Monday, October 11, 2021

Setup Makaroni, Resep Simpel Andalan Ibu

Seperti yang pernah kutulis di sini, ibuku adalah seorang wanita karir yang cukup sibuk selama masa produktifnya, baik dalam hal karir maupun aktivitas sosial. Sebagai ibu yang harus mengatur waktu dengan jeli, masakan-masakan yang beliau siapkan untuk kami biasanya berupa sajian sederhana dan tidak membutuhkan waktu lama untuk mengolahnya. Salah satu masakan khas Solo yang menjadi menu andalan beliau adalah Setup Makaroni.

Melihat bahan dasar Setup Makaroni yang berupa pasta, tentu kita langsung mengerti bahwa makanan ini bukan makanan asli orang Jawa. Setup Makaroni adalah menu peninggalan orang Belanda yang diadaptasi oleh kalangan bangsawan keraton menjadi salah satu makanan yang disajikan di acara-acara besar Keraton Surakarta. Resep aslinya konon menggunakan topping keju parut dalam jumlah cukup banyak. Namun dalam perjalanannya, keju menjadi sesuatu yang opsional karena menyesuaikan dengan lidah orang Jawa yang cenderung asing terhadap keju.

Setup Makaroni yang memiliki manfaat untuk menghangatkan badan ini biasa disajikan sebagai menu pembuka sebelum menyantap menu utama. Meskipun demikian, saat ini restoran-restoran di Solo juga menyajikan makanan ini sebagai menu tunggal yang bisa dikategorikan sebagai light meal. Hal ini cocok untuk orang-orang yang lebih suka makan sedikit untuk sekadar mengisi perut sepertiku, hehehe.

Jadi, seperti apa, sih, resep simpel yang selama ini menjadi andalan ibuku? Yuk, kita simak resep di bawah ini.

Foto diambil dari sini

Bahan-bahan:

  • 250 gr makaroni
  • 250 gr daging ayam
  • 250 ml susu cair
  • 2 butir telur ayam kocok
  • 1 buah bawang bombai diiris-iris
  • 2 siung bawang putih diiris halus
  • Secukupnya merica bubuk
  • Secukupnya gula
  • Secukupnya garam
  • Sedikit margarin untuk menumis
  • Sedikit minyak goreng
  • Air untuk merebus ayam

Cara membuat:

  1. Siapkan panci, beri sedikit minyak goreng. Masukkan makaroni, rebus hingga setengah matang. Angkat, buang airnya, tiriskan.
  2. Sementara menunggu makaroni empuk, siapkan panci lain, rebus ayam dengan air secukupnya. Bila daging ayam sudah empuk, angkat.
  3. Pisahkan daging ayam dari air rebusan. Air rebusan jangan dibuang. Suwir-suwir daging ayam.
  4. Siapkan wajan, panaskan margarin. Tumis bawang bombai dan bawang putih hingga wangi. Tambahkan merica bubuk.
  5. Masukkan air rebusan ayam, susu cair, dan ayam yang sudah disuwir-suwir. Kecilkan api.
  6. Masukkan kocokan telur, aduk agar telur tidak menggumpal.
  7. Tambahkan gula dan garam secukupnya. Tes rasa, sesuaikan selera.
  8. Setelah mendidih, masukkan makaroni. Aduk hingga makaroni matang lalu angkat. Sajikan hangat-hangat.
  9. Catatan: dapat ditambahkan topping sosis, keju parut, atau bawang goreng sesuai selera.


Monday, October 04, 2021

Jajanan Solo yang Membuat Kangen

Bicara soal makanan favorit sepanjang masa, ingatanku melayang pada dua kudapan favorit yang sarat akan kenangan masa kecil. Dua kudapan itu adalah lenjongan dan cabuk rambak. Keduanya termasuk makanan tradisional Solo yang biasa dijual di pasar dan pusat jajanan, serta kerap disebut sebagai street food-nya masyarakat Solo.

Lenjongan (foto diambil dari sini)

Lenjongan adalah sebutan dari satu set camilan manis yang terdiri atas gendar, klepon, sawut, jongkong, gatot, getuk, tiwul, cenil, ketan hitam, ketan putih, dan gerontol. Isinya sebagian besar terbuat dari singkong, jagung, ketan, dan aneka jenis tepung sehingga mengenyangkan. Topping-nya yang berupa parutan kelapa memberikan cita rasa gurih. Meskipun demikian, manis menjadi rasa dominan lenjongan karena parutan kelapa seringkali ditaburi dengan gula pasir atau dituangi juruh (gula merah cair).

Lenjongan menjadi favorit karena menyatukan berbagai jenis rasa kudapan tradisional dalam satu wadah. Teksturnya pun beraneka ragam: ada yang lunak seperti ketan dan getuk, ada yang kenyal seperti klepon dan cenil, ada juga yang seret seperti tiwul yang biasa digunakan sebagai pengganti nasi. Lenjongan dihidangkan dengan sebuah pincuk yang terbuat dari daun pisang. Seporsi lenjongan dijual seharga Rp3.000,00 hingga Rp5.000,00.

Lenjongan tercatat sebagai Warisan Budaya Tak Benda oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia pada tahun 2020. Jajanan ini telah ada sejak zaman penjajahan Belanda dan tak pernah lekang oleh waktu hingga kini. Buatku pribadi, lenjongan menyimpan banyak memori masa kecil sebagai camilan yang kerap dibeli ketika menemani ibu atau nenekku berbelanja di pasar.

Cabuk rambak (foto diambil dari sini)

Selain lenjongan, jajanan khas Solo yang menjadi kesukaanku adalah cabuk rambak. Makanan ini dulu dijajakan berkeliling oleh penjualnya—biasanya ibu-ibu berjarik—dengan menggendong bakul. Meskipun sudah mulai langka, makanan ini masih bisa ditemukan di pasar dan pusat jajanan tradisional. Cabuk rambak dibuat dari irisan ketupat yang kemudian disiram dengan saus yang terbuat dari wijen dan kelapa sangrai. Pelengkapnya adalah kerupuk gendar yang biasa disebut karak. Harga satu porsi cabuk rambak bervariasi antara Rp5.000,00 hingga Rp7.500,00.

Cabuk rambak yang murah meriah ini dulu menjadi jajanan kesukaanku semasa sekolah. Dengan uang saku yang pas-pasan, membeli cabuk rambak adalah salah satu trik supaya tetap kenyang hingga waktu pulang sekolah tiba. Meskipun sering diejek sebagai makanan rakyat jelata karena miskin gizi, cabuk rambak selalu menjadi makanan incaran yang wajib dibeli kala aku mudik ke Solo.