Wednesday, July 22, 2026

Jangan Salah Memilih (Tempat Membeli) Kopi

Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan ini mengambil tema “Momen Salah”, yang membuatku berpikir keras tentang topik tulisan yang hendak kubuat. Mamah Patricia yang menjadi host untuk tantangan ini menulis bahwa kita bisa menuliskan kisah tentang kesalahan yang pernah dialami. Bisa berupa cerita lucu, pengalaman memalukan, kejadian yang membuat panik, keputusan yang ternyata keliru, atau momen sederhana yang kemudian menjadi kenangan menarik dalam perjalanan hidup. Kali ini, aku mencoba mengangkat hal yang–menurutku–salah tentang aktivitas minum kopi yang kini membudaya di era modern.

Perjalanan kopi di Indonesia bukan hanya tentang tanaman, tetapi juga tentang bagaimana ia berubah dari komoditas kolonial menjadi bagian dari gaya hidup modern. Perubahan teknik pemasaran kopi bahkan mencerminkan perubahan sosial, ekonomi, dan teknologi di Indonesia.

Kopi pertama kali diperkenalkan ke Indonesia pada abad ke-17, ketika Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) membawa bibit kopi Arabika dari Malabar (India) ke Batavia. Percobaan demi percobaan dilakukan. Pernah gagal akibat banjir, VOC kemudian mendatangkan bibit baru yang berhasil tumbuh. Dari sinilah kopi mulai dibudidayakan. Pada abad ke-18, kopi dari Jawa mulai diekspor ke Eropa. Istilah "Java Coffee" menjadi sangat terkenal sebagai sinonim kopi berkualitas, bahkan hingga sekarang.

Saat itu, belum ada pemasaran kopi kepada masyarakat. VOC memonopoli pembelian kopi dari petani, menetapkan harga secara sepihak, menjual kopi melalui lelang di Eropa, juga membangun citra bahwa "Java Coffee" adalah kopi eksotis dari Timur. Boleh dikatakan, branding pertama kopi Indonesia justru dilakukan di Eropa.

Ketika masa tanam paksa diberlakukan oleh Johannes van den Bosch pada abad ke-19, persebaran kopi berkembang pesat di Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatra bagian utara, kemudian mulai masuk ke daerah timur seperti Bali, Sulawesi, Flores, dan Timor. Teknik pemasaran masih bersifat bisnis dari VOC ke pedagang Eropa. Saat itu belum ada merek. Klasifikasi kualitas ditentukan berdasarkan asal daerah, misal penyebutan Java Coffee atau Priangan Coffee.

Pada akhir abad ke-19, penyakit tanaman kopi yang disebut coffee leaf rust menghancurkan banyak kebun kopi Arabika. Solusinya adalah mengganti sebagian besar perkebunan dengan kopi Robusta karena lebih tahan penyakit, lebih mudah ditanam, dan hasilnya lebih banyak. Persebaran Robusta akhirnya meluas ke Lampung, Bengkulu, Sumatra Selatan, dan Jawa Timur. Lampung menjadi salah satu penghasil Robusta terbesar di dunia hingga kini.

Teknik pemasaran kopi masih berkisar pada volume produksi dan ekspor massal. Kualitas dinilai berdasarkan grade. Karena masih berupa komoditas ekspor, kopi belum dikenal sebagai produk bermerek. Hingga akhirnya Indonesia mencapai masa kemerdekaan di mana banyak perkebunan dinasionalisasi. Produksi kopi kemudian bergeser dari perkebunan besar ke perkebunan rakyat, koperasi, dan usaha keluarga.

Daerah penghasil kopi menjadi makin banyak, sebut saja Aceh, Mandailing, Toraja, Kintamani, Flores, dan Papua. Pemasaran kopi mulai muncul dalam bentuk kopi bubuk lokal dengan cap tertentu. Penjualan ke masyarakat merambah ke warung kopi tradisional dengan varian kopi giling konvensional yang dibuat dalam bentuk kopi tubruk. Kopi mulai banyak diiklankan di radio, koran, atau spanduk toko.

Penjualan kopi pernah mengalami ledakan era kopi instan pada kurun waktu tahun 1980–2000. Muncul banyak produk kopi instan berupa kopi sachet dan kopi 3-in-1 yang iklannya masif beredar di televisi dan sebagai sponsor acara. Penggunaan artis sebagai brand ambassador dan distribusi hingga warung kecil membuat penjualannya berkembang pesat. Fokusnya bukan lagi asal kopi atau rasa kopi–karena sebenarnya isinya cuma gula dan perisa kopi–tetapi lebih ke faktor praktis, murah, dan mudah dibuat.

Pada era third wave coffee yang dimulai pada tahun 2000-an, fokus teknik pemasaran kopi berubah dari sekadar berjualan kopi menjadi storytelling. Yang dijual bukan hanya rasa, melainkan juga faktor petani, ketinggian kebun, varietas, proses pascapanen, hingga single origin. Maraknya specialty coffee membuat asal-usul kopi (origin) kembali menjadi pusat perhatian, tetapi dengan pendekatan yang lebih kaya: bukan sekadar nama daerah, melainkan juga pengalaman menikmati secangkir kopi.

Sayangnya, dalam dunia kapitalisme modern, teknik pemasaran seringkali dibuat sedemikian rupa untuk menciptakan ilusi. Dengan dalih menjual pengalaman menikmati secangkir kopi, ilusi tersebut memanipulasi pembeli sehingga mereka menomorsekiankan logika demi kelebihan yang–menurut mereka–worth it untuk didapatkan. Padahal, tidak selalu demikian.

Menjamurnya kafe-kafe kopi kekinian menjadi bukti nyata dari hal itu. Mereka mengadaptasi teori sosiologi “The Third Place” yang diperkenalkan oleh Ray Oldenburg pada tahun 1989 melalui bukunya The Great Good Place, yang menjelaskan pentingnya adanya ruang sosial informal yang menjadi tempat orang berkumpul di luar rumah dan di luar tempat kerja.

Dengan adaptasi itu mereka menghadirkan ilusi kenyamanan berupa tempat duduk yang empuk dan musik yang nyaman, ilusi kemudahan melalui akses internet tak berbayar, dan ilusi gengsi karena bisa nongkrong di tempat mahal. Yang terakhir ini bahkan menjadi simbol status sosial yang (dianggap) menjadi gaya hidup masyarakat kelas menengah ke atas.

Bagaimana rasa kopinya? Kalau tidak bisa dibilang biasa saja, kadang-kadang malah rasanya tidak karuan. Ada yang terlalu encer, tapi seringnya malah kelebihan gula. Ambil contoh segelas frappuccino. 30% isinya adalah sirup, gula cair, dan whipped cream. 60% berupa es batu dan susu. Kopinya? Hanya 10% saja. Padahal, minuman seperti ini malah menjadi varian yang paling laku.

Belum lagi kalau kita bicara soal ilusi hemat. Misalnya selisih harga antara gelas tall dan grande yang cuma beberapa ribu rupiah membuat kita merasa lebih untung bila membeli ukuran grande. Padahal secara tak sadar, itu hanyalah akal-akalan agar kita membayar dalam jumlah yang lebih besar. Juga promo tumbler, diskon payday, dan segala jenis teknik pemasaran yang membuat kita justru mengeluarkan uang lebih banyak.

Aku pribadi lebih memilih membeli kopi di roastery dan kafe lokal dibanding coffee shop modern yang menyandang nama besar. Oke, kopi memang soal selera. Tapi menurutku, kafe kopi lokal justru menawarkan pengalaman berbeda dalam mencicipi kopi yang sebenarnya. Di situ–tidak seperti coffee shop modern dengan brand ternama yang sudah fixed pilihan biji kopinya–kita bisa memilih beragam varian biji kopi dari berbagai pelosok di nusantara, bahkan dari luar negeri seperti Kenya, Tanzania, dan Ethiopia.

Metode pembuatan kopinya pun bermacam-macam. Bisa espresso-based seperti americano, long black, cappuccino, cafe latte, macchiato, affogato, dll. Bisa juga manual brewing dengan metode pour over (V60, chemex, kalita wave), french press, aeropress, syphon, cold brew, atau vietnam drip. Manual brewing membuat para penggemar kopi dapat menikmati rasa yang unik dan berbeda bila dibandingkan dengan kopi espresso-based, karena bisa membawa kita menjelajahi cita rasa dan pengetahuan yang lebih dalam di dunia kopi.

Sebenarnya kafe kopi lokal juga mengadaptasi teori “The Third Place”, tapi dengan konsep yang lebih intim. Kita bisa berbincang akrab dengan barista karena lingkupnya lebih kecil. Mereka tidak melayani pembeli dalam skala yang besar sehingga mereka dengan senang hati bertukar cakap. Aku bahkan sering bertanya mengenai berbagai biji kopi pada mereka ketika akan memilih varian untuk disajikan atau sekadar untuk menambah ilmu.

Jadi, apa inti dari tulisan panjang ini? Anggap saja sebagai pengingat untuk lebih mindful memilih kopi dan tempat ngopi. Jangan sampai salah memilih dan hanya menukar gengsi dengan gula. Tentu kita tidak rela membayar mahal demi secangkir cairan yang kopinya nyaris tidak terasa. Sejarah panjang kopi sebagai komoditas berharga sebaiknya dikembalikan pada khitahnya menjadi minuman paling nikmat sepanjang masa.

Tulisan ini diikutsertakan dalam Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan Juli yang bertema “Momen Salah”.

Saturday, June 13, 2026

Perubahan Zaman dan Seni Menunggu

Beberapa hari lalu ketika aku sedang jogging sambil mendengarkan radio, aku tergelitik dengan pembahasan menarik yang dibawakan oleh penyiar pagi itu. Temanya tentang nostalgia masa lalu, terutama ketika masa-masa tahun 90-an.

Ilustrasi oleh ChatGPT

Sebagai anak kelahiran tahun 80-an, aku merasa istimewa menjadi generasi milenial. Generasi ini unik karena mengalami masa transisi besar dalam sejarah. Generasi mana lagi selain milenial, yang merasakan tumbuh besar bersanding dengan perkembangan dunia sebelum dan sesudah era internet?

Mamah-mamah pasti ingat kenangan menulis surat atau mengirimkan pesan melalui telegraf dan telegram (bukan aplikasi Telegram zaman sekarang, lho, ya). Atau aktivitas mencari informasi di buku—silakan acungkan tangan bagi mamah yang dulu akrab sama RPUL dan Yellow Pages, hahaha.

Kenangan yang bisa jadi tak terlupakan mungkin juga kenangan menelepon keluarga atau gebetan dengan pesawat telepon rumah atau telepon umum. Saat aku SD, aku masih mengalami menggunakan telepon umum koin. Belakangan ketika aku SMP, telepon umum sudah menggunakan kartu. Lalu saat kuliah, aku juga sempat merasakan mengantri lama di wartel bersama anak-anak perantauan lainnya selepas subuh, demi biaya Sambungan Langsung Jarak Jauh (SLJJ) yang lebih murah.

Obrolan di radio lalu bergeser pada aspek kesenjangan yang dialami generasi milenial ini menghadapi anak-anak mereka—yang kebanyakan generasi Z dan generasi alfa. Ada kisah lucu ketika seorang pendengar bercerita tentang ketidakmengertian anaknya soal hubungan antara kaset dengan pensil, hehehe. Perubahan sebesar ini (dari era kaset, lalu CD, MP3 kemudian music streaming) dalam rentang waktu yang relatif singkat memang sulit dibayangkan oleh para generasi alfa.

Satu hal yang paling sulit kupahamkan pada anak-anak adalah tentang seni menunggu. Jangan ajari generasi milenial soal kesabaran menunggu.

Kita semua sudah kenyang bagaimana rasanya menunggu lanjutan film favorit yang baru bisa ditonton seminggu kemudian, menunggu majalah yang baru terbit bulan depan, menunggu hasil foto kamera film dari tempat cuci cetak foto, menunggu balasan surat yang dikirim melalui pos, menunggu janjian dengan teman yang tak kunjung datang sementara kita cuma bisa bengong, atau bahkan menunggu sambungan internet memakai layanan dial-up yang didahului dengan bunyi “tiiit... kriiiik... ngiiiing...”

(Langsung ingat jingle iklan Telkomnet Instan, nggak, sih? "Kosong delapan kosong sembilan, delapan sembilan empat kaliii… Telkomnet Instaaannn...". Ya ampun, iklan legend, hahaha)

Anak-anak generasi alfa tidak bisa membayangkan dalam benak, bahwa di masa itu, ibu bapaknya membunuh waktu dengan bermain bersama anak tetangga sebelah, memanjat pohon, mencari kepik, belalang, atau capung, bermain lompat tali, juga bermain kelereng. Receh, tapi bahagia banget di masanya.

Mereka heran, bagaimana kita bisa hidup tanpa smartphone yang bikin betah seharian karena bisa nonton Youtube, mendengarkan lagu di Spotify, atau streaming serial hits di Netflix. Dan kini mereka gelisah, kalau ibu bapaknya mengultimatum bahwa family time harus dilalui tanpa gadget. “Nanti aku ngapain dong, masa bengong?”

Tampaknya sekarang kita harus mengajari anak-anak generasi alfa, bahwa kebosanan sebenarnya bisa memicu kreativitas, jika mereka mau. Rentang fokus mereka yang pendek dan kebiasaan mereka untuk serba instan memang merupakan tantangan besar. Belum lagi kalau ibu bapaknya juga mengalami kesulitan untuk lepas dari gadget.

Salah satu hal yang sering kulakukan adalah mengajak mereka mengeksplorasi alam. Beberapa kali mereka kuajak trekking ke seputaran Sentul, bahkan yang terakhir kali, mereka kuajak mengeksplor Desa Baduy.

Trekking di Sentul

Mereka belajar mengatasi kebosanan tanpa gadget karena di trek memang tidak ada sinyal, hehehe. Perhatian mereka akan tertuju pada hal-hal di sekitar: sibuk mengamati vegetasi, melihat lebah dan burung, mencari ranting, atau bermain gemericik air yang mengalir langsung dari mata air.

Bermain air dalam perjalanan trekking ke Pasir Pete, Sentul

Mereka belajar sabar menunggu kawan lain yang langkahnya tertinggal sambil riuh berbincang atau bercanda. Rehat di warung menjadi keriangan yang dinanti, saat berkesempatan makan Indomie dan jajan es, sesuatu yang tidak kami perbolehkan untuk sering-sering dilakukan pada hari biasa.

Hal yang masih belum bisa kuterapkan untuk mereka adalah mengajak mereka bermain permainan tradisional. Bukan apa-apa, rata-rata permainan tradisional membutuhkan rekan sepermainan.

Dulu waktu aku kecil, hal ini mudah didapatkan karena semua anak-anak di kampung pergi bermain keluar rumah ketika sore tiba. Kami bermain lompat tali, gobak sodor, bentengan, petak umpet, kucing-kucingan, bola bekel, congklak, atau kelereng.

Kini menghabiskan banyak waktu bermain di luar rumah bersama teman-teman merupakan sesuatu yang mahal. Anak-anak kota biasanya disibukkan dengan les-les atau kegiatan ekstrakurikuler. Kalaupun ada yang bisa diajak bermain di luar, paling cuma satu-dua orang saja.

Zaman memang sudah berubah. Semoga di zaman yang serba cepat ini, generasi alfa bisa tetap belajar tentang kesabaran menunggu, sehingga mereka lebih terbiasa untuk berusaha daripada mengharap hasil yang seketika ada.

Tulisan ini diikutsertakan dalam Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan Juni yang bertema “Gap/Perbedaan”.

Tuesday, May 12, 2026

Wangi Kopi Specialty

Pagi itu, aku bersama suami berkendara membelah keheningan subuh, meluncur menuju Sentul. Seorang kolega suami, Mas Eko namanya, yang juga kakak tingkat kami di jurusan, mengajak trekking bersama dengan rekan-rekan timnya. Ajakan yang menggoda, mengingat sudah lama kami tidak trekking dan kami butuh latihan nanjak untuk pendakian gunung berikutnya.

Itu adalah kali kesekian aku dan suami trekking ke Sentul. Packing barang dan persiapan hanya butuh waktu beberapa menit, saking terbiasanya kami dengan kegiatan trekking. Running vest dan daypack beserta isinya siap dalam sekejap.

Titik kumpul kali ini sedikit berbeda. Rute menuju Bukit Daolong biasanya kami mulai dari Leuwi Pangaduan. Kali ini, trekking akan dimulai dari parkiran Bukit Daolong via Cibingbin, untuk kemudian menuju Bukit Silala, Bukit Daolong, dan Gunung Geugeur.

Kami sampai paling pagi sekitar pukul enam. Satu per satu teman mulai berdatangan, lalu kami sarapan bersama dengan nasi uduk yang disiapkan oleh istri dari salah satu kolega suami. Mantap, mau nanjak memang harus full tank. Tapi aku sendiri nggak bisa, sih, pagi-pagi langsung diisi penuh seperti itu. Maka aku lebih memilih sarapan dengan roti.

Siap-siap trekking

Rute trekking kali ini pendek saja, sekitar 4,78 km dengan elevation gain 478 meter. Cukup lah buat manasin dengkul. Rute ini sudah keempat kalinya kami lalui, jadi kami sudah terbiasa dengan tanjakan dan pengkolannya.

Ketika kami sampai di Bukit Silala, sambil beristirahat menikmati gorengan, Mas Eko menyuruh salah satu teman untuk duluan nanjak ke Bukit Daolong mendahului kami. Alasannya, untuk nyiapin kopi. Nanjak, kopi, dan gorengan memang menjadi hal yang tak terpisahkan. Biasanya juga disertai dengan indomie, hahaha.

Sampai di Bukit Daolong, aku terkesima. Teman yang tadi disuruh duluan, ternyata sudah menggelar lapak istimewa. Di salah satu meja kayu di sana, dia sudah menyiapkan peralatan membuat kopi. Bukan sembarang kopi, melainkan manual brew dengan biji kopi specialty!

Peralatan lengkap manual brewing dengan metode V60

Peralatan yang dibawa lengkap banget: mulai dari manual grinder, nesting dengan kompor portabel, lalu cup V60 beserta kertas filter, juga timbangan untuk memastikan porsi kopi bubuknya tepat. Wah barista beneran nih. Sungguh terniat.

Yang membuat ngopi pagi itu terasa istimewa adalah biji kopinya. Jadi produk dari Space Roastery ini adalah biji kopi blend dari tiga origin: biji kopi Yunnan (China) yang diproses secara anaerobik dengan fermentasi ragi, biji kopi Ijen Bondowoso (Jawa Timur) yang diproses secara full washed dryhull, dan biji kopi Bener Meriah, Gayo (Aceh Tengah) yang diproses secara wethull.

Bagi penggemar fanatik kopi single origin untuk V60, kopi blend kadang dipandang sebelah mata. Padahal racikan kopi blend yang pas ternyata menghasilkan nilai plus juga. Contohnya varian yang kami seduh di Bukit Daolong ini.

Kopi single origin dengan aroma bright dan floral yang kuat tetapi body-nya terasa kurang, di-blend dengan kopi yang full-bodied. Diracik sedemikian rupa oleh produsen kopinya untuk meningkatkan kualitas dan rasa sehingga menghasilkan seduhan kopi yang utuh dan seimbang, serta menghadirkan pengalaman sensoris yang lebih kaya.

Aku memperhatikan dengan saksama ketika teman tersebut mulai menggiling biji kopi dengan manual grinder, lalu menimbang bubuk kopinya agar sesuai takaran. Setelah air mendidih, dia menuangkan air panas dengan teko khusus yang biasa dipakai untuk menyeduh kopi dengan metode V60. Aku memperhatikan tetes demi tetes turun dari kertas filter.

Pas cupping, duh … ini hidung dimanjakan banget dengan aroma floral-nya yang kuat. Pas dicicip, tasty notes-nya ternyata melati, lavender, dan ada sedikit lime. Rasanya light, ada manisnya, dan acidity-nya sopan banget. Mantap benerrrrr …

Seketika aku lupa kalau sedang berada di salah satu puncak perbukitan di Sentul dengan hutan mengelilingi. Vibes-nya sudah kayak ngopi di kafe mahal cuy. Siapa sangka, pengalaman seperti itu ternyata bisa juga dihadirkan di tengah-tengah suasana trekking beratapkan langit biru nan cerah.

Berpose di Bukit Daolong

Selepas ngopi mantap itu, aku kembali punya tenaga ekstra untuk melanjutkan pendakian ke Gunung Geugeur, puncak tertinggi rute kali ini dengan ketinggian 862 mdpl. Hari itu, kami tak lagi merasa perlu untuk jajan kopi tubruk atau kopi sachet di warung seperti yang selalu kami lakukan–apalagi indomie–karena kopi V60 barusan jauh lebih nikmat.

Perjalanan turun dilalui dengan singkat, karena aku dan suami berlari downhill untuk latihan trail running, sekaligus mengejar waktu shalat Jumat. Kami ngebut turun meninggalkan rombongan dan sampai di parkiran paling pertama. Sepanjang perjalanan turun, aku jadi pengen beli kopi serupa, kopi yang membuat perjalanan trekking biasa menjadi tak biasa.

Tulisan ini diikutsertakan dalam Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan Mei yang bertema “Hari Biasa yang Tak Biasa”.

Tuesday, April 07, 2026

Teman Itu Seperti Musim

Bulan lalu, ada satu sore yang terasa biasa saja, tapi entah kenapa meninggalkan renungan yang cukup dalam. Waktu itu, suamiku mengirim pesan bahwa akan pulang sedikit lebih malam. Katanya ada acara buka puasa bersama dengan teman-temannya.

Aku jawab, “Bukber terooosss … Bunda aja nggak ada yang ngajakin bukber satu pun tahun ini.”

Ketikan pesan yang tampak biasa saja. Tapi nada getirnya terasa. Tiba-tiba ada jeda yang sedikit terlalu sunyi.

Pikiranku mulai berjalan ke arah yang tidak direncanakan. Ada hal acak yang seketika menyeruak. Dan dari situ, muncul satu pertanyaan kecil yang awalnya terdengar sepele:

Kapan terakhir kali aku diajak buka puasa bersama?

Aku mencoba mengingat. Rasanya sudah lama sekali tak ada undangan. Lalu pertanyaan itu berubah sedikit bentuknya:

Ke mana perginya teman-teman yang acap mengajak ketemuan itu?

Kemudian sebentuk kesadaran yang cukup dramatis seperti berbisik pelan di telinga, “Kayaknya kamu sekarang tidak punya teman, deh.”

Ah, masa sih? Aku punya kok.

Punya kenalan banyak.
Punya teman sekolah.
Punya teman kerja.
Punya teman komunitas.

Tapi setelah kupikir-pikir lagi, ada perbedaan antara “punya teman” dan “punya hubungan yang masih hidup.”

Yang satu ada di memori.
Yang satu lagi ada di keseharian.

Sedihnya, yang terakhir ini ternyata sudah lama tidak aku rasakan.

Dulu rasanya hidup penuh dengan pertemuan.

Ada maksi bareng di kantor.
Ada ketemuan di studio senam.
Ada waktu nongkrong selepas lari.
Ada yang tiba-tiba ngajak ngopi.
Ada yang tanpa rencana, tiba-tiba jadi ketawa berjam-jam.

Sekarang mereka semua terasa begitu jauh. Kadang masih berpapasan sih, di Instagram. Kadang saling like, tapi sering juga sekadar lihat story tanpa benar-benar menyapa.

Ternyata aku memang sudah kehilangan lingkaran-lingkaran pertemanan itu.

Aku jadi teringat satu hal yang dulu sering aku dengar, tapi baru sekarang benar-benar terasa: teman itu seperti musim. Sebagian seperti musim hujan—ramai, intens, penuh cerita. Sebagian seperti musim kemarau—yang sekali datang langsung terasa hangat. Beberapa seperti musim semi—tenang dan membuat hati berseri. Ada juga yang seperti musim yang diam-diam sudah berlalu tanpa disadari.

Dulu aku pikir, kalau seseorang sudah jadi teman, ya akan selalu jadi teman. Ternyata tidak juga.

Ada yang berubah karena jarak, kesibukan, atau tanpa alasan yang jelas. Ada juga yang berubah karena kita sendiri sudah tak sama lagi.

Hari itu aku tidak merasa kehilangan seseorang secara spesifik. Lebih ke menyadari bahwa ada ruang dalam hidupku yang dulu penuh, sekarang terasa lebih lengang. Rasanya agak menyedihkan.

Seiring bertambah usia, tampaknya kita memang harus memahami bahwa hidup jadi berbeda. Tidak semua hubungan harus bertahan di bentuk yang sama. Tidak semua musim harus kita tahan agar tidak pergi.

Aku juga mulai bertanya pada diri sendiri:

Apakah aku benar-benar kehilangan teman?
Atau sebenarnya aku hanya sedang berada di fase hidup yang lebih sunyi?

Dan di tengah kesunyian itu, aku menyadari satu hal:

Sometimes growing up means accepting that some friendships belong to a certain season—and that’s okay.

Meski rasanya rindu sekali.



Tulisan ini diikutsertakan dalam Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan April yang bertema “Cerita Random”.

Tuesday, March 10, 2026

20-an Versus 40-an

Kalau aku bisa bertemu dengan diriku sendiri saat usia 20-an, kemungkinan besar kami akan saling menatap agak lama. Bukan karena tidak saling mengenal, tapi karena mungkin kami akan sedikit bingung.

Mungkin dia akan berkata, “Beneran, kamu jadi seperti ini?”

Lalu aku versi sekarang akan menjawab, “Hidup jangan terlalu serius. Santai aja.”

Di usia 20-an, hidup bagiku terasa seperti daftar target dan pencapaian. Ada checklist panjang di kepala: harus lulus dengan nilai bagus, segera menikah dan punya anak, karier harus keren, pencapaian harus jelas, hidup harus terlihat “on track”.

Rasanya seperti sedang mengikuti lomba yang tidak pernah diumumkan, tapi semua orang seolah tahu aturannya.

Teman lulus kuliah, aku meratapi nasib karena nggak segera lulus.
Teman menikah, aku merengek ke orang tua minta diizinkan nikah.
Teman beli rumah, aku ikut berpikir soal rumah.
Teman dapat kerjaan keren, aku mulai menghitung langkah karier.
Teman terlihat sukses di media sosial, aku tiba-tiba merasa hidupku kurang progres.

Padahal mungkin tidak ada yang benar-benar sedang berlomba. Tapi di usia 20-an, rasanya memang begitu.

Usia 20 hingga 30 adalah masa ketika aku masih percaya bahwa hidup bisa diatur rapi seperti spreadsheet. Kalau kerja keras, hasilnya pasti sesuai. Kalau rencana dibuat matang, masa depan akan mengikuti jalurnya.

Spoiler: hidup ternyata tidak membaca spreadsheet kita.

Ada rencana yang meleset.
Ada target yang harus diubah.
Ada juga yang tak kunjung datang meski sudah ditunggu lama.

Dan waktu terus berjalan. Tiba-tiba saja usia sudah melewati 40.

Perubahan terbesar ternyata bukan terjadi di luar. Bukan tiba-tiba hidup menjadi sempurna atau semua target tercapai. Perubahan paling terasa justru terjadi di dalam hati dan kepala.

Di usia 40-an, aku menyadari bahwa hidup sebenarnya tidak pernah benar-benar lurus. Jalannya lebih mirip jalan kampung: ada belokan, ada lubang kecil, kadang ada jalan memutar yang tidak direncanakan. Juga ada kejutan-kejutan yang Tuhan datangkan.

Dulu aku mungkin akan panik kalau rencana berubah. Atau bad mood yang berujung tantrum. Sekarang kadang masih frustrasi juga sih, tapi reaksinya mungkin lebih seperti ini:

“Oh, ternyata jalannya ke sini, ya.”

“Tuhan tahu takdir yang lebih baik.”

Bukan berarti aku jadi tidak punya ambisi. Keinginan tentu masih ada. Hanya saja sekarang tidak lagi terasa seperti tekanan yang harus dipenuhi sebelum deadline umur tertentu. Dan nggak pengen muluk-muluk juga.

Tidak bisa dipungkiri, kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain juga masih ada. Tapi kini tak lagi berlebihan.

Dulu timeline orang lain sering terasa seperti cermin. Kalau mereka sudah mencapai sesuatu lebih dulu, rasanya seperti sedang tertinggal.

Namun semakin bertambah umur, semakin terlihat bahwa setiap orang sebenarnya sedang menjalani ceritanya sendiri. Ada yang cepat di awal, ada yang berubah haluan di tengah perjalanan.

Dan semuanya tetap sah. Kan hidup bukan perlombaan.

Hal lain yang berubah adalah definisi “sukses”. Dulu sukses terasa seperti sesuatu yang besar dan terlihat: jabatan, pencapaian, angka, pengakuan.

Sekarang sukses kadang terasa jauh lebih sederhana.

Bisa tidur dengan pikiran tenang.
Bisa tertawa santai dengan keluarga.
Bisa menjalani hari tanpa terlalu banyak drama.
Bisa meluangkan waktu untuk me-time.

Ternyata kedengarannya sederhana, tapi rasanya mahal juga.

Aku juga mulai memahami satu hal yang dulu agak sulit diterima.
Ada ekspektasi orang lain yang tidak harus dipenuhi.
Ada kebisaan orang lain yang tidak harus kita miliki.
Ada juga standar hidup yang ternyata tidak wajib kita ikuti.

Di usia 20 hingga 30, aku sering merasa harus membuktikan sesuatu.
Di usia 40, aku mulai merasa tidak semua hal perlu dibuktikan.
Energi hidup rasanya lebih baik dipakai untuk hal-hal yang benar-benar penting.

Kalau dipikir-pikir, perubahan dari usia 20-an ke 40-an itu bukan soal menjadi orang yang berbeda. Lebih seperti proses menyederhanakan cara memandang hidup.

Beberapa kegelisahan mulai diturunkan volumenya.
Beberapa ambisi dipilih ulang.
Beberapa rencana harus dibongkar.
Beberapa hal yang dulu terasa berat, ternyata bisa dilewati juga.

Dan ketika menoleh ke belakang, aku bersyukur pernah menjadi diriku yang berusia 20-an tahun itu.
Sering gelisah, sedikit ambisius, banyak keras kepala.

Karena tanpa versi itu, mungkin aku tidak akan sampai pada versi yang sekarang: lebih santai, lebih tidak peduli pada hal-hal yang memang tidak perlu dipikirkan, dan sedikit lebih paham bahwa hidup tidak harus selalu terasa seperti perlombaan.

Kadang cukup seperti perjalanan.
Yang penting tetap jalan, meskipun pelan.


Tulisan ini diikutsertakan dalam Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan Maret yang bertema “Aku Dulu vs Aku Sekarang”.