Tuesday, May 12, 2026

Wangi Kopi Specialty

Pagi itu, aku bersama suami berkendara membelah keheningan subuh, meluncur menuju Sentul. Seorang kolega suami, Mas Eko namanya, yang juga kakak tingkat kami di jurusan, mengajak trekking bersama dengan rekan-rekan timnya. Ajakan yang menggoda, mengingat sudah lama kami tidak trekking dan kami butuh latihan nanjak untuk pendakian gunung berikutnya.

Itu adalah kali kesekian aku dan suami trekking ke Sentul. Packing barang dan persiapan hanya butuh waktu beberapa menit, saking terbiasanya kami dengan kegiatan trekking. Running vest dan daypack beserta isinya siap dalam sekejap.

Titik kumpul kali ini sedikit berbeda. Rute menuju Bukit Daolong biasanya kami mulai dari Leuwi Pangaduan. Kali ini, trekking akan dimulai dari parkiran Bukit Daolong via Cibingbin, untuk kemudian menuju Bukit Silala, Bukit Daolong, dan Gunung Geugeur.

Kami sampai paling pagi sekitar pukul enam. Satu per satu teman mulai berdatangan, lalu kami sarapan bersama dengan nasi uduk yang disiapkan oleh istri dari salah satu kolega suami. Mantap, mau nanjak memang harus full tank. Tapi aku sendiri nggak bisa, sih, pagi-pagi langsung diisi penuh seperti itu. Maka aku lebih memilih sarapan dengan roti.

Siap-siap trekking

Rute trekking kali ini pendek saja, sekitar 4,78 km dengan elevation gain 478 meter. Cukup lah buat manasin dengkul. Rute ini sudah keempat kalinya kami lalui, jadi kami sudah terbiasa dengan tanjakan dan pengkolannya.

Ketika kami sampai di Bukit Silala, sambil beristirahat menikmati gorengan, Mas Eko menyuruh salah satu teman untuk duluan nanjak ke Bukit Daolong mendahului kami. Alasannya, untuk nyiapin kopi. Nanjak, kopi, dan gorengan memang menjadi hal yang tak terpisahkan. Biasanya juga disertai dengan indomie, hahaha.

Sampai di Bukit Daolong, aku terkesima. Teman yang tadi disuruh duluan, ternyata sudah menggelar lapak istimewa. Di salah satu meja kayu di sana, dia sudah menyiapkan peralatan membuat kopi. Bukan sembarang kopi, melainkan manual brew dengan biji kopi specialty!

Peralatan lengkap manual brewing dengan metode V60

Peralatan yang dibawa lengkap banget: mulai dari manual grinder, nesting dengan kompor portabel, lalu cup V60 beserta kertas filter, juga timbangan untuk memastikan porsi kopi bubuknya tepat. Wah barista beneran nih. Sungguh terniat.

Yang membuat ngopi pagi itu terasa istimewa adalah biji kopinya. Jadi produk dari Space Roastery ini adalah biji kopi blend dari tiga origin: biji kopi Yunnan (China) yang diproses secara anaerobik dengan fermentasi ragi, biji kopi Ijen Bondowoso (Jawa Timur) yang diproses secara full washed dryhull, dan biji kopi Bener Meriah, Gayo (Aceh Tengah) yang diproses secara wethull.

Bagi penggemar fanatik kopi single origin untuk V60, kopi blend kadang dipandang sebelah mata. Padahal racikan kopi blend yang pas ternyata menghasilkan nilai plus juga. Contohnya varian yang kami seduh di Bukit Daolong ini.

Kopi single origin dengan aroma bright dan floral yang kuat tetapi body-nya terasa kurang, di-blend dengan kopi yang full-bodied. Diracik sedemikian rupa oleh produsen kopinya untuk meningkatkan kualitas dan rasa sehingga menghasilkan seduhan kopi yang utuh dan seimbang, serta menghadirkan pengalaman sensoris yang lebih kaya.

Aku memperhatikan dengan saksama ketika teman tersebut mulai menggiling biji kopi dengan manual grinder, lalu menimbang bubuk kopinya agar sesuai takaran. Setelah air mendidih, dia menuangkan air panas dengan teko khusus yang biasa dipakai untuk menyeduh kopi dengan metode V60. Aku memperhatikan tetes demi tetes turun dari kertas filter.

Pas cupping, duh … ini hidung dimanjakan banget dengan aroma floral-nya yang kuat. Pas dicicip, tasty notes-nya ternyata melati, lavender, dan ada sedikit lime. Rasanya light, ada manisnya, dan acidity-nya sopan banget. Mantap benerrrrr …

Seketika aku lupa kalau sedang berada di salah satu puncak perbukitan di Sentul dengan hutan mengelilingi. Vibes-nya sudah kayak ngopi di kafe mahal cuy. Siapa sangka, pengalaman seperti itu ternyata bisa juga dihadirkan di tengah-tengah suasana trekking beratapkan langit biru nan cerah.

Berpose di Bukit Daolong

Selepas ngopi mantap itu, aku kembali punya tenaga ekstra untuk melanjutkan pendakian ke Gunung Geugeur, puncak tertinggi rute kali ini dengan ketinggian 862 mdpl. Hari itu, kami tak lagi merasa perlu untuk jajan kopi tubruk atau kopi sachet di warung seperti yang selalu kami lakukan–apalagi indomie–karena kopi V60 barusan jauh lebih nikmat.

Perjalanan turun dilalui dengan singkat, karena aku dan suami berlari downhill untuk latihan trail running, sekaligus mengejar waktu shalat Jumat. Kami ngebut turun meninggalkan rombongan dan sampai di parkiran paling pertama. Sepanjang perjalanan turun, aku jadi pengen beli kopi serupa, kopi yang membuat perjalanan trekking biasa menjadi tak biasa.

Tulisan ini diikutsertakan dalam Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan Mei yang bertema “Hari Biasa yang Tak Biasa”.