Sunday, September 18, 2022

Mengubah Kebiasaan

Menurut KBBI, “kebiasaan” adalah (1) sesuatu yang biasa dikerjakan dan sebagainya; (2) pola untuk melakukan tanggapan terhadap situasi tertentu yang dipelajari oleh seorang individu dan yang dilakukannya secara berulang untuk hal yang sama. Jika seseorang sudah memiliki kebiasaan akan sesuatu, dia akan melakukannya dengan rutin, effortless, dan spontan. Spontan dalam hal ini berarti terjadi otomatis tanpa perlu dipikirkan sebelumnya.

Karena kebiasaan mempengaruhi spontanitas, kita harus sadar diri untuk menjadikan hal-hal baik sebagai kebiasaan. Hal ini mengandung hikmah supaya ketika kita bersikap spontan, hanya hal-hal baik yang mewujud dari lisan dan perbuatan kita. Contoh sederhananya adalah memperbanyak istigfar ketika terkejut sehingga bila suatu saat kita terkaget-kaget karena sesuatu, kita akan spontan berucap “Astaghfirullah” dan bukan “Eh, ayam ayam ayam”, misalnya.

Kebiasaan juga mempengaruhi perasaan dan kecenderungan. Contoh paling gampang adalah soal makanan. Kebanyakan dari kita pasti lebih familiar dengan menu makanan nusantara, maka hal tersebut akan mempengaruhi preferensi kita dalam hal selera. Tentu kita akan memilih rasa yang paling “dekat” dengan menu sehari-hari–bahkan ketika kita sedang bepergian sekalipun–karena hal itu berkaitan dengan kebiasaan.

Rumus mengubah kebiasaan ada dua, yaitu latihan dan repetisi. Kita perlu berlatih supaya kita bisa, sedangkan repetisi diperlukan supaya kita terbiasa. Banyak orang meyakini bahwa waktu yang diperlukan untuk membentuk sebuah kebiasaan baru adalah empat puluh hari, di antaranya Kelly McGonigal yang menulis buku 40 Days to Positive Change atau Tommy Newberry yang menulis buku 40 Days to a Joy-Filled Life. Oleh karena itu, minimal kita berlatih dan melakukan repetisi selama empat puluh hari untuk membentuk sebuah kebiasaan.

Bagaimana dengan waktu yang diperlukan untuk mengubah kebiasaan lama? Memang tidak ada angka yang pasti, tetapi Ustaz Weemar dalam kajiannya menyebutkan bahwa hal tersebut membutuhkan waktu sekitar satu tahun. Hal ini tentu tergantung pada kedalaman tingkat kebiasaannya. Karena meninggalkan kebiasaan lama itu susah, jangan sekali-kali kita membentuk kebiasaan buruk dengan mencoba melakukan hal-hal yang tidak baik. Lebih baik sedari awal kita tidak mencicipinya sedikit pun. Jika kebiasaan buruk sudah terbentuk, dia akan mengalahkan akal.

Selain latihan dan repetisi, hal terpenting dalam membentuk kebiasaan adalah sifat istikamah. Menurut KBBI, “istikamah” adalah sikap teguh pendirian dan selalu konsisten. Dalam hal kebaikan, istikamah dapat diartikan tetap konsisten pada jalan yang benar dengan progres kebiasaan yang terus naik (tidak datar) sehingga hari esok lebih baik daripada hari ini. Hal tersebut tentu sungguh berat karena terkait erat dengan pembiasaan, tetapi sangat diperlukan demi perubahan ke arah yang lebih baik.

Rasulullah SAW bersabda, "Wahai sekalian manusia. Kerjakanlah amalan-amalan sesuai dengan kemampuan kalian. Sesungguhnya Allah tidak bosan sampai kalian bosan. Dan sungguh, amalan yang paling dicintai oleh Allah yaitu yang dikerjakan secara terus-menerus walaupun sedikit." (H.R. Bukhari dan Muslim)

"Maka istikamahlah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah tobat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan." (Q.S. Hud: 112)

Monday, September 05, 2022

Belanja: Dulu dan Sekarang

Ketika aku duduk di bangku kuliah dan belajar tentang Sistem Embedded dua puluh tahun lalu, ide tentang smart home yang terintegrasi dengan smart shopping tampak sangat menakjubkan. Seorang dosen memberi suatu contoh mengenai isi kulkas yang selalu ter-update stoknya sehingga ketika bahan makanan atau minuman menjelang habis, kulkas akan mengirimkan notifikasi ke grocery store untuk melakukan online shopping. Tuan rumah tinggal membayar via transfer dan voila … barang yang dikirim melalui jasa ekspedisi pun sampai di rumah.

Siapa mengira jika gambaran absurd yang tampak mustahil di masa lalu kini menjadi suatu hal yang biasa? Ya, memang telah terjadi revolusi besar-besaran dalam hubungan kita dengan aktivitas belanja saat ini. Seperti apakah itu? Yuk, mari kita simak.

Pasar Zaman Dahulu

Semasa aku kecil, pergi ke pasar tradisional merupakan siksaan. Ibu kerap mampir ke pasar seusai menjemputku dari sekolah. Jika hari libur, Ibu juga sering mengajakku menemani beliau pergi ke pasar. Lantai yang becek dan bau yang tidak sedap menjadi momok yang rela dengan sabar kuhadapi demi mendapatkan kudapan berupa jajanan pasar atau es dawet kesukaan. Peluh yang bersimbah dan kernyitan di dahi akibat menahan rasa mual akhirnya terbayar sudah ketika menyeruput es dawet nikmat, meskipun hal itu harus dilakukan dengan mengalihkan pandang dari kotornya pasar.

Pasar Gede, Solo, dulu dan sekarang

Sejatinya pasar-pasar tradisional memiliki napas panjang sejak zaman Belanda. Pada zaman dahulu, banyak pasar yang didirikan di pinggir jalan dan tidak menempati bangunan permanen seperti los-los zaman sekarang. Kebanyakan pasar berlokasi di persimpangan jalan karena merupakan titik strategis dan biasanya berada di area perdagangan, seperti halnya Pasar Gede Solo yang berada di kawasan pecinan. Meskipun demikian, Olivier Johannes Raap dalam bukunya Kota di Djawa Tempo Doeloe menulis, “Sekitar tahun 1900-an, jalan yang dijadikan Pasar Besar tersebut belum dijejali dengan barisan ruko Tionghoa. Melainkan masih dinaungi pepohonan rindang di kedua sisinya.”

Pasar zaman dulu ada dan bergerak karena transportasi. Tak hanya di persimpangan jalan seperti kebanyakan pasar di Jawa, pasar-pasar juga mewujud pada lintasan sungai-sungai yang menjadi jalur keluar masuk ke pedalaman, seperti yang terjadi di Kalimantan. Pasar-pasar itu hidup melalui interaksi masyarakatnya. Tak melulu soal perniagaan, pasar juga menjadi ajang lintas teritorial dan akulturasi budaya.

Salah satu hal yang paling aku rindukan dari aktivitas berbelanja di masa lalu adalah kearifan menggunakan kemasan ramah lingkungan. Orang-orang zaman dulu masih sangat mengandalkan sumber daya alam. Kemasan yang digunakan adalah kemasan berbahan alam seperti daun pisang, daun pepaya, daun jati, atau kertas bekas. Daging atau ikan dibungkus dengan daun jati atau daun pepaya, telur dibawa dengan keranjang anyaman bambu, sayuran atau bumbu dapur dibungkus dengan koran bekas, makanan berkuah dibawa dengan rantang. Tas belanja yang digunakan juga rata-rata tas anyaman yang terbuat dari bambu. Barang-barang yang bukan makanan dibungkus dengan kertas kuning dan dibawa dengan tas kain atau tas anyaman. 

Pada zaman itu, lahan hijau memang masih luas. Persediaan daun pisang, daun jati, dan daun pepaya nyaris tidak terbatas dan mudah sekali diakses. Limbah kemasannya pun tak menjadi masalah karena sifatnya organik dan mudah terurai. Kemasan plastik yang sampahnya menimbulkan banyak masalah bagi lingkungan terhitung masih jarang sekali. Ah, rindu sekali dengan zaman itu.

Kemudahan Berbelanja di Ujung Jari

Berbeda dengan aktivitas belanja di masa lalu, aktivitas belanja di masa kini rata-rata sudah bertempat di pusat perbelanjaan yang rapi dan bersih. Pasar tradisional masih tetap ada, tetapi tampilannya sudah jauh lebih baik karena direnovasi mengikuti standar pasar modern. Selain itu, ibu-ibu zaman now juga sangat dimudahkan aktivitas belanjanya dengan maraknya online shopping. Bahkan toko-toko besar seperti Matahari dan Uniqlo yang toko offline-nya ramai didatangi masyarakat pun kini sudah menyediakan situs belanja untuk para pelanggan yang lebih menyukai online shopping.

Ilustrasi online shopping

Banyaknya pilihan berbelanja saat ini sejatinya lahir dari kebutuhan masyarakat yang kian sibuk dan makin menghendaki kemudahan. Dengan dukungan teknologi dan gawai pintar, cukup jari-jemari yang bergerak untuk melakukan transaksi. Interaksi antara penjual dan pembeli diwakili angka dan teks yang terpampang di layar. Praktis, aman, nyaman, bisa dilakukan kapan saja dan di mana saja. Perniagaan tak lagi memerlukan lapak di pasar, toko, atau warung yang berlokasi strategis di pinggir jalan.

Di satu sisi, hal ini bisa menjadi pilihan ideal bagi masyarakat yang sibuk. Namun, di sisi lain, hal ini justru makin mengalienasi manusia satu dengan yang lainnya. Pertemuan fisik, saling sapa, saling tawar, atau saling tukar informasi tak lagi ada. Pola interaksi perniagaan telah mengalami perubahan besar-besaran dari zaman nenek moyang dulu. Tak pelak kita memasuki era baru yang mengubah pola struktur sosial yang telah bertahan ratusan tahun.

Aku sendiri tidak masalah dengan online shopping. Bahkan dulu aku punya toko online juga, yang kerap menguji kesabaran karena pembelinya masih saja menanyakan spesifikasi teknis padahal sudah ditulis detil pada deskripsi. Yah, memang begitulah tingkat literasi masyarakat kita, wkwkwk.

Beberapa kelemahan yang kurasakan ketika berbelanja online adalah ketidakmampuan melihat barang dan menilai kualitasnya secara nyata. Foto atau gambar yang terpampang di layar kadang tidak membuatku puas karena tidak bisa diraba dan disaksikan kasat mata. Selain itu, pada banyak online shop–bahkan yang sudah dijaga keamanannya seperti pada marketplace–masih saja ada tipu-tipu. Oleh karena itu, untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, biasanya aku hanya berbelanja online pada kenalan atau toko yang memang sudah kuketahui benar reputasi dan kredibilitasnya.

Jika ditilik-tilik, sepertinya aku lebih sering berbelanja online akibat iklan-iklan kenalan melalui Whatsapp, kemudian langsung mengontak mereka secara pribadi untuk melanjutkan transaksi. Entah mengapa, buatku hal ini terasa lebih intim daripada berbelanja ke marketplace. Selain bisa bertukar kabar dengan mereka, hal ini juga dalam rangka melariskan dagangan teman dan mendukung usaha yang mereka bangun. Mudah-mudahan hal ini juga menjadi added value supaya masyarakat tidak lagi makin terasing satu sama lain.


Tulisan ini diikutsertakan dalam Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan September yang bertema “Mamah dan Dunia Belanja”.

Sunday, September 04, 2022

Belajar Memahami Anak dengan Bijak

Pernahkah Anda membaca buku Totto-chan: Gadis Cilik di Jendela yang ditulis oleh Tetsuko Kuroyanagi? Buku ini bagus untuk dibaca para orang tua dan praktisi pendidikan anak. Meskipun dikemas dengan bahasa sederhana, sesungguhnya ia sarat akan pesan-pesan parenting. Aku membaca buku ini puluhan tahun lalu bahkan ketika aku belum punya anak, tetapi pesan mendalam yang kutangkap waktu itu begitu membekas dan berhasil membentuk gambaran ideal di benakku tentang bagaimana seharusnya hubungan orang dewasa dengan anak terjalin. Pesan-pesan parenting-nya sungguh tak lekang oleh waktu dan tetap relevan hingga kini meskipun latar belakang buku ini adalah kondisi di Jepang  sebelum Perang Dunia II.

Totto dalam novel ini digambarkan sebagai seorang anak yang polos, punya rasa ingin tahu besar, selalu antusias dengan hal-hal baru, penuh imajinasi, dan selalu bersemangat sehingga sering menguji kesabaran gurunya. Dia dikeluarkan dari sekolah karena dianggap nakal dan susah diatur. Ibunya kemudian mencarikannya sekolah baru hingga akhirnya dia bertemu dengan Pak Kobayashi, kepala sekolah yang sangat sabar, hangat, penuh kepedulian dan kasih sayang, serta begitu memahami karakter anak-anak didiknya.

Bicara soal karakter unik Totto-chan, kita perlu memahami baiknya perlakuan membesarkan hati anak sehingga anak tidak merasa dirinya buruk. Ada dua kemungkinan penyebab anak dianggap bandel. Kemungkinan pertama, anak tersebut memang bermasalah. Kemungkinan kedua, anak tersebut adalah anak pandai yang kreativitasnya dibatasi rutinitas. Kebanyakan orang dewasa menganggap tipe anak kedua sama saja dengan tipe anak pertama karena orang dewasa tidak mau menggali apa sebenarnya yang dirasakan oleh si anak, padahal tipe anak kedua bukanlah tipe anak bandel. Ia hanya seorang anak dengan rasa ingin tahu yang sangat besar, yang berusaha memahami dunia di sekelilingnya dengan pengetahuan yang dibangun berdasarkan kehidupan sehari-hari, bukan berdasarkan tugas-tugas rutin sekolah yang membosankan.

Sekolah yang menyenangkan adalah sekolah yang membebaskan. Anak bebas menyerap pengetahuan dengan cara menyenangkan sehingga pengetahuan membekas pada jiwa dan dapat menghasilkan sesuatu yang konkret untuk kehidupan. Namun, kebebasan yang dimaksud tentu bukan kebebasan yang murni. Aturan dan tanggung jawab tetap diperlukan dalam kebebasan berekspresi karena berkaitan erat dengan adab, etika, sopan santun, dan kewajiban. Dalam sebuah sistem sekolah yang menyenangkan, pemberian tugas tidak ditiadakan sama sekali. Tugas tetap diberikan, tetapi tugas bukan segalanya. Dalam sebuah sistem sekolah yang baik, anak merasa dirinya diterima sekaligus merasa aman dan rileks untuk berbuat (berpendapat, belajar, bermain, dsb.) karena anak mempunyai fitrah untuk dicintai, dihargai, dipahami, dan diakui.

Seorang anak yang mempunyai rasa ingin tahu yang besar seharusnya tidak dianggap sebagai anak yang merepotkan. Keingintahuan adalah dasar untuk mencari ilmu pengetahuan. Seorang pendidik memiliki tugas untuk mengarahkan keingintahuan si anak menjadi keingintahuan yang produktif dengan sistem belajar mengajar yang bebas, menyenangkan, tetapi bertanggung jawab.

Seorang pendidik yang baik juga harus mempunyai kelebihan untuk melakukan pendekatan yang konkret kepada anak, misalnya dengan menjadi pendengar yang baik sehingga anak merasa dihargai, atau dengan melontarkan kalimat-kalimat positif untuk menumbuhkan sikap optimisme anak. Dua hal ini dicontohkan secara gamblang oleh buku Totto-chan, seperti ketika Kepala Sekolah Kobayashi mau mendengarkan cerita Totto-chan selama empat jam penuh, atau kenyataan bahwa Kepala Sekolah Kobayashi sering menyebut Totto-chan sebagai anak baik untuk menanamkan rasa percaya dirinya.

Dalam menerapkan kebebasan anak, kita tetap perlu mengajarkan kepada anak tentang mana yang boleh dan mana yang tidak boleh. Dengan demikian, anak tetap dilatih untuk berpikir kritis dalam kebebasannya sehingga ia memiliki self control yang baik. Terkait dengan pengajaran tentang tanggung jawab, hukuman tetap diperlukan. Hanya saja kita tidak boleh menghukum anak sebelum ia mengerti aturan dan kesalahannya. Hukuman tidak identik dengan pemberian penderitaan karena ia adalah penyadaran akan tanggung jawab dengan cara pemberian konsekuensi. Dalam buku Totto-chan, Kepala Sekolah Kobayashi “hanya” memberikan konsekuensi untuk membersihkan kembali apa yang telah Totto-chan jadikan berantakan karena konsekuensi tersebut sudah menjadi hukuman yang pantas untuknya.

Dalam usaha mewujudkan sistem belajar mengajar yang baik dan efektif, selain penyesuaian kurikulum dengan tahapan proses perkembangan anak berdasarkan usia, interaksi anak dengan pendidik harus baik. Hal itu antara lain bisa dibangun lewat kemampuan pendidik untuk berempati, mengenali anak, dan menerima anak apa adanya. Dengan demikian, anak akan merasa senang untuk belajar ilmu pengetahuan dan bersosialisasi sehingga ia siap terjun ke masyarakat di kemudian hari.

Saturday, August 06, 2022

Sadrah

Aku menatap lelaki di hadapanku. Dia baru saja menutup laptop di pangkuanku, mengambilnya, lalu meletakkannya di meja. Gerakannya tegas, tetapi sorot matanya teduh tanpa amarah.

“Sudah kubilang untuk istirahat, kan,” katanya kemudian sambil tersenyum. Dia mengambil langkah panjang ke jendela di sudut kamar dan menyibakkan tirai. Seberkas sinar mentari jatuh di wajahku; aku mengernyitkan mata.

“Ups, maaf … silau ya?” Dia tertawa renyah sambil mengacak rambutku pelan ketika sudah sampai di sisi pembaringan. Tangannya dengan sigap membereskan berkas-berkas yang bertebaran di kasur.

“Istirahat dulu sampai sembuh. Oke?” Dia menatapku tegas. Aku menarik napas dalam-dalam sambil menyandarkan kepala ke bantal. Baiklah, aku menyerah.

Dua hari lalu aku kolaps di kantor. Mereka membawaku ke sini dan dokter menyuruhku beristirahat selama beberapa hari karena aku mengalami hipoglikemia dan kadar hemoglobinku sangat rendah.

“Pengen makan apa?”

Aku menggeleng. “Nggak pengen apa-apa.”

“Aku beliin apa saja yang kamu mau. Makanan rumah sakit nggak terlalu menggugah selera, kan?” Dia menunjukkan layar aplikasi pesanan antar dengan antusias.

“Nggak usah, Ben.”

Kupandang Beni dengan lekat. Aku mengenalnya setahun lalu di sebuah gym tempat dia menjadi personal trainer di sana. Saat itu hampir tiap hari aku mampir ke gym untuk mengurai pikiran yang ruwet, tanpa tahu akan berkenalan dengan sosoknya yang begitu tulus. Aku bukan kliennya, tetapi dengan riang dia berbagi kiat bagaimana gerakan yang benar, berbincang tentang nutrisi dan gaya hidup sehat, hingga akhirnya kami akrab satu sama lain dan sering pergi bersama.

Beberapa bulan lalu dia menyatakan cintanya. Menjalin hubungan serius dengan seseorang adalah hal terakhir yang ada dalam benakku, maka dengan berat hati aku menolaknya. Aku menyukainya, tetapi ada banyak ketakutan dari masa lalu yang masih memberati pundakku. Hari demi hari berlalu tanpa ada yang berubah dari dirinya: masih tulus dan peduli, juga masih bersikap penuh perhatian.

Seorang petugas katering masuk ke dalam kamar dan membuyarkan lamunanku. “Silakan sarapannya, Bu.”

Beni dengan serta merta meraih nampan dan membuka plastik yang menutupi permukaan piring. “Aku suapin ya, Ta?”

“Belum lapar, Ben.”

“Ta, nggak boleh gitu. Nanti gula darahnya nge-drop lagi kalau kamu nggak makan.”

“Nanti saja, Ben. Nanti aku makan sendiri.”

Beni menyentuh daguku pelan, lalu menghadapkan wajahku tepat di depan wajahnya. Mata kami berserobok.

“Jangan ngeyel terus, Ta,” katanya dengan lembut, “nanti nggak sembuh-sembuh.”

Aku melihat kasih terpancar dari bening mata coklatnya. “Kenapa masih betah ngurusin aku, Ben? Kamu kan tahu betapa keras kepalanya aku.”

Beni meraih tanganku dan menggenggamnya. “You know why. Sudah, sekarang jangan ngeyel lagi. Aku suapin, ya?”

Aku mengangguk pasrah.

***

Aku berlari dengan terengah-engah. Bayangan laki-laki itu terlihat ketika aku menoleh. Kupercepat langkah sambil menengok ke kiri dan ke kanan mencari tempat persembunyian. Aku mengusap sudut bibirku yang berdarah. Ah, sial. Dia lebih cepat. Sudah tinggal beberapa meter saja dia di belakangku.

“Mau lari ke mana kau sekarang?” serunya sambil tertawa keras. Bulu kudukku berdiri. Dalam sekali loncat dia berhasil menarik bajuku. Aku terbanting ke jalan.

Tiba-tiba kepalaku terasa sakit sekali. Ternyata laki-laki itu menempelengku dengan keras sampai aku terjatuh. Dijambaknya rambutku, lalu dibenturkannya kepalaku ke aspal. Dia memegang pergelangan tanganku dengan kencang. Napasku megap-megap.

“Ta! Bangun, Ta!” Aku mendengar suara Beni samar-samar. Kubuka mata dengan berat. Napasku masih memburu. Ketika aku sadar sepenuhnya, kudapati tangan Beni-lah yang memegang pergelangan tanganku. Kamar rumah sakit ini terasa dingin dan gelap.

“Aku bermimpi?” Kulihat pandangan khawatir di mata Beni. Dengan lembut dihapusnya air mata dari sudut mataku.

“Mimpi apa sampai menangis begini?”

Aku tak menjawab, tetapi balik bertanya, “Pukul berapa sekarang?”

“Pukul sepuluh malam. Aku tadi ke sini sepulang dari gym.”

“Kepalaku pusing sekali.”

Pandangan Beni tampak prihatin. “Mereka bilang, kalau Hb-mu tak kunjung naik, besok harus transfusi.”

Aku mendesah pelan dan mencoba duduk. Beni sigap membantu.

“Aku capek, Ben.”

“Ta …”

“Aku lelah dengan semua ini. Aku pikir dengan menyibukkan diri pada pekerjaan, aku akan bisa lupa.” Aku tergugu.

Beni merengkuhku. “Bebanmu terlalu berat, Ta. Justru dengan rapat-rapat sampai malam, mengejar tender proyek sampai habis-habisan, kamu menghancurkan badanmu sendiri. Padahal yang mengganggumu itu ada di pikiranmu.”

“Aku nggak tahu harus bagaimana, Ben. Bayangan dirinya terus mengejar.”

“Hei, dengerin aku. Laki-laki itu nggak bisa menyakitimu lagi.”

Bahuku terguncang di dada Beni. Menjadi korban KDRT selama bertahun-tahun benar-benar menyisakan kepedihan. Bukan hanya tilas patah tulang, rahang yang bergeser, atau bekas luka jahitan, melainkan juga trauma psikologis berkepanjangan meskipun aku sudah lama tidak bertemu mantan suamiku.

Beni membiarkanku menangis di pelukannya. Ketika akhirnya aku tenang, dia berkata, “Aku nginep di sini ya malam ini.”

Sambil menghapus sisa-sisa air mata, aku kembali berbaring. Beni membetulkan letak selimutku, mengecup keningku, lalu melangkah ke arah sofa dan tidur meringkuk di atasnya. Aku merasa lebih nyaman melihat dia ada di situ, tetapi masih ada hal yang mengganjal di hatiku.

***

Aku sedang mengganti-ganti saluran televisi dengan bosan ketika Beni masuk ke kamar. Kausnya basah oleh keringat.

“Pas aku bangun tadi kamu masih tidur, jadi aku jogging dulu sebentar,” katanya.

“Sudah kuduga,” sahutku, “pagi yang cerah ini memang sayang untuk dilewatkan begitu saja.”

“Dokter sudah visit?”

“Sudah.”

“Lalu apa dia bilang?” tanya Beni dengan tatap penasaran.

“Hb-ku sudah naik. Sudah di range normal, jadi nggak perlu transfusi. Hari ini sudah boleh pulang.”

“Syukurlah,” katanya sambil tersenyum, “habis ini harus makan yang benar, banyak istirahat.”

Dia duduk santai di atas sofa sambil menenggak air mineral. “Hari ini aku ada janji dengan klien pukul sembilan. Mungkin selepas makan siang aku baru bisa kemari. Check out-nya nunggu aku saja ya, nanti aku yang urus-urus.”

Aku berdehem membersihkan tenggorokan. “Ben, sebenarnya ada yang ingin aku bicarakan.”

“Hmm?” Pandangannya masih mengarah ke dalam tas.

I’ve been thinking about us.”

Gerakan tangan Beni terhenti. Dia mendongakkan kepala dan menatapku tajam. Aku merasa senewen.

“Ada apa?” Kali ini nadanya curiga. Aku bahkan tak berani menatapnya.

“Ehm … Ben, aku rasa kamu harus berhenti ngurusin aku.”

“Kenapa? Kamu merasa nggak nyaman?”

“Oh, bukan,” tukasku cepat, “hanya saja … aku banyak merepotkan.”

“Nggak sama sekali.” Dia mengernyit.

“Dengar, Ben. You’re a good person. Banyak gadis-gadis di luar sana yang lebih pantas buat kamu. Kenapa kamu masih bertahan ngurusin seorang janda yang bahkan …”

“Ta! Kamu ngomong apa sih?” Dia berjalan ke arahku dan duduk di tepi tempat tidur.

I’m such a burden, Ben. I’m torn. I’m a mess. Mungkin sebaiknya kita sampai di sini saja. Kamu berhak punya kehidupan yang lebih baik.” Mataku mulai berkaca-kaca.

Beni menghela napas. “Bukankah kita pernah ngobrol soal ini? Aku sayang sama kamu, Ta. Kita akan hadapi ini sama-sama, oke?”

Aku menggeleng. Kusentuh lengan Beni pelan. Lengannya yang berotot itu dulu membuatku takut. Membayangkan dihantam dengan keras atau dibenturkan ke tembok oleh lengan sekuat itu membuatku terintimidasi olehnya di awal masa pertemuan kami. Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Kedua lengannya yang kokoh itu seringkali memberiku perlindungan dan kehangatan, tetapi sungguh aku tidak cukup baik untuknya.

Mata Beni menatapku serius ketika dia berkata, “Menikahlah denganku, Ta …”

Aku tertegun. Laki-laki ini sungguh unbelievable. Saat aku ingin memutuskan hubungan dengannya, dia malah melamarku.

“Ben …”

Listen to me. Aku nggak peduli seperti apa masa lalumu. Yang aku tahu, aku pengen habiskan sisa hidupku sama kamu. Selalu ada buat kamu, lindungi kamu. Please, Ta … jangan tolak aku terus. Beri aku kesempatan untuk membahagiakanmu.”

Aku terisak pelan. Buliran bening mengalir dari kedua mataku. Beni menghapusnya dengan lembut lalu memelukku erat sambil berbisik, “Jangan pernah merasa tidak pantas. You really mean the world to me.”

Sinar mentari pagi menari-nari masuk ke dalam ruangan, menembus vitrase tipis sampai ke hatiku. Mungkin memang sudah saatnya aku berhenti berlari. Dalam dekapan Beni, aku berpasrah diri dan mulai memahami bahwa Tuhan sedang memberiku kesempatan kedua untuk mencinta.


Tulisan ini diikutsertakan dalam Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan Agustus yang bertema “Cerita Cinta”.

Tuesday, July 05, 2022

Belajar Tiada Akhir

Gambar diambil dari sini

Belajar adalah aktivitas sepanjang hayat. Seperti yang ditulis Dini di sini, “lifelong learning is the lifewide, voluntary and self-motivated pursuit of knowledge for not only personal but professional reasons as well”. Kata kuncinya adalah: belajar sepanjang hayat, sukarela, self-motivated, untuk pengembangan diri baik secara personal maupun profesional.

Namanya manusia tentu tak ada yang sempurna, ya. Ilmu terus berkembang mengikuti zaman. Kemampuan kita tak pernah paripurna, yang ada hanyalah langkah untuk terus menuju ke sana. Bagi diriku pribadi, ada hal-hal yang hingga hari ini masih terus ingin kuperbaiki. Oleh karena itu, belajar sepanjang hayat merupakan suatu keniscayaan, terutama untuk hal-hal yang akan kuceritakan di bawah ini.

Menjadi Orang Tua yang Baik

Sepanjang empat belas tahun menjadi orang tua, selalu ada hal baru yang aku dapatkan. Anak-anak itu memang guru terbaik, kadang aku jadi belajar dengan metode learning by doing. Biasanya hal ini terjadi pada anak pertama di mana kita masih gagap menjadi orang tua. Ilmu dari bapak ibu yang berbeda zaman dengan kita–yang sebagian besar masih berdasar pada “katanya”–kadang tak lagi relevan, atau bahkan terbukti tidak benar menurut ilmu yang berkembang kemudian. 

Meskipun membesarkan anak-anak berikutnya sudah lebih ada persiapan, nyatanya aku masih sering terkaget-kaget juga, hahaha. Tiap anak yang memasuki fase berbeda selalu memberi kejutan. Pada suatu masa ketika aku merasa lega karena anak sudah lepas dari fase terrible-two, kakak-kakaknya sedang memasuki fase teen dan pre-teen yang menguras emosi dan tenaga *pijat-pijat kening*

Menjadi orang tua itu tak ada sekolahnya. Indeed, kehidupan inilah yang memberi pelajaran. Salah satu hal yang kini masih terus kuusahakan adalah belajar sabar. Memiliki empat anak dengan usia berbeda yang berkelindan dengan drama masing-masing, mood kujaga benar supaya tidak terlampau lelah. Karena jika aku merasa lelah–baik fisik maupun mental–amarahku mudah sekali terpicu. Jika aku berada dalam kondisi waras, se-ambyar apa pun tingkah polah mereka bisa kuhadapi dengan kepala dingin.

Tidak ada anak yang nakal. Tidak ada anak yang dengan sengaja membuat marah orang tuanya. Yang ada hanyalah anak yang bisa jadi belum tercukupi kebutuhannya. Yang ada hanyalah orang tua yang mungkin kurang bijak bersikap. Anak adalah titipan; Allah akan meminta pertanggungjawaban kita sebagai orang tua. Di sisi lain, pahala akan mengalir deras bagi orang tua yang mampu membimbing anak-anaknya sesuai tuntunan. Maka cukuplah dalil-dalil berikut ini menjadi pengingat.

“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau doa anak yang saleh.” (H.R. Muslim).

“Sesungguhnya Allah mengangkat derajat seorang hamba yang saleh di surga, lalu ia bertanya, ‘Wahai Tuhanku, dari mana aku dapatkan semua ini?’ kemudian Allah menjawab, ‘Dengan sebab istighfar anakmu untuk dirimu.’” (H.R. Ahmad).

Berlari dengan Efektif dan Efisien

Aku sudah berlari sejak tahun 2015. Dalam kurun waktu tujuh tahun ini, ada banyak sekali ilmu berlari yang kupelajari dari teman-teman komunitas maupun dari para profesional, mulai dari bagaimana membangun training plan dan mengatur waktu untuk menyempatkan berlari di tengah kesibukan, memperbaiki heart rate dan VO2Max, memperbaiki endurance, hingga bagaimana menempuh long run mulai dari 10 km sampai 21,1 km. Selain belajar tentang ilmunya, aku juga memperoleh motivasi dan semangat yang luar biasa dari mereka.

Namun, aku merasa kemampuanku belum maksimal. Teknik berlari dan running form-ku belum optimal. Padahal hal ini sangat penting supaya dapat berlari dengan lebih efektif dan efisien. Dalam dunia lari, ada yang namanya running economy, yaitu hubungan antara konsumsi oksigen dan kecepatan lari. Sederhananya: running economy adalah efisiensi dalam mengubah konsumsi oksigen menjadi gerakan maju, dan hal ini bergantung pada banyak faktor: komposisi serat otot, fleksibilitas sendi, bentuk tubuh, dan ketahanan dalam berlari.

Selain melatih teknik berlari dan running form, seorang pelari juga harus berlatih beban. Latihan beban mencegah cedera dengan memperkuat otot dan jaringan ikat. Ini membantu kita berlari lebih cepat dengan meningkatkan koordinasi dan kekuatan neuromuskuler, juga meningkatkan efektivitas dengan mendorong koordinasi dan efisiensi langkah. Adaptasi neuromuskuler adalah kondisi di mana otak, sistem saraf pusat dan otot beradaptasi untuk menghasilkan lebih banyak serat otot dan meningkatkan frekuensi dari serat otot. Kesimpulannya, latihan ketahanan atau resistance training akan meningkatkan koordinasi di antara setiap otot dan menghasilkan lebih banyak kekuatan untuk berlari.

Hal-hal di atas adalah hal-hal yang ingin terus kupelajari dalam aktivitasku menggeluti hobi berlari. Levelku memang masih pelari rekreasi atau pelari hore, tetapi tak ada salahnya berlatih secara serius untuk meningkatkan performa. Ingin rasanya memakai jasa profesional seperti running coach atau personal trainer. Namun, kesibukan sebagai ibu dan pekerja kantoran yang terikat jam kerja membuatku cukup sulit untuk membagi waktu. Mungkin suatu saat nanti ketika anak-anak sudah lebih besar dan sudah bisa ditinggal-tinggal dengan leluasa. Insya Allah.

Menulis

Menulis adalah suaka bagiku. Lewat tulisan, aku menemukan siapa aku sebenarnya. Menulis adalah suatu aktivitas yang lebih dari sekedar merangkai huruf demi huruf menjadi seuntai tulisan bermakna. Buatku menulis memiliki arti lebih dari itu. Aku orang yang cukup pendiam, datar, cenderung menutup diri, dan tidak pernah bersikap vokal, apalagi frontal. Sejak kecil aku mengakrabi tulisan karena lewat tulisan, aku bisa mengekspresikan segala hal yang aku mau tanpa batasan-batasan rasa malu, rendah diri, atau putus asa. Dengan menulis, aku bisa mengemukakan gagasan atau pikiran menurut cara yang aku mau.

Dalam dunia menulis fiksi yang kugeluti selama ini, aku bisa menciptakan sebuah kondisi yang aku kehendaki, lengkap dengan penokohan, alur, dan ending-nya. Sedikit demi sedikit, aku mulai mengakui keberadaanku. Ternyata aku juga bisa menguasai dan mengendalikan sesuatu. Dua puluh dua buku antologi telah kuhasilkan sampai saat ini, sebagian besar adalah antologi fiksi. Namun, aku belum pernah menelurkan buku solo.

Oleh karena itu, aku ingin terus belajar menulis. Menulis novel itu butuh nafas panjang dan motivasi tiada henti. Bergabung dengan berbagai komunitas menulis, ikut dalam beragam event menulis dan proyek-proyek penerbitan buku, serta banyak membaca karya fiksi adalah beberapa cara yang kulakukan. Harapannya, kelak suatu hari nanti aku dapat menerbitkan buku solo yang selama ini draft-nya kutulis dengan tersendat-sendat.


Tulisan ini diikutsertakan dalam Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan Juli yang bertema “Hal-hal yang Ingin Dipelajari”.

Thursday, June 30, 2022

Sehari dalam Hidupku

Nulis Kompakan Mamah Gajah Ngeblog” bulan Juni 2022 mengambil tema “Rutinitas Harian Mamah”. Beberapa mamah merasa khawatir tulisan mereka akan membosankan jika bercerita tentang kegiatan sehari-hari. Ummm, sebenarnya hal itu juga menjadi kekhawatiranku hahaha. Namun, konon katanya rutinitas itu membentuk struktur. Orang yang kesehariannya terstruktur dan tersistematis, katanya cenderung lebih berhasil dalam mencapai tujuan hidup. Jadi, baiklah … mari kita tuliskan saja. Siapa tahu mengandung hal yang bermanfaat serta membawa kebaikan bagi yang menulis dan membaca.

Gambar diambil dari sini

Pagi yang Rusuh

Sebagai ibu dari empat anak yang tiga di antaranya bersekolah, bagaimana aku memulai hari tentu sudah bisa dibayangkan. Aku bukan tipe morning person, melainkan tipe night owl. Jadi, jangan berpikir aku bangun di pagi buta, menyiapkan segalanya, lalu baru membangunkan anak-anak. Seringnya justru aku bangun ketika azan subuh sudah berkumandang beberapa menit sebelumnya, kriyep-kriyep sebentar sambil menggeliat, barulah berjalan ke kamar anak-anak untuk membangunkan mereka.

Grasak-grusuk ini akan lebih terasa hebohnya ketika aku bangun kesiangan dan anak-anak terlampau susah untuk dibangunkan. Sebagai pekerja kantoran yang mengejar jam masuk kerja sekaligus jam masuk sekolah anak-anak, hal ini menjadi tantangan tersendiri. Dulu semasa kami tinggal di Bandung, hal ini tidak pernah menjadi masalah. Anak-anak berangkat dengan mobil jemputan, jadi aku tinggal mengurusi diriku sendiri. Aku bahkan masih sempat jogging sejenak sebelum berangkat kerja, mengingat jarak rumah-kantor yang cukup dekat dan bisa ditempuh hanya dalam waktu lima belas menit memakai motor.

Kini … jangan harap. Kami harus berangkat pagi-pagi sekali untuk menghindari kemacetan. Apalagi kondisi PPKM sudah melonggar dan anak-anak sekolah sudah hadir secara tatap muka. Untungnya aku tidak harus sibuk berkutat dengan urusan dapur. Soal sarapan, ada Mbak ART yang bertugas mempersiapkan. Aku memang tidak bisa dan tidak suka memasak sehingga opsi berlangganan katering adalah opsi yang aku pilih untuk membuatku tetap waras.

Ciuman Sebelum Pergi

Sebelum pandemi melanda, aku dan suamiku sudah menjalani long distance marriage selama tiga belas tahun. Aku dan anak-anak pindah ke Tangerang Selatan tahun lalu sehingga bisa tinggal seatap dengan suami. Semenjak itu, ada satu rutinitas kecil yang selalu kami lakukan sebelum aku dan suamiku berpisah untuk berangkat ke tempat kerja masing-masing, yaitu ciuman sayang di punggung tangan dan di pipi.

We embrace every moment, we don’t take it for granted … karena kami tahu betul hal itu tak bisa kami lakukan ketika kemarin-kemarin kami menjalani LDM. Oleh karena itu, menguluk salam sambil mencium tangan dan pipi sebelum pergi menjadi semacam hal wajib sekarang. Kalau tidak dilakukan, rasanya ada yang kurang, seperti misalnya kalau salah satu dari kami sudah rusuh harus berangkat sementara yang satu masih di kamar mandi, hahaha.

Pergi Bekerja

Setelah mengantar anak-anak ke sekolah mereka, aku lanjut menyetir ke tempat kerja. Aku bekerja di unit Quality Assurance pada sebuah instalasi nuklir. Dulu ketika di Bandung, instalasi nuklir itu berupa reaktor nuklir. Sekarang aku ditempatkan di instalasi pengelolaan limbah radioaktif.

Sebagai QA, tugasku memastikan penerapan dan pemenuhan terhadap standar, regulasi, dan persyaratan-persyaratan dari proses/kegiatan yang berlangsung di instalasi, mulai dari aspek keselamatan, keamanan, K3, lingkungan, hingga safeguard (keamanan sumber radioaktif dan bahan nuklir). Hari-hari yang sibuk biasanya hadir jika ada audit, inspeksi, atau pemeriksaan dari pihak yang berwenang. Pada hari-hari seperti itu, aku bisa mondar-mandir berkali-kali melayani pemeriksaan dari satu area ke area lain.

Pada hari-hari yang lebih santai, aku dan rekan kerja kadang melakukan botram, olahraga bersama, atau sekedar ngopi bareng di ruang kerja. Tak dapat dipungkiri, rekan-rekan kerja itu sudah seperti saudara. Sepertiga waktu dalam sehari dihabiskan bersama mereka. Merekalah yang bisa diandalkan dalam bermitra kerja, atau bila suatu saat terjadi kedaruratan–na’udzubillahi min dzalik. Kehangatan dan kekeluargaan itu bagiku sangat berpengaruh terhadap kenyamanan di tempat kerja.

Pulang Kerja

Sepulang dari kantor aku selalu menyempatkan diri untuk berolahraga. Karena pagi hari selalu rusuh, aku menempatkan slot waktu berolahraga pada sore hari. Kadang hal itu menjadi motivasiku untuk berangkat kerja, karena aku tahu setelah seharian bekerja aku akan menutup hari dengan mereguk endorfin dari aktivitas olahraga.

Dulu ketika di Bandung, olahraga yang kulakukan bervariasi antara senam aerobik, yoga, berlari, strength training, dan berenang. Di Tangerang Selatan aku belum menemukan studio dan gym yang cocok sehingga aku lebih banyak berlari sekarang. Jika menu lari hari itu di bawah 7 km, aku berlari di Perumahan Puspiptek dekat kantor yang relatif pendek jarak looping-nya. Namun, jika menu larinya di atas 7 km, aku memilih berlari di trek panjang Binloop–yang satu loop-nya sekitar 12 km di sepanjang boulevard Bintaro Jaya.

Jalanan Perumahan Puspiptek yang enak buat lari

Trek lari di sepanjang boulevard Bintaro Jaya


Malam Hari

Selepas petang biasanya aku baru sampai di rumah. Waktu-waktu setelah itu adalah family time. Aku mendampingi anak-anak menyantap makan malam, bermain, belajar, atau menonton televisi. Setelah anak-anak tidur, baru aku beralih ke me time.

Gambar diambil dari sini

Sambil menunggu suami pulang, aku mengerjakan hal-hal yang terkait dengan porsi pribadi. Biasanya aku membaca, menulis, atau mengaji di waktu-waktu ini. Kadang aktivitas tersebut baru selesai jauh lewat tengah malam. Yah, mau bagaimana lagi, hidup baru bisa terasa tenang jika anak-anak sudah tidur, hahaha.

Buku-buku antologiku, sebagian besar tulisannya dihasilkan di malam hari


Penutup

Sesibuk apa pun seorang ibu dalam keseharian, jangan sampai melewatkan waktu untuk menunaikan me time. Aktivitas ini bisa sangat beragam bentuknya, tergantung aktivitas apa yang paling pas untuk me-refresh mind, body, and soul.

Jika seorang ibu tidak sehat, entah itu fisik atau mentalnya, kehidupan sebuah keluarga akan menjadi timpang. Jika kondisi ibu tidak prima, bagaimana dia bisa mengurus keluarga dengan baik? Seorang ibu yang bahagia akan menghasilkan keluarga yang bahagia. Oleh karena itu, self care is not selfish. Waktu seorang ibu untuk menyeimbangkan dirinya menjadi sebuah kebutuhan. Dengan kewarasan inilah seorang ibu bisa mengutuhkan dirinya sehingga bisa memberi dengan maksimal untuk keluarga dan masyarakat.

Sunday, June 26, 2022

Manusia-Manusia Kuat

Peristiwa berpulangnya Eril akhir bulan lalu menyisakan banyak hal untuk diambil hikmahnya. Bukan hanya tentang keindahan kepribadiannya yang meninggalkan banyak kesan bagi orang-orang–baik yang mengenalnya maupun tidak–melainkan juga tentang keikhlasan, kekuatan, dan ketabahan yang ditunjukkan oleh kedua orang tuanya.

Siang tadi aku juga habis bertakziah ke rumah seorang sahabat dekat yang ditinggal berpulang pasangannya. Mereka selama ini hanya tinggal berdua karena anak tunggalnya telah meninggal bertahun-tahun silam karena sakit. Kami berpelukan lama sekali ketika aku tiba. Di balik air mata yang kadang membayang ketika kami berbincang, kurasakan kegetiran akibat kepergian suaminya yang begitu mendadak. Kejadian itu begitu berat, tetapi senyuman sudah mulai tersungging di bibirnya sedikit demi sedikit. Kurasa aku juga mulai melihat keikhlasan terpancar dari raut wajahnya.

Dalam kehidupan, seorang muslim adakalanya mengalami kondisi pelik ketika ia dihadapkan pada ujian berat, salah satunya adalah peristiwa kehilangan. Pada kondisi seperti itu, seorang muslim yang berpegang pada tali keimanan insyaallah akan merasa ikhlas dan sabar. Secara literal, ikhlas berasal dari bahasa Arab yang artinya murni, jernih, dan tanpa campuran apa pun. Sementara itu, sabar dalam bahasa Arab artinya menahan diri dari keluh-kesah. Orang yang sabar tidak gampang marah, kuat dan tabah menghadapi ujian, serta tidak mengeluh ketika menghadapi situasi sulit.

Memang tidak mudah menghibur seseorang yang sedang berduka. Kita semua akan berada pada posisi itu karena kematian adalah suatu keniscayaan yang waktunya sudah tertulis di Lauh Mahfuzh. Dengan meyakini bahwa kita tak kuasa menolak kematian, insyaallah rasa ikhlas dan sabar akan berhasil dihadirkan. Allah menjanjikan pahala dan berkah yang banyak kepada hamba-Nya yang sabar dalam menjalani kehidupan, terutama ketika mendapat musibah atau sedang dalam masa-masa yang sulit.

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (Q.S. Al-Baqarah: 155)

“Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: ‘Allah Ta'ala berfirman: Tidak ada balasan yang sesuai di sisi-Ku bagi hamba-Ku yang beriman, jika aku mencabut nyawa orang yang dicintainya di dunia, kemudian ia rela dan bersabar kecuali surga.’” (H.R. Bukhari)

Kita tidak meminta kepada Allah supaya ujian diringankan–karena bisa jadi ujian itu adalah cara kita untuk naik kelas–tetapi kita memohon supaya pundak kita dikuatkan dalam menghadapinya. Semoga kita menjadi salah satu hamba Allah yang selalu sabar dalam menghadapi setiap cobaan dan ujian dalam kehidupan. Aamiin.

Sunday, June 12, 2022

Hidup yang Berkah

Kebahagiaan itu erat kaitannya dengan keberkahan. Namun, pernahkah kita bertanya, apakah sebenarnya yang dimaksud dengan keberkahan itu? Bagaimana cara memperolehnya?

Menurut KBBI, berkah adalah karunia Tuhan yang mendatangkan kebaikan bagi kehidupan manusia. Secara bahasa, al-barakah berarti berkembang, bertambah, atau kebahagiaan. Imam An-Nawawi rahimahullah berkata, “Asal makna keberkahan ialah kebaikan yang banyak dan abadi”.

“Andaikata penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka keberkahan dari langit dan bumi. Tetapi, mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (Q.S. Al-A’raf: 96)

Beriman dan bertakwa adalah rumus hidup bahagia dan berkah. Salah satu cara untuk memperkuat keimanan dan mengejar ketakwaan adalah memperbanyak amal ibadah dan amal saleh. Lantas bagaimana korelasi antara amal saleh dengan cinta dan keberkahan? Jadi, ketika seseorang beriman dan beramal saleh, Allah akan mendatangkan rasa cinta sebagaimana firman Allah dan hadis Rasulullah berikut ini.

“Sungguh, orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, kelak (Allah) Yang Maha Pengasih akan menanamkan rasa kasih sayang (dalam hati mereka).” (Q.S. Maryam: 96)

“Apabila Allah mencintai seorang hamba maka Dia akan memanggil Jibril, ‘Sesungguhnya Allah mencintai fulan maka cintailah ia.’ Lalu Jibril mencintainya lalu Jibril berseru di kalangan penduduk langit, ‘Sesungguhnya Allah mencintai fulan maka cintailah ia.’ Penduduk langit pun mencintainya lalu diletakkan penerimaan untuknya di bumi.” (HR. Al-Bukhari no. 6040 dan Muslim no. 2637)

Rasa cinta atau rasa kasih sayang itu ditafsirkan sebagai berikut:

“Dia menjadikan untuk mereka rasa cinta di hati orang-orang mukmin.” (Zâdul Masîr fî Ilmit Tafsîr (III/148) oleh al-Hafizh Ibnul Jauzi)

“Rasa cinta di kalangan manusia di dunia.” (Tafsîr Ibnu Katsîr V/269)

Keimanan dan amal saleh seseorang akan menjadikannya disukai dan diridai Allah. Makin kuat imannya, makin besar pula cinta Allah kepadanya. Ketika Allah sudah mencintainya, Allah menyuruh Jibril agar mencintainya dan menyuruhnya mengumumkan itu kepada penduduk langit. Kemudian penduduk langit mencintainya, diikuti dengan penduduk bumi turut mencintainya pula.

Amal ibadah dan amal saleh mencerminkan manifestasi hubungan vertikal dengan Allah dan hubungan sosial dengan sesama makhluk Allah. Ketika dua dimensi ini dilakukan seutuhnya dalam kehidupan, seseorang tidak hanya menuai kebaikan di dunia, tetapi juga kebaikan di akhirat. Allah akan menumpahkan keberkahan untuknya dari langit dan bumi sehingga insyaallah kebaikan yang banyak akan tercurah baginya secara abadi.

Sunday, June 05, 2022

Kecintaan pada Allah dan Kecintaan pada Buku

Kalau bicara soal parenting, sebenarnya aku malu dan merasa tidak pantas karena aku merasa belum jadi orang tua yang baik untuk anak-anakku. Aku masih sering marah-marah, membentak, atau kurang sabar menghadapi mereka. I’m not a good parent actually, hiks.

Meskipun demikian, aku selalu berusaha melakukan yang terbaik dan selalu berusaha membekali mereka dengan ilmu dan kapasitas semampu yang aku bisa. Ada dua hal yang selalu ingin aku tanamkan pada mereka: kecintaan pada Allah dan kecintaan pada buku.

Kecintaan pada Allah

Kecintaan pada Allah adalah dasar bagi keimanan. Keimanan itu seperti benih yang tertanam menjadi tumbuhan, akarnya kuat tertanam, batangnya menjulang tinggi. Ia bukan hasil penanaman doktrin, melainkan terhunjam dalam hati karena memiliki keyakinan akan bukti yang susah terganti.

“Tidakkah kamu memperhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya kuat dan cabangnya (menjulang) ke langit, (pohon) itu menghasilkan buahnya pada setiap waktu dengan seizin Tuhannya. Dan Allah membuat perumpamaan itu untuk manusia agar mereka selalu ingat.” (Q.S. Ibrahim: 24-25)

Salah satu ciri dari keimanan yang mengakar: keimanan itu memunculkan manfaat yang tersebar ke sekelilingnya. Jika seseorang memiliki keimanan yang berasal dari cinta pada Allah, akan mudah baginya untuk mencintai agama-Nya, Rasulullah, Al-Qur’an, dan segenap hal-hal yang terkait dengan itu.

Nah, masalahnya … konsep ketuhanan ini merupakan persoalan yang abstrak untuk dipahami anak-anak, maka cara menanamkan kecintaan pada Allah kami kemas dengan bahasa anak melalui pendekatan sehari-hari. Misalnya, ketika melihat hujan turun, kami ajak anak-anak untuk memanjatkan doa turun hujan, lalu mengajak mereka berdiskusi tentang manfaat hujan dan betapa sayangnya Allah karena telah menurunkan rezeki hujan untuk makhluk-Nya.

Untuk memahamkan mereka akan konsep Allah sebagai Tuhan, kami ajak mereka untuk mengamati hasil ciptaan-Nya. Misalnya, untuk anakku yang kini sudah kelas 4 SD dan sudah mulai belajar tentang tata surya, pemahaman bahwa alam semesta ini begitu dahsyat kami gunakan sebagai kesempatan berdiskusi tentang pencipta alam semesta. Melihat alam yang luar biasa seperti itu dapat memberikan “data” bahwa Allah itu seperti apa, lalu Dia juga memiliki karakteristik yang seperti apa. Dengan memahami bahwa ciptaan Allah itu ternyata memiliki keterbatasan, anak jadi paham bahwa ciptaan itu bergantung pada Dzat yang bisa mengurus mekanismenya sedemikian rupa tanpa Dia sendiri bergantung pada sesuatu.

Tiga kaidah berpikir logis:

  • Adanya sesuatu menunjukkan adanya pembuat sesuatu.
  • Apa yang dibuat mencirikan siapa pembuatnya.
  • Tidak ada sesuatu yang sama dengan pembuatnya.

Sebagai orang-orang yang dibesarkan dengan sistem pendidikan sekolah negeri mulai dari TK hingga perguruan tinggi, aku dan suamiku merasa ada yang kurang dalam hal pendidikan agama. Bukan berarti sekolah negeri tidak baik, hanya saja kurang pas dalam memenuhi visi dan misi keluarga kami. Oleh karena itu, sejak anak-anak PG hingga SMP, mereka kami sekolahkan di institusi pendidikan yang memiliki titik tekan pada islamic character building dan leadership sebagai salah satu tujuan pembelajaran. Aspek kognitif bisa dikejar karena alhamdulillah kemampuan akademik mereka bisa dibilang bagus, tetapi pembentukan karakter akan susah dikejar jika tidak ditanamkan sejak dini. Harapan kami, jika nilai-nilai sebagai seorang muslim ini tertanam sebagai pondasi yang kuat, ke depannya mereka akan lebih tangguh memegang nilai-nilai agama dalam keseharian.

Selain ikhtiar memilihkan pendidikan yang menurut kami terbaik buat mereka, tak lupa kami juga menitipkan anak-anak kepada Sang Empunya. Allah-lah sebaik-baik penjaga dan pelindung yang akan membimbing mereka untuk tetap lurus di jalan-Nya. Kami tahu sebagai orang tua kami tidak bisa mendampingi anak-anak 24/7. Oleh karena itu, jika anak-anak paham dan sadar bahwa Allah Maha Melihat, mudah-mudahan mereka tidak terombang-ambing oleh dunia dan tetap berpegang teguh pada orientasi akhirat.

Kecintaan pada Buku

Sejak aku kecil, membaca sudah menjadi duniaku. Aku tak ingat persisnya mulai usia berapa aku gemar membaca. Namun, aku ingat jelas: masa kecilku kuhabiskan dengan menekuri lembar demi lembar majalah Bobo; komik bergambar macam Nina, Tintin, Asterix, atau Steven Sterk; komik Jepang semisal Candy Candy, Pansy, Mari-chan, atau Doraemon; novel seperti Lima Sekawan, Trio Detektif, Stop, atau Malory Towers; bahkan novel detektif karya Agatha Christie.

Anak yang minat bacanya tinggi cenderung lebih gampang menerima informasi. Tentu pengetahuan mereka juga lebih banyak. Untuk menulis, mereka tidak akan menemui kesulitan yang berarti karena perbendaharaan kata sudah beragam. Bahkan aku pernah membaca—entah di mana aku lupa—anak yang suka membaca lebih pandai dan lebih kritis, terutama dalam diskusi, dibanding dengan yang tidak suka membaca.

Karena menyadari hal-hal tersebut di atas, aku bertekad ingin selalu menimbulkan minat baca pada anak. Sejak anak sulungku berusia enam bulan, kami rutin membelikan softbook, boardbook, dan buku-buku bergambar yang lebih beraneka ragam. Aku, suami, dan pengasuh sering mengadakan sesi membaca buku. Rata-rata ketika anak-anakku berusia dua tahun, mereka sudah mulai bisa memahami jalan cerita. Biasanya setelah bercerita, kami mengajukan beberapa pertanyaan untuk menguji seberapa jauh pemahaman mereka. Kadang-kadang kami menyuruh mereka bercerita dengan kalimat mereka sendiri.

Kebiasaan membaca sudah mulai menjadi kebiasaan yang tertanam pada diri anak-anak, terutama anak sulungku yang kelihatannya paling gemar membaca dibanding adik-adiknya. Sesaat sebelum naik ke tempat tidur di malam hari, mereka akan memastikan barang-barang favoritnya sudah dibawa serta, seperti mainan kesukaan dan buku pilihan untuk malam itu. Dengan gembira mereka akan membuka-buka buku lalu bercerita tentang halaman tertentu dengan antusias. Jika minta dibacakan, mereka akan duduk manis di pangkuanku setelah sebelumnya menyodorkan buku padaku. Hmm … buah dari usahaku selama ini untuk menjadikan mereka suka membaca, alhamdulillah sudah mulai terlihat sedikit demi sedikit.

A reader lives a thousand lives before he dies, said Jojen. The man who never reads lives only one.” ― George R.R. Martin, A Dance with Dragons

Penutup

Mudah-mudahan bekal dari kami yang sedikit ini dapat meringankan langkah mereka dalam menghadapi masa depan. Pada akhirnya, pendidikan anak adalah proses untuk menjadikan mereka siap menjadi pribadi yang mandiri dan tangguh saat berpisah dengan kita, baik karena mereka keluar rumah (misalnya karena menikah, kuliah, merantau) atau karena kematian kita.

"Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar." (Q.S. An-Nisa': 9)

Tulisan ini diikutsertakan dalam Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan Juni yang bertema "Mamah dan Parenting".

Tuesday, May 31, 2022

Sepatu Hemat untuk Pelari Hore

Ketika pertama kali mulai berlari pada 2015, aku sungguh tak punya ilmu apa pun soal olahraga yang satu ini. Niat untuk berlari awalnya terbersit dari self challenge untuk menaklukkan olahraga yang dulu amat kubenci. Perasaan senang melihat keriaan suami dan teman-temanku saat berlari membawaku pada keinginan untuk ikut menjajal, syukur-syukur bisa menemani suamiku berlari ketika ada race.

Saat itu aku hanya menggunakan sepatu yang ada saja, yang belakangan kutahu merupakan sepatu training belaka, hahaha. Bergabung dengan Mamah Gajah Berlari, aku mulai mendapatkan informasi mengenai pentingnya memilih sepatu lari yang tepat. Setiap sepatu itu memiliki peruntukannya masing-masing. Bahkan dalam kategori sepatu lari pun ada beraneka peruntukan. Berdasarkan tujuan pemakaian, ada sepatu lari untuk daily training, easy run, long run, speedwork (tempo run, interval run, fartlek), race, dan trail run. Berdasarkan tipe kaki, ada sepatu lari yang netral, slim, wide, atau stability shoes untuk flat feet, high arch, supination, dan pronation.

Dalam sebuah training plan yang lengkap, menu latihan seorang pelari sebaiknya mencakup berbagai jenis latihan endurance, easy run, long run, speedwork, serta strength training. Hal ini penting karena berlari tidak sekadar berlari: ada endurance yang harus dibangun dengan long run, ada kapasitas paru-paru yang harus dilatih dengan speedwork, ada otot-otot yang harus diperkuat dengan strength training. Jadi, sudah terbayang berapa jenis sepatu yang harus dimiliki oleh seorang pelari? Hahaha.

Selain itu, memiliki lebih dari satu pasang sepatu ternyata juga sangat dianjurkan. Ketika berlari, kaki kita menerima impak tekanan yang berulang-ulang. Hal ini semakin lama akan membentuk bagaimana otot di kaki bekerja menyerap tekanan. Berlari hanya dengan satu pasang sepatu lari membuat kaki hanya terbiasa pada satu kondisi tertentu. Ketika ada kondisi yang berubah–seperti kondisi jalan, pace, stride, cadence, atau bahkan berat badan–otot di kaki tidak terbiasa dengan kondisi tersebut. Hal ini dapat menimbulkan ketidakseimbangan kekuatan otot yang membuat otot tidak maksimal menyerap impak saat berlari sehingga berisiko cedera.

Tubuh manusia sebenarnya sangat pintar beradaptasi pada berbagai kondisi. Namun, ketika hanya dilatih pada satu kondisi saja, kemampuan adaptasi tersebut bisa melambat dan respon tubuh menjadi tidak maksimal ketika dihadapkan pada kondisi baru. Menurut @runtothefinish, lari dengan sepatu yang dirotasi melatih kaki untuk merespon pada kondisi yang berbeda-beda sehingga otot kaki jadi lebih siap menyerap impak tekanan saat lari.

Sebagai pelari hore yang berusaha serius berlatih, tentu aku berusaha menerapkan kaidah di atas. Namun, kapasitasku belum seserius atlet atau sekeren pelari-pelari kece sehingga aku merasa belum perlu membeli sepatu-sepatu terbaik di kelasnya. Maklum pace masih lambat banget, malu rasanya bila membeli sepatu mahal sekelas atlet-atlet marathon kenamaan. Levelnya belum sampai situ, cuy. Hahaha. Pilihanku rata-rata jatuh pada jenis-jenis sepatu overall / all rounder, yaitu sepatu yang dapat dipakai untuk semua jenis latihan, meskipun sebenarnya ia juga memiliki kekhasan peruntukan.

Nike Free RN 2017, sepatu lari pertama yang kuperoleh dari hasil berburu garage sale

Beberapa sepatu lari yang pernah aku pakai:

  • Nike Free RN 2017
  • Hoka One One Rincon
  • Nike Epict React Flyknit
  • Adidas Ultraboost 19
  • Asics GlideRide 2
  • Nike React Infinity Run Flyknit 2
  • Hoka One One Rincon 3

Dari semua sepatu di atas, tidak semuanya cocok dan nyaman kupakai. Sampai saat ini, ada dua sepatu yang jadi favorit banget karena terasa nyaman dan plek di kaki, yaitu Hoka One One Rincon dan Nike React Infinity Run Flyknit. Pada tulisan kali ini aku ingin mengulas dua jenis sepatu tersebut, barangkali bermanfaat buat pembaca yang sedang mencari sepatu lari.

Hoka One One Rincon

Yang paling juara dari Rincon adalah harga dan bobotnya. Rincon adalah sepatu keluaran Hoka One One yang paling low budget. Rincon versi pertama berbobot sangat ringan (218 gram) dan versi terbaru (versi ketiga) malah berbobot lebih ringan lagi (210 gram). Meskipun ditujukan untuk pemakaian speed training, Rincon juga cocok untuk daily run, easy run, dan long run.

Sepatu Rincon pertamaku: warna Heather Rose

Menempuh ratusan kilometer bersama Rincon Heather Rose

Bagian atasnya cukup breathable karena materialnya menggunakan mesh upper, bagian depannya cenderung wide, tipe arch support-nya untuk tipe kaki netral, lebih cocok untuk pelari yang landing-nya bertipe forefoot/midfoot strike, dan paling cocok untuk medan road running.

Satu-satunya kekurangan Rincon adalah durability. Sol kakinya cepat sekali aus meskipun pemakaiannya normal (tidak berlebihan) sehingga lifetime mileage-nya tak akan sampai 600 km seperti sepatu kebanyakan. Aku pernah terpeleset beberapa kali ketika sedang memakai Rincon karena masih juga kugunakan meskipun mileage-nya sudah 800-an km. Yah, memang masalah yang dicari-cari sendiri ini sih karena solnya sudah aus sekali, hahaha.

Hoka One One Rincon 3 warna Blue Glass, sepatu Rincon kedua yang kumiliki

Pada akhirnya aku membeli Rincon 3 sebagai ganti, dan menurutku versi terbaru ini lebih empuk dibandingkan versi pertama. Selain lebih nyaman, konon Rincon 3 juga lebih stabil dan lebih tahan lama dibandingkan seri-seri sebelumnya.

Heel to toe drop: 5 mm

Forefoot height: 24 mm

Heel height: 29 mm

Nilai keseluruhan dari Run Repeat:

  • 90 (superb) untuk Rincon
  • 88 (great) untuk Rincon 3

Nike React Infinity Run Flyknit 2

Yang paling aku sukai dari React Infinity adalah kemampuannya untuk nge-locked kaki saat dipakai. Jadi rasanya plek banget di kaki bagaikan diselimuti. Peruntukan sepatu ini adalah untuk daily running dan long run. Tidak seperti “saudaranya” Nike Vaporfly atau Alphafly yang memang ditujukan untuk speed training dan race, React Infinity memiliki spesifikasi yang pas sekali untuk daily running: cushion-nya terasa empuk dan nyaman, lebih responsif dibanding Nike Epic React (karena lebih mentul-mentul) tetapi masih stabil untuk sekadar dipakai berjalan kaki.

Nike React Infinity Run Flyknit 2 warna Black, sepatu paling favorit

Seperti yang aku kutip dari Run Repeat: “it's not going to make you run fast, but it does offer a smooth, easy, soft and cushioned ride”. That’s why cocok buat pelari hore macam aku, yang lebih butuh sepatu yang durable dan nyaman untuk pace pelan, dan lebih suka berlatih endurance daripada speed.

Sama seperti Rincon, bagian atas React Infinity ini cukup breathable karena materialnya menggunakan knit upper, bagian depannya cenderung slim (sehingga lebih baik membeli satu nomor lebih besar dibandingkan ukuran biasa), tipe arch support-nya untuk tipe kaki netral, lebih cocok untuk pelari yang landing-nya bertipe forefoot/midfoot strike dan heel strike, serta paling cocok untuk medan road running.

Half Marathon kedua bersama React Infinity kesayangan 

Meskipun beratnya 302 gram (lebih berat daripada Rincon dan Epic React yang biasa kupakai), aku hampir tidak menemukan kekurangan lain dari React Infinity ini. Berat segitu masih bearable buatku, masih jauh lebih ringan daripada sepatu-sepatu Ad*d*s. Yes I’m a satisfied customer, hahaha. Oleh karena itu, sepatu ini adalah sepatu yang paling sering kupakai. Baru tujuh bulan, mileage-nya sudah hampir 600 km … dan solnya masih baik-baik saja.

Heel to toe drop: 7 mm

Forefoot height: 24 mm

Heel height: 33 mm

Nilai keseluruhan dari Run Repeat: 86 (great)

Baiklah, sepertinya sudah cukup yaa ulasan sepatu lari favoritku. Semoga bermanfaat. Ingat: yang penting bukan hanya sepatunya, melainkan juga konsisten latihan larinya, hehehe.

*Tulisan ini dibuat dalam rangka "Nulis Kompakan Mamah Gajah Ngeblog" bulan Mei 2022 dengan tema "Review Produk"