Monday, June 14, 2010

Berurusan dengan Agen

Sebagai reseller berbagai produk untuk GriyaKabita.com, tentu aku berurusan dengan banyak agen tempat aku mengambil produk. Ada suka duka tersendiri mengenai hal ini. Ingin berbagi sedikit ya.

Agen Top
Ini cerita tentang salah satu agenku dari Cimahi yang menurutku top-banget.
  • Kalau aku sms pesanan, dia segera merespon.
  • Kalau produk yang kuminta sedang kosong, dia segera mengabarkan.
  • Kalau produknya ada semua, dia segera siapkan dan segera dia kirimkan ke Sarijadi, tempat aku mengambilnya.
  • Stok yang ada padanya hampir selalu lengkap sehingga memudahkan pesanan, sepertinya dia termasuk agen yang sadar stok, alhamdulillah.
  • Kalau janjian bertemu selalu tepat waktu.
  • Meskipun kadang ada salah ukuran dan salah kode produk *hehe, maklum manusia*, ibu ini sangat baik. Hari hujan tak menjadikannya halangan untuk mengirimkan produk pesananku ke Sarijadi, bahkan ketika jumlah produk yang kupesan sedikit sekalipun.
  • Berbasis kepercayaan, dia juga mengizinkanku transfer uang belakangan setelah produk darinya kuterima (FYI, kebanyakan agen mensyaratkan pembayaran di muka), which is sesuatu yang tak pernah kulakukan karena aku selalu berusaha transfer uang lebih dulu atau membayar langsung padanya.

Agen Lelet
*hehehe, namanya nggak-banget ya*
  • Si ibu yang ini responnya agak lambat. Saat sms pesanan aku kirimkan, sms balasan dikirimkan satu hari kemudian—itupun setelah aku kirim sms ulang.
  • Ketersediaan produk (kosong atau tidak kosong) tidak segera dikabarkan. Alasannya dia harus cek dulu di toko. OMG, memangnya dia tidak punya data yang disimpan di rumah? Di tokonya aku tidak melihat adanya komputer atau buku stok. Jadi bertanya-tanya, di mana gerangan data-riil-stok dia simpan?
  • Selang waktu antara dia berkata, “Nanti aku cek dulu di toko ya.” dengan konfirmasi ketersediaan produk biasanya berselang satu hari. Hal ini sangat merepotkan bila produk banyak yang kosong, karena kita harus mendata ulang daftar pesanan. Bayangkan bila pesanan kita dikonfirmasi olehnya sehari kemudian, lalu kita mendata dan memesan ulang, dikonfirmasi lagi sehari kemudian, kalau kosong lagi kita harus mendata dan memesan ulang lagi, lalu dikonfirmasi lagi sehari kemudian… yang ada juga: CAPE DEHH…

Agen Standar
Kalau agen golongan ini sih biasa saja. Rata-rata baik hati—meskipun ada juga yang sedikit nyolot heuheu, namanya juga manusia. Mereka ramah; cepat tanggap dan responsif; rapi dalam invoice, daftar stok, dan packing pesanan.

Secara keseluruhan, mengelola toko online-ku ini membawaku pada pengenalan yang lebih dalam terhadap berbagai karakter manusia. Belum lagi kalau bicara tentang pembeli yang tentu lebih beraneka ragam karakternya. Memang aku baru memulai, jadi masih sangat awam soal masalah jual beli, masih taraf belajar. Insya Allah akan selalu berusaha memberikan yang terbaik.

*Terima kasih ya Allah, karena telah memberiku kesempatan yang lebih bermakna tentang hablum minannas.*

Toko Online, Behind the Screen

[catatan: selain toko online, aku juga berjualan secara offline]

Ide awal:
  • Menyalurkan hobi belanja :)
  • Memang ingin jualan. Kata hadits, “Berniagalah, karena sembilan dari sepuluh pintu rejeki itu ada dalam perniagaan.” (HR. Ahmad)

Saat paling menyenangkan:
  • Waktu membuat daftar pesanan ke agen dan waktu memilih-milih barang untuk dibeli
  • Waktu barang datang dan waktu mengecek barang apa saja yang datang
  • Waktu mencoba produk :)
  • Waktu menerima uang dari pembeli :))

Saat paling tidak menyenangkan:
  • Waktu membayar barang
  • Waktu pembeli bilang mau berhutang :D
  • Waktu menagih hutang dari pembeli, apalagi kalau pembelinya tidak tahu diri :))
  • Waktu pembeli lupa sama hutangnya
  • Waktu pembeli kecewa dengan barang pesanan

Saat paling merepotkan:
  • Waktu mengumpulkan data produk satu persatu
  • Waktu memotret produk satu persatu dan meng-edit foto-foto tersebut
  • Waktu meng-input dan meng-upload data produk ke situs web

Saat paling menyebalkan:
  • Waktu harus mengulang input dan upload data produk ke situs web gara-gara koneksi internet putus-nyambung :(

Ini petikan yang kuambil dari sini.

Ternyata ngurus toko online itu tidak mudah. Musti cari barang. Trus ngukur barang itu. Masukin data-data. Masang barang di manekin. Ambil gambar barang tersebut. Ngedit foto. Bikin deskripsi barang. Upload gambar. Upload deskripsi gambar. Upload icon. Ngurus SEO. Cek pembayaran. Cetak invoice dan sending address. Packing barang yang terjual. Ngurus shipping. Dan hampir sebagian besar dari ritual itu musti aku kerjain sendiri. Karena suamiku kan kerja di luar kota. Paling pas hunting barang aja yang selalu kita lakukan bareng.

Sounds familiar to me, hahahaha. Meskipun terdengar ribet, sebenarnya mengurus toko online ini memiliki keasyikan tersendiri. Ribet tapi fun, ada kepuasan tersendiri. Juga jadi ajang belajar tentunya. So, semangat terus insya Allah.

Jangan lupa mampir ke toko online-ku ya ;)

Wednesday, February 17, 2010

Toko Online

Akhirnya launching juga nih. Please visit:
GriyaKabita.com

It’s my new online-store! Menyediakan baju wanita, busana muslimah (termasuk kerudung), dan clutch bag. Sekarang karena baru buka, jadi dengan gembira kuumumkan DISKON SEMUA PRODUK! Makanya cepetan mampir ya, mumpung masih masa promosi :)

Ini nih yang kusebut kelanjutan dari ini. Awalnya sih untuk menyalurkan hobi belanja, hahahaha. Tapi jadinya malah punya ide untuk bikin toko sendiri. Karena toko yang offline membutuhkan banyak waktu, tenaga, dan biaya, kuputuskan untuk bikin toko online dulu saja. Mungkin ke depannya toko beneran, siapa tahu. Doanya yaaa…

Jangan lupa berkunjung. Ditunggu…

Wednesday, February 10, 2010

Naik Haji

Pagi tadi ketika aku mengerjakan order instalasi jalur internet di gedung sebelah, tak sengaja aku mendengar percakapan bapak-bapak si empunya ruangan. Tiga bapak-bapak, satu baru saja berkesempatan menunaikan ibadah haji akhir tahun lalu—sebut saja Pak X, sedang membicarakan entah apa—yang berhubungan dengan naik haji.

Samar-samar kudengar Pak X berkata, “Matematikanya Allah itu beda dengan matematikanya manusia. Kalau manusia berhitung-hitung uang buat naik haji mungkin memang nggak akan pernah cukup. Tapi kalau Allah berkehendak, baru berapa tahun nabung juga langsung bisa berangkat.”

Beberapa saat kemudian Pak X berkata lagi, “Saya ini sudah naik haji, bukan berarti ibadah saya baik. Biar orang bilang apa, yang penting buat saya, haji saya ini berpengaruh positif buat spiritual saya. Kalau kita nunggu ibadah kita bagus dulu, baru naik haji… bisa-bisa kita nggak bakalan naik haji. Sekarang tolak ukur ibadah bagus itu siapa? Rasulullah dan para sahabat kan? Mana bisa kita bilang ibadah kita sudah bagus.”

Sayup-sayup kudengar juga Pak X berkata, “Yang penting itu tanamkan niat. Berdoa benar-benar supaya Allah memberangkatkan kita bersama istri kita, jangan mau berangkat sendiri. Semoga kita bisa berangkat bersama istri, begitu doanya.”

---

Selama ini, naik haji adalah sesuatu yang sangat jauh dari angan-anganku. Sebagai seseorang yang baru mulai berkeluarga, banyak hal-hal lain yang lebih menyita perhatian. Tak terbersit niat untuk naik haji. Kalaupun ada sedikit, prioritasnya masih jauh alias masih nanti-nanti. Tapi entah kenapa, ketika musim haji tahun lalu datang, tiba-tiba ingin sekali aku naik haji. Apalagi setelah baca blog ini, dadaku makin berdentum-dentum oleh keinginan kuat untuk bersujud di baitullah.

Aku masih ingat, ketika khotbah sholat Idul Adha akhir tahun lalu, mata ini berkaca-kaca karena malu pada Allah. Dalam khotbah itu diceritakan—konon kisah nyata—seorang miskin yang mengambil seluruh tabungannya untuk membeli kambing qurban, padahal dia sendiri kembang kempis dalam mencari penghasilan karena hanya bekerja sebagai buruh cuci. Justru dia yang berhak menerima daging qurban, sebenarnya.

Lalu ketika membaca cerpen di majalah Ummi tentang kisah penjual jamu gendong keliling yang bisa berangkat haji gratis sementara tetangganya yang suka pamer kekayaan malah kehilangan tabungan haji, hati ini makin malu. Betapa banyak orang-orang yang—di mata manusia—minim kemampuan finansial, ingin pergi haji. Sementara aku yang dilapangkan segalanya oleh Allah malah tak kepikiran untuk pergi haji. Duh, malu…

Hal yang juga membuatku malu pada Allah adalah… karena selama ini tiap kali ditanya aku ingin pergi ke mana kalau ada rezeki, selalu kujawab dengan mantap: Eropa! Sejak dulu aku memang selalu bermimpi bisa pergi ke Eropa dan menjelajahi sudut-sudutnya yang eksotis—hal yang selama ini hanya bisa kulakukan lewat blog teman-temanku yang bermukim di sana. Duh, mirisnya. Masa lebih ingin pergi ke Eropa daripada pergi naik haji? Masya Allah…

Memang benar naik haji itu banyak rintangannya. Tak usah jauh-jauh, orang terdekat pun belum tentu mendukung. Alasannya macam-macam, mulai dari “tabungan masih untuk prioritas yang lain”, “anak masih kecil”, sampai ke alasan “masih punya hutang cicilan rumah” (jadi bertanya-tanya, sebenarnya definisi mampu itu bagaimana kalau masih punya tanggungan cicilan rumah?).

Dunia oh dunia, mengapa begitu melenakan dan memberi berbagai macam alasan uzur?

Aku sangat sepakat dengan perkataan Pak X yang ini: “Kalau kita nunggu ibadah kita bagus dulu, baru naik haji… bisa-bisa kita nggak bakalan naik haji.” Hal ini pernah kualami ketika memutuskan berjilbab. Pertama kali keinginan memakai jilbab timbul, hatiku sempat ragu. Ibadah masih kacau dan belum alim, masa mau berjilbab, begitu pikirku. Akhirnya hilanglah keinginan itu. Selang tak lama, keinginan itu muncul lagi, lalu kutepis lagi. Pada saat keinginan itu muncul untuk ketiga kalinya, aku tak mau sia-siakan. Jangan sampai niat itu hilang dan tak pernah muncul lagi, pikirku. Allah sayang padaku dan berkenan memberiku ilham berjilbab sampai tiga kali, jangan sampai Allah kesal karena selalu kutepis dan tak segera kulakukan, jangan sampai Ia cabut kembali niat itu. Begitulah pikirku waktu itu. Tak peduli ibadahku masih seperti apa dan bagaimana komentar orang, karena kalau aku menunggu jadi shalih dulu, wah… bisa-bisa selamanya aku tak akan pernah berjilbab. Siapa yang tahu kapan maut menjemput, bukan begitu?

Membulatkan niat, meyakinkan orang-orang terdekat, dan sekuat tenaga mengumpulkan bekal finansial… rasanya itu ikhtiar yang harus dilakukan terkait masalah naik haji ini. Sambil terus berdoa, “Ya Allah, mudahkanlah jalan kami ke baitullah. Mantapkanlah niat kami, bulatkanlah semangat kami. Izinkanlah dan sampaikanlah hamba dan suami hamba ke sana, ya Rabb. Amin.”

Wednesday, December 30, 2009

Resolusi Awal Tahun

Selama ini bisa dibilang aku tidak pernah benar-benar membuat resolusi awal tahun yang jelas. Kalau sekedar target global sih sering ya, tapi tidak untuk target-target yang spesifik harus begini atau begitu. Alih-alih membuat resolusi awal tahun, aku lebih suka melakukan evaluasi akhir tahun dan membuat daftar pencapaian atau milestone tahun yang sudah (atau akan) berlalu.

Minggu lalu, tepat dua pekan menjelang pergantian tahun, aku sakit cukup parah. Mungkin kelihatannya tidak begitu buat orang lain, tapi bagiku sakit itu sungguh menyiksa. Aku tak tahu sebenarnya aku sakit apa, sepertinya terkena infeksi virus—entah virus apa (orang sunda menyebutnya “tampak”). Gejalanya mirip campak jerman, didahului dengan demam tinggi lalu muncul bercak merah sekujur tubuh yang gatalnya minta ampun. Selama lima hari aku tak bisa tidur karena gatalnya benar-benar parah. Mana bisa tidur kalau seluruh kulit terasa gatal menyengat. Setelah gatal mereda, bercak merah menjadi bintil-bintil timbul yang membuat tangan, kaki, dan mukaku bengkak. Untungnya ada tanggal merah tahun baru hijriah dan natal, jadi aku sedikit tertolong tak perlu absen lama dari kantor, meskipun faktanya aku sakit hampir sepuluh hari.

Sampai saat aku menulis ini, kesehatanku belum pulih benar. Gatal dan virus memang sudah menyingkir. Namun seluruh kulit yang kemarin gatal-gatal itu, kini mengelupas dengan suksesnya, membuat kulitku keriput dan tampak putih-putih kelupasan di mana-mana. Aku juga masih sedikit lemas, jadi untuk sementara belum senam dulu—padahal sudah rinduuu dengan lantai senam itu hehehe…

Lalu apa kaitannya sakitku dengan resolusi awal tahun? Jadi begini, malam-malam yang kulalui dengan gelisah dan sedih karena tak bisa tidur saat sakit kemarin, membawaku pada dialog batin dengan-Nya. Betapa rasanya diri ini sedang dicubit-Nya, sedang diingatkan atas segala kenikmatan dan betapa diri ini tak pernah cukup bersyukur. Lalu dalam dialog itu aku membuat semacam janji pada-Nya dan pada diriku sendiri, untuk berusaha menjadi insan yang lebih baik… to be a better person. Apa dan bagaimana detil resolusi yang kunyatakan pada-Nya tak bisa kuceritakan di sini karena rasanya terlalu personal untuk diungkapkan. Yah, semacam dialog spiritual yang menghantam ego dan bermuara pada kesadaran untuk menjadi lebih baik, dalam segala aspek insya Allah.

Pergantian tahun sudah di depan mata. Kini aku siap dengan beberapa resolusi dalam catatanku, baik dalam peranku sebagai istri, bunda, maupun perempuan bekerja.