Friday, May 06, 2022

Makanan Khas Kota Solo

Mudik lebaran adalah momen yang tepat untuk menuntaskan rindu terhadap berbagai kuliner khas kota kelahiran. Bagiku–yang lahir dan besar di Solo tetapi sudah dua puluh dua tahun merantau semenjak kuliah–makanan khas yang membuat kangen adalah nasi liwet, lenjongan, dan cabuk rambak. Tiga menu itu wajib dibeli saat aku mudik, bahkan untuk yang disebut terakhir itu aku hampir tiap hari membelinya, hahaha.

Makanan favorit dari kota kelahiran mungkin rasanya biasa saja bagi orang lain, tetapi sejatinya yang membuat makanan-makanan itu istimewa adalah kenangannya. Mereka sarat akan kenangan masa kecil, seperti aktivitas jajan selepas sekolah, atau simply karena yang membuatkan atau membelikannya dulu adalah orang-orang tersayang–yang bisa jadi kini telah tiada. Jadi seperti apa makanan khas Solo yang menjadi favoritku itu? Yuk kita simak.

Nasi Liwet

Penjual nasi liwet langganan. Musim lebaran begini antrinya sampai satu jam.

Nasi liwet Solo berbeda dengan nasi liwet khas Sunda, juga berbeda dengan nasi uduk–meskipun sama-sama gurih karena diolah dengan santan. Rasa gurih nasinya terasa lebih ringan dibanding nasi liwet dari daerah lain sehingga kelezatan aneka lauknya terasa lebih nge-blend. Jika nasi uduk bisa digabungkan dengan lauk kering atau tidak berkuah, nasi liwet Solo biasa disantap dengan campuran sayur labu siam, sambal goreng, opor ayam, telur pindang, dan areh santan. Areh santan inilah yang menjadi kekhasan nasi liwet Solo. Areh adalah kuah santan pekat yang dimasak lebih lama hingga mengeluarkan minyak dari santannya. Hal inilah yang menyebabkan areh lebih gurih dari sekadar santan biasa.

Ada pula lauk tambahan yang biasa ditawarkan, misalnya sayap ayam, kepala ayam, atau uritan. Uritan adalah bakal telur ayam atau telur muda yang belum berkembang di dalam perut ayam, biasa disajikan satu paket dengan usus ayam. Aku pribadi tidak terlalu suka makan uritan karena kadar kolesterolnya tinggi, hehehe. Beberapa pelengkap lain yang biasa disantap dengan nasi liwet adalah tahu, tempe, aneka satai (satai usus, satai telur puyuh, satai ati ampela, dll.), serta kerupuk.

Lenjongan

Lenjongan (gambar diambil dari sini)

Lenjongan adalah sebutan dari satu set camilan manis yang terdiri atas gendar, klepon, sawut, jongkong, gatot, getuk, tiwul, cenil, ketan hitam, ketan putih, dan gerontol. Isinya sebagian besar terbuat dari singkong, jagung, ketan, dan aneka jenis tepung sehingga mengenyangkan. Topping-nya yang berupa parutan kelapa memberikan cita rasa gurih. Meskipun demikian, manis menjadi rasa dominan lenjongan karena parutan kelapa seringkali ditaburi dengan gula pasir atau dituangi juruh (gula merah cair).

Lenjongan menjadi favorit karena menyatukan berbagai jenis rasa kudapan tradisional dalam satu wadah. Teksturnya pun beraneka ragam: ada yang lunak seperti ketan dan getuk, ada yang kenyal seperti klepon dan cenil, ada juga yang seret seperti tiwul yang biasa digunakan sebagai pengganti nasi. Lenjongan dihidangkan dengan sebuah pincuk yang terbuat dari daun pisang. Seporsi lenjongan dijual seharga Rp5.000,00 hingga Rp6.000,00.

Lenjongan tercatat sebagai Warisan Budaya Tak Benda oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia pada tahun 2020. Jajanan ini telah ada sejak zaman penjajahan Belanda dan tak pernah lekang oleh waktu hingga kini. Buatku pribadi, lenjongan menyimpan banyak memori masa kecil sebagai camilan yang kerap dibeli ketika menemani ibu atau nenekku berbelanja di pasar.

Cabuk Rambak

Penjual cabuk rambak langganan yang saus wijennya paling pas di lidah.

Selain lenjongan, jajanan khas Solo yang menjadi kesukaanku adalah cabuk rambak. Makanan ini dulu dijajakan berkeliling oleh penjualnya—biasanya ibu-ibu berjarik—dengan menggendong bakul. Meskipun sudah mulai langka, makanan ini masih bisa ditemukan di pasar dan pusat jajanan tradisional. Cabuk rambak dibuat dari irisan ketupat yang kemudian disiram dengan saus yang terbuat dari wijen dan kelapa sangrai. Pelengkapnya adalah kerupuk gendar yang biasa disebut karak. Harga satu porsi cabuk rambak bervariasi antara Rp5.000,00 hingga Rp7.500,00.

Cabuk rambak yang murah meriah ini dulu menjadi jajanan kesukaanku semasa sekolah. Dengan uang saku yang pas-pasan, membeli cabuk rambak adalah salah satu trik supaya tetap kenyang hingga waktu pulang sekolah tiba. Meskipun sering diejek sebagai makanan rakyat jelata karena miskin gizi, cabuk rambak selalu menjadi makanan incaran yang wajib dibeli kala aku mudik ke Solo.


Tulisan ini diikutsertakan dalam Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan Mei yang bertema "Makanan Khas Kota Mamah".

24 comments:

  1. Selamat Hari Raya Idul Fitri ya Teh Yustika. Ikut senang membaca tulisan tentang makanan khas Solo, Nasi Liwet itu favoritku, enak banget ya, dulu pernah main ke rumah teman di Solo, lalu diajak makan Nasi Liwet, mirip kaya di gambar Teh Yustika ini.

    Lenjongan juga aku suka, lama banget deh kayanya ga makan. Kalau Cabuk Rambak belum pernah coba, mudah-mudahan ada kesempatan lagi berkunjung ke Solo, nanti pengen kucari :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Selamat Idulfitri Teh, terima kasih udah mampir baca. Wah cabuk rambak harus coba, beberapa teman dari luar Solo ternyata juga penggemar makanan ini. Saus wijennya khas banget Teh ๐Ÿ˜Š

      Delete
  2. Lenjongan ini kayak cenil, gurandil dsb ya kalau di Bandung. Enak nih kayaknya...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mirip Teh, tapi menurutku lebih nendang lenjongan karena isinya lebih lengkap

      Delete
  3. Lenjongan ini mirip cenil dan gurandil nggak sih kalo di Bandung? Jajanan masa kecil yang bikin kangen.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betuuuul, iya memang yang suka bikin kangen itu adalah kenangannya ๐Ÿ˜

      Delete
  4. Halo tes Yustika, salam kenal!
    Wah nasi liwet dan lenjongan sepertinya sudah pernah coba. Cabuk rambak nih yang belum pernah, dan penasaran juga rasanya dominan asin atau gurih yaa. Terima kasih referensinya teh, semoga kalau ada kesempatan ke solo lagi bisa coba ;)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah lain kali harus coba cabuk rambak ya, Teh. Rasanya ngangenin. Saus wijennya lebih dominan gurih, kan bangsa kacang-kacangan dia.

      Delete
  5. Waaw pingin cobain semuanya Teh๐Ÿ˜„ yg cabuk rambak guilty pleasure yaa hihi,,, tapi tetap ngangenin

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haha iyaa, karbo doang ga ada gizinya, tapi enyaak

      Delete
  6. Wah Teh Yustika, terimakasih banyak infonya ya. Saya belum pernah berlama-lama di Solo, selama ini sifatnya hanya transit sebentar, jadi belum pernah kulineran sepuasnya.

    Jadi pengen banget ngerasain nasi liwetnya nih, yang kata Teh Yustika beda dengan yang khas Sunda. Hhmmm pasti sedheeep ehehe.
    Sama cabuk rambak, penasaran banget ehehe. :)

    Sudah saya masukkan bucket-list, semoga bisa terwujud. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Teh, beda banget sama nasi liwet Sunda. Must try lah pokoknya hehe

      Delete
  7. Sejak nikah saya juga tiba2 berkampung di Solo teh, karna suami saya ada keluarga di Solo. Hehe.. Tapi jujur dari 3 makanan yang teteh sebut, baru nasi liwet yang saya coba. Dan bener kata teteh, liwet Solo beda sama liwet Sunda, lebih light. Makanya pas makan liwet Solo, lidah saya yang biasa makan liwet Sunda bingung, kok liwetnya "cuma" begini rasanya. Hehe.. Soalnya kalo liwet Sunda kan di nasinya aja suka ada campuran teri ato peda, jadi asin gurihnya berasa banget. Mudik selanjutnya mungkin akan coba lenjongan dan cabuk rambak deh.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama Teh, aku dulu pas makan nasi liwet Sunda juga ngebatin "Kok gini ya rasanya" ahaha. Nasi liwet Sunda itu mengenyangkan, lauknya lebih ringan. Nasi liwet Solo kebalikannya, yang lekoh malah justru lauk dan printilannya

      Delete
  8. Belum pernah coba ketiganya nih Teh, menarik kapan kapan kalau ke solo jadi pengen

    ReplyDelete
    Replies
    1. Monggo dicatat Teeh biar ga lupa kalo pas ke Solo hehe

      Delete
  9. Solo, kota kenangan, tempat lahir bapak ibu, Ibuku asal Baluwarti. Sedangkan simbah dari baak dulu tinggal di jalan Jamsaren. Solo itu bukan hanya nasi liwet, tapi juga sambel tumpang yang baru bisa kunikmati setelah dewasa. Mbah Putriku pernah belikan ketan dengan bubuk kedelai. Wah ini enak dan unik. Bubuk kedelenya itu lho… jadi suka digadoni …

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sambel tumpang enak juga, tapi bukan favoritku karena aku bukan penyuka pedas. Tapi iya bener, sambel tumpang juga khas Solo banget. Ketan dengan bubuk kedelai itu memang tiada duanya, di Jawa Barat dan Jakarta susah nyarinya hiks

      Delete
  10. Wah teh, jadi penasaran sama rasanya cambuk rambak.. baru dengar namanya skr hehe.. ๐Ÿ˜‹๐Ÿ˜‹

    ReplyDelete
  11. tos dulu ah teh ... sesama pencinta kuliner Solo
    semua enak atau enak sekali ha3 ...

    ReplyDelete
  12. Halo salam kenal teh Yustika. Baru tahu lenjongan tuh dari Jawa wkwk, biasanya kalau di daerah Sunda dijual bareng awug. Enaaak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Teh memang mirip-mirip meskipun isi variannya ada yang beda

      Delete