![]() |
| Juli 2020 |
![]() |
| ITB UM 10K, Desember 2020 |
![]() |
| Time Trial ITB 101 VR, 17 Juli 2021 akhirnya PB |
![]() |
| Juli 2020 |
![]() |
| ITB UM 10K, Desember 2020 |
![]() |
| Time Trial ITB 101 VR, 17 Juli 2021 akhirnya PB |
Bahasan tentang heart rate (HR) memang selalu menarik bagi teman-teman yang suka berlari. Malam minggu kemarin acara Zoom @cah2000playon bersama narasumber @medishita dan moderator @deboradyah adalah tentang resting HR versus exercise HR.
Pada saat kita berolahraga, jantung akan memompa darah ke seluruh tubuh. Semakin rutin berolahraga, HR semakin rendah dan kemampuan jantung untuk memompa akan lebih bagus. Stroke volume adalah jumlah darah yang dipompa oleh jantung dalam satu siklus jantung. Sementara cardiac output adalah jumlah darah yang dipompa oleh jantung per menit. Cardiac output (liter per minute) dihasilkan dari HR (beat per minute) dikalikan stroke volume (liter per beat). Endurance training membantu meningkatkan stroke volume dan menurunkan HR.
Pada saat berolahraga, suhu sangat berpengaruh. Pada saat suhu panas, kita akan mengalami dehidrasi. Akibatnya air di pembuluh darah berkurang sehingga darah yang kembali ke jantung akan berkurang, hal ini menyebabkan stroke volume juga akan berkurang. Kemudian HR akan naik untuk memenuhi oxygen demand.
Rutin berolahraga berfungsi untuk memperpanjang periode kenaikan HR. Kita harus menyeimbangkan kebutuhan oksigen dengan kemampuan nadi. Stroke volume yang tidak bisa mengimbangi oxygen consumption (tidak bisa mengejar) menyebabkan nafas kita menjadi megap-megap saat berolahraga. Sebaiknya intensitas olahraga diturunkan supaya stroke volume dapat mengimbangi oxygen consumption.
Kondisi jantung atlet yang terlatih kadang resting HR-nya terlalu rendah. Ini karena ketebalan otot jantungnya terlalu tebal tetapi kemampuannya untuk menampung volume cairan darah justru mengecil. Kondisi ini disebut hipertrofi dan bisa menyebabkan cardiac arrest, aritmia, dll. Jadi, apapun yang berlebihan itu memang tidak baik.
Pesan dr. Shita: usahakan berolahraga rutin minimal 90 menit dalam seminggu di zona HR latihan supaya kemampuan jantung tetap baik. Olahraga lebih intens daripada itu tidak mengapa, asal kita memiliki waktu recovery yang cukup.
"Untung ada Islam. Nggak gila aja udah syukur," demikian kata seorang guru ketika kehilangan kedua orang tua terkasih hanya dalam kurun waktu seminggu akibat COVID-19.
Pandemi yang luar biasa ini di satu sisi memang sangat menyesakkan. Banyak orang ditinggal wafat orang tercintanya; banyak orang memendam rindu karena bepergian dan silaturahmi menjadi sesuatu yang membawa risiko. Belum lagi jika kita bicara soal keterpurukan ekonomi, makin banyaknya pengangguran, naiknya angka kemiskinan, banyak orang yang menjadi susah untuk memenuhi kebutuhan hidupnya … ah, begitu banyak kesedihan dan kesengsaraan.
Pandemi juga memperlihatkan wajah asli orang-orang. Ada yang peduli sesama, ada yang abai terhadap diri sendiri maupun orang lain, ada yang tamak dan serakah menimbun keuntungan, juga ada yang raja tega memanfaatkan situasi dan melakukan penipuan demi cuan.
Pandemi memberi kesadaran bahwa kita mungkin terlampau cinta pada dunia dan takut mati. Sudah siapkah jika suatu saat kita atau orang terdekat kita dipanggil pulang oleh-Nya? Sudah siapkah kita dengan bekal amal saleh dan amal jariah? Apa yang sudah kita wariskan untuk anak-anak? Sudah cukupkah tarbiyah yang kita lakukan untuk menjadikan mereka pribadi yang siap mandiri, yang ketika berpisah dari kita pun tetap saleh dan salehah?
Kita beruntung karena ada Islam, karena kita punya Allah sebagai tempat bersandar sehingga kita tidak gila dan tertekan memikirkan dunia ini. Hasbunallah wa ni’mal wakiil, "cukuplah Allah (menjadi penolong) bagi kami dan Dia sebaik-baik pelindung." (Q.S. Ali Imran: 173)
Meskipun menyesakkan, Islam mengajarkan bahwa everything happens for a reason. Entah apapun itu, pandemi ini pasti tidak sia-sia karena Allah punya maksud dan tujuan tertentu dengan kehendak-Nya. "... (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), 'Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka.'" (Q.S. Ali Imran: 191)
Kita sebagai hamba bisa apa dengan kehendak Allah? Mengingat lagi tentang bahasan free will, qadha, dan qadar: kita hanya bisa menerima kehendak Allah, mensyukuri semua yang ditentukan oleh-Nya, serta fokus pada pilihan-pilihan yang kita buat, apakah berpahala atau tidak. Terhadap takdir Allah kita berserah, tetapi terhadap area yang bisa kita ikhtiarkan … kita melakukan usaha terbaik yang mendatangkan keridaan-Nya. Memang berat untuk dipahami dan dilakukan, tetapi inilah amunisi yang kita miliki sebagai seorang muslim. Ketika mendapat kebahagiaan kita bersyukur, ketika mendapat kesedihan kita bersabar.
Keyakinan kepada Allah, inilah satu-satunya yang kita punya. "... boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." (Q.S. Al-Baqarah: 216)
![]() |
| Tahun 2013 ketika anak sulung masih berusia lima tahun |
Sejak anak-anakku kecil, selalu ada tempat main murah meriah yang mereka sukai dan saban minggu kami datangi: bandara dan stasiun kereta api. Dulu ketika nonpenumpang masih gampang masuk ke peron, hampir tiap pekan kami pergi ke stasiun karena mereka suka sekali melihat kereta api. Mereka betah menghabiskan waktu berjam-jam untuk memandangi kereta yang lalu-lalang, sambil sesekali bertanya mengenai hal-hal yang tidak mereka pahami. Namun, ketika peron sudah diperuntukkan bagi penumpang yang memiliki karcis saja, kami sudah jarang main ke stasiun lagi. Mengintip-intip kereta api di sela-sela pagar—karena tidak bisa masuk ke peron—lama-lama terasa tidak mengasyikkan bagi anak-anak.
Lain halnya dengan bandara. Sejak dulu hingga sekarang—yah, paling tidak hingga kami pindah dari Bandung—nongkrong di pinggir TPU Sirnaraga yang berbatasan dengan runway menjadi menu biasa setiap akhir pekan. Ada spot menarik di situ, tempat kita bisa dengan leluasa menikmati pemandangan pesawat landing dan take-off. Dulu bentuknya berupa bangunan lawas yang bisa dinaiki bagian atapnya. Bangunan yang sudah terbengkalai itu ramai orang kala weekend. Pada suatu ketika bangunan tersebut dirobohkan, tetapi hal itu tidak menyurutkan antusiasme orang untuk melihat pesawat di spot yang sama.
Sebelum pandemi melanda dunia, tempat di ujung runway ini merupakan objek wisata murah meriah bagi masyarakat kelas menengah ke bawah. Murah karena tanpa tiket masuk (paling banter cuma bayar parkir), meriah karena menyenangkan buat anak dan bisa dijadikan ajang menambah pengetahuan jika kita pintar-pintar menyelipkan info sains tentang pesawat terbang. Di sekeliling lahan kosong yang dijadikan tempat parkir kendaraan, orang juga ramai menggelar dagangan makanan dan mainan. Suasananya mirip dengan Gasibu kala hari Minggu pagi: ada gerobak-gerobak makanan, ada meja dan kursi sederhana untuk makan di tempat, ada komidi putar, ada penjaja mainan, dsb.
Ketika anak-anak sudah mulai besar, mereka tak lagi sekadar menikmati pesawat landing dan take-off belaka. Aktivitas plane spotting yang mereka lakukan semakin mengasyikkan. Mereka mulai berdiskusi mengenai mekanisme mesin pesawat terbang sembari memasang mata pada aplikasi pelacak pesawat yang terpampang di layar smartphone. Kadang-kadang mereka membawa teropong untuk mengawasi pesawat yang mulai mendekat. Kemudian ketika mereka mulai terbiasa mengunggah video di Youtube, mereka juga asyik mengambil gambar lewat kamera ponsel.
Tempat main anak memang tak harus mahal. Keingintahuan anak yang selaras dengan minat mereka bisa diwujudkan melalui hal-hal sederhana, tinggal orang tua yang pintar-pintar menangkap minat anak dan memfasilitasinya. Aktivitas mengunjungi stasiun dan bandara juga kami lengkapi dengan membeli buku-buku yang menunjang pengetahuan seputar moda transportasi dan mengizinkan mereka untuk melihat tayangan terkait di Youtube. Mudah-mudahan hal ini akan dikenang sebagai dunia main yang menyenangkan ketika mereka dewasa kelak.
Balik lagi ke pertanyaan awal: sejatinya apa, sih makna rumah itu? Let’s check this out.
Sebagai hamba Allah tentunya kita harus kembali pada definisi Allah dalam memandang segala sesuatu. Dalam tafsir ayat di atas, Allah mengatakan bahwa rumah adalah tempat tinggal yang memberi kita ketenangan dari berbagai gangguan lahir dan batin. Allah juga menjadikan rumah dalam bentuk kemah-kemah yang ringan dan mudah dibawa pada waktu bepergian dan untuk digunakan saat bermukim di tempat tertentu.
Sebagai tempat ibadah untuk meraih keridaan Allah.
Sebagai madrasah tempat tarbiyah (edukasi dan pembinaan) dalam mendidik pasangan dan anak-anak.
Sebagai benteng untuk menjaga iman keluarga.
Sebagai sumber ketenangan dan tempat istirahat melepas lelah.
Sebagai tempat silaturahim.
Sejak berkeluarga hingga saat ini aku telah berpindah-pindah di empat rumah, salah satunya adalah rumah kontrakan. Entah karena diriku ini seorang melankolis atau bagaimana, selalu ada perasaan sedih dan haru kala harus meninggalkan rumah lama untuk berpindah ke rumah baru. Memori bertahun-tahun berkelebat dalam benak semata-mata karena terlampau banyak kenangan yang melibatkan perasaan, tertinggal di sana. Rumah-rumah itu bukan hanya bangunan fisik buatku, lebih jauh dari itu: mereka adalah home yang menjadi saksi keluargaku mencinta dan bertumbuh. Rumah-rumah itu … adalah juga keluarga bagiku 🥺
Kembali ke Q.S. An-Nahl: 80, Allah menjadikan rumah sebagai tempat kesenangan sampai waktu tertentu. Mengapa demikian? Tentu saja karena dunia ini fana. Pada hakikatnya semua kepemilikan kita di dunia ini hanya sementara. Ayat ini menjadi pelipur lara bagiku karena menyadarkan bahwa kampung akhirat adalah rumah yang sebenar-benarnya, tempat kita semua akan kembali.