Monday, July 05, 2021

Kehadiran Anak di Tengah Keluarga


Pernah atau tidak mendapat pertanyaan “Sudah isi apa belum?” beberapa waktu setelah menikah? Terkadang pertanyaan kepo semacam ini dianggap agak julid bagi sebagian orang. Mungkin maksudnya baik karena diniatkan untuk peduli, tetapi sebenarnya pertanyaan ini tidak perlu dilontarkan karena dapat menyinggung perasaan orang yang ditanya. Terutama kalau yang bersangkutan memang belum dikaruniai buah hati setelah beberapa waktu lamanya.

Aku sendiri tentu pernah mendapat pertanyaan serupa. Tujuh bulan pertama dalam pernikahan aku tak kunjung hamil. Memang hanya tujuh bulan, tetapi durasi itu cukup membuatku bosan mendengar pertanyaan seperti itu. Bahkan ada juga yang usil berkomentar apakah kami sengaja menunda memiliki anak. Huft, kadang orang memang berkomentar seenaknya.

Anak pertamaku lahir di Bandung, disusul adiknya tiga tahun kemudian. Tentu di sela-sela waktu itu pernah juga terlontar pertanyaan “Kapan punya adik?”, hehehe. Bahkan setelah anak keduaku lahir, komentar orang tak juga berhenti. Karena kedua anakku laki-laki, komentar berikutnya adalah “Ayo dong satu lagi, kan belum punya anak perempuan.” Aku tentu hanya bisa menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal.

Kebetulan kehamilanku yang ketiga dan keempat tidak berjalan mulus. Kehamilan ketiga berakhir di usia kandungan delapan minggu karena janin tidak berkembang. Kisah kehamilan keempat juga ternyata harus berakhir di usia kandungan empat bulan karena kontraksi dan KPD (Ketuban Pecah Dini). Bayiku lahir dalam kondisi meninggal karena masih terlalu kecil dan tidak dapat bertahan. Anak ketigaku ini juga laki-laki, maka keinginan untuk memiliki anak perempuan sempat pupus karena aku mengalami trauma dan memutuskan untuk tidak akan hamil lagi. Apalagi ada yang berkomentar miring tentang kepergian anakku. Tanpa komentar miring pun aku sudah menyalahkan diri sendiri, apalagi ada celetukan-celetukan yang tak perlu seperti itu.

Qadarullah enam bulan setelah kepergian anak ketiga, aku kembali hamil. Dokter mengatakan janinku berjenis kelamin perempuan. Memang betul Allah Maha Menghibur, diganti-Nya bayiku yang tiada dengan anak perempuan yang kuimpikan. Maka minggu demi minggu kehamilan kujalani dengan sukacita dan antusias. Apakah lantas tidak ada komentar orang? Tentu saja ada. Beberapa komentar iseng yang terlontar seperti “Subur amat … hamil lagi, hamil lagi.” Hmmm, belum hamil salah, sering hamil pun salah.

Ketika aku hamil anak kelima, aku sempat berusaha menyembunyikan kabar kehamilan karena malas mendengar komentar orang. Namun, kehamilan tentu tak bisa disembunyikan lama-lama, terutama ketika perut sudah membuncit, hahaha. Komentar yang paling menyebalkan ketika orang tahu bahwa aku sedang hamil anak kelima adalah “Masa sih anak kelima? Yang ‘ada’ maksudnya.” Hmmm, belum pernah di-tampol rupanya.

Terlepas dari komentar usil orang yang sering mampir ke telinga kita, bagiku kehadiran anak dalam keluarga sangat memberi berkah. Anak-anak adalah guru yang sesungguhnya untuk kita belajar ilmu kehidupan. Lewat kehadiran mereka, kita belajar mengimplementasikan hal-hal yang tidak kita dapat di bangku sekolah. Sepayah apapun kualitas kita sebagai orang tua, anak-anak selalu memiliki pintu maaf seluas samudra. Bagi mereka kita adalah orang tua yang paling keren dan paling dicinta. Masyaallah. Tidak ada unconditional love sesuci dan semurni ini.

Sebagai orang tua bekerja yang memiliki banyak anak, aku tak bisa berkata kalau aku tidak repot. Namun, aku yakin kerepotan ini hanya sementara. Hikmah, keceriaan, dan kebahagiaan yang didapat jauh lebih besar daripada kerepotan itu sendiri. Ada saat di mana aku meledak karena ketidaksabaran, tetapi lebih sering aku bergelung dalam syukur yang tak bertepi karena kehadiran anak-anak. Sungguh aku tak bisa membayangkan apa jadinya hidupku tanpa mereka. Mudah-mudahan merekalah saranaku meraih surga.

 رَبَّنا هَبْ لَنا مِنْ أَزْواجِنا وَذُرِّيَّاتِنا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنا لِلْمُتَّقِينَ إِماماً  

“Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (Q.S. Al-Furqan [25]: 74)

No comments:

Post a Comment