Showing posts with label work. Show all posts
Showing posts with label work. Show all posts

Wednesday, September 09, 2026

Persimpangan Jalan

Bicara tentang hal kecil yang ternyata membawa perubahan besar dalam hidup, aku jadi teringat satu kisah yang membuat hidupku berubah dalam hal pekerjaan. Momen itu sederhana. Awalnya hanya tampak sebagai pilihan posisi pekerjaan, tapi ternyata membawa perubahan besar dalam arah karier dan keahlian.

“Mbak Yus, apa bener Mbak mau masuk UJM?” Pertanyaan itu dilontarkan atasanku dulu sekitar tahun 2015. Saat itu kantor tempatku bekerja tengah mengalami reorganisasi. Ada merger beberapa divisi, juga ada satu divisi baru yang muncul, yaitu Unit Jaminan Mutu (UJM) yang bidang pekerjaannya tentang Quality Assurance (QA).

Aku lulus kuliah sebagai engineer di bidang Teknik Komputer. Saat itu, bidang pekerjaanku adalah mengurusi jaringan komputer beserta perangkatnya, baik peranti lunak maupun peranti keras. Meskipun demikian, aku tidak asing dengan QA karena selain tugas utama, aku juga sudah cukup lama tergabung dalam tim QA divisi lamaku.

Ketika atasanku menanyakan pertanyaan di atas, aku baru saja lulus S-2 dan sedang berpikir-pikir tentang arah karier. Meskipun kuliah masterku juga tentang dunia Teknik Komputer—utamanya tentang keamanan jaringan komputer—ada dorongan untuk langsung mengiyakan tawaran mengisi posisi di UJM, di saat teman dan kolega lain tidak ada yang bersedia masuk ke sana.

Bidang pekerjaan UJM memang seringkali dipandang tidak “seksi” karena dianggap hanya berkaitan dengan administrasi belaka—padahal tentu saja hal itu tidak benar. Di samping itu, grade pegawainya memang lebih rendah dibandingkan bidang teknis sehingga nominal tunjangannya juga lebih sedikit.

Sejujurnya, aku tidak terlalu memikirkan semua itu. Bagiku, ditempatkan di mana saja tidak masalah, sepanjang aku menikmatinya dan membawa kebermanfaatan untuk institusi. Soal nominal tunjangan yang turun, bukan berarti aku tidak membutuhkan uang, tetapi hal itu bukan masalah besar karena aku bukan pencari nafkah utama dalam keluarga. Yang penting aku hepi.

Setelah meninggalkan bidang teknis dan menjalani hari-hari sebagai staf pelaksana UJM, aku belajar banyak sekali soal bidang baru ini. Sistem manajemen yang kuurusi pun tidak hanya ISO 9001, OHSAS 18001, dan ISO 14001, tetapi juga meluas ke ISO 19011, ISO/IEC 17025, Pedoman KNAPPP (standar acuan lembaga litbang yang digawangi oleh Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi waktu itu), serta standar-standar internasional terkait regulasi nuklir.

Aku belajar menyusun dokumen mutu, menerima audit, dan menindaklanjuti temuan-temuan hasil audit. Menerima audit dan inspeksi merupakan “makanan” sehari-hari, mengingat regulasi terkait nuklir ada banyak sekali, sehingga ada banyak badan regulator dan inspektur yang mengawasi instalasi kami. Aku juga melakukan audit internal ke bidang-bidang yang ada di instansi.

Sebagai orang yang cenderung perfeksionis dan saklek pada aturan, aku sungguh menikmati kegiatan mengawal dan mengevaluasi kepatuhan institusi terhadap standar dan regulasi. Hal ini menjadi penting karena litbang di bidang nuklir sangat erat kaitannya dengan faktor keselamatan dan keamanan, baik bagi pekerja radiasi, masyarakat, maupun lingkungan.

Tidak seperti anggapan banyak orang mengenai bidang pekerjaanku yang hanya berkutat pada pengelolaan administrasi saja, aku juga banyak turun ke lapangan untuk memastikan semua sistem dan subsistem berfungsi sebagaimana mestinya.

Bekerja sebagai QA ternyata meningkatkan soft skill-ku. Aku menjadi terbiasa berpikir logis dan runut dalam mencari akar penyebab dari suatu masalah atau kejadian, kemudian berusaha menanggulanginya dengan solusi yang efektif. Bertemu dengan berbagai macam karakter orang saat menerima audit maupun ketika melakukan audit juga membuat kemampuan komunikasi meningkat. Sebagai orang yang cenderung introvert, tentunya hal ini berfaedah sekali.

Dua tahun setelah pindah ke UJM, aku dipromosikan menjadi Kepala UJM di satuan kerjaku. Amanah ini sungguh berat dan menguji mental karena aku menjadi garda terdepan dalam menghadapi para auditor/inspektur yang datang, sampai-sampai aku mengalami diare selama tiga minggu pertama karena stres berkepanjangan.

But when life feels heavy, know that you’re leveling up. Kemampuan manajerial dan negosiasi bertumbuh, meskipun aku melaluinya dengan berdarah-darah.

Setahun setelah itu, tanpa disangka-sangka aku mendapat panggilan dari Komite Nasional Akreditasi Pranata Penelitian dan Pengembangan (KNAPPP) Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi untuk mengikuti bimbingan teknis calon asesor KNAPPP.

Mereka tengah merekrut calon asesor baru yang tugas utamanya adalah menilai kesesuaian penerapan dokumentasi mutu lembaga litbang dengan persyaratan akreditasi yang ditetapkan oleh KNAPPP secara berkesinambungan, dan bidang asesmennya mencakup seluruh lembaga litbang di tanah air. Di akhir bimbingan teknis, aku menjadi peserta terbaik dengan perolehan nilai ujian tertinggi.

Hari-hari setelah itu aku sangat menikmati pekerjaanku menggeluti sistem manajemen. Aku juga mulai mengajar materi mengenai sistem manajemen pada beberapa workshop dan pelatihan. Bahkan aku ditugaskan kantor untuk mengikuti sertifikasi berlisensi internasional untuk menjadi lead auditor ISO 9001, ISO 45001, dan ISO 14001, lagi-lagi lulus dengan nilai yang cukup bagus dibanding peserta lain.

Bidang ini mungkin memang tidak terlalu menarik bagi sebagian orang, tetapi aku melihat prospek yang menjanjikan jika suatu hari nanti ingin mendirikan lembaga konsultan yang dapat melakukan pendampingan bagi instansi atau perusahaan yang berminat mengikuti sertifikasi atau akreditasi sistem manajemen.

Penutup

Cara Tuhan menunjukkan jalan hidup kadang-kadang memang di luar nalar. Bagiku, pintu itu terbuka ketika atasanku menanyakan pilihan posisiku, meskipun saat itu aku tak menyadarinya. Jalan hidup dan karier bisa saja jauh berbeda dengan latar belakang pendidikan kita di kampus, tetapi percayalah ... itu salah satu cara Tuhan meningkatkan kapasitas diri kita.

Jadi, ketika kita dihadapkan pada persimpangan jalan, bismillah saja. Trust your guts, and choose with heart.

Tulisan ini diikutsertakan dalam Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan September yang bertema “Keputusan Kecil/Sepele yang Mengubah Hidup”.


Tuesday, January 11, 2011

Job Hunting, Karir, dan Pekerjaan

Beberapa waktu lalu, seorang teman lama mampir ke rumah. Dia menempuh perjalanan yang cukup panjang dan memerlukan tempat untuk beristirahat, untuk kemudian menghadiri sesi wawancara yang dijadwalkan hari itu. Teman ini baru saja melahirkan seminggu sebelumnya, jadi bayangkan saja bagaimana payahnya. Ia bahkan tak bisa sekedar menginap untuk memulihkan kondisi, karena seorang balita dan seorang bayi mungil nun jauh di sana, memaksanya pulang-balik hari itu juga.

Ketika ia sudah dalam perjalanan pulang, aku menerima pesan singkatnya bahwa wawancara yang dijalaninya dengan susah payah—baik dari segi waktu, biaya, tenaga, sampai harus jauh-jauh meninggalkan anak-anaknya—ternyata tidak membuahkan hasil. Ya begitulah, ia tidak lolos dalam sesi wawancara kali itu untuk mendapatkan beasiswa S2.

Aku menyebut temanku ini sebagai seorang pejuang. Bagaimana tidak, sejak ia lulus S1 beberapa tahun silam, rasanya belum pernah ia menapak kesuksesan dalam hal karir. Lulus dengan penuh perjuangan, lalu bertahun-tahun mengirim lamaran dan wawancara ke sana-sini. Sempat bekerja sebentar, sebelum akhirnya berakhir dengan tidak memuaskan dan memaksanya beralih jalur untuk mencoba S2 alih-alih berusaha mencari pekerjaan kembali.

Bicara tentang temanku ini adalah bicara tentang keprihatinan. Bahwa kehidupan pascakampus adalah kehidupan yang keras, kehidupan yang sesungguhnya. Dan hidup tak pernah mudah baginya. Mengingat temanku ini sejatinya juga mengingatkanku pada diriku sendiri. Tak bisa kupungkiri, pada sosoknya, aku melihat sosokku juga bertahun-tahun lalu.

Kami berdua lulus dengan berdarah-darah dari sebuah perguruan tinggi ternama di negeri ini. Nama besar almamater tidak selalu menjadi jaminan bahwa urusan mencari pekerjaan menjadi gampang. IPK kami yang kecil, membuat kami menjadi pecundang di hadapan perusahaan-perusahaan elit atau badan-badan bergengsi tempat para kawan kami masuk dengan mudah. Aku sendiri menganggur hampir dua tahun lamanya sebelum akhirnya diterima menjadi PNS di sebuah lembaga penelitian. Muara yang baik dari sebuah pencarian panjang, alhamdulillah. Tapi itu tidak lantas membuatku lupa, bahwa selama hampir dua tahun itu, aku telah mengirim beratus-ratus aplikasi lamaran, menjalani berpuluh-puluh tes dan wawancara, bahkan sempat dikeluarkan oleh suatu perusahaan kala menjalani probation period.

Nyesek memang, tapi itulah kenyataan. Aku memang merasa diriku ini tidak terlalu kompetitif dan berkompetensi dalam bidang yang kugeluti, sayangnya ijazah yang kupunya ya hanya ijazah di bidang itu. Akan jadi cerita panjang kalau aku membeberkan bagaimana sebenarnya aku tidak suka dan merasa salah jurusan, tapi ya sudahlah, nasi sudah menjadi bubur. Semoga jadi pelajaran bagi siapa saja, bahwa memilih jurusan ketika kuliah tidak bisa semata-mata diputuskan hanya karena jurusan itu “laku”, banyak teman yang memilih itu, orang tua menyarankan itu, jurusan itu terlihat keren dan mentereng, prospeknya bagus, bla bla bla. Semoga jadi pelajaran juga bahwa memilih jurusan harusnya didasarkan pada minat dan kemampuan. Bertanya pada hati, bertanya pada Allah. Karena sekali “nyemplung” dalam bidang itu, seumur hidup akan berkutat di bidang itu. Yah, mungkin terkecuali untuk orang-orang tertentu, yang bisa juga sukses di luar bidang ijazahnya.

Seringkali orang berpikir, nama besar almamater identik dengan kompetensi yang luar biasa, atau kemampuan akademik yang mumpuni. Kemudian hal itu akan berbanding lurus dengan ekspektasi pada kami, para lulusannya. Dan celakanya, cap semacam ini seperti menempel erat di jidat, sehingga komentar orang menjadi jauh lebih kejam ketika kami gagal. Aku ingat, pada sebuah sesi wawancara, si pewawancara meloloskan aku dengan sangat mudah ketika tahu aku lulus dari mana. Kasihan sekali kandidat lain di sampingku, yang masih harus dicecar dengan pertanyaan-pertanyaan panjang. Well, itu diskriminasi yang positif. Tapi jangan salah, diskriminasi yang negatif juga banyak. Ya itu tadi, ketidakmampuan orang lain memaklumi kemampuanku yang sebenarnya alakadarnya, hanya karena melihat dari mana aku berasal.

Kemarin ketika aku melihat film Alangkah Lucunya (Negeri Ini), ketika menyaksikan sang tokoh utama—yang pengangguran—sedang berkeliling Jakarta sembari mengempit tas untuk melamar pekerjaan ke sana kemari, hatiku mendadak basah. Been there, done that. Aku juga pernah punya pengalaman serupa: berkeliling Jakarta, masuk ke gedung-gedung megah untuk mengikuti tes atau walk-in interview sambil mengempit map berisi ijazah. Hmm, jangan-jangan nilai tes TOEFL-ku tinggi gara-gara aku dulu keseringan ikut tes TOEFL ketika seleksi karyawan ya? Hehehe.

Back to reality. Ketika melihat hidupku sekarang, I can’t be more grateful. Alhamdulillah, Gusti Allah memberi segala yang kubutuhkan. Dalam hal pekerjaan, meskipun tidak sekeren kawan-kawan lain sealmamater yang bergaji juta-juta-jutaan itu, menjadi PNS memberiku keleluasaan lebih untuk mengasuh anak dibanding mereka. Dan tentu sangat lebih beruntung dibanding seorang temanku yang kuceritakan tadi di awal tulisan ini.

Tapi memang bukan manusia kalau tak pernah puas. Adakalanya kenyataan hidup membawaku pada perenungan, apakah pantas aku meneruskan pekerjaanku ini. Selain karena sebenarnya aku tak terlalu suka pada bidang yang kugeluti sekarang—seperti ceritaku di atas tadi—kadang aku juga merasa berdosa pada negara. Ada satu pemikiran idealis dalam diriku, mungkin sebaiknya aku resign saja supaya negara bisa menggaji orang lain yang memang kemampuannya lebih dibutuhkan negara. Yah, kalau aku merasa tidak berkompetensi, pilihannya kan cuma ada dua: upgrade diri atau resign. Padahal upgrade diri, totalitas, dan integritas susah dilakukan jika tidak ikhlas menyukai bidang yang digeluti.

Belum lagi kalau bicara tentang kehidupan rumah tanggaku yang tidak ideal karena harus pisah kota demi pekerjaan. Belum lagi kalau bicara soal pengasuhan Hanif dan cita-cita awalku tentang menjadi stay-at-home mom. Beuhh, banyak benar yang bisa membuat stres. Kalau sudah begini, kata ‘resign’ memang selalu bermain-main di benak. Tapi kalau aku resign, kok rasanya kurang bersyukur ya. Melihat ribuan orang tidak lolos tes PNS, melihat betapa banyaknya orang yang menganggur dan sulit sekali mencari pekerjaan, selalu membuatku berpikir: jangan-jangan aku kufur nikmat kalau aku resign?

Kehidupan menjadi orang dewasa sungguh sulit. Keputusan yang dibuat tidak bisa didasarkan pada keinginan pribadi saja, melainkan harus mempertimbangkan berbagai aspek kehidupan lain yang beririsan. Tanggung jawab, aku rasa ini kata yang tepat yang memberi nilai sesungguhnya pada kehidupan orang dewasa.

Monday, November 08, 2010

Mengelus Dada

[ditulis sambil menghela nafas dalam-dalam]

Hari ini aku kembali menghadapi cercaan tentang pilihanku berkarir, untuk pertama kalinya setelah sekian lama tidak dicerca dengan cercaan serupa. Mereka yang mencerca beralasan, tempat setiap perempuan berkeluarga adalah di rumah. Perempuan berkeluarga yang multifungsi tidak bisa maksimal memberi untuk anak dan suaminya.

Bukannya aku tak tahu ya. Bahkan sebenarnya cercaan itu klise, karena hal semacam itu sudah menjadi pemikiranku sejak lama. Bagi yang jarang mengikuti sepak terjangku di blog ini mungkin tak terlalu tahu masa-masa kritis dulu saat aku menghadapi dilema antara berkarir atau tetap menjadi stay-at-home mom. Tapi yang jelas, pada awalnya aku berkarir adalah untuk mengabulkan harapan suami tentang memiliki istri bekerja, meskipun setengah mati aku ingin di rumah saja. Waktu demi waktu berlalu, aku pisah kota dengan suami, punya anak, dan here I am... tetap menjalani pilihan menjadi perempuan bekerja, lengkap dengan segala konsekuensinya.

Nikmatkah hidupku? Pendewasaan bertumbuh dan aku tak lagi menyalahkan siapapun. Nikmat atau tidak nikmat itu bukan urusanku, karena urusanku hanyalah bagaimana berusaha menjalani hidup ini sebaik mungkin, sebermanfaat mungkin, sembari terus mensyukuri nikmat Gusti Allah, sekecil apapun.

Maka ketika ada orang nyinyir berkomentar, padahal tidak tahu bagaimana pastinya isi rumah tanggaku, kok rasanya sedikit mengelus dada ya. Sudah pasti aku menjalani pilihan ini setelah berpikir panjang, bukan keputusan serta merta. Lagipula aku juga tidak pernah usil mengurusi—apalagi mencerca—pilihan perempuan-perempuan lain untuk bekerja atau tetap tinggal di rumah saja. Berkarir atau memilih menjadi stay-at-home mom menurutku sama mulianya, asal ditempatkan sebagaimana mestinya. Apa pula yang mesti diperdebatkan?

Wednesday, September 22, 2010

Beasiswa

Umm, masalah beasiswa dan melanjutkan kuliah… selalu ada hal yang mengganjal tentangnya. Seorang teman bilang, menerima beasiswa untuk melanjutkan sekolah memiliki beban mental tersendiri. Tuntutan dan ekspektasi yang disandarkan pada para lulusannya sering terlalu tinggi. Apa jadinya bila ternyata kita lulus, tapi nggak bisa apa-apa? Wih, yang ada juga malu-maluin. Contoh nyata: aku. Lulusan perguruan tinggi terkenal tapi kompetensi nol besar hehehe *tersenyum kecut*

Kembali ke masalah beasiswa, tak jarang aku mendengar komentar-komentar berseliweran di kantor ini, “Lulusan S2 kok cara mikirnya gitu…” atau “Lulusan S3 kok tingkah lakunya gitu…”. Seakan-akan gelar S2 atau S3 adalah cap untuk sederet ekspektasi tinggi.

Mendengar orang lain dikomentari begitu, tak ayal membuatku berpikir banyak tentang mengambil beasiswa. Jujur, aku tak terlalu tertarik dengan dunia yang kugeluti saat ini. Nggak kebayang melanjutkan kuliah di dunia yang sama—dengan bekal S1 yang sangat pas-pasan. Bagaimana kalau ketika lulus dan ternyata masih saja belum bisa menemukan minat, orang lain sudah mengharapkan yang terbaik, hanya karena ekspektasi tinggi akan gelar S2 atau S3?

Fiuhh, kita memang hidup di dunia penilaian orang lain. Untuk melepaskan diri dari itu, sangat sulit. Apalagi untuk aku yang cenderung sensitif dengan komentar orang. Jadi… beasiswa? Mikir-mikir dulu deh…

Tuesday, October 20, 2009

Judes!

Wow, hari ini aku tertohok lagi. Oleh sesuatu yang sudah lama aku tahu, tapi tetap saja rasanya sangat sensasional: antara kaget, malu, dan gusar. Simak saja obrolan di kantin pagi ini.

Aku: “Kamu mual-mual ya?” (tanyaku pada seorang teman yang sedang hamil muda)
Teman A: “Iya nih, lebih mual daripada kehamilan pertama.”
Aku: “Aku dulu juga gitu. Mual banget.”
Teman B: (tiba-tiba berceletuk) “Saking mualnya sampai nggak bisa senyum ya?”
Aku: “???”
Teman B: “Iya. Kamu dulu pas awal-awal di sini kan emang nggak pernah senyum. Judes banget…”

Bagaimana tidak shock mendengar kritik yang begitu jujur seperti itu? Hehehe. Tapi sekarang aku lebih terlatih dalam menghadapi kritik. Tak lagi merasa tersingggung atau nangis bombay seperti dulu. Melainkan mencoba lebih bijak dan merenungkan semua yang temanku itu katakan.

Hmmm, masa-masa awal aku ada di sini… coba aku ingat-ingat. Yayaya, masa-masa itu memang masa-masa kegelapan hehehe. Kondisi sedang hamil, hormon kacau balau, dan mental jungkir balik membuatku begitu labil. Hampir setiap hari menangis, mencoba meraba-raba apa maksud Allah menempatkanku di sini. Fuuhh, masya Allah…

Kuakui, saat itu aku malas sekali menghadapi hari-hari. Malas sekali pergi ke kantor dan bertemu orang-orang. Rasanya wajar kalau saat itu mukaku jadi sering tertekuk. Aku tahu, bisa jadi waktu itu aku sangat judes. Aku tahuuuuu, tapi tetap saja kenyataan itu agak menyakitkan kalau disampaikan orang ya. Yah, aku maklum. Tidak semua orang paham dengan kondisiku. Tak semua orang tahu bagaimana aku berjuang keras untuk tetap tersenyum. Tak bisa salahkan mereka memang. Yang mereka tahu kan cuma keadaan luarku saja. Tak pernah senyum berarti judes. That’s it.

Hmmm, rasanya jadi tahu sekarang, kenapa teman B ini termasuk dalam orang-orang yang paling akhir akrab denganku. Mungkin dia juga malas bersosialisasi denganku waktu itu. Sekali lagi, tak bisa salahkan dia memang.

Kejadian ini membuatku berterima kasih padanya secara pribadi, dan berterima kasih pada Allah secara khusus. Pada Allah aku bersyukur telah diberi kesempatan mengalami campur aduk rasa kehidupan, bersyukur masih diberi cermin untuk instropeksi, dan juga bersyukur telah diingatkan bagaimana sebaiknya berwajah ramah kepada saudara. Yang paling penting, aku juga jadi diingatkan untuk tidak terlampau mudah men-judge orang berdasar penampilan luarnya saja, melainkan juga mencoba memahami dan mengenal orang lain lebih dekat. Karena rasanya sungguh tak enak kalau di-judge semena-mena tanpa tahu sebabnya heuheuheu.

Pertanyaannya sekarang adalah:
  • Apakah sebaiknya kita bermuka dua di hadapan orang lain? Hati kita sedih tapi kita tak boleh bersedih? Harus tetap tersenyum kah? Bukankah sedih adalah manusiawi? Hmmm, mungkin sebaiknya cuma menangis di hadapan Allah saja ‘kali ya. Tapi bisa saja lho, berusaha menyembunyikan perasaan ini dari orang lain malah akan membuat kita makin tertekan.
  • Apakah kita harus selalu memuaskan orang lain? Orang ingin lihat kita tersenyum dan ramah terus, atau orang lain ingin kita begini begitu. Haruskah kita melakukan sesuatu demi menyenangkan orang lain? Dan kadang-kadang menafikan keadaan kita sendiri? Hmmm, jadi martir dong kalau begitu.

Meskipun masih ada tanya tak terjawab, tapi instropeksi kali ini terasa nikmat. Terima kasih ya, Allah!

Monday, June 15, 2009

Sosialisasi

Masalah klasik yang selalu hadir dalam keseharian seorang ibu muda adalah sulitnya bergaul atau hang out dengan teman. Maklum, anak masih kecil dan masih suka bergelung di pelukan bundanya. Atau kalau tidak, bundanya yang sering kangen dan tidak tahan meninggalkan si kecil lama-lama.

Aku tipe yang senang main dan jalan-jalan. Apalagi kalau teman-teman yang ikut cukup banyak. Sebelum menikah, tak pernah terbayangkan bahwa kehidupan sosial di luar rumah akan “terkorbankan” seperti ini. Pastinya kesadaran tentang itu tetap ada. Hanya tak pernah berpikir bahwa hal ini akan menjadi masalah.

Yah, sebetulnya bukan masalah yang gawat juga sih. Sempat merenung sejenak soal ini ketika beberapa waktu lalu suami mengeluh bahwa kehidupan sosialnya dengan teman-teman sekantor tidak berjalan seperti yang ia harapkan. Pasalnya, tiap akhir pekan ia mesti ke Bandung menyambangi anak istrinya, sementara biasanya justru di akhir pekan teman-temannya mengadakan acara. Sebut saja acara pernikahan, sebagai contoh. Untuk itu ia harus memilih, absen dari acara itu atau absen dari anak istrinya. Bukan pilihan yang menyenangkan kalau ia harus terus-terusan absen dari acara pernikahan teman-temannya.

Bagaimana dengan aku? Sama saja. Akhir pekan seperti jadi harga mati untuk berada di rumah, karena saat itu suami datang. Bisa ditebak, akhir pekan bakal full untuk anak dan suami, dan terpaksa harus menepis ajakan teman-teman untuk sekedar bertemu atau jalan-jalan.

Masalahnya tak akan jadi pelik kalau teman-teman sejawat juga sudah sama-sama punya anak. Jadi kan bisa seperti family gathering. Sayangnya sebagian besar belum menikah, dan acara hang out selalu identik dengan gaulnya kaum lajang. Tak enak juga kalau dalam acara-acara seperti itu kita sendiri yang mengajak anak dan suami.

Pernah suatu kali aku tak diajak dalam acara kumpul-kumpul. Entah karena aku yang terlalu sering menolak ajakan sejenis—karena alasan yang sudah aku ungkapkan di atas—atau memang karena kuota sudah terlalu banyak, yang jelas: ada sebersit rasa tak dianggap. Mungkin aku sedang agak sensitif juga sih waktu itu.

Pernah juga suatu kali aku ikut acara karaoke selepas maghrib hingga malam. Meskipun hati agak tak tenang karena sudah seharian meninggalkan Hanif di rumah, aku ikut juga karena ingin berpartisipasi dalam acara hang out teman-teman, dan supaya kejadian “tak dianggap” di atas tidak terulang. Sedikit memaksakan diri dan merasa bersalah setelahnya. Duh…

Sebenarnya kalau dipikir-pikir, hanya aku di kantor ini yang notabene seorang ibu muda namun tetap eksis di acaranya kaum lajang kantor. Ibu-ibu muda yang lain lebih memilih untuk cepat-cepat pulang menjumpai anak. Bukannya aku tak sayang anak. Ini lebih kepada upaya untuk tetap eksis dalam dunia sosialisasi kantor. Tak dapat kupungkiri, aku masih mencari formula yang tepat untuk memposisikan diri di antara rumah dan luar rumah. So, any suggestion?

Tuesday, June 02, 2009

Senior = Tidak Nyaman ??

Dalam dunia kerjaku di kantor, selain kegiatan rutin yang menjadi tupoksi (tugas pokok dan fungsi) sehari-hari, aku juga terlibat dalam kegiatan dua tim pelaksana—yaitu Tim Web dan Tim Inventaris Barang Milik Negara—serta kepanitiaan Seminar Nasional 2009.

Selama ini, rekan kerja maupun rekan tim mayoritas adalah anak-anak muda yang sebaya denganku. Oleh karena itu, aku sangat terbiasa dengan gaya dan dunia yang hampir sama. Pertama kali ikut serta dalam rapat Tim Inventaris Barang Milik Negara, aku kaget juga. Ternyata sebagian besar anggota yang lain sudah jauh lebih senior. Olala!

Masalah senioritas seharusnya bukan masalah besar. Tapi tetap saja, hal itu menyisakan banyak kecanggungan buatku. Yah, bayangkan bila selama ini kerap beradu diskusi dengan teman yang seumuran, kini tiba-tiba berhadapan dengan bapak-bapak dan ibu-ibu yang seumur papi-mamiku. Bagaimana tidak kaget, adaptasinya harus seperti apa, coba. Cara kerjanya berbeda, cara berpikirnya berbeda, bahkan guyonannya pun berbeda. Fiuhh...

Sebenarnya aku tahu, cepat atau lambat aku pasti akan berurusan dengan para senior juga. Cuma kok ya masih terkaget-kaget saja. Ada selintas pikiran negatif, bahwa bekerja dalam tim ini tidak akan senyaman seperti di tim lain yang sudah-sudah. Huh, lagi-lagi masalah comfort zone yah. Masalah klasik.

So, positive thinking sajalah. Jalani dengan sebaik-baiknya. Have fun saja, barangkali ini malah kesempatan baik untuk menggali ilmu dari para senior itu. Ayo Yustika, semangatttt!!!

Friday, February 20, 2009

Koperasi

Dialog I
Seseorang: ”Nggak ikut RAT?”
Aku: ”Enggak.”
Seseorang: ”Kenapa?”
Aku: ”Karena nggak ikutan koperasi.”
Seseorang: ”Iya, maksudnya kenapa nggak ikut koperasi?”
(Aku menunduk sambil tersenyum, menyibukkan diri menggulung kabel, tak ingin melangkah ke perdebatan lebih lanjut.)

Dialog II
Seseorang: ”Ayo, RAT-nya udah dimulai. Nanti biar dapat doorprize, ada macem-macem lho.”
Aku: ”Saya nggak ikut koperasi.”
Seseorang: ”Belum daftar?”
Aku: ”Memang nggak akan daftar kok.”
Seseorang: (dengan wajah dimaklum-maklumkan) ”Oooo...”

Dialog III
Seseorang: ”Kenapa sih nggak ikut koperasi?”
Aku: (diem aja, udah males duluan, nggak pengen berdebat)
Seseorang: ”Padahal manfaatnya banyak lho, sekarang bisa dapet pinjaman dalam jumlah lumayan.”
Aku: (masih diem)
Seseorang: ”Yaa... bukan berarti kalau ikut koperasi lantas jadi tukang minjem sih.”
Aku: (tetep diem, soalnya kalau aku buka mulut nanti pasti jadi berdebat)
Seseorang: ”Harusnya kalau anak baru tuh langsung diwajibkan ikut koperasi.”
(Aku merutuk dalam hati. Sudahlah, hentikan saja obrolan ini, please...)

Dialog IV
Seseorang: ”Tadi datang RAT? Dapet doorprize?”
Aku: (menggeleng)
Seseorang: ”Belum ikut koperasi?”
Aku: ”Nggak ikut.”
Seseorang: (sambil tersenyum) ”Oh, ’nggak ikut’ ya, bukan ’belum ikut’...”

Yak, itulah beberapa dialog yang sempat terlontar padaku saat koperasi kantor mengadakan RAT beberapa waktu lalu. Kalau boleh kutuliskan di sini, alasan kenapa aku memilih untuk tidak terlibat dalam koperasi adalah: menghindarkan diri dari riba. Akui sajalah, sistem keuangan di koperasi kantor masih menggunakan sistem bunga kan?

Aku bukan manusia suci, dan sama sekali tidak bermaksud sok suci. Memang, dalam hidup kita di negara Indonesia tercinta ini, menghindari riba sama sekali adalah sesuatu yang bisa dibilang mustahil. Aku juga nggak munafik, karena aku dan suami juga masih punya cicilan kredit yang mesti dibayar ke bank konvensional—sesuatu yang sekarang aku sesali, kenapa dulu nggak ambil KPR syariah saja.

Tiga tahun lalu, aku mulai menerapkan sistem syariah dalam kehidupanku dengan beralih ke Bank Muamalat. Sampai sekarang, aku coba menerapkannya sedikit demi sedikit dalam tiap sendi kehidupan. Kalau sekarang belum bisa syariah secara total, paling tidak aku sudah berusaha sebisa mungkin menghindari riba.

Seseorang di kantor berkata, ”Saya heran kalau masih ada karyawan yang nggak ikut koperasi. Orang lain pada dapet SHU, dapet snack, dapet doorprize... sementara dia enggak.”

Oh come on, yang benar saja. Masa sih pikiran kita sepicik itu? Hanya demi uang SHU, snack, dan doorprize... masa kita mau melacurkan diri ke dalam sistem riba? Benar-benar nggak worth it.

Aku akui, aku bukan orang kaya. Aku juga tidak bergelimang harta. Kadang-kadang aku juga butuh duit. Tapi kalau hal itu membuatku harus meminjam uang dengan sistem riba, na’udzubillahi min dzalik... mending jadi kere aja ’kalee. Masalah KPR konvensional yang sudah telanjur, biarlah dulu—sambil dicoba sekuat tenaga untuk segera melunasinya. Yang penting ke depan aku nggak akan meminjam uang dengan sistem riba lagi, insya Allah.

Ibarat orang pakai jilbab lah. Kalau memang belum mampu berjilbab, bukan berarti lantas pakai tank top dan celana pendek ke mana-mana bukan? Kalau memang belum mampu berjilbab, bolehlah nyicil pakai celana panjang dulu, pakai baju lengan panjang dulu. Sambil bertahap, nantinya aurat jadi tertutup seluruhnya. Buatku sistem syariah juga harus begitu. Mulailah nabung di Bank Muamalat dulu—di negara ini, bank syariah yang pembiayaannya paling murni syariah hanya bank ini—, lalu pilih KPR syariah, asuransi syariah, investasi syariah, dst. Lambat laun, segala aspek hidup kita nantinya jadi syariah semua. Kalau belum mampu sekaligus, ya pelan-pelan saja dulu. Jangan lantas yang baik ditinggalkan semuanya.

Sayang, tidak semua orang mau dan mampu berpikiran terbuka untuk menerima sistem syariah. Nggak usah jauh-jauh, suamiku sendiri saja susah minta ampun untuk disuruh pindah ke Bank Muamalat. Alasannya macam-macam, mulai dari aksesnya terbatas (nggak bisa internet banking), layanannya sedikit, ribet ini itulah... bla bla bla. Ya memang, bank syariah memang terhitung masih baru, sistemnya sedang bertumbuh. Jadi kalau ada keterbatasan, wajar dong. Kalau bukan muslim sendiri yang memajukan sistem syariah, siapa lagi?

Sekali lagi, kalau kita memang belum mampu menghindar dari riba sepenuhnya, bukan berarti kita lantas tidak berusaha menghindarinya sedikit demi sedikit bukan? Ayolah, masa nggak malu sama Allah kelak kalau ditanya-tanya di akhirat sana? Apalagi para kepala keluarga tuh. Masa perut anak istri mau dikasih makan dari sesuatu yang haram? Na’udzubillahi min dzalik. Semoga tulisan ini bisa sedikit memberikan pencerahan.

*merindukan-adanya-totalitas-sistem-keuangan-syariah-di-negara-ini mode ON*

Wednesday, January 21, 2009

Cerita Hiatus


Sebulan lebih sejak pertengahan November, statusku tampak hiatus. Banyak yang udah terjadi.

17-28 November lalu, aku dikirim ikut Pelatihan Proteksi Radiasi di kantor BATAN Pasar Jumat, Jakarta. Wih, serasa pindahan. Soalnya Hanif ikut pergi juga, kebayang seperti apa barang-barang bawaan kalau dia ikut serta. Jadilah selama dua pekan kami tinggal di rumah Cikarang. Aku bolak-balik Cikarang-Pasar Jumat tiap hari, tapi alhamdulillah dilalui dengan penuh semangat. Soalnya pelatihannya seru euy, main-main sama sumber radiasi hehehe. Asyik juga :D

Saat sedang berada dalam masa pelatihan itulah, temanku Wiwit membawa kisah yang memilukan. Tak ada yang bisa disalahkan, mengingat ini adalah kecelakaan. Post partum depression adalah suatu penyakit yang tak pandang bulu, even itu orang yang lingkungan amaliyahnya kondusif sekalipun. Don’t you dare asking why. Depresi adalah penyakit yang membutuhkan dukungan, bukan celaan (Jadi buat yang suka mencela aku pengeluh atau tukang depresi, lihatlah... orang yang jauh lebih shaleh daripada aku juga bisa terkena!)

Selain keriangan ikut pelatihan yang seru dan kebahagiaan berkumpul dengan suami tiap hari, ada juga sebagian kisah sedih. Dengan sangat terpaksa, kami harus merelakan Mbak Sur—pengasuh Hanif—pulang. Dan penggantinya, Mbak Santi, juga sama saja. Baru sebulan udah minta pulang. Bukan faktor ketidakbetahan yang membuat mereka pulang, melainkan karena mereka punya masalah dengan suami mereka. Demi membereskan masalah-masalah itulah, mereka terpaksa pulang.

Jujur, aku merasa sangat kehilangan Mbak Sur. Dia sangat penyayang terhadap Hanif. Orangnya baik dan rajin luar biasa, juga nrimo, nggak pernah minta macem-macem—ciri khas orang Jawa yeuhh. You don’t know what you’ve got until it’s gone. Begitulah. Terlepas dari segala permasalahannya, Mbak Sur benar-benar asisten yang (hampir) sempurna. Kapan lagi ya bisa dapat orang seperti itu.

Awal Desember, aku memutuskan untuk mengambil baby sitter dari Daarut Tauhid. Dapet urutan waiting list nomer 19 bo! Tapi akhirnya dapet baby sitter juga. Alhamdulillah banget, mengingat biasanya para bunda suka kehabisan stok baby sitter (stok... emang apaan hehehe). 13-14 Desember, aku ikut Pelatihan Spiritual Mom. Pelatihan ini wajib bagi setiap bunda yang akan menggunakan jasa baby sitter, berlangsung selama dua hari, pembicaranya Teh Ninih dan Bunda Ningrum Maurice.

Subhanallah, beroleh ilmu yang cukup memberi penyegaran. Diingatkan kembali tentang peran perempuan sebagai istri dan bunda. Diingatkan kembali untuk lebih menata hati (terutama dalam menghadapi suami, hehehe). Lalu kembali berkomitmen, berjuang untuk menjadi istri dan bunda terbaik, insya Allah. Seusai pelatihan, mulai pertengahan Desember, Mbak Sari—pengasuh Hanif yang baru—tinggal di rumah kami dan resmi mengasuh Hanif.

Hmm, ada juga resolusi awal tahun yang kubuat. Sempat nulis panjang lebar, tapi pas mau di-post di sini... kok rasanya bukan buat konsumsi publik ya. Hehehe. Cukup komitmen kepada diri sendiri saja. Toh belum ada rencana konkrit yang terbayang. Lho? Ya biarin lah kalau orang lain sibuk dengan rencana-rencananya. Sampai detik ini aku belum bisa mendefinisikan atau merumuskan sesuatu dengan riil. Berharap ke depannya semakin dimudahkan dan diperjelas oleh Allah.

Fiuhh, hiatus selama sebulan lebih ternyata menyisakan banyak cerita ya.

Foto atas: ”kontingen” BATAN Bandung dalam Pelatihan Proteksi Radiasi (dari kiri: Wiwit, aku, Yulia, Mbak Ria)

Foto bawah: aku dan Teh Ninih dalam Pelatihan Spiritual Mom.

Thursday, November 13, 2008

Tentang Hidup [2]

Bahasan tentang hidup kali ini sedikit mengerucut pada karir. Lewat blog-nya, Ilma rajin sekali meng-update visi karir.

”Purpose of life akan ia perjelas setiap kali penulis menuliskan sesuatu pada jurnalnya, setiap kali langkah si penulis semakin mendekatkan ia pada purpose of life-nya... ini bisa menginspirasi orang-orang di sekitarnya untuk memiliki purpose of life yang jelas dan terus melangkah untuk mencapainya.”
(tulis Ilma di sini)

Hmm, lagi-lagi merujuk ke Ilma. Nggak apa-apa ya. Soalnya temanku yang satu ini orangnya memang terencana sekali *hehehe, apa nggak capek ya kejar-kejaran sama target*

Kembali ke soal karir. Berbicara tentang visi karir, di lembaga litbang seperti kantorku ini, banyak karyawan yang punya target dalam berkarir. Sebagai tempatnya para peneliti, banyak yang berharap bisa disekolahkan lagi ataupun mematok target tertentu dalam jabatan fungsional. Bagaimana denganku? S2? Nggak ah. Masuk ke fungsional? Sepertinya rada nggak berminat.

Lho bagaimana ini, apa nggak malu dengan para peneliti lain yang pada punya integritas? Nggak tuh. Karena untuk sekarang ini, prioritas utamaku adalah Hanif. S2 atau jabatan fungsional mah lewattt.

Dan karena prioritas utamaku adalah Hanif, maka aku nggak iri melihat pencapaian teman-teman lain dalam hal kerjaan ini. Anis Rohanda, temanku di BATAN Serpong, minggu lalu udah berhasil menampilkan poster hasil penelitiannya di Seminar Nasional TKPFN-14. Arum, temanku di BATAN Jogja, sebelumnya juga udah jadi peserta di seminar internasional MIPA di ITB. Tapi... bener-bener nggak iri tuh.

Aku baru iri sama Mbak Dini yang meskipun anaknya kembar dan ditinggal kerja, masih bisa mencukupi ASI-nya. Juga iri sama Bu Sinta, kolega dari BATAN Serpong, yang sampai sekarang *anaknya 1 tahun lebih* masih bisa ASI eksklusif. Trus ngerasa kecewa banget waktu kelewat momennya Hanif tengkurep untuk pertama kalinya.

Dan aku rasa bakal jadi my greatest achievement adalah kalau aku bisa jadi bunda terbaik buat Hanif *dan adik-adiknya kalau ada hehehe*. Visi karir menjadi stay-at-home mom? Teuteupp...

Monday, September 22, 2008

Gender @ Work

Waktu itu aku sedang berbincang dengan suamiku. Aku lupa tentang apa, pokoknya suamiku sempat mengutip perkataan atasannya yang enggan mempekerjakan karyawan perempuan. Hmmm, jadi mikir. Kenapa yah beliau begitu?

Alasan pertama, bisa jadi karena perempuan banyak izin dan cutinya. Jadi enggak produktif di tempat kerja. Alasan kedua, mungkin si bapak mikir sebaiknya perempuan di rumah saja, supaya anak lebih terurus. Dalam satu kesempatan, aku pernah berbincang dengan istri si bapak. Istri ini memang di rumah saja, kata si istri biar bisa ngurus anak. Tapi sambil bikin usaha juga, jadi tetap berkarya.

Terlepas dari alasan mana yang sebenarnya bikin si bapak enggan mempekerjakan karyawan perempuan, aku cenderung sepakat bila perempuan sebaiknya di rumah saja. Kalau sering baca blog-ku, pasti tahu alasan kenapa aku berpendapat begitu. Dengan catatan, perempuan juga tetap berkarya meskipun tinggal di rumah saja. Boleh-boleh saja ia punya karir, asal porsi anak dan suami tetap yang terbesar.

Jangan lantas berpikiran bahwa aku anti emansipasi. Memang aku sebel dengan gerakan feminisme yang kebablasan, ibu Kartini aja nggak segitunya *silakan baca buku Tragedi Kartini*. Ada banyak alasan kenapa aku berpikir sebaiknya perempuan di rumah saja. Salah satunya adalah karena seorang ibu punya kewajiban sebagai ummu madrasah. Di tangannya terletak masa depan anak yang jadi pilar utama generasi bangsa. Kalau anak nggak terurus, mau jadi apa keluarga kita? Lebih jauh lagi, mau jadi apa bangsa kita?

Mungkin ada yang berdalih, bisa-bisa aja tuh ngurus anak sambil kerja. Maap ya, menurutku itu omong kosong. Bagaimanapun juga, ngurus anak nggak akan bisa optimal kalau seharian kita di luar rumah. Bisa sih bisa, tapi dengan energi sisa. Bisa sih bisa, tapi ya ngurus seadanya. Susah ngejelasinnya kalau nggak mau memahami *silakan baca buku Mulai dari Rumah karangan Al Ghazali*.

It’s funny to realize that I used to be one of those feminists. Sejak dulu aku selalu berminat dengan isu keperempuanan. Siapa menyangka kini aku tak lagi sealiran dengan para feminis itu. Siapapun yang paham hakikat sesungguhnya Allah menciptakan perempuan, pasti akan sependapat denganku.

Gaji PNS

Beberapa waktu lalu, seorang teman mampir ke Bandung. Teman ini bekerja sebagai PNS di lingkungan SekJen MPR. Obrolan tentang gaji PNS yang bermula di Pizza Hut berlanjut sampai ke rumah. Terusik oleh perbedaan yang sangat njomplang antara aku dengannya.

Temanku ini golongan II/d, tiap bulannya membawa pulang gaji lebih dari 7 juta rupiah. Jauh sekali bedanya denganku yang ”hanya” kurang dari 2 juta rupiah per bulan, meskipun bergolongan III/a. Oke, jadi di mana letak perbedaannya?

Kata dia, di tempatnya banyak tunjangan (waktu itu sempat dia sebutkan satu-satu, tapi sekarang aku lupa apa aja). Kalau nggak salah, ada tunjangan operasional kegiatan per hari senilai 130 ribu rupiah (kalikan aja jadi berapa per bulannya). Masih ditambah dengan ”uang lelah” untuk pekerjaan yang seharusnya memang ia digaji untuk itu. Jadi total take home pay-nya ya lebih dari 7 juta itulah. Lebih banyak daripada gaji pegawai swasta (yang berlevel staf) di Jakarta.

Pfff, di mana-mana gaji pokok PNS memang sama. Lalu apa yang melegitimasi tunjangan para PNS di rumah rakyat itu harus besar? Apa supaya mereka enggak korupsi? Atau karena beban kerja mereka memang lebih berat? Mikirin negara? *Jadi inget ucapan syaikhut tarbiyah Rahmat Abdullah di film Sang Murabbi. Ada yang lebih berat daripada mikirin negara, yaitu mikirin umat.*

Ketika obrolan tentang gaji semakin memanas dan aku curhat tentang dana riset instansiku yang sering dipotong oleh pemerintah, dia cuma berujar enteng, ”Habis kantormu miskin sih.” Aku cuma bisa tersenyum kecut.

Sunday, May 25, 2008

Oleh-Oleh Prajabatan [1]

Semenjak pulang dari Diklat Prajabatan 27 April – 10 Mei lalu, enggak tahu kenapa... aku jadi males banget mau nulis blog. Padahal blogwalking tetep rajin lho, lebih sering malah. Tapi kok nulis blog sendiri males ya. Mungkin karena laptop di rumah bervirus, jadi terganggu melulu tiap kali mau nulis sesuatu :(

Cerita sedikit tentang prajab ya. Ternyata nggak seserem yang kukira. Pas masuk asrama Komplek Bumi PPMKP Ciawi, aku malah sempat terbengong-bengong. Ya nggak kebayang aja gitu, asramanya sebagus itu *untuk ukuran prajab yaaa*. Satu kamar berempat, ada TV-nya, kamar mandi di dalam *jadi bebas nyuci... cihuiii* dan lumayan bersih. Teras di depan kamar dilengkapi satu set sofa, tiap satu set untuk dua kamar. Air minum tinggal ambil di dispenser, mau hangat atau dingin terserah. Udah gitu, di komplek asrama ada cafe-nya. Bukan cafe yang bagus sih, cuma lumayan lah buat nongkrong dan jajan jus.

Satu-satunya yang kurang adalah: ventilasi kamar kurang bagus. Menurutku, kamar kayak gitu didesain untuk pakai AC karena agak-agak tertutup kayak kamar-kamar hotel gitu. Jendela sih ada, besar dan bisa dibuka lebar. Hanya saja, kami tidak leluasa membuka jendela di malam hari. Biasa lah, panitia sok pakai macam-macam aturan. Padahal gerahnya minta ampun. Terpaksa deh... tidur bermandikan keringat *hihihi, hiperbolis*.

Dua minggu prajab, tiap hari bangun jam 03.30, antri mandi, lalu ke musholla buat sholat subuh berjamaah. Lanjut olahraga dan senam *enaknya jadi bumil, pas sesi ini aku cuma nonton aja, hehehe*. Habis itu kuliah di kelas dari jam 07.30 sampai maghrib, modelnya mirip-mirip penataran P4 zaman dulu. Bosen aku tiap hari diskusi. Oh ya, ada apel pagi dan apel malam. Terus, tiap kali mau makan harus baris dulu kayak bebek. Plus pakai seragam hitam putih, berdasi, pakai pin korpri. Oalah, mau makan aja kok repot banget.

Dua minggu kayak gitu terus, aku jadi kurang istirahat. Soalnya tiap malem tidur di atas jam 23.00 gara-gara musti ngerjain tugas. Aku tuh tipe orang yang nggak bisa tidur dengan enak sebelum semua tugas dibereskan. Jadilah, badan rasanya nggak karuan. Dan you know what, selama hampir dua minggu, kakiku bengkak guedee bangett. Tentu aja sakit, dan jadi nggak muat di sepatu. Terpaksa deh jalan terpincang-pincang. Udah sakit karena bengkak, masih ditambah dengan sakit karena kaki dipaksa masuk ke sepatu, huhuhuhu.

Akhirnya semua selesai sudah. Akhirnya semua terlalui sudah. Seneng juga jadi banyak kenal sama teman-teman. Plus ditambah sedikit jalan-jalan ke kota Bogor: mampir ke Venus ”roti unyil” di Pajajaran dan Pia Apple Pie di Pangrango. Wah, sayang kesempatan jalan-jalannya cuma sedikit. Itu pun curi-curi waktu pas jam bebas. Padahal kayaknya Bogor itu asyik buat dijelajahi: banyak tempat makan yang cozy... dan dari dulu aku pengen ngerasain duduk di bawah pohon-pohon di Kebun Raya. Sayang belum kesampaian.

Friday, April 11, 2008

Kritik

Habis baca postingan Ilma yang ini, ternyata hari ini giliranku dikritik. Alhamdulillah cara ngritiknya elegan.

Ceritanya, tadi seperti biasa aku ke suatu ruangan untuk ikut Nana memperbaiki komputer. Entah kenapa --perasaan, aku biasa-biasa aja deh-- di ruangan itu ada yang sedikit sensi *hahaha* lalu mengkritik aku tentang sesuatu. Meskipun aku tahu bahwa kedewasaan seseorang bisa dilihat dari caranya menerima kritik, mau tak mau aku protes. Okelah, mungkin di satu sisi aku salah. Dan okelah, mungkin aku sedikit kekanakan menghadapi kritik itu. Masalahnya, orang tersebut mengkritikku tentang sesuatu yang dia juga nggak sempurna menjalankannya. Oalahh, mbok ya kalau ngritik itu lihat diri sendiri dulu, instropeksi dulu.

Kritik itu tadi cukup membuatku merenung. Bagaimanapun juga, terima kasih telah mengkritik. Cuma... sekarang aku jadi rada males dekat-dekat ke ruangan itu untuk sementara waktu, takut jadi terluka lagi :D

Kesimpulan: lebih enak berinteraksi dengan rekan laki-laki daripada perempuan, rekan laki-laki itu kalau mengkritik bisa objektif...

Wednesday, March 05, 2008

?!*#@$%

Saat makan siang, teman-teman asyik bercerita tentang pekerjaan dan kegiatan mereka. Mereka tampak excited. Ada yang berkutat dengan alat counting dan ada yang sibuk dengan filter-filter. Lalu aku?

Sebenarnya keberadaanku di sini adalah sesuatu yang (mungkin) disayangkan. Akunya sendiri nggak enjoy. Instansi juga rugi punya pegawai yang nggak niat kerja kayak aku begini :( Jadi lose-lose solution dong. Sebenarnya keputusanku untuk kerja ini bener nggak sih? >_<

*nggak tahu kenapa aku jadi mikir begini*

Bosan

Memang ya, kalau bekerja tidak dinikmati itu akan terasa berat. Saat ini aku merasa bosan luar biasa. Aku belum (atau tidak?) menemukan kegairahan bekerja di kantor. Bukan apa-apa sih. Bukan karena tempatnya tidak menyenangkan *bahkan lingkungan dan rekan-rekan kerja sebenarnya cukup menyenangkan*. Mungkin lebih karena aku tidak pernah benar-benar ingin bekerja.

Aku merindukan rumah Cikarang. Aku rindu aktivitas keluar rumah waktu subuh untuk berbelanja sayur-mayur dan bahan-bahan lain yang akan kumasak. Aku rindu aktivitas menyapu dan mencuci. Aku rindu melihat lantai rumah Cikarang yang bersih mengkilat. Aku rindu menonton Oprah Winfrey Show di sela-sela aktivitas mengurus rumah. Aku rindu aktivitas meracik bumbu dan memasak di dapur sore-sore. Aku rindu pada mawar-mawar manisku. Di atas segalanya, aku sangat merindukan aktivitas menanti suami pulang kerja, dan rindu pada binar matanya ketika melihatku membukakan pintu.

Bekerja diniatkan untuk beribadah itu betul, tapi itu sesuatu yang klise dan mudah diucapkan. Prakteknya? Susah kalau hati kita tidak benar-benar berada di situ. Keikhlasan menjadi sesuatu yang kabur dan susah untuk digenggam.

Kata Pak Mario Teguh, pekerjaan yang paling bagus adalah pekerjaan yang ketika kita mengerjakannya, kita sangat menikmatinya dan kita dibayar untuk itu. Aku belum (atau tidak?) menikmati detik-detik berada di kantor. Aku tidak menikmati memakai baju setelan kerja yang bagus dan rapi ini. Aku justru sangat menikmati memakai piyamaku dan bergerak lincah ke sana kemari untuk berkeringat mengurus rumah. Menjadi ibu rumah tangga adalah pekerjaan yang sangat kunikmati, impian kehidupan sejak lama… dan aku bahkan tidak perlu dibayar untuk itu.

*setelah sejenak mengunci diri di kamar mandi kantor sambil berlinang air mata*

Friday, February 22, 2008

BATAN

Oke, sekarang giliran cerita tentang kantor. Bagi kebanyakan orang, BATAN dan hal kenukliran merupakan sesuatu yang asing dan menyeramkan. BATAN sendiri kependekan dari Badan Tenaga Nuklir Nasional, merupakan lembaga pemerintah yang bergerak di bidang penelitian, pengembangan, dan riset nasional di bidang kenukliran untuk tujuan damai dan kesejahteraan masyarakat *so ingat ya, kita nggak bikin senjata nuklir*, bertanggung jawab langsung kepada presiden dan dikoordinasikan di bawah menristek.

Unit kerjaku di Bandung dinamakan Pusat Teknologi Nuklir Bahan dan Radiometri (PTNBR), berlokasi persis di belakang kampus ITB *ah senangnya kembali “berkeliaran” di sini*. PTNBR mempunyai tugas melaksanakan penelitian dan pengembangan di bidang fisika bahan, fisika dan termohidrolika reaktor, fisika radiasi dan lingkungan serta instrumentasi nuklir, senyawa bertanda dan radiometri, pendayagunaan reaktor serta melaksanakan pengendalian keselamatan kerja dan pelayanan kesehatan (dikutip dari sini).

Aku ditempatkan di bagian yang dinamakan Balai Instrumentasi dan Elektromekanik (BIE). Tugas BIE adalah memberikan pelayanan instrumentasi, rancang bangun dan konstruksi, perbaikan dan perawatan peralatan elektronik dan elektromekanik serta prasarana dan sarana penelitian. Lebih spesifik lagi, aku berada di Kelompok Perbaikan dan Perawatan Komputer dan Jaringan. Yah, kerjaannya mirip-mirip jadi admin plus IT support gitu deh.

Untuk saat ini, aku belum dikasih kerjaan riil. Pegawai baru masih harus menjalani berbagai orientasi sampai akhir Februari. Kamis kemarin ada Latihan Kesiapsiagaan Tanggap Darurat Nuklir untuk seluruh pegawai, yaitu simulasi bila terjadi kedaruratan nuklir. Latihan ini serius, melibatkan kepolisian dan dinas pemadam kebakaran kota Bandung. Pakai acara lari-lari dan teriak-teriak, hehehe. Serem juga kalau terjadi kecelakaan nuklir beneran. Tapi tenaaaang, selama kita mengikuti prosedur dan instruksi kerja dengan baik dan benar, insya Allah aman. Lalu Jumat ada latihan pemadaman api. Kita diajari cara menghadapi api dan teknik-teknik memadamkan api. Semprot-semprot api deh, pakai air, tabung tepung, dan tabung CO2.

Minggu depan ada diklat untuk pegawai baru, bertempat di Jakarta. Siap-siap berangkat. Semoga uang sakunya lumayan, hehehe.