Saturday, August 06, 2022

Sadrah

Aku menatap lelaki di hadapanku. Dia baru saja menutup laptop di pangkuanku, mengambilnya, lalu meletakkannya di meja. Gerakannya tegas, tetapi sorot matanya teduh tanpa amarah.

“Sudah kubilang untuk istirahat, kan,” katanya kemudian sambil tersenyum. Dia mengambil langkah panjang ke jendela di sudut kamar dan menyibakkan tirai. Seberkas sinar mentari jatuh di wajahku; aku mengernyitkan mata.

“Ups, maaf … silau ya?” Dia tertawa renyah sambil mengacak rambutku pelan ketika sudah sampai di sisi pembaringan. Tangannya dengan sigap membereskan berkas-berkas yang bertebaran di kasur.

“Istirahat dulu sampai sembuh. Oke?” Dia menatapku tegas. Aku menarik napas dalam-dalam sambil menyandarkan kepala ke bantal. Baiklah, aku menyerah.

Dua hari lalu aku kolaps di kantor. Mereka membawaku ke sini dan dokter menyuruhku beristirahat selama beberapa hari karena aku mengalami hipoglikemia dan kadar hemoglobinku sangat rendah.

“Pengen makan apa?”

Aku menggeleng. “Nggak pengen apa-apa.”

“Aku beliin apa saja yang kamu mau. Makanan rumah sakit nggak terlalu menggugah selera, kan?” Dia menunjukkan layar aplikasi pesanan antar dengan antusias.

“Nggak usah, Ben.”

Kupandang Beni dengan lekat. Aku mengenalnya setahun lalu di sebuah gym tempat dia menjadi personal trainer di sana. Saat itu hampir tiap hari aku mampir ke gym untuk mengurai pikiran yang ruwet, tanpa tahu akan berkenalan dengan sosoknya yang begitu tulus. Aku bukan kliennya, tetapi dengan riang dia berbagi kiat bagaimana gerakan yang benar, berbincang tentang nutrisi dan gaya hidup sehat, hingga akhirnya kami akrab satu sama lain dan sering pergi bersama.

Beberapa bulan lalu dia menyatakan cintanya. Menjalin hubungan serius dengan seseorang adalah hal terakhir yang ada dalam benakku, maka dengan berat hati aku menolaknya. Aku menyukainya, tetapi ada banyak ketakutan dari masa lalu yang masih memberati pundakku. Hari demi hari berlalu tanpa ada yang berubah dari dirinya: masih tulus dan peduli, juga masih bersikap penuh perhatian.

Seorang petugas katering masuk ke dalam kamar dan membuyarkan lamunanku. “Silakan sarapannya, Bu.”

Beni dengan serta merta meraih nampan dan membuka plastik yang menutupi permukaan piring. “Aku suapin ya, Ta?”

“Belum lapar, Ben.”

“Ta, nggak boleh gitu. Nanti gula darahnya nge-drop lagi kalau kamu nggak makan.”

“Nanti saja, Ben. Nanti aku makan sendiri.”

Beni menyentuh daguku pelan, lalu menghadapkan wajahku tepat di depan wajahnya. Mata kami berserobok.

“Jangan ngeyel terus, Ta,” katanya dengan lembut, “nanti nggak sembuh-sembuh.”

Aku melihat kasih terpancar dari bening mata coklatnya. “Kenapa masih betah ngurusin aku, Ben? Kamu kan tahu betapa keras kepalanya aku.”

Beni meraih tanganku dan menggenggamnya. “You know why. Sudah, sekarang jangan ngeyel lagi. Aku suapin, ya?”

Aku mengangguk pasrah.

***

Aku berlari dengan terengah-engah. Bayangan laki-laki itu terlihat ketika aku menoleh. Kupercepat langkah sambil menengok ke kiri dan ke kanan mencari tempat persembunyian. Aku mengusap sudut bibirku yang berdarah. Ah, sial. Dia lebih cepat. Sudah tinggal beberapa meter saja dia di belakangku.

“Mau lari ke mana kau sekarang?” serunya sambil tertawa keras. Bulu kudukku berdiri. Dalam sekali loncat dia berhasil menarik bajuku. Aku terbanting ke jalan.

Tiba-tiba kepalaku terasa sakit sekali. Ternyata laki-laki itu menempelengku dengan keras sampai aku terjatuh. Dijambaknya rambutku, lalu dibenturkannya kepalaku ke aspal. Dia memegang pergelangan tanganku dengan kencang. Napasku megap-megap.

“Ta! Bangun, Ta!” Aku mendengar suara Beni samar-samar. Kubuka mata dengan berat. Napasku masih memburu. Ketika aku sadar sepenuhnya, kudapati tangan Beni-lah yang memegang pergelangan tanganku. Kamar rumah sakit ini terasa dingin dan gelap.

“Aku bermimpi?” Kulihat pandangan khawatir di mata Beni. Dengan lembut dihapusnya air mata dari sudut mataku.

“Mimpi apa sampai menangis begini?”

Aku tak menjawab, tetapi balik bertanya, “Pukul berapa sekarang?”

“Pukul sepuluh malam. Aku tadi ke sini sepulang dari gym.”

“Kepalaku pusing sekali.”

Pandangan Beni tampak prihatin. “Mereka bilang, kalau Hb-mu tak kunjung naik, besok harus transfusi.”

Aku mendesah pelan dan mencoba duduk. Beni sigap membantu.

“Aku capek, Ben.”

“Ta …”

“Aku lelah dengan semua ini. Aku pikir dengan menyibukkan diri pada pekerjaan, aku akan bisa lupa.” Aku tergugu.

Beni merengkuhku. “Bebanmu terlalu berat, Ta. Justru dengan rapat-rapat sampai malam, mengejar tender proyek sampai habis-habisan, kamu menghancurkan badanmu sendiri. Padahal yang mengganggumu itu ada di pikiranmu.”

“Aku nggak tahu harus bagaimana, Ben. Bayangan dirinya terus mengejar.”

“Hei, dengerin aku. Laki-laki itu nggak bisa menyakitimu lagi.”

Bahuku terguncang di dada Beni. Menjadi korban KDRT selama bertahun-tahun benar-benar menyisakan kepedihan. Bukan hanya tilas patah tulang, rahang yang bergeser, atau bekas luka jahitan, melainkan juga trauma psikologis berkepanjangan meskipun aku sudah lama tidak bertemu mantan suamiku.

Beni membiarkanku menangis di pelukannya. Ketika akhirnya aku tenang, dia berkata, “Aku nginep di sini ya malam ini.”

Sambil menghapus sisa-sisa air mata, aku kembali berbaring. Beni membetulkan letak selimutku, mengecup keningku, lalu melangkah ke arah sofa dan tidur meringkuk di atasnya. Aku merasa lebih nyaman melihat dia ada di situ, tetapi masih ada hal yang mengganjal di hatiku.

***

Aku sedang mengganti-ganti saluran televisi dengan bosan ketika Beni masuk ke kamar. Kausnya basah oleh keringat.

“Pas aku bangun tadi kamu masih tidur, jadi aku jogging dulu sebentar,” katanya.

“Sudah kuduga,” sahutku, “pagi yang cerah ini memang sayang untuk dilewatkan begitu saja.”

“Dokter sudah visit?”

“Sudah.”

“Lalu apa dia bilang?” tanya Beni dengan tatap penasaran.

“Hb-ku sudah naik. Sudah di range normal, jadi nggak perlu transfusi. Hari ini sudah boleh pulang.”

“Syukurlah,” katanya sambil tersenyum, “habis ini harus makan yang benar, banyak istirahat.”

Dia duduk santai di atas sofa sambil menenggak air mineral. “Hari ini aku ada janji dengan klien pukul sembilan. Mungkin selepas makan siang aku baru bisa kemari. Check out-nya nunggu aku saja ya, nanti aku yang urus-urus.”

Aku berdehem membersihkan tenggorokan. “Ben, sebenarnya ada yang ingin aku bicarakan.”

“Hmm?” Pandangannya masih mengarah ke dalam tas.

I’ve been thinking about us.”

Gerakan tangan Beni terhenti. Dia mendongakkan kepala dan menatapku tajam. Aku merasa senewen.

“Ada apa?” Kali ini nadanya curiga. Aku bahkan tak berani menatapnya.

“Ehm … Ben, aku rasa kamu harus berhenti ngurusin aku.”

“Kenapa? Kamu merasa nggak nyaman?”

“Oh, bukan,” tukasku cepat, “hanya saja … aku banyak merepotkan.”

“Nggak sama sekali.” Dia mengernyit.

“Dengar, Ben. You’re a good person. Banyak gadis-gadis di luar sana yang lebih pantas buat kamu. Kenapa kamu masih bertahan ngurusin seorang janda yang bahkan …”

“Ta! Kamu ngomong apa sih?” Dia berjalan ke arahku dan duduk di tepi tempat tidur.

I’m such a burden, Ben. I’m torn. I’m a mess. Mungkin sebaiknya kita sampai di sini saja. Kamu berhak punya kehidupan yang lebih baik.” Mataku mulai berkaca-kaca.

Beni menghela napas. “Bukankah kita pernah ngobrol soal ini? Aku sayang sama kamu, Ta. Kita akan hadapi ini sama-sama, oke?”

Aku menggeleng. Kusentuh lengan Beni pelan. Lengannya yang berotot itu dulu membuatku takut. Membayangkan dihantam dengan keras atau dibenturkan ke tembok oleh lengan sekuat itu membuatku terintimidasi olehnya di awal masa pertemuan kami. Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Kedua lengannya yang kokoh itu seringkali memberiku perlindungan dan kehangatan, tetapi sungguh aku tidak cukup baik untuknya.

Mata Beni menatapku serius ketika dia berkata, “Menikahlah denganku, Ta …”

Aku tertegun. Laki-laki ini sungguh unbelievable. Saat aku ingin memutuskan hubungan dengannya, dia malah melamarku.

“Ben …”

Listen to me. Aku nggak peduli seperti apa masa lalumu. Yang aku tahu, aku pengen habiskan sisa hidupku sama kamu. Selalu ada buat kamu, lindungi kamu. Please, Ta … jangan tolak aku terus. Beri aku kesempatan untuk membahagiakanmu.”

Aku terisak pelan. Buliran bening mengalir dari kedua mataku. Beni menghapusnya dengan lembut lalu memelukku erat sambil berbisik, “Jangan pernah merasa tidak pantas. You really mean the world to me.”

Sinar mentari pagi menari-nari masuk ke dalam ruangan, menembus vitrase tipis sampai ke hatiku. Mungkin memang sudah saatnya aku berhenti berlari. Dalam dekapan Beni, aku berpasrah diri dan mulai memahami bahwa Tuhan sedang memberiku kesempatan kedua untuk mencinta.


Tulisan ini diikutsertakan dalam Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan Agustus yang bertema “Cerita Cinta”.

Tuesday, July 05, 2022

Belajar Tiada Akhir

Gambar diambil dari sini

Belajar adalah aktivitas sepanjang hayat. Seperti yang ditulis Dini di sini, “lifelong learning is the lifewide, voluntary and self-motivated pursuit of knowledge for not only personal but professional reasons as well”. Kata kuncinya adalah: belajar sepanjang hayat, sukarela, self-motivated, untuk pengembangan diri baik secara personal maupun profesional.

Namanya manusia tentu tak ada yang sempurna, ya. Ilmu terus berkembang mengikuti zaman. Kemampuan kita tak pernah paripurna, yang ada hanyalah langkah untuk terus menuju ke sana. Bagi diriku pribadi, ada hal-hal yang hingga hari ini masih terus ingin kuperbaiki. Oleh karena itu, belajar sepanjang hayat merupakan suatu keniscayaan, terutama untuk hal-hal yang akan kuceritakan di bawah ini.

Menjadi Orang Tua yang Baik

Sepanjang empat belas tahun menjadi orang tua, selalu ada hal baru yang aku dapatkan. Anak-anak itu memang guru terbaik, kadang aku jadi belajar dengan metode learning by doing. Biasanya hal ini terjadi pada anak pertama di mana kita masih gagap menjadi orang tua. Ilmu dari bapak ibu yang berbeda zaman dengan kita–yang sebagian besar masih berdasar pada “katanya”–kadang tak lagi relevan, atau bahkan terbukti tidak benar menurut ilmu yang berkembang kemudian. 

Meskipun membesarkan anak-anak berikutnya sudah lebih ada persiapan, nyatanya aku masih sering terkaget-kaget juga, hahaha. Tiap anak yang memasuki fase berbeda selalu memberi kejutan. Pada suatu masa ketika aku merasa lega karena anak sudah lepas dari fase terrible-two, kakak-kakaknya sedang memasuki fase teen dan pre-teen yang menguras emosi dan tenaga *pijat-pijat kening*

Menjadi orang tua itu tak ada sekolahnya. Indeed, kehidupan inilah yang memberi pelajaran. Salah satu hal yang kini masih terus kuusahakan adalah belajar sabar. Memiliki empat anak dengan usia berbeda yang berkelindan dengan drama masing-masing, mood kujaga benar supaya tidak terlampau lelah. Karena jika aku merasa lelah–baik fisik maupun mental–amarahku mudah sekali terpicu. Jika aku berada dalam kondisi waras, se-ambyar apa pun tingkah polah mereka bisa kuhadapi dengan kepala dingin.

Tidak ada anak yang nakal. Tidak ada anak yang dengan sengaja membuat marah orang tuanya. Yang ada hanyalah anak yang bisa jadi belum tercukupi kebutuhannya. Yang ada hanyalah orang tua yang mungkin kurang bijak bersikap. Anak adalah titipan; Allah akan meminta pertanggungjawaban kita sebagai orang tua. Di sisi lain, pahala akan mengalir deras bagi orang tua yang mampu membimbing anak-anaknya sesuai tuntunan. Maka cukuplah dalil-dalil berikut ini menjadi pengingat.

“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau doa anak yang saleh.” (H.R. Muslim).

“Sesungguhnya Allah mengangkat derajat seorang hamba yang saleh di surga, lalu ia bertanya, ‘Wahai Tuhanku, dari mana aku dapatkan semua ini?’ kemudian Allah menjawab, ‘Dengan sebab istighfar anakmu untuk dirimu.’” (H.R. Ahmad).

Berlari dengan Efektif dan Efisien

Aku sudah berlari sejak tahun 2015. Dalam kurun waktu tujuh tahun ini, ada banyak sekali ilmu berlari yang kupelajari dari teman-teman komunitas maupun dari para profesional, mulai dari bagaimana membangun training plan dan mengatur waktu untuk menyempatkan berlari di tengah kesibukan, memperbaiki heart rate dan VO2Max, memperbaiki endurance, hingga bagaimana menempuh long run mulai dari 10 km sampai 21,1 km. Selain belajar tentang ilmunya, aku juga memperoleh motivasi dan semangat yang luar biasa dari mereka.

Namun, aku merasa kemampuanku belum maksimal. Teknik berlari dan running form-ku belum optimal. Padahal hal ini sangat penting supaya dapat berlari dengan lebih efektif dan efisien. Dalam dunia lari, ada yang namanya running economy, yaitu hubungan antara konsumsi oksigen dan kecepatan lari. Sederhananya: running economy adalah efisiensi dalam mengubah konsumsi oksigen menjadi gerakan maju, dan hal ini bergantung pada banyak faktor: komposisi serat otot, fleksibilitas sendi, bentuk tubuh, dan ketahanan dalam berlari.

Selain melatih teknik berlari dan running form, seorang pelari juga harus berlatih beban. Latihan beban mencegah cedera dengan memperkuat otot dan jaringan ikat. Ini membantu kita berlari lebih cepat dengan meningkatkan koordinasi dan kekuatan neuromuskuler, juga meningkatkan efektivitas dengan mendorong koordinasi dan efisiensi langkah. Adaptasi neuromuskuler adalah kondisi di mana otak, sistem saraf pusat dan otot beradaptasi untuk menghasilkan lebih banyak serat otot dan meningkatkan frekuensi dari serat otot. Kesimpulannya, latihan ketahanan atau resistance training akan meningkatkan koordinasi di antara setiap otot dan menghasilkan lebih banyak kekuatan untuk berlari.

Hal-hal di atas adalah hal-hal yang ingin terus kupelajari dalam aktivitasku menggeluti hobi berlari. Levelku memang masih pelari rekreasi atau pelari hore, tetapi tak ada salahnya berlatih secara serius untuk meningkatkan performa. Ingin rasanya memakai jasa profesional seperti running coach atau personal trainer. Namun, kesibukan sebagai ibu dan pekerja kantoran yang terikat jam kerja membuatku cukup sulit untuk membagi waktu. Mungkin suatu saat nanti ketika anak-anak sudah lebih besar dan sudah bisa ditinggal-tinggal dengan leluasa. Insya Allah.

Menulis

Menulis adalah suaka bagiku. Lewat tulisan, aku menemukan siapa aku sebenarnya. Menulis adalah suatu aktivitas yang lebih dari sekedar merangkai huruf demi huruf menjadi seuntai tulisan bermakna. Buatku menulis memiliki arti lebih dari itu. Aku orang yang cukup pendiam, datar, cenderung menutup diri, dan tidak pernah bersikap vokal, apalagi frontal. Sejak kecil aku mengakrabi tulisan karena lewat tulisan, aku bisa mengekspresikan segala hal yang aku mau tanpa batasan-batasan rasa malu, rendah diri, atau putus asa. Dengan menulis, aku bisa mengemukakan gagasan atau pikiran menurut cara yang aku mau.

Dalam dunia menulis fiksi yang kugeluti selama ini, aku bisa menciptakan sebuah kondisi yang aku kehendaki, lengkap dengan penokohan, alur, dan ending-nya. Sedikit demi sedikit, aku mulai mengakui keberadaanku. Ternyata aku juga bisa menguasai dan mengendalikan sesuatu. Dua puluh dua buku antologi telah kuhasilkan sampai saat ini, sebagian besar adalah antologi fiksi. Namun, aku belum pernah menelurkan buku solo.

Oleh karena itu, aku ingin terus belajar menulis. Menulis novel itu butuh nafas panjang dan motivasi tiada henti. Bergabung dengan berbagai komunitas menulis, ikut dalam beragam event menulis dan proyek-proyek penerbitan buku, serta banyak membaca karya fiksi adalah beberapa cara yang kulakukan. Harapannya, kelak suatu hari nanti aku dapat menerbitkan buku solo yang selama ini draft-nya kutulis dengan tersendat-sendat.


Tulisan ini diikutsertakan dalam Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan Juli yang bertema “Hal-hal yang Ingin Dipelajari”.

Thursday, June 30, 2022

Sehari dalam Hidupku

Nulis Kompakan Mamah Gajah Ngeblog” bulan Juni 2022 mengambil tema “Rutinitas Harian Mamah”. Beberapa mamah merasa khawatir tulisan mereka akan membosankan jika bercerita tentang kegiatan sehari-hari. Ummm, sebenarnya hal itu juga menjadi kekhawatiranku hahaha. Namun, konon katanya rutinitas itu membentuk struktur. Orang yang kesehariannya terstruktur dan tersistematis, katanya cenderung lebih berhasil dalam mencapai tujuan hidup. Jadi, baiklah … mari kita tuliskan saja. Siapa tahu mengandung hal yang bermanfaat serta membawa kebaikan bagi yang menulis dan membaca.

Gambar diambil dari sini

Pagi yang Rusuh

Sebagai ibu dari empat anak yang tiga di antaranya bersekolah, bagaimana aku memulai hari tentu sudah bisa dibayangkan. Aku bukan tipe morning person, melainkan tipe night owl. Jadi, jangan berpikir aku bangun di pagi buta, menyiapkan segalanya, lalu baru membangunkan anak-anak. Seringnya justru aku bangun ketika azan subuh sudah berkumandang beberapa menit sebelumnya, kriyep-kriyep sebentar sambil menggeliat, barulah berjalan ke kamar anak-anak untuk membangunkan mereka.

Grasak-grusuk ini akan lebih terasa hebohnya ketika aku bangun kesiangan dan anak-anak terlampau susah untuk dibangunkan. Sebagai pekerja kantoran yang mengejar jam masuk kerja sekaligus jam masuk sekolah anak-anak, hal ini menjadi tantangan tersendiri. Dulu semasa kami tinggal di Bandung, hal ini tidak pernah menjadi masalah. Anak-anak berangkat dengan mobil jemputan, jadi aku tinggal mengurusi diriku sendiri. Aku bahkan masih sempat jogging sejenak sebelum berangkat kerja, mengingat jarak rumah-kantor yang cukup dekat dan bisa ditempuh hanya dalam waktu lima belas menit memakai motor.

Kini … jangan harap. Kami harus berangkat pagi-pagi sekali untuk menghindari kemacetan. Apalagi kondisi PPKM sudah melonggar dan anak-anak sekolah sudah hadir secara tatap muka. Untungnya aku tidak harus sibuk berkutat dengan urusan dapur. Soal sarapan, ada Mbak ART yang bertugas mempersiapkan. Aku memang tidak bisa dan tidak suka memasak sehingga opsi berlangganan katering adalah opsi yang aku pilih untuk membuatku tetap waras.

Ciuman Sebelum Pergi

Sebelum pandemi melanda, aku dan suamiku sudah menjalani long distance marriage selama tiga belas tahun. Aku dan anak-anak pindah ke Tangerang Selatan tahun lalu sehingga bisa tinggal seatap dengan suami. Semenjak itu, ada satu rutinitas kecil yang selalu kami lakukan sebelum aku dan suamiku berpisah untuk berangkat ke tempat kerja masing-masing, yaitu ciuman sayang di punggung tangan dan di pipi.

We embrace every moment, we don’t take it for granted … karena kami tahu betul hal itu tak bisa kami lakukan ketika kemarin-kemarin kami menjalani LDM. Oleh karena itu, menguluk salam sambil mencium tangan dan pipi sebelum pergi menjadi semacam hal wajib sekarang. Kalau tidak dilakukan, rasanya ada yang kurang, seperti misalnya kalau salah satu dari kami sudah rusuh harus berangkat sementara yang satu masih di kamar mandi, hahaha.

Pergi Bekerja

Setelah mengantar anak-anak ke sekolah mereka, aku lanjut menyetir ke tempat kerja. Aku bekerja di unit Quality Assurance pada sebuah instalasi nuklir. Dulu ketika di Bandung, instalasi nuklir itu berupa reaktor nuklir. Sekarang aku ditempatkan di instalasi pengelolaan limbah radioaktif.

Sebagai QA, tugasku memastikan penerapan dan pemenuhan terhadap standar, regulasi, dan persyaratan-persyaratan dari proses/kegiatan yang berlangsung di instalasi, mulai dari aspek keselamatan, keamanan, K3, lingkungan, hingga safeguard (keamanan sumber radioaktif dan bahan nuklir). Hari-hari yang sibuk biasanya hadir jika ada audit, inspeksi, atau pemeriksaan dari pihak yang berwenang. Pada hari-hari seperti itu, aku bisa mondar-mandir berkali-kali melayani pemeriksaan dari satu area ke area lain.

Pada hari-hari yang lebih santai, aku dan rekan kerja kadang melakukan botram, olahraga bersama, atau sekedar ngopi bareng di ruang kerja. Tak dapat dipungkiri, rekan-rekan kerja itu sudah seperti saudara. Sepertiga waktu dalam sehari dihabiskan bersama mereka. Merekalah yang bisa diandalkan dalam bermitra kerja, atau bila suatu saat terjadi kedaruratan–na’udzubillahi min dzalik. Kehangatan dan kekeluargaan itu bagiku sangat berpengaruh terhadap kenyamanan di tempat kerja.

Pulang Kerja

Sepulang dari kantor aku selalu menyempatkan diri untuk berolahraga. Karena pagi hari selalu rusuh, aku menempatkan slot waktu berolahraga pada sore hari. Kadang hal itu menjadi motivasiku untuk berangkat kerja, karena aku tahu setelah seharian bekerja aku akan menutup hari dengan mereguk endorfin dari aktivitas olahraga.

Dulu ketika di Bandung, olahraga yang kulakukan bervariasi antara senam aerobik, yoga, berlari, strength training, dan berenang. Di Tangerang Selatan aku belum menemukan studio dan gym yang cocok sehingga aku lebih banyak berlari sekarang. Jika menu lari hari itu di bawah 7 km, aku berlari di Perumahan Puspiptek dekat kantor yang relatif pendek jarak looping-nya. Namun, jika menu larinya di atas 7 km, aku memilih berlari di trek panjang Binloop–yang satu loop-nya sekitar 12 km di sepanjang boulevard Bintaro Jaya.

Jalanan Perumahan Puspiptek yang enak buat lari

Trek lari di sepanjang boulevard Bintaro Jaya


Malam Hari

Selepas petang biasanya aku baru sampai di rumah. Waktu-waktu setelah itu adalah family time. Aku mendampingi anak-anak menyantap makan malam, bermain, belajar, atau menonton televisi. Setelah anak-anak tidur, baru aku beralih ke me time.

Gambar diambil dari sini

Sambil menunggu suami pulang, aku mengerjakan hal-hal yang terkait dengan porsi pribadi. Biasanya aku membaca, menulis, atau mengaji di waktu-waktu ini. Kadang aktivitas tersebut baru selesai jauh lewat tengah malam. Yah, mau bagaimana lagi, hidup baru bisa terasa tenang jika anak-anak sudah tidur, hahaha.

Buku-buku antologiku, sebagian besar tulisannya dihasilkan di malam hari


Penutup

Sesibuk apa pun seorang ibu dalam keseharian, jangan sampai melewatkan waktu untuk menunaikan me time. Aktivitas ini bisa sangat beragam bentuknya, tergantung aktivitas apa yang paling pas untuk me-refresh mind, body, and soul.

Jika seorang ibu tidak sehat, entah itu fisik atau mentalnya, kehidupan sebuah keluarga akan menjadi timpang. Jika kondisi ibu tidak prima, bagaimana dia bisa mengurus keluarga dengan baik? Seorang ibu yang bahagia akan menghasilkan keluarga yang bahagia. Oleh karena itu, self care is not selfish. Waktu seorang ibu untuk menyeimbangkan dirinya menjadi sebuah kebutuhan. Dengan kewarasan inilah seorang ibu bisa mengutuhkan dirinya sehingga bisa memberi dengan maksimal untuk keluarga dan masyarakat.

Sunday, June 26, 2022

Manusia-Manusia Kuat

Peristiwa berpulangnya Eril akhir bulan lalu menyisakan banyak hal untuk diambil hikmahnya. Bukan hanya tentang keindahan kepribadiannya yang meninggalkan banyak kesan bagi orang-orang–baik yang mengenalnya maupun tidak–melainkan juga tentang keikhlasan, kekuatan, dan ketabahan yang ditunjukkan oleh kedua orang tuanya.

Siang tadi aku juga habis bertakziah ke rumah seorang sahabat dekat yang ditinggal berpulang pasangannya. Mereka selama ini hanya tinggal berdua karena anak tunggalnya telah meninggal bertahun-tahun silam karena sakit. Kami berpelukan lama sekali ketika aku tiba. Di balik air mata yang kadang membayang ketika kami berbincang, kurasakan kegetiran akibat kepergian suaminya yang begitu mendadak. Kejadian itu begitu berat, tetapi senyuman sudah mulai tersungging di bibirnya sedikit demi sedikit. Kurasa aku juga mulai melihat keikhlasan terpancar dari raut wajahnya.

Dalam kehidupan, seorang muslim adakalanya mengalami kondisi pelik ketika ia dihadapkan pada ujian berat, salah satunya adalah peristiwa kehilangan. Pada kondisi seperti itu, seorang muslim yang berpegang pada tali keimanan insyaallah akan merasa ikhlas dan sabar. Secara literal, ikhlas berasal dari bahasa Arab yang artinya murni, jernih, dan tanpa campuran apa pun. Sementara itu, sabar dalam bahasa Arab artinya menahan diri dari keluh-kesah. Orang yang sabar tidak gampang marah, kuat dan tabah menghadapi ujian, serta tidak mengeluh ketika menghadapi situasi sulit.

Memang tidak mudah menghibur seseorang yang sedang berduka. Kita semua akan berada pada posisi itu karena kematian adalah suatu keniscayaan yang waktunya sudah tertulis di Lauh Mahfuzh. Dengan meyakini bahwa kita tak kuasa menolak kematian, insyaallah rasa ikhlas dan sabar akan berhasil dihadirkan. Allah menjanjikan pahala dan berkah yang banyak kepada hamba-Nya yang sabar dalam menjalani kehidupan, terutama ketika mendapat musibah atau sedang dalam masa-masa yang sulit.

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (Q.S. Al-Baqarah: 155)

“Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: ‘Allah Ta'ala berfirman: Tidak ada balasan yang sesuai di sisi-Ku bagi hamba-Ku yang beriman, jika aku mencabut nyawa orang yang dicintainya di dunia, kemudian ia rela dan bersabar kecuali surga.’” (H.R. Bukhari)

Kita tidak meminta kepada Allah supaya ujian diringankan–karena bisa jadi ujian itu adalah cara kita untuk naik kelas–tetapi kita memohon supaya pundak kita dikuatkan dalam menghadapinya. Semoga kita menjadi salah satu hamba Allah yang selalu sabar dalam menghadapi setiap cobaan dan ujian dalam kehidupan. Aamiin.

Sunday, June 12, 2022

Hidup yang Berkah

Kebahagiaan itu erat kaitannya dengan keberkahan. Namun, pernahkah kita bertanya, apakah sebenarnya yang dimaksud dengan keberkahan itu? Bagaimana cara memperolehnya?

Menurut KBBI, berkah adalah karunia Tuhan yang mendatangkan kebaikan bagi kehidupan manusia. Secara bahasa, al-barakah berarti berkembang, bertambah, atau kebahagiaan. Imam An-Nawawi rahimahullah berkata, “Asal makna keberkahan ialah kebaikan yang banyak dan abadi”.

“Andaikata penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka keberkahan dari langit dan bumi. Tetapi, mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (Q.S. Al-A’raf: 96)

Beriman dan bertakwa adalah rumus hidup bahagia dan berkah. Salah satu cara untuk memperkuat keimanan dan mengejar ketakwaan adalah memperbanyak amal ibadah dan amal saleh. Lantas bagaimana korelasi antara amal saleh dengan cinta dan keberkahan? Jadi, ketika seseorang beriman dan beramal saleh, Allah akan mendatangkan rasa cinta sebagaimana firman Allah dan hadis Rasulullah berikut ini.

“Sungguh, orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, kelak (Allah) Yang Maha Pengasih akan menanamkan rasa kasih sayang (dalam hati mereka).” (Q.S. Maryam: 96)

“Apabila Allah mencintai seorang hamba maka Dia akan memanggil Jibril, ‘Sesungguhnya Allah mencintai fulan maka cintailah ia.’ Lalu Jibril mencintainya lalu Jibril berseru di kalangan penduduk langit, ‘Sesungguhnya Allah mencintai fulan maka cintailah ia.’ Penduduk langit pun mencintainya lalu diletakkan penerimaan untuknya di bumi.” (HR. Al-Bukhari no. 6040 dan Muslim no. 2637)

Rasa cinta atau rasa kasih sayang itu ditafsirkan sebagai berikut:

“Dia menjadikan untuk mereka rasa cinta di hati orang-orang mukmin.” (Zâdul Masîr fî Ilmit Tafsîr (III/148) oleh al-Hafizh Ibnul Jauzi)

“Rasa cinta di kalangan manusia di dunia.” (Tafsîr Ibnu Katsîr V/269)

Keimanan dan amal saleh seseorang akan menjadikannya disukai dan diridai Allah. Makin kuat imannya, makin besar pula cinta Allah kepadanya. Ketika Allah sudah mencintainya, Allah menyuruh Jibril agar mencintainya dan menyuruhnya mengumumkan itu kepada penduduk langit. Kemudian penduduk langit mencintainya, diikuti dengan penduduk bumi turut mencintainya pula.

Amal ibadah dan amal saleh mencerminkan manifestasi hubungan vertikal dengan Allah dan hubungan sosial dengan sesama makhluk Allah. Ketika dua dimensi ini dilakukan seutuhnya dalam kehidupan, seseorang tidak hanya menuai kebaikan di dunia, tetapi juga kebaikan di akhirat. Allah akan menumpahkan keberkahan untuknya dari langit dan bumi sehingga insyaallah kebaikan yang banyak akan tercurah baginya secara abadi.