Monday, February 22, 2021

Trieste, Kota Cantik di Tepi Laut Adriatik

Sejak usiaku 14 tahun, pergi ke Eropa adalah impianku dan Italia merupakan salah satu negara yang menjadi bucket list. Beruntung pada September 2017 aku berkesempatan mengikuti training dari lembaga nuklir dunia yang bekerja sama dengan institut setempat di Trieste, Italia.

Trieste adalah sebuah kota pelabuhan kecil di tepi Laut Adriatik, yang dapat ditempuh dengan satu jam penerbangan dari Roma. Di masa lampau, Trieste menjadi kota pelabuhan paling penting dalam sejarah monarki Austria-Hungaria dan menjadi pintu masuk ke dataran Slovenia dan sekitarnya. Kota cantik ini pemandangannya luar biasa, penduduknya ramah, dan mencari makanan halal tidak susah.


Pemandangan jendela apartemen


Apartemen kami terletak persis di tepi laut, tak jauh dari teluk Trieste tempat Ferdinand Maximillian membangun kastil Miramare, dan hanya lima kilometer dari pantai Barcola. Pantai Barcola sendiri adalah pantai yang terletak di pesisir barat laut kota Trieste. Pantainya bukan jenis pantai landai yang berpasir, namun jenis pantai terjal yang berkarang. Orang harus menuruni tangga untuk sampai di permukaan air, berlomba dengan ombak yang berkecipak memukul dinding bebatuan. Di sore hari kita dapat menikmati sensasi hangat matahari terbenam sambil duduk-duduk di bar, kedai kopi, kedai es krim, atau restoran di sekitar situ.


Pantai Barcola


Sementara Kastil Miramare merepresentasikan sebuah kisah romansa tahun 1800-an yang dipisahkan oleh takdir dan maut. Kastil ini merupakan rumah impian pasangan muda Maximillian dan Charlotte yang dibangun di atas tebing yang menjorok ke arah Laut Adriatik. Mereka tinggal di situ pada tahun 1860-1864, sebelum mereka pindah ke Mexico dan Maximillian menemui akhir hidupnya dengan tragis karena dieksekusi pada kerusuhan Mexico. Setelah Maximillian terbunuh, Charlotte pernah kembali ke Miramare dari 1866 hingga 1867, lalu dia pulang selamanya ke tempat asalnya di Belgia.


Kastil Miramare


Kastil Miramare dikelilingi oleh hutan kecil yang terbentang seluas dua puluh dua hektar. Tepat di depan pintu masuk kastil, ada taman yang bunga-bunganya cantik menawan. Di seberang taman itu, kastil Miramare menjulang indah dengan latar belakang pemandangan laut yang spektakuler. Pada sisi kastil terdapat dermaga tempat tamu-tamu kastil ini berlabuh di masa lampau.

Kastil ini dikelola dengan serius oleh pemerintah setempat. Saat ini dijadikan museum dengan tetap mempertahankan fitur-fitur lamanya. Ruangan-ruangan di dalam kastil beserta perabotannya sangat khas menunjukkan kehidupan bangsawan Eropa zaman dulu. Untuk masuk ke dalam kastil dikenakan tiket seharga 10 Euro.


Piazza Unita d'Italia

Di pusat kota, Trieste memiliki sebuah lapangan besar bernama Piazza Unita d'Italia. Ia terkenal karena merupakan piazza terbesar di Eropa yang bersisian langsung dengan laut. Di sekeliling piazza berdiri kokoh bangunan-bangunan historis yang menjadi bangunan vital pada masa lampau, seperti bangunan istana dan kantor pemerintah kotapraja. Pada pertengahan September ketika kami sekeluarga berkunjung ke situ, matahari terbenam pukul delapan malam. Udara sore hari sudah mulai dingin, tetapi masih cukup nyaman untuk berjalan-jalan. Sambil duduk-duduk di bangku beton piazza, kami merasakan semilir angin penghujung musim panas meniup-niup muka dan rambut. Aroma asin air laut memenuhi rongga hidung dan menyegarkan paru-paru. Jika masih diberi kesempatan, insya Allah kami akan kembali ke Trieste suatu hari nanti.

Sunday, February 14, 2021

Ulasan Novel Critival Eleven

 


Novel Critival Eleven adalah novel Ika Natassa pertama yang aku baca, dan hingga saat ini masih menjadi novelnya yang paling aku suka. Novel ini menceritakan tentang konflik yang dialami oleh sepasang suami istri, Ale dan Anya, ketika rumah tangga mereka ditimpa badai besar.

Pada bagian awal dikisahkan perkenalan Anya dan Ale di atas pesawat, di mana istilah Critical Eleven sendiri merupakan istilah dalam dunia penerbangan, yaitu sebelas menit waktu kritis di dalam pesawat. Tiga menit sebelum take off dan delapan menit sebelum landing adalah waktu yang krusial karena secara statistik: 8% kecelakaan pesawat umumnya terjadi dalam rentang waktu sebelas menit itu. Istilah ini kemudian menjadi pengibaratan masa-masa kehidupan pernikahan Anya dan Ale.

Di bab-bab awal, kejadian dilukiskan bergantian dengan cepat. Pembaca dibawa ke dalam potongan-potongan adegan yang tampak membingungkan, tapi sebenarnya ini merupakan gaya cerdas Ika Natassa dalam memperkenalkan konflik. Kemudian alur melambat hingga nanti ketika hampir di akhir buku, konflik agak berlarut-larut. Tapi tak apa, karena kalau tidak… mungkin nanti cerita di buku ini akan terasa singkat. Bagi sebagian orang ini menarik, tapi bagi sebagian lainnya mungkin akan memantik sedikit kebosanan.

Alur disajikan secara maju mundur sehingga terasa begitu dinamis. Sudut pandang yang digunakan juga unik karena menggunakan dua POV yang berbeda: sebagai Ale dan sebagai Anya. Hal ini membuat perasaan kedua tokoh utama tergambar jelas, dan apa yang ada di benak mereka sampai dengan lugas kepada pembaca.

Ika Natassa sangat pandai menggarap penokohan. Karakter dua tokoh utama sangat kuat. Keduanya adalah sosok sukses dan profesional dalam hal karir, tapi ternyata secara alamiah mengalami kebingungan dalam mengatasi permasalahan rumah tangga. Ale yang cool namun sangat menyayangi istrinya, begitu clueless seperti kebanyakan laki-laki. Tapi dia sebenarnya lelaki baik yang rela melakukan apa saja demi keluarganya, dan berhasil membuatku terpesona pada sosoknya. Sementara Anya, yang kata Ale memiliki mata yang bisa “tersenyum”, merupakan sosok yang mandiri meski sering ditinggal-tinggal suaminya karena pekerjaan, tidak pernah mengeluh ketika harus terpisah jauh, tapi memiliki kepribadian yang kurang terbuka pada suaminya.

Fakta bahwa buku yang ada di tanganku merupakan cetakan kedua puluh hanya dalam kurun waktu dua tahun setelah cetakan pertama diterbitkan, memberi indikasi kuat bahwa novel metropop ini sangat disukai pembaca. Narasinya memang mengalir dengan nyaman, dan tanpa terasa kita sudah dibawa ke akhir cerita. Hal inti yang bisa kita tarik sebagai hikmah dari novel ini: bahwa pernikahan tidak melulu soal cinta. Ada komitmen, ada komunikasi yang harus dibangun, ada pemakluman, ada pengertian… dan yang jelas: ada keharusan untuk saling menghargai.

Judul: Critical Eleven
Penulis: Ika Natassa
Cetakan kedua puluh, Mei 2017
Diterbitkan oleh PT Gramedia Pustaka Utama
Jumlah Halaman: 340 halaman

Monday, February 08, 2021

Pola Hidup Sehat dan Aktif

Sebelum 2005, kesehatan tidak pernah menjadi prioritas buatku. Sebagai anak indekos semasa kuliah, hobiku begadang dan makan mie instan. Baru setelah masa-masa Tugas Akhir tahun 2005 aku mulai rutin melakukan senam aerobik. Awalnya untuk mengisi waktu, lama-lama ketagihan. Kemudian mulai menerapkan kesadaran saat makan, menjaga pola makan dan belajar berpikir sebelum makan. Dalam kurun waktu 2006-2007, berat badanku turun 13-14 kg hasil dari menjaga makan dan berolahraga secara rutin.

Foto tahun 2016 di atas adalah foto saat aku hamil anak keempat dalam UK 16 minggu. Lebih langsing daripada zaman kuliah hahaha. Saat itu olahraga sudah jauh lebih bervariasi: senam, yoga, lari, kadang-kadang zumba dan berenang. Namun karena badan sudah makin berumur, penurunan berat badan secara drastis tak lagi terjadi. Meski sudah clean eating sekalipun. Tidak apa-apa, yang penting berat badan tetap terjaga, kenaikan berat badan selama hamil dan sesudah melahirkan tetap terkendali, dan yang terpenting: hasil MCU tahunan selalu bagus alhamdulillah.

Menilik kembali perjalanan, aku bersyukur masih diberi kesempatan dan kesadaran untuk menjadikan kesehatan sebagai prioritas. Memang usia itu hak prerogratif Allah, tapi berusaha hidup sehat dan bugar insya Allah untuk kebaikan kita juga, untuk investasi jangka panjang membersamai anak cucu hingga usia senja. Berikut ini beberapa olahraga yang menjadi hobiku.

SENAM AEROBIK

Senam aerobik adalah kecintaan pertamaku pada olahraga. Selain dampak kesehatan dan turun berat badan, senam juga memberiku kegembiraan. Aku sangat menikmati bergerak mengikuti dentam irama, berkeringat seiring endorfin yang keluar. Karena senam aku merasa lebih berenergi, lebih bahagia, lebih bugar dan lebih sehat. Siapa sangka yang niat awalnya demi menurunkan berat badan, akhirnya malah menjadi hobi yang membuat ketagihan.

YOGA

Aku pertama kali berkenalan dengan yoga pada tahun 2013. Awalnya sebagai treatment untuk mengatasi keluhan karena skoliosis yang aku sandang. Yoga sangat membantuku untuk mengurangi pegal dan backpain, mengoreksi postur, menguatkan otot dan tulang punggung, menstabilkan panggulku yang tinggi sebelah, dan tentu menguatkan sisi tubuh yang tidak balance akibat skoliosis.

Siapa sangka dari situ aku malah jadi jatuh cinta pada yoga. Karena ternyata lebih dari sekedar treatment skoliosis yang aku dapatkan. Yoga membantuku menyeimbangkan mind, body, and soul. Dan dalam beberapa hal membuatku tetap waras karena dari situ aku juga belajar untuk terkoneksi dengan diri, mencintai diri dan menerima diri apa adanya.

LARI

Ketika mulai berlari beberapa tahun lalu, minim sekali ilmu yang kumiliki. Saat itu hanya terpikir, jika ingin rutin berlari ya tinggal berlari saja. Karena awalnya hanya bermula dari self challenge menjajal kemampuan diri apakah benar bisa menaklukkan olahraga yang dulu amat kubenci ini.

Mendekati pertengahan tahun 2019, iseng-iseng aku bergabung dengan Mamah Gajah Berlari (MGB), komunitas para mama alumni ITB yang menekuni hobi lari di tengah-tengah kesibukan mengurus keluarga dan karir. Pertemanan sehat bersama MGB ini ternyata melebihi ekspektasiku. Selain memperoleh banyak ilmu tentang lari, di sini aku bagai menemukan keluarga baru yang really fits the idea of being support group. Bagiku MGB adalah lingkungan dan komunitas yang tepat sehingga aktivitas lari bisa dijalani dengan ilmu dan kesadaran.