Showing posts with label hanif. Show all posts
Showing posts with label hanif. Show all posts

Thursday, May 08, 2014

Hanif Berenang

Ada satu cerita menarik dalam usahaku memperkenalkan Hanif kepada aktivitas berenang. Sejak kecil ia tampak trauma menyentuh air ketika diajak ke pantai atau kolam renang. Padahal ketika usianya beberapa bulan dulu, ia suka bermain air di dalam kolam karet yang kami belikan. Aku sempat bertanya-tanya, apa gerangan yang membuatnya sedemikian takut, bahkan saat dikeramas pun sampai menjerit-jerit? Mengingat kembali perjalanan hidupnya, rasanya aku tahu kejadian apa yang membuatnya begitu. Jadi ketika usia Hanif 1 tahun 4 bulan, pada kunjungannya yang kedua ke pantai Pangandaran, mukanya sempat terciprat air ombak. Ia menangis tentu, tapi aku tak mengira kejadian itu membekas dalam memorinya menjadi sesuatu yang menakutkan.

Oktober 2009, terciprat ombak di Pangandaran

Beberapa tahun setelah itu, ketika ia sudah masuk ke Playgroup dan TK, ada acara berenang rutin tiap bulan. Jangankan nyemplung, mendekat pinggiran kolam renang pun ia tak sudi. Beberapa kali aku ajak ke kolam renang saat weekend, reaksinya masih sama. Bahkan ketika Daffa, sepupunya, asyik berenang-renang pun Hanif tampak tak tertarik. Ini menjadi PR tersendiri buatku, mengingat aktivitas berenang adalah aktivitas olahraga favorit keluarga besar, dan skill berenang termasuk skill yang sunnah untuk diajarkan kepada anak. Selalu dan selalu, aku berusaha mengajaknya masuk ke kolam renang, meskipun penolakan demi penolakan terus keluar dari mulutnya.

Hingga hari itu tiba. Di penghujung Juni 2012, ketika kami sekeluarga pelesir ke Cirebon dan menginap di hotel yang ada kolam renangnya, Hanif mau duduk di pinggir kolam renang dan mulai bermain air. Hal itu jelas mencengangkan, dan bagi kami itu sudah merupakan prestasi luar biasa bagi Hanif dalam mengatasi rasa takutnya. Kami biarkan ia bermain air sampai bajunya basah, sambil tak lupa diberi apresiasi atas keberaniannya bersentuhan dengan air.

Juni 2012, bermain air di kolam renang hotel

Awal Oktober 2012, resmi sudah Hanif mau nyemplung ke kolam renang. Ia tertawa bangga sambil menunjukkan keberaniannya mencelupkan kepala ke dalam air. Masya Allah, betapa gembiranya hati ini. Meskipun demikian, ia masih ogah-ogahan untuk belajar berenang. Masih kebanyakan ngeles-nya hehehe. Akhirnya kami memutuskan, anak ini sebaiknya belajar berenang lewat les berenang saja. Mungkin ia bakal lebih disiplin bila diajari oleh guru beneran.

Oktober 2012, pertama kali berani nyemplung di kolam renang :)

Akhirnya, sudah sebulan ini Hanif ikut les berenang bareng sepupunya. Latihan tiap Sabtu pagi di Rumah Sosis ini hampir selalu diselipi drama, entah menangis di awal karena ogah-ogahan nyemplung, atau menangis di tengah-tengah latihan karena disuruh mencelupkan kepala atau disuruh mencoba berenang tanpa pelampung (sambil dipegangi pelatih tentunya). Efeknya dilatih guru beneran, Hanif dilatih untuk disiplin dan berani. Adakalanya ia terpaksa diceburkan oleh pelatihnya hihihi.

Mei 2014, les berenang di Rumah Sosis

Namanya latihan berenang seminggu sekali, anak-anak pula, maka kemajuan latihan bisa dibilang berjalan lambat. Hanif masih belajar gerakan kaki gaya dada, kalau dicoba berlatih gerakan kaki dan tangan sekaligus, ia akan berteriak-teriak heboh, karena itu artinya ia harus melepas pelampung yang didekapnya erat. Yaa ra popo wis, meskipun lambat, setidaknya ia mau konsisten berlatih tiap minggu. Mengingat kisah perjuangannya mengatasi trauma terhadap air, kemajuannya saat ini sudah menjadi prestasi tersendiri di hatiku. Bravo, Mas Hanif... tetap rajin berlatih yaa :)

Thursday, July 12, 2012

Mas Hanif

kehadiran adiknya, mau tidak mau membuat hanif lebih mandiri,
dan subhanallah.. dia menjalaninya tanpa rasa cemburu dan iri.

ah, sulung bunda ini memang benar anak sholeh :-*

November 29 at 11:48pm via mobile

Ada yang meleleh di hati ini tiap kali mengingat kebaikan-kebaikan Hanif pada adiknya. Sejak Abi lahir ke dunia, sejauh ingatanku, tak pernah sedetikpun ada masa di mana ia merasa cemburu.

Tak ada rasa kesal karena merasa tersaingi oleh adiknya.
Tak ada pukulan jengkel, atau usikan jahil, apalagi dendam kesumat.

Yang ada hanyalah:
Rasa panik ketika melihat adiknya menangis, hingga ia sibuk berusaha menghibur dengan kalimat “sssshh sssshh” atau sibuk memanggil bunda atau eyang.
Rasa sayang teramat besar, hingga membuat dia mengelus atau mengecup adiknya tiap kali mendekat.
Rasa tak rela ketika tiba waktunya si adik tidur, karena ia masih ingin bermain-main bersama.
Rasa tanggung jawab sedemikian mengharukan, hingga bunda merasa aman menitipkan si adik padanya. Karena ketika bunda terpaksa meninggalkan si adik, meski cuma sebentar, Hanif akan menghibur, mengajak ngobrol, atau bernyanyi untuk si adik.

Status di atas kubuat beberapa hari setelah Abi lahir. Dan Hanif tetap demikian adanya sampai detik ini. Di usia Abi yang hampir delapan bulan, ia kini sudah mengerti bagaimana rasa sayang sang kakak terhadapnya, hingga ia akan melonjak-lonjak kegirangan tiap kali Hanif mendekat.

Doa tulus bunda untukmu, Hanif sayang. Tak pernah henti dilangitkan. Karena telah menjadi kakak yang paling hebat.








Tulisan terkait:

Saturday, May 05, 2012

[Hanif] Berbagi Mainan


Sudah lama aku merasa gerah dengan mainan-mainan Hanif yang banyaknya sampai tiga kontainer itu. Sebagian besar di antaranya adalah mobil-mobilan. Paling sebal kalau dia mulai menumpahkan kontainer dan membuat isinya berserakan. Makin sebal lagi kalau tiap minggu dia masih minta mobil-mobilan dan ayahnya dengan gampang menurutinya.

Sudah lama pula aku punya keinginan untuk mengajarkan Hanif sesuatu, bahwa ada anak-anak di luar sana yang tidak seberuntung dirinya yang berkelimpahan mainan. Dulu aku menawarinya komitmen: kalau ada mainan yang masuk, maka harus ada mainan yang keluar. Maksudnya ‘keluar’ di sini adalah menyumbangkan mainannya untuk anak-anak panti asuhan yang pernah kami kunjungi dulu. Namun, selalu saja dia menolak, mungkin masih merasa sayang dengan mainan-mainannya itu.

Akhirnya pagi tadi, setelah diawali dengan episode nangis-nangis, jadilah kami menjalani komitmen itu. Terharu rasanya Hanif mau diajak memilah dan menyortir mainannya: mana yang akan disimpan buat dirinya, mana yang sudah rusak dan perlu dibuang, serta mana yang akan disumbangkan ke panti asuhan. Setelah tersortir, mainan-mainan yang akan disumbangkan dimasukkan ke kotak, diselotip rapi, dan dimasukkan ke kantong plastik.

Menjelang siang, Hanif dan ayahnya siap berangkat. Satu agenda untuk ‘mengajarkannya sesuatu’ akhirnya terselesaikan. Semoga ke depan, Hanif tumbuh menjadi anak yang suka bersyukur, berbagi, dan berempati dengan kesusahan orang lain.