Monday, August 09, 2021

ITBMotherhood dan MamahGajahBerlari





Salah satu hal yang kusyukuri dari menjadi alumni Institut Teknologi Bandung adalah bisa bergabung dengan komunitas ITBMotherhood. Komunitas ini dibuat pada 2010 untuk mewadahi mahasiswi atau alumni perempuan ITB yang tertarik pada dunia ibu dan anak. Hingga saat ini grup ITBMotherhood di Facebook telah memiliki 4.487 anggota dan kegiatannya berkembang menjadi lebih dari 30 komunitas internal―yang kegiatannya tidak hanya bersifat daring, tetapi juga luring.

ITBMotherhood memiliki iklim yang sangat kondusif untuk menjadi sebuah support system. Di dalamnya kita dapat bertanya tentang apa saja tanpa takut merasa dihakimi, dapat melakukan jual beli dengan rasa aman dan asas kepercayaan, atau mencari dukungan dalam bentuk apapun. Sebagai contoh, beberapa tahun silam aku sempat bergabung dengan subgrup ASIX dan subgrup ibu hamil yang sangat memberi dukungan dalam hal motivasi maupun pengetahuan seputar kehamilan, persalinan, dan ASI. Beberapa subgrup di ITBMotherhood juga bergerak dalam hal beasiswa, donasi, dan relawan.

Subgrup ITBMotherhood yang ingin kuceritakan dalam tulisanku kali ini adalah komunitas MamahGajahBerlari (MGB). Ketika mulai berlari beberapa tahun lalu, sedikit sekali ilmu yang kumiliki. Saat itu hanya terpikir, kalau mau rutin berlari ya tinggal berlari saja. Wong awalnya hanya bermula dari self challenge menjajal kemampuan diri: apakah benar bisa menaklukkan olahraga yang dulu amat kubenci ini.

Mendekati pertengahan 2019, iseng-iseng aku bergabung dengan MGB, salah satu subgrup ITBMotherhood yang berisikan mamah-mamah alumni ITB yang menekuni hobi berlari di tengah-tengah kesibukan mengurus keluarga dan karir. Pertemanan sehat bersama MGB ini ternyata di luar ekspektasiku. Selain beroleh banyak ilmu tentang lari, di sini aku bagai menemukan keluarga baru yang really fits the idea of being support group. Sekecil apapun progres kita, di sini kita dikeprokin ramai-ramai. Sesuai dengan tag #PaceRecehTapiKeceh: tidak ada hal yang remeh di sini, setiap orang dihargai dengan target dan pencapaian masing-masing. Having fun dengan berlari demi hidup yang lebih sehat dan bugar menjadi yang terpenting.

Dulu sebelum pandemi, selain berlari dan coaching bersama, mamah-mamah MGB rajin bertemu luring untuk acara santai, makan-makan, botram, juga popotoan. Kami juga rajin saling jastip belanja perintilan lari dan saling menularkan semangat shopping, hahaha. Grup selalu ramai membahas tentang girls stuff dalam dunia lari, suatu hal yang tak akan mungkin ditemui di grup runners umum yang isinya juga ada para bapak ๐Ÿ˜›

Setiap orang akan bisa tumbuh dan berkembang jika mereka berada di lingkungan dan komunitas yang tepat. Begitulah yang kurasakan ketika berada di dalam MGB. Selama dua tahun bergabung di dalamnya, ada banyak pencapaian yang aku peroleh, mulai dari berhasil membangun training plan dan mengatur waktu untuk menyempatkan berlari di tengah kesibukan, memperbaiki heart rate dan VO2Max, memperbaiki endurance, hingga berhasil menempuh long run mulai dari 10 km sampai 21,1 km. Hal-hal ini mungkin tak akan tercapai bila aku tidak tahu ilmunya dan tidak punya motivasi seperti yang selalu disemangatkan oleh para mamah MGB.

Perempuan memang harus saling mendukung satu sama lain. Sebuah penelitian oleh Harvard Business Review mengatakan bahwa perempuan yang memiliki inner circle sesama perempuan cenderung dapat menempati posisi eksekutif dengan otoritas yang lebih besar dan gaji yang lebih tinggi, bila dibandingkan dengan laki-laki yang memiliki inner circle yang sama. Hal ini dikarenakan perempuan yang memiliki hubungan dekat dengan kelompok perempuan yang mendukungnya, akan lebih mudah menghadapi berbagai rintangan melalui berbagi pengalaman dengan perempuan lain yang pernah menghadapi situasi dan kesulitan yang sama. Mudah-mudahan dengan adanya ITBMotherhood dan subgrup-subgrup lain di bawahnya, para alumni perempuan ITB dapat memberikan manfaat yang nyata demi Tuhan, bangsa, dan almamater.

Monday, August 02, 2021

Keberagaman di Mata Anak-Anak

Anak-anakku mengenal konteks keberagaman kira-kira ketika mereka memasuki usia SD. Pasalnya ada pelajaran Bahasa Sunda di sekolah, yang akhirnya membuat kami bercerita lebih banyak tentang asal-usul leluhur mereka akibat lontaran pertanyaan “Kenapa Ayah dan Bunda nggak ngerti bahasa Sunda?”, hahaha. Ya, kami memang sudah dua puluh satu tahun tinggal di Bandung. Namun, karena seluruh keluarga berasal dari Jawa Tengah dan sejak dulu lingkaran pertemanan kami banyak berkisar di komunitas orang Jawa, kami tidak terlalu fasih berbahasa Sunda.

Konsep keberagaman ini merupakan konsep yang unik bagi anak-anak. Maklum, di usia itu mereka masih mempertanyakan banyak hal akibat keingintahuan yang tinggi, terutama ketika mereka melihat ada orang yang berbeda dengan mereka. Sesederhana kenyataan mengapa orang lain menggunakan bahasa yang berbeda atau mengapa orang lain memiliki agama yang berbeda, dapat mengusik keingintahuan mereka. Sebagai orang tua, kami tentu harus membahasakan perbedaan itu dengan kalimat yang baik dan mudah dimengerti, tanpa menimbulkan rasa intoleransi.

Di sekolah mereka belajar teori mengenai bermacam-macam suku, budaya, bahasa, atau agama. Mereka juga belajar adab saling menghargai dari buku teks. Namun di dunia nyata, kehidupan tidak semudah teori. Adakalanya anak-anak tidak mengerti apa yang teman-teman mereka obrolkan karena berbeda bahasa. Untungnya hal itu tidak pernah menjadi masalah sejauh ini. Mereka punya cara sendiri untuk bisa berbaur dengan teman meski berbeda bahasa ibu.

Yang agak susah adalah menyederhanakan pemahaman mereka soal perbedaan agama atau keyakinan. Terus terang aku agak kelimpungan menjelaskan mengapa orang lain melakukan ritual agama yang berbeda dengan kami. Pertanyaan-pertanyaan ini menjadi susah karena sebelumnya kami harus meletakkan pondasi ketauhidan terlebih dahulu dalam dada mereka, sehingga ketika mereka melihat orang lain yang berbeda … hal itu tidak akan menjadi masalah sebab mereka tahu bagaimana harus menyikapinya. Yang lebih tricky sebenarnya ketika mereka melontarkan pertanyaan dengan suara keras di depan orang yang bersangkutan, misalnya “Bun, kenapa Tante itu nggak pake jilbab?”. Kalau sudah begitu kami terpaksa harus cepat-cepat menarik mereka untuk menjauh karena khawatir perkataan mereka dapat menyinggung orang lain.

Konsep keberagaman memang seharusnya tidak hanya diajarkan secara teoritis. Bukankah banyak manusia di negeri ini yang sudah hafal kalimat-kalimat yang menggaungkan toleransi sejak mereka SD, tetapi gagal menerapkannya dalam kehidupan bermasyarakat? Saat ini anak-anak kami memang masih bersekolah di sekolah islami demi penguatan pondasi nilai-nilai beragama, tetapi aku berharap kelak suatu hari nanti mereka dapat pergi ke berbagai tempat, menuntut ilmu di beraneka institusi, dan bertemu dengan bermacam-macam orang supaya mereka memahami arti perbedaan dan arti toleransi yang sesungguhnya.

ูŠٰุٓงَูŠُّู‡َุง ุงู„ู†َّุงุณُ ุงِู†َّุง ุฎَู„َู‚ْู†ٰูƒُู…ْ ู…ِّู†ْ ุฐَูƒَุฑٍ ูˆَّุงُู†ْุซٰู‰ ูˆَุฌَุนَู„ْู†ٰูƒُู…ْ ุดُุนُูˆْุจًุง ูˆَّู‚َุจَุงูۤ‰ِูٕ„َ ู„ِุชَุนَุงุฑَูُูˆْุง ۚ ุงِู†َّ ุงَูƒْุฑَู…َูƒُู…ْ ุนِู†ْุฏَ ุงู„ู„ّٰู‡ِ ุงَุชْู‚ٰู‰ูƒُู…ْ ุۗงِู†َّ ุงู„ู„ّٰู‡َ ุนَู„ِูŠْู…ٌ ุฎَุจِูŠْุฑٌ

“Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti.” (Q.S. Al-Hujurat: 13)

Monday, July 26, 2021

Keterampilan Interpersonal

Memiliki tiga anak yang sudah bersekolah membuatku belajar banyak hal mengenai karakter sosial mereka, terutama dalam hal mencari teman. Ada anakku yang cukup mudah berbaur di lingkungan baru. Tak perlu waktu lama, dia akan mulai nimbrung di obrolan. Tak heran beberapa kali aku menemuinya sedang berbincang asyik dengan orang yang baru ditemuinya, seperti tukang parkir, tukang yang datang ke rumah, penjual pinggir jalan, dll. Kami dengan mudah melepasnya bergaul dengan lingkungan baru tanpa khawatir—seperti acara-acara liburan yang banyak diadakan berbagai event organizer—karena biasanya dia supel membawa diri.

Kebetulan dia ini cukup talkative. Dia tidak sungkan bertanya jika ada hal yang tidak dimengerti. Bahkan kalau dia sudah mulai tune in dengan lingkungan atau forumnya, dia akan melempar celetuk atau respon dengan aktif. Dia cukup populer di kalangan teman-temannya dan beberapa kali terpilih menjadi Ketua Murid atau pengurus angkatan.

Berbeda halnya dengan dua anakku yang lain. Mereka tidak terlalu ekspresif seperti kakaknya. Ketika berkenalan dengan orang baru, mereka cenderung “lambat panas” dan lebih senang mengamati pada awalnya. Mereka juga agak picky dalam memilih teman. Biasanya mereka hanya mau bermain dengan teman-teman yang “klik” saja. Salah satu dari mereka jarang mau terlibat jika ada kegiatan-kegiatan dan lebih memilih lingkungan yang nyaman buat dia. Namun, anak yang lain cukup partisipatif dalam berbagai kegiatan. Aku dan suami selalu memotivasi mereka untuk mengikuti beraneka aktivitas supaya mereka bisa berkenalan dengan orang dan lingkungan baru, meskipun kadang salah satu dari mereka tampaknya tidak cukup tertarik. Yah, kami sebagai orang tua tidak bisa memaksa.

Tulisan ini tidak bermaksud membandingkan anak satu dengan yang lainnya. Justru karena memiliki anak dengan karakter berbeda-beda, sebagai orang tua kami harus terus belajar bagaimana menyikapi karakter mereka dengan tepat. Tentunya ini bukan hal yang mudah di masa pandemi ini, kala karakter yang berbeda-beda berkumpul dalam satu atap hampir dua puluh empat jam. Anak kami yang cenderung suka berteman dan bertualang tentu bosan ketika dia hanya bisa bertemu dengan saudara-saudaranya saja. Sementara anak kami yang lain ada juga yang merasa baik-baik saja dengan keberadaannya di rumah terus-menerus. Dia sudah cukup asyik mojok dengan buku, gawai, atau game.

Keterampilan berbaur dengan teman dan menyesuaikan diri dengan lingkungan adalah salah satu softskill yang berada pada tataran aspek interpersonal. Bagaimanapun juga, kemampuan ini sangat diperlukan oleh anak—baik ketika mereka masih kanak-kanak maupun ketika mereka sudah dewasa—untuk membangun komunikasi dan kerja sama dengan orang lain. Mudah-mudahan anak-anak dapat memperkuat aspek ini dengan karakter dan pembawaan mereka masing-masing supaya kelak mereka bisa survive menghadapi dunia luar.

Monday, July 19, 2021

Pendidikan Anak

Bicara soal pendidikan anak adalah sesuatu yang sulit buatku karena aku tahu sistem yang berjalan di keluarga kecilku tidak ideal. Di rumah kami masih ada TV dan gawai—yang kadang-kadang masih menimbulkan kesulitan dalam pengaturannya. Kesibukan kami bekerja membuat kami terbatas membersamai anak-anak dan membimbing mereka. Kami juga masih susah mengontrol kesabaran dan masih sering marah-marah. Meskipun demikian, aku dan suami selalu berusaha memilihkan pendidikan yang terbaik untuk anak-anak. Kriteria terbaik tentunya berbeda-beda bagi tiap keluarga. Apa yang baik buat suatu keluarga belum tentu baik pula untuk keluarga lain, maka pendidikan yang kami pilihkan untuk anak-anak disesuaikan dengan visi dan misi keluarga kami.

Ada banyak metode yang dijalankan oleh para orang tua saat ini. Melihat keberhasilan dan kesuksesan teman-teman kami yang menjalankan homeschooling (HS) untuk anak-anak mereka, pernah terbersit keinginan untuk menjalankan metode serupa. Namun, keterbatasan kami sebagai orang tua yang bekerja tentu membutuhkan usaha yang luar biasa untuk memastikan sistem HS berjalan dengan baik. Jadi, setelah berpikir ulang, tampaknya kami tidak akan sanggup.

Sebagai orang-orang yang dibesarkan dengan sistem pendidikan sekolah negeri mulai dari TK hingga perguruan tinggi, kami merasa ada yang kurang dalam hal pendidikan agama. Bukan berarti sekolah negeri tidak baik, hanya saja kurang pas dalam memenuhi visi dan misi keluarga kami. Oleh karena itu, sejak anak-anak PG hingga SMP, mereka kami sekolahkan di institusi pendidikan yang memiliki titik tekan pada islamic character building dan leadership sebagai salah satu tujuan pembelajaran. Aspek kognitif bisa dikejar karena alhamdulillah kemampuan akademik mereka bisa dibilang bagus, tetapi pembentukan karakter akan susah dikejar jika tidak ditanamkan sejak dini. Harapan kami, jika nilai-nilai sebagai seorang muslim ini tertanam sebagai pondasi yang kuat, ke depannya mereka akan lebih tangguh memegang nilai-nilai agama dalam keseharian.

Selain ikhtiar memilihkan pendidikan yang menurut kami terbaik buat mereka, tak lupa kami juga menitipkan anak-anak kepada Sang Empunya. Allah-lah sebaik-baik penjaga dan pelindung yang akan membimbing mereka untuk tetap lurus di jalan-Nya. Kami tahu sebagai orang tua kami tidak bisa mendampingi anak-anak 24/7. Oleh karena itu, jika anak-anak paham dan sadar bahwa Allah Maha Melihat, mudah-mudahan mereka tidak terombang-ambing oleh dunia dan tetap berpegang teguh pada orientasi akhirat.

Memilihkan mereka sekolah yang terbaik adalah satu hal; bekerja sama dengan sekolah untuk keberhasilan belajar adalah hal lain. Keduanya harus berjalan seimbang karena kita tidak bisa melepas tanggung jawab dan membebankan proses pendidikan hanya kepada sekolah. Sekolah adalah mitra kami dalam mendidik anak-anak, maka kami berusaha untuk tidak bawel dan percaya pada sistem yang mereka miliki. Kepercayaan ini penting supaya kerja sama yang terbangun antara sekolah dan orang tua berjalan baik. Tak bisa dipungkiri selama tahun-tahun mereka bersekolah pasti ada saja masalah yang terjadi. Jika kerja sama tidak berjalan baik—misalnya ada ketidakpercayaan orang tua pada kebijakan yang diambil sekolah—proses mendidik anak juga tentu tidak akan berjalan mulus.

Pada akhirnya, pendidikan anak adalah proses untuk menjadikan mereka siap menjadi pribadi yang mandiri dan tangguh saat berpisah dengan kita, baik karena mereka keluar rumah (misalnya karena menikah, kuliah, merantau) atau karena kematian kita.

ูˆَู„ْูŠَุฎْุดَ ุงู„َّุฐِูŠู†َ ู„َูˆْ ุชَุฑَูƒُูˆุง ู…ِู†ْ ุฎَู„ْูِู‡ِู…ْ ุฐُุฑِّูŠَّุฉً ุถِุนَุงูًุง ุฎَุงูُูˆุง ุนَู„َูŠْู‡ِู…ْ ูَู„ْูŠَุชَّู‚ُูˆุง ุงู„ู„َّู‡َ ูˆَู„ْูŠَู‚ُูˆู„ُูˆุง ู‚َูˆْู„ًุง ุณَุฏِูŠุฏًุง

"Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar." (Q.S. An-Nisa': 9)

Hari Arafah

Hari Arafah adalah hari kesembilan dalam bulan Dzulhijjah, hari yang bertepatan dengan dilakukannya wukuf oleh umat muslim yang menunaikan haji. Tahun ini Hari Arafah jatuh pada Senin, 19 Juli 2021. Wukuf sendiri adalah salah satu rangkaian ibadah haji yang paling pokok yang dilakukan dengan cara berdiam di Arafah mulai tenggelamnya matahari pada 9 Dzulhijjah hingga terbitnya fajar di tanggal 10 Dzulhijjah. Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya oleh sekelompok orang dari Nejed tentang haji, maka beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,

ุงู„ْุญَุฌُّ ุนَุฑَูَุฉُ

“Haji itu adalah Arafah.” (H.R. at-Tirmidzi no. 889, an-Nasรข’i no. 3016 dan Ibnu Mรขjah no. 3015, dihukumi shahih oleh al-Albรขni)

Hari Arafah merupakan salah satu hari dalam sepuluh hari pertama di bulan Dzulhijjah yang memiliki banyak keutamaan. Oleh karena itu kita disunnahkan memperbanyak amal salih di sepuluh hari pertama ini, dan hari Arafah termasuk di dalamnya. “Tidak ada amalan yang lebih baik di sisi Allah dan lebih besar pahalanya dibanding amal salih yang dilakukan di 10 hari pertama di bulan Dzulhijjah.” (H.R. Baihaqi, lihat Fathul Baari 3/390 dan Shahih Targhib 2/15)

Beberapa amalan yang dianjurkan dilakukan pada Hari Arafah adalah berdoa, berdzikir, dan berpuasa. Dari ‘Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ุฎَูŠْุฑُ ุงู„ุฏُّุนَุงุกِ ุฏُุนَุงุกُ ูŠَูˆْู…ِ ุนَุฑَูَุฉَ ูˆَุฎَูŠْุฑُ ู…َุง ู‚ُู„ْุชُ ุฃَู†َุง ูˆَุงู„ู†َّุจِูŠُّูˆู†َ ู…ِู†ْ ู‚َุจْู„ِู‰ ู„ุงَ ุฅِู„َู‡َ ุฅِู„ุงَّ ุงู„ู„َّู‡ُ ูˆَุญْุฏَู‡ُ ู„ุงَ ุดَุฑِูŠูƒَ ู„َู‡ُ ู„َู‡ُ ุงู„ْู…ُู„ْูƒُ ูˆَู„َู‡ُ ุงู„ْุญَู…ْุฏُ ูˆَู‡ُูˆَ ุนَู„َู‰ ูƒُู„ِّ ุดَู‰ْุกٍ ู‚َุฏِูŠุฑٌ

“Sebaik-baik doa adalah doa pada hari Arafah. Dan sebaik-baik yang kuucapkan, begitu pula diucapkan oleh para Nabi sebelumku adalah ucapan ‘La ilaha illallah wahdahu la syarika lah, lahul mulku walahul hamdu wahuwa ‘ala kulli syaiin qadir’ (Tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya segala kerajaan, segala pujian dan Allah yang menguasai segala sesuatu).” (H.R. Tirmidzi no. 3585; Ahmad, 2:210)

Sementara puasa pada Hari Arafah memiliki keutamaan yang besar. Puasa sehari ini menghapuskan dosa dua tahun, sebagaimana dijelaskan dalam hadits Abu Qatadah Radhiyallahu anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ุตِูŠَุงู…ُ ูŠَูˆْู…ِ ุนَุฑَูَุฉَ ุฃَุญْุชَุณِุจُ ุนَู„َู‰ ุงู„ู„َّู‡ِ ุฃَู†ْ ูŠُูƒَูِّุฑَ ุงู„ุณَّู†َุฉَ ุงู„َّุชِู‰ ู‚َุจْู„َู‡ُ ูˆَุงู„ุณَّู†َุฉَ ุงู„َّุชِู‰ ุจَุนْุฏَู‡ُ

“Puasa Hari Arafah aku harapkan dari Allah bisa menghapuskan dosa setahun sebelumnya dan setahun setelahnya.” (H.R. Muslim no. 1162).

Semua ibadah yang disebutkan di atas bukan hanya untuk para jamaah haji yang sedang berwukuf di Arafah, melainkan semua umat muslim juga memiliki kesempatan yang sama untuk mendulang pahala dan ampunan dari Allah. Yuk, mari kita jemput keutamaan Hari Arafah.