Showing posts with label skoliosis. Show all posts
Showing posts with label skoliosis. Show all posts

Saturday, May 28, 2022

Perbaikan Postur Tubuh Akibat Skoliosis

Susunan ruas tulang belakang

Aku didiagnosis mengidap skoliosis pada 8 Juni 2010. Skoliosis dengan sudut Cobb 20 derajat ke kiri yang aku idap disebut skoliosis thoracolumbal karena areanya terdapat pada ruas-ruas di antara thoracic spine dan lumbar spine, mulai dari ruas T9 hingga L5. Karena sejatinya skoliosis adalah kelainan tulang belakang, ia tidak dapat disembuhkan. Yang dapat dilakukan adalah mengurangi derajat kelengkungannya–dengan atau tanpa operasi–dan menjaga supaya derajat kelengkungannya tidak bertambah.

Skoliosisku

Dokter spesialis ortopedi dan traumatologi dari Rumah Sakit Fatmawati, dr. Luthfi Gatam, Sp.OT., mengatakan bahwa penyandang skoliosis berkategori ringan pada tahap sudut 20 derajat hanya memerlukan observasi rutin. Penyandang skoliosis berkategori sedang dengan tahap sudut antara 20 sampai 40 derajat dianjurkan mengenakan brace, sedangkan penyandang skoliosis berkategori berat dengan tahap sudut lebih dari 40 derajat–sehingga memiliki kemungkinan mengganggu kinerja organ–perlu dioperasi. Karena skoliosisku masih termasuk kategori ringan, tindakan operatif tidak diperlukan. Tak lama setelah itu, aku mulai berkenalan dengan pilates dan yoga sebagai salah satu upaya untuk terapi skoliosis.

Pilates

Menurut KBBI, pilates adalah metode senam ringan untuk memperkuat otot perut, memperbaiki postur tubuh, dan meningkatkan keseimbangan. Sebelum latihan dimulai, instruktur mengobservasi hasil rontgen dan posturku lalu merancang program yang sesuai dengan tujuan latihan, yaitu meringankan skoliosis dan meredakan keluhannya.

Pilates dengan bantuan alat-alat berfungsi menyeimbangkan otot-otot, melenturkan otot yang meregang, dan membuat persendian menjadi lebih sehat. Setiap gerakan dan hitungan dalam pilates dilakukan dengan penuh konsentrasi dan terkontrol. Gerakannya harus presisi, urut, berkesinambungan, dan menggunakan napas yang benar yaitu pernapasan perut. Pernapasan perut dapat mendorong tulang belakang bersama otot-ototnya kembali berfungsi secara seimbang. Pada akhirnya, postur tubuh yang benar, pernapasan yang benar, dan otot yang elastis membuat organ tubuh termasuk tulang belakang kembali berfungsi dengan baik.

Meskipun merasakan manfaatnya, aku tidak melanjutkan latihan pilatesku setelah 16 sesi karena harga yang lumayan mahal. Selain itu, kadang aku merasa frustrasi saat menjalani kelas privat karena harus melakukan gerakan yang betul-betul presisi. Pengawasan instruktur sangat ketat sehingga gerakan yang salah sering diulang-ulang sampai benar. Pada suatu titik ketika aku tak lagi merasa enjoy, aku memutuskan berhenti dan mulai melirik yoga sebagai alternatif lain.

Yoga

Aku tidak mengikuti kelas yoga secara privat, tetapi mengikuti kelas yoga general. Sebelum mulai berlatih, aku mengomunikasikan perihal skoliosisku kepada instruktur sehingga ia pun memahami keterbatasanku. Program latihan di kelas tidak didesain secara khusus untuk pasien skoliosis, tetapi secara umum semua gerakan yoga bermanfaat untuk perbaikan postur tubuh.

Gerakan yoga berfungsi meningkatkan kelenturan dan kekuatan otot (dalam kaitannya dengan skoliosis, hal ini juga termasuk otot-otot yang menunjang tulang belakang), mengoreksi lengkungan dan rotasi tulang belakang, serta memperkuat kaki sebagai penyangga tulang belakang. Ketidakseimbangan postur yang kerap dialami oleh pasien skoliosis akibat misalignment tulang belakang juga diperbaiki oleh yoga dengan memperkuat sisi tubuh yang lemah.

Alhamdulillah, yoga sangat membantuku mengurangi pegal dan backpain, mengoreksi postur, menguatkan otot dan tulang punggung, serta menstabilkan panggulku yang tinggi sebelah. Siapa sangka dari situ aku malah jadi jatuh cinta pada yoga. Lebih dari sekadar treatment skoliosis yang aku dapatkan, yoga juga membantuku menyeimbangkan pikiran, tubuh, dan jiwa.  Dalam beberapa hal yoga membuatku tetap waras karena aku juga belajar untuk terkoneksi dengan diri, mencintai diri, dan menerima diri apa adanya.

Setelah hampir sepuluh tahun rutin beryoga, kini aku berhasil membangun kesadaran terhadap perbaikan postur. Muscle memory yang dibangun selama bertahun-tahun itu sering “mengingatkanku” bila aku melakukan gerakan yang berisiko menyebabkan ketidakseimbangan tulang belakang dan memperparah skoliosisku. Bahkan secara random aku pun menjadi gampang “gatal” untuk mengoreksi postur tubuh seseorang bila kurasa ia sedang melakukan sikap tubuh yang buruk, hahaha.

Tuesday, April 01, 2014

HUT MSI Jabar ke-3

Bulan Maret lalu MSI Jabar berulang tahun yang ke-3. Hari ulang tahunnya sebenarnya jatuh pada 6 Maret, tapi karena kesibukan pengurus (ceilee..), syukuran sederhana baru bisa dilakukan pada Minggu, 16 Maret 2014. Koordinasi pengurus sepenuhnya dilakukan di dunia maya melalui Whatsapp karena keterbatasan waktu untuk kopi darat. Mulai dari format acara, konten acara, pemilihan narasumber, sampai pembagian tugas, semua pembahasannya dilakukan secara online. Salut untuk kekompakan teman-teman pengurus tercinta (colek Mbak Linda, Adys, Tami, Ama, dan Rini).
 
Pengumuman acara yang di-published di socmed

Acara bertajuk “Meet Up MSI Jabar” itu berformat fun sharing. Tentu sifatnya informal, santai, dan penuh haha hihi. Secara garis besar, konten acaranya adalah perkenalan, dan dua sesi sharing. Sesi sharing pertama dibawakan oleh Arif Sugiharto dan Nuri Handayani, yang mempresentasikan skripsi masing-masing yang terkait dengan skoliosis. Sesi sharing kedua dibawakan oleh Yulia E. S., penulis buku Pantang Padam, yang di dalam bukunya menceritakan kisah hidupnya bergulat dengan MVP dan skoliosis. Sebenarnya direncanakan ada sesi sharing ketiga juga, untuk berbagi kisah antarpeserta yang hadir. Sayang sesi ketiga ini akhirnya dibatalkan karena keterbatasan waktu.

Pagi itu aku berangkat tergesa karena sebelumnya menghabiskan waktu untuk menyiapkan slide profil MSI Jabar dan slide Yulia, serta memilih beberapa lagu pengiring yang akan diputar selama acara. Salah satu kekhawatiranku tentang infocus sudah pupus sehari sebelumnya karena Teh Isti dari Yayasan Al Firdaus bersedia meminjamkannya (thanks to Dyah yang sudah membawakan). Sampai di Ayam Penyet Ria, teman-teman pengurus sudah berkumpul. Kumpul sebelum Meet Up ini untuk kembali berkonsolidasi membahas kelanjutan kegiatan MSI Jabar setelah sempat vakum beberapa waktu lamanya.

Pada kesempatan ini pula aku akhirnya bisa bertatap muka dengan Yulia. Pertemuan kami yang berawal di blog-nya membawa kami bekerja sama dalam penyusunan buku Pantang Padam. Percaya atau tidak, aku menjadi proofreader buku tersebut tanpa pernah bertemu secara langsung sebelumnya. Alhamdulillah akhirnya bisa kopi darat dengan pustakawan manis yang sangat inspiratif ini.

Acara Meet Up yang sedianya diagendakan mulai pukul 11.00 akhirnya molor setengah jam karena menunggu kehadiran peserta. Duo MC gaul, Tami dan Ama, renyah membuka acara. Kemudian dilanjutkan dengan perkenalan satu demi satu peserta yang hadir. Pada sesi sharing pertama, Sugi yang merupakan mahasiswa Teknik Mesin ITB, menceritakan skripsinya yang berjudul “Tinjauan Awal: Pengaruh Ketidaknormalan Tulang Belakang pada Pasien Skoliosis Terhadap Pola Gerak Tubuh Atas Saat Berjalan”. Skripsi ini membahas biomekanika penderita skoliosis. Berikut kesimpulan skripsi Sugi:
  1. Pada penelitian ini telah disusun metodologi pengambilan data kuantitatif pada pasien skoliosis, berupa data gerak tubuh atas saat berjalan.
  2. Pada penelitian ini telah diambil anggota gerak tubuh bagian atas yang berupa rotasi panggul terhadap sistem referensi global, rotasi dada terhadap panggul pada 17 pria dan 7 wanita normal serta 6 wanita skoliosis.
  3. Gerakan dada terhadap panggul pada pria dan wanita normal memiliki perbedaan jangkauan gerak. Perbedaan jangkauan gerak ini sebesar 2,5 derajat pada rotasi dada terhadap panggul, dan 2,2 derajat pada obliquity dada terhadap panggul.
  4. Pada pasien skoliosis perubahan sudut Cobb tidak diikuti dengan perubahan pola gerakan dada terhadap panggul.

Sugi dan Nuri
 
Sedangkan Nuri yang merupakan mahasiswi Psikologi Unpad, membawakan skripsinya yang berjudul “Gambaran Dukungan Sosial dan Self-Esteem Pada Remaja Putri Penderita Skoliosis”. Skripsi Nuri menyoroti pentingnya dukungan dari orang-orang terdekat seperti keluarga, teman, dan sesama penderita agar skolioser dapat merasa dirinya berharga dan agar skolioser memberikan penilaian yang baik terhadap dirinya.

Aku dan Yulia. Foto diambil dari sini.

Setelah makan siang, sesi sharing kedua diisi oleh Yulia. Sesi ini dibuka dengan perkenalan dari Yulia dan pemutaran slide singkat mengenai gambaran dan penyusunan buku Pantang Padam. Format sesi yang ini dibuat seperti talkshow, dengan aku sebagai moderator (ehemm..) yang sesekali melirik contekan untuk mengupas buku yang ditulis Yulia dan mengorek sedikit kehidupannya terkait dengan skoliosis. Yulia menulis sharing-nya dengan lengkap di sini. Inti yang kutangkap dari buku Yulia adalah tentang semangat dan motivasi yang kuat dari dalam diri, yang tak pernah padam meskipun menyandang skoliosis dan MVP. Bahwa skolioser pun masih bisa banyak beraktivitas dan berkontribusi untuk kemaslahatan masyarakat.

Secara keseluruhan, aku sangat gembira acara berjalan lancar seperti yang direncanakan. Dan yang lebih istimewa, aku mendapat kesempatan memotong kue ulang tahun MSI Jabar, karena sehari sebelumnya aku juga berulang tahun (yeay! hehehe..). Kuenya lembut dan lezat, krimnya berasa susu sekali. Hmmm, yummy...
 
Kue ultah MSI Jabar

Hadir di acara seperti ini membuatku merasa memiliki keluarga yang hangat, teman-teman senasib yang saling menyemangati satu sama lain. Juga membuatku menyadari bahwa berkontribusi menjadi aktivis skoliosis di masyarakat, membuat jiwaku lebih utuh, karena mengingatkanku untuk terus mensyukuri hidup. Happy birthday, MSI Jabar! Semoga kehadiranmu senantiasa menginspirasi dan dapat mewujudkan misi untuk meningkatkan kualitas hidup skolioser di Indonesia, dan di Jawa Barat khususnya.

"Jika ada dua obat paling mujarab di dunia, maka itu adalah membaca buku dan menjadi relawan." --Yulia, Pantang Padam


Foto-foto lengkap bisa dilihat di sini.

Friday, March 28, 2014

Mencari Sebuah Gendongan (2)

Tulisan ini adalah sambungan kisah di sini.
 

Perjalanan mencari gendongan ini belum berakhir sampai akhirnya aku bertemu dengan gendongan berjenis soft structured carrier (SSC). Gendongan model SSC dilengkapi dengan panel badan serta sabuk bahu dan pinggang seperti ransel. Tali bahu yang lebar dengan bantalan yang tebal namun lembut, sangat nyaman bila dipakai menggendong lama. Sedangkan sabuk di bagian pinggang memang didesain khusus untuk memindahkan beban dari bahu ke panggul dan membaginya dengan rata, sehingga bahu dan punggung kita tidak cepat pegal.
 
Soft structured carrier (SSC)

Kelebihan SSC dibanding babywrap adalah dari segi kepraktisannya: cara memakainya sangat mudah, tinggal mengkaitkan strap-nya and then you’re ready to go. Bandingkan dengan babywrap yang harus dibelit-belit ke tubuh terlebih dahulu. Selain itu, dari segi keamanan, SSC memiliki safety buckle yang besar di bagian pinggang untuk meminimalkan risiko gendongan terlepas secara tidak sengaja. Di pasaran, SSC hadir dengan berbagai merk. Harganya cukup mahal dibanding gendongan biasa. Tapi kurasa itu sepadan, karena pembuatan gendongan semacam ini pasti telah melalui berbagai riset dan uji coba hingga menemukan model yang tepat untuk tidak membebani tubuh ibu secara berlebihan. Tipe gendongan yang sangat tepat untuk seorang ibu yang menyandang skoliosis.

Karena harganya yang mahal, aku sempat maju mundur untuk membelinya. Harga SSC lokal berkisar 400-600 ribu, sementara yang impor berkisar 1-1,5 juta rupiah. Sebuah harga yang fantastis untuk sebuah gendongan. Waktu itu alhamdulillah ada kenalan yang menawari untuk membeli SSC impor miliknya. Memang sudah lawas, tapi semua komponennya masih berfungsi baik. Awalnya SSC second itu ditawarkan seharga 350 ribu. Akhirnya SSC itu kubeli dengan harga 400 ribu, tapi sudah dengan bonus teething pads yang kalau beli baru harganya 180 ribu.

SSC untuk Dedek

Selain berpengaruh positif terhadap tulang punggung sang ibu, pemilihan SSC ternyata juga terkait dengan kesehatan persendian pangkal paha anak yang digendong. Pemilihan gendongan yang tidak benar dapat menyebabkan hip dysplasia atau displasia pangkal paha, yaitu suatu perkembangan tidak normal dari persendian pangkal paha dengan paha, yang mengakibatkan terlepasnya tulang paha (femur) dari asetabulum tulang panggul (pelvis).
Hip Dysplasia means that the bones of the hip joint are not aligned correctly. It affects thousands of children and adults each year and is known by many different names: Developmental Dysplasia of the Hip (DDH), Hip Dislocation, Congenital Dislocation of the Hip (CDH), or Loose Hips.

Hip Dysplasia prevents the hip joint from functioning properly and the joint wears out much faster than normal, much like a car’s tires will wear out faster when out of alignment. It is also a “silent” condition that means pain is not normally felt until much later stages, making it harder to detect.

Developmental Dysplasia of the Hip (DDH) is commonly used when talking about hip dysplasia in children. Approximately 1 out of every 20 full-term babies has some hip instability and 2-3 out of every 1,000 infants will require treatment. In spite of the frequency of DDH in babies and the potential for life-long disability caused by DDH, the awareness of this condition is poor outside of the medical profession.

Hip dysplasia in babies is most frequently discovered at the time of newborn examinations by physicians but dysplasia and dislocation can develop after this time in some children. This is why hip dysplasia is greatly considered developmental. It is also hard to detect because hip dysplasia is known as a “silent” condition. It does not cause pain in babies and doesn’t normally prevent them from learning how to walk at a normal age. Early diagnosis, prevention, and simple treatment is the best solution, however many hip dislocations are difficult to treat with the current methods of care.


(disalin dari sini dan sini)

Pencegahan DDH bisa dilakukan dengan penggunaan baby tools (car seat, baby carrier, baby sling, dsb) yang tepat. Nah, SSC ini aman karena titik berat yang ditimpakan oleh beban bayi tidak jatuh ke selangkangan (which is amat berbahaya karena bisa menyebabkan DDH), melainkan ditimpakan ke pantat bayi dengan posisi seperti duduk. Berikut ini gambarnya.
 
Gambar diambil dari sini


Sekedar catatan, membedong bayi juga bisa menyebabkan DDH. Keterangannya bisa dibaca di sini.
 

Dengan gendongan bertipe SSC, Dek Abi terlihat nyaman sekali. Sekarang gendongan ini menjadi favoritku. Dan karena gendongan ini sangat aman, aku sering memakainya untuk menggendong Dek Abi sambil bersepeda. Suamiku juga sering memakai gendongan ini ketika naik motor sambil menggendong Dek Abi. What a life saver :)

Thursday, March 20, 2014

Berkah S2

Mengambil S2 mungkin adalah keputusan yang tak akan pernah kusesali sepanjang hidup, meskipun dulu awal-awal mendapat beasiswa dari kantor, aku sempat gamang. Ya, gamang karena asal mula ikut seleksi beasiswa adalah karena iseng. Dan ketika iseng itu membuahkan hasil lolos, aku “terpaksa” harus mendaftar S2. Kemudian ketika lulus seleksi S2 dan berhasil masuk ke almamaterku, nyaliku menciut karena takut. Takut tak bisa mulus menjalani studi, mengingat berdarah-darahnya aku ketika S1 dulu *lebay hehehe. Kali ini aku ingin bercerita tentang keberkahan yang aku rasakan karena mengambil S2.

Menurut beberapa sumber yang aku baca, berkah adalah bertambahnya kebaikan. Berkah tidak selalu identik dengan jumlah. Di dalam kamus Arab, berkah memiliki arti pertumbuhan atau pertambahan kebaikan. Berkah dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008:179) yang masuk dalam kelas kata nomina memiliki arti ‘karunia Tuhan yang mendatangkan kebaikan bagi kehidupan manusia’. Sedangkan kata berkat dalam KBBI Pusat Bahasa, memiliki empat makna, masing-masing adalah 1. karunia Tuhan yang membawa kebaikan dalam hidup manusia; 2. doa restu dan pengaruh baik dari orang yang dihormati (guru); 3. makanan dan sebagainya yang dibawa pulang sehabis kenduri; 4. mendatangkan kebaikan atau bermanfaat (2008:179-180).

Ada pula yang mengartikan berkah dengan kalimat ‘dapat melakukan hal yang banyak dalam waktu yang sempit’ atau ‘mendapatkan kebaikan lebih banyak dari takaran yang semestinya’. Apapun artinya, berkah yang kumaksud meliputi semua arti di atas.

Berkah S2 pertama yang sangat kusyukuri adalah mendapat teman-teman seperjuangan yang sangat baik, pengertian, dan menyenangkan. Bersama teman-teman ini, mengerjakan tugas tak pernah menjadi beban. Menjalani hari-hari kuliah dengan gelak tawa, saling bantu ketika yang lain kesulitan. Maha Suci Allah yang mempertemukan aku dengan pertemanan seperti ini, hingga studi tak terasa dijalani sendiri, melainkan full support. Entah apa jadinya studiku bila tak kulakukan bersama bantuan mereka. Miss you a lot, guys!
 
Beberapa momen bersama teman-teman seangkatan. Kiri atas: diskusi selepas kuliah menjadi santapan sehari-hari.

Berkah kedua adalah waktu luang yang kudapatkan untuk mengurus anak. Aku melahirkan Dek Abi ketika perkuliahan menginjak semester satu. Kondisi studi yang fleksibel—tak seperti jam kantor—membuatku leluasa memberi ASI, terutama ketika enam bulan pertama, hingga membuat Dek Abi menjadi bayi ASI yang nemplok banget sampai hari ini. Kemudian masih leluasa pula untuk mengatur menu dan memasak MPASI untuk Dek Abi pada bulan-bulan berikutnya. Tak lupa juga leluasa mengantar jemput Hanif ke sekolah dan sesekali mengiringinya dalam kegiatan outing ke beberapa tempat.

Berkah ketiga adalah kelonggaran waktu untuk melakukan olahraga sepuasnya. Senam aerobik yang dulunya aku lakukan dua kali seminggu, frekuensinya bertambah menjadi 3-4 kali seminggu. Kemudian aku juga sempat mengikuti kelas pilates selama 20 kali pertemuan, yang sedikit banyak berpengaruh positif terhadap skoliosisku. Lalu aku mengikuti kelas yoga seminggu sekali dan merutinkan berenang seminggu sekali. Juga masih sempat bersepeda beberapa kali dalam seminggu. Ahh nikmatnya hidup ketika kita bugar beraktivitas sepanjang hari. Tak hanya sehat yang didapat, ketika olahraga yang disukai dilakukan, tubuh juga akan mengeluarkan hormon endorfin yang membuat kita lebih bahagia.

Berkah berikutnya adalah kesempatan yang terbuka untuk aktif dalam berbagai kegiatan komunitas. Karena waktu kuliah yang longgar, aku berkesempatan aktif ikut banyak seminar dan pelatihan parenting dari berbagai pihak. Ini keberkahan yang luar biasa dalam mencari ilmu mengenai pengasuhan dan pendidikan anak. Jadi ilmu dari bangku kuliah bertambah, ilmu sebagai orang tua juga bertambah. Lewat kesempatan itu pula aku berkenalan dengan Bunda Rani dan Komunitas Cinta Keluarga (KCK), yang membuatku merasa menemukan supporting system yang baik dalam menjalani dunia parenting. Hal ini diikuti pula dengan terlibatnya aku dalam penyelenggaraan seminar dan pelatihan mengenai parenting dan kesehatan anak.

Bersama Bunda Rani dan teman-teman KCK saat launching Gerakan Bandung Cinta Keluarga di Sabuga

Selain itu aku juga aktif di Masyarakat Skoliosis Indonesia (MSI) cabang Jawa Barat. Komunitas penggiat skoliosis ini berperan sebagai pusat informasi skoliosis dan sebagai wadah pemersatu bagi penyandang dan pemerhati skolisosis di Indonesia, khususnya Jawa Barat. Visinya mulia sekali, yaitu meningkatkan kualitas hidup penyandang skolisosis. Lewat MSI aku bertemu dengan orang-orang yang luar biasa. Serasa menemukan saudara senasib sepenanggungan di sini. Kami bersama-sama mengadakan kegiatan, baik yang lingkupnya kecil seperti pertemuan kopdar untuk sharing, berbagi informasi, nonton film atau jalan-jalan bersama, maupun yang lingkupnya lebih besar seperti talkshow di radio, seminar, atau penggalangan dana untuk operasi skolioser yang tidak mampu.

Maka ketika tugas belajarku resmi berakhir minggu ini, ada rasa senang sekaligus sedih. Senang karena sidang tesis telah terlampaui dengan baik, sekaligus sedih karena aku kehilangan keleluasaan waktu untuk hal-hal yang aku sukai. Well, suatu tanggung jawab yang telah selesai di satu tempat memang menuntut tanggung jawab baru di tempat lain. Harapanku: seiring dengan mulai aktifnya aku bekerja kembali, aku tidak kehilangan waktu untuk mengembangkan diri agar bisa menjadi orang tua yang baik, juga tidak kehilangan waktu untuk melakukan aktivitas sosial di masyarakat. Masih ada satu mimpi yang belum sempat kulakukan semasa studi, yaitu mengikuti pelatihan untuk menjadi konselor laktasi. Semoga Allah masih memberiku kesempatan untuk melakukan kebaikan-kebaikan yang bermanfaat bagi orang banyak. Aamiin.

Thursday, July 12, 2012

Mencari Sebuah Gendongan

Tidak boleh menggendong anak! Kalimat tegas dan lugas yang keluar dari mulut dokter itu membuatku tertegun seketika. Belum habis rasa kagetku, kalimat larangan berikutnya mengalir bagai air bah: tak boleh senam, tak boleh loncat-loncat, tak boleh mengangkat barang berat, dan seterusnya. Ketika aku keluar dari ruang praktek dokter spesialis tulang belakang itu, raut mukaku meredup. Kugigit bibir untuk menahan pilu. Aku seorang bunda, bagaimana mungkin tak boleh menggendong anak?

Peristiwa itu terjadi dua tahun yang lalu ketika dokter memvonisku dengan kelainan skoliosis. Skoliosis adalah kelainan bentuk tulang belakang yang ditandai melengkungnya tulang belakang ke arah samping kanan atau kiri. Kata skoliosis berasal dari bahasa Yunani scolios yang artinya bengkok atau berputar. Jika dilihat dari belakang, tulang punggung yang normal berbentuk garis lurus dari leher sampai ke tulang ekor. Sedangkan pada penderita skoliosis, akan tampak adanya satu atau lebih lengkungan ke samping yang tidak wajar pada punggung.

Ternyata skoliosis-lah penyebab sering munculnya pegal-pegal di punggung ketika beraktivitas selama ini, terutama ketika melakukan aktivitas yang banyak mengandalkan punggung sebagai penopang. Menggendong anak adalah salah satunya. Semenjak vonis skoliosis itu datang, tiba pula waktunya mencari tahu bagaimana menjadikan aktivitas menggendong anak menjadi sesuatu yang tidak memberati punggung. Maka tanpa disadari, mulailah aku “berburu” gendongan yang nyaman.
Pilihan pertama jatuh pada jarik atau slendang (Bahasa Jawa), kain batik panjang yang biasa digunakan untuk menggendong secara tradisional. Apa pasal? Tak lain dan tak bukan karena aku punya beberapa jarik yang diberikan oleh ibu mertua tiap kali aku melahirkan. Tapi ternyata aku tak mahir menggunakan kain gendongan satu ini. Tali simpul tak pernah kencang benar, anak-anak serasa mau melorot saja. Buatku tak nyaman, buat anak apalagi. Khusus buat skoliosisku, gendongan ini juga tak cocok karena memberati punggung hanya pada satu sisi. Hal yang harus dihindari jauh-jauh karena dapat mengakibatkan kelengkungan punggung bertambah secara progresif.
Digendong dengan jarik, si dedek terlihat tidak nyaman.

Pilihan berikutnya adalah kain gendongan instan dengan ring besi untuk kaitan simpul. Hmm, bagus karena aku tak perlu terlalu sering membetulkan ikatannya, pikirku. Tinggal masuk langsung jadi. Cukup nyaman buat anak-anakku. Tapi gendongan ini ternyata masih membuatku pegal. Tentu saja, karena ia masih memberati punggung hanya pada satu sisi.

Setelah cukup lama tengok sana-sini, akhirnya aku melirik kain gendongan modern atau yang lebih populer dengan sebutan babywrap. Memang agak ribet cara pakainya karena harus dibelitkan ke seluruh tubuh. Memerlukan waktu yang relatif lebih lama untuk menggendong anak, meski hal itu bisa dieliminasi dengan banyaknya jam terbang. Kurasa aku cukup puas dengan gendongan model ini. Anak terdekap sempurna dengan berbagai cara, dan yang terpenting: kain gendongan ini membagi rata beban ke seluruh bahu dan punggung sehingga aku tidak cepat pegal.


Gendongan pembagi beban.

Terlepas dari apapun kain gendongan yang dipilih, kurasa sangat sulit bagi seorang bunda untuk tidak menggendong anaknya. Menggendong anak itu aktivitas alami yang dapat mempererat bonding, serta memberi rasa nyaman dan aman pada anak. Bahkan pada kasus anak sakit atau anak lahir prematur, aktivitas menggendong bisa jadi bagian dari solusi mempercepat penyembuhan dan peningkatan berat badan. Khusus untuk pengidap kelainan skoliosis yang tak bisa disembuhkan seperti diriku, aktivitas menggendong ternyata juga bisa menjadi ajang kontemplasi untuk lebih peduli, menghargai, dan sayang terhadap tubuh sendiri.

Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba di sini.
Naskah aslinya berada di sini.

Friday, March 18, 2011

Kunjungan Kedua ke dr. Husodo Dewo Adi, SpOT, K-Spine


Sabtu, 12 Maret 2011 yang lalu, aku kembali mengunjungi dr. Husodo di R.S. Halmahera. Kunjungan kedua ini dalam rangka kontrol setelah kunjungan pertama pada Juni 2010. Bisa dibilang terlambat memang, mengingat aku seharusnya kontrol kembali pada Desember 2010, sesaat setelah foto rontgen kedua diambil. FYI foto rontgen ini diambil per 6 bulan, berdasar anjuran dokter pada waktu itu.

Dari hasil analisis dr. Husodo, ternyata ada fakta mengejutkan (ciehh bahasanya). Jadi sodara-sodara, analisis beliau yang lebih akurat menunjukkan bahwa skoliosis yang kuderita ternyata tidak memiliki kurva 14 derajat seperti yang kukira selama ini, melainkan 20 derajat. Bagaimana bisa berbeda dengan foto rontgen sebelumnya?

Jadi begini, pada postingan ini sebenarnya dulu aku sempat menulis keraguanku akan keakuratan penghitungan kurva skoli pada foto rontgen yang pertama. Pada paragraf kedua aku menulis: “Pada gambar di atas, sudut 14 derajat diukur dari ruas T11 sampai L3. Tapi kalau kulihat-lihat lagi, sebenarnya bentuk melengkungnya itu sudah dimulai dari ruas T9, terus memanjang sampai ruas L5.”

Benar juga kan, ternyata dr. Husodo sependapat denganku, bahwa kelengkungan tulang belakangku sudah dimulai dari ruas T9 hingga ke L5. Maka perhitungan dengan segmen ruas yang lebih panjang menghasilkan kurva skoli sebesar 20 derajat.

Ya sudahlah, memang harus diterima. Enjoy aja. dr. Husodo tetap menganjurkan aku untuk berenang dan stretching (sit upback up). Beliau juga mengatakan bahwa kontrol berikutnya bisa dilakukan per 1 tahun saja, mengingat progresivitas skoliku yang tidak terlalu signifikan. Alhamdulillah, jadi aku tidak akan terlalu sering terpapar radiasi sinar-X yang besarnya 600 mikro Sievert tiap sekali rontgen itu :D

Gambar: Foto rontgen kedua yang diambil pada 25 November 2010. Dengan foto terbaru ini dr. Husodo melakukan analisis yang lebih akurat.

Monday, March 07, 2011

Gejala Skoliosis

Bagaimana Mengenali Gejala Skoliosis?



Penderita skoliosis umumnya terlihat dari berubahnya postur tubuh. Pada penderita akan terlihat adanya ketidaksimetrian garis tulang punggung dan bila diamati akan terlihat adanya tonjolan yang lebih tinggi pada salah satu bagian punggung.

Lima Gejala Skoliosis

  1. Kepala miring sebelah (heed tilt). Perhatikan apakah kedua telinga sama tinggi? Apakah posisi wajah cenderung ke satu sisi?
  2. Bahu tidak sama tinggi (shoulder tilt). Perhatikan apakah posisi bahu sama tinggi? Ataukah ada satu sisi bahu yang lebih maju ke depan? Apakah salah satu tulang scapula (belikat) lebih menonjol dari lainnya?
  3. Pinggul tinggi sebelah (pelvic tilt). Perhatikan apakah pinggul kiri dan kanan sejajar? Apakah celana atau gaun yang dikenakan dapat melekat sempurna di tubuh bagian bawah? Apakah panjang celana, kerah baju, dan panjang lengan sama bagian kiri dan kanannya?
  4. Kaki tidak seimbang (foot flare). Perhatikan apakah telapak kaki rata atau ada bagian yang mengarah keluar? Apakah ada keluhan lain di lutut atau pergelangan kaki?
  5. Lengkungan tulang belakang (spinal curve). Periksa apakah ada bagian punggung yang salah satu sisinya lebih tinggi? Apakah ada penonjolan di wilayah punggung atau penyimpangan bentuk tulang (tulang tidak lurus)?
Untuk kasusku, gejala yang terlihat adalah nomor tiga dan lima, yaitu pinggul tinggi sebelah sehingga pinggul kiri-kanan tidak sejajar dan celana jadi panjang sebelah, serta ada bagian punggung yang salah satu sisinya lebih tinggi atau menonjol.

Pemeriksaan Tulang Belakang



Pemeriksaan dapat dilakukan dengan metode Adam Forward Bend. Caranya, pasien diminta berdiri dengan lutut sejajar dan rapat, lalu tubuh dibungkukkan 90 derajat ke depan (mirip posisi rukuk pada gerakan shalat). Jika dia menderita skoliosis, akan tampak adanya penyimpangan bentuk tulang atau bagian punggung yang tingginya tidak sejajar.

Jika pada saat pemeriksaan dicurigai adanya skoliosis, segera lakukan pemeriksaan radiologi untuk mengetahui ukuran derajatnya, lalu ambil tindakan antisipasi sesuai saran praktisi medis.

Catatan: Gambar diambil dari sini dan sini.

Sekilas MSI

Masyarakat Skoliosis Indonesia (MSI) adalah organisasi yang berperan sebagai pusat informasi skoliosis dan sebagai wadah pemersatu bagi penderita dan pemerhati skoliosis di Indonesia. MSI didirikan pada Minggu, 27 April 2008 di Bandung dan berkantor pusat di Jakarta.

MSI memiliki visi menjadi organisasi sosial yang dapat meningkatkan kualitas hidup penderita skoliosis Indonesia dan bertugas menyediakan informasi yang benar dan lengkap mengenai segala sesuatu yang berhubungan dengan skoliosis bagi seluruh masyarakat Indonesia.

Kegiatan MSI:
  • Penyebaran informasi melalui website dan brosur
  • Bulan Donasi Skoliosis
  • School-Screening Skoliosis
  • Seminar dan talkshow
  • Pertemuan tahunan
  • Scoliosis Fun Day
  • Usaha produktif
  • Penelitian
(dikutip dari brosur MSI Pusat)

Okeh, jadi ceritanya, Minggu, 6 Maret 2011 kemarin aku menghadiri pertemuan di Kedai Kopi Mata Angin dalam rangka pembentukan MSI Jawa Barat. MSI Jabar merupakan cabang keempat setelah MSI Jakarta, Jawa Timur, dan Jawa Tengah. Sifa adalah penggagas, inisiator, sekaligus motivator kuat terselenggaranya acara ini. Sejak awal tahun dia sudah mengumpulkan para skolioser di area Jawa Barat untuk berkonsolidasi membentuk MSI Jabar. Salut dengan inisiasi gadis manis yang baru duduk di bangku SMA ini.

Selain dihadiri oleh para skolioser Jawa Barat, acara ini juga dihadiri oleh para pengurus MSI Pusat dan MSI Jakarta. MSI Pusat yang hadir di antaranya adalah dr. Rahyussalim (Ketua Umum MSI Pusat), Trie Kurniawati, Yulia Fitriani, Yosef Trenggono, dan Lina Herlina. Sementara dari MSI Jakarta di antaranya adalah Ditha Ranny, Fidhoh Rika, Andy Tria, dan Widyadhana.

Pada acara ini pula aku berkesempatan bertemu dengan Ibu Fatwa dari Cirebon yang putrinya, Shahnaz, menderita skoliosis. Beberapa kali sebelumnya aku memang pernah berkomunikasi lewat sms dengan beliau, sekedar berbagi kisah dan motivasi berkaitan dengan putrinya yang merasa sedih dan minder karena skoliosis yang dideritanya. Semoga acara kemarin dapat membuka wawasan dan menumbuhkan kembali semangat dan keceriaan Shahnaz yang sempat redup karena skoliosis.

Aku datang sedikit terlambat. Acara sudah dibuka oleh MC Mbak Linda Idris, skolioser dari Garut. Tapi untunglah masih sempat ikut perkenalan dan menyaksikan pendaulatan dr. Husodo (dokterku nih!) sebagai pembina MSI Jabar. Setelah penyampaian profil MSI Pusat oleh Mbak Trie, tiba saatnya pemilihan ketua dan pengurus MSI Jabar.

Sifa yang selalu rajin menjadi “kompor” tiba-tiba mendaulatku untuk menjadi calon ketua. Aku gelagapan. Duh, datang-datang langsung ditodong. Akhirnya terpilih tiga calon: aku, Sifa, dan Rini. Beuh, aku deg-degan juga, khawatir benar-benar didaulat menjadi ketua, haha. Untunglah aku cuma mendapat 8 suara di posisi kedua. Yang nomer satu tentu saja Sifa, sang “kompor” sejati, dengan 11 suara. Jadi, inilah kepengurusan MSI Jabar:


  • Pembina: dr. Husodo Dewo Adi, SpOT, K-Spine
  • Ketua: Raden Assifa Rahmah
  • Sekretaris: Yustika Kurniati
  • Bendahara: Rini Hariyani

Pembentukan divisi-divisi akan menyusul, menunggu konsolidasi selanjutnya. Semoga kami-kami ini yang diberi amanah menjadi pengurus, dapat menjalankan tugas sebaik mungkin. Kita sama-sama yaaa...

MSI Jabar nantinya akan menjadi wadah sosial yang menyediakan informasi yang benar dan jelas mengenai skoliosis, menggalang dana untuk membantu para penderita skoliosis yang mengalami kesulitan dana kesehatan, biro konsultasi, juga berencana mengadakan acara seminar dan fun day untuk menyebarluaskan informasi tentang skoliosis. Tak lupa juga mengadakan acara silaturahim untuk mempererat rasa kekeluargaan anggota MSI, baik para skolioser, keluarga skolioser, pemerhati dan praktisi skoliosis, maupun masyarakat umum yang memiliki perhatian terhadap skoliosis.

Buat aku pribadi, keterlibatan dalam MSI merupakan manifestasi janji yang kubuat dulu ketika aku mendapati diriku divonis skoliosis oleh dokter. Waktu itu memang sempat shock. Tapi untungnya shock ini cuma bertahan beberapa hari. Aku berpikir: oke, kalau memang aku ditakdirkan dengan kelainan ini, lalu apa yang bisa kuperbuat? Waktu itu aku bertekad: aku akan mencari tahu sebanyak-banyaknya tentang skoliosis, kalau perlu akan menuliskannya di blog untuk berbagi informasi bagi sebanyak-banyak orang yang mungkin bisa merasakan manfaatnya. Dengan MSI, semoga aku bisa lebih banyak berkontribusi untuk orang lain. Bukankah sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain?

Tulisan-tulisanku tentang skoliosis bisa dilihat di sini. Jangan lupa kunjungi situs MSI untuk informasi lengkap dan jelas mengenai skoliosis yaaa...

Catatan: Foto diambil dari kamera Mas Andy Tria. Ma kasih ya, Mas. Dari kiri ke kanan: dr. Rahyussalim, Sifa, aku, Rini, dr. Husodo, dr. Ari.

Tuesday, June 29, 2010

Korespondensi Lanjutan dengan dr. Rahyussalim, SpOT, K-Spine

Pada 21 Juni 2010, aku mengirim e-mail lagi demi memuaskan pertanyaan yang masih menggelitik rasa penasaran.

Terima kasih, Dok. Anda baik sekali mau menjawab pertanyaan2 saya. Tapi saya masih ada pertanyaan lanjutan, tolong diberi pencerahan lagi ya.

Pada jawaban dokter:
4. Apa betul saya tidak boleh senam aerobik lagi?
===>Skoliosis pada kurva14 derajat silakan saja. Bahkan kalau Anda juga seorang atlit penerjun payung sekalipun, saya rasa tidak ada alasan untuk menghentikan kegiatan tersebut. Asal Anda tau bahwa potensi penambahan kurva akan lebih besar bila Anda tidak melakukan aktifitas tsb diatas.

Nah, bagaimana saya tahu kalau senam aerobik "aman" untuk saya? Bagaimana saya tahu kalau kegiatan2 saya tidak akan menambah kurva menjadi lebih besar? Masa saya harus coba2? Apa rekomendasi dokter: terus senam atau sebaiknya berhenti saja (mana yang lebih baik)?

1. Apakah derajat yang baru 14 derajat masih bisa dikoreksi?
===> Tergantung umur, kekakuan, dan kepentingannya. Maksud saya kepentingannnya adalah seberapa penting kita perlu membuat kurva yang 14 derajat menjadi nol derajat. Literatur mengatakan kurva 14 derajat seharusnya tidak memberikan keluhan apapun. Bila ditemukan adanya keluhan maka keluhan itu dipastikan bukan karena skoliosisnya.

Keluhan saya berupa pegal dan nyeri punggung sebelah kanan, Dok. Celana sebelah kiri juga jadi lebih pendek. Kalau bukan karena skoliosis, jadi karena apa dong?

Terima kasih sekali lagi. Dijawab ya, Dok.

Berikut balasan dari dr. Rahyussalim, SpOT, K-Spine pada 28 Juni 2010.

Nah, bagaimana saya tahu kalau senam aerobik "aman" untuk saya? Bagaimana saya tahu kalau kegiatan2 saya tidak akan menambah kurva menjadi lebih besar? Masa saya harus coba2? Apa rekomendasi dokter: terus senam atau sebaiknya berhenti saja (mana yang lebih baik)?
===> Ya.. saya merekomendasikan Anda tetap beraktifitas spt biasa jadi lakukanlah senam dst spt yang sekarang anda kerjakan. Dan jangan lupa Anda harus mengevaluasi skoliosis anda setiap 6 bulan. Bila dari evaluasi ada penambahan yang signifikan maka disinilah kita mulai berfikir untuk melakukan pilihan apakah akan mengubah kegiatan dst. Seharusnya sikap ini tidak menjadi beban buat Anda.

Keluhan saya berupa pegal dan nyeri punggung sebelah kanan, Dok. Celana sebelah kiri juga jadi lebih pendek. Kalau bukan karena skoliosis, jadi karena apa dong?
===> untuk menjawab ini perlu pemeriksaan yang teliti. Pegal dan nyeri dipunggung dst... masih bisa disebabkan oleh yang lain misalnya infeksi, peradangan non infeksi, penyakit degeneratif dsb. Perlu pemeriksaan yang teliti mengenai ini. Faktor lain yang perlu dicermati adalah kadangkala diagnosis yang tidak akurat dst.

mudah2an bisa mencerahkan Anda

Rahyussalim

Friday, June 25, 2010

Konsultasi dengan dr. Husodo Dewo Adi, SpOT, K-Spine: My Third Opinion

Dalam rangka mencari opini lanjutan dari sebanyak-banyak ahli tentang skoliosisku, pada 22 Juni 2010 aku berangkat ke RS Halmahera untuk berkonsultasi dengan dr. Husodo Dewo Adi, SpOT, K-Spine. Beliau ini seorang ahli medis mengenai tulang belakang di Bandung yang direkomendasikan oleh seorang teman.

Aku tak tahu kalau pendaftaran bisa dilakukan lewat telepon. Alhasil ketika aku sampai pukul 17.15, aku mendapat nomer antrian 8 padahal praktek baru saja dimulai. Sambil menunggu dipanggil, aku memperhatikan pasien-pasien yang datang. Durasi mereka berada di dalam ruang praktek rata-rata memakan waktu cukup lama. Aku berharap hal ini berarti dokternya memberikan waktu sebanyak-banyaknya untuk observasi pasien dan berkenan memberikan waktu tanya-jawab yang memuaskan.

Setelah menunggu hampir dua jam, pukul 19.10 aku dipanggil. Dugaanku tak meleset. Dari pengamatan sepintas ketika dr. Husodo Dewo Adi, SpOT, K-Spine mengantar pasien-sebelumku ke pintu, aku langsung tahu bahwa beliau betul-betul enak dijadikan tempat berkonsultasi.

Dengan ramah beliau menyambut diriku yang langsung mengangsurkan hasil rontgen sambil berkata, “Apa yang bisa Dokter ceritakan dari hasil rontgen ini?”

Dengan detil beliau menjelaskan foto-foto itu sambil memberiku kesempatan bertanya. Ketika beliau merasa sudah cukup menjelaskan dan memasukkan kembali foto-foto itu ke dalam amplopnya, kemudian demi melihatku yang masih terus menanyakan beberapa pertanyaan lanjutan, dengan rela beliau mengeluarkan foto-foto dan kembali menjelaskan. Ah, baiknya. Penjelasan yang sangat simpatik.

Terlepas dari pribadi sang dokter yang menyenangkan, berikut ini kesimpulan yang kudapatkan dari sesi konsultasi ini.
  • Senada dengan dr. Rahyussalim, SpOT, K-Spine, pada dasarnya beliau mengatakan bahwa derajat skoliosisku masih ringan dan tidak perlu membatasi gerakan. “Semuanya normal, hanya ada sedikit lengkungan,” begitu kata beliau.
  • Tulang dan persendianku bagus, alhamdulillah.
  • Mendekati umur tiga puluh tahun, mungkin elastisitas otot di area tulang belakang agak berkurang. Ditambah dengan persendian tulang belakang yang sering berbenturan akibat gerakan senam yang rutin, bisa menyebabkan pegal di daerah punggung. Untuk itu beliau menyarankan aku mengurangi frekuensi senam aerobik dan menambah frekuensi berenang dan senam fisioterapi.
  • Aku masih boleh senam aerobik (“Kenapa tidak?” kata beliau) tetapi harus diimbangi dengan berenang dan senam fisioterapi, plus mencoba olahraga lain (misal: jogging, voli) agar olah tubuhku tidak melulu senam aerobik.
  • Senada dengan dr. Rahyussalim, SpOT, K-Spine lagi, boleh-boleh saja aku melakukan yoga karena itu sesungguhnya untuk melatih teknik pernapasan dan boleh-boleh saja aku mencoba chiropractic karena itu sesungguhnya hanya terapi untuk meredakan keluhan nyeri punggung.
  • Tas ransel lebih baik daripada tas selempang atau tas wanita yang kebanyakan disandang hanya di sebelah tubuh.
  • Aku harus datang dua bulan lagi untuk kontrol.

Tak terasa hampir lima belas menit aku di dalam. Beginilah sikap dokter yang aku cari: komunikatif, bersedia menjelaskan dengan baik, membuka diri untuk segala pertanyaan, dan memberi kesempatan untuk bertanya sebanyak-banyaknya—sampai-sampai aku kehabisan pertanyaan, hehehe.

Ternyata beliau kenal dengan dr. F (baca di sini), dan mengatakan memang ada sedikit beda pandangan dengan dr. F mengenai apakah aku masih boleh senam aerobik atau tidak. Yah, untunglah sejauh ini dua dari tiga dokter yang kutanyai mengatakan aku masih boleh senam. Jadi, aku akan terus senam, alhamdulillah. Yes, I’m back on stage!

Benang merah dari ketiga dokter itu adalah: bahwa aku harus melakukan evaluasi berkala untuk mengetahui progresivitas kurva kelengkungan tulang belakangku pada masa-masa selanjutnya. Memang harus disadari, penyakit ini bukan sekedar penyakit seperti flu, melainkan suatu kelainan yang melekat seumur hidup. Menjadikan tulang belakangku kembali lurus adalah sesuatu yang hampir tidak mungkin. Yang bisa dilakukan hanyalah menjaganya supaya tidak bertambah lengkung lagi. Laa haula wa laa quwwata illa billah.

Korespondensi dengan dr. Rahyussalim, SpOT, K-Spine: My Second Opinion

stress tidak akan memperbaiki keadaan skoliosis bahkan menambah beban. (tulis dr. Rahyussalim, SpOT, K-Spine di sini)

Setelah bergabung dengan Masyarakat Skoliosis Indonesia dan googling tentang skoliosis, aku menemukan nama dr. Rahyussalim, SpOT, K-Spine, seorang ahli medis mengenai tulang belakang di Jakarta.

Menurut kesaksian Nilvia Hakim, pasien yang pernah dioperasinya, beliau merupakan seorang dokter yang responsif, komunikatif, dan mampu membuat analogi sederhana tentang penanganan skoliosis yang terasa asing. Pertemuan pertama Nilvia yang berlangsung kurang lebih satu jam dihabiskan dengan sesi tanya-jawab untuk lebih memahami apa tujuan dilakukannya operasi sebagai sebuah bentuk koreksi skoliosis. Aku sangat sepakat dengan tulisan Nilvia bahwa pasien harus “pintar” dan sebaiknya mengenal terlebih dahulu dokter yang akan menangani sang pasien sehingga tercipta rasa nyaman dan kepercayaan yang berkesinambungan.

Berdasar kesaksian tersebut, aku berpikir bahwa mungkin saja aku bisa menanyakan skoliosisku kepada dr. Rahyussalim, SpOT, K-Spine. Maka pada 14 Juni 2010, aku mengirim e-mail di bawah ini lewat akun Multiply.

Salam,
saya seorang penderita skoliosis ringan dengan angulus 14 derajat ke kanan pada lumbal spine. Ingin bertanya-tanya sedikit pada dr. Salim, karena saya tidak berhasil memperoleh pencerahan dari dokter ortopedi yang saya temui.

Saya sudah merasa sering pegal bertahun-tahun lalu (mungkin ada 10 tahun), tapi baru periksa minggu lalu dan disarankan rontgen sampai akhirnya ketahuan bahwa saya skoliosis ringan. Dokter yang saya temui sama sekali tidak simpatik dan tidak memberikan saya kesempatan untuk banyak bertanya dan konsultasi.

Dia cuma menyarankan saya untuk berenang dan tidak mengangkat yang berat-berat. Saya juga tidak diperbolehkan lagi senam aerobik meskipun cuma low impact (FYI selama 5 tahun ini saya rutin senam 2-3 kali seminggu). Dokter juga bilang bahwa yoga atau chiropractic tidak perlu dilakukan karena "tidak akan ngaruh" (saya sempat baca postingan dari bung Erikar tentang Iyengar Yoga untuk skolioser di board MSI). Yang ingin saya tanyakan:

1. Apakah derajat yang baru 14 derajat masih bisa dikoreksi?
2. Apakah mungkin menjadi lurus kembali? (menurut bung Erikar kan bisa)
3. Apa yang sebaiknya saya lakukan dan apa yang sebaiknya tidak saya lakukan?
4. Apa betul saya tidak boleh senam aerobik lagi?
5. Apa betul yoga dan chiropractic tidak akan berpengaruh?
6. Apakah saya hanya bisa diam saja? Tidak adakah terapi atau olahraga yang bisa saya lakukan (selain renang)?

Sementara ini dulu ya, dr. Salim yang baik. Saya sangat mohon pencerahannya.

Alhamdulillah, pada 18 Juni 2010, dr. Rahyussalim, SpOT, K-Spine membalas e-mail-ku.

yustika15 yth,
Saya coba jawab langsung dibawah pertanyaan.

1. Apakah derajat yang baru 14 derajat masih bisa dikoreksi?
===> Tergantung umur, kekakuan, dan kepentingannya. Maksud saya kepentingannya adalah seberapa penting kita perlu membuat kurva yang 14 derajat menjadi nol derajat. Literatur mengatakan kurva 14 derajat seharusnya tidak memberikan keluhan apapun. Bila ditemukan adanya keluhan maka keluhan itu dipastikan bukan karena skoliosisnya.

2. Apakah mungkin menjadi lurus kembali? (menurut bung Erikar kan bisa)
===>Pasti dong, tapi yang pasti tidak oleh yoga atau tindakan manipulasi non operatif lainnya. Ingin saya katakan adalah kurva kecil kadangkala bisa kembali lurus (0 derajat) oleh mekanisme yang dibangun oleh tubuh sendiri. Atau bisa juga tindakan operasi, itupun tidak ada ahli bedah yang mau melakukan operasi untuk mengoreksi skoliosis dengan kurva 14 derajat. Lagian Erikar ngerti nggak sih apa itu skoliosis??? Jangan2 pengertian skoliosis yang dipahami oleh dunia kedokteran berbeda dengan pemahaman dia. Saya kira ini perlu dipertegas dulu. Saya bisa pastikan bahwa pengertian saya mengenai skoliosis berbeda dengan pemahaman oleh teman saya yang juga ahli orthopaedi tapi tidak mendalami masalah tulang belakang (skoliosis) apatah lagi seorang irekar yang tidak belajar ilmu kedokteran sama sekali.

3. Apa yang sebaiknya saya lakukan dan apa yang sebaiknya tidak saya lakukan?
===>untuk skoliosis yang 14 derajat sebaiknya wait and see saja. Anda cukup bersikap se normal mungkin dan melakukan evaluasi 6 bulanan untuk melihat progresifitas kurva sehingga anda tau kapan waktu yang paling ideal dilakukan intervensi.

4. Apa betul saya tidak boleh senam aerobik lagi?
===>Skoliosis pada kurva14 derajat silakan saja. Bahkan kalau Anda juga seorang atlit penerjun payung sekalipun, saya rasa tidak ada alasan untuk menghentikan kegiatan tersebut. Asal Anda tau bahwa potensi penambahan kurva akan lebih besar bila Anda tidak melakukan aktifitas tsb diatas.

5. Apa betul yoga dan chiropractic tidak akan berpengaruh?
===>untuk koreksi ya. Tapi untuk kenyamanan dan kebugaran boleh2 saja. Chiropractic sesungguhnya hanyalah pijat, pijit, urut saja.

6. Apakah saya hanya bisa diam saja? Tidak adakah terapi atau olahraga yang bisa saya lakukan (selain renang)?
===> ah... enggak. Lakukanlah aktifitas sesuai keinginan Anda tidak perlu membatasi gerakan, namun yang penting Anda tau bahwa Anda perlu mengevaluasi penambahan kurva paling tidak 6 bulan atau setahun sekali.

Demikian mudah2an bisa menjawab Anda.

Rahyussalim

Langsung plong hatiku membaca e-mail ini. Artinya aku masih bisa senam aerobik lagi :D

Tapi aku juga tidak mau gegabah. Aku masih akan mencari opini lagi dari dokter lain.

Satu hal yang sangat penting yang aku pelajari dari dr. Rahyussalim, SpOT, K-Spine adalah tentang sikap mental bahwa tidak ada gunanya menjadi stress karena skoliosis. Sarannya tentang berusaha hidup senormal mungkin, senyaman mungkin, serta melakukan aktivitas sesuai keinginan dan tidak perlu membatasi gerakan, cukup membuatku percaya diri lagi untuk menjalani hari. Yah, meskipun harus dibarengi dengan evaluasi progresivitas kurva paling tidak enam bulan atau setahun sekali, aku rasa itu sepadan.

My Lovely Scoli


Seperti yang aku tulis di tulisanku sebelumnya, aku menderita skoliosis thorakolumbal dengan angulus 14 derajat ke kiri. Disebut thorakolumbal karena areanya terdapat pada thoracic spine dan lumbar spine (baca keterangannya di sini). Informasi ini kudapat setelah membaca surat dari dokter spesialis radiologi yang menganalisa foto rontgen-ku.


Pada gambar di atas, sudut 14 derajat diukur dari ruas T11 sampai L3. Tapi kalau kulihat-lihat lagi, sebenarnya bentuk melengkungnya itu sudah dimulai dari ruas T9, terus memanjang sampai ruas L5 (huaaa, hiks hiks).

dr. F, dokter ortopedi yang memeriksaku pertama kali, bukan tipe dokter yang simpatik dan enak diajak diskusi atau konsultasi. Hanya melihat hasil rontgen selama satu detik, dia langsung memasukkan foto-foto itu kembali ke dalam amplopnya. Dia hanya menyarankanku untuk berenang dan meresepkan obat pereda nyeri punggung. Ketika kutanya apakah aku masih boleh senam aerobik, dia langsung melarang keras. Ketika aku bertanya lagi apakah aku perlu yoga, chiropractic atau adakah terapi lain yang bisa kulakukan, dia berkata bahwa semua itu tidak akan ada pengaruhnya.

Sambil terus melarang aku untuk senam aerobik, dia mengatakan beberapa kalimat seperti, “Senam nggak boleh karena ada loncatnya. Saya pernah jadi pelatih senam osteoporosis, jadi saya tahu.”, “Jangan angkat yang berat-berat.”, “Kamu mau saya bohongin dengan terapi macam-macam? Semua itu nggak akan ada pengaruhnya.”, “Chiropractic itu buat kaki, bukan buat kayak gini.”, “Emangnya kamu mau dioperasi? Operasi itu nggak enak.”, “Mau sakit apa mau sehat?”

Baru aku akan membuka mulut untuk bertanya lebih lanjut, pandangannya seolah berkata, “Mau nanya apa lagi?”. Cepat dia bilang, “No no no. Pokoknya berenang, berenang, berenang.”

Alih-alih mendapat kejelasan tentang skoliosis yang aku hadapi, aku malah mendapat serangan yang bertubi-tubi tentang tidak boleh melakukan ini-itu. FYI, selama lima tahun terakhir ini aku rutin melakukan senam aerobik 2-3 kali seminggu, sehingga kenyataan bahwa aku tidak boleh senam lagi cukup memukul kesadaranku. Bagaimana tidak sedih kalau hal itu sudah benar-benar menjadi bagian hidup? Tidak bermaksud lebay, tapi yes... it’s been a part of my life for years.

Gontai aku melangkah keluar dari ruangan dokter. Sambil menunggu resep di bagian farmasi, tanpa sadar air mata menitik. Shock karena membaca hasil rontgen lima hari sebelumnya bertambah dengan shock hari itu karena pernyataan dokter yang—menurutku—keras.

Shock ini lebih kepada kesadaran tentang: ya Allah, ternyata aku cacat. Aku tidak bisa berbuat ini-itu akibat kelainan tulang belakang ini. Tapi untungnya shock ini cuma bertahan beberapa hari. Aku bertekad: oke, kalau memang aku ditakdirkan dengan kelainan ini, lalu apa yang bisa kuperbuat?

Pada kelas senam aerobik hari berikutnya, sambil melaraskan diri dengan irama yang berdentam, aku berpikir dengan hati basah: ya Allah, olahraga yang sedemikian menyenangkannya seperti ini... mengapa aku sampai tidak boleh melakukannya? Sore itu aku bertekad: aku akan mencari tahu sebanyak-banyaknya tentang skoliosis, kalau perlu akan menuliskannya di blog untuk berbagi informasi bagi sebanyak-banyak orang yang mungkin bisa merasakan manfaatnya, serta akan mencari opini lanjutan dari sebanyak-banyak ahli tentang skoliosisku ini. Aku bertekad: I’ll do anything to keep moving. Bismillah...

Skoliosis [2]: Penanganan

Penanganan Medis

Meskipun tidak harus dilakukan, skoliosis yang parah sebaiknya dioperasi, demikian menurut dr. Luthfi Gatam, SpOT. dr. Michael Cornish juga menegaskan bahwa operasi merupakan usaha terakhir. “Perawatan-perawatan lain harus dicoba terlebih dulu. Jika kondisinya terus memburuk hingga tahap sangat serius (membahayakan jiwa penderita), maka perlu dipertimbangkan untuk dioperasi,” tutur dr. Michael.

dr. Luthfi Gatam, SpOT. mengatakan, jika baru pada tahap 20 derajat (disebut Cobb angle), hanya akan dilakukan observasi saja. Tahap 20 sampai 40 derajat dianjurkan mengenakan brace, sedangkan lebih dari 40 derajat perlu dilakukan operasi. Namun, operasi tulang punggung kemungkinan besar menimbulkan rasa takut pada pasien semua usia. Apalagi bila dikatakan bahwa penyembuhannya perlu 5-7 hari, sedangkan reda rasa sakit pasca operasi membutuhkan waktu lebih lama lagi. Masih ditambah dengan adanya bekas operasi berupa bekas luka yang memanjang.

Penanganan Lain

Menurut penelitian para ahli sejauh ini, selain penanganan medis, penanganan lain seperti stimulasi elektrik, manipulasi chiropractic, dan terapi fisik cukup efektif. Seorang skolioser bernama Prita tetap menjalani terapi chiropractic dan latihan tertentu yang diberikan oleh chiropractor-nya, meski keadaannya telah membaik. “Agar skoliosis saya tidak bertambah parah,” ujarnya. Skolioser lain bernama Astrid merasakan kemajuan yang sangat nyata setelah mengikuti paket perawatan sejak dini di klinik chiropractic. Sementara Ade Rose mengikuti latihan yoga. “Setiap hari saya melakukan yoga, ibarat minum obat,” kata ibu satu anak ini. Dengan dipandu Ann Baros, seorang master yoga Iyengar, gerakan-gerakan yoga yang dilakukan Ade semakin tepat. “Kini kondisi saya sudah stabil, normal.” Olah tubuh dengan gerakan tertentu yang sesuai kemampuan fisik, bisa membuat kondisi tubuh penderita lebih nyaman.

Berikut ini beberapa penanganan skoliosis yang melibatkan olah tubuh.

Chiropractic

Seorang chiropractor percaya bahwa tubuh memiliki kemampuan untuk menyembuhkan dirinya sendiri. Penanganan yang dilakukan chiropractor bersifat memberdayakan tubuh agar kembali memiliki mekanisme dan sistem tubuh yang baik. Demikian pendapat dr. Tinah Tan.

Menghadapi pasien skoliosis, chiropractor akan melakukan pemeriksaan dengan mempelajari postur tubuh pasien (examine posture), mengamati pergerakan tubuh (motion palpation), dan memeriksa ototnya (static palpation). Pasien diminta membuat foto X-ray untuk memastikan kondisi kurva tulang belakangnya. Jika ditemukan adanya masalah, akan dilakukan koreksi (adjustment) dan terapi, atau perawatan (treatment). Pasien juga diminta melakukan latihan tertentu (exercise) dan olahraga yang disarankan.

Olahraga yang disarankan untuk pasien skoliosis antara lain berenang gaya bebas, jogging, yoga, pilates, dan taichi. “Yang penting teknik dari olah tubuh yang dilakukan harus benar,” ujar dr. Tinah Tan.

Yoga

Gerakan yoga untuk pasien skoliosis ditujukan untuk mengoreksi dengan cara menarik dan mengarahkan tulang belakang secara tepat, ke depan, samping kiri, dan samping kanan. Demikian menurut Ann Barros, guru yoga asal Santa Cruz, Amerika Serikat, yang sejak kecil menderita skoliosis bawaan. Lebih dari 30 tahun ia mengajar yoga Iyengar. Gerakan ditujukan untuk menarik dan mengembalikan tulang belakang pada posisinya yang alami. “Bukan lurus melainkan ada lengkungannya,” ujarnya.

Jadi, dalam menentukan terapi pasien skoliosis, Ann Barros tidak bisa menerapkan sembarang gerakan yoga, tetapi harus mengobservasi pasien terlebih dulu dengan melihat hasil X-ray untuk mengetahui derajat keparahannya. “Ada kalanya saya harus membahasnya dengan seorang ahli tulang belakang,” tutur Ann yang awal Agustus lalu datang ke Jakarta atas undangan Jakarta Do Yoga.

Dalam memandu gerakan pun Ann tidak memaksa, karena semua gerakan merupakan bagian dari observasi. Dari keterbatasan gerak yang dilakukan pasien, sedikit demi sedikit Ann bisa menentukan ketepatan gerak serta alat bantu terapi bagi pasien.

Menurut Elise B. Miller, ahli yoga, dalam tulisannya di situs Yoga for Teens with Scoliosis, latihan gerakan yoga (asana) ditujukan untuk memperbaiki postur dan meningkatkan kelenturan dan kekuatan otot, dengan cara menarik dan memperkuat otot-otot yang menunjang tulang belakang. Posisi Adho Mukha Svanasana dan Urdhva Mukha Svanasana baik untuk membentuk dan memperbaiki lengkungan dan rotasi tulang belakang. Sedangkan Bharadvajasana untuk memperkuat kaki sebagai penyangga tulang belakang.

Pilates

Ada enam prinsip dalam pilates yang efektif membantu penderita skoliosis, yaitu concentration, control, centering, precision, flow of movement, dan correct breathing technique. Demikian tutur Nancy Wuisan dari Pilates Bodymotion, Bimasena Club, The Dharmawangsa Jakarta.

Concentration artinya setiap gerakan dan hitungan dalam pilates harus dilakukan dengan penuh konsentrasi. Control artinya setiap gerakan harus terkontrol oleh pikiran, jadi bukan pikiran yang dikontrol oleh tubuh. Centering artinya perhatian harus terpusat pada tujuan berlatih pilates, misalnya tujuannya untuk meringankan skoliosis. Precision, setiap gerakan harus dilakukan dengan perhitungan yang tepat, misalnya kalau harus mengangkat kaki setinggi 90 derajat ya harus tepat 90 derajat. Flow of movement berarti gerakan yang dilakukan harus urut dan berkesinambungan, menggunakan napas yang benar yaitu pernapasan perut. Pernapasan perut dapat mendorong tulang belakang bersama otot-ototnya kembali berfungsi secara seimbang.

“Dengan gabungan dari enam prinsip dasar tersebut, tulang akan membantu mengoreksi skoliosis,” tutur Nancy. Postur tubuh dan pernapasan yang benar, otot yang elastis, akan membuat organ tubuh termasuk tulang belakang kembali berfungsi dengan baik. “Pilates dengan bantuan alat-alat berusaha menyeimbangkan otot-otot, melenturkan otot yang meregang, dan membuat persendian menjadi lebih sehat. Latihan diberikan setahap demi setahap sesuai kemampuan pasien, karena tidak semua gerakan cocok untuk semua pasien skoliosis. Dari gerakan-gerakan awal, bisa diketahui tingkat keparahan pasien. Dengan demikian dirancanglah sebuah program untuk mengatasi masalah yang dideritanya.”

Meskipun kini banyak beredar buku dan VCD tentang pilates, namun Nancy Wuisan tidak menganjurkan penderita belajar sendiri. “Setiap pasien memiliki kebutuhan yang berbeda. Pilates yang dicontohkan dalam buku dan VCD sifatnya umum. Untuk menghindari cedera atau semakin parahnya skoliosis, sebaiknya latihan dilakukan di bawah pengawasan ahlinya,” tutur Nancy.

Kesimpulan

Secara garis besar, seperti yang aku baca di blog dr. Rahyussalim, SpOT., terapi skoliosis ini terdiri atas 3 macam:
  1. Olah tubuh (berenang, yoga, pilates)
  2. Pemasangan brace
  3. Operasi

Tidak ada yang berani mengatakan bahwa berenang dapat memberikan dampak koreksi pada skoliosis, apalagi menyembuhkan skoliosis itu sendiri. Berenang diyakini hanya mampu memperlambat progresivitas skoliosis.

Sementara operasi merupakan jalan terakhir yang dilakukan setelah upaya olah tubuh tidak berhasil atau memang karena perlu dilakukan penanganan yang cepat, sebab derajat kemiringannya sangat besar dan dapat membahayakan organ-organ tubuh lainnya, misalnya jantung atau paru-paru.

Yang perlu diingat, langkah penting yang harus disadari adalah mengetahui detil skoliosis itu sendiri sebelum melakukan apapun tindakan pengobatannya. Dan untuk mengetahui ini tentunya harus pada orang yang mengerti, konsern, dan ahli, karena setiap kasus skoliosis adalah unik dan berbeda antara satu skolioser dengan yang lainnya.

Sumber:

Skoliosis [1]: Definisi dan Penyebab

Dua pekan yang lalu, 10 Juni 2010, aku mengambil hasil rontgen di bagian radiologi rumah sakit St. Borromeus. Rontgen ini atas rujukan dokter ortopedi di rumah sakit yang sama ketika aku berkunjung untuk konsultasi dua hari sebelumnya. Setelah membaca hasil rontgen, aku tertegun dan sedikit shock. Mengapa? Ternyata aku menderita skoliosis, Saudara-saudara!

Mengenal Susunan Tulang Belakang Manusia

Sebelum mengenal lebih jauh mengenai skoliosis, ada baiknya kita mengenal terlebih dahulu struktur tulang belakang manusia. Seperti halnya kasus skoliosis dengan segala keunikannya, tulang belakang manusia pun merupakan struktur yang unik dan kompleks. Gambar di bawah ini dapat menjelaskan susunan tulang belakang manusia.


Tulang belakang di bagian leher atau istilah medisnya “Cervical Spine”, terdiri dari 7 ruas yang dalam dunia kedokteran diberi label C1 sampai dengan C7 (Cervical 1 sampai dengan Cervical 7). Seperti terlihat di gambar, C1 jaraknya terdekat dengan tengkorak, sementara C7 terdekat dengan dada. Dokter biasanya menyebut “servikal”.

Tulang belakang di bagian punggung atau istilah medisnya “Thoracic Spine”, terdiri dari 12 ruas yang dalam dunia kedokteran diberi label T1 sampai dengan T12. Sering mendengar dokter menyebutnya dengan istilah “Torakal”. Torakal ini terhubung ke tulang rusuk sehingga bagian tulang belakang ini relatif kaku dan stabil. Pergerakan Torakal tidak sedinamis pergerakan di bagian lain dari tulang belakang manusia.

Tulang belakang di bagian pinggang atau istilah medisnya “Lumbar Spine”. Terdiri dari 5 ruas yang dalam dunia kedokteran diberi label L1 sampai dengan L5 (Lumbar 1 sampai dengan Lumbar 5). Lumbar merupakan bagian tulang belakang yang memiliki penampang terluas dan terkuat sehingga mampu menumpu berat badan manusia.

Selanjutnya adalah Sacrum dan Coccyx. Sakrum yang merupakan bagian dari panggul (pinggul) terdiri dari 5 ruas tulang dan biasanya menyatu pada usia dewasa untuk membentuk satu tulang, sedangkan Coccyx atau yang dikenal dengan tulang ekor memiliki 4 ruas tulang (terkadang 5 ruas) yang juga menyatu membentuk satu tulang.


Pada dasarnya, tulang belakang yang normal memiliki kurva (kelengkungan pada tulang belakang) - seperti gambar di atas, bagian tengah. Jika dilihat dari sisi (tampak samping), akan terlihat bahwa ada kurva keluar (cekung) di bagian tulang belakang leher (cervical spine), kemudian turun ke torakal akan terdapat kembali kurva yang melengkung ke dalam (cembung), dan kurva yang keluar lagi di bagian lumbar.

Pada susunan tulang belakang yang normal, jika dilihat dari depan atau dari belakang kelengkungan kurva tersebut seharusnya tidak tampak dan hanya tegak lurus saja seperti gambar pada sisi kiri dan kanan di atas.

Nah, pada kasus skoliosis kemiringan kurva yang terjadi, melengkung ke arah yang tidak seharusnya (salah), sehingga terjadilah Skoliosis (bisa membentuk kelengkungan tulang belakang yang menyerupai huruf “S” atau huruf “C”).

Apa Itu Skoliosis?

Skoliosis adalah kelainan bentuk tulang belakang yang ditandai melengkungnya tulang belakang ke arah samping (lateral curvature of the spine). Kata skoliosis berasal dari bahasa Yunani scolios yang artinya bengkok atau berputar. Kelainan tulang punggung ini tampak jika dilihat dari belakang.

Jika dilihat dari belakang, tulang punggung yang normal berbentuk garis lurus dari leher sampai ke tulang ekor. Sedangkan pada penderita skoliosis, akan tampak adanya satu atau lebih lengkungan ke samping yang tidak wajar pada punggung.

Seseorang didiagnosa skoliosis jika ditemukan dua macam kelainan pada tulang belakangnya, yaitu:
  1. Lateral curvature: terjadi jika tulang belakang bengkok. Ini bisa dilihat dari belakang ketika penderita pada posisi berdiri dengan tubuh dibungkukkan 90 derajat ke depan. Jika tulang tampak seperti huruf S, bentuknya menyimpang, punggung tidak sama tinggi atau ada tonjolan, berarti skoliosis.
  2. Rotation: terjadi jika ada sendi tulang belakang yang terputar. Kadarnya hanya sedikit, namun selalu ada pada setiap gejala skoliosis. Aspek ini menyebabkan tulang belakang berbentuk berliku. Penyimpangan kurang dari 10 derajat dianggap masih normal.

Apa Penyebab Skoliosis?

dr. Michael Cornish, chiropractor lulusan RMIT, Melbourne, Australia, yang berpraktik di klinik chiropractic di Indonesia, mengatakan, “Secara keilmuan, penyebab skoliosis tidak diketahui. Namun, secara spekulatif, saya menduga salah satu penyebabnya adalah pola makan yang salah dan postur tubuh yang kurang baik.”

Senada dengan pernyataan tersebut, dr. Tinah Tan, chiropractor dari Citylife Chiropractic, mengatakan bahwa kekurangan asam folat pada ibu hamil dapat meningkatkan risiko sambungan spina tulang belakang pada bayi yang dikandung menjadi tidak sempurna (cacat spina bifida). Keadaan ini dapat memicu skoliosis.

Sedangkan menurut dr. Luthfi Gatam, SpOT., spesialis ortopedi & traumatologi dari RS Fatmawati, bahwa 80% skoliosis tidak diketahui penyebabnya. Ini disebut idiopathic scoliosis. Kata idiopathic menunjukkan bahwa penyebabnya tidak diketahui. Usia penderita bisa di bawah 3 tahun sampai di atas 19 tahun. Literatur terbaru sekalipun masih mengatakan bahwa penyebab patofisiologi terjadinya skoliosis idiopatik belum diketahui. Sekitar tahun 1998 terdapat teori yang mengaitkan patofisiologi ini dengan hormon melatonin. Terdapat dugaan yang kuat bahwa skoliosis ini banyak dipengaruhi oleh sistem hormonal reproduksi (adrenal, hipofisis, ovarium, dsb.) dengan melihat kenyataan bahwa penderita memang pada umumnya wanita dan organ reproduksi yang dimiliki wanita tidak dimiliki oleh kaum pria (demikian sebaliknya).

Banyak literatur tidak menyebutkan skoliosis idiopatik sebagai penyakit keturunan. Namun, seorang wanita yang memiliki saudara yang menderita skoliosis dikatakan memiliki peluang yang besar untuk mengalami skoliosis.

Ada juga skoliosis yang diketahui penyebabnya, yaitu dikategorikan sebagai congenital scoliosis atau kelainan bawaan. Ini disebabkan oleh perkembangan tulang belakang yang tumbuh abnormal. Termasuk kelompok ini adalah sindrom kerdil (osteochondrodystrophy). Contoh-contoh tersebut termasuk kategori skoliosis struktural.

Ada pula skoliosis non-struktural yang disebabkan adanya masalah dengan bagian tubuh lain. Misalnya kaki yang tidak sama panjang, sehingga terjadi lengkungan abnormal pada tulang belakang. Kejang otot dan radang otot juga bisa menimbulkan kelainan tulang belakang. Jika penyebab skoliosis didiagnosa non-struktural, penanganannya bukan reposisi tulang belakang melainkan reposisi bagian tubuh yang menyebabkan skoliosis tersebut.

Akibat dari Skoliosis

Kasus skoliosis memerlukan pemeriksaan atau check-up pada waktu-waktu tertentu secara reguler. Kondisi tulang belakang yang tidak sempurna akan menyebabkan fungsi organ yang ada di dalam tubuh menjadi terganggu. Contohnya, skoliosis bisa menghambat pergerakan rusuk dan volume paru-paru (pulmonary hipertention) sehingga penderita sering sulit bernapas (sesak napas).

Penderita skoliosis juga lebih mudah terkena osteoartritis akibat pergerakan sendi yang terhambat pada satu sisi. Selain itu, skoliosis juga menyebabkan kelelahan tulang dan sendi, sehingga penderitanya sering merasakan nyeri, sakit kepala, kaku otot, atau pegal punggung.

Beberapa penderita bisa mengalami gejala kesemutan dan kejang kaki ketika hamil. Ada indikasi bahwa skoliosis yang parah bisa menyulitkan proses persalinan. Namun, tulis dr. Rahyussalim, SpOT. dalam blog-nya, sejauh ini skoliosis tidak mempengaruhi kehamilan dan melahirkan, justru sebaliknya kehamilan akan memperburuk kondisi skoliosis (kurva makin besar, progresnya juga bertambah).

Skoliosis bisa diderita setiap orang, namun lebih banyak diderita wanita. “Di klinik saya perbandingannya 10:1,” ujar dr. Michael Cornish. Sedangkan di RS Fatmawati rasionya 9:1. “Sampai sekarang masih merupakan misteri, kenapa wanita lebih banyak menderita skoliosis dibanding pria,” kata dr. Luthfi Gatam, SpOT.

Sumber: