Thursday, October 06, 2022

Manual Brewing: Cara Jitu Menikmati Keunikan Kopi

Kegemaranku minum kopi telah mengalami transformasi besar-besaran selama kurun waktu dua puluh tahun ini. Ketika pertama kali mencicipi kopi pada saat kuliah, aku hanya minum kopi saset demi tujuan menemani malam-malam begadang untuk belajar atau mengerjakan tugas. Kopi saset yang menjadi favoritku di masa itu adalah Nescafe 3 in 1 instant cream latte dengan kemasan stik. Kopi yang mungkin isinya lebih banyak perisa dan gula, tetapi ampuh untuk mengganjal mataku hingga dini hari.

Coffee map dari sini

Lambat laun aku mulai beralih ke kopi tubruk dan beberapa jenis kopi espresso-based, masih dengan gula tentunya. Kopi tubruk favorit adalah Kopi Aroma, yang dulu hanya melayani pembelian di toko Jl. Banceuy No. 51, Bandung. Namun, kini produk toko tersebut bisa pula kita temukan di beberapa supermarket besar atau online shop di marketplace. Sementara kopi espresso-based favorit adalah americano, latte, atau cappucino.

Ketika gaya hidupku beralih ke gaya hidup sehat dengan menjaga pola makan, kegemaranku minum kopi tidak berhenti. Kopi memiliki banyak manfaat, antara lain: meningkatkan kinerja otak, menurunkan risiko kanker dan diabetes, sebagai sumber antioksidan, bahkan dapat membantu membakar lemak karena meningkatkan metabolisme–dengan jumlah gula yang tidak berlebihan tentu saja. Aku kemudian mencoba mengurangi gula yang terkandung di dalamnya, mulai dari less sugar hingga kini aku bisa minum kopi dengan no sugar sama sekali.

Berbagai pilihan metode manual brewing, sumber dari sini

Perjalananku menjadi penikmat kopi memasuki babak baru ketika seorang teman memperkenalkanku pada manual brewing. Manual brewing adalah teknik menyajikan kopi yang diseduh dengan cara manual. Teknik ini menggunakan bubuk kopi yang sudah digiling, kertas filter, dan air panas yang sudah ditentukan tingkat temperaturnya. Filter berfungsi menahan semua elemen yang tersaring, termasuk minyak dari biji kopi, sehingga menghasilkan hasil seduh yang jernih. Minuman yang dihasilkan adalah kopi hitam tanpa ampas yang memiliki tingkat ketajaman rasa yang berbeda, tergantung alat seduh yang digunakan dan jenis biji kopinya. Sebaiknya kopi hasil seduh manual brew ini dinikmati tanpa campuran susu atau gula untuk mempertahankan keunikan rasanya.

Bila kita memesan kopi manual brew, biasanya ada beberapa pilihan biji kopi yang beragam, lokal maupun impor, single origin maupun blend. Aku lebih suka menjajal coffee shop kecil yang bersifat private karena biasanya kita bisa lebih leluasa mengobrol dengan baristanya. Pada kesempatan seperti itu, kita bisa bertanya seperti apa tasting notes yang dimiliki oleh pilihan biji kopi tersebut, atau informasi lain tentang perbedaan-perbedaan biji kopi yang dihasilkan oleh berbagai daerah di Indonesia atau mancanegara.

Beberapa metode manual brewing yang jamak ditemui di coffee shop tanah air adalah metode Pour Over (V60, Chemex, Kalita Wave), French Press, Aeropress, Syphon, Cold Brew, dan Vietnam Drip. Dari berbagai macam metode manual brewing, ada banyak faktor yang menentukan hasil seduh, seperti pemilihan jenis kopi yang tepat, ukuran gilingan yang sesuai, dan teknik penyeduhan yang benar. Berbagai macam metode ini juga berpengaruh terhadap cita rasa kopi, meliputi body dan clarity. Biji kopi yang sama dapat menghasilkan rasa kopi yang berbeda bila diseduh dengan metode yang berbeda. Contohnya bila diseduh dengan metode French Press, rasa yang dihasilkan memiliki karakter body yang lebih tebal. Jika ingin rasa yang lebih clean, lebih baik bila biji kopi diseduh dengan V60 yang lebih mengunggulkan flavor daripada body.

Manual brewing yang menjadi favoritku adalah metode V60. Cangkir V60 pertamaku kunikmati pada suatu petang di Kedai Badai, Bandung, sebuah coffee shop mungil yang kini sudah tak ada lagi. Ada rasa aneh yang muncul, kemudian sensasi nikmat yang mengikutinya. Lama-lama penjelajahanku terhadap V60 dari kafe ke kafe membuatku terbiasa, dan kemudian menjadikannya cara favorit untuk menikmati kopi dengan hasil seduh clean dan full clarity.

Beraneka ragam cita rasa kopi, sumber dari sini

Aku dulu merasa aneh jika ada orang bicara tentang rasa macam-macam kopi, mulai dari strong/bold dan full body, hingga flavorful seperti floral, fruity, nutty, dan herbs (bercita rasa seperti rempah-rempah atau jamu). Sebelum aku paham, rasanya semua kopi sama saja, aku cuma bisa membedakan pahit atau asam. Sejak menjadi penikmat V60, aku mulai bisa merasakan cita rasa yang beraneka ragam … dan ternyata memang beda-beda banget rasanya. Menikmati kopi dengan kemurnian yang hakiki itu nyatanya membawa lidah kita lebih peka dalam mengeksplorasi berbagai macam cita rasa kopi yang berbeda.

Beberapa biji kopi single origin specialty yang menjadi favoritku adalah kopi Flores Bajawa, Flores Yellow Caturra, Toraja, Papua Wamena, Bali Kintamani, Mandailing, dan kopi-kopi Jawa Barat seperti Gunung Halu, Gunung Puntang, Ciwidey, dan Caringin Tilu. Kopi-kopi yang ditanam di tanah vulkanik pada dataran tinggi seperti kopi Flores dan Papua memiliki cita rasa yang kuat (moderate bold dan full body), tingkat keasaman yang medium, dan aroma yang lebih harum (semisal aroma cherry, blueberry, nuts, atau sweet caramel). Sementara kopi Bali Kintamani yang bervarietas arabika rasanya lebih lembut, ringan, medium body, tingkat keasaman rendah (sweet mild acidic), dan clean finish.

Aku tidak suka kopi Aceh seperti kopi Gayo karena menurutku terlalu asam. Aku juga pernah mencoba beberapa jenis biji kopi mancanegara, seperti kopi Tanzania dan kopi Kenya, tetapi tidak cocok dengan lidahku. Rasanya eksotis sih, ada semacam aroma rempah seperti jamu, tetapi pahit dan rasa asamnya sedikit lebih kuat.

Manual brewing adalah suatu alternatif bagi para penggemar kopi untuk dapat menikmati rasa yang unik dan berbeda bila dibandingkan dengan kopi espresso-based. Manual brewing membawa kita menjelajahi cita rasa dan pengetahuan yang lebih dalam di dunia kopi. Jika ada kesempatan, tak ada salahnya menjajal metode yang satu ini. Namun, pada akhirnya kopi yang paling enak adalah kopi yang dinikmati dengan hati penuh syukur :)


Tulisan ini diikutsertakan dalam Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan Oktober yang bertema “Mamah dan Kopi”.

Sunday, September 18, 2022

Mengubah Kebiasaan

Menurut KBBI, “kebiasaan” adalah (1) sesuatu yang biasa dikerjakan dan sebagainya; (2) pola untuk melakukan tanggapan terhadap situasi tertentu yang dipelajari oleh seorang individu dan yang dilakukannya secara berulang untuk hal yang sama. Jika seseorang sudah memiliki kebiasaan akan sesuatu, dia akan melakukannya dengan rutin, effortless, dan spontan. Spontan dalam hal ini berarti terjadi otomatis tanpa perlu dipikirkan sebelumnya.

Karena kebiasaan mempengaruhi spontanitas, kita harus sadar diri untuk menjadikan hal-hal baik sebagai kebiasaan. Hal ini mengandung hikmah supaya ketika kita bersikap spontan, hanya hal-hal baik yang mewujud dari lisan dan perbuatan kita. Contoh sederhananya adalah memperbanyak istigfar ketika terkejut sehingga bila suatu saat kita terkaget-kaget karena sesuatu, kita akan spontan berucap “Astaghfirullah” dan bukan “Eh, ayam ayam ayam”, misalnya.

Kebiasaan juga mempengaruhi perasaan dan kecenderungan. Contoh paling gampang adalah soal makanan. Kebanyakan dari kita pasti lebih familiar dengan menu makanan nusantara, maka hal tersebut akan mempengaruhi preferensi kita dalam hal selera. Tentu kita akan memilih rasa yang paling “dekat” dengan menu sehari-hari–bahkan ketika kita sedang bepergian sekalipun–karena hal itu berkaitan dengan kebiasaan.

Rumus mengubah kebiasaan ada dua, yaitu latihan dan repetisi. Kita perlu berlatih supaya kita bisa, sedangkan repetisi diperlukan supaya kita terbiasa. Banyak orang meyakini bahwa waktu yang diperlukan untuk membentuk sebuah kebiasaan baru adalah empat puluh hari, di antaranya Kelly McGonigal yang menulis buku 40 Days to Positive Change atau Tommy Newberry yang menulis buku 40 Days to a Joy-Filled Life. Oleh karena itu, minimal kita berlatih dan melakukan repetisi selama empat puluh hari untuk membentuk sebuah kebiasaan.

Bagaimana dengan waktu yang diperlukan untuk mengubah kebiasaan lama? Memang tidak ada angka yang pasti, tetapi Ustaz Weemar dalam kajiannya menyebutkan bahwa hal tersebut membutuhkan waktu sekitar satu tahun. Hal ini tentu tergantung pada kedalaman tingkat kebiasaannya. Karena meninggalkan kebiasaan lama itu susah, jangan sekali-kali kita membentuk kebiasaan buruk dengan mencoba melakukan hal-hal yang tidak baik. Lebih baik sedari awal kita tidak mencicipinya sedikit pun. Jika kebiasaan buruk sudah terbentuk, dia akan mengalahkan akal.

Selain latihan dan repetisi, hal terpenting dalam membentuk kebiasaan adalah sifat istikamah. Menurut KBBI, “istikamah” adalah sikap teguh pendirian dan selalu konsisten. Dalam hal kebaikan, istikamah dapat diartikan tetap konsisten pada jalan yang benar dengan progres kebiasaan yang terus naik (tidak datar) sehingga hari esok lebih baik daripada hari ini. Hal tersebut tentu sungguh berat karena terkait erat dengan pembiasaan, tetapi sangat diperlukan demi perubahan ke arah yang lebih baik.

Rasulullah Saw. bersabda, "Wahai sekalian manusia. Kerjakanlah amalan-amalan sesuai dengan kemampuan kalian. Sesungguhnya Allah tidak bosan sampai kalian bosan. Dan sungguh, amalan yang paling dicintai oleh Allah yaitu yang dikerjakan secara terus-menerus walaupun sedikit." (H.R. Bukhari dan Muslim)

"Maka istikamahlah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah tobat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan." (Q.S. Hud: 112)

Monday, September 05, 2022

Belanja: Dulu dan Sekarang

Ketika aku duduk di bangku kuliah dan belajar tentang Sistem Embedded dua puluh tahun lalu, ide tentang smart home yang terintegrasi dengan smart shopping tampak sangat menakjubkan. Seorang dosen memberi suatu contoh mengenai isi kulkas yang selalu ter-update stoknya sehingga ketika bahan makanan atau minuman menjelang habis, kulkas akan mengirimkan notifikasi ke grocery store untuk melakukan online shopping. Tuan rumah tinggal membayar via transfer dan voila … barang yang dikirim melalui jasa ekspedisi pun sampai di rumah.

Siapa mengira jika gambaran absurd yang tampak mustahil di masa lalu kini menjadi suatu hal yang biasa? Ya, memang telah terjadi revolusi besar-besaran dalam hubungan kita dengan aktivitas belanja saat ini. Seperti apakah itu? Yuk, mari kita simak.

Pasar Zaman Dahulu

Semasa aku kecil, pergi ke pasar tradisional merupakan siksaan. Ibu kerap mampir ke pasar seusai menjemputku dari sekolah. Jika hari libur, Ibu juga sering mengajakku menemani beliau pergi ke pasar. Lantai yang becek dan bau yang tidak sedap menjadi momok yang rela dengan sabar kuhadapi demi mendapatkan kudapan berupa jajanan pasar atau es dawet kesukaan. Peluh yang bersimbah dan kernyitan di dahi akibat menahan rasa mual akhirnya terbayar sudah ketika menyeruput es dawet nikmat, meskipun hal itu harus dilakukan dengan mengalihkan pandang dari kotornya pasar.

Pasar Gede, Solo, dulu dan sekarang

Sejatinya pasar-pasar tradisional memiliki napas panjang sejak zaman Belanda. Pada zaman dahulu, banyak pasar yang didirikan di pinggir jalan dan tidak menempati bangunan permanen seperti los-los zaman sekarang. Kebanyakan pasar berlokasi di persimpangan jalan karena merupakan titik strategis dan biasanya berada di area perdagangan, seperti halnya Pasar Gede Solo yang berada di kawasan pecinan. Meskipun demikian, Olivier Johannes Raap dalam bukunya Kota di Djawa Tempo Doeloe menulis, “Sekitar tahun 1900-an, jalan yang dijadikan Pasar Besar tersebut belum dijejali dengan barisan ruko Tionghoa. Melainkan masih dinaungi pepohonan rindang di kedua sisinya.”

Pasar zaman dulu ada dan bergerak karena transportasi. Tak hanya di persimpangan jalan seperti kebanyakan pasar di Jawa, pasar-pasar juga mewujud pada lintasan sungai-sungai yang menjadi jalur keluar masuk ke pedalaman, seperti yang terjadi di Kalimantan. Pasar-pasar itu hidup melalui interaksi masyarakatnya. Tak melulu soal perniagaan, pasar juga menjadi ajang lintas teritorial dan akulturasi budaya.

Salah satu hal yang paling aku rindukan dari aktivitas berbelanja di masa lalu adalah kearifan menggunakan kemasan ramah lingkungan. Orang-orang zaman dulu masih sangat mengandalkan sumber daya alam. Kemasan yang digunakan adalah kemasan berbahan alam seperti daun pisang, daun pepaya, daun jati, atau kertas bekas. Daging atau ikan dibungkus dengan daun jati atau daun pepaya, telur dibawa dengan keranjang anyaman bambu, sayuran atau bumbu dapur dibungkus dengan koran bekas, makanan berkuah dibawa dengan rantang. Tas belanja yang digunakan juga rata-rata tas anyaman yang terbuat dari bambu. Barang-barang yang bukan makanan dibungkus dengan kertas kuning dan dibawa dengan tas kain atau tas anyaman. 

Pada zaman itu, lahan hijau memang masih luas. Persediaan daun pisang, daun jati, dan daun pepaya nyaris tidak terbatas dan mudah sekali diakses. Limbah kemasannya pun tak menjadi masalah karena sifatnya organik dan mudah terurai. Kemasan plastik yang sampahnya menimbulkan banyak masalah bagi lingkungan terhitung masih jarang sekali. Ah, rindu sekali dengan zaman itu.

Kemudahan Berbelanja di Ujung Jari

Berbeda dengan aktivitas belanja di masa lalu, aktivitas belanja di masa kini rata-rata sudah bertempat di pusat perbelanjaan yang rapi dan bersih. Pasar tradisional masih tetap ada, tetapi tampilannya sudah jauh lebih baik karena direnovasi mengikuti standar pasar modern. Selain itu, ibu-ibu zaman now juga sangat dimudahkan aktivitas belanjanya dengan maraknya online shopping. Bahkan toko-toko besar seperti Matahari dan Uniqlo yang toko offline-nya ramai didatangi masyarakat pun kini sudah menyediakan situs belanja untuk para pelanggan yang lebih menyukai online shopping.

Ilustrasi online shopping

Banyaknya pilihan berbelanja saat ini sejatinya lahir dari kebutuhan masyarakat yang kian sibuk dan makin menghendaki kemudahan. Dengan dukungan teknologi dan gawai pintar, cukup jari-jemari yang bergerak untuk melakukan transaksi. Interaksi antara penjual dan pembeli diwakili angka dan teks yang terpampang di layar. Praktis, aman, nyaman, bisa dilakukan kapan saja dan di mana saja. Perniagaan tak lagi memerlukan lapak di pasar, toko, atau warung yang berlokasi strategis di pinggir jalan.

Di satu sisi, hal ini bisa menjadi pilihan ideal bagi masyarakat yang sibuk. Namun, di sisi lain, hal ini justru makin mengalienasi manusia satu dengan yang lainnya. Pertemuan fisik, saling sapa, saling tawar, atau saling tukar informasi tak lagi ada. Pola interaksi perniagaan telah mengalami perubahan besar-besaran dari zaman nenek moyang dulu. Tak pelak kita memasuki era baru yang mengubah pola struktur sosial yang telah bertahan ratusan tahun.

Aku sendiri tidak masalah dengan online shopping. Bahkan dulu aku punya toko online juga, yang kerap menguji kesabaran karena pembelinya masih saja menanyakan spesifikasi teknis padahal sudah ditulis detil pada deskripsi. Yah, memang begitulah tingkat literasi masyarakat kita, wkwkwk.

Beberapa kelemahan yang kurasakan ketika berbelanja online adalah ketidakmampuan melihat barang dan menilai kualitasnya secara nyata. Foto atau gambar yang terpampang di layar kadang tidak membuatku puas karena tidak bisa diraba dan disaksikan kasat mata. Selain itu, pada banyak online shop–bahkan yang sudah dijaga keamanannya seperti pada marketplace–masih saja ada tipu-tipu. Oleh karena itu, untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, biasanya aku hanya berbelanja online pada kenalan atau toko yang memang sudah kuketahui benar reputasi dan kredibilitasnya.

Jika ditilik-tilik, sepertinya aku lebih sering berbelanja online akibat iklan-iklan kenalan melalui Whatsapp, kemudian langsung mengontak mereka secara pribadi untuk melanjutkan transaksi. Entah mengapa, buatku hal ini terasa lebih intim daripada berbelanja ke marketplace. Selain bisa bertukar kabar dengan mereka, hal ini juga dalam rangka melariskan dagangan teman dan mendukung usaha yang mereka bangun. Mudah-mudahan hal ini juga menjadi added value supaya masyarakat tidak lagi makin terasing satu sama lain.


Tulisan ini diikutsertakan dalam Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan September yang bertema “Mamah dan Dunia Belanja”.

Sunday, September 04, 2022

Belajar Memahami Anak dengan Bijak

Pernahkah Anda membaca buku Totto-chan: Gadis Cilik di Jendela yang ditulis oleh Tetsuko Kuroyanagi? Buku ini bagus untuk dibaca para orang tua dan praktisi pendidikan anak. Meskipun dikemas dengan bahasa sederhana, sesungguhnya ia sarat akan pesan-pesan parenting. Aku membaca buku ini puluhan tahun lalu bahkan ketika aku belum punya anak, tetapi pesan mendalam yang kutangkap waktu itu begitu membekas dan berhasil membentuk gambaran ideal di benakku tentang bagaimana seharusnya hubungan orang dewasa dengan anak terjalin. Pesan-pesan parenting-nya sungguh tak lekang oleh waktu dan tetap relevan hingga kini meskipun latar belakang buku ini adalah kondisi di Jepang  sebelum Perang Dunia II.

Totto dalam novel ini digambarkan sebagai seorang anak yang polos, punya rasa ingin tahu besar, selalu antusias dengan hal-hal baru, penuh imajinasi, dan selalu bersemangat sehingga sering menguji kesabaran gurunya. Dia dikeluarkan dari sekolah karena dianggap nakal dan susah diatur. Ibunya kemudian mencarikannya sekolah baru hingga akhirnya dia bertemu dengan Pak Kobayashi, kepala sekolah yang sangat sabar, hangat, penuh kepedulian dan kasih sayang, serta begitu memahami karakter anak-anak didiknya.

Bicara soal karakter unik Totto-chan, kita perlu memahami baiknya perlakuan membesarkan hati anak sehingga anak tidak merasa dirinya buruk. Ada dua kemungkinan penyebab anak dianggap bandel. Kemungkinan pertama, anak tersebut memang bermasalah. Kemungkinan kedua, anak tersebut adalah anak pandai yang kreativitasnya dibatasi rutinitas. Kebanyakan orang dewasa menganggap tipe anak kedua sama saja dengan tipe anak pertama karena orang dewasa tidak mau menggali apa sebenarnya yang dirasakan oleh si anak, padahal tipe anak kedua bukanlah tipe anak bandel. Ia hanya seorang anak dengan rasa ingin tahu yang sangat besar, yang berusaha memahami dunia di sekelilingnya dengan pengetahuan yang dibangun berdasarkan kehidupan sehari-hari, bukan berdasarkan tugas-tugas rutin sekolah yang membosankan.

Sekolah yang menyenangkan adalah sekolah yang membebaskan. Anak bebas menyerap pengetahuan dengan cara menyenangkan sehingga pengetahuan membekas pada jiwa dan dapat menghasilkan sesuatu yang konkret untuk kehidupan. Namun, kebebasan yang dimaksud tentu bukan kebebasan yang murni. Aturan dan tanggung jawab tetap diperlukan dalam kebebasan berekspresi karena berkaitan erat dengan adab, etika, sopan santun, dan kewajiban. Dalam sebuah sistem sekolah yang menyenangkan, pemberian tugas tidak ditiadakan sama sekali. Tugas tetap diberikan, tetapi tugas bukan segalanya. Dalam sebuah sistem sekolah yang baik, anak merasa dirinya diterima sekaligus merasa aman dan rileks untuk berbuat (berpendapat, belajar, bermain, dsb.) karena anak mempunyai fitrah untuk dicintai, dihargai, dipahami, dan diakui.

Seorang anak yang mempunyai rasa ingin tahu yang besar seharusnya tidak dianggap sebagai anak yang merepotkan. Keingintahuan adalah dasar untuk mencari ilmu pengetahuan. Seorang pendidik memiliki tugas untuk mengarahkan keingintahuan si anak menjadi keingintahuan yang produktif dengan sistem belajar mengajar yang bebas, menyenangkan, tetapi bertanggung jawab.

Seorang pendidik yang baik juga harus mempunyai kelebihan untuk melakukan pendekatan yang konkret kepada anak, misalnya dengan menjadi pendengar yang baik sehingga anak merasa dihargai, atau dengan melontarkan kalimat-kalimat positif untuk menumbuhkan sikap optimisme anak. Dua hal ini dicontohkan secara gamblang oleh buku Totto-chan, seperti ketika Kepala Sekolah Kobayashi mau mendengarkan cerita Totto-chan selama empat jam penuh, atau kenyataan bahwa Kepala Sekolah Kobayashi sering menyebut Totto-chan sebagai anak baik untuk menanamkan rasa percaya dirinya.

Dalam menerapkan kebebasan anak, kita tetap perlu mengajarkan kepada anak tentang mana yang boleh dan mana yang tidak boleh. Dengan demikian, anak tetap dilatih untuk berpikir kritis dalam kebebasannya sehingga ia memiliki self control yang baik. Terkait dengan pengajaran tentang tanggung jawab, hukuman tetap diperlukan. Hanya saja kita tidak boleh menghukum anak sebelum ia mengerti aturan dan kesalahannya. Hukuman tidak identik dengan pemberian penderitaan karena ia adalah penyadaran akan tanggung jawab dengan cara pemberian konsekuensi. Dalam buku Totto-chan, Kepala Sekolah Kobayashi “hanya” memberikan konsekuensi untuk membersihkan kembali apa yang telah Totto-chan jadikan berantakan karena konsekuensi tersebut sudah menjadi hukuman yang pantas untuknya.

Dalam usaha mewujudkan sistem belajar mengajar yang baik dan efektif, selain penyesuaian kurikulum dengan tahapan proses perkembangan anak berdasarkan usia, interaksi anak dengan pendidik harus baik. Hal itu antara lain bisa dibangun lewat kemampuan pendidik untuk berempati, mengenali anak, dan menerima anak apa adanya. Dengan demikian, anak akan merasa senang untuk belajar ilmu pengetahuan dan bersosialisasi sehingga ia siap terjun ke masyarakat di kemudian hari.

Saturday, August 06, 2022

Sadrah

Aku menatap lelaki di hadapanku. Dia baru saja menutup laptop di pangkuanku, mengambilnya, lalu meletakkannya di meja. Gerakannya tegas, tetapi sorot matanya teduh tanpa amarah.

“Sudah kubilang untuk istirahat, kan,” katanya kemudian sambil tersenyum. Dia mengambil langkah panjang ke jendela di sudut kamar dan menyibakkan tirai. Seberkas sinar mentari jatuh di wajahku; aku mengernyitkan mata.

“Ups, maaf … silau ya?” Dia tertawa renyah sambil mengacak rambutku pelan ketika sudah sampai di sisi pembaringan. Tangannya dengan sigap membereskan berkas-berkas yang bertebaran di kasur.

“Istirahat dulu sampai sembuh. Oke?” Dia menatapku tegas. Aku menarik napas dalam-dalam sambil menyandarkan kepala ke bantal. Baiklah, aku menyerah.

Dua hari lalu aku kolaps di kantor. Mereka membawaku ke sini dan dokter menyuruhku beristirahat selama beberapa hari karena aku mengalami hipoglikemia dan kadar hemoglobinku sangat rendah.

“Pengen makan apa?”

Aku menggeleng. “Nggak pengen apa-apa.”

“Aku beliin apa saja yang kamu mau. Makanan rumah sakit nggak terlalu menggugah selera, kan?” Dia menunjukkan layar aplikasi pesanan antar dengan antusias.

“Nggak usah, Ben.”

Kupandang Beni dengan lekat. Aku mengenalnya setahun lalu di sebuah gym tempat dia menjadi personal trainer di sana. Saat itu hampir tiap hari aku mampir ke gym untuk mengurai pikiran yang ruwet, tanpa tahu akan berkenalan dengan sosoknya yang begitu tulus. Aku bukan kliennya, tetapi dengan riang dia berbagi kiat bagaimana gerakan yang benar, berbincang tentang nutrisi dan gaya hidup sehat, hingga akhirnya kami akrab satu sama lain dan sering pergi bersama.

Beberapa bulan lalu dia menyatakan cintanya. Menjalin hubungan serius dengan seseorang adalah hal terakhir yang ada dalam benakku, maka dengan berat hati aku menolaknya. Aku menyukainya, tetapi ada banyak ketakutan dari masa lalu yang masih memberati pundakku. Hari demi hari berlalu tanpa ada yang berubah dari dirinya: masih tulus dan peduli, juga masih bersikap penuh perhatian.

Seorang petugas katering masuk ke dalam kamar dan membuyarkan lamunanku. “Silakan sarapannya, Bu.”

Beni dengan serta merta meraih nampan dan membuka plastik yang menutupi permukaan piring. “Aku suapin ya, Ta?”

“Belum lapar, Ben.”

“Ta, nggak boleh gitu. Nanti gula darahnya nge-drop lagi kalau kamu nggak makan.”

“Nanti saja, Ben. Nanti aku makan sendiri.”

Beni menyentuh daguku pelan, lalu menghadapkan wajahku tepat di depan wajahnya. Mata kami berserobok.

“Jangan ngeyel terus, Ta,” katanya dengan lembut, “nanti nggak sembuh-sembuh.”

Aku melihat kasih terpancar dari bening mata coklatnya. “Kenapa masih betah ngurusin aku, Ben? Kamu kan tahu betapa keras kepalanya aku.”

Beni meraih tanganku dan menggenggamnya. “You know why. Sudah, sekarang jangan ngeyel lagi. Aku suapin, ya?”

Aku mengangguk pasrah.

***

Aku berlari dengan terengah-engah. Bayangan laki-laki itu terlihat ketika aku menoleh. Kupercepat langkah sambil menengok ke kiri dan ke kanan mencari tempat persembunyian. Aku mengusap sudut bibirku yang berdarah. Ah, sial. Dia lebih cepat. Sudah tinggal beberapa meter saja dia di belakangku.

“Mau lari ke mana kau sekarang?” serunya sambil tertawa keras. Bulu kudukku berdiri. Dalam sekali loncat dia berhasil menarik bajuku. Aku terbanting ke jalan.

Tiba-tiba kepalaku terasa sakit sekali. Ternyata laki-laki itu menempelengku dengan keras sampai aku terjatuh. Dijambaknya rambutku, lalu dibenturkannya kepalaku ke aspal. Dia memegang pergelangan tanganku dengan kencang. Napasku megap-megap.

“Ta! Bangun, Ta!” Aku mendengar suara Beni samar-samar. Kubuka mata dengan berat. Napasku masih memburu. Ketika aku sadar sepenuhnya, kudapati tangan Beni-lah yang memegang pergelangan tanganku. Kamar rumah sakit ini terasa dingin dan gelap.

“Aku bermimpi?” Kulihat pandangan khawatir di mata Beni. Dengan lembut dihapusnya air mata dari sudut mataku.

“Mimpi apa sampai menangis begini?”

Aku tak menjawab, tetapi balik bertanya, “Pukul berapa sekarang?”

“Pukul sepuluh malam. Aku tadi ke sini sepulang dari gym.”

“Kepalaku pusing sekali.”

Pandangan Beni tampak prihatin. “Mereka bilang, kalau Hb-mu tak kunjung naik, besok harus transfusi.”

Aku mendesah pelan dan mencoba duduk. Beni sigap membantu.

“Aku capek, Ben.”

“Ta …”

“Aku lelah dengan semua ini. Aku pikir dengan menyibukkan diri pada pekerjaan, aku akan bisa lupa.” Aku tergugu.

Beni merengkuhku. “Bebanmu terlalu berat, Ta. Justru dengan rapat-rapat sampai malam, mengejar tender proyek sampai habis-habisan, kamu menghancurkan badanmu sendiri. Padahal yang mengganggumu itu ada di pikiranmu.”

“Aku nggak tahu harus bagaimana, Ben. Bayangan dirinya terus mengejar.”

“Hei, dengerin aku. Laki-laki itu nggak bisa menyakitimu lagi.”

Bahuku terguncang di dada Beni. Menjadi korban KDRT selama bertahun-tahun benar-benar menyisakan kepedihan. Bukan hanya tilas patah tulang, rahang yang bergeser, atau bekas luka jahitan, melainkan juga trauma psikologis berkepanjangan meskipun aku sudah lama tidak bertemu mantan suamiku.

Beni membiarkanku menangis di pelukannya. Ketika akhirnya aku tenang, dia berkata, “Aku nginep di sini ya malam ini.”

Sambil menghapus sisa-sisa air mata, aku kembali berbaring. Beni membetulkan letak selimutku, mengecup keningku, lalu melangkah ke arah sofa dan tidur meringkuk di atasnya. Aku merasa lebih nyaman melihat dia ada di situ, tetapi masih ada hal yang mengganjal di hatiku.

***

Aku sedang mengganti-ganti saluran televisi dengan bosan ketika Beni masuk ke kamar. Kausnya basah oleh keringat.

“Pas aku bangun tadi kamu masih tidur, jadi aku jogging dulu sebentar,” katanya.

“Sudah kuduga,” sahutku, “pagi yang cerah ini memang sayang untuk dilewatkan begitu saja.”

“Dokter sudah visit?”

“Sudah.”

“Lalu apa dia bilang?” tanya Beni dengan tatap penasaran.

“Hb-ku sudah naik. Sudah di range normal, jadi nggak perlu transfusi. Hari ini sudah boleh pulang.”

“Syukurlah,” katanya sambil tersenyum, “habis ini harus makan yang benar, banyak istirahat.”

Dia duduk santai di atas sofa sambil menenggak air mineral. “Hari ini aku ada janji dengan klien pukul sembilan. Mungkin selepas makan siang aku baru bisa kemari. Check out-nya nunggu aku saja ya, nanti aku yang urus-urus.”

Aku berdehem membersihkan tenggorokan. “Ben, sebenarnya ada yang ingin aku bicarakan.”

“Hmm?” Pandangannya masih mengarah ke dalam tas.

I’ve been thinking about us.”

Gerakan tangan Beni terhenti. Dia mendongakkan kepala dan menatapku tajam. Aku merasa senewen.

“Ada apa?” Kali ini nadanya curiga. Aku bahkan tak berani menatapnya.

“Ehm … Ben, aku rasa kamu harus berhenti ngurusin aku.”

“Kenapa? Kamu merasa nggak nyaman?”

“Oh, bukan,” tukasku cepat, “hanya saja … aku banyak merepotkan.”

“Nggak sama sekali.” Dia mengernyit.

“Dengar, Ben. You’re a good person. Banyak gadis-gadis di luar sana yang lebih pantas buat kamu. Kenapa kamu masih bertahan ngurusin seorang janda yang bahkan …”

“Ta! Kamu ngomong apa sih?” Dia berjalan ke arahku dan duduk di tepi tempat tidur.

I’m such a burden, Ben. I’m torn. I’m a mess. Mungkin sebaiknya kita sampai di sini saja. Kamu berhak punya kehidupan yang lebih baik.” Mataku mulai berkaca-kaca.

Beni menghela napas. “Bukankah kita pernah ngobrol soal ini? Aku sayang sama kamu, Ta. Kita akan hadapi ini sama-sama, oke?”

Aku menggeleng. Kusentuh lengan Beni pelan. Lengannya yang berotot itu dulu membuatku takut. Membayangkan dihantam dengan keras atau dibenturkan ke tembok oleh lengan sekuat itu membuatku terintimidasi olehnya di awal masa pertemuan kami. Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Kedua lengannya yang kokoh itu seringkali memberiku perlindungan dan kehangatan, tetapi sungguh aku tidak cukup baik untuknya.

Mata Beni menatapku serius ketika dia berkata, “Menikahlah denganku, Ta …”

Aku tertegun. Laki-laki ini sungguh unbelievable. Saat aku ingin memutuskan hubungan dengannya, dia malah melamarku.

“Ben …”

Listen to me. Aku nggak peduli seperti apa masa lalumu. Yang aku tahu, aku pengen habiskan sisa hidupku sama kamu. Selalu ada buat kamu, lindungi kamu. Please, Ta … jangan tolak aku terus. Beri aku kesempatan untuk membahagiakanmu.”

Aku terisak pelan. Buliran bening mengalir dari kedua mataku. Beni menghapusnya dengan lembut lalu memelukku erat sambil berbisik, “Jangan pernah merasa tidak pantas. You really mean the world to me.”

Sinar mentari pagi menari-nari masuk ke dalam ruangan, menembus vitrase tipis sampai ke hatiku. Mungkin memang sudah saatnya aku berhenti berlari. Dalam dekapan Beni, aku berpasrah diri dan mulai memahami bahwa Tuhan sedang memberiku kesempatan kedua untuk mencinta.


Tulisan ini diikutsertakan dalam Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan Agustus yang bertema “Cerita Cinta”.