Monday, June 03, 2013

ASI untuk Dek Abi

Enam bulan lagi, insya Allah Dek Abi akan lulus S3-ASI. Perjalanan panjang memberikan ASI yang dimulai sebelum kelahirannya: mulai dari membulatkan niat, melengkapi ilmu, melengkapi alat tempur, hingga ujian sebenarnya yang datang sejak ia lahir (baca kisahnya di sini).

ASIX pada Enam Bulan Pertama


Enam bulan pertama adalah masa-masa terberat. Poin-poin penting yang kulakukan saat itu:
  • Mind management yang tak henti dilakukan: untuk meyakinkan diri sendiri bahwa produksi ASI-ku melimpah, melatih pikiran untuk tidak memikirkan hal-hal yang tak penting, menjauhkan diri dari segala hal yang bisa membuat stres. Intinya adalah berusaha rileks dan yakin bahwa aku mampu memberikan ASIX. Rileks dalam keseharian, rileks saat pumping, dan rileks saat menyusui, sambil tak henti-hentinya berdzikir dan melakukan afirmasi.
  • Melengkapi perbekalan alat tempur (uraiannya ada di bawah).
  • Pumping di mana saja dan kapan saja. Pernah waktu itu muter-muter keliling kampus untuk mencari tempat pumping yang representatif dan nyaman, setelah menemukan kenyataan bahwa beberapa musholla masih dikunci karena hari masih pagi. Aku tak lupa untuk konsisten melakukan pumping agar produksi ASI tetap berlimpah, tak peduli harus bangun malam pun dijabanin demi ketersediaan stok ASIP.

Beberapa teknik pumping yang kulakukan:
  • Pumping ketika Dek Abi menyusu. Jadi misalnya dia menyusu payudara kiri, aku pompa yang sebelah kanan. Dengan cara ini LDR (let down reflex) mudah didapat dan ASI yang mengucur tidak terbuang sia-sia.
  • Pumping setelah Dek Abi menyusu. Ini dilakukan pada payudara yang habis disusukan. Teknik ini berfungsi untuk menguras atau mengosongkan payudara. FYI payudara yang sering dikosongkan akan merangsang produksi ASI sehingga produksinya semakin bertambah banyak.
  • Pumping sambil rileks. Terdengar klise memang, tapi aku agak menghindari pumping dengan tergesa-gesa atau hati kemrungsung. Dengan pumping yang rileks dan tenang, sekali pumping pada satu payudara, aku bisa mendapat hampir 200 mL dengan tiga kali LDR.

Dek Abi sempat mengalami growth spurt yang membuatnya ingin menyusu terus. Cukup membuat lelah, tapi alhamdulillah aku sudah membekali diri dengan ilmu sehingga aku tahu pasti bahwa itu bukan karena ASI yang kurang. Jadi aku dapat menghadapinya dengan tenang dan tidak stres. Bagi yang tidak tahu kan bisa saja mengira ASInya kurang, lalu stres sendiri, malah beneran nanti ASInya berkurang. Ilmu ini penting untuk membuat kita tetap rileks, dan selalu yakin bahwa ASI kita cukup.

Peralatan tempur:

Breastpump
Harga breastpump yang bagus itu berkisar 400-600 ribu rupiah. Harga memang tidak bohong. Aku pernah membeli yang murah (200 ribu-an), puting malah sakit dan berdarah. Meskipun demikian, masalah breastpump itu cocok-cocokan. Ada juga yang bisa memerah ASI dengan banyak menggunakan tangan.


My breastpump

Cooling bag dan breastmilk storage bags
Cooling bag hanya berfungsi untuk membawa ASIP dari kantor/kampus ke rumah (selama di perjalanan), bukan untuk menyimpan ASIP. Jadi di kantor ASIP harus tetap masuk kulkas. Bisa juga sih untuk menyimpan ASIP tapi tidak lama, misalnya untuk ASIP yang akan segera diberikan. Cooling bag-ku ini sudah memiliki built-in ice gel di dalamnya (terjahit menyatu di dalam tas), tapi masih kutambahkan dengan ice gel tambahan (yang di dalam plastik transparan itu di foto) untuk menjaga agar lebih dingin.
Sedangkan breastmilk storage bags itu pada dasarnya adalah plastik yang khusus untuk menyimpan ASIP (sekali pakai). Tidak terlalu urgent sih, untuk jaga-jaga saja bila kehabisan botol untuk menyimpan ASIP.


Cooling bag dan breastmilk storage bags

Cup feeder
Fungsinya sebagai alat untuk memberi ASIP ke bayi. Mengapa harus cup feeder? Untuk menghindari bingung puting pada bayi. Penggunaan dot dapat membuat bayi keenakan (dengan dot, bayi tidak perlu susah-susah mengisap) sehingga akhirnya tidak mau menyusu langsung ke puting dan lebih memilih dot. Dengan cup feeder, si bayi terlatih untuk mengisap sendiri. Aku tidak memakai dot sama sekali untuk dek Abi.
Kekurangannya, memang diperlukan latihan untuk menggunakan cup feeder ini. Baik bagi si bayi maupun orang dewasa yang memberi ASIP ke bayi. Orang dewasanya harus sabar dan telaten. Perlu waktu, tapi hasilnya sepadan (worth it). Jadi orang dewasa yang diserahi tugas untuk memberi ASIP via cup feeder ini harus diwanti-wanti supaya telaten dan mau berlatih, demi kebaikan bayinya. Kalau memakai cup feeder ini, bayi akan minum ASIP dengan lidahnya. Mirip kucing yang minum air pakai lidah. Jadi biarkan si bayi yang mainkan lidahnya untuk minum, cup jangan terlalu disorongkan supaya bayi tidak tersedak.


Cup feeder (kiri)

Beberapa tautan di di Youtube yang menunjukkan cara memakai cup feeder:

Botol ASI
Aku menggunakan 2 jenis: botol UC (yang atas, kapasitas 120 mL) dan botol wideneck (yang bawah, kapasitas 250 mL).
Botol UC itu:
  • Kelebihannya: tutupnya rapat, lebih slim sehingga tidak makan tempat (apalagi kalau freezer-nya kecil).
  • Kekurangan: susah dibersihkan (gunakan sikat yang bisa menjangkau sampai ke bawah).
Botol wideneck itu:
  • Kelebihannya: gampang dibersihkan, bisa untuk menyimpan MPASI kalau dedeknya sudah mulai makan.
  • Kekurangannya: tutupnya tidak rapat (gampang tumpah) dan makan tempat.
Saran: kalau freezer kecil, lebih baik gunakan botol UC. Aman juga dibawa-bawa dengan cooling bag karena tutupnya rapat, tidak akan tumpah.


Botol UC

Botol wideneck

Freezer
Untuk Dek Abi aku membeli freezer khusus untuk ASIP. Freezer 6 rak, harga asli hampir 2,5 juta tapi aku membeli second di Kaskus dengan harga 1,5 juta saja hehe. Asiknya lagi, kondisi masih 90% baru karena baru dipakai sebentar sama pemilik lamanya. Dengan dua freezer—satu yang baru dan freezer kecil di kulkas lama, usaha untuk menyetok ASIP aku lakukan sejak Dek Abi lahir untuk kejar stok, karena dua minggu berikutnya sudah harus ujian semester hehe.


Ketika baru satu rak terisi

Stok ASIP menjelang Dek Abi 4 bulan

Masa S2-ASI dan S3-ASI


Setelah Dek Abi mulai makan pada usia 6 bulan, pumping masih terus dilakukan tetapi tidak se-hectic sebelumnya. Kuliah juga sudah mulai berkurang sehingga tanpa harus menyetok banyak, aku masih bisa menyusuinya di rumah. Kalau aku tidak salah ingat, stok-ASI-yang-terakhir dipompa pada September 2012 ketika Dek Abi berusia 10 bulan, dan diberikan pada Januari 2013 ketika usianya 14 bulan.

Aku lupa kapan persisnya Dek Abi mulai minum susu UHT, mungkin ketika usianya sekitar 16 bulan. Waktuku yang lebih banyak di rumah memberi dia kebebasan untuk menyusu kapan saja dia mau. Ketika aku harus kuliah atau menghadap dosen, stok ASI sedikit demi sedikit mulai digantikan dengan susu UHT.

Penutup


Kesimpulan yang dapat kuambil tentang segala proses menyusui ini adalah tentang niat dan komitmen yang kuat, lalu dibarengi dengan ikhtiar yang konsisten. Pemberian ASIX pada Hanif yang cuma 4 bulan dulu (tapi dia tetap menyusu sampai usia 2 tahun 3 bulan lho) memberiku amunisi tekad yang membaja untuk dapat sukses dan tuntas menyusui Dek Abi. Ilmu dan dukungan lingkungan sekitar adalah sesuatu yang juga penting dimiliki agar prosesnya lancar dalam menghadapi ujian dan rintangan. Untuk para pejuang ASI di manapun dirimu berada, keep up the good work! Yakinlah bahwa kita sedang memberikan investasi cairan emas yang sangat berharga untuk buah hati kita :)

Catatan: foto-foto lengkap bisa dilihat di sini.

Sunday, October 28, 2012

Ekspektasi Terhadap Pasangan



Dalam pernikahan, kita cenderung memasang standar atau ekspektasi tertentu terhadap pasangan. Meskipun setelah bertahun-tahun mengenal pasangan membuat kita menyadari kenyataan besar bahwa pernikahan bukanlah dongeng putri dan pangeran, kadang kita masih saja terbuai pada harapan tentang “seandainya si dia begini dan begitu”.

Lalu apa sih sebenarnya pernikahan itu? Ibadah? Sunnah Rasul? Mengapa kita menikah? Apakah kita sudah menikah dengan orang yang tepat?

Tak hendak bicara soal agama di sini. Ilmu tentangnya masih amat dangkal. Yang kutahu, pertanyaan “is he/she the one?” mungkin sudah terlambat ketika kita sudah mengarungi pernikahan. Tak jadi soal apakah si dia orang yang tepat, toh kita sudah mngikat janji suci dengannya. Kalau kita masih berpikir bahwa pernikahan adalah sekali seumur hidup, maka pertanyaan tersebut hendaknya sudah dicoret dari daftar. Nyatanya hanya si dia kan, orang yang berani maju meminang kita, dan bukan orang lain? Berani berkomitmen menikahi kita, tentu sudah menjadi jaminan bahwa si dia memang tidak main-main dengan kita.

Dalam kenyataannya, pasangan adalah manusia biasa yang ”dari sononya” punya sepaket kelebihan dan kekurangan. Adalah hal yang biasa kala mendapati ekspektasi kita terjun bebas karena bertentangan dengan realitas. Tapi apakah hal itu akan lantas membuat kita patah hati? Bisa ya, bisa tidak. Menurut Teh Ninih (ada yang tidak tahu siapa beliau?), ketika kekesalan kita pada pasangan memuncak, yang terlihat hanyalah keburukan. Penawar darinya adalah: pertama, istighfar dulu. Lalu ingat segala kebaikan pasangan, sekecil apapun itu, yang kemudian lambat laun akan terlihat berjuta kali lebih banyak.

Belajar dari hubungan Tom dan Lynette di serial Desperate Housewives, ketika salah satu menuntut hal yang terlalu tinggi dari pasangannya, hubungan akan berakhir tidak baik. Adalah hukum alam ketika salah satu pihak menuntut, maka pihak lain akan gantian menuntut juga. Sadari hal itu benar-benar. Pantaskah kita menuntut sesuatu dari pasangan? Siapkah bila kita juga dituntut oleh pasangan? Menyadari bahwa kita adalah manusia biasa yang juga memiliki banyak kekurangan, tak adil rasanya bila ekspektasi kita pada pasangan lantas menafikan segala kekurangannya.

Untuk menutup tulisan yang lebih tampak seperti racauan ini, aku ingin menuliskan script dialog dari Tom dan Lynette.

Our problems looked this big (sambil merentangkan kedua tangan), so I went away. But now, I realise they only seem that way because we were so close up against them. And they were blocking me from seeing how much I love you, which is... (sambil menengadahkan tangan ke langit). I see that now. And I need to tell you that because you have to say this things while you still can... because you, Lynette, you will always be the love of my life.” (Tom Scavo, DH 8)

Renee and Ben. Your wedding is one of the best days of your life because it’s the day you realise, I finally have the thing I need to be happy… And then you forget. So, then, what happens is, instead of waking up every morning and shouting somebody loves me, you start looking around and thinking, what do I want now? What’s the next thing I need to be happy? So, you look and you look and you keep thinking you’ve found it, but nothing works. And the reason that nothing works is because… that hole in your heart that you’re trying to fill… Is already filled. You just forgot. Don’t ever forget. Always remember how much you wanted to be loved. And how much you are loved. And I think if you can do that, and it isn’t easy, you will stop looking and realise you already are happy. To Renee and Ben and to remembering.” (Lynette Scavo, DH 8)

Hei, Kamu...

Hei, kamu...
Setelah bertahun-tahun aku masih saja merindukan sosokmu,
Riang berkelebat dalam imaji,
Mendengarkanku berceloteh dengan perhatian penuh.

Hei, kamu...
Tahukah kamu, aku sangat merindukan malam itu?
Kita mengurai canda dan merajut jalinan kata,
Lalu merangkai diskusi sampai pagi.

Hei, kamu...
Yang selalu lapang menerimaku,
Memberiku semangat dan inspirasi,
Menguatkanku, bukan melemahkanku.

Hei, kamu...
Kapan lagi,
Kita ramai bertukar informasi,
Bertukar binar mata sambil saling menggenggam jemari?

Ah, kamu yang kurindu...
Nyata kah?
Atau hanya ada dalam khayalku?

Tuesday, September 18, 2012

Rivalitas Program Studi


Menjadi mahasiswa S2 benar-benar membawa pengalaman yang berbeda buatku. Dalam hal mengambil mata kuliah pilihan, aku bebas mengambil apa saja, bahkan yang berbeda fakultas sekalipun. Mata kuliah pilihanku di semester tiga ini masih tidak jauh-jauh dari dunia keilmuanku sih, tapi kali ini aku mencoba menyeberang ke program studi satunya untuk mengambil mata kuliah yang menarik minatku.

Pertama kali masuk, aku terlambat. Hihihihi. Oleh dosennya aku disuruh duduk di depan. Okelah. Oh wow, sekelilingku mahasiswa S1 semua. Tak apalah, malah berasa lebih muda. Hehehehe. Sepanjang kuliah sore itu, aku terperangah. Kadang berpikir sejenak. Lalu tertegun.

Apa pasal? Hmm, sejujurnya bukan konten kuliah yang membuatku seperti itu. Dosen yang sudah lumayan senior itu membuatku berekspresi demikian karena dari kata-katanya tersirat rivalitas program studi (prodi) yang sangat kental. Komentar-komentarnya hampir selalu menyindir dan menjelekkan prodi sebelah—yang adalah prodi tempatku menimba ilmu selama ini—hingga membuatku berpikir keras: ada apa dengan hubungan kedua belah pihak selama ini.

Tak hanya dalam kesempatan itu, pada kuliah-kuliah berikutnya beliau tetap pada gayanya yang meremehkan “prodi sebelah” itu. Sampai-sampai aku ingin sekali berseru, “Saya dari prodi sebelah lho, Pak!”

Buatku pribadi, kuliah yang menarik adalah kuliah yang di dalamnya aku dapat mengambil nilai lebih (added value) dari sekedar konten atau materi kuliah. Aku suka sekali pada dosen-dosenku yang selama ini selalu memberi nilai lebih pada kuliahnya. Meskipun materi kuliah tergolong susah dan tidak menyenangkan, aku masih semangat masuk kelas pada kuliah-kuliah semacam ini karena dosen-dosen itu memberi encouragement, motivasi, dan inspirasi tentang hidup dan kehidupan. Sehingga kuliah tidak terasa kering, melainkan full of spirit hingga membuatku melongo takjub di dalam kelas dan merenung dalam-dalam di luar kelas. Hormatku pada Pak Budi Rahardjo dan Pak Armein Z. R. Langi, dosen-dosenku yang dengan pas memenuhi deskripsiku pada paragraf ini. Kebetulan keduanya adalah sosok yang ahli di bidangnya dan pada keduanya kutemukan makna kata “integritas”. Monggo kalau ada yang tertarik main ke blog beliau berdua, silakan mencari inspirasi dari sana ya.

Kembali pada awal tulisan ini, ada yang mengusik sanubari (cieehh bahasanya) ketika dosen senior dari prodi sebelah itu menyindir-nyindir dosen-dosen yang kukagumi. Kritiknya terhadap mereka otomatis menjadi kritik terhadapku karena betapa klopnya cara berpikirku dengan cara berpikir dosen favoritku itu. Apakah selama ini ada rivalitas yang tak kentara dan tak kupahami? Ah entahlah, mengapa dosen senior itu jadi menjelek-jelekkan begitu ya? Padahal ini masih satu fakultas, satu kampus. Bagaimana kalau beda kampus? Bisa lebih parah meremehkannya.

Ngeri sama yang namanya arogansi. Ya Allah, jauhkanlah.

Thursday, July 12, 2012

Mas Hanif

kehadiran adiknya, mau tidak mau membuat hanif lebih mandiri,
dan subhanallah.. dia menjalaninya tanpa rasa cemburu dan iri.

ah, sulung bunda ini memang benar anak sholeh :-*

November 29 at 11:48pm via mobile

Ada yang meleleh di hati ini tiap kali mengingat kebaikan-kebaikan Hanif pada adiknya. Sejak Abi lahir ke dunia, sejauh ingatanku, tak pernah sedetikpun ada masa di mana ia merasa cemburu.

Tak ada rasa kesal karena merasa tersaingi oleh adiknya.
Tak ada pukulan jengkel, atau usikan jahil, apalagi dendam kesumat.

Yang ada hanyalah:
Rasa panik ketika melihat adiknya menangis, hingga ia sibuk berusaha menghibur dengan kalimat “sssshh sssshh” atau sibuk memanggil bunda atau eyang.
Rasa sayang teramat besar, hingga membuat dia mengelus atau mengecup adiknya tiap kali mendekat.
Rasa tak rela ketika tiba waktunya si adik tidur, karena ia masih ingin bermain-main bersama.
Rasa tanggung jawab sedemikian mengharukan, hingga bunda merasa aman menitipkan si adik padanya. Karena ketika bunda terpaksa meninggalkan si adik, meski cuma sebentar, Hanif akan menghibur, mengajak ngobrol, atau bernyanyi untuk si adik.

Status di atas kubuat beberapa hari setelah Abi lahir. Dan Hanif tetap demikian adanya sampai detik ini. Di usia Abi yang hampir delapan bulan, ia kini sudah mengerti bagaimana rasa sayang sang kakak terhadapnya, hingga ia akan melonjak-lonjak kegirangan tiap kali Hanif mendekat.

Doa tulus bunda untukmu, Hanif sayang. Tak pernah henti dilangitkan. Karena telah menjadi kakak yang paling hebat.








Tulisan terkait: