Tuesday, March 10, 2026

20-an Versus 40-an

Kalau aku bisa bertemu dengan diriku sendiri saat usia 20-an, kemungkinan besar kami akan saling menatap agak lama. Bukan karena tidak saling mengenal, tapi karena mungkin kami akan sedikit bingung.

Mungkin dia akan berkata, “Beneran, kamu jadi seperti ini?”

Lalu aku versi sekarang akan menjawab, “Hidup jangan terlalu serius. Santai aja.”

Di usia 20-an, hidup bagiku terasa seperti daftar target dan pencapaian. Ada checklist panjang di kepala: harus lulus dengan nilai bagus, segera menikah dan punya anak, karier harus keren, pencapaian harus jelas, hidup harus terlihat “on track”.

Rasanya seperti sedang mengikuti lomba yang tidak pernah diumumkan, tapi semua orang seolah tahu aturannya.

Teman lulus kuliah, aku meratapi nasib karena nggak segera lulus.
Teman menikah, aku merengek ke orang tua minta diizinkan nikah.
Teman beli rumah, aku ikut berpikir soal rumah.
Teman dapat kerjaan keren, aku mulai menghitung langkah karier.
Teman terlihat sukses di media sosial, aku tiba-tiba merasa hidupku kurang progres.

Padahal mungkin tidak ada yang benar-benar sedang berlomba. Tapi di usia 20-an, rasanya memang begitu.

Usia 20 hingga 30 adalah masa ketika aku masih percaya bahwa hidup bisa diatur rapi seperti spreadsheet. Kalau kerja keras, hasilnya pasti sesuai. Kalau rencana dibuat matang, masa depan akan mengikuti jalurnya.

Spoiler: hidup ternyata tidak membaca spreadsheet kita.

Ada rencana yang meleset.
Ada target yang harus diubah.
Ada juga yang tak kunjung datang meski sudah ditunggu lama.

Dan waktu terus berjalan. Tiba-tiba saja usia sudah melewati 40.

Perubahan terbesar ternyata bukan terjadi di luar. Bukan tiba-tiba hidup menjadi sempurna atau semua target tercapai. Perubahan paling terasa justru terjadi di dalam hati dan kepala.

Di usia 40-an, aku menyadari bahwa hidup sebenarnya tidak pernah benar-benar lurus. Jalannya lebih mirip jalan kampung: ada belokan, ada lubang kecil, kadang ada jalan memutar yang tidak direncanakan. Juga ada kejutan-kejutan yang Tuhan datangkan.

Dulu aku mungkin akan panik kalau rencana berubah. Atau bad mood yang berujung tantrum. Sekarang kadang masih frustrasi juga sih, tapi reaksinya mungkin lebih seperti ini:

“Oh, ternyata jalannya ke sini, ya.”

“Tuhan tahu takdir yang lebih baik.”

Bukan berarti aku jadi tidak punya ambisi. Keinginan tentu masih ada. Hanya saja sekarang tidak lagi terasa seperti tekanan yang harus dipenuhi sebelum deadline umur tertentu. Dan nggak pengen muluk-muluk juga.

Tidak bisa dipungkiri, kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain juga masih ada. Tapi kini tak lagi berlebihan.

Dulu timeline orang lain sering terasa seperti cermin. Kalau mereka sudah mencapai sesuatu lebih dulu, rasanya seperti sedang tertinggal.

Namun semakin bertambah umur, semakin terlihat bahwa setiap orang sebenarnya sedang menjalani ceritanya sendiri. Ada yang cepat di awal, ada yang berubah haluan di tengah perjalanan.

Dan semuanya tetap sah. Kan hidup bukan perlombaan.

Hal lain yang berubah adalah definisi “sukses”. Dulu sukses terasa seperti sesuatu yang besar dan terlihat: jabatan, pencapaian, angka, pengakuan.

Sekarang sukses kadang terasa jauh lebih sederhana.

Bisa tidur dengan pikiran tenang.
Bisa tertawa santai dengan keluarga.
Bisa menjalani hari tanpa terlalu banyak drama.
Bisa meluangkan waktu untuk me-time.

Ternyata kedengarannya sederhana, tapi rasanya mahal juga.

Aku juga mulai memahami satu hal yang dulu agak sulit diterima.
Ada ekspektasi orang lain yang tidak harus dipenuhi.
Ada kebisaan orang lain yang tidak harus kita miliki.
Ada juga standar hidup yang ternyata tidak wajib kita ikuti.

Di usia 20 hingga 30, aku sering merasa harus membuktikan sesuatu.
Di usia 40, aku mulai merasa tidak semua hal perlu dibuktikan.
Energi hidup rasanya lebih baik dipakai untuk hal-hal yang benar-benar penting.

Kalau dipikir-pikir, perubahan dari usia 20-an ke 40-an itu bukan soal menjadi orang yang berbeda. Lebih seperti proses menyederhanakan cara memandang hidup.

Beberapa kegelisahan mulai diturunkan volumenya.
Beberapa ambisi dipilih ulang.
Beberapa rencana harus dibongkar.
Beberapa hal yang dulu terasa berat, ternyata bisa dilewati juga.

Dan ketika menoleh ke belakang, aku bersyukur pernah menjadi diriku yang berusia 20-an tahun itu.
Sering gelisah, sedikit ambisius, banyak keras kepala.

Karena tanpa versi itu, mungkin aku tidak akan sampai pada versi yang sekarang: lebih santai, lebih tidak peduli pada hal-hal yang memang tidak perlu dipikirkan, dan sedikit lebih paham bahwa hidup tidak harus selalu terasa seperti perlombaan.

Kadang cukup seperti perjalanan.
Yang penting tetap jalan, meskipun pelan.


Tulisan ini diikutsertakan dalam Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan Maret yang bertema “Aku Dulu vs Aku Sekarang”.

1 comment:

  1. Perjalanan yang manis ya teh Yustika... Bersyukur dapat menapakinya dengan bahagia. Barakallah

    ReplyDelete