Showing posts with label friend. Show all posts
Showing posts with label friend. Show all posts

Monday, August 16, 2021

Perayaan Tujuh Belasan

Yang selalu kuingat dari perayaan tujuh belasan adalah kemeriahan perayaan tujuh belasan zaman aku kecil dulu di Solo. Kami tinggal di lingkungan perumahan yang sangat guyub. Saat itu muda-mudi karang taruna dan pengurus RT/RW sangat aktif membuat kegiatan setiap 17 Agustus menjelang. Biasanya perayaannya merupakan satu rangkaian mulai dari jalan sehat, lomba tujuh belasan, panggung perayaan, hingga malam tirakatan.

Acara jalan sehat terbuka untuk semua warga dari segala usia. Rutenya dipilih sangat ramah untuk anak-anak dan lansia, jadi jarak tempuhnya tidak terlalu jauh. Kami melewati area pemukiman dan persawahan di tengah udara pagi yang sangat segar. Sepanjang rute kami sibuk mengobrol, bercanda, dan tertawa. Setelah sampai di garis finish, kami disuguhi aneka kudapan dan hidangan yang menggugah selera, terutama karena kami merasa kelaparan seusai berjalan beberapa kilometer, hahaha. Acara makan digelar secara prasmanan sehingga kami bebas mengambil apa saja. Sambil menikmati santapan, kami duduk lesehan dan menyaksikan pembagian doorprize.

Lomba tujuh belasan diadakan di lain waktu. Lomba untuk anak-anak dilaksanakan dalam beberapa cabang lomba yang cukup lazim seperti tarik tambang, memasukkan pensil ke dalam botol, balap karung, bakiak, balap cepat sambil mengulum sendok berisi kelereng, dll. Lomba untuk orang dewasa tidak terlalu banyak ragamnya, biasanya hanya berupa panjat pinang dan pertandingan voli saja.

Pada malam hari setelah sorenya diadakan lomba tujuh belasan, panggung perayaan digelar. Para muda-mudi Karang Taruna menjadi panitia pagelaran panggung ini. Isi acaranya berupa pertunjukan unjuk bakat dan keberanian warga untuk tampil di atas panggung. Setiap orang bebas menyumbangkan penampilan setelah mendaftar dan latihan bersama sejak beberapa minggu sebelumnya. Pada pagelaran panggung ini biasanya aku menampilkan baca puisi, seni tari, atau drama sederhana bersama teman-teman sepermainan di bawah bimbingan pamanku yang sudah malang-melintang di dunia teater.

Sebagai puncak perayaan tujuh belasan, malam tirakatan diadakan pada tanggal 16 Agustus malam. Acara ini hanya melibatkan para warga yang sudah dewasa saja. Mereka akan mengenang jasa para pahlawan dan berdoa bersama untuk kebaikan negeri. Sebenarnya aku tidak terlalu paham bentuk acaranya seperti apa karena aku tidak pernah ikut serta, hihihi. Aku hanya mendengar cerita Ibu yang berkisah sepulang dari sana sambil makan camilan dari dus kudapan yang Ibu bawa pulang untuk anak-anaknya.

Setelah aku tumbuh dewasa dan berkeluarga, lalu menetap di Bandung dan sekarang Tangerang Selatan, aku belum pernah mendapati perayaan tujuh belasan semeriah zaman kecilku dulu. Mudah-mudahan setelah pandemi usai, acara semacam ini dapat kembali diadakan untuk mempererat relasi antarwarga.

Monday, August 09, 2021

ITBMotherhood dan MamahGajahBerlari





Salah satu hal yang kusyukuri dari menjadi alumni Institut Teknologi Bandung adalah bisa bergabung dengan komunitas ITBMotherhood. Komunitas ini dibuat pada 2010 untuk mewadahi mahasiswi atau alumni perempuan ITB yang tertarik pada dunia ibu dan anak. Hingga saat ini grup ITBMotherhood di Facebook telah memiliki 4.487 anggota dan kegiatannya berkembang menjadi lebih dari 30 komunitas internal―yang kegiatannya tidak hanya bersifat daring, tetapi juga luring.

ITBMotherhood memiliki iklim yang sangat kondusif untuk menjadi sebuah support system. Di dalamnya kita dapat bertanya tentang apa saja tanpa takut merasa dihakimi, dapat melakukan jual beli dengan rasa aman dan asas kepercayaan, atau mencari dukungan dalam bentuk apapun. Sebagai contoh, beberapa tahun silam aku sempat bergabung dengan subgrup ASIX dan subgrup ibu hamil yang sangat memberi dukungan dalam hal motivasi maupun pengetahuan seputar kehamilan, persalinan, dan ASI. Beberapa subgrup di ITBMotherhood juga bergerak dalam hal beasiswa, donasi, dan relawan.

Subgrup ITBMotherhood yang ingin kuceritakan dalam tulisanku kali ini adalah komunitas MamahGajahBerlari (MGB). Ketika mulai berlari beberapa tahun lalu, sedikit sekali ilmu yang kumiliki. Saat itu hanya terpikir, kalau mau rutin berlari ya tinggal berlari saja. Wong awalnya hanya bermula dari self challenge menjajal kemampuan diri: apakah benar bisa menaklukkan olahraga yang dulu amat kubenci ini.

Mendekati pertengahan 2019, iseng-iseng aku bergabung dengan MGB, salah satu subgrup ITBMotherhood yang berisikan mamah-mamah alumni ITB yang menekuni hobi berlari di tengah-tengah kesibukan mengurus keluarga dan karir. Pertemanan sehat bersama MGB ini ternyata di luar ekspektasiku. Selain beroleh banyak ilmu tentang lari, di sini aku bagai menemukan keluarga baru yang really fits the idea of being support group. Sekecil apapun progres kita, di sini kita dikeprokin ramai-ramai. Sesuai dengan tag #PaceRecehTapiKeceh: tidak ada hal yang remeh di sini, setiap orang dihargai dengan target dan pencapaian masing-masing. Having fun dengan berlari demi hidup yang lebih sehat dan bugar menjadi yang terpenting.

Dulu sebelum pandemi, selain berlari dan coaching bersama, mamah-mamah MGB rajin bertemu luring untuk acara santai, makan-makan, botram, juga popotoan. Kami juga rajin saling jastip belanja perintilan lari dan saling menularkan semangat shopping, hahaha. Grup selalu ramai membahas tentang girls stuff dalam dunia lari, suatu hal yang tak akan mungkin ditemui di grup runners umum yang isinya juga ada para bapak 😛

Setiap orang akan bisa tumbuh dan berkembang jika mereka berada di lingkungan dan komunitas yang tepat. Begitulah yang kurasakan ketika berada di dalam MGB. Selama dua tahun bergabung di dalamnya, ada banyak pencapaian yang aku peroleh, mulai dari berhasil membangun training plan dan mengatur waktu untuk menyempatkan berlari di tengah kesibukan, memperbaiki heart rate dan VO2Max, memperbaiki endurance, hingga berhasil menempuh long run mulai dari 10 km sampai 21,1 km. Hal-hal ini mungkin tak akan tercapai bila aku tidak tahu ilmunya dan tidak punya motivasi seperti yang selalu disemangatkan oleh para mamah MGB.

Perempuan memang harus saling mendukung satu sama lain. Sebuah penelitian oleh Harvard Business Review mengatakan bahwa perempuan yang memiliki inner circle sesama perempuan cenderung dapat menempati posisi eksekutif dengan otoritas yang lebih besar dan gaji yang lebih tinggi, bila dibandingkan dengan laki-laki yang memiliki inner circle yang sama. Hal ini dikarenakan perempuan yang memiliki hubungan dekat dengan kelompok perempuan yang mendukungnya, akan lebih mudah menghadapi berbagai rintangan melalui berbagi pengalaman dengan perempuan lain yang pernah menghadapi situasi dan kesulitan yang sama. Mudah-mudahan dengan adanya ITBMotherhood dan subgrup-subgrup lain di bawahnya, para alumni perempuan ITB dapat memberikan manfaat yang nyata demi Tuhan, bangsa, dan almamater.

Monday, April 12, 2021

Masa Kecil Sebagai Perempuan: Insecure

Sepanjang ingatanku menjalani masa kecil sebagai perempuan, ada satu kata yang kerap membersamaiku saat itu: insecure. Mungkin aku bisa dibilang cukup cemerlang dalam hal prestasi, tapi sesungguhnya ada banyak hal yang membuatku merasa tidak aman. Aku sering merasa khawatir tidak memiliki teman. Saat kecil aku sungguh pemalu. Terhadap orang yang tak dikenal, aku cenderung menarik diri dan tertutup. Beberapa orang kawan yang cukup dekat denganku membuatku merasa ditinggalkan ketika akhirnya mereka dekat dan bersahabat akrab dengan kawan yang lain. Sebagai seorang gadis kecil, tidak memiliki teman dekat adalah sesuatu yang menyedihkan.

Beranjak remaja dan duduk di bangku sekolah unggulan, aku melihat teman-teman perempuan banyak yang membentuk geng. Tanpa sengaja aku terlibat akrab dengan salah satu geng di kelas. Peer pressure sangat terasa dalam interaksi sehari-hari. Aku dianggap gaul jika mengikuti standar mereka, dan aku sering dicibir bila menolak ajakan hang out karena aku harus buru-buru pulang untuk menjaga adikku. Sampai suatu ketika aku didepak keluar dari geng itu dengan cara yang mungkin buat mereka biasa, tapi buatku terasa sangat menyakitkan. Hingga hari ini aku tidak tahu alasannya. Dugaanku: karena aku sering berbeda pendapat dan kerap menolak ajakan hang out mereka, sehingga bagi mereka mungkin aku bukan teman yang asyik.

Peristiwa itu menorehkan luka teramat dalam, sampai-sampai aku bertekad untuk tak akan pernah lagi bersahabat dekat dengan sesama perempuan. Perjalanan mencari teman membawaku pada satu kesimpulan bahwa lebih baik sendirian daripada merasa tersakiti oleh sahabat. Maka ketika aku duduk di bangku SMA, aku mulai menyibukkan diri dengan kegiatan organisasi dan berteman dengan banyak teman laki-laki. Bahkan beberapa kali aku berpacaran dan merasa bisa menjalani hari-hari tanpa sahabat perempuan.

Kenangan-kenangan di masa lalu berperan besar membentuk kepribadianku. Hingga sekarang aku lebih nyaman bepergian seorang diri tanpa teman. Zaman kuliah aku sampai kenyang mendapat pertanyaan “Sendirian aja, Yus?” ketika pergi ke mana-mana. Bahkan saat ibu-ibu di kantor pergi beramai-ramai ke mal ketika jam istirahat, aku merasa lebih nyaman pergi sendiri dalam diam.

Melihat kenyataan hidup di sekeliling saat ini, sering sekali kita dapati perempuan satu dengan yang lain saling menjatuhkan. Di kalangan ibu-ibu, sudah jamak terjadi mom war dalam berbagai hal, mulai dari ASI versus susu formula, ibu bekerja versus ibu di rumah, melahirkan normal versus melahirkan C-section, dan masih banyak lagi. Seolah pengalaman masa kecilku belumlah cukup, aku merasa sangat lelah melihatnya.

Perempuan harus saling mendukung satu sama lain. Seorang perempuan bisa memberdayakan perempuan lain dan hal itu tak akan pernah mengecilkan  peran dan makna dirinya sendiri. Di dunia yang keras ini, kita harus memberangus kebencian, kecemburuan, atau perasaan iri antara sesama perempuan.

Sebuah penelitian oleh Harvard Business Review mengatakan bahwa perempuan yang memiliki inner circle sesama perempuan cenderung dapat menempati posisi eksekutif dengan otoritas yang lebih besar dan gaji yang lebih tinggi, bila dibandingkan dengan laki-laki yang memiliki inner circle yang sama. Hal ini dikarenakan perempuan yang memiliki hubungan dekat dengan kelompok perempuan yang mendukungnya, akan lebih mudah menghadapi berbagai rintangan melalui berbagi pengalaman dengan perempuan lain yang pernah menghadapi situasi dan kesulitan yang sama.

Andai saja sejak kecil kita diajari untuk saling mendukung satu sama lain sebagai perempuan, mungkin tidak perlu ada gadis-gadis lain yang mengalami nasib sama denganku. Tak perlu ada persaingan saling menjatuhkan, tak perlu ada perundungan, tak perlu adu debat meskipun berbeda pendapat.

Friday, May 27, 2016

Baper

Baper adalah... ketika teman yang kita anggap dekat ternyata tidak menganggap kita teman dekatnya -__-

Sekitar dua puluh tahun lalu, mamiku pernah memberi nasehat supaya tidak terlalu akrab jika bersahabat dengan seseorang. Karena seringkali pengkhianatan yang paling menohok adalah pengkhianatan yang dilakukan oleh teman dekat. Eh terlalu lebay ya, maksudnya sakit hati yang paling sakiiit itu adalah sakit hati yang diakibatkan oleh teman dekat. Mungkin karena teman dekat itu adalah tempat berbagi banyak hal, tempat sandaran dan curhat kita sehari-hari.

Dulu aku pernah punya pengalaman buruk terkait pertemanan dengan sesama perempuan (baca di sini). Ya wajar sih, perempuan kalau berteman kan selalu melibatkan perasaan. Dan memang biasa juga dalam dunia perempuan, pertemanan berbentuk geng atau kelompok hang out.

Di kantorku juga ada yang seperti itu. Beberapa hari lalu ketika aku bergabung di kantin dengan salah satu geng kemudian ternyata aku tidak diperhatikan lalu aku pergi diam-diam (dan ternyata mereka juga tidak sadar ketika aku pergi *sigh*), ada yang berkomentar, “Makanya bikin geng dong”. Beuh.

Kembali ke awal tulisan, baper adalah... ketika teman yang kita anggap dekat ternyata tidak menganggap kita teman dekatnya. Hmm, aku mau nulis apa sih ini wkwkwk. Pengen nulis panjang lebar tapi takut ada yang merasa lalu tersinggung. Jadi intinya, ada beberapa orang di kantor yang tadinya aku mengira kami sangat dekat, lalu ada perlakuannya di kemudian hari yang mengindikasikan ternyata kami tidak sedekat itu. Ya seperti bertepuk sebelah tangan begitu deh. Dan itu rasanya sakit lho, Saudara-saudara!

Mungkin aku harus kembali mengikuti kata-kata mamiku. Ga usah sobat-sobatan dekat lagi, bikin baper tauk! Hahaha I wish I could say that kepada mereka yang jadi tersangka. Wis ah ngacapruk-nya. Benar-benar curhat yang nggak mutu wkwkwk.

Thursday, March 20, 2014

Berkah S2

Mengambil S2 mungkin adalah keputusan yang tak akan pernah kusesali sepanjang hidup, meskipun dulu awal-awal mendapat beasiswa dari kantor, aku sempat gamang. Ya, gamang karena asal mula ikut seleksi beasiswa adalah karena iseng. Dan ketika iseng itu membuahkan hasil lolos, aku “terpaksa” harus mendaftar S2. Kemudian ketika lulus seleksi S2 dan berhasil masuk ke almamaterku, nyaliku menciut karena takut. Takut tak bisa mulus menjalani studi, mengingat berdarah-darahnya aku ketika S1 dulu *lebay hehehe. Kali ini aku ingin bercerita tentang keberkahan yang aku rasakan karena mengambil S2.

Menurut beberapa sumber yang aku baca, berkah adalah bertambahnya kebaikan. Berkah tidak selalu identik dengan jumlah. Di dalam kamus Arab, berkah memiliki arti pertumbuhan atau pertambahan kebaikan. Berkah dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008:179) yang masuk dalam kelas kata nomina memiliki arti ‘karunia Tuhan yang mendatangkan kebaikan bagi kehidupan manusia’. Sedangkan kata berkat dalam KBBI Pusat Bahasa, memiliki empat makna, masing-masing adalah 1. karunia Tuhan yang membawa kebaikan dalam hidup manusia; 2. doa restu dan pengaruh baik dari orang yang dihormati (guru); 3. makanan dan sebagainya yang dibawa pulang sehabis kenduri; 4. mendatangkan kebaikan atau bermanfaat (2008:179-180).

Ada pula yang mengartikan berkah dengan kalimat ‘dapat melakukan hal yang banyak dalam waktu yang sempit’ atau ‘mendapatkan kebaikan lebih banyak dari takaran yang semestinya’. Apapun artinya, berkah yang kumaksud meliputi semua arti di atas.

Berkah S2 pertama yang sangat kusyukuri adalah mendapat teman-teman seperjuangan yang sangat baik, pengertian, dan menyenangkan. Bersama teman-teman ini, mengerjakan tugas tak pernah menjadi beban. Menjalani hari-hari kuliah dengan gelak tawa, saling bantu ketika yang lain kesulitan. Maha Suci Allah yang mempertemukan aku dengan pertemanan seperti ini, hingga studi tak terasa dijalani sendiri, melainkan full support. Entah apa jadinya studiku bila tak kulakukan bersama bantuan mereka. Miss you a lot, guys!
 
Beberapa momen bersama teman-teman seangkatan. Kiri atas: diskusi selepas kuliah menjadi santapan sehari-hari.

Berkah kedua adalah waktu luang yang kudapatkan untuk mengurus anak. Aku melahirkan Dek Abi ketika perkuliahan menginjak semester satu. Kondisi studi yang fleksibel—tak seperti jam kantor—membuatku leluasa memberi ASI, terutama ketika enam bulan pertama, hingga membuat Dek Abi menjadi bayi ASI yang nemplok banget sampai hari ini. Kemudian masih leluasa pula untuk mengatur menu dan memasak MPASI untuk Dek Abi pada bulan-bulan berikutnya. Tak lupa juga leluasa mengantar jemput Hanif ke sekolah dan sesekali mengiringinya dalam kegiatan outing ke beberapa tempat.

Berkah ketiga adalah kelonggaran waktu untuk melakukan olahraga sepuasnya. Senam aerobik yang dulunya aku lakukan dua kali seminggu, frekuensinya bertambah menjadi 3-4 kali seminggu. Kemudian aku juga sempat mengikuti kelas pilates selama 20 kali pertemuan, yang sedikit banyak berpengaruh positif terhadap skoliosisku. Lalu aku mengikuti kelas yoga seminggu sekali dan merutinkan berenang seminggu sekali. Juga masih sempat bersepeda beberapa kali dalam seminggu. Ahh nikmatnya hidup ketika kita bugar beraktivitas sepanjang hari. Tak hanya sehat yang didapat, ketika olahraga yang disukai dilakukan, tubuh juga akan mengeluarkan hormon endorfin yang membuat kita lebih bahagia.

Berkah berikutnya adalah kesempatan yang terbuka untuk aktif dalam berbagai kegiatan komunitas. Karena waktu kuliah yang longgar, aku berkesempatan aktif ikut banyak seminar dan pelatihan parenting dari berbagai pihak. Ini keberkahan yang luar biasa dalam mencari ilmu mengenai pengasuhan dan pendidikan anak. Jadi ilmu dari bangku kuliah bertambah, ilmu sebagai orang tua juga bertambah. Lewat kesempatan itu pula aku berkenalan dengan Bunda Rani dan Komunitas Cinta Keluarga (KCK), yang membuatku merasa menemukan supporting system yang baik dalam menjalani dunia parenting. Hal ini diikuti pula dengan terlibatnya aku dalam penyelenggaraan seminar dan pelatihan mengenai parenting dan kesehatan anak.

Bersama Bunda Rani dan teman-teman KCK saat launching Gerakan Bandung Cinta Keluarga di Sabuga

Selain itu aku juga aktif di Masyarakat Skoliosis Indonesia (MSI) cabang Jawa Barat. Komunitas penggiat skoliosis ini berperan sebagai pusat informasi skoliosis dan sebagai wadah pemersatu bagi penyandang dan pemerhati skolisosis di Indonesia, khususnya Jawa Barat. Visinya mulia sekali, yaitu meningkatkan kualitas hidup penyandang skolisosis. Lewat MSI aku bertemu dengan orang-orang yang luar biasa. Serasa menemukan saudara senasib sepenanggungan di sini. Kami bersama-sama mengadakan kegiatan, baik yang lingkupnya kecil seperti pertemuan kopdar untuk sharing, berbagi informasi, nonton film atau jalan-jalan bersama, maupun yang lingkupnya lebih besar seperti talkshow di radio, seminar, atau penggalangan dana untuk operasi skolioser yang tidak mampu.

Maka ketika tugas belajarku resmi berakhir minggu ini, ada rasa senang sekaligus sedih. Senang karena sidang tesis telah terlampaui dengan baik, sekaligus sedih karena aku kehilangan keleluasaan waktu untuk hal-hal yang aku sukai. Well, suatu tanggung jawab yang telah selesai di satu tempat memang menuntut tanggung jawab baru di tempat lain. Harapanku: seiring dengan mulai aktifnya aku bekerja kembali, aku tidak kehilangan waktu untuk mengembangkan diri agar bisa menjadi orang tua yang baik, juga tidak kehilangan waktu untuk melakukan aktivitas sosial di masyarakat. Masih ada satu mimpi yang belum sempat kulakukan semasa studi, yaitu mengikuti pelatihan untuk menjadi konselor laktasi. Semoga Allah masih memberiku kesempatan untuk melakukan kebaikan-kebaikan yang bermanfaat bagi orang banyak. Aamiin.

Friday, May 27, 2011

Two Sparkling Eyes


Adalah Mbak Lessy, yang dengan tiba-tiba mengirim pesan, mengajak untuk bertemu dalam kesempatan lawatannya ke Bandung. Kaget tentu. Pertama, dia baru beberapa bulan menjadi kontakku di Multiply. Kedua, aku belum tahu banyak tentang dirinya. Serta merta perasaan senewen muncul seperti biasa ketika aku akan bertemu dengan orang baru. OMG, apa yang mau kuobrolkan dalam kesempatan bertemu dengannya? Bahan-bahan perbincangan apa yang akan kusodorkan ke hadapannya?

Semangat Mbak Lessy untuk bertemu ternyata luar biasa. Beberapa kali dia menelepon dan sms untuk menanyakan kesanggupanku bertemu. Sayangnya aku tak dapat segera menjumpainya di hari pertama, karena kesibukan di kantor yang tak dapat kutinggal. Ketika hari kedua—hari terakhir Mbak Lessy berada di Bandung—dia masih terus menghubungiku, aku tak dapat menolak lagi. Rasa penasaran membawaku datang ke hotel tempatnya menginap, seperti apakah Mbak Lessy sebenarnya?

Kesan pertama ketika bertemu adalah: ternyata benar apa yang pernah dikatakan ibu sahabatnya, Migo, bahwa this cute little friend has two sparkling little round eyes! Binar matanya, kehangatan senyumnya, dengan segera melumerkan kekakuan yang tadinya membuatku senewen. Sapaan ramah, keceriaan, dan kata-kata yang ringan mengalir kemudian semakin mengukuhkan perasaanku: betapa menyenangkannya Mbak yang satu ini. Seketika kelegaan melingkupi hatiku, aku tak perlu berusaha keras untuk bersikap jaim, dan dengan santai bisa menjadi diriku yang apa adanya di hadapannya.

Perbincangan mengalir alami, tanpa perlu mencari-cari bahan obrolan. Dimulai dari perkenalan, lalu berlanjut ke cerita keseharian. Setelah menghirup teh hangat yang disediakan Mbak Lessy, kami makin merasa nikmat berbincang. Ahai, seperti sobat lama saja. Padahal baru kali itu kami bertemu.

Sayangnya waktu terasa sangat singkat. Adzan maghrib bergema. Uda Andri—suami Mbak Lessy—pun sudah datang, dan mereka akan bersiap untuk check out. Uda Andri ini sama menyenangkannya dengan istrinya. Serasi sekali: yang satu cakep, yang satu cantik, dan saling melengkapi dalam berbagai sisi—paling tidak begitulah yang kutangkap dari tulisan-tulisan Mbak Lessy selama ini, plus sedikit obrolan kami sore itu.

Ah, ternyata berat berpisah dengan sobat cantik bermata sparkling ini. Sampai di lobi pun kami masih terus berbincang, padahal ucapan pamit sudah terlontar sedari tadi. Selamat jalan, Mbak Lessy! Sampai kita berjumpa lagi. Terima kasih telah menghadirkan pertemanan yang begitu hangat, sehangat senyum dan teh yang kauhidangkan sore itu.

Foto: Bandung, 25 Mei 2011, diambil dari sini.

Monday, February 28, 2011

Sharing atau Menggurui?

Ndak boleh merasa jadi orangtua yang paling benar dan paling tau sedunia. Hanya karena anda pernah membaca sedikit pengetahuan tentang itu. (Rakhmita Akhsayanty)

Sekarang ini sudah zamannya akses informasi mudah dan internet murah. Dengan berkembangnya tren teknologi informasi yang tinggal seujung jari, tak heran jagat dunia maya sangat ramai oleh berbagai macam aktivitas. Satu hal yang menarik dari fenomena ini adalah maraknya komunitas dunia maya bermunculan, mulai dari komunitas masak, klub hobi, hingga komunitas sharing mengenai berbagai macam hal.

Karena aku merupakan makhluk dunia maya yang cukup aktif, aku tak ketinggalan mengikuti sedikit dari beraneka komunitas ini. Salah duanya adalah komunitas sharing ibu-ibu mengenai pengasuhan anak dan komunitas sharing para orang tua tentang kesehatan anak.

Tak dapat kupungkiri, aku mendapat banyak ilmu dari komunitas-komunitas ini. Maklum, ilmu pengasuhan dan kesehatan berkembang begitu cepat. Apa yang menjadi pengetahuan umum bagi generasi terdahulu mungkin bisa dianggap usang dan ketinggalan zaman bagi generasi sekarang. Dan tentu saja, pengalaman menjadi orang-tua-baru adalah pengalaman terkaget-kaget oleh banyak hal, meskipun sudah beberapa tahun sebelumnya berusaha membekali diri dengan pengetahuan parenting. Tetap saja ada perasaan panik, takut, dan was-was ketika mendapati peristiwa yang kita tak banyak tahu tentangnya. Alhamdulillah, lewat komunitas-komunitas ini aku banyak belajar dan merasa mendapat lingkaran pendukung dalam keseharian sebagai orang-tua-baru.

Di balik banyak manfaat yang dirasa, ada sedikit ganjalan yang mengganggu perasaanku. Pada berbagai komunitas digital dan situs jejaring sosial itu, sayangnya ada segelintir orang yang bersikap narsis dengan mengatasnamakan sharing. Memang niat awalnya baik: berbagi pengalaman dan kiat-kiat positif. Lalu lama kelamaan jadi berasa adu pengalaman, berlomba-lomba mengatakan (tidak secara eksplisit sih, tapi cukup tersirat) bahwa pengalamannya-lah yang terbaik, apa yang dilakukannya-lah yang paling benar, ilmunya-lah yang paling baru, bla bla bla.

Kok rasanya jadi pahit ya, ketika orang yang kepadanya kita berguru, ternyata malah merasa jadi mahaguru, lantas bersikap menggurui. Secara ekstrem bahkan terlihat arogan dan sok tahu, seolah dirinya paling benar dan paling tahu. Segala perkataan atau perbuatan kita dianggapnya remeh dan salah (atau kurang tepat), lantas dikomentari dengan tidak bijak seolah-olah kita orang paling bodoh dan paling tidak tahu. Kalaulah memang kita salah, mbok ya ditanggapi dengan kata-kata yang baik dan tidak memojokkan, namanya saja masih newbie.

Ini pernah terjadi padaku dulu, lalu terjadi lagi minggu ini—dan aku juga cukup sering melihatnya terjadi pada orang lain. Kisah yang dulu itu terjadi ketika Hanif masih ASIX, berawal dari keingintahuanku ketika melihat stok ASIP seorang teman yang sampai sekulkas penuh, sementara aku ngos-ngosan dengan stok ASIP yang kejar tayang. Tadinya cuma ingin bertanya bagaimana tipsnya, eh lama kelamaan si teman berasa jadi sombong dengan prestasinya yang seolah-olah ibu terbaik sedunia. Aku langsung jengah, dan serta merta memutuskan pembicaraan. Sekarang sudah malas mau tanya-tanya ke teman itu lagi.

Peristiwa terbaru minggu ini terjadi ketika aku absen rapat yang tadinya kujadwalkan hadir. Malam sebelumnya Hanif sakit hingga tak bisa tidur. Aku izin tak bisa rapat karena menunggui Hanif dan berencana membawanya ke dokter di rumah sakit. Dan komentar seorang teman membuatku kecut. Tanyanya, “Emang sakit apa kok sampai harus ke rumah sakit?” Seorang teman lain menambahkan, “Sakit apa kok ke rumah sakit? Sudah HT (home treatment, red.) apa?”

Oh, baiklah. Kenapa harus ke rumah sakit, ya karena hari Minggu, tentu dokter yang buka ya cuma UGD rumah sakit. Aku tahu maksud mereka baik, berawal dari kepedulian. Tapi nadanya itu lho, seakan-akan aku bertindak serampangan pada anakku sendiri. Aku tahu mereka sudah lebih senior malang melintang dalam dunia kesehatan anak. Aku tahu aku masih newbie. Tapi hellooooo, aku kan juga sudah belajar untuk rasional ketika anak sakit. Menganut RUM bukan berarti anti dokter dan anti rumah sakit to? Komentar mereka menjatuhkan mentalku, seolah-olah aku tak bisa menjadi orang tua yang baik. Aku kan tak ingin peristiwa dua tahun lalu terulang lagi, ketika aku terlambat menyadari Hanif sakit hernia dan harus segera dioperasi. Niatku ke dokter juga bukan untuk minta obat, tapi ingin tahu apa diagnosis dokter. Wong kita juga bukan dokter kok, tak bisa lah kita mengira-ngira sendiri. Kalau diagnosis dokter sudah jelas, barulah kita bisa putuskan akan melakukan HT apa, bukan begitu?

Kelihatannya kita semua harus belajar menjadi lebih bijak dalam berkata-kata. Juga ketika kita berniat sharing pengalaman, jangan sampai ilmu yang tadinya diniatkan baik untuk ditularkan, menjadi mentah hanya gara-gara kita terlampau narsis dan arogan. Lebih jauh lagi, seperti yang pernah kutulis di sini, marilah kita sama-sama berusaha untuk berhati-hati dalam berkomentar. Karena kita tak pernah tahu apa pertimbangan orang lain. Karena kita tak sepenuhnya memahami jalan pikiran dan situasi yang melatarbelakangi orang lain untuk mengambil keputusan. Yuk, kita jadi orang yang lebih menyenangkan dengan tidak bersikap sok tahu dan tidak nyinyir ketika berkomentar. Yuk yuk...

Catatan: Mungkin memang akunya yang lagi sensi ketika nulis ini. Ya gimana, anak lagi sakit, dikomentari macam-macam hauhauhau. Padahal sebenarnya nggak jadi ke rumah sakit juga karena aku tetap bersikap rasional. Izin rapat cuma untuk jaga-jaga dan menunggui Hanif. Lha kok tega-teganya komentar begitu padahal nggak tahu kejadian sebenarnya, hiksss...

Lewat kesempatan ini, untuk yang pernah tersakiti ketika mengomentari aku, atau tak sengaja aku komentari secara nyinyir (meskipun sudah lama aku berusaha untuk tidak demikian), aku minta maaf yang sebesar-besarnya ya.

Tuesday, October 20, 2009

Judes!

Wow, hari ini aku tertohok lagi. Oleh sesuatu yang sudah lama aku tahu, tapi tetap saja rasanya sangat sensasional: antara kaget, malu, dan gusar. Simak saja obrolan di kantin pagi ini.

Aku: “Kamu mual-mual ya?” (tanyaku pada seorang teman yang sedang hamil muda)
Teman A: “Iya nih, lebih mual daripada kehamilan pertama.”
Aku: “Aku dulu juga gitu. Mual banget.”
Teman B: (tiba-tiba berceletuk) “Saking mualnya sampai nggak bisa senyum ya?”
Aku: “???”
Teman B: “Iya. Kamu dulu pas awal-awal di sini kan emang nggak pernah senyum. Judes banget…”

Bagaimana tidak shock mendengar kritik yang begitu jujur seperti itu? Hehehe. Tapi sekarang aku lebih terlatih dalam menghadapi kritik. Tak lagi merasa tersingggung atau nangis bombay seperti dulu. Melainkan mencoba lebih bijak dan merenungkan semua yang temanku itu katakan.

Hmmm, masa-masa awal aku ada di sini… coba aku ingat-ingat. Yayaya, masa-masa itu memang masa-masa kegelapan hehehe. Kondisi sedang hamil, hormon kacau balau, dan mental jungkir balik membuatku begitu labil. Hampir setiap hari menangis, mencoba meraba-raba apa maksud Allah menempatkanku di sini. Fuuhh, masya Allah…

Kuakui, saat itu aku malas sekali menghadapi hari-hari. Malas sekali pergi ke kantor dan bertemu orang-orang. Rasanya wajar kalau saat itu mukaku jadi sering tertekuk. Aku tahu, bisa jadi waktu itu aku sangat judes. Aku tahuuuuu, tapi tetap saja kenyataan itu agak menyakitkan kalau disampaikan orang ya. Yah, aku maklum. Tidak semua orang paham dengan kondisiku. Tak semua orang tahu bagaimana aku berjuang keras untuk tetap tersenyum. Tak bisa salahkan mereka memang. Yang mereka tahu kan cuma keadaan luarku saja. Tak pernah senyum berarti judes. That’s it.

Hmmm, rasanya jadi tahu sekarang, kenapa teman B ini termasuk dalam orang-orang yang paling akhir akrab denganku. Mungkin dia juga malas bersosialisasi denganku waktu itu. Sekali lagi, tak bisa salahkan dia memang.

Kejadian ini membuatku berterima kasih padanya secara pribadi, dan berterima kasih pada Allah secara khusus. Pada Allah aku bersyukur telah diberi kesempatan mengalami campur aduk rasa kehidupan, bersyukur masih diberi cermin untuk instropeksi, dan juga bersyukur telah diingatkan bagaimana sebaiknya berwajah ramah kepada saudara. Yang paling penting, aku juga jadi diingatkan untuk tidak terlampau mudah men-judge orang berdasar penampilan luarnya saja, melainkan juga mencoba memahami dan mengenal orang lain lebih dekat. Karena rasanya sungguh tak enak kalau di-judge semena-mena tanpa tahu sebabnya heuheuheu.

Pertanyaannya sekarang adalah:
  • Apakah sebaiknya kita bermuka dua di hadapan orang lain? Hati kita sedih tapi kita tak boleh bersedih? Harus tetap tersenyum kah? Bukankah sedih adalah manusiawi? Hmmm, mungkin sebaiknya cuma menangis di hadapan Allah saja ‘kali ya. Tapi bisa saja lho, berusaha menyembunyikan perasaan ini dari orang lain malah akan membuat kita makin tertekan.
  • Apakah kita harus selalu memuaskan orang lain? Orang ingin lihat kita tersenyum dan ramah terus, atau orang lain ingin kita begini begitu. Haruskah kita melakukan sesuatu demi menyenangkan orang lain? Dan kadang-kadang menafikan keadaan kita sendiri? Hmmm, jadi martir dong kalau begitu.

Meskipun masih ada tanya tak terjawab, tapi instropeksi kali ini terasa nikmat. Terima kasih ya, Allah!

Monday, June 15, 2009

Sosialisasi

Masalah klasik yang selalu hadir dalam keseharian seorang ibu muda adalah sulitnya bergaul atau hang out dengan teman. Maklum, anak masih kecil dan masih suka bergelung di pelukan bundanya. Atau kalau tidak, bundanya yang sering kangen dan tidak tahan meninggalkan si kecil lama-lama.

Aku tipe yang senang main dan jalan-jalan. Apalagi kalau teman-teman yang ikut cukup banyak. Sebelum menikah, tak pernah terbayangkan bahwa kehidupan sosial di luar rumah akan “terkorbankan” seperti ini. Pastinya kesadaran tentang itu tetap ada. Hanya tak pernah berpikir bahwa hal ini akan menjadi masalah.

Yah, sebetulnya bukan masalah yang gawat juga sih. Sempat merenung sejenak soal ini ketika beberapa waktu lalu suami mengeluh bahwa kehidupan sosialnya dengan teman-teman sekantor tidak berjalan seperti yang ia harapkan. Pasalnya, tiap akhir pekan ia mesti ke Bandung menyambangi anak istrinya, sementara biasanya justru di akhir pekan teman-temannya mengadakan acara. Sebut saja acara pernikahan, sebagai contoh. Untuk itu ia harus memilih, absen dari acara itu atau absen dari anak istrinya. Bukan pilihan yang menyenangkan kalau ia harus terus-terusan absen dari acara pernikahan teman-temannya.

Bagaimana dengan aku? Sama saja. Akhir pekan seperti jadi harga mati untuk berada di rumah, karena saat itu suami datang. Bisa ditebak, akhir pekan bakal full untuk anak dan suami, dan terpaksa harus menepis ajakan teman-teman untuk sekedar bertemu atau jalan-jalan.

Masalahnya tak akan jadi pelik kalau teman-teman sejawat juga sudah sama-sama punya anak. Jadi kan bisa seperti family gathering. Sayangnya sebagian besar belum menikah, dan acara hang out selalu identik dengan gaulnya kaum lajang. Tak enak juga kalau dalam acara-acara seperti itu kita sendiri yang mengajak anak dan suami.

Pernah suatu kali aku tak diajak dalam acara kumpul-kumpul. Entah karena aku yang terlalu sering menolak ajakan sejenis—karena alasan yang sudah aku ungkapkan di atas—atau memang karena kuota sudah terlalu banyak, yang jelas: ada sebersit rasa tak dianggap. Mungkin aku sedang agak sensitif juga sih waktu itu.

Pernah juga suatu kali aku ikut acara karaoke selepas maghrib hingga malam. Meskipun hati agak tak tenang karena sudah seharian meninggalkan Hanif di rumah, aku ikut juga karena ingin berpartisipasi dalam acara hang out teman-teman, dan supaya kejadian “tak dianggap” di atas tidak terulang. Sedikit memaksakan diri dan merasa bersalah setelahnya. Duh…

Sebenarnya kalau dipikir-pikir, hanya aku di kantor ini yang notabene seorang ibu muda namun tetap eksis di acaranya kaum lajang kantor. Ibu-ibu muda yang lain lebih memilih untuk cepat-cepat pulang menjumpai anak. Bukannya aku tak sayang anak. Ini lebih kepada upaya untuk tetap eksis dalam dunia sosialisasi kantor. Tak dapat kupungkiri, aku masih mencari formula yang tepat untuk memposisikan diri di antara rumah dan luar rumah. So, any suggestion?

Friday, June 12, 2009

Narsis!

Ada seorang teman yang selalu membuatku merasa terintimidasi lewat update cerita, foto, dan komentar yang mengindikasikan keberhasilan dan pencapaiannya, di sebuah situs jejaring sosial. Semula aku mencoba berprasangka baik. Mungkin dia ingin membagi kisah suksesnya untuk memberi inspirasi bagi orang lain, atau sekedar berbagi cerita untuk menularkan kebahagiaannya.

Tapi lama-lama kok jadi eneg. Pasalnya, tiap kali aku berkomentar atau memberi pujian sedikit, dia makin ngelunjak. Komentar balasannya bernada meremehkan atau memberi indikasi-indikasi keberhasilannya berikutnya. Seakan-akan dia yang paling berhasil dan orang lain tidak seberhasil dia, atau orang lain tidak tahu apa-apa.

Bah! Sebenarnya maksud dia apa ya. Sebal sekali aku melihatnya. Sekaligus mengelus dada, betapa banyaknya media yang bisa dijadikan ajang narsisme sekarang ini. Juga betapa banyaknya orang yang menyalahgunakan media-media tersebut menjadi ajang narsisme untuk pamer pencapaian. Jadi ingat tulisan ini dan ini.

Well, sebenarnya mau narsis atau tidak narsis… itu hak setiap orang. Tapi kalau hal itu lantas membuat dia menyombongkan diri dan meremehkan orang lain… itu yang aku TIDAK SUKA.

Friday, February 20, 2009

Facebook = Gaul ??

Dari pengamatan pribadi dan hasil ngobrol sana-sini, aku menyimpulkan kalau sekarang ini ada satu parameter tambahan yang menjadi tolok ukur dikatakannya seseorang sebagai makhluk gaul dan eksis, yaitu: akun Facebook. Di mana-mana, tiap kali ada kenalan baru, kalimat yang terlontar adalah, ”Punya Facebook nggak?” :D

Jadiii... entah karena nggak mau ketinggalan arus lingkungan, atau entah karena sekedar penasaran, berbondong-bondonglah orang mendaftar akun Facebook. Seperti kalimat yang terlontar dari kalimat suamiku minggu lalu, ”Yang, bikinin Facebook dongg...” Hahaha, akhirnya ketularan juga.

Situs ini lebih beracun daripada situs jejaring sosial yang pernah populer sebelumnya, seperti Friendster dan Multiply. Di Facebook, orang akan kecanduan narsisme akut karena keranjingan update status, upload foto, kirim comment, dll. Meskipun harus diakui, sistemnya memang lebih canggih dan bisa membuat jaringan pertemanan menjadi lebih ”hidup”.

Buat aku pribadi, ada kisah tersendiri mengenai Facebook ini. Awalnya aku daftar Facebook demi mengintip status orang-orang tertentu. Biasaaa... buat dijadikan bahan bergosip. Ahahahahaii... Lalu tiba-tiba ada kisah lain lagi, terjadi beberapa waktu yang lalu.

Saat itu, di tempat parkir motor, seorang peneliti senior di kantorku tiba-tiba menghampiriku sambil bilang, ”Eh, kamu yang di Facebook itu ya?”

Alamak jangg... Udah setahun aku bekerja di kantor ini, si bapak itu mengenaliku... dari Facebook!! Tuing tuing... Baru ngeh kalau ada makhluk bernama Yustika ya, Pak? Jadiii... si bapak itu tergolong gaul atau malah nggak gaul ya? Hehehehe.

Ah, dasar teknologi. Ramainya orang punya jejaring sosial maya malah kadang bisa membuat mereka teralienasi dari jejaring sosial yang sesungguhnya. Bukan hal yang susah ditemui sekarang, orang saling mengirim pesan dengan Yahoo Messenger padahal mereka duduk di ruangan yang sama. Atau sibuk ber-HP ria dan mengabaikan kehadiran orang lain di sampingnya.

Hmm, kalau sudah begini, tatap muka dan kopi darat memang harus digalakkan juga, biar seimbang. Beda lah rasanya, mengenal kepribadian seseorang lewat dunia digital dengan mengenal kepribadian mereka lewat rangkulan hangat dan senyum mentari. Kuatir juga, kalau sibuk dengan jejaring sosial yang bejibun lewat komputer... nanti malah jadi autis sama sekeliling. Hiiiii...

Friday, April 11, 2008

Aku Bukan Malaikat

[Tanggapan untuk Amorita *gatal sekali aku pengen nulis ini*]

Wow! Hari yang spektakuler. Dalam satu hari aku mendapat beberapa kritik yang bertubi, datang dari orang yang berbeda. Kali ini aku ingin membahas komentar (atau masukan?) dari Amorita.

Komentar di bawah ini dia tujukan untuk postinganku yang ini.

Sebelumnya maaf jika komentar ini menyinggung perasaan Yustika.

Aku perhatikan selama ini kamu sangat tergantung pada suamimu, seolah-olah di dunia ini hanya ada suamimu. Kalau hanya ditinggal sementara kamu seperti ini, gimana kalau kamu ditinggalkan selamanya?

Bukankah lebih banyak nikmat yang Allah berikan padamu daripada sekedar cobaan kecil ini. Engkau memiliki keluarga yang baik, suami yang shalih, sudah punya rumah, sudah (akan) dikaruniai anak, ekonomi juga cukup, kurang apa sih? Banyak orang lain yang hidup di bawahmu.

Saranku, perbanyak silaturahim dengan orang lain. Masih aktif ikut pengajian kan? Insya Allah bergaul dengan orang-orang shalih akan memperkuat iman kita. Jangan sampai kesedihan ini menjadikan kita termasuk golongan ”yang berjatuhan di jalan dakwah” setelah menikah. Aku masih ingat lho, kamu dulu sering ngasih taushiyah yang menyejukkan di bukom Gamais. Sekarang? Kamu harus membuktikan bahwa kamu lebih dewasa.

Ingat nasihat seorang ustadz berikut : ”orang yang hatinya selalu bersama Allah, tidak akan merasa sedih dalam hidupnya”.

Lalu komentar yang berikut dia tujukan untuk postinganku yang ini.

(Sekali lagi) maaf ya atas komentar ini. Dari postingan-postingan terdahulu, bukankah kamu sudah cukup bahagia tinggal bersama suamimu di Cikarang dan hidup sebagai ibu rumah tangga? Kenapa sekarang kamu malah bekerja di Bandung? Aku yakin, sebelum kamu memutuskan hidup berjauhan dengan suamimu, kamu sudah mempertimbangkan masak-masak akan resiko yang akan kamu hadapi.

”Faidza ’azamta fatawakkal ’alallah” (apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah). Kamu sudah berani mengambil keputusan itu, sekarang kamu harus berani menjalaninya.

Bukankah akan menjadi kenangan yang lebih indah, jika kesedihan diikuti dengan ketegaran?

Fiuhh, tajam sekali ya komentar-komentar Amorita. Reaksi alamiah seseorang yang diberi kritik atau masukan adalah membela diri. Tapi sungguh, tanggapan ini kutulis bukan untuk membela diri, melainkan semata-mata untuk menjelaskan posisiku. Agar Amorita --atau siapapun yang membaca-- tidak men-judge sekehendak mereka. Karena mereka kan tidak berada di posisiku, tidak tahu secara persis apa yang kurasakan. By the way, sudah sejak bertahun-tahun yang lalu aku mencoba untuk tidak lagi men-judge orang sekehendak persepsiku, karena lewat sebuah kesempatan aku disadarkan bahwa yang berhak jadi hakim itu hanya Allah semata.

Oke, kuakui selama ini aku mungkin terlalu banyak mengeluh. Kalau diperhatikan, sebenarnya ”keluhanku” lebih banyak berpusar pada rasa ketidakberdayaanku dalam menentukan pilihanku sendiri, dalam memutuskan sesuatu untuk hidupku... sesuai keinginan, cita-cita, dan harapanku.

Kalau sering baca blog-ku, pasti sudah tahu bahwa gambaran ideal hidupku adalah berkarir sebagai stay-at-home mom, mengabdikan sepenuh waktu untuk suami dan anak-anak. Latar belakangnya kalau mau dijelaskan bisa panjang banget, tapi salah satunya adalah untuk menitikberatkan pengasuhan dan pendidikan anak --mengingat kami jauh dari keluarga besar-- serta dari pengalaman pribadi yang merasa ada yang ”hilang” akibat kedua orang tuaku berkarir di luar rumah.

Kalau Amorita bilang aku sangat tergantung pada suami alias tidak mandiri, itu salah besar. Sejak kecil aku dididik dengan keras oleh ibuku untuk mandiri. Ini ada latar belakangnya sendiri, yaitu karena ibuku adalah sulung dari sembilan bersaudara yang kehidupan masa mudanya cukup sulit. Ditambah lagi aku kan ditinggal orang tua bekerja, jadi sejak kecil aku terbiasa mandiri, melakukan segalanya sendiri. Aku tak pernah tergantung pada orang. Semua hal kulakukan sendiri. Bahkan untuk curhat pada teman pun jarang kulakukan, semata-mata karena aku terbiasa menyimpan semuanya sendirian.

Nah, semasa kuliah aku mulai kena getahnya. Beban yang kurasakan ketika kuliah --masih belum tahu apa itu? Yaa, sebut saja ber-IP satu koma selama tiga semester berturut-turut dan sempat dapat surat peringatan soal tenggang waktu DO-- dan kebiasaanku untuk menyimpan semua sendirian membuatku terkena depresi berat. Sayang aku tidak punya nyali untuk menemui psikolog atau psikiater, meskipun waktu itu aku sempat mencari. Alhamdulillah aku tidak sampai membutuhkan obat antidepresan untuk bangkit dari masa-masa gelap itu.

Jadi ya, aku memang punya bakat depresi :D Pernah dengar soal bipolar disorder? Kalau belum, cari tahu ya. Aku memang nggak separah itu sih. Poin yang ingin kusampaikan adalah, kamu tidak bisa membuat orang depresi merasa gembira semudah membalikkan telapak tangan. Kamu tidak bisa berkata, ”Ayo, ceria dong!” sambil berharap mereka langsung bahagia. Sebab depresi tidak bisa disembuhkan semudah dan secepat itu. Kamu tidak akan bisa paham sebelum kamu bisa menyelami perasaan orang-orang yang depresi.

Eh, ini bahas apa sih kok jadi ke sini. Balik lagi ke soal menentukan pilihan hidupku sendiri, aku nggak bisa memungkiri bahwa aku nggak punya pilihan. Yah, bisa saja sih aku menolak tawaran bekerja di Bandung. Kamu bisa bilang begitu. Tapi kan kamu nggak tahu seberapa besar harapan suamiku agar aku bekerja, sama besarnya seperti harapan mertuaku agar aku bekerja. Kamu nggak tahu karena kamu nggak ada di posisiku, nggak merasakan tiap saat disuruh mencari lowongan kerja, tes dan wawancara ke sana kemari sampai capek. Aku bisa saja berkata tidak pada tawaran pekerjaan yang datang, tapi apa kamu tahu setelah itu aku harus berhadapan dengan kekecewaan suami dan kesedihan karena membuyarkan impiannya untuk punya istri yang bekerja? Kamu nggak tahu itu kan?

Kamu bilang, ”Aku yakin, sebelum kamu memutuskan hidup berjauhan dengan suamimu, kamu sudah mempertimbangkan masak-masak akan resiko yang akan kamu hadapi.”. Hal itu nggak sepenuhnya benar. Sampai saat ini pun aku merasa masih belum siap tinggal sendiri dan kelak mengasuh anak tanpa pendampingan suami. Saat aku menjejakkan kaki di Bandung, aku hanya berbekal kenekatan dan ridha suami. Aku mencintai suamiku. Ketaatanku padanya terbingkai oleh kecintaanku pada Allah dan niat untuk beribadah pada-Nya. Aku rela melakukan apa saja untuk kebahagiaan suamiku, meskipun untuk itu aku harus mengorbankan perasaanku. Itu namanya cinta, just in case kamu nggak tahu :p

Satu lagi, kamu juga nggak tahu kan kalau wanita hamil itu perasaannya berubah menjadi sangat sensitif? Kamu mungkin nggak tahu karena kamu belum pernah hamil *baca-baca buku tentang kehamilan juga dong, jangan buku soal harokah melulu, biar nanti kalau aku kena baby blues... aku nggak disalahkan lagi*. Secara alami, wanita hamil --yang paling mandiri sekalipun-- pasti menginginkan perhatian dan belaian suami. Saat-saat hamil adalah saat-saat butuh dukungan. Beberapa orang teman yang pernah hamil berkata kepadaku, ”Pasti berat jauh dari suami ketika hamil begitu.”. Nah lho, yang pernah hamil aja bilang begitu sama aku.

Depresi pada ibu yang sedang mengandung disebabkan banyak hal. Pertama, adanya perubahan hormon yang menpengaruhi mood ibu secara keseluruhan sehingga si ibu sering merasa kesal, jenuh, atau sedih. Ibu akan terus-menerus mengkhawatirkan keadaan anak dan ini akan membuat dia merasa tertekan. Depresi dapat juga dialami setelah sang ibu melahirkan bayinya. Di Amerika Serikat, sekitar 30 persen dari ibu yang baru saja melahirkan diduga mengalami depresi pascamelahirkan.

Itulah sebabnya, saat ini, peran suami terhadap ibu yang sedang mengandung dan setelah melahirkan amat besar. Ibu hamil harus mendapatkan dukungan yang sebesar-besarnya dari suami. Dukungan suami ini bisa ditunjukkan dengan berbagai cara, seperti memberi ketenangan kepada istri, membantu sebagian pekerjaan istri atau bahkan sekadar memberi pijatan ringan bila istri merasa pegal. Diharapkan, dengan dukungan total dari suami, istri dapat melewati masa keamilannya dengan perasaan senang dan jauh dari depresi.

Sumber: dari sini.

Karena aku selalu nggak nyaman curhat secara verbal sama orang, maka biasanya segala curhat kutulis dalam blog. Jadi kalau nggak suka atau jengah baca curhatku yang (mungkin menurutmu) berisi keluhan, ya nggak usah baca. Gitu aja kok repot.

Jadi begitu ya. Aku bukan malaikat. Aku hanya perempuan biasa yang sedang berjuang melawan (gejala) depresi (lagi!) dan sensitivitas menjadi ibu hamil. Aku hanya perempuan biasa yang sedang beradaptasi dengan jalan hidup yang (mungkin) melenceng dari perkiraanku. Sekali lagi, tulisan ini bukan justifikasi. Hanya berharap semoga tulisan ini menjadi pencerahan bagi yang tidak mengerti.

Thursday, March 27, 2008

Asing

Sore itu, sepulang kerja, aku bertemu denganmu di angkot. Sapaanmu membuka pertemuan. Lalu kita berbasa-basi menanyakan kabar dan tempat tinggal. Hanya itu. Seterusnya kita saling diam.

Teman, apa yang terjadi di antara kita? Bukankah dulu kita pernah menghabiskan waktu bersama, tergelak bersama, berdiskusi bersama? Apakah waktu yang telah terbang mengekalkan jarak di antara kita? Atau selama ini aku memang bukan siapa-siapa bagimu? Tidak seperti teman kita yang lain itu, yang senantiasa kauajak bercakap dan berdiskusi sampai mulut berbusa-busa.

Sejujurnya, Teman... kunjungan rutinku ke blog-mu adalah salah satu caraku melepas rindu dan menilik kabarmu. Ajakan bertemu itu juga salah satu cara lainku untuk mengatakan bahwa aku menyayangimu. Tapi aku paham kalau ajakanku tak pernah bersambut karena sejuta kesibukanmu. Yah, mungkin hanya aku yang terlalu naif... karena menganggap diriku layak menempati tempat istimewa di hatimu.

Wednesday, March 19, 2008

Maka Menikahlah

”Saya senang punya teman Mbak Yus, karena Mbak Yus sudah menikah,” kalimat ini terlontar dari mulut laki-laki itu di suatu sore. Kalimat yang aneh, bukan? Biasanya orang senang berteman dengan kita karena kita baik, ramah, sopan, atau yang lain. Tapi kalau karena kita sudah menikah? Hmm, pasti jarang yang berkata demikian.

Dia melanjutkan lagi. Katanya berteman dengan lawan jenis yang sudah menikah itu nyaman dan aman. Maksudnya: lebih bebas berinteraksi --dengan tetap menjaga adab tentunya-- karena tidak khawatir akan timbul fitnah. Oh ya, aku langsung sepakat.

Menikah bisa memagari kita dari perhatian yang berlebihan dari teman lawan jenis, rasa ge-er yang ditimbulkannya, keinginan untuk tebar pesona, atau kekhawatiran tentang kebaikan kita akan disalahartikan oleh teman lawan jenis. Menikah bisa membuat kita fokus menata hati dan menata hidup. Setidaknya ini yang kurasakan. Alhamdulillah ternyata rasa nyaman dan aman berinteraksi dengan teman lawan jenis ini juga dirasakan oleh temanku itu. Aku baru ngeh setelah dia bilang begitu.

Yah, bagaimanapun juga menikah adalah ibadah di mata Allah. Menikah adalah sunnah yang dicintai Rasulullah. Kalaupun ada hal-hal baik yang mengikutinya, semoga itu adalah berkah dan hikmah menikah. Maka menikahlah... what are you waiting for??

Monday, March 12, 2007

Kawan Lama

Pulang dari mengantar adik ke tempat les sore itu, tak dinyana aku bertemu dengan kawan lama: Zulvia. Pandanganku yang menangkap sosoknya sekelebat di pinggir jalan membuatku refleks mengerem motor secara mendadak. Untung nggak ketabrak dari belakang. Ngeri juga kalau ngebayangin yang serem-serem *Yustikaaaa, jangan sembrono di jalan raya!!*.

Akhirnya kami berdua ngobrol di pinggir jalan :) dengan posisi Zulvia berdiri dan aku duduk di atas sadel. Temenku yang kini bekerja sebagai PNS di BLK (di bawah naungan Depnaker) itu terlihat lebih dewasa. Ia tampak ceria bertemu denganku, sama-sama nggak nyangka. Hmm, kalau dipikir-pikir, mungkin ada enam tahun kami nggak saling ketemu.

Dia adalah teman pertama yang kukenal ketika aku masuk STT Telkom tahun 2000 lalu. Perkenalan terjadi di kamar Asrama Putri F.302 karena kami memang sekamar. Sama-sama kuliah di jurusan Teknik Informatika membuat kami sering membahas pelajaran bareng, terutama mata kuliah Algoritma Pemrograman dan Kalkulus *masih inget banget!*.

Pertemuan singkat itu diakhiri dengan tuker-tukeran nomer ponsel dan janji untuk saling kontak. Ketika aku melaju kembali di atas motor, tanpa sadar aku tersenyum... teringat kembali masa-masa kuliah di STT Telkom bertahun-tahun silam. Duh, yang namanya romantisme masa lalu...