Saturday, June 13, 2026

Perubahan Zaman dan Seni Menunggu

Beberapa hari lalu ketika aku sedang jogging sambil mendengarkan radio, aku tergelitik dengan pembahasan menarik yang dibawakan oleh penyiar pagi itu. Temanya tentang nostalgia masa lalu, terutama ketika masa-masa tahun 90-an.

Sebagai anak kelahiran tahun 80-an, aku merasa istimewa menjadi generasi milenial. Generasi ini unik karena mengalami masa transisi besar dalam sejarah. Generasi mana lagi selain milenial, yang merasakan tumbuh besar bersanding dengan perkembangan dunia sebelum dan sesudah era internet?

Mamah-mamah pasti ingat kenangan menulis surat atau mengirimkan pesan melalui telegraf dan telegram (bukan aplikasi Telegram zaman sekarang, lho, ya). Atau aktivitas mencari informasi di buku–silakan acungkan tangan bagi mamah yang dulu akrab sama RPUL dan Yellow Pages, hahaha.

Kenangan yang bisa jadi tak terlupakan mungkin juga kenangan menelepon keluarga atau gebetan dengan pesawat telepon rumah atau telepon umum. Saat aku SD, aku masih mengalami menggunakan telepon umum koin. Belakangan ketika aku SMP, telepon umum sudah menggunakan kartu. Lalu saat kuliah, aku juga sempat merasakan mengantri lama di wartel bersama anak-anak perantauan lainnya selepas subuh, demi biaya Sambungan Langsung Jarak Jauh (SLJJ) yang lebih murah.

Obrolan di radio lalu bergeser pada aspek kesenjangan yang dialami generasi milenial ini menghadapi anak-anak mereka–yang kebanyakan generasi Z dan generasi alfa. Ada kisah lucu ketika seorang pendengar bercerita tentang ketidakmengertian anaknya soal hubungan antara kaset dengan pensil, hehehe. Perubahan sebesar ini (dari era kaset, lalu CD, MP3 kemudian music streaming) dalam rentang waktu yang relatif singkat memang sulit dibayangkan oleh para generasi alfa.

Satu hal yang paling sulit kupahamkan pada anak-anak adalah tentang seni menunggu. Jangan ajari generasi milenial soal kesabaran menunggu.

Kita semua sudah kenyang bagaimana rasanya menunggu lanjutan film favorit yang baru bisa ditonton seminggu kemudian, menunggu majalah yang baru terbit bulan depan, menunggu hasil foto kamera film dari tempat cuci cetak foto, menunggu balasan surat yang dikirim melalui pos, menunggu janjian dengan teman yang tak kunjung datang sementara kita cuma bisa bengong, atau bahkan menunggu sambungan internet memakai layanan dial-up yang didahului dengan bunyi “tiiit... kriiiik... ngiiiing...”

(Langsung ingat jingle iklan Telkomnet Instan, nggak, sih? "Kosong delapan kosong sembilan, delapan sembilan empat kaliii… Telkomnet Instaaannn...". Ya ampun, iklan legend, hahaha)

Anak-anak generasi alfa tidak bisa membayangkan dalam benak, bahwa di masa itu, ibu bapaknya membunuh waktu dengan bermain bersama anak tetangga sebelah, memanjat pohon, mencari kepik, belalang, atau capung, bermain lompat tali, juga bermain kelereng. Receh, tapi bahagia banget di masanya.

Mereka heran, bagaimana kita bisa hidup tanpa smartphone yang bikin betah seharian karena bisa nonton Youtube, mendengarkan lagu di Spotify, atau streaming serial hits di Netflix. Dan kini mereka gelisah, kalau ibu bapaknya mengultimatum bahwa family time harus dilalui tanpa gadget. “Nanti aku ngapain dong, masa bengong?”

Tampaknya sekarang kita harus mengajari anak-anak generasi alfa, bahwa kebosanan sebenarnya bisa memicu kreativitas, jika mereka mau. Rentang fokus mereka yang pendek dan kebiasaan mereka untuk serba instan memang merupakan tantangan besar. Belum lagi kalau ibu bapaknya juga mengalami kesulitan untuk lepas dari gadget.

Salah satu hal yang sering kulakukan adalah mengajak mereka mengeksplorasi alam. Beberapa kali mereka kuajak trekking ke seputaran Sentul, bahkan yang terakhir kali, mereka kuajak mengeksplor desa Baduy.

Mereka belajar mengatasi kebosanan tanpa gadget karena di trek memang tidak ada sinyal, hehehe. Perhatian mereka akan tertuju pada hal-hal di sekitar: sibuk mengamati vegetasi, melihat lebah dan burung, mencari ranting, atau bermain gemericik air yang mengalir langsung dari mata air.

Mereka belajar sabar menunggu kawan lain yang langkahnya tertinggal sambil riuh berbincang atau bercanda. Rehat di warung menjadi keriangan yang dinanti, saat berkesempatan makan indomie dan jajan es, sesuatu yang tidak kami perbolehkan untuk sering-sering dilakukan pada hari biasa.

Hal yang masih belum bisa kuterapkan untuk mereka adalah mengajak mereka bermain permainan tradisional. Bukan apa-apa, rata-rata permainan tradisional membutuhkan rekan sepermainan.

Dulu waktu aku kecil, hal ini mudah didapatkan karena semua anak-anak di kampung pergi bermain keluar rumah ketika sore tiba. Kami bermain lompat tali, gobak sodor, bentengan, petak umpet, kucing-kucingan, bola bekel, congklak, atau kelereng.

Kini menghabiskan banyak waktu bermain di luar rumah bersama teman-teman merupakan sesuatu yang mahal. Anak-anak kota biasanya disibukkan dengan les-les atau kegiatan ekstrakurikuler. Kalaupun ada yang bisa diajak bermain di luar, paling cuma satu-dua orang saja.

Zaman memang sudah berubah. Semoga di zaman yang serba cepat ini, generasi alfa bisa tetap belajar tentang kesabaran menunggu, sehingga mereka lebih terbiasa untuk berusaha daripada mengharap hasil yang seketika ada.

Tulisan ini diikutsertakan dalam Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan Juni yang bertema “Gap/Perbedaan”.