Sunday, June 12, 2022

Hidup yang Berkah

Kebahagiaan itu erat kaitannya dengan keberkahan. Namun, pernahkah kita bertanya, apakah sebenarnya yang dimaksud dengan keberkahan itu? Bagaimana cara memperolehnya?

Menurut KBBI, berkah adalah karunia Tuhan yang mendatangkan kebaikan bagi kehidupan manusia. Secara bahasa, al-barakah berarti berkembang, bertambah, atau kebahagiaan. Imam An-Nawawi rahimahullah berkata, “Asal makna keberkahan ialah kebaikan yang banyak dan abadi”.

“Andaikata penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka keberkahan dari langit dan bumi. Tetapi, mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (Q.S. Al-A’raf: 96)

Beriman dan bertakwa adalah rumus hidup bahagia dan berkah. Salah satu cara untuk memperkuat keimanan dan mengejar ketakwaan adalah memperbanyak amal ibadah dan amal saleh. Lantas bagaimana korelasi antara amal saleh dengan cinta dan keberkahan? Jadi, ketika seseorang beriman dan beramal saleh, Allah akan mendatangkan rasa cinta sebagaimana firman Allah dan hadis Rasulullah berikut ini.

“Sungguh, orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, kelak (Allah) Yang Maha Pengasih akan menanamkan rasa kasih sayang (dalam hati mereka).” (Q.S. Maryam: 96)

“Apabila Allah mencintai seorang hamba maka Dia akan memanggil Jibril, ‘Sesungguhnya Allah mencintai fulan maka cintailah ia.’ Lalu Jibril mencintainya lalu Jibril berseru di kalangan penduduk langit, ‘Sesungguhnya Allah mencintai fulan maka cintailah ia.’ Penduduk langit pun mencintainya lalu diletakkan penerimaan untuknya di bumi.” (HR. Al-Bukhari no. 6040 dan Muslim no. 2637)

Rasa cinta atau rasa kasih sayang itu ditafsirkan sebagai berikut:

“Dia menjadikan untuk mereka rasa cinta di hati orang-orang mukmin.” (Zâdul Masîr fî Ilmit Tafsîr (III/148) oleh al-Hafizh Ibnul Jauzi)

“Rasa cinta di kalangan manusia di dunia.” (Tafsîr Ibnu Katsîr V/269)

Keimanan dan amal saleh seseorang akan menjadikannya disukai dan diridai Allah. Makin kuat imannya, makin besar pula cinta Allah kepadanya. Ketika Allah sudah mencintainya, Allah menyuruh Jibril agar mencintainya dan menyuruhnya mengumumkan itu kepada penduduk langit. Kemudian penduduk langit mencintainya, diikuti dengan penduduk bumi turut mencintainya pula.

Amal ibadah dan amal saleh mencerminkan manifestasi hubungan vertikal dengan Allah dan hubungan sosial dengan sesama makhluk Allah. Ketika dua dimensi ini dilakukan seutuhnya dalam kehidupan, seseorang tidak hanya menuai kebaikan di dunia, tetapi juga kebaikan di akhirat. Allah akan menumpahkan keberkahan untuknya dari langit dan bumi sehingga insyaallah kebaikan yang banyak akan tercurah baginya secara abadi.

Sunday, June 05, 2022

Kecintaan pada Allah dan Kecintaan pada Buku

Kalau bicara soal parenting, sebenarnya aku malu dan merasa tidak pantas karena aku merasa belum jadi orang tua yang baik untuk anak-anakku. Aku masih sering marah-marah, membentak, atau kurang sabar menghadapi mereka. I’m not a good parent actually, hiks.

Meskipun demikian, aku selalu berusaha melakukan yang terbaik dan selalu berusaha membekali mereka dengan ilmu dan kapasitas semampu yang aku bisa. Ada dua hal yang selalu ingin aku tanamkan pada mereka: kecintaan pada Allah dan kecintaan pada buku.

Kecintaan pada Allah

Kecintaan pada Allah adalah dasar bagi keimanan. Keimanan itu seperti benih yang tertanam menjadi tumbuhan, akarnya kuat tertanam, batangnya menjulang tinggi. Ia bukan hasil penanaman doktrin, melainkan terhunjam dalam hati karena memiliki keyakinan akan bukti yang susah terganti.

“Tidakkah kamu memperhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya kuat dan cabangnya (menjulang) ke langit, (pohon) itu menghasilkan buahnya pada setiap waktu dengan seizin Tuhannya. Dan Allah membuat perumpamaan itu untuk manusia agar mereka selalu ingat.” (Q.S. Ibrahim: 24-25)

Salah satu ciri dari keimanan yang mengakar: keimanan itu memunculkan manfaat yang tersebar ke sekelilingnya. Jika seseorang memiliki keimanan yang berasal dari cinta pada Allah, akan mudah baginya untuk mencintai agama-Nya, Rasulullah, Al-Qur’an, dan segenap hal-hal yang terkait dengan itu.

Nah, masalahnya … konsep ketuhanan ini merupakan persoalan yang abstrak untuk dipahami anak-anak, maka cara menanamkan kecintaan pada Allah kami kemas dengan bahasa anak melalui pendekatan sehari-hari. Misalnya, ketika melihat hujan turun, kami ajak anak-anak untuk memanjatkan doa turun hujan, lalu mengajak mereka berdiskusi tentang manfaat hujan dan betapa sayangnya Allah karena telah menurunkan rezeki hujan untuk makhluk-Nya.

Untuk memahamkan mereka akan konsep Allah sebagai Tuhan, kami ajak mereka untuk mengamati hasil ciptaan-Nya. Misalnya, untuk anakku yang kini sudah kelas 4 SD dan sudah mulai belajar tentang tata surya, pemahaman bahwa alam semesta ini begitu dahsyat kami gunakan sebagai kesempatan berdiskusi tentang pencipta alam semesta. Melihat alam yang luar biasa seperti itu dapat memberikan “data” bahwa Allah itu seperti apa, lalu Dia juga memiliki karakteristik yang seperti apa. Dengan memahami bahwa ciptaan Allah itu ternyata memiliki keterbatasan, anak jadi paham bahwa ciptaan itu bergantung pada Dzat yang bisa mengurus mekanismenya sedemikian rupa tanpa Dia sendiri bergantung pada sesuatu.

Tiga kaidah berpikir logis:

  • Adanya sesuatu menunjukkan adanya pembuat sesuatu.
  • Apa yang dibuat mencirikan siapa pembuatnya.
  • Tidak ada sesuatu yang sama dengan pembuatnya.

Sebagai orang-orang yang dibesarkan dengan sistem pendidikan sekolah negeri mulai dari TK hingga perguruan tinggi, aku dan suamiku merasa ada yang kurang dalam hal pendidikan agama. Bukan berarti sekolah negeri tidak baik, hanya saja kurang pas dalam memenuhi visi dan misi keluarga kami. Oleh karena itu, sejak anak-anak PG hingga SMP, mereka kami sekolahkan di institusi pendidikan yang memiliki titik tekan pada islamic character building dan leadership sebagai salah satu tujuan pembelajaran. Aspek kognitif bisa dikejar karena alhamdulillah kemampuan akademik mereka bisa dibilang bagus, tetapi pembentukan karakter akan susah dikejar jika tidak ditanamkan sejak dini. Harapan kami, jika nilai-nilai sebagai seorang muslim ini tertanam sebagai pondasi yang kuat, ke depannya mereka akan lebih tangguh memegang nilai-nilai agama dalam keseharian.

Selain ikhtiar memilihkan pendidikan yang menurut kami terbaik buat mereka, tak lupa kami juga menitipkan anak-anak kepada Sang Empunya. Allah-lah sebaik-baik penjaga dan pelindung yang akan membimbing mereka untuk tetap lurus di jalan-Nya. Kami tahu sebagai orang tua kami tidak bisa mendampingi anak-anak 24/7. Oleh karena itu, jika anak-anak paham dan sadar bahwa Allah Maha Melihat, mudah-mudahan mereka tidak terombang-ambing oleh dunia dan tetap berpegang teguh pada orientasi akhirat.

Kecintaan pada Buku

Sejak aku kecil, membaca sudah menjadi duniaku. Aku tak ingat persisnya mulai usia berapa aku gemar membaca. Namun, aku ingat jelas: masa kecilku kuhabiskan dengan menekuri lembar demi lembar majalah Bobo; komik bergambar macam Nina, Tintin, Asterix, atau Steven Sterk; komik Jepang semisal Candy Candy, Pansy, Mari-chan, atau Doraemon; novel seperti Lima Sekawan, Trio Detektif, Stop, atau Malory Towers; bahkan novel detektif karya Agatha Christie.

Anak yang minat bacanya tinggi cenderung lebih gampang menerima informasi. Tentu pengetahuan mereka juga lebih banyak. Untuk menulis, mereka tidak akan menemui kesulitan yang berarti karena perbendaharaan kata sudah beragam. Bahkan aku pernah membaca—entah di mana aku lupa—anak yang suka membaca lebih pandai dan lebih kritis, terutama dalam diskusi, dibanding dengan yang tidak suka membaca.

Karena menyadari hal-hal tersebut di atas, aku bertekad ingin selalu menimbulkan minat baca pada anak. Sejak anak sulungku berusia enam bulan, kami rutin membelikan softbook, boardbook, dan buku-buku bergambar yang lebih beraneka ragam. Aku, suami, dan pengasuh sering mengadakan sesi membaca buku. Rata-rata ketika anak-anakku berusia dua tahun, mereka sudah mulai bisa memahami jalan cerita. Biasanya setelah bercerita, kami mengajukan beberapa pertanyaan untuk menguji seberapa jauh pemahaman mereka. Kadang-kadang kami menyuruh mereka bercerita dengan kalimat mereka sendiri.

Kebiasaan membaca sudah mulai menjadi kebiasaan yang tertanam pada diri anak-anak, terutama anak sulungku yang kelihatannya paling gemar membaca dibanding adik-adiknya. Sesaat sebelum naik ke tempat tidur di malam hari, mereka akan memastikan barang-barang favoritnya sudah dibawa serta, seperti mainan kesukaan dan buku pilihan untuk malam itu. Dengan gembira mereka akan membuka-buka buku lalu bercerita tentang halaman tertentu dengan antusias. Jika minta dibacakan, mereka akan duduk manis di pangkuanku setelah sebelumnya menyodorkan buku padaku. Hmm … buah dari usahaku selama ini untuk menjadikan mereka suka membaca, alhamdulillah sudah mulai terlihat sedikit demi sedikit.

A reader lives a thousand lives before he dies, said Jojen. The man who never reads lives only one.” ― George R.R. Martin, A Dance with Dragons

Penutup

Mudah-mudahan bekal dari kami yang sedikit ini dapat meringankan langkah mereka dalam menghadapi masa depan. Pada akhirnya, pendidikan anak adalah proses untuk menjadikan mereka siap menjadi pribadi yang mandiri dan tangguh saat berpisah dengan kita, baik karena mereka keluar rumah (misalnya karena menikah, kuliah, merantau) atau karena kematian kita.

"Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar." (Q.S. An-Nisa': 9)

Tulisan ini diikutsertakan dalam Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan Juni yang bertema "Mamah dan Parenting".

Tuesday, May 31, 2022

Sepatu Hemat untuk Pelari Hore

Ketika pertama kali mulai berlari pada 2015, aku sungguh tak punya ilmu apa pun soal olahraga yang satu ini. Niat untuk berlari awalnya terbersit dari self challenge untuk menaklukkan olahraga yang dulu amat kubenci. Perasaan senang melihat keriaan suami dan teman-temanku saat berlari membawaku pada keinginan untuk ikut menjajal, syukur-syukur bisa menemani suamiku berlari ketika ada race.

Saat itu aku hanya menggunakan sepatu yang ada saja, yang belakangan kutahu merupakan sepatu training belaka, hahaha. Bergabung dengan Mamah Gajah Berlari, aku mulai mendapatkan informasi mengenai pentingnya memilih sepatu lari yang tepat. Setiap sepatu itu memiliki peruntukannya masing-masing. Bahkan dalam kategori sepatu lari pun ada beraneka peruntukan. Berdasarkan tujuan pemakaian, ada sepatu lari untuk daily training, easy run, long run, speedwork (tempo run, interval run, fartlek), race, dan trail run. Berdasarkan tipe kaki, ada sepatu lari yang netral, slim, wide, atau stability shoes untuk flat feet, high arch, supination, dan pronation.

Dalam sebuah training plan yang lengkap, menu latihan seorang pelari sebaiknya mencakup berbagai jenis latihan endurance, easy run, long run, speedwork, serta strength training. Hal ini penting karena berlari tidak sekadar berlari: ada endurance yang harus dibangun dengan long run, ada kapasitas paru-paru yang harus dilatih dengan speedwork, ada otot-otot yang harus diperkuat dengan strength training. Jadi, sudah terbayang berapa jenis sepatu yang harus dimiliki oleh seorang pelari? Hahaha.

Selain itu, memiliki lebih dari satu pasang sepatu ternyata juga sangat dianjurkan. Ketika berlari, kaki kita menerima impak tekanan yang berulang-ulang. Hal ini semakin lama akan membentuk bagaimana otot di kaki bekerja menyerap tekanan. Berlari hanya dengan satu pasang sepatu lari membuat kaki hanya terbiasa pada satu kondisi tertentu. Ketika ada kondisi yang berubah–seperti kondisi jalan, pace, stride, cadence, atau bahkan berat badan–otot di kaki tidak terbiasa dengan kondisi tersebut. Hal ini dapat menimbulkan ketidakseimbangan kekuatan otot yang membuat otot tidak maksimal menyerap impak saat berlari sehingga berisiko cedera.

Tubuh manusia sebenarnya sangat pintar beradaptasi pada berbagai kondisi. Namun, ketika hanya dilatih pada satu kondisi saja, kemampuan adaptasi tersebut bisa melambat dan respon tubuh menjadi tidak maksimal ketika dihadapkan pada kondisi baru. Menurut @runtothefinish, lari dengan sepatu yang dirotasi melatih kaki untuk merespon pada kondisi yang berbeda-beda sehingga otot kaki jadi lebih siap menyerap impak tekanan saat lari.

Sebagai pelari hore yang berusaha serius berlatih, tentu aku berusaha menerapkan kaidah di atas. Namun, kapasitasku belum seserius atlet atau sekeren pelari-pelari kece sehingga aku merasa belum perlu membeli sepatu-sepatu terbaik di kelasnya. Maklum pace masih lambat banget, malu rasanya bila membeli sepatu mahal sekelas atlet-atlet marathon kenamaan. Levelnya belum sampai situ, cuy. Hahaha. Pilihanku rata-rata jatuh pada jenis-jenis sepatu overall / all rounder, yaitu sepatu yang dapat dipakai untuk semua jenis latihan, meskipun sebenarnya ia juga memiliki kekhasan peruntukan.

Nike Free RN 2017, sepatu lari pertama yang kuperoleh dari hasil berburu garage sale

Beberapa sepatu lari yang pernah aku pakai:

  • Nike Free RN 2017
  • Hoka One One Rincon
  • Nike Epict React Flyknit
  • Adidas Ultraboost 19
  • Asics GlideRide 2
  • Nike React Infinity Run Flyknit 2
  • Hoka One One Rincon 3

Dari semua sepatu di atas, tidak semuanya cocok dan nyaman kupakai. Sampai saat ini, ada dua sepatu yang jadi favorit banget karena terasa nyaman dan plek di kaki, yaitu Hoka One One Rincon dan Nike React Infinity Run Flyknit. Pada tulisan kali ini aku ingin mengulas dua jenis sepatu tersebut, barangkali bermanfaat buat pembaca yang sedang mencari sepatu lari.

Hoka One One Rincon

Yang paling juara dari Rincon adalah harga dan bobotnya. Rincon adalah sepatu keluaran Hoka One One yang paling low budget. Rincon versi pertama berbobot sangat ringan (218 gram) dan versi terbaru (versi ketiga) malah berbobot lebih ringan lagi (210 gram). Meskipun ditujukan untuk pemakaian speed training, Rincon juga cocok untuk daily run, easy run, dan long run.

Sepatu Rincon pertamaku: warna Heather Rose

Menempuh ratusan kilometer bersama Rincon Heather Rose

Bagian atasnya cukup breathable karena materialnya menggunakan mesh upper, bagian depannya cenderung wide, tipe arch support-nya untuk tipe kaki netral, lebih cocok untuk pelari yang landing-nya bertipe forefoot/midfoot strike, dan paling cocok untuk medan road running.

Satu-satunya kekurangan Rincon adalah durability. Sol kakinya cepat sekali aus meskipun pemakaiannya normal (tidak berlebihan) sehingga lifetime mileage-nya tak akan sampai 600 km seperti sepatu kebanyakan. Aku pernah terpeleset beberapa kali ketika sedang memakai Rincon karena masih juga kugunakan meskipun mileage-nya sudah 800-an km. Yah, memang masalah yang dicari-cari sendiri ini sih karena solnya sudah aus sekali, hahaha.

Hoka One One Rincon 3 warna Blue Glass, sepatu Rincon kedua yang kumiliki

Pada akhirnya aku membeli Rincon 3 sebagai ganti, dan menurutku versi terbaru ini lebih empuk dibandingkan versi pertama. Selain lebih nyaman, konon Rincon 3 juga lebih stabil dan lebih tahan lama dibandingkan seri-seri sebelumnya.

Heel to toe drop: 5 mm

Forefoot height: 24 mm

Heel height: 29 mm

Nilai keseluruhan dari Run Repeat:

  • 90 (superb) untuk Rincon
  • 88 (great) untuk Rincon 3

Nike React Infinity Run Flyknit 2

Yang paling aku sukai dari React Infinity adalah kemampuannya untuk nge-locked kaki saat dipakai. Jadi rasanya plek banget di kaki bagaikan diselimuti. Peruntukan sepatu ini adalah untuk daily running dan long run. Tidak seperti “saudaranya” Nike Vaporfly atau Alphafly yang memang ditujukan untuk speed training dan race, React Infinity memiliki spesifikasi yang pas sekali untuk daily running: cushion-nya terasa empuk dan nyaman, lebih responsif dibanding Nike Epic React (karena lebih mentul-mentul) tetapi masih stabil untuk sekadar dipakai berjalan kaki.

Nike React Infinity Run Flyknit 2 warna Black, sepatu paling favorit

Seperti yang aku kutip dari Run Repeat: “it's not going to make you run fast, but it does offer a smooth, easy, soft and cushioned ride”. That’s why cocok buat pelari hore macam aku, yang lebih butuh sepatu yang durable dan nyaman untuk pace pelan, dan lebih suka berlatih endurance daripada speed.

Sama seperti Rincon, bagian atas React Infinity ini cukup breathable karena materialnya menggunakan knit upper, bagian depannya cenderung slim (sehingga lebih baik membeli satu nomor lebih besar dibandingkan ukuran biasa), tipe arch support-nya untuk tipe kaki netral, lebih cocok untuk pelari yang landing-nya bertipe forefoot/midfoot strike dan heel strike, serta paling cocok untuk medan road running.

Half Marathon kedua bersama React Infinity kesayangan 

Meskipun beratnya 302 gram (lebih berat daripada Rincon dan Epic React yang biasa kupakai), aku hampir tidak menemukan kekurangan lain dari React Infinity ini. Berat segitu masih bearable buatku, masih jauh lebih ringan daripada sepatu-sepatu Ad*d*s. Yes I’m a satisfied customer, hahaha. Oleh karena itu, sepatu ini adalah sepatu yang paling sering kupakai. Baru tujuh bulan, mileage-nya sudah hampir 600 km … dan solnya masih baik-baik saja.

Heel to toe drop: 7 mm

Forefoot height: 24 mm

Heel height: 33 mm

Nilai keseluruhan dari Run Repeat: 86 (great)

Baiklah, sepertinya sudah cukup yaa ulasan sepatu lari favoritku. Semoga bermanfaat. Ingat: yang penting bukan hanya sepatunya, melainkan juga konsisten latihan larinya, hehehe.

*Tulisan ini dibuat dalam rangka "Nulis Kompakan Mamah Gajah Ngeblog" bulan Mei 2022 dengan tema "Review Produk"

Saturday, May 28, 2022

Perbaikan Postur Tubuh Akibat Skoliosis

Susunan ruas tulang belakang

Aku didiagnosis mengidap skoliosis pada 8 Juni 2010. Skoliosis dengan sudut Cobb 20 derajat ke kiri yang aku idap disebut skoliosis thoracolumbal karena areanya terdapat pada ruas-ruas di antara thoracic spine dan lumbar spine, mulai dari ruas T9 hingga L5. Karena sejatinya skoliosis adalah kelainan tulang belakang, ia tidak dapat disembuhkan. Yang dapat dilakukan adalah mengurangi derajat kelengkungannya–dengan atau tanpa operasi–dan menjaga supaya derajat kelengkungannya tidak bertambah.

Skoliosisku

Dokter spesialis ortopedi dan traumatologi dari Rumah Sakit Fatmawati, dr. Luthfi Gatam, Sp.OT., mengatakan bahwa penyandang skoliosis berkategori ringan pada tahap sudut 20 derajat hanya memerlukan observasi rutin. Penyandang skoliosis berkategori sedang dengan tahap sudut antara 20 sampai 40 derajat dianjurkan mengenakan brace, sedangkan penyandang skoliosis berkategori berat dengan tahap sudut lebih dari 40 derajat–sehingga memiliki kemungkinan mengganggu kinerja organ–perlu dioperasi. Karena skoliosisku masih termasuk kategori ringan, tindakan operatif tidak diperlukan. Tak lama setelah itu, aku mulai berkenalan dengan pilates dan yoga sebagai salah satu upaya untuk terapi skoliosis.

Pilates

Menurut KBBI, pilates adalah metode senam ringan untuk memperkuat otot perut, memperbaiki postur tubuh, dan meningkatkan keseimbangan. Sebelum latihan dimulai, instruktur mengobservasi hasil rontgen dan posturku lalu merancang program yang sesuai dengan tujuan latihan, yaitu meringankan skoliosis dan meredakan keluhannya.

Pilates dengan bantuan alat-alat berfungsi menyeimbangkan otot-otot, melenturkan otot yang meregang, dan membuat persendian menjadi lebih sehat. Setiap gerakan dan hitungan dalam pilates dilakukan dengan penuh konsentrasi dan terkontrol. Gerakannya harus presisi, urut, berkesinambungan, dan menggunakan napas yang benar yaitu pernapasan perut. Pernapasan perut dapat mendorong tulang belakang bersama otot-ototnya kembali berfungsi secara seimbang. Pada akhirnya, postur tubuh yang benar, pernapasan yang benar, dan otot yang elastis membuat organ tubuh termasuk tulang belakang kembali berfungsi dengan baik.

Meskipun merasakan manfaatnya, aku tidak melanjutkan latihan pilatesku setelah 16 sesi karena harga yang lumayan mahal. Selain itu, kadang aku merasa frustrasi saat menjalani kelas privat karena harus melakukan gerakan yang betul-betul presisi. Pengawasan instruktur sangat ketat sehingga gerakan yang salah sering diulang-ulang sampai benar. Pada suatu titik ketika aku tak lagi merasa enjoy, aku memutuskan berhenti dan mulai melirik yoga sebagai alternatif lain.

Yoga

Aku tidak mengikuti kelas yoga secara privat, tetapi mengikuti kelas yoga general. Sebelum mulai berlatih, aku mengomunikasikan perihal skoliosisku kepada instruktur sehingga ia pun memahami keterbatasanku. Program latihan di kelas tidak didesain secara khusus untuk pasien skoliosis, tetapi secara umum semua gerakan yoga bermanfaat untuk perbaikan postur tubuh.

Gerakan yoga berfungsi meningkatkan kelenturan dan kekuatan otot (dalam kaitannya dengan skoliosis, hal ini juga termasuk otot-otot yang menunjang tulang belakang), mengoreksi lengkungan dan rotasi tulang belakang, serta memperkuat kaki sebagai penyangga tulang belakang. Ketidakseimbangan postur yang kerap dialami oleh pasien skoliosis akibat misalignment tulang belakang juga diperbaiki oleh yoga dengan memperkuat sisi tubuh yang lemah.

Alhamdulillah, yoga sangat membantuku mengurangi pegal dan backpain, mengoreksi postur, menguatkan otot dan tulang punggung, serta menstabilkan panggulku yang tinggi sebelah. Siapa sangka dari situ aku malah jadi jatuh cinta pada yoga. Lebih dari sekadar treatment skoliosis yang aku dapatkan, yoga juga membantuku menyeimbangkan pikiran, tubuh, dan jiwa.  Dalam beberapa hal yoga membuatku tetap waras karena aku juga belajar untuk terkoneksi dengan diri, mencintai diri, dan menerima diri apa adanya.

Setelah hampir sepuluh tahun rutin beryoga, kini aku berhasil membangun kesadaran terhadap perbaikan postur. Muscle memory yang dibangun selama bertahun-tahun itu sering “mengingatkanku” bila aku melakukan gerakan yang berisiko menyebabkan ketidakseimbangan tulang belakang dan memperparah skoliosisku. Bahkan secara random aku pun menjadi gampang “gatal” untuk mengoreksi postur tubuh seseorang bila kurasa ia sedang melakukan sikap tubuh yang buruk, hahaha.

Sunday, May 15, 2022

Kesetaraan dalam Secangkir Kopi

Sudah lama aku terusik pada kenyataan seringnya para pelayan restoran atau kafe salah menempatkan gelas teh dan cangkir kopi di hadapan aku dan suamiku. Suamiku penggemar teh; aku penyuka kopi. Mereka–para pelayan itu–hampir selalu meletakkan cangkir kopi di hadapan suamiku dan gelas teh di hadapanku. Aku jadi berpikir: apakah secangkir kopi mengandung bias gender?

Secara umum konstruksi sosial memang cenderung menampilkan kopi sebagai minuman macho. Namun, lama-kelamaan hal itu runtuh seiring perkembangan zaman dan gaya hidup yang menyertainya. Saat ini kopi lazim dikonsumsi oleh berbagai kalangan, tak peduli apa pun gendernya. Bahkan orang yang bukan penikmat kopi sejati pun kini dapat menikmati setitik sensasi kopi karena secara kreatif, kopi telah dibuat dalam berbagai varian yang lebih ringan kadar kafeinnya.

Bicara soal kopi dan kesetaraan, pada zaman kolonial silam, kopi memang menjadi komoditas yang hanya bisa dinikmati oleh kaum elite. Masyarakat yang menanam dan memetiknya justru tidak dapat menikmatinya karena kelas sosial yang termarginalkan. Namun, kini kopi dapat dinikmati oleh semua kalangan dalam berbagai situasi dan keadaan seperti kata Paox Iben Mudaffar, “Di hadapan kopi, kita semua sama.”

Aku jadi teringat lawatanku ke Belitung beberapa tahun yang lalu. Saat itu aku menyesap kopi Manggar sambil mendengarkan pemandu wisata berkisah. Manggar adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Belitung Timur yang dijuluki dengan kota seribu warung kopi. Di tempat itu warung kopi bertebaran bak cendawan di musim hujan. Sejak dulu masyarakat Belitung memang gemar minum kopi. Bagi mereka, kopi adalah social drink dan kegiatan ngopi merupakan ajang berinteraksi secara sosial sambil membicarakan apa saja, jauh sebelum coffee shop modern mulai merebak di kota-kota besar.

Kopi Manggar dan kue talam yang kunikmati saat itu

Aku rasa bukan hanya di Manggar hal seperti itu jamak terjadi. Saat ini kopi menjadi minuman paling egaliter di muka bumi. Semua orang menikmatinya, mulai dari pekerja rendahan hingga pimpinan perusahaan dan artis terkenal. Yah, meskipun sebenarnya kopi juga punya kelas-kelas berdasarkan kualitasnya–yang tentu berpengaruh terhadap harga–kita tak bisa menafikan kenyataan bahwa kopi adalah minuman yang sangat populer dinikmati dalam suasana kekeluargaan dan persahabatan lewat aktivitas ngopi bareng.

Semangat kesetaraan yang diusung oleh kopi ternyata tidak hanya sebatas pada kalangan yang mengonsumsinya. Di balik industri kopi yang mendunia, ada semangat kesetaraan gender dalam pengolahan dan pembuatannya. Sebut saja City Girl Coffee Co. yang didirikan oleh Alyza Bohbot di Amerika Serikat. City Girl Coffee Co. hanya melibatkan perempuan dalam seluruh pengelolaan kopinya. Di ranah lokal, ada Intan Westlake yang mendirikan Java Mountain Cafe dengan misi untuk mengangkat petani kopi perempuan. Pembangunan kesetaraan gender melalui pemberdayaan perempuan secara ekonomi juga dilakukan oleh Kelompok Wanita Tani (KWT) Mekar Arum di Sumedang yang mewadahi anggota perempuan yang bergerak di bidang pertanian dan pengolahan kopi.

Salah satu contoh lain yang erat kaitannya dengan kopi dan kesetaraan yang membuat hatiku hangat adalah semangat yang dibawa oleh Putri Santoso ketika ia mendirikan Kopi Tuli. Ia adalah seorang penyandang disabilitas sejak usia balita yang kerap mengalami diskriminasi ketika mencari pekerjaan. Bersama dua temannya yang juga sama-sama penyandang disabilitas, ia mendirikan Kopi Tuli dengan prinsip bahwa setiap kaum disabilitas harus memiliki kesetaraan kesempatan dalam memperoleh pekerjaan. Kini warung kopi yang semua pekerjanya memiliki keterbatasan pendengaran itu telah memiliki beberapa cabang di Depok dan Jakarta.

Kembali ke pertanyaanku di awal tulisan ini: apakah secangkir kopi mengandung bias gender? Hmm, aku rasa para pelayan yang salah menempatkan cangkir kopi itu harus membaca tulisanku ini, hahaha.