Showing posts with label daily. Show all posts
Showing posts with label daily. Show all posts

Friday, June 20, 2025

Me Time Tanpa Internet? Sudah Pasti “Membaca”!

Sejak aku kecil, membaca sudah menjadi duniaku. Aku tak ingat persisnya mulai usia berapa aku gemar membaca. Namun, aku ingat jelas: masa kecilku kuhabiskan dengan menekuri lembar demi lembar majalah Bobo; komik bergambar macam Nina, Tintin, Asterix, atau Steven Sterk; komik Jepang semisal Candy Candy, Pansy, Mari-chan, atau Doraemon; novel seperti Lima Sekawan, Trio Detektif, Stop, atau Malory Towers; bahkan novel detektif karya Agatha Christie.

Begitu senangnya aku membaca sehingga pergi ke perpustakaan, toko buku, atau tempat persewaan buku menjadi suatu agenda yang menyenangkan. Aku tak tahu pasti penyebab minat bacaku waktu itu tumbuh dengan pesat. Hal itu mungkin dikarenakan orang tuaku sering membelikan buku dan menyediakan aneka bacaan di rumah.

Beranjak dewasa, aku menyadari bahwa buku adalah jendela dunia. Aku pernah menjadi salah satu kandidat terbaik dalam seleksi yang diadakan oleh sebuah kantor surat kabar di Jakarta ketika mereka mencari calon wartawan baru. Pertanyaan dan tes yang diajukan kebanyakan tentang pengetahuan umum.

Aku yakin kegemaranku membaca rubrik pengetahuan di majalah, membaca koran, dan melihat berita di televisi, turut andil dalam hal itu. Anak yang minat bacanya tinggi cenderung lebih gampang menerima informasi. Tentu pengetahuan mereka juga lebih banyak.

Untuk menulis, mereka tidak akan menemui kesulitan yang berarti karena perbendaharaan kata sudah beragam. Bahkan aku pernah membaca—entah di mana aku lupa—anak yang suka membaca lebih pandai dan lebih kritis, terutama dalam diskusi, dibanding dengan yang tidak suka membaca.

Dulu semasa keluargaku masih berlangganan majalah Bobo, aku gemar sekali membaca serial Pak Janggut dan mengumpulkan sisipan-sisipannya, lalu dibundel menjadi kumpulan tersendiri. Beberapa koleksi buku yang cukup serius kukumpulkan dan kusimpan hingga kini adalah koleksi Tintin, serta novel-novel karya Agatha Christie, Nicholas Sparks, dan Ika Natassa.

Awal mula kecintaanku pada komik Tintin adalah karena sebagai anak kecil dengan keingintahuan yang besar tentang dunia luar, membaca komik Tintin membuatku serasa dibawa bertualang ke tempat-tempat baru. Mungkin dari komik Tintin-lah aku pertama kali membaca nama-nama tempat seperti Tibet, Kongo, dan Azerbaijan.

Novel Agatha Christie adalah novel yang pertama kubaca dan menjadi pemantikku dalam kegemaran membaca novel. Kalau tidak salah ingat, waktu itu aku duduk di kelas 5 atau 6 SD, dan “Pesta Hallowe'en” adalah novel Agatha Christie yang pertama kubawa pulang dari kios persewaan buku.

Setelah membaca hampir semua judul novelnya, lama-lama aku jadi bisa menebak cara berpikir Agatha Christie dalam menentukan siapa tokoh antagonisnya. Meskipun demikian, caranya menulis alur dan membuat penokohan selalu membuatku kagum. Sebagai penulis fiksi, aku banyak belajar dari novel-novelnya.

Membaca karya fiksi selalu menjadi kesenangan buatku, sejak zaman kecil dulu hingga kini sudah menjadi emak beranak lima. Setelah menjadi penulis fiksi (abal-abal, hahaha), membaca karya fiksi seolah menjadi kewajiban untuk menambah ilmu dan memperkaya khazanah. Supaya dapat menulis fiksi dengan baik tentu aku harus mengisi pula asupan dengan banyak membaca karya fiksi.

Saat ini dalam membaca karya fiksi, aku juga mengamati bagaimana penulis membangun unsur-unsur intrinsik seperti membangun tema, menentukan sudut pandang, menciptakan penokohan beserta karakternya, menuliskan alur, menggunakan gaya bahasa, dan memilih latar.

Ada banyak sekali novel yang menginspirasiku–tentu tak akan cukup aku bahas di sini–tetapi ada satu penulis yang novelnya cukup kaya untuk dipelajari sisi-sisi kepenulisannya. Adalah Nicholas Sparks, seorang penulis yang dikenal sebagai spesialis penulis dengan ending tragis dalam novel-novelnya, yang membuatku terkagum-kagum.

Dia piawai dalam menulis deskripsi dan menggambarkan suasana yang sangat membantu pembaca untuk membayangkan konteks cerita. Tidak hanya pada latar, tetapi juga pada bagian-bagian detail lainnya. Penggambaran selalu deskriptif mengenai apa pun dan tidak membosankan, meskipun selalu dilihat dari sudut pandang orang pertama.

Sparks selalu keren dalam menciptakan tokoh yang berkarakter. Sudut pandang orang pertama sering dipakai dalam novel. Dari segi penggambaran emosi, perasaan tokoh pun tersampaikan dengan baik. Hal ini tentu membuat pembaca ikut larut dalam cerita. Aku angkat topi untuk kemampuan Sparks menulis tentang emosi secara mendalam.

Beberapa judul novelnya tidak diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia, sehingga koleksiku tidak cukup lengkap (aku lebih suka membaca novel dalam Bahasa Indonesia). Sebagian besar novelnya bahkan tak lagi dicetak ulang oleh Gramedia. Meskipun hanya tujuh judul novelnya yang kumiliki, koleksi ini termasuk koleksi yang kuanggap sangat berharga.

Saat ini aku sedang senang membaca novel-novel Ika Natassa, satu-satunya penulis Indonesia yang seluruh judul novelnya kumiliki. Novel-novelnya bergenre romansa dan beraliran metro pop.

Novel Critival Eleven adalah novel Ika Natassa pertama yang aku baca, dan hingga saat ini masih menjadi novelnya yang paling aku suka. Novel ini menceritakan tentang konflik yang dialami oleh sepasang suami istri, Ale dan Anya, ketika rumah tangga mereka ditimpa badai besar.

Ika Natassa sangat pandai menggarap penokohan. Karakter tokoh-tokoh utama sangat kuat. Hampir semua tokohnya adalah sosok sukses dan profesional dalam hal karir, tapi ternyata secara emosi dan psikis mengalami kebingungan dan masalah dalam hal percintaan.

Narasi dalam tulisan-tulisannya mengalir dengan nyaman, dan tanpa terasa kita sudah dibawa ke akhir cerita. Banyak insight keren dan on point dalam tulisannya, yang seringkali membuatku merenungkan ulang kehidupan (percintaan).

Begitulah, me time favoritku tanpa internet memang sederhana: hanya cukup dengan membaca buku. Namun, aktivitas yang tampak sederhana ini mampu membawaku larut mojok di kamar selama berjam-jam dan somehow membawa keriaan dalam hidupku.

A reader lives a thousand lives before he dies, said Jojen. The man who never reads lives only one.” ― George R.R. Martin, A Dance with Dragons

Tulisan ini diikutsertakan dalam Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan Juni yang bertema “Me Time Tanpa Internet”.

Wednesday, March 01, 2023

Mengelola Jadwal dengan Planner

Sebagai seseorang yang (sok) sibuk, memiliki banyak kegiatan, dan memiliki banyak anak yang masing-masing memiliki banyak kegiatan (hahaha!) … mengingat jadwal agenda bukan sesuatu yang mudah. Tidak semua acara dapat diingat begitu saja, apalagi jika ada beberapa agenda dalam satu hari sekaligus. Kadang bahkan beberapa acara mengalami bentrok karena dilaksanakan pada waktu yang bersamaan.

Kemampuan untuk mengelola jadwal kegiatan memang tergantung pada keahlian masing-masing orang. Kebetulan aku adalah orang yang cukup well-organized dan well-planned. Salah satu caraku mengelola jadwal kegiatan adalah dengan menuliskannya pada planner. Planner adalah sarana yang dapat digunakan untuk merekam dan menulis berbagai tugas, janji, dan catatan. Planner berfungsi menyimpan segala informasi mengenai perencanaan kegiatan sehingga aku dapat mengaksesnya dengan mudah saat dibutuhkan.


Ketika masih sering memakai planner yang dicetak pada kertas HVS

Planner-ku berisi perencanaan harian atau mingguan yang berisi jadwal harian dan to-do list. To-do list adalah daftar tugas atau kegiatan yang perlu kuselesaikan, biasanya disusun berdasar skala prioritas. Dengan menuliskan beberapa kegiatan yang harus dikerjakan, secara otomatis aku akan mengatur waktu dan membuat jadwal dalam pengerjaannya. Hal itu sangat membantuku untuk terampil dalam urusan manajemen waktu dan membuatku mudah mengingat jadwal.

Saat ini planner dibuat dalam berbagai platform, baik planner cetak yang ditulis dengan tangan maupun planner digital berupa aplikasi yang dapat dipasang pada gawai atau komputer. Pemilihan planner yang paling nyaman dan paling cocok bisa saja berbeda menurut masing-masing orang karena masing-masing planner memiliki kelebihan dan kekurangan.

Khusus buatku yang harus membagi waktu antara pekerjaan kantor, jadwal olahraga (berlari, strength training, yoga, senam aerobik, coaching lari) serta jadwal mengantar anak les atau acara sekolah, aku sangat terbantu dengan adanya planner. Planner yang kumiliki ada beberapa, meliputi planner untuk agenda kantor, workout plan, juga training plan khusus lari.


Training plan Half Marathon dengan aplikasi Running with Hal

Training plan khusus lari aku susun dengan aplikasi Running with Hal. Aplikasi ini membantu kita dalam membangun training plan berdasar hari latihan yang bisa kita alokasikan, target pace, serta variasi latihan. Selain memudahkan mengatur jadwal, ternyata aplikasi ini sangat membantu untuk bisa konsisten berlatih. Ada evaluasi berupa nilai untuk melihat seberapa tertib kita menaati training plan, baik dalam hal frekuensi maupun intensitas latihan. Sebagai seseorang yang perfeksionis, mendapat nilai dalam pemenuhan training plan tentunya makin membuatku terpacu untuk menyelesaikan latihan demi latihan dengan baik. Kelebihan lain dari aplikasi ini: ia dapat dengan mudah dikoneksikan dengan perekam data olahraga seperti Garmin Connect dan Strava. Hal ini membuat data dapat disinkronkan dengan mudah tanpa harus mengisi evaluasi latihan secara manual.


Contoh workout plan yang kususun pada awal minggu bersama coach

Workout plan kubuat tiap awal minggu dengan aplikasi Canva setelah dikonsultasikan dengan coach. Berbagai pertimbangan dimasukkan dalam penyusunan workout plan, di antaranya frekuensi latihan (berlari tiga kali seminggu, strength training tiga kali seminggu, yoga sekali seminggu), variasi jenis latihan (lower body, upper body, full body), tipe latihan (cardio, strength training, mobility, flexibility), serta waktu untuk rest dan recovery. Mengapa latihannya harus selengkap itu? Karena menu latihan seorang pelari bukan hanya berlari, melainkan juga harus memasukkan strength training, mobility, dan flexibility untuk menguatkan otot, melatih fleksibilitas otot, menguatkan core, memperbaiki teknik berlari sehingga keseluruhannya meningkatkan performa berlari, mengatasi imbalance, dan mencegah overuse injury.


Buku planner gado-gado

Nah, yang terakhir adalah planner untuk agenda kantor, pekerjaan, dan kegiatan secara umum. Untuk yang satu ini aku lebih nyaman menggunakan sistem manual dengan planner berupa buku. Jadwal meeting dan jadwal operasional lapangan kumasukkan ke sini, juga appointment dan jadwal olahraga. Buku planner ini isinya memang gado-gado sekali. Tujuannya untuk merangkum semua acara harian dan mengetahui slot waktu yang masih kosong, sehingga bila ada permintaan mengajar atau rapat, aku bisa segera mengonfirmasi ketersediaan waktu.

Demikian sekilas tentang kebiasaanku mengelola jadwal dengan planner. Buatku ini life hack yang sangat memudahkan kehidupanku sehari-hari, serta membuat hidupku yang penuh dengan seabrek agenda menjadi lebih produktif dan lebih efisien karena terasa lebih sat set dalam manajemen waktu dan kegiatan. Menyusun jadwal dengan planner selalu menjadi aktivitas yang menyenangkan di awal minggu. Membubuhkan checklist di samping agenda yang sudah done itu juga menimbulkan kepuasan tersendiri … karena itu berarti aku berhasil merealisasikan agenda sesuai rencana. Ya, sesederhana itu memang kebahagiaanku, hehehe

Beberapa tips mengelola jadwal dengan planner:

  1. Tulis daftar tugas atau kegiatan yang akan dikerjakan.
  2. Susun jadwal berdasarkan urgensi, prioritas, atau kronologi.
  3. Tulis hal-hal yang harus diingat atau hal-hal penting pada kolom khusus.



Tulisan ini diikutsertakan dalam Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan Maret yang bertema “Life Hack (Produk atau Metode) yang Mempermudah Hidup”.

Thursday, October 06, 2022

Manual Brewing: Cara Jitu Menikmati Keunikan Kopi

Kegemaranku minum kopi telah mengalami transformasi besar-besaran selama kurun waktu dua puluh tahun ini. Ketika pertama kali mencicipi kopi pada saat kuliah, aku hanya minum kopi saset demi tujuan menemani malam-malam begadang untuk belajar atau mengerjakan tugas. Kopi saset yang menjadi favoritku di masa itu adalah Nescafe 3 in 1 instant cream latte dengan kemasan stik. Kopi yang mungkin isinya lebih banyak perisa dan gula, tetapi ampuh untuk mengganjal mataku hingga dini hari.

Coffee map dari sini

Lambat laun aku mulai beralih ke kopi tubruk dan beberapa jenis kopi espresso-based, masih dengan gula tentunya. Kopi tubruk favorit adalah Kopi Aroma, yang dulu hanya melayani pembelian di toko Jl. Banceuy No. 51, Bandung. Namun, kini produk toko tersebut bisa pula kita temukan di beberapa supermarket besar atau online shop di marketplace. Sementara kopi espresso-based favorit adalah americano, latte, atau cappucino.

Ketika gaya hidupku beralih ke gaya hidup sehat dengan menjaga pola makan, kegemaranku minum kopi tidak berhenti. Kopi memiliki banyak manfaat, antara lain: meningkatkan kinerja otak, menurunkan risiko kanker dan diabetes, sebagai sumber antioksidan, bahkan dapat membantu membakar lemak karena meningkatkan metabolisme–dengan jumlah gula yang tidak berlebihan tentu saja. Aku kemudian mencoba mengurangi gula yang terkandung di dalamnya, mulai dari less sugar hingga kini aku bisa minum kopi dengan no sugar sama sekali.

Berbagai pilihan metode manual brewing, sumber dari sini

Perjalananku menjadi penikmat kopi memasuki babak baru ketika seorang teman memperkenalkanku pada manual brewing. Manual brewing adalah teknik menyajikan kopi yang diseduh dengan cara manual. Teknik ini menggunakan bubuk kopi yang sudah digiling, kertas filter, dan air panas yang sudah ditentukan tingkat temperaturnya. Filter berfungsi menahan semua elemen yang tersaring, termasuk minyak dari biji kopi, sehingga menghasilkan hasil seduh yang jernih. Minuman yang dihasilkan adalah kopi hitam tanpa ampas yang memiliki tingkat ketajaman rasa yang berbeda, tergantung alat seduh yang digunakan dan jenis biji kopinya. Sebaiknya kopi hasil seduh manual brew ini dinikmati tanpa campuran susu atau gula untuk mempertahankan keunikan rasanya.

Bila kita memesan kopi manual brew, biasanya ada beberapa pilihan biji kopi yang beragam, lokal maupun impor, single origin maupun blend. Aku lebih suka menjajal coffee shop kecil yang bersifat private karena biasanya kita bisa lebih leluasa mengobrol dengan baristanya. Pada kesempatan seperti itu, kita bisa bertanya seperti apa tasting notes yang dimiliki oleh pilihan biji kopi tersebut, atau informasi lain tentang perbedaan-perbedaan biji kopi yang dihasilkan oleh berbagai daerah di Indonesia atau mancanegara.

Beberapa metode manual brewing yang jamak ditemui di coffee shop tanah air adalah metode Pour Over (V60, Chemex, Kalita Wave), French Press, Aeropress, Syphon, Cold Brew, dan Vietnam Drip. Dari berbagai macam metode manual brewing, ada banyak faktor yang menentukan hasil seduh, seperti pemilihan jenis kopi yang tepat, ukuran gilingan yang sesuai, dan teknik penyeduhan yang benar. Berbagai macam metode ini juga berpengaruh terhadap cita rasa kopi, meliputi body dan clarity. Biji kopi yang sama dapat menghasilkan rasa kopi yang berbeda bila diseduh dengan metode yang berbeda. Contohnya bila diseduh dengan metode French Press, rasa yang dihasilkan memiliki karakter body yang lebih tebal. Jika ingin rasa yang lebih clean, lebih baik bila biji kopi diseduh dengan V60 yang lebih mengunggulkan flavor daripada body.

Manual brewing yang menjadi favoritku adalah metode V60. Cangkir V60 pertamaku kunikmati pada suatu petang di Kedai Badai, Bandung, sebuah coffee shop mungil yang kini sudah tak ada lagi. Ada rasa aneh yang muncul, kemudian sensasi nikmat yang mengikutinya. Lama-lama penjelajahanku terhadap V60 dari kafe ke kafe membuatku terbiasa, dan kemudian menjadikannya cara favorit untuk menikmati kopi dengan hasil seduh clean dan full clarity.

Beraneka ragam cita rasa kopi, sumber dari sini

Aku dulu merasa aneh jika ada orang bicara tentang rasa macam-macam kopi, mulai dari strong/bold dan full body, hingga flavorful seperti floral, fruity, nutty, dan herbs (bercita rasa seperti rempah-rempah atau jamu). Sebelum aku paham, rasanya semua kopi sama saja, aku cuma bisa membedakan pahit atau asam. Sejak menjadi penikmat V60, aku mulai bisa merasakan cita rasa yang beraneka ragam … dan ternyata memang beda-beda banget rasanya. Menikmati kopi dengan kemurnian yang hakiki itu nyatanya membawa lidah kita lebih peka dalam mengeksplorasi berbagai macam cita rasa kopi yang berbeda.

Beberapa biji kopi single origin specialty yang menjadi favoritku adalah kopi Flores Bajawa, Flores Yellow Caturra, Toraja, Papua Wamena, Bali Kintamani, Mandailing, dan kopi-kopi Jawa Barat seperti Gunung Halu, Gunung Puntang, Ciwidey, dan Caringin Tilu. Kopi-kopi yang ditanam di tanah vulkanik pada dataran tinggi seperti kopi Flores dan Papua memiliki cita rasa yang kuat (moderate bold dan full body), tingkat keasaman yang medium, dan aroma yang lebih harum (semisal aroma cherry, blueberry, nuts, atau sweet caramel). Sementara kopi Bali Kintamani yang bervarietas arabika rasanya lebih lembut, ringan, medium body, tingkat keasaman rendah (sweet mild acidic), dan clean finish.

Aku tidak suka kopi Aceh seperti kopi Gayo karena menurutku terlalu asam. Aku juga pernah mencoba beberapa jenis biji kopi mancanegara, seperti kopi Tanzania dan kopi Kenya, tetapi tidak cocok dengan lidahku. Rasanya eksotis sih, ada semacam aroma rempah seperti jamu, tetapi pahit dan rasa asamnya sedikit lebih kuat.

Manual brewing adalah suatu alternatif bagi para penggemar kopi untuk dapat menikmati rasa yang unik dan berbeda bila dibandingkan dengan kopi espresso-based. Manual brewing membawa kita menjelajahi cita rasa dan pengetahuan yang lebih dalam di dunia kopi. Jika ada kesempatan, tak ada salahnya menjajal metode yang satu ini. Namun, pada akhirnya kopi yang paling enak adalah kopi yang dinikmati dengan hati penuh syukur :)


Tulisan ini diikutsertakan dalam Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan Oktober yang bertema “Mamah dan Kopi”.

Sunday, September 18, 2022

Mengubah Kebiasaan

Menurut KBBI, “kebiasaan” adalah (1) sesuatu yang biasa dikerjakan dan sebagainya; (2) pola untuk melakukan tanggapan terhadap situasi tertentu yang dipelajari oleh seorang individu dan yang dilakukannya secara berulang untuk hal yang sama. Jika seseorang sudah memiliki kebiasaan akan sesuatu, dia akan melakukannya dengan rutin, effortless, dan spontan. Spontan dalam hal ini berarti terjadi otomatis tanpa perlu dipikirkan sebelumnya.

Karena kebiasaan mempengaruhi spontanitas, kita harus sadar diri untuk menjadikan hal-hal baik sebagai kebiasaan. Hal ini mengandung hikmah supaya ketika kita bersikap spontan, hanya hal-hal baik yang mewujud dari lisan dan perbuatan kita. Contoh sederhananya adalah memperbanyak istigfar ketika terkejut sehingga bila suatu saat kita terkaget-kaget karena sesuatu, kita akan spontan berucap “Astaghfirullah” dan bukan “Eh, ayam ayam ayam”, misalnya.

Kebiasaan juga mempengaruhi perasaan dan kecenderungan. Contoh paling gampang adalah soal makanan. Kebanyakan dari kita pasti lebih familiar dengan menu makanan nusantara, maka hal tersebut akan mempengaruhi preferensi kita dalam hal selera. Tentu kita akan memilih rasa yang paling “dekat” dengan menu sehari-hari–bahkan ketika kita sedang bepergian sekalipun–karena hal itu berkaitan dengan kebiasaan.

Rumus mengubah kebiasaan ada dua, yaitu latihan dan repetisi. Kita perlu berlatih supaya kita bisa, sedangkan repetisi diperlukan supaya kita terbiasa. Banyak orang meyakini bahwa waktu yang diperlukan untuk membentuk sebuah kebiasaan baru adalah empat puluh hari, di antaranya Kelly McGonigal yang menulis buku 40 Days to Positive Change atau Tommy Newberry yang menulis buku 40 Days to a Joy-Filled Life. Oleh karena itu, minimal kita berlatih dan melakukan repetisi selama empat puluh hari untuk membentuk sebuah kebiasaan.

Bagaimana dengan waktu yang diperlukan untuk mengubah kebiasaan lama? Memang tidak ada angka yang pasti, tetapi Ustaz Weemar dalam kajiannya menyebutkan bahwa hal tersebut membutuhkan waktu sekitar satu tahun. Hal ini tentu tergantung pada kedalaman tingkat kebiasaannya. Karena meninggalkan kebiasaan lama itu susah, jangan sekali-kali kita membentuk kebiasaan buruk dengan mencoba melakukan hal-hal yang tidak baik. Lebih baik sedari awal kita tidak mencicipinya sedikit pun. Jika kebiasaan buruk sudah terbentuk, dia akan mengalahkan akal.

Selain latihan dan repetisi, hal terpenting dalam membentuk kebiasaan adalah sifat istikamah. Menurut KBBI, “istikamah” adalah sikap teguh pendirian dan selalu konsisten. Dalam hal kebaikan, istikamah dapat diartikan tetap konsisten pada jalan yang benar dengan progres kebiasaan yang terus naik (tidak datar) sehingga hari esok lebih baik daripada hari ini. Hal tersebut tentu sungguh berat karena terkait erat dengan pembiasaan, tetapi sangat diperlukan demi perubahan ke arah yang lebih baik.

Rasulullah Saw. bersabda, "Wahai sekalian manusia. Kerjakanlah amalan-amalan sesuai dengan kemampuan kalian. Sesungguhnya Allah tidak bosan sampai kalian bosan. Dan sungguh, amalan yang paling dicintai oleh Allah yaitu yang dikerjakan secara terus-menerus walaupun sedikit." (H.R. Bukhari dan Muslim)

"Maka istikamahlah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah tobat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan." (Q.S. Hud: 112)

Thursday, June 30, 2022

Sehari dalam Hidupku

Nulis Kompakan Mamah Gajah Ngeblog” bulan Juni 2022 mengambil tema “Rutinitas Harian Mamah”. Beberapa mamah merasa khawatir tulisan mereka akan membosankan jika bercerita tentang kegiatan sehari-hari. Ummm, sebenarnya hal itu juga menjadi kekhawatiranku hahaha. Namun, konon katanya rutinitas itu membentuk struktur. Orang yang kesehariannya terstruktur dan tersistematis, katanya cenderung lebih berhasil dalam mencapai tujuan hidup. Jadi, baiklah … mari kita tuliskan saja. Siapa tahu mengandung hal yang bermanfaat serta membawa kebaikan bagi yang menulis dan membaca.

Gambar diambil dari sini

Pagi yang Rusuh

Sebagai ibu dari empat anak yang tiga di antaranya bersekolah, bagaimana aku memulai hari tentu sudah bisa dibayangkan. Aku bukan tipe morning person, melainkan tipe night owl. Jadi, jangan berpikir aku bangun di pagi buta, menyiapkan segalanya, lalu baru membangunkan anak-anak. Seringnya justru aku bangun ketika azan subuh sudah berkumandang beberapa menit sebelumnya, kriyep-kriyep sebentar sambil menggeliat, barulah berjalan ke kamar anak-anak untuk membangunkan mereka.

Grasak-grusuk ini akan lebih terasa hebohnya ketika aku bangun kesiangan dan anak-anak terlampau susah untuk dibangunkan. Sebagai pekerja kantoran yang mengejar jam masuk kerja sekaligus jam masuk sekolah anak-anak, hal ini menjadi tantangan tersendiri. Dulu semasa kami tinggal di Bandung, hal ini tidak pernah menjadi masalah. Anak-anak berangkat dengan mobil jemputan, jadi aku tinggal mengurusi diriku sendiri. Aku bahkan masih sempat jogging sejenak sebelum berangkat kerja, mengingat jarak rumah-kantor yang cukup dekat dan bisa ditempuh hanya dalam waktu lima belas menit memakai motor.

Kini … jangan harap. Kami harus berangkat pagi-pagi sekali untuk menghindari kemacetan. Apalagi kondisi PPKM sudah melonggar dan anak-anak sekolah sudah hadir secara tatap muka. Untungnya aku tidak harus sibuk berkutat dengan urusan dapur. Soal sarapan, ada Mbak ART yang bertugas mempersiapkan. Aku memang tidak bisa dan tidak suka memasak sehingga opsi berlangganan katering adalah opsi yang aku pilih untuk membuatku tetap waras.

Ciuman Sebelum Pergi

Sebelum pandemi melanda, aku dan suamiku sudah menjalani long distance marriage selama tiga belas tahun. Aku dan anak-anak pindah ke Tangerang Selatan tahun lalu sehingga bisa tinggal seatap dengan suami. Semenjak itu, ada satu rutinitas kecil yang selalu kami lakukan sebelum aku dan suamiku berpisah untuk berangkat ke tempat kerja masing-masing, yaitu ciuman sayang di punggung tangan dan di pipi.

We embrace every moment, we don’t take it for granted … karena kami tahu betul hal itu tak bisa kami lakukan ketika kemarin-kemarin kami menjalani LDM. Oleh karena itu, menguluk salam sambil mencium tangan dan pipi sebelum pergi menjadi semacam hal wajib sekarang. Kalau tidak dilakukan, rasanya ada yang kurang, seperti misalnya kalau salah satu dari kami sudah rusuh harus berangkat sementara yang satu masih di kamar mandi, hahaha.

Pergi Bekerja

Setelah mengantar anak-anak ke sekolah mereka, aku lanjut menyetir ke tempat kerja. Aku bekerja di unit Quality Assurance pada sebuah instalasi nuklir. Dulu ketika di Bandung, instalasi nuklir itu berupa reaktor nuklir. Sekarang aku ditempatkan di instalasi pengelolaan limbah radioaktif.

Sebagai QA, tugasku memastikan penerapan dan pemenuhan terhadap standar, regulasi, dan persyaratan-persyaratan dari proses/kegiatan yang berlangsung di instalasi, mulai dari aspek keselamatan, keamanan, K3, lingkungan, hingga safeguard (keamanan sumber radioaktif dan bahan nuklir). Hari-hari yang sibuk biasanya hadir jika ada audit, inspeksi, atau pemeriksaan dari pihak yang berwenang. Pada hari-hari seperti itu, aku bisa mondar-mandir berkali-kali melayani pemeriksaan dari satu area ke area lain.

Pada hari-hari yang lebih santai, aku dan rekan kerja kadang melakukan botram, olahraga bersama, atau sekedar ngopi bareng di ruang kerja. Tak dapat dipungkiri, rekan-rekan kerja itu sudah seperti saudara. Sepertiga waktu dalam sehari dihabiskan bersama mereka. Merekalah yang bisa diandalkan dalam bermitra kerja, atau bila suatu saat terjadi kedaruratan–na’udzubillahi min dzalik. Kehangatan dan kekeluargaan itu bagiku sangat berpengaruh terhadap kenyamanan di tempat kerja.

Pulang Kerja

Sepulang dari kantor aku selalu menyempatkan diri untuk berolahraga. Karena pagi hari selalu rusuh, aku menempatkan slot waktu berolahraga pada sore hari. Kadang hal itu menjadi motivasiku untuk berangkat kerja, karena aku tahu setelah seharian bekerja aku akan menutup hari dengan mereguk endorfin dari aktivitas olahraga.

Dulu ketika di Bandung, olahraga yang kulakukan bervariasi antara senam aerobik, yoga, berlari, strength training, dan berenang. Di Tangerang Selatan aku belum menemukan studio dan gym yang cocok sehingga aku lebih banyak berlari sekarang. Jika menu lari hari itu di bawah 7 km, aku berlari di Perumahan Puspiptek dekat kantor yang relatif pendek jarak looping-nya. Namun, jika menu larinya di atas 7 km, aku memilih berlari di trek panjang Binloop–yang satu loop-nya sekitar 12 km di sepanjang boulevard Bintaro Jaya.

Jalanan Perumahan Puspiptek yang enak buat lari

Trek lari di sepanjang boulevard Bintaro Jaya


Malam Hari

Selepas petang biasanya aku baru sampai di rumah. Waktu-waktu setelah itu adalah family time. Aku mendampingi anak-anak menyantap makan malam, bermain, belajar, atau menonton televisi. Setelah anak-anak tidur, baru aku beralih ke me time.

Gambar diambil dari sini

Sambil menunggu suami pulang, aku mengerjakan hal-hal yang terkait dengan porsi pribadi. Biasanya aku membaca, menulis, atau mengaji di waktu-waktu ini. Kadang aktivitas tersebut baru selesai jauh lewat tengah malam. Yah, mau bagaimana lagi, hidup baru bisa terasa tenang jika anak-anak sudah tidur, hahaha.

Buku-buku antologiku, sebagian besar tulisannya dihasilkan di malam hari


Penutup

Sesibuk apa pun seorang ibu dalam keseharian, jangan sampai melewatkan waktu untuk menunaikan me time. Aktivitas ini bisa sangat beragam bentuknya, tergantung aktivitas apa yang paling pas untuk me-refresh mind, body, and soul.

Jika seorang ibu tidak sehat, entah itu fisik atau mentalnya, kehidupan sebuah keluarga akan menjadi timpang. Jika kondisi ibu tidak prima, bagaimana dia bisa mengurus keluarga dengan baik? Seorang ibu yang bahagia akan menghasilkan keluarga yang bahagia. Oleh karena itu, self care is not selfish. Waktu seorang ibu untuk menyeimbangkan dirinya menjadi sebuah kebutuhan. Dengan kewarasan inilah seorang ibu bisa mengutuhkan dirinya sehingga bisa memberi dengan maksimal untuk keluarga dan masyarakat.

Monday, December 20, 2021

Selamat Tinggal, 2021!

Aku bukan tipe orang yang gemar beresolusi. Kalaupun ada target-target yang ingin kucapai, biasanya aku hanya mencantumkannya dalam daftar keinginan. Menoleh kembali ke belakang, sepanjang 2021 beberapa daftar keinginan ternyata tidak berhasil tercapai. Sebaliknya, beberapa hal indah di luar ekspektasi malah tercapai tanpa perencanaan.

Dalam kehidupan keluarga, keinginan yang akhirnya menjadi kenyataan adalah berakhirnya masa Long Distance Marriage (LDM) setelah tiga belas tahun. Ya, akhirnya aku, suami, dan anak-anak tinggal serumah seperti impian kami selama ini. Meskipun lokasinya bukan di Bandung seperti cita-citaku, ya sudahlah … yang penting kami semua bisa bersama-sama. Hal ini tidak ada dalam perencanaan jangka panjang sebelumnya. Langkah riil untuk bisa pindah baru kami mulai sekitar 2019 dan alhamdulillah Allah mudahkan, baik dalam hal mencari tempat tinggal, mencari sekolah anak-anak, maupun urusan mutasi pekerjaanku.

Dalam hobi olahraga, ada satu keinginan yang gagal tercapai, yaitu mengikuti pelatihan dan sertifikasi pelatih kebugaran. Kesibukan yang cukup menyita waktu dan jadwal yang belum pas menjadi penyebabnya. Namun, ada hal-hal indah yang Allah karuniakan dalam hobiku sebagai pelari rekreasional.

HM pada Pocari Sweat Run Indonesia, Oktober 2021

Yang pertama adalah target Half Marathon (HM). Sejak berhasil ikut race 10 km perdana pada 2020, aku sudah mencanangkan untuk bisa mewujudkan HM pada 2021. Tak disangka, bukan saja berhasil melaksanakannya, aku malah berhasil melakukan HM dua kali! Yang pertama adalah HM mandiri pada bulan April, yang kedua adalah HM pada pergelaran Pocari Sweat Run Indonesia pada bulan Oktober dengan perolehan waktu yang jauh lebih baik dibanding yang pertama.

Capaian podium pada IAE Virtual Runcovery, November-Desember 2021

Pencapaian kedua dalam kaitannya dengan hobi berlari adalah keberhasilan menggapai podium. Sungguh, selama enam tahun berlari, baru kali ini aku mendapatkan podium, hahaha. Podium pertama kudapatkan saat pergelaran IAE Virtual Runcovery untuk kategori berikut ini:

  • Juara kedua kategori top days accumulative (Tim CiYus AH): tim kedua tercepat yang menyelesaikan 42,2 km per orang (30 hari 6 jam 1 menit)
  • Juara pertama kategori ultimate furthest team run (Tim CiYus AH): 527 km selama sebulan
  • Juara kedua kategori furthest individual run (perseorangan): 155 km selama sebulan

Hasil lariku untuk Hyped Team

Hasil lariku untuk IAEsthetic Runner

Podium berikutnya kudapatkan saat pergelaran ITB Ultra Marathon akhir pekan kemarin. Dalam event ini aku tergabung di dalam dua tim yang sama-sama berlaga pada kategori T10 female (jarak 100 km dilarikan oleh 10 pelari dengan jarak tempuh masing-masing 10 km). Tim pertama adalah IAEsthetic Runner dari jurusan Teknik Elektro, tim kedua adalah Hyped Team dari MamahGajahBerlari. Setelah berlatih berminggu-minggu, selama dua hari berturut-turut aku berhasil menorehkan Personel Best melampaui catatan waktu lari sebelumnya. Alhasil dalam leaderboard, IAEsthetic Runner menduduki posisi kedua dan Hyped Team menduduki posisi ketiga.

Leaderboard ITB Ultra Marathon 18-19 Desember 2021

Dalam lomba lari yang dipertandingkan secara tim, aku tak menafikan kenyataan bahwa anggota-anggota tim yang lain berlari lebih kencang daripada aku. Memang betul aku masih menjadi personel yang paling lambat, tetapi pencapaian ini merupakan prestasi pribadi karena pace lariku makin membaik seiring berjalannya waktu.

Lalu daftar keinginan apa yang ingin kubuat untuk 2022? Tak muluk-muluk, aku ingin lebih mudah beradaptasi dengan lingkungan kantor baru. Kemudian, aku juga masih berkeinginan untuk mengikuti pelatihan dan sertifikasi pelatih kebugaran suatu hari nanti sebagai prasyarat menjadi postnatal corrective exercise specialist. Untuk hobi berlari, aku masih akan berkutat pada program race 10 km dan HM, tetapi dengan target perolehan waktu yang lebih baik. Mudah-mudahan tahun depan aku bisa finis dengan strong pada lomba-lomba lari yang kuikuti, syukur-syukur bisa mendapat podium kembali.

Monday, December 13, 2021

Gawai dan Produktivitas

Aku pernah menulis di sini tentang bagaimana gawai dapat membuat seseorang menjadi antisosial dan teralienasi dari orang-orang terdekat. Nilai positifnya tentu ada, dalam kaitannya dengan kepraktisan dan kemudahan. Memang gawai ini bagaikan dua sisi mata pisau, tinggal bagaimana kita menggunakannya. Lantas bagaimana hubungan antara gawai dengan produktivitas seseorang?

Dalam era kapitalisme seperti sekarang ini, dunia dikuasai oleh kaum pemodal. Dengan tatanan dunia baru yang mereka ciptakan, tujuan mereka adalah menguasai sumber daya demi mendapatkan keuntungan (materi) sebanyak-banyaknya. Dunia digital dan media adalah salah satu alat yang mereka gunakan untuk mencapai tujuan itu.

Oleh karena itu, tak mengherankan jika banyak komoditas yang mereka ciptakan sedemikian rupa sehingga menimbulkan ketergantungan masyarakat dengan harapan supaya orang mau melakukan apa saja untuk mendapatkannya. Sebut saja gawai jenis terbaru, aplikasi-aplikasi terkini, media sosial, game, atau produk-produk dunia digital lainnya, yang membuat generasi zaman sekarang begitu takut tertinggal dari lingkungannya jika tidak ikut serta memiliki atau menggandrungi (fear of missing out atau FOMO).

Jika dihubungkan dengan tugas utama kita sebagai hamba Allah, yaitu untuk menjadi khalifah di muka bumi dan untuk beribadah kepada-Nya, keriuhan dunia ini bisa jadi sangat melenakan. Alih-alih memikirkan kebermanfaatan kita untuk umat, kita malah sibuk memikirkan konten yang laku, sibuk scrolling media sosial, sibuk berjoget Tik-Tok, atau yang lainnya. Bahkan kadang-kadang kita jadi melalaikan waktu salat karena terlalu lama melihat-lihat feed Instagram atau Facebook. Astaghfirullah

Lalu apa yang harus kita lakukan? Apakah kita harus menghindari gawai sama sekali? Tentu bukan begitu kesimpulannya. Kemajuan teknologi harus didudukkan sesuai porsinya, sesuai dengan makna produktivitas menurut kacamata seorang muslim. Jika tidak demikian, kemajuan teknologi–termasuk gawai–justru dapat menimbulkan kehancuran. Kita produktif bekerja bukan sekadar untuk menjadi kaya, tetapi juga untuk beribadah karena Allah perintahkan demikian. Begitu juga halnya dengan gawai. Jika kita gunakan untuk produktif beribadah, insyaallah gawai akan mendatangkan kemaslahatan.

Beberapa langkah sederhana yang bisa kita lakukan:

  • Memastikan gawai digunakan untuk hal-hal produktif yang mendukung kebaikan, misalnya: untuk mengikuti kajian, untuk bekerja halal, untuk belajar, dll.
  • Memastikan gawai terhindar dari konten negatif, ujaran kebencian, dan hal-hal yang merusak atau mendukung keburukan.
  • Memastikan kita tidak menyibukkan diri untuk melakukan hal-hal yang sia-sia dengan gawai, misalnya: scrolling media sosial tanpa tujuan, ngepoin berita artis, dll.
  • Meningkatkan kebermanfaatan kita melalui gawai yang kita punya. Ini ada banyak caranya, misalnya: membuat tutorial memasak, tutorial yoga, tutorial berkebun, atau hal-hal lain sesuai kompetensi kita.

Yuk, kita maksimalkan gawai yang kita punya untuk kebaikan. Insyaallah manfaatnya akan kembali ke diri kita. Produktivitas tidak dinilai semata-mata dari hal-hal yang bersifat fisik atau materi yang kita miliki, tetapi juga dari keridaan Allah kepada kita.

Monday, September 27, 2021

Berkata Baik atau Diam

“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka hendaknya dia berkata baik atau diam.” (H.R. Muslim nomor 222).

Dalam hadis di atas, Rasul mengatakan bahwa salah satu tanda keimanan adalah menjaga lisan dari perkataan yang tidak baik. Jika tidak mampu berkata baik, lebih baik kita diam. Pentingnya menjaga lisan ini juga diisyaratkan dalam hadis lain yang dinukil oleh Imam Nawawi dalam kitab Riyadhus Salihin. Beberapa di antara hadis tersebut tertulis di bawah ini.

Dari Abu Musa r.a., katanya: “Saya berkata: ‘Ya Rasulullah, manakah kaum Muslimin itu yang lebih utama?’ Beliau s.a.w. menjawab: ‘Yaitu yang orang-orang Islam lain merasa selamat dari gangguan lisannya—yakni pembicaraannya—serta dari tangannya.’” (Muttafaq 'alaih)

Dari Abu Hurairah r.a. bahwasanya ia mendengar Nabi s.a.w. bersabda: “Sesungguhnya seorang hamba itu niscayalah berbicara dengan suatu perkataan yang tidak ia pikirkan baik atau buruknya, maka dengan sebab perkataannya itu ia dapat tergelincir ke neraka yang jaraknya lebih jauh daripada jarak antara sudut timur dan sudut barat.” (Muttafaq 'alaih)

Hadis-hadis di atas memberikan pemahaman bahwa seorang muslim sebaiknya berpikir dahulu sebelum berbicara. Jika sekiranya informasi atau perkataan yang akan ia sampaikan memuat keraguan mengenai kebenarannya, sebaiknya ia diam. Apalagi jika perkataannya mengandung keburukan, sudah pasti ia harus diam.

Dalam dunia digital seperti sekarang ini, lingkup menjaga lisan juga mencakup menjaga tulisan. Tidak dapat dipungkiri, teknologi internet of things membawa platform digital masuk ke dalam kehidupan kita sehari-hari dalam berbagai aspek. Begitu mudah kita menuliskan kata dalam pesan singkat (SMS), Whatsapp, forum, blog, jejaring sosial, dan kolom komentar di situs berita daring sebagai pengganti ucapan lisan dalam berinteraksi. Bentuk komunikasinya mungkin berbeda, tetapi sejatinya ia memiliki esensi yang sama.

Zaman muda dulu aku tidak terlalu memusingkan isi tulisanku di media sosial. Kebanyakan tulisanku memang berkisah seputar aku sendiri dan tidak menyinggung orang lain, tetapi hampir semua isinya tidak disaring terlebih dahulu. Segala kegalauan, kekecewaan, dan kesedihan ditumpahkan begitu saja hingga pernah mengundang komentar negatif dari seseorang yang membuatku meradang. Belakangan ketika aku lebih dewasa, aku banyak berpikir tentang jejak digital dan bagaimana kita meninggalkan kebaikan. Kita tidak pernah tahu seberapa jauh tulisan kita melanglang buana dan seberapa banyak orang yang telah membacanya. Jika tulisan itu membawa keburukan, jangan-jangan kita telah melakukan dosa jariyah, astaghfirullah.

Oleh karena itu, sekarang aku berusaha hanya menulis konten yang positif saja. Aku melakukannya bukan dalam rangka “cari aman”, tetapi karena aku sadar bahwa lebih dari itu … kelak di akhirat kita juga akan dimintai pertanggungjawaban. Lagipula rasanya malu, bukan, ketika tulisan-tulisan kita yang buruk dibaca oleh anak cucu? 

Melihat dunia digital saat ini yang sangat carut-marut karena terlalu banyak ujaran kebencian dan konten negatif, kita membutuhkan kecerdasan dalam literasi digital supaya komunikasi daring berjalan dengan bijak, memuat konten-konten positif, dan membuat nyaman penggunanya. Apalagi sebagai seorang muslim, kita terikat pada norma agama yang mengharuskan kita memelihara lisan (dan tulisan) dalam pergaulan. Dengan pemahaman seperti ini, mudah-mudahan kita dapat selalu wawas diri untuk menjaga adab dalam berkomunikasi, baik secara luring maupun secara daring.

Monday, August 23, 2021

Manusia Sebagai Makhluk Sosial

Hal yang paling drastis mengalami perubahan pada masa pandemi ini adalah kehidupan sosial. Betapa tidak … menjaga jarak dan tidak berkerumun adalah dua protokol kesehatan yang harus selalu diterapkan. Dua hal ini menjadi penghalang utama bagi manusia—yang katanya adalah makhluk sosial yang tidak bisa hidup tanpa orang lain—untuk berkumpul dan bersosialisasi secara tatap muka.

Bicara tentang aspek manusia sebagai makhluk sosial, kebutuhan untuk bertemu dan berkumpul dengan orang lain itu sudah mendarah daging dalam filosofi hidup bangsa kita—mumpung masih bulan Agustus, nih … tema kebangsaan masih terasa hangat dalam ingatan. Itulah alasan sila keempat Pancasila dilambangkan dengan kepala banteng. Sekadar informasi, banteng adalah hewan yang suka berkumpul dengan kawanannya sehingga dipandang paling pas untuk menggambarkan “Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan”. Sejarah panjang nenek moyang kita yang hidup dalam kerukunan dan gotong royong tentu tidak bisa dilepaskan dari kebiasaan berkumpul ini.

Untungnya kita sekarang hidup di zaman yang serba dimudahkan oleh teknologi. Meskipun tidak bisa bertatap muka secara langsung, kita masih bisa bertemu melalui aplikasi komunikasi yang menggunakan video dalam berbagai perangkat baik seluler maupun desktop. Dengan adanya internet of things, manusia di zaman milenial ini masih bisa berkumpul secara daring, menatap wajah yang lain, dan menyaksikan ragam ekspresi lawan bicara melalui layar. Hubungan sosial semacam ini tentu pada akhirnya menjadi lazim dilakukan di masa pandemi ini karena kita tidak memiliki pilihan lain.

Ada nilai plus dan minus dari kehidupan sosial yang seperti itu. Nilai plusnya banyak terkait dengan kepraktisan dan kemudahan. Kita tidak perlu pergi menaklukkan jarak keluar rumah untuk bertemu dengan orang lain. Bahkan dalam kondisi berdaster pun kita bisa mengadakan rapat dari pojokan rumah. Namun, beberapa nilai minus juga terpaksa kita rasakan. Terlalu banyak screen time dan paparan gawai pada suatu titik justru dapat menjadikan kita antisosial dan teralienasi dari orang-orang terdekat. Bagi sebagian orang, engagement yang didapat dari jumlah like pada postingan dianggap lebih penting daripada kualitas hubungan pertemanan.

Mari berdoa semoga pandemi ini cepat berakhir agar kita dapat bertemu kembali dan berbagi jabat tangan, pelukan, tawa renyah, tatapan hangat, bahasa tubuh, dan kontak mata yang tak lagi berjarak.

In a world of algorithms, hashtags, and followers, know the true importance of human connection.” — unknown

Sunday, June 27, 2021

Nilai Manfaat Sampah

Perjalananku menjadi pengurus bank sampah dimulai sejak 2015. Awal inisiasinya dimulai dari pertemuan beberapa ibu di kompleks yang concern terhadap masalah sampah. Dari obrolan-obrolan santai, kepedulian ini berlanjut dengan mengundang narasumber dari LSM Hijau Lestari untuk memberikan insight terhadap ibu-ibu kompleks mengenai pentingnya zero waste. Usaha ini tidak mudah, mengingat kebanyakan dari mereka masih sangat awam mengenai pemilahan sampah. Oleh karena itu, pada masa awal bank sampah kompleks kami terbentuk, pengurus sangat getol untuk melakukan edukasi. Dari pemahamanlah semua bermula.

Edukasi yang kami sampaikan sama intinya dengan tulisanku di sini, bahwa sampah ini adalah tanggung jawab kita bersama. Menjaga bumi adalah kewajiban setiap insan sebagai bentuk pertanggungjawaban kita terhadap Yang Mahakuasa. Pertanyaan yang paling sering kami dapatkan adalah mengenai seberapa banyak nilai rupiah yang nasabah bisa dapatkan ketika menyetor sampah. Satu hal yang selalu kami tekankan: jadikan usaha memilah dan menyetor sampah ini sebagai bentuk ibadah dan bentuk kepedulian kita terhadap lingkungan, karena jika kita bicara soal uang, nilainya tentu sedikit sekali yang bisa kita dapatkan. Belum kalau kita bicara soal lelah dan jatuh bangunnya. Jika hanya berharap nilai uang, kita bisa jadi kecewa. Namun, bila usaha ini diniatkan sebagai ibadah dan kontribusi kita dalam memperbaiki lingkungan, insyaallah hati kita lebih tenang dan lebih legawa.


Pengurus bank sampah di kompleks kami

Menyetor sampah dengan mobil :))

Mobil bank sampah Hijau Lestari, bantuan dari BJB

Pada masa awal bank sampah ini berjalan, para pengurus masih sering mendapati adanya setoran sampah yang dicampur-campur. Usaha edukasi ternyata harus terus dilakukan. Selain merepotkan pengurus, setoran sampah yang masih tercampur dan belum dibersihkan ini nilai ekonominya lebih rendah. Sebagai contoh: botol air mineral yang sudah dicopot labelnya dan sudah dipisahkan tutupnya bernilai Rp2.000,00 per kg, sedangkan yang belum hanya bernilai Rp1.500,00 per kg. Berikut ini adalah daftar kategori sampah yang diterima oleh bank sampah kami beserta daftar harganya.



Selain sebagai tabungan, sampah yang dikumpulkan oleh nasabah juga bisa ditukarkan dengan barang-barang yang dijual di HL Ecomart, mini market yang dikelola oleh Hijau Lestari. Sampah ini dibanderol sesuai harga yang ditetapkan oleh Hijau Lestari, kemudian ditukar dengan voucher. Voucher tersebut digunakan sebagai diskon untuk berbelanja. Hijau Lestari juga pernah bekerja sama dengan Twin Tulipware untuk mengurangi sampah plastik akibat penggunaan plastik sekali pakai. Beberapa item sampah dapat ditukarkan dengan diskon hingga 50% untuk mendapatkan produk-produk tertentu dari Twin Tulipware.

Dengan sistem ini, masyarakat akan lebih termotivasi untuk memilah sampah, mengumpulkan, lalu memanfaatkannya untuk ditukar dengan diskon belanja. Bahkan dengan inovasi sistem online yang sempat dikembangkan oleh Hijau Lestari bekerja sama dengan Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Kota Bandung waktu itu, tabungan sampah ini juga bisa digunakan untuk membayar biaya listrik PLN. Ternyata dari sampah yang sering kita pandang sebelah mata, banyak manfaat bisa kita dapatkan. Namun, yang perlu kita ingat: pemilahan sampah ini hanyalah satu dari sekian banyak ikhtiar yang bisa dilakukan jika kita sudah telanjur menghasilkan sampah. Tentu akan lebih bijak jika kita memulai usaha zero waste dari pangkalnya, yaitu mencegah dan mengurangi jumlah sampah itu sendiri.

 

Tautan terkait:

Monday, June 14, 2021

Mulai dari yang Kecil

Ketika kita berbicara tentang permasalahan lingkungan dan isu pemanasan global, apa yang terbayang di benak seringkali adalah hal-hal besar yang tampak di luar jangkauan. Kadang-kadang rasanya hopeless sekali melihat es di kutub mencair, lapisan ozon menipis, hewan-hewan langka punah, atau penebangan hutan yang menyebabkan hilangnya paru-paru dunia, sementara kita di sini rasanya begitu powerless. Eh, tunggu. Benarkah kita tidak dapat berbuat apa-apa?

Seperti yang disinggung dalam tulisanku minggu lalu: sejatinya permasalahan lingkungan adalah tanggung jawab seluruh umat manusia. Apa yang kita lakukan ternyata bisa membawa impact demi penyelamatan lingkungan, meskipun hal itu tampak sepele. Dalam prinsip zero waste, ada tiga hal dasar yang menjadi poin penting: cegah, pilah, dan olah.

CEGAH. Langkah pertama yang bisa kita lakukan adalah mencegah barang-barang yang berpotensi menjadi sampah supaya tidak masuk ke dalam rumah. Langkah pertama ini sangat penting karena akan memudahkan langkah-langkah selanjutnya. Upaya pencegahan yang dilakukan sejak awal mengakibatkan upaya memilah dan mengolah sampah menjadi makin mudah.

PILAH. Langkah memilah dilakukan apabila sampah sudah telanjur dihasilkan. Sampah ini dipilah sesuai kategorinya untuk memudahkan pengelolaan ke tahap selanjutnya, yaitu mengolah sampah.

OLAH. Langkah terakhir yang bisa kita lakukan terhadap sampah adalah mengolahnya menjadi barang-barang yang berguna. Misalnya: mengolah sampah organik yang masih segar atau belum terkena minyak—seperti potongan sayur dan buah—menjadi kompos, mengolah sampah plastik menjadi ecobrick, atau mengolah sampah organik yang kotor—seperti nasi basi, sisa makan, dan sisa tulang—dengan memasukkannya ke lubang biopori.

Tulisan tentang memilah dan mengolah sampah akan aku kupas dua minggu lagi insyaallah. Kali ini aku ingin membahas mengenai upaya CEGAH sebagai langkah awal kepedulian kita terhadap permasalahan lingkungan. Sesungguhnya upaya pencegahan bisa kita lakukan dalam keseharian mulai dari hal-hal yang kecil. Banyak ikhtiar ramah lingkungan yang dapat diwujudkan, apalagi sekarang ini kesadaran masyarakat tentang hal itu sudah mulai digaungkan.

Beberapa hal sederhana yang bisa kita lakukan:

  • Menggunakan handuk alih-alih tisu
  • Menggunakan kantong kain sebagai tas belanja alih-alih kantong plastik
  • Membawa wadah sendiri ketika berbelanja atau jajan sebagai pengganti plastik
  • Membawa cutlery (sendok, garpu, sedotan) yang ready-to-go untuk mencegah penggunaan cutlery sekali pakai
  • Menggunakan menstrual pad atau menstrual cup sebagai pengganti pembalut sekali pakai
  • Menggunakan popok kain alih-alih popok sekali pakai

Dengan adanya pandemi seperti sekarang ini, penggunaan kemasan plastik atau kemasan sekali pakai makin meningkat karena masyarakat banyak membeli barang atau makanan secara online. Upaya yang dapat kita lakukan untuk meminimalkan hal itu misalnya dengan memilih vendor yang memakai bahan ramah lingkungan sebagai pembungkus, atau memilih toko yang menyediakan wadah isi ulang. Memang agak sedikit merepotkan, tetapi kerepotan kita itu tidak ada apa-apanya dibanding dampak kerusakan lingkungan yang ditimbulkan oleh sampah-sampah plastik.

Satu hal lagi yang juga bisa kita lakukan untuk menyelamatkan bumi adalah dengan bijak memilih barang ketika berbelanja. Usahakan sebisa mungkin memilih bahan yang berasal dari produk-produk daur ulang. Merek-merek outfit ternama sekarang mulai memilih material daur ulang untuk membuat baju, sebut saja Primegreen atau Repreve yang serat kainnya dibuat dari plastik daur ulang—termasuk botol plastik air mineral. Yang membuatku takjub: kainnya tetap terasa lembut dan nyaman, tidak gerah, dan cocok untuk aktivitas olahraga outdoor. Ternyata tampil kece pun bisa tetap ramah lingkungan.

Jadi, jangan pernah berpikir hal-hal kecil yang kita lakukan itu tidak ada gunanya. Justru dengan hal-hal sederhana yang dimulai dari keluarga kita, insyaallah kesadaran tentang ramah lingkungan bisa bergulir ke masyarakat laksana bola salju apabila dilakukan oleh banyak keluarga.

Monday, March 22, 2021

Menjaga Kesehatan Fisik dan Mental Saat Pandemi


Di masa pandemi seperti sekarang ini, kesehatan menjadi sesuatu yang tak ternilai harganya. Sebagai upaya mencegah sekaligus memutus rantai penularan Covid-19, kami sekeluarga selalu menerapkan perilaku 3M, yaitu memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak. Kami juga tak lupa untuk sering-sering menyemprot tangan dengan cairan pembersih tangan dan menyemprot barang belanjaan dengan cairan disinfektan.

Selain beberapa kebiasaan baru tersebut, upaya menjaga kesehatan keluarga juga kami lakukan dengan memperhatikan asupan. Alhamdulillah selama ini kami sudah terbiasa mengonsumsi sayur dan buah. Imunitas keluarga ditingkatkan dengan mengonsumsi vitamin dan suplemen tambahan. Salah satu hal yang agak susah dilakukan adalah minum air putih secara cukup per hari. Aku harus selalu mengingatkan suami dan anak-anak untuk rajin minum air putih karena mereka acap kali terlupa, apalagi jika sudah disibukkan dengan PJJ atau WFH. Berdasarkan penelitian, kebutuhan air minimal setiap orang adalah 50 ml per kg berat badan. Konsumsi air adalah hal yang sangat penting karena air merupakan komponen tubuh yang terbesar (60-70% dari berat badan), serta memiliki fungsi untuk membuang kotoran dari tubuh, menyediakan kelembaban, dan membawa nutrisi ke sel.

Upaya yang tak kalah penting untuk menjaga kesehatan fisik adalah dengan melakukan olahraga secara rutin. Jauh sebelum pandemi muncul, aku dan suami sudah terbiasa berolahraga. Aku rutin melakukan senam aerobik sejak 2005, beryoga sejak 2013, dan berlari sejak 2015. Setahun yang lalu ketika wabah Covid-19 mulai melanda Indonesia, perlombaan lari banyak dibatalkan, menyusul kemudian sarana-sarana olahraga ditutup. Aku sempat kebingungan dan merasa kehilangan karena sudah terbiasa berlari di track Saraga dan sudah terbiasa mengikuti perlombaan lari secara berkala. Euforia berolahraga outdoor benar-benar menjadi sebuah kehilangan yang besar.

Orang bijak mengatakan bahwa bila ada satu pintu tertutup, bisa jadi pintu yang lain tengah membuka. Begitu pula yang akhirnya aku rasakan. Aku tetap berlari, tapi beralih ke aktivitas road running: kadang berlari di jalanan kompleks, kadang berlari di jalan raya. Proses ini juga membutuhkan adaptasi karena berlari di jalan tentu berbeda dengan berlari di lintasan. Berlari di jalan membutuhkan fokus dan perhatian lebih karena kita harus selalu waspada terhadap pengguna jalan lain dan kondisi jalan yang tidak ideal (tidak ada trotoar, berlubang, dsb.). Berlari di jalan juga membutuhkan peralatan lari yang lebih lengkap: tas pinggang untuk menyimpan botol minum, gelang identitas, dan sepatu lari yang lebih empuk.

Aku juga mulai mengikuti kelas-kelas olahraga secara daring, seperti kelas yoga dan kelas pound fit. Bahkan dengan adanya sistem WFH yang fleksibel, aku bisa mengatur waktu olahraga sesuai kebutuhan dan mengikuti kelas-kelas yang selama ini belum pernah aku ikuti, seperti kelas dance cover dan kelas privat dengan pelatih pribadi di tempat gym. Keleluasaan waktu seperti ini benar-benar aku syukuri karena aku dapat dengan mudah mengatur jadwal kerja, jadwal olahraga, sekaligus mendampingi anak-anak melakukan PJJ.

Tentunya kebiasaan yang bersifat penjagaan kesehatan fisik harus diikuti dengan kebiasaan untuk menjaga kesehatan mental. Pada awal pandemi aku sempat terkena serangan panik: hampir tiap malam aku tidur dengan ketakutan sambil memeluk anak-anak, membayangkan jika kami terkena Covid-19. Kemudian, ketika akhirnya hal itu benar-benar terjadi pada suamiku, aku sempat terkena depresi ringan. Covid-19 ini benar-benar meluluhlantakkan jiwa dan raga.

Kami berusaha menguatkan mental dan iman keluarga dengan lebih sering mengikuti kajian keislaman. Alhamdulillah dengan adanya pandemi, banyak sekali kajian yang diadakan secara daring, baik untuk orang dewasa maupun anak-anak. Setiap akhir pekan, jadwal kajian padat merayap. Kemudahan ini sungguh kami syukuri karena bila kajian-kajian tersebut diadakan secara luring, belum tentu kami bisa menghadiri karena terhalang jarak dan waktu.

Allah tidak menurunkan ujian di luar kesanggupan hamba-Nya. Bersama kesulitan pandemi yang datang, sesungguhnya Allah juga tengah menurunkan kemudahan-kemudahan.




Monday, March 15, 2021

Perubahan Akibat Pandemi

Di dunia ini, sesuatu yang tidak pernah berubah adalah perubahan itu sendiri. Manusia sebagai makhluk yang adaptif tentu mengalami penyesuaian-penyesuaian terhadap perubahan situasi dan kondisi, termasuk ketika manusia dihadapkan pada kondisi luar biasa seperti pandemi. Pandemi yang terjadi secara global memaksa dunia ini berhenti sejenak. Kemudian, ketika perlahan roda kehidupan mulai berputar kembali setelah kita mengalami lockdown, tentu ada banyak penyesuaian yang harus dilakukan.

Dari aspek kesehatan, kita diperkenalkan pada perilaku 3M sebagai upaya mencegah sekaligus memutus rantai penularan Covid-19, yaitu memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak. Masker kain dapat menurunkan risiko penularan Covid-19 sebesar 45 persen, sedangkan masker bedah mampu menekan penyebaran virus Covid-19 hingga 70 persen.

Sebagai upaya untuk menghindari kerumunan dan mengurangi risiko penularan, sekolah-sekolah dan institusi perguruan tinggi menerapkan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). Perkantoran merombak sistem kerja menjadi Work From Home (WFH) untuk mencegah karyawannya terpapar virus corona ketika berada di kantor maupun di perjalanan. Tak ayal dengan sistem semacam ini, masyarakat dipaksa beralih dari tatap muka ke sistem yang menggunakan platform digital dan memerlukan koneksi internet sebagai imbasnya.

Perubahan ini tentu dialami pula oleh keluarga kami. Masker, cairan pembersih tangan, serta disinfektan menjadi peralatan wajib. Kami menjadi jarang keluar rumah bila tidak ada urusan yang terlalu penting. Kegiatan berbelanja kami lakukan melalui aplikasi belanja daring. Agenda jalan-jalan saat liburan terpaksa harus kami buang jauh-jauh.

Kuota internet kami tingkatkan karena ada tiga anak yang mengikuti PJJ dan dua orang dewasa yang menjalankan WFH. Suasana rumah yang semula sepi di siang hari menjadi ramai oleh suara-suara kami yang tengah mengikuti pertemuan melalui aplikasi komunikasi daring berbasis video. Kami bahkan harus ekstra bersabar karena gangguan-gangguan kecil dari anak-anak sering muncul menghiasi layar komputer saat kami sedang melakukan pertemuan daring.



Di satu sisi, kami bersyukur bisa melewati pandemi ini sebagai keluarga yang berkumpul bersama. Tentunya ini adalah kebahagiaan karena selama tiga belas tahun pernikahan, aku dan anak-anak terpisah jarak Bandung-Jakarta dengan suamiku. Namun, di sisi lain, frekuensi bertemu yang semakin meningkat dan kecenderungan anak-anak untuk mulai bosan karena banyak terkurung, mengakibatkan rumah menjadi lebih riuh karena pertengkaran dan perselisihan. Belum lagi jika kami sebagai orang tua kadang kelepasan dan tidak dapat mengontrol diri karena beban pekerjaan, sementara anak-anak sedang susah diatur … wah, rumah rasanya seperti sedang mengalami perang dunia.

Pandemi ini memang berat bagi semua orang. Setiap keluarga memiliki perjuangan masing-masing untuk bisa bertahan. Kebiasaan baru yang bersifat penjagaan kesehatan fisik seperti 3M harus dibarengi dengan kebiasaan untuk menjaga kesehatan mental. Kita harus memupuk syukur, kesabaran, dan tawakal supaya lebih waras menghadapi pandemi ini. Semoga Allah senantiasa menjaga dan melindungi kita semua.

Thursday, October 20, 2016

Bread Maker Merk Re-Bread

Beberapa bulan lalu, di salah satu grup emak-emak yang aku ikuti, ramai perbincangan mengenai Re-Bread. Bread maker ini ngehits di kalangan emak-emak karena katanya roti yang dihasilkan bisa lembut dan penggunaannya mudah. Karena aku dan anak-anak sangat menggemari roti, langsung muncul keinginan untuk membelinya. Apalagi di waktu senggang aku memang sangat suka membuat kudapan semacam cake dan roti.

Untuk memastikan roti yang dihasilkan memang benar enak dan lembut, aku mencoba membeli produk jadi yang ditawarkan oleh seorang ibu di grup, yang kebetulan memang menjadi agen produk ini. Beliau sudah banyak membuat roti dari alat ini, dan penerimaan pasar cukup antusias karena rotinya bervariasi dan enak-enak semua. Di bawah ini adalah ragam roti buatan beliau yang aku ambil dari sini.



Setelah yakin dengan kelezatan roti hasil Re-Bread, aku memutuskan membeli alat ini akhir September lalu, saat distributor resminya mengadakan promo buy 1 get 1 (maksudnya: beli satu Re-Bread akan mendapat gratis satu Re-Ice, alat pembuat salad dan es krim). Re-Bread yang kupilih adalah tipe RB 250, karena memiliki menu yang paling banyak. Terdapat 22 menu untuk pilihan berkreasi, di antaranya: roti, kue, yoghurt, ketan uli, selai buah, tape ketan, bubur ayam, bubur kacang hijau, dll. Jenis roti yang bisa dibuat juga sangat beragam, mulai dari roti tawar, roti manis, roti lembut, roti gandum, roti tanpa gula, roti oatmeal, roti susu, roti unyil, donat, dsb.

Re-Bread tipe RB 250, gambar diambil dari sini

Kelengkapan Re-Bread, gambar diambil dari sini

Beberapa menu yang sudah kubuat dengan Re-Bread adalah roti keju, donat, dan roti sosis. Memang betul tekstur rotinya lembut dan mengembang dengan baik. Supaya lebih mantap rasanya, air dalam resep di buku kuganti menjadi susu cair dan margarin kuganti menjadi butter. Sayang aku belum punya pisau roti yang bergerigi sehingga hasil potongan roti dalam bentuk loaf itu menjadi mleyot-mleyot tidak karuan hehehe.

Roti keju

Enaknya bikin roti sendiri adalah bisa kasih isian keju suka-suka sampai full begini :)

Donat menul-menul baru keluar dari penggorengan. Belum dikasih topping, tapi dimakan gini aja udah enak. Fluffy dan lembut.

Malam-malam bikin donat 19 biji, digoreng sebelum tidur. Rencananya buat bekal sekolah anak atau cemilan kalau busui ini tiba-tiba kelaperan tengah malam. Pagi-pagi bangun lihat donatnya tinggal 5 biji aja dong. Kalah cepet sama anak-anak. Alhamdulillah lakuuuu.

Roti sosis