Thursday, November 02, 2023

Perjalanan Bersama Keluarga

“The world is a book and those who do not travel read only one page.”       — St. Augustine

Salah satu hal yang membekas dalam ingatanku ketika aku kecil dulu adalah betapa seringnya Bapak dan Ibu mengajak aku dan saudara-saudaraku menempuh perjalanan. Biasanya perjalanan itu mengambil waktu ketika masa liburan karena di luar itu Bapak dan Ibu bekerja. Waktu libur mereka sebagai guru dan dosen lumayan sinkron dengan waktu liburan sekolah kami.

Jika destinasinya tidak terlalu jauh—hanya seputaran Solo dan Jawa Tengah—perjalanan ditempuh dengan mobil kami, Honda Civic krem keluaran tahun 90-an. Bapak duduk di belakang kemudi, di sampingnya kakak sulungku, lalu Ibu, aku, dan adikku di barisan belakang. Dengan mobil Honda Civic kami pernah menjelajahi jalur selatan menuju Bandung ketika mengantarkan kakak sulung pergi kuliah. Mobil second-hand yang dibeli Bapak itu sempat mogok di tanjakan Nagrek, membuat kami sekeluarga harus bermalam di bengkel setempat.

Jika destinasi bepergian berada di luar provinsi, kadang kami memilih moda transportasi kereta atau pesawat—meskipun yang terakhir ini bisa dibilang jarang sekali—misalnya ketika kami jalan-jalan ke Jakarta untuk menjemput Bapak dari Kanada.

Berbagai kisah perjalanan keluarga mengiringiku tumbuh dewasa sebagai kenangan yang mengasyikkan, hingga aku akhirnya memutuskan bahwa kelak kalau aku berkeluarga, kami harus membuat pos pengeluaran untuk jalan-jalan. Kebetulan suamiku tukang jalan juga, jadi klop sudah.

Mulai dari anak pertama masih kecil dan kami belum punya mobil sendiri, kami sudah menjelajahi Jawa Barat dengan mobil sewaan. Kebiasaan ini terus berlanjut hingga kini anakku empat, meskipun sempat vakum ketika pandemi.

Menjelajah Jawa Barat

Karena kami tinggal di Bandung, area yang paling mudah terjangkau tentunya Jawa Barat dan sekitarnya. Beberapa kali kami pergi ke Pangandaran ketika si sulung masih berusia di bawah setahun. Yang pertama mampir setelah mudik lebaran, yang kedua mampir setelah menghadiri undangan seorang teman di Tasikmalaya.

Ketika kami main ke rumah pengasuh si sulung di Sukabumi, kami juga melanjutkan perjalanan ke Taman Safari. Kami juga pernah ke Kawah Putih di Ciwidey, meskipun bau belerangnya membuatku sakit kepala dan ramainya pengunjung membuatku sedikit insecure. Ketika seorang teman menikah di Cirebon, kami mengambil kesempatan itu untuk main ke sana dan mencicipi nasi jamblang.

Salah satu kenangan tak terlupakan adalah ketika kami sedang bepergian ke Cianjur dan mendapat kesempatan untuk masuk ke Istana Cipanas. Biasanya hanya rombongan yang sudah mendapat izin resmi yang bisa masuk ke sana, kebetulan waktu itu kami “numpang” salah satu rombongan dan diizinkan berkeliling sebentar dengan pengawalan petugas. Dari Istana Cipanas kami melanjutkan perjalanan ke Taman Bunga Nusantara.

Menjelajah Luar Jawa Barat

Ketika mendapat undangan pernikahan seorang teman di Lampung pada November 2013, aku dan suami memutuskan untuk menghadirinya secara langsung dengan mengendarai mobil pribadi, sekaligus memperkenalkan anak pada moda transportasi kapal feri. Itulah kali pertama aku menginjakkan kaki di tanah Sumatera.

Anak-anak antusias sekali mendapat pengalaman naik kapal feri serta menyusuri Pantai Klara dan pantai Pulau Kelagian yang berair jernih dan berpasir putih laksana bedak. Ombaknya pun tidak terlalu besar sehingga aman untuk anak-anak.

Medio 2014, nebeng di acara reuni angkatan suami, kami sekeluarga bertolak ke Lombok. Perjalanan tiga hari dua malam yang berkesan karena kami disuguhi adat dan budaya yang begitu mengayakan. Kami menginap di Senggigi dan mengunjungi desa perajin gerabah di Banyumulek, desa perajin tenun di Sukarara, dusun adat Sade, lalu Pantai Kuta yang terkenal dengan legenda Putri Mandalika.

Kami juga menyeberang ke Gili Trawangan, dan itulah kali pertama anak-anak menjajal snorkeling. Awalnya takut, lama-lama keasyikan. Sayangnya terumbu karang di sana sudah banyak yang rusak waktu itu.

Pada September 2015, Ikatan Alumni ITB mengadakan acara besar berupa trip ke Belitung. Aku dan suami langsung mendaftar. Pesertanya ratusan, bus yang disewa cukup banyak, bahkan sampai booking satu pesawat sendiri. Banyak peserta yang tidak kami kenal, tetapi kami tak peduli. Yang penting perjalanan aman terkendali (karena ada EO-nya) dan biaya cukup reasonable, hehehe.

Destinasi wisatanya sih standar, ya, seperti napak tilas Laskar Pelangi, Museum Kata Andrea Hirata, Pulau Lengkuas, Pantai Tanjung Kelayang, Danau Kaolin, dan Pantai Tanjung Tinggi. Namun, perjalanan itu memberi pengalaman baru akan keindahan Pulau Belitung yang belum pernah kami kunjungi.

Sebagai pecinta kopi, aku juga mendapat pengalaman menyenangkan untuk berkenalan dengan kopi Manggar, kopi Robusta yang sejenis dengan kopi-kopi dari Bengkulu, Lampung, dan sekitarnya.

Pada Oktober 2018, keluarga kami akhirnya mewujudkan impian jalan-jalan ke Batu, Malang, dan Bromo sekaligus. Wisata ke Batu, sih, tentu saja ke destinasi impian anak-anak yaitu ke Jatim Park 1 dan Jatim Park 2, amusement park yang tak cukup dikelilingi dalam dua hari.

Perjalanan ke Bromo dimulai tengah malam ketika kami bertolak dari Malang. Sampai di Tosari, Pasuruan jam tiga pagi kami sempat berhenti sejenak untuk bersiap, lalu menuju puncak Penanjakan untuk menanti sunrise. Di sini anak-anak rewel karena mengantuk dan kedinginan, apalagi waktu itu Bromo sedang berangin kencang. Terpaksa kami berlindung di dalam warung sambil menikmati gorengan dan teh hangat.

Perjalanan dilanjutkan dengan berkendara di atas jip yang menderu-deru melewati lautan pasir, lalu berfoto di bukit teletubbies. Setelah itu aku dan suami mendaki ke kawah Bromo yang ratusan tangganya membuat lutut kami lemas gemetaran (hahaha), sambil diiringi badai pasir yang menjejalkan butiran pasir ke dalam tiap lekuk baju, sepatu, hidung hingga telinga. Perjalanan yang penuh kerempongan tapi pada akhirnya really worth it. Definitely a rocking trip!

Sebenarnya ada dua lagi perjalanan yang paling berkesan untuk kami sekeluarga, yaitu perjalanan ke Legoland, Malaysia dan perjalanan ke Italia selama sepuluh hari. Di Italia aku ditugaskan kantor untuk mengikuti training dan suamiku memutuskan agenda itu menjadi acara liburan keluarga dengan mengajak anak-anak ikut serta. Namun, sepertinya kisah ini akan kutulis terpisah saja, saking banyaknya yang ingin kuceritakan, hehehe.

Penutup

Perjalanan sering memberi kita jenak-jenak untuk perenungan, hal yang acapkali terlewat ketika kita berkejaran dengan rutinitas harian. Perjalanan juga sering memberi kita kesempatan untuk berdialog dengan diri kita sendiri, memberi kita waktu untuk mengenali diri sendiri lewat sodoran pengalaman baru di tempat asing yang belum pernah kita kunjungi.

Seperti dulu waktu pertama kali bepergian dengan satu balita dan satu batita untuk menyusul suami ke Batam, dari yang awalnya ragu dan takut, menjadi tahu bahwa diri ini ternyata mampu mengatasi situasi dan kondisi.

Atau ketika pergi jauh ke Italia dengan semua anggota keluarga—termasuk infant 12 bulan yang belum pernah bepergian jauh melebihi Bandung-Solo—yang memaksaku mendobrak banyak kekhawatiran dan kenyamanan, dan ternyata bisa juga survive. Meskipun saat itu tentu kehadiran suami turut memberi andil. Bersamanya aku merasa mampu menaklukkan dunia karena kehadirannya sangat memberi rasa aman dan nyaman—terutama karena dia yang pegang duit wkwkwk.

Dalam sebuah buku antologi fiksi bertema perjalanan, aku pernah menulis: “Traveling is not about the destination, it’s about the journey itself. Traveling is not just about finding new things, it’s also about finding your true self.” Semata-mata karena demikianlah yang aku alami. Mendewasa bersama perjalanan.

Mungkin ini jugalah yang membuat aku dan suami senantiasa menjadwalkan agenda jalan-jalan, selain karena kami tukang jalan-jalan, banyak pembelajaran yang bisa diberikan ke anak-anak. Perjalanan membukakan mereka jendela dunia, memberikan mereka kemampuan untuk beradaptasi, memberi mereka kesempatan untuk belajar hal-hal baru mulai dari makanan, bangunan, moda transportasi, hingga interaksi dengan orang.

Sebagai orang yang sentimental dan cenderung mellow, aku sering membawa pulang barang-barang yang penuh kenangan, terutama ketika kenangan itu merupakan kenangan berharga yang belum tentu bisa dilakoni dua kali. Sesimpel kerang yang dipungut di pantai, atau selembar tiket masuk theme park, atau kantong kresek dari sebuah supermarket di Italia. Begitulah.

Perjalanan memang selalu meninggalkan momen-momen yang tak terlupakan. Benar kata seorang teman, kita selalu meninggalkan sekeping hati pada semua tempat yang pernah kita kunjungi.

Tulisan ini diikutsertakan dalam Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan November yang bertema “Kegiatan Favorit Bersama Keluarga”.

Tuesday, October 03, 2023

Latihan Beban: Investasi Hingga Usia Senja

Apa yang terpikir dalam benak Mamah ketika mendengar “latihan beban”? Latihan untuk membuat tubuh menjadi berotot? Tidak salah, sih, tetapi jangan langsung antipati, ya. Sesungguhnya latihan beban tidak hanya diperuntukkan bagi atlet binaraga saja. General population juga membutuhkan latihan beban.

Secara alami, manusia akan mengalami penyusutan otot atau berkurangnya massa otot seiring dengan bertambahnya usia. Apalagi jika otot tersebut tidak digunakan untuk aktif secara fisik dalam jangka waktu yang lama. Latihan beban berfungsi untuk mempertahankan massa otot dan menghindarkan otot dari penyusutan, syukur-syukur jika bisa menambah massa otot.

Latihan beban tidak akan membuat tubuh Mamah menjadi bulky. Dari sononya, kita tidak dikaruniai hormon testosteron seperti lelaki. Laki-laki saja butuh waktu bertahun-tahun dan latihan yang tepat untuk membentuk otot, itu pun belum tentu “jadi”, apalah kita yang lemah lembut ini. Jadi, berkata “aku nggak mau latihan beban, takut jadi berotot” bagaikan berkata “aku nggak mau masak, takut jadi (kayak) Gordon Ramsay”. Sejatinya tidak semudah itu, heiii.

Lantas, apa saja manfaat latihan beban? Banyak, Mah.

1. Modal untuk berkegiatan

Otot merupakan modal utama kita untuk bergerak. Sehari-hari Mamah tentu sudah akrab dengan aktivitas naik-turun tangga, menggendong bocah, membawa belanjaan, mengangkat tabung gas, galon bahkan karung beras, membereskan mainan, mengangkat keranjang cucian atau jemuran, mengejar-ngejar anak, dan seabrek kegiatan lain yang jika tidak dimodali dengan kekuatan otot dan ketepatan postur, bisa membuat Mamah kecengklak. Otot yang kuat membantu fungsi sistem rangka dalam menopang berat badan. Dengan latihan beban, otot kita menjadi tahan banting untuk menahan beban kehidupan ini, Mah.

Apalagi jika Mamah rajin menekuni suatu cabor tertentu. Dengan otot yang kuat, tubuh akan lebih resilient untuk menanggung exercise load dan performa tubuh akan meningkat. Hal ini tentunya akan menghindarkan dari cedera akibat kelelahan, overuse, atau overload. Sekadar berbagi pengalaman pribadi, aku pernah mengalami cedera saat Jakarta Marathon tahun lalu. Hal itu menyadarkanku bahwa latihan beban seminggu sekali tidaklah cukup.

PR dari dokter pascaterapi, aku harus merutinkan dan menambah porsi latihan beban dan mobility supaya cedera tidak terulang. Selain itu, tentu juga harus latihan teknik berlari supaya form larinya benar dan mengoptimalkan running economy. Hal ini sangat berpengaruh dalam menguatkan otot, melatih fleksibilitas otot, menguatkan core, meningkatkan performa berlari, mengatasi imbalance, dan mencegah overuse injury.

Setelah serius latihan beban, mobility, dan running drill, aku merasakan penguatan yang cukup signifikan pada otot yang kemarin cedera dan otot-otot lainnya. Dipakai untuk trekking jauh ke Sentul pun nyerinya sudah tak terasa. Alhamdulillah ITB Ultra Marathon–di mana rutenya berupa tanjakan dan turunan panjang–serta half marathon race di Bali pun lancar jaya.

2. Membantu memperbaiki komposisi tubuh

Mah, tahu enggak, otot itu sebenarnya adalah mesin pembakar lemak alami yang dimiliki tubuh? Latihan kardio seperti lari, senam aerobik, atau zumba membakar kalori saat kegiatannya berlangsung, tetapi latihan beban masih membakar kalori jauh setelah latihannya selesai dilakukan, bahkan ketika kita beristirahat. Hal itu terjadi karena pembentukan otot membuat otot menjadi aktif sehingga metabolisme tubuh akan meningkat dan membantu pembakaran lemak menjadi lebih efektif. Artinya Mamah tidak akan cepat gemuk.

Setelah kita makan, kadar gula darah menjadi tinggi. Glukosa yang berlebih akan disimpan di dalam hati dan otot. Jika massa otot besar, cadangan gula yang disimpannya pun bisa lebih besar dan tidak disimpan berlebihan menjadi lemak. Sebuah studi menemukan, orang yang melakukan olahraga angkat beban empat kali seminggu selama delapan belas bulan memiliki penurunan lemak tubuh yang lebih besar daripada mereka yang tidak berolahraga atau hanya melakukan latihan aerobik.

Oleh karena itu, latihan beban sangat membantu meningkatkan massa otot dan menurunkan kadar lemak. Berat badan bisa jadi tetap atau meningkat jika massa otot membesar, tetapi lingkar-lingkar tubuh akan mengecil. Badan pun terlihat lebih singset, langsing, dan kencang. Jadi, bagi Mamah yang merasa sudah banyak berolahraga tetapi nggak kurus-kurus, mungkin sudah saatnya mencoba latihan beban.

Latihan beban juga bermanfaat untuk tulang. Perempuan yang sudah menopause biasanya lebih rentan terkena osteoporosis. Dengan latihan beban secara rutin sejak dini, hal ini bisa dicegah jauh-jauh hari. Kalaupun Mamah sudah berusia di atas 40 tahun, tenang … belum terlambat. Penelitian mengatakan bahwa melakukan latihan beban sebanyak dua kali seminggu selama tiga puluh menit per sesi akan memperbaiki kepadatan, struktur, dan kekuatan tulang pada wanita yang sudah menopause.

3. Menurunkan tingkat stres dan meningkatkan level energi

Sama dengan olahraga secara umum, latihan beban membuat tubuh melepaskan endorfin yang dapat meningkatkan suasana hati dan energi. Latihan kardio yang lama dapat menghabiskan simpanan energi di dalam tubuh. Namun, latihan beban memberikan lebih banyak energi untuk bertenaga sepanjang hari.

Berbagi pengalaman pribadi lagi, ketika aku harus begadang menyelesaikan sesuatu di malam hari dan merasa sedikit mengantuk, aku tak lagi menyeduh kopi. Makin lama kopi makin tidak berpengaruh buatku. Alih-alih minum kopi, aku biasanya mengambil dumbbell dan mulai melakukan latihan beban beberapa set. Ajaibnya aku langsung merasa energized dan mata menjadi melek lagi.

4. Meningkatkan kesehatan

Berdasarkan penelitian, latihan beban mampu mengurangi resiko strok dan serangan jantung minimal 40%. Orang yang memiliki kekuatan otot dapat terlindungi dari penyakit diabetes sebesar 32%.

Latihan beban membantu memperlancar sirkulasi darah sehingga tubuh dapat menciptakan kolagen dengan baik. Akibatnya, kulit Mamah akan terlihat lebih muda. Resep awet muda secara alami, Mah. Latihan beban juga dapat meningkatkan jumlah oksigen yang dibutuhkan tubuh untuk kembali ke tingkat normal (EPOC).

Latihan beban yang dilakukan dengan rutin konon dapat meningkatkan jumlah sel otak baru. Tentunya daya ingat Mamah akan menjadi lebih baik. Mamah juga bisa menyelesaikan berbagai aktivitas yang membutuhkan konsentrasi tinggi tanpa kesulitan.

Selain manfaat di atas, latihan beban juga membantu memperbaiki kualitas tidur. Meskipun heart rate-nya enggak tinggi-tinggi amat, olahraga ini menghabiskan banyak tenaga dan membuat kita mengeluarkan keringat. Otomatis tubuh akan membutuhkan tidur untuk memulihkan diri.

5. Investasi untuk masa tua

Latihan beban membantu melatih keseimbangan dan koordinasi tubuh. Hal ini penting bagi mereka yang sudah lanjut usia karena jatuh dapat berefek serius pada kesehatan, seperti patah panggul yang menyebabkan gangguan mobilitas dan disabilitas.

Latihan beban yang dilakukan secara rutin dan teratur, selain membentuk otot, juga membantu memperbaiki postur tubuh. Hal ini efektif dalam mencegah sarkopenia atau kehilangan massa otot di usia senja. Dengan tubuh, otot, dan tulang yang kuat, seseorang yang sudah memasuki masa tuanya akan tetap bisa mandiri melakukan berbagai aktivitas tanpa kesulitan yang berarti.


Tulisan ini diikutsertakan dalam Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan Oktober yang bertema “Investasi yang Ingin atau Sudah Dilakukan”.

Sunday, September 03, 2023

Menjadi Caregiver 24 Jam

Papi dan Mami ketika masih sehat

Dua minggu di medio Januari 2023 adalah masa-masa terberat bagi kami sekeluarga. Berawal dari tanggal 10 Januari ketika adikku mengirim pesan di WAG keluarga–aku dan kakakku tinggal di Tangerang Selatan sementara adikku tinggal di Solo bersama kedua orang tua kami–dan mengabarkan bahwa kondisi Papi sedang tidak stabil. Sebagai penderita penyakit jantung yang sudah pernah di-ring, kondisi Papi memang sering tidak stabil. Diabetes dan hipertensi membuat jantung beliau senantiasa aritmia dan beliau sering menjalani rawat inap karena sesak. Jadi, kupikir pagi dini hari itu adalah kondisi-tidak-stabil yang biasa. Adikku sempat bilang bahwa bicara Papi sedikit pelo, tidak nyambung, dan menabrak-nabrak ketika berjalan.

Sepagian aku menunggu kabar, hingga akhirnya adikku mengabari bahwa Papi masuk IGD untuk diobservasi. Semua tanda vital aman. Tidak ada tanda-tanda Papi terkena strok. Namun, kondisi psikis Papi tidak baik-baik saja. Beliau merasa sangat panik, sebentar-sebentar berteriak, dan susah ditenangkan. Dini hari berikutnya, adikku mengirim voice note, mengabarkan bahwa kondisi psikis Papi makin jauh dari tenang, sering berontak sehingga dokter dan perawat memutuskan untuk mengikat tangan Papi di ranjang.

Berdasar pemeriksaan lebih lanjut pada hari berikutnya, ternyata ada strok di sebelah kanan otak besar dan strok di sebelah kiri otak kecil. Strok terjadi karena ada sumbatan pembuluh darah dan menyebabkan gangguan keseimbangan dan koordinasi. Tubuh bagian kiri Papi mulai lumpuh sebelah dan bicara Papi mulai pelo lagi. Sejak saat itu, hidup keluarga kami mengalami perubahan.

Papiku adalah seorang pekerja keras sejak beliau masih muda. Menjadi sulung dari tujuh bersaudara, Papi memiliki tekad yang kuat untuk terus belajar dan menjadi sukses. Ayah beliau adalah seorang guru dan Papi meneruskan profesi ayahnya dengan menjadi seorang dosen. Semangat belajar beliau sangat tinggi. Selepas lulus SMA di Ngawi, beliau merantau dan menjalani S1 di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sebelas Maret (FKIP UNS), lalu S2 di jurusan Computer Science, University of Western Ontario, Kanada hingga lulus S3 di Universitas Negeri Yogyakarta. Beliau adalah Guru Besar bidang Pendidikan Matematika di FKIP UNS, banyak melakukan penelitian, dan menulis buku. Karyanya banyak dikenal dan disitasi dalam jurnal ilmiah. Beliau termasuk jajaran peneliti berpengaruh di Indonesia dan bahkan masuk dalam kategori 100 peneliti pendidikan di Indonesia yang bereputasi dunia.

Sebagai dosen dan peneliti yang sangat aktif, dulu beliau banyak mengajar di luar kota Solo. Seingatku pernah mengajar di Madiun, Yogyakarta, Semarang, dan beberapa kota lain. Beliau juga pernah aktif sebagai anggota Tim Ahli Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan, Badan Nasional Standar Pendidikan (BNSP), sering bolak-balik ke Jakarta dan beberapa Dinas Pendidikan di kota lain untuk terlibat dalam penyusunan standar pendidikan. Bahkan sehari sebelum masuk rumah sakit dan terkena serangan strok itu, beliau masih pergi menyetir sendiri ke kampus untuk menguji proposal mahasiswanya yang tengah studi S2. Maka terbayang kan, seperti apa pukulan yang beliau rasakan … dari semula sangat aktif berubah menjadi tidak bisa apa-apa dan hanya bisa bergantung pada bantuan orang lain dalam aktivitas sehari-hari.

Selama dua minggu aku pergi ke Solo dan terpaksa meninggalkan suami dan anak-anak di Tangerang Selatan, untuk membantu merawat Papi. Secara psikis Papi masih sangat terpukul dan mengalami masalah emosional–suatu hal yang katanya wajar terjadi pada penderita strok. Aku bergantian dengan anggota keluarga lain untuk mendampingi Papi karena beliau tidak mau ditinggalkan sendirian sedikit pun. Jika tidak ada orang yang terlihat, beliau akan berteriak-teriak memanggil nama kami satu demi satu dan tidak akan berhenti berteriak sampai ada yang datang. Hal ini membuat kami harus selalu standby.

Menjadi caregiver hampir 24 jam itu sangat menguras tenaga dan emosi. Tak jarang Papi mengalami tantrum karena ketidakmampuannya melakukan hal-hal secara mandiri. Passion beliau mengajar, menulis, dan mengerjakan hal-hal yang berkaitan dengan kampus menjadi tidak tersalurkan, dan hal ini tentu turut andil dalam ketidakstabilan emosi beliau. Bahkan beberapa kali beliau mengalami halusinasi. Kesabaranku yang setipis tisu kadang membuatku tidak sabaran juga ketika mengurus beliau, astaghfirullah. Seringkali aku harus mengingatkan diri sendiri bahwa inilah saatnya berbakti.

Dua minggu yang meletihkan itu membuat kami memutuskan untuk mempekerjakan seorang pramurukti. Terus terang kami mulai bertumbangan karena kelelahan. Kami harus kembali bekerja dan mengurus keluarga–terutama aku yang meninggalkan empat anak di Tangerang Selatan sementara suamiku sering pulang malam dan keluar kota karena pekerjaan. Alhamdulillah kami dipertemukan dengan pramurukti yang sabar dan telaten dalam mengurus dan mendampingi Papi.

Namun, ternyata semua belum berakhir di situ. Dalam kurun waktu dari Januari hingga saat ini, kakakku hampir tiap bulan mudik ke Solo untuk membantu merawat Papi karena Papi beberapa kali harus dirawat inap. Aku hanya bisa sesekali saja karena harus mengurus keluarga. Berbeda dengan perkembangan motorik Papi yang berprogres cukup signifikan berkat terapi rutin, perbaikan kondisi psikis beliau berjalan lebih lambat. Kami harus selalu mengingatkan beliau untuk tetap bersemangat dan bersyukur mengingat perkembangan beliau cukup baik, tetapi beliau masih sering bersedih hati karena belum bisa sepenuhnya menerima keadaan.

Kata dokter, kondisi organ-organ dan fungsi tubuh Papi memang sudah menurun dan cukup berat akibat komplikasi dari penyakit jantung, hipertensi, dan diabetes selama bertahun-tahun. Goals-nya secara medis saat ini adalah menjaga ketiganya supaya tetap stabil dan tidak bertambah parah. Meskipun saat ini beliau sudah mulai bisa berjalan dengan bantuan, menggerakkan kaki dan tangan–bahkan sekarang sudah mulai belajar menggenggam dan menjumput–kami masih harus tetap waspada dengan kondisi Papi yang kadang mengalami ketidakstabilan secara tiba-tiba. Ada hari-hari di mana semua berjalan normal dan lancar, tetapi ada juga hari-hari di mana beliau merasa kelelahan, sesak dada, dan tidak nyaman ketika jantungnya mengalami aritmia.

Mendampingi penderita strok yang juga mengalami gangguan psikis bukan hal yang mudah. Adikku bahkan sempat mempertanyakan kewarasannya sendiri. Aku juga kadang sedih karena tidak bisa banyak membantunya dalam merawat Papi, tetapi mau bagaimana lagi … anak-anak belum bisa sepenuhnya mandiri. Semoga adikku, Mami, dan mas pramurukti senantiasa dalam keadaan sehat lahir batin dalam membersamai Papi.

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” (Q.S. Al Isra: 23)

“Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: ‘Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.’” (Q.S. Al Isra: 24)


Tulisan ini diikutsertakan dalam Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan September yang bertema “Pengalaman Menghadapi Tantangan Hidup Terbesar (Rohani dan atau Jasmani)”.

Wednesday, August 02, 2023

Keinginan dari Lubuk Hati Terdalam

Bingung juga, ya, ketika Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan Agustus mengambil tema “Keinginan yang Masih Ingin Dicapai Mamah”. Bukan apa-apa, itu karena aku sendiri tidak tahu keinginan mana yang akan diceritakan. Yah, namanya manusia, keinginannya pasti banyak! Namun, untuk saat ini sepertinya hal-hal di bawah ini yang terlintas dalam pikiran.

Naik Haji

Aku belum pernah pergi ke Makkah untuk memenuhi panggilan Allah, baik dalam bentuk menunaikan ibadah haji maupun ibadah umroh. Ketika masa awal berkeluarga, naik haji adalah sesuatu yang sangat jauh dari angan-angan. Sebagai seseorang yang baru mulai membangun rumah tangga, banyak hal lain yang lebih menyita perhatian. Tak terbersit niat untuk naik haji. Kalaupun ada sedikit niat, prioritasnya masih jauh alias masih nanti-nanti. Namun entah mengapa, pada suatu musim haji, tiba-tiba ingin sekali aku naik haji. Dada berdentum-dentum oleh keinginan kuat untuk bersujud di baitullah.

Aku masih ingat, dalam sebuah khotbah salat Idul Adha, mata ini berkaca-kaca karena malu pada Allah. Dalam khotbah itu diceritakan—konon kisah nyata—seorang miskin yang mengambil seluruh tabungannya untuk membeli kambing kurban, padahal dia sendiri kembang kempis dalam mencari penghasilan karena hanya bekerja sebagai buruh cuci. Justru dia yang berhak menerima daging kurban, sebenarnya.

Lalu ketika membaca cerpen di sebuah majalah tentang kisah penjual jamu gendong keliling yang bisa berangkat haji gratis sementara tetangganya yang suka pamer kekayaan malah kehilangan tabungan haji, hati ini makin malu. Betapa banyak orang-orang yang—di mata manusia—minim kemampuan finansial, ingin pergi haji. Sementara aku yang dilapangkan segalanya oleh Allah malah tak kepikiran untuk pergi haji. Duh, malu.

Hal yang juga membuatku malu pada Allah adalah … karena selama ini tiap kali ditanya aku ingin pergi ke mana kalau ada rezeki, selalu kujawab dengan mantap: Eropa! Sejak dulu aku memang selalu bermimpi bisa pergi ke Eropa dan menjelajahi sudut-sudutnya yang eksotis. Duh, mirisnya. Masa lebih ingin pergi ke Eropa daripada pergi naik haji? Astaghfirullah.

Memang benar naik haji itu banyak rintangannya. Tak usah jauh-jauh, orang terdekat pun belum tentu mendukung. Alasannya macam-macam, mulai dari “tabungan masih untuk prioritas yang lain”, “anak masih kecil”, sampai ke alasan “masih punya hutang cicilan rumah”. Dunia, oh, dunia. Mengapa begitu melenakan dan memberi berbagai macam alasan uzur?

Beberapa tahun lalu, aku dan suami akhirnya membuka tabungan haji. Meski entah kapan terkumpulnya, yang penting kami sudah mengambil langkah untuk berikhtiar. Tak disangka, negara api datang menyerang. Karena sesuatu hal yang tidak bisa kuceritakan di sini, kami terpaksa mengambil seluruh tabungan mengingat kami sedang dalam kondisi “butuh uang” waktu itu.

Hingga kini kami belum membuka tabungan haji kembali, tetapi tampaknya memang harus disegerakan. Mengingat antrian haji makin panjang dan makin tidak realistis, hiks. Membulatkan niat, meyakinkan orang-orang terdekat, serta sekuat tenaga mengumpulkan bekal rohani dan finansial … rasanya itu ikhtiar yang harus dilakukan terkait masalah naik haji ini. Sambil terus berdoa, tentunya.

Menjadi Certified Yoga Teacher dan Certified Fitness Trainer

Sejak dulu kala aku selalu tertarik dengan pemberdayaan perempuan dan bagaimana aku bisa berkontribusi di situ. Karena hobiku olahraga, salah satu upaya yang aku rasa cukup realistis dan dapat dicapai adalah dengan memberdayakan mereka dalam hal peningkatan kualitas hidup dari segi kesehatan dan kebugaran. Aku pernah bermimpi memiliki one stop facility di mana di situ terintegrasi antara fasilitas olahraga, salon atau spa, tempat makan dengan menu sehat, serta tempat berbelanja berbagai hal yang berkaitan dengan pola hidup sehat dan aktif. Namun, tampaknya itu mimpi yang ketinggian, hahaha.

Kembali ke keinginan untuk memberdayakan perempuan dalam hal peningkatan kualitas hidup dari segi kesehatan dan kebugaran, aku rajin mengedukasi lingkaran-lingkaran terdekat tentang kampanye hidup sehat dan aktif, baik dari media sosial, tulisan blog, materi webinar, hingga menjadi instruktur. Olahraga pertama di mana aku percaya diri menjadi instruktur adalah senam aerobik karena sudah belasan tahun aku bergelut di situ.

Mengajar senam aerobik

Demikian pula halnya dengan yoga. Setelah lebih dari lima tahun menjadi praktisi, pada 2018 dan 2019 aku mengikuti Teacher Training Course untuk menjadi instruktur yoga prenatal. Awalnya sebagai sarana healing setelah kehilangan bayi dalam kandungan, tetapi akhirnya hal itu justru memantik keinginan untuk memberdayakan para ibu hamil supaya mereka tidak mengalami hal sepertiku.

Setelah akhirnya proses healing selesai dan aku merasakan manfaat nyata yoga prenatal pada kehamilan dan persalinan berikutnya, makin dalam visi dan misiku untuk membahagiakan para ibu hamil, membantu mereka melalui kehamilan dan persalinan dengan lembut, nyaman, aman, sehat, dan bugar. Aku percaya bahwa ibu yang bahagia akan melahirkan dan membesarkan generasi yang bahagia. Setelah mendapatkan banyak hal positif dari yoga, baik general maupun prenatal, aku juga ingin menularkan semangat dan berbagi manfaat dengan perempuan-perempuan lainnya. Aku pun makin mantap mengajar karena sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesama.

Mengajar yoga prenatal

Ketika aku semakin mendalami yoga prenatal dan pascanatal, aku tertarik juga mendalami spesialisasi Prenatal-Postnatal Corrective Exercise karena erat sekali kaitannya dengan pengembalian fungsi tubuh perempuan dan perbaikan kualitas hidupnya pascapersalinan. Nah, Corrective Exercise ini tidak ada hubungannya dengan yoga. Cabang ilmu yang ini merupakan perpanjangan dari ilmu tentang fitness dan latihan beban. Bahkan untuk menjadi Corrective Exercise Specialist, seseorang harus terlebih dahulu menjadi Certified Fitness Trainer.

Mengikuti Training of Trainers
dari Asosiasi Pelatih Kebugaran Indonesia

Hmmm, ternyata tubuh seorang perempuan itu memang rumit sekali. Satu ilmu membawa pada ilmu-ilmu yang lain. Kebetulan aku sudah menjadi anak gym yang rutin latihan beban sejak sebelum pandemi untuk melengkapi latihan lariku. Dan jujur, mau jadi atlet atau tidak, bahkan jika kita hanya mewakili general population, kita tetap membutuhkan latihan beban untuk peningkatan kualitas hidup. Dari situ aku mulai tertarik juga untuk mengedukasi para perempuan tentang pentingnya latihan beban (kalau yang ini, sih, harus dibahas dalam tulisan tersendiri, hehehe).

Salah satu kendala yang kuhadapi untuk menjadi Certified Yoga Teacher dan Certified Fitness Trainer adalah waktu yang tidak fleksibel karena statusku saat ini sebagai ASN yang terikat dengan jam kerja. Hal itu membuatku kesulitan untuk mengambil pelatihan dan sertifikasi yang biasanya memakan waktu selama beberapa bulan. Mana mungkin aku diizinkan atasan untuk cuti selama itu. Jadi, aku hanya bisa mengambil training dan workshop yang pendek-pendek saja. Mudah-mudahan ilmu yang kupelajari, meskipun sedikit, dapat kutularkan juga kepada para perempuan lain demi cita-citaku memberdayakan mereka dari segi kesehatan dan kebugaran.



Saturday, July 01, 2023

Solo, Spirit of Java, dan Segala Perubahannya

Pulang, kenangan, dan kerinduan. Tiga kata tak terpisahkan yang senantiasa mendesak-desak ruang rasa tiap kali kembali ke suatu tempat yang kita anggap rumah. Karena tiga kata itu pula yang membedakan pengembaraan dan keberlabuhan, kelelahan dan kenyamanan, keterasingan dan kebersamaan.

Hari-hari ini ketika aku berkesempatan mengitari kota Solo kembali, ada sebongkah rasa haru membuncah. Solo masih sedamai yang dulu. Solo masih tetap menjadi kota yang tak pernah tidur, dengan banyaknya warung angkringan bertebaran di seantero kota. Di situ orang-orang berkumpul melepas penat sambil bertukar pikiran, bercanda, dan wedangan, juga sesekali mencomot kikil goreng atau tempe bacem.

Solo juga masih sesederhana yang dulu. Meskipun resto-resto beken mulai membuka gerai-gerai baru, orang-orang masih suka pergi beramai-ramai ke warung lesehan di pinggir-pinggir jalan. Di Solo, beberapa warung pinggir jalan malah lebih beken dibanding resto-resto beken, seperti warung sate Pak Manto dan Mbok Galak, warung tenda sepanjang Kota Barat, warung susu segar asli Boyolali, warung masakan ayam di Purwosari, warung nasi liwet di bilangan Keprabon, atau warung gudeg ceker di beberapa tempat lain. Orang-orang harus berebut tempat dan mengantri lama kalau ingin bersantap di tempat-tempat itu.

Desing-desing akrab bahasa Jawa medok yang selama ini asing di perantauan, dapat dengan mudah ditemui di berbagai penjuru kota Solo. Kesopanan dan kehalusan bahasa yang menjadi ciri orang Solo selalu membuatku merindukan kota ini habis-habisan. Bukan merupakan hal yang aneh lagi ketika seorang sopir angkot atau sopir bus kota berbahasa krama kepada penumpangnya. Sapaan-sapaan seperti “Badhe tindak pundi, Mbak?” atau “Mandhap mriki, Mbak?” menjadi biasa bertebaran di dalam angkot dan bus kota. Bahkan aku pernah tercengang-cengang ketika membayar angkot, kakek tua yang menyopirinya tersenyum mengangguk sambil berkata, “Nggih. Maturnuwun, Mbak.”

Bicara tentang Solo juga berarti bicara tentang sejarah panjang sebuah kota. Sejak lama Solo didengung-dengungkan sebagai Kota Budaya karena dulunya merupakan salah satu pusat kebudayaan Jawa. Hal ini menyebabkan timbulnya kesadaran untuk melestarikan segala bentuk budaya dan tradisi Jawa di Solo, termasuk karya arsitektur kuno. Solo memiliki keragaman arsitektural seperti arsitektur tradisional, Eropa, modern, dan postmodern. Dua di antaranya (tradisional dan Eropa) sangat penting dalam menciptakan identitas modern Kota Solo.

Berfoto di Keraton Kasunanan bersama teman-teman komunitas lari

Sejarah Solo—yang nama resminya adalah Surakarta—bermula ketika Sunan Paku Buwana II memerintahkan Tumenggung Honggowongso, Tumenggung Mangkuyudo, dan Panglima Tentara Belanda J. A. B Van Hohendorff untuk mencari lokasi untuk mendirikan ibu kota baru Kerajaan Mataram. Setelah mempertimbangkan faktor fisik dan nonfisik, pada tahun 1746 M (atau 1671 penanggalan Jawa) dipilih sebuah desa di dekat sungai Bengawan bernama Sala. Sejak saat itu, Sala berubah menjadi Surakarta Hadiningrat dan terus berkembang.

Berdasarkan perjanjian Giyanti pada 13 Februari 1755, Kerajaan Mataram Islam terbagi menjadi Surakarta dan Yogyakarta. Berdasarkan perjanjian Salatiga, Kerajaan Surakarta dibagi menjadi Kasunanan dan Mangkunegaran. Dari fakta sejarah, perkembangan Surakarta sangat dipengaruhi oleh peran pemerintah Kasunanan, pemerintah Mangkunegaran, Benteng Vastenburg sebagai pusat pengawasan ketat Belanda terhadap Kerajaan Surakarta, dan Pasar Gede Hardjonagoro sebagai pusat perekonomian kota. Peran tempat-tempat tersebut telah membentuk kawasan budaya dengan Kerajaan Kasunanan sebagai pusatnya. Pengembangan kota berlanjut di sekitar wilayah ini hingga hari ini.

Perempatan yang menghubungkan Balai Kota, Pasar Gede, Benteng Vastenburg, dan Keraton Kasunanan

Sayangnya, tidak selamanya Solo bersikap stagnan. Kerinduanku pada kota ini sedikit menipis kala menyadari adanya perubahan-perubahan signifikan. Solo jadi seperti kehilangan karakteristik khasnya: pusat-pusat perbelanjaan megah dibangun di sana sini; gaya hidup masyarakat lambat laun telah menggeliat menjadi lebih konsumtif dan borjuis; sikap masyarakat yang cenderung nrimo mulai berubah menjadi lebih egois, semau gue, dan sulit diatur (masih ingat bagaimana Solo luluh lantak saat kerusuhan Mei 1998?); jumlah sepeda dan sepeda motor mulai tersisih oleh banyaknya mobil berseliweran; atau yang paling menyedihkan, lunturnya kebanggaan berbahasa Jawa di kalangan generasi muda (terutama usia pelajar). Aku sering geleng-geleng kepala menyaksikan mereka lebih merasa akrab berbincang dengan bahasa Indonesia. Tak ada salahnya memang, tetapi kalau lantas mereka mulai meninggalkan bahasa Jawa sama sekali, pasti ada yang salah dengan “kejawaannya”. Jangankan berbahasa krama kepada orang tua, berbicara Jawa dengan teman sebaya saja mereka masih terbata-bata. Ckckck …

Tak dapat dipungkiri, industri gaya hidup telah sukses merambah Solo. Restoran dan kafe bertebaran dalam berbagai bentuk, menyaingi warung lesehan dan angkringan yang sudah lebih dulu merakyat. Salah satu mal besar di jalan protokol kota bahkan dengan bangga memasang slogan ”lifestyle center” dengan huruf besar-besar. Di dalamnya berderet gerai-gerai semacam gerai bakery bermerek dagang nasional, kafe kopi, distro, plus gerai-gerai belanja-barang-mahal lainnya.

Ketika aku berkesempatan jalan-jalan di dalam mal-mal megah yang kini ada beberapa buah di kota ini, aku merasa bak berada di Bandung atau Jakarta. Di ibu kota, mal-mal semacam ini sudah menjadi pemandangan yang sangat biasa. Beberapa belas tahun lalu, mal seperti ini bisa dibilang jarang ada di Solo. Kalaupun ada, rasanya dulu sepi pembeli. Bandingkan dengan tempat-tempat belanja yang lebih proletar, seperti Luwes, Matahari Singosaren, Pusat Perbelanjaan Beteng, atau Pasar Klewer. Belum lagi kalau kita bicara soal pergaulan dan tata cara berpakaian. Betapa jamaknya sekarang aku melihat celana pendek dan tank top bertebaran.

Yah, berubah atau tidak berubah, Solo masih tetap kota kelahiranku. Meskipun kedamaian dan kebersahajaan sedikit demi sedikit mulai terkikis, aku berharap masih ada nilai-nilai adiluhung bertahan dari generasi ke generasi. Aku tahu Solo tidak berubah sendirian. Mungkin demikian juga halnya dengan kota-kota lain di tanah Jawa yang dulu tampak sangat proletar dan tradisional. Berpuluh-puluh tahun ke depan saat Solo (mungkin sudah) kehilangan wajah aslinya, aku akan tetap punya kenangan manis tentang kejawaan, kedamaian, dan kesederhanaannya. Dan kenangan itu pulalah yang akan selalu membawaku menjejakkan kaki kembali di kota ini.

Tulisan ini diikutsertakan dalam Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan Juli yang bertema “Tentang Daerah Asal”.