Showing posts with label fiksi. Show all posts
Showing posts with label fiksi. Show all posts

Monday, November 24, 2025

Repas

Lidya menoleh ke arah jam dinding. Sudah pukul enam sore. Dia harus bergegas merapikan rumah dan menyiapkan makan malam. Kalau Rendi pulang dari kantor dan mendapati semuanya belum beres, bisa habis Lidya kena marah. Sekadar omelan dan hardikan saja mungkin tak mengapa, tetapi repot urusannya bila disertai dengan kekerasan fisik seperti biasa.

Lidya membuka kantong-kantong belanjaan dengan terburu-buru. Pikirannya sibuk memikirkan menu apa yang akan dimasaknya. Cukup lama dia tadi termangu di depan rak-rak supermarket. Bukan karena mengingat-ingat daftar belanjaan, melainkan lebih banyak melamunkan nasibnya yang tak tentu arah.

Sejam kemudian didengarnya mobil Rendi memasuki garasi. Untung rumah sudah rapi dan beberapa menit lagi makan malam sudah siap. Lidya mengaduk sup krim dan menyendok sedikit untuk dicicipi. Dia harus memastikan rasanya pas dengan selera Rendi.

“Selamat malam, Sayang.” Lidya menyapa suaminya dengan suara yang dibuat seramah mungkin. Rendi menutup pintu dengan wajah masam. Tampaknya harinya tidak terlalu baik. Dijawabnya sapaan Lidya dengan dengusan kesal.

“Makan malam sebentar lagi siap,” lanjut Lidya, “Mas bisa mandi dulu.”

“Nggak usah nyuruh-nyuruh,” tukas Rendi dengan gusar. Jantung Lidya berdebar. Rendi berjalan ke arah kamar untuk membasuh diri, memberi kesempatan bagi Lidya untuk menata meja makan dengan cepat.

Beberapa saat kemudian mereka berdua sudah duduk di meja makan. Rendi menyantap makan malam dalam diam. Setelah makan mereka tandas, Rendi berkata, “Aku perhatikan tadi ada tarikan dana dari ATM cukup banyak.”

Tangan Lidya yang sedang membereskan piring kotor terhenti. “Ah iya, aku tadi belanja bulanan.”

“Belanja bulanan seharusnya tidak menghabiskan sebanyak itu.”

Lidya agak gemetar ketika membalas, “Ehm … anu … aku tadi membeli beberapa potong baju …”

“Kenapa tidak minta izin sebelumnya?” potong Rendi.

“Ehm, bajuku sudah banyak yang belel, Mas. Daster yang lama pun sudah banyak bolongnya.”

“Iya, kenapa tidak minta izin?”

“Maaf, Mas, tapi …”

“Kebiasaan memang kamu ini.” Rendi bangkit sambil menggerutu panjang pendek.

Lidya menghela napas lega ketika Rendi meninggalkannya. Dia melanjutkan membereskan meja dan mencuci piring-piring. Sungguh merana hidup dalam rasa was-was seperti ini setiap hari.

Selesai membersihkan dapur, Lidya beranjak ke kamar untuk sekadar menyelonjorkan kaki di atas kasur. Langkahnya terhenti di pintu kamar ketika melihat Rendi sedang memeriksa barang belanjaannya. Di tangan Rendi terlihat beberapa setruk.

“Dengan siapa kamu pergi sore tadi, ha?” Suara hardikan Rendi menggelegar memenuhi ruangan. Tangan Rendi dengan kasar menariknya masuk.

Lidya menggeleng takut, lalu membuka mulut, “Sungguh bukan dengan siapa-siapa.”

“Bohong!”

Telinga Lidya terasa pekak. Sesaat kemudian pelipisnya membentur tembok ketika tangan Rendi menempelengnya dengan kuat. Ia terjatuh.

“Lihat setruk ini,” kata Rendi sambil menyorongkan selembar kertas di depan wajah Lidya, “jelas-jelas tertera pembelian makanan di kafe untuk dua orang!”

Lidya meringkuk di pojok kamar dengan tubuh gemetar. Setetes darah menghias sudut bibirnya. Di depannya, Rendi berdiri menjulang dengan sikap angkuh.

“Aku … aku terlalu lapar tadi, Mas. Sudah lama tidak jajan di luar, jadi aku …”

“Bohong lagi! Nggak ada gunanya punya istri pembohong begini! Ayo ke sini kamu!” Rendi makin meraung. Wajahnya merah meledak marah ketika melihat Lidya beringsut mundur.

Istri? Masa tega dia perlakukan aku seperti ini jika aku masih dianggapnya sebagai istri, batin Lidya. Selama lima tahun pernikahan, hampir setiap hari bogem mentah Rendi melayang. Tak terhitung lagi berapa kali dia menyakiti Lidya secara verbal. Di manakah cinta yang mereka agungkan di awal pernikahan?

Lidya merasa tak lagi memiliki nilai di mata Rendi, selain hanya sebagai sasaran kemarahan belaka. Dia sungguh merasa tak berharga. Hatinya diliputi kecemasan tentang bagaimana hidupnya bisa saja berakhir di tangan suaminya sendiri.

Kuping Lidya terasa berdenging karena kepalanya pusing. Suara Rendi mulai tak fokus didengarnya. Lidya menepis ciut. Dia sudah lelah menumpuk takut. Kali ini dia harus memberanikan diri. Dia bangkit dan mendorong tubuh Rendi sekuat tenaga, lalu berlari ke dapur. Dia tahu di belakangnya Rendi mengejar dengan kemarahan menggelegak. Dia harus bergerak secepat kilat.

Malam menjelang; bulan sabit menggantung di langit berselimut awan. Keributan beberapa saat lalu tak lagi terdengar. Rumah besar itu diliputi sunyi. Sesosok tubuh terbujur kaku di lantai, di dadanya tertancap pisau dapur. Lidya menyeringai.


Tulisan ini diikutsertakan dalam Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan November yang bertema “Di Luar Logika”.

Wednesday, September 10, 2025

Kala Senja

Ilustrasi senja di ibu kota, diambil dari sini

Aku menatap ke luar jendela kaca selebar dinding yang membatasi pandanganku dengan langit Jakarta. Jauh di bawah sana, aku dapat melihat orang yang berjejalan di halte Transjakarta sedang menanti bus yang akan membawa mereka pulang ke rumah masing-masing. Sementara di ufuk barat, mentari tengah bersiap-siap menutup hari, pendar ronanya membias awan.

Sejak dulu aku memang pencinta senja. Selalu ada aura magis yang menyelimuti bumi ketika semburat merah petang menghiasi langit. Namun, inspirasi senja tak lagi dapat kureguk bebas sejak aku pindah ke ibu kota, mengingat setiap sore aku masih terkurung di ruang kerja.

Beberapa penghuni kantor di lantai delapan ini melambaikan tangan padaku dari balik kaca transparan. Meskipun aku tak dapat mendengar ucapan mereka, dari gerak bibir mereka aku paham bahwa mereka tengah berpamitan. Beberapa dari mereka akan segera bergabung dengan keriuhan halte di bawah, yang lain akan meramaikan jalanan ibu kota dengan mobil pribadi, ojol, atau taksol, sebagian larut dalam gegas untuk menumpangi commuter line.

Kehidupan ibu kota memang keras: tiap orang berkejaran dengan waktu mulai subuh hingga malam, mengorbankan waktu, tenaga, bahkan kesehatan untuk mengejar mimpi dan pundi-pundi rezeki. Mungkin hal itu jugalah yang menjadi alasan keberadaanku di sini.

“Belum pulang, Kak?” Sebuah suara yang diikuti dengan paras jelita muncul dari balik pintu. Rara, mahasiswi yang sedang magang di kantor ini, menatapku dengan pandangan bertanya. Di tangannya ada setumpuk berkas, raut wajahnya memancarkan kelelahan.

“Dokumen yang harus kuperiksa?” Aku mengedikkan kepala ke arah berkas-berkas itu. Dia mengangguk sambil tersenyum, kemudian berjalan menuju sudut meja. Dia sudah hafal di mana dia harus meletakkan benda-benda.

“Ra, jangan capek-capek ya. Sudah magrib, pulang sana.” Aku memandang gadis itu. Meskipun letih, semangat masih jelas tergambar di wajahnya. Sama seperti yang banyak kutemui ketika aku melangkahkan kaki di bilangan Sudirman ini, kompleks perkantoran bergengsi yang menjadi tempat kerja impian banyak anak muda.

“Kak, tadi aku ketemu Pak Evan. Beliau titip pesan, kalau pekerjaan sudah selesai, katanya Kakak disuruh menghubungi beliau,” kata Rara sebelum menghilang dari balik pintu. Aku mengangguk, lalu kembali menekuri layar laptop. Namun sejujurnya, pikiranku sudah melayang ke mana-mana.

“Selamat pagi, perkenalkan nama saya Adrian Evano. Panggil Evan saja, ya,” begitu kalimat yang diucapkannya ketika kami pertama kali bertemu.

“Azalea Pratista, dipanggil Lea,” balasku berusaha sopan.

Sebagai penghuni baru di kantor ini, cukup sulit bagiku untuk langsung menghafalkan nama orang-orang yang kutemui, tetapi tidak dengan sosoknya. Perannya selaku manajer health, safety, and environment di perusahaan manufaktur tempatku bekerja cukup menonjol. Kepribadiannya ramah dan peduli, pekerjaannya selalu rapi, dan dia senantiasa tegas dan berwibawa dalam menjalankan tugasnya sebagai penyambung informasi perusahaan dengan pihak HSE di lokasi proyek maupun di unit lain.

Menurut kasak-kusuk Rara, tak sedikit perempuan di kantor ini yang menaruh hati pada Evan. Aku tentu tidak heran, mengingat ketampanannya memang berbanding lurus dengan prestasinya. Sebagian dari mereka sering mengajaknya makan siang atau sekadar nongkrong di kedai kopi, tetapi dia selalu menampik dengan alasan sibuk bekerja. Aku hanya bisa terkikik ketika Rara menceritakan itu semua. Kuanggap itu sebagai hiburan, karena memikirkan laki-laki adalah hal paling terakhir yang ada di pikiranku.

Bertahun-tahun aku menenggelamkan diri dalam pekerjaan. Aku berusaha menyibukkan diri dengan beban kerja dan perjalanan dinas, membangun karier, serta berusaha mandiri untuk menghidupi diri, Ibu, dan adikku di Bandung sana. Malam demi malam yang dingin di Kota Kembang kulalui dengan mengambil lembur, berharap kesibukan kerja akan mampu mengusir sepi dan lara hati.

Enam tahun lalu, cintaku dihancurkan berkeping-keping oleh seorang lelaki. Senja kala itu, aku memergokinya tengah berjalan beriringan dengan seorang perempuan, lengkap dengan belaian mesra dan gandeng tangan yang erat. Peristiwa itu membuat pamor senja sedikit tercoreng di mataku.

Aku tak pernah menceritakannya pada Ibu. Yang beliau tahu, aku memutuskan pertunangan dan membatalkan rencana pernikahan secara tiba-tiba. Beliau tak perlu tahu betapa porak-porandanya hatiku, sama seperti ketika Bapak meninggalkan beliau bertahun-tahun silam.

Promosi menjadi manajer quality assurance di kantor pusat membawa perjalananku sampai ke Jakarta. Di satu sisi, aku merasa senang karena dapat membungkus luka yang tersisa dan kabur dari pertanyaan Ibu yang senantiasa menghujani tentang kapan aku akan mengakhiri masa lajang. Namun, di sisi lain aku juga pilu karena merindukan Ibu, adikku, dan kota kelahiran. Tinggal di Jakarta seringkali menggerus kewarasan. Aku merasa tidak punya waktu untuk sejenak melambat dan kadang hal itu membuatku merasa sedikit gila.

“Kamu tidak suka Jakarta?” tanya Evan pada suatu siang. Saat itu aku sedang berjongkok memeriksa ban mobil kantor yang tiba-tiba kempes dalam perjalanan kami menuju Karawang untuk mengecek site pendirian pabrik baru. Perjalanan itu adalah kesekian kali aku bekerja sama dengannya dalam satu tim.

Aku menoleh sekilas ke arahnya, sebelum berseru kepada sopir, “Pak, panggil bengkel saja, ya. Tampaknya ban mobil bocor.”

Evan mengulangi lagi pertanyaannya ketika kami duduk di bangku sebuah warung sembari menanti pihak bengkel datang. Aku memandangnya. “Apa yang membuatmu berpikir begitu?”

“Entah. Kulihat kamu selalu tinggal di kantor sampai larut malam. Datang paling awal, pulang paling akhir. Nggak pernah ikut jalan sama teman-teman,” jawabnya.

Aku bertanya lagi, “Apa yang menarik dari sebuah kota yang panas, bising, berdebu, dan penuh polusi?”

Dia tertawa. Tangannya mengulurkan sebotol teh dingin. “Minumlah dulu, wajahmu merah karena kepanasan.”

Aku membuka botol dan meneguk secercah kesegaran. “Aku kangen Bandung,” kataku.

“Yah, setiap orang dihadapkan pada risiko dalam setiap langkah kehidupan. Tinggal di Bandung mungkin lebih nyaman, tapi karirmu akan begitu-begitu saja. Seperti halnya manajemen risiko keselamatan dan kesehatan kerja, semua potensi bahaya dan risiko dikalkulasi, lalu dimitigasi dan dikendalikan. Ada risiko yang masih bisa diterima. Nah, itu yang kita kendalikan dampaknya.”

Aku memandangnya sambil setengah tertawa. “Jadi kita sedang kuliah tentang manajemen risiko di tengah jalanan desa antah berantah?”

Evan terbahak hingga kelihatan susunan giginya yang rapi. “Bukan begitu. Maksudku, dalam hidup ini ada banyak hal yang berjalan tidak sesuai harapan. Itu yang disebut risiko kehidupan. Tapi di balik itu semua, tentu ada hikmah dari promosimu ke Jakarta. Karier naik, gaji juga mengikuti kan?”

“Beban kerja dan tanggung jawabnya juga tidak sedikit,” kilahku.

“Oh, itu jelas,” seru Evan, “tapi kamu juga bisa mencari hal-hal yang membahagiakan dari kehidupan Jakarta. Sebuah alasan di mana suatu hari nanti kamu akan merasa beruntung telah berada di sini.”

Aku hanya mengangkat bahu, belum sepenuhnya menyadari makna kalimatnya.

Proyek pendirian pabrik baru itu memakan sumber daya yang tidak sedikit. Pekan demi pekan kami habiskan untuk mengawasi perencanaan dan pelaksanaannya. Rapat-rapat berlangsung maraton hingga larut malam. Pada suatu akhir hari yang melelahkan, Evan mengajakku berjalan menyusuri Jalan Sudirman di waktu petang. Aku sendiri tak tahu pasti mengapa dengan mudah aku mengiyakan ajakannya.

“Kamu tahu kenapa aku suka Jakarta?” tanya Evan. Aku menggeleng.

Dia melanjutkan lagi, “Kota ini adalah simbol perjuangan dan perubahan. Dinamikanya memang keras, tapi somehow membuat orang-orang di dalamnya menjadi tangguh. Siapa yang tidak bergegas akan tergilas, itulah cara kehidupan mengajari kita akan makna kerja keras.”

Aku manggut-manggut. Setelah sekian lama aku tak merasakan keindahan senja, sore itu menjadi semacam muara bagiku untuk kembali menikmati kemolekannya. Jakarta yang ramai dan bising seakan memendar dalam cahaya jingga. Berkawan sepoinya angin, aku mengurai rindu. Bersama temaramnya sinar surya yang kembali ke peraduan, hatiku menunduk khusyuk dalam syahdu.

Aku menarik napas dalam dengan mata terpejam. “Sudah lama aku tak merasakan indahnya senja seperti ini.”

Ketika aku membuka mata, kudapati Evan tengah menatapku. Binar sandyakala memantul dari matanya. “Kamu suka senja?”

Aku mengangguk sambil berucap, “Pada senja aku menemukan damai. Membuatku berpikir positif, bahwa apa pun yang kulalui hari itu memiliki akhir yang indah sehingga rasa syukurlah yang kurasakan saat menutup hari. Sayangnya aku tak bisa sering-sering menikmati senja sekarang ini. Pekerjaanku tak pernah selesai sebelum magrib.”

Evan terdiam cukup lama. Sejurus kemudian dia berkata, “Oke, mulai besok, kalau pekerjaanmu belum selesai, kita bawa laptopmu ke rooftop. Kamu bisa rampungkan di sana sambil melihat senja. Ada bangku-bangku di ujung helipad yang bisa kita pakai duduk.” Aku terbelalak. Laki-laki ini sungguh penuh kejutan.

Sepanjang jalan kami mengobrol tentang banyak hal. Untuk pertama kalinya setelah enam tahun, aku tak lagi membenamkan diri dalam lubang tak berkesudahan. Kupikir kehidupan Jakarta yang berkejaran, ternyata hati dan pikiranku yang kelelahan. Malam itu, mata dan hatiku terbuka. Semuanya terlihat berbeda.

Pada para pekerja yang tengah menanti bus untuk pulang, aku melihat binar harapan karena sebentar lagi mereka akan bersua keluarga. Beberapa orang yang berlari melintas di area Senayan dan sekelompok orang yang bersorak-sorak di stadion softball mengajariku bahwa seberapapun kerasnya bekerja, kita tetap harus meluangkan waktu untuk self-care. Pada orang-orang yang berkumpul di kedai kopi atau tempat makan, aku memahami pentingnya membangun relasi dan kehangatan di dunia nyata.

Senja hampir saja berlalu ketika ketukan halus terdengar di pintu dan membuyarkan lamunanku. Kudongakkan kepala dan kulihat Evan sudah berdiri di sana dengan senyum yang memesona. “Rooftop?” tanyanya.

Aku tertawa sambil menggeleng. “Rasanya tak perlu, pekerjaanku sudah selesai.”

“Oke, kalau begitu … nasi goreng Jalan Sabang?” tanyanya lagi.

Aku mengangguk dan membalas senyumnya. Setelah membereskan berkas-berkas yang tadi kuperiksa, aku mematikan laptop dan menyambut uluran tangan Evan. Tangan itulah yang menggenggam jemariku dengan hangat di atas jembatan Semanggi, ketika kami menikmati kerlap-kerlip lampu ibu kota pada suatu malam selepas menyusuri Jalan Sudirman. Aku menatap matanya lekat. Kurasa aku sudah menemukan alasan yang membuatku merasa beruntung telah berada di sini.

Tulisan ini diikutsertakan dalam Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan September yang bertema “ROMANTISME”.

Tuesday, April 02, 2024

Eccedentesiast


“Iya, Bu. Sebentar lagi aku ke rumah sakit. Ini masih rampungin kerjaan dulu.” Aku menutup sambungan telepon dari Ibu, lalu menghela napas.

Ini kali kedua bulan ini Bapak dirawat karena penyakit jantungnya. Biaya rumah sakit yang cukup fantastis memang ditanggung asuransi, sayangnya tidak semuanya. Beberapa jenis obat yang mahal harus ditebus dari kocek sendiri. Aku membuka aplikasi mobile banking dan mengecek saldonya. Seharusnya masih cukup, batinku.

Mataku masih tertumbuk pada layar ponsel ketika notifikasi pesan dari istriku masuk. “Pa, tagihan uang buku Kakak dan Adik sudah ada, nih. Paling lambat dibayar tanggal dua puluh,” tulisnya. Aku menghela napas lagi.

Sebagai kepala keluarga, aku harus berlaku setegar karang. Adakalanya tubuh ini remuk redam dihempas kesibukan dan kebutuhan, tetapi roda kehidupan harus terus kukayuh dengan lancar. Pergi dari rumah saat pagi buta dan kembali ke rumah kala langit gelap, membuatku rindu akan sosok istri dan anak-anakku. Aku sedih tak bisa meluangkan banyak waktu untuk mereka. Namun, aku tentu akan lebih sedih jika tak mampu menghadirkan kehidupan yang layak.

Setiap hari aku pulang dalam keadaan letih, tetapi keluargaku tak perlu tahu segala lelah yang teramat sangat. Tubuh selalu berteriak meminta rehat. Pusing kepala kadang terasa menyengat. Namun, lebih sering kuabaikan saja karena aku lebih memilih tertawa dan bercanda dengan keluarga.

Seolah semua itu belum cukup, sebagai anak tunggal tentu aku harus memikirkan kehidupan orang tuaku. Sandwich generation, mereka bilang. Suatu keadaan yang memaksaku lebih keras bekerja untuk memenuhi tanggung jawab pada keluarga.

Siang itu suasana kantor seperti prahara, tetapi aku tak bisa ambil peduli. Akan kupikirkan itu nanti. Aku harus segera ke rumah sakit untuk menebus obat Bapak. Jika tidak segera diminum, Bapak akan merasakan sakit di dadanya lebih lama. Aku menyetop taksi dengan tergesa-gesa.

Malam telah larut ketika aku tiba di rumah. Penat melanda seluruh tubuh, tetapi kuurungkan niat beristirahat karena istriku meminta waktu untuk bercengkerama berdua. Kukabulkan saja permintaan itu, sambil tak lupa kuhadirkan senyum termanis untuknya. Aku tahu dia juga lelah mengurus rumah, sementara dulu kuminta dia dari ayahnya bukan untuk kuajak hidup susah. Istriku yang bermata pijar itu tak perlu tahu segala kendala. Tak juga berita PHK yang siang tadi kuterima.

Saturday, August 06, 2022

Sadrah

Aku menatap lelaki di hadapanku. Dia baru saja menutup laptop di pangkuanku, mengambilnya, lalu meletakkannya di meja. Gerakannya tegas, tetapi sorot matanya teduh tanpa amarah.

“Sudah kubilang untuk istirahat, kan,” katanya kemudian sambil tersenyum. Dia mengambil langkah panjang ke jendela di sudut kamar dan menyibakkan tirai. Seberkas sinar mentari jatuh di wajahku; aku mengernyitkan mata.

“Ups, maaf … silau ya?” Dia tertawa renyah sambil mengacak rambutku pelan ketika sudah sampai di sisi pembaringan. Tangannya dengan sigap membereskan berkas-berkas yang bertebaran di kasur.

“Istirahat dulu sampai sembuh. Oke?” Dia menatapku tegas. Aku menarik napas dalam-dalam sambil menyandarkan kepala ke bantal. Baiklah, aku menyerah.

Dua hari lalu aku kolaps di kantor. Mereka membawaku ke sini dan dokter menyuruhku beristirahat selama beberapa hari karena aku mengalami hipoglikemia dan kadar hemoglobinku sangat rendah.

“Pengen makan apa?”

Aku menggeleng. “Nggak pengen apa-apa.”

“Aku beliin apa saja yang kamu mau. Makanan rumah sakit nggak terlalu menggugah selera, kan?” Dia menunjukkan layar aplikasi pesanan antar dengan antusias.

“Nggak usah, Ben.”

Kupandang Beni dengan lekat. Aku mengenalnya setahun lalu di sebuah gym tempat dia menjadi personal trainer di sana. Saat itu hampir tiap hari aku mampir ke gym untuk mengurai pikiran yang ruwet, tanpa tahu akan berkenalan dengan sosoknya yang begitu tulus. Aku bukan kliennya, tetapi dengan riang dia berbagi kiat bagaimana gerakan yang benar, berbincang tentang nutrisi dan gaya hidup sehat, hingga akhirnya kami akrab satu sama lain dan sering pergi bersama.

Beberapa bulan lalu dia menyatakan cintanya. Menjalin hubungan serius dengan seseorang adalah hal terakhir yang ada dalam benakku, maka dengan berat hati aku menolaknya. Aku menyukainya, tetapi ada banyak ketakutan dari masa lalu yang masih memberati pundakku. Hari demi hari berlalu tanpa ada yang berubah dari dirinya: masih tulus dan peduli, juga masih bersikap penuh perhatian.

Seorang petugas katering masuk ke dalam kamar dan membuyarkan lamunanku. “Silakan sarapannya, Bu.”

Beni dengan serta merta meraih nampan dan membuka plastik yang menutupi permukaan piring. “Aku suapin ya, Ta?”

“Belum lapar, Ben.”

“Ta, nggak boleh gitu. Nanti gula darahnya nge-drop lagi kalau kamu nggak makan.”

“Nanti saja, Ben. Nanti aku makan sendiri.”

Beni menyentuh daguku pelan, lalu menghadapkan wajahku tepat di depan wajahnya. Mata kami berserobok.

“Jangan ngeyel terus, Ta,” katanya dengan lembut, “nanti nggak sembuh-sembuh.”

Aku melihat kasih terpancar dari bening mata coklatnya. “Kenapa masih betah ngurusin aku, Ben? Kamu kan tahu betapa keras kepalanya aku.”

Beni meraih tanganku dan menggenggamnya. “You know why. Sudah, sekarang jangan ngeyel lagi. Aku suapin, ya?”

Aku mengangguk pasrah.

***

Aku berlari dengan terengah-engah. Bayangan laki-laki itu terlihat ketika aku menoleh. Kupercepat langkah sambil menengok ke kiri dan ke kanan mencari tempat persembunyian. Aku mengusap sudut bibirku yang berdarah. Ah, sial. Dia lebih cepat. Sudah tinggal beberapa meter saja dia di belakangku.

“Mau lari ke mana kau sekarang?” serunya sambil tertawa keras. Bulu kudukku berdiri. Dalam sekali loncat dia berhasil menarik bajuku. Aku terbanting ke jalan.

Tiba-tiba kepalaku terasa sakit sekali. Ternyata laki-laki itu menempelengku dengan keras sampai aku terjatuh. Dijambaknya rambutku, lalu dibenturkannya kepalaku ke aspal. Dia memegang pergelangan tanganku dengan kencang. Napasku megap-megap.

“Ta! Bangun, Ta!” Aku mendengar suara Beni samar-samar. Kubuka mata dengan berat. Napasku masih memburu. Ketika aku sadar sepenuhnya, kudapati tangan Beni-lah yang memegang pergelangan tanganku. Kamar rumah sakit ini terasa dingin dan gelap.

“Aku bermimpi?” Kulihat pandangan khawatir di mata Beni. Dengan lembut dihapusnya air mata dari sudut mataku.

“Mimpi apa sampai menangis begini?”

Aku tak menjawab, tetapi balik bertanya, “Pukul berapa sekarang?”

“Pukul sepuluh malam. Aku tadi ke sini sepulang dari gym.”

“Kepalaku pusing sekali.”

Pandangan Beni tampak prihatin. “Mereka bilang, kalau Hb-mu tak kunjung naik, besok harus transfusi.”

Aku mendesah pelan dan mencoba duduk. Beni sigap membantu.

“Aku capek, Ben.”

“Ta …”

“Aku lelah dengan semua ini. Aku pikir dengan menyibukkan diri pada pekerjaan, aku akan bisa lupa.” Aku tergugu.

Beni merengkuhku. “Bebanmu terlalu berat, Ta. Justru dengan rapat-rapat sampai malam, mengejar tender proyek sampai habis-habisan, kamu menghancurkan badanmu sendiri. Padahal yang mengganggumu itu ada di pikiranmu.”

“Aku nggak tahu harus bagaimana, Ben. Bayangan dirinya terus mengejar.”

“Hei, dengerin aku. Laki-laki itu nggak bisa menyakitimu lagi.”

Bahuku terguncang di dada Beni. Menjadi korban KDRT selama bertahun-tahun benar-benar menyisakan kepedihan. Bukan hanya tilas patah tulang, rahang yang bergeser, atau bekas luka jahitan, melainkan juga trauma psikologis berkepanjangan meskipun aku sudah lama tidak bertemu mantan suamiku.

Beni membiarkanku menangis di pelukannya. Ketika akhirnya aku tenang, dia berkata, “Aku nginep di sini ya malam ini.”

Sambil menghapus sisa-sisa air mata, aku kembali berbaring. Beni membetulkan letak selimutku, mengecup keningku, lalu melangkah ke arah sofa dan tidur meringkuk di atasnya. Aku merasa lebih nyaman melihat dia ada di situ, tetapi masih ada hal yang mengganjal di hatiku.

***

Aku sedang mengganti-ganti saluran televisi dengan bosan ketika Beni masuk ke kamar. Kausnya basah oleh keringat.

“Pas aku bangun tadi kamu masih tidur, jadi aku jogging dulu sebentar,” katanya.

“Sudah kuduga,” sahutku, “pagi yang cerah ini memang sayang untuk dilewatkan begitu saja.”

“Dokter sudah visit?”

“Sudah.”

“Lalu apa dia bilang?” tanya Beni dengan tatap penasaran.

“Hb-ku sudah naik. Sudah di range normal, jadi nggak perlu transfusi. Hari ini sudah boleh pulang.”

“Syukurlah,” katanya sambil tersenyum, “habis ini harus makan yang benar, banyak istirahat.”

Dia duduk santai di atas sofa sambil menenggak air mineral. “Hari ini aku ada janji dengan klien pukul sembilan. Mungkin selepas makan siang aku baru bisa kemari. Check out-nya nunggu aku saja ya, nanti aku yang urus-urus.”

Aku berdehem membersihkan tenggorokan. “Ben, sebenarnya ada yang ingin aku bicarakan.”

“Hmm?” Pandangannya masih mengarah ke dalam tas.

“I’ve been thinking … about us.”

Gerakan tangan Beni terhenti. Dia mendongakkan kepala dan menatapku tajam. Aku merasa senewen.

“Ada apa?” Kali ini nadanya curiga. Aku bahkan tak berani menatapnya.

“Ehm … Ben, aku rasa kamu harus berhenti ngurusin aku.”

“Kenapa? Kamu merasa nggak nyaman?”

“Oh, bukan,” tukasku cepat, “hanya saja … aku banyak merepotkan.”

“Nggak sama sekali.” Dia mengernyit.

“Dengar, Ben. You’re a good person. Banyak gadis-gadis di luar sana yang lebih pantas buat kamu. Kenapa kamu masih bertahan ngurusin seorang janda yang bahkan …”

“Ta! Kamu ngomong apa sih?” Dia berjalan ke arahku dan duduk di tepi tempat tidur.

“I’m such a burden, Ben. I’m torn. I’m a mess. Mungkin sebaiknya kita sampai di sini saja. Kamu berhak punya kehidupan yang lebih baik.” Mataku mulai berkaca-kaca.

Beni menghela napas. “Bukankah kita pernah ngobrol soal ini? Aku sayang sama kamu, Ta. Kita akan hadapi ini sama-sama, oke?”

Aku menggeleng. Kusentuh lengan Beni pelan. Lengannya yang berotot itu dulu membuatku takut. Membayangkan dihantam dengan keras atau dibenturkan ke tembok oleh lengan sekuat itu membuatku terintimidasi olehnya di awal masa pertemuan kami. Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Kedua lengannya yang kokoh itu seringkali memberiku perlindungan dan kehangatan, tetapi sungguh aku tidak cukup baik untuknya.

Mata Beni menatapku serius ketika dia berkata, “Menikahlah denganku, Ta …”

Aku tertegun. Laki-laki ini sungguh unbelievable. Saat aku ingin memutuskan hubungan dengannya, dia malah melamarku.

“Ben …”

“Listen to me. Aku nggak peduli seperti apa masa lalumu. Yang aku tahu, aku pengen habiskan sisa hidupku sama kamu. Selalu ada buat kamu, lindungi kamu. Please, Ta … jangan tolak aku terus. Beri aku kesempatan untuk membahagiakanmu.”

Aku terisak pelan. Buliran bening mengalir dari kedua mataku. Beni menghapusnya dengan lembut lalu memelukku erat sambil berbisik, “Jangan pernah merasa tidak pantas. You really mean the world to me.”

Sinar mentari pagi menari-nari masuk ke dalam ruangan, menembus vitrase tipis sampai ke hatiku. Mungkin memang sudah saatnya aku berhenti berlari. Dalam dekapan Beni, aku berpasrah diri dan mulai memahami bahwa Tuhan sedang memberiku kesempatan kedua untuk mencinta.


Tulisan ini diikutsertakan dalam Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan Agustus yang bertema “Cerita Cinta”.

Monday, March 21, 2022

Sekeping Asa Dalam Diam (Bagian 2)

(kisah sebelumnya)

Aku menyetop mobil angkutan kota dan naik dengan terburu-buru. Kali ini sambil mendekap erat tas besarku agar isinya tak lagi terburai. Allah, mengapa harus bertemu dengan laki-laki luar biasa itu dalam kondisi tak karuan begini? Bercucur dan beraroma keringat, bahkan menggembol bawaan yang membuat repot. Aku memandangi jalanan yang ramai dari balik jendela. Kurasakan ada sesuatu yang hangat menjalari hatiku. Entah mengapa, sekelibat rasa menyelinap keluar dari balik pintu ruang hati yang dulu pernah kututup rapat-rapat. Membawa ingatanku pada obrolan-obrolan ringan yang terjalin dalam pertemuan dengan kawan-kawan kampus beberapa tahun belakangan ini.

Mereka berkisah padaku, laki-laki luar biasa itu telah berubah menjadi lebih luar biasa dalam perjalanan hidupnya. Karir mentereng, posisi tinggi di perusahaan besar, bahkan mulai merintis perusahaan sendiri. Aku tak heran, sejak dulu dia memang istimewa. Berada di permukaan bumi mana pun, sebuah berlian tetaplah berlian. Kawan-kawan tak terlalu banyak bercerita tentang keluarganya. Hanya kudengar sekilas kalau dia sudah menikah.

Lalu mengapa aku bertemu dengannya hari ini di Pasar Baru? Jika benar kesuksesannya sudah seperti itu, mengapa dia tak berbelanja di mal mewah saja? Aku menerka-nerka sendiri, barangkali dia masih sosok sederhana seperti dulu. Kekagumanku makin membuncah. Pasti beruntung sekali istri yang kini mendampinginya.

Dering ponsel membuyarkan lamunanku. Cepat kuangkat, karena itu dari pemilik rumah kontrakan yang kusewa. Tak perlu lama mendengarkan semburan kekesalan di seberang untuk mengerti bahwa tenggat perpanjangan yang diberikannya semakin dekat. Aku mendesah. Semoga hasil penjualan baju bulan ini memenuhi target, sehingga aku bisa membayar beberapa tunggakan yang sudah jatuh tempo. Hidup tak pernah mudah untuk seorang janda beranak tiga sepertiku. Tanpa pekerjaan tetap, harus kusambung hidup hari demi hari dengan perjuangan.

Matahari makin tergelincir ke arah barat. Jalanan mulai dipenuhi dengan penjaja minuman dan kudapan untuk berbuka puasa. Sementara mobil angkutan kota terus melaju dengan aku yang sibuk berhitung hutang di dalamnya.

***

Mata Adit mengernyit. Dipandangnya sebaris tulisan di atas kertas yang dipegangnya. Baru saja dia menutup perbincangan di telepon dengan seorang teman lama yang berhasil dihubungi. Sejenak dia tercenung. Teman itu menumpahkan semua kisah perempuan itu, memberangus semua penasaran dan menyisakan lintasan pikiran yang memenuhi benaknya. Jadi begitu rupanya, Allah menakdirkan kisah hidup perempuan itu sedemikian rupa.

Takdir Allah juga yang mempertemukan Adit kembali dengan perempuan itu, membuatnya menghadapi gelombang perasaan yang kembali datang. Gelombang rasa yang dulu ditenggelamkannya dalam masa-masa panjang meniti karir, menyibukkan diri dengan  berbagai kerja profesional. Dipandanginya lagi kertas itu lama. Bayangan istrinya yang bermata teduh melintas. Dia tak kuasa menolak perasaan yang baru tumbuh ini, tapi bagaimana dengan istrinya?

Adit meremas kertas itu dan melemparnya ke tempat sampah. Istrinya yang begitu baik, akankah tega dia kecewakan dengan keegoisannya? Ah tapi karena dia begitu salihah, barangkali saja dia akan mengerti. Adit memegang kepalanya yang mendadak pening. Segala pikiran yang berkecamuk membuatnya limbung tak tentu arah. Apakah ini jawaban atas doanya di masa lalu? Juga sarana bagi istrinya untuk meraih surga? Atau hanya imajinasi liar yang bereuforia dari harapan yang terkubur dalam-dalam?

Adit mengucek-ngucek mata. Diambilnya lagi gumpalan kertas itu, lalu diluruskannya sudut-sudut yang keriting. Di kertas itu tertera jelas nomor telepon perempuan itu. Dengan dada yang berdebar, disusunnya rencana. Pada Allah akan ditanyakannya keputusan ini.

***

Foto diambil dari sini

Sang surya mulai meluncur turun ke peraduan. Angin sore bertiup semilir, membawa udara segar yang membelai-belai pipi Vita dengan pelan. Sayup-sayup didengarnya gelak tawa teman-temannya yang masih berbagi nostalgia di selasar bawah. Cuaca yang cerah sore itu tak kuasa meredakan degup-degup di dada Vita yang bertalu-talu bak genderang. Di balkon Labtek VIII ia berdiri, matanya nanap menatap ke depan, pada ujung dedaunan, pada awan yang terarak di langit, pada sepasang kupu-kupu yang beterbangan di atas kuntum bunga, pada lalu-lalang peserta kegiatan alumni yang mulai berpamitan, pada apa pun kecuali pada laki-laki luar biasa yang tengah duduk di ujung balkon.

Balkon begitu sepi, hanya desah napas mereka berdua yang terdengar di udara. Vita termangu. Ujung-ujung jarinya sibuk meremas-remas baju. Ajakan laki-laki itu untuk bicara empat mata ternyata belum seberapa mengagetkan dibanding kalimat yang meluncur dari bibirnya barusan.

“Menikahlah denganku.”

Senyap. Vita tak tahu harus berkata apa. Mengapa harus sekarang? Setelah berpuluh-puluh purnama melintasi semesta. Saat kesadaran tak lagi menapaki bumi.

“Menikahlah denganku, Vita,” diulangnya lagi kalimat itu pelan tapi mantap.

Vita menarik napas panjang. Ia butuh penjelasan. Perlahan ia menoleh hingga matanya berserobok dengan mata Adit. Tanda tanya besar pasti tergambar jelas di wajahnya karena Adit tampak tercengang.

Adit berdeham, lalu berkata salah tingkah, “Kampus tak pernah berubah ya? Masih seakrab yang dulu meski kita menua.”

Vita masih terdiam. Ia menanti, bukan basa-basi yang dibutuhkannya.

“Aku mendapat nomor teleponmu beberapa waktu lalu, tapi ... kurasa aneh kalau kita membicarakannya di telepon. Ketika aku tahu kau akan menghadiri acara ini, aku putuskan untuk bicara langsung saja,” lanjut Adit.

“Mengapa?” Hanya satu kata yang mampu ditanyakan Vita. Hatinya terlalu bergemuruh, membuatnya tak mampu menyusun kalimat panjang dari loncatan-loncatan pikiran yang memenuhi benaknya.

“Mengapa aku ingin bicara langsung? Oh, supaya tak ada salah paham.”

“Bukan,” tukas Vita tak sabar, “mengapa mengajakku menikah?”

Ganti Adit yang terdiam sekarang. Sejenak. Lalu ia menjawab, “Aku ingin membantumu, ingin memuliakanmu.”

Kening Vita berkerut dalam-dalam. “Membantu? Karena aku janda beranak tiga?” Harga dirinya terusik.

“Aku bisa menghidupi anak-anak dengan berjualan. Meski tak banyak, tapi itu cukup untuk hidup kami sehari-hari,” kata Vita gusar. Hampir diambilnya langkah-langkah cepat meninggalkan tempat itu, ketika didengarnya suara Adit menahannya.

“Karena aku mencintaimu, sejak ... sejak dulu.”

Vita tercekat. Tubuhnya membeku seperti es. Detak jantungnya serasa berhenti. Ia tak tahu harus merasa bahagia atau sedih. Kekagetan begitu memenuhi emosinya hingga ia terhenyak lama. Ketika kesadaran sudah menguasainya kembali, ia berkata pelan, “Benarkah?”

Adit mengangguk. Ia tampak lega karena setelah tahun-tahun yang panjang, kalimat itu akhirnya berhasil dimuntahkannya. Meskipun hal itu ternyata demikian menguras energi, ia tak peduli. Himpitan perasaan yang selama ini merongrongnya, hari ini menemui muaranya, lepas bebas bagai burung yang terbang dari sangkarnya.

“Mengapa baru sekarang?” Nada Vita terdengar datar, meskipun kemudian kedua bola mata beningnya berkaca-kaca. Adit terkejut melihat bulir-bulir yang kemudian menetes.

“Aku juga mengagumimu sejak dulu. Selalu berharap, menanti ...” Pengakuan yang tak tuntas meluncur dari bibir Vita sembari ia menyusut hidung.

Adit ternganga. Ia tak mengira perempuan ini menaruh harap padanya. Selama ini dipikirnya cintanya bertepuk sebelah tangan. Pernikahan perempuan itu buktinya.

“Tapi kupikir ... maksudku, kau menikah tak lama setelah kita lulus.”

“Karena aku menjejak realita. Kenyataannya, kau tak pernah datang.”

Seketika suasana menjadi canggung. Vita dan Adit, keduanya tenggelam dalam pikiran masing-masing. Sibuk mengeja makna yang melingkari perasaan. Keheningan dipecah oleh suara Vita yang menyentak Adit, “Bagaimana dengan istrimu?”

“Ia akan mengerti.”

“Apa pendapatnya?”

“Tidak ada yang mudah. Tidak baginya, tidak juga bagi kita,” sahut Adit pelan.

“Dan kau begitu egois?”

Kedua bola mata Vita yang masih basah itu menghunjam tepat di pandangan Adit, menusuknya dalam hingga nyerinya terasa sampai ke sumsum tulang. Adit mencerna tatapan Vita, mencoba mengartikan perasaan perempuan itu.

“Jadi, bagaimana? Maukah kau menikah denganku?”

Sejujurnya, momen ini adalah saat yang amat dinantikan Vita. Bagaimana dulu setiap malam dia menguntai doa, memohon agar Allah mencabut keresahannya dan menjadikan jalannya mudah untuk berdampingan dengan Adit. Bukankah adegan ini yang saat itu merajai mimpinya siang malam? Bukankah cinta teramat besar yang disimpannya untuk Adit tak pernah benar-benar hilang?

Vita menunduk. Pandangannya tiba-tiba tertumbuk pada cincin nikah yang dilingkarkan Bagas di jarinya bertahun-tahun lalu. Ah Bagas, lelaki baik yang menghadirkan surga dunia baginya. Lelaki sederhana yang tak pernah cukup dicintainya. Sergapan rasa bersalah menyerbu Vita dalam keputusasaan. Terbayang satu-satu wajah anaknya, bagaimana reaksi mereka seandainya ia menerima pinangan Adit. Si sulung yang tegas namun penyayang seperti Bagas, si tengah yang wajahnya mirip sekali dengan Bagas, lalu si bungsu yang mewarisi dagu dan hidung Bagas. Sontak Vita heran. Mengapa bayangan Bagas jadi menari-nari di benaknya, menghantui pikirannya? Bahkan ketika ia tinggal satu langkah menjemput cinta sejatinya.

“Vita?” ucap Adit mengusir keheningan.

Vita masih tertunduk. Bulir embun kembali menetes dari sudut matanya. Astaga, ia tak pernah memuliakan Bagas sebesar Bagas menghargai dirinya. Pengabdiannya sebagai istri memang tak pernah bercela, tapi keluasan cinta Bagas tak mampu dibalasnya sebesar itu pula. Vita tergugu, bahunya terguncang-guncang pelan. Adit kebingungan, tak mampu menerka perasaan perempuan yang berdiri mematung di hadapannya. Ingin ia merengkuhnya, melindungi dari segala kedukaan, mengakhiri kesendiriannya dan menghadirkan kebahagiaan untuknya. Detik-detik yang berlalu serasa berabad lamanya buat Adit. Dan ketika Vita menengadahkan wajahnya yang masih dipenuhi air mata, Adit merasa heran melihat sikap Vita. Keteguhan yang mantap berkilat dari matanya.

“Maaf, aku tak bisa,” ujar Vita.

Adit terkejut mendengar ketegasan dalam suara Vita. “Bukankah kita saling mencintai?”

“Bukan cinta namanya jika tak pernah dikatakan. Bukan cinta namanya jika kita terlalu pengecut untuk mewujudkannya. Cinta harusnya menghargai eksistensi orang yang dicintai, bukan untuk dikubur dalam penantian yang tak berujung.”

Langkah-langkah panjang mengiringi Vita menuruni tangga balkon, keluar dari situasi yang tak diinginkannya. Ia tak ingin cinta istri Adit terkhianati, dan yang paling penting, ia tak ingin cinta Bagas padanya ternodai. Semburat merah mentari mewarnai ufuk barat, menenggelamkan Adit yang termangu dalam kesunyian.

[Tamat]

***

Cerpen ini diikutsertakan dalam Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan Maret yang bertema "Cerita Fiksi (dengan Unsur) ITB".

Sunday, March 20, 2022

Sekeping Asa Dalam Diam (Bagian 1)

Foto diambil dari sini

“Menikahlah denganku.”

Senyap. Aku tak tahu harus berkata apa. Mengapa harus sekarang? Setelah berpuluh-puluh purnama melintasi semesta.

“Menikahlah denganku, Vita.”

Meski laki-laki itu ulang berapa kali pun, aku tetap tak punya jawabnya. Tiba-tiba tahun-tahun yang berlalu, berkelebat seperti potongan-potongan film di mataku.

***

Aku hanyalah perempuan biasa. Karenanya tak berhak atas laki-laki luar biasa. Beberapa minggu menjelang pernikahan, saat ratusan undangan bertumpuk dan siap diedarkan, aku hanya bisa menatap gamang. Apakah ini keputusan yang benar? Apakah dia orang yang tepat?

Aku tahu, harusnya sekarang bukan masanya lagi punya pikiran seperti itu. Gedung sudah dipesan dan kebaya pengantin sudah siap. Semua orang begitu gembira menyambut hari-hari menuju pernikahanku. Semua orang, kecuali aku. Tak kuasa aku merusak segala keriangan mereka dengan pikiranku yang kusut masai.

“Kamu yakin?” komentar seorang sahabat yang pasti sudah terlalu mengenalku hingga bisa memahami bahkan yang tidak terucap.

Aku terpaku dalam sunyi. Sambil tetap menyodorkan undangan ke arahnya.

“Bagas laki-laki yang baik,” jawabku singkat.

“Tapi kamu tidak mencintainya!”

“Apa itu penting?”

Embun mengambang di kelopak mataku. Aku tak hendak berdebat. Bagiku, semua sudah tak penting lagi. Bukan tak percaya lagi pada cinta, tapi cinta dari laki-laki luar biasa yang kuharapkan, tak pernah datang. Aku hanyalah perempuan biasa. Karenanya tak berhak atas laki-laki luar biasa. Titik.

***

Sudah bertahun-tahun Adit mengakrabi kampus ini. Sembari langkahnya menuju pelataran, nanap matanya berkeliling. Kampus Institut Teknologi Bandung memang selalu memberinya rasa yang sama. Bagian dari hidupnya yang tak terpisahkan. Meski tahun-tahun itu sudah berlalu, masih seperti kemarin saja rasanya dia memimpin rapat-rapat di Student Center Timur.

Seperti apakah teman-temannya sekarang? Seulas senyum tersungging di bibirnya. Untuk merekalah kini dia datang. Reuni yang mereka sepakati bersama. Sesampainya di lantai atas Labtek VIII, gelak tawa sudah ramai terdengar.

“Adit, akhirnya kau datang juga!” Sebuah suara berseru, serta merta diikuti banyak pasang mata tertuju ke arahnya.

“Selamat datang, Pak Presiden!”

Sudah bertahun-tahun, dan dia masih saja dipanggil Pak Presiden. Lagi-lagi Adit tersenyum. Sambil menyalami teman-temannya satu-satu, hatinya berdesir. Perempuan itu, hadirkah di antara mereka? Oh itu dia, duduk di sudut bersama teman-teman perempuan lainnya, batinnya lega.

“Vita akan menikah, teman-teman,” seru seseorang memberi pengumuman ke seluruh ruangan.

Dengan tertegun dipandangnya setumpuk undangan yang diletakkan di meja. Tak lama, sebab teman-temannya segera berebut meraih tumpukan. Lalu mereka menyalami perempuan itu. Dan lewat sedetik pandangannya, perempuan itu tertawa. Tampak bahagia.

***

Lidahku kelu. Bibirku kaku. Setelah beratus-ratus tamu dan berkali-kali bersalaman. Senja telah turun. Laki-laki yang kini telah menjadi suamiku sedang sibuk membenahi baju pengantin yang tadi dipakainya, sementara aku terbaring lemas di atas kasur.

“Capek, Dik?”

Aku mengangguk. Penat lahir dan batin. Terutama ketika melihat laki-laki luar biasa itu tadi di depan pelaminan, menangkupkan tangan untuk memberi selamat. Adakah dia merasakan keterpaksaan dalam senyuman? Semoga riasan tebalku berhasil menyembunyikannya.

Laki-laki luar biasa, begitu aku menyebutnya. Populer di kampus, santun akhlaknya, akrab dengan siapa saja, multitalenta dan saleh. Begitu tinggi seperti bintang. Sedangkan aku hanyalah perempuan biasa, yang hanya bisa menyimpan sekeping asa dalam diam. Cinta yang bertepuk sebelah tangan? Ah, cinta. Kata yang sudah lama kehilangan kesaktiannya. 

Sudah lama aku berusaha memupus angan. Sudah empat tahun berlalu, tapi aku masih saja gagal. Pernikahan ini jelas bukan pelarian. Justru karena tertohok realita, maka aku putuskan untuk melangkah. Lagipula Bagas adalah seorang laki-laki dengan berjuta kebaikan. Padanya telah kusematkan harapan.

“Salat dulu, yuk, Dik.”

Ketika salam usai, kupandangi punggung Bagas yang sedang merangkai dzikir dan doa. Ya, inilah jalan yang dipilihkan-Nya untukku. Seharusnya syukurku melangit. Mungkin cinta yang kuharapkan memang hanya bermain di khayalan. Semoga bukan karena kepengecutanku, tapi karena cinta lain yang datang adalah cinta terbaik untuk hidupku. Selamat tinggal, masa lalu.

***

Malam kian larut, mata Adit tak juga terpejam. Tubuhnya masih terbolak-balik gelisah di atas kasur. Sibuk dengan pikirannya sendiri yang berloncatan ke sana kemari. Kalau sampai detik ini dia belum juga menikah, itu karena dia memilih demikian. Apakah menjadi ideal itu salah? Dia masih ingin mengepakkan sayap, masih punya banyak mimpi yang belum terwujud.

Pun ketika menunda menikah membuat Adit harus kehilangan kesempatan, seharusnya tak perlu ada sesal yang membuat rongga dadanya sedikit sesak. Meski secuil. Bukankah ini semua adalah pilihannya sendiri?

Ah, perempuan. Dulu sekali, dikiranya mereka berjodoh. Kebersamaan yang tak pernah termaksudkan, karena semata-mata terjalin akibat seringnya berinteraksi di ruang kuliah dan aktivitas kemahasiswaan. Kebersamaan yang membawa mereka pada diskusi-diskusi panjang tentang segala sesuatu, yang mau tak mau memaksanya untuk mengakui bahwa ada hal menarik dalam diri perempuan itu. Sekuat apa pun dia berusaha menahan diri dan pandangan, tak pelak ada sedikit bayangan perempuan itu menari-nari dalam benak.

Adit mengerjap kuat. Berusaha mengusir rasa. Oh ya ampun, mengapa pula ada pedih menyusupi relung hati? Dia tak hendak membohongi diri. Memang ada sedetik dia berharap dirinyalah yang ada di samping perempuan itu tadi. Tapi cukuplah sedetik saja. Mereka tak pernah menapaki mula, maka sewajarnya bila tak pernah sampai pada akhir. Mungkin Allah telah menunjukkan persimpangan jalan yang berbeda antara dia dan perempuan itu.

***

Menakjubkan bagaimana tahun-tahun berlalu begitu cepat dan mengubah banyak hal. Aku bagai terbang dalam mesin waktu. Tak terasa anak-anak sudah beranjak besar. Sudah sekolah tingkat dasar mereka sekarang. Merekalah energi yang membakar semangatku tiada henti. Merekalah pelangi dalam tiap hujan, bahkan ketika badai itu datang. Badai yang membuatku redam, ketika takdir memisahkanku dari Bagas.

Ah, Bagas. Mengingat namanya saja sudah menghadirkan embun dalam pandanganku. Dia tak pernah surut menunjukkan keluasan cintanya padaku, meski aku tak pernah bisa membalasnya seluas itu pula. Namun, kebaikannya yang tak bertepi mengutuhkan hidupku. Dia pernah berkata sambil mengelus rambut dan mengecup keningku pelan, adalah tugasnya membuat roda ekonomi keluarga ini terus berjalan. Sambil terus membujuk agar aku tetap di rumah supaya anak-anak terlayani dengan baik, terbesarkan dengan optimal. “Juga agar aku selalu dapat melihat senyummu merekah, Sayang. Bukan terenggut oleh keletihan aktivitas di luar rumah.” Masih terekam jelas senyumnya waktu itu.

Bagas yang selalu peduli padaku dan anak-anak, rela membanting tulang hingga larut malam demi upah lembur yang tak seberapa agar asap dapur terus mengepul. Laki-laki dengan berjuta kebaikan, bahkan hingga saat terakhirnya, saat segenap semangat mentari dari hidupnya terenggut oleh truk yang melaju kencang dan menghunjamkan badannya ke jalanan. Saksi di tempat kejadian mengatakan padaku, tangannya yang penuh dengan bunga dan boneka, perlahan layu dalam genangan darah. Bunga dan boneka yang kemudian terserak, yang sedianya dibawanya pulang untuk aku dan anak-anak, tepat di usia sepuluh tahun pernikahan.

“Mama ...” suara si sulung memaksaku menjejak realita. “Mama jangan menangis, Kakak ikut sedih kalau Mama menangis.”

Malam itu kami larut dalam isak tertahan. Aku tak kuasa menghentikan isak si sulung. Dia masih terjaga mengawasiku, sementara adik-adiknya sudah terlelap beberapa jam sebelumnya. Sangat jelas tergambar pada wajahnya betapa dia sangat mengkhawatirkanku. Malam itu aku berjanji, demi Bagas, aku akan menghadirkan kembali mentari dalam kehidupan anak-anak. Masih panjang jalan mereka meretas kehidupan. Tak adil rasanya jika hidup mereka goyah hanya karena ibunya tak mampu menopang beban.

***

Adit melompat-lompat kecil menghindari kubangan bekas air hujan di sana-sini. Hatinya berdendang riang. Uang THR yang ada di sakunya akan membuat keluarganya bahagia. Keluarga kecil yang dibangunnya beberapa tahun lalu dengan istri salihah bermata teduh, telah memberinya seorang anak laki-laki yang lucu dan cerdas. Mungkin itu buah penantian yang dikaruniakan Allah padanya, setelah perjuangan panjang meniti karir di perusahaan multinasional membuat masa mudanya berpeluh dalam pusaran dunia kerja yang penuh persaingan. Perjuangan yang melelahkan, pikir Adit. Tapi layak dijalani, hingga ketika dia memutuskan menikah, dia sudah siap mempersembahkan yang terbaik untuk keluarganya.

Adit tertegun memandang suasana Pasar Baru di hadapannya. Niat hatinya membelikan mukena dan baju lebaran untuk buah tangan kejutan membuatnya harus berjubel dengan lautan manusia. Betapa konsumtifnya negeri ini menjelang lebaran, rutuknya dalam hati. Dia berjalan selangkah demi selangkah menembus orang-orang sambil menoleh ke sana kemari, kepalanya meneleng berusaha mencari kios yang menjual mukena dan baju anak.

Tiba-tiba ... dukk! Benturan di bahunya memaksa Adit berpaling. Di depannya seorang perempuan berkerudung meminta maaf sambil sibuk memunguti tumpukan baju yang berceceran dari tas besarnya. Perempuan itu menunduk, tapi ada sesuatu yang membuat Adit mengamatinya lebih dalam. Seperti ada yang tak asing.

“Vita?” seru Adit tertahan.

Perempuan itu mendongak. Raut wajahnya memancarkan kekagetan yang nyata. Dia tampak menahan napas. Gerakannya yang membeku di udara membuatnya terhuyung-huyung didorong desakan manusia di sekitarnya yang tengah berbelanja. Sontak Adit cekatan membantu perempuan itu membereskan sisa baju yang masih berantakan.

“Sedang memborong?” tanya Adit membuka percakapan.

Perempuan itu menggeleng. “Ini untuk dijual lagi,” jelasnya pelan.

“Oh, bisnis baju sekarang?”

Perempuan itu mengangguk tanpa suara. Jari jemarinya yang lentik masih bersicepat merapikan tumpukan dalam tas besarnya. Pandangan Adit tertumbuk pada cincin yang melingkari jari perempuan itu.

“Mana suamimu? Dia tidak membantu membawakan?”

Gerak perempuan itu terhenti. Dia mendongak lagi. Pandangannya melukiskan sesuatu yang tak dipahami Adit, tetapi wajah perempuan itu datar saja ketika sedetik kemudian dia menjawab, “Sudah meninggal.”

Adit tak tahu harus berkata apa. Ada serbuan perasaan bersalah karena menanyakan hal barusan, juga ada kebingungan yang membuatnya terdiam dan salah tingkah. Mulutnya masih terbungkam ketika perempuan itu berpamitan, tapi matanya terus mengekori sosok berkerudung itu hingga hilang di tengah kerumunan.

Ah, perempuan. Apa yang telah terjadi padamu?

(bersambung ke Bagian 2)

***

Cerpen ini diikutsertakan dalam Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan Maret yang bertema "Cerita Fiksi (dengan Unsur) ITB".