gegas untuk menumpangi commuter line.

Kehidupan ibu kota memang keras: tiap orang berkejaran dengan waktu mulai subuh hingga malam, mengorbankan waktu, tenaga, bahkan kesehatan untuk mengejar mimpi dan pundi-pundi rezeki. Mungkin hal itu jugalah yang menjadi alasan keberadaanku di sini.

“Belum pulang, Kak?” Sebuah suara yang diikuti dengan paras jelita muncul dari balik pintu. Rara, mahasiswi yang sedang magang di kantor ini, menatapku dengan pandangan bertanya. Di tangannya ada setumpuk berkas, raut wajahnya memancarkan kelelahan.

“Dokumen yang harus kuperiksa?” Aku mengedikkan kepala ke arah berkas-berkas itu. Dia mengangguk sambil tersenyum, kemudian berjalan menuju sudut meja. Dia sudah hafal di mana dia harus meletakkan benda-benda.

“Ra, jangan capek-capek ya. Sudah magrib, pulang sana.” Aku memandang gadis itu. Meskipun letih, semangat masih jelas tergambar di wajahnya. Sama seperti yang banyak kutemui ketika aku melangkahkan kaki di bilangan Sudirman ini, kompleks perkantoran bergengsi yang menjadi tempat kerja impian banyak anak muda.

“Kak, tadi aku ketemu Pak Evan. Beliau titip pesan, kalau pekerjaan sudah selesai, katanya Kakak disuruh menghubungi beliau,” kata Rara sebelum menghilang dari balik pintu. Aku mengangguk, lalu kembali menekuri layar laptop. Namun sejujurnya, pikiranku sudah melayang ke mana-mana.

“Selamat pagi, perkenalkan nama saya Adrian Evano. Panggil Evan saja, ya,” begitu kalimat yang diucapkannya ketika kami pertama kali bertemu.

“Azalea Pratista, dipanggil Lea,” balasku berusaha sopan.

Sebagai penghuni baru di kantor ini, cukup sulit bagiku untuk langsung menghafalkan nama orang-orang yang kutemui, tetapi tidak dengan sosoknya. Perannya selaku manajer health, safety, and environment di perusahaan manufaktur tempatku bekerja cukup menonjol. Kepribadiannya ramah dan peduli, pekerjaannya selalu rapi, dan dia senantiasa tegas dan berwibawa dalam menjalankan tugasnya sebagai penyambung informasi perusahaan dengan pihak HSE di lokasi proyek maupun di unit lain.

Menurut kasak-kusuk Rara, tak sedikit perempuan di kantor ini yang menaruh hati pada Evan. Aku tentu tidak heran, mengingat ketampanannya memang berbanding lurus dengan prestasinya. Sebagian dari mereka sering mengajaknya makan siang atau sekadar nongkrong di kedai kopi, tetapi dia selalu menampik dengan alasan sibuk bekerja. Aku hanya bisa terkikik ketika Rara menceritakan itu semua. Kuanggap itu sebagai hiburan, karena memikirkan laki-laki adalah hal paling terakhir yang ada di pikiranku.

Bertahun-tahun aku menenggelamkan diri dalam pekerjaan. Aku berusaha menyibukkan diri dengan beban kerja dan perjalanan dinas, membangun karier, serta berusaha mandiri untuk menghidupi diri, Ibu, dan adikku di Bandung sana. Malam demi malam yang dingin di Kota Kembang kulalui dengan mengambil lembur, berharap kesibukan kerja akan mampu mengusir sepi dan lara hati.

Enam tahun lalu, cintaku dihancurkan berkeping-keping oleh seorang lelaki. Senja kala itu, aku memergokinya tengah berjalan beriringan dengan seorang perempuan, lengkap dengan belaian mesra dan gandeng tangan yang erat. Peristiwa itu membuat pamor senja sedikit tercoreng di mataku.

Aku tak pernah menceritakannya pada Ibu. Yang beliau tahu, aku memutuskan pertunangan dan membatalkan rencana pernikahan secara tiba-tiba. Beliau tak perlu tahu betapa porak-porandanya hatiku, sama seperti ketika Bapak meninggalkan beliau bertahun-tahun silam.

Promosi menjadi manajer quality assurance di kantor pusat membawa perjalananku sampai ke Jakarta. Di satu sisi, aku merasa senang karena dapat membungkus luka yang tersisa dan kabur dari pertanyaan Ibu yang senantiasa menghujani tentang kapan aku akan mengakhiri masa lajang. Namun, di sisi lain aku juga pilu karena merindukan Ibu, adikku, dan kota kelahiran. Tinggal di Jakarta seringkali menggerus kewarasan. Aku merasa tidak punya waktu untuk sejenak melambat dan kadang hal itu membuatku merasa sedikit gila.

“Kamu tidak suka Jakarta?” tanya Evan pada suatu siang. Saat itu aku sedang berjongkok memeriksa ban mobil kantor yang tiba-tiba kempes dalam perjalanan kami menuju Karawang untuk mengecek site pendirian pabrik baru. Perjalanan itu adalah kesekian kali aku bekerja sama dengannya dalam satu tim.

Aku menoleh sekilas ke arahnya, sebelum berseru kepada sopir, “Pak, panggil bengkel saja, ya. Tampaknya ban mobil bocor.”

Evan mengulangi lagi pertanyaannya ketika kami duduk di bangku sebuah warung sembari menanti pihak bengkel datang. Aku memandangnya. “Apa yang membuatmu berpikir begitu?”

“Entah. Kulihat kamu selalu tinggal di kantor sampai larut malam. Datang paling awal, pulang paling akhir. Nggak pernah ikut jalan sama teman-teman,” jawabnya.

Aku bertanya lagi, “Apa yang menarik dari sebuah kota yang panas, bising, berdebu, dan penuh polusi?”

Dia tertawa. Tangannya mengulurkan sebotol teh dingin. “Minumlah dulu, wajahmu merah karena kepanasan.”

Aku membuka botol dan meneguk secercah kesegaran. “Aku kangen Bandung,” kataku.

“Yah, setiap orang dihadapkan pada risiko dalam setiap langkah kehidupan. Tinggal di Bandung mungkin lebih nyaman, tapi karirmu akan begitu-begitu saja. Seperti halnya manajemen risiko keselamatan dan kesehatan kerja, semua potensi bahaya dan risiko dikalkulasi, lalu dimitigasi dan dikendalikan. Ada risiko yang masih bisa diterima. Nah, itu yang kita kendalikan dampaknya.”

Aku memandangnya sambil setengah tertawa. “Jadi kita sedang kuliah tentang manajemen risiko di tengah jalanan desa antah berantah?”

Evan terbahak hingga kelihatan susunan giginya yang rapi. “Bukan begitu. Maksudku, dalam hidup ini ada banyak hal yang berjalan tidak sesuai harapan. Itu yang disebut risiko kehidupan. Tapi di balik itu semua, tentu ada hikmah dari promosimu ke Jakarta. Karir naik, gaji juga mengikuti kan?”

“Beban kerja dan tanggung jawabnya juga tidak sedikit,” kilahku.

“Oh, itu jelas,” seru Evan, “tapi kamu juga bisa mencari hal-hal yang membahagiakan dari kehidupan Jakarta. Sebuah alasan di mana suatu hari nanti kamu akan merasa beruntung telah berada di sini.”

Aku hanya mengangkat bahu, belum sepenuhnya menyadari makna kalimatnya.

Proyek pendirian pabrik baru itu memakan sumber daya yang tidak sedikit. Pekan demi pekan kami habiskan untuk mengawasi perencanaan dan pelaksanaannya. Rapat-rapat berlangsung maraton hingga larut malam. Pada suatu akhir hari yang melelahkan, Evan mengajakku berjalan menyusuri Jalan Sudirman di waktu petang. Aku sendiri tak tahu pasti mengapa dengan mudah aku mengiyakan ajakannya.

“Kamu tahu kenapa aku suka Jakarta?” tanya Evan. Aku menggeleng.

Dia melanjutkan lagi, “Kota ini adalah simbol perjuangan dan perubahan. Dinamikanya memang keras, tapi somehow membuat orang-orang di dalamnya menjadi tangguh. Siapa yang tidak bergegas akan tergilas, itulah cara kehidupan mengajari kita akan makna kerja keras.”

Aku manggut-manggut. Setelah sekian lama aku tak merasakan keindahan senja, sore itu menjadi semacam muara bagiku untuk kembali menikmati kemolekannya. Jakarta yang ramai dan bising seakan memendar dalam cahaya jingga. Berkawan sepoinya angin, aku mengurai rindu. Bersama temaramnya sinar surya yang kembali ke peraduan, hatiku menunduk khusyuk dalam syahdu.

Aku menarik napas dalam dengan mata terpejam. “Sudah lama aku tak merasakan indahnya senja seperti ini.”

Ketika aku membuka mata, kudapati Evan tengah menatapku. Binar sandyakala memantul dari matanya. “Kamu suka senja?”

Aku mengangguk sambil berucap, “Pada senja aku menemukan damai. Membuatku berpikir positif, bahwa apa pun yang kulalui hari itu memiliki akhir yang indah sehingga rasa syukurlah yang kurasakan saat menutup hari. Sayangnya aku tak bisa sering-sering menikmati senja sekarang ini. Pekerjaanku tak pernah selesai sebelum magrib.”

Evan terdiam cukup lama. Sejurus kemudian dia berkata, “Oke, mulai besok, kalau pekerjaanmu belum selesai, kita bawa laptopmu ke rooftop. Kamu bisa rampungkan di sana sambil melihat senja. Ada bangku-bangku di ujung helipad yang bisa kita pakai duduk.” Aku terbelalak. Laki-laki ini sungguh penuh kejutan.

Sepanjang jalan kami mengobrol tentang banyak hal. Untuk pertama kalinya setelah enam tahun, aku tak lagi membenamkan diri dalam lubang tak berkesudahan. Kupikir kehidupan Jakarta yang berkejaran, ternyata hati dan pikiranku yang kelelahan. Malam itu, mata dan hatiku terbuka. Semuanya terlihat berbeda.

Pada para pekerja yang tengah menanti bus untuk pulang, aku melihat binar harapan karena sebentar lagi mereka akan bersua keluarga. Beberapa orang yang berlari melintas di area Senayan dan sekelompok orang yang bersorak-sorak di stadion softball mengajariku bahwa seberapapun kerasnya bekerja, kita tetap harus meluangkan waktu untuk self-care. Pada orang-orang yang berkumpul di kedai kopi atau tempat makan, aku memahami pentingnya membangun relasi dan kehangatan di dunia nyata.

Senja hampir saja berlalu ketika ketukan halus terdengar di pintu dan membuyarkan lamunanku. Kudongakkan kepala dan kulihat Evan sudah berdiri di sana dengan senyum yang memesona. “Rooftop?” tanyanya.

Aku tertawa sambil menggeleng. “Rasanya tak perlu, pekerjaanku sudah selesai.”

“Oke, kalau begitu … nasi goreng Jalan Sabang?” tanyanya lagi.

Aku mengangguk dan membalas senyumnya. Setelah membereskan berkas-berkas yang tadi kuperiksa, aku mematikan laptop dan menyambut uluran tangan Evan. Tangan itulah yang menggenggam jemariku dengan hangat di atas jembatan Semanggi, ketika kami menikmati kerlap-kerlip lampu ibu kota pada suatu malam selepas menyusuri Jalan Sudirman. Aku menatap matanya lekat. Kurasa aku sudah menemukan alasan yang membuatku merasa beruntung telah berada di sini.

Tulisan ini diikutsertakan dalam Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan September yang bertema “ROMANTISME”.

Sunday, August 24, 2025

Latihan Kekuatan: Antara Mesin dan Alat Portabel

Ketika tantangan Mamah Gajah Ngeblog bulan ini mengambil tema tentang pembahasan teknologi dari sudut pandang apakah memerdekakan atau menjajah, aku sempat kebingungan akan menulis apa. Menurut KBBI, teknologi adalah (1) metode ilmiah untuk mencapai tujuan praktis; ilmu pengetahuan terapan, (2) keseluruhan sarana untuk menyediakan barang-barang yang diperlukan bagi kelangsungan dan kenyamanan hidup manusia.

Pertanyaan besar dari tantangan: apakah semua teknologi yang ada dalam keseharian kita selalu menjadi alat yang memerdekakan/membebaskan, atau kita pernah merasa terjajah/disulitkan setelah adanya teknologi tersebut?

Kebetulan minggu lalu aku habis mengikuti pelatihan Certified Fitness Instructor, di mana salah satu bahasannya adalah gerakan latihan kekuatan menggunakan mesin dan alat portabel. Ini tentu menarik, karena dibahas juga mana yang lebih efektif. Langsung terpantik ide untuk menulis soal ini. Apakah penggunaan (teknologi) mesin ini dalam dunia kebugaran lebih memerdekakan, atau justu lebih menjajah (dalam artian membuat kita lebih bergantung)?

Sebagai gambaran, mesin yang digunakan untuk latihan kekuatan biasanya berupa multi-stationery machine, plate loaded machine, selectorized machine, cable machine, atau cardio machine semacam treadmill, elliptical, bike, dan rower. Sementara alat portabel biasanya berupa barbell, plates, dumbbell, kettlebell, clubbell, medicine ball, wall ball, slam ball, swiss ball, sand bell, resistance band, battle rope, suspension training, steel mace, bosu, equalizer, dan stepper.

Fixed Motion

Penggunaan mesin dalam latihan kekuatan sering disebut sebagai fixed motion. Hal ini disebabkan karena pola geraknya sudah ditentukan dan bersifat monoton. Sebagian besar mesin untuk latihan kekuatan didesain untuk menyederhanakan teknik dan memudahkan kita dalam melatih otot secara spesifik–misalnya mesin yang dirancang untuk melatih otot dada, bahu, punggung, tangan, kaki, atau perut. Hal ini membuat pemula lebih cepat dalam mempelajari cara menggunakannya. 

Karena posisi, pola, arah pergerakan mesin sudah ditentukan, otot utama yang menjadi target dapat bekerja lebih optimal tanpa banyak mengaktivasi otot-otot pendukung yang berperan untuk menstabilkan gerakan. Dengan demikian, akumulasi tingkat kelelahan dalam melatih otot tertentu akan makin rendah dan kita akan lebih mudah mempertahankan kualitas gerakan selama set berlangsung.

Dalam konteks hipertrofi (latihan yang menarget peningkatan ukuran serat otot), stabilitas itu berperan penting supaya ketika melakukan gerakan sampai failure, yang terjadi adalah muscular failure, bukan technical failure. Nah, technical failure ini bisa diminimalkan dengan penggunaan mesin sebagai alat bantu untuk menstabilkan gerakan (contoh kasusnya dapat dilihat di sini).

Bagi kita yang yang menerapkan program split training berdasarkan kelompok otot, penggunaan mesin kerap menjadi pilihan karena memberikan kontrol yang lebih baik dalam melatih kelompok otot dengan beban yang berat, bahkan untuk gerakan compound–gerakan yang melibatkan banyak kelompok otot dan lebih dari satu persendian–sekalipun.

Free Motion

Latihan kekuatan menggunakan alat portabel yang mudah dibawa dan dipindahkan disebut free motion atau free weight. Penggunaan alat portabel memungkinkan pergerakan lebih bebas dalam melakukan exercise.

Gerakan dengan alat portabel lebih dinamis dan melibatkan otot pendukung, terutama otot inti (core), untuk menstabilkan pergerakan saat melatih otot utama yang menjadi target. Koordinasi tubuh menjadi lebih menantang dibandingkan dengan jika kita menggunakan mesin. Teknik dalam variasi gerakannya seringkali kompleks bagi pemula, sehingga diperlukan pembimbing untuk mempelajari gerakannya.

Mana yang Lebih Baik?

Penggunaan mesin dianggap lebih aman untuk latihan kekuatan karena pola gerakannya stabil dan mengurangi risiko kesalahan teknik. Di sisi lain, penggunaan alat portabel lebih unggul dalam meningkatkan koordinasi, aktivasi otot inti, dan kontrol motorik secara keseluruhan.

Dalam konteks apakah mesin–sebagai salah satu bentuk teknologi–memerdekakan atau menjajah? Jawabnya: tergantung, harus dilihat lagi konteksnya karena baik mesin maupun alat portabel memiliki plus minus masing-masing.

Bagi seseorang yang memiliki privilese untuk pergi ke gym dengan bebas, penggunaan mesin bisa jadi memerdekakan, karena ia dapat melatih gerakan dengan menyasar otot yang lebih spesifik. Dan karena ia tidak perlu memikirkan faktor-faktor lain untuk mendukung gerakan–seperti misalnya faktor tumpuan, exercise yang dilakukan bisa lebih stabil.

Namun, bagi emak-emak yang rempong dan susah keluar rumah, penggunaan home gym dengan alat portabel tentu lebih memerdekakan. Ia tak perlu bergantung pada penggunaan mesin karena bisa memanfaatkan alat portabel yang tentu lebih murah. Tekniknya memang lebih kompleks, tetapi ia juga bisa sekaligus belajar meningkatkan koordinasi gerakan.

Penting untuk dipahami bahwa otot tidak dapat membedakan apakah stimulus berasal dari mesin, alat portabel, atau beban tubuh sendiri. Selama teknik dan intensitasnya sesuai, masing-masing modalitas dapat memberikan hasil yang optimal.

Oleh karena itu, bagi seseorang yang sudah mulai rutin latihan kekuatan, sebaiknya ia menyeimbangkan penggunaan mesin dan alat portabel. Jangan terlalu sering menggunakan salah satu saja. Bagaimanapun juga, keduanya dibutuhkan untuk saling melengkapi dalam mencapai tujuan kebugaran kita.

Tulisan ini diikutsertakan dalam Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan Agustus yang bertema “Teknologi: Memerdekakan atau Menjajah?”.