Toshie tengah merapikan tumpukan baju di lemari ketika dia merasakan tanah bergetar kencang. Awalnya gerakannya vertikal, memelan sebentar, lalu berguncang makin keras ke segala arah.
Toshie berseru memanggil Shinichi, suaminya, yang sedang membaca buku di sofa. Mereka saling berpandangan, lalu berlari keluar dan melihat sebagian tanah mulai merekah. Mobil-mobil yang terparkir turut bergoyang kencang. Mereka berpelukan. Itu enam menit terlama dalam hidup mereka.
Ketika guncangan akhirnya mereda, dia teringat putrinya di Sendai. Mereka masuk kembali ke dalam rumah dan berusaha menghubungi kerabat. Saat itulah mereka mendengar radio menyiarkan peringatan tsunami akibat gempa bermagnitudo sembilan barusan.
Toshie memegang tangan suaminya. “Aku harus ke rumah sakit.”
Shinichi membelalak. “Tapi ini hari liburmu. Kamu bebas shift, bukan?”
Toshie mengangguk. “Mereka sudah seperti saudara bagiku, Sayang. Kamu tahu aku harus membantu mereka dalam keadaan darurat seperti ini.”
Shinichi memeluknya lama. Dia mengerti tanggung jawab istrinya sebagai perawat di rumah sakit itu tak mungkin bisa membuat dia meninggalkan kolega dan pasien tanpa berbuat apa-apa. Ketika akhirnya dia melepaskan pelukan, dia berkata, “Aku tahu. Berjanjilah untuk tetap selamat. Aku juga akan pergi memeriksa pabrik sebentar.”
Setelah berpisah dengan suaminya, Toshie berjalan menuju rumah sakit. Letaknya tak jauh, hanya berselang satu bukit di belakang rumah mereka. Jalanan mulai macet karena terhalang reruntuhan tanah yang tadi berjatuhan dari bukit.
Ketika dia memasuki rumah sakit, lantai satu tampak lengang. Jam operasional poliklinik telah usai dan dia tahu teman-temannya tengah berada di lantai atas. Mitigasi bencana di Ogatsu selama ini telah mempertimbangkan tsunami dalam daftar risiko. Itulah sebabnya ruang rawat inap diletakkan di lantai tiga, lantai teratas rumah sakit, yang tingginya lebih dari enam meter.
Di sana Toshie melihat direktur keperawatan memerintahkan para karyawan rumah sakit untuk mengevakuasi para pasien ke atap. Namun, itu bukan pekerjaan yang mudah karena sebagian besar dari empat puluh pasien rawat inap adalah para lansia yang mengalami kesulitan untuk berjalan.
Empat karyawan laki-laki mulai mengevakuasi pasien satu demi satu dengan cara mengangkat sudut sprei sebagai tandu untuk membawa pasien. Toshie tengah menyiapkan pasien untuk dievakuasi ketika dia melirik jendela besar yang menghadap ke teluk. Pada hari-hari biasa, dia menikmati pemandangan perahu-perahu kecil melewati teluk dan angin laut yang masuk melalui jendela terbuka. Namun, saat itu hanya ada kengerian yang hebat memancar dari mata Toshie. Wajahnya pias.
Ombak tsunami bergulung dari teluk dan mendekati rumah sakit dengan kecepatan 800 kilometer per jam. Kondisi geografis teluk yang menyempit saat masuk lebih dalam ke daratan, membuat ketinggian tsunami meningkat hingga sepuluh meter ketika mencapai rumah sakit.
Setengah jam setelah gempa terjadi, tsunami menerobos jendela lantai tiga di mana Toshie dan banyak orang lain berada. Dia berteriak ketika air laut menelannya. Di dalam benaknya terbayang wajah putrinya yang sebentar lagi akan menikah.
***
Seorang wanita muda mendekati monumen kecil di tepian teluk Ogatsu. Di samping kanan dan kiri, dua anak membersamainya. Mereka menangkupkan tangan dan berdoa.
Setelah berdoa, wanita muda itu menatap papan monumen yang mencantumkan 64 nama korban tsunami lima belas tahun silam pada sebuah rumah sakit yang dulu berdiri di tempat monumen itu kini berada. Ia mengelus papan itu tepat pada tulisan nama ibunya: Endo Toshie, yang jasadnya tak pernah ditemukan lagi.
Konteks
Rumah Sakit Ogatsu (Ishinomaki City Ogatsu Hospital) adalah sebuah rumah sakit umum kecil yang terletak di tepi Teluk Ogatsu, Kota Ishinomaki, Prefektur Miyagi, Jepang. Rumah sakit ini menjadi salah satu simbol tragedi paling memilukan dalam peristiwa Gempa dan Tsunami Tohoku (Great East Japan Earthquake) pada 11 Maret 2011.
Sebelum bencana terjadi, Rumah Sakit Ogatsu melayani masyarakat lokal yang mayoritas merupakan lansia. Ketika gempa berkekuatan 9,0 magnitudo memicu tsunami raksasa, wilayah teluk yang sempit membuat tinggi gelombang berlipat ganda saat merangsek ke daratan. Gelombang tsunami setinggi lebih dari 10 meter menyapu kawasan tersebut dan menenggelamkan seluruh bangunan rumah sakit berlantai tiga hingga melampaui bagian atapnya.
Akibat evakuasi yang tidak sempat dilakukan karena cepatnya terjangan air (kurang dari 30 menit setelah gempa), seluruh 40 pasien yang sedang dirawat dan 24 dari 30 staf medis/karyawan gugur dalam bencana ini. Jam dinding di lantai tiga gedung tersebut ditemukan membeku tepat pada pukul 03.27 sore, menandakan waktu persis saat fasilitas medis ini tenggelam sepenuhnya oleh air laut.
Gedung rumah sakit yang hancur total tersebut kemudian diruntuhkan demi alasan keselamatan. Guna mengenang para korban, sebuah Tugu Peringatan Korban Rumah Sakit Ogatsu (Cenotaph of Ogatsu Hospital Victim) telah dibangun di lokasi tersebut. Tempat ini kini sering dikunjungi oleh keluarga korban maupun wisatawan untuk memberikan penghormatan dan merefleksikan pentingnya mitigasi bencana pesisir.
Faksi ini terinspirasi dari NHK Documentary yang berjudul “A Hospital Once Stood by the Sea: 12 Years Since the Tsunami” dan diikutsertakan dalam Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan Oktober yang bertema “Peristiwa Lampau yang Menyedot Perhatian”.
