Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan ini mengambil tema tentang “Aplikasi/Situs Daring Favorit/yang Ingin Direkomendasikan”. Wah, topik yang menarik, nih, mengingat kita hidup di zaman high-tech yang dimanjakan dengan berbagai aplikasi digital.
Sesungguhnya ada banyak sekali aplikasi yang aku pakai. Tapi begitu membaca kata kuncinya adalah “aplikasi/situs daring yang kalau dia tiba-tiba lenyap, Mamah akan merasa sangat kehilangan dan kelimpungan”, kayaknya aku tahu aplikasi apa saja yang akan kuceritakan.
Aplikasi-aplikasi dan situs daring ini sangat membantuku dalam mendukung gaya hidup dan mempermudah aktivitas sehari-hari, mulai dari mobilitas, kegiatan kantor, kegiatan olahraga, hingga kegiatan kepenulisan.
Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD)
Sejak menggeluti dunia kepenulisan saat duduk di bangku sekolah dasar, KBBI dan EYD telah menjadi sahabat karibku. Saat itu, aku masih memakai KBBI dan EYD versi cetak. Membolak-balik halamannya menjadi hal yang sudah biasa kulakukan demi menyempurnakan tulisan. Hal ini berlanjut hingga sekarang saat aku sudah menjadi editor, yang mengharuskan aku paham betul mengenai penulisan yang benar.
Berkat perkembangan teknologi yang begitu pesat, saat ini aku tak lagi repot membolak-balik KBBI dan EYD versi cetak. Aku memakai aplikasinya di ponsel dan versi web-based jika aku menulis dan menyunting dengan laptop.
Ada banyak situs yang menyediakan KBBI dan EYD daring di internet, tapi kita harus jeli untuk memakai situs yang tepat. Aku sendiri lebih memilih memakai versi resmi yang dikeluarkan oleh pemerintah. Bukan apa-apa, sih, sebenarnya. Hal ini cuma untuk memastikan bahwa versi yang kita pakai saat ini adalah versi termutakhir, mengingat bahwa Bahasa Indonesia terus mengalami perkembangan.
| Situs KBBI VI Daring |
Sebelum KBBI lahir, Indonesia sudah memiliki beberapa kamus penting. Salah satu tonggak awalnya adalah Kamus Umum Bahasa Indonesia (KUBI) karya W.J.S. Poerwadarminta, yang pertama terbit pada 1950-an. KBBI Edisi I lahir tahun 1988, hingga kini telah mengalami beberapa perkembangan menjadi KBBI Edisi VI.
Perkembangan KBBI Daring dimulai pada era KBBI Edisi V. Edisi ini menjadi tonggak yang cukup penting karena memperluas cakupan kosakata. Misalnya, memasukkan: kosakata umum, kosakata klasik dan arkais, istilah khusus berbagai bidang, kosakata budaya dari bahasa daerah, ungkapan bahasa daerah, bahkan sejumlah ungkapan bahasa asing.
KBBI Daring yang saat ini digunakan adalah KBBI VI Daring. Situs resminya berada di bawah Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. Sebagai tambahan informasi, EYD yang digunakan sejak 1972 sempat digantikan oleh Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI) berdasarkan Permendikbud No. 50 Tahun 2015. Kemudian pada 2022, Badan Bahasa kembali menetapkan EYD Edisi V menggantikan PUEBI.
| Situs EYD Edisi V |
Aku pernah berdebat di internet mengenai penggunaan istilah “mawas diri” vs “wawas diri”. Orang yang kukoreksi saat itu menggunakan istilah yang salah. Ketika kukoreksi, dia dengan songongnya menyuruhku mengecek KBBI. Lah, KBBI mana yang dia pakai, jelas-jelas aku memakai KBBI yang benar. Sudah salah, ngeyel pula. Bikin aku ingin garuk-garuk kepala. Inilah pentingnya menggunakan KBBI dan EYD versi terbaru.
Garmin Connect
Sebagai pengguna Garmin sejak awal aku memiliki smartwatch, aplikasi Garmin Connect menjadi aplikasi yang paling sering kuintip untuk memantau performa, khususnya dalam hobi berlari.
Garmin Connect adalah aplikasi di ponsel yang menjadi basis data latihan yang masukannya didapat dari device Garmin yang kita pakai. Ia mengumpulkan, menyimpan, menganalisis, dan menyajikan data aktivitas serta kesehatan.
Misalnya, saat ini aku memakai jam Garmin Forerunner untuk lari. Jam merekam: jarak, waktu, pace, heart rate, elevation, cadence, GPS route, VO₂ max, training effect, training load, recovery, dan berbagai metrik lainnya. Setelah aktivitas selesai, data tersebut disinkronkan ke Garmin Connect melalui bluetooth.
Garmin Connect menyimpan riwayat latihan sehingga kita bisa melihat perkembangan dari waktu ke waktu, mulai dari statistik mingguan, bulanan, hingga tahunan. Garmin menghubungkan aktivitas, beban latihan, dan kondisi tubuh—meskipun soal kondisi ini tidak sepenuhnya akurat—sehingga kita bisa melihat kesiapan hasil latihan kita untuk mengukur performa. Jadi modelnya lebih dekat dengan training management system.
Bukan hanya soal berlari, Garmin Connect juga mendukung berbagai aktivitas olahraga lainnya, seperti strength training, HIIT, bersepeda, berenang, yoga, hiking, triatlon, dan lain-lain tergantung jenis jamnya.
Fitur lainnya yang sering kupakai dalam aplikasi Garmin Connect adalah Gear Tracking dan Menstrual Cycle Tracking. Gear Tracking mencatat jarak dalam penggunaan perlengkapan, fungsinya seperti odometer pada mobil. Dengan memasukkan sepatu apa yang kita pakai berlari, kita dapat memantau penggunaan sepatu tanpa harus menghitung manual. Hal ini penting karena sepatu pun punya masa penggunaan optimal, yaitu sekitar 650-700 km per sepatu.
Nah, kalau Menstrual Cycle Tracking tentu untuk memantau siklus haid dan hubungannya dengan latihan, recovery, tidur, dan kondisi tubuh—bukan sekadar mengetahui kapan haid berikutnya. Memiliki basis data perjalanan siklus haid itu ternyata penting untuk performa. Garmin dapat membantu melihat bagaimana kondisi latihan berubah sepanjang fase siklus, juga memberikan informasi mengenai kemungkinan hubungan fase siklus dengan training dan nutrisi.
Garmin memberikan period predictions dan fertility-window predictions berdasarkan data siklus yang dimasukkan. Dengan demikian aku bisa tahu kapan masa folikular dan masa ovulasi untuk menentukan peak training, atau masa luteal di mana penyesuaian volume/intensitas latihan harus dilakukan karena tubuh sedang butuh banyak recovery.
Penutup
Sebenarnya masih ada banyak aplikasi lain yang benar-benar berguna dalam hidupku, seperti aplikasi Strava dan aplikasi Run With Hal. Tapi kayaknya akan kuceritakan lain waktu saja, mengingat deadline sudah dekat dan bakalan panjang kalau kuceritakan di sini juga.
Sekilas info saja, Run With Hal adalah aplikasi running coach yang berbasis pada metode latihan Hal Higdon, salah satu nama yang sangat terkenal dalam dunia marathon training. Jadi, kalau Strava berfungsi sebagai platform pencatatan dan komunitas, Run With Hal lebih fokus pada apa yang harus dilakukan untuk mencapai target lomba.
Apakah tulisan ini akan berlanjut ke seri kedua? Kita lihat saja nanti, ya.
Tulisan ini diikutsertakan dalam Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan Agustus yang bertema “Aplikasi/Situs Daring Favorit/yang Ingin Direkomendasikan”.

No comments:
Post a Comment