Thursday, November 02, 2023

Perjalanan Bersama Keluarga

“The world is a book and those who do not travel read only one page.”       — St. Augustine

Salah satu hal yang membekas dalam ingatanku ketika aku kecil dulu adalah betapa seringnya Bapak dan Ibu mengajak aku dan saudara-saudaraku menempuh perjalanan. Biasanya perjalanan itu mengambil waktu ketika masa liburan karena di luar itu Bapak dan Ibu bekerja. Waktu libur mereka sebagai guru dan dosen lumayan sinkron dengan waktu liburan sekolah kami.

Jika destinasinya tidak terlalu jauh—hanya seputaran Solo dan Jawa Tengah—perjalanan ditempuh dengan mobil kami, Honda Civic krem keluaran tahun 90-an. Bapak duduk di belakang kemudi, di sampingnya kakak sulungku, lalu Ibu, aku, dan adikku di barisan belakang. Dengan mobil Honda Civic kami pernah menjelajahi jalur selatan menuju Bandung ketika mengantarkan kakak sulung pergi kuliah. Mobil second-hand yang dibeli Bapak itu sempat mogok di tanjakan Nagrek, membuat kami sekeluarga harus bermalam di bengkel setempat.

Jika destinasi bepergian berada di luar provinsi, kadang kami memilih moda transportasi kereta atau pesawat—meskipun yang terakhir ini bisa dibilang jarang sekali—misalnya ketika kami jalan-jalan ke Jakarta untuk menjemput Bapak dari Kanada.

Berbagai kisah perjalanan keluarga mengiringiku tumbuh dewasa sebagai kenangan yang mengasyikkan, hingga aku akhirnya memutuskan bahwa kelak kalau aku berkeluarga, kami harus membuat pos pengeluaran untuk jalan-jalan. Kebetulan suamiku tukang jalan juga, jadi klop sudah.

Mulai dari anak pertama masih kecil dan kami belum punya mobil sendiri, kami sudah menjelajahi Jawa Barat dengan mobil sewaan. Kebiasaan ini terus berlanjut hingga kini anakku empat, meskipun sempat vakum ketika pandemi.

Menjelajah Jawa Barat

Karena kami tinggal di Bandung, area yang paling mudah terjangkau tentunya Jawa Barat dan sekitarnya. Beberapa kali kami pergi ke Pangandaran ketika si sulung masih berusia di bawah setahun. Yang pertama mampir setelah mudik lebaran, yang kedua mampir setelah menghadiri undangan seorang teman di Tasikmalaya.

Ketika kami main ke rumah pengasuh si sulung di Sukabumi, kami juga melanjutkan perjalanan ke Taman Safari. Kami juga pernah ke Kawah Putih di Ciwidey, meskipun bau belerangnya membuatku sakit kepala dan ramainya pengunjung membuatku sedikit insecure. Ketika seorang teman menikah di Cirebon, kami mengambil kesempatan itu untuk main ke sana dan mencicipi nasi jamblang.

Salah satu kenangan tak terlupakan adalah ketika kami sedang bepergian ke Cianjur dan mendapat kesempatan untuk masuk ke Istana Cipanas. Biasanya hanya rombongan yang sudah mendapat izin resmi yang bisa masuk ke sana, kebetulan waktu itu kami “numpang” salah satu rombongan dan diizinkan berkeliling sebentar dengan pengawalan petugas. Dari Istana Cipanas kami melanjutkan perjalanan ke Taman Bunga Nusantara.

Menjelajah Luar Jawa Barat

Ketika mendapat undangan pernikahan seorang teman di Lampung pada November 2013, aku dan suami memutuskan untuk menghadirinya secara langsung dengan mengendarai mobil pribadi, sekaligus memperkenalkan anak pada moda transportasi kapal feri. Itulah kali pertama aku menginjakkan kaki di tanah Sumatera.

Anak-anak antusias sekali mendapat pengalaman naik kapal feri serta menyusuri Pantai Klara dan pantai Pulau Kelagian yang berair jernih dan berpasir putih laksana bedak. Ombaknya pun tidak terlalu besar sehingga aman untuk anak-anak.

Medio 2014, nebeng di acara reuni angkatan suami, kami sekeluarga bertolak ke Lombok. Perjalanan tiga hari dua malam yang berkesan karena kami disuguhi adat dan budaya yang begitu mengayakan. Kami menginap di Senggigi dan mengunjungi desa perajin gerabah di Banyumulek, desa perajin tenun di Sukarara, dusun adat Sade, lalu Pantai Kuta yang terkenal dengan legenda Putri Mandalika.

Kami juga menyeberang ke Gili Trawangan, dan itulah kali pertama anak-anak menjajal snorkeling. Awalnya takut, lama-lama keasyikan. Sayangnya terumbu karang di sana sudah banyak yang rusak waktu itu.

Pada September 2015, Ikatan Alumni ITB mengadakan acara besar berupa trip ke Belitung. Aku dan suami langsung mendaftar. Pesertanya ratusan, bus yang disewa cukup banyak, bahkan sampai booking satu pesawat sendiri. Banyak peserta yang tidak kami kenal, tetapi kami tak peduli. Yang penting perjalanan aman terkendali (karena ada EO-nya) dan biaya cukup reasonable, hehehe.

Destinasi wisatanya sih standar, ya, seperti napak tilas Laskar Pelangi, Museum Kata Andrea Hirata, Pulau Lengkuas, Pantai Tanjung Kelayang, Danau Kaolin, dan Pantai Tanjung Tinggi. Namun, perjalanan itu memberi pengalaman baru akan keindahan Pulau Belitung yang belum pernah kami kunjungi.

Sebagai pecinta kopi, aku juga mendapat pengalaman menyenangkan untuk berkenalan dengan kopi Manggar, kopi Robusta yang sejenis dengan kopi-kopi dari Bengkulu, Lampung, dan sekitarnya.

Pada Oktober 2018, keluarga kami akhirnya mewujudkan impian jalan-jalan ke Batu, Malang, dan Bromo sekaligus. Wisata ke Batu, sih, tentu saja ke destinasi impian anak-anak yaitu ke Jatim Park 1 dan Jatim Park 2, amusement park yang tak cukup dikelilingi dalam dua hari.

Perjalanan ke Bromo dimulai tengah malam ketika kami bertolak dari Malang. Sampai di Tosari, Pasuruan jam tiga pagi kami sempat berhenti sejenak untuk bersiap, lalu menuju puncak Penanjakan untuk menanti sunrise. Di sini anak-anak rewel karena mengantuk dan kedinginan, apalagi waktu itu Bromo sedang berangin kencang. Terpaksa kami berlindung di dalam warung sambil menikmati gorengan dan teh hangat.

Perjalanan dilanjutkan dengan berkendara di atas jip yang menderu-deru melewati lautan pasir, lalu berfoto di bukit teletubbies. Setelah itu aku dan suami mendaki ke kawah Bromo yang ratusan tangganya membuat lutut kami lemas gemetaran (hahaha), sambil diiringi badai pasir yang menjejalkan butiran pasir ke dalam tiap lekuk baju, sepatu, hidung hingga telinga. Perjalanan yang penuh kerempongan tapi pada akhirnya really worth it. Definitely a rocking trip!

Sebenarnya ada dua lagi perjalanan yang paling berkesan untuk kami sekeluarga, yaitu perjalanan ke Legoland, Malaysia dan perjalanan ke Italia selama sepuluh hari. Di Italia aku ditugaskan kantor untuk mengikuti training dan suamiku memutuskan agenda itu menjadi acara liburan keluarga dengan mengajak anak-anak ikut serta. Namun, sepertinya kisah ini akan kutulis terpisah saja, saking banyaknya yang ingin kuceritakan, hehehe.

Penutup

Perjalanan sering memberi kita jenak-jenak untuk perenungan, hal yang acapkali terlewat ketika kita berkejaran dengan rutinitas harian. Perjalanan juga sering memberi kita kesempatan untuk berdialog dengan diri kita sendiri, memberi kita waktu untuk mengenali diri sendiri lewat sodoran pengalaman baru di tempat asing yang belum pernah kita kunjungi.

Seperti dulu waktu pertama kali bepergian dengan satu balita dan satu batita untuk menyusul suami ke Batam, dari yang awalnya ragu dan takut, menjadi tahu bahwa diri ini ternyata mampu mengatasi situasi dan kondisi.

Atau ketika pergi jauh ke Italia dengan semua anggota keluarga—termasuk infant 12 bulan yang belum pernah bepergian jauh melebihi Bandung-Solo—yang memaksaku mendobrak banyak kekhawatiran dan kenyamanan, dan ternyata bisa juga survive. Meskipun saat itu tentu kehadiran suami turut memberi andil. Bersamanya aku merasa mampu menaklukkan dunia karena kehadirannya sangat memberi rasa aman dan nyaman—terutama karena dia yang pegang duit wkwkwk.

Dalam sebuah buku antologi fiksi bertema perjalanan, aku pernah menulis: “Traveling is not about the destination, it’s about the journey itself. Traveling is not just about finding new things, it’s also about finding your true self.” Semata-mata karena demikianlah yang aku alami. Mendewasa bersama perjalanan.

Mungkin ini jugalah yang membuat aku dan suami senantiasa menjadwalkan agenda jalan-jalan, selain karena kami tukang jalan-jalan, banyak pembelajaran yang bisa diberikan ke anak-anak. Perjalanan membukakan mereka jendela dunia, memberikan mereka kemampuan untuk beradaptasi, memberi mereka kesempatan untuk belajar hal-hal baru mulai dari makanan, bangunan, moda transportasi, hingga interaksi dengan orang.

Sebagai orang yang sentimental dan cenderung mellow, aku sering membawa pulang barang-barang yang penuh kenangan, terutama ketika kenangan itu merupakan kenangan berharga yang belum tentu bisa dilakoni dua kali. Sesimpel kerang yang dipungut di pantai, atau selembar tiket masuk theme park, atau kantong kresek dari sebuah supermarket di Italia. Begitulah.

Perjalanan memang selalu meninggalkan momen-momen yang tak terlupakan. Benar kata seorang teman, kita selalu meninggalkan sekeping hati pada semua tempat yang pernah kita kunjungi.

Tulisan ini diikutsertakan dalam Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan November yang bertema “Kegiatan Favorit Bersama Keluarga”.

Tuesday, October 03, 2023

Latihan Beban: Investasi Hingga Usia Senja

Apa yang terpikir dalam benak Mamah ketika mendengar “latihan beban”? Latihan untuk membuat tubuh menjadi berotot? Tidak salah, sih, tetapi jangan langsung antipati, ya. Sesungguhnya latihan beban tidak hanya diperuntukkan bagi atlet binaraga saja. General population juga membutuhkan latihan beban.

Secara alami, manusia akan mengalami penyusutan otot atau berkurangnya massa otot seiring dengan bertambahnya usia. Apalagi jika otot tersebut tidak digunakan untuk aktif secara fisik dalam jangka waktu yang lama. Latihan beban berfungsi untuk mempertahankan massa otot dan menghindarkan otot dari penyusutan, syukur-syukur jika bisa menambah massa otot.

Latihan beban tidak akan membuat tubuh Mamah menjadi bulky. Dari sononya, kita tidak dikaruniai hormon testosteron seperti lelaki. Laki-laki saja butuh waktu bertahun-tahun dan latihan yang tepat untuk membentuk otot, itu pun belum tentu “jadi”, apalah kita yang lemah lembut ini. Jadi, berkata “aku nggak mau latihan beban, takut jadi berotot” bagaikan berkata “aku nggak mau masak, takut jadi (kayak) Gordon Ramsay”. Sejatinya tidak semudah itu, heiii.

Lantas, apa saja manfaat latihan beban? Banyak, Mah.

1. Modal untuk berkegiatan

Otot merupakan modal utama kita untuk bergerak. Sehari-hari Mamah tentu sudah akrab dengan aktivitas naik-turun tangga, menggendong bocah, membawa belanjaan, mengangkat tabung gas, galon bahkan karung beras, membereskan mainan, mengangkat keranjang cucian atau jemuran, mengejar-ngejar anak, dan seabrek kegiatan lain yang jika tidak dimodali dengan kekuatan otot dan ketepatan postur, bisa membuat Mamah kecengklak. Otot yang kuat membantu fungsi sistem rangka dalam menopang berat badan. Dengan latihan beban, otot kita menjadi tahan banting untuk menahan beban kehidupan ini, Mah.

Apalagi jika Mamah rajin menekuni suatu cabor tertentu. Dengan otot yang kuat, tubuh akan lebih resilient untuk menanggung exercise load dan performa tubuh akan meningkat. Hal ini tentunya akan menghindarkan dari cedera akibat kelelahan, overuse, atau overload. Sekadar berbagi pengalaman pribadi, aku pernah mengalami cedera saat Jakarta Marathon tahun lalu. Hal itu menyadarkanku bahwa latihan beban seminggu sekali tidaklah cukup.

PR dari dokter pascaterapi, aku harus merutinkan dan menambah porsi latihan beban dan mobility supaya cedera tidak terulang. Selain itu, tentu juga harus latihan teknik berlari supaya form larinya benar dan mengoptimalkan running economy. Hal ini sangat berpengaruh dalam menguatkan otot, melatih fleksibilitas otot, menguatkan core, meningkatkan performa berlari, mengatasi imbalance, dan mencegah overuse injury.

Setelah serius latihan beban, mobility, dan running drill, aku merasakan penguatan yang cukup signifikan pada otot yang kemarin cedera dan otot-otot lainnya. Dipakai untuk trekking jauh ke Sentul pun nyerinya sudah tak terasa. Alhamdulillah ITB Ultra Marathon–di mana rutenya berupa tanjakan dan turunan panjang–serta half marathon race di Bali pun lancar jaya.

2. Membantu memperbaiki komposisi tubuh

Mah, tahu enggak, otot itu sebenarnya adalah mesin pembakar lemak alami yang dimiliki tubuh? Latihan kardio seperti lari, senam aerobik, atau zumba membakar kalori saat kegiatannya berlangsung, tetapi latihan beban masih membakar kalori jauh setelah latihannya selesai dilakukan, bahkan ketika kita beristirahat. Hal itu terjadi karena pembentukan otot membuat otot menjadi aktif sehingga metabolisme tubuh akan meningkat dan membantu pembakaran lemak menjadi lebih efektif. Artinya Mamah tidak akan cepat gemuk.

Setelah kita makan, kadar gula darah menjadi tinggi. Glukosa yang berlebih akan disimpan di dalam hati dan otot. Jika massa otot besar, cadangan gula yang disimpannya pun bisa lebih besar dan tidak disimpan berlebihan menjadi lemak. Sebuah studi menemukan, orang yang melakukan olahraga angkat beban empat kali seminggu selama delapan belas bulan memiliki penurunan lemak tubuh yang lebih besar daripada mereka yang tidak berolahraga atau hanya melakukan latihan aerobik.

Oleh karena itu, latihan beban sangat membantu meningkatkan massa otot dan menurunkan kadar lemak. Berat badan bisa jadi tetap atau meningkat jika massa otot membesar, tetapi lingkar-lingkar tubuh akan mengecil. Badan pun terlihat lebih singset, langsing, dan kencang. Jadi, bagi Mamah yang merasa sudah banyak berolahraga tetapi nggak kurus-kurus, mungkin sudah saatnya mencoba latihan beban.

Latihan beban juga bermanfaat untuk tulang. Perempuan yang sudah menopause biasanya lebih rentan terkena osteoporosis. Dengan latihan beban secara rutin sejak dini, hal ini bisa dicegah jauh-jauh hari. Kalaupun Mamah sudah berusia di atas 40 tahun, tenang … belum terlambat. Penelitian mengatakan bahwa melakukan latihan beban sebanyak dua kali seminggu selama tiga puluh menit per sesi akan memperbaiki kepadatan, struktur, dan kekuatan tulang pada wanita yang sudah menopause.

3. Menurunkan tingkat stres dan meningkatkan level energi

Sama dengan olahraga secara umum, latihan beban membuat tubuh melepaskan endorfin yang dapat meningkatkan suasana hati dan energi. Latihan kardio yang lama dapat menghabiskan simpanan energi di dalam tubuh. Namun, latihan beban memberikan lebih banyak energi untuk bertenaga sepanjang hari.

Berbagi pengalaman pribadi lagi, ketika aku harus begadang menyelesaikan sesuatu di malam hari dan merasa sedikit mengantuk, aku tak lagi menyeduh kopi. Makin lama kopi makin tidak berpengaruh buatku. Alih-alih minum kopi, aku biasanya mengambil dumbbell dan mulai melakukan latihan beban beberapa set. Ajaibnya aku langsung merasa energized dan mata menjadi melek lagi.

4. Meningkatkan kesehatan

Berdasarkan penelitian, latihan beban mampu mengurangi resiko strok dan serangan jantung minimal 40%. Orang yang memiliki kekuatan otot dapat terlindungi dari penyakit diabetes sebesar 32%.

Latihan beban membantu memperlancar sirkulasi darah sehingga tubuh dapat menciptakan kolagen dengan baik. Akibatnya, kulit Mamah akan terlihat lebih muda. Resep awet muda secara alami, Mah. Latihan beban juga dapat meningkatkan jumlah oksigen yang dibutuhkan tubuh untuk kembali ke tingkat normal (EPOC).

Latihan beban yang dilakukan dengan rutin konon dapat meningkatkan jumlah sel otak baru. Tentunya daya ingat Mamah akan menjadi lebih baik. Mamah juga bisa menyelesaikan berbagai aktivitas yang membutuhkan konsentrasi tinggi tanpa kesulitan.

Selain manfaat di atas, latihan beban juga membantu memperbaiki kualitas tidur. Meskipun heart rate-nya enggak tinggi-tinggi amat, olahraga ini menghabiskan banyak tenaga dan membuat kita mengeluarkan keringat. Otomatis tubuh akan membutuhkan tidur untuk memulihkan diri.

5. Investasi untuk masa tua

Latihan beban membantu melatih keseimbangan dan koordinasi tubuh. Hal ini penting bagi mereka yang sudah lanjut usia karena jatuh dapat berefek serius pada kesehatan, seperti patah panggul yang menyebabkan gangguan mobilitas dan disabilitas.

Latihan beban yang dilakukan secara rutin dan teratur, selain membentuk otot, juga membantu memperbaiki postur tubuh. Hal ini efektif dalam mencegah sarkopenia atau kehilangan massa otot di usia senja. Dengan tubuh, otot, dan tulang yang kuat, seseorang yang sudah memasuki masa tuanya akan tetap bisa mandiri melakukan berbagai aktivitas tanpa kesulitan yang berarti.


Tulisan ini diikutsertakan dalam Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan Oktober yang bertema “Investasi yang Ingin atau Sudah Dilakukan”.

Sunday, September 03, 2023

Menjadi Caregiver 24 Jam

Papi dan Mami ketika masih sehat

Dua minggu di medio Januari 2023 adalah masa-masa terberat bagi kami sekeluarga. Berawal dari tanggal 10 Januari ketika adikku mengirim pesan di WAG keluarga–aku dan kakakku tinggal di Tangerang Selatan sementara adikku tinggal di Solo bersama kedua orang tua kami–dan mengabarkan bahwa kondisi Papi sedang tidak stabil. Sebagai penderita penyakit jantung yang sudah pernah di-ring, kondisi Papi memang sering tidak stabil. Diabetes dan hipertensi membuat jantung beliau senantiasa aritmia dan beliau sering menjalani rawat inap karena sesak. Jadi, kupikir pagi dini hari itu adalah kondisi-tidak-stabil yang biasa. Adikku sempat bilang bahwa bicara Papi sedikit pelo, tidak nyambung, dan menabrak-nabrak ketika berjalan.

Sepagian aku menunggu kabar, hingga akhirnya adikku mengabari bahwa Papi masuk IGD untuk diobservasi. Semua tanda vital aman. Tidak ada tanda-tanda Papi terkena strok. Namun, kondisi psikis Papi tidak baik-baik saja. Beliau merasa sangat panik, sebentar-sebentar berteriak, dan susah ditenangkan. Dini hari berikutnya, adikku mengirim voice note, mengabarkan bahwa kondisi psikis Papi makin jauh dari tenang, sering berontak sehingga dokter dan perawat memutuskan untuk mengikat tangan Papi di ranjang.

Berdasar pemeriksaan lebih lanjut pada hari berikutnya, ternyata ada strok di sebelah kanan otak besar dan strok di sebelah kiri otak kecil. Strok terjadi karena ada sumbatan pembuluh darah dan menyebabkan gangguan keseimbangan dan koordinasi. Tubuh bagian kiri Papi mulai lumpuh sebelah dan bicara Papi mulai pelo lagi. Sejak saat itu, hidup keluarga kami mengalami perubahan.

Papiku adalah seorang pekerja keras sejak beliau masih muda. Menjadi sulung dari tujuh bersaudara, Papi memiliki tekad yang kuat untuk terus belajar dan menjadi sukses. Ayah beliau adalah seorang guru dan Papi meneruskan profesi ayahnya dengan menjadi seorang dosen. Semangat belajar beliau sangat tinggi. Selepas lulus SMA di Ngawi, beliau merantau dan menjalani S1 di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sebelas Maret (FKIP UNS), lalu S2 di jurusan Computer Science, University of Western Ontario, Kanada hingga lulus S3 di Universitas Negeri Yogyakarta. Beliau adalah Guru Besar bidang Pendidikan Matematika di FKIP UNS, banyak melakukan penelitian, dan menulis buku. Karyanya banyak dikenal dan disitasi dalam jurnal ilmiah. Beliau termasuk jajaran peneliti berpengaruh di Indonesia dan bahkan masuk dalam kategori 100 peneliti pendidikan di Indonesia yang bereputasi dunia.

Sebagai dosen dan peneliti yang sangat aktif, dulu beliau banyak mengajar di luar kota Solo. Seingatku pernah mengajar di Madiun, Yogyakarta, Semarang, dan beberapa kota lain. Beliau juga pernah aktif sebagai anggota Tim Ahli Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan, Badan Nasional Standar Pendidikan (BNSP), sering bolak-balik ke Jakarta dan beberapa Dinas Pendidikan di kota lain untuk terlibat dalam penyusunan standar pendidikan. Bahkan sehari sebelum masuk rumah sakit dan terkena serangan strok itu, beliau masih pergi menyetir sendiri ke kampus untuk menguji proposal mahasiswanya yang tengah studi S2. Maka terbayang kan, seperti apa pukulan yang beliau rasakan … dari semula sangat aktif berubah menjadi tidak bisa apa-apa dan hanya bisa bergantung pada bantuan orang lain dalam aktivitas sehari-hari.

Selama dua minggu aku pergi ke Solo dan terpaksa meninggalkan suami dan anak-anak di Tangerang Selatan, untuk membantu merawat Papi. Secara psikis Papi masih sangat terpukul dan mengalami masalah emosional–suatu hal yang katanya wajar terjadi pada penderita strok. Aku bergantian dengan anggota keluarga lain untuk mendampingi Papi karena beliau tidak mau ditinggalkan sendirian sedikit pun. Jika tidak ada orang yang terlihat, beliau akan berteriak-teriak memanggil nama kami satu demi satu dan tidak akan berhenti berteriak sampai ada yang datang. Hal ini membuat kami harus selalu standby.

Menjadi caregiver hampir 24 jam itu sangat menguras tenaga dan emosi. Tak jarang Papi mengalami tantrum karena ketidakmampuannya melakukan hal-hal secara mandiri. Passion beliau mengajar, menulis, dan mengerjakan hal-hal yang berkaitan dengan kampus menjadi tidak tersalurkan, dan hal ini tentu turut andil dalam ketidakstabilan emosi beliau. Bahkan beberapa kali beliau mengalami halusinasi. Kesabaranku yang setipis tisu kadang membuatku tidak sabaran juga ketika mengurus beliau, astaghfirullah. Seringkali aku harus mengingatkan diri sendiri bahwa inilah saatnya berbakti.

Dua minggu yang meletihkan itu membuat kami memutuskan untuk mempekerjakan seorang pramurukti. Terus terang kami mulai bertumbangan karena kelelahan. Kami harus kembali bekerja dan mengurus keluarga–terutama aku yang meninggalkan empat anak di Tangerang Selatan sementara suamiku sering pulang malam dan keluar kota karena pekerjaan. Alhamdulillah kami dipertemukan dengan pramurukti yang sabar dan telaten dalam mengurus dan mendampingi Papi.

Namun, ternyata semua belum berakhir di situ. Dalam kurun waktu dari Januari hingga saat ini, kakakku hampir tiap bulan mudik ke Solo untuk membantu merawat Papi karena Papi beberapa kali harus dirawat inap. Aku hanya bisa sesekali saja karena harus mengurus keluarga. Berbeda dengan perkembangan motorik Papi yang berprogres cukup signifikan berkat terapi rutin, perbaikan kondisi psikis beliau berjalan lebih lambat. Kami harus selalu mengingatkan beliau untuk tetap bersemangat dan bersyukur mengingat perkembangan beliau cukup baik, tetapi beliau masih sering bersedih hati karena belum bisa sepenuhnya menerima keadaan.

Kata dokter, kondisi organ-organ dan fungsi tubuh Papi memang sudah menurun dan cukup berat akibat komplikasi dari penyakit jantung, hipertensi, dan diabetes selama bertahun-tahun. Goals-nya secara medis saat ini adalah menjaga ketiganya supaya tetap stabil dan tidak bertambah parah. Meskipun saat ini beliau sudah mulai bisa berjalan dengan bantuan, menggerakkan kaki dan tangan–bahkan sekarang sudah mulai belajar menggenggam dan menjumput–kami masih harus tetap waspada dengan kondisi Papi yang kadang mengalami ketidakstabilan secara tiba-tiba. Ada hari-hari di mana semua berjalan normal dan lancar, tetapi ada juga hari-hari di mana beliau merasa kelelahan, sesak dada, dan tidak nyaman ketika jantungnya mengalami aritmia.

Mendampingi penderita strok yang juga mengalami gangguan psikis bukan hal yang mudah. Adikku bahkan sempat mempertanyakan kewarasannya sendiri. Aku juga kadang sedih karena tidak bisa banyak membantunya dalam merawat Papi, tetapi mau bagaimana lagi … anak-anak belum bisa sepenuhnya mandiri. Semoga adikku, Mami, dan mas pramurukti senantiasa dalam keadaan sehat lahir batin dalam membersamai Papi.

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” (Q.S. Al Isra: 23)

“Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: ‘Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.’” (Q.S. Al Isra: 24)


Tulisan ini diikutsertakan dalam Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan September yang bertema “Pengalaman Menghadapi Tantangan Hidup Terbesar (Rohani dan atau Jasmani)”.

Wednesday, August 02, 2023

Keinginan dari Lubuk Hati Terdalam

Bingung juga, ya, ketika Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan Agustus mengambil tema “Keinginan yang Masih Ingin Dicapai Mamah”. Bukan apa-apa, itu karena aku sendiri tidak tahu keinginan mana yang akan diceritakan. Yah, namanya manusia, keinginannya pasti banyak! Namun, untuk saat ini sepertinya hal-hal di bawah ini yang terlintas dalam pikiran.

Naik Haji

Aku belum pernah pergi ke Makkah untuk memenuhi panggilan Allah, baik dalam bentuk menunaikan ibadah haji maupun ibadah umroh. Ketika masa awal berkeluarga, naik haji adalah sesuatu yang sangat jauh dari angan-angan. Sebagai seseorang yang baru mulai membangun rumah tangga, banyak hal lain yang lebih menyita perhatian. Tak terbersit niat untuk naik haji. Kalaupun ada sedikit niat, prioritasnya masih jauh alias masih nanti-nanti. Namun entah mengapa, pada suatu musim haji, tiba-tiba ingin sekali aku naik haji. Dada berdentum-dentum oleh keinginan kuat untuk bersujud di baitullah.

Aku masih ingat, dalam sebuah khotbah salat Idul Adha, mata ini berkaca-kaca karena malu pada Allah. Dalam khotbah itu diceritakan—konon kisah nyata—seorang miskin yang mengambil seluruh tabungannya untuk membeli kambing kurban, padahal dia sendiri kembang kempis dalam mencari penghasilan karena hanya bekerja sebagai buruh cuci. Justru dia yang berhak menerima daging kurban, sebenarnya.

Lalu ketika membaca cerpen di sebuah majalah tentang kisah penjual jamu gendong keliling yang bisa berangkat haji gratis sementara tetangganya yang suka pamer kekayaan malah kehilangan tabungan haji, hati ini makin malu. Betapa banyak orang-orang yang—di mata manusia—minim kemampuan finansial, ingin pergi haji. Sementara aku yang dilapangkan segalanya oleh Allah malah tak kepikiran untuk pergi haji. Duh, malu.

Hal yang juga membuatku malu pada Allah adalah … karena selama ini tiap kali ditanya aku ingin pergi ke mana kalau ada rezeki, selalu kujawab dengan mantap: Eropa! Sejak dulu aku memang selalu bermimpi bisa pergi ke Eropa dan menjelajahi sudut-sudutnya yang eksotis. Duh, mirisnya. Masa lebih ingin pergi ke Eropa daripada pergi naik haji? Astaghfirullah.

Memang benar naik haji itu banyak rintangannya. Tak usah jauh-jauh, orang terdekat pun belum tentu mendukung. Alasannya macam-macam, mulai dari “tabungan masih untuk prioritas yang lain”, “anak masih kecil”, sampai ke alasan “masih punya hutang cicilan rumah”. Dunia, oh, dunia. Mengapa begitu melenakan dan memberi berbagai macam alasan uzur?

Beberapa tahun lalu, aku dan suami akhirnya membuka tabungan haji. Meski entah kapan terkumpulnya, yang penting kami sudah mengambil langkah untuk berikhtiar. Tak disangka, negara api datang menyerang. Karena sesuatu hal yang tidak bisa kuceritakan di sini, kami terpaksa mengambil seluruh tabungan mengingat kami sedang dalam kondisi “butuh uang” waktu itu.

Hingga kini kami belum membuka tabungan haji kembali, tetapi tampaknya memang harus disegerakan. Mengingat antrian haji makin panjang dan makin tidak realistis, hiks. Membulatkan niat, meyakinkan orang-orang terdekat, serta sekuat tenaga mengumpulkan bekal rohani dan finansial … rasanya itu ikhtiar yang harus dilakukan terkait masalah naik haji ini. Sambil terus berdoa, tentunya.

Menjadi Certified Yoga Teacher dan Certified Fitness Trainer

Sejak dulu kala aku selalu tertarik dengan pemberdayaan perempuan dan bagaimana aku bisa berkontribusi di situ. Karena hobiku olahraga, salah satu upaya yang aku rasa cukup realistis dan dapat dicapai adalah dengan memberdayakan mereka dalam hal peningkatan kualitas hidup dari segi kesehatan dan kebugaran. Aku pernah bermimpi memiliki one stop facility di mana di situ terintegrasi antara fasilitas olahraga, salon atau spa, tempat makan dengan menu sehat, serta tempat berbelanja berbagai hal yang berkaitan dengan pola hidup sehat dan aktif. Namun, tampaknya itu mimpi yang ketinggian, hahaha.

Kembali ke keinginan untuk memberdayakan perempuan dalam hal peningkatan kualitas hidup dari segi kesehatan dan kebugaran, aku rajin mengedukasi lingkaran-lingkaran terdekat tentang kampanye hidup sehat dan aktif, baik dari media sosial, tulisan blog, materi webinar, hingga menjadi instruktur. Olahraga pertama di mana aku percaya diri menjadi instruktur adalah senam aerobik karena sudah belasan tahun aku bergelut di situ.

Mengajar senam aerobik

Demikian pula halnya dengan yoga. Setelah lebih dari lima tahun menjadi praktisi, pada 2018 dan 2019 aku mengikuti Teacher Training Course untuk menjadi instruktur yoga prenatal. Awalnya sebagai sarana healing setelah kehilangan bayi dalam kandungan, tetapi akhirnya hal itu justru memantik keinginan untuk memberdayakan para ibu hamil supaya mereka tidak mengalami hal sepertiku.

Setelah akhirnya proses healing selesai dan aku merasakan manfaat nyata yoga prenatal pada kehamilan dan persalinan berikutnya, makin dalam visi dan misiku untuk membahagiakan para ibu hamil, membantu mereka melalui kehamilan dan persalinan dengan lembut, nyaman, aman, sehat, dan bugar. Aku percaya bahwa ibu yang bahagia akan melahirkan dan membesarkan generasi yang bahagia. Setelah mendapatkan banyak hal positif dari yoga, baik general maupun prenatal, aku juga ingin menularkan semangat dan berbagi manfaat dengan perempuan-perempuan lainnya. Aku pun makin mantap mengajar karena sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesama.

Mengajar yoga prenatal

Ketika aku semakin mendalami yoga prenatal dan pascanatal, aku tertarik juga mendalami spesialisasi Prenatal-Postnatal Corrective Exercise karena erat sekali kaitannya dengan pengembalian fungsi tubuh perempuan dan perbaikan kualitas hidupnya pascapersalinan. Nah, Corrective Exercise ini tidak ada hubungannya dengan yoga. Cabang ilmu yang ini merupakan perpanjangan dari ilmu tentang fitness dan latihan beban. Bahkan untuk menjadi Corrective Exercise Specialist, seseorang harus terlebih dahulu menjadi Certified Fitness Trainer.

Mengikuti Training of Trainers
dari Asosiasi Pelatih Kebugaran Indonesia

Hmmm, ternyata tubuh seorang perempuan itu memang rumit sekali. Satu ilmu membawa pada ilmu-ilmu yang lain. Kebetulan aku sudah menjadi anak gym yang rutin latihan beban sejak sebelum pandemi untuk melengkapi latihan lariku. Dan jujur, mau jadi atlet atau tidak, bahkan jika kita hanya mewakili general population, kita tetap membutuhkan latihan beban untuk peningkatan kualitas hidup. Dari situ aku mulai tertarik juga untuk mengedukasi para perempuan tentang pentingnya latihan beban (kalau yang ini, sih, harus dibahas dalam tulisan tersendiri, hehehe).

Salah satu kendala yang kuhadapi untuk menjadi Certified Yoga Teacher dan Certified Fitness Trainer adalah waktu yang tidak fleksibel karena statusku saat ini sebagai ASN yang terikat dengan jam kerja. Hal itu membuatku kesulitan untuk mengambil pelatihan dan sertifikasi yang biasanya memakan waktu selama beberapa bulan. Mana mungkin aku diizinkan atasan untuk cuti selama itu. Jadi, aku hanya bisa mengambil training dan workshop yang pendek-pendek saja. Mudah-mudahan ilmu yang kupelajari, meskipun sedikit, dapat kutularkan juga kepada para perempuan lain demi cita-citaku memberdayakan mereka dari segi kesehatan dan kebugaran.



Saturday, July 01, 2023

Solo, Spirit of Java, dan Segala Perubahannya

Pulang, kenangan, dan kerinduan. Tiga kata tak terpisahkan yang senantiasa mendesak-desak ruang rasa tiap kali kembali ke suatu tempat yang kita anggap rumah. Karena tiga kata itu pula yang membedakan pengembaraan dan keberlabuhan, kelelahan dan kenyamanan, keterasingan dan kebersamaan.

Hari-hari ini ketika aku berkesempatan mengitari kota Solo kembali, ada sebongkah rasa haru membuncah. Solo masih sedamai yang dulu. Solo masih tetap menjadi kota yang tak pernah tidur, dengan banyaknya warung angkringan bertebaran di seantero kota. Di situ orang-orang berkumpul melepas penat sambil bertukar pikiran, bercanda, dan wedangan, juga sesekali mencomot kikil goreng atau tempe bacem.

Solo juga masih sesederhana yang dulu. Meskipun resto-resto beken mulai membuka gerai-gerai baru, orang-orang masih suka pergi beramai-ramai ke warung lesehan di pinggir-pinggir jalan. Di Solo, beberapa warung pinggir jalan malah lebih beken dibanding resto-resto beken, seperti warung sate Pak Manto dan Mbok Galak, warung tenda sepanjang Kota Barat, warung susu segar asli Boyolali, warung masakan ayam di Purwosari, warung nasi liwet di bilangan Keprabon, atau warung gudeg ceker di beberapa tempat lain. Orang-orang harus berebut tempat dan mengantri lama kalau ingin bersantap di tempat-tempat itu.

Desing-desing akrab bahasa Jawa medok yang selama ini asing di perantauan, dapat dengan mudah ditemui di berbagai penjuru kota Solo. Kesopanan dan kehalusan bahasa yang menjadi ciri orang Solo selalu membuatku merindukan kota ini habis-habisan. Bukan merupakan hal yang aneh lagi ketika seorang sopir angkot atau sopir bus kota berbahasa krama kepada penumpangnya. Sapaan-sapaan seperti “Badhe tindak pundi, Mbak?” atau “Mandhap mriki, Mbak?” menjadi biasa bertebaran di dalam angkot dan bus kota. Bahkan aku pernah tercengang-cengang ketika membayar angkot, kakek tua yang menyopirinya tersenyum mengangguk sambil berkata, “Nggih. Maturnuwun, Mbak.”

Bicara tentang Solo juga berarti bicara tentang sejarah panjang sebuah kota. Sejak lama Solo didengung-dengungkan sebagai Kota Budaya karena dulunya merupakan salah satu pusat kebudayaan Jawa. Hal ini menyebabkan timbulnya kesadaran untuk melestarikan segala bentuk budaya dan tradisi Jawa di Solo, termasuk karya arsitektur kuno. Solo memiliki keragaman arsitektural seperti arsitektur tradisional, Eropa, modern, dan postmodern. Dua di antaranya (tradisional dan Eropa) sangat penting dalam menciptakan identitas modern Kota Solo.

Berfoto di Keraton Kasunanan bersama teman-teman komunitas lari

Sejarah Solo—yang nama resminya adalah Surakarta—bermula ketika Sunan Paku Buwana II memerintahkan Tumenggung Honggowongso, Tumenggung Mangkuyudo, dan Panglima Tentara Belanda J. A. B Van Hohendorff untuk mencari lokasi untuk mendirikan ibu kota baru Kerajaan Mataram. Setelah mempertimbangkan faktor fisik dan nonfisik, pada tahun 1746 M (atau 1671 penanggalan Jawa) dipilih sebuah desa di dekat sungai Bengawan bernama Sala. Sejak saat itu, Sala berubah menjadi Surakarta Hadiningrat dan terus berkembang.

Berdasarkan perjanjian Giyanti pada 13 Februari 1755, Kerajaan Mataram Islam terbagi menjadi Surakarta dan Yogyakarta. Berdasarkan perjanjian Salatiga, Kerajaan Surakarta dibagi menjadi Kasunanan dan Mangkunegaran. Dari fakta sejarah, perkembangan Surakarta sangat dipengaruhi oleh peran pemerintah Kasunanan, pemerintah Mangkunegaran, Benteng Vastenburg sebagai pusat pengawasan ketat Belanda terhadap Kerajaan Surakarta, dan Pasar Gede Hardjonagoro sebagai pusat perekonomian kota. Peran tempat-tempat tersebut telah membentuk kawasan budaya dengan Kerajaan Kasunanan sebagai pusatnya. Pengembangan kota berlanjut di sekitar wilayah ini hingga hari ini.

Perempatan yang menghubungkan Balai Kota, Pasar Gede, Benteng Vastenburg, dan Keraton Kasunanan

Sayangnya, tidak selamanya Solo bersikap stagnan. Kerinduanku pada kota ini sedikit menipis kala menyadari adanya perubahan-perubahan signifikan. Solo jadi seperti kehilangan karakteristik khasnya: pusat-pusat perbelanjaan megah dibangun di sana sini; gaya hidup masyarakat lambat laun telah menggeliat menjadi lebih konsumtif dan borjuis; sikap masyarakat yang cenderung nrimo mulai berubah menjadi lebih egois, semau gue, dan sulit diatur (masih ingat bagaimana Solo luluh lantak saat kerusuhan Mei 1998?); jumlah sepeda dan sepeda motor mulai tersisih oleh banyaknya mobil berseliweran; atau yang paling menyedihkan, lunturnya kebanggaan berbahasa Jawa di kalangan generasi muda (terutama usia pelajar). Aku sering geleng-geleng kepala menyaksikan mereka lebih merasa akrab berbincang dengan bahasa Indonesia. Tak ada salahnya memang, tetapi kalau lantas mereka mulai meninggalkan bahasa Jawa sama sekali, pasti ada yang salah dengan “kejawaannya”. Jangankan berbahasa krama kepada orang tua, berbicara Jawa dengan teman sebaya saja mereka masih terbata-bata. Ckckck …

Tak dapat dipungkiri, industri gaya hidup telah sukses merambah Solo. Restoran dan kafe bertebaran dalam berbagai bentuk, menyaingi warung lesehan dan angkringan yang sudah lebih dulu merakyat. Salah satu mal besar di jalan protokol kota bahkan dengan bangga memasang slogan ”lifestyle center” dengan huruf besar-besar. Di dalamnya berderet gerai-gerai semacam gerai bakery bermerek dagang nasional, kafe kopi, distro, plus gerai-gerai belanja-barang-mahal lainnya.

Ketika aku berkesempatan jalan-jalan di dalam mal-mal megah yang kini ada beberapa buah di kota ini, aku merasa bak berada di Bandung atau Jakarta. Di ibu kota, mal-mal semacam ini sudah menjadi pemandangan yang sangat biasa. Beberapa belas tahun lalu, mal seperti ini bisa dibilang jarang ada di Solo. Kalaupun ada, rasanya dulu sepi pembeli. Bandingkan dengan tempat-tempat belanja yang lebih proletar, seperti Luwes, Matahari Singosaren, Pusat Perbelanjaan Beteng, atau Pasar Klewer. Belum lagi kalau kita bicara soal pergaulan dan tata cara berpakaian. Betapa jamaknya sekarang aku melihat celana pendek dan tank top bertebaran.

Yah, berubah atau tidak berubah, Solo masih tetap kota kelahiranku. Meskipun kedamaian dan kebersahajaan sedikit demi sedikit mulai terkikis, aku berharap masih ada nilai-nilai adiluhung bertahan dari generasi ke generasi. Aku tahu Solo tidak berubah sendirian. Mungkin demikian juga halnya dengan kota-kota lain di tanah Jawa yang dulu tampak sangat proletar dan tradisional. Berpuluh-puluh tahun ke depan saat Solo (mungkin sudah) kehilangan wajah aslinya, aku akan tetap punya kenangan manis tentang kejawaan, kedamaian, dan kesederhanaannya. Dan kenangan itu pulalah yang akan selalu membawaku menjejakkan kaki kembali di kota ini.

Tulisan ini diikutsertakan dalam Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan Juli yang bertema “Tentang Daerah Asal”.

Thursday, June 01, 2023

Persaingan Perempuan dan Rasa Insecure

Ilustrasi oleh Laura Callaghan

Hal paling berkesan dari masa kecilku yang ingin kuceritakan kali ini bukanlah sesuatu yang menyenangkan. Sepanjang ingatanku menjalani masa kecil sebagai perempuan, ada satu kata yang kerap membersamaiku saat itu: insecure. Mungkin aku bisa dibilang cukup cemerlang dalam hal prestasi, tapi sesungguhnya ada banyak hal yang membuatku merasa tidak aman. Aku sering merasa khawatir tidak memiliki teman. Saat kecil aku sungguh pemalu. Terhadap orang yang tak dikenal, aku cenderung menarik diri dan tertutup. Beberapa orang kawan yang cukup dekat denganku membuatku merasa ditinggalkan ketika akhirnya mereka dekat dan bersahabat akrab dengan kawan yang lain. Sebagai seorang gadis kecil, tidak memiliki teman dekat adalah sesuatu yang menyedihkan.

Beranjak remaja dan duduk di bangku sekolah unggulan, aku melihat teman-teman perempuan banyak yang membentuk geng. Tanpa sengaja aku terlibat akrab dengan salah satu geng di kelas. Peer pressure sangat terasa dalam interaksi sehari-hari. Aku dianggap gaul jika mengikuti standar mereka dan aku sering dicibir bila menolak ajakan hang out karena aku harus buru-buru pulang untuk menjaga adikku. Sampai suatu ketika aku didepak keluar dari geng itu dengan cara yang mungkin buat mereka biasa, tapi buatku terasa sangat menyakitkan. Hingga hari ini aku tidak tahu alasannya. Dugaanku: karena aku sering berbeda pendapat dan kerap menolak ajakan hang out mereka sehingga bagi mereka mungkin aku bukan teman yang asyik.

Peristiwa itu menorehkan luka teramat dalam, sampai-sampai aku bertekad untuk tak akan pernah lagi bersahabat dekat dengan sesama perempuan. Perjalanan mencari teman membawaku pada satu kesimpulan bahwa lebih baik sendirian daripada merasa tersakiti oleh sahabat. Maka ketika aku duduk di bangku SMA, aku mulai menyibukkan diri dengan kegiatan organisasi dan berteman dengan banyak teman laki-laki. Beberapa kali aku berpacaran dan merasa bisa menjalani hari-hari tanpa sahabat perempuan.

Kenangan-kenangan di masa lalu berperan besar membentuk kepribadianku, sebagai indikasi bahwa hal itu sangat menimbulkan kesan yang terbawa hingga dewasa. Hingga sekarang aku lebih nyaman bepergian seorang diri tanpa teman. Zaman kuliah aku sampai kenyang mendapat pertanyaan “Sendirian aja, Yus?” ketika pergi ke mana-mana. Bahkan saat ibu-ibu di kantor pergi beramai-ramai ke mal ketika jam istirahat, aku merasa lebih nyaman pergi sendiri dalam diam.

Setelah sekarang anak perempuanku menginjak kelas satu SD, ternyata dia menghadapi permasalahan yang sama. Dari beberapa curhatnya tersirat adanya persaingan antara sesama perempuan di kelasnya, baik dalam hal berteman maupun hal-hal lain. Aku cukup sedih waktu dia bercerita bahwa beberapa teman perempuannya mengejek gambarnya yang dianggap jelek sambil terkikik-kikik. Dalam hati aku membatin: ternyata komentar-komentar menjatuhkan itu memang sudah sering terlontar sejak para perempuan berusia dini. Kalau menilik teman-teman lelakinya, mereka cenderung lebih woles.

Melihat kenyataan hidup di sekeliling saat ini, sering sekali kita dapati perempuan satu dengan yang lain saling menjatuhkan. Di kalangan ibu-ibu, sudah jamak terjadi mom war dalam berbagai hal, mulai dari ASI versus susu formula, ibu bekerja versus ibu di rumah, melahirkan normal versus melahirkan C-section, dan masih banyak lagi. Seolah pengalaman masa kecilku belumlah cukup, aku merasa sangat lelah melihatnya.

Beberapa penelitian pernah dilakukan untuk meneliti persaingan di antara perempuan. Tinjauan literatur oleh Tracy Vaillancourt pada 2013 menemukan bahwa perempuan pada umumnya mengekspresikan agresi tidak langsung terhadap perempuan lain. Agresi tidak langsung tersebut merupakan kombinasi dari self-promotion untuk membuat diri mereka terlihat lebih menarik, serta merendahkan saingan dengan berkomentar tidak baik tentang perempuan lain. Wow banget ya :(

Ada dua teori utama yang menjelaskan alasan perempuan berkompetisi dengan sesamanya.

  1. Psikologi evolusioner, yang menggunakan teori seleksi alam untuk menjelaskan perilaku modern kita, mengatakan bahwa perempuan perlu melindungi diri mereka sendiri (baca: rahimnya) dari bahaya fisik. Jadi, agresi tidak langsung membuat perempuan merasa aman karena merendahkan perempuan lain merupakan salah satu cara untuk mengeliminasi saingan.
  2. Psikologi feminis mengatakan agresi tidak langsung para perempuan dilakukan untuk menginternalisasi patriarki. Seperti yang ditulis Noam Shpancer dalam Psychology Today, “As women come to consider being prized by men as their ultimate source of strength, worth, achievement and identity, they are compelled to battle other women for the prize.

Dalam pandanganku, perempuan seharusnya saling mendukung satu sama lain. Seorang perempuan bisa memberdayakan perempuan lain dan hal itu tak akan pernah mengecilkan peran dan makna dirinya sendiri. Di dunia yang keras ini, kita harus memberangus kebencian, kecemburuan, atau perasaan iri antara sesama perempuan.

Sebuah penelitian oleh Harvard Business Review mengatakan bahwa perempuan yang memiliki inner circle sesama perempuan cenderung dapat menempati posisi eksekutif dengan otoritas yang lebih besar dan gaji yang lebih tinggi, bila dibandingkan dengan laki-laki yang memiliki inner circle yang sama. Hal ini dikarenakan perempuan yang memiliki hubungan dekat dengan kelompok perempuan yang mendukungnya, akan lebih mudah menghadapi berbagai rintangan melalui berbagi pengalaman dengan perempuan lain yang pernah menghadapi situasi dan kesulitan yang sama.

Andai saja sejak kecil kita diajari untuk saling mendukung satu sama lain sebagai perempuan, mungkin tidak perlu ada gadis-gadis lain yang mengalami nasib sama denganku. Tak perlu ada persaingan saling menjatuhkan, tak perlu ada perundungan, tak perlu adu debat meskipun berbeda pendapat.

Tulisan ini diikutsertakan dalam Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan Juni yang bertema “Hal Berkesan di Masa Kecil (dan atau Masa Sekolah)”.

Tuesday, May 02, 2023

Sambal Tumpang, Warisan Budaya dan Kearifan Lokal

Gambar dari sini

Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan Mei yang bertema “Makanan Favorit” kali ini membuatku sedikit berpikir keras. Beberapa makanan favoritku sudah kutulis dalam tantangan serupa tahun lalu, maka kali ini aku harus memikirkan jenis makanan yang berbeda.

Seperti yang ditulis Mamah Restu: “Jika Mamah menyukai seseorang maka Mamah suka makanan favoritnya”, hal itu pula yang terjadi padaku dan sambal tumpang. Makanan ini favorit suamiku banget, sementara aku tadinya tidak terlalu doyan. Meskipun sangat familier di keluargaku karena bapakku juga suka, tetapi biasanya aku lebih memilih sambal pecel dibanding sambal tumpang.

Sambal tumpang yang sangat populer di Solo ini merupakan makanan yang cukup dikenal di area Jawa Tengah dan Jawa Timur. Sambal tumpang sebenarnya bukan berupa jenis makanan tertentu yang berdiri sendiri, tetapi biasanya dijadikan topping untuk rebusan sayur mayur (seperti halnya sambal pecel), bubur lemu, atau nasi. Resepnya sangat unik karena menggunakan bahan utama berupa tempe yang hampir busuk yang disebut dengan nama “tempe semangit”. Di beberapa wilayah lain, sambal ini lebih dikenal dengan nama sambal lethok.

Tempe semangit adalah overripe tempe atau over fermented tempe karena telah melewati masa fermentasi tempe yang ideal. Lewatnya masa fermentasi ideal ini ditandai dengan tempe yang mulai mengeluarkan bau tajam serta warna yang mulai kehitaman. Istilah semangit sendiri berasal dari bahasa Jawa “sangit” yang artinya “bau yang menyengat”. Menurut ahli, tempe busuk punya protein yang lebih baik ketimbang tempe segar. Jadi kalau nanti punya tempe yang hampir busuk, jangan dibuang ya. Mamah-mamah bisa mengolahnya menjadi sambal tumpang.

Bicara soal tempe semangit, benda ini sangat susah didapat di luar Jawa Tengah dan Jawa Timur. Hal ini baru kusadari setelah merantau ke Bandung dan Jabodetabek, padahal tempe semangit mudah sekali didapat di warung-warung sayur di Solo karena merupakan bahan yang biasa digunakan dalam sajian-sajian khas Jawa semisal gudeg, sayur lodeh, sayur oseng, botok, gulai, dll. Yaa kalau kata orang Jawa, apa pun jadi sedap jika dimasak menggunakan tempe semangit sebagai salah satu bahan racikan bumbu. Akhirnya aku mencari cara untuk membuat tempe semangit sendiri, alias membeli tempe baru di pasar lalu sengaja dibusukkan. Adakalanya tidak berhasil karena keburu muncul ulat sebelum sempat diolah, tetapi agaknya hal itu karena tempat penyimpanannya kurang rapat. Seringnya sih berhasil alhamdulillah, jadi aku bisa sering-sering membuat sambal tumpang untuk suami.

Konon resep sambal tumpang diduga telah ada sejak era Kerajaan Mataram. Pada Serat Centhini 1814-1823 telah disebutkan keberadaan sambal Mataram di bumi Mataram. Serat Centhini sendiri menceritakan bagaimana dahulu banyak tokoh masyarakat yang melakukan perjalanan mengelilingi desa-desa yang ada di daerah Jawa untuk mengumpulkan berbagai pengetahuan, termasuk di dalamnya pengetahuan mengenai kuliner. Di antara rangkuman perjalanan itulah tertulis bagaimana sambal tumpang menjadi salah satu sajian yang disuguhkan oleh salah satu tuan rumah yang mereka kunjungi. Hal ini membuat resep sambal tumpang memiliki usia yang seharusnya melampaui usia dari Serat Centhini itu sendiri.

Sambal tumpang memiliki tekstur berkuah kental, tidak sehalus sambal pecel karena berisi potongan-potongan bahan pembuatnya, dan bercita rasa gurih yang berasal dari santan. Jika mamah-mamah ingin mencoba merasakan seperti apa sambal tumpang, berikut resepnya ya, sangat mudah dibuat.

Gambar dari sini

Bahan:

  • 1 papan tempe semangit
  • 1 papan tempe baru
  • 4 buah tahu, potong-potong
  • 5 siung bawang merah
  • 3 siung bawang putih
  • 4 buah cabai rawit
  • 3 buah cabai merah keriting
  • 2 buah kemiri
  • 2 ruas kencur
  • 120 ml santan
  • 2 lembar daun salam
  • 4 lembar daun jeruk
  • 1 ruas lengkuas, geprek
  • garam dan gula secukupnya
  • kaldu penyedap
  • krecek untuk tambahan

Cara membuat:

  1. Rebus tempe semangit dan tempe baru di panci. Masukkan cabai, bawang merah, bawang putih, lengkuas, kencur, dan krecek. Rebus sampai semua bahan matang.
  2. Setelah matang, angkat semua bahan, tiriskan.
  3. Haluskan cabai, bawang merah, bawang putih, lengkuas, kencur, dan kemiri. Sisihkan.
  4. Hancurkan tempe lalu rebus kembali dengan tahu.
  5. Tumis bumbu halus hingga beraroma harum. Campur ke air rebusan, aduk rata. FYI bumbu halus juga bisa langsung dimasukkan ke dalam rebusan air tanpa ditumis terlebih dahulu.
  6. Masukkan tempe yang sudah dihaluskan ke dalam air rebusan.
  7. Masukkan bumbu lain (garam, gula, penyedap), daun salam, dan daun jeruk. Biarkan mendidih sampai air kuahnya berkurang atau menyusut.
  8. Masukkan krecek yang sebelumnya sudah direbus.
  9. Masukkan santan, aduk biar tidak pecah.
  10. Jangan lupa koreksi rasa. Jika rasanya sudah pas, angkat sambal tumpang. Siapkan piring saji, lalu tuangkan sambal ke piring tersebut.
  11. Sajikan dengan pelengkap sayuran rebus seperti bayam, kacang panjang, tauge, dan timun. Siram sambal tumpang di atas sayuran.
  12. Sajikan dengan nasi hangat dan beberapa lauk lainnya supaya rasanya makin mantap.




Saturday, April 01, 2023

Kastil Miramare, Saksi Cinta yang Berakhir Tragis

Gambar diambil dari sini


Pada suatu masa di penghujung musim panas 2017, aku menjemput impian menginjak tanah Eropa. Inggris dan Italia adalah dua negara yang paling ingin kukunjungi sejak dulu. Maka ketika ada kesempatan mengikuti training gratis dari International Atomic Energy Agency (IAEA) di Trieste, sebuah kota yang indah di ujung timur laut Italia, tepat di tepi Laut Adriatik yang cantik, aku segera menyambar peluang itu.

Trieste adalah ibu kota wilayah Friuli-Venezia Giulia, merupakan sebuah kota pelabuhan kecil yang berbatasan dengan Slovenia dan dekat dengan Kroasia. Dahulu kota ini merupakan wilayah Romawi pada kekaisaran Bizantium, kemudian di abad modern merupakan bagian wilayah kekaisaran Austria-Hongaria, sebelum pada akhirnya menjadi wilayah Italia pada 1954. Meskipun hanya kota pelabuhan kecil, Trieste sangat strategis karena menjadi pintu masuk ke dataran Slovenia dan sekitarnya sehingga wajar jika banyak pihak memperebutkannya dan silih berganti menguasainya.

Trieste pernah menjadi pusat perdagangan, politik, budaya, dan seni yang penting di masa lampau, tetapi seiring berjalannya waktu signifikansinya menurun, dan pada saat ini “hanya” menjadi kota yang tenang di pinggiran Italia. Karena sejarah panjangnya, Trieste memiliki keanekaragaman etnis dan budaya, juga bangunan dan monumen dengan arsitektur yang unik mulai dari gaya Romawi kuno, gaya dari zaman Kekaisaran Austria, hingga campuran gaya Mediterania.

Training tentang Nuclear Knowledge Management yang diselenggarakan oleh IAEA yang kuikuti itu bekerja sama dengan The Abdus Salam International Centre for Theoretical Physics (ICTP). Lokasi training berada di Adriatico Guest House, salah satu guest house milik ICTP yang sekaligus memiliki aula, beberapa ruang kelas, dan kantin. Karena aku mengajak seluruh anggota keluarga, aku mengajukan penyewaan apartemen dan panitia memesankan Maximilian’s Residence yang jaraknya hanya satu kilometer dari Adriatico.


Pemandangan dari jendela apartemen (kiri)
dan dari salah satu kamar di Adriatico Guest House (kanan)


Baik Adriatico maupun Maximilian’s Residence, keduanya terletak di tepi Laut Adriatik dengan pemandangan laut yang memesona. Pemandangan dari jendela apartemen kami sangat spektakuler. Tepat di depannya terhampar luas lautan sejauh mata memandang. Di kejauhan tampak bangunan Kastil Miramare menyembul di antara pepohonan Teluk Grignano dan di dekatnya terdapat sebuah pelabuhan kecil tempat bersandar kapal-kapal pribadi milik penduduk setempat.

Selama tujuh hari kami berada di Trieste, hanya satu hari yang benar-benar cerah. Selebihnya, penghujung musim panas kala itu basah oleh rinai gerimis hingga hujan badai yang anginnya menerpa kencang. Nah, pada suatu sore yang merupakan satu-satunya hari cerah itu, panitia memutuskan untuk mengakhiri training lebih cepat guna memberi kesempatan peserta berjalan-jalan ke kota. Aku dan beberapa orang teman memutuskan untuk mengunjungi Kastil Miramare yang hanya berjarak satu kilometer dari Adriatico.


Gambar diambil dari sini

Kastil Miramare adalah destinasi yang sangat terkenal dari Trieste, meskipun sebenarnya letaknya sedikit di luar kota. Kastil ini menjadi saksi sebuah kisah romansa tahun 1800-an yang dipisahkan oleh takdir dan maut. Ia adalah rumah impian pasangan muda Maximilian dan Charlotte yang dibangun di atas tebing yang menjorok ke arah Laut Adriatik. Maximilian bernama lengkap Ferdinand Maximilian Joseph Maria, merupakan salah seorang anggota keluarga kerajaan Austria: Habsburg-Lorraine. Mereka tinggal di sini pada 1860-1864, kemudian mereka pindah ke Meksiko karena diangkat menjadi penguasa di sana. Maximilian menemui akhir hidupnya dengan tragis pada 1867 karena dieksekusi pada kerusuhan Meksiko oleh pasukan Republikan yang menolak mengakui pemerintahannya. Setelah itu Charlotte pernah kembali ke Miramare, sebelum akhirnya pulang ke tempat asalnya di Belgia.

Dari Adriatico di Teluk Grignano, kami menyusuri jalanan berundak di pinggir Grignano Marina untuk menuju ke Kastil Miramare. Setelah beberapa ratus meter, langkah kami terhenti di depan sebuah bangunan berwarna krem yang disebut Castelletto, tempat Maximilian tinggal selama kurun waktu kastil itu dibangun pada 1856-1860. Castelletto menghadap Teluk Grignano pada satu sisi sementara sisi yang lain dikelilingi oleh taman yang indah dengan kolam air mancur di bagian tengah. Pada puncak tangga yang menghadap air mancur, kami dapat melihat lautan terbentang luas di hadapan.


Jalanan berundak dari Grignano Marina ke Kastil Miramare

Pemandangan dari Castelletto ke arah Laut Adriatik
(in picture: anak-anak dan adikku)

Kami melanjutkan langkah menyusuri jalanan setapak yang menuju ke arah hutan kecil. Hutan ini terbentang seluas 22 hektar di sekeliling Kastil Miramare, kini diisi dengan beraneka ragam jenis botani. Dulunya hutan kecil ini merupakan tempat Maximilian menanam koleksi tanamannya. Jalan setapak di hutan tadi berakhir pada sebuah taman cantik yang bunga-bunganya tampak menawan. Di seberang taman itu, Kastil Miramare menjulang indah dengan latar belakang pemandangan laut. Pada sisi kastil terdapat dermaga tempat tamu-tamu kastil ini berlabuh di masa lampau.


Salah satu sudut jalan setapak di hutan kecil,
gambar diambil dari sini


Kastil dilihat dari arah dermaga

Pemandangan dermaga dari salah satu jendela kastil

Kastil ini dikelola dengan serius oleh pemerintah setempat. Saat ini dijadikan museum dengan tetap mempertahankan fitur-fitur lamanya. Untuk masuk ke dalam kastil dikenakan tiket seharga 10 Euro, harga yang dianggap mahal oleh teman-teman seperjalananku waktu itu sehingga mereka memutuskan untuk sightseeing di luar saja. Akhirnya aku masuk sendirian. Hari sudah hampir magrib, sudah menjelang tutup sebetulnya. Jadi pengunjungnya tinggal segelintir orang. Pada beberapa waktu aku bahkan bisa sendirian banget berada di dalam ruangan-ruangan itu. Sementara di luar mendung mulai menggelap, tanda bahwa akan turun hujan badai yang cukup deras. Ditambah dengan kisah tentang pemilik kastil, suasana horor makin terasa dan aku pun memutuskan untuk mempersingkat waktu melihat-lihat, hahaha.

Lantai satu kastil menggambarkan dengan jelas suasana ketika Maximilian masih tinggal di situ. Ruangan-ruangan di dalam kastil beserta perabotannya sangat khas menunjukkan kehidupan bangsawan Eropa zaman dulu. Beberapa perabot asli dipertahankan, bahkan beberapa baju Charlotte juga dipajang. Lantai dua kastil memiliki suasana yang lebih modern, berisi barang-barang peninggalan beberapa anggota keluarga Habsburg-Lorraine yang tinggal di sini setelah mewarisi kastil dari mendiang Maximilian.


Suasana di lantai satu

Pada pukul enam sore, kastil ditutup dan aku pun terpaksa keluar. Hujan mulai turun, kemudian teman-temanku muncul dari balik kastil setelah mereka puas mereguk pemandangan laut dan bermain air di dermaga Miramare. Ketika kami bermaksud kembali ke Adriatico melalui jalan yang sama dengan keberangkatan, seorang petugas memberi tahu bahwa pintu gerbang ke arah hutan kecil sudah ditutup. Hal itu terpaksa membuat kami berbalik arah dan menempuh perjalanan yang lebih jauh untuk pulang.


Kastil dilihat dari Viale Miramare

Kami berjalan 1,5 kilometer menyusuri Viale (Jalan) Miramare yang bermuara di jalan besar Strada Costiera, persis di pinggir pantai Barcola. Di situ terdapat halte tempat kami menanti bus yang dapat membawa kami kembali ke Adriatico. Angin bertiup kencang dari arah laut dan hujan turun semakin deras ketika kami berjalan beriringan. Kami naik bus dalam keadaan basah dan sampai di Adriatico dengan pakaian yang kuyup serta tubuh kedinginan. Meskipun demikian, hati kami gembira dan hingga kini masih tertawa-tawa ketika mengenang hari itu.


Tulisan ini diikutsertakan dalam Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan April yang bertema “Landmark Kota (Dalam dan Luar Negeri) yang Sudah atau Ingin Dikunjungi”.

Wednesday, March 01, 2023

Mengelola Jadwal dengan Planner

Sebagai seseorang yang (sok) sibuk, memiliki banyak kegiatan, dan memiliki banyak anak yang masing-masing memiliki banyak kegiatan (hahaha!) … mengingat jadwal agenda bukan sesuatu yang mudah. Tidak semua acara dapat diingat begitu saja, apalagi jika ada beberapa agenda dalam satu hari sekaligus. Kadang bahkan beberapa acara mengalami bentrok karena dilaksanakan pada waktu yang bersamaan.

Kemampuan untuk mengelola jadwal kegiatan memang tergantung pada keahlian masing-masing orang. Kebetulan aku adalah orang yang cukup well-organized dan well-planned. Salah satu caraku mengelola jadwal kegiatan adalah dengan menuliskannya pada planner. Planner adalah sarana yang dapat digunakan untuk merekam dan menulis berbagai tugas, janji, dan catatan. Planner berfungsi menyimpan segala informasi mengenai perencanaan kegiatan sehingga aku dapat mengaksesnya dengan mudah saat dibutuhkan.


Ketika masih sering memakai planner yang dicetak pada kertas HVS

Planner-ku berisi perencanaan harian atau mingguan yang berisi jadwal harian dan to-do list. To-do list adalah daftar tugas atau kegiatan yang perlu kuselesaikan, biasanya disusun berdasar skala prioritas. Dengan menuliskan beberapa kegiatan yang harus dikerjakan, secara otomatis aku akan mengatur waktu dan membuat jadwal dalam pengerjaannya. Hal itu sangat membantuku untuk terampil dalam urusan manajemen waktu dan membuatku mudah mengingat jadwal.

Saat ini planner dibuat dalam berbagai platform, baik planner cetak yang ditulis dengan tangan maupun planner digital berupa aplikasi yang dapat dipasang pada gawai atau komputer. Pemilihan planner yang paling nyaman dan paling cocok bisa saja berbeda menurut masing-masing orang karena masing-masing planner memiliki kelebihan dan kekurangan.

Khusus buatku yang harus membagi waktu antara pekerjaan kantor, jadwal olahraga (berlari, strength training, yoga, senam aerobik, coaching lari) serta jadwal mengantar anak les atau acara sekolah, aku sangat terbantu dengan adanya planner. Planner yang kumiliki ada beberapa, meliputi planner untuk agenda kantor, workout plan, juga training plan khusus lari.


Training plan Half Marathon dengan aplikasi Running with Hal

Training plan khusus lari aku susun dengan aplikasi Running with Hal. Aplikasi ini membantu kita dalam membangun training plan berdasar hari latihan yang bisa kita alokasikan, target pace, serta variasi latihan. Selain memudahkan mengatur jadwal, ternyata aplikasi ini sangat membantu untuk bisa konsisten berlatih. Ada evaluasi berupa nilai untuk melihat seberapa tertib kita menaati training plan, baik dalam hal frekuensi maupun intensitas latihan. Sebagai seseorang yang perfeksionis, mendapat nilai dalam pemenuhan training plan tentunya makin membuatku terpacu untuk menyelesaikan latihan demi latihan dengan baik. Kelebihan lain dari aplikasi ini: ia dapat dengan mudah dikoneksikan dengan perekam data olahraga seperti Garmin Connect dan Strava. Hal ini membuat data dapat disinkronkan dengan mudah tanpa harus mengisi evaluasi latihan secara manual.


Contoh workout plan yang kususun pada awal minggu bersama coach

Workout plan kubuat tiap awal minggu dengan aplikasi Canva setelah dikonsultasikan dengan coach. Berbagai pertimbangan dimasukkan dalam penyusunan workout plan, di antaranya frekuensi latihan (berlari tiga kali seminggu, strength training tiga kali seminggu, yoga sekali seminggu), variasi jenis latihan (lower body, upper body, full body), tipe latihan (cardio, strength training, mobility, flexibility), serta waktu untuk rest dan recovery. Mengapa latihannya harus selengkap itu? Karena menu latihan seorang pelari bukan hanya berlari, melainkan juga harus memasukkan strength training, mobility, dan flexibility untuk menguatkan otot, melatih fleksibilitas otot, menguatkan core, memperbaiki teknik berlari sehingga keseluruhannya meningkatkan performa berlari, mengatasi imbalance, dan mencegah overuse injury.


Buku planner gado-gado

Nah, yang terakhir adalah planner untuk agenda kantor, pekerjaan, dan kegiatan secara umum. Untuk yang satu ini aku lebih nyaman menggunakan sistem manual dengan planner berupa buku. Jadwal meeting dan jadwal operasional lapangan kumasukkan ke sini, juga appointment dan jadwal olahraga. Buku planner ini isinya memang gado-gado sekali. Tujuannya untuk merangkum semua acara harian dan mengetahui slot waktu yang masih kosong, sehingga bila ada permintaan mengajar atau rapat, aku bisa segera mengonfirmasi ketersediaan waktu.

Demikian sekilas tentang kebiasaanku mengelola jadwal dengan planner. Buatku ini life hack yang sangat memudahkan kehidupanku sehari-hari, serta membuat hidupku yang penuh dengan seabrek agenda menjadi lebih produktif dan lebih efisien karena terasa lebih sat set dalam manajemen waktu dan kegiatan. Menyusun jadwal dengan planner selalu menjadi aktivitas yang menyenangkan di awal minggu. Membubuhkan checklist di samping agenda yang sudah done itu juga menimbulkan kepuasan tersendiri … karena itu berarti aku berhasil merealisasikan agenda sesuai rencana. Ya, sesederhana itu memang kebahagiaanku, hehehe

Beberapa tips mengelola jadwal dengan planner:

  1. Tulis daftar tugas atau kegiatan yang akan dikerjakan.
  2. Susun jadwal berdasarkan urgensi, prioritas, atau kronologi.
  3. Tulis hal-hal yang harus diingat atau hal-hal penting pada kolom khusus.



Tulisan ini diikutsertakan dalam Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan Maret yang bertema “Life Hack (Produk atau Metode) yang Mempermudah Hidup”.