Lika-Liku Laki-Laki

Tuesday, June 02, 2009
Dalam kesempatanku mengunjungi kembali rumah kami di Cikarang akhir Mei lalu, tak ada yang lebih mengejutkan selain berita itu. Tetangga yang kami kenal baik, sebut saja pasangan suami istri Bu M dan Pak J, sedang dalam proses bercerai. Berita itu kudengar dari asisten rumah tangga mereka ketika aku sedang mengasuh Hanif di jalan depan rumah kami.

Di mataku, mereka adalah pasangan ideal. Sama-sama satu rumpun sebagai orang Jawa, yang satu cantik dan yang satu ganteng, satu almamater di UGM, dua-duanya sukses dalam karir, dan dikaruniai seorang putri cantik yang menyenangkan. Mereka ini pasangan muda, paling-paling keduanya masih di kisaran usia pertengahan 30-an. Putri mereka saja masih kelas 1 SD. Secara materi, mereka berkecukupan. Rumah bagus, dua kali lebih luas daripada rumah lain—karena mereka membeli dua rumah berdampingan lalu dijadikan satu, serta dilengkapi dua mobil pribadi.

Kehidupan mereka pun tampak menyenangkan. Selalu tampil sebagai keluarga harmonis dan bahagia. Selalu tampak rukun dan saling mendukung. Yah, setidaknya seperti itulah kesan yang kutangkap ketika aku tinggal di sana dulu. Tapi di balik kehidupan ideal itu, ada sesuatu yang harus dikorbankan: waktu Pak J. Sebagai karyawan ASTRA yang berkantor di Sunter, tiap hari Pak J harus pergi pagi-pagi dan pulang larut malam. Waktu luang untuk keluarga hanya ada di akhir pekan.

Aku tak pernah mengira mereka akan berakhir seperti ini. Dengar-dengar dari asisten itu (Ya Allah, bukan maksud hamba bergosip, asisten itu yang bercerita sendiri sementara hamba diam saja) Pak J sudah menikah dengan sekretarisnya di kantor dan sudah pisah ranjang dengan Bu M dua bulan ini. Mereka bercerai karena Bu M tidak mau dimadu.

Sore itu ketika putri mereka sedang bermain bersama Hanif, aku memandangnya iba. Aku ingat betapa riangnya ia tiap kali mereka bertiga berkumpul atau meluangkan waktu bersama. Sebagai anak dari kedua orang tua yang berkarir, waktu dengan ayah bundanya tentu menjadi hal yang mahal, hal yang membuatnya berbinar. Kini ia terpaksa bermain-main sendiri karena bundanya jadi sakit-sakitan akibat kejadian ini. Aku miris membayangkannya merindui ayahnya. Aku miris membayangkannya merindui keceriaan bundanya. Aku miris karena ia terpaksa harus jadi anak tunggal korban perceraian, tak ada saudara tempat berbagi. Masya Allah...

Aku terhenyak. Tak tahu harus berpendapat apa. Terlepas dari siapa yang bersalah, aku ingin membahas hal ini sedikit. Sebenarnya, apa sih yang membuat para suami pindah ke lain hati? Mengingat mereka ini pasangan muda, seharusnya jenuh atau bosan bukan faktor utama. Seharusnya kenangan merajut impian di masa-masa awal pernikahan masih jelas terpatri. Mengapa semudah itu jatuh ke pelukan perempuan lain? Apakah karena jarang bertemu dengan sang istri? Apakah karena lebih sering bertemu dengan si sekretaris?

Kalau jawabannya ya, alangkah mengerikannya kehidupan Jakarta. Faktor jarak dan waktu merampas kehidupan keluarga. Demi alasan bisnis, keluar dengan perempuan lain menjadi hal biasa. Ingat bahwa witing tresna jalaran saka kulina. Apa karena itukah?

Hati laki-laki seperti gua. Gelap dan sulit diraba. Aku tak pernah mengerti jalan pikiran mereka, juga hati mereka. Mengapa suatu saat mereka bisa sangat romantis, lalu mengapa kali lain juga bisa menyakiti hati perempuan sedemikian rupa? Apa yang laki-laki cari dalam diri seorang perempuan? Apakah ikatan suci pernikahan tak ada maknanya? Apakah anak-anak tak ada artinya?

Kalau sudah begini, aku jadi ngeri membayangkan kehidupan Jakarta. Yang tak kuat iman bisa tergoda. Lihat saja berita-berita di televisi itu, betapa godaan perempuan maha dahsyatnya. Aku sadar sepenuhnya, kehidupan pernikahanku yang sangat tidak ideal karena hidup terpisah dengan pasangan—kalau dipikir-pikir—rentan dengan hal-hal semacam ini. Sementara umur pernikahan ini baru seumur jagung, masih terus membangun komunikasi—yang tak juga kunjung solid. Semoga Allah menyelamatkan dan menjaga kami.

Labels:

 
posted by Yustika at 4:23 PM | Permalink |


1 Comments:


  • At 9:09 PM, June 08, 2009, Anonymous Daud

    kirain cowok aja yang merasa hati cewek sulit diterka, ternyata sebaliknya juga :))