Monday, June 10, 2024

Menyusuilah dengan Keras Kepala

Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan Juni ini mengambil tema “Perempuan: Tantangan dan Inspirasi”. Sebagai perempuan, tentu kita memiliki banyak sekali tantangan, entah itu cerita tentang kegagalan maupun kisah inspiratif yang bisa memberikan suntikan semangat bagi perempuan lain. Aku sempat berpikir mengenai beberapa hal yang rasanya cukup menjadi tantangan bagiku sebagai perempuan. Namun, gagasan itu belum mengerucut pada suatu ide yang bisa kuelaborasi menjadi sebuah tulisan.

Kemudian tiba-tiba ada satu kalimat pada laman tantangan yang menarik perhatianku: “kompleksitas identitas karena berbagai peran yang harus diambil secara bersamaan”. Sepanjang ingatanku sebagai perempuan dewasa, hal yang cukup menantang adalah juggling di antara banyak peran, terutama sebagai ibu yang bekerja.

Lebih spesifik lagi, salah satu tantangan yang kuhadapi sebagai wanita karir adalah memperjuangkan keberhasilan menyusui, mulai dari periode ASI eksklusif (ASIX) hingga lulus menyusui dua tahun bagi keempat anakku. Mengapa disebut sebagai “perjuangan”? Ya karena memang seberat itu, mengusahakan anak-anak terpenuhi ASI-nya saat aku tak ada di sisi mereka.

Pengalaman Sebagai Ibu Baru

Ketika Hanif, anak pertamaku lahir, aku tidak memiliki cukup ilmu sebagai ibu baru—like we all were. Rasanya aku sudah membekali diri dengan berbagai ilmu mengenai menyusui, tetapi ternyata aku blank juga ketika menemui kendala. Di usia Hanif yang ke-3 bulan, aku terpaksa mengambil keputusan sulit: memberinya tambahan susu formula—di samping ASI tentunya.

Saat itu aku merasa Hanif sudah bertambah besar, minumnya kuat sekali. ASI perah (ASIP) yang selama ini memenuhi kebutuhannya makin terasa kurang saja. Dia makin sering merengek-rengek haus, seperti tidak pernah cukup. Semua usaha sudah kulakukan: minum susu, minum jamu, makan daun katuk, makan sayur dan buah, dsb., tetapi ASIP-ku segitu-gitu saja.

Pada saat kepercayaan diri sedang menurun seperti itu, salah satu orang terdekat memberi komentar negatif, “Payudaramu kecil begitu, nggak mungkin cukup ASI-nya itu. Udah lah, pakai susu formula saja.”

Jadilah aku “tergiring” untuk memberikan susu formula karena tidak mau mengambil risiko Hanif kurang minum. Meskipun hal tersebut bukan sepenuhnya salah beliau, tetap saja kepercayaan diriku ciut ketika dikomentari seperti itu.

Setelah pada akhirnya Hanif minum ASI dan susu formula sebagai tambahan, aku sempat merasa sedih dan gagal menjadi ibu. Aku tidak tahu apakah itu yang kerap disebut sebagai baby blues, yang jelas: ada rasa malu ketika orang lain tahu bahwa ASI-ku hanya sedikit atau kadang tidak keluar saat Hanif berdecap-decap menyedotnya. Alhamdulillah ASI-ku masih ada sehingga Hanif masih bisa minum ASI sampai dua tahun, meskipun disambung dengan susu formula.

Salah seorang mendiang temanku saat itu berkata, “Gagal ASI eksklusif bukan akhir dari segalanya. Gagal ASI eksklusif bukan berarti kita gagal menjadi ibu. Berhasil ASI eksklusif juga belum menjamin kita bisa jadi ibu yang baik. Jalan kita untuk menjadi ibu masih panjang, Yus. Tetap semangat ya!”

Setelah melalui perenungan yang panjang dan perjuangan yang berdarah-darah untuk menerima hal itu, ketika akhirnya Hanif lulus ASI dua tahun, aku menyadari bahwa tidak bisa memberi ASI bukan suatu aib yang harus ditutup-tutupi. Masih banyak hal lain yang bisa dilakukan. Kita bisa memaksimalkan hubungan dan cara mengasuh anak. “Good parenting is more than breastfeeding,” ujar Jan Barger, seorang konsultan laktasi.

Bisa tidaknya memberi ASI bukan patokan apakah seseorang itu ibu yang baik atau buruk. Bisa memberi ASI, tetapi kemudian mengabaikan anak tanpa membimbingnya, jauh lebih buruk. Memang paling bagus bisa memberi ASI dan memberi banyak perhatian ke buah hati. Namun, saat hal itu tidak terjadi, saat ASI tidak bisa keluar dan segala daya telah dilakukan, dunia belum berakhir.

Good Revenge

Saat melahirkan Abi, anak keduaku, pada masa menempuh S2, aku sudah membulatkan tekad untuk bisa lebih baik lagi dalam memberinya ASI. Selain membulatkan niat, aku juga melengkapi ilmu dan “alat tempur” yang diperlukan untuk keberhasilan menyusui.

Enam bulan pertama adalah masa-masa terberat. Poin-poin penting yang kulakukan saat itu:

  • Mind management yang tak henti kulakukan untuk meyakinkan diri sendiri bahwa produksi ASI-ku melimpah, melatih pikiran untuk tidak memikirkan hal-hal yang tak penting, menjauhkan diri dari segala hal yang bisa membuat stres. Intinya adalah berusaha rileks dan yakin bahwa aku mampu memberikan ASIX. Rileks dalam keseharian, rileks saat pumping, dan rileks saat menyusui, sambil tak henti-hentinya berzikir dan melakukan afirmasi.
  • Pumping di mana saja dan kapan saja. Aku pernah sampai berputar-putar mengelilingi kampus untuk mencari tempat pumping yang representatif dan nyaman, setelah menemukan kenyataan bahwa beberapa musala masih dikunci karena hari masih pagi.
  • Konsisten melakukan pumping agar produksi ASI tetap berlimpah, tak peduli harus bangun malam pun dijabanin demi ketersediaan stok ASIP.
  • Melengkapi perbekalan “alat tempur” seperti breastpump (aku masih memakai versi manual waktu itu), cup feeder (aku tidak menggunakan dot untuk memberi ASIP pada bayi), cooling bag, ice gel, serta botol kaca dan breastmilk storage bags untuk menyimpan ASIP.

Hasil perahan pada hari kedelapan pascapersalinan, hampir 180 mL sekali perah

Beberapa teknik pumping yang kulakukan:

  • Pumping ketika Abi menyusu. Jadi misalnya dia menyusu di payudara kiri, aku memompa yang sebelah kanan. Dengan cara ini LDR (let down reflex) mudah didapat dan ASI yang mengucur tidak terbuang sia-sia.
  • Pumping setelah Abi menyusu. Ini dilakukan pada payudara yang habis disusukan. Teknik ini berfungsi untuk menguras atau mengosongkan payudara. Payudara yang sering dikosongkan akan merangsang produksi ASI sehingga produksinya semakin bertambah banyak.
  • Pumping sambil rileks. Terdengar klise memang, tetapi aku agak menghindari pumping dengan tergesa-gesa atau hati kemrungsung. Dengan pumping yang rileks dan tenang, sekali pumping pada satu payudara, aku bisa mendapat hampir 200 mL dengan tiga kali LDR.

Abi sempat mengalami growth spurt yang membuatnya ingin menyusu terus. Hal ini cukup membuat lelah, tetapi alhamdulillah aku sudah membekali diri dengan ilmu sehingga aku tahu pasti bahwa itu bukan karena ASI yang kurang. Jadi aku dapat menghadapinya dengan tenang dan tidak stres. Pengetahuan tentang growth spurt ini penting untuk membuat kita tetap rileks dan selalu yakin bahwa ASI kita cukup.

Satu hal yang paling serius kulakukan demi keberhasilan menyusui: aku membeli freezer khusus untuk ASIP. Freezer enam rak, harga baru hampir 2,5 juta, tetapi aku membeli second di Kaskus dengan harga 1,5 juta saja. Asyiknya lagi, kondisinya masih 90% baru karena baru dipakai sebentar oleh pemilik lamanya. Dengan dua freezer—satu yang baru dan freezer kecil di kulkas lama—usaha untuk menyetok ASIP aku lakukan sejak Abi lahir untuk mengejar stok karena dua minggu berikutnya aku sudah harus mengikuti ujian semester, hehehe.

Kondisi freezer menjelang Abi 4 bulan

Setelah Abi mulai makan pada usia 6 bulan, pumping masih terus dilakukan, tetapi tidak se-hectic sebelumnya. Kuliah juga sudah mulai berkurang sehingga tanpa harus menyetok banyak, aku masih bisa menyusuinya di rumah. Kalau aku tidak salah ingat, stok-ASI-yang-terakhir dipompa ketika Abi berusia 10 bulan dan diberikan ketika usianya 14 bulan.

Aku lupa kapan persisnya Abi mulai minum susu UHT, mungkin ketika usianya sekitar 16 bulan. Waktuku yang lebih banyak di rumah memberi dia kebebasan untuk menyusu kapan saja dia mau. Ketika aku harus kuliah atau menghadap dosen, stok ASI sedikit demi sedikit mulai digantikan dengan susu UHT.

Melanjutkan Keberhasilan Menyusui

Setelah lima tahun berlalu, perjuangan menyusui itu kembali dimulai untuk baby girl Kayla. Perjuangan baru, senjata baru. Sebelum maternity leave berakhir, aku memutuskan untuk membeli breastpump elektrik.

Breastpump elektrik dengan double pump

Breastpump elektrik ini kubeli dari grup garage sale ITB Motherhood. Isapannya cukup kuat dan lumayan powerful untuk double pump, sangat membantu mempersingkat waktu pumping di kantor. Meskipun preloved, kondisinya masih sangat mulus dan harganya pun nyungsep sekali, hanya seperlima dari harga barunya.

Selain breastpump elektrik, “alat tempur” baru yang kubeli adalah silicone breastpump. Sebenarnya aku membeli silicone breastpump ini gara-gara penasaran. Masa sih ditempel gitu aja bisa ngalir? Ternyata memang betul, hahaha.

Silicone breastpump

Jadi, cara kerja silicone breastpump ini menggunakan metode vakum. Dengan stimulus dari salah satu payudara yang diisap oleh bayi atau dipompa dengan breastpump lain, LDR akan mempengaruhi payudara yang divakum sehingga ASI-nya keluar. ASI akan menetes-netes sendiri hingga tak terasa tahu-tahu sudah sekian puluh mililiter. Alhamdulillah, dimudahkan oleh teknologi dan kecanggihan kuasa ilahi.

Ketika pertama kali masuk kerja setelah maternity leave usai, ada sekitar 30 botol di freezer. Perjuangan yang harus dimulai dengan mengumpulkan setetes demi setetes, per usia Kayla 3,5 bulan, menghasilkan stok sekitar 56-60 botol setiap hari.

Menabung ASIP biasanya dilakukan tiap akhir pekan. Aku masih melanjutkan pola untuk rajin pumping, terutama ketika di kantor. Konsisten adalah kuncinya. Tidak peduli berapa pun yang didapat, kalau sudah waktunya pumping ya pumping saja. Mau sedikit mau banyak, pokoknya pumping saja. Mau lagi meeting, mau deadline pekerjaan, yang penting pumping saja (maaf, Pak Bos, hahaha). Yup, menyusuilah dengan keras kepala.

Rekor sepanjang sejarah: mendapat 230 mL sekali pumping, ketika usia Kayla 5 bulan

Pola pumping di kantor yang kulakukan dalam perjalanan menyusui Kayla:

  • Saat usia Kayla di bawah 12 bulan, pumping di kantor bisa kulakukan sampai tiga kali sehari. Biasanya pagi setelah snack pagi, lalu siang setelah makan siang, dan sore sekitar waktu salat asar.
  • Ketika usianya 12-18 bulan, frekuensi pumping menjadi dua kali sehari.
  • Ketika usianya sudah di atas 18 bulan, frekuensi pumping di kantor kadang satu kali, kadang dua kali bergantung pada mood.

Pola pumping di atas juga ditambah dengan pola tetap pumping dua sampai tiga kali di rumah. Biasanya kulakukan di waktu malam atau dini hari saat hormon menyusui sedang deras-derasnya.

Kondisi freezer saat Kayla 3,5 bulan (kiri), 8 bulan (tengah), dan 12 bulan (kanan)

Aku berhenti pumping di kantor ketika Kayla berusia 21 bulan. Selain mulai malas dan jenuh, alasan utamanya adalah karena stok ASIP di freezer sudah penuh sekali. Jika aku masih pumping juga, bisa-bisa Kayla masih minum stok ASIP hingga dua tahun lebih. Alhamdulillah, aku mendapat banyak sekali kemudahan dari-Nya dalam perjuangan menyusui Kayla.

Penutup

Kesimpulan yang dapat kuambil tentang segala proses menyusui ini adalah tentang niat dan komitmen yang kuat, lalu dibarengi dengan ikhtiar yang konsisten. Pemberian ASIX pada Hanif yang cuma 3 bulan dulu—meskipun dia tetap menyusu sampai usia 2 tahun lebih—memberiku amunisi tekad yang membaja untuk dapat sukses dan tuntas menyusui adik-adiknya. Ilmu dan dukungan lingkungan sekitar adalah sesuatu yang juga penting dimiliki agar prosesnya lancar dalam menghadapi ujian dan rintangan.

Breastfeeding mom is legenDAIRY. It's not easy but it's all worth it.

Tuesday, June 04, 2024

Tips Menikmati Perjalanan

Aku termasuk orang yang jarang bepergian. Bisa dibilang aku adalah anak rumahan. Selain itu, jumlah anggota keluarga yang banyak dan anak yang masih kecil-kecil juga membuatku malas bepergian karena merasa riweuh dengan berbagai hal yang harus diurusi. Kali ini aku ingin berbagi mengenai beberapa hal yang membuatku merasa terbantu dalam menikmati perjalanan bersama keluarga.

Menciptakan Kenangan

Salah satu hal yang membekas dalam ingatanku ketika aku kecil dulu adalah betapa seringnya Bapak dan Ibu mengajak aku dan saudara-saudaraku menempuh perjalanan. Biasanya perjalanan itu mengambil waktu ketika masa liburan karena di luar itu Bapak dan Ibu bekerja. Waktu libur mereka sebagai guru dan dosen lumayan sinkron dengan waktu liburan sekolah kami.

Jika destinasinya tidak terlalu jauh—hanya seputaran Solo dan Jawa Tengah—perjalanan ditempuh dengan mobil kami, Honda Civic krem keluaran tahun 90-an. Bapak duduk di belakang kemudi, di sampingnya kakak sulungku, lalu Ibu, aku, dan adikku di barisan belakang. Dengan mobil Honda Civic kami pernah menjelajahi jalur selatan menuju Bandung ketika mengantarkan kakak sulung pergi kuliah. Mobil second-hand yang dibeli Bapak itu sempat mogok di tanjakan Nagrek, membuat kami sekeluarga harus bermalam di bengkel setempat.

Jika destinasi bepergian berada di luar provinsi, kadang kami memilih moda transportasi kereta atau pesawat—meskipun yang terakhir ini bisa dibilang jarang sekali—misalnya ketika kami jalan-jalan ke Jakarta untuk menjemput Bapak dari Kanada.

Berbagai kisah perjalanan keluarga mengiringiku tumbuh dewasa sebagai kenangan yang mengasyikkan sehingga aku akhirnya memutuskan bahwa kelak kalau aku berkeluarga, kami harus membuat pos pengeluaran untuk jalan-jalan. Meskipun ribet, aku menyadari bahwa momen perjalanan bersama keluarga ini akan menjadi kenangan yang menyenangkan bagi anak-anakku sebagaimana kenangan-kenangan indahku bersama Bapak, Ibu, dan saudara-saudaraku.

Menciptakan Momen Kesadaran

Perjalanan sering memberi kita jenak-jenak untuk perenungan, hal yang acapkali terlewat ketika kita berkejaran dengan rutinitas harian. Perjalanan juga sering memberi kita kesempatan untuk berdialog dengan diri kita sendiri, memberi kita waktu untuk mengenali diri sendiri lewat sodoran pengalaman baru di tempat asing yang belum pernah kita kunjungi. Seperti dulu waktu pertama kali bepergian dengan satu balita dan satu batita untuk menyusul suami ke Batam, dari yang awalnya ragu dan takut, menjadi tahu bahwa diri ini ternyata mampu mengatasi situasi dan kondisi.

Atau ketika pergi jauh ke Italia dengan semua anggota keluarga—termasuk infant 12 bulan yang belum pernah bepergian jauh melebihi Bandung-Solo—yang memaksaku mendobrak banyak kekhawatiran dan kenyamanan, ternyata bisa juga survive. Meskipun saat itu tentu kehadiran suami turut memberi andil. Bersamanya aku merasa mampu menaklukkan dunia karena kehadirannya sangat memberi rasa aman dan nyaman—terutama karena dia yang memegang uang, hahaha.

Dalam sebuah buku antologi fiksi bertema perjalanan, aku pernah menulis: “Traveling is not about the destination, it’s about the journey itself. Traveling is not just about finding new things, it’s also about finding your true self.” Semata-mata karena demikianlah yang aku alami: mendewasa bersama perjalanan.

Menciptakan Pembelajaran

Aku dan suami senantiasa menjadwalkan agenda jalan-jalan karena banyak pembelajaran yang dapat diberikan kepada anak-anak. Perjalanan membukakan mereka jendela dunia, memberikan mereka kemampuan untuk beradaptasi, memberi mereka kesempatan untuk mengenal hal-hal baru mulai dari makanan, bangunan, moda transportasi, hingga interaksi dengan orang.

Beberapa perjalanan liburan juga memberikan pengalaman berharga untuk anak-anak ketika mereka mencoba beberapa hal untuk pertama kalinya, seperti ketika kami naik perahu mengelilingi beberapa pulau di Lombok dan Belitung lalu menjajal snorkeling. Mereka belajar untuk mengatasi rasa takut dan belajar menguasai keterampilan baru.

Menyusun Rencana Perjalanan

Sebagai orang yang well-planned dan well-prepared, aku suka sekali menyusun rencana perjalanan dengan detail. Hal itu memberi excitement tersendiri bahkan jauh sebelum perjalanannya dimulai. Aku sangat menikmati aktivitas googling tempat-tempat yang ingin dikunjungi, membaca sejarah tentang tempat-tempat itu, lalu melihat peta dan menyusun rutenya.

Menyusun rencana perjalanan membuatku tahu harus ke mana dan melakukan apa saja ketika tiba di tempat tujuan sehingga waktu perjalanan menjadi lebih efisien dan efektif. Dengan mengetahui banyak informasi mengenai tempat tujuan, aku juga bisa bercerita banyak kepada anak-anak tentang hal-hal yang mereka lihat, misalnya informasi mengenai bangunan bersejarah atau makanan setempat.