Tuesday, April 07, 2026

Teman Itu Seperti Musim

Bulan lalu, ada satu sore yang terasa biasa saja, tapi entah kenapa meninggalkan renungan yang cukup dalam. Waktu itu, suamiku mengirim pesan bahwa akan pulang sedikit lebih malam. Katanya ada acara buka puasa bersama dengan teman-temannya.

Aku jawab, “Bukber terooosss … Bunda aja nggak ada yang ngajakin bukber satu pun tahun ini.”

Ketikan pesan yang tampak biasa saja. Tapi nada getirnya terasa. Tiba-tiba ada jeda yang sedikit terlalu sunyi.

Pikiranku mulai berjalan ke arah yang tidak direncanakan. Ada hal acak yang seketika menyeruak. Dan dari situ, muncul satu pertanyaan kecil yang awalnya terdengar sepele:

Kapan terakhir kali aku diajak buka puasa bersama?

Aku mencoba mengingat. Rasanya sudah lama sekali tak ada undangan. Lalu pertanyaan itu berubah sedikit bentuknya:

Ke mana perginya teman-teman yang acap mengajak ketemuan itu?

Kemudian sebentuk kesadaran yang cukup dramatis seperti berbisik pelan di telinga, “Kayaknya kamu sekarang tidak punya teman, deh.”

Ah, masa sih? Aku punya kok.

Punya kenalan banyak.
Punya teman sekolah.
Punya teman kerja.
Punya teman komunitas.

Tapi setelah kupikir-pikir lagi, ada perbedaan antara “punya teman” dan “punya hubungan yang masih hidup.”

Yang satu ada di memori.
Yang satu lagi ada di keseharian.

Sedihnya, yang terakhir ini ternyata sudah lama tidak aku rasakan.

Dulu rasanya hidup penuh dengan pertemuan.

Ada maksi bareng di kantor.
Ada ketemuan di studio senam.
Ada waktu nongkrong selepas lari.
Ada yang tiba-tiba ngajak ngopi.
Ada yang tanpa rencana, tiba-tiba jadi ketawa berjam-jam.

Sekarang mereka semua terasa begitu jauh. Kadang masih berpapasan sih, di Instagram. Kadang saling like, tapi sering juga sekadar lihat story tanpa benar-benar menyapa.

Ternyata aku memang sudah kehilangan lingkaran-lingkaran pertemanan itu.

Aku jadi teringat satu hal yang dulu sering aku dengar, tapi baru sekarang benar-benar terasa: teman itu seperti musim. Sebagian seperti musim hujan—ramai, intens, penuh cerita. Sebagian seperti musim kemarau—yang sekali datang langsung terasa hangat. Beberapa seperti musim semi—tenang dan membuat hati berseri. Ada juga yang seperti musim yang diam-diam sudah berlalu tanpa disadari.

Dulu aku pikir, kalau seseorang sudah jadi teman, ya akan selalu jadi teman. Ternyata tidak juga.

Ada yang berubah karena jarak, kesibukan, atau tanpa alasan yang jelas. Ada juga yang berubah karena kita sendiri sudah tak sama lagi.

Hari itu aku tidak merasa kehilangan seseorang secara spesifik. Lebih ke menyadari bahwa ada ruang dalam hidupku yang dulu penuh, sekarang terasa lebih lengang. Rasanya agak menyedihkan.

Seiring bertambah usia, tampaknya kita memang harus memahami bahwa hidup jadi berbeda. Tidak semua hubungan harus bertahan di bentuk yang sama. Tidak semua musim harus kita tahan agar tidak pergi.

Aku juga mulai bertanya pada diri sendiri:

Apakah aku benar-benar kehilangan teman?
Atau sebenarnya aku hanya sedang berada di fase hidup yang lebih sunyi?

Dan di tengah kesunyian itu, aku menyadari satu hal:

Sometimes growing up means accepting that some friendships belong to a certain season—and that’s okay.

Meski rasanya rindu sekali.



Tulisan ini diikutsertakan dalam Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan April yang bertema “Cerita Random”.

1 comment:

  1. Awww...aku juga nggak ada yang ngajakin bukber...
    Tapi makin tua memang makin males bukber sih...jadi tidak terlalu dipikirkan :')

    Soal teman, makin tua teman juga makin berkurang sih memang. Soalnya pada sibuk masing-masing. Tapi dasarnya memang lebih suka sendirian jadi ya nggak begitu kepikiran juga :')

    ReplyDelete