Sunday, August 21, 2005

Ve dan Semester Baru

Kemarin benerin si Ve ke Kawasaki pusat di Sukarno-Hatta. Wah, habisnya banyak juga: 199.500 repes. Itu buat ganti kaca reflektor, ganti kaca spion kanan, beli accu, plus benerin rem. Jadi malah ketauan kalo ternyata bagian-bagian lain juga butuh perbaikan. Aduh, kapan-kapan aja deh. Udah habis hampir 200 ribu repes gitu. Pulang dari bengkel malah jadi sedih. Bukannya ngerasa lebih baik, aku malah ngerasa Ve jadi punya banyak masalah. Aduuuuhhhh...

Besok udah mulai kuliah lagi. Semester baru, semangat baru. Eh, semangat baru? Iya gitu? Aku pernah baca di Intisari, katanya intuisi itu berbatas tipis dengan realita. Jadi kalau kita punya afirmasi yang secara sadar atau tanpa sadar kita tanamkan berulang-ulang ke diri kita, maka realita yang terjadi akan mengikuti afirmasi itu, karena afirmasi telah berubah menjadi intuisi. Hehe, bingung tak? Pokoknya mah, positive thinking aja. Afirmasi negatif akan membuat realita ikut jadi negatif, afirmasi positif akan membuat realita ikut jadi positif.

Jadi kalau aku terus-terusan bilang cita-cita lulus Maret itu berat, mungkin bakal nggak jadi lulus Maret beneran gitu? Meskipun berat beneran, berarti harus bikin afirmasi positif nih. Oke Yus, kamu pasti bisa. Padahal semester ini masih 20 SKS. Huahahaha, ini mah, afirmasi positif yang skeptis. Mungkin aku harus bikin teori baru tentang mimpi yang jadi realita :p

Saturday, August 20, 2005

Fe

Bicara soal Ve tempo hari, aku jadi pengen bicara soal Fe juga. Lho, Fe itu siapa lagi? :) Fe itu kompie-ku, kependekan dari felicity (kebahagiaan yang besar). Kebiasaan memberi nama pada benda-benda yang dekat dengan kita, ternyata menambah rasa sayang pada benda-benda yang bersangkutan. Sudah sejak lama aku menamai boneka-boneka yang memenuhi kamarku (yang paling baru namanya Furry (karena bulunya lembut banget!), pemberian dari seseorang). Kini giliran motor dan kompie-ku kunamai.

Balik ke Fe, kompie-ku itu bener-bener bawa kebahagiaan yang besar. Thanks to Papi, yang dengan gampang meluluskan keinginanku untuk punya kompie sendiri sejak awal tahun 2002 lalu. Segala hal jadi jauh lebih mudah sejak Fe hadir. Kalau diperhatikan, program yang paling sering digunakan ternyata Winamp dan Microsoft Office. Ya iyalah, kan paling seneng nulis sambil dengerin musik :) Pokoknya Winamp itu wajib.

Sayang, Fe kemarin kena virus. Udah gitu, Norton 2004 yang installer-nya pinjeman dari temen, ternyata trial version. Setelah expired, di-uninstall nggak bersih-bersih juga. Nggak tahu kenapa (ada yang bisa bantuin?). Wuih, nggak pantes banget jadi anak komputer. Habis ternyata aku gaptek juga :p

Friday, August 19, 2005

Damai di Kuta

Sebulan telah berlalu semenjak kaki ini menapak Kuta. Rangkaian perjalanan meninggalkan banyak kisah, tapi tak ada yang sebanding dengan damai yang kurasa malam itu di tepian Kuta.

Malam itu, menjelang tengah malam, Kuta menitipkan damai yang luar biasa ke dalam tiap penjuru relung hatiku. Cahaya yang berpendar warna-warni sepanjang jalan tak mampu menghalau sepi dan gulita yang merayapi Kuta. Daun-daun pohon yang melambai seolah meningkahi debur ombak di kejauhan. Kemilau bintang turut berdendang bersama sinar bulan di balik kapas awan yang bergeser pelan. Gelak tawa dan suara kecipak air mengiringi langkah tiga sobatku yang sedang berlarian.

Tapi aku tidak bersama mereka, meski ragaku nyata ada. Kakiku yang tak beralas memang tengah merasai lembut pasir Kuta, tapi jiwaku sibuk melayang bersama simfoni alam. Jantungku berdenyut bersama debur ombak yang memecah keheningan. Mataku mengerjap bersama cahaya bulan, yang dengan perlahan membuatku berkaca-kaca. Nafasku berhembus bersama belaian angin malam yang melantunkan orkes sunyi. Sementara telingaku menangkap suara seseorang yang tengah kurindu di seberang. Malam itu, segala ego rebah musnah. Hanya ada satu hasrat: menyatu dengan damai suasana.

Sungguh, tak mampu aku lukiskan malam itu dengan sebenar-benarnya. Lautan kata-kata takkan pernah cukup menggambarkan lautan damai yang berlimpah-limpah mengaliri hatiku. Ingin benar aku kembali ke sana, kembali berbagi damai dengan semesta Kuta menjelang tengah malam.

Wednesday, August 10, 2005

Kura-Kura

Seorang teman mengatakan bahwa saya mirip kura-kura. Saya tak pernah betul-betul menyadarinya sampai ia berkata demikian.

Seekor kura-kura senantiasa berjalan lambat-lambat dengan segala kesendiriannya. Kadang ia berhenti sejenak untuk mengamati sekitar, kemudian kembali melanjutkan pengembaraan dalam keterasingan. Ia bahagia bertemu dengan air. Ia bahagia bertemu dengan sesamanya. Namun, ketika ia terluka, ia akan sepenuhnya menarik diri dari dunia luar, dari hal-hal yang dirasa melukainya. Ia akan mengurung diri rapat-rapat dalam tempurungnya, hingga orang lain tak tahu apa yang dirasakannya di dalam sana.

Pun bagi saya, dunia luar selalu memberi sensasi-sensasi tak terbayangkan. Melukai dan dilukai. Mencintai dan dicintai. Melupakan dan dilupakan. Ternyata butuh perenungan yang panjang, untuk sekedar memahami hidup...

[Apakah itu sebabnya, kura-kura sering berusia puluhan hingga ratusan tahun?]

Tuesday, August 09, 2005

Ve

Ve terluka lagi! Kali ini bukan salahku. Saat menungguku di pinggir jalan, Ve-ku yang malang tersenggol motor orang. Lalu jatuh dengan suksesnya.

Bukan main terkejutnya aku kala mendapatinya tertunduk sedih dengan wajah berantakan. Aduh, makin compang-camping saja penampilannya. Bikin aku merana melihatnya.

Ve-ku sayang, bersabarlah. Kelak akan kubawa kau ke tempat orang yang bisa membuatmu cantik kembali.

(Ve adalah motorku tersayang. Kependekan dari velocity. Kaca lampu depan, kaca spion, dan kaca helmnya pecah berantakan ketika jatuh di parkir Landmark Braga kemarin. Untung dapat kompensasi ganti rugi.)