Sunday, May 15, 2022

Kesetaraan dalam Secangkir Kopi

Sudah lama aku terusik pada kenyataan seringnya para pelayan restoran atau kafe salah menempatkan gelas teh dan cangkir kopi di hadapan aku dan suamiku. Suamiku penggemar teh; aku penyuka kopi. Mereka–para pelayan itu–hampir selalu meletakkan cangkir kopi di hadapan suamiku dan gelas teh di hadapanku. Aku jadi berpikir: apakah secangkir kopi mengandung bias gender?

Secara umum konstruksi sosial memang cenderung menampilkan kopi sebagai minuman macho. Namun, lama-kelamaan hal itu runtuh seiring perkembangan zaman dan gaya hidup yang menyertainya. Saat ini kopi lazim dikonsumsi oleh berbagai kalangan, tak peduli apa pun gendernya. Bahkan orang yang bukan penikmat kopi sejati pun kini dapat menikmati setitik sensasi kopi karena secara kreatif, kopi telah dibuat dalam berbagai varian yang lebih ringan kadar kafeinnya.

Bicara soal kopi dan kesetaraan, pada zaman kolonial silam, kopi memang menjadi komoditas yang hanya bisa dinikmati oleh kaum elite. Masyarakat yang menanam dan memetiknya justru tidak dapat menikmatinya karena kelas sosial yang termarginalkan. Namun, kini kopi dapat dinikmati oleh semua kalangan dalam berbagai situasi dan keadaan seperti kata Paox Iben Mudaffar, “Di hadapan kopi, kita semua sama.”

Aku jadi teringat lawatanku ke Belitung beberapa tahun yang lalu. Saat itu aku menyesap kopi Manggar sambil mendengarkan pemandu wisata berkisah. Manggar adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Belitung Timur yang dijuluki dengan kota seribu warung kopi. Di tempat itu warung kopi bertebaran bak cendawan di musim hujan. Sejak dulu masyarakat Belitung memang gemar minum kopi. Bagi mereka, kopi adalah social drink dan kegiatan ngopi merupakan ajang berinteraksi secara sosial sambil membicarakan apa saja, jauh sebelum coffee shop modern mulai merebak di kota-kota besar.

Kopi Manggar dan kue talam yang kunikmati saat itu

Aku rasa bukan hanya di Manggar hal seperti itu jamak terjadi. Saat ini kopi menjadi minuman paling egaliter di muka bumi. Semua orang menikmatinya, mulai dari pekerja rendahan hingga pimpinan perusahaan dan artis terkenal. Yah, meskipun sebenarnya kopi juga punya kelas-kelas berdasarkan kualitasnya–yang tentu berpengaruh terhadap harga–kita tak bisa menafikan kenyataan bahwa kopi adalah minuman yang sangat populer dinikmati dalam suasana kekeluargaan dan persahabatan lewat aktivitas ngopi bareng.

Semangat kesetaraan yang diusung oleh kopi ternyata tidak hanya sebatas pada kalangan yang mengonsumsinya. Di balik industri kopi yang mendunia, ada semangat kesetaraan gender dalam pengolahan dan pembuatannya. Sebut saja City Girl Coffee Co. yang didirikan oleh Alyza Bohbot di Amerika Serikat. City Girl Coffee Co. hanya melibatkan perempuan dalam seluruh pengelolaan kopinya. Di ranah lokal, ada Intan Westlake yang mendirikan Java Mountain Cafe dengan misi untuk mengangkat petani kopi perempuan. Pembangunan kesetaraan gender melalui pemberdayaan perempuan secara ekonomi juga dilakukan oleh Kelompok Wanita Tani (KWT) Mekar Arum di Sumedang yang mewadahi anggota perempuan yang bergerak di bidang pertanian dan pengolahan kopi.

Salah satu contoh lain yang erat kaitannya dengan kopi dan kesetaraan yang membuat hatiku hangat adalah semangat yang dibawa oleh Putri Santoso ketika ia mendirikan Kopi Tuli. Ia adalah seorang penyandang disabilitas sejak usia balita yang kerap mengalami diskriminasi ketika mencari pekerjaan. Bersama dua temannya yang juga sama-sama penyandang disabilitas, ia mendirikan Kopi Tuli dengan prinsip bahwa setiap kaum disabilitas harus memiliki kesetaraan kesempatan dalam memperoleh pekerjaan. Kini warung kopi yang semua pekerjanya memiliki keterbatasan pendengaran itu telah memiliki beberapa cabang di Depok dan Jakarta.

Kembali ke pertanyaanku di awal tulisan ini: apakah secangkir kopi mengandung bias gender? Hmm, aku rasa para pelayan yang salah menempatkan cangkir kopi itu harus membaca tulisanku ini, hahaha.


Friday, May 06, 2022

Makanan Khas Kota Solo

Mudik lebaran adalah momen yang tepat untuk menuntaskan rindu terhadap berbagai kuliner khas kota kelahiran. Bagiku–yang lahir dan besar di Solo tetapi sudah dua puluh dua tahun merantau semenjak kuliah–makanan khas yang membuat kangen adalah nasi liwet, lenjongan, dan cabuk rambak. Tiga menu itu wajib dibeli saat aku mudik, bahkan untuk yang disebut terakhir itu aku hampir tiap hari membelinya, hahaha.

Makanan favorit dari kota kelahiran mungkin rasanya biasa saja bagi orang lain, tetapi sejatinya yang membuat makanan-makanan itu istimewa adalah kenangannya. Mereka sarat akan kenangan masa kecil, seperti aktivitas jajan selepas sekolah, atau simply karena yang membuatkan atau membelikannya dulu adalah orang-orang tersayang–yang bisa jadi kini telah tiada. Jadi seperti apa makanan khas Solo yang menjadi favoritku itu? Yuk kita simak.

Nasi Liwet

Penjual nasi liwet langganan. Musim lebaran begini antrinya sampai satu jam.

Nasi liwet Solo berbeda dengan nasi liwet khas Sunda, juga berbeda dengan nasi uduk–meskipun sama-sama gurih karena diolah dengan santan. Rasa gurih nasinya terasa lebih ringan dibanding nasi liwet dari daerah lain sehingga kelezatan aneka lauknya terasa lebih nge-blend. Jika nasi uduk bisa digabungkan dengan lauk kering atau tidak berkuah, nasi liwet Solo biasa disantap dengan campuran sayur labu siam, sambal goreng, opor ayam, telur pindang, dan areh santan. Areh santan inilah yang menjadi kekhasan nasi liwet Solo. Areh adalah kuah santan pekat yang dimasak lebih lama hingga mengeluarkan minyak dari santannya. Hal inilah yang menyebabkan areh lebih gurih dari sekadar santan biasa.

Ada pula lauk tambahan yang biasa ditawarkan, misalnya sayap ayam, kepala ayam, atau uritan. Uritan adalah bakal telur ayam atau telur muda yang belum berkembang di dalam perut ayam, biasa disajikan satu paket dengan usus ayam. Aku pribadi tidak terlalu suka makan uritan karena kadar kolesterolnya tinggi, hehehe. Beberapa pelengkap lain yang biasa disantap dengan nasi liwet adalah tahu, tempe, aneka satai (satai usus, satai telur puyuh, satai ati ampela, dll.), serta kerupuk.

Lenjongan

Lenjongan (gambar diambil dari sini)

Lenjongan adalah sebutan dari satu set camilan manis yang terdiri atas gendar, klepon, sawut, jongkong, gatot, getuk, tiwul, cenil, ketan hitam, ketan putih, dan gerontol. Isinya sebagian besar terbuat dari singkong, jagung, ketan, dan aneka jenis tepung sehingga mengenyangkan. Topping-nya yang berupa parutan kelapa memberikan cita rasa gurih. Meskipun demikian, manis menjadi rasa dominan lenjongan karena parutan kelapa seringkali ditaburi dengan gula pasir atau dituangi juruh (gula merah cair).

Lenjongan menjadi favorit karena menyatukan berbagai jenis rasa kudapan tradisional dalam satu wadah. Teksturnya pun beraneka ragam: ada yang lunak seperti ketan dan getuk, ada yang kenyal seperti klepon dan cenil, ada juga yang seret seperti tiwul yang biasa digunakan sebagai pengganti nasi. Lenjongan dihidangkan dengan sebuah pincuk yang terbuat dari daun pisang. Seporsi lenjongan dijual seharga Rp5.000,00 hingga Rp6.000,00.

Lenjongan tercatat sebagai Warisan Budaya Tak Benda oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia pada tahun 2020. Jajanan ini telah ada sejak zaman penjajahan Belanda dan tak pernah lekang oleh waktu hingga kini. Buatku pribadi, lenjongan menyimpan banyak memori masa kecil sebagai camilan yang kerap dibeli ketika menemani ibu atau nenekku berbelanja di pasar.

Cabuk Rambak

Penjual cabuk rambak langganan yang saus wijennya paling pas di lidah.

Selain lenjongan, jajanan khas Solo yang menjadi kesukaanku adalah cabuk rambak. Makanan ini dulu dijajakan berkeliling oleh penjualnya—biasanya ibu-ibu berjarik—dengan menggendong bakul. Meskipun sudah mulai langka, makanan ini masih bisa ditemukan di pasar dan pusat jajanan tradisional. Cabuk rambak dibuat dari irisan ketupat yang kemudian disiram dengan saus yang terbuat dari wijen dan kelapa sangrai. Pelengkapnya adalah kerupuk gendar yang biasa disebut karak. Harga satu porsi cabuk rambak bervariasi antara Rp5.000,00 hingga Rp7.500,00.

Cabuk rambak yang murah meriah ini dulu menjadi jajanan kesukaanku semasa sekolah. Dengan uang saku yang pas-pasan, membeli cabuk rambak adalah salah satu trik supaya tetap kenyang hingga waktu pulang sekolah tiba. Meskipun sering diejek sebagai makanan rakyat jelata karena miskin gizi, cabuk rambak selalu menjadi makanan incaran yang wajib dibeli kala aku mudik ke Solo.


Tulisan ini diikutsertakan dalam Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan Mei yang bertema "Makanan Khas Kota Mamah".

Sunday, April 24, 2022

Bulan Mudik Nasional

Gambar diambil dari sini

Tahun ini adalah pertama kalinya–semenjak pandemi–pemerintah melonggarkan mobilitas masyarakat saat lebaran. Bahkan cuti bersama Idulfitri yang selama dua tahun sebelumnya dihapuskan, tahun ini dipasang berderet-deret hingga empat hari. Angka kasus Covid-19 kini memang sudah melandai, maka tak heran jika penurunan PPKM ditetapkan dan pelonggaran terlihat di mana-mana.

Bagi banyak orang yang selama dua tahun merasa terkekang karena “dilarang” mudik, bulan ini adalah kesempatan besar untuk menuntaskan keinginan pulang kampung dan berlebaran bersama kerabat di kampung halaman. Entah sejak kapan budaya mudik saat lebaran mendarah daging bagi masyarakat Indonesia. Apa pun dilakukan demi bisa mudik, baik dari segi kemampuan fisik maupun kemampuan finansial. Masih teringat jelas dulu sebelum semua hal serba online, orang-orang rela mengantri berjam-jam demi selembar tiket untuk pulang kampung.

Untuk aku pribadi, sebenarnya lebaran pertama saat pandemi–di mana banyak orang merasa resah karena tidak bisa mudik–adalah lebaran paling menenangkan bagiku. Aku tak perlu repot menempuh perjalanan mudik, tak perlu ribet mengatur jadwal silaturahmi, dan tak perlu merasa kelelahan dengan segala mobilitas ke sana kemari. Bagaikan blessing in disguise, aku bisa fokus beribadah pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadan.

Namun, segala hal selalu ada plus minusnya. Di balik ketenangan yang kurasakan, sanak saudara di kampung halaman merasa rindu dengan kami yang selama ini merantau. Mereka menitipkan harap supaya tahun ini kami bisa pulang dan merayakan Idulfitri bersama. Lebaran memang menjadi momen yang ditunggu untuk melepas kangen dan menyambung silaturahim dengan keluarga besar. Tampaknya tahun ini aku harus legowo untuk kembali mengalami keriuhan Idulfitri.

“Barangsiapa yang ingin dipanjangkan usianya dan dibanyakkan rezekinya, hendaklah ia menyambungkan tali persaudaraan.” (H.R. Bukhari-Muslim)

“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah menyambung keluarga (silaturahmi).” (H.R. Bukhari)

Rasulullah shallallahu alaihi wassalam pernah ditanya oleh seorang sahabat, “Wahai Rasulullah, kabarkanlah kepadaku amal yang dapat memasukkan aku ke surga”. Rasulullah menjawab, “Engkau menyembah Allah, jangan menyekutukan-Nya dengan segala sesuatu, engkau dirikan shalat, tunaikan zakat dan engkau menyambung silaturahmi”. (H.R. Bukhari)

Membaca hadis-hadis tentang keutamaan menyambung silaturahim, mungkin aku memang harus melepaskan keegoisan dan mengubah mindset bahwa mudik ini tak hanya menjadi sebuah momen pribadi, tetapi juga menjadi sarana untuk menggembirakan orang tua dan menjaga tali kerabat. Mumpung semuanya masih sehat, mumpung selagi sempat. Ibadah bulan Ramadan yang sedikit banyak jadi terganggu, semoga diganti-Nya dengan pahala menyambung tali silaturahmi. Seperti yang dikatakan oleh @abun_nada, “Siapa yang mempermudah kaum muslimin untuk menyambung tali silaturahmi, semoga Allah limpahi kemudahan baginya dan keluarganya.” 

Wednesday, April 20, 2022

Kebermanfaatan Hobi

Bicara soal hobi, sejak dulu kegemaranku tidak jauh-jauh dari aktivitas olahraga, mulai dari senam aerobik, yoga, hingga lari. Berawal dari coba-coba, kemudian aku merasakan manfaatnya. Kini bahkan olahraga menjadi kebutuhan.

Senam Aerobik

Mengajar senam aerobik di kantor

Senam aerobik adalah kecintaan pertamaku pada olahraga. Semua bermula ketika pada 2005, aku dirawat inap karena DBD. Sepulang dari rumah sakit, nafsu makanku meningkat pesat sehingga badanku menggendut. Seorang teman mengajakku menjajal senam aerobik untuk meredakan kegundahanku. Sejak itulah aku rutin senam aerobik.

April 2007 ketika aku menikah, beratku sudah turun empat belas kilogram sejak aku ikut senam pertama kali. Memang terlihat lama karena cara ini sangat alami. Aku hampir tak mengubah pola makan sama sekali, tetap ngemil seperti biasa, jadi penurunan berat badan ini murni karena senam. Saat itu aku masih senam dua kali seminggu.

Setelah melahirkan, aku mulai senam tiga kali seminggu. Memang tak bisa menurunkan berat badan secara drastis seperti sebelumnya, tapi paling tidak bisa mempertahankan berat badan supaya tidak terlalu melar dan tetap menjaga kebugaran tubuh. Bagiku senam sudah menjadi jauh lebih besar nilainya dari sekedar usaha untuk menurunkan berat badan. Senam sudah menjadi candu.

Dulu sekali, ketika awal aku senam, aku sedang dalam masa menulis skripsi dan hal itu cukup membuat stres. Ternyata kudapati kalau setelah senam, perasaan stres berkurang. Dengan senam, aku bisa bergerak bebas dan beban serasa menguar seiring berdentamnya irama. Pikiran menjadi lebih jernih seiring menetesnya peluh dan keluarnya endorfin. Demikian pula ketika aku sudah mulai bekerja. Beban pikiran sepulang kerja, larut dalam keriangan gerakan senam.

Itulah sebabnya aku selalu konsisten dan disiplin melakukan senam. Karena senam aku merasa lebih berenergi, lebih bahagia, lebih bugar, dan lebih sehat. Siapa sangka yang niat awalnya demi menurunkan berat badan, akhirnya malah menjadi hobi yang membuat ketagihan.

Yoga

Aku pertama kali berkenalan dengan yoga pada 2013. Awalnya sebagai treatment untuk mengatasi keluhan karena skoliosis. Yoga membantuku mengurangi pegal dan backpain, mengoreksi postur, menguatkan otot dan tulang punggung, menstabilkan panggulku yang tinggi sebelah, dan menguatkan sisi tubuh yang tidak balance akibat skoliosis.

Dari situ aku malah jadi jatuh cinta pada yoga karena ternyata lebih dari sekedar treatment skoliosis yang aku dapatkan. Yoga membantuku menyeimbangkan mind, body, and soul. Dalam beberapa hal yoga membuatku tetap waras karena dari situ aku juga belajar untuk terkoneksi dengan diri, mencintai diri, dan menerima diri apa adanya.

Ketika aku hamil anak keempat pada 2015, aku mulai melirik kelas prenatal yoga. Banyak keluhan fisik saat itu (mungkin karena faktor U juga sih, alias uzur, hahaha) dan secara mental kondisi juga babak belur setelah kehilangan bayi pada kehamilan sebelumnya. Jadi kurasa saat itu aku butuh semacam breakthrough, sekaligus karena tak mau kehilangan kesempatan untuk tetap bugar meskipun sedang hamil.

Mengajar prenatal yoga bersama komunitas Ngayoga Bandung

Pada 2018 dan 2019 aku mengikuti Teacher Training Course untuk menjadi instruktur prenatal yoga. Makin dalam visi dan misi untuk membahagiakan para ibu hamil, membantu mereka melalui kehamilan dan persalinan dengan lembut, nyaman, aman, sehat, dan bugar. Aku percaya bahwa ibu yang bahagia akan melahirkan dan membesarkan generasi yang bahagia. Setelah mendapatkan banyak hal positif dari yoga—baik general maupun prenatal, aku juga ingin menularkan semangat dan berbagi manfaat dengan perempuan-perempuan hebat lainnya. Aku pun makin mantap mengajar karena sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesama.

Lari

Perjalananku menyukai olahraga lari dimulai pada 2015. Awalnya hanya untuk menantang diri sendiri. Bertahun-tahun aku memang tidak pernah menyukai lari. Sejak masa sekolah dulu, tiap kali guru olahraga menyuruh berlari maka aku akan berkeluh kesah panjang pendek.

Pada 2015 itu aku bertanya tentang kiat bagaimana mulai berlari pada beberapa teman yang kulihat sudah biasa berlari. Pada awalnya aku cukup skeptis karena selama ini aku selalu megap-megap tiap berlari. Dari yang awalnya cuma kuat 2K, lama kelamaan meningkat menjadi 3K, lalu 5K. Kemudian aku hamil anak ke-4 dan berhentilah semua aktivitas lari.

Beberapa waktu pascapersalinan aku kembali mulai berlari. Kukira aku akan mulai dari nol, tetapi level kebugaranku ternyata tidak terlalu menurun—karena sudah rutin melakukan senam aerobik dan yoga—jadi aku tinggal “memanaskan mesin” sedikit hingga akhirnya aku biasa menempuh 5K setiap kali berlari. Tiga tahun setelah itu aku kembali hamil anak ke-5 dan aktivitas lari kembali berhenti.

Pascapersalinan I came back stronger. Jarak mulai bisa diperjauh menjadi 7K. Kemudian ketika aku sedang bersiap meningkatkan jarak menjadi 10K, pandemic hit the world. Latihan lari yang tadinya biasa kulakukan di trek lari akhirnya kualihkan ke jalanan kompleks. Hikmah pandemi yang mengharuskanku WFH memungkinkan aku mengatur waktu dengan fleksibel dan aku malah jadi semakin sering berlari.

Tahun 2020 aku berhasil menempuh 10K pertamaku, kemudian ikut serta dalam kemeriahan ITB Ultra Marathon sebagai race pertama untuk jarak 10K. Tepat sebelum Ramadhan 2021, aku berhasil menyelesaikan Half Marathon mandiri sejauh 21,1K mengelilingi Kota Bandung. Half Marathon yang kedua kujalani saat pergelaran Pocari Sweat Run Indonesia pada bulan Oktober 2021 dengan perolehan waktu yang jauh lebih baik dibanding yang pertama.

Capaian podium pada IAE Virtual Runcovery, November-Desember 2021

Pencapaian berikutnya adalah keberhasilan menggapai podium. Sungguh, selama enam tahun berlari, baru kali ini aku mendapatkan podium, hahaha. Podium pertama kudapatkan saat pergelaran IAE Virtual Runcovery November-Desember 2021 untuk kategori berikut ini:

  • Juara kedua kategori top days accumulative (tim kedua tercepat yang menyelesaikan 42,2 km per orang).
  • Juara pertama kategori ultimate furthest team run (jarak 527 km selama sebulan).
  • Juara kedua kategori furthest individual run (jarak 155 km selama sebulan).

Leaderboard ITB Ultra Marathon 18-19 Desember 2021

Podium berikutnya kudapatkan saat ITB Ultra Marathon bulan Desember 2021. Dalam event ini aku tergabung di dalam dua tim yang sama-sama berlaga pada kategori T10 female (jarak 100 km dilarikan oleh 10 pelari dengan jarak tempuh masing-masing 10 km). Tim pertama adalah IAEsthetic Runner dari jurusan Teknik Elektro, tim kedua adalah Hyped Team dari MamahGajahBerlari. Setelah berlatih berminggu-minggu, selama dua hari berturut-turut aku berhasil menorehkan Personel Best melampaui catatan waktu lari sebelumnya. Alhasil dalam leaderboard, IAEsthetic Runner menduduki posisi kedua dan Hyped Team menduduki posisi ketiga.

Hikmah yang kudapat dari menekuni hobi berlari adalah pembuktian bahwa aku bisa mengalahkan diri sendiri. Pada akhirnya, ketika memandangi medali-medali yang didapat, ada rasa haru, bahagia, dan bangga menyeruak. Hobi yang membawa prestasi ini adalah buah dari latihan, komitmen, dan disiplin selama berbulan-bulan. I can't be more proud. Alhamdulillah.


Tulisan ini diikutsertakan dalam Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan April yang bertema "hobby atau aktivitas favorit".

Sunday, April 10, 2022

Menguasai Pilihan

Gambar diambil dari sini

Writing is about making choices.”

Aku mendengar kalimat itu terucap dalam salah satu dialog di film Dawson's Creek belasan tahun silam. Dialog itu terjadi antara seorang dosen dengan mahasiswinya. Sang dosen berusaha menyemangati si mahasiswi agar tidak menyerah dalam melanjutkan tulisan yang telah dibuatnya karena tanpa ia sadari, sebenarnya ia seorang penulis yang–kata sang dosen–bagus. Paling tidak, ia berhasil memukau sang dosen lewat tulisan yang dibuatnya.

Padahal, si mahasiswi tidak suka kenyataan itu. Tulisan itu dibuatnya berdasarkan kisah nyata. Ia tidak suka melanjutkannya karena ia tidak suka pada kenyataan yang terjadi pada dirinya: ditinggalkan oleh cowok yang disukainya.

Sang dosen berkata, “Menulis itu seperti melanjutkan hidupmu.”

Melanjutkan tulisan itu seperti melanjutkan kisah cintanya yang menggantung. Ia pikir kisah cintanya sudah selesai, tetapi sang dosen malah berkata, “Cerita (tulisan) ini berakhir tepat di saat seharusnya ia dimulai.”

Bagi si mahasiswi, melanjutkan tulisan tersebut adalah hal yang sulit karena ia merasa tidak punya kuasa atas hidupnya. Melanjutkan tulisan itu akan berimbas pada kenyataan bahwa ia juga harus menata hatinya dan merumuskan seperti apa ending kisah cintanya. Ia harus mulai membuat pilihan-pilihan. Tidak hanya pilihan-pilihan penokohan, alur, dan ending tulisannya, tetapi juga pilihan-pilihan nyata dalam kisah cintanya.

Menulis memang seperti itu: membuat pilihan-pilihan. Pun buatku, menulis merupakan proses kreatif tersendiri yang melibatkan banyak pilihan. Lalu mengapa sampai saat ini aku memilih untuk senantiasa mengakrabi tulisan? Satu hal yang terpikir adalah kenyataan bahwa lewat tulisan, aku benar-benar menemukan siapa aku sebenarnya. Ini memerlukan penggalian yang cukup dalam terhadap masa laluku, kepribadian dasarku, keinginan-keinginanku, caraku berekspresi, bahkan terhadap caraku bergaul.

Cukup kompleks? Memang. Karena buatku, menulis adalah suatu aktivitas yang lebih dari sekedar merangkai huruf demi huruf menjadi seuntai tulisan bermakna. Buatku menulis memiliki arti lebih dari itu. Aku orang yang cukup pendiam, datar, cenderung menutup diri, dan tidak pernah bersikap vokal, apalagi frontal. Sejak kecil aku mengakrabi tulisan karena lewat tulisan, aku bisa mengekspresikan segala hal yang aku mau tanpa batasan-batasan rasa malu, rendah diri, atau putus asa. Dengan menulis, aku bisa mengemukakan gagasan atau pikiran menurut cara yang aku mau.

Saat remaja, aku menemukan kenyataan menarik bahwa menulis fiksi ternyata juga menyenangkan. Sudah lama aku merasa tidak puas dengan hal-hal yang terjadi di sekitarku, bahkan seringkali aku tidak punya kuasa untuk mengubahnya. Nah, lewat tulisan fiksi, aku bisa menciptakan sebuah kondisi yang aku kehendaki, lengkap dengan penokohan, alur, dan ending-nya. Sedikit demi sedikit, aku mulai mengakui keberadaanku. Ternyata aku juga bisa menguasai dan mengendalikan sesuatu.

Berbicara tentang menulis berarti juga berbicara tentang membuat pilihan-pilihan. Maka ketika aku bebas membuat pilihan kepuasan dan aktualisasi diri, saat itulah aku merdeka.