Monday, July 26, 2021

Keterampilan Interpersonal

Memiliki tiga anak yang sudah bersekolah membuatku belajar banyak hal mengenai karakter sosial mereka, terutama dalam hal mencari teman. Ada anakku yang cukup mudah berbaur di lingkungan baru. Tak perlu waktu lama, dia akan mulai nimbrung di obrolan. Tak heran beberapa kali aku menemuinya sedang berbincang asyik dengan orang yang baru ditemuinya, seperti tukang parkir, tukang yang datang ke rumah, penjual pinggir jalan, dll. Kami dengan mudah melepasnya bergaul dengan lingkungan baru tanpa khawatir—seperti acara-acara liburan yang banyak diadakan berbagai event organizer—karena biasanya dia supel membawa diri.

Kebetulan dia ini cukup talkative. Dia tidak sungkan bertanya jika ada hal yang tidak dimengerti. Bahkan kalau dia sudah mulai tune in dengan lingkungan atau forumnya, dia akan melempar celetuk atau respon dengan aktif. Dia cukup populer di kalangan teman-temannya dan beberapa kali terpilih menjadi Ketua Murid atau pengurus angkatan.

Berbeda halnya dengan dua anakku yang lain. Mereka tidak terlalu ekspresif seperti kakaknya. Ketika berkenalan dengan orang baru, mereka cenderung “lambat panas” dan lebih senang mengamati pada awalnya. Mereka juga agak picky dalam memilih teman. Biasanya mereka hanya mau bermain dengan teman-teman yang “klik” saja. Salah satu dari mereka jarang mau terlibat jika ada kegiatan-kegiatan dan lebih memilih lingkungan yang nyaman buat dia. Namun, anak yang lain cukup partisipatif dalam berbagai kegiatan. Aku dan suami selalu memotivasi mereka untuk mengikuti beraneka aktivitas supaya mereka bisa berkenalan dengan orang dan lingkungan baru, meskipun kadang salah satu dari mereka tampaknya tidak cukup tertarik. Yah, kami sebagai orang tua tidak bisa memaksa.

Tulisan ini tidak bermaksud membandingkan anak satu dengan yang lainnya. Justru karena memiliki anak dengan karakter berbeda-beda, sebagai orang tua kami harus terus belajar bagaimana menyikapi karakter mereka dengan tepat. Tentunya ini bukan hal yang mudah di masa pandemi ini, kala karakter yang berbeda-beda berkumpul dalam satu atap hampir dua puluh empat jam. Anak kami yang cenderung suka berteman dan bertualang tentu bosan ketika dia hanya bisa bertemu dengan saudara-saudaranya saja. Sementara anak kami yang lain ada juga yang merasa baik-baik saja dengan keberadaannya di rumah terus-menerus. Dia sudah cukup asyik mojok dengan buku, gawai, atau game.

Keterampilan berbaur dengan teman dan menyesuaikan diri dengan lingkungan adalah salah satu softskill yang berada pada tataran aspek interpersonal. Bagaimanapun juga, kemampuan ini sangat diperlukan oleh anak—baik ketika mereka masih kanak-kanak maupun ketika mereka sudah dewasa—untuk membangun komunikasi dan kerja sama dengan orang lain. Mudah-mudahan anak-anak dapat memperkuat aspek ini dengan karakter dan pembawaan mereka masing-masing supaya kelak mereka bisa survive menghadapi dunia luar.

Monday, July 19, 2021

Pendidikan Anak

Bicara soal pendidikan anak adalah sesuatu yang sulit buatku karena aku tahu sistem yang berjalan di keluarga kecilku tidak ideal. Di rumah kami masih ada TV dan gawai—yang kadang-kadang masih menimbulkan kesulitan dalam pengaturannya. Kesibukan kami bekerja membuat kami terbatas membersamai anak-anak dan membimbing mereka. Kami juga masih susah mengontrol kesabaran dan masih sering marah-marah. Meskipun demikian, aku dan suami selalu berusaha memilihkan pendidikan yang terbaik untuk anak-anak. Kriteria terbaik tentunya berbeda-beda bagi tiap keluarga. Apa yang baik buat suatu keluarga belum tentu baik pula untuk keluarga lain, maka pendidikan yang kami pilihkan untuk anak-anak disesuaikan dengan visi dan misi keluarga kami.

Ada banyak metode yang dijalankan oleh para orang tua saat ini. Melihat keberhasilan dan kesuksesan teman-teman kami yang menjalankan homeschooling (HS) untuk anak-anak mereka, pernah terbersit keinginan untuk menjalankan metode serupa. Namun, keterbatasan kami sebagai orang tua yang bekerja tentu membutuhkan usaha yang luar biasa untuk memastikan sistem HS berjalan dengan baik. Jadi, setelah berpikir ulang, tampaknya kami tidak akan sanggup.

Sebagai orang-orang yang dibesarkan dengan sistem pendidikan sekolah negeri mulai dari TK hingga perguruan tinggi, kami merasa ada yang kurang dalam hal pendidikan agama. Bukan berarti sekolah negeri tidak baik, hanya saja kurang pas dalam memenuhi visi dan misi keluarga kami. Oleh karena itu, sejak anak-anak PG hingga SMP, mereka kami sekolahkan di institusi pendidikan yang memiliki titik tekan pada islamic character building dan leadership sebagai salah satu tujuan pembelajaran. Aspek kognitif bisa dikejar karena alhamdulillah kemampuan akademik mereka bisa dibilang bagus, tetapi pembentukan karakter akan susah dikejar jika tidak ditanamkan sejak dini. Harapan kami, jika nilai-nilai sebagai seorang muslim ini tertanam sebagai pondasi yang kuat, ke depannya mereka akan lebih tangguh memegang nilai-nilai agama dalam keseharian.

Selain ikhtiar memilihkan pendidikan yang menurut kami terbaik buat mereka, tak lupa kami juga menitipkan anak-anak kepada Sang Empunya. Allah-lah sebaik-baik penjaga dan pelindung yang akan membimbing mereka untuk tetap lurus di jalan-Nya. Kami tahu sebagai orang tua kami tidak bisa mendampingi anak-anak 24/7. Oleh karena itu, jika anak-anak paham dan sadar bahwa Allah Maha Melihat, mudah-mudahan mereka tidak terombang-ambing oleh dunia dan tetap berpegang teguh pada orientasi akhirat.

Memilihkan mereka sekolah yang terbaik adalah satu hal; bekerja sama dengan sekolah untuk keberhasilan belajar adalah hal lain. Keduanya harus berjalan seimbang karena kita tidak bisa melepas tanggung jawab dan membebankan proses pendidikan hanya kepada sekolah. Sekolah adalah mitra kami dalam mendidik anak-anak, maka kami berusaha untuk tidak bawel dan percaya pada sistem yang mereka miliki. Kepercayaan ini penting supaya kerja sama yang terbangun antara sekolah dan orang tua berjalan baik. Tak bisa dipungkiri selama tahun-tahun mereka bersekolah pasti ada saja masalah yang terjadi. Jika kerja sama tidak berjalan baik—misalnya ada ketidakpercayaan orang tua pada kebijakan yang diambil sekolah—proses mendidik anak juga tentu tidak akan berjalan mulus.

Pada akhirnya, pendidikan anak adalah proses untuk menjadikan mereka siap menjadi pribadi yang mandiri dan tangguh saat berpisah dengan kita, baik karena mereka keluar rumah (misalnya karena menikah, kuliah, merantau) atau karena kematian kita.

وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًا خَافُوا عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا اللَّهَ وَلْيَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا

"Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar." (Q.S. An-Nisa': 9)

Hari Arafah

Hari Arafah adalah hari kesembilan dalam bulan Dzulhijjah, hari yang bertepatan dengan dilakukannya wukuf oleh umat muslim yang menunaikan haji. Tahun ini Hari Arafah jatuh pada Senin, 19 Juli 2021. Wukuf sendiri adalah salah satu rangkaian ibadah haji yang paling pokok yang dilakukan dengan cara berdiam di Arafah mulai tenggelamnya matahari pada 9 Dzulhijjah hingga terbitnya fajar di tanggal 10 Dzulhijjah. Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya oleh sekelompok orang dari Nejed tentang haji, maka beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,

الْحَجُّ عَرَفَةُ

“Haji itu adalah Arafah.” (H.R. at-Tirmidzi no. 889, an-Nasâ’i no. 3016 dan Ibnu Mâjah no. 3015, dihukumi shahih oleh al-Albâni)

Hari Arafah merupakan salah satu hari dalam sepuluh hari pertama di bulan Dzulhijjah yang memiliki banyak keutamaan. Oleh karena itu kita disunnahkan memperbanyak amal salih di sepuluh hari pertama ini, dan hari Arafah termasuk di dalamnya. “Tidak ada amalan yang lebih baik di sisi Allah dan lebih besar pahalanya dibanding amal salih yang dilakukan di 10 hari pertama di bulan Dzulhijjah.” (H.R. Baihaqi, lihat Fathul Baari 3/390 dan Shahih Targhib 2/15)

Beberapa amalan yang dianjurkan dilakukan pada Hari Arafah adalah berdoa, berdzikir, dan berpuasa. Dari ‘Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

خَيْرُ الدُّعَاءِ دُعَاءُ يَوْمِ عَرَفَةَ وَخَيْرُ مَا قُلْتُ أَنَا وَالنَّبِيُّونَ مِنْ قَبْلِى لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ

“Sebaik-baik doa adalah doa pada hari Arafah. Dan sebaik-baik yang kuucapkan, begitu pula diucapkan oleh para Nabi sebelumku adalah ucapan ‘La ilaha illallah wahdahu la syarika lah, lahul mulku walahul hamdu wahuwa ‘ala kulli syaiin qadir’ (Tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya segala kerajaan, segala pujian dan Allah yang menguasai segala sesuatu).” (H.R. Tirmidzi no. 3585; Ahmad, 2:210)

Sementara puasa pada Hari Arafah memiliki keutamaan yang besar. Puasa sehari ini menghapuskan dosa dua tahun, sebagaimana dijelaskan dalam hadits Abu Qatadah Radhiyallahu anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِى بَعْدَهُ

“Puasa Hari Arafah aku harapkan dari Allah bisa menghapuskan dosa setahun sebelumnya dan setahun setelahnya.” (H.R. Muslim no. 1162).

Semua ibadah yang disebutkan di atas bukan hanya untuk para jamaah haji yang sedang berwukuf di Arafah, melainkan semua umat muslim juga memiliki kesempatan yang sama untuk mendulang pahala dan ampunan dari Allah. Yuk, mari kita jemput keutamaan Hari Arafah.

Personal Best

Juli 2020

Alhamdulillah akhirnya berhasil juga memperbarui catatan waktu pada race kategori 10K. Sekadar informasi, aku pertama kali bisa berlari sejauh 10K pada tahun 2020 ketika pandemi mengguncang negeri dan aku terpaksa mengalihkan latihan lari di jalanan kompleks. Saat pertama kali mulai berlari 10K saat itu, aku memilih zona heart rate nyaman di pace 11. Kemudian aku memberanikan diri mengikuti race 10K bersama @mamahgajahberlari dalam gelaran ITB Ultra Marathon, Desember 2020. Tentunya bukan hal yang mudah karena riwayat HR-ku selalu tinggi dan nafas selalu megap-megap ketika aku menggeber speed.

ITB UM 10K, Desember 2020

Time Trial ITB 101 VR, awal Juli 2021

Latihan demi latihan yang aku lakukan membuatku berhasil mencatatkan waktu 1:26:31 dengan pace 8:38. Kemudian setelah itu aku memutuskan untuk menghentikan latihan MAF karena sudah setahun tidak membawa hasil yang cukup signifikan untuk menurunkan HR. Mulailah aku lebih banyak melakukan variasi speed pada training plan, dan pada Time Trial pertama untuk race 10K pada gelaran ITB 101 Virtual Run, awal Juli 2021, aku sedikit memperbaiki catatan waktu menjadi 1:25:54 dengan pace 8:29.


Time Trial ITB 101 VR, 17 Juli 2021 akhirnya PB

Waktu race yang lumayan longgar karena diperpanjang menjadi enam minggu akibat PPKM membuatku penasaran untuk melakukan remedial. Setelah melalui dua pekan adaptasi dengan suhu Tangerang Selatan yang berbeda jauh dengan Bandung yang adem, alhamdulillah aku berhasil memperbarui catatan waktu pada race kategori 10K, yaitu 1:20:46 dengan pace 7:59. Sebuah pencapaian yang luar biasa untuk ukuranku, mengingat zona HR nyaman untuk easy run masih berkisar di pace 9.

Pesan moral yang ingin kusampaikan: jangan pernah berhenti berusaha dan jangan membandingkan diri dengan pencapaian orang lain. Banyak orang lain yang lebih wow pencapaiannya, aku tahu. Namun bukan di situ poin pentingnya. Sadarilah bahwa masing-masing orang berproses dan Tuhan tahu seperti apa perjuangan kita.

Be good to yourself. Celebrate and appreciate small victories, so you can be ready for greater ones. Never compare them to others. You are one-of-a-kind. Remember where you started. Remember why you started. And celebrate where you are today!

Heart Rate


Bahasan tentang heart rate (HR) memang selalu menarik bagi teman-teman yang suka berlari. Malam minggu kemarin acara Zoom @cah2000playon bersama narasumber @medishita dan moderator @deboradyah adalah tentang resting HR versus exercise HR.

Pada saat kita berolahraga, jantung akan memompa darah ke seluruh tubuh. Semakin rutin berolahraga, HR semakin rendah dan kemampuan jantung untuk memompa akan lebih bagus. Stroke volume adalah jumlah darah yang dipompa oleh jantung dalam satu siklus jantung. Sementara cardiac output adalah jumlah darah yang dipompa oleh jantung per menit. Cardiac output (liter per minute) dihasilkan dari HR (beat per minute) dikalikan stroke volume (liter per beat). Endurance training membantu meningkatkan stroke volume dan menurunkan HR.

Pada saat berolahraga, suhu sangat berpengaruh. Pada saat suhu panas, kita akan mengalami dehidrasi. Akibatnya air di pembuluh darah berkurang sehingga darah yang kembali ke jantung akan berkurang, hal ini menyebabkan stroke volume juga akan berkurang. Kemudian HR akan naik untuk memenuhi oxygen demand.

Rutin berolahraga berfungsi untuk memperpanjang periode kenaikan HR. Kita harus menyeimbangkan kebutuhan oksigen dengan kemampuan nadi. Stroke volume yang tidak bisa mengimbangi oxygen consumption (tidak bisa mengejar) menyebabkan nafas kita menjadi megap-megap saat berolahraga. Sebaiknya intensitas olahraga diturunkan supaya stroke volume dapat mengimbangi oxygen consumption.

Kondisi jantung atlet yang terlatih kadang resting HR-nya terlalu rendah. Ini karena ketebalan otot jantungnya terlalu tebal tetapi kemampuannya untuk menampung volume cairan darah justru mengecil. Kondisi ini disebut hipertrofi dan bisa menyebabkan cardiac arrest, aritmia, dll. Jadi, apapun yang berlebihan itu memang tidak baik.

Pesan dr. Shita: usahakan berolahraga rutin minimal 90 menit dalam seminggu di zona HR latihan supaya kemampuan jantung tetap baik. Olahraga lebih intens daripada itu tidak mengapa, asal kita memiliki waktu recovery yang cukup.

Wednesday, July 14, 2021

Faith


"Untung ada Islam. Nggak gila aja udah syukur," demikian kata seorang guru ketika kehilangan kedua orang tua terkasih hanya dalam kurun waktu seminggu akibat COVID-19.

Pandemi yang luar biasa ini di satu sisi memang sangat menyesakkan. Banyak orang ditinggal wafat orang tercintanya; banyak orang memendam rindu karena bepergian dan silaturahmi menjadi sesuatu yang membawa risiko. Belum lagi jika kita bicara soal keterpurukan ekonomi, makin banyaknya pengangguran, naiknya angka kemiskinan, banyak orang yang menjadi susah untuk memenuhi kebutuhan hidupnya … ah, begitu banyak kesedihan dan kesengsaraan.

Pandemi juga memperlihatkan wajah asli orang-orang. Ada yang peduli sesama, ada yang abai terhadap diri sendiri maupun orang lain, ada yang tamak dan serakah menimbun keuntungan, juga ada yang raja tega memanfaatkan situasi dan melakukan penipuan demi cuan.

Pandemi memberi kesadaran bahwa kita mungkin terlampau cinta pada dunia dan takut mati. Sudah siapkah jika suatu saat kita atau orang terdekat kita dipanggil pulang oleh-Nya? Sudah siapkah kita dengan bekal amal saleh dan amal jariah? Apa yang sudah kita wariskan untuk anak-anak? Sudah cukupkah tarbiyah yang kita lakukan untuk menjadikan mereka pribadi yang siap mandiri, yang ketika berpisah dari kita pun tetap saleh dan salehah?

Kita beruntung karena ada Islam, karena kita punya Allah sebagai tempat bersandar sehingga kita tidak gila dan tertekan memikirkan dunia ini. Hasbunallah wa ni’mal wakiil, "cukuplah Allah (menjadi penolong) bagi kami dan Dia sebaik-baik pelindung." (Q.S. Ali Imran: 173)

Meskipun menyesakkan, Islam mengajarkan bahwa everything happens for a reason. Entah apapun itu, pandemi ini pasti tidak sia-sia karena Allah punya maksud dan tujuan tertentu dengan kehendak-Nya. "... (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), 'Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka.'" (Q.S. Ali Imran: 191)

Kita sebagai hamba bisa apa dengan kehendak Allah? Mengingat lagi tentang bahasan free will, qadha, dan qadar: kita hanya bisa menerima kehendak Allah, mensyukuri semua yang ditentukan oleh-Nya, serta fokus pada pilihan-pilihan yang kita buat, apakah berpahala atau tidak. Terhadap takdir Allah kita berserah, tetapi terhadap area yang bisa kita ikhtiarkan … kita melakukan usaha terbaik yang mendatangkan keridaan-Nya. Memang berat untuk dipahami dan dilakukan, tetapi inilah amunisi yang kita miliki sebagai seorang muslim. Ketika mendapat kebahagiaan kita bersyukur, ketika mendapat kesedihan kita bersabar.

Keyakinan kepada Allah, inilah satu-satunya yang kita punya. "... boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." (Q.S. Al-Baqarah: 216)

Sunday, July 11, 2021

Tempat Main Murah Meriah

Tahun 2013 ketika anak sulung masih berusia lima tahun

Sejak anak-anakku kecil, selalu ada tempat main murah meriah yang mereka sukai dan saban minggu kami datangi: bandara dan stasiun kereta api. Dulu ketika nonpenumpang masih gampang masuk ke peron, hampir tiap pekan kami pergi ke stasiun karena mereka suka sekali melihat kereta api. Mereka betah menghabiskan waktu berjam-jam untuk memandangi kereta yang lalu-lalang, sambil sesekali bertanya mengenai hal-hal yang tidak mereka pahami. Namun, ketika peron sudah diperuntukkan bagi penumpang yang memiliki karcis saja, kami sudah jarang main ke stasiun lagi. Mengintip-intip kereta api di sela-sela pagar—karena tidak bisa masuk ke peron—lama-lama terasa tidak mengasyikkan bagi anak-anak.



Lain halnya dengan bandara. Sejak dulu hingga sekarang—yah, paling tidak hingga kami pindah dari Bandung—nongkrong di pinggir TPU Sirnaraga yang berbatasan dengan runway menjadi menu biasa setiap akhir pekan. Ada spot menarik di situ, tempat kita bisa dengan leluasa menikmati pemandangan pesawat landing dan take-off. Dulu bentuknya berupa bangunan lawas yang bisa dinaiki bagian atapnya. Bangunan yang sudah terbengkalai itu ramai orang kala weekend. Pada suatu ketika bangunan tersebut dirobohkan, tetapi hal itu tidak menyurutkan antusiasme orang untuk melihat pesawat di spot yang sama.

Sebelum pandemi melanda dunia, tempat di ujung runway ini merupakan objek wisata murah meriah bagi masyarakat kelas menengah ke bawah. Murah karena tanpa tiket masuk (paling banter cuma bayar parkir), meriah karena menyenangkan buat anak dan bisa dijadikan ajang menambah pengetahuan jika kita pintar-pintar menyelipkan info sains tentang pesawat terbang. Di sekeliling lahan kosong yang dijadikan tempat parkir kendaraan, orang juga ramai menggelar dagangan makanan dan mainan. Suasananya mirip dengan Gasibu kala hari Minggu pagi: ada gerobak-gerobak makanan, ada meja dan kursi sederhana untuk makan di tempat, ada komidi putar, ada penjaja mainan, dsb.

Ketika anak-anak sudah mulai besar, mereka tak lagi sekadar menikmati pesawat landing dan take-off belaka. Aktivitas plane spotting yang mereka lakukan semakin mengasyikkan. Mereka mulai berdiskusi mengenai mekanisme mesin pesawat terbang sembari memasang mata pada aplikasi pelacak pesawat yang terpampang di layar smartphone. Kadang-kadang mereka membawa teropong untuk mengawasi pesawat yang mulai mendekat. Kemudian ketika mereka mulai terbiasa mengunggah video di Youtube, mereka juga asyik mengambil gambar lewat kamera ponsel.

Tempat main anak memang tak harus mahal. Keingintahuan anak yang selaras dengan minat mereka bisa diwujudkan melalui hal-hal sederhana, tinggal orang tua yang pintar-pintar menangkap minat anak dan memfasilitasinya. Aktivitas mengunjungi stasiun dan bandara juga kami lengkapi dengan membeli buku-buku yang menunjang pengetahuan seputar moda transportasi dan mengizinkan mereka untuk melihat tayangan terkait di Youtube. Mudah-mudahan hal ini akan dikenang sebagai dunia main yang menyenangkan ketika mereka dewasa kelak.

Rumah


Apa makna rumah bagimu? Dalam bahasa Inggris, kata house dan home sama-sama bermakna rumah. House memiliki arti rumah dalam bentuk fisik (building) yang dibangun dari berbagai material dan mewujud dalam dimensi kebendaan. Sementara home lebih jauh dari itu, melibatkan perasaan … eh, kok jadi mengutip quote Pidi Baiq 😂

Memang benar home melibatkan perasaan dalam pemaknaannya. Barangkali dalam perasaan itu ada kehangatan, kebersamaan, keakraban, cinta, kasih sayang, you name it. Tidak semua house bermakna home bagi penghuninya. Demikian pula tidak semua home harus berupa sebuah house. Home is where your heart is. Kalau kata suamiku, home adalah di mana istri dan anak-anaknya berada. Aseeeek 🤣

Balik lagi ke pertanyaan awal: sejatinya apa, sih makna rumah itu? Let’s check this out.

"Dan Allah menjadikan rumah-rumah bagimu sebagai tempat tinggal (tempat ketenangan) dan Dia menjadikan bagimu rumah-rumah (kemah-kemah) dari kulit hewan ternak yang kamu merasa ringan (membawa)nya pada waktu kamu bepergian dan pada waktu kamu bermukim dan (dijadikan-Nya pula) dari bulu domba, bulu unta, dan bulu kambing, alat-alat rumah tangga dan kesenangan sampai waktu (tertentu)." (Q.S. An-Nahl: 80)

Sebagai hamba Allah tentunya kita harus kembali pada definisi Allah dalam memandang segala sesuatu. Dalam tafsir ayat di atas, Allah mengatakan bahwa rumah adalah tempat tinggal yang memberi kita ketenangan dari berbagai gangguan lahir dan batin. Allah juga menjadikan rumah dalam bentuk kemah-kemah yang ringan dan mudah dibawa pada waktu bepergian dan untuk digunakan saat bermukim di tempat tertentu.

Dalam banyak ayat Al Quran, rumah memiliki beberapa makna:
  1. Sebagai tempat ibadah untuk meraih keridaan Allah.

  2. Sebagai madrasah tempat tarbiyah (edukasi dan pembinaan) dalam mendidik pasangan dan anak-anak.

  3. Sebagai benteng untuk menjaga iman keluarga.

  4. Sebagai sumber ketenangan dan tempat istirahat melepas lelah.

  5. Sebagai tempat silaturahim.

"Empat hal yang membawa kebahagiaan, yaitu perempuan salehah, rumah yang luas, tetangga yang baik, dan kendaraan yang enak." (H.R. Ibnu Hibban).

Sejak berkeluarga hingga saat ini aku telah berpindah-pindah di empat rumah, salah satunya adalah rumah kontrakan. Entah karena diriku ini seorang melankolis atau bagaimana, selalu ada perasaan sedih dan haru kala harus meninggalkan rumah lama untuk berpindah ke rumah baru. Memori bertahun-tahun berkelebat dalam benak semata-mata karena terlampau banyak kenangan yang melibatkan perasaan, tertinggal di sana. Rumah-rumah itu bukan hanya bangunan fisik buatku, lebih jauh dari itu: mereka adalah home yang menjadi saksi keluargaku mencinta dan bertumbuh. Rumah-rumah itu … adalah juga keluarga bagiku 🥺

Oleh karena itu, hatiku tercabik kala mengingat rumah lamaku kini hanya berteman sepi dan debu. Tak ada tawa, tak ada cahaya, tak ada kehidupan di dalamnya 😭

Kembali ke Q.S. An-Nahl: 80, Allah menjadikan rumah sebagai tempat kesenangan sampai waktu tertentu. Mengapa demikian? Tentu saja karena dunia ini fana. Pada hakikatnya semua kepemilikan kita di dunia ini hanya sementara. Ayat ini menjadi pelipur lara bagiku karena menyadarkan bahwa kampung akhirat adalah rumah yang sebenar-benarnya, tempat kita semua akan kembali.

"Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?" (Q.S. Al-An’am: 32)

Friday, July 09, 2021

Sandyakala


Selalu ada aura magis yang menyelimuti bumi ketika semburat merah senja menghiasi nabastala. Bayu yang mengalir semilir begitu membuai rasa sehingga banyak insan sering terpantik inspirasinya kala senja tiba.

Tak terkecuali aku. Sejak dulu aku telah jatuh cinta pada senja karena kemolekannya. Kini ketika aku gemar berlari, aku sangat menikmati menjadi pelari senja sebab padanya aku menemukan damai. Berkawan sepoinya angin, aku mengurai rindu. Bersama temaramnya sinar surya yang kembali ke peraduan, hatiku menunduk khusyuk dalam syahdu.

Gurat merah di langit senja memiliki banyak makna. Bagi sebagian orang, filosofinya diartikan sebagai keindahan yang tak perlu disuarakan. Cantik sebagaimana mestinya meski hadir dalam senyap. Bagi sebagian orang yang lain, persepsi keelokan itu dibangun sebagai bentuk akhir yang menawan. Jadi jika mau berpikir positif, apapun yang kita lalui hari itu memiliki muara rasa yang indah dalam perwujudannya sehingga rasa syukurlah yang kita langitkan kala menutup hari.

Senja disebutkan dalam banyak ayat Al Quran, menandakan jika ia istimewa. Dalam penciptaan langit dan bumi terdapat tanda-tanda kekuasaan dan kebesaran Allah bagi orang yang mau berpikir.

"Maka sesungguhnya Aku bersumpah dengan cahaya merah di waktu senja," (Q.S. Al Insyiqaq: 16)

"Dan bertasbihlah kepada-Nya diwaktu pagi dan petang." (Q.S. Al-Ahzaab: 42)

"Dan sebutlah nama Tuhanmu pada (waktu) pagi dan petang." (Q.S. Al-Insaan: 25)

"Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai." (Q.S. Al-A’raaf: 205)

Selamat mencinta senja, Kawan. Padanya akan kautemukan bahagia.

Monday, July 05, 2021

Kehadiran Anak di Tengah Keluarga


Pernah atau tidak mendapat pertanyaan “Sudah isi apa belum?” beberapa waktu setelah menikah? Terkadang pertanyaan kepo semacam ini dianggap agak julid bagi sebagian orang. Mungkin maksudnya baik karena diniatkan untuk peduli, tetapi sebenarnya pertanyaan ini tidak perlu dilontarkan karena dapat menyinggung perasaan orang yang ditanya. Terutama kalau yang bersangkutan memang belum dikaruniai buah hati setelah beberapa waktu lamanya.

Aku sendiri tentu pernah mendapat pertanyaan serupa. Tujuh bulan pertama dalam pernikahan aku tak kunjung hamil. Memang hanya tujuh bulan, tetapi durasi itu cukup membuatku bosan mendengar pertanyaan seperti itu. Bahkan ada juga yang usil berkomentar apakah kami sengaja menunda memiliki anak. Huft, kadang orang memang berkomentar seenaknya.

Anak pertamaku lahir di Bandung, disusul adiknya tiga tahun kemudian. Tentu di sela-sela waktu itu pernah juga terlontar pertanyaan “Kapan punya adik?”, hehehe. Bahkan setelah anak keduaku lahir, komentar orang tak juga berhenti. Karena kedua anakku laki-laki, komentar berikutnya adalah “Ayo dong satu lagi, kan belum punya anak perempuan.” Aku tentu hanya bisa menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal.

Kebetulan kehamilanku yang ketiga dan keempat tidak berjalan mulus. Kehamilan ketiga berakhir di usia kandungan delapan minggu karena janin tidak berkembang. Kisah kehamilan keempat juga ternyata harus berakhir di usia kandungan empat bulan karena kontraksi dan KPD (Ketuban Pecah Dini). Bayiku lahir dalam kondisi meninggal karena masih terlalu kecil dan tidak dapat bertahan. Anak ketigaku ini juga laki-laki, maka keinginan untuk memiliki anak perempuan sempat pupus karena aku mengalami trauma dan memutuskan untuk tidak akan hamil lagi. Apalagi ada yang berkomentar miring tentang kepergian anakku. Tanpa komentar miring pun aku sudah menyalahkan diri sendiri, apalagi ada celetukan-celetukan yang tak perlu seperti itu.

Qadarullah enam bulan setelah kepergian anak ketiga, aku kembali hamil. Dokter mengatakan janinku berjenis kelamin perempuan. Memang betul Allah Maha Menghibur, diganti-Nya bayiku yang tiada dengan anak perempuan yang kuimpikan. Maka minggu demi minggu kehamilan kujalani dengan sukacita dan antusias. Apakah lantas tidak ada komentar orang? Tentu saja ada. Beberapa komentar iseng yang terlontar seperti “Subur amat … hamil lagi, hamil lagi.” Hmmm, belum hamil salah, sering hamil pun salah.

Ketika aku hamil anak kelima, aku sempat berusaha menyembunyikan kabar kehamilan karena malas mendengar komentar orang. Namun, kehamilan tentu tak bisa disembunyikan lama-lama, terutama ketika perut sudah membuncit, hahaha. Komentar yang paling menyebalkan ketika orang tahu bahwa aku sedang hamil anak kelima adalah “Masa sih anak kelima? Yang ‘ada’ maksudnya.” Hmmm, belum pernah di-tampol rupanya.

Terlepas dari komentar usil orang yang sering mampir ke telinga kita, bagiku kehadiran anak dalam keluarga sangat memberi berkah. Anak-anak adalah guru yang sesungguhnya untuk kita belajar ilmu kehidupan. Lewat kehadiran mereka, kita belajar mengimplementasikan hal-hal yang tidak kita dapat di bangku sekolah. Sepayah apapun kualitas kita sebagai orang tua, anak-anak selalu memiliki pintu maaf seluas samudra. Bagi mereka kita adalah orang tua yang paling keren dan paling dicinta. Masyaallah. Tidak ada unconditional love sesuci dan semurni ini.

Sebagai orang tua bekerja yang memiliki banyak anak, aku tak bisa berkata kalau aku tidak repot. Namun, aku yakin kerepotan ini hanya sementara. Hikmah, keceriaan, dan kebahagiaan yang didapat jauh lebih besar daripada kerepotan itu sendiri. Ada saat di mana aku meledak karena ketidaksabaran, tetapi lebih sering aku bergelung dalam syukur yang tak bertepi karena kehadiran anak-anak. Sungguh aku tak bisa membayangkan apa jadinya hidupku tanpa mereka. Mudah-mudahan merekalah saranaku meraih surga.

 رَبَّنا هَبْ لَنا مِنْ أَزْواجِنا وَذُرِّيَّاتِنا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنا لِلْمُتَّقِينَ إِماماً  

“Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (Q.S. Al-Furqan [25]: 74)

Tentang Lari



Have you ever been running for the sake of running itself?

Perjalananku menyukai olahraga lari dimulai sekira tahun 2015. Awalnya hanya untuk menantang diri sendiri, alias menjajal kemampuan diri. Bertahun-tahun aku memang tidak pernah menyukai lari. Aku masih ingat, sejak masa sekolah dulu, tiap kali guru olahraga menyuruh berlari maka aku akan berkeluh kesah panjang pendek. Biasanya aku termasuk siswa yang tiba paling akhir, dan tentunya lebih banyak berjalan dibanding berlari.

Pada 2015 itu aku bertanya tentang kiat bagaimana mulai berlari pada beberapa teman yang kulihat sudah biasa berlari. Pada awalnya aku cukup skeptis karena selama ini aku selalu megap-megap tiap berlari. Dari yang awalnya cuma kuat 2K, lama kelamaan meningkat menjadi 3K, lalu 5K. Kemudian aku hamil anak ke-4 dan berhentilah semua aktivitas lari 😂

Beberapa waktu pascapersalinan aku kembali mulai berlari. Kukira aku akan mulai dari nol, tetapi level kebugaranku ternyata tidak terlalu menurun—memang sebelumnya aku sudah rutin melakukan senam aerobik dan yoga—jadi aku tinggal “memanaskan mesin” sedikit hingga akhirnya aku biasa menempuh 5K setiap kali berlari. Tiga tahun setelah itu aku kembali hamil anak ke-5 dan aktivitas lari kembali berhenti.

Pascapersalinan I came back stronger. Jarak mulai bisa diperjauh menjadi 7K. Kemudian ketika aku sedang bersiap meningkatkan jarak menjadi 10K, pandemic hit the world. Latihan lari yang tadinya biasa kulakukan di track lari akhirnya kualihkan ke jalanan kompleks. Hikmah pandemi yang mengharuskanku WFH memungkinkan aku mengatur waktu dengan fleksibel dan aku malah jadi semakin sering berlari.

Tahun 2020 aku berhasil menempuh 10K pertamaku, kemudian ikut serta dalam kemeriahan ITB Ultra Marathon sebagai race pertama untuk jarak 10K. Sebagai slow jogger dengan easy run pace berkisar di angka 9-10 karena riwayat heart rate selalu tinggi, aku lebih berminat meningkatkan performa endurance daripada speed. Maka training plan aku tingkatkan untuk mulai melirik Half Marathon. Tepat sebelum Ramadhan 2021, aku berhasil menyelesaikan Half Marathon mandiri sejauh 21,1K mengelilingi Kota Bandung.

Di era medsos seperti sekarang ini, sangat sulit untuk tidak membandingkan kemampuan diri dengan pencapaian orang lain. Seringkali aku iri melihat performa teman-teman yang jauh lebih keren, misalnya: newbie runner yang bisa berlari lebih kencang dengan HR lebih rendah daripada aku 🤣



Namun, kemudian aku ingat: di yoga aku belajar tentang self acceptance, tentang bagaimana menerima diri seutuhnya tanpa membandingkan dengan orang lain. Yang harus dibandingkan dengan diri kita yang sekarang adalah diri kita yang dulu. Dan kalau melihat ke belakang, tentunya aku sudah berprogres. Dulu HR amanku berada di pace 11, kini pace 9 pun masih bisa aman. Dulu aku cuma bisa berlari 2K, sekarang paling jauh sudah bisa HM.

Kalau dulu aku berprinsip yoga is not a competition, it's all about BEING YOU … maka kini aku juga berprinsip running is not a competition, it's all about BEING YOU. Let’s run for the sake of running itself, bukan karena ingin dianggap bisa atau ingin dianggap keren. Just enjoy every step … karena sesungguhnya ketika berlari, kita sedang berkontemplasi untuk mensyukuri nikmat sehat dan berdialog untuk lebih memahami diri sendiri.

📷: Bersama Tim "Mamah Gajah & The Bandito" siap menyongsong ITB 101 Virtual Run periode 4 Juli - 15 Agustus 2021, masing-masing orang berlari sejauh 10,1K (single run).

Sunday, July 04, 2021

Bandung


Aku memang tidak lahir dan tumbuh besar di Bandung, tetapi aku telah menghabiskan lebih dari separuh usiaku di sini. Ketika aku pertama kali datang ke sini dua puluh satu tahun silam, Kota Kembang ini berhawa sangat dingin—apalagi untuk ukuran seorang bocah asal Solo sepertiku. Malam-malamku sebagai mahasiswa baru cukup sering berkemul tebal, terutama ketika kemudian aku pindah ke bilangan Bandung bagian utara.

Bandung bagian utara … ah, sungguh memesona. Di sini aku mengalami pasang surut dinamika kehidupan kampus, bergulat dengan aktivitas kemahasiswaan, lalu berhasil lulus hidup-hidup dari sana. Aku sempat mengembara sebentar, untuk kemudian kembali dan menetap di sini pascamenikah.

Setelah itu kehidupanku banyak berpusar di Bandung bagian utara. Mulai dari kantor, sekolah anak-anak, rumah sakit, tempat olahraga, tempat belanja … semua kami lakukan di sini. Maka tidak heran kemudian Bandung menjadi bagian penting dari hidupku, yang menyedot semua cintaku seperti aku mencintai kota kelahiran.

Di Bandung pula aku belajar mencintai lari. Di setiap jalan yang kususuri sambil berlari, di situ tertinggal sekeping kenangan. Tak pernah bosan aku mengukur jarak di jalanan Bandung. Di antara lika-likunya terserak memorabilia yang mengukuhkan betapa cantiknya kota ini.

Bandung juga adalah surga makanan. Jajanan di sini sangat bervariasi. Pilihan tempat makan dan nongkrong beragam. Tempat main pun tak terhitung jumlahnya. Tak lupa juga, dengan banyaknya sarana kajian untuk menimba ilmu agama, selalu ada tempat kembali bagi jiwa-jiwa yang penat dengan kehidupan dunia.

Maka bagiku Bandung adalah tempat pulang, tempat yang kupikir dulu bakal menjadi suaka hingga akhir hayat. Dan ketika takdir akhirnya berkata lain, semoga segala ketidaknyamanan ini akan diganjar sebagai pahala taat kepada suami dalam rangka menggapai rida-Nya.

Ke Bandung aku akan kembali.