Monday, April 28, 2014

The Wind in the Willows

Ada perasaan girang yang membuncah di hati ketika kemarin malam tertambat di bazaar buku Gramedia PVJ. Iseng-iseng mampir melihat plang diskon, lalu tiba-tiba mata tertumbuk pada sepotong buku kecil yang membawa pada nostalgi tak bertepi. The Wind in the Willows, judul buku itu. Seketika memori kembali pada masa ketika umurku sembilan tahun.

Sampul depan

Sampul belakang

Ilustrasinya sederhana, lebih banyak narasinya

The Wind in the Willows is a classic of children's literature by Kenneth Grahame, first published in 1908. Alternately slow moving and fast paced, it focuses on four anthropomorphised animal characters in a pastoral version of England. The novel is notable for its mixture of mysticism, adventure, morality, and camaraderie and celebrated for its evocation of the nature of the Thames valley.

Main characters

  • Mole: A mild-mannered, home-loving animal, and the first character introduced. Fed up with spring cleaning in his secluded home, he ventures into the outside world. Initially overawed by the hustle and bustle of the riverbank, he eventually adapts.
  • Ratty: Ratty (actually a water vole) is cultured, relaxed and friendly, with literary pretensions and a life of leisure. Ratty loves the river and takes Mole under his wing. He is implied to be occasionally mischievous and can be stubborn when it comes to doing things outside his riverside lifestyle.
  • Mr. Toad: The wealthy scion of Toad Hall who inherited his wealth from his late father. Although good-natured, kind-hearted and not without intelligence, he is also spoiled, conceited, and impulsive. He is prone to obsessions and crazes (such as punting, houseboats, and horse-drawn caravans), each of which in turn he becomes bored with and drops. His motoring craze eventually sees him imprisoned for theft, dangerous driving and gross impertinence to the rural police. Several chapters of the book chronicle his daring escape from prison.
  • Mr. Badger: Gruff and solitary, who "simply hates society", Badger embodies the "wise hermit" figure. A friend of Toad's late father, he is uncompromising with the disappointing Toad yet remains optimistic his good qualities will prevail. He lives in a vast underground sett, part of which incorporates the remains of a buried Roman settlement. A brave and a skilled fighter, Badger helped clear the Wild Wooders from Toad Hall with his large cudgel.

Dikutip dari sini.


Waktu itu Papi pulang dari Canada setelah menempuh studi magister selama tiga tahun lebih. Oleh-oleh yang paling kusuka adalah buku anak-anak dalam Bahasa Inggris yang ilustrasi gambarnya bagus sekali. Ada beberapa judul, yang paling kuingat adalah The Wind in the Willows dan Pinocchio. Sisanya adalah buku nonfiksi semacam ensiklopedia. Sejak aku duduk di bangku TK, membaca adalah duniaku. Waktu itu kemampuan bisa membaca ketika TK adalah prestasi tersendiri, karena rata-rata anak zaman itu memang baru bisa membaca setelah masuk SD. Setiap hari lembar buku-buku itu kubolak-balik, tentu tanpa dapat memahami ceritanya. Hanya menikmati ilustrasinya sembari berimajinasi menyusun alur kisahnya. Yup, benih-benih kecintaanku pada dunia fiksi memang tersemai sekitar usia ini. Membaca dan membaca, lalu kadang-kadang menulis cerpen atau puisi. Aku bahkan memiliki beberapa buku kumpulan cerpen yang kubuat dengan tulisan tangan atau mesin ketik.

Lewat perkenalan dengan buku-buku beda bahasa itu juga, aku mulai tertarik mempelajari Bahasa Inggris. Minat yang kemudian berubah menjadi kesukaan, hingga lembar kerja dari tempat kursus sudah dilahap habis bahkan sebelum sang guru meminta. Tiada hari tanpa membuka kamus Bahasa Inggris, membaca satu demi satu kata sambil manggut-manggut memahami artinya.

Ketika akhirnya kartun The Wind in the Willows muncul di televisi (aku tak begitu ingat kapan tepatnya, yang jelas sebelum aku lulus SD), aku sudah akrab dengan kisah fabel empat tokoh utamanya: Mole, Ratty, Mr. Toad, dan Mr. Badger ini. Dua puluh tahun kemudian, semua ingatan tentang masa kecil itu mendesak-desak keluar dari benak ketika aku menemukan buku legendaris ini di rak Gramedia. Dengan diskon sebesar 40% dan sampul buku hardcover, mustahil rasanya bila aku tak membawa buku ini pulang. Sambil menenteng beberapa buku fiksi karya penulis kelas dunia yang lain, aku menyungging senyum di bibir. Berasa menemukan harta karun, sekaligus kembali merasai kehadiran Papi di sisi.

Monday, April 07, 2014

Mengurus Paspor

Beberapa hari menjelang kembali masuk kerja, aku menyempatkan diri membuat paspor baru untuk aku dan anak-anak, memanfaatkan waktu bebas yang tersisa di saat-saat terakhir sebelum mulai ngantor kembali. Sebelum memulai proses, aku sudah mencari informasi tentang pembuatan paspor online, terutama pembuatan paspor untuk anak-anak di bawah umur yang KTP saja bahkan belum punya. Setelah tanya sana-sini, aku akhirnya tertambat di blog Essa. Di situ Essa menuliskan pengalamannya membuat paspor untuk anak dan bayi. Berbekal informasi dari situ, dengan pedenya aku mengurus pembuatan paspor, tanpa tahu kalau perbedaan kondisi antara aku dan Essa menyisakan beberapa berkas yang tertinggal dan cukup membuatku pontang-panting.

Oke, first of all, mengapa harus online? Untuk mengurangi frekuensi waktu kedatangan ke kantor imigrasi. Proses pembuatan paspor secara manual memerlukan tiga kali waktu kedatangan ke kantor imigrasi. Bila kita melakukan pembuatan paspor secara online, kita hanya perlu datang dua kali. Pertama untuk mengumpulkan berkas dan difoto, lalu kedatangan kedua untuk mengambil paspor yang sudah jadi. Pendaftaran dilakukan secara online sebelum dua proses tersebut, sehingga lumayan mempersingkat proses. Sekedar info, untuk satu proses di kantor imigrasi saja, kita sebaiknya mengambil nomor antrian pagi-pagi sekali (sebelum jam enam pagi) untuk mendapat nomor antrian kecil. Nomor antrian besar identik dengan waktu antri berjam-jam lamanya. Jadi kalau ada kesempatan mengurangi frekuensi kedatangan dan mengurangi satu proses dengan sistem online, mengapa tidak? Cara online tentunya menghemat waktu, biaya, dan tenaga.

Untuk pembuatan paspor secara online, silakan meluncur ke sini. Sementara petunjuk pembuatannya bisa dilihat di sini.


TAHAP 1: Pendaftaran paspor secara online untuk mendapatkan pra permohonan personal


Persyaratan untuk di-submit secara online:
  1. Hasil scan Kartu Keluarga (JPEG, grey scale)
  2. Hasil scan Akte Kelahiran (JPEG, grey scale)
  3. Hasil scan KTP (untuk anak/bayi, KTP yang diperlukan adalah KTP ayah atau ibunya, salah satu saja) (JPEG, grey scale)
  4. Hasil scan paspor lama (bila sudah punya paspor sebelumnya/habis berlaku) (JPEG, grey scale)
  5. Ukuran tinggi badan (dalam cm)

Berikut ini aku coba jelaskan langkah-langkahnya ya.


Tahap 1a

  1. Masuk ke situs ini lalu pilih pra pemohonan proposal.
  2. Pilih jenis permohonan –-> pembuatan paspor baru, atau penggantian, perubahan, dsb.
  3. Nomor paspor lama –-> jangan diisi bila sebelumnya tidak punya paspor.
  4. Jenis paspor –-> bisa pilih paspor 48H (H disini maksudnya halaman, jadi untuk pembuatan paspor sejumlah 48 halaman) seharga Rp 200.000 atau 24H seharga Rp 50.000.
  5. Nomor rekomendasi Kemenaker –-> tidak usah diisi, ini untuk TKI.
  6. Kemudian isilah nama lengkap, jenis kelamin, tinggi, tanggal lahir, tempat lahir, status sipil (nikah/belum nikah).

Catatan untuk Tahap 1a
  1. Untuk alamat e-mail –-> masukkan dengan benar, jangan sampai ada karakter yang tidak tepat, karena konfirmasi akan masuk ke e-mail. Untuk pembuatan paspor online lebih dari satu (misalnya untuk dua orang anak sekaligus), masukkan alamat e-mail yang berbeda, karena satu e-mail hanya untuk satu pemohon saja.
  2. Untuk pekerjaan –-> isi sesuai status pekerjaan, untuk anak/bayi, pilih: lainnya.
  3. Untuk nomor identitas –-> bagi orang dewasa diisi dengan nomor KTP. Untuk anak/bayi, kolom ini diisi dengan NIK anak yang tertera di KK.
  4. Tempat ID dikeluarkan –-> isi dengan nama kota dimana KTP (untuk orang dewasa) atau KK (untuk anak/bayi) diterbitkan.
  5. Untuk tanggal ID dikeluarkan –-> isi dengan tanggal pembuatan KTP (untuk orang dewasa) atau KK (untuk anak/bayi).
  6. Untuk ID berlaku sampai dengan –-> untuk orang dewasa, diisi dengan tanggal masa berlaku KTP berakhir. Sementara untuk anak/bayi, diisi dengan tanggal pembuatan KK ditambah lima tahun. Misalnya: pembuatan KK 15 Desember 2013, berarti ID berlaku sampai dengan 15 Desember 2018.
  7. Pastikan semua telah diisi dengan benar, lalu klik lanjut.

Tahap 1b

  1. Cek resolusi hasil scan pada poin persyaratan di atas. Format hasil scan harus dalam format JPEG dan grey scale. Meskipun tertulis “file tidak boleh lebih dari 1000 KB”, alangkah lebih baik jika ukuran file di bawah 250 KB untuk memudahkan. Karena pengalamanku, file yang berukuran hampir 300 KB saja tidak diizinkan diunggah karena dianggap terlalu besar.
  2. Unggah hasil scan tersebut. Berkas yang diunggah minimal ada tiga macam. Jika kurang dari tiga macam, proses tidak dapat dilanjutkan. Karena anak/bayi belum memiliki KTP, yang diunggah adalah KTP ayah atau ibunya (salah satu saja).
  3. Setelah itu, lanjutkan proses sampai notifikasi dikirim ke e-mail.

Tahap 1c

  1. Buka e-mail, unduh file terlampir dalam format PDF, lalu cetak file tersebut untuk keperluan melakukan pembayaran ke BNI.
  2. Bawa hasil cetaknya ke BNI terdekat.
  3. Biaya total untuk paspor 48H adalah Rp 255.000 per paspor dan untuk paspor 24H adalah Rp 105.000 per paspor, ditambah Rp 5.000 untuk biaya administrasi bank.
  4. Simpan bukti pembayaran.
Contoh file terlampir yang harus dibawa ke teller BNI.

Tahap 1d

  1. Masuk kembali ke e-mail, lalu klik tautan konfirmasi yang ada di e-mail untuk melakukan pengisian bukti pembayaran BNI.
  2. Masukkan nomor REF BANK ke kolom,  lalu klik lanjut.
  3. Pilih jadwal (tanggal dan hari) untuk menentukan waktu kedatangan kita ke kantor imigrasi.
  4. Cek lagi e-mail dan unduh bukti telah melakukan registrasi online dengan berhasil. Bukti ini penting untuk mendapatkan nomor antrian pada saat kita datang ke kantor imigrasi.
Tanda terima permohonan sebagai bukti telah melakukan registrasi online dengan berhasil, di dalamnya tertera waktu kedatangan ke kantor imigrasi.

TAHAP 2: Datang ke kantor imigrasi untuk pengambilan foto dan sidik jari


Persyaratan yang harus dibawa ke kantor imigrasi:
  1. Tanda terima permohonan seperti gambar di atas.
  2. Bawa semua berkas asli beserta fotokopinya, yang difotokopi di atas kertas A4.
  3. Untuk orang dewasa, berkasnya sebagai berikut: KTP diri, Akte Kelahiran, KK, surat rekomendasi dari instansi kerja (tidak perlu ada bila tidak bekerja), dan ijazah terakhir.
  4. Untuk anak/bayi, berkasnya sebagai berikut: Akte Kelahiran, KK, KTP ibu dan ayah (keduanya harus ada), Akte Kelahiran ibu dan ayah (keduanya harus ada), serta buku nikah orang tua. Tambahan bila paspor diuruskan oleh ibu, maka harus ada surat kuasa bermaterai dari ayah sebagai kepala keluarga, tentang penunjukan pengurusan paspor yang dikuasakan ke ibu (ribetnyaaaaa..).
  5. Bukti pembayaran dari BNI.
  6. Materai Rp 6.000 dan pulpen HITAM. Materai ini butuh banyak ternyata. Masing-masing berkas anak membutuhkan lebih dari dua materai, kalau aku tidak salah ingat.

Jangan lupa:
  1. Pakai pakaian sopan dan berwarna selain putih. Biasanya kemeja atau polo shirt untuk anak laki-laki.
  2. Bawa makanan ringan, buku, atau mainan untuk meredakan kebosanan anak menunggu antrian.

Berikut ini aku coba jelaskan langkah-langkahnya untuk proses Tahap 2, setelah persyaratan di atas siap kita bawa.
  1. Usahakan datang pagi-pagi, kalau bisa sebelum jam enam pagi untuk mengambil nomor antrian. Tujuannya agar mendapat nomor antrian kecil sehingga kita tak perlu menunggu lama untuk dipanggil. Tapi hati-hati kalau mendapat nomor kecil kemudian kita pergi dulu sembari menunggu antrian. Salah-salah kejadian sepertiku. Jadi ceritanya setelah dibela-belain datang pagi sekali dan mendapat nomor antrian kecil untuk aku dan anak-anak, aku pulang dulu untuk menjemput anak-anak. Ketika sampai kembali di kantor imigrasi, ternyata nomor antrianku sudah terlewat dong (dueenggggg..). Risikonya harus mengambil nomor antrian baru lagi, dimana waktu tunggu nomor antrian besar bisa sampai berjam-jam lamanya. Untunglah petugasnya mengizinkan kami langsung masuk tanpa menunggu antrian baru, meskipun sambil bermuka masam.
  2. Setelah mendapat nomor antrian,  minta ke petugas: map imigrasi beserta formulir yang harus diisi dan ditandatangani. Untuk anak/bayi, tanda tangan di atas materai dilakukan oleh ayah atau ibunya. Jangan lupa, cover map juga harus ditulisi.
  3. Isi formulir dengan lengkap dan simpan semua berkas di dalam map dengan rapi.
  4. Ketika dipanggil ke ruang foto, serahkan map untuk diverifikasi, lalu posisikan diri kita atau anak/bayi untuk bisa difoto dengan baik. Pada foto, gigi tidak boleh terlihat. Di sini juga ada cerita tersendiri. Untuk Hanif, dibutuhkan tiga kali take sampai hasil fotonya sesuai ketentuan. Namun untuk Dek Abi, sepertinya sampai sepuluh kali take. Subhanallah, aku sampai berkeringat membujuk Dek Abi, karena dia sudah hampir menangis. Ada jepretan yang miring lah, ada yang terlihat giginya lah, sampai dia bete dan pemotretan harus ditunda sejenak. Repotnya membuat paspor untuk anak-anak, ckckckck..
  5. Setelah difoto, sidik jari akan di-scan.
  6. Setelah itu, kita akan mendapat tanda terima untuk pengambilan paspor. Paspor akan selesai dalam waktu tiga hari kerja.

TAHAP 3: Pengambilan paspor


Sama seperti Tahap 2, usahakan datang pagi-pagi untuk mendapat nomor antrian kecil. Di sini aku kembali mengalami salah strategi. Karena takut terlewat lagi nomor antriannya, aku sengaja datang agak siang: menjelang pukul 07.30. Hiks, ternyata dapatnya nomor ratusan, dan harus menunggu selama empat jam :(

Langkah-langkahnya sebagai berikut:
  1. Ambil nomor antrian.
  2. Setelah dipanggil, serahkan tanda terima untuk pengambilan paspor.
  3. Ketika ditanya: “mana bukti pembayaran BNI-nya?”, bilang saja: “saya pemohon online, bukti pembayaran sudah diserahkan kepada petugas sewaktu pengambilan foto”.
  4. Tunggu sampai nama kita atau anak kita dipanggil, lalu tanda tangani paspornya di depan petugas. Untuk anak di bawah umur, paspornya tidak perlu ditandatangani.

Catatan:
  1. Siapkan materai Rp 6.000 untuk pengambilan paspor lama (bagi yang mau diambil lagi paspor lamanya).
  2. Untuk orang dewasa, pengambilan paspor TIDAK BISA DIWAKILKAN. Untuk anak-anak, pengambilan paspor boleh dilakukan hanya oleh ayah atau ibunya saja.
  3. Jangan lupa untuk membeli sampul paspor di koperasi, supaya paspor tidak gampang rusak. Harganya Rp 4.000.

Berkas yang Tertinggal


Tulisan ini dikutip dengan perubahan seperlunya dari sini. Karena ketidaktahuanku, ada beberapa dokumen yang tertinggal dalam proses Tahap 2. Lagi-lagi karena kebaikan petugas, setelah aku dan anak-anak difoto, aku diperkenankan menyusulkan dokumen-dokumen itu (meskipun harus pada hari yang sama). Dianggapnya kurang secara minor, jadi masih bisa disusulkan. Dianggap minor mungkin karena cuma sedikit yang belum ada atau tidak lengkap. Kalau sebagian besar tidak ada, ya bisa-bisa disuruh meninggalkan ruangan ehehe.

Beberapa dokumen yang tidak ada di tulisan Essa disebabkan karena kondisi kami berbeda. Berikut adalah dokumen yang tertinggal dan penjelasannya:
  1. Surat rekomendasi dari instansi kerja –-> Essa tidak perlu karena statusnya tidak bekerja, sedangkan aku diharuskan melampirkan itu karena statusku PNS.
  2. Akte Kelahiran kedua orang tua untuk pengurusan paspor Hanif dan Dek Abi –-> waktu itu aku cuma bawa Akte Kelahiran milikku saja, ternyata punya suamiku juga harus disertakan.
  3. Surat kuasa dari suamiku –-> Essa juga tidak perlu karena waktu itu dia datang bersama suaminya, sehingga suaminya yang in charge, tidak perlu dikuasakan ke pihak istri seperti kasusku. Terkait dengan surat kuasa ini, ada juga yang bilang kalau pada saat wawancara ayah dan ibu dari anak yang dimohonkan paspornya, diharuskan datang KEDUANYA. Kalau cuma salah satu yang datang, harus membawa surat kuasa dari pihak yang tidak bisa hadir. Nah, ketentuan seperti ini nih yang rawan miss, karena setahuku keterangannya tidak ada di situs sehingga menyulitkan pencari informasi online seperti diriku.
Pffff, sudah berburu informasi sebelumnya saja masih ada yang tertinggal, bagaimana kalau tidak.. Hmmphh.. Paspor oh paspor..

Dan taraaaaa.. ini dia paspor yang diperoleh dengan bersimbah peluh itu...



Mukanya lucu-lucu yaa.. namanya juga anak-anak :D

Tuesday, April 01, 2014

HUT MSI Jabar ke-3

Bulan Maret lalu MSI Jabar berulang tahun yang ke-3. Hari ulang tahunnya sebenarnya jatuh pada 6 Maret, tapi karena kesibukan pengurus (ceilee..), syukuran sederhana baru bisa dilakukan pada Minggu, 16 Maret 2014. Koordinasi pengurus sepenuhnya dilakukan di dunia maya melalui Whatsapp karena keterbatasan waktu untuk kopi darat. Mulai dari format acara, konten acara, pemilihan narasumber, sampai pembagian tugas, semua pembahasannya dilakukan secara online. Salut untuk kekompakan teman-teman pengurus tercinta (colek Mbak Linda, Adys, Tami, Ama, dan Rini).
 
Pengumuman acara yang di-published di socmed

Acara bertajuk “Meet Up MSI Jabar” itu berformat fun sharing. Tentu sifatnya informal, santai, dan penuh haha hihi. Secara garis besar, konten acaranya adalah perkenalan, dan dua sesi sharing. Sesi sharing pertama dibawakan oleh Arif Sugiharto dan Nuri Handayani, yang mempresentasikan skripsi masing-masing yang terkait dengan skoliosis. Sesi sharing kedua dibawakan oleh Yulia E. S., penulis buku Pantang Padam, yang di dalam bukunya menceritakan kisah hidupnya bergulat dengan MVP dan skoliosis. Sebenarnya direncanakan ada sesi sharing ketiga juga, untuk berbagi kisah antarpeserta yang hadir. Sayang sesi ketiga ini akhirnya dibatalkan karena keterbatasan waktu.

Pagi itu aku berangkat tergesa karena sebelumnya menghabiskan waktu untuk menyiapkan slide profil MSI Jabar dan slide Yulia, serta memilih beberapa lagu pengiring yang akan diputar selama acara. Salah satu kekhawatiranku tentang infocus sudah pupus sehari sebelumnya karena Teh Isti dari Yayasan Al Firdaus bersedia meminjamkannya (thanks to Dyah yang sudah membawakan). Sampai di Ayam Penyet Ria, teman-teman pengurus sudah berkumpul. Kumpul sebelum Meet Up ini untuk kembali berkonsolidasi membahas kelanjutan kegiatan MSI Jabar setelah sempat vakum beberapa waktu lamanya.

Pada kesempatan ini pula aku akhirnya bisa bertatap muka dengan Yulia. Pertemuan kami yang berawal di blog-nya membawa kami bekerja sama dalam penyusunan buku Pantang Padam. Percaya atau tidak, aku menjadi proofreader buku tersebut tanpa pernah bertemu secara langsung sebelumnya. Alhamdulillah akhirnya bisa kopi darat dengan pustakawan manis yang sangat inspiratif ini.

Acara Meet Up yang sedianya diagendakan mulai pukul 11.00 akhirnya molor setengah jam karena menunggu kehadiran peserta. Duo MC gaul, Tami dan Ama, renyah membuka acara. Kemudian dilanjutkan dengan perkenalan satu demi satu peserta yang hadir. Pada sesi sharing pertama, Sugi yang merupakan mahasiswa Teknik Mesin ITB, menceritakan skripsinya yang berjudul “Tinjauan Awal: Pengaruh Ketidaknormalan Tulang Belakang pada Pasien Skoliosis Terhadap Pola Gerak Tubuh Atas Saat Berjalan”. Skripsi ini membahas biomekanika penderita skoliosis. Berikut kesimpulan skripsi Sugi:
  1. Pada penelitian ini telah disusun metodologi pengambilan data kuantitatif pada pasien skoliosis, berupa data gerak tubuh atas saat berjalan.
  2. Pada penelitian ini telah diambil anggota gerak tubuh bagian atas yang berupa rotasi panggul terhadap sistem referensi global, rotasi dada terhadap panggul pada 17 pria dan 7 wanita normal serta 6 wanita skoliosis.
  3. Gerakan dada terhadap panggul pada pria dan wanita normal memiliki perbedaan jangkauan gerak. Perbedaan jangkauan gerak ini sebesar 2,5 derajat pada rotasi dada terhadap panggul, dan 2,2 derajat pada obliquity dada terhadap panggul.
  4. Pada pasien skoliosis perubahan sudut Cobb tidak diikuti dengan perubahan pola gerakan dada terhadap panggul.

Sugi dan Nuri
 
Sedangkan Nuri yang merupakan mahasiswi Psikologi Unpad, membawakan skripsinya yang berjudul “Gambaran Dukungan Sosial dan Self-Esteem Pada Remaja Putri Penderita Skoliosis”. Skripsi Nuri menyoroti pentingnya dukungan dari orang-orang terdekat seperti keluarga, teman, dan sesama penderita agar skolioser dapat merasa dirinya berharga dan agar skolioser memberikan penilaian yang baik terhadap dirinya.

Aku dan Yulia. Foto diambil dari sini.

Setelah makan siang, sesi sharing kedua diisi oleh Yulia. Sesi ini dibuka dengan perkenalan dari Yulia dan pemutaran slide singkat mengenai gambaran dan penyusunan buku Pantang Padam. Format sesi yang ini dibuat seperti talkshow, dengan aku sebagai moderator (ehemm..) yang sesekali melirik contekan untuk mengupas buku yang ditulis Yulia dan mengorek sedikit kehidupannya terkait dengan skoliosis. Yulia menulis sharing-nya dengan lengkap di sini. Inti yang kutangkap dari buku Yulia adalah tentang semangat dan motivasi yang kuat dari dalam diri, yang tak pernah padam meskipun menyandang skoliosis dan MVP. Bahwa skolioser pun masih bisa banyak beraktivitas dan berkontribusi untuk kemaslahatan masyarakat.

Secara keseluruhan, aku sangat gembira acara berjalan lancar seperti yang direncanakan. Dan yang lebih istimewa, aku mendapat kesempatan memotong kue ulang tahun MSI Jabar, karena sehari sebelumnya aku juga berulang tahun (yeay! hehehe..). Kuenya lembut dan lezat, krimnya berasa susu sekali. Hmmm, yummy...
 
Kue ultah MSI Jabar

Hadir di acara seperti ini membuatku merasa memiliki keluarga yang hangat, teman-teman senasib yang saling menyemangati satu sama lain. Juga membuatku menyadari bahwa berkontribusi menjadi aktivis skoliosis di masyarakat, membuat jiwaku lebih utuh, karena mengingatkanku untuk terus mensyukuri hidup. Happy birthday, MSI Jabar! Semoga kehadiranmu senantiasa menginspirasi dan dapat mewujudkan misi untuk meningkatkan kualitas hidup skolioser di Indonesia, dan di Jawa Barat khususnya.

"Jika ada dua obat paling mujarab di dunia, maka itu adalah membaca buku dan menjadi relawan." --Yulia, Pantang Padam


Foto-foto lengkap bisa dilihat di sini.

Friday, March 28, 2014

Mencari Sebuah Gendongan (2)

Tulisan ini adalah sambungan kisah di sini.
 

Perjalanan mencari gendongan ini belum berakhir sampai akhirnya aku bertemu dengan gendongan berjenis soft structured carrier (SSC). Gendongan model SSC dilengkapi dengan panel badan serta sabuk bahu dan pinggang seperti ransel. Tali bahu yang lebar dengan bantalan yang tebal namun lembut, sangat nyaman bila dipakai menggendong lama. Sedangkan sabuk di bagian pinggang memang didesain khusus untuk memindahkan beban dari bahu ke panggul dan membaginya dengan rata, sehingga bahu dan punggung kita tidak cepat pegal.
 
Soft structured carrier (SSC)

Kelebihan SSC dibanding babywrap adalah dari segi kepraktisannya: cara memakainya sangat mudah, tinggal mengkaitkan strap-nya and then you’re ready to go. Bandingkan dengan babywrap yang harus dibelit-belit ke tubuh terlebih dahulu. Selain itu, dari segi keamanan, SSC memiliki safety buckle yang besar di bagian pinggang untuk meminimalkan risiko gendongan terlepas secara tidak sengaja. Di pasaran, SSC hadir dengan berbagai merk. Harganya cukup mahal dibanding gendongan biasa. Tapi kurasa itu sepadan, karena pembuatan gendongan semacam ini pasti telah melalui berbagai riset dan uji coba hingga menemukan model yang tepat untuk tidak membebani tubuh ibu secara berlebihan. Tipe gendongan yang sangat tepat untuk seorang ibu yang menyandang skoliosis.

Karena harganya yang mahal, aku sempat maju mundur untuk membelinya. Harga SSC lokal berkisar 400-600 ribu, sementara yang impor berkisar 1-1,5 juta rupiah. Sebuah harga yang fantastis untuk sebuah gendongan. Waktu itu alhamdulillah ada kenalan yang menawari untuk membeli SSC impor miliknya. Memang sudah lawas, tapi semua komponennya masih berfungsi baik. Awalnya SSC second itu ditawarkan seharga 350 ribu. Akhirnya SSC itu kubeli dengan harga 400 ribu, tapi sudah dengan bonus teething pads yang kalau beli baru harganya 180 ribu.

SSC untuk Dedek

Selain berpengaruh positif terhadap tulang punggung sang ibu, pemilihan SSC ternyata juga terkait dengan kesehatan persendian pangkal paha anak yang digendong. Pemilihan gendongan yang tidak benar dapat menyebabkan hip dysplasia atau displasia pangkal paha, yaitu suatu perkembangan tidak normal dari persendian pangkal paha dengan paha, yang mengakibatkan terlepasnya tulang paha (femur) dari asetabulum tulang panggul (pelvis).
Hip Dysplasia means that the bones of the hip joint are not aligned correctly. It affects thousands of children and adults each year and is known by many different names: Developmental Dysplasia of the Hip (DDH), Hip Dislocation, Congenital Dislocation of the Hip (CDH), or Loose Hips.

Hip Dysplasia prevents the hip joint from functioning properly and the joint wears out much faster than normal, much like a car’s tires will wear out faster when out of alignment. It is also a “silent” condition that means pain is not normally felt until much later stages, making it harder to detect.

Developmental Dysplasia of the Hip (DDH) is commonly used when talking about hip dysplasia in children. Approximately 1 out of every 20 full-term babies has some hip instability and 2-3 out of every 1,000 infants will require treatment. In spite of the frequency of DDH in babies and the potential for life-long disability caused by DDH, the awareness of this condition is poor outside of the medical profession.

Hip dysplasia in babies is most frequently discovered at the time of newborn examinations by physicians but dysplasia and dislocation can develop after this time in some children. This is why hip dysplasia is greatly considered developmental. It is also hard to detect because hip dysplasia is known as a “silent” condition. It does not cause pain in babies and doesn’t normally prevent them from learning how to walk at a normal age. Early diagnosis, prevention, and simple treatment is the best solution, however many hip dislocations are difficult to treat with the current methods of care.


(disalin dari sini dan sini)

Pencegahan DDH bisa dilakukan dengan penggunaan baby tools (car seat, baby carrier, baby sling, dsb) yang tepat. Nah, SSC ini aman karena titik berat yang ditimpakan oleh beban bayi tidak jatuh ke selangkangan (which is amat berbahaya karena bisa menyebabkan DDH), melainkan ditimpakan ke pantat bayi dengan posisi seperti duduk. Berikut ini gambarnya.
 
Gambar diambil dari sini


Sekedar catatan, membedong bayi juga bisa menyebabkan DDH. Keterangannya bisa dibaca di sini.
 

Dengan gendongan bertipe SSC, Dek Abi terlihat nyaman sekali. Sekarang gendongan ini menjadi favoritku. Dan karena gendongan ini sangat aman, aku sering memakainya untuk menggendong Dek Abi sambil bersepeda. Suamiku juga sering memakai gendongan ini ketika naik motor sambil menggendong Dek Abi. What a life saver :)

Thursday, March 20, 2014

Berkah S2

Mengambil S2 mungkin adalah keputusan yang tak akan pernah kusesali sepanjang hidup, meskipun dulu awal-awal mendapat beasiswa dari kantor, aku sempat gamang. Ya, gamang karena asal mula ikut seleksi beasiswa adalah karena iseng. Dan ketika iseng itu membuahkan hasil lolos, aku “terpaksa” harus mendaftar S2. Kemudian ketika lulus seleksi S2 dan berhasil masuk ke almamaterku, nyaliku menciut karena takut. Takut tak bisa mulus menjalani studi, mengingat berdarah-darahnya aku ketika S1 dulu *lebay hehehe. Kali ini aku ingin bercerita tentang keberkahan yang aku rasakan karena mengambil S2.

Menurut beberapa sumber yang aku baca, berkah adalah bertambahnya kebaikan. Berkah tidak selalu identik dengan jumlah. Di dalam kamus Arab, berkah memiliki arti pertumbuhan atau pertambahan kebaikan. Berkah dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008:179) yang masuk dalam kelas kata nomina memiliki arti ‘karunia Tuhan yang mendatangkan kebaikan bagi kehidupan manusia’. Sedangkan kata berkat dalam KBBI Pusat Bahasa, memiliki empat makna, masing-masing adalah 1. karunia Tuhan yang membawa kebaikan dalam hidup manusia; 2. doa restu dan pengaruh baik dari orang yang dihormati (guru); 3. makanan dan sebagainya yang dibawa pulang sehabis kenduri; 4. mendatangkan kebaikan atau bermanfaat (2008:179-180).

Ada pula yang mengartikan berkah dengan kalimat ‘dapat melakukan hal yang banyak dalam waktu yang sempit’ atau ‘mendapatkan kebaikan lebih banyak dari takaran yang semestinya’. Apapun artinya, berkah yang kumaksud meliputi semua arti di atas.

Berkah S2 pertama yang sangat kusyukuri adalah mendapat teman-teman seperjuangan yang sangat baik, pengertian, dan menyenangkan. Bersama teman-teman ini, mengerjakan tugas tak pernah menjadi beban. Menjalani hari-hari kuliah dengan gelak tawa, saling bantu ketika yang lain kesulitan. Maha Suci Allah yang mempertemukan aku dengan pertemanan seperti ini, hingga studi tak terasa dijalani sendiri, melainkan full support. Entah apa jadinya studiku bila tak kulakukan bersama bantuan mereka. Miss you a lot, guys!
 
Beberapa momen bersama teman-teman seangkatan. Kiri atas: diskusi selepas kuliah menjadi santapan sehari-hari.

Berkah kedua adalah waktu luang yang kudapatkan untuk mengurus anak. Aku melahirkan Dek Abi ketika perkuliahan menginjak semester satu. Kondisi studi yang fleksibel—tak seperti jam kantor—membuatku leluasa memberi ASI, terutama ketika enam bulan pertama, hingga membuat Dek Abi menjadi bayi ASI yang nemplok banget sampai hari ini. Kemudian masih leluasa pula untuk mengatur menu dan memasak MPASI untuk Dek Abi pada bulan-bulan berikutnya. Tak lupa juga leluasa mengantar jemput Hanif ke sekolah dan sesekali mengiringinya dalam kegiatan outing ke beberapa tempat.

Berkah ketiga adalah kelonggaran waktu untuk melakukan olahraga sepuasnya. Senam aerobik yang dulunya aku lakukan dua kali seminggu, frekuensinya bertambah menjadi 3-4 kali seminggu. Kemudian aku juga sempat mengikuti kelas pilates selama 20 kali pertemuan, yang sedikit banyak berpengaruh positif terhadap skoliosisku. Lalu aku mengikuti kelas yoga seminggu sekali dan merutinkan berenang seminggu sekali. Juga masih sempat bersepeda beberapa kali dalam seminggu. Ahh nikmatnya hidup ketika kita bugar beraktivitas sepanjang hari. Tak hanya sehat yang didapat, ketika olahraga yang disukai dilakukan, tubuh juga akan mengeluarkan hormon endorfin yang membuat kita lebih bahagia.

Berkah berikutnya adalah kesempatan yang terbuka untuk aktif dalam berbagai kegiatan komunitas. Karena waktu kuliah yang longgar, aku berkesempatan aktif ikut banyak seminar dan pelatihan parenting dari berbagai pihak. Ini keberkahan yang luar biasa dalam mencari ilmu mengenai pengasuhan dan pendidikan anak. Jadi ilmu dari bangku kuliah bertambah, ilmu sebagai orang tua juga bertambah. Lewat kesempatan itu pula aku berkenalan dengan Bunda Rani dan Komunitas Cinta Keluarga (KCK), yang membuatku merasa menemukan supporting system yang baik dalam menjalani dunia parenting. Hal ini diikuti pula dengan terlibatnya aku dalam penyelenggaraan seminar dan pelatihan mengenai parenting dan kesehatan anak.

Bersama Bunda Rani dan teman-teman KCK saat launching Gerakan Bandung Cinta Keluarga di Sabuga

Selain itu aku juga aktif di Masyarakat Skoliosis Indonesia (MSI) cabang Jawa Barat. Komunitas penggiat skoliosis ini berperan sebagai pusat informasi skoliosis dan sebagai wadah pemersatu bagi penyandang dan pemerhati skolisosis di Indonesia, khususnya Jawa Barat. Visinya mulia sekali, yaitu meningkatkan kualitas hidup penyandang skolisosis. Lewat MSI aku bertemu dengan orang-orang yang luar biasa. Serasa menemukan saudara senasib sepenanggungan di sini. Kami bersama-sama mengadakan kegiatan, baik yang lingkupnya kecil seperti pertemuan kopdar untuk sharing, berbagi informasi, nonton film atau jalan-jalan bersama, maupun yang lingkupnya lebih besar seperti talkshow di radio, seminar, atau penggalangan dana untuk operasi skolioser yang tidak mampu.

Maka ketika tugas belajarku resmi berakhir minggu ini, ada rasa senang sekaligus sedih. Senang karena sidang tesis telah terlampaui dengan baik, sekaligus sedih karena aku kehilangan keleluasaan waktu untuk hal-hal yang aku sukai. Well, suatu tanggung jawab yang telah selesai di satu tempat memang menuntut tanggung jawab baru di tempat lain. Harapanku: seiring dengan mulai aktifnya aku bekerja kembali, aku tidak kehilangan waktu untuk mengembangkan diri agar bisa menjadi orang tua yang baik, juga tidak kehilangan waktu untuk melakukan aktivitas sosial di masyarakat. Masih ada satu mimpi yang belum sempat kulakukan semasa studi, yaitu mengikuti pelatihan untuk menjadi konselor laktasi. Semoga Allah masih memberiku kesempatan untuk melakukan kebaikan-kebaikan yang bermanfaat bagi orang banyak. Aamiin.