Showing posts with label tantangan magata. Show all posts
Showing posts with label tantangan magata. Show all posts

Sunday, July 20, 2025

Sehari dalam Hidupku (2)

Tiga tahun lalu aku pernah menulis tentang tema ini di blog. Ternyata setelah tiga tahun berselang, ada banyak hal yang sudah berubah dalam keseharianku. Aku pindah tempat kerja sehingga hal itu cukup membuat rutinitasku berubah juga.

Pagi Penuh Ketergesaan

Hariku masih diawali dengan pagi yang rusuh. Kini aku harus bangun lebih pagi daripada dulu karena aku harus mengejar commuter line ke arah Jakarta. Saat azan subuh berkumandang, biasanya aku sudah selesai mandi. Setelah memastikan anak-anak bangun, mandi, dan sarapan, aku segera berangkat ke stasiun bersama suami. Biasanya aku memilih naik kereta pukul 06.10 supaya tidak terlalu berdesakan. Bila lewat dari itu, siap-siap saja menjadi pindang pepes di dalam gerbong.

Di dalam kereta, biasanya aku membaca zikir pagi dan suamiku mengaji. Waktu di dalam kereta yang acapkali kami lalui dengan berdiri itu sungguh sayang jika dilewatkan dengan bengong begitu saja. Jika dulu aku mencium punggung tangan suami ketika masing-masing dari kami berangkat bekerja, kini rutinitas itu kulakukan di atas commuter line ketika suamiku turun satu stasiun lebih dulu daripada aku.

Pergi Bekerja

Saat ini tempat kerjaku terletak di salah satu gedung pencakar langit di bilangan Thamrin. Setelah naik ke lantai delapan dan menaruh tas di meja kerja, biasanya aku turun lagi untuk menyempatkan jogging di seputaran Monas dua hingga tiga kali dalam seminggu. Jogging pagi selalu membuatku menguap setelah jam sepuluh pagi, tetapi aku tak punya pilihan waktu lain untuk berlari karena sore hari sudah cukup rusuh untuk mengejar kereta kembali ke arah pulang.

Trotoar seputaran Monas yang nyaman buat jogging

Setelah selesai jogging dan mandi, hal wajib yang kulakukan selanjutnya adalah menyeduh kopi di pantry. Sambil menunggu teko air mendidih, aku memandang belantara gedung pencakar langit di depan jendela kaca besar. Pikiranku pun berkelana.

Pemandangan Thamrin dari jendela sebelah pantry

Sembilan belas tahun yang lalu, ketika statusku masih fresh graduate dan tengah berjuang melamar pekerjaan ke sana kemari dengan mengikuti belasan wawancara di ibukota, aku pernah memupuk tekad untuk kelak suatu hari akan menjadi bagian dari para pekerja white collar yang necis, wangi, tampak profesional, dan sibuk berseliweran di bilangan Thamrin-Sudirman. Meskipun tahun-tahun yang berlalu telah membawaku bertualang ke dunia yang berbeda dengan berbagai macam perjalanan, ternyata sampai juga aku di tempat ini.

Saat ini aku bekerja pada suatu direktorat yang mengurusi tentang klirens etik dan perizinan riset. Klirens etik adalah suatu instrumen untuk mengukur keberterimaan secara etik suatu rangkaian proses riset. Klirens etik riset merupakan acuan bagi periset dalam menjunjung tinggi nilai integritas, kejujuran, dan keadilan dalam melakukan riset. Hal ini diperlukan agar periset tidak menemui masalah dalam menjalankan riset dan mempublikasikan hasil risetnya.

Sebagai Ketua Tim pada salah satu bidang klirens etik, tugasku sehari-hari adalah  mengoordinasikan dan memastikan layanan fasilitasi klirens etik berjalan dengan baik. Kami melayani pengajuan usulan klirens etik proposal riset yang dilakukan oleh periset Indonesia dan periset asing yang akan melakukan riset di Indonesia.

Sore dan Malam Hari

Sesampaiku di rumah, biasanya aku beristirahat sebentar sambil bercengkerama dengan anak-anak. Waktu-waktu setelah itu adalah family time. Aku mendampingi anak-anak menyantap makan malam, bermain, belajar, atau menonton televisi.

Peralatan home gym-ku

Waktu selepas petang adalah waktu olahragaku berikutnya, yaitu latihan beban. Alhamdulillah aku memiliki fasilitas home gym yang cukup lengkap untuk ukuran rumah tangga. Supaya terstruktur dan terprogram, aku mengikuti online coaching melalui Lisfit, layanan personal trainer wanita yang sangat memudahkan para perempuan yang susah keluar rumah, untuk tetap sehat dengan berolahraga dari rumah.

Setelah mengantar anak-anak pergi tidur, waktu sebelum tidur kadang kuisi untuk beres-beres, membaca novel, atau menulis. Dengan kegiatan yang melelahkan sepanjang hari, bisa dikatakan kini aku jarang sekali bergadang. Waktu tidur malam menjadi saat yang ditunggu-tunggu karena akhirnya aku bisa meluruskan punggung serta mengistirahatkan fisik dan pikiran.

Tuesday, June 04, 2024

Tips Menikmati Perjalanan

Aku termasuk orang yang jarang bepergian. Bisa dibilang aku adalah anak rumahan. Selain itu, jumlah anggota keluarga yang banyak dan anak yang masih kecil-kecil juga membuatku malas bepergian karena merasa riweuh dengan berbagai hal yang harus diurusi. Kali ini aku ingin berbagi mengenai beberapa hal yang membuatku merasa terbantu dalam menikmati perjalanan bersama keluarga.

Menciptakan Kenangan

Salah satu hal yang membekas dalam ingatanku ketika aku kecil dulu adalah betapa seringnya Bapak dan Ibu mengajak aku dan saudara-saudaraku menempuh perjalanan. Biasanya perjalanan itu mengambil waktu ketika masa liburan karena di luar itu Bapak dan Ibu bekerja. Waktu libur mereka sebagai guru dan dosen lumayan sinkron dengan waktu liburan sekolah kami.

Jika destinasinya tidak terlalu jauh—hanya seputaran Solo dan Jawa Tengah—perjalanan ditempuh dengan mobil kami, Honda Civic krem keluaran tahun 90-an. Bapak duduk di belakang kemudi, di sampingnya kakak sulungku, lalu Ibu, aku, dan adikku di barisan belakang. Dengan mobil Honda Civic kami pernah menjelajahi jalur selatan menuju Bandung ketika mengantarkan kakak sulung pergi kuliah. Mobil second-hand yang dibeli Bapak itu sempat mogok di tanjakan Nagrek, membuat kami sekeluarga harus bermalam di bengkel setempat.

Jika destinasi bepergian berada di luar provinsi, kadang kami memilih moda transportasi kereta atau pesawat—meskipun yang terakhir ini bisa dibilang jarang sekali—misalnya ketika kami jalan-jalan ke Jakarta untuk menjemput Bapak dari Kanada.

Berbagai kisah perjalanan keluarga mengiringiku tumbuh dewasa sebagai kenangan yang mengasyikkan sehingga aku akhirnya memutuskan bahwa kelak kalau aku berkeluarga, kami harus membuat pos pengeluaran untuk jalan-jalan. Meskipun ribet, aku menyadari bahwa momen perjalanan bersama keluarga ini akan menjadi kenangan yang menyenangkan bagi anak-anakku sebagaimana kenangan-kenangan indahku bersama Bapak, Ibu, dan saudara-saudaraku.

Menciptakan Momen Kesadaran

Perjalanan sering memberi kita jenak-jenak untuk perenungan, hal yang acapkali terlewat ketika kita berkejaran dengan rutinitas harian. Perjalanan juga sering memberi kita kesempatan untuk berdialog dengan diri kita sendiri, memberi kita waktu untuk mengenali diri sendiri lewat sodoran pengalaman baru di tempat asing yang belum pernah kita kunjungi. Seperti dulu waktu pertama kali bepergian dengan satu balita dan satu batita untuk menyusul suami ke Batam, dari yang awalnya ragu dan takut, menjadi tahu bahwa diri ini ternyata mampu mengatasi situasi dan kondisi.

Atau ketika pergi jauh ke Italia dengan semua anggota keluarga—termasuk infant 12 bulan yang belum pernah bepergian jauh melebihi Bandung-Solo—yang memaksaku mendobrak banyak kekhawatiran dan kenyamanan, ternyata bisa juga survive. Meskipun saat itu tentu kehadiran suami turut memberi andil. Bersamanya aku merasa mampu menaklukkan dunia karena kehadirannya sangat memberi rasa aman dan nyaman—terutama karena dia yang memegang uang, hahaha.

Dalam sebuah buku antologi fiksi bertema perjalanan, aku pernah menulis: “Traveling is not about the destination, it’s about the journey itself. Traveling is not just about finding new things, it’s also about finding your true self.” Semata-mata karena demikianlah yang aku alami: mendewasa bersama perjalanan.

Menciptakan Pembelajaran

Aku dan suami senantiasa menjadwalkan agenda jalan-jalan karena banyak pembelajaran yang dapat diberikan kepada anak-anak. Perjalanan membukakan mereka jendela dunia, memberikan mereka kemampuan untuk beradaptasi, memberi mereka kesempatan untuk mengenal hal-hal baru mulai dari makanan, bangunan, moda transportasi, hingga interaksi dengan orang.

Beberapa perjalanan liburan juga memberikan pengalaman berharga untuk anak-anak ketika mereka mencoba beberapa hal untuk pertama kalinya, seperti ketika kami naik perahu mengelilingi beberapa pulau di Lombok dan Belitung lalu menjajal snorkeling. Mereka belajar untuk mengatasi rasa takut dan belajar menguasai keterampilan baru.

Menyusun Rencana Perjalanan

Sebagai orang yang well-planned dan well-prepared, aku suka sekali menyusun rencana perjalanan dengan detail. Hal itu memberi excitement tersendiri bahkan jauh sebelum perjalanannya dimulai. Aku sangat menikmati aktivitas googling tempat-tempat yang ingin dikunjungi, membaca sejarah tentang tempat-tempat itu, lalu melihat peta dan menyusun rutenya.

Menyusun rencana perjalanan membuatku tahu harus ke mana dan melakukan apa saja ketika tiba di tempat tujuan sehingga waktu perjalanan menjadi lebih efisien dan efektif. Dengan mengetahui banyak informasi mengenai tempat tujuan, aku juga bisa bercerita banyak kepada anak-anak tentang hal-hal yang mereka lihat, misalnya informasi mengenai bangunan bersejarah atau makanan setempat.

Wednesday, April 17, 2024

Tips Hemat Untuk Pelari Rekreasi

Menurut KBBI, rekreasi mengandung arti penyegaran kembali badan dan pikiran; sesuatu yang menggembirakan hati dan menyegarkan seperti hiburan, piknik. Secara definisi, pelari rekreasi adalah pelari yang melakukan olahraga lari sebagai hobi—bukan atlet—dan mereka adalah masyarakat yang mewakili populasi umum.

Lari adalah olahraga yang paling mudah dan paling murah, katanya. Namun, ternyata setelah kita mendalami olahraga ini—meskipun hanya sebagai pelari rekreasi—kita akan lebih paham bahwa beberapa gear lari memang berharga mahal. Lantas apakah olahraga lari hanya bisa dilakukan oleh kaum berduit? Oh, tentu tidak. Ada beberapa cara yang bisa dilakukan asal kita tidak larut terbawa gaya hidup pelari kalcer.

Sepatu Lari

Aku pernah menulis tentang pemilihan sepatu bagi pelari rekreasi di sini. Sebelum beranjak lebih jauh, tidak usah khawatir dan jangan berpikir terlalu rumit tentang sepatu lari. Pengetahuan tentang sepatu lari mungkin berarti banyak jika Anda sudah mulai mengejar performa lari. Namun, jika Anda baru mulai berlari atau tidak terlalu mementingkan performa, pakai saja sepatu yang ada.

Sepatu lari memiliki beragam peruntukan. Berdasarkan tujuan pemakaian, ada sepatu lari untuk daily training, easy run, long run, speedwork (tempo run, interval run, fartlek), race, dan trail run. Berdasarkan tipe kaki, ada sepatu lari yang netral, slim, wide, atau stability shoes untuk flat feet, high arch, supination, dan pronation. Anda dapat memilih jenis-jenis sepatu overall atau all rounder, yaitu sepatu yang dapat dipakai untuk semua jenis latihan, meskipun sebenarnya ia juga memiliki kekhasan peruntukan.

Sepatu all rounder yang dipilih sebaiknya memiliki bobot yang cukup ringan agar dapat dipakai untuk latihan speed dan memiliki cushion yang cukup empuk untuk dipakai long run. Usahakan sepatu tersebut memiliki material yang breathable dan cukup durable karena akan sering dipakai untuk kegiatan lari sehari-hari. Jika faktor durability-nya buruk, sol kakinya akan cepat aus meskipun pemakaiannya normal (tidak berlebihan).

Untuk menghemat budget, Anda dapat mengikuti update terbaru mengenai diskon sepatu di situs-situs resmi atau grup-grup jastip terpercaya. Sepatu lari pertamaku aku peroleh dari hasil berburu garage sale. Harga jualnya tidak sampai separuh harga belinya, padahal baru dipakai sekali oleh pemilik lama. Kondisinya pun masih bagus sekali.

Sepatu lari pertama yang kuperoleh dari hasil berburu garage sale

Aku juga pernah membeli sepatu training dari garage sale suatu grup ibu-ibu seharga dua ratus ribu saja. Barangnya orisinal dan pemakaiannya kurang dari lima kali. Anda tidak perlu merasa gengsi membeli barang-barang bekas. Kita bisa tetap sehat dengan biaya seminimal mungkin.

Sepatu training bekas seharga dua ratus ribu

Baju dan Celana Lari

Saat ini, outfit lari di pasaran memiliki kisaran harga yang sangat beragam. Jangan terpukau pada barang-barang branded yang harganya jutaan. Kita sudah dapat berlari dengan celana atau baju training biasa. Namun, yang harus diingat: materialnya sebaiknya dry fit dan cukup breathable untuk menghindari heat stroke dan masuk angin.

Beberapa merek outfit lari terkenal bisa dibilang cukup sering menggelar diskon. Selain itu, berbelanja outfit lari pada tanggal-tanggal cantik Hari Belanja Online Nasional (harbolnas) juga bisa dilakukan untuk menghemat biaya.

Tempat Lari

Di beberapa kota besar di Indonesia, pemerintah daerah, pengelola kawasan, atau pihak swasta setempat sudah mulai peduli dengan gaya hidup sehat. Fasilitas olahraga cukup banyak dibangun dan dimanfaatkan oleh masyarakat umum.

Ketika aku masih tinggal di Bandung, aku sering berolahraga lari di Sasana Olahraga Ganesha (Saraga), fasilitas olahraga yang dimiliki Institut Teknologi Bandung. Track larinya sangat sepadan dengan harga yang ditawarkan. Saat ini harganya sudah mengalami kenaikan, tetapi masih bisa dibilang murah, terutama untuk kocek mahasiswa.

Track lari Saraga semasa aku masih tinggal di Bandung

Rinciannya:

  • parkir mobil: Rp3.000,00 per jam
  • parkir motor: Rp2.000,00 per jam
  • tiket masuk track lari: Rp4.000,00 (weekdays) atau Rp5.000,00 (weekend dan tanggal merah)
  • penitipan tas: Rp2.000,00 (opsional)

Nah, olahraga mencari keringat tidak harus mahal, kan? Kita tidak perlu membayar membership ratusan ribu di klub fitness—apalagi setelah mendaftar, kita jarang datang, hahaha—jika bisa berolahraga dengan cara murah meriah. Sebenarnya olahraga lari juga bisa gratis jika berlari di jalanan, tetapi ada beberapa faktor yang harus diperhatikan, seperti misalnya faktor keselamatan dan polusi. Kita juga bakal lebih susah menjaga pace tetap stabil karena harus sering berhenti akibat terhalang pengguna jalan yang lain.

Untungnya di tempat tinggalku di Bintaro, pengelola kawasan sudah membangun jogging track sepanjang dua belas kilometer dengan kondisi yang sangat lumayan. Track yang disebut sebagai Bintaro Loop ini sering dipakai untuk event lari dan membuatku sangat terbantu untuk melakukan hobi berlari, mengingat aku cukup kesulitan mencari fasilitas olahraga di Tangerang Selatan.

Mengikuti event lari Binloop Ultra

Penutup

Jadi, menjalani olahraga lari cukup mudah dan murah, bukan? Dengan biaya yang bisa ditekan, kita tetap bisa mendapatkan manfaat yang banyak. Semoga tips yang kutulis dapat bermanfaat. Ingat: yang penting bukan hanya gear larinya, melainkan juga konsistensi latihan larinya, hehehe.

Tunjangan Hari Raya (THR)

Aku membaca status yang ditulis seorang teman di platform Instagram. “Nggak usah pamer soal THR sudah turun. Ingat, orang lain belum tentu dapat THR juga,” demikian tulisnya.

Ada kebenaran dalam kata-katanya. Ramadan ini adalah Ramadan yang berbeda daripada tahun-tahun sebelumnya. Kepedihan-kepedihan yang terjadi seharusnya membuat kita merasa tidak baik-baik saja.

Salah satu contoh adalah Gaza yang masih bergejolak. Adakah kau merasa baik-baik saja menikmati THR-mu sementara mereka berjejalan di tenda pengungsian? Adakah kau merasa gembira membeli hampers lebaran sementara mereka di sana kelaparan? Jangankan baju baru, jaminan ketenangan dan keselamatan saja mereka tidak punya.

Oleh karena itu, dari sebagian THR-mu yang biasanya sebesar satu kali gaji itu, sisihkan bagi mereka yang membutuhkan. Kau bisa berdonasi ke mana pun hatimu ikhlas. Mungkin tak harus ke Palestina, mungkin kau melihat ada yang lebih perlu di dekatmu.

Dari sahabat Abu Hurairah ra., ia bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah sedekah yang paling utama?” Rasul menjawab, “Sedekah orang sedikit harta. Utamakanlah orang yang menjadi tanggung jawabmu.” (H.R. Ahmad dan Abu Dawud. Ini hadis sahih menurut Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, dan Al-Hakim).

Dari Salman bin Amir ra., dari Nabi Muhammad saw., ia bersabda, “Sedekah kepada orang miskin (bernilai) satu sedekah. Tetapi sedekah kepada kerabat (bernilai) dua sedekah, pertama pahala sedekah, kedua pahala (jaga) silaturrahim.” (H.R. An-Nasai dan At-Tirmidzi).

Sebagai seorang Aparatur Sipil Negara (ASN), alhamdulillah aku sangat diuntungkan dengan adanya kebijakan penyaluran THR yang dimulai sejak era pemerintahan Presiden Joko Widodo pada 2016 silam. THR ini dimaksudkan sebagai pengganti tidak adanya kenaikan gaji pokok. Dengan adanya THR, ASN yang memiliki gaji tidak seberapa itu sangat terbantu untuk memenuhi kebutuhan hari raya.

Beberapa tips pengelolaan THR dariku:

  1. Setelah menyisihkan sebagian untuk sedekah, simpan sebagian yang lain ke dalam tabungan. ASN tidak mendapat komponen bonus sebagai tambahan gaji sehingga THR merupakan kesempatan baik untuk menambah pundi-pundi tabungan.
  2. Sisihkan sebagian THR untuk pos-pos yang perlu mendapat perhatian khusus dalam beberapa bulan ke depan, seperti misalnya biaya ujian sekolah anak pada akhir tahun ajaran, biaya masuk sekolah anak atau uang tahunan sekolah anak untuk tahun ajaran berikutnya, atau biaya membeli hewan kurban.
  3. Setelah beberapa keperluan di atas, akhirnya THR baru dapat digunakan untuk keperluan lebaran. Keperluan ini bisa beragam sekali jenisnya, bergantung pada kebutuhan masing-masing orang. Ada yang butuh biaya mudik, ada yang perlu memberi amplop lebaran untuk keponakan dan saudara, ada yang harus mengeluarkan biaya untuk jamuan perayaan hari raya karena ketiban giliran untuk menjadi tuan rumah open house.

Pada akhirnya, kebijakan pengelolaan THR memang harus disesuaikan dengan kebutuhan. Apa pun itu dan bagaimana pun caranya, ingatlah untuk tetap bersikap sederhana dan tidak menghambur-hamburkan.

“Berikanlah kepada kerabat dekat haknya, (juga kepada) orang miskin, dan orang yang dalam perjalanan. Janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan dan setan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.” (Q.S. Al-Isra': 26-27)

Tuesday, April 02, 2024

Eccedentesiast


“Iya, Bu. Sebentar lagi aku ke rumah sakit. Ini masih rampungin kerjaan dulu.” Aku menutup sambungan telepon dari Ibu, lalu menghela napas.

Ini kali kedua bulan ini Bapak dirawat karena penyakit jantungnya. Biaya rumah sakit yang cukup fantastis memang ditanggung asuransi, sayangnya tidak semuanya. Beberapa jenis obat yang mahal harus ditebus dari kocek sendiri. Aku membuka aplikasi mobile banking dan mengecek saldonya. Seharusnya masih cukup, batinku.

Mataku masih tertumbuk pada layar ponsel ketika notifikasi pesan dari istriku masuk. “Pa, tagihan uang buku Kakak dan Adik sudah ada, nih. Paling lambat dibayar tanggal dua puluh,” tulisnya. Aku menghela napas lagi.

Sebagai kepala keluarga, aku harus berlaku setegar karang. Adakalanya tubuh ini remuk redam dihempas kesibukan dan kebutuhan, tetapi roda kehidupan harus terus kukayuh dengan lancar. Pergi dari rumah saat pagi buta dan kembali ke rumah kala langit gelap, membuatku rindu akan sosok istri dan anak-anakku. Aku sedih tak bisa meluangkan banyak waktu untuk mereka. Namun, aku tentu akan lebih sedih jika tak mampu menghadirkan kehidupan yang layak.

Setiap hari aku pulang dalam keadaan letih, tetapi keluargaku tak perlu tahu segala lelah yang teramat sangat. Tubuh selalu berteriak meminta rehat. Pusing kepala kadang terasa menyengat. Namun, lebih sering kuabaikan saja karena aku lebih memilih tertawa dan bercanda dengan keluarga.

Seolah semua itu belum cukup, sebagai anak tunggal tentu aku harus memikirkan kehidupan orang tuaku. Sandwich generation, mereka bilang. Suatu keadaan yang memaksaku lebih keras bekerja untuk memenuhi tanggung jawab pada keluarga.

Siang itu suasana kantor seperti prahara, tetapi aku tak bisa ambil peduli. Akan kupikirkan itu nanti. Aku harus segera ke rumah sakit untuk menebus obat Bapak. Jika tidak segera diminum, Bapak akan merasakan sakit di dadanya lebih lama. Aku menyetop taksi dengan tergesa-gesa.

Malam telah larut ketika aku tiba di rumah. Penat melanda seluruh tubuh, tetapi kuurungkan niat beristirahat karena istriku meminta waktu untuk bercengkerama berdua. Kukabulkan saja permintaan itu, sambil tak lupa kuhadirkan senyum termanis untuknya. Aku tahu dia juga lelah mengurus rumah, sementara dulu kuminta dia dari ayahnya bukan untuk kuajak hidup susah. Istriku yang bermata pijar itu tak perlu tahu segala kendala. Tak juga berita PHK yang siang tadi kuterima.

Wednesday, March 13, 2024

Menu Isi Piringku

Tantangan Mamah Gajah Bercerita minggu ini mengajak para Mamah untuk berbagi kisah mengenai santapan favorit saat sahur atau berbuka. Banyak di antara mereka mungkin menuliskan cerita tentang makanan atau minuman favorit yang spesifik. Kali ini, aku ingin menuliskan hal yang sedikit berbeda, tetapi cukup esensial untuk diperhatikan.

Semenjak mulai mengatur makan beberapa tahun yang lalu, enak atau tidaknya makanan menjadi hal yang tidak terlalu penting buatku. Aku belajar bahwa rasa enak itu sebenarnya hanya bertahan sebentar di lidah. Setelah melalui kerongkongan, kenikmatan tidak lagi penting. Fungsi asupan bagi tubuh dan kecukupan nutrisi menjadi hal utama yang lebih signifikan untuk diutamakan. Memenuhi kebutuhan nutrisi harian dengan asupan bergizi sangat penting dilakukan agar tubuh tetap fit dan terhindar dari beragam penyakit.

Maka, alih-alih menuliskan tentang santapan favorit, kali ini aku ingin berbagi pengetahuan tentang metode makan yang diadaptasi oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia dari World Health Organization, yang disebut dengan “Isi Piringku”. Menu Isi Piringku merupakan turunan dari panduan gizi seimbang. Konsumsi gizi seimbang adalah konsumsi kalori, makronutrien, dan mikronutrien dalam jumlah dan proporsi yang tepat sesuai dengan kebutuhan, tanpa menghilangkan jenis nutrisi tertentu.

Sumber dari sini

Isi Piringku menggambarkan porsi sekali makan yang dikonsumsi dalam satu piring. Porsi tersebut terdiri dari 50 persen buah dan sayur, serta 50 persen sisanya terdiri dari karbohidrat dan protein. Kampanye Isi Piringku juga menekankan pembatasan gula, garam, dan lemak dalam konsumsi sehari-hari.

Isi Piringku merupakan pembaruan dari kampanye lama mengenai Empat Sehat Lima Sempurna yang berdasarkan pada perkembangan ilmu gizi terbaru. Dulu kita hanya diajari bagaimana menerapkan Empat Sehat Lima Sempurna dengan memenuhi komponen karbohidrat, lauk pauk, sayur, dan buah tanpa diajari tentang komposisinya. Hal ini menyebabkan masyarakat tidak aware terhadap keseimbangan komponen-komponen tersebut. Mamah tentu tidak asing, bukan, melihat masyarakat kita makan dengan nasi segunung, sementara lauk protein dan sayurnya seiprit? Hehehe. Itulah salah satu akibat jika kita tidak paham mengenai keseimbangan komposisi makronutrien dan mikronutrien dalam asupan sehari-hari.

Kesalahan konsep Empat Sehat Lima Sempurna yang lain berkaitan dengan konsumsi susu. Konsep susu sebagai penyempurna gizi sudah tidak relevan karena untuk mendapatkan kecukupan gizi, masyarakat tidak harus minum susu. Susu “hanya” bagian dari sumber protein. Protein berfungsi untuk memperbaiki sel dan jaringan tubuh yang rusak, menjaga kesehatan tulang dan otot, menjaga fungsi kognitif otak, mengoptimalkan sistem kekebalan tubuh, dan sebagai sumber asam amino.

Cara menghitung kebutuhan protein harian berdasarkan berat badan adalah mengalikan 1 kilogram berat badan dengan 0,8 gram protein per hari. Jadi, jika Mamah memiliki berat badan sebesar 55 kilogram, Mamah membutuhkan 44 gram protein per hari. Protein yang dimaksud di sini adalah lean protein, karena 100 gram dada ayam tidak sama dengan 100 gram protein. Faktanya: 100 gram dada ayam hanya mengandung 31 gram lean protein.

Selain mengatur pola makan gizi seimbang, kampanye Isi Piringku juga memuat ajakan untuk mengonsumsi delapan gelas air setiap hari, melakukan aktivitas fisik tiga puluh menit setiap hari, mencuci tangan dengan air dan sabun sebelum dan setelah makan, serta memantau tinggi badan dan berat badan.

Nah, sekarang sudah tahu, kan, bagaimana mengatur komposisi menu andalan untuk sahur dan berbuka? Apa pun menu favorit Mamah, usahakan memenuhi kaidah Isi Piringku, ya.

Wednesday, February 21, 2024

Menua dengan Sehat dan Bugar

Tumbuh besar dengan pengalaman beberapa anggota keluarga mengalami sakit degeneratif hingga akhir usia, membuatku menyadari arti penting kesehatan dan kebugaran sebagai investasi masa tua. Kesadaran ini makin mengkristal ketika aku sudah berkeluarga. Jika dulu menjaga pola makan dan berolahraga dilakukan demi penampilan, kini upaya itu dilakukan demi bisa membersamai pasangan dan anak-anak hingga usia senja.

Banyak orang mengatakan bahwa makin tua seseorang, makin lambat metabolisme tubuhnya sehingga makin gampang gemuk dan makin lemah untuk beraktivitas. Tahukah Anda apa fakta sebenarnya? Makin bertambah usia, seseorang biasanya makan lebih sedikit. Ia juga beraktivitas lebih sedikit. Hal-hal itulah yang “menghancurkan” metabolisme seseorang karena kurangnya mengonsumsi makanan dan minuman serta gaya hidup sedenter alias malas bergerak dapat memperlambat metabolisme tubuh.

Menjaga pola makan dengan diet yang berlebihan juga dapat membuat metabolisme melambat. Tubuh akan menghemat energi karena asupannya terbatas. Diet tanpa memperhatikan kecukupan kalori memang cukup besar keberhasilannya dalam menurunkan berat badan dalam waktu cepat. Namun, setelah diet dihentikan, kenaikan berat badan bisa terjadi dengan mudah.

Zat gizi yang didapat dari makanan akan diolah menjadi energi agar tubuh bisa beraktivitas. Jika kita jarang melakukan aktivitas fisik, tubuh akan lebih lambat dalam membakar energi. Tubuh juga akan menyimpan lebih banyak lemak sehingga metabolisme akan berjalan makin lambat.

Selain itu, proses penuaan menyebabkan tubuh menjadi lebih mudah kehilangan berbagai jaringan tubuh, salah satunya jaringan otot. Secara alami, manusia akan mengalami penyusutan otot atau berkurangnya massa otot seiring dengan bertambahnya usia. Apalagi jika otot tersebut tidak digunakan untuk aktif secara fisik dalam jangka waktu yang lama. Penurunan massa otot akan memperlambat proses metabolisme sekaligus menurunkan ketersediaan energi untuk beraktivitas.

Nah, demi bisa menjadi manula yang tetap berenergi dan berdaya seperti klip di atas, apa yang harus kita lakukan?

Latihan Beban

Latihan beban berfungsi untuk mempertahankan massa otot dan menghindarkan otot dari penyusutan, syukur-syukur jika bisa menambah massa otot. Otot merupakan modal utama kita untuk bergerak. Otot yang kuat membantu fungsi sistem rangka dalam menopang berat badan. Dengan latihan beban, otot kita menjadi tahan banting untuk menahan beban aktivitas sehari-hari.

Otot sebenarnya adalah mesin pembakar lemak alami yang membantu memperbaiki komposisi tubuh. Pembentukan otot membuat otot menjadi aktif sehingga metabolisme tubuh akan meningkat dan membantu pembakaran lemak menjadi lebih efektif. Hal ini membuat kita tidak mudah gemuk.

Latihan beban membantu memperlancar sirkulasi darah sehingga tubuh dapat menciptakan kolagen dengan baik. Akibatnya, kulit akan terlihat lebih muda. Latihan beban yang dilakukan dengan rutin konon juga dapat meningkatkan jumlah sel otak baru sehingga daya ingat menjadi lebih baik. Resep awet muda yang gampang, bukan?

Latihan beban membantu melatih keseimbangan dan koordinasi tubuh. Hal ini penting bagi para manula karena jatuh dapat berefek serius pada kesehatan. Dengan tubuh, otot, dan tulang yang kuat, seseorang yang sudah memasuki masa tuanya akan tetap bisa mandiri melakukan berbagai aktivitas tanpa kesulitan yang berarti.

Menjaga Pola Makan

Diet sehat membantu melindungi terhadap kekurangan gizi dalam segala bentuknya, serta penyakit yang tidak dapat dikomunikasikan (NCD), termasuk diabetes, penyakit jantung, strok dan kanker. (WHO, September 2015)

Memperhatikan status gizi merupakan hal yang krusial dalam upaya untuk menjaga kesehatan. Berdasarkan pedoman gizi seimbang Kemenkes Republik Indonesia dan WHO, gizi seimbang adalah konsumsi kalori, makronutrien, dan mikronutrien dalam jumlah dan proporsi yang tepat.

Ada berbagai macam aliran pola makan. Pola makan yang bagus bagi orang lain belum tentu cocok untuk kita. Oleh karena itu, pilih metode yang paling tepat untuk tubuh kita dengan cara menyesuaikannya terhadap berbagai faktor yang customized, seperti tujuan diet, jenis dan banyaknya aktivitas, kondisi kesehatan, serta profil tubuh.

Yang perlu diperhatikan, hindari pola makan dengan diet yang berlebihan dan usahakan untuk selalu memenuhi asupan nutrisi secara tepat. Zat gizi dari makanan diperlukan untuk mempertahankan metabolisme tubuh supaya dapat beraktivitas dengan baik.

Istirahat yang Cukup

Seorang pelatih pernah mengatakan, “Lebih baik kurang latihan daripada kurang istirahat.” Hal itu menandakan pentingnya istirahat dalam proses pemulihan. Usai berolahraga, otot sebenarnya mengalami kerusakan. Hal ini merupakan sesuatu yang wajar. Otot yang rusak tersebut akan diperbaiki dengan adanya recovery atau pemulihan sehingga menjadi lebih kuat dan lebih besar.

Secara umum, dengan istirahat yang cukup, tubuh akan memiliki waktu untuk memulihkan energi yang terkuras akibat aktivitas. Saat istirahat, tubuh juga akan memperbaiki diri. Akibatnya, metabolisme akan mencapai kinerja optimal untuk mempertahankan kesehatan dan kebugaran.

Wednesday, February 14, 2024

Perempuan dan Nuklir

Tahun ini adalah tahun ketujuh belas aku bekerja di bidang ketenaganukliran. Awalnya aku ditempatkan di bidang teknis yang berkaitan dengan jaringan komputer dan keamanan jaringan–sesuai latar belakang pendidikanku–sebagai sarana dukung dari core business instansi. Pada tahun kedelapan, aku pindah ke divisi quality assurance (QA) hingga sekarang.

Perempuan masih dianggap memiliki stigma ketika bekerja di bidang nuklir, terutama terkait dengan masalah kesuburan. Kekhawatiran mengenai hal ini pernah disampaikan oleh ibuku ketika aku mengutarakan keinginanku untuk masuk ke jurusan Teknik Nuklir dua puluh empat tahun yang lalu. Ketidaksetujuan beliau lantas membawaku mengambil jurusan Teknik Informatika dan Teknik Elektro. Siapa yang menyangka, setelah lulus kuliah aku malah bekerja di bidang ketenaganukliran. Kekhawatiran ibuku pun tak terbukti karena semenjak bekerja aku sempat hamil lima kali.

Sektor ketenaganukliran adalah bidang yang didominasi laki-laki dan kiprah perempuan untuk mengambil peran di bidang teknologi nuklir masih sangat minim. Meskipun ada kemajuan pelibatan perempuan dalam beberapa tahun terakhir, perempuan masih kurang terwakili dalam bidang ilmu pengetahuan, teknologi, rekayasa, dan matematika (science, technology, engineering, and mathematics atau STEM), termasuk di sektor nuklir. Kesenjangan gender ini memiliki pengaruh besar terhadap masa depan energi nuklir, yang memerlukan tenaga kerja yang kuat dan beragam untuk mendorong kinerja dan inovasi iptek nuklir.

Berdasarkan laporan dari Nuclear Energy Agency, perempuan berjumlah kurang dari 25% dari tenaga kerja nuklir secara keseluruhan. Padahal secara historis, perempuan memberikan kontribusi yang signifikan di bidang ini. Sebut saja Marie Curie, Lise Meitner, Katharine Way, dan Chien-Shiung Wu. Mereka adalah para pionir yang melakukan terobosan penting di bidang iptek nuklir.

Representasi perempuan dan laki-laki yang tidak berimbang dalam bidang nuklir, terutama di negara-negara berkembang yang memiliki tingkat ekonomi rendah, terjadi karena perempuan sebagai identitas gender marjinal sulit mendapat kesempatan mendalami STEM. Anggapan bahwa perempuan tidak perlu sekolah tinggi–yang penting tahu urusan dapur, kasur, dan sumur, kata para orang tua zaman dulu–tentu turut andil dalam hal itu.

Berbagai fakta menarik mengenai keterlibatan perempuan di bidang nuklir pernah disampaikan oleh beberapa pakar. H.E. Grata Endah Werdaningtyas, diplomat Indonesia untuk Jenewa, Swiss, pernah menyebutkan mengenai peran perempuan dalam nuklir dan keamanan internasional. Ketika perempuan hadir dalam upaya pembuatan kebijakan terkait perlucutan senjata, kebijakan tersebut cenderung lebih teruji dan berjalan dalam jangka waktu lama. Sementara Dr. Jeanne Francoise, seorang dosen Program Studi Hubungan Internasional dan pakar Warisan Pertahanan (Defense Heritage), menyatakan bahwa partisipasi perempuan sangat dibutuhkan dalam upaya diplomasi untuk mencegah penyalahgunaan nuklir karena hadirnya perempuan dapat memberi perspektif yang lebih seimbang.

Di bidang pekerjaanku sendiri saat ini sebagai QA, aku merasa keterlibatan perempuan memberikan peran yang cukup signifikan. Kerapian, ketelitian, dan kejelian yang merupakan kekuatan perempuan, menjadi amunisi penting untuk menjalankan tugas dan fungsi QA. Beberapa hal di antaranya adalah audit lapangan, pengawasan kepatuhan terhadap regulasi, dan pengelolaan sistem manajemen.

Oleh karena itu, kita harus memperluas kesempatan bagi perempuan dan mendorong semua pemangku kepentingan untuk memberikan perhatian dan pengakuan akan pentingnya eksistensi perempuan dalam berbagai sektor, terutama di bidang ketenaganukliran. Hal ini akan membuat perempuan lebih berdaya untuk meningkatkan kualitas hidupnya dan mengembangkan segala potensi sebagai motor penggerak sekaligus agen perubahan.

Sunday, September 18, 2022

Mengubah Kebiasaan

Menurut KBBI, “kebiasaan” adalah (1) sesuatu yang biasa dikerjakan dan sebagainya; (2) pola untuk melakukan tanggapan terhadap situasi tertentu yang dipelajari oleh seorang individu dan yang dilakukannya secara berulang untuk hal yang sama. Jika seseorang sudah memiliki kebiasaan akan sesuatu, dia akan melakukannya dengan rutin, effortless, dan spontan. Spontan dalam hal ini berarti terjadi otomatis tanpa perlu dipikirkan sebelumnya.

Karena kebiasaan mempengaruhi spontanitas, kita harus sadar diri untuk menjadikan hal-hal baik sebagai kebiasaan. Hal ini mengandung hikmah supaya ketika kita bersikap spontan, hanya hal-hal baik yang mewujud dari lisan dan perbuatan kita. Contoh sederhananya adalah memperbanyak istigfar ketika terkejut sehingga bila suatu saat kita terkaget-kaget karena sesuatu, kita akan spontan berucap “Astaghfirullah” dan bukan “Eh, ayam ayam ayam”, misalnya.

Kebiasaan juga mempengaruhi perasaan dan kecenderungan. Contoh paling gampang adalah soal makanan. Kebanyakan dari kita pasti lebih familiar dengan menu makanan nusantara, maka hal tersebut akan mempengaruhi preferensi kita dalam hal selera. Tentu kita akan memilih rasa yang paling “dekat” dengan menu sehari-hari–bahkan ketika kita sedang bepergian sekalipun–karena hal itu berkaitan dengan kebiasaan.

Rumus mengubah kebiasaan ada dua, yaitu latihan dan repetisi. Kita perlu berlatih supaya kita bisa, sedangkan repetisi diperlukan supaya kita terbiasa. Banyak orang meyakini bahwa waktu yang diperlukan untuk membentuk sebuah kebiasaan baru adalah empat puluh hari, di antaranya Kelly McGonigal yang menulis buku 40 Days to Positive Change atau Tommy Newberry yang menulis buku 40 Days to a Joy-Filled Life. Oleh karena itu, minimal kita berlatih dan melakukan repetisi selama empat puluh hari untuk membentuk sebuah kebiasaan.

Bagaimana dengan waktu yang diperlukan untuk mengubah kebiasaan lama? Memang tidak ada angka yang pasti, tetapi Ustaz Weemar dalam kajiannya menyebutkan bahwa hal tersebut membutuhkan waktu sekitar satu tahun. Hal ini tentu tergantung pada kedalaman tingkat kebiasaannya. Karena meninggalkan kebiasaan lama itu susah, jangan sekali-kali kita membentuk kebiasaan buruk dengan mencoba melakukan hal-hal yang tidak baik. Lebih baik sedari awal kita tidak mencicipinya sedikit pun. Jika kebiasaan buruk sudah terbentuk, dia akan mengalahkan akal.

Selain latihan dan repetisi, hal terpenting dalam membentuk kebiasaan adalah sifat istikamah. Menurut KBBI, “istikamah” adalah sikap teguh pendirian dan selalu konsisten. Dalam hal kebaikan, istikamah dapat diartikan tetap konsisten pada jalan yang benar dengan progres kebiasaan yang terus naik (tidak datar) sehingga hari esok lebih baik daripada hari ini. Hal tersebut tentu sungguh berat karena terkait erat dengan pembiasaan, tetapi sangat diperlukan demi perubahan ke arah yang lebih baik.

Rasulullah Saw. bersabda, "Wahai sekalian manusia. Kerjakanlah amalan-amalan sesuai dengan kemampuan kalian. Sesungguhnya Allah tidak bosan sampai kalian bosan. Dan sungguh, amalan yang paling dicintai oleh Allah yaitu yang dikerjakan secara terus-menerus walaupun sedikit." (H.R. Bukhari dan Muslim)

"Maka istikamahlah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah tobat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan." (Q.S. Hud: 112)

Sunday, September 04, 2022

Belajar Memahami Anak dengan Bijak

Pernahkah Anda membaca buku Totto-chan: Gadis Cilik di Jendela yang ditulis oleh Tetsuko Kuroyanagi? Buku ini bagus untuk dibaca para orang tua dan praktisi pendidikan anak. Meskipun dikemas dengan bahasa sederhana, sesungguhnya ia sarat akan pesan-pesan parenting. Aku membaca buku ini puluhan tahun lalu bahkan ketika aku belum punya anak, tetapi pesan mendalam yang kutangkap waktu itu begitu membekas dan berhasil membentuk gambaran ideal di benakku tentang bagaimana seharusnya hubungan orang dewasa dengan anak terjalin. Pesan-pesan parenting-nya sungguh tak lekang oleh waktu dan tetap relevan hingga kini meskipun latar belakang buku ini adalah kondisi di Jepang  sebelum Perang Dunia II.

Totto dalam novel ini digambarkan sebagai seorang anak yang polos, punya rasa ingin tahu besar, selalu antusias dengan hal-hal baru, penuh imajinasi, dan selalu bersemangat sehingga sering menguji kesabaran gurunya. Dia dikeluarkan dari sekolah karena dianggap nakal dan susah diatur. Ibunya kemudian mencarikannya sekolah baru hingga akhirnya dia bertemu dengan Pak Kobayashi, kepala sekolah yang sangat sabar, hangat, penuh kepedulian dan kasih sayang, serta begitu memahami karakter anak-anak didiknya.

Bicara soal karakter unik Totto-chan, kita perlu memahami baiknya perlakuan membesarkan hati anak sehingga anak tidak merasa dirinya buruk. Ada dua kemungkinan penyebab anak dianggap bandel. Kemungkinan pertama, anak tersebut memang bermasalah. Kemungkinan kedua, anak tersebut adalah anak pandai yang kreativitasnya dibatasi rutinitas. Kebanyakan orang dewasa menganggap tipe anak kedua sama saja dengan tipe anak pertama karena orang dewasa tidak mau menggali apa sebenarnya yang dirasakan oleh si anak, padahal tipe anak kedua bukanlah tipe anak bandel. Ia hanya seorang anak dengan rasa ingin tahu yang sangat besar, yang berusaha memahami dunia di sekelilingnya dengan pengetahuan yang dibangun berdasarkan kehidupan sehari-hari, bukan berdasarkan tugas-tugas rutin sekolah yang membosankan.

Sekolah yang menyenangkan adalah sekolah yang membebaskan. Anak bebas menyerap pengetahuan dengan cara menyenangkan sehingga pengetahuan membekas pada jiwa dan dapat menghasilkan sesuatu yang konkret untuk kehidupan. Namun, kebebasan yang dimaksud tentu bukan kebebasan yang murni. Aturan dan tanggung jawab tetap diperlukan dalam kebebasan berekspresi karena berkaitan erat dengan adab, etika, sopan santun, dan kewajiban. Dalam sebuah sistem sekolah yang menyenangkan, pemberian tugas tidak ditiadakan sama sekali. Tugas tetap diberikan, tetapi tugas bukan segalanya. Dalam sebuah sistem sekolah yang baik, anak merasa dirinya diterima sekaligus merasa aman dan rileks untuk berbuat (berpendapat, belajar, bermain, dsb.) karena anak mempunyai fitrah untuk dicintai, dihargai, dipahami, dan diakui.

Seorang anak yang mempunyai rasa ingin tahu yang besar seharusnya tidak dianggap sebagai anak yang merepotkan. Keingintahuan adalah dasar untuk mencari ilmu pengetahuan. Seorang pendidik memiliki tugas untuk mengarahkan keingintahuan si anak menjadi keingintahuan yang produktif dengan sistem belajar mengajar yang bebas, menyenangkan, tetapi bertanggung jawab.

Seorang pendidik yang baik juga harus mempunyai kelebihan untuk melakukan pendekatan yang konkret kepada anak, misalnya dengan menjadi pendengar yang baik sehingga anak merasa dihargai, atau dengan melontarkan kalimat-kalimat positif untuk menumbuhkan sikap optimisme anak. Dua hal ini dicontohkan secara gamblang oleh buku Totto-chan, seperti ketika Kepala Sekolah Kobayashi mau mendengarkan cerita Totto-chan selama empat jam penuh, atau kenyataan bahwa Kepala Sekolah Kobayashi sering menyebut Totto-chan sebagai anak baik untuk menanamkan rasa percaya dirinya.

Dalam menerapkan kebebasan anak, kita tetap perlu mengajarkan kepada anak tentang mana yang boleh dan mana yang tidak boleh. Dengan demikian, anak tetap dilatih untuk berpikir kritis dalam kebebasannya sehingga ia memiliki self control yang baik. Terkait dengan pengajaran tentang tanggung jawab, hukuman tetap diperlukan. Hanya saja kita tidak boleh menghukum anak sebelum ia mengerti aturan dan kesalahannya. Hukuman tidak identik dengan pemberian penderitaan karena ia adalah penyadaran akan tanggung jawab dengan cara pemberian konsekuensi. Dalam buku Totto-chan, Kepala Sekolah Kobayashi “hanya” memberikan konsekuensi untuk membersihkan kembali apa yang telah Totto-chan jadikan berantakan karena konsekuensi tersebut sudah menjadi hukuman yang pantas untuknya.

Dalam usaha mewujudkan sistem belajar mengajar yang baik dan efektif, selain penyesuaian kurikulum dengan tahapan proses perkembangan anak berdasarkan usia, interaksi anak dengan pendidik harus baik. Hal itu antara lain bisa dibangun lewat kemampuan pendidik untuk berempati, mengenali anak, dan menerima anak apa adanya. Dengan demikian, anak akan merasa senang untuk belajar ilmu pengetahuan dan bersosialisasi sehingga ia siap terjun ke masyarakat di kemudian hari.

Sunday, June 26, 2022

Manusia-Manusia Kuat

Peristiwa berpulangnya Eril akhir bulan lalu menyisakan banyak hal untuk diambil hikmahnya. Bukan hanya tentang keindahan kepribadiannya yang meninggalkan banyak kesan bagi orang-orang–baik yang mengenalnya maupun tidak–melainkan juga tentang keikhlasan, kekuatan, dan ketabahan yang ditunjukkan oleh kedua orang tuanya.

Siang tadi aku juga habis bertakziah ke rumah seorang sahabat dekat yang ditinggal berpulang pasangannya. Mereka selama ini hanya tinggal berdua karena anak tunggalnya telah meninggal bertahun-tahun silam karena sakit. Kami berpelukan lama sekali ketika aku tiba. Di balik air mata yang kadang membayang ketika kami berbincang, kurasakan kegetiran akibat kepergian suaminya yang begitu mendadak. Kejadian itu begitu berat, tetapi senyuman sudah mulai tersungging di bibirnya sedikit demi sedikit. Kurasa aku juga mulai melihat keikhlasan terpancar dari raut wajahnya.

Dalam kehidupan, seorang muslim adakalanya mengalami kondisi pelik ketika ia dihadapkan pada ujian berat, salah satunya adalah peristiwa kehilangan. Pada kondisi seperti itu, seorang muslim yang berpegang pada tali keimanan insyaallah akan merasa ikhlas dan sabar. Secara literal, ikhlas berasal dari bahasa Arab yang artinya murni, jernih, dan tanpa campuran apa pun. Sementara itu, sabar dalam bahasa Arab artinya menahan diri dari keluh-kesah. Orang yang sabar tidak gampang marah, kuat dan tabah menghadapi ujian, serta tidak mengeluh ketika menghadapi situasi sulit.

Memang tidak mudah menghibur seseorang yang sedang berduka. Kita semua akan berada pada posisi itu karena kematian adalah suatu keniscayaan yang waktunya sudah tertulis di Lauh Mahfuzh. Dengan meyakini bahwa kita tak kuasa menolak kematian, insyaallah rasa ikhlas dan sabar akan berhasil dihadirkan. Allah menjanjikan pahala dan berkah yang banyak kepada hamba-Nya yang sabar dalam menjalani kehidupan, terutama ketika mendapat musibah atau sedang dalam masa-masa yang sulit.

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (Q.S. Al-Baqarah: 155)

“Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: ‘Allah Ta'ala berfirman: Tidak ada balasan yang sesuai di sisi-Ku bagi hamba-Ku yang beriman, jika aku mencabut nyawa orang yang dicintainya di dunia, kemudian ia rela dan bersabar kecuali surga.’” (H.R. Bukhari)

Kita tidak meminta kepada Allah supaya ujian diringankan–karena bisa jadi ujian itu adalah cara kita untuk naik kelas–tetapi kita memohon supaya pundak kita dikuatkan dalam menghadapinya. Semoga kita menjadi salah satu hamba Allah yang selalu sabar dalam menghadapi setiap cobaan dan ujian dalam kehidupan. Aamiin.

Sunday, June 12, 2022

Hidup yang Berkah

Kebahagiaan itu erat kaitannya dengan keberkahan. Namun, pernahkah kita bertanya, apakah sebenarnya yang dimaksud dengan keberkahan itu? Bagaimana cara memperolehnya?

Menurut KBBI, berkah adalah karunia Tuhan yang mendatangkan kebaikan bagi kehidupan manusia. Secara bahasa, al-barakah berarti berkembang, bertambah, atau kebahagiaan. Imam An-Nawawi rahimahullah berkata, “Asal makna keberkahan ialah kebaikan yang banyak dan abadi”.

“Andaikata penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka keberkahan dari langit dan bumi. Tetapi, mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (Q.S. Al-A’raf: 96)

Beriman dan bertakwa adalah rumus hidup bahagia dan berkah. Salah satu cara untuk memperkuat keimanan dan mengejar ketakwaan adalah memperbanyak amal ibadah dan amal saleh. Lantas bagaimana korelasi antara amal saleh dengan cinta dan keberkahan? Jadi, ketika seseorang beriman dan beramal saleh, Allah akan mendatangkan rasa cinta sebagaimana firman Allah dan hadis Rasulullah berikut ini.

“Sungguh, orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, kelak (Allah) Yang Maha Pengasih akan menanamkan rasa kasih sayang (dalam hati mereka).” (Q.S. Maryam: 96)

“Apabila Allah mencintai seorang hamba maka Dia akan memanggil Jibril, ‘Sesungguhnya Allah mencintai fulan maka cintailah ia.’ Lalu Jibril mencintainya lalu Jibril berseru di kalangan penduduk langit, ‘Sesungguhnya Allah mencintai fulan maka cintailah ia.’ Penduduk langit pun mencintainya lalu diletakkan penerimaan untuknya di bumi.” (HR. Al-Bukhari no. 6040 dan Muslim no. 2637)

Rasa cinta atau rasa kasih sayang itu ditafsirkan sebagai berikut:

“Dia menjadikan untuk mereka rasa cinta di hati orang-orang mukmin.” (Zâdul Masîr fî Ilmit Tafsîr (III/148) oleh al-Hafizh Ibnul Jauzi)

“Rasa cinta di kalangan manusia di dunia.” (Tafsîr Ibnu Katsîr V/269)

Keimanan dan amal saleh seseorang akan menjadikannya disukai dan diridai Allah. Makin kuat imannya, makin besar pula cinta Allah kepadanya. Ketika Allah sudah mencintainya, Allah menyuruh Jibril agar mencintainya dan menyuruhnya mengumumkan itu kepada penduduk langit. Kemudian penduduk langit mencintainya, diikuti dengan penduduk bumi turut mencintainya pula.

Amal ibadah dan amal saleh mencerminkan manifestasi hubungan vertikal dengan Allah dan hubungan sosial dengan sesama makhluk Allah. Ketika dua dimensi ini dilakukan seutuhnya dalam kehidupan, seseorang tidak hanya menuai kebaikan di dunia, tetapi juga kebaikan di akhirat. Allah akan menumpahkan keberkahan untuknya dari langit dan bumi sehingga insyaallah kebaikan yang banyak akan tercurah baginya secara abadi.

Saturday, May 28, 2022

Perbaikan Postur Tubuh Akibat Skoliosis

Susunan ruas tulang belakang

Aku didiagnosis mengidap skoliosis pada 8 Juni 2010. Skoliosis dengan sudut Cobb 20 derajat ke kiri yang aku idap disebut skoliosis thoracolumbal karena areanya terdapat pada ruas-ruas di antara thoracic spine dan lumbar spine, mulai dari ruas T9 hingga L5. Karena sejatinya skoliosis adalah kelainan tulang belakang, ia tidak dapat disembuhkan. Yang dapat dilakukan adalah mengurangi derajat kelengkungannya–dengan atau tanpa operasi–dan menjaga supaya derajat kelengkungannya tidak bertambah.

Skoliosisku

Dokter spesialis ortopedi dan traumatologi dari Rumah Sakit Fatmawati, dr. Luthfi Gatam, Sp.OT., mengatakan bahwa penyandang skoliosis berkategori ringan pada tahap sudut 20 derajat hanya memerlukan observasi rutin. Penyandang skoliosis berkategori sedang dengan tahap sudut antara 20 sampai 40 derajat dianjurkan mengenakan brace, sedangkan penyandang skoliosis berkategori berat dengan tahap sudut lebih dari 40 derajat–sehingga memiliki kemungkinan mengganggu kinerja organ–perlu dioperasi. Karena skoliosisku masih termasuk kategori ringan, tindakan operatif tidak diperlukan. Tak lama setelah itu, aku mulai berkenalan dengan pilates dan yoga sebagai salah satu upaya untuk terapi skoliosis.

Pilates

Menurut KBBI, pilates adalah metode senam ringan untuk memperkuat otot perut, memperbaiki postur tubuh, dan meningkatkan keseimbangan. Sebelum latihan dimulai, instruktur mengobservasi hasil rontgen dan posturku lalu merancang program yang sesuai dengan tujuan latihan, yaitu meringankan skoliosis dan meredakan keluhannya.

Pilates dengan bantuan alat-alat berfungsi menyeimbangkan otot-otot, melenturkan otot yang meregang, dan membuat persendian menjadi lebih sehat. Setiap gerakan dan hitungan dalam pilates dilakukan dengan penuh konsentrasi dan terkontrol. Gerakannya harus presisi, urut, berkesinambungan, dan menggunakan napas yang benar yaitu pernapasan perut. Pernapasan perut dapat mendorong tulang belakang bersama otot-ototnya kembali berfungsi secara seimbang. Pada akhirnya, postur tubuh yang benar, pernapasan yang benar, dan otot yang elastis membuat organ tubuh termasuk tulang belakang kembali berfungsi dengan baik.

Meskipun merasakan manfaatnya, aku tidak melanjutkan latihan pilatesku setelah 16 sesi karena harga yang lumayan mahal. Selain itu, kadang aku merasa frustrasi saat menjalani kelas privat karena harus melakukan gerakan yang betul-betul presisi. Pengawasan instruktur sangat ketat sehingga gerakan yang salah sering diulang-ulang sampai benar. Pada suatu titik ketika aku tak lagi merasa enjoy, aku memutuskan berhenti dan mulai melirik yoga sebagai alternatif lain.

Yoga

Aku tidak mengikuti kelas yoga secara privat, tetapi mengikuti kelas yoga general. Sebelum mulai berlatih, aku mengomunikasikan perihal skoliosisku kepada instruktur sehingga ia pun memahami keterbatasanku. Program latihan di kelas tidak didesain secara khusus untuk pasien skoliosis, tetapi secara umum semua gerakan yoga bermanfaat untuk perbaikan postur tubuh.

Gerakan yoga berfungsi meningkatkan kelenturan dan kekuatan otot (dalam kaitannya dengan skoliosis, hal ini juga termasuk otot-otot yang menunjang tulang belakang), mengoreksi lengkungan dan rotasi tulang belakang, serta memperkuat kaki sebagai penyangga tulang belakang. Ketidakseimbangan postur yang kerap dialami oleh pasien skoliosis akibat misalignment tulang belakang juga diperbaiki oleh yoga dengan memperkuat sisi tubuh yang lemah.

Alhamdulillah, yoga sangat membantuku mengurangi pegal dan backpain, mengoreksi postur, menguatkan otot dan tulang punggung, serta menstabilkan panggulku yang tinggi sebelah. Siapa sangka dari situ aku malah jadi jatuh cinta pada yoga. Lebih dari sekadar treatment skoliosis yang aku dapatkan, yoga juga membantuku menyeimbangkan pikiran, tubuh, dan jiwa.  Dalam beberapa hal yoga membuatku tetap waras karena aku juga belajar untuk terkoneksi dengan diri, mencintai diri, dan menerima diri apa adanya.

Setelah hampir sepuluh tahun rutin beryoga, kini aku berhasil membangun kesadaran terhadap perbaikan postur. Muscle memory yang dibangun selama bertahun-tahun itu sering “mengingatkanku” bila aku melakukan gerakan yang berisiko menyebabkan ketidakseimbangan tulang belakang dan memperparah skoliosisku. Bahkan secara random aku pun menjadi gampang “gatal” untuk mengoreksi postur tubuh seseorang bila kurasa ia sedang melakukan sikap tubuh yang buruk, hahaha.

Sunday, May 15, 2022

Kesetaraan dalam Secangkir Kopi

Sudah lama aku terusik pada kenyataan seringnya para pelayan restoran atau kafe salah menempatkan gelas teh dan cangkir kopi di hadapan aku dan suamiku. Suamiku penggemar teh; aku penyuka kopi. Mereka–para pelayan itu–hampir selalu meletakkan cangkir kopi di hadapan suamiku dan gelas teh di hadapanku. Aku jadi berpikir: apakah secangkir kopi mengandung bias gender?

Secara umum konstruksi sosial memang cenderung menampilkan kopi sebagai minuman macho. Namun, lama-kelamaan hal itu runtuh seiring perkembangan zaman dan gaya hidup yang menyertainya. Saat ini kopi lazim dikonsumsi oleh berbagai kalangan, tak peduli apa pun gendernya. Bahkan orang yang bukan penikmat kopi sejati pun kini dapat menikmati setitik sensasi kopi karena secara kreatif, kopi telah dibuat dalam berbagai varian yang lebih ringan kadar kafeinnya.

Bicara soal kopi dan kesetaraan, pada zaman kolonial silam, kopi memang menjadi komoditas yang hanya bisa dinikmati oleh kaum elite. Masyarakat yang menanam dan memetiknya justru tidak dapat menikmatinya karena kelas sosial yang termarginalkan. Namun, kini kopi dapat dinikmati oleh semua kalangan dalam berbagai situasi dan keadaan seperti kata Paox Iben Mudaffar, “Di hadapan kopi, kita semua sama.”

Aku jadi teringat lawatanku ke Belitung beberapa tahun yang lalu. Saat itu aku menyesap kopi Manggar sambil mendengarkan pemandu wisata berkisah. Manggar adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Belitung Timur yang dijuluki dengan kota seribu warung kopi. Di tempat itu warung kopi bertebaran bak cendawan di musim hujan. Sejak dulu masyarakat Belitung memang gemar minum kopi. Bagi mereka, kopi adalah social drink dan kegiatan ngopi merupakan ajang berinteraksi secara sosial sambil membicarakan apa saja, jauh sebelum coffee shop modern mulai merebak di kota-kota besar.

Kopi Manggar dan kue talam yang kunikmati saat itu

Aku rasa bukan hanya di Manggar hal seperti itu jamak terjadi. Saat ini kopi menjadi minuman paling egaliter di muka bumi. Semua orang menikmatinya, mulai dari pekerja rendahan hingga pimpinan perusahaan dan artis terkenal. Yah, meskipun sebenarnya kopi juga punya kelas-kelas berdasarkan kualitasnya–yang tentu berpengaruh terhadap harga–kita tak bisa menafikan kenyataan bahwa kopi adalah minuman yang sangat populer dinikmati dalam suasana kekeluargaan dan persahabatan lewat aktivitas ngopi bareng.

Semangat kesetaraan yang diusung oleh kopi ternyata tidak hanya sebatas pada kalangan yang mengonsumsinya. Di balik industri kopi yang mendunia, ada semangat kesetaraan gender dalam pengolahan dan pembuatannya. Sebut saja City Girl Coffee Co. yang didirikan oleh Alyza Bohbot di Amerika Serikat. City Girl Coffee Co. hanya melibatkan perempuan dalam seluruh pengelolaan kopinya. Di ranah lokal, ada Intan Westlake yang mendirikan Java Mountain Cafe dengan misi untuk mengangkat petani kopi perempuan. Pembangunan kesetaraan gender melalui pemberdayaan perempuan secara ekonomi juga dilakukan oleh Kelompok Wanita Tani (KWT) Mekar Arum di Sumedang yang mewadahi anggota perempuan yang bergerak di bidang pertanian dan pengolahan kopi.

Salah satu contoh lain yang erat kaitannya dengan kopi dan kesetaraan yang membuat hatiku hangat adalah semangat yang dibawa oleh Putri Santoso ketika ia mendirikan Kopi Tuli. Ia adalah seorang penyandang disabilitas sejak usia balita yang kerap mengalami diskriminasi ketika mencari pekerjaan. Bersama dua temannya yang juga sama-sama penyandang disabilitas, ia mendirikan Kopi Tuli dengan prinsip bahwa setiap kaum disabilitas harus memiliki kesetaraan kesempatan dalam memperoleh pekerjaan. Kini warung kopi yang semua pekerjanya memiliki keterbatasan pendengaran itu telah memiliki beberapa cabang di Depok dan Jakarta.

Kembali ke pertanyaanku di awal tulisan ini: apakah secangkir kopi mengandung bias gender? Hmm, aku rasa para pelayan yang salah menempatkan cangkir kopi itu harus membaca tulisanku ini, hahaha.


Sunday, April 24, 2022

Bulan Mudik Nasional

Gambar diambil dari sini

Tahun ini adalah pertama kalinya–semenjak pandemi–pemerintah melonggarkan mobilitas masyarakat saat lebaran. Bahkan cuti bersama Idulfitri yang selama dua tahun sebelumnya dihapuskan, tahun ini dipasang berderet-deret hingga empat hari. Angka kasus Covid-19 kini memang sudah melandai, maka tak heran jika penurunan PPKM ditetapkan dan pelonggaran terlihat di mana-mana.

Bagi banyak orang yang selama dua tahun merasa terkekang karena “dilarang” mudik, bulan ini adalah kesempatan besar untuk menuntaskan keinginan pulang kampung dan berlebaran bersama kerabat di kampung halaman. Entah sejak kapan budaya mudik saat lebaran mendarah daging bagi masyarakat Indonesia. Apa pun dilakukan demi bisa mudik, baik dari segi kemampuan fisik maupun kemampuan finansial. Masih teringat jelas dulu sebelum semua hal serba online, orang-orang rela mengantri berjam-jam demi selembar tiket untuk pulang kampung.

Untuk aku pribadi, sebenarnya lebaran pertama saat pandemi–di mana banyak orang merasa resah karena tidak bisa mudik–adalah lebaran paling menenangkan bagiku. Aku tak perlu repot menempuh perjalanan mudik, tak perlu ribet mengatur jadwal silaturahmi, dan tak perlu merasa kelelahan dengan segala mobilitas ke sana kemari. Bagaikan blessing in disguise, aku bisa fokus beribadah pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadan.

Namun, segala hal selalu ada plus minusnya. Di balik ketenangan yang kurasakan, sanak saudara di kampung halaman merasa rindu dengan kami yang selama ini merantau. Mereka menitipkan harap supaya tahun ini kami bisa pulang dan merayakan Idulfitri bersama. Lebaran memang menjadi momen yang ditunggu untuk melepas kangen dan menyambung silaturahim dengan keluarga besar. Tampaknya tahun ini aku harus legowo untuk kembali mengalami keriuhan Idulfitri.

“Barangsiapa yang ingin dipanjangkan usianya dan dibanyakkan rezekinya, hendaklah ia menyambungkan tali persaudaraan.” (H.R. Bukhari-Muslim)

“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah menyambung keluarga (silaturahmi).” (H.R. Bukhari)

Rasulullah shallallahu alaihi wassalam pernah ditanya oleh seorang sahabat, “Wahai Rasulullah, kabarkanlah kepadaku amal yang dapat memasukkan aku ke surga”. Rasulullah menjawab, “Engkau menyembah Allah, jangan menyekutukan-Nya dengan segala sesuatu, engkau dirikan shalat, tunaikan zakat dan engkau menyambung silaturahmi”. (H.R. Bukhari)

Membaca hadis-hadis tentang keutamaan menyambung silaturahim, mungkin aku memang harus melepaskan keegoisan dan mengubah mindset bahwa mudik ini tak hanya menjadi sebuah momen pribadi, tetapi juga menjadi sarana untuk menggembirakan orang tua dan menjaga tali kerabat. Mumpung semuanya masih sehat, mumpung selagi sempat. Ibadah bulan Ramadan yang sedikit banyak jadi terganggu, semoga diganti-Nya dengan pahala menyambung tali silaturahmi. Seperti yang dikatakan oleh @abun_nada, “Siapa yang mempermudah kaum muslimin untuk menyambung tali silaturahmi, semoga Allah limpahi kemudahan baginya dan keluarganya.” 

Sunday, April 10, 2022

Menguasai Pilihan

Gambar diambil dari sini

Writing is about making choices.”

Aku mendengar kalimat itu terucap dalam salah satu dialog di film Dawson's Creek belasan tahun silam. Dialog itu terjadi antara seorang dosen dengan mahasiswinya. Sang dosen berusaha menyemangati si mahasiswi agar tidak menyerah dalam melanjutkan tulisan yang telah dibuatnya karena tanpa ia sadari, sebenarnya ia seorang penulis yang–kata sang dosen–bagus. Paling tidak, ia berhasil memukau sang dosen lewat tulisan yang dibuatnya.

Padahal, si mahasiswi tidak suka kenyataan itu. Tulisan itu dibuatnya berdasarkan kisah nyata. Ia tidak suka melanjutkannya karena ia tidak suka pada kenyataan yang terjadi pada dirinya: ditinggalkan oleh cowok yang disukainya.

Sang dosen berkata, “Menulis itu seperti melanjutkan hidupmu.”

Melanjutkan tulisan itu seperti melanjutkan kisah cintanya yang menggantung. Ia pikir kisah cintanya sudah selesai, tetapi sang dosen malah berkata, “Cerita (tulisan) ini berakhir tepat di saat seharusnya ia dimulai.”

Bagi si mahasiswi, melanjutkan tulisan tersebut adalah hal yang sulit karena ia merasa tidak punya kuasa atas hidupnya. Melanjutkan tulisan itu akan berimbas pada kenyataan bahwa ia juga harus menata hatinya dan merumuskan seperti apa ending kisah cintanya. Ia harus mulai membuat pilihan-pilihan. Tidak hanya pilihan-pilihan penokohan, alur, dan ending tulisannya, tetapi juga pilihan-pilihan nyata dalam kisah cintanya.

Menulis memang seperti itu: membuat pilihan-pilihan. Pun buatku, menulis merupakan proses kreatif tersendiri yang melibatkan banyak pilihan. Lalu mengapa sampai saat ini aku memilih untuk senantiasa mengakrabi tulisan? Satu hal yang terpikir adalah kenyataan bahwa lewat tulisan, aku benar-benar menemukan siapa aku sebenarnya. Ini memerlukan penggalian yang cukup dalam terhadap masa laluku, kepribadian dasarku, keinginan-keinginanku, caraku berekspresi, bahkan terhadap caraku bergaul.

Cukup kompleks? Memang. Karena buatku, menulis adalah suatu aktivitas yang lebih dari sekedar merangkai huruf demi huruf menjadi seuntai tulisan bermakna. Buatku menulis memiliki arti lebih dari itu. Aku orang yang cukup pendiam, datar, cenderung menutup diri, dan tidak pernah bersikap vokal, apalagi frontal. Sejak kecil aku mengakrabi tulisan karena lewat tulisan, aku bisa mengekspresikan segala hal yang aku mau tanpa batasan-batasan rasa malu, rendah diri, atau putus asa. Dengan menulis, aku bisa mengemukakan gagasan atau pikiran menurut cara yang aku mau.

Saat remaja, aku menemukan kenyataan menarik bahwa menulis fiksi ternyata juga menyenangkan. Sudah lama aku merasa tidak puas dengan hal-hal yang terjadi di sekitarku, bahkan seringkali aku tidak punya kuasa untuk mengubahnya. Nah, lewat tulisan fiksi, aku bisa menciptakan sebuah kondisi yang aku kehendaki, lengkap dengan penokohan, alur, dan ending-nya. Sedikit demi sedikit, aku mulai mengakui keberadaanku. Ternyata aku juga bisa menguasai dan mengendalikan sesuatu.

Berbicara tentang menulis berarti juga berbicara tentang membuat pilihan-pilihan. Maka ketika aku bebas membuat pilihan kepuasan dan aktualisasi diri, saat itulah aku merdeka.

Friday, March 25, 2022

Berani Aktif Bergerak Saat Ramadan

Bagi sebagian orang, aktif bergerak pada kondisi sedang berpuasa merupakan tantangan tersendiri. Lemas dan tidak ada tenaga biasanya menjadi alasan yang dikemukakan, padahal kita membutuhkan olahraga untuk menjaga kebugaran. Lalu bagaimana caranya kita dapat aktif bergerak tanpa kelelahan?

Ada dua waktu yang biasa dipilih untuk berolahraga, yaitu pagi setelah sahur dan sore sebelum berbuka. Orang-orang yang memilih waktu pagi sebaiknya berolahraga sekitar dua jam setelah sahur. Ini waktu terbaik karena lambung sudah tidak terlalu penuh dengan makanan yang berisiko menyebabkan side stitch atau kalikiben (suduken dalam bahasa Jawa) dan tubuh masih menyimpan cukup asupan dari makan sahur, baik dalam hal hidrasi maupun carbs loading. Olahraga di pagi hari dilakukan dengan intensitas ringan. Misalnya jika Anda hobi berlari, lakukan jogging dengan jarak pendek sekitar 3-4 km dan denyut jantung berada di zona dua. Zona dua adalah zona aerobik dengan denyut jantung berada di zona 60-70% denyut jantung maksimum. Secara umum maksimum denyut jantung didapat dari angka 220 dikurangi usia. Zona ini efektif untuk melatih kemampuan kardiovaskular dan meningkatkan pembakaran lemak.

Pembagian zona denyut jantung

Orang-orang yang memilih waktu sore untuk berolahraga sebaiknya memilih waktu 1-2 jam sebelum berbuka supaya tidak terlalu jauh rentang refueling-nya. Gula darah biasanya berada pada titik terendah pada sore hari sehingga wajar jika Anda merasa tidak bertenaga. Sama halnya dengan olahraga pagi, lakukan olahraga sore dengan intensitas ringan. Karena waktu mengganti asupan sudah dekat, Anda dapat melakukan jogging dengan jarak sedikit lebih jauh. Usahakan denyut jantung tetap berada di zona dua.

Olahraga lain yang disarankan adalah olahraga ringan yang membuat kita mudah menjaga denyut jantung di zona satu dan dua, seperti berjalan kaki, yoga, atau strength training. Lakukan olahraga dengan rutin minimal 30 menit setiap hari untuk untuk menjaga kebugaran. Terlalu banyak diam dengan dalih sedang berpuasa justru dapat membuat tubuh makin lemas karena sirkulasi darah tidak selancar seperti ketika digerakkan aktif dengan berolahraga. Yang penting, jaga jangan sampai olahraga yang kita lakukan terlalu intens sehingga mengakibatkan kelelahan, dehidrasi, atau kram otot.

Bagaimana dengan asupan selama Ramadan? Makanlah sahur sesuai panduan gizi seimbang. Pilih karbohidrat kompleks yang mengenyangkan lebih lama (seperti nasi merah, oatmeal, ubi, kentang), buah tinggi air, dan sayur untuk asupan serat. Hindari makanan yang mengandung banyak minyak dan minuman yang mengandung banyak gula. Gantilah dengan air putih, kurma, atau minuman elektrolit seperti Pocari Sweat.

Kebutuhan hidrasi seorang pelari

Dalam kondisi normal, orang yang berolahraga wajib melakukan hidrasi seperti hydration plan di atas. Hal tersebut penting karena kenaikan suhu tubuh di atas normal (hipertermia)—yang tidak segera didinginkan dengan hidrasi—dapat menyebabkan mual, muntah, kram otot, sakit kepala, hingga pingsan. Hal ini tentu harus diakali jika kita sedang berpuasa karena tidak bisa minum sesuka hati. Selain merendahkan intensitas olahraga, kita juga harus tetap menjaga hidrasi minimal 2 liter sehari. Namun, jangan sampai upaya menabung air kita lakukan sekaligus karena hal itu bisa memicu mual dan beser. Lakukan hidrasi sedikit demi sedikit dengan frekuensi yang sering pada jam-jam ketika kita sedang tidak berpuasa. Kita juga bisa membagi frekuensi minum seperti infografis di bawah ini hingga kebutuhan air minimal tercukupi.

Hidrasi saat berpuasa

Orang yang suka minum teh atau kopi sebaiknya mengurangi kebiasaan ini selama bulan Ramadan. Teh dan kopi yang bersifat diuretik justru kontraproduktif dengan upaya menabung air. Jika menghindari teh dan kopi sulit dilakukan, minumlah air lebih dari 2 liter sehari. Kompensasi ini perlu dilakukan supaya tubuh tidak kehilangan air terlalu banyak.

Jadi, berani terima tantangan untuk tetap aktif bergerak saat Ramadan? Lakukan kiat-kiat di atas dan jangan lupa selalu sediakan Pocari Sweat sebagai teman hidrasimu.

Pocari Sweat, teman hidrasiku saat berlari


Sunday, March 13, 2022

Muffin Kangkung, Cara Mudah Anak Makan Sayur

Membuat muffin kangkung

Beberapa tahun lalu sebelum pandemi, guru salah satu anakku mengirim pesan bahwa di sekolah akan diadakan Market Day. Setiap anak diharapkan untuk membawa makanan olahan dari bayam atau kangkung untuk dijual. Seketika keripik bayam terpikir olehku saat itu, tetapi gagasan bahwa akan banyak orang tua yang berpikiran serupa akhirnya membelokkan niat dan membuatku berpikir keras mengenai alternatif lain.

Bagaikan Invention Test di Master Chef, aku mencoba membuat kudapan yang biasanya disukai anak-anak dengan kangkung atau bayam sebagai bahan wajibnya. Karena aku tidak pandai memasak, aku mencari resep yang mudah saja. Pilihanku jatuh pada muffin kayu manis dengan kangkung sebagai isiannya. Kebetulan beberapa waktu sebelumnya aku sudah sering membuat muffin semacam ini.

Setelah memodifikasi resep, aku membuat muffin kangkung dengan menambahkan bahan andalan seperti choco chip warna-warni yang pasti disukai anak-anak. Alhamdulillah upaya ini berhasil. Rasa muffin tetap enak dan ternyata laris manis di Market Day. Seorang wali murid bahkan penasaran menanyakan resepnya padaku.

Tidak seperti cupcake, muffin dicirikan dengan teksturnya yang lebih padat. Rasanya pun tak terlalu manis jika dibandingkan dengan cupcake. Kebetulan aku sendiri tidak terlalu suka jika anak-anak makan terlalu banyak gula. Muffin ini juga bisa disantap sebagai sarapan karena cukup mengenyangkan bagi anak-anak. Yang jelas, muffin ini dapat menjadi alternatif pilihan jika anak susah makan sayur, hehehe.

Di bawah ini aku sertakan resepnya. Cara membuatnya sangat mudah. Selamat mencoba!

Resep Muffin Kangkung

Bahan:

  1. 200 gram gula palem
  2. 180 mL minyak goreng
  3. 60 gram yoghurt plain
  4. 3 butir telur ayam ukuran sedang
  5. 250 gram tepung terigu
  6. 1 sdt baking soda
  7. 2 sdt bubuk kayu manis
  8. 1/2 sdt garam
  9. 260 gram kangkung cincang
  10. Choco chip warna-warni untuk topping

Cara membuat:

  • Masukkan bahan-bahan kering dari nomor 5 s.d. 8 ke dalam baskom ukuran kecil dan campur menggunakan whisk sampai merata.
  • Masukkan bahan nomor 1 dan 2 ke dalam baskom ukuran besar, lalu kocok dengan mixer pada kecepatan sedang.
  • Tambahkan yoghurt, lanjutkan pengocokan pada kecepatan tinggi selama kurang lebih 1 menit.
  • Tambahkan telur satu per satu, lanjutkan pengocokan pada kecepatan tinggi.
  • Tambahkan hasil adukan bahan-bahan kering ke dalam adonan dan aduk sampai rata menggunakan spatula.
  • Tambahkan pula kangkung cincang ke dalam adonan dan aduk sampai rata menggunakan spatula.
  • Masukkan adonan pada cetakan kertas sampai 3/4 penuh, lalu tambahkan dengan topping choco chip warna-warni.
  • Panggang di oven pada temperatur 175 derajat celcius selama kurang lebih 20 menit hingga matang.