Showing posts with label fairytale. Show all posts
Showing posts with label fairytale. Show all posts

Monday, April 14, 2025

Pernikahan Adat Jawa-ku: Mencari Titik Temu Antara Tradisi, Keyakinan, dan Modernitas

Sebagai keturunan Jawa di mana darah Jawa mengalir sangat kental di dalam keluarga besar, aku memimpikan sebuah pernikahan yang sakral dan sarat dengan adat. Saat itu aku berusia dua puluh empat tahun dan sudah enam tahun meninggalkan Solo karena merantau di Bandung.

Koordinasi dengan keluarga besar ternyata penuh dengan dinamika. Aku sebagai generasi muda, meskipun menginginkan acara bernuansa adat, bersikeras mengeliminasi ritual-ritual yang tidak sesuai dengan nilai-nilai keislaman. Hal ini tentu memicu pertentangan dengan keluarga besar. Untungnya orang tuaku cukup moderat, jadi beberapa hal akhirnya bisa diakali.

Mencari Hari Baik

Sejak pertama kali membahas persiapan pernikahan dengan orang tua, aku sudah mengutarakan penolakanku terhadap pencarian hari baik untuk Hari-H. Masyarakat Jawa biasanya berpegang pada hitungan Primbon untuk menentukan hari pernikahan. Caranya dengan mencari tahu neptu atau nilai dari hari kelahiran kedua mempelai.

Bila hasil hitungannya baik, maka hajatan dilanjutkan. Namun, bila hitungannya menghasilkan hasil buruk, akan dicarikan hari lain. Perhitungan semacam ini juga banyak didapati di budaya nonmuslim, semisal budaya Tiongkok dengan Feng-Shui.

Dalam budaya Jawa, bulan-bulan seperti Jumadil Akhir, Rajab, Sya'ban, Syawal, dan Dzulhijjah dianggap sebagai waktu yang baik untuk menikah. Hal ini mencerminkan adanya kepercayaan dan kebiasaan lokal yang masih dipegang oleh sebagian besar masyarakat dalam menentukan hari baik dalam pernikahan.

Banyak ulama masih berbeda pendapat soal pencarian hari baik. Tidak ada yang benar-benar mengatakan bahwa hal ini termasuk syirik, tetapi mencari hari baik dengan didasarkan pada keyakinan akan nasib baik atau buruk pernikahan di masa depan, tentunya rawan menggelincirkan akidah. 

Pada awalnya orang tuaku setuju dengan pendapatku. Kami memilih hari pernikahan berdasarkan slot ketersediaan tanggal dari gedung yang akan disewa. Aku sudah bahagia saja waktu itu, kemudian persiapan pernikahan dilanjutkan ke urusan yang lain. Namun, belakangan akhirnya aku mengetahui bahwa orang tuaku juga mengonsultasikan tanggal itu kepada “orang pintar” di bilangan Sriwedari. Duh, pas tahu itu rasanya aku marah sekali. Namun, tak ada lagi yang bisa kuperbuat.

Riasan Pengantin

Riasan dan busana pengantin Solo sebenarnya terbagi menjadi enam jenis dengan pakem yang berbeda-beda, tetapi pakem riasan yang paling jamak digunakan di kalangan generasi muda saat ini adalah pakem Solo Putri.

Tata rias dan tata rambut pengantin Solo Putri (gambar dari sini)

Tata rias wajahnya menggunakan bedak kekuningan, eye shadow coklat dan hijau, blush on, lipstik merah keoranyean, serta paes warna hitam. Paes (hiasan wajah pengantin pada area dahi) terdiri dari: gajahan, pengapit, penitis, godheg, dan alis dengan bentuk mangot.

Sanggul pengantin Solo berbentuk bokor mengkurep yang ditutupi oleh rajutan bunga melati. Sanggul juga dilengkapi dengan bunga melati yang sudah dironce, memanjang dari kepala hingga ke pinggang, terdiri dari bunga bangun tulak, bunga tibo dodo bawang sebungkul, borokan, sisir bunga melati, sintingan, dan ujungnya dihias dengan kuncup bunga cempaka.

Di atas sanggul ditancapkan cundhuk mentul yang biasanya berjumlah ganjil (lima, tujuh, atau sembilan). Angka lima melambangkan lima rukun Islam. Angka tujuh dalam bahasa Jawa adalah “pitu” yang merupakan simbol “pitulungan”, yaitu pertolongan dalam bahasa Indonesia. Angka sembilan melambangkan Wali Songo yang berjumlah sembilan orang.

Sebagai aksesoris, pengantin menggunakan kalung, suweng ronyok, bros sunggun, gelang tretes, cincin ulun-ulun, tanjungan, simyok bunga sokan, serta sepasang centung dan cunduk jungkat.

Tadinya aku berniat memakai perias pengantin Jawa yang sangat terkenal di Solo, sebut saja namanya Bu M. Beliau ini njawani banget. Riasannya halus, khas pengantin Solo. Pengalaman beliau juga sudah bertahun-tahun. Namun, beliau ternyata keukeuh riasannya harus sesuai dengan pakem Jawa dan keberatan jika hasil riasannya “ditutup” jilbab. Lho bagaimana, kan akunya berjilbab, masa iya harus membuka jilbab.

Aku memutuskan mencari perias lain sambil menanyakan referensi ke teman-teman, akhirnya aku menemukan salon muslimah Aufa. Periasnya bernama Mbak Tatik. Beliau lebih gampang dilobi dan diajak kompromi, jadi enak. Beliau mengakomodasi keinginanku lewat serangkaian diskusi serta fitting baju dan jilbab. Akhirnya jadilah riasan pengantin yang meskipun berjilbab, nuansa jawanya sangat kental.

Tata riasku: adat Jawa, tetapi tetap berjilbab

Kebaya Pengantin

Karena menginginkan pernikahan yang sarat dengan nuansa Jawa, tadinya aku hendak memakai kebaya pengantin tradisional Solo yang berwarna hitam dengan desain yang sesuai pakem. Modelnya berbentuk kebaya panjang, berbahan beludru warna hitam, berhiaskan sulaman warna keemasan atau bordir benang emas dengan motif merak.

Kebaya pengantin tradisional Solo (gambar dari sini)

Namun, kata ibuku, sekarang generasi muda sudah jarang memakai itu karena terkesan kuno. Akhirnya aku menurut saja dengan pendapat beliau untuk memakai kebaya pengantin modern dengan payet-payet dan gaya desain yang lebih kekinian. Untuk bawahan, aku memakai kain tradisional (jarik) dengan motif yang sesuai pakem, yaitu motif Sidomukti. Motif ini melambangkan kehidupan yang makmur dan dicintai banyak orang.

Mahar dan Peningset

Peningset atau serah-serahan adalah pemberian dari pihak mempelai pria. Berasal dari kata singset yang artinya ”mengikat”, peningset berarti hadiah yang menjadi pengikat hati antara dua keluarga. Secara adat Jawa, peningset biasanya terdiri atas: satu set daun sirih yang disebut Suruh Ayu, beberapa helai kain jarik dengan motif batik yang berbeda, kain bahan untuk kebaya, ikat pinggang tradisional yang disebut stagen, buah-buahan (terutama pisang), sembako (beras, ketan, gula, garam, minyak goreng, bumbu dapur), perhiasan, dan sejumlah uang sebagai sumbangsih dari pihak mempelai pria.

Aku dulu cuma meminta mahar kalung. Dalam pertimbanganku, waktu itu dia baru meniti karir. Aku tidak merasa perlu dibawakan bermacam-macam peningset, tetapi rupanya tradisi ini tidak dapat dielakkan. Konon dianggap tidak patut jika keluarga mempelai pria tidak membawakan barang-barang ini. Ya sudahlah, yang penting aku tidak meminta macam-macam. Terserah sesuai dengan kemampuan mereka saja.

Acara Resepsi

Orang tuaku ingin sebuah resepsi yang kental dengan adat Jawa, jadi segala susunan acara, bahasa pengantar, sampai cara duduk tamu, semuanya disesuaikan dengan adat resepsi pengantin Solo tradisional. Semua tamu duduk di kursinya masing-masing, sementara makanan disajikan oleh para sinoman secara berurutan: makanan pembuka, makanan inti, lalu makanan penutup. Para tamu datang dan pulang bersamaan. Selama acara dilangsungkan, semua tamu duduk menyaksikan sambil menyantap hidangan.

Tata cara menyajikan makanan untuk para tamu, yang kini sudah banyak ditinggalkan, padahal sebenarnya sesuai dengan sunnah karena makan dan minum sambil duduk (gambar dari sini)

Dengan model acara seperti ini, maka pengisi acara harus dipersiapkan secara matang. Beda sekali dengan acara prasmanan atau standing party di mana para tamu datang dan pergi sehingga pengisi acara tidak terlalu diindahkan. Orang tuaku meminta tolong teman-teman pamanku dari STSI / ISI Solo untuk menjadi protokol dan pengisi acara, mulai dari tata upacara adat, musik gamelan live, tarian tradisional, sampai bahasa pengantar–bahasa Jawa halus tingkat tinggi yang bahkan aku pun tak paham artinya. Semua personel protokoler memakai pakaian adat Jawa lengkap.

Tulisan ini diikutsertakan dalam Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan April yang bertema “Tradisi Lokal yang Masih Dilestarikan”.

Thursday, June 09, 2016

Dalam Hening

Menjadi pasangan LDM berarti tidak bisa membicarakan langsung dengan pasangan tentang hal-hal yang ingin dibicarakan. Harus menunggu. Karena percakapan instant messenger itu semu, tidak cukup mewadahi hal-hal lain: kontak mata, ekspresi, urun rembug yang ter-delay jarak dan waktu. Bagaimana dengan percakapan lewat telepon? Hei, pikirmu dia tidak sibuk?

Kalaupun akhirnya bertemu, belum tentu waktunya ada untukmu. Karena pasangan sibuk dengan anak-anak, sibuk jalan-jalan, atau minimal sibuk dengan gadget.

Menjadi pasangan LDM juga berarti harus memutuskan sendiri hal-hal yang perlu segera diputuskan. Kalaupun menanyakan pada pasangan, balasannya datang entah kapan.

MEMAKLUMI.

Sebuah kata yang makna dan konsekuensinya dalam. Karena ada keikhlasan dan kesabaran di situ.

Wednesday, June 05, 2013

Cinta Oh Cinta

Ada yang menarik hatiku tiap kali melewati persimpangan Surapati-Cikapayang dengan Jl. Ir. H. Juanda. Perjalanan yang tertahan di lampu merah perempatan itu selalu membuatku mengedarkan pandangan ke sekeliling, dan hampir selalu membuat pandanganku tertuju pada sepasang pemuda dan pemudi yang sepertinya tengah memadu kasih.

Pasangan pemuda dan pemudi itu unik. Mereka adalah pengamen jalanan yang mengais rezeki dari satu angkot ke angkot yang lain yang berhenti di lampu merah itu. Sang pemuda memegang gitar sementara kekasihnya menyanyi. Lalu apanya yang unik? Entahlah, ada sesuatu yang merembesi hati kala melihat mereka. Badan sang pemuda kurus dan penuh tato, bibirnya juga bertindik, tapi bagiku sama sekali tak tampak menakutkan karena ia selalu memandang kekasihnya dengan penuh cinta. Binar cinta itu sangat tampak dalam setiap hal kecil yang ia lakukan, misalnya seperti ketika ia memberikan air minum kemasan gelas pada si pemudi, membersihkan tepian trotoar untuk tempat duduk si pemudi, atau bahkan ketika mereka sekedar berbincang dalam samar.

Si pemudi tidak cantik. Tapi wajahnya tak pernah tampak sedih atau galau. Dia dalam keadaan sedang hamil besar, mungkin buah hati dalam kandungannya adalah anaknya dengan pemuda itu. Aku tak tahu apakah mereka terikat dalam pernikahan resmi, yang jelas mereka terlihat saling mencintai. Di mataku, pekerjaan mengamen yang mereka lakoni berdua seperti dilakukan dengan enjoy. Aura cinta mereka menguar dengan jelas, membuatku tertegun dengan kenyataan bahwa cinta bisa menguatkan dalam kondisi sesulit apapun.

Beberapa hari ini aku tak melihat mereka. Mungkin si pemudi sudah melahirkan? Entahlah. Yang jelas, tiap kali aku mengingat mereka, aku juga mengingat tentang kekuatan cinta.

Sunday, October 28, 2012

Ekspektasi Terhadap Pasangan



Dalam pernikahan, kita cenderung memasang standar atau ekspektasi tertentu terhadap pasangan. Meskipun setelah bertahun-tahun mengenal pasangan membuat kita menyadari kenyataan besar bahwa pernikahan bukanlah dongeng putri dan pangeran, kadang kita masih saja terbuai pada harapan tentang “seandainya si dia begini dan begitu”.

Lalu apa sih sebenarnya pernikahan itu? Ibadah? Sunnah Rasul? Mengapa kita menikah? Apakah kita sudah menikah dengan orang yang tepat?

Tak hendak bicara soal agama di sini. Ilmu tentangnya masih amat dangkal. Yang kutahu, pertanyaan “is he/she the one?” mungkin sudah terlambat ketika kita sudah mengarungi pernikahan. Tak jadi soal apakah si dia orang yang tepat, toh kita sudah mngikat janji suci dengannya. Kalau kita masih berpikir bahwa pernikahan adalah sekali seumur hidup, maka pertanyaan tersebut hendaknya sudah dicoret dari daftar. Nyatanya hanya si dia kan, orang yang berani maju meminang kita, dan bukan orang lain? Berani berkomitmen menikahi kita, tentu sudah menjadi jaminan bahwa si dia memang tidak main-main dengan kita.

Dalam kenyataannya, pasangan adalah manusia biasa yang ”dari sononya” punya sepaket kelebihan dan kekurangan. Adalah hal yang biasa kala mendapati ekspektasi kita terjun bebas karena bertentangan dengan realitas. Tapi apakah hal itu akan lantas membuat kita patah hati? Bisa ya, bisa tidak. Menurut Teh Ninih (ada yang tidak tahu siapa beliau?), ketika kekesalan kita pada pasangan memuncak, yang terlihat hanyalah keburukan. Penawar darinya adalah: pertama, istighfar dulu. Lalu ingat segala kebaikan pasangan, sekecil apapun itu, yang kemudian lambat laun akan terlihat berjuta kali lebih banyak.

Belajar dari hubungan Tom dan Lynette di serial Desperate Housewives, ketika salah satu menuntut hal yang terlalu tinggi dari pasangannya, hubungan akan berakhir tidak baik. Adalah hukum alam ketika salah satu pihak menuntut, maka pihak lain akan gantian menuntut juga. Sadari hal itu benar-benar. Pantaskah kita menuntut sesuatu dari pasangan? Siapkah bila kita juga dituntut oleh pasangan? Menyadari bahwa kita adalah manusia biasa yang juga memiliki banyak kekurangan, tak adil rasanya bila ekspektasi kita pada pasangan lantas menafikan segala kekurangannya.

Untuk menutup tulisan yang lebih tampak seperti racauan ini, aku ingin menuliskan script dialog dari Tom dan Lynette.

“Our problems looked this big (sambil merentangkan kedua tangan), so I went away. But now, I realise they only seem that way because we were so close up against them. And they were blocking me from seeing how much I love you, which is... (sambil menengadahkan tangan ke langit). I see that now. And I need to tell you that because you have to say this things while you still can... because you, Lynette, you will always be the love of my life.” (Tom Scavo, DH 8)

“Renee and Ben. Your wedding is one of the best days of your life because it’s the day you realise, I finally have the thing I need to be happy… And then you forget. So, then, what happens is, instead of waking up every morning and shouting somebody loves me, you start looking around and thinking, what do I want now? What’s the next thing I need to be happy? So, you look and you look and you keep thinking you’ve found it, but nothing works. And the reason that nothing works is because… that hole in your heart that you’re trying to fill… Is already filled. You just forgot. Don’t ever forget. Always remember how much you wanted to be loved. And how much you are loved. And I think if you can do that, and it isn’t easy, you will stop looking and realise you already are happy. To Renee and Ben and to remembering.” (Lynette Scavo, DH 8)

Hei, Kamu...

Hei, kamu...
Setelah bertahun-tahun aku masih saja merindukan sosokmu,
Riang berkelebat dalam imaji,
Mendengarkanku berceloteh dengan perhatian penuh.

Hei, kamu...
Tahukah kamu, aku sangat merindukan malam itu?
Kita mengurai canda dan merajut jalinan kata,
Lalu merangkai diskusi sampai pagi.

Hei, kamu...
Yang selalu lapang menerimaku,
Memberiku semangat dan inspirasi,
Menguatkanku, bukan melemahkanku.

Hei, kamu...
Kapan lagi,
Kita ramai bertukar informasi,
Bertukar binar mata sambil saling menggenggam jemari?

Ah, kamu yang kurindu...
Nyata kah?
Atau hanya ada dalam khayalku?

Tuesday, June 14, 2011

Rumah(-Rumah)ku

Sepanjang usia pernikahanku yang baru empat tahun, terhitung kami sudah pernah merasakan tinggal di tiga rumah. Rumah pertama tentu di Cikarang, rumah pertama kami yang kini sudah dijual. Rumah kedua adalah rumah kontrakan di Cisitu, Bandung, yang baru saja kami tinggal pindahan dua minggu lalu. Rumah ketiga adalah rumah baru kami saat ini.

Kuingat-ingat lagi, aku selalu mengalami fase adaptasi yang tidak mudah. Awal-awal tinggal di kesemua rumah itu, aku pasti merasa sedih karena merasa belum betah, ada saja ini-itu yang dirasa tidak sesuai. Tapi setelah kuingat lagi, masa-masa meninggalkan rumah-rumah itu juga merupakan masa-masa yang berat. Yang tadinya merasa tidak betah, ternyata telah berubah menjadi sangat betah, bahkan cenderung susah untuk berpisah.



Kerinduan pada rumah Cikarang adalah kerinduan melankolis, semata-mata karena rumah itu adalah rumah pertama yang kami beli dari hasil jerih payah kami sendiri. Rumah yang mengawali kehidupan, tempat kami bercengkerama berdua sebelum punya anak. Rumah tempat kami berbulan madu, sekaligus tempatku belajar menjadi seorang istri. Yang tadinya tidak suka memasak, menjadi harus berkutat di dapur dan belajar memasak sesuatu. Rumah ini juga rumah pertama yang perabot dan dekorasinya kupilih sendiri, hingga tiap ruangan terasa punya sentuhan rasa pribadi. Tamannya adalah ajang pertama kami bereksplorasi dengan yang namanya gardening, meskipun hasilnya hampir semua tanaman mati :D



Rumah Cisitu adalah rumah terlama yang pernah kuhuni sampai saat ini, hampir empat tahun lamanya. Pertama tinggal di situ aku sempat sedih soal air yang tidak 24 jam mengalir, hingga memaksa kami harus membeli tandon-tandon air dan membuat kami harus siaga mengisinya di malam hari. Pertama kali punya anak adalah ketika tinggal di rumah ini. Rumah ini betul-betul menjadi saksi masa kehamilan dan kelahiran Hanif. Betul-betul menjadi saksi kerepotan belajar mengurus anak pertama, sekaligus saksi tumbuh-kembang Hanif pada masa tiga tahun pertama.

Di rumah Cisitu lah Hanif belajar ngesot, lalu merangkak, berjalan, dan akhirnya berlari. Dengan anak-anak sekitar masjid di gang itulah Hanif belajar bersosialisasi untuk pertama kali. Dan di rumah ini pula kutemukan makna hidup bertetangga dengan orang-orang yang sangat baik, yang tak pernah merasa berat membantu satu sama lain, sesuatu yang tidak kurasakan ketika tinggal di Cikarang karena di sana masyarakatnya cenderung individualis.



Aku betul-betul merindukan rumah Cisitu, sebagai tempat yang penuh kenangan dalam kehidupanku sebagai seorang bunda, dalam memori indah tentang masa-masa membesarkan Hanif di tahun-tahun pertama.



Bagaimana dengan rumah baru kami di Bojongkoneng? Sama dengan rumah Cikarang, rumah ini juga rumah yang terasa punya sentuhan rasa pribadi karena perabot dan dekorasinya kami pilih sepenuh hati. Tapi entah mengapa, rasanya belum klik benar dengan rumah ini. Memang belum ada dua minggu kami tinggal di situ. Mungkin masih perlu banyak waktu, seperti interaksiku dengan rumah yang sudah-sudah.

Sekarang pekerjaanku tiap hari adalah beres-beres rumah. Kardus sisa pindahan masih ada beberapa yang belum dibongkar, perabot masih ada yang kurang dibeli—terutama rak buku tempat menaruh buku-buku, serta kontainer yang kurencanakan sebagai tempat menaruh mainan Hanif yang seabreg itu. Yup, betul. Kerja beres-beres rumah ini adalah salah satu caraku untuk membuat rumah baru kami terasa lebih homy agar kami lebih betah, meskipun hal itu membuat skoliku sakit hampir tiap hari.

Home is where the heart is. Agaknya pernyataan itu benar adanya. Dan tampaknya, aku sudah harus mulai menaruh hati pada rumah baru kami, rumah yang akan menjadi tempat tumbuh-kembang adiknya Hanif di tahun-tahun pertamanya, dan akan menjadi saksi kehidupan keluarga kami di tahun-tahun selanjutnya, insya Allah.

Foto 1: Rumah Cikarang ketika terakhir kali aku tinggal di sana, awal April 2011. Rumah ini terjual pada 27 April 2011.

Foto 2: Gang Masjid kenangan, menuju rumah Cisitu. Foto ini diambil pada 13 Juni 2011.

Foto 3: Rumah Cisitu yang biru, sebiru haru hatiku ketika mengunjunginya kembali sepulang kerja sore itu. Hanya mengambil fotonya saja tanpa berani masuk, khawatir memori indah tentang rumah ini mendesak ruang rasa hingga membuat perih. Di pintu pagar inilah Hanif biasa menantiku pulang setiap sore, membukakan pintu dengan tawanya yang lebar. Tuh kan, jadi sedih lagi, hiks.

Foto 4: Rumah kami sekarang, yang masih terasa panas karena tidak ada pepohonan di sekitarnya. Sabtu pagi itu Hanif sedang membantu ayahnya mencuci motor di depan rumah.

Friday, July 23, 2010

Rumah Mungil Kami

Setelah melalui pemikiran panjang selama berbulan-bulan—hampir dua tahun, akhirnya tibalah kami pada keputusan itu: menjual rumah mungil kami di Cikarang. Memang sejak aku pindah menetap di Bandung, ada selintas pertimbangan untuk mengontrakkan rumah itu, mengingat suami bekerja di Jakarta dan terlalu capek kalau harus pulang-pergi setiap hari. Hanya saja, rasanya terlalu sayang mengalihkannya ke orang lain. Bagaimana kalau orang itu tak mau merawat rumah kami dengan baik? Khawatir malah jadi rusak. Juga masih terlalu sayang membayangkan kami (terutama aku) tak bisa mengunjunginya kembali sewaktu-waktu kalau ia sudah ditempati orang lain.

How can I not love that house much? Ialah istana pertama kami yang dibeli dengan keringat sendiri, tempat kami menguntai harapan di masa awal pernikahan. Rumah itu betul-betul penuh kenangan. Dapurnya yang berlantai keramik merah marun adalah tempatku belajar meracik masakan untuk suami, ruang tengahnya yang putih adalah tempat kami menghabiskan malam dengan berbincang dan menonton televisi, taman depannya adalah arena kencan kami lewat kegiatan berkebun dan menanam bunga, kain gordennya yang berwarna-warni adalah gorden yang kupilih dengan sepenuh hati. Duh, kangen sekali aku pada rumah itu.

Lingkungan kompleks juga mantap benar. Keamanan sangat terjamin karena sistemnya cluster dengan satu pintu yang dijaga oleh satpam 24 jam, dan mereka tak henti berkeliling kompleks melakukan patroli. Dengan model rumah tanpa pagar, sistem ini sangat aman untuk meletakkan mobil dan motor di luar.

Di dalam kompleks juga terdapat deretan ruko yang sangat lengkap. Mau cari apa saja, pasti ada. Mulai dari toko kelontong (menjual sayur, buah, daging, dan ikan segar), mini market (ada Alfamart, Indomaret, dan satu mini market pribadi), salon, toko alat tulis, bengkel, play group, warung nasi, kedai makan, restoran Padang, toko-toko kudapan, dan masih banyak lagi. Persisnya ada tiga deret ruko yang berjajar membelah kompleks di jalan utama, dengan tiap deret terdiri atas lebih dari sepuluh toko.

Jalan-jalan kompleks diaspal mulus dengan hot mix dan dinaungi oleh pepohonan, dan dilengkapi dengan jogging track di sepanjang pinggirnya. Meski jalanan besar dan mulus, tak banyak kendaraan lalu lalang, sehingga sangat ideal untuk sekedar jalan-jalan pagi dan sore. Ideal bagi anak-anak untuk bermain bola, bersepeda ke sana kemari, bermain sepatu roda, atau sekedar bercengkerama bersama teman-teman. Ah, betapa idealnya kompleks ini untuk tumbuh kembang anak.

Kini dengan keputusan mantap, suamiku berniat menjual rumah itu. Tak dapat kupungkiri, keputusan ini diambil dengan berat hati. Segala kerepotan mengurus dua rumah antara Bandung-Jakarta dan kerepotan bolak-balik tiap hari antara Cikarang-Jakarta, akhirnya “memaksa” kami mempertimbangkan keputusan ini. Berat memang, karena hati kami sudah terpaut di sana. We’re gonna miss it so much.

Tulisan terkait tentang kenangan kehidupan di rumah Cikarang:

Thursday, November 05, 2009

Pillow Talk

Fiuuhh, tak dapat menemukan padanan istilah ini dalam Bahasa Indonesia. Masak iya disebut “obrolan bantal”? Eniweiii… tak hendak membahas hal ihwal kata serapan dan sebangsanya. Kali ini ingin membahas sedikit tentang asyiknya pillow talk ini.

Dalam sebuah kehidupan pernikahan, komunikasi adalah komponen penting. Komunikasi mungkin bukan segalanya, tapi segalanya berawal dari komunikasi. Salah satu bentuk komunikasi adalah pillow talk, yang lazim dilakukan para pasangan menjelang tidur. Karena aktivitas seharian yang bejibun—apalagi kalau keduanya bekerja—mengakibatkan pertemuan hanya intens di malam hari, pillow talk merupakan resep jitu berbagi hari. Di dalamnya bisa terjadi tukar pikiran, tukar cerita, atau diskusi mengenai apapun. Pillow talk adalah sarana mujarab untuk mengembalikan komitmen yang sempat beterbangan dari pikiran setelah dikejar aktivitas seharian. Dibumbui dengan kemesraan, ia bisa juga menjadi sarana recharge cinta kasih dan sarana pelepas rindu pada pasangan setelah terpisah seharian. Kadang-kadang malah pillow talk bisa menjadi ajang mencari solusi dalam menghadapi permasalahan kehidupan.

Sebenarnya pillow talk adalah salah satu bentuk komunikasi yang paling kusukai. Bercerita ngalor-ngidul sambil merem-melek menahan kantuk, wuahh nikmatnya :D Sayangnya karena beberapa hal di bawah ini, pillow talk hanya bisa kami lakukan kadang-kadang.
  • Suamiku bukan tipe orang yang senang bercerita. Dulu semasa masih tinggal bersama di Cikarang, sementara aku berkisah macam-macam, suami cuma bisa merem-melek dan ujung-ujungnya berkata, “Aku bobok ya”. Halahh…
  • Dalam dua tahun pernikahanku, aku hanya sempat mengecap sepuluh bulan tinggal bersama. Otomatis seterusnya, pillow talk cuma bisa dilakukan selama weekend saja.
  • Setelah Hanif lahir, ia selalu tidur di tengah-tengah, di antara ayah-bundanya. Selain menjaga agar ia lebih hangat, cara ini sebenarnya lebih pada tindakan pengamanan supaya ia tidak terguling ke bawah :D Ditambah dengan sensitifnya telinga Hanif mendengar sekedar bisikan pun—yang membuatnya terbangun, pillow talk selalu gagal dengan suksesnya.

Kemarin seusai acara ngundhuh mantu adik ipar yang berlangsung sampai larut malam, menjelang tidur, tak dinyana dan tak diduga… berlangsunglah pillow talk yang selama ini begitu aku rindukan. Yang dibicarakan sih cuma hal yang ringan-ringan saja, tapi itu cukup untuk mengurai kepenatan seharian itu. Ditambah dengan suami yang mengakui kalau pillow talk bisa lebih mendekatkan kami dan ditutup dengan kecupan hangat di kening, sempurna sudah malam itu :)

Miss you always. Love you always, Cintaku.

*ditulis ketika sang belahan jiwa sedang tugas dinas ke Manado. Teringat kutipan dari Pablo Neruda, “And one by one the nights between our separated cities are joined to the night that unites us.”

Thursday, July 30, 2009

Tentang Pernikahan (Lagi)

Tiap kali mendengar kabar tentang pernikahan seseorang, atau tiap kali menerima undangan pernikahan dari seorang teman, tak dapat disangkal aku langsung terhenyak. Detik terasa berhenti sejenak, membawa ingatanku kembali ke saat di mana aku menghadapi pernikahanku sendiri.

Begitu juga ketika mendengar kisah atau menemui pasangan pengantin baru yang sedang dimabuk asmara. Kadang merasa geli sendiri. Kadang merasa sinis dan skeptis. Kadang merasa cemburu. Ya, kalau mau jujur pada diri sendiri, sering sekali aku merasa cemburu pada mereka. Cemburu pada kebahagiaan dan binar-binar cinta mereka yang menguar sampai ke mana-mana.

Kehidupan pernikahanku sendiri baru berjalan dua tahun tiga bulan. Namun di usianya yang baru seumur jagung itu, aku merasakan pernikahanku telah bertumbuh, telah mencapai fase yang berbeda. It’s a great thing to know that it grows with us.

Dulu rasanya dunia hanya milik berdua saja. Aku tak lengkap dan merasa tak berdaya tanpanya. Merinduinya sepanjang waktu. Memujanya habis-habisan. Agak kekanak-kanakan mungkin, tapi ini tipikal khas orang yang jatuh cinta :D

Kini? Hmm, rasanya lebih dewasa dan lebih rasional. Juga lebih realistis dalam memandang kehidupan. Mimpi tentang masa depan tak lagi berbuih-buih seperti awal pernikahan dulu, karena sudah mengalami sendiri perbedaan antara “apa yang kita inginkan” dan “apa yang kita dapatkan”. Dua insan yang dulu dimabuk asmara—sampai lautan rela diseberangi dan gunung rela didaki, kata orang—kini lebih kental sebagai dua orang yang saling bersahabat dan dua orang yang saling melengkapi. Kalau si dia sedang jauh, perasaanku tak lagi dipenuhi oleh rasa tak berdaya seperti dulu. Hidup masih berlanjut, meski terasa pincang—yah, namanya juga manusia normal. Tapi lama-lama aku berhasil deal with it. Alih-alih nangis bombay, aku lebih suka mengalihkannya untuk sesuatu yang lebih produktif.

Just a word of advice, don't do such LDR if you can. Although it has made our relationship grow in a special way that a normal couple might not have it, which I can then say that these hard time worth, still... nothing can be better than having him besides you. (Desiree)

Aku rasa kata-kata Desi benar adanya. Setiap kehidupan pernikahan—milik siapapun itu—punya plus minusnya sendiri, punya riak-riaknya sendiri. Kehidupan pernikahanku yang tidak ideal akibat terpisahnya kami ternyata memiliki sisi positif tersendiri. Kalau mengutip kata-kata Desi: LDR has made our relationship grow in a special way that a normal couple might not have it, which I can then say that these hard time worth. Seiring dengan lahirnya Hanif dan berjalannya waktu, kemandirianku menjadi jauh lebih kuat. Mentalku juga lebih tahan banting dan tidak se-melankolis dulu. Aktualisasi diri kami terpenuhi secara bebas, dan kami juga punya lebih banyak waktu untuk diri sendiri (me-time).

Meskipun demikian, still... nothing can be better than having him besides you. Namanya juga pernikahan, idealnya memang harus dilalui seatap bersama. Kadang-kadang rindu sekali diri ini pada labuhan asa tempat menumpahkan segala curhat dan penat, atau sekedar teman ngobrol melewatkan malam. Rindu sekali diri ini pada sosok mitra bertukar pikiran dan merancang masa depan. Karena ketika bertemu setiap akhir pekan, waktu yang tercipta di antara kami selalu hanya berpusat pada Hanif—aku maklum, kalau sudah ada anak, si istri biasanya terlupakan :p (lebih-lebih karena si dia memang jarang bertemu Hanif).

Melewati dua tahun pernikahan, detil-detil kecil yang manis seperti kecupan, pelukan, colekan nakal, kerlingan genit, dan sebangsanya, sudah jauh berkurang. Entah terlupakan, entah tak lagi dianggap penting (terutama olehnya *sigh*). Wajar kalau aku sering merasa cemburu pada pasangan pengantin baru, karena pada mereka, biasanya detil-detil kecil yang manis ini sangat melimpah. Pertemuan akhir pekan yang singkat kadang tak memberi ruang untuk curhat dan diskusi panjang, karena perhatian terlanjur habis untuk Hanif. Seandainya kami bisa bertemu lebih sering, sehingga perhatian untukku juga seimbang dengan perhatian untuk Hanif.

Ah, hidup terlalu indah untuk dihabiskan dengan berandai-andai. Maka kusyukuri saja semuanya. Ketika akhir pekan tiba, dan kuberikan waktu sepuasnya bagi Hanif untuk berinteraksi dengan ayahnya, aku menyibukkan diri dengan my me-time. Kapan lagi aku bisa menulis, membaca buku, online, pergi senam, atau ke salon dengan nikmat tanpa diganggu Hanif? Alhamdulillah, there’s always a silver lining in every clouds.

Sekali lagi, pernikahanku baru seumur jagung. Masih panjang jalan terbentang, masih banyak tugas yang harus dikerjakan, masih banyak tanggung jawab yang harus ditunaikan. Ini baru permulaan. Hidup tak pernah sempurna, begitu juga kita, pasangan, dan pernikahan kita. Dalam hidup, kita tak selalu mendapatkan apa yang kita inginkan, maka syukuri saja apa yang sudah kita miliki. Menikah itu gampang. Menjaganya tetap utuh dan seimbang—seimbang lahir-batin, seimbang dunia-akhirat… itu yang susah.

Tulisan terkait:

Tuesday, June 02, 2009

Lika-Liku Laki-Laki

Dalam kesempatanku mengunjungi kembali rumah kami di Cikarang akhir Mei lalu, tak ada yang lebih mengejutkan selain berita itu. Tetangga yang kami kenal baik, sebut saja pasangan suami istri Bu M dan Pak J, sedang dalam proses bercerai. Berita itu kudengar dari asisten rumah tangga mereka ketika aku sedang mengasuh Hanif di jalan depan rumah kami.

Di mataku, mereka adalah pasangan ideal. Sama-sama satu rumpun sebagai orang Jawa, yang satu cantik dan yang satu ganteng, satu almamater di UGM, dua-duanya sukses dalam karir, dan dikaruniai seorang putri cantik yang menyenangkan. Mereka ini pasangan muda, paling-paling keduanya masih di kisaran usia pertengahan 30-an. Putri mereka saja masih kelas 1 SD. Secara materi, mereka berkecukupan. Rumah bagus, dua kali lebih luas daripada rumah lain—karena mereka membeli dua rumah berdampingan lalu dijadikan satu, serta dilengkapi dua mobil pribadi.

Kehidupan mereka pun tampak menyenangkan. Selalu tampil sebagai keluarga harmonis dan bahagia. Selalu tampak rukun dan saling mendukung. Yah, setidaknya seperti itulah kesan yang kutangkap ketika aku tinggal di sana dulu. Tapi di balik kehidupan ideal itu, ada sesuatu yang harus dikorbankan: waktu Pak J. Sebagai karyawan ASTRA yang berkantor di Sunter, tiap hari Pak J harus pergi pagi-pagi dan pulang larut malam. Waktu luang untuk keluarga hanya ada di akhir pekan.

Aku tak pernah mengira mereka akan berakhir seperti ini. Dengar-dengar dari asisten itu (Ya Allah, bukan maksud hamba bergosip, asisten itu yang bercerita sendiri sementara hamba diam saja) Pak J sudah menikah dengan sekretarisnya di kantor dan sudah pisah ranjang dengan Bu M dua bulan ini. Mereka bercerai karena Bu M tidak mau dimadu.

Sore itu ketika putri mereka sedang bermain bersama Hanif, aku memandangnya iba. Aku ingat betapa riangnya ia tiap kali mereka bertiga berkumpul atau meluangkan waktu bersama. Sebagai anak dari kedua orang tua yang berkarir, waktu dengan ayah bundanya tentu menjadi hal yang mahal, hal yang membuatnya berbinar. Kini ia terpaksa bermain-main sendiri karena bundanya jadi sakit-sakitan akibat kejadian ini. Aku miris membayangkannya merindui ayahnya. Aku miris membayangkannya merindui keceriaan bundanya. Aku miris karena ia terpaksa harus jadi anak tunggal korban perceraian, tak ada saudara tempat berbagi. Masya Allah...

Aku terhenyak. Tak tahu harus berpendapat apa. Terlepas dari siapa yang bersalah, aku ingin membahas hal ini sedikit. Sebenarnya, apa sih yang membuat para suami pindah ke lain hati? Mengingat mereka ini pasangan muda, seharusnya jenuh atau bosan bukan faktor utama. Seharusnya kenangan merajut impian di masa-masa awal pernikahan masih jelas terpatri. Mengapa semudah itu jatuh ke pelukan perempuan lain? Apakah karena jarang bertemu dengan sang istri? Apakah karena lebih sering bertemu dengan si sekretaris?

Kalau jawabannya ya, alangkah mengerikannya kehidupan Jakarta. Faktor jarak dan waktu merampas kehidupan keluarga. Demi alasan bisnis, keluar dengan perempuan lain menjadi hal biasa. Ingat bahwa witing tresna jalaran saka kulina. Apa karena itukah?

Hati laki-laki seperti gua. Gelap dan sulit diraba. Aku tak pernah mengerti jalan pikiran mereka, juga hati mereka. Mengapa suatu saat mereka bisa sangat romantis, lalu mengapa kali lain juga bisa menyakiti hati perempuan sedemikian rupa? Apa yang laki-laki cari dalam diri seorang perempuan? Apakah ikatan suci pernikahan tak ada maknanya? Apakah anak-anak tak ada artinya?

Kalau sudah begini, aku jadi ngeri membayangkan kehidupan Jakarta. Yang tak kuat iman bisa tergoda. Lihat saja berita-berita di televisi itu, betapa godaan perempuan maha dahsyatnya. Aku sadar sepenuhnya, kehidupan pernikahanku yang sangat tidak ideal karena hidup terpisah dengan pasangan—kalau dipikir-pikir—rentan dengan hal-hal semacam ini. Sementara umur pernikahan ini baru seumur jagung, masih terus membangun komunikasi—yang tak juga kunjung solid. Semoga Allah menyelamatkan dan menjaga kami.

Tuesday, February 03, 2009

Pernikahan


Pernikahan itu sebuah perjalanan hidup yang teramat panjang... dan terkadang melelahkan. Pernikahan itu bukan sebuah tujuan, melainkan suatu awal. Ada masa di mana pernikahan terasa seperti dongeng yang penuh dengan kidung mesra, tapi biasanya hal itu hanya bertahan dalam waktu kurang dari dua tahun. Selebihnya? Perjuangan panjang untuk saling berlapang dada.

Pasangan kita bukan manusia sempurna, juga keluarganya. Pada masa awal pernikahan, kesadaran akan hal ini berbatas tipis dengan euforia gending pelaminan. Lalu pada saatnya kesadaran itu benar-benar menjadi sebuah kesejatian kesadaran, masya Allah... lagi-lagi sebuah perjuangan panjang untuk berlapang dada. Menerima pasangan kita dan keluarganya sebagai suatu ”paket jadi” memang bukan perkara mudah. Ada kekecewaan, ada keengganan, ada takjub, juga ada syukur.

Satu hal yang sukar dilalui adalah ketika rumput tetangga tampak lebih hijau. Tak selalu memerlukan masa pernikahan yang bertahun-tahun. Tak selalu terjadi pada pasangan berumur. Maka ketika hal itu melanda, tak ada yang bisa dilakukan kecuali mensyukuri apa yang diberikan Allah kepada kita.

Seorang teman berkata, carilah pasangan dengan siapa kita sangat menikmati percakapan. Karena seiring dengan berjalannya waktu, seiring dengan memudarnya cinta, that’s the only thing that matters. Seiring dengan berlalunya tahun, cinta akan berubah menjadi persahabatan. Dan sahabat yang baik juga adalah pendengar yang baik, bukan? Tempat kita mencurahkan segala, mendiskusikan hidup, dan rekan bertukar pikiran. Mungkin tak ada lagi debar-debar kasmaran dengannya seperti dulu, tapi paling tidak kita merasa dia adalah seseorang yang membuat hidup kita lengkap.

Hanya pasangan luar biasa yang bisa mempertahankan percikan asmara itu sampai akhir. Pelukan, belaian, kecupan, dan kalimat ”I love you” mungkin terasa picisan bagi sebagian orang, tapi siapa sangka hal-hal itulah yang membuat bara cinta tak pernah padam, hal-hal itulah yang memberi energi untuk sebuah kehidupan cinta yang menggairahkan. Maka ketika hal-hal itu tak lagi ada, rumah tangga akan kering dan hampa. Rumah tangga menjelma menjadi sebuah rutinitas belaka, yang sangat membosankan untuk diceritakan, apalagi dilakoni.

Dalam sebuah episode kehidupan bernama pernikahan, aku hanyalah seorang pemula. Seorang pemula yang tentu tak bisa mengandalkan keberuntungan belaka (beginner’s luck = keberuntungan pemula). Kalau sampai saat ini aku masih sering terkaget-kaget, mengelus dada, atau menahan rasa, mungkin itu hanyalah permulaan saja. Satu hal yang harus diingat, bahwa pelajaran bersyukur dan berlapang dada ini adalah pelajaran sepanjang hayat, takkan pernah berhenti sampai kita mati.

Wednesday, October 15, 2008

Kenangan

Lagi blogwalking, tiba-tiba nemu puisi indah ini. Setelah kubaca, hmm... kok kayaknya menggambarkan pengalaman dan perasaan pribadi yak. Jadilah kukutip aja di sini.

Sajak Februari

:1991-1995

1
cinta adalah rasa
yang kuucap dalam setiap desah
dan cuaca
tak sampai-sampai getarnya padamu

2
setiap hari embun meneteskan kesetiaannya pada pagi
seperti aku yang tak pernah berhenti menari
dalam mimpi tentangmu
dan jatuh

3
maka kutanyakan pada mungkin
ia memandangku dengan mata kaca
mengecup luka dan berkata
pergi dan pakailah kerudung airmatamu
sebab tak ada tempat untuk cinta di sini

4
Engkaukah itu yang berkata?
Semua pejalan di bumi, semua pencinta
pasti akan menderita
tapi bagaimana agar tiap gerak berarti
hingga malaikat pun sudi mengecup
semua luka kita yang mawar

engkaukah itu yang berkata, cinta?
sementara diam-diam kita berikan
keping luka dan risau kita
pada angin yang tak desau

5
Di dalam bis yang membawa banyak orang,
Kau cari aku hari itu.
Tapi kau tak tahu
aku telah mencarimu sejak pertemuan pertama kita
Mengapa kau sisakan peta buram yang sama
hingga aku tak pernah bisa menatap punggungmu

Di antara dinding dingin di sekitar kita
kau cari aku hari itu
tapi kau tak tahu
aku telah mencarimu bermusim-musim
dan selalu hanya pilu
yang memeluk dan membujukku
Pulanglah, kau sudah begitu lelah

6
Begitulah
kata telah lama berhenti
pada napas dan airmata
Di manakah kau, di manakah aku?
Labirin ini begitu sunyi
dan cinta terus sembunyi

7
Seperti gelombang yang setia pada lautan
aku telah lama kau campakkan
ke pantai paling rindu itu
tapi sebagai ombak aku memang harus kembali
meski dengan luka yang paling badai

8
Begitulah perempuanmu
memintal lalu menguraikan kembali
kenangan di sepanjang jalan kaca yang retak itu
Kau mungkin lupa pernah
menitipkan kilat asa di mataku
yang menjelma beliung
namun tak perlu bulan, lilin atau kunang-kunang
selalu kutemukan jejak juga napasmu
di jalan raya kehidupanku

Membayangkan wajahmu aku pun bermimpi
tentang matahari lain yang menyala suatu masa
Mungkin kita bisa saling memandang lama
melepas beliung abai yang menyiksa selama ini


9
:Aku telah berjuang untuk melupakanmu

Seperti baru kemarin kau datang dan kita bicara
sambil menatap ubin, dinding dan pohon jambu itu
Kau bilang tak mungkin, sebab
ada yang lebih penting kau selesaikan

Seperti angin yang tak sadar disapa waktu
aku berpura tak mendengar
Dia akan datang, kataku.
Tapi katamu, kau akan datang setelah urusan selesai.
Bagaimana kalau dia yang tiba lebih dahulu?
Siapakah yang harus kuabaikan?
Siapa yang perlu kulupakan?

Kita terdiam mengamini ubin, dinding dan pohon jambu
suara sapu ibu kos di ruang tamu, kendaraan lalu lalang
beberapa mahasiswa dengan jaket kuning melintas
mungkin sebentar lagi gerimis

Dalam sepi itu tiba-tiba kita pun teringat
perkataan seorang sahabat
Katanya kita punya sesuatu, semacam hubungan indah,
yang tak bisa dirumuskan

Ketika kau pulang senja itu
aku tahu mungkin kita tak akan berjumpa lagi
untuk waktu yang lebih dari lama
Menyakitkan, tapi bukankah
tak semua kebersamaan
harus jadi monumen
kadang lebih baik dibuang
biar usang dalam tong sampah


10
Dan akhir adalah permulaan
kau aku tak pernah menapaki mula
juga mungkin tak pernah sampai
pada selesai
seperti puisi yang kutanam
di kuntum hatimu


11
Hai

katamu aku tetap perempuan itu
tak henti menyelami lautan huruf
demi yang Maha Cinta

dan kau sangat tahu
atas nama cinta pula
telah kuputuskan berhenti
menuliskan kenangan tersisa
titik tanpa koma
pada Februari ke lima

(Helvy Tiana Rosa)

Wednesday, July 09, 2008

Suami Terbaik


Sejak awal aku menikah, aku sudah sadar sepenuhnya kalau aku menikahi orang yang benar-benar sayang dan baik padaku *hehehe, bukan GR lho*. Makin hari, kesadaran ini makin nyata. Terutama ketika aku hamil. Meskipun terpisah jarak dan waktu, hal itu tak pernah menghalanginya untuk "melayaniku". Dia selalu dengan senang hati peduli padaku, memijat punggungku, membuatkan aku susu, mengupaskan buah, menyuapiku makan, mengambil alih pekerjaan rumah tangga, dan seabrek kebaikan lainnya.

Ketika aku melahirkan, suamiku juga mengantar, menunggui, dan menguatkan di kala aku kesakitan. Mungkin ini terdengar seperti komitmen yang biasa dilakukan seorang suami. Tapi sungguh, dia tampak seperti pahlawan di mataku karena mendampingi aku dari awal hingga akhir.

Ketika aku dan Hanif pulang ke rumah, sikap pahlawannya pun bertambah-tambah. Dia masih dengan senang hati peduli padaku, memijat punggungku, membuatkan aku susu, mengupaskan buah, menyuapiku makan, dan mengambil alih pekerjaan rumah tangga. Dia juga selalu jadi yang pertama bangun ketika Hanif menangis malam-malam, mengganti popok, atau menggendong Hanif kepadaku untuk kususui. Benar-benar breastfeeding father sejati.

Yang paling menggembirakanku adalah... dia pendukung utama program ASI eksklusif-ku. Padahal dulu aku pernah sangsi. Dia-lah orang yang meyakinkanku bahwa aku bisa memberi ASI eksklusif pada Hanif di saat orang-orang meragukan, bahkan di kala aku sendiri hampir menyerah: akan memberi Hanif susu formula ketika harus kutinggal dua hari satu malam untuk acara pernikahan kakakku.

Ah, andai suamiku selalu ada di sampingku untuk bersama-sama mengasuh, merawat, dan membesarkan Hanif. Bahkan kala aku cuti melahirkan seperti saat ini, aku masih tak bisa serumah dengannya. Karena sesuatu dan lain hal, terpisah jarak Jakarta-Bandung masih menjadi kenyataan yang harus dijalani.

Tapi aku tak boleh mengeluh. Hidup terlalu indah untuk dihabiskan dengan mengeluh. Apalagi kini, setelah pangeran kecilku yang tampan hadir menemani hari-hariku. Meskipun kini waktuku dan suami habis untuk Hanif, meskipun kini kami tak leluasa pacaran seperti dulu *hehehe*, semoga kemesraan suamiku dan segala kebaikannya tak pernah berkurang. Justru makin bertambah-tambah. Thanks to Allah for giving me the best husband on earth. Alhamdulillah.

Tuesday, June 03, 2008

Foto Prewedding [2]


Ternyata ada lho, yang dulunya nggak punya foto prewedding, trus sekarang jadi punya meskipun udah nikah bertahun-tahun. Ya foto-fotonya setelah nikah gitu. Judulnya sih ”foto prewedding yang tertunda”, hihihi.

Ini foto-foto prewedding Mbak Agnes yang tertunda setelah sembilan tahun pernikahan. Wah, berarti aku masih ada harapan untuk punya foto-foto prewedding yang mesra dong *eh, apa namanya diganti aja jadi foto pascawedding ya*.

Mbak Agnes, foto-fotonya bagussss. Jadi mupeng...

Foto diambil dari sini dan sini.

Monday, June 02, 2008

Foto Prewedding [1]


Aku tuh sukaaaaa banget lihat foto prewedding. Nggak tahu kenapa, pokoknya suka aja. Kesannya tuh seperti lihat wajah-wajah yang bahagia, yang siap menyongsong masa depan, yang penuh cinta. So sweet... kayak fairytale, hehehehe...

Dulu pas aku nikah, pengen banget pakai acara foto-foto prewedding gitu. Sempat survei, ternyata biayanya mahal bo! Karena nggak mau menyusahkan orang tua, akhirnya batal deh foto-foto prewedding-nya. Tapi sampai sekarang kalau lihat pasangan-pasangan yang pakai foto-foto prewedding, tetep aja mupeng, huhuhuhu.

Ini foto-foto prewedding dua temenku yang akan segera melepas masa lajang. Kepada Ilma dan Citra, selamat ya. Barakallahu laka wa baraka ’alaika wa jama’a bainakuma fi khair. Jangan lupa baca ini ;)

Foto diambil dari sini dan sini.

Sunday, June 01, 2008

Cinta Abadi

Kutipan ini diambil dari blog-nya Mbak Mia.

”Tolong angkat Papap, mau cium Mamam sebentar,” ujar eyang jauh saya kepada anaknya. Pemandangan yang sangat mengharukan, eyang Kakung ini sudah stroke 5 tahun. Untuk mengangkat tubuh dari kursi roda, sudah tidak sanggup. Sementara istrinya selama ini sehat-sehat saja. Setia merawat sang suami.

Tiba-tiba bulan lalu, sang istri, eyang Uti lemas, pucat, lesu, dibawa ke dokter, stadium lanjut menyerang salah satu anggota tubuhnya. Begitulah, keluarga sepakat tidak mau kemoterapi, mengingat usia sudah lanjut. Selama 2 pekan ini, tiap jam 3 sore, dengan mengayuh kursi roda, sang Kakung membesuk di Rumah Sakit, mencium wajah, dan mendoakan istrinya. Kemudian, selesai mencium, Kakung minta ditinggalkan berdua saja di kamar dengan Uti, dia akan berbagi cerita untuk beberapa jenak.

Lepas 50 tahun usia pernikahan mereka. Banyak doa dari saya untuk Kakung Uti ini. Banyak pelajaran dari kisah mereka.

Ketika akhirnya sang eyang Uti berpulang, Mbak Mia menulis ini.

Kakenda dan Nenenda yang sudah lewat 50 tahun usia pernikahan, tetap setia satu sama lain. Kakenda setia menanti jam 3 sore, saat membesuk Nenenda, begitu pula sebaliknya. Mereka menikmati kebersamaan dalam cinta dan sayang sampai akhir hayat. Saya ingat, sejak kecil, Mama cerita, bahwa Kakenda hanya mau makan sambal buatan Nenenda, sambal dadak, yang harus mendadak diulek. Wuih, segitu cintanya ya?

Terus terang aku tercekat membaca postingan Mbak Mia kali ini. Ada rasa haru. Kelak aku dan suamiku bisa begitu nggak ya? Benar-benar saling menyayangi sampai akhir hayat. Benar-benar setia sampai maut memisahkan.

Aku orang yang cengeng. Dalam buku Chicken Soup for the Couple Soul, aku sampai mewek baca kisah-kisah semacam ini. Sejujurnya, ada rasa iri luar biasa pada pasangan-pasangan yang bisa menjaga cinta sampai titik terakhir. Ketika biduk rumah tangga sudah dikayuh berpuluh-puluh tahun lamanya, masih ada romantisme hangat yang menguar dari keduanya. Dan rumah tangga seperti itu bukan hanya dibangun melulu di atas cinta. Ada nilai kesakralan yang jauh lebih tinggi daripada sekedar cinta. Rumah tangga yang seperti itu... ada kesetiaan yang kental, ada persahabatan yang manis, ada kepercayaan yang menggunung, ada perasaan saling membutuhkan dan saling melengkapi.

Hingga cinta tak hanya hinggap di antara mereka berdua, tapi juga nyata dirasa oleh anak cucu, bahkan oleh orang asing sekalipun yang mendapat kehormatan menjadi saksi cinta mereka.

Aku juga ingin rumah tangga yang seperti itu.

*huaaaa, jadi kangen suamikuuu*