Showing posts with label family. Show all posts
Showing posts with label family. Show all posts

Tuesday, June 04, 2024

Tips Menikmati Perjalanan

Aku termasuk orang yang jarang bepergian. Bisa dibilang aku adalah anak rumahan. Selain itu, jumlah anggota keluarga yang banyak dan anak yang masih kecil-kecil juga membuatku malas bepergian karena merasa riweuh dengan berbagai hal yang harus diurusi. Kali ini aku ingin berbagi mengenai beberapa hal yang membuatku merasa terbantu dalam menikmati perjalanan bersama keluarga.

Menciptakan Kenangan

Salah satu hal yang membekas dalam ingatanku ketika aku kecil dulu adalah betapa seringnya Bapak dan Ibu mengajak aku dan saudara-saudaraku menempuh perjalanan. Biasanya perjalanan itu mengambil waktu ketika masa liburan karena di luar itu Bapak dan Ibu bekerja. Waktu libur mereka sebagai guru dan dosen lumayan sinkron dengan waktu liburan sekolah kami.

Jika destinasinya tidak terlalu jauh—hanya seputaran Solo dan Jawa Tengah—perjalanan ditempuh dengan mobil kami, Honda Civic krem keluaran tahun 90-an. Bapak duduk di belakang kemudi, di sampingnya kakak sulungku, lalu Ibu, aku, dan adikku di barisan belakang. Dengan mobil Honda Civic kami pernah menjelajahi jalur selatan menuju Bandung ketika mengantarkan kakak sulung pergi kuliah. Mobil second-hand yang dibeli Bapak itu sempat mogok di tanjakan Nagrek, membuat kami sekeluarga harus bermalam di bengkel setempat.

Jika destinasi bepergian berada di luar provinsi, kadang kami memilih moda transportasi kereta atau pesawat—meskipun yang terakhir ini bisa dibilang jarang sekali—misalnya ketika kami jalan-jalan ke Jakarta untuk menjemput Bapak dari Kanada.

Berbagai kisah perjalanan keluarga mengiringiku tumbuh dewasa sebagai kenangan yang mengasyikkan sehingga aku akhirnya memutuskan bahwa kelak kalau aku berkeluarga, kami harus membuat pos pengeluaran untuk jalan-jalan. Meskipun ribet, aku menyadari bahwa momen perjalanan bersama keluarga ini akan menjadi kenangan yang menyenangkan bagi anak-anakku sebagaimana kenangan-kenangan indahku bersama Bapak, Ibu, dan saudara-saudaraku.

Menciptakan Momen Kesadaran

Perjalanan sering memberi kita jenak-jenak untuk perenungan, hal yang acapkali terlewat ketika kita berkejaran dengan rutinitas harian. Perjalanan juga sering memberi kita kesempatan untuk berdialog dengan diri kita sendiri, memberi kita waktu untuk mengenali diri sendiri lewat sodoran pengalaman baru di tempat asing yang belum pernah kita kunjungi. Seperti dulu waktu pertama kali bepergian dengan satu balita dan satu batita untuk menyusul suami ke Batam, dari yang awalnya ragu dan takut, menjadi tahu bahwa diri ini ternyata mampu mengatasi situasi dan kondisi.

Atau ketika pergi jauh ke Italia dengan semua anggota keluarga—termasuk infant 12 bulan yang belum pernah bepergian jauh melebihi Bandung-Solo—yang memaksaku mendobrak banyak kekhawatiran dan kenyamanan, ternyata bisa juga survive. Meskipun saat itu tentu kehadiran suami turut memberi andil. Bersamanya aku merasa mampu menaklukkan dunia karena kehadirannya sangat memberi rasa aman dan nyaman—terutama karena dia yang memegang uang, hahaha.

Dalam sebuah buku antologi fiksi bertema perjalanan, aku pernah menulis: “Traveling is not about the destination, it’s about the journey itself. Traveling is not just about finding new things, it’s also about finding your true self.” Semata-mata karena demikianlah yang aku alami: mendewasa bersama perjalanan.

Menciptakan Pembelajaran

Aku dan suami senantiasa menjadwalkan agenda jalan-jalan karena banyak pembelajaran yang dapat diberikan kepada anak-anak. Perjalanan membukakan mereka jendela dunia, memberikan mereka kemampuan untuk beradaptasi, memberi mereka kesempatan untuk mengenal hal-hal baru mulai dari makanan, bangunan, moda transportasi, hingga interaksi dengan orang.

Beberapa perjalanan liburan juga memberikan pengalaman berharga untuk anak-anak ketika mereka mencoba beberapa hal untuk pertama kalinya, seperti ketika kami naik perahu mengelilingi beberapa pulau di Lombok dan Belitung lalu menjajal snorkeling. Mereka belajar untuk mengatasi rasa takut dan belajar menguasai keterampilan baru.

Menyusun Rencana Perjalanan

Sebagai orang yang well-planned dan well-prepared, aku suka sekali menyusun rencana perjalanan dengan detail. Hal itu memberi excitement tersendiri bahkan jauh sebelum perjalanannya dimulai. Aku sangat menikmati aktivitas googling tempat-tempat yang ingin dikunjungi, membaca sejarah tentang tempat-tempat itu, lalu melihat peta dan menyusun rutenya.

Menyusun rencana perjalanan membuatku tahu harus ke mana dan melakukan apa saja ketika tiba di tempat tujuan sehingga waktu perjalanan menjadi lebih efisien dan efektif. Dengan mengetahui banyak informasi mengenai tempat tujuan, aku juga bisa bercerita banyak kepada anak-anak tentang hal-hal yang mereka lihat, misalnya informasi mengenai bangunan bersejarah atau makanan setempat.

Thursday, November 02, 2023

Perjalanan Bersama Keluarga

“The world is a book and those who do not travel read only one page.”       — St. Augustine

Salah satu hal yang membekas dalam ingatanku ketika aku kecil dulu adalah betapa seringnya Bapak dan Ibu mengajak aku dan saudara-saudaraku menempuh perjalanan. Biasanya perjalanan itu mengambil waktu ketika masa liburan karena di luar itu Bapak dan Ibu bekerja. Waktu libur mereka sebagai guru dan dosen lumayan sinkron dengan waktu liburan sekolah kami.

Jika destinasinya tidak terlalu jauh—hanya seputaran Solo dan Jawa Tengah—perjalanan ditempuh dengan mobil kami, Honda Civic krem keluaran tahun 90-an. Bapak duduk di belakang kemudi, di sampingnya kakak sulungku, lalu Ibu, aku, dan adikku di barisan belakang. Dengan mobil Honda Civic kami pernah menjelajahi jalur selatan menuju Bandung ketika mengantarkan kakak sulung pergi kuliah. Mobil second-hand yang dibeli Bapak itu sempat mogok di tanjakan Nagrek, membuat kami sekeluarga harus bermalam di bengkel setempat.

Jika destinasi bepergian berada di luar provinsi, kadang kami memilih moda transportasi kereta atau pesawat—meskipun yang terakhir ini bisa dibilang jarang sekali—misalnya ketika kami jalan-jalan ke Jakarta untuk menjemput Bapak dari Kanada.

Berbagai kisah perjalanan keluarga mengiringiku tumbuh dewasa sebagai kenangan yang mengasyikkan, hingga aku akhirnya memutuskan bahwa kelak kalau aku berkeluarga, kami harus membuat pos pengeluaran untuk jalan-jalan. Kebetulan suamiku tukang jalan juga, jadi klop sudah.

Mulai dari anak pertama masih kecil dan kami belum punya mobil sendiri, kami sudah menjelajahi Jawa Barat dengan mobil sewaan. Kebiasaan ini terus berlanjut hingga kini anakku empat, meskipun sempat vakum ketika pandemi.

Menjelajah Jawa Barat

Karena kami tinggal di Bandung, area yang paling mudah terjangkau tentunya Jawa Barat dan sekitarnya. Beberapa kali kami pergi ke Pangandaran ketika si sulung masih berusia di bawah setahun. Yang pertama mampir setelah mudik lebaran, yang kedua mampir setelah menghadiri undangan seorang teman di Tasikmalaya.

Ketika kami main ke rumah pengasuh si sulung di Sukabumi, kami juga melanjutkan perjalanan ke Taman Safari. Kami juga pernah ke Kawah Putih di Ciwidey, meskipun bau belerangnya membuatku sakit kepala dan ramainya pengunjung membuatku sedikit insecure. Ketika seorang teman menikah di Cirebon, kami mengambil kesempatan itu untuk main ke sana dan mencicipi nasi jamblang.

Salah satu kenangan tak terlupakan adalah ketika kami sedang bepergian ke Cianjur dan mendapat kesempatan untuk masuk ke Istana Cipanas. Biasanya hanya rombongan yang sudah mendapat izin resmi yang bisa masuk ke sana, kebetulan waktu itu kami “numpang” salah satu rombongan dan diizinkan berkeliling sebentar dengan pengawalan petugas. Dari Istana Cipanas kami melanjutkan perjalanan ke Taman Bunga Nusantara.

Menjelajah Luar Jawa Barat

Ketika mendapat undangan pernikahan seorang teman di Lampung pada November 2013, aku dan suami memutuskan untuk menghadirinya secara langsung dengan mengendarai mobil pribadi, sekaligus memperkenalkan anak pada moda transportasi kapal feri. Itulah kali pertama aku menginjakkan kaki di tanah Sumatera.

Anak-anak antusias sekali mendapat pengalaman naik kapal feri serta menyusuri Pantai Klara dan pantai Pulau Kelagian yang berair jernih dan berpasir putih laksana bedak. Ombaknya pun tidak terlalu besar sehingga aman untuk anak-anak.

Medio 2014, nebeng di acara reuni angkatan suami, kami sekeluarga bertolak ke Lombok. Perjalanan tiga hari dua malam yang berkesan karena kami disuguhi adat dan budaya yang begitu mengayakan. Kami menginap di Senggigi dan mengunjungi desa perajin gerabah di Banyumulek, desa perajin tenun di Sukarara, dusun adat Sade, lalu Pantai Kuta yang terkenal dengan legenda Putri Mandalika.

Kami juga menyeberang ke Gili Trawangan, dan itulah kali pertama anak-anak menjajal snorkeling. Awalnya takut, lama-lama keasyikan. Sayangnya terumbu karang di sana sudah banyak yang rusak waktu itu.

Pada September 2015, Ikatan Alumni ITB mengadakan acara besar berupa trip ke Belitung. Aku dan suami langsung mendaftar. Pesertanya ratusan, bus yang disewa cukup banyak, bahkan sampai booking satu pesawat sendiri. Banyak peserta yang tidak kami kenal, tetapi kami tak peduli. Yang penting perjalanan aman terkendali (karena ada EO-nya) dan biaya cukup reasonable, hehehe.

Destinasi wisatanya sih standar, ya, seperti napak tilas Laskar Pelangi, Museum Kata Andrea Hirata, Pulau Lengkuas, Pantai Tanjung Kelayang, Danau Kaolin, dan Pantai Tanjung Tinggi. Namun, perjalanan itu memberi pengalaman baru akan keindahan Pulau Belitung yang belum pernah kami kunjungi.

Sebagai pecinta kopi, aku juga mendapat pengalaman menyenangkan untuk berkenalan dengan kopi Manggar, kopi Robusta yang sejenis dengan kopi-kopi dari Bengkulu, Lampung, dan sekitarnya.

Pada Oktober 2018, keluarga kami akhirnya mewujudkan impian jalan-jalan ke Batu, Malang, dan Bromo sekaligus. Wisata ke Batu, sih, tentu saja ke destinasi impian anak-anak yaitu ke Jatim Park 1 dan Jatim Park 2, amusement park yang tak cukup dikelilingi dalam dua hari.

Perjalanan ke Bromo dimulai tengah malam ketika kami bertolak dari Malang. Sampai di Tosari, Pasuruan jam tiga pagi kami sempat berhenti sejenak untuk bersiap, lalu menuju puncak Penanjakan untuk menanti sunrise. Di sini anak-anak rewel karena mengantuk dan kedinginan, apalagi waktu itu Bromo sedang berangin kencang. Terpaksa kami berlindung di dalam warung sambil menikmati gorengan dan teh hangat.

Perjalanan dilanjutkan dengan berkendara di atas jip yang menderu-deru melewati lautan pasir, lalu berfoto di bukit teletubbies. Setelah itu aku dan suami mendaki ke kawah Bromo yang ratusan tangganya membuat lutut kami lemas gemetaran (hahaha), sambil diiringi badai pasir yang menjejalkan butiran pasir ke dalam tiap lekuk baju, sepatu, hidung hingga telinga. Perjalanan yang penuh kerempongan tapi pada akhirnya really worth it. Definitely a rocking trip!

Sebenarnya ada dua lagi perjalanan yang paling berkesan untuk kami sekeluarga, yaitu perjalanan ke Legoland, Malaysia dan perjalanan ke Italia selama sepuluh hari. Di Italia aku ditugaskan kantor untuk mengikuti training dan suamiku memutuskan agenda itu menjadi acara liburan keluarga dengan mengajak anak-anak ikut serta. Namun, sepertinya kisah ini akan kutulis terpisah saja, saking banyaknya yang ingin kuceritakan, hehehe.

Penutup

Perjalanan sering memberi kita jenak-jenak untuk perenungan, hal yang acapkali terlewat ketika kita berkejaran dengan rutinitas harian. Perjalanan juga sering memberi kita kesempatan untuk berdialog dengan diri kita sendiri, memberi kita waktu untuk mengenali diri sendiri lewat sodoran pengalaman baru di tempat asing yang belum pernah kita kunjungi.

Seperti dulu waktu pertama kali bepergian dengan satu balita dan satu batita untuk menyusul suami ke Batam, dari yang awalnya ragu dan takut, menjadi tahu bahwa diri ini ternyata mampu mengatasi situasi dan kondisi.

Atau ketika pergi jauh ke Italia dengan semua anggota keluarga—termasuk infant 12 bulan yang belum pernah bepergian jauh melebihi Bandung-Solo—yang memaksaku mendobrak banyak kekhawatiran dan kenyamanan, dan ternyata bisa juga survive. Meskipun saat itu tentu kehadiran suami turut memberi andil. Bersamanya aku merasa mampu menaklukkan dunia karena kehadirannya sangat memberi rasa aman dan nyaman—terutama karena dia yang pegang duit wkwkwk.

Dalam sebuah buku antologi fiksi bertema perjalanan, aku pernah menulis: “Traveling is not about the destination, it’s about the journey itself. Traveling is not just about finding new things, it’s also about finding your true self.” Semata-mata karena demikianlah yang aku alami. Mendewasa bersama perjalanan.

Mungkin ini jugalah yang membuat aku dan suami senantiasa menjadwalkan agenda jalan-jalan, selain karena kami tukang jalan-jalan, banyak pembelajaran yang bisa diberikan ke anak-anak. Perjalanan membukakan mereka jendela dunia, memberikan mereka kemampuan untuk beradaptasi, memberi mereka kesempatan untuk belajar hal-hal baru mulai dari makanan, bangunan, moda transportasi, hingga interaksi dengan orang.

Sebagai orang yang sentimental dan cenderung mellow, aku sering membawa pulang barang-barang yang penuh kenangan, terutama ketika kenangan itu merupakan kenangan berharga yang belum tentu bisa dilakoni dua kali. Sesimpel kerang yang dipungut di pantai, atau selembar tiket masuk theme park, atau kantong kresek dari sebuah supermarket di Italia. Begitulah.

Perjalanan memang selalu meninggalkan momen-momen yang tak terlupakan. Benar kata seorang teman, kita selalu meninggalkan sekeping hati pada semua tempat yang pernah kita kunjungi.

Tulisan ini diikutsertakan dalam Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan November yang bertema “Kegiatan Favorit Bersama Keluarga”.

Sunday, September 03, 2023

Menjadi Caregiver 24 Jam

Papi dan Mami ketika masih sehat

Dua minggu di medio Januari 2023 adalah masa-masa terberat bagi kami sekeluarga. Berawal dari tanggal 10 Januari ketika adikku mengirim pesan di WAG keluarga–aku dan kakakku tinggal di Tangerang Selatan sementara adikku tinggal di Solo bersama kedua orang tua kami–dan mengabarkan bahwa kondisi Papi sedang tidak stabil. Sebagai penderita penyakit jantung yang sudah pernah di-ring, kondisi Papi memang sering tidak stabil. Diabetes dan hipertensi membuat jantung beliau senantiasa aritmia dan beliau sering menjalani rawat inap karena sesak. Jadi, kupikir pagi dini hari itu adalah kondisi-tidak-stabil yang biasa. Adikku sempat bilang bahwa bicara Papi sedikit pelo, tidak nyambung, dan menabrak-nabrak ketika berjalan.

Sepagian aku menunggu kabar, hingga akhirnya adikku mengabari bahwa Papi masuk IGD untuk diobservasi. Semua tanda vital aman. Tidak ada tanda-tanda Papi terkena strok. Namun, kondisi psikis Papi tidak baik-baik saja. Beliau merasa sangat panik, sebentar-sebentar berteriak, dan susah ditenangkan. Dini hari berikutnya, adikku mengirim voice note, mengabarkan bahwa kondisi psikis Papi makin jauh dari tenang, sering berontak sehingga dokter dan perawat memutuskan untuk mengikat tangan Papi di ranjang.

Berdasar pemeriksaan lebih lanjut pada hari berikutnya, ternyata ada strok di sebelah kanan otak besar dan strok di sebelah kiri otak kecil. Strok terjadi karena ada sumbatan pembuluh darah dan menyebabkan gangguan keseimbangan dan koordinasi. Tubuh bagian kiri Papi mulai lumpuh sebelah dan bicara Papi mulai pelo lagi. Sejak saat itu, hidup keluarga kami mengalami perubahan.

Papiku adalah seorang pekerja keras sejak beliau masih muda. Menjadi sulung dari tujuh bersaudara, Papi memiliki tekad yang kuat untuk terus belajar dan menjadi sukses. Ayah beliau adalah seorang guru dan Papi meneruskan profesi ayahnya dengan menjadi seorang dosen. Semangat belajar beliau sangat tinggi. Selepas lulus SMA di Ngawi, beliau merantau dan menjalani S1 di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sebelas Maret (FKIP UNS), lalu S2 di jurusan Computer Science, University of Western Ontario, Kanada hingga lulus S3 di Universitas Negeri Yogyakarta. Beliau adalah Guru Besar bidang Pendidikan Matematika di FKIP UNS, banyak melakukan penelitian, dan menulis buku. Karyanya banyak dikenal dan disitasi dalam jurnal ilmiah. Beliau termasuk jajaran peneliti berpengaruh di Indonesia dan bahkan masuk dalam kategori 100 peneliti pendidikan di Indonesia yang bereputasi dunia.

Sebagai dosen dan peneliti yang sangat aktif, dulu beliau banyak mengajar di luar kota Solo. Seingatku pernah mengajar di Madiun, Yogyakarta, Semarang, dan beberapa kota lain. Beliau juga pernah aktif sebagai anggota Tim Ahli Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan, Badan Nasional Standar Pendidikan (BNSP), sering bolak-balik ke Jakarta dan beberapa Dinas Pendidikan di kota lain untuk terlibat dalam penyusunan standar pendidikan. Bahkan sehari sebelum masuk rumah sakit dan terkena serangan strok itu, beliau masih pergi menyetir sendiri ke kampus untuk menguji proposal mahasiswanya yang tengah studi S2. Maka terbayang kan, seperti apa pukulan yang beliau rasakan … dari semula sangat aktif berubah menjadi tidak bisa apa-apa dan hanya bisa bergantung pada bantuan orang lain dalam aktivitas sehari-hari.

Selama dua minggu aku pergi ke Solo dan terpaksa meninggalkan suami dan anak-anak di Tangerang Selatan, untuk membantu merawat Papi. Secara psikis Papi masih sangat terpukul dan mengalami masalah emosional–suatu hal yang katanya wajar terjadi pada penderita strok. Aku bergantian dengan anggota keluarga lain untuk mendampingi Papi karena beliau tidak mau ditinggalkan sendirian sedikit pun. Jika tidak ada orang yang terlihat, beliau akan berteriak-teriak memanggil nama kami satu demi satu dan tidak akan berhenti berteriak sampai ada yang datang. Hal ini membuat kami harus selalu standby.

Menjadi caregiver hampir 24 jam itu sangat menguras tenaga dan emosi. Tak jarang Papi mengalami tantrum karena ketidakmampuannya melakukan hal-hal secara mandiri. Passion beliau mengajar, menulis, dan mengerjakan hal-hal yang berkaitan dengan kampus menjadi tidak tersalurkan, dan hal ini tentu turut andil dalam ketidakstabilan emosi beliau. Bahkan beberapa kali beliau mengalami halusinasi. Kesabaranku yang setipis tisu kadang membuatku tidak sabaran juga ketika mengurus beliau, astaghfirullah. Seringkali aku harus mengingatkan diri sendiri bahwa inilah saatnya berbakti.

Dua minggu yang meletihkan itu membuat kami memutuskan untuk mempekerjakan seorang pramurukti. Terus terang kami mulai bertumbangan karena kelelahan. Kami harus kembali bekerja dan mengurus keluarga–terutama aku yang meninggalkan empat anak di Tangerang Selatan sementara suamiku sering pulang malam dan keluar kota karena pekerjaan. Alhamdulillah kami dipertemukan dengan pramurukti yang sabar dan telaten dalam mengurus dan mendampingi Papi.

Namun, ternyata semua belum berakhir di situ. Dalam kurun waktu dari Januari hingga saat ini, kakakku hampir tiap bulan mudik ke Solo untuk membantu merawat Papi karena Papi beberapa kali harus dirawat inap. Aku hanya bisa sesekali saja karena harus mengurus keluarga. Berbeda dengan perkembangan motorik Papi yang berprogres cukup signifikan berkat terapi rutin, perbaikan kondisi psikis beliau berjalan lebih lambat. Kami harus selalu mengingatkan beliau untuk tetap bersemangat dan bersyukur mengingat perkembangan beliau cukup baik, tetapi beliau masih sering bersedih hati karena belum bisa sepenuhnya menerima keadaan.

Kata dokter, kondisi organ-organ dan fungsi tubuh Papi memang sudah menurun dan cukup berat akibat komplikasi dari penyakit jantung, hipertensi, dan diabetes selama bertahun-tahun. Goals-nya secara medis saat ini adalah menjaga ketiganya supaya tetap stabil dan tidak bertambah parah. Meskipun saat ini beliau sudah mulai bisa berjalan dengan bantuan, menggerakkan kaki dan tangan–bahkan sekarang sudah mulai belajar menggenggam dan menjumput–kami masih harus tetap waspada dengan kondisi Papi yang kadang mengalami ketidakstabilan secara tiba-tiba. Ada hari-hari di mana semua berjalan normal dan lancar, tetapi ada juga hari-hari di mana beliau merasa kelelahan, sesak dada, dan tidak nyaman ketika jantungnya mengalami aritmia.

Mendampingi penderita strok yang juga mengalami gangguan psikis bukan hal yang mudah. Adikku bahkan sempat mempertanyakan kewarasannya sendiri. Aku juga kadang sedih karena tidak bisa banyak membantunya dalam merawat Papi, tetapi mau bagaimana lagi … anak-anak belum bisa sepenuhnya mandiri. Semoga adikku, Mami, dan mas pramurukti senantiasa dalam keadaan sehat lahir batin dalam membersamai Papi.

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” (Q.S. Al Isra: 23)

“Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: ‘Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.’” (Q.S. Al Isra: 24)


Tulisan ini diikutsertakan dalam Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan September yang bertema “Pengalaman Menghadapi Tantangan Hidup Terbesar (Rohani dan atau Jasmani)”.

Monday, September 13, 2021

Aku, Anak-Anak, dan Minat Baca

Sejak aku kecil, membaca sudah menjadi duniaku. Aku tak ingat persisnya mulai usia berapa aku gemar membaca. Namun, aku ingat jelas: masa kecilku kuhabiskan dengan menekuri lembar demi lembar majalah Bobo; komik bergambar macam Nina, Tintin, Asterix, atau Steven Sterk; komik Jepang semisal Candy Candy, Pansy, Mari-chan, atau Doraemon; novel seperti Lima Sekawan, Trio Detektif, Stop, atau Malory Towers; bahkan novel detektif karya Agatha Christie.

Begitu senangnya aku membaca sehingga pergi ke perpustakaan, toko buku, atau tempat persewaan buku menjadi suatu agenda yang menyenangkan. Aku tak tahu pasti penyebab minat bacaku waktu itu tumbuh dengan pesat. Hal itu mungkin dikarenakan orang tuaku sering membelikan buku dan menyediakan aneka bacaan di rumah.

Beranjak dewasa, aku menyadari bahwa buku adalah jendela dunia. Aku pernah menjadi salah satu kandidat terbaik dalam seleksi yang diadakan oleh sebuah kantor surat kabar di Jakarta ketika mereka mencari calon wartawan baru. Pertanyaan dan tes yang diajukan kebanyakan tentang pengetahuan umum. Aku yakin kegemaranku membaca rubrik pengetahuan di majalah, membaca koran, dan melihat berita di televisi, turut andil dalam hal itu.

Anak yang minat bacanya tinggi cenderung lebih gampang menerima informasi. Tentu pengetahuan mereka juga lebih banyak. Untuk menulis, mereka tidak akan menemui kesulitan yang berarti karena perbendaharaan kata sudah beragam. Bahkan aku pernah membaca—entah di mana aku lupa—anak yang suka membaca lebih pandai dan lebih kritis, terutama dalam diskusi, dibanding dengan yang tidak suka membaca.

Karena menyadari hal-hal tersebut di atas, aku bertekad ingin selalu menimbulkan minat baca pada anak. Eksperimen pertama kulakukan pada adikku bertahun-tahun lalu untuk membuktikan bahwa usaha membombardir anak dengan buku akan bisa menjadikan anak suka membaca. 

Sejak adikku berusia tujuh tahun, aku selalu rutin menghadiahinya buku ketika dia berulang tahun, mulai dari buku bergambar hingga novel tebal ketika dia sudah beranjak remaja. Ternyata benar, dia tumbuh menjadi seseorang yang gemar membaca. Waktu aku kuliah, masa-masa mudik selalu kuisi dengan agenda pergi ke toko buku bersamanya. Dia sudah berhasil menamatkan novel Harry Potter yang setebal bantal dalam waktu dua hari ketika dia belum lagi lulus SD. Ketika SMP, dia mulai suka membaca koran. Pengetahuannya bertambah; kemampuan menulisnya juga bertambah. Aku tak bisa lebih bangga, dia masuk dalam jajaran anak-anak pintar di kelasnya.

Eksperimen kedua kulakukan pada anak-anakku. Yah, ini sebenarnya bukan lagi eksperimen, melainkan suatu tindakan yang didasarkan pada kesadaran nyata tentang pentingnya menumbuhkan minat baca pada anak. Sejak anak sulungku berusia enam bulan, kami rutin membelikan softbook, boardbook, dan buku-buku bergambar yang lebih beraneka ragam. Aku, suami, dan pengasuh sering mengadakan sesi membaca buku. Rata-rata ketika anak-anakku berusia dua tahun, mereka sudah mulai bisa memahami jalan cerita. Biasanya setelah bercerita, kami mengajukan beberapa pertanyaan untuk menguji seberapa jauh pemahaman mereka. Kadang-kadang kami menyuruh mereka bercerita dengan kalimat mereka sendiri.

Kebiasaan membaca sudah mulai menjadi kebiasaan yang tertanam pada diri anak-anak, terutama anak sulungku yang kelihatannya paling gemar membaca dibanding adik-adiknya. Sesaat sebelum naik ke tempat tidur di malam hari, mereka akan memastikan barang-barang favoritnya sudah dibawa serta, seperti mainan kesukaan dan buku pilihan untuk malam itu. Dengan gembira mereka akan membuka-buka buku lalu bercerita tentang halaman tertentu dengan antusias. Jika minta dibacakan, mereka akan duduk manis di pangkuanku setelah sebelumnya menyodorkan buku padaku. Hmm … buah dari usahaku selama ini untuk menjadikan mereka suka membaca, alhamdulillah sudah mulai terlihat sedikit demi sedikit.

“A reader lives a thousand lives before he dies, said Jojen. The man who never reads lives only one.” ― George R.R. Martin, A Dance with Dragons

Monday, July 26, 2021

Keterampilan Interpersonal

Memiliki tiga anak yang sudah bersekolah membuatku belajar banyak hal mengenai karakter sosial mereka, terutama dalam hal mencari teman. Ada anakku yang cukup mudah berbaur di lingkungan baru. Tak perlu waktu lama, dia akan mulai nimbrung di obrolan. Tak heran beberapa kali aku menemuinya sedang berbincang asyik dengan orang yang baru ditemuinya, seperti tukang parkir, tukang yang datang ke rumah, penjual pinggir jalan, dll. Kami dengan mudah melepasnya bergaul dengan lingkungan baru tanpa khawatir—seperti acara-acara liburan yang banyak diadakan berbagai event organizer—karena biasanya dia supel membawa diri.

Kebetulan dia ini cukup talkative. Dia tidak sungkan bertanya jika ada hal yang tidak dimengerti. Bahkan kalau dia sudah mulai tune in dengan lingkungan atau forumnya, dia akan melempar celetuk atau respon dengan aktif. Dia cukup populer di kalangan teman-temannya dan beberapa kali terpilih menjadi Ketua Murid atau pengurus angkatan.

Berbeda halnya dengan dua anakku yang lain. Mereka tidak terlalu ekspresif seperti kakaknya. Ketika berkenalan dengan orang baru, mereka cenderung “lambat panas” dan lebih senang mengamati pada awalnya. Mereka juga agak picky dalam memilih teman. Biasanya mereka hanya mau bermain dengan teman-teman yang “klik” saja. Salah satu dari mereka jarang mau terlibat jika ada kegiatan-kegiatan dan lebih memilih lingkungan yang nyaman buat dia. Namun, anak yang lain cukup partisipatif dalam berbagai kegiatan. Aku dan suami selalu memotivasi mereka untuk mengikuti beraneka aktivitas supaya mereka bisa berkenalan dengan orang dan lingkungan baru, meskipun kadang salah satu dari mereka tampaknya tidak cukup tertarik. Yah, kami sebagai orang tua tidak bisa memaksa.

Tulisan ini tidak bermaksud membandingkan anak satu dengan yang lainnya. Justru karena memiliki anak dengan karakter berbeda-beda, sebagai orang tua kami harus terus belajar bagaimana menyikapi karakter mereka dengan tepat. Tentunya ini bukan hal yang mudah di masa pandemi ini, kala karakter yang berbeda-beda berkumpul dalam satu atap hampir dua puluh empat jam. Anak kami yang cenderung suka berteman dan bertualang tentu bosan ketika dia hanya bisa bertemu dengan saudara-saudaranya saja. Sementara anak kami yang lain ada juga yang merasa baik-baik saja dengan keberadaannya di rumah terus-menerus. Dia sudah cukup asyik mojok dengan buku, gawai, atau game.

Keterampilan berbaur dengan teman dan menyesuaikan diri dengan lingkungan adalah salah satu softskill yang berada pada tataran aspek interpersonal. Bagaimanapun juga, kemampuan ini sangat diperlukan oleh anak—baik ketika mereka masih kanak-kanak maupun ketika mereka sudah dewasa—untuk membangun komunikasi dan kerja sama dengan orang lain. Mudah-mudahan anak-anak dapat memperkuat aspek ini dengan karakter dan pembawaan mereka masing-masing supaya kelak mereka bisa survive menghadapi dunia luar.

Monday, July 19, 2021

Pendidikan Anak

Bicara soal pendidikan anak adalah sesuatu yang sulit buatku karena aku tahu sistem yang berjalan di keluarga kecilku tidak ideal. Di rumah kami masih ada TV dan gawai—yang kadang-kadang masih menimbulkan kesulitan dalam pengaturannya. Kesibukan kami bekerja membuat kami terbatas membersamai anak-anak dan membimbing mereka. Kami juga masih susah mengontrol kesabaran dan masih sering marah-marah. Meskipun demikian, aku dan suami selalu berusaha memilihkan pendidikan yang terbaik untuk anak-anak. Kriteria terbaik tentunya berbeda-beda bagi tiap keluarga. Apa yang baik buat suatu keluarga belum tentu baik pula untuk keluarga lain, maka pendidikan yang kami pilihkan untuk anak-anak disesuaikan dengan visi dan misi keluarga kami.

Ada banyak metode yang dijalankan oleh para orang tua saat ini. Melihat keberhasilan dan kesuksesan teman-teman kami yang menjalankan homeschooling (HS) untuk anak-anak mereka, pernah terbersit keinginan untuk menjalankan metode serupa. Namun, keterbatasan kami sebagai orang tua yang bekerja tentu membutuhkan usaha yang luar biasa untuk memastikan sistem HS berjalan dengan baik. Jadi, setelah berpikir ulang, tampaknya kami tidak akan sanggup.

Sebagai orang-orang yang dibesarkan dengan sistem pendidikan sekolah negeri mulai dari TK hingga perguruan tinggi, kami merasa ada yang kurang dalam hal pendidikan agama. Bukan berarti sekolah negeri tidak baik, hanya saja kurang pas dalam memenuhi visi dan misi keluarga kami. Oleh karena itu, sejak anak-anak PG hingga SMP, mereka kami sekolahkan di institusi pendidikan yang memiliki titik tekan pada islamic character building dan leadership sebagai salah satu tujuan pembelajaran. Aspek kognitif bisa dikejar karena alhamdulillah kemampuan akademik mereka bisa dibilang bagus, tetapi pembentukan karakter akan susah dikejar jika tidak ditanamkan sejak dini. Harapan kami, jika nilai-nilai sebagai seorang muslim ini tertanam sebagai pondasi yang kuat, ke depannya mereka akan lebih tangguh memegang nilai-nilai agama dalam keseharian.

Selain ikhtiar memilihkan pendidikan yang menurut kami terbaik buat mereka, tak lupa kami juga menitipkan anak-anak kepada Sang Empunya. Allah-lah sebaik-baik penjaga dan pelindung yang akan membimbing mereka untuk tetap lurus di jalan-Nya. Kami tahu sebagai orang tua kami tidak bisa mendampingi anak-anak 24/7. Oleh karena itu, jika anak-anak paham dan sadar bahwa Allah Maha Melihat, mudah-mudahan mereka tidak terombang-ambing oleh dunia dan tetap berpegang teguh pada orientasi akhirat.

Memilihkan mereka sekolah yang terbaik adalah satu hal; bekerja sama dengan sekolah untuk keberhasilan belajar adalah hal lain. Keduanya harus berjalan seimbang karena kita tidak bisa melepas tanggung jawab dan membebankan proses pendidikan hanya kepada sekolah. Sekolah adalah mitra kami dalam mendidik anak-anak, maka kami berusaha untuk tidak bawel dan percaya pada sistem yang mereka miliki. Kepercayaan ini penting supaya kerja sama yang terbangun antara sekolah dan orang tua berjalan baik. Tak bisa dipungkiri selama tahun-tahun mereka bersekolah pasti ada saja masalah yang terjadi. Jika kerja sama tidak berjalan baik—misalnya ada ketidakpercayaan orang tua pada kebijakan yang diambil sekolah—proses mendidik anak juga tentu tidak akan berjalan mulus.

Pada akhirnya, pendidikan anak adalah proses untuk menjadikan mereka siap menjadi pribadi yang mandiri dan tangguh saat berpisah dengan kita, baik karena mereka keluar rumah (misalnya karena menikah, kuliah, merantau) atau karena kematian kita.

وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًا خَافُوا عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا اللَّهَ وَلْيَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا

"Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar." (Q.S. An-Nisa': 9)

Sunday, July 11, 2021

Tempat Main Murah Meriah

Tahun 2013 ketika anak sulung masih berusia lima tahun

Sejak anak-anakku kecil, selalu ada tempat main murah meriah yang mereka sukai dan saban minggu kami datangi: bandara dan stasiun kereta api. Dulu ketika nonpenumpang masih gampang masuk ke peron, hampir tiap pekan kami pergi ke stasiun karena mereka suka sekali melihat kereta api. Mereka betah menghabiskan waktu berjam-jam untuk memandangi kereta yang lalu-lalang, sambil sesekali bertanya mengenai hal-hal yang tidak mereka pahami. Namun, ketika peron sudah diperuntukkan bagi penumpang yang memiliki karcis saja, kami sudah jarang main ke stasiun lagi. Mengintip-intip kereta api di sela-sela pagar—karena tidak bisa masuk ke peron—lama-lama terasa tidak mengasyikkan bagi anak-anak.



Lain halnya dengan bandara. Sejak dulu hingga sekarang—yah, paling tidak hingga kami pindah dari Bandung—nongkrong di pinggir TPU Sirnaraga yang berbatasan dengan runway menjadi menu biasa setiap akhir pekan. Ada spot menarik di situ, tempat kita bisa dengan leluasa menikmati pemandangan pesawat landing dan take-off. Dulu bentuknya berupa bangunan lawas yang bisa dinaiki bagian atapnya. Bangunan yang sudah terbengkalai itu ramai orang kala weekend. Pada suatu ketika bangunan tersebut dirobohkan, tetapi hal itu tidak menyurutkan antusiasme orang untuk melihat pesawat di spot yang sama.

Sebelum pandemi melanda dunia, tempat di ujung runway ini merupakan objek wisata murah meriah bagi masyarakat kelas menengah ke bawah. Murah karena tanpa tiket masuk (paling banter cuma bayar parkir), meriah karena menyenangkan buat anak dan bisa dijadikan ajang menambah pengetahuan jika kita pintar-pintar menyelipkan info sains tentang pesawat terbang. Di sekeliling lahan kosong yang dijadikan tempat parkir kendaraan, orang juga ramai menggelar dagangan makanan dan mainan. Suasananya mirip dengan Gasibu kala hari Minggu pagi: ada gerobak-gerobak makanan, ada meja dan kursi sederhana untuk makan di tempat, ada komidi putar, ada penjaja mainan, dsb.

Ketika anak-anak sudah mulai besar, mereka tak lagi sekadar menikmati pesawat landing dan take-off belaka. Aktivitas plane spotting yang mereka lakukan semakin mengasyikkan. Mereka mulai berdiskusi mengenai mekanisme mesin pesawat terbang sembari memasang mata pada aplikasi pelacak pesawat yang terpampang di layar smartphone. Kadang-kadang mereka membawa teropong untuk mengawasi pesawat yang mulai mendekat. Kemudian ketika mereka mulai terbiasa mengunggah video di Youtube, mereka juga asyik mengambil gambar lewat kamera ponsel.

Tempat main anak memang tak harus mahal. Keingintahuan anak yang selaras dengan minat mereka bisa diwujudkan melalui hal-hal sederhana, tinggal orang tua yang pintar-pintar menangkap minat anak dan memfasilitasinya. Aktivitas mengunjungi stasiun dan bandara juga kami lengkapi dengan membeli buku-buku yang menunjang pengetahuan seputar moda transportasi dan mengizinkan mereka untuk melihat tayangan terkait di Youtube. Mudah-mudahan hal ini akan dikenang sebagai dunia main yang menyenangkan ketika mereka dewasa kelak.

Rumah


Apa makna rumah bagimu? Dalam bahasa Inggris, kata house dan home sama-sama bermakna rumah. House memiliki arti rumah dalam bentuk fisik (building) yang dibangun dari berbagai material dan mewujud dalam dimensi kebendaan. Sementara home lebih jauh dari itu, melibatkan perasaan … eh, kok jadi mengutip quote Pidi Baiq 😂

Memang benar home melibatkan perasaan dalam pemaknaannya. Barangkali dalam perasaan itu ada kehangatan, kebersamaan, keakraban, cinta, kasih sayang, you name it. Tidak semua house bermakna home bagi penghuninya. Demikian pula tidak semua home harus berupa sebuah house. Home is where your heart is. Kalau kata suamiku, home adalah di mana istri dan anak-anaknya berada. Aseeeek 🤣

Balik lagi ke pertanyaan awal: sejatinya apa, sih makna rumah itu? Let’s check this out.

"Dan Allah menjadikan rumah-rumah bagimu sebagai tempat tinggal (tempat ketenangan) dan Dia menjadikan bagimu rumah-rumah (kemah-kemah) dari kulit hewan ternak yang kamu merasa ringan (membawa)nya pada waktu kamu bepergian dan pada waktu kamu bermukim dan (dijadikan-Nya pula) dari bulu domba, bulu unta, dan bulu kambing, alat-alat rumah tangga dan kesenangan sampai waktu (tertentu)." (Q.S. An-Nahl: 80)

Sebagai hamba Allah tentunya kita harus kembali pada definisi Allah dalam memandang segala sesuatu. Dalam tafsir ayat di atas, Allah mengatakan bahwa rumah adalah tempat tinggal yang memberi kita ketenangan dari berbagai gangguan lahir dan batin. Allah juga menjadikan rumah dalam bentuk kemah-kemah yang ringan dan mudah dibawa pada waktu bepergian dan untuk digunakan saat bermukim di tempat tertentu.

Dalam banyak ayat Al Quran, rumah memiliki beberapa makna:
  1. Sebagai tempat ibadah untuk meraih keridaan Allah.

  2. Sebagai madrasah tempat tarbiyah (edukasi dan pembinaan) dalam mendidik pasangan dan anak-anak.

  3. Sebagai benteng untuk menjaga iman keluarga.

  4. Sebagai sumber ketenangan dan tempat istirahat melepas lelah.

  5. Sebagai tempat silaturahim.

"Empat hal yang membawa kebahagiaan, yaitu perempuan salehah, rumah yang luas, tetangga yang baik, dan kendaraan yang enak." (H.R. Ibnu Hibban).

Sejak berkeluarga hingga saat ini aku telah berpindah-pindah di empat rumah, salah satunya adalah rumah kontrakan. Entah karena diriku ini seorang melankolis atau bagaimana, selalu ada perasaan sedih dan haru kala harus meninggalkan rumah lama untuk berpindah ke rumah baru. Memori bertahun-tahun berkelebat dalam benak semata-mata karena terlampau banyak kenangan yang melibatkan perasaan, tertinggal di sana. Rumah-rumah itu bukan hanya bangunan fisik buatku, lebih jauh dari itu: mereka adalah home yang menjadi saksi keluargaku mencinta dan bertumbuh. Rumah-rumah itu … adalah juga keluarga bagiku 🥺

Oleh karena itu, hatiku tercabik kala mengingat rumah lamaku kini hanya berteman sepi dan debu. Tak ada tawa, tak ada cahaya, tak ada kehidupan di dalamnya 😭

Kembali ke Q.S. An-Nahl: 80, Allah menjadikan rumah sebagai tempat kesenangan sampai waktu tertentu. Mengapa demikian? Tentu saja karena dunia ini fana. Pada hakikatnya semua kepemilikan kita di dunia ini hanya sementara. Ayat ini menjadi pelipur lara bagiku karena menyadarkan bahwa kampung akhirat adalah rumah yang sebenar-benarnya, tempat kita semua akan kembali.

"Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?" (Q.S. Al-An’am: 32)

Monday, July 05, 2021

Kehadiran Anak di Tengah Keluarga


Pernah atau tidak mendapat pertanyaan “Sudah isi apa belum?” beberapa waktu setelah menikah? Terkadang pertanyaan kepo semacam ini dianggap agak julid bagi sebagian orang. Mungkin maksudnya baik karena diniatkan untuk peduli, tetapi sebenarnya pertanyaan ini tidak perlu dilontarkan karena dapat menyinggung perasaan orang yang ditanya. Terutama kalau yang bersangkutan memang belum dikaruniai buah hati setelah beberapa waktu lamanya.

Aku sendiri tentu pernah mendapat pertanyaan serupa. Tujuh bulan pertama dalam pernikahan aku tak kunjung hamil. Memang hanya tujuh bulan, tetapi durasi itu cukup membuatku bosan mendengar pertanyaan seperti itu. Bahkan ada juga yang usil berkomentar apakah kami sengaja menunda memiliki anak. Huft, kadang orang memang berkomentar seenaknya.

Anak pertamaku lahir di Bandung, disusul adiknya tiga tahun kemudian. Tentu di sela-sela waktu itu pernah juga terlontar pertanyaan “Kapan punya adik?”, hehehe. Bahkan setelah anak keduaku lahir, komentar orang tak juga berhenti. Karena kedua anakku laki-laki, komentar berikutnya adalah “Ayo dong satu lagi, kan belum punya anak perempuan.” Aku tentu hanya bisa menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal.

Kebetulan kehamilanku yang ketiga dan keempat tidak berjalan mulus. Kehamilan ketiga berakhir di usia kandungan delapan minggu karena janin tidak berkembang. Kisah kehamilan keempat juga ternyata harus berakhir di usia kandungan empat bulan karena kontraksi dan KPD (Ketuban Pecah Dini). Bayiku lahir dalam kondisi meninggal karena masih terlalu kecil dan tidak dapat bertahan. Anak ketigaku ini juga laki-laki, maka keinginan untuk memiliki anak perempuan sempat pupus karena aku mengalami trauma dan memutuskan untuk tidak akan hamil lagi. Apalagi ada yang berkomentar miring tentang kepergian anakku. Tanpa komentar miring pun aku sudah menyalahkan diri sendiri, apalagi ada celetukan-celetukan yang tak perlu seperti itu.

Qadarullah enam bulan setelah kepergian anak ketiga, aku kembali hamil. Dokter mengatakan janinku berjenis kelamin perempuan. Memang betul Allah Maha Menghibur, diganti-Nya bayiku yang tiada dengan anak perempuan yang kuimpikan. Maka minggu demi minggu kehamilan kujalani dengan sukacita dan antusias. Apakah lantas tidak ada komentar orang? Tentu saja ada. Beberapa komentar iseng yang terlontar seperti “Subur amat … hamil lagi, hamil lagi.” Hmmm, belum hamil salah, sering hamil pun salah.

Ketika aku hamil anak kelima, aku sempat berusaha menyembunyikan kabar kehamilan karena malas mendengar komentar orang. Namun, kehamilan tentu tak bisa disembunyikan lama-lama, terutama ketika perut sudah membuncit, hahaha. Komentar yang paling menyebalkan ketika orang tahu bahwa aku sedang hamil anak kelima adalah “Masa sih anak kelima? Yang ‘ada’ maksudnya.” Hmmm, belum pernah di-tampol rupanya.

Terlepas dari komentar usil orang yang sering mampir ke telinga kita, bagiku kehadiran anak dalam keluarga sangat memberi berkah. Anak-anak adalah guru yang sesungguhnya untuk kita belajar ilmu kehidupan. Lewat kehadiran mereka, kita belajar mengimplementasikan hal-hal yang tidak kita dapat di bangku sekolah. Sepayah apapun kualitas kita sebagai orang tua, anak-anak selalu memiliki pintu maaf seluas samudra. Bagi mereka kita adalah orang tua yang paling keren dan paling dicinta. Masyaallah. Tidak ada unconditional love sesuci dan semurni ini.

Sebagai orang tua bekerja yang memiliki banyak anak, aku tak bisa berkata kalau aku tidak repot. Namun, aku yakin kerepotan ini hanya sementara. Hikmah, keceriaan, dan kebahagiaan yang didapat jauh lebih besar daripada kerepotan itu sendiri. Ada saat di mana aku meledak karena ketidaksabaran, tetapi lebih sering aku bergelung dalam syukur yang tak bertepi karena kehadiran anak-anak. Sungguh aku tak bisa membayangkan apa jadinya hidupku tanpa mereka. Mudah-mudahan merekalah saranaku meraih surga.

 رَبَّنا هَبْ لَنا مِنْ أَزْواجِنا وَذُرِّيَّاتِنا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنا لِلْمُتَّقِينَ إِماماً  

“Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (Q.S. Al-Furqan [25]: 74)

Monday, May 31, 2021

Kewarasan Ibu

Pernah mendengar kutipan “jadi ibu tidak boleh sakit”? Kutipan tersebut menggambarkan dengan tepat bagaimana peran seorang ibu dalam keluarga. Kita sudah sering menyaksikan betapa hebatnya seorang ibu mengurus keluarga dan mengurus rumah. Dengan tangannya yang serba bisa, ibu mengurus keperluan suami dan anak, menyiapkan makanan, mencuci, menyetrika, membersihkan rumah, dan kadang masih sibuk dengan urusan karir atau urusan sosial di masyarakat. Dengan kondisi yang seperti itu, kesehatan dan kewarasan ibu menjadi sangat penting. Karena jika seorang ibu tidak sehat, entah itu fisik atau mentalnya, kehidupan sebuah keluarga akan menjadi timpang.

Jika kondisi ibu tidak prima, bagaimana dia bisa mengurus keluarga dengan baik? Seorang ibu yang bahagia akan menghasilkan keluarga yang bahagia. Oleh karena itu, self care is not selfish. Waktu seorang ibu untuk menyeimbangkan dirinya menjadi sebuah kebutuhan. Hal ini memerlukan dukungan dari pihak internal keluarga: yang paling dekat tentu suami dan anak-anak, atau bisa juga dari kerabat. Namun, ketika dukungan pihak internal tidak ada—misalnya karena suami sibuk bekerja—para ibu bisa beralih mencari dukungan eksternal seperti daycare, asisten rumah tangga,  atau pengasuh untuk “kabur” sejenak dari rutinitas domestik.

Terkait dukungan internal, aku sangat mengapresiasi para suami yang memberi kesempatan istrinya untuk recharge diri, entah itu sekadar menjalankan hobi di dalam rumah atau pergi ke luar rumah untuk refreshing. Lebih penting daripada itu, selain menyediakan waktu untuk meng-handle urusan domestik kala istrinya sedang tidak ada, aku juga memberi sepuluh jempol untuk para suami yang memiliki kepekaan tinggi mengenai kapan istrinya membutuhkan me time. Aku punya seorang teman yang suaminya sangat memahami dia: ketika dia mulai rungsing karena mood-nya jelek, suaminya segera mengambil alih urusan rumah dan anak-anak, lalu mempersilakan temanku ini untuk mengambil me time. Tindakan seperti ini mungkin terasa sederhana, tetapi sejatinya berperan besar dalam menumbuhkan cinta dan keharmonisan rumah tangga.

Lalu bagaimana dengan aku? Seperti apa me time yang biasa kulakukan? Dan dukungan seperti apa yang kudapatkan? Aku memang cenderung tidak bisa diam dan senantiasa sibuk beraktivitas sejak zaman mahasiswa dulu. Ketika sudah berkeluarga, kebiasaan untuk hidup aktif tidak pernah memudar. Seperti yang pernah kuceritakan di sini, dukungan suami justru memberi andil untuk mendorongku berperan aktif di luar rumah dan melakukan hobi yang aku suka. Me time yang biasa aku lakukan tentu berkisar di seputar kegiatan berolahraga, hahaha … sebut saja senam aerobik, yoga, berlari, hingga fitness di gym. Sementara hobi yang sering aku lakukan ketika diam di rumah adalah menulis—kebanyakan adalah karya fiksi.

Selain suami yang bersedia dititipi anak-anak ketika aku berolahraga, dukungan luar biasa juga aku dapatkan dari tanteku dan pengasuh. Merekalah yang sehari-hari ketempuhan untuk menjaga dan mengawasi anak-anak ketika aku bekerja. Jujur … aku tak bisa membayangkan bila mereka tak ada. Momen ketika pengasuh mudik biasanya menjadi momok tersendiri. Don’t get me wrong, aku sangat menikmati kebersamaan dengan anak-anak. Hanya saja … ketika pengasuh tidak ada, urusan empat anak sungguh menyita waktu dan membuatku tak bisa meluangkan waktu untuk me time, bahkan sekadar berolahraga sebentar ke luar rumah.

Aku menyadari, sesungguhnya diri ini tidak ada apa-apanya bila tidak ada dukungan dari orang-orang terdekat. Kesempatan untuk melejitkan potensi tidak akan bisa dilakukan kalau tidak ada kewarasan diri. Dengan kewarasan inilah seorang ibu bisa mengutuhkan dirinya sehingga bisa memberi dengan maksimal untuk keluarga dan masyarakat. Semoga amal kebaikan suami, anak-anak, tanteku, dan pengasuh dalam mendukung kewarasanku memperoleh balasan kebaikan dari-Nya, dan membawa keberkahan dalam keluarga kami.

Monday, May 10, 2021

Terkenang Eyang

Tiap kali melihat sosok sepuh tengah berjalan menuju masjid untuk menunaikan salat berjemaah, aku selalu teringat Eyang Kakung. Sejak lahir, aku selalu tinggal serumah dengan Eyang Kakung. Beliau bersama Eyang Uti mengasuhku saat ditinggal Bapak dan Ibu bekerja. Ketika aku tumbuh dewasa, beliau juga mengisi hari-hariku dengan berjuta kenangan. Aku masih ingat: semasa SMA ketika aku sudah terbiasa bangun di sepertiga malam, aku tidak pernah sendirian. Aku hampir selalu ditemani oleh beliau yang memang juga terbiasa bangun dini hari. Aku dan beliau sama-sama penggemar berat sepakbola, berita, dan koran. Masih terekam jelas di ingatan: betapa serunya kami berteriak-teriak di depan televisi saat pertandingan sepakbola ditayangkan, atau betapa seringnya kami berebut koran pagi saking inginnya jadi yang pertama membaca berita hari itu.

Sebelum berpulang, memang sudah bertahun-tahun Eyang Kakung menderita gangguan prostat. Beliau tidak pernah mau pergi ke rumah sakit dan hanya mengandalkan obat-obatan dari pamanku yang seorang dokter umum. Minggu-minggu terakhir sebelum meninggal, gangguan prostat beliau mencapai puncaknya sehingga dokter memutuskan untuk melakukan operasi. Setelah operasi, dokter baru mengetahui bahwa terdapat kanker pada prostat beliau. Kanker itu semakin mengganas seusai operasi, menjalar ke mana-mana hanya dalam waktu seminggu, dan membuat ginjal beliau tak lagi berfungsi. Sabtu, 1 Mei 2004 beliau menjalani cuci darah. Itulah terakhir kalinya beliau sadar. Setelah cuci darah, beliau mengalami koma hingga akhir hayatnya pada Selasa, 11 Mei 2004.

Aku tiba di Solo pada Ahad, 2 Mei 2004—aku tak pernah lagi menemui Eyang Kakung dalam keadaan sadar—dan langsung diberi tahu keluarga bahwa waktu Eyang Kakung sudah tak lama lagi. Meskipun sudah diberi tahu dokter, kami tetap tak mengira beliau akan pergi secepat itu. Meskipun kami sudah bersiap menerima kemungkinan yang terburuk dan sudah berusaha memupuk ikhlas jika sewaktu-waktu beliau dipanggil oleh-Nya, tetap saja rasa kehilangan itu begitu perih.

Eyang Kakung adalah sosok yang mewariskan kejawaanku. Ritual adat dan literatur-literatur beraksara Jawa merupakan teman beliau sehari-hari. Di saat anak-anak muda Jawa masa kini tengah mengalami krisis budaya, aku merasa beruntung karena telah dibesarkan dalam suatu kultur yang adiluhung. Budaya keluarga kami sangat menghargai tradisi dan bahasa yang penuh pakem, tata krama, dan ewuh pekewuh. Oh ya, tentu saja aku merasa beruntung. Betapa banyaknya anak-anak muda Jawa saat ini tidak bisa berbahasa kromo bahkan kepada kedua orang tua mereka sendiri. Bukankah bahasa menunjukkan bangsa?

Namun, memang tidak semua tradisi Jawa melekat dalam pribadiku. Banyak tradisi kejawen yang tidak islami yang aku buang jauh-jauh. Ini bukan upaya yang mudah, mengingat Eyang Kakung mempunyai pengaruh yang sangat kuat dalam keluarga besar kami. Apalagi adat patriarkat yang berlaku di Jawa cenderung membuat kami berlaku sendika dhawuh pada titah Eyang Kakung. Aku pernah merasa risih bercampur geli ketika mendengar wejangan Eyang Kakung seusai lebaran, “Kamu itu orang Jawa, Ndhuk. Kalau kamu tidak membiasakan diri berbusana Jawa, kamu bisa lupa asal-usulmu. Malah membiasakan diri berpakaian seperti orang Arab.”

Jujur saja, waktu itu aku ingin marah sekaligus ingin tertawa. Aku marah karena busana muslimah itu seharusnya tidak hanya untuk orang Arab. Aku merasa tersinggung karena di mana pun aku berada, aku tidak pernah lupa asal-usulku sebagai orang Jawa. Aku juga merasa geli ketika membayangkan diriku sendiri berbusana adat Jawa ke mana pun aku pergi. Memangnya aku hidup di lingkungan keraton sampai aku harus berbusana adat Jawa terus? Pikirku, orang keraton saja nggak gitu-gitu amat.

Ah, masa-masa yang penuh kenangan bersama Eyang Kakung. Aku rasa yang paling menakjubkan dari orang-orang yang kita kasihi: sebagian dari diri mereka sebenarnya terus hidup dalam diri kita meskipun mereka telah tiada. Itulah persembahan cinta mereka yang terdalam. Aku berdoa semoga Allah berkenan meridai setiap amal beliau, mengampuni kesalahan beliau, dan membalas kebaikan beliau.

Monday, May 03, 2021

Nilai-Nilai Pendidikan Keluarga

Pendidikan dalam sebuah keluarga sangat bergantung pada visi dan misi keluarga tersebut. Lebih jauh lagi, pendidikan itu juga sarat akan nilai-nilai, tradisi, dan pengalaman yang berlaku dalam sebuah keluarga. Sebagai seorang anak yang dibesarkan dalam keluarga PNS, sejak kecil aku dididik untuk berhemat, bersikap sederhana, dan tidak neko-neko. Bapak dan ibuku berasal dari keluarga yang tidak terlalu berkecukupan. Bapak adalah sulung dari tujuh bersaudara; Ibu adalah sulung dari sembilan bersaudara. Sebagai anak tertua, mereka tentu sangat memahami hidup sederhana, kerja keras, dan bagaimana memberikan keteladanan kepada adik-adik mereka. Nilai-nilai itu pula yang mereka turunkan kepada aku dan saudara-saudaraku.

Aku ingat sekali, Bapak dan Ibu selalu menanamkan kesadaran kepada kami bahwa rajin belajar dan kerja keras akan membuat kami sukses suatu hari nanti. Meskipun pada saat itu aku tidak terlalu mengerti, aku menuruti nasihat mereka untuk rajin belajar dan konsisten menerapkan waktu belajar setiap hari. Aku tidak terlalu ingat bagaimana cara mereka menanamkan kesadaran itu. Yang jelas, kami terbiasa bangun dini hari untuk salat tahajud, kemudian belajar hingga waktu subuh. Sehabis magrib kami juga terbiasa menuju meja belajar kami masing-masing untuk mengerjakan pekerjaan rumah, belajar untuk ulangan harian, atau sekadar mengulang pelajaran hari itu. Aku ingin sekali mengimitasi bagaimana cara mereka mendidik kami karena aku juga ingin menanamkan kesadaran itu pada anak-anakku, tetapi aku hanya dapat mengingatnya samar-samar.

Seingatku Bapak dan Ibu tidak pernah marah hebat kepada kami. Marah dalam kondisi wajar tentu pernah, mengingat kami adalah anak-anak biasa yang terkadang bandel juga. Namun, mereka jarang marah dengan suara keras dan nada tinggi. Mereka tipe orang tua yang tidak suka kegaduhan. Suasana rumah harus senantiasa tenang. Oleh karena itu, kami akan sangat berhati-hati ketika bermain bersama atau menyalakan televisi supaya tidak menimbulkan keriuhan. Kalaupun Bapak marah dengan nada tinggi, itu pasti karena kenakalan kami sudah menguji batas kesabaran beliau. Biasanya ketika Bapak marah seperti itu, kami akan menciut seperti gabus disiram bensin.

Ketika kami remaja, Bapak dan Ibu tidak pernah membatasi kami secara ketat dalam bergaul. Kami masih diperbolehkan untuk berpacaran dengan batas-batas interaksi yang jelas antara lelaki dan perempuan. Meskipun tidak terlalu paham ilmu agama, mereka selalu mengedepankan adat ketimuran dan norma sosial. Ketika kami merantau untuk kuliah ke luar kota, wejangan-wejangan untuk menjaga diri dan hidup sederhana senantiasa mereka tanamkan. Nilai-nilai kemandirian dan tanggung jawab yang digaungkan oleh Bapak dan Ibu, kami tuai hasilnya ketika kami jauh dari rumah.

Hidup sederhana adalah hal yang paling aku ingat dari Bapak dan Ibu. Mereka tidak pernah berhutang dan selalu membeli segala sesuatu sesuai kemampuan. Semua transaksi dilakukan secara kontan karena mereka tidak pernah tergoda dengan skema kredit. Kelebihan tabungan dialihkan untuk membeli tanah atau menyimpan deposito. Bapak dan Ibu memang masih berpikir secara konvensional—tidak berinvestasi dengan metode kekinian seperti membeli saham, logam mulia, atau reksadana—tetapi mereka memberikan keteladanan bahwa tidak berlaku boros itu penting demi masa depan.

Aku sangat bersyukur memiliki orang tua seperti Bapak dan Ibu. Didikan mereka membentukku menjadi pribadi yang sekarang. Nilai-nilai yang mereka wariskan kepada kami, merupakan warisan juga dari kakek dan nenek kami dulu. Semoga kami bisa meneruskan hal-hal baik itu kepada anak-anak kami sehingga menjadi ladang amal jariah bagi Bapak dan Ibu.

Monday, April 19, 2021

Ibuku

Ibuku orang Jawa tulen. Pengaruh kejawaan dari kedua orang tuanya sangat kental karena Eyang Putri masih memiliki garis keturunan Sultan Hamengkubuwono I, tapi kejawaan Ibu termasuk yang moderat. Jika Eyang Kakung masih memegang teguh pusaka adat dan ritual adat, Ibu justru menolaknya dengan halus. Kata Ibu, beliau menolaknya karena faktor kepraktisan, tapi jauh dalam hati aku tahu jika sebenarnya Ibu tidak setuju dengan praktik-praktik adat yang jauh dari Islam.

Dibesarkan dalam keluarga yang kurang mampu sebagai sulung dari sembilan bersaudara membuat masa muda Ibu tidak pernah mudah. Eyang Kakung tidak pernah punya rumah. Semasa menjadi pegawai PJKA, Eyang Kakung sekeluarga tinggal di rumah dinas. Setelah Eyang Kakung pensiun, mereka hanya mampu mengontrak rumah petak di tengah kampung. Bahkan Ibu pernah bercerita jika gorden penutup jendela saja mereka tidak punya. Ketika sudah bekerja dan menikah, Ibu masih harus membesarkan dan membiayai sekolah adik-adiknya.

Tidak heran Ibu tumbuh menjadi seseorang yang keras, tegas, tegar, mandiri, soliter, dan sangat koleris. Semasa kecil Ibu tidak pernah diajari ilmu agama oleh Eyang. Ibu belajar agama dari lingkungannya, salah satunya dengan cara ikut-ikutan temannya mengaji di surau. Faktor ketidakcukupan materi membuat masa remajanya akrab dengan minder dan depresi. Alhamdulillah Ibu mampu bangkit dan sedikit demi sedikit mencoba mencari uang sendiri dengan membantu temannya berjualan.

Ibu adalah sosok wanita karir yang cukup sibuk selama masa produktifnya. Sejak aku kecil, aku ingat selalu ditinggal Ibu bekerja. Meskipun statusnya cuma sebagai guru, Ibu juga memiliki aktivitas sosial yang menuntutnya selalu sibuk. Aku kerap merasa kesal karena merasa masa kecilku sering terlewatkan oleh Ibu. Jika ditanya alasan mengapa beliau bersibuk-sibuk di luar rumah, beliau cuma menjawab agar anak-anaknya berkecukupan dengan uang yang beliau hasilkan. Ibu tidak mau anak-anaknya punya masa kecil yang sama dengan beliau.

Begitulah ibuku. Semenjak aku lulus kuliah, beliau sering menanamkan pesan supaya aku lekas bekerja demi punya penghasilan yang bisa mencukupi keluarga dan untuk berjaga-jaga bila terjadi sesuatu dengan suami. Pesan Ibu selalu kuingat sebagai nasihat yang sarat dengan spirit mandiri dan aktualisasi diri.

Di sisi lain, sosok Ibu yang cenderung keras menyebabkan komunikasi kami sering tidak nyambung. Aku yang sensitif dan gampang merajuk, kadang-kadang menangis menghadapi Ibu. Menurut beliau, aku ini anaknya yang paling sering membantah sehingga harus diperlakukan dengan keras. Aku membutuhkan waktu yang tidak sebentar untuk memperbaiki hubungan dengan Ibu. Hubungan kami yang seperti ini juga membuatku bertekad: kelak aku ingin dekat dengan anak-anakku. Aku ingin bisa menjadi sahabat mereka, tempat berbagi apa pun dan kapan pun, serta selalu ada bila mereka butuh. Aku tidak ingin memiliki hubungan yang berjarak dengan anak-anakku.

Terlepas dari semua itu, aku sangat bangga dengan Ibu. Tak bisa kupungkiri, Ibu memiliki andil besar dalam hidupku. Kalau tidak ada Ibu, mungkin aku bakal lebih cengeng daripada sekarang. Ibu mengajariku tentang nilai-nilai kehidupan, terutama tentang bagaimana seorang perempuan menjadi mandiri sehingga tidak dipandang remeh oleh orang lain. Ketika aku kecil dan remaja, beliau memaksaku untuk belajar mengendarai sepeda dan sepeda motor supaya aku bisa pergi ke mana-mana sendiri dan tidak menjadi beban bagi orang lain. Masih teringat jelas perkataan beliau, “Dadi wong wedok kuwi ojo dadi gawene wong lanang.”

Sejak pandemi aku belum berkesempatan menjumpai Ibu kembali. Sudah enam belas bulan berselang tanpa aku bisa memeluk Ibu dan mencium tangannya dengan takzim. Ah, tak bisa kulukiskan seperti apa rasanya rindu ini. Di sini aku terus berdoa: semoga Allah senantiasa memberi Ibu berkah dan kesehatan, serta memberi kami kesempatan untuk dapat kembali bertemu dalam keadaan sehat dan bahagia.

Friday, July 19, 2019

Kirana's Birth Story

Kirana dan buku Science of Yoga

Knowledge is power.
Ilmu sebelum amal.
Kalimat klise yang selalu teruji kesaktiannya, pun dalam birth story-ku kali ini (siap-siap baca tulisan panjang yaa).

Persalinan ini adalah persalinan paling ideal sepanjang riwayatku melahirkan lima anak. Ideal menurut versiku tentu. Tetap ada hal-hal yang tidak dapat dikondisikan karena berada di luar kuasa. Tapi paling tidak, ini persalinan paling "menyenangkan".

Semua bermula sejak awal kehamilan. Setelah fase denial berlalu (maklum tadinya memang sudah berniat stop punya anak lagi), aku malah jadi makin bersemangat untuk menjadikan kehamilan kali ini berjalan lancar. FYI beberapa bulan sebelum hamil, aku mengikuti Soft Prenatal Yoga Workshop - Training for Instructor yang digawangi oleh Teh Nena—suhunya Prenatal Vinyasa Yoga di Indonesia, yang pernah mendapat bimbingan langsung dari Jennifer More. Saat itu sempat tercetus kata-kata "coba ya aku tahu ilmunya begini sebelum hamil anak-anak". Qodarullah diberi kesempatan hamil lagi untuk mempraktekkan ilmu yang aku dapat saat itu (moral of the story: hati-hati dengan ucapanmu).

Persiapan Pengetahuan


Berbekal ilmu yang aku dapat dari Teh Nena, menyusul kemudian aku juga mengikuti Prenatal Yoga TTC 30 jam dari Teh Ujie—suhunya Yoga Leaf, makin mantap jaya untuk mempraktekkan prenatal yoga pada kehamilan kali ini.

Selain itu aku juga mengikuti kelas persiapan persalinan bersama Teh Agustina—seorang bidan, AMANI certified Child Birth Educator dan doula, sekaligus praktisi prenatal yoga (Maaak, paket komplit banget dirimu). Kelas privat yang aku ikuti bersama suami ini sedikit banyak memberi gambaran mengenai proses persalinan yang akan dihadapi, what to do dan when to do sehingga aku dan suami tidak terlalu clueless dan tahu harus melakukan apa saat menunggu bukaan demi bukaan.

Persiapan Fisik dan Nafas


Praktek prenatal yoga yang aku lakukan empat kali dalam seminggu (dua kali mengajar kelas, satu kali ikut kelas Teh Nena, dan satu kali kadang-kadang ikut prenatal yoga session bersama komunitas Ngayoga) berperan penting melatih persiapan fisik dalam persalinan yang melibatkan panggul dan jalan lahir.

Tanpa latihan dan persiapan yang maksimal, otot panggul bisa kaku, ligamen menjadi tidak seimbang sehingga banyak keluhan di kala hamil. Persiapan fisik merupakan salah satu bentuk pemberdayaan diri ibu hamil yang bisa dilakukan sedini mungkin (jangan tunggu hingga mendekati due date).

Selain itu dalam prenatal yoga kita juga selalu melatih nafas dan teknik untuk relaksasi. Saat kita bisa menguasai nafas, kita bisa menguasai pikiran dan tubuh. Saat kita bisa menguasai pikiran dan tubuh, kita dapat mengendalikan atau mengelola emosi dan rasa sakit yang dialami. Ini berguna sekali dalam pain management saat kita mengalami kontraksi.

Persiapan fisik dan nafas bukan sesuatu yang didapat secara instan. Rajin berlatih saat hamil membawa banyak manfaat: untuk meminimalisir keluhan fisik selama hamil, mengoptimalkan posisi janin, dan memperlancar proses persalinan insya Allah.

Persiapan Mental


Secara teori, pernah melahirkan empat anak sebelumnya seharusnya mampu membuatku "kenyang" akan pengalaman bersalin. Tapi nyatanya masih tetap ada perasaan takut ini itu, perasaan belum siap, dsb. Nah maka dari itu, aku  mempersiapkan mental dengan banyak membaca dan melihat video-video tentang kehamilan dan persalinan, juga mendengarkan sharing para bumil. Dua akun IG yang tak pernah lupa kusambangi di antaranya @azanifitria dan @jamilatus.sadiyah (check them out ya, Gaesss).

Pasrah dan Ikhlas


Setelah segala ikhtiar dijalani, tak lupa juga untuk selalu memanjatkan doa pada-Nya, semoga kehamilan dan persalinan kali ini berjalan dengan lancar, aman, nyaman, dan minim trauma.

Due Date


Oke, dengan persiapan segambreng yang sudah ditulis di atas, apakah aku siap menjalani maternity leave? Tentu tidak hahaha.
Jadi ya, load kerja kantor ini Subhanallah, membuat aku masih harus banyak menyelesaikan ini itu, bahkan ketika harusnya aku sudah cuti. Akhirnya aku pepetkan cuti mendekati due date. Qodarullah kok ya cuti hari pertama langsung terasa kontraksi, untung tidak terlambat, bisa-bisa brojol di kantor wkwkwk.

Sabtu 6 Juli hingga Senin 8 Juli kontraksi mulai datang rutin, tapi intensitasnya masih mild dan jaraknya pun masih 10-15 menit sekali. Aku masih santai ke mana-mana sambil memperbanyak jalan kaki. Senin selepas isya, kontraksi mulai rapat: 7-9 menit sekali. Ketika akhirnya berhasil mengantar tidur Kayla (iyaa dia nggak tidur-tidur padahal kontraksi sudah 5 menit sekali hauhauhau), kami segera berangkat ke RS.

Ilmu dari Mbak Mila masih aku ingat tentang kapan harus berangkat ke RS, pakai rumus 5-1-2: jarak antarkontraksi sudah 5 menit sekali, lama masing-masing kontraksi berlangsung selama 1 menit, dan kondisi ini sudah berlangsung selama 2 jam. Rumus ini diterapkan supaya kita tidak terlalu awal datang ke RS. Bukan apa-apa, kalau terlalu awal kadang kita bisa senewen sendiri menunggu bukaan yang masih lama, ujung-ujungnya bisa stres dan tidak rileks. Begitu.

Sampai di RS Senin 8 Juli pukul 23.15. Saat cek bukaan pukul 23.30, sudah bukaan empat. Karena di RS yang ini agak ketat, bumil yang akan bersalin biasanya disuruh berbaring miring ke kiri. Waduh, dengan posisi diam seperti itu kontraksi demi kontraksi akan terasa lama dan lebih menyakitkan. Akhirnya aku nego untuk tetap duduk—kalaupun tidak boleh turun dari kasur. Dengan posisi bound angle pose aku terus memutar panggul (pelvic rocking) selama kontraksi datang, sambil mengatur nafas dengan dalam dan perlahan. Tak lupa untuk tersenyum dan melemaskan rahang. Tidak mengencangkan atau menegangkan bagian tubuh merupakan salah satu cara jitu untuk rileks. Mengatupkan rahang dengan keras untuk menahan rasa sakit justru kontraproduktif dengan hal itu, jadi kalau kontraksi datang.. senyumin aja ya.

Bound Angle Pose atau Baddha Konasana

Pada jeda di sela-sela kontraksi, suami memijat punggung dan panggulku untuk merelaksasi otot-otot yang tegang. Sesekali mengambilkan minum. Ini salah satu hal yang paling membahagiakan selama sejarah persalinan yang aku alami, karena suami membersamai dengan peran aktif, memberikan perhatian dan empati. Mungkin pada persalinan-persalinan sebelumnya dia clueless sehingga tidak tahu harus berbuat apa hihihi.

Selasa pagi pukul 01.30 cek bukaan lagi, ternyata sudah bukaan tujuh jelang delapan. Alhamdulillah cepat. Susternya sampai heran, katanya kontraksi sudah intens dan kuat tapi aku kok kelihatan tenang-tenang saja, bahkan masih bisa tersenyum. Ambang sakitnya tinggi ya, begitu tanyanya. The power of relaksasi, Sus, timpalku dalam hati. Justru sebenarnya ambang sakitku itu rendah, gampang sekali teriak kalau merasa sakit. Makanya cukup amazing juga kali ini hehe. Mengatur nafas jadi kunci penting untuk menguasai pikiran dan tubuh, yang berguna untuk mengelola emosi dan rasa sakit. Selasa 9 Juli pukul 02.30 akhirnya Kirana lahir, diikuti dengan proses IMD.

Pada persalinan ini Alhamdulillah aku juga berhasil nego dengan dokter kandungan untuk tidak melakukan episiotomi. Akhirnya tetap dijahit sih, tapi bukan karena epis melainkan karena robek alami. Dan benar seperti yang Teh Agustina bilang, robek alami ini akan mencari jalannya sendiri, bisa jadi melalui sel-sel yang sudah mati atau lemah. Maka penyembuhan pascapersalinan akan jauh lebih mudah dan ringan. Amazing memang, jahitan banyak tapi tidak terasa sakit. Jauh beda dengan jahitan pada persalinan-persalinan sebelumnya. Pascapersalinan aku sudah lincah kembali seperti tidak dijahit saja. Ini hal lain yang membuat persalinan kali ini membahagiakan dan less drama. Alhamdulillah.

Satu pelajaran penting yang aku petik dari proses persalinan Kirana: usaha tidak mengkhianati hasil. Allah tempat kita bergantung, semua takdir berjalan sepenuh kehendak-Nya, itu suatu keniscayaan. Namun pasrah, ikhlas dan tawakal seharusnya juga sejalan dengan ikhtiar yang dilakukan. Pemberdayaan diri ibu hamil sejak awal kehamilan hingga persalinan bukan saja mempermudah dan menyamankan proses itu sendiri, tapi juga meminimalisir trauma. Insya Allah hasilnya ibu dan bayi yang sehat dan bahagia.

Oh ya, berikut link yang sangat berguna ketika proses persalinan kemarin:
  • Gerakan dan teknik yang bisa dilakukan menjelang persalinan, bisa dilakukan sejak di rumah hingga menunggu bukaan di RS: klik di sini
  • Tips mengurangi nyeri persalinan: klik di sini

Sunday, April 17, 2016

LDR

Barusan Hanif menangis sembari berkata, "Seharusnya jam segini aku lagi jalan-jalan sama Ayah."

Adek juga terbangun dari tidurnya sambil memanggil-manggil, "Ayah.. Ayah.."

Ya, ini masih weekend dan ayah mereka sudah berangkat lagi untuk bekerja.

Beberapa hari lalu Adek bertanya, "Bun, kalau aku pentas nanti, Ayah bisa datang kan?"

Menurutmu, bagaimana perasaanku mendengar itu semua? Pretending everything is okay, but yes I'm just pretending. Karena tidak semuanya baik-baik saja. Ada air mata, ada hati yang patah.

Nine years of marriage, (almost) three kids, and still LDR. So heartbreaking.

Thursday, May 08, 2014

Hanif Berenang

Ada satu cerita menarik dalam usahaku memperkenalkan Hanif kepada aktivitas berenang. Sejak kecil ia tampak trauma menyentuh air ketika diajak ke pantai atau kolam renang. Padahal ketika usianya beberapa bulan dulu, ia suka bermain air di dalam kolam karet yang kami belikan. Aku sempat bertanya-tanya, apa gerangan yang membuatnya sedemikian takut, bahkan saat dikeramas pun sampai menjerit-jerit? Mengingat kembali perjalanan hidupnya, rasanya aku tahu kejadian apa yang membuatnya begitu. Jadi ketika usia Hanif 1 tahun 4 bulan, pada kunjungannya yang kedua ke pantai Pangandaran, mukanya sempat terciprat air ombak. Ia menangis tentu, tapi aku tak mengira kejadian itu membekas dalam memorinya menjadi sesuatu yang menakutkan.

Oktober 2009, terciprat ombak di Pangandaran

Beberapa tahun setelah itu, ketika ia sudah masuk ke Playgroup dan TK, ada acara berenang rutin tiap bulan. Jangankan nyemplung, mendekat pinggiran kolam renang pun ia tak sudi. Beberapa kali aku ajak ke kolam renang saat weekend, reaksinya masih sama. Bahkan ketika Daffa, sepupunya, asyik berenang-renang pun Hanif tampak tak tertarik. Ini menjadi PR tersendiri buatku, mengingat aktivitas berenang adalah aktivitas olahraga favorit keluarga besar, dan skill berenang termasuk skill yang sunnah untuk diajarkan kepada anak. Selalu dan selalu, aku berusaha mengajaknya masuk ke kolam renang, meskipun penolakan demi penolakan terus keluar dari mulutnya.

Hingga hari itu tiba. Di penghujung Juni 2012, ketika kami sekeluarga pelesir ke Cirebon dan menginap di hotel yang ada kolam renangnya, Hanif mau duduk di pinggir kolam renang dan mulai bermain air. Hal itu jelas mencengangkan, dan bagi kami itu sudah merupakan prestasi luar biasa bagi Hanif dalam mengatasi rasa takutnya. Kami biarkan ia bermain air sampai bajunya basah, sambil tak lupa diberi apresiasi atas keberaniannya bersentuhan dengan air.

Juni 2012, bermain air di kolam renang hotel

Awal Oktober 2012, resmi sudah Hanif mau nyemplung ke kolam renang. Ia tertawa bangga sambil menunjukkan keberaniannya mencelupkan kepala ke dalam air. Masya Allah, betapa gembiranya hati ini. Meskipun demikian, ia masih ogah-ogahan untuk belajar berenang. Masih kebanyakan ngeles-nya hehehe. Akhirnya kami memutuskan, anak ini sebaiknya belajar berenang lewat les berenang saja. Mungkin ia bakal lebih disiplin bila diajari oleh guru beneran.

Oktober 2012, pertama kali berani nyemplung di kolam renang :)

Akhirnya, sudah sebulan ini Hanif ikut les berenang bareng sepupunya. Latihan tiap Sabtu pagi di Rumah Sosis ini hampir selalu diselipi drama, entah menangis di awal karena ogah-ogahan nyemplung, atau menangis di tengah-tengah latihan karena disuruh mencelupkan kepala atau disuruh mencoba berenang tanpa pelampung (sambil dipegangi pelatih tentunya). Efeknya dilatih guru beneran, Hanif dilatih untuk disiplin dan berani. Adakalanya ia terpaksa diceburkan oleh pelatihnya hihihi.

Mei 2014, les berenang di Rumah Sosis

Namanya latihan berenang seminggu sekali, anak-anak pula, maka kemajuan latihan bisa dibilang berjalan lambat. Hanif masih belajar gerakan kaki gaya dada, kalau dicoba berlatih gerakan kaki dan tangan sekaligus, ia akan berteriak-teriak heboh, karena itu artinya ia harus melepas pelampung yang didekapnya erat. Yaa ra popo wis, meskipun lambat, setidaknya ia mau konsisten berlatih tiap minggu. Mengingat kisah perjuangannya mengatasi trauma terhadap air, kemajuannya saat ini sudah menjadi prestasi tersendiri di hatiku. Bravo, Mas Hanif... tetap rajin berlatih yaa :)

Thursday, July 12, 2012

Mas Hanif

kehadiran adiknya, mau tidak mau membuat hanif lebih mandiri,
dan subhanallah.. dia menjalaninya tanpa rasa cemburu dan iri.

ah, sulung bunda ini memang benar anak sholeh :-*

November 29 at 11:48pm via mobile

Ada yang meleleh di hati ini tiap kali mengingat kebaikan-kebaikan Hanif pada adiknya. Sejak Abi lahir ke dunia, sejauh ingatanku, tak pernah sedetikpun ada masa di mana ia merasa cemburu.

Tak ada rasa kesal karena merasa tersaingi oleh adiknya.
Tak ada pukulan jengkel, atau usikan jahil, apalagi dendam kesumat.

Yang ada hanyalah:
Rasa panik ketika melihat adiknya menangis, hingga ia sibuk berusaha menghibur dengan kalimat “sssshh sssshh” atau sibuk memanggil bunda atau eyang.
Rasa sayang teramat besar, hingga membuat dia mengelus atau mengecup adiknya tiap kali mendekat.
Rasa tak rela ketika tiba waktunya si adik tidur, karena ia masih ingin bermain-main bersama.
Rasa tanggung jawab sedemikian mengharukan, hingga bunda merasa aman menitipkan si adik padanya. Karena ketika bunda terpaksa meninggalkan si adik, meski cuma sebentar, Hanif akan menghibur, mengajak ngobrol, atau bernyanyi untuk si adik.

Status di atas kubuat beberapa hari setelah Abi lahir. Dan Hanif tetap demikian adanya sampai detik ini. Di usia Abi yang hampir delapan bulan, ia kini sudah mengerti bagaimana rasa sayang sang kakak terhadapnya, hingga ia akan melonjak-lonjak kegirangan tiap kali Hanif mendekat.

Doa tulus bunda untukmu, Hanif sayang. Tak pernah henti dilangitkan. Karena telah menjadi kakak yang paling hebat.








Tulisan terkait: