Thursday, October 20, 2005

Sendratari Ramayana



Sabtu 24 September 2005, aku dan keluarga berkesempatan menyaksikan pagelaran seni atraktif di Prambanan: Sendratari Ramayana. Sudah sejak bertahun-tahun lalu Papi ingin sekali menyaksikannya. Finally, kesempatan itu datang. Buat seorang pecandu wayang seperti Papi, pagelaran sekelas Sendratari Ramayana adalah hal yang sangat ditunggu-tunggu.

Setengah delapan malam kurang seperempat, aku berjalan menaiki pintu masuk yang berundak-undak. This is my first time, jadi setelah karcis masuk kuserahkan, aku segera memandang berkeliling. Dari pintu masuk, aku sampai di pelataran temaram yang bersuasana khas Jawa. Cahaya-cahaya lilin berpendaran menentramkan. Petugas berbusana adat Jawa sibuk mengatur dan menunjukkan posisi tempat duduk kepada audiens. Tak jauh dari kolam bersinarkan lampu hijau redup, ada seperangkat meja-kursi dari balok kayu. Di dekatnya ada dua gazeebo. Satu gazeebo bertuliskan coffe shop, tempat audiens bertiket VIP menukarkan kupon soft drink. Satu gazeebo lain sedang berdendang melantunkan tembang-tembang Jawa, lengkap dengan sinden dan penabuh gamelan. Waktu aku berdiri di depan gazeebo itu menikmati lantunan tembang, semilir angin makin lama makin membuai rasa. Gileeee... baru masuk aja udah keren banget... Tak lupa foto-foto ala wong ndeso :p

Jalan ke panggung open air masih berupa undakan. Alhamdulillah kami mendapat tempat duduk yang sangat ideal, meskipun itu berarti harus merogoh kocek sedikit lebih dalam. Di depan, belakang, dan samping kami semuanya Mr/Mrs Bule. Serasa jadi bule nih ;) Panggung gelap di bawah sana masih bisu. Latar belakangnya Candi Prambanan dan langit malam yang berbintang-bintang. Keren bangettttt...


Jalan cerita sendratari akan aku ceritakan di postingan berikutnya. Pokoknya asli keren banget. Pagelaran berlangsung dua jam diselingi masa istirahat lima belas menit, didukung oleh ratusan penari dan puluhan macam kostum, serta didukung oleh lighting ribuan watt yang memukau. Tata panggungnya juga asyik: ada banyak celah tempat keluar penari, dua di antaranya dari barisan bangku audiens. Two thumbs up buat penabuh gamelan yang dari awal sampai akhir menghidupkan cerita dengan iringan gamelan yang rancak. Yang paling heboh saat adegan Anoman Obong: dua gubuk di belakang panggung dibakar dengan api yang bener-bener besar. Wah, asli keren. Mungkin memang masih kalah gempita dibanding pagelaran Megalitikum Kuantum di Jakarta beberapa waktu lalu. Tapi harap diingat, Sendratari Ramayana tetap lebih unggul karena ia digelar tiap beberapa hari sekali dengan effort yang sama per penampilan. Bandingkan dengan Megalitikum Kuantum yang meski levelnya sangat besar tapi cuma digelar dua kali di Jakarta dan Bali.

Menyaksikan Sendratari Ramayana menyisakan beberapa hal dalam benak. Catatan pertama: ternyata masih ada sisi pariwisata kita yang seatraktif ini. Benar-benar nggak rugi menjadikan pengalaman menonton ini sebagai sesuatu yang berharga. Ternyata audiens nggak masalah tuh dengan harga tiket kalau memang yang disuguhkan sebanding. Pelajaran untuk pariwisata kita secara keseluruhan, bahwa usaha untuk meningkatkan kualitas pariwisata (bolehlah kalau berimbas pada harga tiket) LEBIH PENTING daripada mengeluhkan sedikitnya dana yang akhirnya membuat pengurus ogah-ogahan meningkatkan kualitas objek wisatanya. Duh, jadi merana kalau ingat pertunjukan wayang orang di Gedung Wayang Orang Sriwedari, Solo, yang sepi pengunjung.

Catatan kedua: bagi siapapun yang ingin menyaksikan Sendratari Ramayana, ada baiknya paham dulu jalan cerita pewayangan kita. Kalau nggak, bisa bingung setengah mati karena pagelaran ini minim dialog. Kalaupun ada, paling-paling berupa selipan tembang berbahasa Jawa di sana-sini. Nanti bisa bingung yang mana itu Lesmana, Jatayu, Indrajid, Kumbakarna, Sugriwa, apalagi Subali.

Hayooo yang ngaku orang Jawa, gimana... ngerti nggak? Sok-sokan banget aku nih. Padahal tanpa Papi yang malam itu bertindak sebagai translator adegan, aku juga nggak akan ngerti jalan ceritanya :p Wah, wayang memang kesukaan Papi. Bertahun-tahun lalu saat aku dan kakakku masih kecil, saat anak-anak lain didongengi kisah peri, putri, dan pangeran, kami kenyang menelan wayang sebagai dongeng pengantar tidur. Aku, kakakku, dan adikku sama-sama pernah merasakan malam minggu di Gedung Wayang Orang Sriwedari, melihat pertunjukan wayang orang sambil terkantuk-kantuk. Thanks to Papi, yang telah memperkenalkan dunia pewayangan ke dalam dunia kami, hingga aku merasa bangga terlahir menjadi orang Jawa (biarin narsis :D ). Nggak tahu apakah aku juga akan menurunkannya pada anak-anakku kelak, mengingat dunia pewayangan itu sedikit demi sedikit mulai terkikis dari ingatanku.

Monday, September 12, 2005

Dimuat!!

Kapan itu aku iseng-iseng kirim tulisan ke detiksport.com. Eh, ternyata dimuat. Alhamdulillah, iseng-iseng berhadiah. Silakan aja visit ke sini.

Monday, September 05, 2005

Menjelang Petang

Tadi sore selesai kuliah jam setengah enam kurang. Sambil berjalan ke tempat parkir, aku melewati lapangan sipil dan mendengar gelak tawa dari sebelah kanan. Sesekali diiringi sorakan dan seruan gembira. Oh, ternyata sekelompok orang sedang bermain sepakbola di rerumputan. Sebagian besar bertelanjang kaki. Tas dan sepatu tergeletak di sana-sini di pinggir area permainan. Gawang cukup ditandai dengan sepasang sepatu yang diletakkan berjarak satu sama lain. Berlarian, saling dorong, saling berbagi keceriaan.

Seketika ingatan melayang ke zaman SMU. Menunggu adzan maghrib tiba, bersama teman-teman menghabiskan waktu di lapangan bola belakang sekolah atau lapangan bola stadion. Duduk di rerumputan di tengah-tengah geletakan tas dan sepatu, memandang mereka yang berlarian. Sesekali ikut berdiri dan berlari menendang bola. Dan ketika senja hampir menggelap, kami pulang bercucur peluh dan berbalut kegembiraan. Kepenatan akibat hiruk pikuk tugas dan aktivitas sekolah lenyap sudah. Uff, rindunya... Rindu bau rumput itu, rindu bertelanjang kaki dan berlari ke sana kemari, rindu canda tawa itu, rindu segala keceriaan itu...

Modulasi

Selama ini aku nganggep kuliah Sistem Komunikasi I itu menyebalkan. Ini kedua kalinya aku ngambil mata kuliah ini. Setahun lalu ketika aku ngambil untuk pertama kalinya, aku nggak berhasil menemukan hal menyenangkan dari mata kuliah ini. Nggak pernah ngerti apa asyiknya belajar persamaan-persamaan yang nggak konkret. Nggak pernah ngerti kenapa anak-anak telekomunikasi itu bisa betah-betahnya berkutat dengan hal-hal macam gini :p

Semester ini aku mau coba mencari hal-hal asyik seputar modulasi biar semangat belajar Sistem Komunikasi I. Kalau kelihatannya nggak konkret, aku mau sambung-sambungin sama ceritaku sendiri biar tampak lebih konkret :D

Modulasi itu sendiri adalah sebuah proses di mana parameter gelombang pembawa (carrier) diubah-ubah sesuai dengan sinyal pemodulasinya. Kenapa gelombang carrier yang justru harus nurut sama gelombang pemodulasi? Jadi gini, kalau transmisi itu diumpamakan transportasi, gelombang pemodulasi adalah penumpang sementara gelombang carrier adalah mobilnya. Biasanya kan penumpang milih mobil sesuai seleranya. Ada yang milih naik BMW, Mercedes, Toyota, atau cuma Suzuki. Kayak gitu juga masalah modulasi ini: parameter gelombang carrier diubah-ubah sesuai gelombang pemodulasi, misalnya sesuai amplitudo gelombang pemodulasi.

Ini baru permulaan. Nantinya di kuliah ini juga akan dipelajari masalah modulasi sinyal kontinu lainnya, termasuk modulasi frekuensi dan modulasi fasa. Alamak! Kayaknya aku harus cari-cari analogi lagi biar mata kuliah yang nggak konkret ini tampak sedikit lebih masuk akal. [Buat anak-anak telekomunikasi: betapa menjemukannya duniamu, Nak! Huahahaha...].

Kuliah Asyik

Semester ini ada beberapa kuliah yang cukup asyik. Materinya seputar teknologi futuristik. Kuliah yang terkait sama materi ini adalah kuliah Dasar Intelegensia Artifisial dan Interaksi Komputer-Manusia. Sebenarnya nggak terlalu futuristik sih, toh perkembangan teknologi di bidang itu sudah cukup pesat. Hanya saja, perkembangannya memang masih belum menemukan titik jenuh alias progresnya masih berupa grafik menaik, sehingga bisa dikatakan dimensi teknologi ini masih memiliki banyak ruang imaji untuk dijelajahi dan diwujudkan.

Seperti yang udah pernah kusinggung, teknologi ini berkaitan erat dengan dunia utopis seperti yang kita lihat di film-film futuristik. Pak Sony dan Pak Arry bahkan menerangkan kuliah sambil mengambil contoh kasus seperti film Time Trax, trilogi Matrix, AI-nya Steven Spielberg, atau I. Robot.-nya Will Smith. Kapan-kapan kita harus nonton bareng film-film itu, begitu kata mereka.

Bukan tidak mungkin pada masa depan, komputer-komputer yang digunakan manusia tinggal seukuran kartu ATM. Di dalamnya sudah terintegrasi perangkat lunak dan perangkat keras sedemikian rupa yang tinggal dioperasikan manusia dengan teknologi text to speech dan speech recognition. Tampilannya pun sudah bukan lagi tampilan layar monitor, melainkan program hologram interaktif berwujud manusia. Keren banget.

Sebuah revolusi relasi antara komputer dan manusia yang kini sedang mengalami perkembangan cukup signifikan adalah dunia cyborg. Cyborg, akronim dari cybernetic-organism, adalah perkawinan hibrid antara manusia dan mesin. Chris Abel Gray dalam Cyborgology: Constructing the Knowledge of Cybernetic Organisms mendefinisikan cyborg sebagai ”peleburan antara organik dan mesin, antara sistem daging yang mati dengan sirkuit yang tak mati, antara sistem sel-sel hidup dan artifisial”. Di dalam sistem cyborg, yang terbentuk bukan lagi partnership antara manusia dan mesin, melainkan simbiosis yang diatur oleh cybernetika. Melalui simbiosis tersebut, sistem organisme dapat meningkatkan berbagai kapasitas, kemampuan, kekuatan, memori, daya pikir, dan daya tahan.

Eits, tapi jangan lantas berpikir cyborg cuma ada di Terminator, Bicentennial Man, atau I. Robot. Sekarang cyborg udah jadi bagian dari realitas sosial. Setiap orang yang memiliki organ, anggota badan, atau organ suplemen artifisial (misal: alat pacu jantung, contact lense, kacamata), setiap orang yang direprogram untuk mencegah penyakit (misal: diimunisasi), atau diberi obat untuk berpikir dan bertingkah laku (misal: psikofarmakologi), semuanya secara teknis adalah cyborg [berarti kita juga cyborg dong, hehehe...]. Sistem cyborg yang cukup ekstrem dengan menyambungkan organ artifisial (berupa mesin) dengan syaraf manusia juga sudah mulai dilakukan. Beberapa waktu lalu Pak Arry nonton Discovery Channel yang berkisah tentang penyambungan syaraf lengan manusia dengan tangan palsu berupa mesin robot, sehingga pada akhirnya tangan robot itu mampu digerakkan dengan syaraf-syaraf motorik yang terhubung ke otak.

Sementara dari kuliah Dasar Intelegensia Artifisial aku belajar tentang tiga komponen intelegensia artifisial, yaitu fakta, kaidah, dan inferensi. Fakta adalah hal-hal yang dipersepsi dari lingkungan oleh sistem artifisial. Kaidah (rules) adalah daftar aksi-aksi yang bisa dilakukan oleh sistem artifisial. Keduanya menemukan hubungan yang harmonis dengan adanya inferensi (penalaran) yang berfungsi mempersepsi dan memilih aksi yang paling tepat untuk mencapai tujuan (goal). Jadi sejatinya, fungsi inferensi terkait seputar rule matching dan rule selection yang nantinya membentuk sequence of rules untuk mencapai tujuan.

Namanya juga intelegensia artifisial: idenya datang dari usaha untuk meniru perilaku dan cara berpikir manusia. Pak Bambang bilang, setiap manusia memiliki sisi heuristik, yaitu cara berpikir yang efektif dan efisien dengan mengolah state awal yang ada guna mencapai state akhir yang diinginkan. Sisi heuristik inilah yang coba ditanamkan manusia kepada intelegensia artifisial, sehingga perangkat artifisial ini mampu belajar laiknya manusia. Heuristik itu sendiri sebenarnya merupakan ciri kecerdasan. Semakin canggih sistem heuristiknya, semakin cerdas pula intelegensianya. Jadi kalau ingin melihat seberapa cerdas seorang manusia, kita lihat saja dari kemampuan heuristiknya: gimana cara dia menyelesaikan masalah. Kalau caranya muter-muter nggak efektif dan nggak efisien, berarti dia nggak cerdas [itu sih semua orang juga tau, hehehe...].