Tuesday, July 05, 2005

Yang Tersisa dari Maria 2311

”Suster, bisa minta tolong dinaikin suhunya? Saya kedinginan.”

”Suhu apa ya?”

”Suhu AC-nya.”

”Lho, di sini kan nggak ada AC-nya, Mbak.”

Saya sering terkikik sendiri ketika mengingat dialog di atas, kala saya terbaring sendirian di Gedung Maria kamar 2311 Rumah Sakit Borromeus, 13 Juni 2005. Malam itu malam pertama saya di berada di ruangan itu, setelah sebelumnya terbaring satu setengah jam di UGD. Kakak laki-laki saya, satu-satunya keluarga yang mengurus saat itu, sedang pulang sebentar untuk bersiap bermalam di rumah sakit menemani saya.

Beberapa hari setelah UAS terakhir berakhir, selama empat hari badan saya panas tinggi. Semula saya berpikir hanya kecapekan biasa, karena sebelumnya saya sering sekali panas hanya karena badan kecapekan. Suhu badan yang tak kunjung turun --belakangan saya baru tahu kalau sempat mencapai angka 40-41 derajat celcius-- memaksa saya menjalani tes darah. Ternyata saya terkena demam berdarah dan harus menjalani rawat inap di rumah sakit.

Lega juga harus rawat inap di rumah sakit (lho??). Tak lain karena saya sudah merasa kewalahan terbaring tak berdaya di kamar kos selama empat hari. Rasa bersalah karena merepotkan teman-teman sekos juga membuat saya berpikir, lebih baik dirawat di rumah sakit saja. Belum lagi, akibat panas yang tinggi dan pusing yang luar biasa, saya susah tidur dan sering mengigau. Ah, betul-betul masa penuh cobaan...

Selalu ada hikmah yang dapat saya ambil. Terbaring di antara orang-orang sakit, saya betul-betul merasa bersyukur hanya terkena demam berdarah. Salah seorang pasien yang sekamar dengan saya adalah seorang nenek yang hanya bisa terbaring dengan mata terpejam selama berhari-hari, dengan alat-alat kesehatan mengelilingi beliau. Saya berpikir, keadaan saya jauh lebih baik. Saya akan segera sembuh dan segera keluar dari situ.

Hal lain yang betul-betul membuat saya terharu adalah perhatian yang saya dapat kala itu. Kasih yang tak henti-henti mengelilingi, dari keluarga dan dari teman-teman, membuat tujuh hari di rumah sakit terasa berwarna. Tawa dan doa dari mereka membuat saya merasa jauh lebih baik. Bahkan panas tinggi, bibir yang berdarah-darah, tangan kiri yang bengkak akibat darah yang membeku di selang infus --dan karenanya selang infus harus dipindah ke tangan kanan-- serta suntikan jarum setiap hari menjadi hal-hal yang tak terlalu merisaukan. Segala kasih dan perhatian itu membuat saya benar-benar merasa berharga.

Satu hal yang tak pernah saya lupakan adalah perasaan damai yang menyelimuti saya malam itu ketika terbaring di UGD, akibat mendengar lantunan merdu bacaan Al Qur’an dari kerai sebelah. Segala sakit dan penat menguap sudah...

(Tak tahu bagaimana harus membalas Papi, Mami, Mas Didik, dan seseorang yang dengan penuh kasih senantiasa menunggui di rumah sakit. Rasanya ucapan terima kasih tak akan pernah cukup...)

SMS Sakit

”Mbak ika smoga lekas sembuh ya..dibantu doa dech dari bpk&ibuku juga dr mbah uti yg nginep dirmhku.yg sabar ya...;-)” (”Rafa”, Senin 13 Juni, 20.18)

”Smoga mjadi pgugur dosa, kbnykan ngeliatin boneka d dkt jendl ya ampe dgi2tin nyamuk:< byk bobo ya jgn main hp terus:D” (Yuti, Senin 13 Juni, 20.19)

”Allahuma isfi anta syafi la syifa’an illa syifa uka,syifa’an la yughodiru saqoman wala alaman(riwayat imam turmudzi) baca do’a ini ya! Smg cpt sembuh.” (Kiki, Senin 13 Juni, 21.14)

”Asw.kaifa halukh?ukhti smg lekas smbuh.sakit akn mjadi pgugur dosa bila qta sabar.aku mencintaimu karna 4WI.afwan blm bs nengok,msh d dmm.” (Detri, Senin 13 Juni, 23.29)

”Afwan br dbalas,syafakillah ya,innama’al ’usri yusro,ssngguhnya brsama ksulitn pasti ada kmdhn.Smg Yustika tmsk golongn org2 yg brsbr&smg 4JJI pun mmdhkan,amin.” (Teh Vira, Selasa 14 Juni, 06.59)

”Mbak,katañ kena db?bnyk istirahat..lekas sembuh ya..sori ga bisa nemenin” (Maya, Selasa 14 Juni, 10.31)

”Innalillahi wa inna ilaihi roji’un.Sgala pnykt dtg dr Allah,smg jd pgugur dosa.Boromeusny ruang brp?Smg bs ksana jga,kalo g bsok,mgkn lusa.Bsbar ya,cpt smbh-iin” (Teh Iin Churin’in, Selasa 14 Juni, 10.42)

”AssWrWb.PripunKabare,Mbak?ktñMskRS?DemamBerdarah?MasyaAlläh..skrgSiapaYgNemenin?sySdg@Bogor,DMM.MaafBlmBsBesuk.makanYgCukup,istirht,&jgnLupaDo’a.SabarYah..Wss” (Dini, Selasa 14 Juni, 12.42)

”Yus,ini mbak aan.Denger dr anak2,katanya yustika kena DB.Maaf bgt ya,aku belum bs ksana:( Aku doain smoga cepat sembuh ya yus..Salam utk keluarga” (Mbak Aan, Selasa 14 Juni, 20.01)

”Ass.yus,kudengar km masuk borromeus ya?sakit apa?ruang apa,kmr brp?aq pgn jnguk.” (Fatma, Selasa 14 Juni, 20.04)

”Piye tho,njarene awak mu sakit.sak iki kan waktune liburan.”kacian d loe”,yo wis jaga kondisi yo” (Zaki, Selasa 14 Juni, 20.30)

”Assalamoalaikum.gimana kabarmu yus?mudah2an cpt pulih spt sediakala.” (Fatimah, Jumat 17 Juni, 08.18)

”Asslmkm. Yus,msh d Brmeus? Maaf C gk bs jenguk,skr lg d Plbg. smoga cpt sembuh ya,, yg sabar..insyAllah mjadi berkah :-) luv U -citra-” (Citra, Jumat 17 Juni, 10.17)

”Assalamu’alaikum. Piye Ka ? jaré opnamé ? kondisimu piyé sak iki ? ono sing ngancani opo ora ? mudah2an cepet sembuh. Wassalamu’alaikum” (Lik Is, Sabtu 18 Juni, 10.52)

”Assalamu’alaykum.just,afwan jiddan blm bs jenguk..syafakillah..lekas sembuh.smoga keikhlasan yg mengiri snantiasa mgugurkan dosa2&m+ keistiqomahan.luv u sist..” (Nana, Senin 20 Juni, 07.52)

”Ass. Yustika dénger2 lg sakit ya? Duh.. Gmn sih critanya kok bsa kena DB? Pake acara opname lg :-( tp dah sembuh kan skrg? Istirahat yg byk ya non. Wass” (Tanto, Senin 20 Juni, 20.20)

”AswWrWb, yustika. Sudah membaik kondisinya ? afwan, baru sempat ”mbezuk”. Semoga seluruh detik hidup yustika diridlai 4JJI SWT.” (Yando, Kamis 23 Juni, 18.17)

Dalam Duka

Kau hentikan waktu
dengan riak yang berpusing dan sejuta galau yang membias kabut
Mendung turun satu-satu
mencipta segaris bisu lalu diam-diam menjelma sunyi
Bahkan sepi merajai ruang antara kita
mencerabut uluran tangan, menepikan pandang teduh itu
Dalam segala resahmu ada cintaku
Pada segala keluhmu ada basuh rinduku
Tiap tetes embun matamu tercurah pula sayangku
Maka mengapa mesti menyerahkan mentari pada sang senja
sementara dalam tiap desah nafasmu ada dekap kasihku

Old Trafford Stadium

Old Trafford bukan sekadar legendaris, tapi juga modern. Di sini, konsep soccer stadium modern digulirkan. Ia menjelma sebagai pusat bisnis raksasa yang menobatkan sang pemilik, Manchester United, sebagai klub terkaya di dunia.

Tanggal 19 Februari 1910 menjadi tanggal bersejarah bagi Manchester United Football Club. Hari itu, lembaran sejarah mulai mencatat eksistensi Old Trafford Stadium, markas baru klub berjuluk Red Devils itu. Pertandingan pertama yang digelar adalah Manchester United lawan Liverpool. Sandy Turnbull (Liverpool) adalah orang pertama yang mencetak gol di stadion yang berkapasitas 80.000 orang itu. Sekaligus membawa Liverpool menjadi klub pertama yang menang di Old Traford dengan skor 4-3.

Mulanya, Old Trafford hanya memiliki satu tribun, Main Stand. Juga belum mempunyai lampu untuk pertandingan malam hari. Lampu stadion baru terpasang pada 1957, dioperasikan pertama kali pada 25 Maret ketika MU menjamu Bolton Wanderers. Old Trafford mengalami banyak pembenahan di era kejayaan MU pada dekade 60-an. Tribun baru, West Stand, yang berkapasitas 22.000 orang selesai dibangun pada 1959. Untuk menjadi tuan rumah Piala Dunia 1966, dibangunlah Cantilever Stand, tribun atas pertama yang menghabiskan biaya sebesar 350.000 pounds.

Tanggal 17 Maret 1995 menjadi tonggak sejarah kedua bagi Old Trafford. Ketika itu, Martin Edwards –pimpinan direksi MU– mengeluarkan pernyataan bersejarah, “MU akan merombak Old Trafford menjadi stadion termegah, berbiaya besar, dan mejadi proyek paling bergengsi yang pernah dibuat MU.”

3-Tier North Stand, proyek tersebut, menyedot dana sebesar 19 juta pounds. Empat ratus ton baja didatangkan untuk membangun tribun bertingkat dan beratap terbesar di Eropa. Sebanyak 32 boks khusus yang disebut Sky Boxes dibangun di atas tiang penyangga kedua. Proyek itu digarap pada musim kompetisi 1995/1996 dan resmi dibuka awal 1996. Kapasitas stadion melonjak hingga 55.000 orang. Old Trafford menjadi stadion terbesar di Inggris.

Old Trafford adalah stadion sepakbola modern. Tempat sebuah pertandingan sepakbola digelar cuma menjadi salah satu fungsi stadion ini. Selebihnya, Old Trafford menjelma menjadi pusat bisnis MU yang mendatangkan banyak keuntungan. Untuk menunjang fungsinya sebagai lapangan pertandingan, Old Trafford memiliki fasilitas lengkap seperti auditorium, ruang kontrol, kamar ganti, Executive Suite, ruang pemain, Private Boxes, press room, dan P.A. Room.

Sedangkan Museum, Megastore, dan Red Café menjadi fasilitas pelengkap Old Trafford dalam menyediakan diri sebagai tempat wisata. Fungsi wisata itu terlihat dari, misalnya, usaha menggelar Manchester United Tour untuk melihat semua fasilitas stadion. Tur itu dibuka mulai pukul 9.30 pagi hingga 4.30 sore. Di saat ada pertandingan, program tur diliburkan. Peminat harus memesan tiket seminggu sebelumnya kalau tidak ingin kehabisan tempat. Tapi ada beberapa bagian yang tak bisa bebas dimasuki. Tak seorang pun diizinkan menginjak rumput lapangan Old Trafford. Lapangan hanya dipakai oleh pasukan Setan Merah berikut stafnya di kala berlatih dan bertanding.

Lapangan tersebut berukuran 106 meter x 69,5 meter. Rumput yang ditanam –disebut Kentucky Blue Grass– berasal dari Amerika. Rumput tersebut cocok untuk permainan keras dan tidak membutuhkan banyak sinar matahari untuk pertumbuhan. Pada bulan April hingga November, rumput dipotong tiga kali seminggu. Sementara pada bulan November hingga April, rumput dipotong sekali seminggu. Untuk pengaturan volume air di lapangan, pihak MU juga menggunakan sistem drainase bawah tanah yang ditanam di bawah lapangan.

Stadion ini menyimpan sebuah tempat bersejarah bernama The Centre Tunnel, yang merupakan bagian yang dipertahankan sejak pertama kali dibangun. Lorong bagi pemain untuk memasuki lapangan itu merupakan bagian yang selamat dari hujanan bom yang dilakukan pasukan Jerman pada 1941. Lorong tersebut dipakai hingga 1993.

Bagian lain yang dijadikan monumen sejarah di Old Trafford adalah patung Sir Matt Busby. Patung tersebut diletakkan di gerbang utama, diresmikan Mei 1996. Di gerbang utama juga terpasang sebuah jam (mati) yang menunjuk pukul 08.45 tanggal 6 Februari 1958, tepat pada waktu pesawat yang ditumpangi pasukan Red Devils terbakar di Munich.

Friday, June 03, 2005

Menjadi Dewasa

Apa parameter yang tepat untuk ukuran dewasa? Dewasa tidak bisa diukur dengan angka. Menjadi dewasa tidak sama dengan bertambah tua. Keduanya bisa berbanding lurus, tentu saja. Tetapi bertambah tua saja tanpa menjadi dewasa bukan sesuatu yang jarang dijumpai.

Menjadi dewasa berarti lebih mengedepankan logika dibanding emosi ketika menghadapi masalah. Masalah adalah stimulus dari luar yang tak sepenuhnya bisa kita kontrol. Adalah respon diri yang bisa kita kontrol, dan respon itulah yang akan menunjukkan seberapa dewasa kita mengendalikan diri kita. Berhenti sejenak untuk berpikir sebelum bertindak. Tak berteriak-teriak dengan sikap bodoh hanya karena semua tidak berjalan sesuai kehendak.

Menjadi dewasa berarti belajar memaafkan. Selalu ada alasan mengapa orang lain melakukan kesalahan. Kita sama sekali tak berhak menghakimi. Menjadi sahabat yang baik, menjadi pendengar yang baik, lalu membantu mereka memperbaiki diri. Tak perlu menyalahkan masa lalu, tak perlu menyalahkan apapun atau siapapun. Kalau kesalahan tak pernah ada, dari mana kita belajar melakukan hal-hal dengan benar?

Menjadi dewasa berarti belajar mencintai diri kita apa adanya, dengan segala kelebihan dan kekurangan. Belajar menertawakan diri ketika melakukan hal-hal konyol, belajar menghargai diri ketika berhasil melakukan sesuatu, juga belajar menempatkan diri sebagai citra yang positif dalam menghadapi hidup yang indah ini. Memiliki selera humor yang tinggi bahkan untuk menghadapi hal paling pedih sekalipun. Mencoba mengambil hikmah dari apa saja, kapan saja, dan di mana saja. Kalau kita berhasil mencintai diri kita dengan cara ini, maka kita juga bisa mencintai orang lain dengan cara yang sama.

Menjadi dewasa berarti mensyukuri segala apa yang kita punya. Rumput di halaman tetangga tidak selalu lebih hijau. Kalaulah pencapaian kita saat ini belum menjadi pencapaian tertinggi, maka ikhtiar adalah jawaban. Berusaha menggapai yang terbaik sambil bersiap menghadapi yang terburuk. Tak perlu menyesali diri dan berandai bisa kembali memutar waktu. Tak ada yang perlu diulang dari detik-detik yang telah berlalu, karena tiap detiknya adalah detik-detik berharga yang membentuk diri kita menjadi seperti saat ini.

Pada akhirnya, menjadi dewasa berarti mendekat pada-Nya dengan sepenuh cinta. Karena usia adalah sesuatu yang fana, karena suatu hari nanti kita pasti berpulang kepada-Nya. Kita tak akan pernah menjadi dewasa bila kita tak pernah menyadari hal yang satu ini.