Aku memang tidak lahir dan tumbuh besar di Bandung, tetapi aku telah menghabiskan lebih dari separuh usiaku di kota itu. Ketika aku pertama kali datang ke Bandung dua puluh enam tahun silam, Kota Kembang berhawa sangat dingin—apalagi untuk ukuran seorang bocah asal Solo sepertiku. Malam-malamku sebagai mahasiswa baru cukup sering berkemul tebal, terutama ketika kemudian aku pindah ke bilangan Bandung bagian utara.
Bandung bagian utara sungguh memesona. Di situ aku mengalami pasang surut dinamika kehidupan kampus, bergulat dengan aktivitas kemahasiswaan, lalu berhasil lulus hidup-hidup dari sana. Maka ketika Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan ini mengambil tema “Tempat/Lokasi yang Membentukku”, tak ayal kampus ITB menjadi pilihan pertamaku terkait “tempat tertentu yang disadari atau tidak menanamkan nilai, membentuk cara berpikir, dan mengubah cara kita memandang dunia” (mengutip kalimat Mamah May, yang menjadi host tantangan kali ini).
Tempat S1 dan S2 Menempaku
Buatku, masa-masa kuliah S1 adalah masa-masa terberat selama masa mudaku. Aku seperti diingatkan tentang sebuah perjuangan dan luka yang ditimbulkan olehnya. Kehidupan kampus yang—menurutku—keras dan lingkungan pertemanan yang—menurutku—tidak bersahabat, membuat masa-masa kuliahku penuh dengan air mata, rendah diri, depresi, ketidaksukaan terhadap banyak hal (termasuk diriku sendiri), dan rasa pesimis yang luar biasa dalam memandang hidup.
Saat itu perasaan dan self esteem-ku bagai berada di titik nadir. Yah, kau mungkin akan mengalami hal yang sama jika kau pernah ber-IP satu koma selama tiga semester berturut-turut, pernah mendapat surat peringatan tentang tenggang waktu DO, dan pernah dibanding-bandingkan oleh dosen wali dengan mahasiswa lain yang ber-IP nyaris empat! Tanpa pertolongan Allah, aku mungkin nggak akan pernah lulus sidang Tugas Akhir dan diwisuda.
Pada tahun terakhirku di kampus Ganesha, setelah masa panjang menyelesaikan Tugas Akhir—yang rasanya seperti nggak kelar-kelar (aku kuliah selama lima tahun BTW), aku pernah merenung sendirian di selasar Tata Usaha jurusan, dua jam menjelang maghrib. Sore itu mendung dengan sedikit rintik membasahi. Angin bertiup pelan membawa semilir menyejukkan. Kuabaikan kebiasaan untuk bergegas pulang dari kampus, dan kuputuskan untuk sebentar bercengkerama dengan suasana.
Di balkon lantai dua itu, lampu-lampu sudah mulai dinyalakan dan aku duduk seorang diri. Kubiarkan angin mempermainkan ujung jilbab. Kubiarkan pula angin mengibar-ngibarkan ujung lembaran buku di tangan. Kubiarkan mataku menikmati kolam bundar, jalan beton Plaza Widya, ujung dedaunan yang melambai, orang-orang yang sedang berjalan, dan di kejauhan ... kerumunan orang bermain basket dan kumpulan orang duduk-duduk di selasar Campus Center.
Kuhela nafas panjang. Aku tak pernah benar-benar menyadari cintaku pada kampus, hingga hari itu. Mereka benar, inilah kampus terbaik yang Allah berikan padaku. Meskipun selama ini aku sering mengeluhkan ganasnya kampus, aku harus mengakui bahwa hatiku tertambat di sana. Di kampus lah aku bertemu dengan orang-orang hebat dan belajar merenda kehidupan. Saat itu, menikmati waktu-waktu terakhir yang semestinya tak lama lagi, membuatku mensyukuri banyak hal. You don’t know what you’ve got until it’s gone.
Dengan rekam jejak S1 seperti itu, kau mungkin tak akan menyangka jika suatu hari kemudian aku kembali melanjutkan S2 di kampus Ganesha. Teman-teman yang dulu tahu persis kesulitanku ketika S1 dan betapa sering aku mengeluh panjang pendek tentang salah jurusan, cukup tercengang ketika tahu bahwa aku mengambil S2 yang sama dengan jurusan S1, hahaha.
Yaa, mau bagaimana lagi. Saat itu aku berstatus sebagai ASN, dan kantor hanya mau membiayai sekolah jika sesuai dengan Ikhtisar Jabatan dan Analisis Beban Kerja (IJ/ABK). Yang artinya juga inline dengan latar belakang pendidikan sebelumnya karena menjadi persyaratan ketika aku diterima bekerja.
Mengambil S2 mungkin adalah keputusan yang tak akan pernah kusesali sepanjang hidup, meskipun dulu awal-awal mendapat beasiswa dari kantor, aku sempat gamang. Ya, gamang karena asal mula ikut seleksi beasiswa adalah karena iseng. Dan ketika iseng itu membuahkan hasil lolos, aku “terpaksa” harus mendaftar S2. Kemudian ketika lulus seleksi S2 dan berhasil masuk ke almamaterku, nyaliku menciut karena takut. Takut tak bisa mulus menjalani studi, mengingat berdarah-darahnya aku ketika S1 dulu (lebay, hehehe).
Namun, ternyata ada banyak keberkahan yang aku rasakan karena mengambil S2. Berkah tidak selalu identik dengan jumlah. Di dalam kamus Arab, berkah memiliki arti pertumbuhan atau pertambahan kebaikan. Berkah dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008:179) yang masuk dalam kelas kata nomina memiliki arti ‘karunia Tuhan yang mendatangkan kebaikan bagi kehidupan manusia’.
Sedangkan kata berkat dalam KBBI Pusat Bahasa, memiliki empat makna, masing-masing adalah (1) karunia Tuhan yang membawa kebaikan dalam hidup manusia; (2) doa restu dan pengaruh baik dari orang yang dihormati (guru); (3) makanan dan sebagainya yang dibawa pulang sehabis kenduri; (4) mendatangkan kebaikan atau bermanfaat (2008:179-180).
Ada pula yang mengartikan berkah dengan kalimat ‘dapat melakukan hal yang banyak dalam waktu yang sempit’ atau ‘mendapatkan kebaikan lebih banyak dari takaran yang semestinya’. Apa pun artinya, berkah yang kumaksud meliputi semua arti di atas.
Berkah S2 pertama yang sangat kusyukuri adalah mendapat teman-teman seperjuangan yang sangat baik, pengertian, dan menyenangkan. Bersama teman-teman ini, mengerjakan tugas tak pernah menjadi beban. Menjalani hari-hari kuliah dengan gelak tawa, saling bantu ketika yang lain kesulitan. Maha Suci Allah yang mempertemukan aku dengan pertemanan seperti ini, hingga studi tak terasa dijalani sendiri, melainkan full support. Entah apa jadinya studiku bila tak kulakukan bersama bantuan mereka.
Berkah kedua adalah waktu luang yang kudapatkan untuk mengurus anak. Aku melahirkan anak kedua ketika perkuliahan menginjak semester satu. Kondisi studi yang fleksibel—tak seperti jam kantor—membuatku leluasa memberi ASI, terutama ketika enam bulan pertama, hingga membuat dia menjadi bayi ASI yang nemplok banget. Kemudian masih leluasa pula untuk mengatur menu dan memasak MPASI untuknya pada bulan-bulan berikutnya. Tak lupa juga leluasa mengantar jemput anak sulung ke sekolah dan sesekali mengiringinya dalam kegiatan outing ke beberapa tempat.
Berkah ketiga adalah kelonggaran waktu untuk melakukan olahraga sepuasnya. Senam aerobik yang dulunya aku lakukan 2 kali seminggu, frekuensinya bertambah menjadi 3-4 kali seminggu. Kemudian aku juga sempat mengikuti kelas pilates selama 20 kali pertemuan, yang sedikit banyak berpengaruh positif terhadap skoliosisku. Lalu aku mengikuti kelas yoga seminggu sekali dan merutinkan berenang seminggu sekali. Juga masih sempat bersepeda beberapa kali dalam seminggu. Ah, nikmatnya hidup ketika kita bugar beraktivitas sepanjang hari. Tak hanya sehat yang didapat, ketika olahraga yang disukai dilakukan, tubuh juga akan mengeluarkan hormon endorfin yang membuat kita lebih bahagia.
Berkah berikutnya adalah kesempatan yang terbuka untuk aktif dalam berbagai kegiatan komunitas. Karena waktu kuliah yang longgar, aku berkesempatan aktif ikut banyak seminar dan pelatihan parenting dari berbagai pihak. Ini keberkahan yang luar biasa dalam mencari ilmu mengenai pengasuhan dan pendidikan anak. Lewat kesempatan itu pula aku berkenalan dengan Bunda Rani dan Komunitas Cinta Keluarga (KCK), yang membuatku merasa menemukan supporting system yang baik dalam menjalani dunia parenting. Hal ini diikuti pula dengan terlibatnya aku dalam penyelenggaraan seminar dan pelatihan mengenai parenting dan kesehatan anak.
Selain itu aku juga aktif di Masyarakat Skoliosis Indonesia (MSI) cabang Jawa Barat. Komunitas penggiat skoliosis ini berperan sebagai pusat informasi skoliosis dan sebagai wadah pemersatu bagi penyandang dan pemerhati skolisosis di Indonesia, khususnya Jawa Barat. Lewat MSI aku bertemu dengan orang-orang yang luar biasa. Serasa menemukan saudara senasib sepenanggungan di sini. Kami bersama-sama mengadakan kegiatan, baik yang lingkupnya kecil seperti pertemuan kopdar untuk sharing, berbagi informasi, nonton film atau jalan-jalan bersama, maupun yang lingkupnya lebih besar seperti talkshow di radio, seminar, atau penggalangan dana untuk operasi skolioser yang tidak mampu.
Maka ketika tugas belajarku resmi berakhir, ada rasa senang sekaligus sedih. Senang karena sidang tesis telah terlampaui dengan baik, sekaligus sedih karena aku kehilangan keleluasaan waktu untuk hal-hal yang aku sukai. Suatu tanggung jawab yang telah selesai di satu tempat memang menuntut tanggung jawab baru di tempat lain.
ITB Motherhood
Kehidupan kampus ITB memang hanya bagian kecil dalam hidupku. Lima tahun S1 dan dua setengah tahun S2 memang hanya sekian persen dari keseluruhan usiaku. Namun, masa yang pendek itu adalah masa paling berharga dalam membentukku menjadi seperti sekarang ini. Selain kapabilitas yang berguna di dunia karir, menjadi alumni ITB juga artinya memiliki jejaring luar biasa dalam kehidupan pascakampus.
Salah satu hal yang kusyukuri dari menjadi alumni ITB adalah bisa bergabung dengan komunitas ITB Motherhood. Komunitas ini dibuat pada 2010 untuk mewadahi mahasiswi atau alumni perempuan ITB yang tertarik pada dunia ibu dan anak. Hingga saat ini grup ITB Motherhood di Facebook telah memiliki ribuan anggota dan kegiatannya berkembang menjadi lebih dari 30 komunitas internal―yang kegiatannya tidak hanya bersifat daring, tetapi juga luring.
ITB Motherhood memiliki iklim yang sangat kondusif untuk menjadi sebuah support system. Di dalamnya kita dapat bertanya tentang apa saja tanpa takut merasa dihakimi, dapat melakukan jual beli dengan rasa aman dan asas kepercayaan, atau mencari dukungan dalam bentuk apa pun. Sebagai contoh, beberapa tahun silam aku sempat bergabung dengan subgrup ASIX dan subgrup ibu hamil yang sangat memberi dukungan dalam hal motivasi maupun pengetahuan seputar kehamilan, persalinan, dan ASI. Beberapa subgrup di ITB Motherhood juga bergerak dalam hal beasiswa, donasi, dan relawan.
Saat ini aku aktif dalam beberapa subgrup ITB Motherhood, yaitu Mamah Gajah Berlari, Mamah Gajah Bercerita, dan tentunya Mamah Gajah Ngeblog―yang membuatku menelurkan tulisan tantangan ini.
Penutup
Di kampus ITB aku tak hanya menyelami dunia akademik, tetapi juga belajar tentang jatuh bangun, mengenali diriku sendiri, membentuk pola pikir, juga ketangguhan bertahan sampai akhir. Maka bagiku ITB adalah tempat pulang, tempat yang selamanya akan terpatri dalam hati.
Tulisan ini diikutsertakan dalam Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan Februari yang bertema “Tempat/Lokasi yang Membentukku”.

No comments:
Post a Comment