Monday, March 21, 2022

Sekeping Asa Dalam Diam (Bagian 2)

(kisah sebelumnya)

Aku menyetop mobil angkutan kota dan naik dengan terburu-buru. Kali ini sambil mendekap erat tas besarku agar isinya tak lagi terburai. Allah, mengapa harus bertemu dengan laki-laki luar biasa itu dalam kondisi tak karuan begini? Bercucur dan beraroma keringat, bahkan menggembol bawaan yang membuat repot. Aku memandangi jalanan yang ramai dari balik jendela. Kurasakan ada sesuatu yang hangat menjalari hatiku. Entah mengapa, sekelibat rasa menyelinap keluar dari balik pintu ruang hati yang dulu pernah kututup rapat-rapat. Membawa ingatanku pada obrolan-obrolan ringan yang terjalin dalam pertemuan dengan kawan-kawan kampus beberapa tahun belakangan ini.

Mereka berkisah padaku, laki-laki luar biasa itu telah berubah menjadi lebih luar biasa dalam perjalanan hidupnya. Karir mentereng, posisi tinggi di perusahaan besar, bahkan mulai merintis perusahaan sendiri. Aku tak heran, sejak dulu dia memang istimewa. Berada di permukaan bumi mana pun, sebuah berlian tetaplah berlian. Kawan-kawan tak terlalu banyak bercerita tentang keluarganya. Hanya kudengar sekilas kalau dia sudah menikah.

Lalu mengapa aku bertemu dengannya hari ini di Pasar Baru? Jika benar kesuksesannya sudah seperti itu, mengapa dia tak berbelanja di mal mewah saja? Aku menerka-nerka sendiri, barangkali dia masih sosok sederhana seperti dulu. Kekagumanku makin membuncah. Pasti beruntung sekali istri yang kini mendampinginya.

Dering ponsel membuyarkan lamunanku. Cepat kuangkat, karena itu dari pemilik rumah kontrakan yang kusewa. Tak perlu lama mendengarkan semburan kekesalan di seberang untuk mengerti bahwa tenggat perpanjangan yang diberikannya semakin dekat. Aku mendesah. Semoga hasil penjualan baju bulan ini memenuhi target, sehingga aku bisa membayar beberapa tunggakan yang sudah jatuh tempo. Hidup tak pernah mudah untuk seorang janda beranak tiga sepertiku. Tanpa pekerjaan tetap, harus kusambung hidup hari demi hari dengan perjuangan.

Matahari makin tergelincir ke arah barat. Jalanan mulai dipenuhi dengan penjaja minuman dan kudapan untuk berbuka puasa. Sementara mobil angkutan kota terus melaju dengan aku yang sibuk berhitung hutang di dalamnya.

***

Mata Adit mengernyit. Dipandangnya sebaris tulisan di atas kertas yang dipegangnya. Baru saja dia menutup perbincangan di telepon dengan seorang teman lama yang berhasil dihubungi. Sejenak dia tercenung. Teman itu menumpahkan semua kisah perempuan itu, memberangus semua penasaran dan menyisakan lintasan pikiran yang memenuhi benaknya. Jadi begitu rupanya, Allah menakdirkan kisah hidup perempuan itu sedemikian rupa.

Takdir Allah juga yang mempertemukan Adit kembali dengan perempuan itu, membuatnya menghadapi gelombang perasaan yang kembali datang. Gelombang rasa yang dulu ditenggelamkannya dalam masa-masa panjang meniti karir, menyibukkan diri dengan  berbagai kerja profesional. Dipandanginya lagi kertas itu lama. Bayangan istrinya yang bermata teduh melintas. Dia tak kuasa menolak perasaan yang baru tumbuh ini, tapi bagaimana dengan istrinya?

Adit meremas kertas itu dan melemparnya ke tempat sampah. Istrinya yang begitu baik, akankah tega dia kecewakan dengan keegoisannya? Ah tapi karena dia begitu salihah, barangkali saja dia akan mengerti. Adit memegang kepalanya yang mendadak pening. Segala pikiran yang berkecamuk membuatnya limbung tak tentu arah. Apakah ini jawaban atas doanya di masa lalu? Juga sarana bagi istrinya untuk meraih surga? Atau hanya imajinasi liar yang bereuforia dari harapan yang terkubur dalam-dalam?

Adit mengucek-ngucek mata. Diambilnya lagi gumpalan kertas itu, lalu diluruskannya sudut-sudut yang keriting. Di kertas itu tertera jelas nomor telepon perempuan itu. Dengan dada yang berdebar, disusunnya rencana. Pada Allah akan ditanyakannya keputusan ini.

***

Foto diambil dari sini

Sang surya mulai meluncur turun ke peraduan. Angin sore bertiup semilir, membawa udara segar yang membelai-belai pipi Vita dengan pelan. Sayup-sayup didengarnya gelak tawa teman-temannya yang masih berbagi nostalgia di selasar bawah. Cuaca yang cerah sore itu tak kuasa meredakan degup-degup di dada Vita yang bertalu-talu bak genderang. Di balkon Labtek VIII ia berdiri, matanya nanap menatap ke depan, pada ujung dedaunan, pada awan yang terarak di langit, pada sepasang kupu-kupu yang beterbangan di atas kuntum bunga, pada lalu-lalang peserta kegiatan alumni yang mulai berpamitan, pada apa pun kecuali pada laki-laki luar biasa yang tengah duduk di ujung balkon.

Balkon begitu sepi, hanya desah napas mereka berdua yang terdengar di udara. Vita termangu. Ujung-ujung jarinya sibuk meremas-remas baju. Ajakan laki-laki itu untuk bicara empat mata ternyata belum seberapa mengagetkan dibanding kalimat yang meluncur dari bibirnya barusan.

“Menikahlah denganku.”

Senyap. Vita tak tahu harus berkata apa. Mengapa harus sekarang? Setelah berpuluh-puluh purnama melintasi semesta. Saat kesadaran tak lagi menapaki bumi.

“Menikahlah denganku, Vita,” diulangnya lagi kalimat itu pelan tapi mantap.

Vita menarik napas panjang. Ia butuh penjelasan. Perlahan ia menoleh hingga matanya berserobok dengan mata Adit. Tanda tanya besar pasti tergambar jelas di wajahnya karena Adit tampak tercengang.

Adit berdeham, lalu berkata salah tingkah, “Kampus tak pernah berubah ya? Masih seakrab yang dulu meski kita menua.”

Vita masih terdiam. Ia menanti, bukan basa-basi yang dibutuhkannya.

“Aku mendapat nomor teleponmu beberapa waktu lalu, tapi ... kurasa aneh kalau kita membicarakannya di telepon. Ketika aku tahu kau akan menghadiri acara ini, aku putuskan untuk bicara langsung saja,” lanjut Adit.

“Mengapa?” Hanya satu kata yang mampu ditanyakan Vita. Hatinya terlalu bergemuruh, membuatnya tak mampu menyusun kalimat panjang dari loncatan-loncatan pikiran yang memenuhi benaknya.

“Mengapa aku ingin bicara langsung? Oh, supaya tak ada salah paham.”

“Bukan,” tukas Vita tak sabar, “mengapa mengajakku menikah?”

Ganti Adit yang terdiam sekarang. Sejenak. Lalu ia menjawab, “Aku ingin membantumu, ingin memuliakanmu.”

Kening Vita berkerut dalam-dalam. “Membantu? Karena aku janda beranak tiga?” Harga dirinya terusik.

“Aku bisa menghidupi anak-anak dengan berjualan. Meski tak banyak, tapi itu cukup untuk hidup kami sehari-hari,” kata Vita gusar. Hampir diambilnya langkah-langkah cepat meninggalkan tempat itu, ketika didengarnya suara Adit menahannya.

“Karena aku mencintaimu, sejak ... sejak dulu.”

Vita tercekat. Tubuhnya membeku seperti es. Detak jantungnya serasa berhenti. Ia tak tahu harus merasa bahagia atau sedih. Kekagetan begitu memenuhi emosinya hingga ia terhenyak lama. Ketika kesadaran sudah menguasainya kembali, ia berkata pelan, “Benarkah?”

Adit mengangguk. Ia tampak lega karena setelah tahun-tahun yang panjang, kalimat itu akhirnya berhasil dimuntahkannya. Meskipun hal itu ternyata demikian menguras energi, ia tak peduli. Himpitan perasaan yang selama ini merongrongnya, hari ini menemui muaranya, lepas bebas bagai burung yang terbang dari sangkarnya.

“Mengapa baru sekarang?” Nada Vita terdengar datar, meskipun kemudian kedua bola mata beningnya berkaca-kaca. Adit terkejut melihat bulir-bulir yang kemudian menetes.

“Aku juga mengagumimu sejak dulu. Selalu berharap, menanti ...” Pengakuan yang tak tuntas meluncur dari bibir Vita sembari ia menyusut hidung.

Adit ternganga. Ia tak mengira perempuan ini menaruh harap padanya. Selama ini dipikirnya cintanya bertepuk sebelah tangan. Pernikahan perempuan itu buktinya.

“Tapi kupikir ... maksudku, kau menikah tak lama setelah kita lulus.”

“Karena aku menjejak realita. Kenyataannya, kau tak pernah datang.”

Seketika suasana menjadi canggung. Vita dan Adit, keduanya tenggelam dalam pikiran masing-masing. Sibuk mengeja makna yang melingkari perasaan. Keheningan dipecah oleh suara Vita yang menyentak Adit, “Bagaimana dengan istrimu?”

“Ia akan mengerti.”

“Apa pendapatnya?”

“Tidak ada yang mudah. Tidak baginya, tidak juga bagi kita,” sahut Adit pelan.

“Dan kau begitu egois?”

Kedua bola mata Vita yang masih basah itu menghunjam tepat di pandangan Adit, menusuknya dalam hingga nyerinya terasa sampai ke sumsum tulang. Adit mencerna tatapan Vita, mencoba mengartikan perasaan perempuan itu.

“Jadi, bagaimana? Maukah kau menikah denganku?”

Sejujurnya, momen ini adalah saat yang amat dinantikan Vita. Bagaimana dulu setiap malam dia menguntai doa, memohon agar Allah mencabut keresahannya dan menjadikan jalannya mudah untuk berdampingan dengan Adit. Bukankah adegan ini yang saat itu merajai mimpinya siang malam? Bukankah cinta teramat besar yang disimpannya untuk Adit tak pernah benar-benar hilang?

Vita menunduk. Pandangannya tiba-tiba tertumbuk pada cincin nikah yang dilingkarkan Bagas di jarinya bertahun-tahun lalu. Ah Bagas, lelaki baik yang menghadirkan surga dunia baginya. Lelaki sederhana yang tak pernah cukup dicintainya. Sergapan rasa bersalah menyerbu Vita dalam keputusasaan. Terbayang satu-satu wajah anaknya, bagaimana reaksi mereka seandainya ia menerima pinangan Adit. Si sulung yang tegas namun penyayang seperti Bagas, si tengah yang wajahnya mirip sekali dengan Bagas, lalu si bungsu yang mewarisi dagu dan hidung Bagas. Sontak Vita heran. Mengapa bayangan Bagas jadi menari-nari di benaknya, menghantui pikirannya? Bahkan ketika ia tinggal satu langkah menjemput cinta sejatinya.

“Vita?” ucap Adit mengusir keheningan.

Vita masih tertunduk. Bulir embun kembali menetes dari sudut matanya. Astaga, ia tak pernah memuliakan Bagas sebesar Bagas menghargai dirinya. Pengabdiannya sebagai istri memang tak pernah bercela, tapi keluasan cinta Bagas tak mampu dibalasnya sebesar itu pula. Vita tergugu, bahunya terguncang-guncang pelan. Adit kebingungan, tak mampu menerka perasaan perempuan yang berdiri mematung di hadapannya. Ingin ia merengkuhnya, melindungi dari segala kedukaan, mengakhiri kesendiriannya dan menghadirkan kebahagiaan untuknya. Detik-detik yang berlalu serasa berabad lamanya buat Adit. Dan ketika Vita menengadahkan wajahnya yang masih dipenuhi air mata, Adit merasa heran melihat sikap Vita. Keteguhan yang mantap berkilat dari matanya.

“Maaf, aku tak bisa,” ujar Vita.

Adit terkejut mendengar ketegasan dalam suara Vita. “Bukankah kita saling mencintai?”

“Bukan cinta namanya jika tak pernah dikatakan. Bukan cinta namanya jika kita terlalu pengecut untuk mewujudkannya. Cinta harusnya menghargai eksistensi orang yang dicintai, bukan untuk dikubur dalam penantian yang tak berujung.”

Langkah-langkah panjang mengiringi Vita menuruni tangga balkon, keluar dari situasi yang tak diinginkannya. Ia tak ingin cinta istri Adit terkhianati, dan yang paling penting, ia tak ingin cinta Bagas padanya ternodai. Semburat merah mentari mewarnai ufuk barat, menenggelamkan Adit yang termangu dalam kesunyian.

[Tamat]

***

Cerpen ini diikutsertakan dalam Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan Maret yang bertema "Cerita Fiksi (dengan Unsur) ITB".

4 comments:

Sri Nurilla said...

Ya Rabb, sedih banget kisah Vita, Yustika. Sampai tak bisa berkata-kata. :(

Pasti berat untuknya menerima pindangan Adit; di sisi lain, perasaannya mutual, namun pastinya terbebani dengan pikiran bagaimana istri Adit nantinya.:(

Meskipun kisahnya sedih, saya takjub dengan untaian kata-katanya yang indah dan poetic. Keren banget, teh Yustika.. :)

May said...

Teteh, bagus banget endingnya. Tadi dah deg-degan baca Adit mau menikahi Vita, dalam hatiku jangan sampai deh hehe.

Makasih ya Teteh

Yustika said...

Masya Allah tabarakallah, nuhun pisan Teh

Yustika said...

Hahahahaiiii tim Vita ya, tampaknya ga banyak yang merestui mereka berdua hihi