Showing posts with label leisure. Show all posts
Showing posts with label leisure. Show all posts

Friday, June 20, 2025

Me Time Tanpa Internet? Sudah Pasti “Membaca”!

Sejak aku kecil, membaca sudah menjadi duniaku. Aku tak ingat persisnya mulai usia berapa aku gemar membaca. Namun, aku ingat jelas: masa kecilku kuhabiskan dengan menekuri lembar demi lembar majalah Bobo; komik bergambar macam Nina, Tintin, Asterix, atau Steven Sterk; komik Jepang semisal Candy Candy, Pansy, Mari-chan, atau Doraemon; novel seperti Lima Sekawan, Trio Detektif, Stop, atau Malory Towers; bahkan novel detektif karya Agatha Christie.

Begitu senangnya aku membaca sehingga pergi ke perpustakaan, toko buku, atau tempat persewaan buku menjadi suatu agenda yang menyenangkan. Aku tak tahu pasti penyebab minat bacaku waktu itu tumbuh dengan pesat. Hal itu mungkin dikarenakan orang tuaku sering membelikan buku dan menyediakan aneka bacaan di rumah.

Beranjak dewasa, aku menyadari bahwa buku adalah jendela dunia. Aku pernah menjadi salah satu kandidat terbaik dalam seleksi yang diadakan oleh sebuah kantor surat kabar di Jakarta ketika mereka mencari calon wartawan baru. Pertanyaan dan tes yang diajukan kebanyakan tentang pengetahuan umum.

Aku yakin kegemaranku membaca rubrik pengetahuan di majalah, membaca koran, dan melihat berita di televisi, turut andil dalam hal itu. Anak yang minat bacanya tinggi cenderung lebih gampang menerima informasi. Tentu pengetahuan mereka juga lebih banyak.

Untuk menulis, mereka tidak akan menemui kesulitan yang berarti karena perbendaharaan kata sudah beragam. Bahkan aku pernah membaca—entah di mana aku lupa—anak yang suka membaca lebih pandai dan lebih kritis, terutama dalam diskusi, dibanding dengan yang tidak suka membaca.

Dulu semasa keluargaku masih berlangganan majalah Bobo, aku gemar sekali membaca serial Pak Janggut dan mengumpulkan sisipan-sisipannya, lalu dibundel menjadi kumpulan tersendiri. Beberapa koleksi buku yang cukup serius kukumpulkan dan kusimpan hingga kini adalah koleksi Tintin, serta novel-novel karya Agatha Christie, Nicholas Sparks, dan Ika Natassa.

Awal mula kecintaanku pada komik Tintin adalah karena sebagai anak kecil dengan keingintahuan yang besar tentang dunia luar, membaca komik Tintin membuatku serasa dibawa bertualang ke tempat-tempat baru. Mungkin dari komik Tintin-lah aku pertama kali membaca nama-nama tempat seperti Tibet, Kongo, dan Azerbaijan.

Novel Agatha Christie adalah novel yang pertama kubaca dan menjadi pemantikku dalam kegemaran membaca novel. Kalau tidak salah ingat, waktu itu aku duduk di kelas 5 atau 6 SD, dan “Pesta Hallowe'en” adalah novel Agatha Christie yang pertama kubawa pulang dari kios persewaan buku.

Setelah membaca hampir semua judul novelnya, lama-lama aku jadi bisa menebak cara berpikir Agatha Christie dalam menentukan siapa tokoh antagonisnya. Meskipun demikian, caranya menulis alur dan membuat penokohan selalu membuatku kagum. Sebagai penulis fiksi, aku banyak belajar dari novel-novelnya.

Membaca karya fiksi selalu menjadi kesenangan buatku, sejak zaman kecil dulu hingga kini sudah menjadi emak beranak lima. Setelah menjadi penulis fiksi (abal-abal, hahaha), membaca karya fiksi seolah menjadi kewajiban untuk menambah ilmu dan memperkaya khazanah. Supaya dapat menulis fiksi dengan baik tentu aku harus mengisi pula asupan dengan banyak membaca karya fiksi.

Saat ini dalam membaca karya fiksi, aku juga mengamati bagaimana penulis membangun unsur-unsur intrinsik seperti membangun tema, menentukan sudut pandang, menciptakan penokohan beserta karakternya, menuliskan alur, menggunakan gaya bahasa, dan memilih latar.

Ada banyak sekali novel yang menginspirasiku–tentu tak akan cukup aku bahas di sini–tetapi ada satu penulis yang novelnya cukup kaya untuk dipelajari sisi-sisi kepenulisannya. Adalah Nicholas Sparks, seorang penulis yang dikenal sebagai spesialis penulis dengan ending tragis dalam novel-novelnya, yang membuatku terkagum-kagum.

Dia piawai dalam menulis deskripsi dan menggambarkan suasana yang sangat membantu pembaca untuk membayangkan konteks cerita. Tidak hanya pada latar, tetapi juga pada bagian-bagian detail lainnya. Penggambaran selalu deskriptif mengenai apa pun dan tidak membosankan, meskipun selalu dilihat dari sudut pandang orang pertama.

Sparks selalu keren dalam menciptakan tokoh yang berkarakter. Sudut pandang orang pertama sering dipakai dalam novel. Dari segi penggambaran emosi, perasaan tokoh pun tersampaikan dengan baik. Hal ini tentu membuat pembaca ikut larut dalam cerita. Aku angkat topi untuk kemampuan Sparks menulis tentang emosi secara mendalam.

Beberapa judul novelnya tidak diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia, sehingga koleksiku tidak cukup lengkap (aku lebih suka membaca novel dalam Bahasa Indonesia). Sebagian besar novelnya bahkan tak lagi dicetak ulang oleh Gramedia. Meskipun hanya tujuh judul novelnya yang kumiliki, koleksi ini termasuk koleksi yang kuanggap sangat berharga.

Saat ini aku sedang senang membaca novel-novel Ika Natassa, satu-satunya penulis Indonesia yang seluruh judul novelnya kumiliki. Novel-novelnya bergenre romansa dan beraliran metro pop.

Novel Critival Eleven adalah novel Ika Natassa pertama yang aku baca, dan hingga saat ini masih menjadi novelnya yang paling aku suka. Novel ini menceritakan tentang konflik yang dialami oleh sepasang suami istri, Ale dan Anya, ketika rumah tangga mereka ditimpa badai besar.

Ika Natassa sangat pandai menggarap penokohan. Karakter tokoh-tokoh utama sangat kuat. Hampir semua tokohnya adalah sosok sukses dan profesional dalam hal karir, tapi ternyata secara emosi dan psikis mengalami kebingungan dan masalah dalam hal percintaan.

Narasi dalam tulisan-tulisannya mengalir dengan nyaman, dan tanpa terasa kita sudah dibawa ke akhir cerita. Banyak insight keren dan on point dalam tulisannya, yang seringkali membuatku merenungkan ulang kehidupan (percintaan).

Begitulah, me time favoritku tanpa internet memang sederhana: hanya cukup dengan membaca buku. Namun, aktivitas yang tampak sederhana ini mampu membawaku larut mojok di kamar selama berjam-jam dan somehow membawa keriaan dalam hidupku.

“A reader lives a thousand lives before he dies, said Jojen. The man who never reads lives only one.” ― George R.R. Martin, A Dance with Dragons

Tulisan ini diikutsertakan dalam Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan Juni yang bertema “Me Time Tanpa Internet”.

Monday, November 11, 2024

Kengerian dalam Keindahan

Pernah tidak, Anda merasa ketakutan sekaligus putus asa? Aku pernah. Dan kali ini aku ingin membagikan kisahnya pada Anda. Sebenarnya sudah lama aku ingin menulis tentang ini, tetapi seperti biasa … selalu tak ada waktu. Hingga akhirnya Mamah Gajah Ngeblog dengan Mamah Risna dan Mamah Ilma sebagai host, membuat tema tantangan mengenai foto dan ceritanya. Jadi, terpikirlah diriku menulis kisah yang patut dikenang ini.

Berfoto di Pasir Pete. Di hutan lereng belakang itu aku mengalami peristiwa mendebarkan.

Apa yang terlintas di benak Anda ketika melihat foto di atas? Pemandangan yang indah, bukan? Siapa sangka, keriangan ketika memulai trekking tanggal 18 Mei 2023 itu berakhir jauh dari bayangan. Jujur saja, dari 15 kali perjalananku ke Sentul, perjalanan ini adalah yang paling mendebarkan.

Pagi itu aku berangkat dari Bintaro bersama Lala dan Dhyah untuk bergabung bersama rombongan Mamah Gajah Berlari (MGB), ITB Bogor, Elang Salam, dan Gajah Salam (dua terakhir ini adalah komunitas parents Sekolah Alam Bogor yang gemar menjelajah alam). Rencananya kami akan melakukan trekking sekitar 15 kilometer menyusuri rute Pangaduan - Paniisan - Pasir Pete - Pasir Jambe - Gunung Hamerang - Paniisan - Pangaduan.

Kami memulai trekking pukul 06.24 dengan jumlah rombongan sekitar 15-20 orang, aku lupa persisnya. MGB dan ITB Bogor yang belum akrab dengan rute ini sengaja mengekor Elang Salam dan Gajah Salam yang bertugas menjadi pemandu jalan sekaligus sweeper. Awalnya perjalanan berlangsung menyenangkan. Kami sempat berhenti sejenak di Paniisan untuk menikmati kudapan di warung Mang Jajang.

Setelah Pasir Pete, perjalanan sesungguhnya dimulai. Kontur yang menukik tajam hingga ke sungai di dasar lembah menjadi salah satu turning point. Di sini salah satu rekan ITB Bogor mengalami kram kaki parah. Beberapa orang yang kepayahan dipersilakan kembali dan tidak melanjutkan perjalanan karena rute berikutnya di depan sangat menantang berupa tanjakan curam sepanjang 6-7 kilometer.

Setelah beberapa orang memisahkan diri di sungai, rombongan kembali melanjutkan perjalanan. Kami melewati Tanjakan Anton yang terjal, di sini rombongan mulai terpisah jarak sedikit-sedikit karena perbedaan pace. Secara tak sadar, rombongan terbagi menjadi tiga bagian: depan, tengah, dan belakang.

Aku berada di posisi tengah, di mana jarak dengan rombongan depan jauh, ke belakang juga jauh. Lala dan Dhyah yang kerepotan dengan medan berada di bagian belakang bersama Pak Fau, rekan Gajah Salam yang bertugas sebagai sweeper. Sebenarnya aku tidak sendirian banget, di depanku persis masih ada Akira, remaja Sekolah Alam yang gesit dan tangkas. Aku berusaha mengejar dia. Kebetulan dia memakai sepatu gunung, tapak kakinya jelas tercetak di tanah.

Lama-lama aku makin tertinggal. Aku merasa yakin sudah di jalur yang benar karena masih melihat tapak Akira terus ... sampai akhirnya aku bertemu dengan seorang petani lokal. Di sinilah titik baliknya. Aku mencoba bertanya untuk memastikan bahwa ini jalur yang benar ke Gunung Hamerang, sungguh kaget karena ternyata dia menjawab bukan.

Dia menawarkan diri untuk mengantar ke jalur (yang menurut dia) Gunung Hamerang sambil berkata, “Ini jalurnya udah lama nggak dibersihkan, jadi ketutup rumput tebal”. Sambil sangsi aku mengulang bertanya lagi, dan dia tetap keukeuh. Malah dengan tegas dia mengatakan bahwa pekan sebelumnya ada dua rombongan yang salah jalan juga sepertiku. Padahal dalam hati aku tidak yakin juga karena jalurnya penuh dengan semak-semak.

Setelah petani itu pergi, aku mencoba mengikuti jalur yang dia tunjukkan. Makin lama jalur makin hilang dan pepohonan makin rimbun. Akhirnya aku memutuskan untuk putar balik, tetapi jalan mana yang tadi kulalui pun sudah tak jelas ke arah mana. Dengan panik, aku berputar-putar tak tentu arah.

Saking tebalnya semak-semak, bahkan tanah yang dipijak pun tidak kelihatan. Ternyata aku menuju ke lereng dan beberapa saat kemudian terperosok ke bawah. Aku merasa panik sekali. Aku mencoba merambat naik karena kemiringannya curam, tetapi merosot terus. Aku berusaha menggapai sambil berpegangan pada pepohonan, tetapi tetap tidak bisa naik karena terlalu curam. Naik lagi, merosot lagi, begitu saja terus.

Beberapa kali aku tertahan merosot karena tersangkut pohon (salah satunya adalah pohon berduri yang membuat tangan dan badanku baret-baret), akhirnya aku berhenti sejenak berusaha mengatur napas. Aku mencoba berteriak-teriak juga barangkali ada orang, tetapi sunyi. Sampai di titik ini, aku sudah hampir menangis.

Aku menggapai botol minum dan minum beberapa kali, lalu mencoba berpikir. Aku memeriksa fitur track back di jam Garmin, tetapi mau mengikuti itu pun susah karena jalan tertutup semua. Ketika aku duduk di dahan pohon sambil rehat menjernihkan pikiran, sayup-sayup terdengar suara gemericik air. Akhirnya terbersit ide: kalau naik tidak bisa, mungkin aku turun ke sungai saja.

Saat berangkat tadi aku ingat kami menyeberang sungai. Siapa tahu aku bisa menemukan titik tempat menyeberang tadi. Atau kalaupun tidak, aku berharap dengan mengikuti alur sungai, aku bakal menemui kampung dan orang yang bisa ditanya. Perjalanan menuju sungai ternyata tidak gampang karena airnya bahkan tidak terlihat ada di sebelah mana. Ya sudah, aku mencoba merosot terus menembus rerimbunan lereng.

Ketika akhirnya menemukan sungai, aku langsung mencemplungkan diri. Jalur di kanan-kiri sungai tidak bisa dilalui. Satu-satunya jalan adalah masuk ke jalur air. Ketika mengecek track back di jam Garmin, arahnya sesuai dengan aliran air. Begitulah akhirnya, sekitar 1,5 kilometer aku berjalan di air.

Sungai penuh batu-batu dan pohon besar. Berkali-kali terpeleset dan terantuk batu, aku juga bermanuver melangkahi pohon-pohon besar yang melintang di sungai. Pinggang ke bawah sudah basah semua karena berkali-kali tercebur.

Saat berjalan di sungai itu aku mengirim pesan di grup Whatsapp kalau aku tersasar. Aku takut banget membuat yang lain khawatir, padahal ternyata tidak ada yang menyadari kalau aku menghilang, hahaha. Rombongan depan mengira aku bersama rombongan belakang, vice versa.

Aku mengirim pesan di sungai pukul 09.49. Sekitar pukul 11.00 lebih, aku akhirnya menemukan jalur trekking lagi, tepat di tempat di mana tadi kami menyeberang. Hampir pukul 12.00 pesanku baru terkirim di grup Whatsapp dan dibalas oleh Teh Mae dari Elang Salam. Saat itu posisiku sudah kembali menanjak, hampir sampai Pasir Pete lagi. Ternyata balasanku tak kunjung terkirim akibat susah sinyal, jadi Teh Mae tidak tahu jika aku sudah dekat Paniisan.

Di tanjakan selepas Pasir Pete, akhirnya aku bertemu Pak Azhar yang sedang mencari keberadaanku. Karena pesanku berbunyi “Insya Allah mau nyoba balik ke Paniisan”, beliau berasumsi bahwa aku pulang melewati rute berangkat tadi, yang mana 100% benar. Terlihat sekali kelegaan di wajah beliau saat beliau bilang “Alhamdulillah” dengan sangat kencang. Duh, aku jadi merasa bersalah karena sudah membuat orang lain khawatir.

Ketika aku sampai di Paniisan diiringi Pak Azhar, Lala dan Dhyah yang sedang menyantap makan siang menyambutku dengan heboh. Rombongan yang tersisa juga ikut menghampiri, sementara sebagian besar rombongan yang lain sudah pulang. Aku tak kuasa berkata-kata. Yang ada hanyalah rasa lelah secara batin dan fisik, meskipun aku lega sudah bisa kembali menemukan rombongan.

Hingga sekarang, perjalanan hari itu masih meninggalkan “sisa”. Jari tengah tangan kiriku yang waktu itu cedera karena ototnya tertarik ketika bergelantungan di pohon, masih terasa belum pulih sepenuhnya.

Moral Of The Story

Jika aku bisa memetik pelajaran, dunia pendakian bukanlah sesuatu yang main-main. Meskipun hampir semua orang memujiku karena terlihat berani dan bisa berpikir jernih untuk mengikuti alur sungai, sejatinya di atas sana aku merasa ketakutan setengah mati. Dalam masa tersasar itu aku sempat terpikir, sampai berapa lama aku bisa pulang ke rumah. Ini baru skala Sentul ya, yang “hanya” berskala bukit, belum gunung sungguhan.

Entah apa jadinya kalau aku tersasar di gunung sungguhan seperti Naomi yang hilang di Gunung Slamet selama tiga hari (anak itu sangat hebat, insting survival-nya jalan). Meskipun mengalami kisah yang mendebarkan, setelah kejadian hari itu, aku sama sekali tidak kapok. Teman-teman yang lain bahkan sampai geleng-geleng kepala ketika sesampai di rumah aku sudah mengirim pesan “next ke mana lagi kita?”, hahaha.

Yup, mungkin sudah secinta itu aku dengan trekking dan hiking. Sepanjang tahun lalu saja aku 12 kali pergi ke Sentul, dapat dikatakan hampir tiap bulan. Tahun ini frekuensinya agak berkurang, tetapi tahun ini aku berprogres dengan mendaki gunung sungguhan: Gunung Sindoro, Gunung Gede, dan insya Allah Gunung Slamet akhir bulan ini.

Beberapa hal yang mungkin dapat menjadi pembelajaran:

  • Terapkan buddy system dan pendamping rombongan dengan benar. Jika rombongan terbagi menjadi beberapa bagian, harus ada salah satu yang paham rute.
  • Jika Anda terpisah dari rombongan depan dan posisi berada di tengah sendirian sepertiku, lebih baik diam saja menunggu rombongan belakang sampai karena ada sweeper yang paham rute.
  • Trust your instinct. Jika ragu dengan jalur yang aneh, lebih baik tidak usah diteruskan.
  • Jika tersasar, jangan panik. Meskipun pada prakteknya susah, tetapi kita harus tetap tenang supaya dapat berpikir jernih.
  • Jika tersesat, ada baiknya mencari aliran sungai dan menyusurinya (dengan alasan yang sudah aku tulis di atas).
  • Beli jam Garmin yang ada fitur track back-nya. Just kidding, hahaha. Maksudku, lengkapi diri Anda dengan peralatan yang mumpuni dalam pendakian. Misal: kompas (sekarang sudah terintegrasi di smartwatch), jas hujan, logistik/perbekalan, dll. Intinya adalah peralatan yang memungkinkan Anda dapat bertahan hidup di gunung, termasuk HT untuk berkomunikasi.
  • Jangan lupa untuk senantiasa berzikir, agar kita terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan.

Tulisan ini diikutsertakan dalam Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan November yang bertema “Foto dan Ceritanya”.

Friday, May 06, 2022

Makanan Khas Kota Solo

Mudik lebaran adalah momen yang tepat untuk menuntaskan rindu terhadap berbagai kuliner khas kota kelahiran. Bagiku–yang lahir dan besar di Solo tetapi sudah dua puluh dua tahun merantau semenjak kuliah–makanan khas yang membuat kangen adalah nasi liwet, lenjongan, dan cabuk rambak. Tiga menu itu wajib dibeli saat aku mudik, bahkan untuk yang disebut terakhir itu aku hampir tiap hari membelinya, hahaha.

Makanan favorit dari kota kelahiran mungkin rasanya biasa saja bagi orang lain, tetapi sejatinya yang membuat makanan-makanan itu istimewa adalah kenangannya. Mereka sarat akan kenangan masa kecil, seperti aktivitas jajan selepas sekolah, atau simply karena yang membuatkan atau membelikannya dulu adalah orang-orang tersayang–yang bisa jadi kini telah tiada. Jadi seperti apa makanan khas Solo yang menjadi favoritku itu? Yuk kita simak.

Nasi Liwet

Penjual nasi liwet langganan. Musim lebaran begini antrinya sampai satu jam.

Nasi liwet Solo berbeda dengan nasi liwet khas Sunda, juga berbeda dengan nasi uduk–meskipun sama-sama gurih karena diolah dengan santan. Rasa gurih nasinya terasa lebih ringan dibanding nasi liwet dari daerah lain sehingga kelezatan aneka lauknya terasa lebih nge-blend. Jika nasi uduk bisa digabungkan dengan lauk kering atau tidak berkuah, nasi liwet Solo biasa disantap dengan campuran sayur labu siam, sambal goreng, opor ayam, telur pindang, dan areh santan. Areh santan inilah yang menjadi kekhasan nasi liwet Solo. Areh adalah kuah santan pekat yang dimasak lebih lama hingga mengeluarkan minyak dari santannya. Hal inilah yang menyebabkan areh lebih gurih dari sekadar santan biasa.

Ada pula lauk tambahan yang biasa ditawarkan, misalnya sayap ayam, kepala ayam, atau uritan. Uritan adalah bakal telur ayam atau telur muda yang belum berkembang di dalam perut ayam, biasa disajikan satu paket dengan usus ayam. Aku pribadi tidak terlalu suka makan uritan karena kadar kolesterolnya tinggi, hehehe. Beberapa pelengkap lain yang biasa disantap dengan nasi liwet adalah tahu, tempe, aneka satai (satai usus, satai telur puyuh, satai ati ampela, dll.), serta kerupuk.

Lenjongan

Lenjongan (gambar diambil dari sini)

Lenjongan adalah sebutan dari satu set camilan manis yang terdiri atas gendar, klepon, sawut, jongkong, gatot, getuk, tiwul, cenil, ketan hitam, ketan putih, dan gerontol. Isinya sebagian besar terbuat dari singkong, jagung, ketan, dan aneka jenis tepung sehingga mengenyangkan. Topping-nya yang berupa parutan kelapa memberikan cita rasa gurih. Meskipun demikian, manis menjadi rasa dominan lenjongan karena parutan kelapa seringkali ditaburi dengan gula pasir atau dituangi juruh (gula merah cair).

Lenjongan menjadi favorit karena menyatukan berbagai jenis rasa kudapan tradisional dalam satu wadah. Teksturnya pun beraneka ragam: ada yang lunak seperti ketan dan getuk, ada yang kenyal seperti klepon dan cenil, ada juga yang seret seperti tiwul yang biasa digunakan sebagai pengganti nasi. Lenjongan dihidangkan dengan sebuah pincuk yang terbuat dari daun pisang. Seporsi lenjongan dijual seharga Rp5.000,00 hingga Rp6.000,00.

Lenjongan tercatat sebagai Warisan Budaya Tak Benda oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia pada tahun 2020. Jajanan ini telah ada sejak zaman penjajahan Belanda dan tak pernah lekang oleh waktu hingga kini. Buatku pribadi, lenjongan menyimpan banyak memori masa kecil sebagai camilan yang kerap dibeli ketika menemani ibu atau nenekku berbelanja di pasar.

Cabuk Rambak

Penjual cabuk rambak langganan yang saus wijennya paling pas di lidah.

Selain lenjongan, jajanan khas Solo yang menjadi kesukaanku adalah cabuk rambak. Makanan ini dulu dijajakan berkeliling oleh penjualnya—biasanya ibu-ibu berjarik—dengan menggendong bakul. Meskipun sudah mulai langka, makanan ini masih bisa ditemukan di pasar dan pusat jajanan tradisional. Cabuk rambak dibuat dari irisan ketupat yang kemudian disiram dengan saus yang terbuat dari wijen dan kelapa sangrai. Pelengkapnya adalah kerupuk gendar yang biasa disebut karak. Harga satu porsi cabuk rambak bervariasi antara Rp5.000,00 hingga Rp7.500,00.

Cabuk rambak yang murah meriah ini dulu menjadi jajanan kesukaanku semasa sekolah. Dengan uang saku yang pas-pasan, membeli cabuk rambak adalah salah satu trik supaya tetap kenyang hingga waktu pulang sekolah tiba. Meskipun sering diejek sebagai makanan rakyat jelata karena miskin gizi, cabuk rambak selalu menjadi makanan incaran yang wajib dibeli kala aku mudik ke Solo.


Tulisan ini diikutsertakan dalam Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan Mei yang bertema "Makanan Khas Kota Mamah".

Monday, May 31, 2021

Kewarasan Ibu

Pernah mendengar kutipan “jadi ibu tidak boleh sakit”? Kutipan tersebut menggambarkan dengan tepat bagaimana peran seorang ibu dalam keluarga. Kita sudah sering menyaksikan betapa hebatnya seorang ibu mengurus keluarga dan mengurus rumah. Dengan tangannya yang serba bisa, ibu mengurus keperluan suami dan anak, menyiapkan makanan, mencuci, menyetrika, membersihkan rumah, dan kadang masih sibuk dengan urusan karir atau urusan sosial di masyarakat. Dengan kondisi yang seperti itu, kesehatan dan kewarasan ibu menjadi sangat penting. Karena jika seorang ibu tidak sehat, entah itu fisik atau mentalnya, kehidupan sebuah keluarga akan menjadi timpang.

Jika kondisi ibu tidak prima, bagaimana dia bisa mengurus keluarga dengan baik? Seorang ibu yang bahagia akan menghasilkan keluarga yang bahagia. Oleh karena itu, self care is not selfish. Waktu seorang ibu untuk menyeimbangkan dirinya menjadi sebuah kebutuhan. Hal ini memerlukan dukungan dari pihak internal keluarga: yang paling dekat tentu suami dan anak-anak, atau bisa juga dari kerabat. Namun, ketika dukungan pihak internal tidak ada—misalnya karena suami sibuk bekerja—para ibu bisa beralih mencari dukungan eksternal seperti daycare, asisten rumah tangga,  atau pengasuh untuk “kabur” sejenak dari rutinitas domestik.

Terkait dukungan internal, aku sangat mengapresiasi para suami yang memberi kesempatan istrinya untuk recharge diri, entah itu sekadar menjalankan hobi di dalam rumah atau pergi ke luar rumah untuk refreshing. Lebih penting daripada itu, selain menyediakan waktu untuk meng-handle urusan domestik kala istrinya sedang tidak ada, aku juga memberi sepuluh jempol untuk para suami yang memiliki kepekaan tinggi mengenai kapan istrinya membutuhkan me time. Aku punya seorang teman yang suaminya sangat memahami dia: ketika dia mulai rungsing karena mood-nya jelek, suaminya segera mengambil alih urusan rumah dan anak-anak, lalu mempersilakan temanku ini untuk mengambil me time. Tindakan seperti ini mungkin terasa sederhana, tetapi sejatinya berperan besar dalam menumbuhkan cinta dan keharmonisan rumah tangga.

Lalu bagaimana dengan aku? Seperti apa me time yang biasa kulakukan? Dan dukungan seperti apa yang kudapatkan? Aku memang cenderung tidak bisa diam dan senantiasa sibuk beraktivitas sejak zaman mahasiswa dulu. Ketika sudah berkeluarga, kebiasaan untuk hidup aktif tidak pernah memudar. Seperti yang pernah kuceritakan di sini, dukungan suami justru memberi andil untuk mendorongku berperan aktif di luar rumah dan melakukan hobi yang aku suka. Me time yang biasa aku lakukan tentu berkisar di seputar kegiatan berolahraga, hahaha … sebut saja senam aerobik, yoga, berlari, hingga fitness di gym. Sementara hobi yang sering aku lakukan ketika diam di rumah adalah menulis—kebanyakan adalah karya fiksi.

Selain suami yang bersedia dititipi anak-anak ketika aku berolahraga, dukungan luar biasa juga aku dapatkan dari tanteku dan pengasuh. Merekalah yang sehari-hari ketempuhan untuk menjaga dan mengawasi anak-anak ketika aku bekerja. Jujur … aku tak bisa membayangkan bila mereka tak ada. Momen ketika pengasuh mudik biasanya menjadi momok tersendiri. Don’t get me wrong, aku sangat menikmati kebersamaan dengan anak-anak. Hanya saja … ketika pengasuh tidak ada, urusan empat anak sungguh menyita waktu dan membuatku tak bisa meluangkan waktu untuk me time, bahkan sekadar berolahraga sebentar ke luar rumah.

Aku menyadari, sesungguhnya diri ini tidak ada apa-apanya bila tidak ada dukungan dari orang-orang terdekat. Kesempatan untuk melejitkan potensi tidak akan bisa dilakukan kalau tidak ada kewarasan diri. Dengan kewarasan inilah seorang ibu bisa mengutuhkan dirinya sehingga bisa memberi dengan maksimal untuk keluarga dan masyarakat. Semoga amal kebaikan suami, anak-anak, tanteku, dan pengasuh dalam mendukung kewarasanku memperoleh balasan kebaikan dari-Nya, dan membawa keberkahan dalam keluarga kami.

Thursday, October 20, 2016

Bread Maker Merk Re-Bread

Beberapa bulan lalu, di salah satu grup emak-emak yang aku ikuti, ramai perbincangan mengenai Re-Bread. Bread maker ini ngehits di kalangan emak-emak karena katanya roti yang dihasilkan bisa lembut dan penggunaannya mudah. Karena aku dan anak-anak sangat menggemari roti, langsung muncul keinginan untuk membelinya. Apalagi di waktu senggang aku memang sangat suka membuat kudapan semacam cake dan roti.

Untuk memastikan roti yang dihasilkan memang benar enak dan lembut, aku mencoba membeli produk jadi yang ditawarkan oleh seorang ibu di grup, yang kebetulan memang menjadi agen produk ini. Beliau sudah banyak membuat roti dari alat ini, dan penerimaan pasar cukup antusias karena rotinya bervariasi dan enak-enak semua. Di bawah ini adalah ragam roti buatan beliau yang aku ambil dari sini.



Setelah yakin dengan kelezatan roti hasil Re-Bread, aku memutuskan membeli alat ini akhir September lalu, saat distributor resminya mengadakan promo buy 1 get 1 (maksudnya: beli satu Re-Bread akan mendapat gratis satu Re-Ice, alat pembuat salad dan es krim). Re-Bread yang kupilih adalah tipe RB 250, karena memiliki menu yang paling banyak. Terdapat 22 menu untuk pilihan berkreasi, di antaranya: roti, kue, yoghurt, ketan uli, selai buah, tape ketan, bubur ayam, bubur kacang hijau, dll. Jenis roti yang bisa dibuat juga sangat beragam, mulai dari roti tawar, roti manis, roti lembut, roti gandum, roti tanpa gula, roti oatmeal, roti susu, roti unyil, donat, dsb.

Re-Bread tipe RB 250, gambar diambil dari sini

Kelengkapan Re-Bread, gambar diambil dari sini

Beberapa menu yang sudah kubuat dengan Re-Bread adalah roti keju, donat, dan roti sosis. Memang betul tekstur rotinya lembut dan mengembang dengan baik. Supaya lebih mantap rasanya, air dalam resep di buku kuganti menjadi susu cair dan margarin kuganti menjadi butter. Sayang aku belum punya pisau roti yang bergerigi sehingga hasil potongan roti dalam bentuk loaf itu menjadi mleyot-mleyot tidak karuan hehehe.

Roti keju

Enaknya bikin roti sendiri adalah bisa kasih isian keju suka-suka sampai full begini :)

Donat menul-menul baru keluar dari penggorengan. Belum dikasih topping, tapi dimakan gini aja udah enak. Fluffy dan lembut.

Malam-malam bikin donat 19 biji, digoreng sebelum tidur. Rencananya buat bekal sekolah anak atau cemilan kalau busui ini tiba-tiba kelaperan tengah malam. Pagi-pagi bangun lihat donatnya tinggal 5 biji aja dong. Kalah cepet sama anak-anak. Alhamdulillah lakuuuu.

Roti sosis

Friday, May 16, 2014

Jadi Instruktur Senam Aerobik

Beberapa tahun lalu saat membuat buku impian, aku menyertakan dalam wish list-ku, keinginan untuk memiliki studio senam sendiri. Jadi gambaranku waktu itu, ingin memiliki semacam one stop center untuk perempuan. Ada salon untuk perawatan, ada butik untuk belanja outfit, dan ada studio senam untuk menjaga kebugaran. Yah namanya impian, muluk sedikit boleh kan, toh gratis ini hehehe. Bagi yang mengenalku secara personal, pasti tahu sekali kalau aku hobi senam aerobik. Pernah aku tulis juga di sini dan di sini.

Nah, jadi kegemaranku bersenam aerobik ini membuatku ingin sekali memiliki studio senam sendiri, entah bagaimana caranya belum terbayang. Alhamdulillah awal tahun ini, orang tuaku membeli sebuah rumah tepat di belakang rumahku, yang memang sudah kami incar sejak lama. Sampai saat ini rumah tersebut sengaja dikosongkan tanpa perabotan, dan orang tua yang menitipkan rumah tersebut di bawah pengawasan kami, mengizinkan rumah itu dipakai untuk kegiatan positif seperti pengajian atau arisan. Dan tentu saja, bisa dipakai untuk mengadakan kelas senam aerobik! Dengan beberapa catatan dari orang tua kami, tentu saja *meringis*

Ruang utama yang digunakan untuk senam

Jadiiii.. sejak 2,5 bulan lalu aku resmi mengundang ibu-ibu kompleks untuk bersenam aerobik setiap hari Minggu pagi di rumah yang menjelma studio senam jadi-jadian ini. Sekedar info, dulu di kompleks kami memang ada senam bersama dengan instruktur dari luar, senamnya outdoor dan diikuti oleh ibu-ibu maupun bapak-bapak. Belakangan pesertanya berguguran, dan akhirnya senam dihentikan karena dianggap membuang-buang uang kas kompleks dengan jumlah peserta yang tidak signifikan untuk ukuran senam bersama secara outdoor. Jadilah ibu-ibu yang memang hobi senam mencari pelarian dengan mengadakan kelas senam sendiri, indoor di rumah salah seorang ibu yang juga seorang instruktur. Setelah ibu itu jarang berada di kompleks dan rumahnya ditempati anaknya, otomatis kegiatan senam ibu-ibu kompleks berhenti. Alhamdulillah bisa diinisiasi kembali di rumahku (thanks to my parents) dengan peserta yang lebih banyak daripada sebelumnya.

Nah, mengapa indoor dan eksklusif hanya untuk ibu-ibu? Pertama, karena tempatnya mungil hehehe. Yaa namanya rumah biasa, sebanyak-banyaknya peserta paling-paling hanya bisa menampung sepuluh orang. Kedua, karena ada gerakan-gerakan senam pembentukan (body language) untuk pembentukan perut, pantat, dan paha, yang gerakannya agak-agak gimana gitu jika dilihat oleh bapak-bapak. Ketiga, supaya ibu-ibu bebas memakai pakaian apa saja tanpa merasa risih dilihat oleh orang lain yang bukan mahram.

Alhamdulillah dengan pedenya aku menjadi instruktur untuk kelas senam ini. Pede karena sudah mengikuti kelas senam aerobik selama lebih dari sembilan tahun, dan pernah menjadi instruktur atau asisten instruktur di tempat lain. Meskipun demikian, aku belum tersertifikasi sama sekali, jadi jangan berharap lebih ya. Level-nya cuma instruktur amatiran ehehehe. Senam di rumah ini sepenuhnya gratis, karena selain instrukturnya jadi-jadian, aku sudah cukup senang hanya dengan melihat betapa rajinnya ibu-ibu ini menghadiri kelasku. Menularkan kegemaran berolahraga dan melihat mereka berkomitmen melaksanakannya sudah menjadi kebahagiaan tersendiri di hatiku. Bahagia rasanya melihat orang-orang yang mau berusaha menjaga kesehatan dan kebugaran dengan kesadarannya sendiri, bahagia rasanya melihat orang-orang peduli terhadap badannya sendiri dan menunaikan hak tubuhnya untuk berolahraga, bahagia rasanya melihat orang-orang saling menjaga suhu yang sama dalam satu komunitas olahraga bersama. It’s so precious.

Oh iya, terkait dengan mengajar senam aerobik, sebenarnya ada juga tawaran dari beberapa teman untuk mengajar di lingkungan mereka. Tawaran itu dengan serta merta ditolak mentah-mentah oleh suamiku, alias tidak diberi izin. Kata dia, setelah lima hari kerja beraktivitas di luar rumah, masa iya pas akhir pekan waktunya masih dipakai keluar rumah? Mungkin karena kami menjalani LDR dan cuma bertemu saat weekend, jadi dia ingin akhir pekan itu eksklusif untuk family time. Yo wis, manut saja. Mengajar senam di rumah belakang mah tidak dikategorikan pergi keluar rumah, jadi masih boleh *kecup suamiku hehe*

So ladies, mau ikut bergabung? Monggo, silakan berkunjung ke rumah yaa :)

Monday, April 28, 2014

The Wind in the Willows

Ada perasaan girang yang membuncah di hati ketika kemarin malam tertambat di bazaar buku Gramedia PVJ. Iseng-iseng mampir melihat plang diskon, lalu tiba-tiba mata tertumbuk pada sepotong buku kecil yang membawa pada nostalgi tak bertepi. The Wind in the Willows, judul buku itu. Seketika memori kembali pada masa ketika umurku sembilan tahun.

Sampul depan

Sampul belakang

Ilustrasinya sederhana, lebih banyak narasinya

The Wind in the Willows is a classic of children's literature by Kenneth Grahame, first published in 1908. Alternately slow moving and fast paced, it focuses on four anthropomorphised animal characters in a pastoral version of England. The novel is notable for its mixture of mysticism, adventure, morality, and camaraderie and celebrated for its evocation of the nature of the Thames valley.

Main characters

  • Mole: A mild-mannered, home-loving animal, and the first character introduced. Fed up with spring cleaning in his secluded home, he ventures into the outside world. Initially overawed by the hustle and bustle of the riverbank, he eventually adapts.
  • Ratty: Ratty (actually a water vole) is cultured, relaxed and friendly, with literary pretensions and a life of leisure. Ratty loves the river and takes Mole under his wing. He is implied to be occasionally mischievous and can be stubborn when it comes to doing things outside his riverside lifestyle.
  • Mr. Toad: The wealthy scion of Toad Hall who inherited his wealth from his late father. Although good-natured, kind-hearted and not without intelligence, he is also spoiled, conceited, and impulsive. He is prone to obsessions and crazes (such as punting, houseboats, and horse-drawn caravans), each of which in turn he becomes bored with and drops. His motoring craze eventually sees him imprisoned for theft, dangerous driving and gross impertinence to the rural police. Several chapters of the book chronicle his daring escape from prison.
  • Mr. Badger: Gruff and solitary, who "simply hates society", Badger embodies the "wise hermit" figure. A friend of Toad's late father, he is uncompromising with the disappointing Toad yet remains optimistic his good qualities will prevail. He lives in a vast underground sett, part of which incorporates the remains of a buried Roman settlement. A brave and a skilled fighter, Badger helped clear the Wild Wooders from Toad Hall with his large cudgel.

Dikutip dari sini.


Waktu itu Papi pulang dari Canada setelah menempuh studi magister selama tiga tahun lebih. Oleh-oleh yang paling kusuka adalah buku anak-anak dalam Bahasa Inggris yang ilustrasi gambarnya bagus sekali. Ada beberapa judul, yang paling kuingat adalah The Wind in the Willows dan Pinocchio. Sisanya adalah buku nonfiksi semacam ensiklopedia. Sejak aku duduk di bangku TK, membaca adalah duniaku. Waktu itu kemampuan bisa membaca ketika TK adalah prestasi tersendiri, karena rata-rata anak zaman itu memang baru bisa membaca setelah masuk SD. Setiap hari lembar buku-buku itu kubolak-balik, tentu tanpa dapat memahami ceritanya. Hanya menikmati ilustrasinya sembari berimajinasi menyusun alur kisahnya. Yup, benih-benih kecintaanku pada dunia fiksi memang tersemai sekitar usia ini. Membaca dan membaca, lalu kadang-kadang menulis cerpen atau puisi. Aku bahkan memiliki beberapa buku kumpulan cerpen yang kubuat dengan tulisan tangan atau mesin ketik.

Lewat perkenalan dengan buku-buku beda bahasa itu juga, aku mulai tertarik mempelajari Bahasa Inggris. Minat yang kemudian berubah menjadi kesukaan, hingga lembar kerja dari tempat kursus sudah dilahap habis bahkan sebelum sang guru meminta. Tiada hari tanpa membuka kamus Bahasa Inggris, membaca satu demi satu kata sambil manggut-manggut memahami artinya.

Ketika akhirnya kartun The Wind in the Willows muncul di televisi (aku tak begitu ingat kapan tepatnya, yang jelas sebelum aku lulus SD), aku sudah akrab dengan kisah fabel empat tokoh utamanya: Mole, Ratty, Mr. Toad, dan Mr. Badger ini. Dua puluh tahun kemudian, semua ingatan tentang masa kecil itu mendesak-desak keluar dari benak ketika aku menemukan buku legendaris ini di rak Gramedia. Dengan diskon sebesar 40% dan sampul buku hardcover, mustahil rasanya bila aku tak membawa buku ini pulang. Sambil menenteng beberapa buku fiksi karya penulis kelas dunia yang lain, aku menyungging senyum di bibir. Berasa menemukan harta karun, sekaligus kembali merasai kehadiran Papi di sisi.

Thursday, March 20, 2014

Berkah S2

Mengambil S2 mungkin adalah keputusan yang tak akan pernah kusesali sepanjang hidup, meskipun dulu awal-awal mendapat beasiswa dari kantor, aku sempat gamang. Ya, gamang karena asal mula ikut seleksi beasiswa adalah karena iseng. Dan ketika iseng itu membuahkan hasil lolos, aku “terpaksa” harus mendaftar S2. Kemudian ketika lulus seleksi S2 dan berhasil masuk ke almamaterku, nyaliku menciut karena takut. Takut tak bisa mulus menjalani studi, mengingat berdarah-darahnya aku ketika S1 dulu *lebay hehehe. Kali ini aku ingin bercerita tentang keberkahan yang aku rasakan karena mengambil S2.

Menurut beberapa sumber yang aku baca, berkah adalah bertambahnya kebaikan. Berkah tidak selalu identik dengan jumlah. Di dalam kamus Arab, berkah memiliki arti pertumbuhan atau pertambahan kebaikan. Berkah dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008:179) yang masuk dalam kelas kata nomina memiliki arti ‘karunia Tuhan yang mendatangkan kebaikan bagi kehidupan manusia’. Sedangkan kata berkat dalam KBBI Pusat Bahasa, memiliki empat makna, masing-masing adalah 1. karunia Tuhan yang membawa kebaikan dalam hidup manusia; 2. doa restu dan pengaruh baik dari orang yang dihormati (guru); 3. makanan dan sebagainya yang dibawa pulang sehabis kenduri; 4. mendatangkan kebaikan atau bermanfaat (2008:179-180).

Ada pula yang mengartikan berkah dengan kalimat ‘dapat melakukan hal yang banyak dalam waktu yang sempit’ atau ‘mendapatkan kebaikan lebih banyak dari takaran yang semestinya’. Apapun artinya, berkah yang kumaksud meliputi semua arti di atas.

Berkah S2 pertama yang sangat kusyukuri adalah mendapat teman-teman seperjuangan yang sangat baik, pengertian, dan menyenangkan. Bersama teman-teman ini, mengerjakan tugas tak pernah menjadi beban. Menjalani hari-hari kuliah dengan gelak tawa, saling bantu ketika yang lain kesulitan. Maha Suci Allah yang mempertemukan aku dengan pertemanan seperti ini, hingga studi tak terasa dijalani sendiri, melainkan full support. Entah apa jadinya studiku bila tak kulakukan bersama bantuan mereka. Miss you a lot, guys!
 
Beberapa momen bersama teman-teman seangkatan. Kiri atas: diskusi selepas kuliah menjadi santapan sehari-hari.

Berkah kedua adalah waktu luang yang kudapatkan untuk mengurus anak. Aku melahirkan Dek Abi ketika perkuliahan menginjak semester satu. Kondisi studi yang fleksibel—tak seperti jam kantor—membuatku leluasa memberi ASI, terutama ketika enam bulan pertama, hingga membuat Dek Abi menjadi bayi ASI yang nemplok banget sampai hari ini. Kemudian masih leluasa pula untuk mengatur menu dan memasak MPASI untuk Dek Abi pada bulan-bulan berikutnya. Tak lupa juga leluasa mengantar jemput Hanif ke sekolah dan sesekali mengiringinya dalam kegiatan outing ke beberapa tempat.

Berkah ketiga adalah kelonggaran waktu untuk melakukan olahraga sepuasnya. Senam aerobik yang dulunya aku lakukan dua kali seminggu, frekuensinya bertambah menjadi 3-4 kali seminggu. Kemudian aku juga sempat mengikuti kelas pilates selama 20 kali pertemuan, yang sedikit banyak berpengaruh positif terhadap skoliosisku. Lalu aku mengikuti kelas yoga seminggu sekali dan merutinkan berenang seminggu sekali. Juga masih sempat bersepeda beberapa kali dalam seminggu. Ahh nikmatnya hidup ketika kita bugar beraktivitas sepanjang hari. Tak hanya sehat yang didapat, ketika olahraga yang disukai dilakukan, tubuh juga akan mengeluarkan hormon endorfin yang membuat kita lebih bahagia.

Berkah berikutnya adalah kesempatan yang terbuka untuk aktif dalam berbagai kegiatan komunitas. Karena waktu kuliah yang longgar, aku berkesempatan aktif ikut banyak seminar dan pelatihan parenting dari berbagai pihak. Ini keberkahan yang luar biasa dalam mencari ilmu mengenai pengasuhan dan pendidikan anak. Jadi ilmu dari bangku kuliah bertambah, ilmu sebagai orang tua juga bertambah. Lewat kesempatan itu pula aku berkenalan dengan Bunda Rani dan Komunitas Cinta Keluarga (KCK), yang membuatku merasa menemukan supporting system yang baik dalam menjalani dunia parenting. Hal ini diikuti pula dengan terlibatnya aku dalam penyelenggaraan seminar dan pelatihan mengenai parenting dan kesehatan anak.

Bersama Bunda Rani dan teman-teman KCK saat launching Gerakan Bandung Cinta Keluarga di Sabuga

Selain itu aku juga aktif di Masyarakat Skoliosis Indonesia (MSI) cabang Jawa Barat. Komunitas penggiat skoliosis ini berperan sebagai pusat informasi skoliosis dan sebagai wadah pemersatu bagi penyandang dan pemerhati skolisosis di Indonesia, khususnya Jawa Barat. Visinya mulia sekali, yaitu meningkatkan kualitas hidup penyandang skolisosis. Lewat MSI aku bertemu dengan orang-orang yang luar biasa. Serasa menemukan saudara senasib sepenanggungan di sini. Kami bersama-sama mengadakan kegiatan, baik yang lingkupnya kecil seperti pertemuan kopdar untuk sharing, berbagi informasi, nonton film atau jalan-jalan bersama, maupun yang lingkupnya lebih besar seperti talkshow di radio, seminar, atau penggalangan dana untuk operasi skolioser yang tidak mampu.

Maka ketika tugas belajarku resmi berakhir minggu ini, ada rasa senang sekaligus sedih. Senang karena sidang tesis telah terlampaui dengan baik, sekaligus sedih karena aku kehilangan keleluasaan waktu untuk hal-hal yang aku sukai. Well, suatu tanggung jawab yang telah selesai di satu tempat memang menuntut tanggung jawab baru di tempat lain. Harapanku: seiring dengan mulai aktifnya aku bekerja kembali, aku tidak kehilangan waktu untuk mengembangkan diri agar bisa menjadi orang tua yang baik, juga tidak kehilangan waktu untuk melakukan aktivitas sosial di masyarakat. Masih ada satu mimpi yang belum sempat kulakukan semasa studi, yaitu mengikuti pelatihan untuk menjadi konselor laktasi. Semoga Allah masih memberiku kesempatan untuk melakukan kebaikan-kebaikan yang bermanfaat bagi orang banyak. Aamiin.

Friday, February 04, 2011

Line Dance


A line dance is choreographed dance with a repeated sequence of steps in which a group of people dance in one or more lines or rows without regard for the gender of the individuals, all facing the same direction, and executing the steps at the same time. Line dancers are not in physical contact with each other. (dikutip dari sini)

Akhirnya aku belajar dance juga :D

Seperti yang pernah aku tulis di sini, dari dulu memang sudah terasa betapa aku begitu menyenangi bergerak dengan iringan musik. Jauh sebelum aku kecanduan senam aerobik, dance sudah menjadi obsesiku. Hanya saja, belum pernah kesampaian untuk belajar dance. Lagipula dance itu kan banyak macamnya.

Lalu mengapa memilih line dance? Yah, kebetulan bertemunya sama komunitas itu, hehe. Pada awalnya ketika ada yang mengajak, aku masih belum terbayang line dance itu seperti apa. Setelah ikut, ohh... ternyata dance yang seperti itu. Bagi yang belum tahu, poco-poco sepertinya bisa juga dikategorikan sebagai line dance, jadi kurang lebih seperti itulah. Gerakan line dance tidak terlalu memerlukan stamina tinggi. Meskipun demikian, sama seperti senam aerobik, line dance memerlukan fokus dan konsentrasi tinggi untuk menghafal gerakan dan mengulangnya terus menerus. Untuk bagian hafal menghafal, aku tidak menemui kesulitan berarti. Sekali dua kali diulang aku sudah bisa mengikuti dan menghafalnya.

Hanya saja, karena basic dan background-ku adalah senam aerobik yang terbiasa bergerak dengan power, lompatan, dan kelincahan, ternyata aku mengalami beberapa kendala untuk menyesuaikan dengan “adab” line dance. Berkali-kali instrukturnya mengingatkanku, “jangan diangkat kakinya”, “jangan lompat-lompat”... heuheu... Yah, mau bagaimana lagi. Gerakannya sama, adabnya beda. Sama-sama chacha, kalau di senam aerobik harus diangkat kakinya dengan power, kalau di line dance kita mesti bergerak halus. Melangkah pun tak boleh terlalu lebar, sementara di senam aerobik: makin bertenaga makin bagus, makin lebar lompatannya makin bagus. Harus menyesuaikan, dan berkali-kali harus mengingatkan diri sendiri supaya tidak lompat-lompat karena tidak sedang berada di kelas senam aerobik, hehehe..

Pada sesi line dance yang kuikuti kemarin, instrukturnya ada dua: satu laki-laki dan satu perempuan. Instruktur yang laki-laki ini mengingatkanku pada Rudi Wowor yang sama-sama dancer juga. Sementara instruktur yang perempuan, tipe ibu-ibu akhir 40-an yang mewakili kaum sosialita: cantik, tahu bagaimana berdandan dan bergaya, wangi, dan tentu saja perokok.

Harus kuakui, line dance seperti ini merupakan santapan ibu-ibu kelas menengah ke atas. Peserta yang datang rata-rata tajir, bermobil, dan tipe ibu-ibu arisan yang bukan pekerja. Mereka biasanya datang berkelompok, dengan dandanan cantik berwarna-warni, yang tentu bukan merupakan kelompok ibu-ibu pengajian. Bahkan ada satu kelompok yang sangat bertipe sosialita. Suka sekali melihat mereka karena ibu-ibu berumur ini cantik-cantik dan gaya, tapi yang membuat sebal adalah karena banyak di antara mereka yang perokok. Di sesi kemarin, aku beberapa kali terbatuk-batuk karena baik instruktur maupun sebagian peserta sukses membuat ruangan penuh dengan kepulan asap rokok.

Kalau mau disimpulkan, line dance jelas berbeda dengan senam aerobik. Maksudku bukan pada gerakannya—kalau yang ini sih sudah jelas—tapi lebih kepada fungsi dan kedudukannya. Kita pergi senam aerobik agar bugar dan langsing, tujuannya lebih ke kesehatan. Tapi untuk line dance, orang melakukannya demi pergaulan dan untuk having fun. Bisa saja menjadi bugar, tapi itu bukan tujuan utama. Khusus untukku, aku masih menimbang-nimbang apakah akan melanjutkan belajar line dance atau tidak. Asyik sih, tapi rasanya aku lebih tertarik ke jenis dance yang lebih dinamis macam salsa atau latin dance. Dan jelas, senam aerobik tetap yang paling menarik. Teuteupp, hehehe...

Gambar: diambil dari sini.

Monday, January 03, 2011

Belajar Seluncur Es

Seumur hidupku, aku belum pernah menjajal arena seluncur es. Jangankan sepatu luncur, sepatu roda saja, baik yang roda empat maupun yang in-line-skate, aku belum pernah. Jadi coba bayangkan saja penampilan perdanaku masuk ke arena seluncur es pada libur natal yang lalu.

Tiket masuk ke Gardenice, Paris Van Java ini 75 ribu rupiah per orang. Aku masuk berdua adikku, sementara anggota keluarga yang lain duduk-duduk di pinggir arena. Hanif kutitip ke ayahnya, bundanya mau main dulu :)

Karena belum bisa sama sekali, kami memilih menyewa coach dengan tarif 60 ribu per setengah jam. Sayangnya jumlah coach ini terbatas, baru ada yang bebas sejam setelah kami masuk. Bermain di arena ini tidak dibatasi waktu, kami mencoba berlatih sendiri sambil menunggu para coach datang. Yaa gitu deh, pakai acara jatuh-jatuh hihihi.

Ketika akhirnya sesi latihan dengan coach dimulai, aku sudah berhasil belajar berdiri stabil. Sudah bisa berjalan sedikit-sedikit. Sesi latihan awal adalah berjalan melangkah sambil mengangkat kaki. Lalu dilanjutkan dengan menggeser sepatu luncur satu-satu. Baru kemudian belajar meluncur dengan jarak luncur agak jauh. Tentu pakai acara jatuh-jatuh dan berkali-kali dibantu berdiri sama si coach ini.

Jangan dibayangkan sesi latihannya romantis seperti di film-film. Kita kan sering lihat tuh, ada adegan romantis ketika pacaran di arena seluncur es *wah, kebanyakan nonton dorama nih*. Pas jatuh pegangan tangan, pandang-pandangan, lalu ada lagu romantis. Boro-boro, yang ada juga si coach ini nyolot banget. Ngajarinnya pakai komentar bernada meremehkan, “gitu aja nggak bisa”, bla bla bla. Damn, I wanted to slam his face ketika dia ngetawain aku jatuh :(

Pada akhirnya, aku lega banget ketika sesi latihan berakhir. Baru bisa sedikit. Meluncur saja belum lancar. Tapi lega karena akhirnya berpisah dengan si coach nyolot. Sayangnya ketika akan mencoba berlatih sendiri, pengunjung disuruh keluar karena arena akan di-resurface. Yah, kecewa deh.

Kesimpulannya, belajar seluncur es itu mengasyikkan. Meskipun badan dan tangan sakit semua karena kebanyakan jatuh, well... it’s worth trying. Ada semacam perasaan tertantang kalau aku harus bisa. Ketakutan dan kekhawatiran yang sempat ada di awal, sedikit tergantikan dengan perasaan puas ketika aku sudah sedikit bisa. Cukuplah sebagai stretching untuk menantang diri sendiri.

Lain kali aku akan coba lagi :)

Foto: Aku sedang belajar seluncur es, diajari coach yang nyebelin.

Monday, October 13, 2008

Kecanduan



Yup, aku kecanduan film ini. Kinda too late, I know. Soalnya di Trans 7 baru mulai diputer sih. Itupun baru Season 1, baru sampai Chapter 12. Nggak apa-apa lah telat, yang penting lumayan terhibur setelah penat di kantor seharian.

Gambar diambil dari sini.

Monday, September 22, 2008

Blog Pribadi

Sekarang aku nggak lagi merasa nyaman nulis di blog ini. Gara-gara peristiwa ini, aku jadi merasa harus nulis yang senang dan yang baik saja dari kehidupanku. Nanti kalau aku nulis yang sedih dikit aja, ada yang protes lagi. Dibilangnya aku sebagai orang yang nggak bersyukur, yang selalu sedih dan mellow.

Hhhh, padahal sebenarnya siapa yang bisa melarang aku nulis apa aja? Ini kan blog pribadiku. Kalau aku nulis yang senang-senang aja, kalau aku pura-pura bahagia terus, apa malah nggak fake tuh? Tersenyum saat tertekan, tertawa saat hati menangis? *jadi ingat sms-nya Wiwit* Apa malah nggak bikin sakit jiwa tuh, bersikap palsu kayak gitu?

Tau nggak, derita jiwa *halah bahasanya* yang nggak dikeluarin itu bisa bikin sakit. Sebagai manusia, tentu ada hal-hal nggak enak, mana mungkin bahagia terus. Dan sebagai pemilik tunggal blog ini, seharusnya sah-sah aja kalau aku mau nulis yang sedih-sedih dong ya. Toh itu curhatku yang disalurkan lewat tulisan. Memangnya si pembaca yang protes itu bakalan mau nanggung kalau aku sakit jiwa?

Oke, oke... nggak perlu hiperbolis. Intinya, sekarang aku merasa nggak terlalu nyaman dengan blog ini. Sekarang aku punya blog rahasia yang bisa kutulisi sesuka hati, bahkan mengumpat pun nggak ada orang yang bakal protes hehehehehe. Nggak boleh pada tau, namanya juga rahasia.

Well, aku nggak suka sama orang yang palsu. Makanya aku nggak mau jadi seperti itu.

Tuesday, September 16, 2008

Senam Aerobik

Akhirnya, setelah berbulan-bulan berhenti senam, aku memulai lagi program senamku. Setiap Jumat di kantor memang ada senam, tapi cuma setengah jam. Kurang ah. Sekarang ini kan aku pengen lebih langsing, secara habis melahirkan ini beratku jadi 52 kg.

Jadilah aku berburu studio senam, mengingat Bulova, studio senamku dulu, lagi direnovasi dan entah kapan buka lagi. Sebenarnya di Sabuga juga ada, tapi kudengar di situ bukan studio khusus wanita dan kadang-kadang instrukturnya malah laki-laki. Kan enggak bebas ya kalau gitu. Alhamdulillah akhirnya ketemu studio senam Lohita di Dago.

Pertama kali ikut senam di Lohita, tanpa sadar aku langsung membanding-bandingkan dengan Bulova. Lohita ini lebih luas, tapi pesertanya juga jauh lebih banyak, jadi kesannya berjubel gitu. Hmm, sebenarnya nggak terlalu suka kalo berjubel gini. Mau gerakan menyamping jadi bentur sana sini. Trus gerakannya juga lebih heboh, jadi habis senam rasanya capek banget (atau karena aku baru saja mulai lagi ya???).

Sebenarnya semua senam aerobik itu tergantung instrukturnya. Ada orang yang cocok-cocokan sama instruktur atau suka sama instruktur tertentu. Kalau aku sih nggak pengen kayak gitu. Sebisa mungkin semua instruktur dicoba. Makin banyak instruktur, makin bervariasi gerakannya kan. Lagipula semua instruktur sama aja kok, sama-sama senam aerobik ini. Nah, di Lohita ini instrukturnya cuma Teh Dyan. Dibantu sama dua asistennya sih, tapi tetep aja instruktur utama kan Teh Dyan. Jadi gerakannya ya hampir gitu-gitu aja. Rada monoton.

Untuk saat ini, aku harus puas dengan Lohita. Tapi nggak apa-apa lah, yang penting tetep senam aerobik. Yang penting keringetan. Yang penting bugar dan sehat. Dan yang lebih penting lagiiiii... jadi makin langsing hehehehe.

Sunday, May 25, 2008

Tuesday, April 22, 2008

Jalan Sendiri

Sabtu pagi, aku memutuskan untuk menjalankan rencanaku bersenang-senang seorang diri. Nggak ada suami bukan berarti dunia kiamat kan Jadilah akhirnya hari itu aku mondar-mandir sendirian.

Ke RS St. Borromeus

Pukul tujuh lebih aku sudah sampai. Rencananya aku mau ikut senam hamil untuk pertama kalinya. Hari sebelumnya aku sudah telepon, katanya senam dimulai pukul setengah delapan. Tapi kok ini loket registrasinya belum buka. Kata satpam, susternya mungkin masih berdoa. Ya sudah, aku tunggu saja.

Hampir pukul delapan, loket baru buka. Setelah urusan registrasi selesai, aku beranjak ke aula tempat senam. Huhuhu, bumil-bumil yang lain pada ditemani suami. Iseng aku sms suami mengabarkan hal itu. Dia bilang maaf karena nggak bisa menemani, hehehe.

Ternyata senam hamilnya ringkas banget. Waktunya memang satu jam, tapi gerakan yang diajarkan kurang mendalam. Jadi kita diajari banyak gerakan tapi prakteknya sebentar-sebentar. Pikirku, wah percuma ini kalau cuma ngandalin waktu senam. Bentar banget. Harus praktek sendiri di rumah juga. Tapi pas mau praktek lagi di rumah, gerakan-gerakannya udah pada lupa, hehehe.

Pukul setengah sebelas aku cabut dari tempat senam, setelah sebelumnya mendapat secangkir minuman kacang hijau hangat dan mendengarkan penyuluhan seputar kehamilan dan persalinan.

Ke Masjid Salman ITB

Karena paginya belum sarapan, aku mampir ke kantin Salman. Duh, kangen juga. Dulu pas masih mahasiswa, aku sering banget makan di sini. Selesai makan, kuputuskan menanti adzan dhuhur sekalian. Aku duduk selonjoran di emper tempat wudhu akhwat sambil baca novel Ayat-Ayat Cinta (I know, I know… I’m kinda too late to read this novel). Angin sepoi membuatku terkantuk. Akhirnya aku mengusir jenuh dengan memandang berkeliling.

Pemandangan Salman masih sedinamis yang dulu. Orang-orang banyak berlalu lalang di antara Gedung Kayu dan Selasar Hijau. Di pelataran di bawah menara masjid, sekelompok aktivis unit Salman tengah berkoordinasi. Sementara di ruang utama masjid sedang diadakan dialog dan tatap muka dengan Ustadz Yusuf Mansur dan kru film Kun Fayakuun (pantesan waktu itu Masjid Salman kok rame banget, lagi ada tamu dari Jakarta ini rupanya).

Shalat dhuhur berjamaah diimami oleh Pak Samsoe Basaruddin. Kangen juga diimami beliau, hehehe. Habis itu aku langsung pergi lagi, bertolak ke tempat berikutnya. Masjid Salman selalu mampu membuatku merasa damai. Beruntung sekali dulu aku sempat mencicipi beraktivitas dan berorganisasi, sekaligus bertemu orang-orang hebat di tempat ini.

Ke Salon Nurita

Oya, ini saatnya memanjakan diri sendiri. Nyalon bo! Pengen creambath, sembari nyantai dan terkantuk-kantuk merasakan pijatan si mbak kapster. Berhubung punggungku mulai sakit lagi, jadi aku berharap pijatan si mbak bisa bikin relaks. Eh, ternyata mijatnya nggak sampai punggung bawah, padahal yang sakit bagian itu. Ya sudahlah.

Ke Kids Expo di Sabuga

Habis dari salon, aku langsung ke Sabuga. Wah, rame banget. Banyak yang jual makanan pula *hahaha, lapar mata*. Isi gerai pamerannya kebanyakan tentang tempat pendidikan anak dan jualan mainan edukatif anak. Waduhh, mainan edukatif anak kok mahal-mahal ya. Anakku nanti mau dibelikan apa, bangkrut ayah bundanya, hehehe. Kelak beli dari tempat Mbak Dini aja, lebih terjangkau.

Mengenai pendidikan anak sendiri, aku tertarik sekali sama suatu sekolah yang menawarkan konsep sekolah seperti Tomoe Gakuen (hayo, siapa yang nggak tahu?). Konsep sekolah kayak gini yang aku anggap ideal. Sayangnya kok lulusan sekolah ini belum diakui Diknas ya. Hhh, moga nanti pas anakku masuk sekolah, sekolah ini sudah lebih mampu bersaing dengan sekolah-sekolah lain.

Aku juga beli buku di sini: Pudarnya Pesona Cleopatra (I know, I know… I’m kinda too late to buy this book). Setahun yang lalu aku pernah dapat rekomendasi untuk baca buku ini dari Tommi. Sebelum pulang, aku mampir ke gerai es krim Slurrpp… Dapat tiga scope: rasa anggur, duren, sama vanilla. Sekali lagi memanjakan diri sendiri.

Di Rumah

Pas sampai di rumah, pas Nanny 911 dimulai. Acara favorit. Belajar banyak dari sini tentang pengasuhan anak. Yang belum pernah nonton, rugi banget deh. Ilmu menghadapi anak lumayan juga lho didapat dari tayangan ini. Berharap semoga anak-anakku kelak nggak seperti anak-anak di Nanny 911, hehehe.

Selepas maghrib, aku ngerasa lemes dan pusing. Kecapekan ‘kali ya. Udah gitu mau makan malam males banget. Aduh, kalau ketahuan suamiku bisa dimarahi. Habisnya badan rasanya nggak enak gitu. Akhirnya aku tidur sore. Meninggalkan laptop masih menyala. Jalan sendiri seharian diakhiri dengan tidur pulas memeluk guling

Friday, April 11, 2008

”Ada Uang Kecil?”

Menurutku ini pertanyaan bodoh yang sering dilontarkan oleh para kasir. Let’s see what I’m thinking about it.

1. Seandainya kita memang PUNYA uang kecil

Jelas-jelas kita tahu bahwa kita punya uang kecil, tapi kita memilih membayar dengan uang yang nominalnya besar. Maksud kita mah emang mau nukar uang.

2. Seandainya kita TIDAK PUNYA uang kecil

Ya udah selesai kan masalahnya, toh kita emang nggak punya uang kecil.

Sebenarnya para kasir itu mikir nggak sih, hehehe. Lagipula mereka itu kasir kan, buat apa uang sekotak di hadapannya itu :p

Wednesday, April 11, 2007

Boneka Barbie


Sejak aku kecil, aku kan suka banget sama yang namanya boneka. Aku juga suka banget sama fairytale dan sosok-sosok princess. Nah, perpaduan dua hal itu bikin aku sukaaa banget sama boneka Barbie.

Dulu aku punya lima boneka Barbie *well, sebenarnya empat Barbie dan satu Ken sih*. Dua Barbie berambut sebahu, yang satu berambut perak keriting dan yang lain pirang lurus, keduanya paling sering kuganti-ganti bajunya dengan koleksi baju-baju Barbie milikku. Dua Barbie yang lain berambut panjang, keduanya pirang berombak, yang satu pakai kostum disko mini renda-renda warna pink dan yang satunya pakai gaun princess yang berjuntai mewah warna pink tua lengkap dengan giwang dan kalung (princess yang terakhir ini oleh-oleh Papi dari Canada). Kalau Ken-nya pakai kostum ice skating: celana panjang warna toska dan atasan semacam tuksedo warna perak.

Selain itu aku juga punya lemari Barbie. Warnanya pink juga, ada dua laci dan satu cermin besar buat ngaca. Isinya lengkap mulai dari peralatan kosmetik (bedak, eye shadow, hair spray, shampoo, hair dryer, parfum, sisir), koleksi baju-baju, koleksi sepatu (sepatu boots, sepatu pesta, sepatu jalan-jalan), tas-tas tangan, plus piring dan kue tart kecil. Pokoknya dulu mainnya sampai asyik banget.

Nah, sudah bertahun-tahun semua itu kuwariskan pada Yesti. Aku tahu sih kalau dia nggak terlalu suka sama boneka, tapi mau gimana lagi... masa perlengkapan boneka sebanyak itu mau kubawa ke Bandung. Dan ternyata oh ternyata, semuanya jadi terbengkalai dehh...

Hari Ahad lalu ketika aku beres-beres rumah, aku menemukan lemari Barbie-ku ada di gudang dalam keadaan yang mengenaskan. Dua pintunya copot entah di mana, pasangan sepatunya ada yang hilang, tas tangannya hilang, udah gitu kotorr bangett. Langsung deh kucuci dan kuatur lagi isinya. Tapi yang paling bikin sedih: empat boneka raib! Pencarian selama tiga hari di seantero gudang dan rumah hanya berhasil menemukan dua pintu lemari yang segera kupasang kembali. Sementara boneka-boneka itu? Raib tak berbekas...

Sedihhh bangett. Boneka Barbie-ku kini tinggal si princess Canada yang dari dulu emang dijadikan pajangan meja dan jarang dimainkan saking bagusnya. Aduhh, di mana boneka-bonekaku yang lain...

My Barbie is over the ocean

My Barbie is over the sea

My Barbie is over the ocean

Oh bring back my Barbie to me

Sejak dulu, tiap kali pergi ke toko, aku selalu berhenti lama di bagian rak Barbie. Sekedar melihat-lihat sambil berkhayal memiliki boneka-boneka cantik itu. Hingga usiaku yang ke-25 detik ini, aku masih melakukan kebiasaan yang sama. Tak peduli rak itu kini dipenuhi oleh gadis-gadis kecil yang usianya terpaut jauh denganku. Hmmm, ternyata ada sebagian masa kanak-kanak yang tak pernah hilang dari diriku…

Foto: Lemari Barbie-ku yang udah kucuci dan kuatur lagi, sayang sebagian isinya udah pada hilang.