Showing posts with label parenting. Show all posts
Showing posts with label parenting. Show all posts

Monday, June 10, 2024

Menyusuilah dengan Keras Kepala

Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan Juni ini mengambil tema “Perempuan: Tantangan dan Inspirasi”. Sebagai perempuan, tentu kita memiliki banyak sekali tantangan, entah itu cerita tentang kegagalan maupun kisah inspiratif yang bisa memberikan suntikan semangat bagi perempuan lain. Aku sempat berpikir mengenai beberapa hal yang rasanya cukup menjadi tantangan bagiku sebagai perempuan. Namun, gagasan itu belum mengerucut pada suatu ide yang bisa kuelaborasi menjadi sebuah tulisan.

Kemudian tiba-tiba ada satu kalimat pada laman tantangan yang menarik perhatianku: “kompleksitas identitas karena berbagai peran yang harus diambil secara bersamaan”. Sepanjang ingatanku sebagai perempuan dewasa, hal yang cukup menantang adalah juggling di antara banyak peran, terutama sebagai ibu yang bekerja.

Lebih spesifik lagi, salah satu tantangan yang kuhadapi sebagai wanita karir adalah memperjuangkan keberhasilan menyusui, mulai dari periode ASI eksklusif (ASIX) hingga lulus menyusui dua tahun bagi keempat anakku. Mengapa disebut sebagai “perjuangan”? Ya karena memang seberat itu, mengusahakan anak-anak terpenuhi ASI-nya saat aku tak ada di sisi mereka.

Pengalaman Sebagai Ibu Baru

Ketika Hanif, anak pertamaku lahir, aku tidak memiliki cukup ilmu sebagai ibu baru—like we all were. Rasanya aku sudah membekali diri dengan berbagai ilmu mengenai menyusui, tetapi ternyata aku blank juga ketika menemui kendala. Di usia Hanif yang ke-3 bulan, aku terpaksa mengambil keputusan sulit: memberinya tambahan susu formula—di samping ASI tentunya.

Saat itu aku merasa Hanif sudah bertambah besar, minumnya kuat sekali. ASI perah (ASIP) yang selama ini memenuhi kebutuhannya makin terasa kurang saja. Dia makin sering merengek-rengek haus, seperti tidak pernah cukup. Semua usaha sudah kulakukan: minum susu, minum jamu, makan daun katuk, makan sayur dan buah, dsb., tetapi ASIP-ku segitu-gitu saja.

Pada saat kepercayaan diri sedang menurun seperti itu, salah satu orang terdekat memberi komentar negatif, “Payudaramu kecil begitu, nggak mungkin cukup ASI-nya itu. Udah lah, pakai susu formula saja.”

Jadilah aku “tergiring” untuk memberikan susu formula karena tidak mau mengambil risiko Hanif kurang minum. Meskipun hal tersebut bukan sepenuhnya salah beliau, tetap saja kepercayaan diriku ciut ketika dikomentari seperti itu.

Setelah pada akhirnya Hanif minum ASI dan susu formula sebagai tambahan, aku sempat merasa sedih dan gagal menjadi ibu. Aku tidak tahu apakah itu yang kerap disebut sebagai baby blues, yang jelas: ada rasa malu ketika orang lain tahu bahwa ASI-ku hanya sedikit atau kadang tidak keluar saat Hanif berdecap-decap menyedotnya. Alhamdulillah ASI-ku masih ada sehingga Hanif masih bisa minum ASI sampai dua tahun, meskipun disambung dengan susu formula.

Salah seorang mendiang temanku saat itu berkata, “Gagal ASI eksklusif bukan akhir dari segalanya. Gagal ASI eksklusif bukan berarti kita gagal menjadi ibu. Berhasil ASI eksklusif juga belum menjamin kita bisa jadi ibu yang baik. Jalan kita untuk menjadi ibu masih panjang, Yus. Tetap semangat ya!”

Setelah melalui perenungan yang panjang dan perjuangan yang berdarah-darah untuk menerima hal itu, ketika akhirnya Hanif lulus ASI dua tahun, aku menyadari bahwa tidak bisa memberi ASI bukan suatu aib yang harus ditutup-tutupi. Masih banyak hal lain yang bisa dilakukan. Kita bisa memaksimalkan hubungan dan cara mengasuh anak. “Good parenting is more than breastfeeding,” ujar Jan Barger, seorang konsultan laktasi.

Bisa tidaknya memberi ASI bukan patokan apakah seseorang itu ibu yang baik atau buruk. Bisa memberi ASI, tetapi kemudian mengabaikan anak tanpa membimbingnya, jauh lebih buruk. Memang paling bagus bisa memberi ASI dan memberi banyak perhatian ke buah hati. Namun, saat hal itu tidak terjadi, saat ASI tidak bisa keluar dan segala daya telah dilakukan, dunia belum berakhir.

Good Revenge

Saat melahirkan Abi, anak keduaku, pada masa menempuh S2, aku sudah membulatkan tekad untuk bisa lebih baik lagi dalam memberinya ASI. Selain membulatkan niat, aku juga melengkapi ilmu dan “alat tempur” yang diperlukan untuk keberhasilan menyusui.

Enam bulan pertama adalah masa-masa terberat. Poin-poin penting yang kulakukan saat itu:

  • Mind management yang tak henti kulakukan untuk meyakinkan diri sendiri bahwa produksi ASI-ku melimpah, melatih pikiran untuk tidak memikirkan hal-hal yang tak penting, menjauhkan diri dari segala hal yang bisa membuat stres. Intinya adalah berusaha rileks dan yakin bahwa aku mampu memberikan ASIX. Rileks dalam keseharian, rileks saat pumping, dan rileks saat menyusui, sambil tak henti-hentinya berzikir dan melakukan afirmasi.
  • Pumping di mana saja dan kapan saja. Aku pernah sampai berputar-putar mengelilingi kampus untuk mencari tempat pumping yang representatif dan nyaman, setelah menemukan kenyataan bahwa beberapa musala masih dikunci karena hari masih pagi.
  • Konsisten melakukan pumping agar produksi ASI tetap berlimpah, tak peduli harus bangun malam pun dijabanin demi ketersediaan stok ASIP.
  • Melengkapi perbekalan “alat tempur” seperti breastpump (aku masih memakai versi manual waktu itu), cup feeder (aku tidak menggunakan dot untuk memberi ASIP pada bayi), cooling bag, ice gel, serta botol kaca dan breastmilk storage bags untuk menyimpan ASIP.

Hasil perahan pada hari kedelapan pascapersalinan, hampir 180 mL sekali perah

Beberapa teknik pumping yang kulakukan:

  • Pumping ketika Abi menyusu. Jadi misalnya dia menyusu di payudara kiri, aku memompa yang sebelah kanan. Dengan cara ini LDR (let down reflex) mudah didapat dan ASI yang mengucur tidak terbuang sia-sia.
  • Pumping setelah Abi menyusu. Ini dilakukan pada payudara yang habis disusukan. Teknik ini berfungsi untuk menguras atau mengosongkan payudara. Payudara yang sering dikosongkan akan merangsang produksi ASI sehingga produksinya semakin bertambah banyak.
  • Pumping sambil rileks. Terdengar klise memang, tetapi aku agak menghindari pumping dengan tergesa-gesa atau hati kemrungsung. Dengan pumping yang rileks dan tenang, sekali pumping pada satu payudara, aku bisa mendapat hampir 200 mL dengan tiga kali LDR.

Abi sempat mengalami growth spurt yang membuatnya ingin menyusu terus. Hal ini cukup membuat lelah, tetapi alhamdulillah aku sudah membekali diri dengan ilmu sehingga aku tahu pasti bahwa itu bukan karena ASI yang kurang. Jadi aku dapat menghadapinya dengan tenang dan tidak stres. Pengetahuan tentang growth spurt ini penting untuk membuat kita tetap rileks dan selalu yakin bahwa ASI kita cukup.

Satu hal yang paling serius kulakukan demi keberhasilan menyusui: aku membeli freezer khusus untuk ASIP. Freezer enam rak, harga baru hampir 2,5 juta, tetapi aku membeli second di Kaskus dengan harga 1,5 juta saja. Asyiknya lagi, kondisinya masih 90% baru karena baru dipakai sebentar oleh pemilik lamanya. Dengan dua freezer—satu yang baru dan freezer kecil di kulkas lama—usaha untuk menyetok ASIP aku lakukan sejak Abi lahir untuk mengejar stok karena dua minggu berikutnya aku sudah harus mengikuti ujian semester, hehehe.

Kondisi freezer menjelang Abi 4 bulan

Setelah Abi mulai makan pada usia 6 bulan, pumping masih terus dilakukan, tetapi tidak se-hectic sebelumnya. Kuliah juga sudah mulai berkurang sehingga tanpa harus menyetok banyak, aku masih bisa menyusuinya di rumah. Kalau aku tidak salah ingat, stok-ASI-yang-terakhir dipompa ketika Abi berusia 10 bulan dan diberikan ketika usianya 14 bulan.

Aku lupa kapan persisnya Abi mulai minum susu UHT, mungkin ketika usianya sekitar 16 bulan. Waktuku yang lebih banyak di rumah memberi dia kebebasan untuk menyusu kapan saja dia mau. Ketika aku harus kuliah atau menghadap dosen, stok ASI sedikit demi sedikit mulai digantikan dengan susu UHT.

Melanjutkan Keberhasilan Menyusui

Setelah lima tahun berlalu, perjuangan menyusui itu kembali dimulai untuk baby girl Kayla. Perjuangan baru, senjata baru. Sebelum maternity leave berakhir, aku memutuskan untuk membeli breastpump elektrik.

Breastpump elektrik dengan double pump

Breastpump elektrik ini kubeli dari grup garage sale ITB Motherhood. Isapannya cukup kuat dan lumayan powerful untuk double pump, sangat membantu mempersingkat waktu pumping di kantor. Meskipun preloved, kondisinya masih sangat mulus dan harganya pun nyungsep sekali, hanya seperlima dari harga barunya.

Selain breastpump elektrik, “alat tempur” baru yang kubeli adalah silicone breastpump. Sebenarnya aku membeli silicone breastpump ini gara-gara penasaran. Masa sih ditempel gitu aja bisa ngalir? Ternyata memang betul, hahaha.

Silicone breastpump

Jadi, cara kerja silicone breastpump ini menggunakan metode vakum. Dengan stimulus dari salah satu payudara yang diisap oleh bayi atau dipompa dengan breastpump lain, LDR akan mempengaruhi payudara yang divakum sehingga ASI-nya keluar. ASI akan menetes-netes sendiri hingga tak terasa tahu-tahu sudah sekian puluh mililiter. Alhamdulillah, dimudahkan oleh teknologi dan kecanggihan kuasa ilahi.

Ketika pertama kali masuk kerja setelah maternity leave usai, ada sekitar 30 botol di freezer. Perjuangan yang harus dimulai dengan mengumpulkan setetes demi setetes, per usia Kayla 3,5 bulan, menghasilkan stok sekitar 56-60 botol setiap hari.

Menabung ASIP biasanya dilakukan tiap akhir pekan. Aku masih melanjutkan pola untuk rajin pumping, terutama ketika di kantor. Konsisten adalah kuncinya. Tidak peduli berapa pun yang didapat, kalau sudah waktunya pumping ya pumping saja. Mau sedikit mau banyak, pokoknya pumping saja. Mau lagi meeting, mau deadline pekerjaan, yang penting pumping saja (maaf, Pak Bos, hahaha). Yup, menyusuilah dengan keras kepala.

Rekor sepanjang sejarah: mendapat 230 mL sekali pumping, ketika usia Kayla 5 bulan

Pola pumping di kantor yang kulakukan dalam perjalanan menyusui Kayla:

  • Saat usia Kayla di bawah 12 bulan, pumping di kantor bisa kulakukan sampai tiga kali sehari. Biasanya pagi setelah snack pagi, lalu siang setelah makan siang, dan sore sekitar waktu salat asar.
  • Ketika usianya 12-18 bulan, frekuensi pumping menjadi dua kali sehari.
  • Ketika usianya sudah di atas 18 bulan, frekuensi pumping di kantor kadang satu kali, kadang dua kali bergantung pada mood.

Pola pumping di atas juga ditambah dengan pola tetap pumping dua sampai tiga kali di rumah. Biasanya kulakukan di waktu malam atau dini hari saat hormon menyusui sedang deras-derasnya.

Kondisi freezer saat Kayla 3,5 bulan (kiri), 8 bulan (tengah), dan 12 bulan (kanan)

Aku berhenti pumping di kantor ketika Kayla berusia 21 bulan. Selain mulai malas dan jenuh, alasan utamanya adalah karena stok ASIP di freezer sudah penuh sekali. Jika aku masih pumping juga, bisa-bisa Kayla masih minum stok ASIP hingga dua tahun lebih. Alhamdulillah, aku mendapat banyak sekali kemudahan dari-Nya dalam perjuangan menyusui Kayla.

Penutup

Kesimpulan yang dapat kuambil tentang segala proses menyusui ini adalah tentang niat dan komitmen yang kuat, lalu dibarengi dengan ikhtiar yang konsisten. Pemberian ASIX pada Hanif yang cuma 3 bulan dulu—meskipun dia tetap menyusu sampai usia 2 tahun lebih—memberiku amunisi tekad yang membaja untuk dapat sukses dan tuntas menyusui adik-adiknya. Ilmu dan dukungan lingkungan sekitar adalah sesuatu yang juga penting dimiliki agar prosesnya lancar dalam menghadapi ujian dan rintangan.

Breastfeeding mom is legenDAIRY. It's not easy but it's all worth it.

Sunday, September 04, 2022

Belajar Memahami Anak dengan Bijak

Pernahkah Anda membaca buku Totto-chan: Gadis Cilik di Jendela yang ditulis oleh Tetsuko Kuroyanagi? Buku ini bagus untuk dibaca para orang tua dan praktisi pendidikan anak. Meskipun dikemas dengan bahasa sederhana, sesungguhnya ia sarat akan pesan-pesan parenting. Aku membaca buku ini puluhan tahun lalu bahkan ketika aku belum punya anak, tetapi pesan mendalam yang kutangkap waktu itu begitu membekas dan berhasil membentuk gambaran ideal di benakku tentang bagaimana seharusnya hubungan orang dewasa dengan anak terjalin. Pesan-pesan parenting-nya sungguh tak lekang oleh waktu dan tetap relevan hingga kini meskipun latar belakang buku ini adalah kondisi di Jepang  sebelum Perang Dunia II.

Totto dalam novel ini digambarkan sebagai seorang anak yang polos, punya rasa ingin tahu besar, selalu antusias dengan hal-hal baru, penuh imajinasi, dan selalu bersemangat sehingga sering menguji kesabaran gurunya. Dia dikeluarkan dari sekolah karena dianggap nakal dan susah diatur. Ibunya kemudian mencarikannya sekolah baru hingga akhirnya dia bertemu dengan Pak Kobayashi, kepala sekolah yang sangat sabar, hangat, penuh kepedulian dan kasih sayang, serta begitu memahami karakter anak-anak didiknya.

Bicara soal karakter unik Totto-chan, kita perlu memahami baiknya perlakuan membesarkan hati anak sehingga anak tidak merasa dirinya buruk. Ada dua kemungkinan penyebab anak dianggap bandel. Kemungkinan pertama, anak tersebut memang bermasalah. Kemungkinan kedua, anak tersebut adalah anak pandai yang kreativitasnya dibatasi rutinitas. Kebanyakan orang dewasa menganggap tipe anak kedua sama saja dengan tipe anak pertama karena orang dewasa tidak mau menggali apa sebenarnya yang dirasakan oleh si anak, padahal tipe anak kedua bukanlah tipe anak bandel. Ia hanya seorang anak dengan rasa ingin tahu yang sangat besar, yang berusaha memahami dunia di sekelilingnya dengan pengetahuan yang dibangun berdasarkan kehidupan sehari-hari, bukan berdasarkan tugas-tugas rutin sekolah yang membosankan.

Sekolah yang menyenangkan adalah sekolah yang membebaskan. Anak bebas menyerap pengetahuan dengan cara menyenangkan sehingga pengetahuan membekas pada jiwa dan dapat menghasilkan sesuatu yang konkret untuk kehidupan. Namun, kebebasan yang dimaksud tentu bukan kebebasan yang murni. Aturan dan tanggung jawab tetap diperlukan dalam kebebasan berekspresi karena berkaitan erat dengan adab, etika, sopan santun, dan kewajiban. Dalam sebuah sistem sekolah yang menyenangkan, pemberian tugas tidak ditiadakan sama sekali. Tugas tetap diberikan, tetapi tugas bukan segalanya. Dalam sebuah sistem sekolah yang baik, anak merasa dirinya diterima sekaligus merasa aman dan rileks untuk berbuat (berpendapat, belajar, bermain, dsb.) karena anak mempunyai fitrah untuk dicintai, dihargai, dipahami, dan diakui.

Seorang anak yang mempunyai rasa ingin tahu yang besar seharusnya tidak dianggap sebagai anak yang merepotkan. Keingintahuan adalah dasar untuk mencari ilmu pengetahuan. Seorang pendidik memiliki tugas untuk mengarahkan keingintahuan si anak menjadi keingintahuan yang produktif dengan sistem belajar mengajar yang bebas, menyenangkan, tetapi bertanggung jawab.

Seorang pendidik yang baik juga harus mempunyai kelebihan untuk melakukan pendekatan yang konkret kepada anak, misalnya dengan menjadi pendengar yang baik sehingga anak merasa dihargai, atau dengan melontarkan kalimat-kalimat positif untuk menumbuhkan sikap optimisme anak. Dua hal ini dicontohkan secara gamblang oleh buku Totto-chan, seperti ketika Kepala Sekolah Kobayashi mau mendengarkan cerita Totto-chan selama empat jam penuh, atau kenyataan bahwa Kepala Sekolah Kobayashi sering menyebut Totto-chan sebagai anak baik untuk menanamkan rasa percaya dirinya.

Dalam menerapkan kebebasan anak, kita tetap perlu mengajarkan kepada anak tentang mana yang boleh dan mana yang tidak boleh. Dengan demikian, anak tetap dilatih untuk berpikir kritis dalam kebebasannya sehingga ia memiliki self control yang baik. Terkait dengan pengajaran tentang tanggung jawab, hukuman tetap diperlukan. Hanya saja kita tidak boleh menghukum anak sebelum ia mengerti aturan dan kesalahannya. Hukuman tidak identik dengan pemberian penderitaan karena ia adalah penyadaran akan tanggung jawab dengan cara pemberian konsekuensi. Dalam buku Totto-chan, Kepala Sekolah Kobayashi “hanya” memberikan konsekuensi untuk membersihkan kembali apa yang telah Totto-chan jadikan berantakan karena konsekuensi tersebut sudah menjadi hukuman yang pantas untuknya.

Dalam usaha mewujudkan sistem belajar mengajar yang baik dan efektif, selain penyesuaian kurikulum dengan tahapan proses perkembangan anak berdasarkan usia, interaksi anak dengan pendidik harus baik. Hal itu antara lain bisa dibangun lewat kemampuan pendidik untuk berempati, mengenali anak, dan menerima anak apa adanya. Dengan demikian, anak akan merasa senang untuk belajar ilmu pengetahuan dan bersosialisasi sehingga ia siap terjun ke masyarakat di kemudian hari.

Sunday, June 05, 2022

Kecintaan pada Allah dan Kecintaan pada Buku

Kalau bicara soal parenting, sebenarnya aku malu dan merasa tidak pantas karena aku merasa belum jadi orang tua yang baik untuk anak-anakku. Aku masih sering marah-marah, membentak, atau kurang sabar menghadapi mereka. I’m not a good parent actually, hiks.

Meskipun demikian, aku selalu berusaha melakukan yang terbaik dan selalu berusaha membekali mereka dengan ilmu dan kapasitas semampu yang aku bisa. Ada dua hal yang selalu ingin aku tanamkan pada mereka: kecintaan pada Allah dan kecintaan pada buku.

Kecintaan pada Allah

Kecintaan pada Allah adalah dasar bagi keimanan. Keimanan itu seperti benih yang tertanam menjadi tumbuhan, akarnya kuat tertanam, batangnya menjulang tinggi. Ia bukan hasil penanaman doktrin, melainkan terhunjam dalam hati karena memiliki keyakinan akan bukti yang susah terganti.

“Tidakkah kamu memperhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya kuat dan cabangnya (menjulang) ke langit, (pohon) itu menghasilkan buahnya pada setiap waktu dengan seizin Tuhannya. Dan Allah membuat perumpamaan itu untuk manusia agar mereka selalu ingat.” (Q.S. Ibrahim: 24-25)

Salah satu ciri dari keimanan yang mengakar: keimanan itu memunculkan manfaat yang tersebar ke sekelilingnya. Jika seseorang memiliki keimanan yang berasal dari cinta pada Allah, akan mudah baginya untuk mencintai agama-Nya, Rasulullah, Al-Qur’an, dan segenap hal-hal yang terkait dengan itu.

Nah, masalahnya … konsep ketuhanan ini merupakan persoalan yang abstrak untuk dipahami anak-anak, maka cara menanamkan kecintaan pada Allah kami kemas dengan bahasa anak melalui pendekatan sehari-hari. Misalnya, ketika melihat hujan turun, kami ajak anak-anak untuk memanjatkan doa turun hujan, lalu mengajak mereka berdiskusi tentang manfaat hujan dan betapa sayangnya Allah karena telah menurunkan rezeki hujan untuk makhluk-Nya.

Untuk memahamkan mereka akan konsep Allah sebagai Tuhan, kami ajak mereka untuk mengamati hasil ciptaan-Nya. Misalnya, untuk anakku yang kini sudah kelas 4 SD dan sudah mulai belajar tentang tata surya, pemahaman bahwa alam semesta ini begitu dahsyat kami gunakan sebagai kesempatan berdiskusi tentang pencipta alam semesta. Melihat alam yang luar biasa seperti itu dapat memberikan “data” bahwa Allah itu seperti apa, lalu Dia juga memiliki karakteristik yang seperti apa. Dengan memahami bahwa ciptaan Allah itu ternyata memiliki keterbatasan, anak jadi paham bahwa ciptaan itu bergantung pada Dzat yang bisa mengurus mekanismenya sedemikian rupa tanpa Dia sendiri bergantung pada sesuatu.

Tiga kaidah berpikir logis:

  • Adanya sesuatu menunjukkan adanya pembuat sesuatu.
  • Apa yang dibuat mencirikan siapa pembuatnya.
  • Tidak ada sesuatu yang sama dengan pembuatnya.

Sebagai orang-orang yang dibesarkan dengan sistem pendidikan sekolah negeri mulai dari TK hingga perguruan tinggi, aku dan suamiku merasa ada yang kurang dalam hal pendidikan agama. Bukan berarti sekolah negeri tidak baik, hanya saja kurang pas dalam memenuhi visi dan misi keluarga kami. Oleh karena itu, sejak anak-anak PG hingga SMP, mereka kami sekolahkan di institusi pendidikan yang memiliki titik tekan pada islamic character building dan leadership sebagai salah satu tujuan pembelajaran. Aspek kognitif bisa dikejar karena alhamdulillah kemampuan akademik mereka bisa dibilang bagus, tetapi pembentukan karakter akan susah dikejar jika tidak ditanamkan sejak dini. Harapan kami, jika nilai-nilai sebagai seorang muslim ini tertanam sebagai pondasi yang kuat, ke depannya mereka akan lebih tangguh memegang nilai-nilai agama dalam keseharian.

Selain ikhtiar memilihkan pendidikan yang menurut kami terbaik buat mereka, tak lupa kami juga menitipkan anak-anak kepada Sang Empunya. Allah-lah sebaik-baik penjaga dan pelindung yang akan membimbing mereka untuk tetap lurus di jalan-Nya. Kami tahu sebagai orang tua kami tidak bisa mendampingi anak-anak 24/7. Oleh karena itu, jika anak-anak paham dan sadar bahwa Allah Maha Melihat, mudah-mudahan mereka tidak terombang-ambing oleh dunia dan tetap berpegang teguh pada orientasi akhirat.

Kecintaan pada Buku

Sejak aku kecil, membaca sudah menjadi duniaku. Aku tak ingat persisnya mulai usia berapa aku gemar membaca. Namun, aku ingat jelas: masa kecilku kuhabiskan dengan menekuri lembar demi lembar majalah Bobo; komik bergambar macam Nina, Tintin, Asterix, atau Steven Sterk; komik Jepang semisal Candy Candy, Pansy, Mari-chan, atau Doraemon; novel seperti Lima Sekawan, Trio Detektif, Stop, atau Malory Towers; bahkan novel detektif karya Agatha Christie.

Anak yang minat bacanya tinggi cenderung lebih gampang menerima informasi. Tentu pengetahuan mereka juga lebih banyak. Untuk menulis, mereka tidak akan menemui kesulitan yang berarti karena perbendaharaan kata sudah beragam. Bahkan aku pernah membaca—entah di mana aku lupa—anak yang suka membaca lebih pandai dan lebih kritis, terutama dalam diskusi, dibanding dengan yang tidak suka membaca.

Karena menyadari hal-hal tersebut di atas, aku bertekad ingin selalu menimbulkan minat baca pada anak. Sejak anak sulungku berusia enam bulan, kami rutin membelikan softbook, boardbook, dan buku-buku bergambar yang lebih beraneka ragam. Aku, suami, dan pengasuh sering mengadakan sesi membaca buku. Rata-rata ketika anak-anakku berusia dua tahun, mereka sudah mulai bisa memahami jalan cerita. Biasanya setelah bercerita, kami mengajukan beberapa pertanyaan untuk menguji seberapa jauh pemahaman mereka. Kadang-kadang kami menyuruh mereka bercerita dengan kalimat mereka sendiri.

Kebiasaan membaca sudah mulai menjadi kebiasaan yang tertanam pada diri anak-anak, terutama anak sulungku yang kelihatannya paling gemar membaca dibanding adik-adiknya. Sesaat sebelum naik ke tempat tidur di malam hari, mereka akan memastikan barang-barang favoritnya sudah dibawa serta, seperti mainan kesukaan dan buku pilihan untuk malam itu. Dengan gembira mereka akan membuka-buka buku lalu bercerita tentang halaman tertentu dengan antusias. Jika minta dibacakan, mereka akan duduk manis di pangkuanku setelah sebelumnya menyodorkan buku padaku. Hmm … buah dari usahaku selama ini untuk menjadikan mereka suka membaca, alhamdulillah sudah mulai terlihat sedikit demi sedikit.

A reader lives a thousand lives before he dies, said Jojen. The man who never reads lives only one.” ― George R.R. Martin, A Dance with Dragons

Penutup

Mudah-mudahan bekal dari kami yang sedikit ini dapat meringankan langkah mereka dalam menghadapi masa depan. Pada akhirnya, pendidikan anak adalah proses untuk menjadikan mereka siap menjadi pribadi yang mandiri dan tangguh saat berpisah dengan kita, baik karena mereka keluar rumah (misalnya karena menikah, kuliah, merantau) atau karena kematian kita.

"Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar." (Q.S. An-Nisa': 9)

Tulisan ini diikutsertakan dalam Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan Juni yang bertema "Mamah dan Parenting".

Monday, September 20, 2021

Cara Mudah Belajar Sains

Jika melihat laman-laman para ibu binangkit yang sering membuat sendiri bahan ajar maupun prakarya untuk anak-anaknya, kadang aku merasa cemburu. Selain tidak kreatif, aku juga tidak memiliki banyak waktu untuk membersamai anak. Untungnya di zaman serba praktis seperti saat ini, ada beberapa vendor yang menyediakan bahan-bahan siap pakai untuk berbagai kegiatan bersama anak, mulai dari eksperimen sains, seni, hingga kerajinan tangan.

Dulu ketika anakku masih dua, aku berkenalan dengan Planet Sains, sebuah komunitas penggiat sains yang menyediakan kit eksperimen sains siap pakai dengan beragam tema untuk berbagai usia. Sebagai ibu yang miskin kreasi, aku sangat terbantu dengan kit-kit yang mereka sediakan. Kit-kit itu berisi alat dan bahan percobaan sains sederhana, komplet dengan instruksi dan langkah kerja. Yang lebih mengasyikkan, kit itu dilengkapi juga dengan tulisan pendek yang menceritakan fenomena sains dari percobaan yang dilakukan. Dengan demikian, sambil mendampingi anak bereksperimen, orang tua dapat memberikan pengetahuan tentang landasan ilmiahnya.


Eksperimen mencampur baking soda dengan larutan asam sitrat sehingga menghasilkan gas karbondioksida untuk menggembungkan balon

Teknik melapis logam dengan cara sederhana menggunakan serbuk asam sitrat dan garam yang dilarutkan ke dalam air

Belajar prinsip oksidasi melalui pencampuran pewarna makanan dengan cairan pemutih pakaian

Ketika anak-anakku masuk SD, aku sangat senang mengetahui bahwa Planet Sains melakukan pendampingan untuk ekstrakurikuler sains di sekolah mereka. Setiap minggu mereka akan berkumpul dan melakukan percobaan sederhana, mencatat hasilnya pada buku catatan, serta berdiskusi bersama. Kegiatan ini tentu sangat bermanfaat untuk merangsang keingintahuan anak terhadap fenomena sains dan membiasakan anak berpikir menggunakan metode berpikir ilmiah.

Ketika kami pindah dari Bandung, alhamdulillah di sekolah anak-anak yang baru juga ada ekstrakurikuler sains. Vendor yang mendampingi mereka adalah Rumah Eksplorasi yang juga menyediakan kit eksperimen lengkap seperti Planet Sains. Berhubung masih pandemi, kit-kit eksperimen itu diambil dari sekolah setiap awal bulan, kemudian anak-anak “berkumpul” melalui Zoom untuk melakukan percobaan bersama. Eksperimen mandiri di rumah seperti ini tentu ada kekurangannya. Karena anakku tidak didampingi secara langsung oleh orang dewasa—dia melakukan semuanya sendiri—beberapa percobaan sempat mengalami kegagalan. Jika ada waktu, sepulang kerja aku akan mendampinginya untuk mengulik percobaan itu demi mengetahui penyebab kegagalannya, lalu mencoba memperbaikinya bersama-sama.


Penjelasan mengenai eksperimen tornado botol dari Rumah Eksplorasi


Jadi, pesanku untuk para orang tua yang cukup sibuk: jangan khawatir, ya. Ketiadaan waktu untuk menyediakan atau membuat alat dan bahan eksperimen bisa diakali dengan memanfaatkan kit eksperimen sains siap pakai. Yang kita lakukan tinggal menyediakan waktu untuk beraktivitas bersama anak, membuka diri untuk dihujani dengan pertanyaan-pertanyaan anak, dan berusaha menjawab keingintahuan mereka dengan informasi yang memadai. Mudah-mudahan kelak anak bisa tumbuh besar dengan tetap mempertahankan keingintahuan mereka terhadap peristiwa dan fenomena yang terjadi di dunia ini—apapun profesi mereka nanti—karena keingintahuan adalah modal dasar untuk belajar.

Monday, September 13, 2021

Aku, Anak-Anak, dan Minat Baca

Sejak aku kecil, membaca sudah menjadi duniaku. Aku tak ingat persisnya mulai usia berapa aku gemar membaca. Namun, aku ingat jelas: masa kecilku kuhabiskan dengan menekuri lembar demi lembar majalah Bobo; komik bergambar macam Nina, Tintin, Asterix, atau Steven Sterk; komik Jepang semisal Candy Candy, Pansy, Mari-chan, atau Doraemon; novel seperti Lima Sekawan, Trio Detektif, Stop, atau Malory Towers; bahkan novel detektif karya Agatha Christie.

Begitu senangnya aku membaca sehingga pergi ke perpustakaan, toko buku, atau tempat persewaan buku menjadi suatu agenda yang menyenangkan. Aku tak tahu pasti penyebab minat bacaku waktu itu tumbuh dengan pesat. Hal itu mungkin dikarenakan orang tuaku sering membelikan buku dan menyediakan aneka bacaan di rumah.

Beranjak dewasa, aku menyadari bahwa buku adalah jendela dunia. Aku pernah menjadi salah satu kandidat terbaik dalam seleksi yang diadakan oleh sebuah kantor surat kabar di Jakarta ketika mereka mencari calon wartawan baru. Pertanyaan dan tes yang diajukan kebanyakan tentang pengetahuan umum. Aku yakin kegemaranku membaca rubrik pengetahuan di majalah, membaca koran, dan melihat berita di televisi, turut andil dalam hal itu.

Anak yang minat bacanya tinggi cenderung lebih gampang menerima informasi. Tentu pengetahuan mereka juga lebih banyak. Untuk menulis, mereka tidak akan menemui kesulitan yang berarti karena perbendaharaan kata sudah beragam. Bahkan aku pernah membaca—entah di mana aku lupa—anak yang suka membaca lebih pandai dan lebih kritis, terutama dalam diskusi, dibanding dengan yang tidak suka membaca.

Karena menyadari hal-hal tersebut di atas, aku bertekad ingin selalu menimbulkan minat baca pada anak. Eksperimen pertama kulakukan pada adikku bertahun-tahun lalu untuk membuktikan bahwa usaha membombardir anak dengan buku akan bisa menjadikan anak suka membaca. 

Sejak adikku berusia tujuh tahun, aku selalu rutin menghadiahinya buku ketika dia berulang tahun, mulai dari buku bergambar hingga novel tebal ketika dia sudah beranjak remaja. Ternyata benar, dia tumbuh menjadi seseorang yang gemar membaca. Waktu aku kuliah, masa-masa mudik selalu kuisi dengan agenda pergi ke toko buku bersamanya. Dia sudah berhasil menamatkan novel Harry Potter yang setebal bantal dalam waktu dua hari ketika dia belum lagi lulus SD. Ketika SMP, dia mulai suka membaca koran. Pengetahuannya bertambah; kemampuan menulisnya juga bertambah. Aku tak bisa lebih bangga, dia masuk dalam jajaran anak-anak pintar di kelasnya.

Eksperimen kedua kulakukan pada anak-anakku. Yah, ini sebenarnya bukan lagi eksperimen, melainkan suatu tindakan yang didasarkan pada kesadaran nyata tentang pentingnya menumbuhkan minat baca pada anak. Sejak anak sulungku berusia enam bulan, kami rutin membelikan softbook, boardbook, dan buku-buku bergambar yang lebih beraneka ragam. Aku, suami, dan pengasuh sering mengadakan sesi membaca buku. Rata-rata ketika anak-anakku berusia dua tahun, mereka sudah mulai bisa memahami jalan cerita. Biasanya setelah bercerita, kami mengajukan beberapa pertanyaan untuk menguji seberapa jauh pemahaman mereka. Kadang-kadang kami menyuruh mereka bercerita dengan kalimat mereka sendiri.

Kebiasaan membaca sudah mulai menjadi kebiasaan yang tertanam pada diri anak-anak, terutama anak sulungku yang kelihatannya paling gemar membaca dibanding adik-adiknya. Sesaat sebelum naik ke tempat tidur di malam hari, mereka akan memastikan barang-barang favoritnya sudah dibawa serta, seperti mainan kesukaan dan buku pilihan untuk malam itu. Dengan gembira mereka akan membuka-buka buku lalu bercerita tentang halaman tertentu dengan antusias. Jika minta dibacakan, mereka akan duduk manis di pangkuanku setelah sebelumnya menyodorkan buku padaku. Hmm … buah dari usahaku selama ini untuk menjadikan mereka suka membaca, alhamdulillah sudah mulai terlihat sedikit demi sedikit.

“A reader lives a thousand lives before he dies, said Jojen. The man who never reads lives only one.” ― George R.R. Martin, A Dance with Dragons

Monday, July 19, 2021

Pendidikan Anak

Bicara soal pendidikan anak adalah sesuatu yang sulit buatku karena aku tahu sistem yang berjalan di keluarga kecilku tidak ideal. Di rumah kami masih ada TV dan gawai—yang kadang-kadang masih menimbulkan kesulitan dalam pengaturannya. Kesibukan kami bekerja membuat kami terbatas membersamai anak-anak dan membimbing mereka. Kami juga masih susah mengontrol kesabaran dan masih sering marah-marah. Meskipun demikian, aku dan suami selalu berusaha memilihkan pendidikan yang terbaik untuk anak-anak. Kriteria terbaik tentunya berbeda-beda bagi tiap keluarga. Apa yang baik buat suatu keluarga belum tentu baik pula untuk keluarga lain, maka pendidikan yang kami pilihkan untuk anak-anak disesuaikan dengan visi dan misi keluarga kami.

Ada banyak metode yang dijalankan oleh para orang tua saat ini. Melihat keberhasilan dan kesuksesan teman-teman kami yang menjalankan homeschooling (HS) untuk anak-anak mereka, pernah terbersit keinginan untuk menjalankan metode serupa. Namun, keterbatasan kami sebagai orang tua yang bekerja tentu membutuhkan usaha yang luar biasa untuk memastikan sistem HS berjalan dengan baik. Jadi, setelah berpikir ulang, tampaknya kami tidak akan sanggup.

Sebagai orang-orang yang dibesarkan dengan sistem pendidikan sekolah negeri mulai dari TK hingga perguruan tinggi, kami merasa ada yang kurang dalam hal pendidikan agama. Bukan berarti sekolah negeri tidak baik, hanya saja kurang pas dalam memenuhi visi dan misi keluarga kami. Oleh karena itu, sejak anak-anak PG hingga SMP, mereka kami sekolahkan di institusi pendidikan yang memiliki titik tekan pada islamic character building dan leadership sebagai salah satu tujuan pembelajaran. Aspek kognitif bisa dikejar karena alhamdulillah kemampuan akademik mereka bisa dibilang bagus, tetapi pembentukan karakter akan susah dikejar jika tidak ditanamkan sejak dini. Harapan kami, jika nilai-nilai sebagai seorang muslim ini tertanam sebagai pondasi yang kuat, ke depannya mereka akan lebih tangguh memegang nilai-nilai agama dalam keseharian.

Selain ikhtiar memilihkan pendidikan yang menurut kami terbaik buat mereka, tak lupa kami juga menitipkan anak-anak kepada Sang Empunya. Allah-lah sebaik-baik penjaga dan pelindung yang akan membimbing mereka untuk tetap lurus di jalan-Nya. Kami tahu sebagai orang tua kami tidak bisa mendampingi anak-anak 24/7. Oleh karena itu, jika anak-anak paham dan sadar bahwa Allah Maha Melihat, mudah-mudahan mereka tidak terombang-ambing oleh dunia dan tetap berpegang teguh pada orientasi akhirat.

Memilihkan mereka sekolah yang terbaik adalah satu hal; bekerja sama dengan sekolah untuk keberhasilan belajar adalah hal lain. Keduanya harus berjalan seimbang karena kita tidak bisa melepas tanggung jawab dan membebankan proses pendidikan hanya kepada sekolah. Sekolah adalah mitra kami dalam mendidik anak-anak, maka kami berusaha untuk tidak bawel dan percaya pada sistem yang mereka miliki. Kepercayaan ini penting supaya kerja sama yang terbangun antara sekolah dan orang tua berjalan baik. Tak bisa dipungkiri selama tahun-tahun mereka bersekolah pasti ada saja masalah yang terjadi. Jika kerja sama tidak berjalan baik—misalnya ada ketidakpercayaan orang tua pada kebijakan yang diambil sekolah—proses mendidik anak juga tentu tidak akan berjalan mulus.

Pada akhirnya, pendidikan anak adalah proses untuk menjadikan mereka siap menjadi pribadi yang mandiri dan tangguh saat berpisah dengan kita, baik karena mereka keluar rumah (misalnya karena menikah, kuliah, merantau) atau karena kematian kita.

وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًا خَافُوا عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا اللَّهَ وَلْيَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا

"Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar." (Q.S. An-Nisa': 9)

Monday, April 27, 2015

Melatih Anak Mendalami Maintenance Tool

Beberapa saat lalu aku mendapat broadcast menarik yang berseliweran dari grup-grup Whatsapp. Rasanya sayang kalau tidak disimpan, karena isinya bagus sekali. Aku copas ke blog saja supaya bisa diakses lagi sewaktu-waktu kalau dibutuhkan.

------------------------------------------------------------------------

Psycho Coffee Morning
Oleh : Ani Ch, penulis buku dan praktisi pendidikan keluarga
Selasa, 14 April 2015

Maintainance Tools (Part 1)


💼👜💼👜💼👜💼👜💼👜

Dodit sudah duduk di atas motor, di depan rumah siap berangkat! Dinda istrinya masih mbulet di dalam rumah, "Dinda...cepetan..aku nanti telat" kata Dodit. "Iya sebentar" jawab Dinda sambil teriak. 
"Sorry...nyari dompet nggak ketemu2 tadi...untung akhirnya baru ingat, di atas kulkas" jawab Dinda ketika akhirnya keluar rumah.

Sampai dikantor, Dinda sudah telat 5 menit, alamat dimarahi pak bos..Beneran baru naruh tas, interkom sudah bunyi..tut tut..Dinda, ke ruangan saya ya..tiiit. Telpon langsung ditutup.

Dinda masuk ruangan pak bos, langsung dikasih instruksi, "Proposal yg sudah kamu buat kemarin...revisi ya, terutama di bagian penawaran harga, naikkan 5% ya. saya tunggu revisiannya pagi ini juga. Lalu kamu ikut saya, sudah siap presentasi ke klien kan?" Sip...gak nanya telat, batin Dinda..

Sampai di meja kerjanya...Dinda baru ingat..alamaakk, proposalnya kan aku bawa pulang utk kupelajari spya siap presentasi..dan KETINGGALAN. Oke...tenang Dinda..kan ada file nya..kita buka, sekalian revisi..lalu di print..Dinda mulai booting komputer sambil ngatur napas..pas buka folder..gak ketemu filenya...aduuuh, dari kemarin mau kurapikan dlm folder2 gak sempet..akhirnya ratusan file ini kayak hutan belantara..judul filenya lupa lagi..jadi nggak bisa di search..ini doc1 doc2 kok byak sekali...aduuuhh pusing.

💼👜💼👜💼👜💼👜💼👜

Kenapa Dinda pusing? Karena sewaktu kecil...kemandirian fisiknya belum terlatih dg baik..utamanya pd aspek maintainance tools...Waktu kecil, Dinda kurang diberi pembiasaan mengelola benda2 sehingga ketika besar menjadi org yg tdk rapi dlm mengelola barang, sering lupa/kehilangan, juga menjadi seorang pekerja yg tidak terstruktur..sehingga pengelolaan aktivitasnya juga kacau..

Teman, inilah satu hal kecil yg perlu secara serius kita latih pd anak2, pembiasaan mengelola barang. Kita mulai dari yg sederhana..Pembiasaan Manajemen Tas.

💼👜💼👜💼👜💼👜💼👜

Manajemen Tas artinya mengelola tas..ada bbrp tahapan latihan manajemen tas pada anak,
1. Kita perlu sosialisasi pd anak tentang pentingnya merapikan tas, ya kalau anak..kaitkan saja dg sekolah, biar tdk ada buku ketinggalan, bisa belajar dg baik di sekolah, dst dst
2. Kita bisa mulai dg contoh, ortu mengambil tas nya sendiri & mulai mensimulasikan prosedur menyiapkan tas di malam hari seblum tidur. 
~buka tas, keluarkan semua isinya, buang yg termasuk sampah
~masukkan benda2 wajib setiap hari, alat tulis, tisue, dompet, & teman2nya
~liat jadwal besok, masukkan semua benda utk kebutuhan besok.
3. Kita melakukan proses menyiapkan tas, pd malam hari bersama anak, urutan aktivitas yg rapi akan memudahkan anak utk melakukan..agak mirip dg tas ortu tadi.
~Keluarkan semua isi tas, buang sampah.
~Siapkan keperluan wajib, alat tulis trutama..jika perlu pensil2 dirauti
~Berikan label utk semua benda yg dimiliki, nama..agar tidak tertukar dg teman atau jika hilang lebih mudah kembali
~Periksa jadwal besok dan masukkan semua keperluan utk besok

💼👜💼👜💼👜💼👜💼👜

Teman..ini pekerjaan sangaaaat sepele..tapi sungguh berdampak pada karakter jika kita kerjakan rutin..

Sebuah sekolah telah membuat program semacam ini, parenting berbasis pembiasaan aktivitas sehari2, terasa betul manfaatnya. 

Latihan manajemen tas mungkin hal biasa..tapi jika ini RUTIN dilakukan akan menyumbangkan bbrp manfaat
1. Anak terbiasa 'merencanakan' sblm aktivitas, sehingga akan jadi pribadi yg rapi, terstruktur, dan siap menghadapi esok hari krn sdh punya 'persiapan', nggak akan jadi anak yg 'gupuhan' atau panik'an, atau anak2 yg ketinggalan barangnya.
2. Anak belajar memilah 'barang yg tdk perlu' shg dilabeli sampah lalu dibuang & 'barang yg masih perlu', bayangkan jika ini diabstrakkan..anak belajar mana masalah yg perlu dilupakan & mana yg masih harus diurus utk diselesaiakn..keren kan..
3. Anak belajar melakukan klasifikasi benda2, benda penting & tdk, mana yg disimpan & mana utk besok. Sekali lagi bayangkan jika diabstrakkan, anak ini akan tahu mana urusan yg ditunda mana yg harus diselesaikan besok.

Mau melatih anak utk manajemen tas?


Sambungannya....
Psycho Coffee Morning
Oleh : Ani Ch, penulis buku dan praktisi pendidikan keluarga
Rabu, 15 April 2015

Maintainance Tools (Part 2)


🚪⏰🚪⏰🚪⏰🚪⏰🚪⏰

Vino masih tidur, ketika maminya masuk ke kamar kostnya, Vino tak bangun sama sekali..

"Aduuh...ini pintu nggak dikunci, kamar berantakan, ini buku2 pada berserakan di lantai..mangkuk mie..bungkus makanan...aduuuh..ini pasti abis begadang" gumam si mami. 

Akhirnya mami beresin kamar Vino, mami sampe tutup hidung, ada sisa maknan bau, handuk basah tidak dijemur, baju kotor numpuk di gantungan belakang pintu. Bahkan di kamar mandi, pasta gigi berceceran krn tdk ditutup, sampo tumpah, lantai licin krn tdk dibersihkan..2 jam lebih mami bersih2, dan akhirnya Vino terbangun...

"Woooaaahh...lho, mami...kapan dateng? Woooww, kamarku bersih sekali, mami abis bersih2 ya?"

"Kamu itu..sudah kost..harusnya latihan hidup mandiri, lebih rapi..sama aja, gak berubah..sampe kapan kamu begini? Kalo gak ada mami, mau berantakan terus..nanti kalau kamu sudah menikah, rumahmu akan berantakan begini juga?" Kata mami nyerocos.

"Ya nggak lah mi...ntar kalo aku nikah, kan ada istriku yg beres2 rumah" sahut Vino asal njawab aja...

Vino..oh vino...malang nian istrimu kelak...

🚪⏰🚪⏰🚪⏰🚪⏰🚪⏰

Teman, kenapa malang nasib istrinya kelak? Karena dia harus mengambil peran dominan dlm mengurus rumah, akan sulit melakukan pembagian tugas rumah tangga dg Vino..karena sejak kecil, Vino telah terbiasa dibantu maminya mengatur tetek bengek kamarnya. Kemandirian fisiknya tdk tuntas krn 'terlalu banyak dibantu', sehingga cenderung tdk bisa dlm mengatur kamrnya sendiri, tidak rapi, tdk ada yg pada tempatnya, bahkan tdk peduli dg kekotoran yg mengganggu.

Teman, inilah satu lagi hal kecil yg perlu secara serius kita latih pd anak2, agar tdk jadi kebiasaan buruk yg terbawa hingga besar, yaitu pembiasaan mengelola barang di kamar. Kita sebut saja latihan pembiasaan Manajemen Kamar.

🚪⏰🚪⏰🚪⏰🚪⏰🚪⏰

Manajemen Kamar artinya mengelola segala sesuatu yg ada di dalam kamar. Berikut inilah beberapa aspek kamar yg perlu dikelola,
1. Membiasakan anak utk meletakkan setiap benda di tempatnya. Buku di rak buku, segala alat tulis di meja belajar, baju bersih di lemari, baju kotor di tempatnya, gunting, hanger, tissue, sabun sampo di tempatnya, pasta gigi sikat gigi di tempatnya, dll.
2. Membiasakan anak utk merawat kebersihan kerapian kamar, menyingkirkan sampah membuang di tempatnya, membuka jendela setiap pagi, menutupnya ketika malam, menata selimut, bantal, guling dan sprei di pagi hari serta merapikan barang2 di kamar setiap kali akan meninggalkan kamar.
3. Membiasakan anak untuk memiliki pembagian waktu ketika di kamar, kapan bangun, berapa lama mandi, berdandan, beres2, kapan belajar, kapan tidur, berapa lama nonton tv, sampai jam brp boleh akses hp, internet, gadget2. Dan diskusi dg anak, tentang bagaimana ortu perlu mengingatkan anak jika tdk tepat jadwal.
4. Membiasakan anak utk siap menerima siapa saja di kamarnya walaupun dia tetep boleh punya privasi. Jika ortu ingin mengobrol, bisa masuk. Jika ada adik/kakak minta tolong maka siap membantu, jika ada tamu siap berbagitempat tidur dengannya.

🚪⏰🚪⏰🚪⏰🚪⏰🚪⏰

Teman..membiasakan anak mengelola kamar dg baik adalah sebuah simulasi baginya agar kelak bisa "mengelola rumah", tdk peduli laki2 atau perempuan..akan berumah tangga kan..latihan mengelola rumag dg mengelola kamarnya sendiri, dan bayangkan jika aspek2 kamar di atas bisa dilatihkan pada anak, akan sangat dahsyat dlm membentuk karakternya..
1. Anak akan belajar meletakkan segala sesuatu di tempatnya, bukan hanya utk barang2 tapi utk segala urusan..artinya dia akan mudah mencari barangnya, juga mudah menata pikiran dlm memandang urusan yg ditangani..gak mudah bingung.
2. Anak akan belajar utk menjaga dan merawat, bukan hanya barang2 tapi juga menjaga orang2 yg kelak jadi tanggung jawabnya.
3. Anak akan belajar utk punya jadwal, untuk membagi waktunya, utk melaksakan jadwalnya, utk punya komitmen dg rencana yg dibuat sendiri.
4. Anak akan belajar menerima orang lain, bahkan bisa melayani kebutuhan org lain, bisa jadi org yg memuliakan tamu jika nanti sudah punya rumah sendiri.

Weeew, Agak lebay? Tidak teman...sungguh bahwa perubahan sikap, pembangunan karakter anak harus dimulai dari hal2 yg kecil ini..sukses utk yg kecil, mudah utk mencapai yg besar.

Friday, March 28, 2014

Mencari Sebuah Gendongan (2)

Tulisan ini adalah sambungan kisah di sini.
 

Perjalanan mencari gendongan ini belum berakhir sampai akhirnya aku bertemu dengan gendongan berjenis soft structured carrier (SSC). Gendongan model SSC dilengkapi dengan panel badan serta sabuk bahu dan pinggang seperti ransel. Tali bahu yang lebar dengan bantalan yang tebal namun lembut, sangat nyaman bila dipakai menggendong lama. Sedangkan sabuk di bagian pinggang memang didesain khusus untuk memindahkan beban dari bahu ke panggul dan membaginya dengan rata, sehingga bahu dan punggung kita tidak cepat pegal.
 
Soft structured carrier (SSC)

Kelebihan SSC dibanding babywrap adalah dari segi kepraktisannya: cara memakainya sangat mudah, tinggal mengkaitkan strap-nya and then you’re ready to go. Bandingkan dengan babywrap yang harus dibelit-belit ke tubuh terlebih dahulu. Selain itu, dari segi keamanan, SSC memiliki safety buckle yang besar di bagian pinggang untuk meminimalkan risiko gendongan terlepas secara tidak sengaja. Di pasaran, SSC hadir dengan berbagai merk. Harganya cukup mahal dibanding gendongan biasa. Tapi kurasa itu sepadan, karena pembuatan gendongan semacam ini pasti telah melalui berbagai riset dan uji coba hingga menemukan model yang tepat untuk tidak membebani tubuh ibu secara berlebihan. Tipe gendongan yang sangat tepat untuk seorang ibu yang menyandang skoliosis.

Karena harganya yang mahal, aku sempat maju mundur untuk membelinya. Harga SSC lokal berkisar 400-600 ribu, sementara yang impor berkisar 1-1,5 juta rupiah. Sebuah harga yang fantastis untuk sebuah gendongan. Waktu itu alhamdulillah ada kenalan yang menawari untuk membeli SSC impor miliknya. Memang sudah lawas, tapi semua komponennya masih berfungsi baik. Awalnya SSC second itu ditawarkan seharga 350 ribu. Akhirnya SSC itu kubeli dengan harga 400 ribu, tapi sudah dengan bonus teething pads yang kalau beli baru harganya 180 ribu.

SSC untuk Dedek

Selain berpengaruh positif terhadap tulang punggung sang ibu, pemilihan SSC ternyata juga terkait dengan kesehatan persendian pangkal paha anak yang digendong. Pemilihan gendongan yang tidak benar dapat menyebabkan hip dysplasia atau displasia pangkal paha, yaitu suatu perkembangan tidak normal dari persendian pangkal paha dengan paha, yang mengakibatkan terlepasnya tulang paha (femur) dari asetabulum tulang panggul (pelvis).
Hip Dysplasia means that the bones of the hip joint are not aligned correctly. It affects thousands of children and adults each year and is known by many different names: Developmental Dysplasia of the Hip (DDH), Hip Dislocation, Congenital Dislocation of the Hip (CDH), or Loose Hips.

Hip Dysplasia prevents the hip joint from functioning properly and the joint wears out much faster than normal, much like a car’s tires will wear out faster when out of alignment. It is also a “silent” condition that means pain is not normally felt until much later stages, making it harder to detect.

Developmental Dysplasia of the Hip (DDH) is commonly used when talking about hip dysplasia in children. Approximately 1 out of every 20 full-term babies has some hip instability and 2-3 out of every 1,000 infants will require treatment. In spite of the frequency of DDH in babies and the potential for life-long disability caused by DDH, the awareness of this condition is poor outside of the medical profession.

Hip dysplasia in babies is most frequently discovered at the time of newborn examinations by physicians but dysplasia and dislocation can develop after this time in some children. This is why hip dysplasia is greatly considered developmental. It is also hard to detect because hip dysplasia is known as a “silent” condition. It does not cause pain in babies and doesn’t normally prevent them from learning how to walk at a normal age. Early diagnosis, prevention, and simple treatment is the best solution, however many hip dislocations are difficult to treat with the current methods of care.


(disalin dari sini dan sini)

Pencegahan DDH bisa dilakukan dengan penggunaan baby tools (car seat, baby carrier, baby sling, dsb) yang tepat. Nah, SSC ini aman karena titik berat yang ditimpakan oleh beban bayi tidak jatuh ke selangkangan (which is amat berbahaya karena bisa menyebabkan DDH), melainkan ditimpakan ke pantat bayi dengan posisi seperti duduk. Berikut ini gambarnya.
 
Gambar diambil dari sini


Sekedar catatan, membedong bayi juga bisa menyebabkan DDH. Keterangannya bisa dibaca di sini.
 

Dengan gendongan bertipe SSC, Dek Abi terlihat nyaman sekali. Sekarang gendongan ini menjadi favoritku. Dan karena gendongan ini sangat aman, aku sering memakainya untuk menggendong Dek Abi sambil bersepeda. Suamiku juga sering memakai gendongan ini ketika naik motor sambil menggendong Dek Abi. What a life saver :)

Thursday, March 20, 2014

Berkah S2

Mengambil S2 mungkin adalah keputusan yang tak akan pernah kusesali sepanjang hidup, meskipun dulu awal-awal mendapat beasiswa dari kantor, aku sempat gamang. Ya, gamang karena asal mula ikut seleksi beasiswa adalah karena iseng. Dan ketika iseng itu membuahkan hasil lolos, aku “terpaksa” harus mendaftar S2. Kemudian ketika lulus seleksi S2 dan berhasil masuk ke almamaterku, nyaliku menciut karena takut. Takut tak bisa mulus menjalani studi, mengingat berdarah-darahnya aku ketika S1 dulu *lebay hehehe. Kali ini aku ingin bercerita tentang keberkahan yang aku rasakan karena mengambil S2.

Menurut beberapa sumber yang aku baca, berkah adalah bertambahnya kebaikan. Berkah tidak selalu identik dengan jumlah. Di dalam kamus Arab, berkah memiliki arti pertumbuhan atau pertambahan kebaikan. Berkah dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008:179) yang masuk dalam kelas kata nomina memiliki arti ‘karunia Tuhan yang mendatangkan kebaikan bagi kehidupan manusia’. Sedangkan kata berkat dalam KBBI Pusat Bahasa, memiliki empat makna, masing-masing adalah 1. karunia Tuhan yang membawa kebaikan dalam hidup manusia; 2. doa restu dan pengaruh baik dari orang yang dihormati (guru); 3. makanan dan sebagainya yang dibawa pulang sehabis kenduri; 4. mendatangkan kebaikan atau bermanfaat (2008:179-180).

Ada pula yang mengartikan berkah dengan kalimat ‘dapat melakukan hal yang banyak dalam waktu yang sempit’ atau ‘mendapatkan kebaikan lebih banyak dari takaran yang semestinya’. Apapun artinya, berkah yang kumaksud meliputi semua arti di atas.

Berkah S2 pertama yang sangat kusyukuri adalah mendapat teman-teman seperjuangan yang sangat baik, pengertian, dan menyenangkan. Bersama teman-teman ini, mengerjakan tugas tak pernah menjadi beban. Menjalani hari-hari kuliah dengan gelak tawa, saling bantu ketika yang lain kesulitan. Maha Suci Allah yang mempertemukan aku dengan pertemanan seperti ini, hingga studi tak terasa dijalani sendiri, melainkan full support. Entah apa jadinya studiku bila tak kulakukan bersama bantuan mereka. Miss you a lot, guys!
 
Beberapa momen bersama teman-teman seangkatan. Kiri atas: diskusi selepas kuliah menjadi santapan sehari-hari.

Berkah kedua adalah waktu luang yang kudapatkan untuk mengurus anak. Aku melahirkan Dek Abi ketika perkuliahan menginjak semester satu. Kondisi studi yang fleksibel—tak seperti jam kantor—membuatku leluasa memberi ASI, terutama ketika enam bulan pertama, hingga membuat Dek Abi menjadi bayi ASI yang nemplok banget sampai hari ini. Kemudian masih leluasa pula untuk mengatur menu dan memasak MPASI untuk Dek Abi pada bulan-bulan berikutnya. Tak lupa juga leluasa mengantar jemput Hanif ke sekolah dan sesekali mengiringinya dalam kegiatan outing ke beberapa tempat.

Berkah ketiga adalah kelonggaran waktu untuk melakukan olahraga sepuasnya. Senam aerobik yang dulunya aku lakukan dua kali seminggu, frekuensinya bertambah menjadi 3-4 kali seminggu. Kemudian aku juga sempat mengikuti kelas pilates selama 20 kali pertemuan, yang sedikit banyak berpengaruh positif terhadap skoliosisku. Lalu aku mengikuti kelas yoga seminggu sekali dan merutinkan berenang seminggu sekali. Juga masih sempat bersepeda beberapa kali dalam seminggu. Ahh nikmatnya hidup ketika kita bugar beraktivitas sepanjang hari. Tak hanya sehat yang didapat, ketika olahraga yang disukai dilakukan, tubuh juga akan mengeluarkan hormon endorfin yang membuat kita lebih bahagia.

Berkah berikutnya adalah kesempatan yang terbuka untuk aktif dalam berbagai kegiatan komunitas. Karena waktu kuliah yang longgar, aku berkesempatan aktif ikut banyak seminar dan pelatihan parenting dari berbagai pihak. Ini keberkahan yang luar biasa dalam mencari ilmu mengenai pengasuhan dan pendidikan anak. Jadi ilmu dari bangku kuliah bertambah, ilmu sebagai orang tua juga bertambah. Lewat kesempatan itu pula aku berkenalan dengan Bunda Rani dan Komunitas Cinta Keluarga (KCK), yang membuatku merasa menemukan supporting system yang baik dalam menjalani dunia parenting. Hal ini diikuti pula dengan terlibatnya aku dalam penyelenggaraan seminar dan pelatihan mengenai parenting dan kesehatan anak.

Bersama Bunda Rani dan teman-teman KCK saat launching Gerakan Bandung Cinta Keluarga di Sabuga

Selain itu aku juga aktif di Masyarakat Skoliosis Indonesia (MSI) cabang Jawa Barat. Komunitas penggiat skoliosis ini berperan sebagai pusat informasi skoliosis dan sebagai wadah pemersatu bagi penyandang dan pemerhati skolisosis di Indonesia, khususnya Jawa Barat. Visinya mulia sekali, yaitu meningkatkan kualitas hidup penyandang skolisosis. Lewat MSI aku bertemu dengan orang-orang yang luar biasa. Serasa menemukan saudara senasib sepenanggungan di sini. Kami bersama-sama mengadakan kegiatan, baik yang lingkupnya kecil seperti pertemuan kopdar untuk sharing, berbagi informasi, nonton film atau jalan-jalan bersama, maupun yang lingkupnya lebih besar seperti talkshow di radio, seminar, atau penggalangan dana untuk operasi skolioser yang tidak mampu.

Maka ketika tugas belajarku resmi berakhir minggu ini, ada rasa senang sekaligus sedih. Senang karena sidang tesis telah terlampaui dengan baik, sekaligus sedih karena aku kehilangan keleluasaan waktu untuk hal-hal yang aku sukai. Well, suatu tanggung jawab yang telah selesai di satu tempat memang menuntut tanggung jawab baru di tempat lain. Harapanku: seiring dengan mulai aktifnya aku bekerja kembali, aku tidak kehilangan waktu untuk mengembangkan diri agar bisa menjadi orang tua yang baik, juga tidak kehilangan waktu untuk melakukan aktivitas sosial di masyarakat. Masih ada satu mimpi yang belum sempat kulakukan semasa studi, yaitu mengikuti pelatihan untuk menjadi konselor laktasi. Semoga Allah masih memberiku kesempatan untuk melakukan kebaikan-kebaikan yang bermanfaat bagi orang banyak. Aamiin.

Monday, August 26, 2013

Mastitis

Tiga hari menjelang ulang tahun Hanif yang ke-5 pada 16 Juni 2013, aku terkena mastitis.

Mastitis adalah peradangan pada payudara yang dapat disertai infeksi atau tidak, yang disebabkan oleh kuman atau bakteri. Bakteri dapat berasal dari beberapa sumber: tangan ibu, mulut bayi, tangan orang yang merawat ibu atau bayi, bayi, duktus laktiferus, atau darah sirkulasi. 

Penyebab utama mastitis adalah statis ASI dan infeksi. Statis ASI biasanya merupakan penyebab primer yang dapat disertai atau menyebabkan infeksi. Statis ASI terjadi jika ASI tidak dikeluarkan dengan efisien dari payudara. Hal ini terjadi jika payudara terbendung segera setelah melahirkan, atau setiap saat jika bayi tidak mengisap ASI, kenyutan bayi yang buruk pada payudara, pengisapan yang tidak efektif, pembatasan frekuensi/durasi menyusui, sumbatan pada saluran ASI, suplai ASI yang sangat berlebihan dan menyusui untuk kembar dua/lebih. Untuk infeksi, organisme yang paling sering ditemukan pada mastitis dan abses payudara adalah organisme koagulase-positif Staphylococcus aureus dan Staphylococcus albus. Escherichia coli dan Streptococcus kadang-kadang juga ditemukan. Mastitis jarang ditemukan sebagai komplikasi demam tifoid. (dikutip dari sini)

Jadi ceritanya, siang itu selepas kelas pilates, aku pergi ke kantor Oriflame untuk mengurus pesanan. Sudah ada sedikit rasa nyeri di payudara kiri, awalnya kupikir itu karena otot yang tertarik akibat kelas pilates sebelumnya. Ketika sedang duduk manis menanti antrian, tiba-tiba badan terasa kedinginan. Lama-lama menggigil, diikuti dengan tangan berkeringat, lutut gemetar hebat, dan sendi-sendi terasa kaku. Barulah tahu, pasti ada yang tidak beres dengan badan ini.

Perjalanan pulang dilalui dengan penuh perjuangan. Menahan nyeri yang semakin sakit sambil berusaha tetap sadar dengan kesadaran sepenuhnya karena harus menyetir mobil sendiri. Fyuuuhhh, kalau diingat-ingat rasanya luar biasa. Apalagi lutut yang gemetar dan sendi yang kaku mempersulit kaki ini untuk mengatur persneling dan rem, sampai mesin mobil sempat mati dan ban mobil sempat sedikit naik ke atas trotoar karena jalan mobil tidak dapat dikuasai dengan baik.

Waktu itu memutuskan untuk mengarahkan laju mobil ke kantor, karena selain ada janji dengan teman, jam menjemput Hanif masih lama. Barangkali bisa istirahat sambil memeriksakan diri di kantor. Ternyata sampai di kantor, badan sudah panas tinggi hingga 40 derajat celcius. Ditambah dengan pusing yang kemudian mendera, jadilah aku cuma bisa berbaring di klinik kantor. Para perawat di kantor mengira aku terkena demam berdarah. Sementara aku curiga ini mastitis, karena nyeri di payudara semakin menjadi dan benjolannya semakin keras. Dalam hati aku khawatir juga kalau terkena DB, bisa-bisa rencana acara ulang tahun Hanif bubar, padahal aku sudah memesan kue dan berniat menyiapkan goody bag untuk teman-temannya.

Selama dua hari berikutnya aku hanya bisa berbaring di tempat tidur. Untuk berdiri dan berjalan pun susah karena harus menahan sakit kepala, makan juga tak ada nafsu. Terpaksa memanggil suami pulang untuk ikut mengurus anak karena aku benar-benar tak bisa apa-apa. Masya Allah, baru kali itu aku mengalami kejadian seperti itu. Tak ada hal lain yang aku lakukan kecuali terus-terusan mengompres dan memijat payudara agar benjolannya memudar.

Alhamdulillah tepat pada hari ulang tahun Hanif, aku bisa bangun. Masih pusing sedikit, tapi aku sudah dapat bepergian untuk berbelanja keperluan goody bag. Jadi begini to rasanya kena mastitis itu. Benar-benar pengalaman tak terlupakan. Aku baru tahu bahwa mastitis bisa juga menyerang ibu yang payudaranya tidak sedang terisi penuh. Selama ini kukira mastitis hanya menyerang ibu-ibu yang payudaranya penuh (terbendung) hingga bengkak. Untuk kasus mastitisku, mungkin sumbatan pada saluran ASI-lah penyebabnya. Satu lagi ilmu baru yang diperoleh melalui learning by doing dengan cost of learning yang luarrr biasa :D

Monday, June 10, 2013

Bayi-Bayi Kecil Itu

Sering sekali mendengar kabar duka dari lingkungan sekitar tentang kehilangan anak ketika si anak masih dalam keadaan bayi. Dari teman-temanku saja sudah ada beberapa orang yang pernah kehilangan bayinya: ada yang ketika usia bayi baru 10 hari karena gagal nafas, ada yang ketika usia bayi 2 bulan karena tak mampu bertahan akibat lahir prematur, ada yang karena sakit ketika usia bayi 8 bulan dan 2 tahun, bahkan ada yang kehilangan janin ketika masih dalam kandungan. Belum lagi kabar dari internet tentang bayi-bayi yang kurang beruntung karena mengidap penyakit langka, kelainan, tumor, atau kanker.

Kabar-kabar itu selalu membuatku tercenung, dan seringkali membuatku menitikkan air mata. Sambil mengelus atau mengusap kedua buah hatiku, terbayang bayi-bayi malang itu dalam benak. Terbayang betapa berat beban emosi yang harus ditanggung orang tuanya, karena semua orang tua pasti tak akan pernah mau mengalaminya. Bahkan kalau bisa, kita sebagai orang tua saja yang menanggung rasa sakit itu, kita saja yang mendahului anak-anak kita dipanggil oleh-Nya.

Ada seuntai doa yang selalu terucap buat para orang tua super itu. Special children are for special parents. Bayi-bayi mungil yang telah dipanggil-Nya itu adalah tabungan di surga, yang semoga kelak bisa menjemput orang tuanya di pintu surga. Kalau mau selalu berbaik sangka pada Allah, mungkin paradigma berpikirnya harus dibalik. Betapa setiap orang tua berkeinginan mengantarkan anak-anaknya menjadi pribadi shalih dan shalihah agar anak-anaknya kelak masuk surga, dan lihat betapa dengan kasih sayang-Nya Allah menganugerahkan para orang tua ini sebuah privilege dengan masuknya buah hati mereka ke surga tanpa hisab. Takdir-Nya selalu yang terbaik, mengangkat sakit yang mungkin diderita oleh anak-anak itu.

Selalu terselip harapan bagi mereka, para orang tua sabar itu, semoga kelak mereka cepat diberi ganti buah hati lain yang akan segera bermunculan. Sebagai penyejuk hati dan pelipur lara bagi yang pernah kehilangan. Karena memang betul seperti apa yang tertulis di tautan ini, bukan kita malaikatnya. Merekalah malaikat-malaikat kecil yang dihadirkan di dunia untuk membawa kebahagiaan untuk orang-orang di sekitarnya. Merekalah malaikat-malaikat kecil yang dalam sakit mereka, Allah mengingatkan kita akan kematian. Dalam sakit mereka, Allah menguji kesabaran orang tuanya dan juga kepedulian kita.

Tulisan ini kututup dengan sebuah puisi yang kuambil dari sini. Teriring sekecup kasih untuk bayi-bayi mungil yang sudah menghuni surga-Nya, dan teriring sebait doa untuk para orang tua mereka, terutama bunda mereka.


ada sosok IBU yang luar biasa...


ibu yang slalu berada disamping mereka hampir 24 jam,

ibu yang slalu tak henti berdoa,



ibu yang pandai bersandiwara, yang tak pernah menampakkan kegundahan hatinya didepan sang anak tercinta, tak pernah meneteskan airmata dihadapan anaknya,



ibu hadirkan senyum,

hadirkan penyemangat,



walau vonis dokter sudah bicara tinggal sesaat,

ibu tak pernah menyerah,

apapun usaha agar sang anak bisa seperti sedia kala.



ibu....

tak bisa kubayangkan betapa kuatnya dirimu bu,

pun ketika Allah mengambil kembali titipan Nya,

engkau tetap dalam keikhlasanmu....


*ditulis sambil berkaca-kaca*

Monday, June 03, 2013

ASI untuk Dek Abi

Enam bulan lagi, insya Allah Dek Abi akan lulus S3-ASI. Perjalanan panjang memberikan ASI yang dimulai sebelum kelahirannya: mulai dari membulatkan niat, melengkapi ilmu, melengkapi alat tempur, hingga ujian sebenarnya yang datang sejak ia lahir (baca kisahnya di sini).

ASIX pada Enam Bulan Pertama


Enam bulan pertama adalah masa-masa terberat. Poin-poin penting yang kulakukan saat itu:
  • Mind management yang tak henti dilakukan: untuk meyakinkan diri sendiri bahwa produksi ASI-ku melimpah, melatih pikiran untuk tidak memikirkan hal-hal yang tak penting, menjauhkan diri dari segala hal yang bisa membuat stres. Intinya adalah berusaha rileks dan yakin bahwa aku mampu memberikan ASIX. Rileks dalam keseharian, rileks saat pumping, dan rileks saat menyusui, sambil tak henti-hentinya berdzikir dan melakukan afirmasi.
  • Melengkapi perbekalan alat tempur (uraiannya ada di bawah).
  • Pumping di mana saja dan kapan saja. Pernah waktu itu muter-muter keliling kampus untuk mencari tempat pumping yang representatif dan nyaman, setelah menemukan kenyataan bahwa beberapa musholla masih dikunci karena hari masih pagi. Aku tak lupa untuk konsisten melakukan pumping agar produksi ASI tetap berlimpah, tak peduli harus bangun malam pun dijabanin demi ketersediaan stok ASIP.

Beberapa teknik pumping yang kulakukan:
  • Pumping ketika Dek Abi menyusu. Jadi misalnya dia menyusu payudara kiri, aku pompa yang sebelah kanan. Dengan cara ini LDR (let down reflex) mudah didapat dan ASI yang mengucur tidak terbuang sia-sia.
  • Pumping setelah Dek Abi menyusu. Ini dilakukan pada payudara yang habis disusukan. Teknik ini berfungsi untuk menguras atau mengosongkan payudara. FYI payudara yang sering dikosongkan akan merangsang produksi ASI sehingga produksinya semakin bertambah banyak.
  • Pumping sambil rileks. Terdengar klise memang, tapi aku agak menghindari pumping dengan tergesa-gesa atau hati kemrungsung. Dengan pumping yang rileks dan tenang, sekali pumping pada satu payudara, aku bisa mendapat hampir 200 mL dengan tiga kali LDR.

Dek Abi sempat mengalami growth spurt yang membuatnya ingin menyusu terus. Cukup membuat lelah, tapi alhamdulillah aku sudah membekali diri dengan ilmu sehingga aku tahu pasti bahwa itu bukan karena ASI yang kurang. Jadi aku dapat menghadapinya dengan tenang dan tidak stres. Bagi yang tidak tahu kan bisa saja mengira ASInya kurang, lalu stres sendiri, malah beneran nanti ASInya berkurang. Ilmu ini penting untuk membuat kita tetap rileks, dan selalu yakin bahwa ASI kita cukup.

Peralatan tempur:

Breastpump
Harga breastpump yang bagus itu berkisar 400-600 ribu rupiah. Harga memang tidak bohong. Aku pernah membeli yang murah (200 ribu-an), puting malah sakit dan berdarah. Meskipun demikian, masalah breastpump itu cocok-cocokan. Ada juga yang bisa memerah ASI dengan banyak menggunakan tangan.


My breastpump

Cooling bag dan breastmilk storage bags
Cooling bag hanya berfungsi untuk membawa ASIP dari kantor/kampus ke rumah (selama di perjalanan), bukan untuk menyimpan ASIP. Jadi di kantor ASIP harus tetap masuk kulkas. Bisa juga sih untuk menyimpan ASIP tapi tidak lama, misalnya untuk ASIP yang akan segera diberikan. Cooling bag-ku ini sudah memiliki built-in ice gel di dalamnya (terjahit menyatu di dalam tas), tapi masih kutambahkan dengan ice gel tambahan (yang di dalam plastik transparan itu di foto) untuk menjaga agar lebih dingin.
Sedangkan breastmilk storage bags itu pada dasarnya adalah plastik yang khusus untuk menyimpan ASIP (sekali pakai). Tidak terlalu urgent sih, untuk jaga-jaga saja bila kehabisan botol untuk menyimpan ASIP.


Cooling bag dan breastmilk storage bags

Cup feeder
Fungsinya sebagai alat untuk memberi ASIP ke bayi. Mengapa harus cup feeder? Untuk menghindari bingung puting pada bayi. Penggunaan dot dapat membuat bayi keenakan (dengan dot, bayi tidak perlu susah-susah mengisap) sehingga akhirnya tidak mau menyusu langsung ke puting dan lebih memilih dot. Dengan cup feeder, si bayi terlatih untuk mengisap sendiri. Aku tidak memakai dot sama sekali untuk dek Abi.
Kekurangannya, memang diperlukan latihan untuk menggunakan cup feeder ini. Baik bagi si bayi maupun orang dewasa yang memberi ASIP ke bayi. Orang dewasanya harus sabar dan telaten. Perlu waktu, tapi hasilnya sepadan (worth it). Jadi orang dewasa yang diserahi tugas untuk memberi ASIP via cup feeder ini harus diwanti-wanti supaya telaten dan mau berlatih, demi kebaikan bayinya. Kalau memakai cup feeder ini, bayi akan minum ASIP dengan lidahnya. Mirip kucing yang minum air pakai lidah. Jadi biarkan si bayi yang mainkan lidahnya untuk minum, cup jangan terlalu disorongkan supaya bayi tidak tersedak.


Cup feeder (kiri)

Beberapa tautan di di Youtube yang menunjukkan cara memakai cup feeder:

Botol ASI
Aku menggunakan 2 jenis: botol UC (yang atas, kapasitas 120 mL) dan botol wideneck (yang bawah, kapasitas 250 mL).
Botol UC itu:
  • Kelebihannya: tutupnya rapat, lebih slim sehingga tidak makan tempat (apalagi kalau freezer-nya kecil).
  • Kekurangan: susah dibersihkan (gunakan sikat yang bisa menjangkau sampai ke bawah).
Botol wideneck itu:
  • Kelebihannya: gampang dibersihkan, bisa untuk menyimpan MPASI kalau dedeknya sudah mulai makan.
  • Kekurangannya: tutupnya tidak rapat (gampang tumpah) dan makan tempat.
Saran: kalau freezer kecil, lebih baik gunakan botol UC. Aman juga dibawa-bawa dengan cooling bag karena tutupnya rapat, tidak akan tumpah.


Botol UC

Botol wideneck

Freezer
Untuk Dek Abi aku membeli freezer khusus untuk ASIP. Freezer 6 rak, harga asli hampir 2,5 juta tapi aku membeli second di Kaskus dengan harga 1,5 juta saja hehe. Asiknya lagi, kondisi masih 90% baru karena baru dipakai sebentar sama pemilik lamanya. Dengan dua freezer—satu yang baru dan freezer kecil di kulkas lama, usaha untuk menyetok ASIP aku lakukan sejak Dek Abi lahir untuk kejar stok, karena dua minggu berikutnya sudah harus ujian semester hehe.


Ketika baru satu rak terisi

Stok ASIP menjelang Dek Abi 4 bulan

Masa S2-ASI dan S3-ASI


Setelah Dek Abi mulai makan pada usia 6 bulan, pumping masih terus dilakukan tetapi tidak se-hectic sebelumnya. Kuliah juga sudah mulai berkurang sehingga tanpa harus menyetok banyak, aku masih bisa menyusuinya di rumah. Kalau aku tidak salah ingat, stok-ASI-yang-terakhir dipompa pada September 2012 ketika Dek Abi berusia 10 bulan, dan diberikan pada Januari 2013 ketika usianya 14 bulan.

Aku lupa kapan persisnya Dek Abi mulai minum susu UHT, mungkin ketika usianya sekitar 16 bulan. Waktuku yang lebih banyak di rumah memberi dia kebebasan untuk menyusu kapan saja dia mau. Ketika aku harus kuliah atau menghadap dosen, stok ASI sedikit demi sedikit mulai digantikan dengan susu UHT.

Penutup


Kesimpulan yang dapat kuambil tentang segala proses menyusui ini adalah tentang niat dan komitmen yang kuat, lalu dibarengi dengan ikhtiar yang konsisten. Pemberian ASIX pada Hanif yang cuma 4 bulan dulu (tapi dia tetap menyusu sampai usia 2 tahun 3 bulan lho) memberiku amunisi tekad yang membaja untuk dapat sukses dan tuntas menyusui Dek Abi. Ilmu dan dukungan lingkungan sekitar adalah sesuatu yang juga penting dimiliki agar prosesnya lancar dalam menghadapi ujian dan rintangan. Untuk para pejuang ASI di manapun dirimu berada, keep up the good work! Yakinlah bahwa kita sedang memberikan investasi cairan emas yang sangat berharga untuk buah hati kita :)

Catatan: foto-foto lengkap bisa dilihat di sini.