Monday, August 02, 2021

Keberagaman di Mata Anak-Anak

Anak-anakku mengenal konteks keberagaman kira-kira ketika mereka memasuki usia SD. Pasalnya ada pelajaran Bahasa Sunda di sekolah, yang akhirnya membuat kami bercerita lebih banyak tentang asal-usul leluhur mereka akibat lontaran pertanyaan “Kenapa Ayah dan Bunda nggak ngerti bahasa Sunda?”, hahaha. Ya, kami memang sudah dua puluh satu tahun tinggal di Bandung. Namun, karena seluruh keluarga berasal dari Jawa Tengah dan sejak dulu lingkaran pertemanan kami banyak berkisar di komunitas orang Jawa, kami tidak terlalu fasih berbahasa Sunda.

Konsep keberagaman ini merupakan konsep yang unik bagi anak-anak. Maklum, di usia itu mereka masih mempertanyakan banyak hal akibat keingintahuan yang tinggi, terutama ketika mereka melihat ada orang yang berbeda dengan mereka. Sesederhana kenyataan mengapa orang lain menggunakan bahasa yang berbeda atau mengapa orang lain memiliki agama yang berbeda, dapat mengusik keingintahuan mereka. Sebagai orang tua, kami tentu harus membahasakan perbedaan itu dengan kalimat yang baik dan mudah dimengerti, tanpa menimbulkan rasa intoleransi.

Di sekolah mereka belajar teori mengenai bermacam-macam suku, budaya, bahasa, atau agama. Mereka juga belajar adab saling menghargai dari buku teks. Namun di dunia nyata, kehidupan tidak semudah teori. Adakalanya anak-anak tidak mengerti apa yang teman-teman mereka obrolkan karena berbeda bahasa. Untungnya hal itu tidak pernah menjadi masalah sejauh ini. Mereka punya cara sendiri untuk bisa berbaur dengan teman meski berbeda bahasa ibu.

Yang agak susah adalah menyederhanakan pemahaman mereka soal perbedaan agama atau keyakinan. Terus terang aku agak kelimpungan menjelaskan mengapa orang lain melakukan ritual agama yang berbeda dengan kami. Pertanyaan-pertanyaan ini menjadi susah karena sebelumnya kami harus meletakkan pondasi ketauhidan terlebih dahulu dalam dada mereka, sehingga ketika mereka melihat orang lain yang berbeda … hal itu tidak akan menjadi masalah sebab mereka tahu bagaimana harus menyikapinya. Yang lebih tricky sebenarnya ketika mereka melontarkan pertanyaan dengan suara keras di depan orang yang bersangkutan, misalnya “Bun, kenapa Tante itu nggak pake jilbab?”. Kalau sudah begitu kami terpaksa harus cepat-cepat menarik mereka untuk menjauh karena khawatir perkataan mereka dapat menyinggung orang lain.

Konsep keberagaman memang seharusnya tidak hanya diajarkan secara teoritis. Bukankah banyak manusia di negeri ini yang sudah hafal kalimat-kalimat yang menggaungkan toleransi sejak mereka SD, tetapi gagal menerapkannya dalam kehidupan bermasyarakat? Saat ini anak-anak kami memang masih bersekolah di sekolah islami demi penguatan pondasi nilai-nilai beragama, tetapi aku berharap kelak suatu hari nanti mereka dapat pergi ke berbagai tempat, menuntut ilmu di beraneka institusi, dan bertemu dengan bermacam-macam orang supaya mereka memahami arti perbedaan dan arti toleransi yang sesungguhnya.

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْا ۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ ۗاِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ

“Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti.” (Q.S. Al-Hujurat: 13)

No comments: