Saturday, December 10, 2011

Kelahiran Abi

Meet my second son: Muhammad Abimanyu Martono :)

Akhirnya resmi sudah namanya, pada saat aqiqah di hari ke-14 setelah kelahirannya. Abimanyu terdiri dari dua kata Sansekerta, yaitu abhi (berani) dan man’yu (tabiat). Dalam bahasa Sansekerta, kata Abhiman’yu secara harfiah berarti “ia yang memiliki sifat tak kenal takut” atau “yang bersifat kepahlawanan” (sumber dari sini). Dalam kisah pewayangan, Abimanyu adalah putra Arjuna dan ia adalah ksatria termuda dari pihak Pandawa dalam peperangan Bharatayuddha.

Meskipun konsep nama ini sudah di-godhog sebelum Abi lahir, ternyata proses kelahirannya membawa kenangan tersendiri akan arti sebuah keberanian. Dan tanpa rasa takut, Abi berhasil melaluinya.

Kisah kelahiran Abi bermula pada Sabtu, 19 November 2011. Sehari menjelang HPL, tak ada juga tanda-tanda mau melahirkan. Dokter kandungan langganan menyarankan untuk melakukan CTG guna merekam detak jantung dan gerakan janin, sekaligus untuk memastikan semuanya baik-baik saja. Hasil CTG memang menunjukkan kalau semuanya baik-baik saja dan beberapa kontraksi lemah sudah mulai berlangsung. Pada saat CTG, setelah diperiksa dalam, ternyata aku sudah pembukaan dua. Akibat periksa dalam pada saat CTG itu, ketika kami pulang dari rumah sakit, kontraksi makin sering terjadi.

Sabtu menjelang tengah malam, setelah memastikan Hanif baik-baik saja di bawah penjagaan Mbak Nunung (asisten yang pulang hari) karena pengasuhnya sedang izin pulang kampung, aku diantar suami ke rumah sakit. Tengah malam itu aku sudah pembukaan empat. Segera masuk kamar bersalin untuk bersiap.

Minggu dini hari pukul setengah empat, pembukaan baru mencapai bukaan enam. Berasa aneh, mengapa proses pembukaan berjalan sangat lambat, tidak seperti waktu kelahiran Hanif dulu? Minggu pukul delapan pagi, diputuskan untuk dilakukan induksi karena sudah empat setengah jam proses pembukaan tidak mengalami kemajuan dari bukaan enam.

Ya Allah, baru kali ini merasakan diinduksi. Tak berhasil menepis khawatir karena pernah mendengar cerita bahwa kontraksi hasil induksi akan jauh lebih sakit dibanding kontraksi yang terjadi secara alami. Dan memang benar, selama satu setengah jam kemudian, aku benar-benar merasakan apa yang namanya perjuangan. Progres pembukaan berlangsung cepat, dan pada 20 November 2011 pukul 09.45 Abi lahir.

Dari sinilah perjuangan yang lain dimulai. Entah akibat menelan air ketuban atau akibat terlilit tali pusar, tangisan Abi tak jua keras. Setelah dilakukan observasi, ternyata Abi harus segera diberi oksigen melalui selang dan tak bisa melanjutkan proses IMD. Akibatnya Abi juga tak bisa rawat gabung denganku karena harus diobservasi intens di kamar bayi. Saat itu, di tengah rasa lemas habis melahirkan, hatiku diliputi oleh berbagai kegalauan. Galau terhadap perkembangan kondisi Abi, juga galau memikirkan Hanif yang ditinggal di rumah tanpa ayah bundanya.

Tak bisa IMD dan rawat gabung membuatku bertekad bahwa Abi tetap harus bisa ASI eksklusif. Maka perjuangan berikutnya dimulai. Karena Abi terikat dengan alat pulse oximeter di kamar bayi, maka per 2-3 jam aku harus datang untuk menyusuinya. Hal ini sangat melelahkan untuk seseorang yang baru saja melahirkan, karena itu berarti aku harus mengabaikan rasa sakit dan rasa lelah, juga mengabaikan panggilan tidur meski terasa sangat mengantuk. Alhasil selama tiga hari di rumah sakit, bisa dibilang aku hanya tidur sekedarnya. Tapi ini tak masalah, karena dari awal aku sudah berniat memberinya ASI eksklusif.

Hati bunda mana yang tak pilu melihat bayinya diselang-selang begitu. Satu selang untuk oksigen, satu selang untuk sonde, dan kabel di kaki yang terhubung dengan pulse oximeter. Observasi terus dilakukan, tapi tiap kali selang oksigen dicoba dilepas, proses oksigenasi Abi menjadi tidak stabil. Bahkan di awal-awal tubuhnya sempat membiru.

Ada suatu masa ketika aku sempat tergugu memangkunya, yaitu ketika suster mengatakan kalau badan Abi demam akibat asupan ASI yang kurang, dan menyuruhku mempertimbangkan pemakaian susu formula untuk memperbanyak asupan ke tubuhnya. Jujur, waktu itu aku sangat takut kalau-kalau niat kuatku untuk memberinya ASI eksklusif justru akan membahayakan dirinya. Kata suster, untuk seorang bayi yang sehat, jumlah ASI yang sedikit di awal-awal memang wajar dan tidak perlu dikhawatirkan. Tapi untuk kondisi Abi yang kurang sehat, tidak diperlukan adanya ancaman tambahan seperti kurang asupan ASI yang dapat menyebabkannya demam dan kuning. Salah-salah malah harus disinar sehingga akan makin lama pulihnya, mengingat waktu itu proses oksigenasinya juga belum stabil.

Hasil rembugan dengan suami membuatku tetap keukeuh pada rencana ASI eksklusif sambil melihat perkembangan kondisi Abi. Selasa pagi aku sudah boleh pulang, tapi kepastian untuk Abi belum juga muncul. Mana mungkin aku bisa pulang ke rumah tanpa dia. Akan lebih susah lagi proses ASI eksklusifnya nanti. Alhamdulillah demamnya sudah turun, dan setelah dites darah pun kadar bilirubinnya tidak tinggi. Artinya asupan ASI selama itu cukup. Yang lebih membahagiakan lagi: ketika selang oksigen dilepas, proses oksigenasinya sudah stabil! Alhamdulillah, akhirnya Abi diizinkan pulang bersamaku.

Perjuangan demi perjuangan yang aku dan Abi lalui membawaku pada muara syukur yang tak terkira. Betapa proses melahirkan itu sangat bergantung pada skenario Allah Sang Maha. Seberapa sempurnanya kita mencoba merencanakan sesuatu (IMD dan rawat gabung), kalau Allah tak berkehendak, ya tidak terjadi. Juga terpetik hikmah bahwa niat yang terhujam kuat pasti akan mendapat ujian yang lebih berat (dalam hal ini: niat untuk ASI eksklusif). Barangkali itu cara Allah untuk menguji seberapa kuat niat dan ikhtiar kita.

Alhamdulillah aku dan Abi berani dan berhasil melaluinya. Abi anakku yang hebat, sudah begitu berani berjuang bahkan sejak usia awal kehidupannya. Benar-benar tak salah aku berniat menamainya Abimanyu.

Jadi, selamat datang ke dunia, dedek Abi. Bunda, Ayah, dan Mas Hanif sungguh menyayangimu.

Monday, November 14, 2011

Penghargaan Sebagai Kakak

Sampai juga akhirnya pada minggu ke-40 usia kehamilan. Tak terasa sebentar lagi Hanif akan menjadi seorang kakak. Ingin cerita sedikit soal sharing-ku dengan Bunda Evie, konsultan pendidikan di sekolah Hanif, beberapa pekan yang lalu.

Saat itu kami sedang sibuk membicarakan perkembangan Hanif di rumah dan di sekolah. Alhamdulillah aku banyak mendapat masukan yang bermanfaat. Ternyata memang diperlukan orang lain yang bisa menilai anak kita secara objektif dan menuturkan kelebihan-kelemahan anak pada kita, karena bagaimanapun anak selalu tampak sempurna di mata kita sehingga kadang kita menutup diri terhadap “kelemahan” mereka.

Di akhir sesi konsultasi, ada usulan Bunda Evie yang benar-benar membuka mataku. Jadi beliau punya pendapat, ketika seorang adik lahir, yang perlu diberi kado bukanlah adiknya melainkan kakaknya. Si adik hanyalah orok yang masih terlalu kecil untuk mengerti apa itu kado dan hadiah. Tapi sang kakak sudah sangat mengerti apa itu arti cemburu. Bayangkan bila semua orang dan kerabat yang datang hanya mengerubuti si adik, melimpahinya dengan banyak hadiah dan kasih sayang, sementara sang kakak menjadi terlupakan di pojokan. Menurut Anda, bagaimanakah perasaannya?

Alangkah indahnya bila hari si adik lahir menjadi hari yang tak terlupakan bagi sang kakak, hari ketika dia diberi kado atau hadiah sebagai penghargaan, hari ketika semua orang memberinya ucapan selamat karena ia telah menjadi kakak yang hebat! Jadi di memorinya akan tertanam, bahwa hari ketika adiknya lahir adalah hari yang sangat membanggakan dan menyenangkan.

Bunda Evie menyarankan untuk membagikan paradigma ini pada sebanyak-banyak orang, agar tak ada lagi kisah sedih seorang kakak yang merasa terlupakan karena semua perhatian tertumpah pada adiknya, atau malah yang lebih parah lagi: kisah ketika semua orang menganggapnya “caper” hanya karena ia merasa cemburu. Bila tak ada kisah-kisah seperti itu, tentunya akan mudah bagi sang kakak untuk menerima kehadiran adiknya dan menyayanginya setulus hati.

Pesan sponsor: jadi nanti kalau adiknya Hanif lahir, yang diberi kado Hanif saja ya *ge-er bakalan dikado, hehehehe*

Foto: Senyum Hanif, taken from my “butut” handphone.
Berapapun jumlah adik yang kamu miliki.. you’ll always be my favorite, Nak :-*

Kehamilan Kedua

OMG, sudah lama sekali rasanya aku tidak menulis di blog ini. Begitu banyak kabar yang bisa dibagi, dan entah sudah berapa banyak ide menulis yang berkejaran di kepala. Sayangnya karena berbagai kesibukan (sok sibuk, hihihi), hanya beberapa ide saja yang sempat tercatat di memori.

Kali ini aku ingin bercerita tentang kehamilanku yang kedua. Saat ini (calon) adiknya Hanif sudah berusia 39 minggu di kandungan. Pertama aware mengenai kehamilan ini sejak pekan kedua Maret 2011. Sempat mencoba testpack sendiri dua kali (testpack pertama pada 15 Maret—hari ultahku, dan testpack kedua pada 18 Maret—hari ultah suami), dua-duanya kurang yakin karena garis kedua hanya terlihat samar. Tapi tetap berencana untuk mengeceknya ke dokter kandungan, karena haid sudah terlambat datang, sesuatu di luar kebiasaan. Juga agar peristiwa kehamilan Hanif yang terlambat ketahuan (baru ketahuan saat berusia 8 minggu!) tidak terulang lagi.

Jadilah datang ke dokter kandungan ketika usia kehamilan menginjak 6 minggu. Ternyata memang benar hamil. Sempat tidak percaya karena selama 6 minggu itu tidak terasa ada yang berubah, hanya stamina fisik yang berasa lebih cepat capek. Selebihnya tidak ada, mual pun tidak. Sempat merasa senang, berharap semoga kehamilan kedua ini jauh lebih mudah dibanding kehamilan pertama yang mual-muntah sampai 5 bulan.


Ternyataaa... perjuangan baru dimulai. Mabok-mual-muntah baru dirasa setelah 6 minggu itu. Dan ternyata pula, perjuangannya lebih berat dibanding kehamilan pertama. Kalau yang dulu hanya mual-muntah, yang ini ditambah dengan pusing dan lemas hampir sepanjang hari. Sama sekali tidak bisa minum susu karena akan langsung mual-mual. Selera makan sih hampir tak berubah, makanan yang masuk masih tetap banyak, tapi banyak juga yang akhirnya keluar lagi. Berasa sekali perjuangannya. Semoga kesabaran menghadapinya dinilai pahala, amin.


Setelah trimester pertama yang penuh dengan cerita mual-muntah-pusing-lemas berlalu, badanku lambat laun mulai berasa lebih segar dan fit. Di trimester kedua, mual-muntah-pusing-lemas masih terus berlanjut, namun sudah jauh berkurang. Nafsu makan mulai menggila. Ketika usia kehamilan 24 minggu, berat janin 700 gram. Ini termasuk normal meskipun secara kasat mata, perutku tampak lebih kecil dibanding perut teman-teman lain yang berusia kehamilan sama. Antara usia kehamilan 21-24 minggu, pertambahan berat badanku mencapai 1 kilogram per minggu. Anehnya, antara 24-27 minggu, berat badanku tidak mengalami kenaikan. Mungkin karena nafsu makanku sedikit menurun akibat mual-mual yang kembali melanda. Aneh juga ya, sudah hampir trimester ketiga kok masih mual-mual saja. Meskipun demikian, berat janin tetap normal. Berikut ini perkembangan berat janin yang kudapat dari perkiraan USG tiap kali kontrol:

  • 27 minggu, 1027 gram
  • 30 minggu, 1460 gram
  • 32 minggu, 1780 gram
  • 34 minggu, 2110 gram
  • 36 minggu, 2533 gram
  • 38 minggu, 2786 gram

Menginjak trimester ketiga, aku mulai berbelanja sedikit barang untuk adiknya Hanif. Ada beberapa alas ompol, cloth diaper, cooler bag, dan botol tempat menyimpan ASIP yang kubeli. Ada juga kelas edukasi AIMI yang kuikuti, bertema “Breastfeeding Tips for Working Moms”. Yah, meskipun berkejaran dengan aktivitas perkuliahan di kampus, semoga kehamilan dan persalinan kedua ini dapat berjalan dengan baik dan lancar. Amin.

Foto 1: Usia janin 16 minggu.

Foto 2: Usia janin 21 minggu.

Tuesday, June 14, 2011

Rumah(-Rumah)ku

Sepanjang usia pernikahanku yang baru empat tahun, terhitung kami sudah pernah merasakan tinggal di tiga rumah. Rumah pertama tentu di Cikarang, rumah pertama kami yang kini sudah dijual. Rumah kedua adalah rumah kontrakan di Cisitu, Bandung, yang baru saja kami tinggal pindahan dua minggu lalu. Rumah ketiga adalah rumah baru kami saat ini.

Kuingat-ingat lagi, aku selalu mengalami fase adaptasi yang tidak mudah. Awal-awal tinggal di kesemua rumah itu, aku pasti merasa sedih karena merasa belum betah, ada saja ini-itu yang dirasa tidak sesuai. Tapi setelah kuingat lagi, masa-masa meninggalkan rumah-rumah itu juga merupakan masa-masa yang berat. Yang tadinya merasa tidak betah, ternyata telah berubah menjadi sangat betah, bahkan cenderung susah untuk berpisah.



Kerinduan pada rumah Cikarang adalah kerinduan melankolis, semata-mata karena rumah itu adalah rumah pertama yang kami beli dari hasil jerih payah kami sendiri. Rumah yang mengawali kehidupan, tempat kami bercengkerama berdua sebelum punya anak. Rumah tempat kami berbulan madu, sekaligus tempatku belajar menjadi seorang istri. Yang tadinya tidak suka memasak, menjadi harus berkutat di dapur dan belajar memasak sesuatu. Rumah ini juga rumah pertama yang perabot dan dekorasinya kupilih sendiri, hingga tiap ruangan terasa punya sentuhan rasa pribadi. Tamannya adalah ajang pertama kami bereksplorasi dengan yang namanya gardening, meskipun hasilnya hampir semua tanaman mati :D



Rumah Cisitu adalah rumah terlama yang pernah kuhuni sampai saat ini, hampir empat tahun lamanya. Pertama tinggal di situ aku sempat sedih soal air yang tidak 24 jam mengalir, hingga memaksa kami harus membeli tandon-tandon air dan membuat kami harus siaga mengisinya di malam hari. Pertama kali punya anak adalah ketika tinggal di rumah ini. Rumah ini betul-betul menjadi saksi masa kehamilan dan kelahiran Hanif. Betul-betul menjadi saksi kerepotan belajar mengurus anak pertama, sekaligus saksi tumbuh-kembang Hanif pada masa tiga tahun pertama.

Di rumah Cisitu lah Hanif belajar ngesot, lalu merangkak, berjalan, dan akhirnya berlari. Dengan anak-anak sekitar masjid di gang itulah Hanif belajar bersosialisasi untuk pertama kali. Dan di rumah ini pula kutemukan makna hidup bertetangga dengan orang-orang yang sangat baik, yang tak pernah merasa berat membantu satu sama lain, sesuatu yang tidak kurasakan ketika tinggal di Cikarang karena di sana masyarakatnya cenderung individualis.



Aku betul-betul merindukan rumah Cisitu, sebagai tempat yang penuh kenangan dalam kehidupanku sebagai seorang bunda, dalam memori indah tentang masa-masa membesarkan Hanif di tahun-tahun pertama.



Bagaimana dengan rumah baru kami di Bojongkoneng? Sama dengan rumah Cikarang, rumah ini juga rumah yang terasa punya sentuhan rasa pribadi karena perabot dan dekorasinya kami pilih sepenuh hati. Tapi entah mengapa, rasanya belum klik benar dengan rumah ini. Memang belum ada dua minggu kami tinggal di situ. Mungkin masih perlu banyak waktu, seperti interaksiku dengan rumah yang sudah-sudah.

Sekarang pekerjaanku tiap hari adalah beres-beres rumah. Kardus sisa pindahan masih ada beberapa yang belum dibongkar, perabot masih ada yang kurang dibeli—terutama rak buku tempat menaruh buku-buku, serta kontainer yang kurencanakan sebagai tempat menaruh mainan Hanif yang seabreg itu. Yup, betul. Kerja beres-beres rumah ini adalah salah satu caraku untuk membuat rumah baru kami terasa lebih homy agar kami lebih betah, meskipun hal itu membuat skoliku sakit hampir tiap hari.

Home is where the heart is. Agaknya pernyataan itu benar adanya. Dan tampaknya, aku sudah harus mulai menaruh hati pada rumah baru kami, rumah yang akan menjadi tempat tumbuh-kembang adiknya Hanif di tahun-tahun pertamanya, dan akan menjadi saksi kehidupan keluarga kami di tahun-tahun selanjutnya, insya Allah.

Foto 1: Rumah Cikarang ketika terakhir kali aku tinggal di sana, awal April 2011. Rumah ini terjual pada 27 April 2011.

Foto 2: Gang Masjid kenangan, menuju rumah Cisitu. Foto ini diambil pada 13 Juni 2011.

Foto 3: Rumah Cisitu yang biru, sebiru haru hatiku ketika mengunjunginya kembali sepulang kerja sore itu. Hanya mengambil fotonya saja tanpa berani masuk, khawatir memori indah tentang rumah ini mendesak ruang rasa hingga membuat perih. Di pintu pagar inilah Hanif biasa menantiku pulang setiap sore, membukakan pintu dengan tawanya yang lebar. Tuh kan, jadi sedih lagi, hiks.

Foto 4: Rumah kami sekarang, yang masih terasa panas karena tidak ada pepohonan di sekitarnya. Sabtu pagi itu Hanif sedang membantu ayahnya mencuci motor di depan rumah.

Friday, June 10, 2011

Rumah Baru



Yang paling menyenangkan dari memiliki rumah baru adalah saat-saat memilih dekorasi dan perabot. Memilih dan memilah kain korden dan vitras ternyata bisa jadi sangat mengasyikkan. Belum lagi sensasi jalan-jalan ke pusat perbelanjaan untuk memilih sofa, kasur, kitchen set, dan lain-lain. Masih ditambah dengan keasyikan menata lay out ruangan dan mengatur sudut-sudut di sana-sini.

Namun, jangan salah. Pindah ke rumah baru ternyata juga sangat melelahkan. Prosesnya berlangsung lama, mulai dari nyicil packing, sortir barang-barang yang akan dibawa, sampai membuangi barang-barang yang ternyata sudah perlu dibuang. Ternyata aku manusia sampah juga. Baru pas pindahan kemarin kami terpaksa membuangi barang-barang yang tak perlu. Kalau dibawa rasanya akan memenuhi seisi rumah, sementara manfaatnya tak seberapa. Ya sudah, tak boleh merasa sayang, daripada membuat kumuh.

Nyicil packing ini sudah dilakukan beberapa waktu sebelumnya. Ndilalah pas waktunya pindahan, aku malah jatuh sakit. Batuk dan flu berat sampai tak bisa bangun dari tempat tidur saking pusingnya. Alhamdulillah Papi, Mami, adik, dan kakak datang membantu hingga membuat proses pindahan menjadi cepat dan mudah. Meskipun jadinya aku tak tahu, barang apa ada di kardus mana, karena aku bisa dikatakan hampir tak banyak terlibat.

Saat ini rumah baru kami sudah bisa dikatakan tidak terlalu berantakan lagi. Ruang tamu merangkap ruang keluarga, dapur, dan kamar utama sudah lumayan rapi. Kardus-kardus yang belum sempat dibongkar—karena aku belum fit benar—ditumpuk dan dikumpulkan dalam satu ruangan. Yang kasihan adalah Hanif. Dia belum berhasil menemukan kardus mainan-mainan favoritnya. Maafkan Bunda, Nak. Belum sempat membongkar semua kardus itu.

Sudah seminggu kami di rumah baru, aku belum menemukan irama yang pas. Masih terbayang enaknya tinggal di kontrakan lama karena jauh lebih adem dan jauh lebih dekat ke kantor. Adem karena banyak bukaannya sehingga udara selalu terasa segar mengalir. Dekat sehingga hanya memerlukan waktu 5-7 menit untuk pulang-pergi ke kantor. Lingkungannya juga sangat dinamis, banyak warung makanan murah, serta selalu ramai karena merupakan daerah kos mahasiswa.

Rumah baru kami memang lebih lega dan lebih luas, tapi ternyata jauh lebih panas. Sama sekali tak berasa tinggal di Bandung. Bagaimana tidak, kami selalu berlumur keringat. Jendela dan pintu mau dibuka pun tak bisa, karena nyamuk besar-besar akan segera menyerbu. Lingkungannya masih sepi karena merupakan lingkungan perumahan baru yang belum “jadi”. Dengan tetangga juga belum banyak kenal karena aku selalu pergi pagi dan pulang sore. Semoga waktu akan mengubah segalanya, hingga kami bisa merasa lebih nyaman dan lebih betah tinggal di rumah kami sendiri ini.

Hhh, buatku... adaptasi tak pernah jadi mudah.

Foto: Rumah baru kami ketika masih belum jadi, November 2010.