Kritik (2)

Tuesday, April 22, 2008

Inilah perbincangan dengan suamiku (lewat sms) kemarin pagi.

Aku: “Waduh, makin banyak yang komentar di blog-ku, soal komentar Amorita itu. Kok aku ngerasa ‘diserang’ ya, Yang. Jadi sedih. Apa aku emang seburuk itu sih,Yang?”

Suamiku: “Kalau gitu di-delete aja, Yang. Biar nggak berlanjut-lanjut lagi. Tapi buat instropeksi juga, kita jadi bisa tahu mana yang baik dari comment itu.”

Aku: “Ah, Mas nggak jawab pertanyaanku. Jawab yang jujur ya. Mas kan yang paling tahu diriku. Apa aku emang seburuk itu?”

Suamiku: “Tentu nggak seburuk itu, Yang. Cuma istriku itu belum mau dan belum bisa dikritik. Kalau dikritik malah marah dan justru tidak mengambil hikmah dari kritikan. Kalau aku sih pasti menilai istriku adalah wanita paling baik sedunia.”

(Dalam hati) Wanita paling baik sedunia? Terima kasih karena telah mencoba menghiburku, Sayang. Tapi itu bukan jawaban yang kuharapkan.

Aku: “Kalau gitu mulai sekarang banyak-banyak kritik aku ya, Yang. Biar aku terbiasa.”

Yah, kuakui aku memang belum bisa bersikap dewasa menyikapi kritik. Dari dulu aku orangnya sensitif sekali. Sering punya pengalaman buruk dalam membina relasi dengan orang, karena kata-kata orang sering membuatku terluka. Hmm, jadi ingat, aku pernah menjaga jarak dengan seseorang yang tadinya sangat dekat hanya karena kata-katanya menghancurkan hatiku. Bukan, aku bukannya marah. Waktu itu aku jadi menjaga jarak karena takut terluka lagi. Rata-rata seperti itu: aku menjaga jarak atau memilih untuk tidak terlibat lebih jauh (atau lebih dekat) dengan orang karena aku takut terluka. Pengalaman pribadiku mengajariku bahwa orang-orang terdekatlah yang justru bisa membuat luka yang paling dalam.

Orang yang paling sering menyakiti kita adalah orang yang paling kita cintai. Dan kita selalu menyakiti orang yang mencintai kita. Ini sudah hukum kehidupan. Wah, kalau begitu, bagaimana dong? Oleh sebab itu, rahasia kebahagiaan ada pada mengampuni. Memaafkan. Forgive

Memaafkan itu bukan kebaikan kita untuk orang lain. Itu untuk kita sendiri. Untuk kebahagiaan kita.

Apa sebenarnya yang terjadi saat kita melukai orang yang kita sayangi?

Begini. Hati orang itu sangat rapuh, sangat sensitif. Oleh sebab itu ia dibungkus pelindung berlapis-lapis. Pada saat kita menyayangi orang, kita membuka lapisan itu. Satu persatu. Semakin dekat kita pada dia, semakin telanjang hati kita itu.

Nah, saat kita berbicara, bersikap atau bertindak salah, dia tidak siap. Pertahanannya sedang tidak siap. Lapisannya tidak terpasang. Akibatnya dia merasakan kesakitan dan kepedihannya.

Beda sekali, misalnya, bila kesalahan itu dibuat orang lain. Kepedihan tidak sebesar itu karena hatinya dilindungi lapisan pertahanan itu.

Memang kita bisa saja kemudian berkesimpulan, kalau begitu lebih baik dia menutup hatinya untuk siapapun. Supaya tidak ada yang sanggup melukainya.

Tidak bisa! Kebahagiaan sejati datang pada saat kita mempercayakan hati kita pada dia. Demikian juga sebaliknya kita dipercaya menjaga hatinya.

Justru saat kita memberikan dan mempercayakan hati yang sensitif itu kepada satu sama lain, kita bisa merasakan rahasia keindahan hidup itu.

Wah jadi bagaimana dong?

Nah, di sinilah kekuatan magic dari forgiveness. Mengampuni. Inilah obat, betadine, band aid, dari hati yang tergores. Penyembuh. Inilah bekal kita, kotak P3K dalam diri kita.

Jadi resep bersahabat, berumah tangga, atau apapun relasi kita, jangan ragu-ragu, bukalah hati kita. Tapi jangan lupa selalu siapkan bekal forgiveness.

Don’t leave your home without it.

(Dari Pak Armein, blog beliau adalah blog yang tak pernah absen kusinggahi)

Nah, kembali ke masalah kritik tadi. Belakangan ini aku jadi merenung. Banyak sekali kritik yang datang, di dunia maya maupun di dunia nyata. Khusus di dunia maya, special thanks to Amorita. Berkat dialah, aku jadi menerima banyak masukan (dukungan maupun celaan ). Lalu aku jadi banyak merenung. Mungkin sudah saatnya aku membuka diri, membuka hati. Dengan berbekal forgiveness, seperti kata Pak Armein. Bagaimanapun aku sadar, orang memberi kritik itu karena mereka sayang, karena mereka peduli. Hanya saja mungkin aku yang terlalu takut terluka. Selama ini, bukannya jadi terpacu atau termotivasi, kritik yang datang malah lebih sering membuatku minder dan merasa down.

Kemarin aku mencoba meminta feedback dari seorang teman, tentang bagaimana sebenarnya dia memandang diriku. Ini salah satu bentuk konkretku dalam uji coba membuka diri. Deg-degan sekali menunggu dia mengeluarkan pendapatnya, sambil harap-harap cemas menanti jawabannya. Ada beberapa kalimatnya yang serasa cubitan, tapi itu mungkin karena aku yang belum terbiasa membuka diri. Ke depannya, kuharap aku akan terbiasa.

Jadi siapapun kalian, yang sudah dan akan memberikan kritik, kuucapkan banyak-banyak terima kasih! Aku akan mencoba lebih membuka diri, membuka hati, meskipun mungkin bagi kalian prosesnya terlalu lambat. Mulai sekarang jangan takut mengatakan apapun padaku ya. Kalau responku agak bengong dan jadi blank akibat mikir “Oh, gitu ya?”… atau kalau responku jadi agak sedih dan shock… ya harap dimaklumi saja. Aku kan masih berproses. Berproses menjadi dewasa dalam menerima kritik. Dan ini bisa dibilang hal baru bagiku, karena *seperti analogi Pak Armein* dari dulu aku memang selalu memasang pertahanan berlapis-lapis untuk hatiku.

Labels:

 
posted by Yustika at 10:45 AM | Permalink |


1 Comments:


  • At 7:41 PM, April 24, 2008, Anonymous rita

    sama-sama Yus :D
    di postingan 'Aku bukan Malaikat' kamu yg gantian ngritik aku kan?
    ga marah kok, malah berterima kasih banget, berkat tulisanmu aku jadi tau kekurangan-kekuranganku dalam memberikan kritikan, dan pengunjung blogku dari blogmu meningkat :D

    oya, kata orang lawan dari cinta bukanlah benci, melainkan ketidakpedulian.