Tuesday, January 11, 2011

Job Hunting, Karir, dan Pekerjaan

Beberapa waktu lalu, seorang teman lama mampir ke rumah. Dia menempuh perjalanan yang cukup panjang dan memerlukan tempat untuk beristirahat, untuk kemudian menghadiri sesi wawancara yang dijadwalkan hari itu. Teman ini baru saja melahirkan seminggu sebelumnya, jadi bayangkan saja bagaimana payahnya. Ia bahkan tak bisa sekedar menginap untuk memulihkan kondisi, karena seorang balita dan seorang bayi mungil nun jauh di sana, memaksanya pulang-balik hari itu juga.

Ketika ia sudah dalam perjalanan pulang, aku menerima pesan singkatnya bahwa wawancara yang dijalaninya dengan susah payah—baik dari segi waktu, biaya, tenaga, sampai harus jauh-jauh meninggalkan anak-anaknya—ternyata tidak membuahkan hasil. Ya begitulah, ia tidak lolos dalam sesi wawancara kali itu untuk mendapatkan beasiswa S2.

Aku menyebut temanku ini sebagai seorang pejuang. Bagaimana tidak, sejak ia lulus S1 beberapa tahun silam, rasanya belum pernah ia menapak kesuksesan dalam hal karir. Lulus dengan penuh perjuangan, lalu bertahun-tahun mengirim lamaran dan wawancara ke sana-sini. Sempat bekerja sebentar, sebelum akhirnya berakhir dengan tidak memuaskan dan memaksanya beralih jalur untuk mencoba S2 alih-alih berusaha mencari pekerjaan kembali.

Bicara tentang temanku ini adalah bicara tentang keprihatinan. Bahwa kehidupan pascakampus adalah kehidupan yang keras, kehidupan yang sesungguhnya. Dan hidup tak pernah mudah baginya. Mengingat temanku ini sejatinya juga mengingatkanku pada diriku sendiri. Tak bisa kupungkiri, pada sosoknya, aku melihat sosokku juga bertahun-tahun lalu.

Kami berdua lulus dengan berdarah-darah dari sebuah perguruan tinggi ternama di negeri ini. Nama besar almamater tidak selalu menjadi jaminan bahwa urusan mencari pekerjaan menjadi gampang. IPK kami yang kecil, membuat kami menjadi pecundang di hadapan perusahaan-perusahaan elit atau badan-badan bergengsi tempat para kawan kami masuk dengan mudah. Aku sendiri menganggur hampir dua tahun lamanya sebelum akhirnya diterima menjadi PNS di sebuah lembaga penelitian. Muara yang baik dari sebuah pencarian panjang, alhamdulillah. Tapi itu tidak lantas membuatku lupa, bahwa selama hampir dua tahun itu, aku telah mengirim beratus-ratus aplikasi lamaran, menjalani berpuluh-puluh tes dan wawancara, bahkan sempat dikeluarkan oleh suatu perusahaan kala menjalani probation period.

Nyesek memang, tapi itulah kenyataan. Aku memang merasa diriku ini tidak terlalu kompetitif dan berkompetensi dalam bidang yang kugeluti, sayangnya ijazah yang kupunya ya hanya ijazah di bidang itu. Akan jadi cerita panjang kalau aku membeberkan bagaimana sebenarnya aku tidak suka dan merasa salah jurusan, tapi ya sudahlah, nasi sudah menjadi bubur. Semoga jadi pelajaran bagi siapa saja, bahwa memilih jurusan ketika kuliah tidak bisa semata-mata diputuskan hanya karena jurusan itu “laku”, banyak teman yang memilih itu, orang tua menyarankan itu, jurusan itu terlihat keren dan mentereng, prospeknya bagus, bla bla bla. Semoga jadi pelajaran juga bahwa memilih jurusan harusnya didasarkan pada minat dan kemampuan. Bertanya pada hati, bertanya pada Allah. Karena sekali “nyemplung” dalam bidang itu, seumur hidup akan berkutat di bidang itu. Yah, mungkin terkecuali untuk orang-orang tertentu, yang bisa juga sukses di luar bidang ijazahnya.

Seringkali orang berpikir, nama besar almamater identik dengan kompetensi yang luar biasa, atau kemampuan akademik yang mumpuni. Kemudian hal itu akan berbanding lurus dengan ekspektasi pada kami, para lulusannya. Dan celakanya, cap semacam ini seperti menempel erat di jidat, sehingga komentar orang menjadi jauh lebih kejam ketika kami gagal. Aku ingat, pada sebuah sesi wawancara, si pewawancara meloloskan aku dengan sangat mudah ketika tahu aku lulus dari mana. Kasihan sekali kandidat lain di sampingku, yang masih harus dicecar dengan pertanyaan-pertanyaan panjang. Well, itu diskriminasi yang positif. Tapi jangan salah, diskriminasi yang negatif juga banyak. Ya itu tadi, ketidakmampuan orang lain memaklumi kemampuanku yang sebenarnya alakadarnya, hanya karena melihat dari mana aku berasal.

Kemarin ketika aku melihat film Alangkah Lucunya (Negeri Ini), ketika menyaksikan sang tokoh utama—yang pengangguran—sedang berkeliling Jakarta sembari mengempit tas untuk melamar pekerjaan ke sana kemari, hatiku mendadak basah. Been there, done that. Aku juga pernah punya pengalaman serupa: berkeliling Jakarta, masuk ke gedung-gedung megah untuk mengikuti tes atau walk-in interview sambil mengempit map berisi ijazah. Hmm, jangan-jangan nilai tes TOEFL-ku tinggi gara-gara aku dulu keseringan ikut tes TOEFL ketika seleksi karyawan ya? Hehehe.

Back to reality. Ketika melihat hidupku sekarang, I can’t be more grateful. Alhamdulillah, Gusti Allah memberi segala yang kubutuhkan. Dalam hal pekerjaan, meskipun tidak sekeren kawan-kawan lain sealmamater yang bergaji juta-juta-jutaan itu, menjadi PNS memberiku keleluasaan lebih untuk mengasuh anak dibanding mereka. Dan tentu sangat lebih beruntung dibanding seorang temanku yang kuceritakan tadi di awal tulisan ini.

Tapi memang bukan manusia kalau tak pernah puas. Adakalanya kenyataan hidup membawaku pada perenungan, apakah pantas aku meneruskan pekerjaanku ini. Selain karena sebenarnya aku tak terlalu suka pada bidang yang kugeluti sekarang—seperti ceritaku di atas tadi—kadang aku juga merasa berdosa pada negara. Ada satu pemikiran idealis dalam diriku, mungkin sebaiknya aku resign saja supaya negara bisa menggaji orang lain yang memang kemampuannya lebih dibutuhkan negara. Yah, kalau aku merasa tidak berkompetensi, pilihannya kan cuma ada dua: upgrade diri atau resign. Padahal upgrade diri, totalitas, dan integritas susah dilakukan jika tidak ikhlas menyukai bidang yang digeluti.

Belum lagi kalau bicara tentang kehidupan rumah tanggaku yang tidak ideal karena harus pisah kota demi pekerjaan. Belum lagi kalau bicara soal pengasuhan Hanif dan cita-cita awalku tentang menjadi stay-at-home mom. Beuhh, banyak benar yang bisa membuat stres. Kalau sudah begini, kata ‘resign’ memang selalu bermain-main di benak. Tapi kalau aku resign, kok rasanya kurang bersyukur ya. Melihat ribuan orang tidak lolos tes PNS, melihat betapa banyaknya orang yang menganggur dan sulit sekali mencari pekerjaan, selalu membuatku berpikir: jangan-jangan aku kufur nikmat kalau aku resign?

Kehidupan menjadi orang dewasa sungguh sulit. Keputusan yang dibuat tidak bisa didasarkan pada keinginan pribadi saja, melainkan harus mempertimbangkan berbagai aspek kehidupan lain yang beririsan. Tanggung jawab, aku rasa ini kata yang tepat yang memberi nilai sesungguhnya pada kehidupan orang dewasa.

Monday, January 03, 2011

Senam Aerobik

Banyak yang bertanya padaku, mengapa begitu sulit bagiku untuk berhenti senam aerobik, atau mengapa aku begitu konsisten dan disiplin melakukan senam aerobik empat kali seminggu. Seperti yang pernah kutulis di sini, Juni lalu ketika aku ketahuan mengidap skoliosis, memang ada seorang dokter ortopedi yang melarangku melakukan senam. Dan saat itu aku begitu bersikeras mencari dokter-dokter lain sehingga akhirnya aku mendapat second dan third opinion yang mengegolkan keinginanku untuk tetap senam.

Ada beberapa orang yang mengambil kesimpulan kalau aku terlalu takut menggendut sehingga tidak mau berhenti senam. Ada juga yang menyatakan simpati dan kekhawatirannya mengenai tulang punggungku bila aku terus senam. Bagaimanapun aku sangat menghargai segala bentuk perhatian mereka, namun apakah benar demikian adanya? Terlepas dari bagaimana pengaruh senam terhadap tulang punggungku—harus dengan observasi berkala untuk mengetahuinya—aku ingin bercerita sedikit mengenai ketertarikanku pada senam aerobik ini.

Pertengahan tahun 2005, sesaat setelah Ujian Akhir Semester selesai, aku dirawat inap di RS St. Borromeus karena demam berdarah. Sepulang dari rumah sakit, nafsu makanku meningkat pesat. Sehari bisa makan sampai lima kali. Lalu tiba-tiba aku merasa badanku berat. Ternyata aku menggendut. 56,5 kilogram untuk tinggi 153 sentimeter, well... you could imagine. Seorang teman yang sudah lebih dulu senam aerobik—meskipun tidak terlalu rutin—mengajakku ikut serta untuk meredakan kegundahanku. Nah, di sini awal mulanya. Sejak itulah aku rutin senam aerobik.

April 2007 ketika aku menikah, beratku sudah 44 kilogram, turun dua belas kilogram lebih sejak aku ikut senam pertama kali. Memang terlihat lama, karena cara ini sangat alami. Aku hampir tak mengubah pola makan sama sekali, tetap ngemil seperti biasa, jadi penurunan berat badan ini murni karena senam. Saat itu aku masih senam dua kali seminggu.

Setelah melahirkan, aku mulai senam tiga kali seminggu. Memang tak bisa menurunkan berat badan secara drastis seperti dulu, maklum sudah bukan gadis lagi dan sudah pernah “turun mesin”, hehehe. Tapi paling tidak bisa mempertahankan berat badan supaya tidak terlalu melar dan tetap menjaga kebugaran tubuh. Kemudian baru sebulan ini meningkat menjadi empat kali seminggu, di samping berenang rutin semenjak lima bulan lalu—kalau yang ini karena kewajiban dalam rangka terapi tulang punggung.

Kalau ada yang mengatakan aku tetap senam karena takut menggendut, mungkin tidak sepenuhnya salah. Aku memang selalu risau bila angka timbangan mulai merangkak naik, tapi buatku, senam sudah menjadi jauh lebih besar nilainya dari sekedar usaha untuk menurunkan berat badan. Apa pasal?

Buatku, senam sudah menjadi candu. Dulu sekali, ketika awal aku senam, aku sedang dalam masa menulis skripsi, cukup membuat stres. Dan ternyata kudapati kalau setelah senam, perasaan stres berkurang. Dengan senam, aku bisa bergerak bebas dan beban serasa menguar seiring berdentamnya irama. Pikiran menjadi lebih jernih seiring menetesnya peluh. Demikian pula ketika aku sudah mulai bekerja. Beban pikiran sepulang kerja, larut dalam keriangan gerakan senam. Mungkin ada yang berpikir aku lebay, tapi memang demikian adanya. Tak dapat kupungkiri, senam sudah menjadi jalan melepas stres dan sarana mendapatkan kegembiraan.

Selalu ada rasa yang hilang ketika aku berhalangan hadir senam, dan selalu ada keinginan mengganti sesi yang hilang dengan sesi di hari lain. Itulah sebabnya aku selalu konsisten dan disiplin melakukan senam sampai empat kali seminggu. Itulah sebabnya aku tak bisa berhenti senam, dan sangat sedih ketika dokter melarangku senam. In fact, berhenti senam adalah hal yang pertama kali menjadi kerisauanku ketika keluar dari ruangan dokter, lebih membuat risau daripada vonis skoliosis itu sendiri. Saat senam pertama kali setelah divonis skoliosis, aku sempat berkaca-kaca sambil membatin, “Ya Allah, senam sebegini menyenangkannya, kenapa aku sampai nggak boleh... tak kuasa aku kehilangan setiap detik momennya...”

Makanya aku sering heran dan geregetan melihat teman-teman yang senam dengan malas-malasan. Senam itu asyik, dan mereka tidak mendapat halangan medis apapun untuk bergerak. Ughh, ingin mereka tahu, bagaimana aku yang berpunggung abnormal mati-matian “berjuang” supaya bisa tetap senam. Karena bagiku, senam sudah menjadi kebutuhan.

Yes, I’ll do anything to keep moving.

Gambar: Diambil dari sini.

Belajar Seluncur Es

Seumur hidupku, aku belum pernah menjajal arena seluncur es. Jangankan sepatu luncur, sepatu roda saja, baik yang roda empat maupun yang in-line-skate, aku belum pernah. Jadi coba bayangkan saja penampilan perdanaku masuk ke arena seluncur es pada libur natal yang lalu.

Tiket masuk ke Gardenice, Paris Van Java ini 75 ribu rupiah per orang. Aku masuk berdua adikku, sementara anggota keluarga yang lain duduk-duduk di pinggir arena. Hanif kutitip ke ayahnya, bundanya mau main dulu :)

Karena belum bisa sama sekali, kami memilih menyewa coach dengan tarif 60 ribu per setengah jam. Sayangnya jumlah coach ini terbatas, baru ada yang bebas sejam setelah kami masuk. Bermain di arena ini tidak dibatasi waktu, kami mencoba berlatih sendiri sambil menunggu para coach datang. Yaa gitu deh, pakai acara jatuh-jatuh hihihi.

Ketika akhirnya sesi latihan dengan coach dimulai, aku sudah berhasil belajar berdiri stabil. Sudah bisa berjalan sedikit-sedikit. Sesi latihan awal adalah berjalan melangkah sambil mengangkat kaki. Lalu dilanjutkan dengan menggeser sepatu luncur satu-satu. Baru kemudian belajar meluncur dengan jarak luncur agak jauh. Tentu pakai acara jatuh-jatuh dan berkali-kali dibantu berdiri sama si coach ini.

Jangan dibayangkan sesi latihannya romantis seperti di film-film. Kita kan sering lihat tuh, ada adegan romantis ketika pacaran di arena seluncur es *wah, kebanyakan nonton dorama nih*. Pas jatuh pegangan tangan, pandang-pandangan, lalu ada lagu romantis. Boro-boro, yang ada juga si coach ini nyolot banget. Ngajarinnya pakai komentar bernada meremehkan, “gitu aja nggak bisa”, bla bla bla. Damn, I wanted to slam his face ketika dia ngetawain aku jatuh :(

Pada akhirnya, aku lega banget ketika sesi latihan berakhir. Baru bisa sedikit. Meluncur saja belum lancar. Tapi lega karena akhirnya berpisah dengan si coach nyolot. Sayangnya ketika akan mencoba berlatih sendiri, pengunjung disuruh keluar karena arena akan di-resurface. Yah, kecewa deh.

Kesimpulannya, belajar seluncur es itu mengasyikkan. Meskipun badan dan tangan sakit semua karena kebanyakan jatuh, well... it’s worth trying. Ada semacam perasaan tertantang kalau aku harus bisa. Ketakutan dan kekhawatiran yang sempat ada di awal, sedikit tergantikan dengan perasaan puas ketika aku sudah sedikit bisa. Cukuplah sebagai stretching untuk menantang diri sendiri.

Lain kali aku akan coba lagi :)

Foto: Aku sedang belajar seluncur es, diajari coach yang nyebelin.

Monday, December 13, 2010

Terrible-Two dan Temper-Tantrum

Alhamdulillah, sampai juga aku pada fase ini. Setelah dari dulu cuma bisa membaca dan berkaca pada pengalaman orang lain, saat ini aku diberi karunia oleh Gusti Allah untuk mengalami sendiri.

Jadi begini, sekarang usia Hanif sudah 2,5 tahun. Semenjak babysitter-nya berganti dua bulan lalu, perangai Hanif berubah. Semula kami mengira ini adalah proses adaptasi dan bentuk protesnya karena babysitter yang lama—yang sangat dekat dengannya—harus pulang dan diganti dengan orang lain yang tidak seasyik pendahulunya. Apalagi ditambah dengan episode sakit, lengkap sudah Hanif berubah menjadi “lebih sulit”.

Apa pasal? Selama sebulan kemarin dia susah makan. Hanif, yang dari usia enam bulan selalu mangap dan menelan apa saja yang kami sodorkan di depan mulutnya, tiba-tiba melakukan GTM (gerakan tutup mulut), mingkem, dan emut. Okelah, mungkin karena waktu itu dia sakit. Dan babysitter yang baru, belum menemukan cara untuk waktu-makan-yang-menyenangkan. Alhamdulillah sekarang Hanif sudah mau makan, meskipun lancar hanya pada saat dia mood makan dan kadang-kadang masih GTM dan emut.

Lebih luas dari sekedar persoalan makan, ternyata perangai Hanif pun berubah. Dia menunjukkan sikap keras kepala bila menginginkan sesuatu, dan suka sekali mengekspresikan keinginannya itu dengan berteriak. Bila tidak kami penuhi, langsung menangis dengan suara yang membuat para tetangga penasaran. Sampai beberapa kali mereka datang untuk mengecek mengapa Hanif menangis sedemikian keras. Ah, kepedulian tetangga yang membuatku malu.

Setelah kupikir-pikir, mungkin seharusnya aku tak perlu malu. Ini periode yang biasa dan normal dalam fase hidup seorang anak. Well, it’s called terrible-two, dengan salah satu gejala berupa temper-tantrum.

Apa Itu Terrible-Two dan Temper-Tantrum?

Terrible two is a child developmental stage which normally occurs around the age of two (but can start earlier) and consists of toddlers often saying no and throwing temper tantrums.

Very basically, the terrible two’s can be described as aggressive, defiant, demanding, unreasonable and mischievous behavior. Some toddlers go through this stage quite mildly while others turn into devil children! :)

Temper tantrums, hitting and biting, yelling, incredible mischievousness and an overall general refusal to do just about whatever is asked of your child are the main ways this behavior is displayed. The biggest thing all parents or guardians must realize is that this behavior is TOTALLY NORMAL, not personal, aimed towards them and is not the sign of a terrible child.

A tantrum is an emotional outburst that is typically characterized by stubbornness, crying, screaming, defiance, angry ranting, a resistance to attempts at pacification and, at some cases, hitting. Physical control may be lost, the person may be unable to remain still, and even if the "goal" of the person is met he or she may not be calmed. A tantrum may be expressed in a tirade: a protracted, angry, or violent speech.

Kalau dari definisi di atas, level Hanif cuma berkisar di “stubbornness, crying, screaming, defiance, angry ranting” dan kadang “a resistance to attempts at pacification”. Alhamdulillah tidak sampai pada “hitting and biting” :)

Mengapa Bisa Sampai Temper-Tantrum?

Tantrum merupakan sesuatu yang normal dan biasa terjadi pada saat tumbuh kembang anak dan biasa muncul saat anak berusia 1-3 tahun (Tantrums Secret to Calming the Storm, La Forge, 1996). Kenapa tantrum terjadi? Secara garis besar, penyebabnya adalah: karena anak mencari perhatian, lapar, lelah, atau karena anak frustrasi.

Frustrasi pada anak sering kali membuat bingung para orangtua. Frustrasi pada anak bisa terjadi karena anak tidak mendapatkan keinginannya: bisa mainan, perhatian, maupun orangtuanya. Jadi, saat kita melihat (atau bahkan mengalami sendiri) anak menangis di pertokoan karena minta sesuatu, atau bahkan menjerit dan berguling di lantai, itu bisa jadi temper-tantrum.

Atau suatu pagi, saat kita mau ke kantor. Si kecil yang biasanya mengantar dengan riang, tiba-tiba menangis menjerit-jerit sambil memegangi kaki. “Nggak boleh... Bunda nggak boleh pergi... di rumah saja.”

Atau bisa juga, si buah hati ingin bercerita sesuatu yang seru. Tapi, dia susah sekali mengomunikasikannya. Hal ini membuatnya frustrasi dan mengakibatkan tantrum. Anak-anak biasanya lebih cepat memahami sesuatu, namun masih susah untuk mengungkapkannya (karena keterbatasan kosakata atau bahasa). Namun, saat kemampuan bahasanya meningkat dan anak sudah memasuki usia sekolah, bisa jadi tantrum akan berkurang atau hilang.

Bagaimana Menghadapinya?

  • Tetap tenang. Tarik napas, berpikir dengan jernih. Karena apabila kita ikut frustrasi, bahkan berteriak, bisa jadi kondisi malah akan lebih runyam. Sedapat mungkin, alihkan perhatian anak. Misalnya, kalau anak minta mainan dan sudah mulai tantrum, alihkan perhatiannya ke benda atau tempat lain.
  • Hindari memberi apa yang anak inginkan hanya karena kita merasa “malu”. Misalnya karena anak menangis di pertokoan, kita langsung membelikan apa yang diminta. Anak itu pintar dan cepat belajar. Sekali hal itu berhasil, bisa jadi dia akan menganggap bahwa kita akan memberi apa yang dia inginkan kalau dia menangis.
  • Memindahkannya ke tempat yang lebih tenang. Jika tantrum terjadi di tempat ramai, angkat si buah hati, bawa ke tempat yang lebih tenang, dan biarkan tantrum-nya selesai. Setelah itu, baru kita ajak bicara.
  • Tidak mengacuhkan anak saat tantrum kadang juga perlu. Tentu dengan melihat bahwa kondisi di sekitarnya aman. Kalau dia sudah tenang, baru kita peluk dan tanya dengan lembut, kenapa dia marah.
  • Jika tantrum makin menjadi, peluk si buah hati. Tapi kalau kita tidak bisa memeluk (karena kita juga sudah mulai jengkel atau emosi), paling tidak, duduk atau berdiri di dekatnya.
  • Jika tantrum sudah lewat, kita bisa mencari tahu apa sebenarnya keinginan anak. Bantu anak untuk mengekspresikan kemarahannya secara verbal dan terkendali. Berikan rasa cinta dan aman kepada si buah hati. Tunjukkan kepadanya, meski dia telah berbuat salah, sebagai orangtua kita tetap menyayanginya.
  • Yang penting, selama tantrum terjadi, sebaiknya tidak membujuk, berargumen, atau menasihati anak karena anak biasanya tidak akan menanggapi atau mendengarkan. Bahkan, terkadang hal itu malah membuat tantrum anak makin menjadi.

Penerapan Riilnya?

Hohoho, meskipun sudah kenyang dengan teori, pada prakteknya terasa susah sekali. Ketika Hanif berteriak-teriak, yang ada juga aku langsung pusing duluan. Biasanya kalau ada suami dan aku sudah geregetan banget, aku mencoba mundur menyendiri dan menyerahkan Hanif ke ayahnya. Berdiam di kamar, atau ngemil di meja makan (haha!) sampai emosiku mereda. Khawatir bernada tinggi di depan anak kalau tidak berhasil mengontrol diri.

Kadang-kadang malah sebaliknya. Ketika suami sedang ngotot untuk tidak menuruti keinginan Hanif yang sedang menangis meraung-raung, akunya yang malah tidak tega. Tergoda sekali untuk bilang “Sudahlah, Yah...” dan memberikan apa yang Hanif minta. Memang, persistensi dan konsistensi itu memerlukan tekad yang kuat. Kapan-kapan aku tulis tentang menerapkan disiplin pada anak deh.

Yosh, sudah panjang lebar ternyata tulisan ini. Semoga tidak membuat bosan para pembaca. Selamat berjuang untuk diriku dan orang tua di luar sana yang bernasib serupa :)

Sumber:
  • http://en.wikipedia.org/wiki/Terrible_two
  • http://www.theterribletwos.org/what-are-terrible-twos/
  • http://en.wikipedia.org/wiki/Temper_tantrum
  • http://wrm-indonesia.org/content/view/1006/3/
  • http://wrm-indonesia.org/content/view/220/58/

Monday, November 08, 2010

Mengelus Dada

[ditulis sambil menghela nafas dalam-dalam]

Hari ini aku kembali menghadapi cercaan tentang pilihanku berkarir, untuk pertama kalinya setelah sekian lama tidak dicerca dengan cercaan serupa. Mereka yang mencerca beralasan, tempat setiap perempuan berkeluarga adalah di rumah. Perempuan berkeluarga yang multifungsi tidak bisa maksimal memberi untuk anak dan suaminya.

Bukannya aku tak tahu ya. Bahkan sebenarnya cercaan itu klise, karena hal semacam itu sudah menjadi pemikiranku sejak lama. Bagi yang jarang mengikuti sepak terjangku di blog ini mungkin tak terlalu tahu masa-masa kritis dulu saat aku menghadapi dilema antara berkarir atau tetap menjadi stay-at-home mom. Tapi yang jelas, pada awalnya aku berkarir adalah untuk mengabulkan harapan suami tentang memiliki istri bekerja, meskipun setengah mati aku ingin di rumah saja. Waktu demi waktu berlalu, aku pisah kota dengan suami, punya anak, dan here I am... tetap menjalani pilihan menjadi perempuan bekerja, lengkap dengan segala konsekuensinya.

Nikmatkah hidupku? Pendewasaan bertumbuh dan aku tak lagi menyalahkan siapapun. Nikmat atau tidak nikmat itu bukan urusanku, karena urusanku hanyalah bagaimana berusaha menjalani hidup ini sebaik mungkin, sebermanfaat mungkin, sembari terus mensyukuri nikmat Gusti Allah, sekecil apapun.

Maka ketika ada orang nyinyir berkomentar, padahal tidak tahu bagaimana pastinya isi rumah tanggaku, kok rasanya sedikit mengelus dada ya. Sudah pasti aku menjalani pilihan ini setelah berpikir panjang, bukan keputusan serta merta. Lagipula aku juga tidak pernah usil mengurusi—apalagi mencerca—pilihan perempuan-perempuan lain untuk bekerja atau tetap tinggal di rumah saja. Berkarir atau memilih menjadi stay-at-home mom menurutku sama mulianya, asal ditempatkan sebagaimana mestinya. Apa pula yang mesti diperdebatkan?