Monday, May 25, 2015

How to Deal with Negative People

“What do you do when you hear that someone is speaking negatively about you? It's easy to try and defend yourself, explain that you're not like that, and get offended or angry at them. It's way harder to turn the other cheek and walk undefended through their murky emotional storm. Try forgiving them, loving them anyway and even maybe concede their points against you (because if you're about to get all worked up about it, then they probably do have a point). Love is the answer, especially when what feels most appropriate is to wage a war. What's the purpose of all these handstands if you can't be strong enough to be nice all day? Yoga has taught me how to bend when I would normally break and how to be strong enough to withstand a few harsh words being thrown my way without fighting back and lashing out.” (Kino MacGregor)

Di tengah kedukaan yang aku alami, aku mendengar selentingan gosip di kantor tentang mengapa aku absen begitu lama. Beberapa orang muncul dengan spekulasinya masing-masing tentang mengapa aku harus bedrest. Sebagian mereka beranggapan bahwa aku mengalami pendarahan gara-gara aku melakukan yoga, atau gara-gara aku melakukan inilah, itulah, dsb. Padahal aku sudah menghentikan semua aktivitas olahraga semenjak aku tahu kalau aku hamil (oh come on, semenit dua menit #strikeapose tentu tidak terhitung sebagai olahraga). Padahal aku sudah meletakkan semua hal sesuai proporsinya, maksudku ketika dokter menyuruhku bedrest, aku pun bedrest. Semua anjuran dokter aku turuti, dan aku selalu minum obat sesuai resep.

Tapi itu toh tak menghentikan apa yang sudah terjadi. Kontraksi tetap berlangsung dan aku tetap kehilangan bayiku. Di saat aku mulai menerima hal ini sebagai takdir-Nya tanpa menyalahkan siapapun, orang-orang malah muncul dengan judgement-nya yang menudingku sebagai biang kesalahan.

Pada mulanya aku marah sekali mendengarnya. Mengapa orang-orang itu tak bersimpati dengan kedukaan yang aku alami? Kemudian aku tersadarkan, bahwa tidak semua hal bisa dimengerti oleh semua orang. Dan seperti kutipan di atas, mungkin aku tidak harus melakukan klarifikasi dan membela diri. Yaaa sah-sah saja sebenarnya kalau aku mau begitu, tapi mungkin itu bukan hal yang tepat, dan bisa jadi malah tidak membawa kebaikan. Aku tidak bisa mengontrol orang lain dengan segala respon, tindak tanduk, dan omongan mereka. Yang aku bisa kontrol adalah diriku sendiri.

So I’ll keep moving on. Biarlah tulisan ini menjadi klarifikasi bagi mereka tentang apa yang sudah terjadi.

“Everything is a gift ... Even on the worst of days and dealing with negative people there is a lesson to be learned and a blessing to be revealed. I can't change other people but I can change how I respond. It took me many years to understand this but it is the one action on my part that has brought peace to my life. Don't try to change them ... Just change you.” (Kerri Verna)

“Make peace with yourself, your whole self, complete with all your complex thoughts, intense emotions, your pleasure, your pain. Accept it all with an open heart and surrendered spirit and you will make peace with the world around. If you're ok with yourself then it's way easier to be ok with everyone else. So often what bothers us about others or our environment is just a trigger for something inside. Unwind the mind, free the body and let the peace of the inner being fill you up from the inside.” (Kino MacGregor)

Tuesday, May 19, 2015

Biarkan Aku Berduka

“It is how we respond to suffering that makes us yogis in the world. One thing that I've learned is that there is no right way to deal with grief. Some people feel it right away, some people never get over it, some people run from it until they're ready. Eventually even the toughest times bring us all closer to the seed of awakening and wisdom that comes from an open, strong heart and that carries us through whatever hardship we face with wings of faith.” (Kino MacGregor)

Rasanya masih seperti mimpi. Kadang aku masih merasa hamil, dan butuh waktu beberapa detik untuk menyadari bahwa aku tak lagi berbadan dua. Kehamilan keempat yang harus berakhir pada minggu ke-14 ini menorehkan lubang besar di dalam hatiku. A big hole that cannot be filled by anything and makes me feel so empty.

Aku menyadari bahwa diriku hamil pada minggu pertama bulan Maret 2015. Beberapa hari sebelumnya aku sudah melakukan tes kehamilan dengan hasil negatif. Tapi aku sudah merasa kemungkinan besar aku hamil. Dan benar saja, tes kehamilan kedua menampakkan hasil positif. Kehamilan yang memang sudah kunantikan, meskipun hampir tak percaya ia datang begitu cepat setelah setahun sebelumnya mengalami keguguran karena janin tidak berkembang.

Strip dua di awal Maret 2015

Aku dan suamiku sudah lebih siap kali ini dibanding tahun lalu. Aku menyambut kehamilan keempat ini dengan sukacita, berharap akan melahirkan bayi perempuan. Begitu tahu kalau aku hamil, aku langsung menghentikan semua aktivitas olahraga. Pada usia kehamilan minggu ke-4 aku mengalami flek. Beberapa kali berkunjung ke dokter kandungan dan mendapat obat penguat, lalu sempat juga bedrest, namun flek tak kunjung berhenti. Aku sudah pasrah akan mengalami keguguran lagi. Namun takdir berkata lain, janin berkembang dengan baik dan pada minggu ke-9, flek berhenti. Aku kembali bergembira dan merasa lebih kuat. Kondisi janin sangat bagus dan aku merasa ia akan bertahan sampai saatnya lahir nanti.

Sabtu, 2 Mei 2015. Minggu ke-13, sepuluh hari sebelum ia pergi.

Senin, 11 Mei 2015


Hari-hari berlalu hingga akhirnya hari itu tiba. Senin itu aku bangun pagi dan mendapati flek di pakaian dalam. Kesibukan pagi memaksaku abai sejenak, hingga kemudian aku merasa ada yang berbeda. Perut bagian bawah terasa sakit seperti nyeri kala haid. Dan ketika aku tiba di kantor, setelah menyelesaikan beberapa pekerjaan, sepanjang pagi itu aku hanya berbaring karena mulas tak kunjung hilang. Menjelang tengah hari, flek kecoklatan itu telah berubah menjadi merah segar seperti darah. Seketika aku panik, dan setelah menjemput Dek Abi, aku bergegas pergi ke rumah sakit.

Dokter mengatakan aku mengalami kontraksi. Lewat USG, kondisi janin terdeteksi baik dan masih aktif bergerak. Dokter memberiku obat anti kontraksi dan menyuruhku bedrest di rumah. Dia juga bilang, kalau aku tak mau bedrest, bisa-bisa aku dirawat inap untuk diberikan obat anti kontraksi melalui infus. “Obatnya cuma satu, Bu. Istirahat,” demikian katanya. Maka aku pun pulang dan hanya tiduran saja di rumah.

Menjelang maghrib mulas menghebat. Rasanya seperti mulas akan bersalin. Ketika puncak gelombang kontraksi datang, aku sampai meremas-remas sprei saking sakitnya. Suami masih dalam perjalanan Papua-Jakarta. Telepon genggamnya mati, padahal aku butuh saran untuk bertindak. Mami menyarankanku untuk segera pergi ke rumah sakit. Aku mengulur waktu sejenak, berharap mulas mereda. Tapi ternyata mulas masih menghebat dengan jarak kontraksi per 6-7 menit. Akhirnya sekitar pukul 21.00 aku memutuskan untuk pergi ke rumah sakit. Aku pergi sendiri dengan taksi setelah mencium anak-anak dan mendengar Hanif berkata, “Aku sayang Bunda”. Di dalam taksi yang meluncur membelah jalanan yang mulai sepi, aku terus mengelus perut dan bergumam pada dedek bayi, “Please be safe, please be safe”.

Di IGD Kebidanan, para perawat dengan sigap dan ramah menanganiku. Dokter kandungan yang dikontak akhirnya meresepkan obat anti kontraksi lewat infus, obat ini dosisnya lebih tinggi dibanding obat oral. Beruntung seorang teman datang malam itu dan membantuku mengurus registrasi rawat inap, serta membawakanku minum dan cemilan ringan. Terima kasihku untukmu, Mbak cantik. Semoga Allah membalas kebaikanmu dengan pahala yang berlipat. Setelah diberi obat infus, kontraksi mereda namun masih ada. Pada pukul 00.35, aku dipindah ke kamar rawat inap.

Selasa, 12 Mei 2015


Menjelang pukul 03.00 suami datang, mencium keningku lalu beranjak tidur di sofa. Aku maklum, dia pasti letih. Aku melanjutkan tidur kembali. Sekitar pukul 07.00 dokter datang. Pada saat itu aku memang sudah merasa lebih baik. Aku dapat tidur dengan nyenyak karena kontraksi sudah mereda. Meskipun tak bisa kupungkiri, rasa mulas itu masih sedikit ada. Tampaknya saat itu dokter memutuskan untuk mengganti obat anti kontraksi dengan jenis lain yang dosisnya lebih rendah, karena beranggapan aku sudah membaik. Masih lewat infus tentu saja. Dalam kurun waktu itu, secara rutin perawat memeriksa detak jantung janin dan mendapati kondisinya baik.

Beberapa saat setelah obat diganti, aku kembali merasakan mulas yang kian lama kian menghebat. Makin lama makin sakit dan frekuensinya menjadi lebih sering. Gelombang kontraksi makin rapat hingga menjadi per 3 menit. Rasanya persis seperti akan bersalin. Puncaknya pun tiba. Pukul 10.00 lebih, pada suatu puncak kontraksi yang cukup sakit, tiba-tiba aku merasa ada cairan cukup banyak keluar, mengalir dari bagian bawah tubuhku hingga membasahi pakaian dan sprei. Dengan panik suamiku memanggil perawat. Dua orang perawat datang tergopoh-gopoh, dan setelah memeriksa, salah seorang dari mereka berkata, “Ini ketubannya pecah”. Dokter kandungan pun segera dikontak, sementara para perawat terus mengobservasiku.

Duniaku seakan runtuh ketika akhirnya perawat memberitahu kami bahwa bayiku tak dapat dipertahankan lagi. Mereka mendapati aku sudah mengalami bukaan tiga, dan cepat atau lambat bayiku akan keluar. Mekanismenya mirip sekali dengan persalinan. Sejak ketuban pecah, para perawat kesulitan mendeteksi detak jantung janin. Aku tak tahu bagaimana keadaannya, dan aku dihadapkan pada kenyataan bahwa aku harus merelakan kepergiannya.

Setelah itu aku dibawa ke ruang bersalin untuk mempersiapkan persalinan. Dokter memutuskan aku diberi semacam obat untuk memacu kontraksi agar jalan lahir semakin membuka. Mereka akan menungguku bersalin secara normal dan bayi keluar secara alami. Saat itu, posisi bayi sudah ada di jalan lahir dan detak jantungnya tak lagi terdengar. Menjelang maghrib, dokter membantuku bersalin. Bayi keluar dengan mudah dalam sekali mengejan, dalam kondisi meninggal tentu saja. Plasenta tak bisa langsung keluar, maka mereka menunggu selama beberapa jam sebelum akhirnya dokter memutuskan untuk dilakukan tindakan kuretase keesokan harinya.

Malam itu di ruang bersalin aku menatapnya. He was just so tiny, so innocent. Sosoknya sudah hampir sempurna laksana bayi, hanya saja dalam ukuran mini. Jenis kelaminnya laki-laki, jari-jari kaki dan tangannya pun sudah lengkap. My poor son, dia pasti tak memilih untuk dilahirkan dalam kondisi demikian. I really really feel sorry for him. Malam itu juga suami membawanya pulang untuk dimandikan dan dikafani.

Rabu, 13 Mei 2015


Keesokan harinya aku didorong menuju ruang bedah untuk dikuret. Aku pernah mengalaminya setahun lalu, jadi aku tahu bahwa aku akan dibius total dan tak akan merasakan apapun. Tak ada kekhawatiran sedikit pun soal tindakan kuretase ini. Pikiranku justru melayang kepada bayiku. Ketika aku dikuret untuk mengeluarkan sisa plasenta, jenasahnya dikebumikan. Dalam sunyi, dalam keheningan. Hanya ada suamiku, papiku, dan Pak Ustadz. He went straight to heaven insya Allah.

Selesai dikuret, di tengah-tengah pening yang masih melanda, aku memeriksa telepon genggam. Suami mengirim foto sebuah pusara mungil yang ditaburi dengan bunga. Diberinya caption: makam dedek Muhammad Firdaus Martono. Ah, bayiku sudah diberi nama rupanya.

Makam dedek Muhammad Firdaus Martono

Now What?


Seminggu telah berlalu. Di hadapan semua orang aku tampak tegar, tapi di malam-malam yang sunyi air mataku menetes. I miss my baby so much. I feel like I love him more and more, even when he's gone.

The worst thing is: it’s just me and my grief, I have no one to talk to. Not even my husband. Kami jarang membicarakan perasaan kami secara terbuka, dia bukan tipe orang yang seperti itu. Dia tak tampak sedih karena katanya dia sudah ikhlas. Yah, bukan berarti aku tidak bisa ikhlas. Hanya saja, ada kekosongan dan kehampaan yang aku rasa, yang tak bisa kudeskripsikan dan kurasa juga tak akan mudah dimengerti oleh orang lain.

Alasan mengapa aku tak membicarakan hal ini dengan orang lain juga adalah kekhawatiran mengenai pandangan mereka. Sebagian dari mereka mungkin menganggap ini bukan kehilangan yang besar, ia hanyalah janin berusia beberapa bulan. Sebagian dari mereka berkata “Let it go”, atau “Ikhlasin aja”, dan aku khawatir mereka beranggapan aku tak punya keimanan jika aku terlalu lebay berduka cita. But still, this is a great loss for me, and it’s the hardest moment in my life.

Yang membuatku merasa semakin nyesek adalah kenyataan bahwa sampai detik terakhir, kondisi bayiku masih bagus—tidak seperti tahun lalu yang memang berhenti berkembang. Sampai sesaat sebelum ketuban pecah, jantungnya masih berdetak normal dan ia masih aktif bergerak. Hanya karena ketuban pecah, ia menjadi kehilangan lingkungan tempat hidup, dan kemudian ia tak mampu bertahan.

Aku sedang terus berusaha menata hati untuk menerima semua kejadian ini sebagai bagian dari takdir-Nya. Kalau mau menyalahkan seseorang, aku bisa saja menyalahkan keputusan dokter menurunkan dosis obat anti kontraksi sehingga membuat mulasku menghebat kembali dan membuat ketuban pecah. Tapi bukan di situ masalahnya. Kalaupun waktu itu aku lolos dari kontraksi, mungkin suatu hari kontraksi akan berulang kembali—karena rahimku tidak cukup kuat, begitu kata dokter. Atau kalau mau menyalahkan diri sendiri juga bisa, karena aku sempat mengendarai motor sehari sebelum kontraksi—kalau memang itu penyebabnya. Meskipun ketika kuingat-ingat lagi, Sabtu-Minggu itu aku santai sekali: tidak bepergian jauh, tidak mengerjakan aktivitas yang berat, melainkan hanya menemani anak-anak menghabiskan akhir pekan di rumah. Jadi kurasa, memang ini semua adalah bagian dari takdir-Nya. Menyalahkan seseorang, atau diriku sendiri, atau keadaan, tidak akan membuat bayiku hidup kembali.

Never thought in million years that I would have my kid’s tomb to visit. Rest in peace ya, Dek. Di surga tentu lebih enak dan nyaman dibanding bersama Bunda. You'll always be loved, you'll always be remembered. Aku yakin suatu hari nanti waktu akan menyembuhkanku. In the meantime, biarkan aku berduka dan mengenangnya…

“Bunda kangen sama kamu, Dek. Bunda kangen hoek-hoek lagi, sambil mikir makanan apa yang bisa masuk hari itu. Bunda kangen elus-elus perut dengan kamu ada di dalamnya. Bunda kangeenn sekali. 
Sedang apa kamu di sana, Dek? Kangen juga kah sama Bunda? Tumbuh sehat dan kuat di sana ya. Bunda menantikan saat itu, saat di mana kamu akan menjemput Bunda di pintu surga-Nya. I love you and I miss you so much.”

Monday, May 11, 2015

Puding Roti

Sekalian oven panas untuk memanggang cheese cake, sekalian aku memanggang puding roti yang simpel dan gampang cara membuatnya. Resep ini aku contek dari Naura Cakes and Cookies. Puding roti ini bisa disantap hangat maupun dingin, keduanya sama nikmatnya.

Bahan-bahan

Puding roti

Resep Puding Roti


Bahan:
  • 3 lembar roti tawar
  • 500 mL santan (bisa juga diganti susu cair, tapi lebih gurih menggunakan santan)
  • 1 butir telur
  • 3 sdm gula pasir
  • 1 sdm margarin
  • ¼ sdt garam
  • Sejumput kayu manis bubuk
  • Vanilla powder secukupnya
  • Kismis secukupnya (aku menggunakan sukade)
  • Irisan daun pandan

Cara membuat:
  • Roti tawar disobek-sobek kemudian direndam dengan santan.
  • Kocok asal campur (pake whisk atau garpu saja): telur, gula pasir, garam, kayu manis bubuk, dan vanilla powder.
  • Masukkan campuran roti tawar ke dalam campuran telur, aduk rata.
  • Masukkan margarin yang sudah dicairkan.
  • Tuang ke loyang/mangkuk tahan panas yang bawahnya sudah kita tata irisan daun pandan.
  • Taburi kismis, kukus/oven kurang lebih 45 menit.

Cheese Cake

Akhir pekan 9-10 Mei lalu aku dan anak-anak tak pergi ke mana-mana. Pasalnya suamiku tak bisa pulang karena urusan pekerjaan di Papua, jadi aku pun malas jalan-jalan hanya dengan anak-anak saja. Kami sempat keluar sebentar mengantarkan Hanif les robotik, selanjutnya kami hanya bersantai di rumah. Daripada manyun, aku akhirnya membuat cheese cake, menjajal resep yang kudapat dari teman kantor beberapa hari sebelumnya.

Bahan-bahan

Adonan siap dipanggang

Cheese cake yang yummy!

Resep Cheese Cake


Bahan:
  • 200 gram cream cheese
  • 60 gram gula pasir
  • 2 butir telur
  • 150 mL whipped cream rasa plain
  • Perasan air lemon dari 1 butir lemon (aku menggunakan jeruk nipis)
  • Yoghurt plain secukupnya
  • 25 gram tepung terigu


Topping:
  • Selai jeruk
  • Irisan buah strawberry


Cara membuat:
  • Biarkan cream cheese dan whipped cream dalam suhu ruang.
  • Campurkan cream cheese dengan gula pasir, kocok menggunakan mixer dengan kecepatan tinggi.
  • Masukkan telur, kocok lagi.
  • Masukkan whipped cream, perasan air lemon, dan yoghurt, lalu kocok hingga rata.
  • Masukkan terigu, kocok dengan kecepatan rendah.
  • Tuang adonan ke loyang.
  • Panggang dalam oven bersuhu 180°C selama 40 menit.
  • Setelah agak dingin, olesi permukaan kue dengan selai jeruk dan beri topping irisan buah strawberry.

Monday, May 04, 2015

Cookie Bars

Mengakhiri long weekend, fun cooking kemarin adalah membuat cookie bars dengan topping biskuit oreo. Resep ini aku dapat dari Tia, owner dan chef dari brand kue Rockybars yang enakkk bangettt. Saking enaknya, Rockybars ini jadi cemilan andalanku untuk mood booster. Dapat juga dijadikan oleh-oleh wajib buat para wisatawan yang berkunjung ke Bandung, apalagi buat yang suka sekali dengan coklat.

Bisa dibilang resep cookie bars ini resep basic-nya Rockybars, meskipun ya teuteupp lebih enak kalau makan Rockybars yang asli hehehe. Selain enak, resep ini simpel (tidak perlu pakai mixer lho) dan membuatnya pun cuma butuh waktu kurang dari 40 menit! Tinggal pakai bahan-bahan dasar kue yang ada di rumah, dan sesuaikan topping-nya dengan bahan yang kita punya. Aku sudah sering membuat resep ini, kadang pakai topping keju, kacang almond, oreo, choco chips, atau cuma taburan meises coklat.

1. Bahan-bahan yang ada di rumah, 2. Campuran adonan, 3. Choco chips sebagai filling

Siap dipanggang

Ini dia cookie bars yang sudah jadi :)

Resep Cookie Bars


Bahan:
  • 85 gram butter
  • 80 gram gula (campuran antara gula palem dan gula pasir)
  • 1 butir telur
  • 120 gram tepung terigu
  • Sedikit garam
  • 70 gram choco cincang / choco chips untuk filling


Topping:
Oreo cincang kasar

Cara membuat:
  1. Aduk butter dan gula hingga rata.
  2. Masukkan telur, aduk rata.
  3. Masukkan garam dan terigu secara bertahap, aduk pelan hingga rata.
  4. Masukkan filling, aduk hingga tercampur.
  5. Tuang adonan ke loyang, ratakan.
  6. Taburi dengan topping.
  7. Panggang dalam oven bersuhu 180°C selama 15-20 menit.


Tips: jangan terlalu banyak mengaduk supaya kue tidak bantat.

Monday, April 27, 2015

Melatih Anak Mendalami Maintenance Tool

Beberapa saat lalu aku mendapat broadcast menarik yang berseliweran dari grup-grup Whatsapp. Rasanya sayang kalau tidak disimpan, karena isinya bagus sekali. Aku copas ke blog saja supaya bisa diakses lagi sewaktu-waktu kalau dibutuhkan.

------------------------------------------------------------------------

Psycho Coffee Morning
Oleh : Ani Ch, penulis buku dan praktisi pendidikan keluarga
Selasa, 14 April 2015

Maintainance Tools (Part 1)


πŸ’ΌπŸ‘œπŸ’ΌπŸ‘œπŸ’ΌπŸ‘œπŸ’ΌπŸ‘œπŸ’ΌπŸ‘œ

Dodit sudah duduk di atas motor, di depan rumah siap berangkat! Dinda istrinya masih mbulet di dalam rumah, "Dinda...cepetan..aku nanti telat" kata Dodit. "Iya sebentar" jawab Dinda sambil teriak. 
"Sorry...nyari dompet nggak ketemu2 tadi...untung akhirnya baru ingat, di atas kulkas" jawab Dinda ketika akhirnya keluar rumah.

Sampai dikantor, Dinda sudah telat 5 menit, alamat dimarahi pak bos..Beneran baru naruh tas, interkom sudah bunyi..tut tut..Dinda, ke ruangan saya ya..tiiit. Telpon langsung ditutup.

Dinda masuk ruangan pak bos, langsung dikasih instruksi, "Proposal yg sudah kamu buat kemarin...revisi ya, terutama di bagian penawaran harga, naikkan 5% ya. saya tunggu revisiannya pagi ini juga. Lalu kamu ikut saya, sudah siap presentasi ke klien kan?" Sip...gak nanya telat, batin Dinda..

Sampai di meja kerjanya...Dinda baru ingat..alamaakk, proposalnya kan aku bawa pulang utk kupelajari spya siap presentasi..dan KETINGGALAN. Oke...tenang Dinda..kan ada file nya..kita buka, sekalian revisi..lalu di print..Dinda mulai booting komputer sambil ngatur napas..pas buka folder..gak ketemu filenya...aduuuh, dari kemarin mau kurapikan dlm folder2 gak sempet..akhirnya ratusan file ini kayak hutan belantara..judul filenya lupa lagi..jadi nggak bisa di search..ini doc1 doc2 kok byak sekali...aduuuhh pusing.

πŸ’ΌπŸ‘œπŸ’ΌπŸ‘œπŸ’ΌπŸ‘œπŸ’ΌπŸ‘œπŸ’ΌπŸ‘œ

Kenapa Dinda pusing? Karena sewaktu kecil...kemandirian fisiknya belum terlatih dg baik..utamanya pd aspek maintainance tools...Waktu kecil, Dinda kurang diberi pembiasaan mengelola benda2 sehingga ketika besar menjadi org yg tdk rapi dlm mengelola barang, sering lupa/kehilangan, juga menjadi seorang pekerja yg tidak terstruktur..sehingga pengelolaan aktivitasnya juga kacau..

Teman, inilah satu hal kecil yg perlu secara serius kita latih pd anak2, pembiasaan mengelola barang. Kita mulai dari yg sederhana..Pembiasaan Manajemen Tas.

πŸ’ΌπŸ‘œπŸ’ΌπŸ‘œπŸ’ΌπŸ‘œπŸ’ΌπŸ‘œπŸ’ΌπŸ‘œ

Manajemen Tas artinya mengelola tas..ada bbrp tahapan latihan manajemen tas pada anak,
1. Kita perlu sosialisasi pd anak tentang pentingnya merapikan tas, ya kalau anak..kaitkan saja dg sekolah, biar tdk ada buku ketinggalan, bisa belajar dg baik di sekolah, dst dst
2. Kita bisa mulai dg contoh, ortu mengambil tas nya sendiri & mulai mensimulasikan prosedur menyiapkan tas di malam hari seblum tidur. 
~buka tas, keluarkan semua isinya, buang yg termasuk sampah
~masukkan benda2 wajib setiap hari, alat tulis, tisue, dompet, & teman2nya
~liat jadwal besok, masukkan semua benda utk kebutuhan besok.
3. Kita melakukan proses menyiapkan tas, pd malam hari bersama anak, urutan aktivitas yg rapi akan memudahkan anak utk melakukan..agak mirip dg tas ortu tadi.
~Keluarkan semua isi tas, buang sampah.
~Siapkan keperluan wajib, alat tulis trutama..jika perlu pensil2 dirauti
~Berikan label utk semua benda yg dimiliki, nama..agar tidak tertukar dg teman atau jika hilang lebih mudah kembali
~Periksa jadwal besok dan masukkan semua keperluan utk besok

πŸ’ΌπŸ‘œπŸ’ΌπŸ‘œπŸ’ΌπŸ‘œπŸ’ΌπŸ‘œπŸ’ΌπŸ‘œ

Teman..ini pekerjaan sangaaaat sepele..tapi sungguh berdampak pada karakter jika kita kerjakan rutin..

Sebuah sekolah telah membuat program semacam ini, parenting berbasis pembiasaan aktivitas sehari2, terasa betul manfaatnya. 

Latihan manajemen tas mungkin hal biasa..tapi jika ini RUTIN dilakukan akan menyumbangkan bbrp manfaat
1. Anak terbiasa 'merencanakan' sblm aktivitas, sehingga akan jadi pribadi yg rapi, terstruktur, dan siap menghadapi esok hari krn sdh punya 'persiapan', nggak akan jadi anak yg 'gupuhan' atau panik'an, atau anak2 yg ketinggalan barangnya.
2. Anak belajar memilah 'barang yg tdk perlu' shg dilabeli sampah lalu dibuang & 'barang yg masih perlu', bayangkan jika ini diabstrakkan..anak belajar mana masalah yg perlu dilupakan & mana yg masih harus diurus utk diselesaiakn..keren kan..
3. Anak belajar melakukan klasifikasi benda2, benda penting & tdk, mana yg disimpan & mana utk besok. Sekali lagi bayangkan jika diabstrakkan, anak ini akan tahu mana urusan yg ditunda mana yg harus diselesaikan besok.

Mau melatih anak utk manajemen tas?


Sambungannya....
Psycho Coffee Morning
Oleh : Ani Ch, penulis buku dan praktisi pendidikan keluarga
Rabu, 15 April 2015

Maintainance Tools (Part 2)


πŸšͺ⏰πŸšͺ⏰πŸšͺ⏰πŸšͺ⏰πŸšͺ⏰

Vino masih tidur, ketika maminya masuk ke kamar kostnya, Vino tak bangun sama sekali..

"Aduuh...ini pintu nggak dikunci, kamar berantakan, ini buku2 pada berserakan di lantai..mangkuk mie..bungkus makanan...aduuuh..ini pasti abis begadang" gumam si mami. 

Akhirnya mami beresin kamar Vino, mami sampe tutup hidung, ada sisa maknan bau, handuk basah tidak dijemur, baju kotor numpuk di gantungan belakang pintu. Bahkan di kamar mandi, pasta gigi berceceran krn tdk ditutup, sampo tumpah, lantai licin krn tdk dibersihkan..2 jam lebih mami bersih2, dan akhirnya Vino terbangun...

"Woooaaahh...lho, mami...kapan dateng? Woooww, kamarku bersih sekali, mami abis bersih2 ya?"

"Kamu itu..sudah kost..harusnya latihan hidup mandiri, lebih rapi..sama aja, gak berubah..sampe kapan kamu begini? Kalo gak ada mami, mau berantakan terus..nanti kalau kamu sudah menikah, rumahmu akan berantakan begini juga?" Kata mami nyerocos.

"Ya nggak lah mi...ntar kalo aku nikah, kan ada istriku yg beres2 rumah" sahut Vino asal njawab aja...

Vino..oh vino...malang nian istrimu kelak...

πŸšͺ⏰πŸšͺ⏰πŸšͺ⏰πŸšͺ⏰πŸšͺ⏰

Teman, kenapa malang nasib istrinya kelak? Karena dia harus mengambil peran dominan dlm mengurus rumah, akan sulit melakukan pembagian tugas rumah tangga dg Vino..karena sejak kecil, Vino telah terbiasa dibantu maminya mengatur tetek bengek kamarnya. Kemandirian fisiknya tdk tuntas krn 'terlalu banyak dibantu', sehingga cenderung tdk bisa dlm mengatur kamrnya sendiri, tidak rapi, tdk ada yg pada tempatnya, bahkan tdk peduli dg kekotoran yg mengganggu.

Teman, inilah satu lagi hal kecil yg perlu secara serius kita latih pd anak2, agar tdk jadi kebiasaan buruk yg terbawa hingga besar, yaitu pembiasaan mengelola barang di kamar. Kita sebut saja latihan pembiasaan Manajemen Kamar.

πŸšͺ⏰πŸšͺ⏰πŸšͺ⏰πŸšͺ⏰πŸšͺ⏰

Manajemen Kamar artinya mengelola segala sesuatu yg ada di dalam kamar. Berikut inilah beberapa aspek kamar yg perlu dikelola,
1. Membiasakan anak utk meletakkan setiap benda di tempatnya. Buku di rak buku, segala alat tulis di meja belajar, baju bersih di lemari, baju kotor di tempatnya, gunting, hanger, tissue, sabun sampo di tempatnya, pasta gigi sikat gigi di tempatnya, dll.
2. Membiasakan anak utk merawat kebersihan kerapian kamar, menyingkirkan sampah membuang di tempatnya, membuka jendela setiap pagi, menutupnya ketika malam, menata selimut, bantal, guling dan sprei di pagi hari serta merapikan barang2 di kamar setiap kali akan meninggalkan kamar.
3. Membiasakan anak untuk memiliki pembagian waktu ketika di kamar, kapan bangun, berapa lama mandi, berdandan, beres2, kapan belajar, kapan tidur, berapa lama nonton tv, sampai jam brp boleh akses hp, internet, gadget2. Dan diskusi dg anak, tentang bagaimana ortu perlu mengingatkan anak jika tdk tepat jadwal.
4. Membiasakan anak utk siap menerima siapa saja di kamarnya walaupun dia tetep boleh punya privasi. Jika ortu ingin mengobrol, bisa masuk. Jika ada adik/kakak minta tolong maka siap membantu, jika ada tamu siap berbagitempat tidur dengannya.

πŸšͺ⏰πŸšͺ⏰πŸšͺ⏰πŸšͺ⏰πŸšͺ⏰

Teman..membiasakan anak mengelola kamar dg baik adalah sebuah simulasi baginya agar kelak bisa "mengelola rumah", tdk peduli laki2 atau perempuan..akan berumah tangga kan..latihan mengelola rumag dg mengelola kamarnya sendiri, dan bayangkan jika aspek2 kamar di atas bisa dilatihkan pada anak, akan sangat dahsyat dlm membentuk karakternya..
1. Anak akan belajar meletakkan segala sesuatu di tempatnya, bukan hanya utk barang2 tapi utk segala urusan..artinya dia akan mudah mencari barangnya, juga mudah menata pikiran dlm memandang urusan yg ditangani..gak mudah bingung.
2. Anak akan belajar utk menjaga dan merawat, bukan hanya barang2 tapi juga menjaga orang2 yg kelak jadi tanggung jawabnya.
3. Anak akan belajar utk punya jadwal, untuk membagi waktunya, utk melaksakan jadwalnya, utk punya komitmen dg rencana yg dibuat sendiri.
4. Anak akan belajar menerima orang lain, bahkan bisa melayani kebutuhan org lain, bisa jadi org yg memuliakan tamu jika nanti sudah punya rumah sendiri.

Weeew, Agak lebay? Tidak teman...sungguh bahwa perubahan sikap, pembangunan karakter anak harus dimulai dari hal2 yg kecil ini..sukses utk yg kecil, mudah utk mencapai yg besar.