Tuesday, April 07, 2026

Teman Itu Seperti Musim

Bulan lalu, ada satu sore yang terasa biasa saja, tapi entah kenapa meninggalkan renungan yang cukup dalam. Waktu itu, suamiku mengirim pesan bahwa akan pulang sedikit lebih malam. Katanya ada acara buka puasa bersama dengan teman-temannya.

Aku jawab, “Bukber terooosss … Bunda aja nggak ada yang ngajakin bukber satu pun tahun ini.”

Ketikan pesan yang tampak biasa saja. Tapi nada getirnya terasa. Tiba-tiba ada jeda yang sedikit terlalu sunyi.

Pikiranku mulai berjalan ke arah yang tidak direncanakan. Ada hal acak yang seketika menyeruak. Dan dari situ, muncul satu pertanyaan kecil yang awalnya terdengar sepele:

Kapan terakhir kali aku diajak buka puasa bersama?

Aku mencoba mengingat. Rasanya sudah lama sekali tak ada undangan. Lalu pertanyaan itu berubah sedikit bentuknya:

Ke mana perginya teman-teman yang acap mengajak ketemuan itu?

Kemudian sebentuk kesadaran yang cukup dramatis seperti berbisik pelan di telinga, “Kayaknya kamu sekarang tidak punya teman, deh.”

Ah, masa sih? Aku punya kok.

Punya kenalan banyak.
Punya teman sekolah.
Punya teman kerja.
Punya teman komunitas.

Tapi setelah kupikir-pikir lagi, ada perbedaan antara “punya teman” dan “punya hubungan yang masih hidup.”

Yang satu ada di memori.
Yang satu lagi ada di keseharian.

Sedihnya, yang terakhir ini ternyata sudah lama tidak aku rasakan.

Dulu rasanya hidup penuh dengan pertemuan.

Ada maksi bareng di kantor.
Ada ketemuan di studio senam.
Ada waktu nongkrong selepas lari.
Ada yang tiba-tiba ngajak ngopi.
Ada yang tanpa rencana, tiba-tiba jadi ketawa berjam-jam.

Sekarang mereka semua terasa begitu jauh. Kadang masih berpapasan sih, di Instagram. Kadang saling like, tapi sering juga sekadar lihat story tanpa benar-benar menyapa.

Ternyata aku memang sudah kehilangan lingkaran-lingkaran pertemanan itu.

Aku jadi teringat satu hal yang dulu sering aku dengar, tapi baru sekarang benar-benar terasa: teman itu seperti musim. Sebagian seperti musim hujan—ramai, intens, penuh cerita. Sebagian seperti musim kemarau—yang sekali datang langsung terasa hangat. Beberapa seperti musim semi—tenang dan membuat hati berseri. Ada juga yang seperti musim yang diam-diam sudah berlalu tanpa disadari.

Dulu aku pikir, kalau seseorang sudah jadi teman, ya akan selalu jadi teman. Ternyata tidak juga.

Ada yang berubah karena jarak, kesibukan, atau tanpa alasan yang jelas. Ada juga yang berubah karena kita sendiri sudah tak sama lagi.

Hari itu aku tidak merasa kehilangan seseorang secara spesifik. Lebih ke menyadari bahwa ada ruang dalam hidupku yang dulu penuh, sekarang terasa lebih lengang. Rasanya agak menyedihkan.

Seiring bertambah usia, tampaknya kita memang harus memahami bahwa hidup jadi berbeda. Tidak semua hubungan harus bertahan di bentuk yang sama. Tidak semua musim harus kita tahan agar tidak pergi.

Aku juga mulai bertanya pada diri sendiri:

Apakah aku benar-benar kehilangan teman?
Atau sebenarnya aku hanya sedang berada di fase hidup yang lebih sunyi?

Dan di tengah kesunyian itu, aku menyadari satu hal:

Sometimes growing up means accepting that some friendships belong to a certain season—and that’s okay.

Meski rasanya rindu sekali.



Tulisan ini diikutsertakan dalam Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan April yang bertema “Cerita Random”.

Tuesday, March 10, 2026

20-an Versus 40-an

Kalau aku bisa bertemu dengan diriku sendiri saat usia 20-an, kemungkinan besar kami akan saling menatap agak lama. Bukan karena tidak saling mengenal, tapi karena mungkin kami akan sedikit bingung.

Mungkin dia akan berkata, “Beneran, kamu jadi seperti ini?”

Lalu aku versi sekarang akan menjawab, “Hidup jangan terlalu serius. Santai aja.”

Di usia 20-an, hidup bagiku terasa seperti daftar target dan pencapaian. Ada checklist panjang di kepala: harus lulus dengan nilai bagus, segera menikah dan punya anak, karier harus keren, pencapaian harus jelas, hidup harus terlihat “on track”.

Rasanya seperti sedang mengikuti lomba yang tidak pernah diumumkan, tapi semua orang seolah tahu aturannya.

Teman lulus kuliah, aku meratapi nasib karena nggak segera lulus.
Teman menikah, aku merengek ke orang tua minta diizinkan nikah.
Teman beli rumah, aku ikut berpikir soal rumah.
Teman dapat kerjaan keren, aku mulai menghitung langkah karier.
Teman terlihat sukses di media sosial, aku tiba-tiba merasa hidupku kurang progres.

Padahal mungkin tidak ada yang benar-benar sedang berlomba. Tapi di usia 20-an, rasanya memang begitu.

Usia 20 hingga 30 adalah masa ketika aku masih percaya bahwa hidup bisa diatur rapi seperti spreadsheet. Kalau kerja keras, hasilnya pasti sesuai. Kalau rencana dibuat matang, masa depan akan mengikuti jalurnya.

Spoiler: hidup ternyata tidak membaca spreadsheet kita.

Ada rencana yang meleset.
Ada target yang harus diubah.
Ada juga yang tak kunjung datang meski sudah ditunggu lama.

Dan waktu terus berjalan. Tiba-tiba saja usia sudah melewati 40.

Perubahan terbesar ternyata bukan terjadi di luar. Bukan tiba-tiba hidup menjadi sempurna atau semua target tercapai. Perubahan paling terasa justru terjadi di dalam hati dan kepala.

Di usia 40-an, aku menyadari bahwa hidup sebenarnya tidak pernah benar-benar lurus. Jalannya lebih mirip jalan kampung: ada belokan, ada lubang kecil, kadang ada jalan memutar yang tidak direncanakan. Juga ada kejutan-kejutan yang Tuhan datangkan.

Dulu aku mungkin akan panik kalau rencana berubah. Atau bad mood yang berujung tantrum. Sekarang kadang masih frustrasi juga sih, tapi reaksinya mungkin lebih seperti ini:

“Oh, ternyata jalannya ke sini, ya.”

“Tuhan tahu takdir yang lebih baik.”

Bukan berarti aku jadi tidak punya ambisi. Keinginan tentu masih ada. Hanya saja sekarang tidak lagi terasa seperti tekanan yang harus dipenuhi sebelum deadline umur tertentu. Dan nggak pengen muluk-muluk juga.

Tidak bisa dipungkiri, kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain juga masih ada. Tapi kini tak lagi berlebihan.

Dulu timeline orang lain sering terasa seperti cermin. Kalau mereka sudah mencapai sesuatu lebih dulu, rasanya seperti sedang tertinggal.

Namun semakin bertambah umur, semakin terlihat bahwa setiap orang sebenarnya sedang menjalani ceritanya sendiri. Ada yang cepat di awal, ada yang berubah haluan di tengah perjalanan.

Dan semuanya tetap sah. Kan hidup bukan perlombaan.

Hal lain yang berubah adalah definisi “sukses”. Dulu sukses terasa seperti sesuatu yang besar dan terlihat: jabatan, pencapaian, angka, pengakuan.

Sekarang sukses kadang terasa jauh lebih sederhana.

Bisa tidur dengan pikiran tenang.
Bisa tertawa santai dengan keluarga.
Bisa menjalani hari tanpa terlalu banyak drama.
Bisa meluangkan waktu untuk me-time.

Ternyata kedengarannya sederhana, tapi rasanya mahal juga.

Aku juga mulai memahami satu hal yang dulu agak sulit diterima.
Ada ekspektasi orang lain yang tidak harus dipenuhi.
Ada kebisaan orang lain yang tidak harus kita miliki.
Ada juga standar hidup yang ternyata tidak wajib kita ikuti.

Di usia 20 hingga 30, aku sering merasa harus membuktikan sesuatu.
Di usia 40, aku mulai merasa tidak semua hal perlu dibuktikan.
Energi hidup rasanya lebih baik dipakai untuk hal-hal yang benar-benar penting.

Kalau dipikir-pikir, perubahan dari usia 20-an ke 40-an itu bukan soal menjadi orang yang berbeda. Lebih seperti proses menyederhanakan cara memandang hidup.

Beberapa kegelisahan mulai diturunkan volumenya.
Beberapa ambisi dipilih ulang.
Beberapa rencana harus dibongkar.
Beberapa hal yang dulu terasa berat, ternyata bisa dilewati juga.

Dan ketika menoleh ke belakang, aku bersyukur pernah menjadi diriku yang berusia 20-an tahun itu.
Sering gelisah, sedikit ambisius, banyak keras kepala.

Karena tanpa versi itu, mungkin aku tidak akan sampai pada versi yang sekarang: lebih santai, lebih tidak peduli pada hal-hal yang memang tidak perlu dipikirkan, dan sedikit lebih paham bahwa hidup tidak harus selalu terasa seperti perlombaan.

Kadang cukup seperti perjalanan.
Yang penting tetap jalan, meskipun pelan.


Tulisan ini diikutsertakan dalam Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan Maret yang bertema “Aku Dulu vs Aku Sekarang”.

Saturday, February 14, 2026

Kampus Institut Teknologi Bandung

Circa Oktober 2019 ketika perhelatan ITB Ultra Marathon di kampus

Aku memang tidak lahir dan tumbuh besar di Bandung, tetapi aku telah menghabiskan lebih dari separuh usiaku di kota itu. Ketika aku pertama kali datang ke Bandung dua puluh enam tahun silam, Kota Kembang berhawa sangat dingin—apalagi untuk ukuran seorang bocah asal Solo sepertiku. Malam-malamku sebagai mahasiswa baru cukup sering berkemul tebal, terutama ketika kemudian aku pindah ke bilangan Bandung bagian utara.

Bandung bagian utara sungguh memesona. Di situ aku mengalami pasang surut dinamika kehidupan kampus, bergulat dengan aktivitas kemahasiswaan, lalu berhasil lulus hidup-hidup dari sana. Maka ketika Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan ini mengambil tema “Tempat/Lokasi yang Membentukku”, tak ayal kampus ITB menjadi pilihan pertamaku terkait “tempat tertentu yang disadari atau tidak menanamkan nilai, membentuk cara berpikir, dan mengubah cara kita memandang dunia” (mengutip kalimat Mamah May, yang menjadi host tantangan kali ini).

Tempat S1 dan S2 Menempaku

Buatku, masa-masa kuliah S1 adalah masa-masa terberat selama masa mudaku. Aku seperti diingatkan tentang sebuah perjuangan dan luka yang ditimbulkan olehnya. Kehidupan kampus yang—menurutku—keras dan lingkungan pertemanan yang—menurutku—tidak bersahabat, membuat masa-masa kuliahku penuh dengan air mata, rendah diri, depresi, ketidaksukaan terhadap banyak hal (termasuk diriku sendiri), dan rasa pesimis yang luar biasa dalam memandang hidup.

Saat itu perasaan dan self esteem-ku bagai berada di titik nadir. Yah, kau mungkin akan mengalami hal yang sama jika kau pernah ber-IP satu koma selama tiga semester berturut-turut, pernah mendapat surat peringatan tentang tenggang waktu DO, dan pernah dibanding-bandingkan oleh dosen wali dengan mahasiswa lain yang ber-IP nyaris empat! Tanpa pertolongan Allah, aku mungkin nggak akan pernah lulus sidang Tugas Akhir dan diwisuda.

Pada tahun terakhirku di kampus Ganesha, setelah masa panjang menyelesaikan Tugas Akhir—yang rasanya seperti nggak kelar-kelar (aku kuliah selama lima tahun BTW), aku pernah merenung sendirian di selasar Tata Usaha jurusan, dua jam menjelang maghrib. Sore itu mendung dengan sedikit rintik membasahi. Angin bertiup pelan membawa semilir menyejukkan. Kuabaikan kebiasaan untuk bergegas pulang dari kampus, dan kuputuskan untuk sebentar bercengkerama dengan suasana.

Di balkon lantai dua itu, lampu-lampu sudah mulai dinyalakan dan aku duduk seorang diri. Kubiarkan angin mempermainkan ujung jilbab. Kubiarkan pula angin mengibar-ngibarkan ujung lembaran buku di tangan. Kubiarkan mataku menikmati kolam bundar, jalan beton Plaza Widya, ujung dedaunan yang melambai, orang-orang yang sedang berjalan, dan di kejauhan ... kerumunan orang bermain basket dan kumpulan orang duduk-duduk di selasar Campus Center.

Kuhela nafas panjang. Aku tak pernah benar-benar menyadari cintaku pada kampus, hingga hari itu. Mereka benar, inilah kampus terbaik yang Allah berikan padaku. Meskipun selama ini aku sering mengeluhkan ganasnya kampus, aku harus mengakui bahwa hatiku tertambat di sana. Di kampus lah aku bertemu dengan orang-orang hebat dan belajar merenda kehidupan. Saat itu, menikmati waktu-waktu terakhir yang semestinya tak lama lagi, membuatku mensyukuri banyak hal. You don’t know what you’ve got until it’s gone.

Wisuda S1

Dengan rekam jejak S1 seperti itu, kau mungkin tak akan menyangka jika suatu hari kemudian aku kembali melanjutkan S2 di kampus Ganesha. Teman-teman yang dulu tahu persis kesulitanku ketika S1 dan betapa sering aku mengeluh panjang pendek tentang salah jurusan, cukup tercengang ketika tahu bahwa aku mengambil S2 yang sama dengan jurusan S1, hahaha.

Yaa, mau bagaimana lagi. Saat itu aku berstatus sebagai ASN, dan kantor hanya mau membiayai sekolah jika sesuai dengan Ikhtisar Jabatan dan Analisis Beban Kerja (IJ/ABK). Yang artinya juga inline dengan latar belakang pendidikan sebelumnya karena menjadi persyaratan ketika aku diterima bekerja.

Mengambil S2 mungkin adalah keputusan yang tak akan pernah kusesali sepanjang hidup, meskipun dulu awal-awal mendapat beasiswa dari kantor, aku sempat gamang. Ya, gamang karena asal mula ikut seleksi beasiswa adalah karena iseng. Dan ketika iseng itu membuahkan hasil lolos, aku “terpaksa” harus mendaftar S2. Kemudian ketika lulus seleksi S2 dan berhasil masuk ke almamaterku, nyaliku menciut karena takut. Takut tak bisa mulus menjalani studi, mengingat berdarah-darahnya aku ketika S1 dulu (lebay, hehehe).

Namun, ternyata ada banyak keberkahan yang aku rasakan karena mengambil S2. Berkah tidak selalu identik dengan jumlah. Di dalam kamus Arab, berkah memiliki arti pertumbuhan atau pertambahan kebaikan. Berkah dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008:179) yang masuk dalam kelas kata nomina memiliki arti ‘karunia Tuhan yang mendatangkan kebaikan bagi kehidupan manusia’.

Sedangkan kata berkat dalam KBBI Pusat Bahasa, memiliki empat makna, masing-masing adalah (1) karunia Tuhan yang membawa kebaikan dalam hidup manusia; (2) doa restu dan pengaruh baik dari orang yang dihormati (guru); (3) makanan dan sebagainya yang dibawa pulang sehabis kenduri; (4) mendatangkan kebaikan atau bermanfaat (2008:179-180).

Ada pula yang mengartikan berkah dengan kalimat ‘dapat melakukan hal yang banyak dalam waktu yang sempit’ atau ‘mendapatkan kebaikan lebih banyak dari takaran yang semestinya’. Apa pun artinya, berkah yang kumaksud meliputi semua arti di atas.

Berkah S2 pertama yang sangat kusyukuri adalah mendapat teman-teman seperjuangan yang sangat baik, pengertian, dan menyenangkan. Bersama teman-teman ini, mengerjakan tugas tak pernah menjadi beban. Menjalani hari-hari kuliah dengan gelak tawa, saling bantu ketika yang lain kesulitan. Maha Suci Allah yang mempertemukan aku dengan pertemanan seperti ini, hingga studi tak terasa dijalani sendiri, melainkan full support. Entah apa jadinya studiku bila tak kulakukan bersama bantuan mereka.

Berkah kedua adalah waktu luang yang kudapatkan untuk mengurus anak. Aku melahirkan anak kedua ketika perkuliahan menginjak semester satu. Kondisi studi yang fleksibel—tak seperti jam kantor—membuatku leluasa memberi ASI, terutama ketika enam bulan pertama, hingga membuat dia menjadi bayi ASI yang nemplok banget. Kemudian masih leluasa pula untuk mengatur menu dan memasak MPASI untuknya pada bulan-bulan berikutnya. Tak lupa juga leluasa mengantar jemput anak sulung ke sekolah dan sesekali mengiringinya dalam kegiatan outing ke beberapa tempat.

Berkah ketiga adalah kelonggaran waktu untuk melakukan olahraga sepuasnya. Senam aerobik yang dulunya aku lakukan 2 kali seminggu, frekuensinya bertambah menjadi 3-4 kali seminggu. Kemudian aku juga sempat mengikuti kelas pilates selama 20 kali pertemuan, yang sedikit banyak berpengaruh positif terhadap skoliosisku. Lalu aku mengikuti kelas yoga seminggu sekali dan merutinkan berenang seminggu sekali. Juga masih sempat bersepeda beberapa kali dalam seminggu. Ah, nikmatnya hidup ketika kita bugar beraktivitas sepanjang hari. Tak hanya sehat yang didapat, ketika olahraga yang disukai dilakukan, tubuh juga akan mengeluarkan hormon endorfin yang membuat kita lebih bahagia.

Berkah berikutnya adalah kesempatan yang terbuka untuk aktif dalam berbagai kegiatan komunitas. Karena waktu kuliah yang longgar, aku berkesempatan aktif ikut banyak seminar dan pelatihan parenting dari berbagai pihak. Ini keberkahan yang luar biasa dalam mencari ilmu mengenai pengasuhan dan pendidikan anak. Lewat kesempatan itu pula aku berkenalan dengan Bunda Rani dan Komunitas Cinta Keluarga (KCK), yang membuatku merasa menemukan supporting system yang baik dalam menjalani dunia parenting. Hal ini diikuti pula dengan terlibatnya aku dalam penyelenggaraan seminar dan pelatihan mengenai parenting dan kesehatan anak.

Selain itu aku juga aktif di Masyarakat Skoliosis Indonesia (MSI) cabang Jawa Barat. Komunitas penggiat skoliosis ini berperan sebagai pusat informasi skoliosis dan sebagai wadah pemersatu bagi penyandang dan pemerhati skolisosis di Indonesia, khususnya Jawa Barat. Lewat MSI aku bertemu dengan orang-orang yang luar biasa. Serasa menemukan saudara senasib sepenanggungan di sini. Kami bersama-sama mengadakan kegiatan, baik yang lingkupnya kecil seperti pertemuan kopdar untuk sharing, berbagi informasi, nonton film atau jalan-jalan bersama, maupun yang lingkupnya lebih besar seperti talkshow di radio, seminar, atau penggalangan dana untuk operasi skolioser yang tidak mampu.

Wisuda S2

Maka ketika tugas belajarku resmi berakhir, ada rasa senang sekaligus sedih. Senang karena sidang tesis telah terlampaui dengan baik, sekaligus sedih karena aku kehilangan keleluasaan waktu untuk hal-hal yang aku sukai. Suatu tanggung jawab yang telah selesai di satu tempat memang menuntut tanggung jawab baru di tempat lain.

ITB Motherhood

Kehidupan kampus ITB memang hanya bagian kecil dalam hidupku. Lima tahun S1 dan dua setengah tahun S2 memang hanya sekian persen dari keseluruhan usiaku. Namun, masa yang pendek itu adalah masa paling berharga dalam membentukku menjadi seperti sekarang ini. Selain kapabilitas yang berguna di dunia karir, menjadi alumni ITB juga artinya memiliki jejaring luar biasa dalam kehidupan pascakampus.

Salah satu hal yang kusyukuri dari menjadi alumni ITB adalah bisa bergabung dengan komunitas ITB Motherhood. Komunitas ini dibuat pada 2010 untuk mewadahi mahasiswi atau alumni perempuan ITB yang tertarik pada dunia ibu dan anak. Hingga saat ini grup ITB Motherhood di Facebook telah memiliki ribuan anggota dan kegiatannya berkembang menjadi lebih dari 30 komunitas internal―yang kegiatannya tidak hanya bersifat daring, tetapi juga luring.

ITB Motherhood memiliki iklim yang sangat kondusif untuk menjadi sebuah support system. Di dalamnya kita dapat bertanya tentang apa saja tanpa takut merasa dihakimi, dapat melakukan jual beli dengan rasa aman dan asas kepercayaan, atau mencari dukungan dalam bentuk apa pun. Sebagai contoh, beberapa tahun silam aku sempat bergabung dengan subgrup ASIX dan subgrup ibu hamil yang sangat memberi dukungan dalam hal motivasi maupun pengetahuan seputar kehamilan, persalinan, dan ASI. Beberapa subgrup di ITB Motherhood juga bergerak dalam hal beasiswa, donasi, dan relawan.

Berfoto bersama Mamah Gajah Berlari dengan latar belakang labtek jurusanku

Saat ini aku aktif dalam beberapa subgrup ITB Motherhood, yaitu Mamah Gajah Berlari, Mamah Gajah Bercerita, dan tentunya Mamah Gajah Ngeblog―yang membuatku menelurkan tulisan tantangan ini.

Penutup

Di kampus ITB aku tak hanya menyelami dunia akademik, tetapi juga belajar tentang jatuh bangun, mengenali diriku sendiri, membentuk pola pikir, juga ketangguhan bertahan sampai akhir. Maka bagiku ITB adalah tempat pulang, tempat yang selamanya akan terpatri dalam hati.

Tulisan ini diikutsertakan dalam Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan Februari yang bertema “Tempat/Lokasi yang Membentukku”.

Monday, November 24, 2025

Repas

Lidya menoleh ke arah jam dinding. Sudah pukul enam sore. Dia harus bergegas merapikan rumah dan menyiapkan makan malam. Kalau Rendi pulang dari kantor dan mendapati semuanya belum beres, bisa habis Lidya kena marah. Sekadar omelan dan hardikan saja mungkin tak mengapa, tetapi repot urusannya bila disertai dengan kekerasan fisik seperti biasa.

Lidya membuka kantong-kantong belanjaan dengan terburu-buru. Pikirannya sibuk memikirkan menu apa yang akan dimasaknya. Cukup lama dia tadi termangu di depan rak-rak supermarket. Bukan karena mengingat-ingat daftar belanjaan, melainkan lebih banyak melamunkan nasibnya yang tak tentu arah.

Sejam kemudian didengarnya mobil Rendi memasuki garasi. Untung rumah sudah rapi dan beberapa menit lagi makan malam sudah siap. Lidya mengaduk sup krim dan menyendok sedikit untuk dicicipi. Dia harus memastikan rasanya pas dengan selera Rendi.

“Selamat malam, Sayang.” Lidya menyapa suaminya dengan suara yang dibuat seramah mungkin. Rendi menutup pintu dengan wajah masam. Tampaknya harinya tidak terlalu baik. Dijawabnya sapaan Lidya dengan dengusan kesal.

“Makan malam sebentar lagi siap,” lanjut Lidya, “Mas bisa mandi dulu.”

“Nggak usah nyuruh-nyuruh,” tukas Rendi dengan gusar. Jantung Lidya berdebar. Rendi berjalan ke arah kamar untuk membasuh diri, memberi kesempatan bagi Lidya untuk menata meja makan dengan cepat.

Beberapa saat kemudian mereka berdua sudah duduk di meja makan. Rendi menyantap makan malam dalam diam. Setelah makan mereka tandas, Rendi berkata, “Aku perhatikan tadi ada tarikan dana dari ATM cukup banyak.”

Tangan Lidya yang sedang membereskan piring kotor terhenti. “Ah iya, aku tadi belanja bulanan.”

“Belanja bulanan seharusnya tidak menghabiskan sebanyak itu.”

Lidya agak gemetar ketika membalas, “Ehm … anu … aku tadi membeli beberapa potong baju …”

“Kenapa tidak minta izin sebelumnya?” potong Rendi.

“Ehm, bajuku sudah banyak yang belel, Mas. Daster yang lama pun sudah banyak bolongnya.”

“Iya, kenapa tidak minta izin?”

“Maaf, Mas, tapi …”

“Kebiasaan memang kamu ini.” Rendi bangkit sambil menggerutu panjang pendek.

Lidya menghela napas lega ketika Rendi meninggalkannya. Dia melanjutkan membereskan meja dan mencuci piring-piring. Sungguh merana hidup dalam rasa was-was seperti ini setiap hari.

Selesai membersihkan dapur, Lidya beranjak ke kamar untuk sekadar menyelonjorkan kaki di atas kasur. Langkahnya terhenti di pintu kamar ketika melihat Rendi sedang memeriksa barang belanjaannya. Di tangan Rendi terlihat beberapa setruk.

“Dengan siapa kamu pergi sore tadi, ha?” Suara hardikan Rendi menggelegar memenuhi ruangan. Tangan Rendi dengan kasar menariknya masuk.

Lidya menggeleng takut, lalu membuka mulut, “Sungguh bukan dengan siapa-siapa.”

“Bohong!”

Telinga Lidya terasa pekak. Sesaat kemudian pelipisnya membentur tembok ketika tangan Rendi menempelengnya dengan kuat. Ia terjatuh.

“Lihat setruk ini,” kata Rendi sambil menyorongkan selembar kertas di depan wajah Lidya, “jelas-jelas tertera pembelian makanan di kafe untuk dua orang!”

Lidya meringkuk di pojok kamar dengan tubuh gemetar. Setetes darah menghias sudut bibirnya. Di depannya, Rendi berdiri menjulang dengan sikap angkuh.

“Aku … aku terlalu lapar tadi, Mas. Sudah lama tidak jajan di luar, jadi aku …”

“Bohong lagi! Nggak ada gunanya punya istri pembohong begini! Ayo ke sini kamu!” Rendi makin meraung. Wajahnya merah meledak marah ketika melihat Lidya beringsut mundur.

Istri? Masa tega dia perlakukan aku seperti ini jika aku masih dianggapnya sebagai istri, batin Lidya. Selama lima tahun pernikahan, hampir setiap hari bogem mentah Rendi melayang. Tak terhitung lagi berapa kali dia menyakiti Lidya secara verbal. Di manakah cinta yang mereka agungkan di awal pernikahan?

Lidya merasa tak lagi memiliki nilai di mata Rendi, selain hanya sebagai sasaran kemarahan belaka. Dia sungguh merasa tak berharga. Hatinya diliputi kecemasan tentang bagaimana hidupnya bisa saja berakhir di tangan suaminya sendiri.

Kuping Lidya terasa berdenging karena kepalanya pusing. Suara Rendi mulai tak fokus didengarnya. Lidya menepis ciut. Dia sudah lelah menumpuk takut. Kali ini dia harus memberanikan diri. Dia bangkit dan mendorong tubuh Rendi sekuat tenaga, lalu berlari ke dapur. Dia tahu di belakangnya Rendi mengejar dengan kemarahan menggelegak. Dia harus bergerak secepat kilat.

Malam menjelang; bulan sabit menggantung di langit berselimut awan. Keributan beberapa saat lalu tak lagi terdengar. Rumah besar itu diliputi sunyi. Sesosok tubuh terbujur kaku di lantai, di dadanya tertancap pisau dapur. Lidya menyeringai.


Tulisan ini diikutsertakan dalam Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan November yang bertema “Di Luar Logika”.

Saturday, October 25, 2025

Dear John: Sebuah Adaptasi Tentang Cinta, Kerinduan, dan Kehilangan

Poster film diambil dari sini

Apa yang kamu lakukan ketika gadis yang kamu cintai, yang berjanji akan menunggumu pulang dari dinas ketentaraan, ternyata pada akhirnya memutuskan hubungan kalian dan menikah dengan lelaki lain?

Begitulah kondisi sulit yang dihadapi John Tyree, seorang prajurit US Armed Forces setelah memenuhi panggilan negaranya dalam perang di Timur Tengah, yang dikisahkan oleh Nicholas Sparks dalam novelnya “Dear John”.

“Dear John” menceritakan kisah hidup John yang pada masa awal kehidupannya hanya tinggal berdua dengan ayahnya, seorang pengidap Sindrom Asperger. Hal itu sedikit banyak mempengaruhi relasi mereka. John tahu ada yang berbeda dengan ayahnya, tetapi ia tak pernah memahami hal itu.

Perjalanan hidupnya yang rumit membuatnya mendaftar masuk ke US Armed Forces, dan pada suatu masa cuti dari ketentaraan ketika ia pulang ke rumah, ia bertemu dengan seorang gadis bernama Savannah. Dari situlah kisah kemudian berkembang. Savannah mengajarkan John bagaimana memperbaiki hubungan dengan ayahnya, mengajarkannya tentang cinta, patah hati, dan kebahagiaan sejati.

Novel “Dear John” ditulis pada tahun 2006 dan diangkat ke layar lebar pada tahun 2010. Selisih tahun adaptasinya tidak terpaut jauh sehingga bisa dibilang: tidak ada konteks zaman yang berbeda. Meskipun demikian, tentu ada hal-hal menarik yang bisa dikaji dalam proses kreatif adaptasinya. Apakah memang sesuai ekspektasi pembaca novel dan penikmat film? Apakah ada alur, kisah, dan rasa yang berubah?

Dari Segi Penulisan Novel

Sparks berusaha membangun konflik dengan cara seorisinal mungkin tentang alasan mengapa dua orang yang saling mencintai tidak dapat bersatu selamanya. Konflik dalam kisah John dan Savannah ini diaduk-aduk sedemikian rupa sehingga tetap terasa nyata dan tidak mengada-ada. Jadi meskipun ringan dibaca, konfliknya tetap matang.

Novel yang berjumlah 392 halaman ini banyak menggambarkan detail Wilmington, North Carolina sebagai latar. Bagi sebagian orang yang tidak terlalu suka narasi, beberapa bagian penceritaan kota itu mungkin terasa panjang. Namun bagiku, hal ini menunjukkan kepiawaian Sparks dalam menulis deskripsi dan menggambarkan suasana yang sangat membantu pembaca untuk membayangkan konteks cerita. Tidak hanya pada latar, tetapi juga pada bagian-bagian detail lainnya. Penggambaran selalu deskriptif mengenai apa pun dan tidak membosankan, meskipun selalu dilihat dari sudut pandang orang pertama.

Dalam hal penokohan, sungguh aku tak bisa berkata-kata lagi. Sparks selalu keren dalam menciptakan tokoh yang berkarakter. Sudut pandang orang pertama sering dipakai dalam novel, tetapi jarang ada novel romantis yang “aku”-nya adalah seorang laki-laki. John digambarkan sangat manusiawi: meskipun ia tentara–yang identik dengan sosok tangguh–ternyata ia memiliki perasaan yang halus. Ia bisa mellow bahkan menangis, juga clueless jika menyangkut hubungannya dengan Savannah.

Dari segi penggambaran emosi, perasaan John pun tersampaikan dengan baik seolah-olah ia benar-benar sedang curhat dengan pembaca. Hal ini tentu membuat pembaca ikut larut dalam cerita. Aku angkat topi untuk kemampuan Sparks menulis tentang emosi secara mendalam.

Dari sekian banyak novel Nicholas Sparks, “Dear John” ini yang paling baik menurutku. Alih bahasa yang dilakukan Barokah Ruziati bagus dan tanpa cela, tidak seperti salah satu novel Sparks lain yang alih bahasanya acakadut dan bikin geregetan.

Dalam situs pribadinya, Sparks menulis tentang buku ini, “In the end, I was proud of the novel. It is, in many ways, one of my favorites. It is also one that I think will resonate with readers long after the final page is turned.

Ya, dia benar! Aku menangis ketika membaca novel ini, terutama ketika bab-bab akhir. Aku masih ingat, air mata terus mengalir di wajahku. “Dear John” is also my favorite, and it resonated with me long after the final page was turned, even many years later.

Versi Film

Secara umum, kisah, penokohan, alur, serta latar pada film tidak memiliki perbedaan yang signifikan dengan novelnya. Ada beberapa detail yang berubah, seperti misalnya hubungan antarkarakter dan peringkasan cerita, tetapi rasanya hal itu masih dalam taraf wajar mengingat adanya keterbatasan ruang dan waktu dalam proses adaptasi dari novel menjadi film.

Film “Dear John” dibintangi oleh Channing Tatum sebagai John Tyree dan Amanda Seyfried sebagai Savannah Lynn Curtis. Gambaran tentang John dalam benakku cukup sesuai dengan sosok Channing Tatum. Namun, sosok Savannah sangat berbeda dengan imajinasiku, terutama karena Amanda Seyfried berambut pirang sementara dalam novelnya digambarkan memiliki rambut coklat yang indah. Meskipun demikian, menurutku akting Tatum dan Seyfried bisa dibilang mampu menghadirkan karakter yang mirip dengan karakter novel.

Dalam hal kesuksesan film, pada akhir pekan pembukaannya, film ini meraup $30.468.614. Hal tersebut membuat film ini menempati posisi pertama di box office, mengalahkan Avatar setelah tujuh minggu bertengger di posisi pertama. Hal itu juga berhasil menjadikan film ini sebagai debut terbaik untuk sebuah film yang diangkat dari novel Nicholas Sparks.

Namun, secara reviu, film ini menerima ulasan yang tidak terlalu bagus. Di Rotten Tomatoes, film ini memiliki skor rata-rata 4,50/10 berdasarkan 137 ulasan. Konsensus kritikus situs web tersebut berbunyi: “Built from many of the same ingredients as other Nicholas Sparks tearjerkers, Dear John suffers from its clichéd framework, as well as Lasse Hallstrom's curiously detached directing.” Metacritic, yang memberikan skor rata-rata 43/100 dari 34 ulasan kritikus film, memberikan nilai “mixed or average”.

Jika ada hal yang sangat menggangguku dari filmnya, itu adalah soal ending. Sparks yang dikenal sebagai spesialis penulis dengan ending tragis dalam novel-novelnya, sebenarnya lebih suka menyebut ending novel ini sebagai bittersweet, sebuah istilah halus untuk sad ending.

Pada ending novel, John akhirnya melepaskan Savannah dan berdamai dengan kenyataan bahwa mereka memang tidak dapat bersama karena Savannah telah menikah ketika John masih menjalani dinas ketentaraan. Tahun-tahun yang terpisah ketika mereka menjalani long distance relationship memperburuk keadaan dan membuat hambar hubungan mereka. Meskipun keduanya saling mencintai, hubungan mereka terpaksa harus kandas ketika hidup keduanya tidak lagi beririsan dan memiliki frekuensi yang sama.

Nah, dalam filmnya, sutradara dan penulis skenario agak maksa ketika mereka mengubah ujung cerita menjadi happy ending. Dikisahkan suami Savannah akhirnya meninggal akibat sakit kanker dan mereka berdua dapat kembali bersama. Ini agak krik krik menurutku, mengingat intensitas emosi penonton yang sudah dibuat termehek-mehek ketika mereka berpisah.

Apa yang Bisa Kita Pelajari?

Adaptasi karya film yang diangkat dari buku–sadar atau tidak sadar–selalu membuat kita membandingkan: mana yang lebih baik, buku atau film? Sejauh ini, dari sekian banyak film adaptasi yang pernah kutonton, aku selalu memenangkan buku. Namun, kali ini aku harus mengakui bahwa novel maupun film “Dear John” sama-sama bagus. Proses adaptasinya tidak wow, tetapi juga tidak buruk. Filmnya berhasil mengejawantahkan kisah dalam novel dengan sangat manis. Sukses menjadi film bergenre drama seperti novelnya tanpa sisi dramatis yang berlebihan.

Meskipun demikian, perbedaan ending yang membuatku frustrasi memang harus diakui tampaknya sengaja dibuat untuk memanjakan pasar. Mungkin para penikmat film lebih menyukai happy ending daripada sad ending. Mana ada pemirsa yang rela berderai air mata ketika meninggalkan bioskop, hehehe. Pada akhirnya, perbedaan aspek lintas medium (terutama layar lebar) memang tidak bisa dilepaskan dari urusan pasar yang tunduk pada kapitalisme.

Sudut Pandang Personal

Kembali ke paragraf yang kutulis di awal tulisan ini: apa yang bakal kamu lakukan ketika kehilangan seseorang yang istimewa dalam hidupmu? Yang membuat kisah John menarik untukku adalah karena ia bercerita tentang proses melepaskan dan berdamai setelah kehilangan, yang mana pengalamannya pasti akan berbeda untuk setiap orang.

Ada orang yang berdamai setelah kehilangan dengan cara melupakan. Namun, ada yang justru dengan cara mengenang, seperti John. Dia mengenang segala yang pernah dia miliki bersama Savannah, karena cinta mereka memang (pernah) nyata. Dia mengikhlaskan Savannah demi kebahagiaannya, meskipun sejatinya dia tidak rela. Itu sebuah bentuk pengorbanan yang besar, kurasa.

Pulih bukan berarti sembuh. Pulih artinya tetap bisa melangkah dengan luka akibat kehilangan dan menyadari sepenuhnya bahwa yang kamu lakukan adalah sesuatu yang benar. Love sekebon buat John, the real gentleman yang membuatku bersimpati hingga tersedu-sedu ketika selesai membaca novelnya dua belas tahun silam.

Tulisan ini diikutsertakan dalam Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan Oktober yang bertema “Menyelami Orisinalitas dalam Adaptasi Karya Lintas Medium”.