Hei, kamu...
Setelah bertahun-tahun aku masih saja merindukan sosokmu,
Riang berkelebat dalam imaji,
Mendengarkanku berceloteh dengan perhatian penuh.
Hei, kamu...
Tahukah kamu, aku sangat merindukan malam itu?
Kita mengurai canda dan merajut jalinan kata,
Lalu merangkai diskusi sampai pagi.
Hei, kamu...
Yang selalu lapang menerimaku,
Memberiku semangat dan inspirasi,
Menguatkanku, bukan melemahkanku.
Hei, kamu...
Kapan lagi,
Kita ramai bertukar informasi,
Bertukar binar mata sambil saling menggenggam jemari?
Ah, kamu yang kurindu...
Nyata kah?
Atau hanya ada dalam khayalku?
Showing posts with label puisi. Show all posts
Showing posts with label puisi. Show all posts
Sunday, October 28, 2012
Tuesday, November 22, 2005
Kota Itu
Aku tak tahu apa yang begitu istimewa dari kota itu
Panas, bising, berdebu
Jilbab lengket dan peluh bercucuran
Belum lagi langit yang tercemar polusi industri
Tapi aku begitu menikmati perjalanan menuju kota itu
Memindai keras aspal dan kokoh beton dari balik jendela
Mengukur tiap kilometer dan detik yang tersisa
Sembari menghirup riang yang menghentak-hentak dada
Aku tak lahir di kota itu
Aku pun tak tumbuh besar di sana
Tapi kota itu punya banyak kisah untukku
Romantisme pesona yang tak mampu kulukiskan
Kembali ke kota itu bagai menggenapi separuh hati yang hilang
Separuh hati yang selama ini dengan letih kukais-kais
Separuh hati yang tanpanya aku tak kuasa bercakap
Separuh hati yang tak mampu lagi aku miliki seperti tahun-tahun silam
Menjalani hidup dengan hati separuh berarti jiwa tak utuh
Dan jiwa tak utuh berarti ruang hampa
Baiklah, aku menyerah
Asaku tertinggal di kota itu
Kaulah alasannya
Tuesday, July 05, 2005
Dalam Duka
Kau hentikan waktu
dengan riak yang berpusing dan sejuta galau yang membias kabut
Mendung turun satu-satu
mencipta segaris bisu lalu diam-diam menjelma sunyi
Bahkan sepi merajai ruang antara kita
mencerabut uluran tangan, menepikan pandang teduh itu
Dalam segala resahmu ada cintaku
Pada segala keluhmu ada basuh rinduku
Tiap tetes embun matamu tercurah pula sayangku
Maka mengapa mesti menyerahkan mentari pada sang senja
sementara dalam tiap desah nafasmu ada dekap kasihku
Thursday, May 05, 2005
Jendela
Mentari sore meriap warna, bisiknya menerpa sadarku dan larik-larik huruf di tanganku
Pucuk rerumput melembut dikecup semilir rasa, mencipta ruang penuh makna
Kekasih, aku di sini menujumu
Saturday, March 19, 2005
Asa
Karena sesungguhnya kehidupan punya caranya sendiri untuk menunjukkan pada dirimu
Bahwa kau akan menemukan sesuatu teramat istimewa di luar sana
Tak peduli berapa lama waktu yang kau butuhkan untuk mencapainya
Tak peduli seberapa letih dirimu meretas langkah ke arahnya
Ia akan selamanya berada di sana, menanti tangan-tangan mungilmu mendekapnya
Maka tersenyumlah, tengadahlah, melangkahlah, berlarilah!
Bersama segenap jiwa semesta yang mencintaimu, sungguh kau akan meraihnya
Saturday, October 23, 2004
Pada Sebuah Rumah
aku menemukan diriku pada sebuah rumah:
tumbuh, tertawa, sepatah-patah melangkah pada tahun-tahun pertama
untuk kemudian dilepaskan ke dunia
aku mengikatkan ujung taliku pada sebuah rumah:
sementara ujung yang satu kubawa berkelana
suatu saat kugulung satu-satu untuk menemukan jalan pulang
aku menuntaskan rinduku pada sebuah rumah:
pada rasa memiliki, pada rasa kehilangan, pada bingkai-bingkai kenangan
yang terserak antara ada dan tiada
meski jauh dan melelahkan rupa-rupa perjalanan
aku tak pernah lupa pada sebuah rumah:
tak akan pernah mampu aku berumah dalam pengembaraan dan keterasingan
pada akhirnya, betapa ingin aku segera melabuhkan asa pada sebuah rumah:
yang tersandar pada sebidang bahu yang kukuh
untuk bersama meraih rumah tertinggi di sisi-Nya
Tuesday, October 19, 2004
Lost In Space
Pernahkah kau melihat gelisah berjela-jela di bawah kakimu?
Pernahkah kau menemui asa tengah termangu menunggu waktu yang entah sedang di mana; sementara asa makin lama makin tergugu?
Pernahkah kau merasa pagi begitu sunyi hingga membuatmu merasa telah lama mati?
Pernahkah kau menyaksikan kuncup mawar merah merekah penuh indah,
lalu tiba-tiba darinya menetes peluh berdarah-darah?
Pernahkah kau menatap mentari yang menghangat, kian memanas,
untuk kemudian menghanguskan korneamu?
Lalu pernahkah kau mencoba lari dari segalanya:
menusuk-nusuk, menghujat, menuduh, menuntut?
Aku pernah
Ah, tidak: aku bahkan sedang mengalaminya
Dan aku muak karenanya
Thursday, October 14, 2004
...
Aku marah lewat raungan keras kemudi gas melonjak-lonjak
Aku memaki lewat raut kebencian dan tatap berapi
Aku lari lewat hentakan alas kaki dan lesatan roda kendara
Aku pergi tanpa peduli sesiapa
Aku memberontak
Dalam diam
Cinta
Adakah berpaling sedikit saja?
Gelegak rasa tepiskan nurani
Sehangat senyum mentari namun semu bak fatamorgana
Adakah berpaling sekejap mata?
Senandung lirih pujangga menjelma nyanyian dewa-dewi
Menyambut rekahnya kelopak bunga palsu
Adakah berpaling sekecap rasa?
Berpeluh darah, berderai air mata
Segala tak ada guna, cuma sia-sia
Limbung tanpa arah
Kontemplasi tiada orientasi
Indah tapi salah
Monday, October 11, 2004
Rindu Pada Rabb-ku
Tik-tak jarum hidup sayup tertatih
Reyot namun telah dalam tertoreh
Meninggalkan ukiran kebahagiaan maupun guratan kepedihan
Pada wajah keriput yang bersinar
Telah lama aku mencumbui kehidupan, kataku
Jatuh bangun dan kadang tersaruk melangkah
Tapi aku bahagia dan memaknai, kataku
Karena aku hidup bersama Rabb-ku dan kekasih-Nya
Helai-helai benang yang dulu terjalin kini terurai
Terawang mata dan senyum lembut sapa kilau sang sutra
Namun tiada tertekuk saat sambut yang kusut
Niscaya semua ada artinya
Kala helai terakhir tecerabut
Kupastikan mentari perlahan tenggelam
Dan aku akan pulang
Karena rindu mengalirkan air mata dan meringankan jiwa
Saturday, October 09, 2004
Subscribe to:
Posts (Atom)